Anda di halaman 1dari 14

C.

SEJARAH PERKEMBANGAN IPS SECARA UMUM

Ilmu Pengetahuan Sosisal (IPS) adalah terjemahan dari Social Studies. Perkembanagan IPS dapat kita
lihat melalui sejarah Social Studies yang dikembangkan oleh Amerika Serikat (AS) dalam karya akademis
dan dipublikasikian oleh National Council for the Social Studies (NCSS) pada pertemuan organisasi
tersebut tahun 1935 sampai sekarang.

Definisi tentang “Social Studies” yaitu ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendididkan,
kemudian pengertian ini dibakukan “Social Studies” meliputi aspek-aspek ilmu sejarah, ilmu ekonomi,
ilmu politik, sosiologi, antropologi, pisikologi, ilmu geografi, dan filsafat yang dalam praktiknya dipilih
untuk tujuan pembelajaran di sekolah dan di perguruan tinggi.

Dalam pengertian awal “Social Studies” tersebut diatas terkandung hal-hal sebagai berikut:

1. Social Studies merupakan turunan dari ilmu-ilmu sosial

2. Disiplin ini dikembangkan untuk memenuhi tujuan pendidikan atau pembelajaran, baik pada
tingkat sekolah maupun tingkat pendidikan tinggi.

3. Aspek-asoek dari masing-masing disiplin ilmu sosial itu perlu diseleksi sesuai dengan tujuan
tersebut.

Pada tahun 1940-1960 ditegaskan oleh Barr, dkk (1977:36) yaitu terjadinya tarik menarik antara dua visi
Social Studies. Di satu pihak, adanya gerakan untuk mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sosial untuk
tujuan citizenship education, yang terus bergulir sampai mencapai tahap yang lebih canggih. Di pihak
lain, terus bergulirnya gerakan pemisahan sebagai disiplin ilmu-ilmu sosial yang cenderung
memperlemah konsepsi social studies education. Hal tersebut, merupakan dampak dari berbagai
penelitian yang dirancang untuk mempengaruhi kurikulum sekolah, terutama yang berkenaan dengan
pengertian dan sikap siswa.

Benyaknya gerakan-gerakan yang muncul akibat dari tekanan yang cukup dahsyat untuk mereformasi
Social Studies. Mereka menganggap perlu adanya perubahan pembelajaran Social Studies menjadi
pembelajaran yang berorientasi the integrated, reflected inquiry, and problem centered (Barr, dkk.; 41-
82) dan memperkuat munculnya gerakan The new Social Studies.

Atas pendapat para pakar, akhirnya para sejarawan, ahli ilmu sosial, dan pendidikan sepakat untuk
melakukan reformasi Social Studies dengan menggunakan cara yang berbeda dari sebelum pendekatan
tersebut adalah dengan melalui proses pengembangan kurikulum sekelompok pendidik, ahli psikologi,
dan ahli ilmu sosial secara bersama-sama mengembangkan bahan ajar berdasarkan temuan penelitian
dan teori belajar, kemudian diujicobakan di lapanagan, selanjutnya direvisi, dan pada akhirnya
disebarluaskan untuk digunakan secara luas dalam dunia persekolahan.

Jika dilihat dari Visi misi dan strateginya, Barr, dkk. (1978:1917) Social Studies telah dan dapat
dikembangkan dalam tiga tradisi, yaitu:

1. Social Studies Taught as citizenship Transmission

Merujuk pada suatu modus pembelajaran sosial yang bertujuan untuk mengembangkan warga negara
yang baik sesuai dengan norma yang telah diterima secara baku dalam negaranya.

2. Social Studies Taught social Science

Merupakan modus pembelajaran sosial yang juga mengembangkan karakter warga negara yang baik
yang ditandai oleh penguasaan tradisi yang menitik beratkan pada warga Negara yang dapat mengatasi
masalah-masalah sosial dan personal dengan menggunakan visi dan cara ilmuan sosial.

3. Social Studies Taught as Reflective Inquiry

Merupakan modus pembelajaran sosial yang menekankan pada hal yang sama yakni pengembangan
warga negara yang baik dengan kriteria yang berbeda yaitu dilihat dari kemampunnya dalam mengambil
keputusan’

Tahun 1992, the board of direction of the national Council for the social studies mengadopsi visi ternaru
mengenai Social Studies, yang kemudian diterbitkan resmi oleh NCSS pada tahun 1994 denga judul
Expectation of Excellence: Curriculum Standard for Social Studies. Sebagai rambu-rambu dalam rangka
mewujudkan visi, misi, dan strategi baru Social Studies, NCSS (1994) menggariskan hal-hal sebagai
berikut:

1. Program Social Studies mempunyai tujuan pokok yang ditegaskan kembali bahwa civic competence
bukanlah hanya menjadi tanggung jawab Social Studies.

2. Program Social Studies dalam dunia pendidikan persekolahan, mulai dari taman kanak-kanak
sampai ke pendidikan menengah, ditandai oleh keterpaduan “ …knowlwdge, skill, and attitudes within
and across disciplines (NCSS, 1994:3).

3. Program Social Studies dititik beratkan pada upaya membantu siswa dalam construct a knowledge
base and attitude drawn from academic discipline as specialized ways of viewing reality (NCSS, 1994:4).

4. Program Social Studies mencerminkan “ …the changing nature of knowledge, fostering entirely
new and highly integrated approaches to resolving issues of significance to humanity” (NCSS, 1994:5).

http://mahasiswautkelash.blogspot.com/2013/04/sejarah-perkembangan-ips.html?m=1
ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Selasa, 02 Desember 2014

Sejarah Perkembangan IPS

1. Sejarah Pekembangan IPS di dunia (Secara Umum)

Pada tahun 1935 terjadi polemic diantara kalangan intelektual Amerika Serikat ( AS ) mengenai
Ilmu Pengetahuan Sosial yang lebih dikenal dengan Social Studies, kemudian hal tersebut dipublikasikan
oleh Organisasi yang bernama National Council for The Sosial Studies. tapi hal itu tidak berlangsung lama
karena menurut L.Tildsley hal itu memberi tanda sejak awal pertumbuhannya bidang social studies
dihadapkan kepada tantangan untuk dapat membangun dirinya sebagai suatu disiplin yang solid.

Definisi tentang social studies menurut Edgar Bruce Wesley pada tahun 1937 ( Barr, Bart dan Shermis,
1977:2) yaitu : The social Studies are the social sciences simplified for pedagogical purpose” Ilmu Sosial
itu yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan. Yang meliputi aspek–aspek, seperti sejarah, ekonomi,
politik, sosiologi, antropologi, psikologi, geografi, dan filsafat, yang praktiknya digunakan dalam
pembelajaran di sekolah maupun perguruan tinggi.

Pada perkisaran tahun 1940 – 1950 NCSS mendapat serangan yang berkisar tentang perlu atau tidaknya
Sosial Studies untuk remaja bersikap demokratis dan kritis, sehingga munculah sikap penekanan
terhadap fakta – fakta sejarah dan budaya yang ada.

Namun pada tahun 1960 timbul satu gerakan akademis yang lebih dikenal dengan the new social studies
yang dipelopori oleh sejarawan dan ahli – ahli ilmu social untuk mengembangkan proyek yang
menciptakan kurikulum dan memproduksi bahan belajar yang sangat inovatif dan menantang dalam
skala besar. Tapi sampai tahun 1970an hal itu belum juga terwujud, tapi jika kembali pada penuturan
Barr dkk 1977 yaitu dua visi yang berbeda dalam social studies yaitu citizhenship education ( pendidikan
kewarganegaraan ) atau social studies Education ( Ilmu pendidikan social ) hal itu juga dipengaruhi oleh
PD II.

Pada tahun 1955 terjadi terobosan yang besar, berupa inovasi oleh Maurice Hunt dan Lawrence metcalft
yang mencoba cara baru dalam pengintegrasian pengetahuan dan keterampilan ilmu social untuk tujuan
citizhenship education, mengubah program Sosial studies disekolah yang dahulunya Closed Area ( hal –
hal yang tabu dalam masyarakat ) menjadi refleksi rasional dalam mengupayakan siswa dapat
mengambil keputusan mengenai masalah – masalah public. Sehingga bisa melatih keterampilan reflektif
thinking ( berfikif reflek ) dan berfikir secara kritis.
Gerakan the new social studies pada tahun 1960 masih belum efektif dalam mengajarkan substansi
perubahan sikap siswa, sehingga para sejarawan dan ahli – ahli ilmu social bersatu untuk meningkatkan
social studies kepada higher level of intellectual pursuit yang melahirkan social science education.

Menurut Barr dkk, mendefinisikan social studies dalam beberapa bagian yaitu :social studies merupakan
satu system pengetahuan yang terpadu, kedua misi utama social studies adalah pendidikan
kewarganegaraan dalam suatu masyarakat yang demokratis, ketiga sumber utama konten social studies
adalah social sciene dan humanitier, keempat dalam upaya penyiapan warga Negara yang demokratis
terbuka kemungkinan perbedaan dalam orientasi, visi tujuan dan metode pembelajaran. diantaranya
lahirlah visi, misi dan strategi social studies itu adalah

1. Sosial studies taught as citizenship transmission

2. Sosial studies taught as social science

3. Sosial studies taught as reflective inquiry.

Jika dilihat dari definisi dan tujuan social studies maka terkandung beberapa hal, pertama social studies
merupakan mata pelajaran dasar diseluruh jenjang pendidikan persekolahan, kedua tujuan utama mata
pelajaran ini ialah mengembangkan siswa untuk menjadi warga Negara yang memiliki pengetahuan, nilai,
sikap dan keterampilan untuk berperan serta dalam kehidupan berdemokrasi. Ketiga konten
pelajarannya digali dan diseleksi dari sejarah dan ilmu – ilmu social. Keempat pembelajarannya
menggunakan cara – cara yang mencerminkan kesadaran pribadi, kemasyarakatan, pengalaman budaya,
perkembangan pribadi siswa.

Di awal tahun 1994 the board of direction of the national council for the social studies menerbitkan
Dokumen resmi yang diberi nama Expectations of Exellence: curriculum Standard for social studies.
Dokumen ini yang sedang mewarnai pemikiran praksis social studies di AS sampai saat ini. dalam dunia
pendidikan NCSS juga menggariskan bahwa dalam pendidikan mulai dari Taman kanak – kanak sampai
pendidikan menengah memiliki keterpaduan “ Knowledge,Skills, and attitudes within and across
disipliner “, pada kelas rendah ditekankan pada social studies yang tidak mengikat atau bisa bertolak
dari tema – tema tertentu.

Ide IPS berasal dari literatur pendidikan Amerika Serikat. Nama asli IPS di Amerika Serikat adalah social
studies. Istilah tersebut pertama kali digunakan sebagai nama sebuah lembaga yang diberi nama
committee of social studies.

Lembaga ini merupakan himpunan tenaga ahli yang berminat pada kurikulum ilmu-ilmu sosial di
tingkat sekolah dan ahli-ahli ilmu sosial yang mempunyai minat yang sama. Nama lembaga ini kemudian
dipergunakan untuk nama kurikulum yang mereka hasilkan, yakni kurikulum social studies. Nama social
studies makin terkenal ketika pemerintah mulai memberikan dana untuk mengembangkan kurikulum
tersebut. Kurikulum tersebut ahirnya dikembangkan dengan nama kurikulum social studies. Di Indonesia
social studies dikenal dengan nama studi sosial. Dalam Kurikulum 1975, pendidikan ilmu sosial kemudian
ditetapkan dengan nama Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). IPS merupakan sebuah mata pelajaran yang
dipelajari dari tingkat pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi pada jurusan atau progrsam
studi tertentu.

Istilah IPS pertama kali muncul dalam Seminar Nasional tentang Civic Education tahun 1972 di
Tawamangu, Solo. Ada 3 istlah yang muncul dari Seminar Nasional di Tawamangu dan digunakan secara
bertukar, yaitu:

1. Pengetahuan Sosial / Social Science

2. Studi Sosial / Social Studies

3. Ilmu Pengetahuan Sosial / Social Education

Pembahasan mengenai latar belakang lahirnya IPS akan dilihat dari dua aspek, yakni latar
belakang sosiologis dan pedagogis dengan mempertimbangkan aspek kemasyarakatan dan ilmu-ilmu
sosial yang dikaji dalam IPS. Ilmu Pengetahuan Sosisal (IPS) adalah terjemahan dari Social Studies.
Perkembanagan IPS dapat kita lihat melalui sejarah Social Studies yang dikembangkan oleh Amerika
Serikat (AS) dalam karya akademis dan dipublikasikian oleh National Council for the Social Studies (NCSS)
pada pertemuan organisasi tersebut tahun 1935 sampai sekarang.

Definisi tentang “Social Studies” yaitu ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendididkan,
kemudian pengertian ini dibakukan “Social Studies” meliputi aspek-aspek ilmu sejarah, ilmu ekonomi,
ilmu politik, sosiologi, antropologi, pisikologi, ilmu geografi, dan filsafat yang dalam praktiknya dipilih
untuk tujuan pembelajaran di sekolah dan di perguruan tinggi.

Dalam pengertian awal “Social Studies” tersebut diatas terkandung hal-hal sebagai berikut:

1. Social Studies merupakan turunan dari ilmu-ilmu sosial

2. Disiplin ini dikembangkan untuk memenuhi tujuan pendidikan atau pembelajaran, baik pada
tingkat sekolah maupun tingkat pendidikan tinggi.

3. Aspek-asoek dari masing-masing disiplin ilmu sosial itu perlu diseleksi sesuai dengan tujuan
tersebut.

Pada tahun 1940-1960 ditegaskan oleh Barr, dkk (1977:36) yaitu terjadinya tarik menarik antara dua visi
Social Studies. Di satu pihak, adanya gerakan untuk mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sosial untuk
tujuan citizenship education, yang terus bergulir sampai mencapai tahap yang lebih canggih. Di pihak
lain, terus bergulirnya gerakan pemisahan sebagai disiplin ilmu-ilmu sosial yang cenderung
memperlemah konsepsi social studies education. Hal tersebut, merupakan dampak dari berbagai
penelitian yang dirancang untuk mempengaruhi kurikulum sekolah, terutama yang berkenaan dengan
pengertian dan sikap siswa.

Benyaknya gerakan-gerakan yang muncul akibat dari tekanan yang cukup dahsyat untuk mereformasi
Social Studies. Mereka menganggap perlu adanya perubahan pembelajaran Social Studies menjadi
pembelajaran yang berorientasi the integrated, reflected inquiry, and problem centered (Barr, dkk.; 41-
82) dan memperkuat munculnya gerakan The new Social Studies.

Atas pendapat para pakar, akhirnya para sejarawan, ahli ilmu sosial, dan pendidikan sepakat untuk
melakukan reformasi Social Studies dengan menggunakan cara yang berbeda dari sebelum pendekatan
tersebut adalah dengan melalui proses pengembangan kurikulum sekelompok pendidik, ahli psikologi,
dan ahli ilmu sosial secara bersama-sama mengembangkan bahan ajar berdasarkan temuan penelitian
dan teori belajar, kemudian diujicobakan di lapanagan, selanjutnya direvisi, dan pada akhirnya
disebarluaskan untuk digunakan secara luas dalam dunia persekolahan.

Jika dilihat dari Visi misi dan strateginya, Barr, dkk. (1978:1917) Social Studies telah dan dapat
dikembangkan dalam tiga tradisi, yaitu:

1. Social Studies Taught as citizenship Transmission

Merujuk pada suatu modus pembelajaran sosial yang bertujuan untuk mengembangkan warga negara
yang baik sesuai dengan norma yang telah diterima secara baku dalam negaranya.

2. Social Studies Taught social Science

Merupakan modus pembelajaran sosial yang juga mengembangkan karakter warga negara yang baik
yang ditandai oleh penguasaan tradisi yang menitik beratkan pada warga Negara yang dapat mengatasi
masalah-masalah sosial dan personal dengan menggunakan visi dan cara ilmuan sosial.

3. Social Studies Taught as Reflective Inquiry

Merupakan modus pembelajaran sosial yang menekankan pada hal yang sama yakni pengembangan
warga negara yang baik dengan kriteria yang berbeda yaitu dilihat dari kemampunnya dalam mengambil
keputusan’

Tahun 1992, the board of direction of the national Council for the social studies mengadopsi visi ternaru
mengenai Social Studies, yang kemudian diterbitkan resmi oleh NCSS pada tahun 1994 dengan judul
Expectation of Excellence: Curriculum Standard for Social Studies.

Sebagai rambu-rambu dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan strategi baru Social Studies, NCSS (1994)
menggariskan hal-hal sebagai berikut:

1. Program Social Studies mempunyai tujuan pokok yang ditegaskan kembali bahwa civic
competence bukanlah hanya menjadi tanggung jawab Social Studies.

2. Program Social Studies dalam dunia pendidikan persekolahan, mulai dari taman kanak-kanak
sampai ke pendidikan menengah, ditandai oleh keterpaduan

“ …knowlwdge, skill, and attitudes within and across disciplines (NCSS, 1994:3).
3. Program Social Studies dititik beratkan pada upaya membantu siswa dalam construct a
knowledge base and attitude drawn from academic discipline as specialized ways of viewing reality
(NCSS, 1994:4).

4. Program Social Studies mencerminkan “ …the changing nature of knowledge, fostering entirely
new and highly integrated approaches to resolving issues of significance to humanity” (NCSS, 1994:5).

1.1. Latar Belakang Sosiologis

Tinjauan terhadap latar belakang sosiologis difokuskan pada tempat lahirnya IPS yang pada
awalnya bernama social studies. IPS dengan nama social studies pertama kali digunakan dalam
kurikulum sekolah Rugby di Inggris pada tahun 1827. Dr. Thomas Arnold, direktur sekolah tersebut
adalah orang pertama yang berjasa memasukkan IPS (social studies) ke dalam kurikulum sekolah.

Latar belakang dimasukkannya IPS ke dalam kurikulum sekolah berangkat dari kondisi masyarakat
Inggris pada waktu itu yang tengah mengalami kekacauan akibat revolusi industri yang melanda negara
itu. Masyarakat dan peradaban Inggris terancam dekadensi, karena mekanisasi industri telah
menimbulkan kesulitan besar bagi masyarakat Inggris, terutama kaum buruh.

Kaum kapitalis dan pemerintah yang kurang memperhatikan nasib kaum buruh yang mengakibatkan
terjadinya pemerasan dan penindasan. Selain itu, di Inggris juga terjadi persaingan di kalangan buruh
sendiri, yang menyebabkan hidup kaum tidak punya (the haves not) menjadi sangat menderita.
Kehidupan antar kaum buruh dan antara buruh dengan majikan digambarkan oleh filosuf Inggris Thomas
Hobbes sebagai homo homoni lopus bellum omnium contra omnes ( manusia adalah srigala bagi yang
lain, mereka saling berperang).

Singkatnya, manusia menjadi kehilangan kemanusiaannya (dehumanisasi).Sebagai respon terhadap


keadaan yang demikian ironis, Arnold memasukkan IPS ke dalam kurikulum sekolahnya. Upayanya
kemudian ditiru oleh banyak sekolah lainnya, dan sekaligus menjadi awal berkembangnya IPS sebagai
matapelajaran di sekolah.

Latar belakang munculnya IPS di Amerika Serikat berbeda dari Inggris. Setelah Perang Budak atau Perang
Saudara antara penduduk Utara-Selatan (1861- 1865), di Amerika terjadi kekacauan sosial. Masyarakat
Amerika Serikat yang sangat beragam belum merasa menjadi satu bangsa. Segregasi sosial masih kental
dan lekat dengan kehidupan masyarakat Amerika pada saat itu.

Sebagai respon atas keadaan masyarakat tersebut, para ahli kemasyarakatan Amerika Serikat mencari
upaya untuk membantu proses pembentukan bangsa Amerika Serikat, antara lain dengan
mengembangkan IPS sebagai jawaban atas situasi sosial. IPS dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah,
yang dipelopori oleh sekolah-sekolah di negara bagian Wisconsin sejak 1892. Setelah dipelajari secara
terus menerus sampai awal dasa warsa abad ke-20, pada tahun 1916 panitia nasional untuk pendidikan
menengah Amerika Serikat menyetujui pengembangan dan pemasukan IPS ke dalam kurikulum sekolah.
Paparan tersebut menggambarkan bahwa situasi masyarakat di Inggris pada tahun 1827, yaitu
awal industri modern, mirip dengan keadaan masyarakat Indonesia dewasa ini. Industri sedang
berkembang dan tanda-tanda dehumanisasi nampak pula di Indonesia. Di antara indikator yang
menunjukkan kemiripan tersebut adalah terjadinya berbagai tindak kejahatan, seperti perampokan yang
disertai pembunuhan, kurang terjaminnya kaum buruh, individualisme yang mulai menggerayangi
masyarakat perkotaan, tindakan mengobyekkan para penganggur dan pencari pekerjaan melalui human
trafficing, terdesaknya alat-alat produksi tradisional oleh alat produksi buatan negara asing, dan
penumpukan kekayaan pada golongan minoritas.

Keadaan masyarakat yang demikian mengingatkan pada betapa pentingnya pembentukan jiwa sosial
yang humanis sedini mungkin melalui pembelajaran IPS di sekolah-sekolah.

1.2. Latar belakang Pedagogis

Di samping sebagai reaksi atas keadaan masyarakat, seperti di Inggris, Amerika, dan Indonesia,
lahirnya IPS juga dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menyiapkan peserta didik agar menjadi warga
masyarakat yang bertanggungjawab, yakni dapat mewujudkan kewajiban dan hak-haknya dalam
kehidupan sehari-hari.Dengan mempelajari IPS, peserta didik diharapkan akan menjadi warga
masyarakat yang tidak individualistik, yang hanya mementingkan kebutuhan sendiri, dan
mengesampingkan kebutuhan orang lain atau warga masyarakat lainnya. Sebaliknya, mereka
diharapkan menjadi warga masyarakat yang memiliki watak sosial yang selalu sadar bahwa hidupnya
hanya dapat berlangsung bersama dan bekerja sama dengan orang lain, dan orang lain hanya mau hidup
bersama dan bekerja sama bila mendapat perlakuan yang baik dari mereka.

Disiplin ilmu-ilmu sosial dipandang tidak mendukung prinsip pedagogis di atas, karena berbagai disiplin
itu membawa masyarakat dalam keadaan terpisahpisah. Pengajaran IPS juga lebih dekat dengan
keadaan sekarang yang ada dalam lingkungan hidupnya. Dengan demikian tidaklah terlalu sukar bagi
peserta didik untuk mengamati, menggambarkan dan memikirkannya, karena masih berada dalam
jangkauan mereka, baik dari segi waktu maupun tempatnya.

Itulah latar belakang pedagogis dikembangnya IPS. Mengingat berbagai kemiripan dan kegunaanya bagi
pembinaan masyarakat Indonesia, maka pengembangan IPS di dunia pendidikan di Indonesia
merupakan kebutuhan pedagogis sebagaimana halnya pengalaman di Inggris dan Amerika Serikat
sebagai wahana pembinaan sikap sosial bagi peserta didik.

· Tiga Tradisi Pembelajaran IPS

Pembelajaran IPS memiliki tiga tradisi yang berbeda satu dengan yang lain. Ketiga tradisi tersebut adalah:

a. Pembelajaran IPS sebagai transmisi kewarganegaraan,

b. Pembelajaran IPS sebagai ilmu sosial, dan


c. Pembelajaran IPS sebagai inkuiri yang reflektif.

Gambaran tentang ketiga tradisi pembelajaran IPS tersebut akan dipaparkan dalam bahasan berikut.

a. Pembelajaran IPS sebagai Transmisi Kewarganegaraan

Pembelajaran IPS sebagai transmisi kewarganegaraan merupakan strategi pengajaran IPS yang
berhubungan dengan penanaman tingkah laku, pengetahuan, pandangan, dan nilai yang harus dimiliki
oleh peserta didik.

Tingkah laku, pengetahuan, pandangan dan nilai yang akan diajarkan harus sesuai dengan kekayaan
nilai-nilai budaya yang berkembang di lingkungan peserta didik dan guru yang mengajarkan IPS. Hal ini
dimaksudkan agar nilainilai budaya yang ada dalam masyarakat dapat ditransmisikan dari generasi ke
generasi.

Pembelajaran IPS sebagai transmisi kewarganegaraan merupakan proses pewarisan budaya dalam suatu
masyarakat tertentu. Pewarisan budaya ini merupakan budaya yang memilki nilai-nilai yang baik dan
disepakati oleh masyarakat.

Pembelajaran IPS model transmisi kewarganegaraan di Amerika Serikat bertujuan membina warga
negara agar dapat memenuhi kewajiban dan tanggung jawab yang baik, taat kepada hukum, membayar
pajak, memenuhi kewajiban belajar, dan memiliki dorongan diri yang kuat untuk mempertahankan
negara (Sumaatmadja,1980). Pembelajaran IPS sebagai transmisi kewarganegaraan juga merupakan
suatu proses pewarisan budaya dalam suatu masyarakat tertentu. Pewarisan budaya ini tentu
merupakan budaya yang memilki nilai-nilai yang baik dan disepakati oleh masyarakat, sehingga dapat
membentuk warga negara yang dapat memenuhi kewajiban, taat pada hukum, dan bertanggung jawab
dalam pembelaan negara.

Tradisi pembelajaran IPS model transmisi kewarganegaaraan ini, oleh sebagian ahli dipandang sebagai
bentuk proses pendidikan yang statis, bahkan konservatif. Hal ini dikarenakan di tengah kehidupan
masyarakat yang dinamis di tengah perkembangan dunia yang terus mengalami perubahan, setiap anak
manusia dituntut untuk memiliki kemampuan, pemikiran, dan keterampilan yang lebih luas dan
kompleks. Jika dikaitkan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang sedang berkembang, maka
pembelajaran model transmisi kewarganegaraan ini kurang relevan. Oleh karena itu, proses
pembelajaran IPS yang relevan untuk masyarakat Indonesia saat ini perlu terus dikembangkan.

b. Pembelajaran IPS sebagai Ilmu Sosial

Pembelajaran IPS sebagai ilmu sosial didasarkan pada asumsi bahwa peserta didik dapat berpikir secara
kritis, mampu mengobservasi dan meneliti seperti apa yang dilakukan oleh ahli ilmu sosial.
Tujuan pengajaran IPS sebagai ilmu sosial adalah menciptakan warga negara yang mampu belajar dan
berpikir secara baik, seperti yang dilakukan oleh ahli ilmu sosial.

c. Pembelajaran IPS sebagai inkuiri reflektif

Pembelajaran IPS sebagai inkuiri reflektif merupakan proses berpikir yang mendalam dan merefleksikan
pengalaman, atau dengan kata lain dapat di katakan sebagai proses merenung. Oleh karena itu, proses
inkuiri reflektif atau berpikir dan merenung tidak hanya berpikir untuk memeriksa atau meneliti sesuatu
persoalan, tetapi berhubungan pula dengan sikap penilaian pengungkapan penilaian.

2. Sejarah Perkembanga IPS di Indonesia (Secara Khusus)

Latar belakang dimasukkannya bidang studi IPS ke dalam kurikulum sekolah di Indonesia juga hampir
sama dengan di beberapa negara lain, di antaranya situasi kacau dan pertentangan politik bangsa,
kondisi keragaman budaya bangsa (multikultur) yang sangat rentan terjadinya konflik. Sehingga, sebagai
akibat konflik dan situasi nasional bangsa yang tidak stabil, terlebih adanya pemberontakan G30S/PKI
dan berbagai masalah nasional lainnya di pandang perlu memasukan program pendidikan sebagai
propaganda dan penanaman nilai-nilai sosial budaya masyarakat, berbangsa dan bernegara ke dalam
kurikulum sekolah.

Oleh karenanya, dalam beberapa pertemuan ilmiah dibahas Istilah IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) sebagai
program pendidikan tingkat sekolah di Indonesia, dan pertama kali muncul dalam Seminar Nasional
tentang Civic Education tahun 1972 di Tawangmangu Solo Jawa Tengah. Dalam laporan seminar
tersebut, muncul 3 istilah dan digunakan secara bertukar pakai, yaitu :

1. Pengetahuan Sosial

2. Studi Sosial

3. Ilmu Pengetahuan Sosial

Konsep IPS untuk pertama kalinya masuk ke dunia persekolahan di Indonesia pada tahun 1972-1973
yang diujicobakan dalam Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PSSP) IKIP Bandung.
Kemudian secara resmi dalam kurikulum 1975 program pendidikan tentang masalah sosial dipandang
tidak cukup diajarkan melalui pelajaran sejarah dan geografi saja, maka dilakukan reduksi mata
pelajaran di tingkat SD-SMA untuk beberapa mata pelajaran ilmu sosial yang serumpun digabung ke
dalam mata pelajaran IPS. Oleh karena itu, pemberlakuan istilah IPS (social studies) dalam kurikulum
1975 tersebut, dapat dikatakan sebagai kelahiran IPS secara resmi di Indonesia.

Sejak pemerintahan Orde Baru keadaan tenang, pemerintah melancarkan Rencana Pembangunan Lima
Tahun (Repelita). Pada masa Repelita I (1969-1974) Tim Peneliti Nasional di bidang pendidikan
menemukan lima masalah nasional dalam bidang pendidikan. Kelima masalah tersebut antara lain:
1. Kuantitas, berkenaan dengan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar.

2. Kualitas, menyangkut peningkatan mutu lulusan

3. Relevansi, berkaitan dengan kesesuaian sistem pendidikan dengan kebutuhan pembangunan.

4. Efektifitas sistem pendidikan dan efisiensi penggunaan sumber daya dan dana.

5. Pembinaan generasi muda dalam rangka menyiapkan tenaga produktif bagi kepentingan
pembangunan nasional.

Oleh karena itu, upaya pembangunan sektor pendidikan oleh pemerintah menjadi prioritas. Program
pembangunan pendidikan bidang sosial semakin ditingkatkan untuk mengatasi dan menanamkan
kewarganegaraan serta cinta tanah air Indonesia. Upaya memasukan materi ilmu-ilmu sosial dan
humaniora ke dalam kurikulum sekolah di Indonesia disajikan dalam mata pelajaran dan bidang studi/
jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) secara resmi pada kurikulum 1975. Kurikulum ini merupakan
perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen,
bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat,
dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan
keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan
keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat. Kurikulum pendidikan 1975
menggunakan pendekatan-pendekatan di antaranya sebagai berikut :

1. Berorientasi pada tujuan

2. Menganut pendekatan integratif

3. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.

4. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem
Instruksional (PPSI).

5. Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon dan latihan.

Konsep pendidikan IPS tersebut lalu memberi inspirasi terhadap kurikulum 1975 yang menampilkan
empat profil, yaitu :

1. Pendidikan Moral Pancasila menggantikan Kewargaan Negara sebagai bentuk pendidikan IPS
khusus.

2. Pendidikan IPS terpadu untuk SD

3. Pendidikan IPS terkonfederasi untuk SMP yang menempatkan IPS sebagai konsep peyung untuk
sejarah, geografi dan ekonomi koperasi.

4. Pendidikan IPS terisah-pisah yang mencakup mata pelajaran sejarah, ekonomi dan geografi
untuk SMA, atau sejarah dan geografi untuk SPG, dan IPS (ekonomi dan sejarah) untuk SMEA /SMK..
Konsep pendidikan IPS seperti itu tetap dipertahankan dalam Kurikulum 1984 yang secara konseptual
merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 1975 khususnya dalam aktualisasi materi, seperti masuknya
Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) sebagai materi pokok PMP. DalamKurikulum
1984, PPKn merupakan mata pelajaran sosial khusus yang wajib diikuti semua siswa di SD, SMP dan SMU.
Sedangkan mata pelajaran IPS diwujudkan dalam :

1. Pendidikan IPS terpadu di SD kelas I-VI.

2. Pendidikan IPS terkonfederasi di SLTP yang mencakup geografi, sejarah dan ekonomi koperasi.

3. Pendidikan IPS terpisah di SMU yang meliputi Sejarah Nasional dan Sejarah Umum di kelas I-II;
Ekonomi dan Geografi di kelas I-II; Sejarah Budaya di kelas III program IPS.

Dimensi konseptual mengenai pendidikan IPS telah berulang kali dibahas dalam rangkaian pertemuan
ilmiah, yakni pertemuan HISPISI (Himpunan Sarjana Pendididkan Ilmu Sosial) pertama di Bandung tahun
1989, Forum Komunikasi Pimpinan HIPS di Yogyakarta tahun 1991, di Padang tahun 1992, di Ujung
Pandang tahun 1993, Konvensi Pendidikan kedua di Medan tahun 1992. Salah satu materi yang selalu
menjadi agenda pembahasan ialah mengenai konsep PIPS. Dalam pertemuan Ujung Pandang, M. Numan
Soemantri, pakar dan ketua HISPISI menegaskan adanya dua versi PIPS sebagaimana dirumuskan dalam
pertemuan di Yogyakarta, yaitu :

a. Versi PIPS untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. PIPS adalah penyederhanaan, adaptasi dari
disiplin Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang duorganisir dan disajikan
secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.

b. Versi PIPS untuk Jurusan Pendidikan IPS-IKIP. PIPS adalah seleksi dari disiplin Ilmu-ilmu Sosial dan
humaniora serta kegiatan dasar manusia yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan psikologis
untuk tujuan pendidikan.

PIPS untuk tingkat perguruan tinggi pendidikan Guru IPS (eks IKIP, FKIP, STKIP),direkonseptualisasikan
sebagai pendidikan disiplin ilmu, sehingga menjadi Pendidikan Disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial, seperti
pendidikan Geografi, Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan sosiologi,
Pendidikan Sejarah dsb).

Bentuk keseriusan ahli pendidikan dan ahli ilmu-ilmu sosial khususnya mereka yang memiliki komitmen
terhadap social studies atau pendidikan IPS sebagai program pendidikan di tingkat sekolah, maka
mereka berusaha untuk memasukkan ilmu-ilmu sosial ke dalam kurikulum sekolah lebih jelas lagi.
Namun karena tidak mungkin semua disiplin ilmu sosial diajarkan di tingkat sekolah, maka kurikulum
ilmu sosial itu disajikan secara terintegrasi atau interdisipliner ke dalam kurikulum IPS (social studies).
Jadi untuk program pendidikan ilmu-ilmu sosial di tingkat pendidikan dasar dan menengah harus sudah
mulai di ajarkan. Program pendidikan dasar di SD dan SMP penyajiannya secara terpadu penuh,
sementara itu untuk pembelajaran IPS di tingkat SMA/MA dan SMEA penyajiannya bisa dilakukan secara
terpisah antar cabang ilmu-ilmu sosial, tetapi tetap memperhatikan keterhubungannya antara ilmu
sosial yang satu dengan ilmu sosial lainnya, terutama dalam rumpun jurusan IPS di SMA dan juga di
SMEA. Sementara itu, pada tingkat perguruan tinggi pendidikan ilmu-ilmu sosial disajikan secara
terpisah atau fakultatif, seperti FE, FH, FISIP dsb. Namun untuk pendidikan IPS di FKIP/IKIP/STKIP yang
mempersiapkan calon guru atau mendidik calon guru di tingkat sekolah, maka pendidikan IPS di berikan
secara interdisipliner dan juga secara disipliner. Secara interdisipliner karena ilmu yang diperoleh
nantinya untuk program pembelajaran untuk usia anak sekolah, dan secara disipliner karena sebagai
guru juga harus menguasai ilmu yang diajarkan.

Kurikulum 1994 dilaksanakan secara bertahap mulai ajaran 1994-1995 merupakan pembenahan atas
pelaksanaan kurikulum 1984 setelah memperhatikan tuntutan perkembangan dan keadaan masyarakat
saat itu, khususnya yang menyangkut perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni,
kebutuhan pembangunan dan gencarnya arus globalisasi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum 1984 itu
sendiri. Upaya pembaharuan kurikulum pendidikan nampak saat diadakannya serangkaian Rapat Kerja
Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dari tahun 1986 sampai 1989.

Pembenahan kurikulum ini juga didorong oleh amanat GBHN 1988 yang intinya;

a. perlunya diteruskan upaya peningkatan mutu pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan

b. perlunya persiapan perluasan wajib belajar pendidikan dasar dari enam tahun menjadi sembilan
tahun

c. perlunya segera dilahirkan undang-undang yang mengatur tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pada tahun 2004, pemerintah melakukan perubahan kurikulum kembali yang dikenal dengan Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK). Namun pengembangan kurikulum IPS diusulkan menjadi Pengetahuan Sosial
untuk merespon secara positif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal
ini dilakukan untuk meningkatkan relevansi program pembelajaran Pengetahuan Sosial dengan keadaan
dan kebutuhan setempat. Di samping itu, khusus dalam kurikulum SD, IPS pernah diusulkan digabung
dengan Pendidikan kewarganegaraan yaitu menjadi pendidikan kewrganegaraan dan pengetahuan
sosial (PKnPS), namun akhirnya kurikulum disempurnakan ke dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP) tahun 2006, antara IPS dan PKn dipisahkan kembali.

Hal ini memperhatikan berbagai masukan dan kritik ahli pendidikan serta kepentingan pendidikan
nasional dan politik bangsa yaitu perlunya pendidikan kewarganegaraan bangsa, maka antara IPS dan
PKn meskipun tujuan dan kajiannya adalah sama yaitu membentuk warganegara yang baik, maka PKn
tetap diajarkan sebagai mata pelajaran di sekolah secara terpisah dengan IPS.

Daftar Pustaka

http://tyabassuqy.blogspot.com/2013/04/makalah-konsep-dasar-ips-sejarah.html

http://mustaqimdauf.blogspot.com/2013/10/sejarah-ips-di-dunia.html
http://long-visit.blogspot.com/2012/07/perkembangan-pendidikan-ilmu.html

Yuni Milatus Sholikha di 15.53