Anda di halaman 1dari 25

OBESITAS

TUGAS KESEHATAN GLOBAL

OLEH
KELOMPOK 2
NAMA : 1. Auliya Fajriyati
2. Siti Handam Dewi
3. Tia Harjianti

SEMESTER/KELAS : 1/A
MATA KULIAH : Kesehatan Global
DOSEN PENGAMPU : Nurlisis, SKM, MKM.

PROGRAM STUDI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
HANG TUAH PEKANBARU
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ” Obesitas”.

Kami juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Nurlisis, SKM,
MKM. selaku dosen mata kuliah Kesehatan Global yang sudah memberikan kepercayaan kepada
kami untuk menyelesaikan tugas ini.

Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah pengetahuan
juga wawasan menyangkut dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh Obesitas, dan juga cara
bagaimana melakukan tindakan preventif terhadap obesitas.

Kami pun menyadari bahwa di dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan adanya kritik dan saran demi
perbaikan makalah yang akan kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Mudah-mudahan makalah sederhana ini dapat dipahami oleh semua orang khususnya bagi
para pembaca. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat kata-kata yang kurang
berkenan.

Pekanbaru, November 2019

Kelompok 2

i
DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar ……………………………………………………………… i

Daftar Isi ……………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang …………...................................................................... 1


2. Masalah Obesitas ……………………………………………………….. 4

BAB II PEMBAHASAN

1. Obesitas Pada Orang Dewasa ……………………………………………… 7


2. Obesitas Pada Remaja ……………………………………………… 9
3. Obesitas Pada Anak-Anak ……………………………………………… 12
4. Pencegahan Obesitas ……………………………………………… 16

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan …………………………………………….. 18
2. Saran …………………………………………….. 19

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………. 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Obesitas merupakan suatu keadaan dimana terjadi penumpukan lemak
berlebih di dalam tubuh, Obesitas diketahui menjadi salah satu faktor risiko
munculnya berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan stroke.
Penyakit-penyakit tersebut merupakan penyebab kematian terbesar penduduk
dunia, terutama pada kelompok usia lanjut. Selain penyakit tersebut, obesitas pada
lansia juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kerusakan pada tulang dan sendi
sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya jatuh atau kecelakaan.
Obesitas sentral juga berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit
degeneratif dimana obesitas sentral ini merupakan penumpukan lemak di perut
yang diukur dengan menggunakan indikator lingkar perut. Lemak viseral
merupakan lemak tubuh yang terkumpul di bagian sentral tubuh dan melingkupi
organ internal.
Kelebihan lemak viseral berhubungan erat dengan peningkatan risiko
penyakit kardiovaskuler, sindrom metabolic (hipertensi, dislipidemia, dan diabetes
tipe II), dan resistensi insulin. Suatu penelitian menyatakan bahwa seseorang yang
mengalami obesitas cenderung memiliki lemak viseral tubuh yang berlebih. (Sofa,
2018).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian obesitas di antaranya yaitu
tingkat pendidikan dan pekerjaan, asupan makanan, stress, aktivitas fisik, jenis
kelamin serta usia. Begitu juga dengan Lemak viseral dapat juga mempengaruhi
besar lingkar perut sehingga semakin tinggi persen lemak viseral akan semakin
meningkatkan risiko mengalami obesitas sentral. (Sofa, 2018).
Kegemukan dan obesitas merupakan faktor penentu penting dari kesehatan
yang menyebabkan perubahan metabolik yang merugikan dan meningkatkan risiko

1
penyakit tidak menular. Obesitas bukan merupakan penyakit yang mematikan
secara langsung (Jannah and Utami, 2018).
Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2014, lebih dari 1,9
miliar orang dewasa yang berusia > 18 tahun, kelebihan berat badan. Dari jumlah
tersebut lebih dari 600 juta mengalami obesitas. Secara keseluruhan, sekitar 13%
dari populasi dunia dewasa (11% laki-laki dan 15% perempuan) yang mengalami
obesitas pada tahun 2014. Prevalensi obesitas di seluruh dunia meningkat dua kali
lipat antara tahun 1980 dan 2014 (Who, 2015).
Berdasarkan data Obesitas pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2018 yang menyatakan bahwa di Indonesia proporsi berat badan berlebih dan
obese pada dewasa usia >18 tahun pertumbuhannya meningkat.

(gambar 1.0)

Jika kita lihat berdasarkan Riskesdas 2018, data berat badan berlebih
(overweight) pada tahun 2007 adalah 8,6%, kemudian meningkat pada tahun 2013
menjadi 11,5%, lalu meningkat lagi pada tahun 2018 yaitu 13,6%.
Sedangkan pada data obesitas pada Riskesdas 2018, tahun 2007 adalah
10,5%, lalu meningkat pada tahun 2013, yaitu 14,8% dan terlihat sangat

2
meningkat pada tahun 2018 yaitu 21,8%. Ini menunjukkan bahwa kegemukan dan
obesitas sebaiknya juga menjadi perhatian khusus mengingat gaya hidup
masyarakat Indonesia yang juga memiliki kebutuhan yang meningkat dari tahun ke
tahun.
Prevalensi penduduk dewasa (>18 Tahun) di Provinsi Riau dengan obesitas
sebesar 14,1%. Prevalensi obesitas terendah di Kabupaten/kota Indragiri Hilir
(7,7%) dan ter?nggi di Kabupaten/kota Siak (20,7%). Adapun prevalensi
penduduk dewasa (>18 Tahun) di Kota Pekanbaru kejadian obesitas sebesar 12,1
% (Riskesdas, 2013). Berdasarkan Data dari Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru
terdapat 52,50%. Kejadian obesitas pada laki-laki yaitu sebesar 37,50% dan pada
perempuan yaitu sebesar 60,58%. Tahun 2016 Proporsi kejadian obesitas tertinggi
terdapat di Puskesmas Simpang Tiga yaitu 2,1% per 19.029 penduduk. (Agus
Alamsyah, M Kamali Zaman, 2019)
Data dari Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Marpoyan Damai pada tahun
2015, kejadian obesitas pada Kelurahan Maharatu, berdasarkan penelitian
Berkaitan dengan tingginya kejadian obesitas di wilayah kerja Puskesmas
Simpang Tiga khususnya di Kelurahan Maharatu maka penulis melakukan survey
awal. Dari 20 responden yang diukur terdapat 5 (25%) masyarakat yang
mengalami obesitas, dari 5 responden yang obesitas terdapat 2 (40%) yang
memiliki tingkat pendidikan rendah, 2 (40%) yang memiliki pengetahuan kurang
terhadap obesitas, 3 (60%) memiliki riwayat obesitas, 2 (40%) aktivitas fisik yang
masih kurang dan 3 (60%) yang memiliki kebiasaan makan yang kurang baik.
(Agus Alamsyah, M Kamali Zaman, 2019)
Obesitas merupakan salah satu faktor risiko dari berbagai penyakit tidak
menular seperti penyakit diabetes mellitus, hipertensi, stroke, serangan jantung dan
gagal ginjal kanker dan penyakit tidak menular lainnya (Agus Alamsyah, M
Kamali Zaman, 2019)
Begitu juga dengan obesitas sentral, obesitas sentral terjadi jika selama
periode tertentu, energi yang masuk melalui makanan lebih banyak daripada

3
energi yang digunakan untuk menunjang kebutuhan energi tubuh, yang kemudian
disimpan menjadi lemak. Kelebihan lemak disimpan dalam bentuk trigliserid di
jaringan lemak, selain itu, modernisasi gaya hidup, tingginya asupan- asupan
kalori, rendahnya aktivitas fi sik juga merupakan akibat dari meningkatnya
obesitas sentral (Aulia Dewi, Mardiana, 2013).

(gambar 1.2)

Berdasarkan data obesitas sentral di Indonesia, terlihat bahwa Nusa


Tenggara Timur merupakan Provinsi dengan obesitas sentral terendah di Indonesia
pada tahun 2018, dan data menunjukkan bahwa Provinsi Sulawesi Utara adalah
Provinsi dengan data obesitas sentral tertinggi pada 2018. (Riskesdas, 2018)

2. Masalah Obesitas
Rasio lingkar pinggang panggul (RLPP) merupakan salah satu indikator
adanya obesitas sentral. Obesitas sentral merupakan bagian dari suatu keadaan
obesitas umum, World Health Organization (WHO) tahun 2006 menyatakan

4
bahwa obesitas merupakan suatu kondisi yang berisiko terhadap munculnya
penyakit degeratif. Obesitas sentral dapat terjadi pada laki-laki atau perempuan.
Keadaan obesitas sentral dipengaruhi oleh tidak seimbangnya asupan energi dan
kurangnya aktivitas fi sik sehingga akumulasi lemak lebih banyak terjadi di bagian
perut karena sel lemak di bagian perut lebih besar (Kurdanti et al., 2015).
Jika membahas mengenai obesitas, maka tidak akan lepas dari faktor-faktor
yang mempengaruhi kejadian obesitas itu sendiri. Beberapa faktor risiko yang
menyebabkan terjadi obesitas pada wanita dewasa, status perkawinan, pendapatan
rumah tangga, wilayah domisili, aktivitas fisik serta asupan energi dan karbohidrat.
Selain itu, faktor genetik, faktor psikologis, pola hidup yang kurang tepat,
kebiasaan makan yang salah, stres dan faktor pemicu lain. (wegiarti sikalak, laksmi
widajanti, 2017).
Selain orang dewasa, remaja dan anak-anak juga memiliki risiko terhadap
kegemukan dan obesitas, pada remaja Faktor penyebab obesitas pada remaja
bersifat multifaktorial. Peningkatan konsumsi makanan cepat saji (fast food),
rendahnya aktivitas fisik, faktor genetik, pengaruh iklan, faktor psikologis, status
sosial ekonomi, program diet, usia, dan jenis kelamin merupakan faktor-faktor
yang berkontribusi pada perubahan keseimbangan energi dan berujung pada
kejadian obesitas (Kurdanti et al., 2015).
Begitu pula dengan anak-anak yang juga memiliki risiko kegemukan dan
obesitas, Obesitas pada anak dapat menjadi penyakit ko- morbiditas seperti asma,
diabetes, dan penyakit kardiovaskuler (Skogheim & Vollrath, 2015). Walaupun
mekanisme terjadinya belum sepenuhnya dimengerti, tetapi telah dikonfirmasi
bahwa obesitas terjadi karena pemasukan energi melebihi pengeluaran energy
Penyebab terjadinya obesitas dipengaruhi oleh genetik dan lingkungan (jasmine
fachrunnisa, Cholis Abrori, 2007).
Di berbagai negara berkembang, perubahan gaya hidup mengakibatkan
masalah gizi ganda dengan penya- kit sindroma metabolik merupakan salah satu
dampaknya. Sindroma metabolik seperti obesitas tidak hanya terjadi pada usia

5
anak dan remaja, tetapi juga pa- da usia dewasa. Obesitas adalah akumulasi
jaringan lemak yang meningkatkan risiko penyakit. Status gizi obesitas umumnya
dilakukan dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), tetapi tidak
menggambarkan proporsi lemak tubuh. Salah satu metode penghitungan proporsi
lemak tubuh (PLT) yang dapat dilakukan adalah metode Body Impedance Analysis
(BIA). Penentuan sta- tus gizi menggunakan PLT lebih mendekati nilai sebe-
narnya daripada indikator IMT. Namun, peralatan yang mahal dan langka
membuat penentuan obesitas di lapa- ngan sering menggunakan indikator IMT
berdasarkan ambang batas obesitas WHO yang perlu dibedakan berdasarkan etnik
dan populasi tertentu. (Endang, Ratu and Dewi, 2010)
Di dalam makalah ini, kelompok akan membahas masalah obesitas yang
terbagi pada 3 kategori :
1. obesitas pada orang Dewasa
2. obesitas pada Remaja
3. dan obesitas pada anak-anak

6
BAB II
PEMBAHASAN

1. OBESITAS PADA ORANG DEWASA


Orang dengan berat badan berlebih berisiko besar terhadap serangan
berbagai penyakit terutama penyakit degeneratif atau noninfeksi seperti:
tekanan darah tinggi, penyakit pembuluh darah otak, kencing manis,
hiperlipidemia, jantung koroner, aterosklerosis, batu empedu, penyakit sendi,
dan darah tinggi. Dengan pertimbangan orang yang kegemukan memiliki
risiko besar untuk terserang berbagai penyakit, banyak orang berupaya
melakukan berbagai cara untuk menurunkan berat badan antara lain: dengan
diet, menggunakan obat-obatan, akupuntur, pembalutan, dengan pembedahan,
dan melakukan olahraga (Widiyanto, 2005).
Selain itu, beberapa faktor yang mempengaruhinya adalah aktifitas fisik,
jenis kelamin, psikologis, pengetahuan, pola konsumsi dan social ekonomi.
(Dwi Oktaviani, 2012).
Peningkatan kemakmuran, kemajuan teknologi dan westernisasi dapat
mengakibatkan perubahan gaya hidup dan pola makan di masyarakat, serta
penurunan aktivitas fisik yang dapat meningkatkan terjadinya gizi lebih.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kebiasaan konsumsi
fast food, aktivitas fisik (lama tidur, lama menonton televisi, lama main
komputer/video games, kebiasaan olahraga), pola konsumsi (total konsumsi
energi, konsumsi karbohidrat, lemak, protein) (Dwi Oktaviani, 2012).
Aktivitas fisik adalah pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka
yang mengeluarkan energi. Aktivitas fisik yang cukup pada orang dewasa
dapat menurunkan risiko hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, dia-
betes, dan kanker. Berbagai penelitian menyimpulkan hubungan yang
bermakna antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas, risiko obesitas

7
semakin rendah dengan aktivitas fisik yang tinggi. (Widiantini and Tafal,
2014).
Latihan (exercise) adalah aktivitas fisik yang direncanakan, ter- struktur,
dan dilakukan berulang-ulang dengan tujuan meningkatkan atau
mempertahankan aspek kebugaran. Semakin berat aktivitas fisik semakin
rendah kejadian obesitas. Bentuk tubuh orang dengan pekerjaan tidak banyak
mengeluarkan energi berbeda dengan orang yang dengan pekerjaan selalu
menggunakan otot atau banyak melaku- kan aktivitas fisik. Penggunaan
energi bervariasi pada tingkat aktivitas fisik dan pekerjaan yang berbeda.
Aktivitas fisik akan membakar energi dalam tubuh sehingga jika asupan kalori
ke dalam tubuh berlebihan dan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang
seimbang akan menyebabkan tubuh mengalami kegemukan. (Widiantini and
Tafal, 2014).
Selain aktivitas fisik, faktor lainnya adalah social ekonomi, obesitas kini
bukan lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang lazim ditemukan
di negara-negara maju, tetapi telah merambah ke pelosok negara-negara
berkembang yang sedang bergerak mantap ke arah industrilisasi. Obesitas
dapat diderita setiap orang tanpa melihat usia. Meskipun penderita obesitas
banyak ditemui pada kelompok masyarakat tingkat ekonomi menengah
keatas, tetapi pada kelompok masyarakat yang tingkat ekonomi rendah juga
tidak tertutup kemungkinan menderita obesitas. Perkiraan bahwa obesitas
adalah penyakit orang kaya, tidaklah sepenuhnya benar. Suatu survei yang di-
lakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pada kelompok masyarakat
yang berpenghasilan relatif rendah angka obesitas mencapai 30%, sedangkan
pada masyarakat menengah hanya 5%. (Nadimin, Ayumar and Fajarwati,
2015).
Begitu juga dengan pola konsumsi sehari-hari yang merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi obesitas. Konsumsi makanan pada seseorang
dapat menentukan tercapainya tingkat kesehatan, atau sering disebut status

8
gizi. Status gizi dikatakan normal apabila Indeks Massa Tubuh (IMT) 18.5-
22.9 kg/m2. Dalam kondisi demikian tubuh akan terhindar dari penyakit dan
mempunyai daya tahan tubuh yang tinggi. Apabila konsumsi gizi makanan
pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh, maka akan terjadi
kesalahan akibat gizi (malnutrition). Malnutrisi ini mencakup kelebihan gizi
atau disebut gizi lebih (overnutrition) atau ditandai dengan hasil IMT >23
kg/m2, dan kekurangan gizi atau gizi kurang (undernutrition) ditandai dengan
hasil IMT <18 kg/m2.4. Asupan energi dari karbohidrat, lemak, protein bila
melebihi angka kecukupan gizi yang dianjurkan akan mengakibatkan
terjadinya kegemukan. Energi akan diubah dalam bentuk lemak dan disimpan
dalam tubuh (Fitriah, 2007).

2. OBESITAS PADA REMAJA


Obesitas dapat terjadi pada siapa saja, baik balita maupun orang
dewasa. Masa remaja adalah masa yang menyenangkan, namun juga masa
yang kritis dan sulit, karena merupakan masa transisi atau peralihan dari masa
kanak- kanak menuju masa dewasa, yang ditandai dengan perubahan aspek
fisik,psikis, dan psikososial (Wijayanti, 2013).
Berkaitan dengan pertumbuhan fisik tersebut, bentuk tubuh yang ideal
dan wajah yang menarik merupakan hal yang diidam-idamkan oleh hampir
semua orang. Apalagi bagi banyak remaja yang mulai mengembangkan
konsep diri dan juga hubungan heteroseksual. Untuk itu kecenderungan
gemuk atau obesitas dapat mengganggu sebagian anak pada masa puber dan
menjadi sumber keprihatinan selama bertahun-tahun awal masa remaja
(Wijayanti, 2013).
Hubungan antara obesitas remaja dan perilaku gizi meliputi kebiasaan
melewatkan sarapan, konsumsi fast food, durasi tidur yang pendek dan
kurangnya olahraga. Beberapa studi melaporkan kegagalan diet pada remaja
diakibatkan oleh perilaku makan yang menyimpang. Faktor psikososial sangat

9
berkaitan dengan kejadian obes di remaja. Hal ini ditandai seperti remaja obes
lebih responsif terhadap syaraf lapar eksternal seperti rasa dan bau makanan,
atau waktu makan. Orang obes cenderung makan bila ia merasa ingin makan,
bukan makan pada saat ia lapar. (Noer, Kustanti and Fitriyanti, 2018)
Remaja obes mengalami gejala psikososial negatif, termasuk depresi,
bulimia, diskriminasi sosial, berkurang harga diri, ketidakpuasan diri,
sehingga menurunkan kualitas hidup. Dampak psikologis tersebut akan
menghambat keberhasilan penurunan berat badan pada remaja obes. Hasil
studi menunjukkan remaja obes gagal mengikuti terapi gizi karena memiliki
perilaku makan emosional. (Noer, Kustanti and Fitriyanti, 2018).
Hal ini juga disebabkan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, Pengaruh
faktor lingkungan terutama terjadi melalui ketidakseimbangan antara pola
makan dan perilaku makan. Kriteria gaya hidup yang mengarah pada
sedentary life style. Di Indonesia, terutama di kota-kota besar, dengan adanya
perubahan gaya hidup yang menjurus ke westernisasi dan sedentary berakibat
pada perubahan pola makan / konsumsi masyarakat yang merujuk pada pola
makan tinggi kalori, tinggi lemak dan kolesterol. Terutama terhadap
penawaran makanan siap saji (fast food) yang berdampak meningkatkan risiko
obesitas. (Mokolensang, Manampiring and ., 2016).
Perbedaan jumlah asupan energi fast food antara kelompok obesitas
dan non-obesitas dapat disebabkan oleh porsi fast food yang dikonsumsi lebih
besar pada kelompok non-obesitas dibandingkan dengan kelompok obesitas.
Selain itu, jenis fast food yang sering dikonsumsi subjek kelompok non-
obesitas memiliki kandungan energi lebih tinggi dibandingkan dengan jenis
fast food yang sering dikonsumsi subjek pada kelompok obesitas, baik itu fast
food lokal maupun modern. (Kurdanti et al., 2015).
Fast food dipandang negative karena kandungan gizi di dalamnya yang
tidak seimbang yaitu lebih banyak mengandung karbohidrat, lemak,
kolesterol, dan garam. Makanan tersebut umumnya diproduksi oleh industri

10
pengolahan pangan dengan teknologi tinggi dan memberikan berbagai zat
adiktif untuk mengawetkan serta memberikan cita rasa. Jika makanan ini
sering dikonsumsi secara terus menerus dan berlebihan, dikhawatirkan akan
berakibat pada terjadinya peningkatan nilai Indeks Massa Tubuh (gizi lebih).
(Dwi Oktaviani, 2012).
Jenis fast food yang sering dikonsumsi adalah fast food lokal. Fast
food yang sering dikonsumsi oleh subjek pada kelompok obesitas adalah beef
burger, burger ring on, es krim, steak, mie ayam, bakso, mi instan, batagor,
siomay, sosis, tempura, dan tela-tela sedangkan pada kelompok non-obesitas
meliputi beef burger, cheese burger, burger regular, es krim, steak, mi ayam,
bakso, mi instan, siomay, batagor, dan sosis. Hasil wawancara dengan
kelompok obesitas menyatakan bahwa subjek mengaku sering mengkonsumsi
fast food minimal 1x/ bulan dan maksimal 1x/minggu. Hal ini karena setiap
mengerjakan tugas kelompok, subjek pasti pergi ke tempat-tempat yang
menyediakan aneka jenis fast food seperti di KFC dan Mc Donald. Selain itu,
di sekitar sekolah juga banyak yang menjajakan makanan jenis fast food lokal,
baik itu di kantin sekolah maupun di luar sekolah seperti pedagang kaki lima.
Sebaliknya, hasil analisis menunjukkan frekuensi konsumsi fast food berlebih
dapat menyebabkan risiko terjadinya obesitas. Hal ini karena fast food
merupakan jenis makanan cepat saji yang mengandung tinggi energi, banyak
mengandung gula, tinggi lemak, dan rendah serat (Kurdanti et al., 2015).
Selain pola makan, pendapatan orang tua juga bagian yang
berpengaruh pada obesitas remaja, Pendapatan keluarga yang tinggi berarti
kemudahan dalam membeli dan mengkonsumsi makanan enak dan mahal.
Orang tua dengan pendapatan tinggi mempunyai kecenderungan untuk
memberikan uang saku yang cukup besar kepada anaknya. Dengan uang saku
yang cukup besar, biasanya remaja sering mengkonsumsi makanan-makanan
modern (fast food) dengan pertimbangan prestise dan juga dengan harapan
akan diterima di kalangan peer group mereka. (Dwi Oktaviani, 2012).

11
3. OBESITAS PADA ANAK-ANAK
Seiring perkembangan zaman Masalah gizi di Indonesia bukan hanya
masalah gizi kurang saja tetapi sudah memasuki masalah gizi ganda. Obesitas
pada anak adalah kondisi medis yang ditandai dengan berat badan diatas rata-
rata dari indeks massa tubuh (IMT) yang di atas normal. (Jannah and Utami,
2018)
Menurut NCMP (National Child Measurement Program) mengukur
tinggi dan berat sekitar satu juta anak sekolah di Inggris setiap tahun,
memberikan gambaran rinci tentang prevalensi obesitas pada anak. Data
menunjukkan bahwa 19,8% anak-anak berusia 10-11 mengalami obesitas dan
14,3% kelebihan berat badan, dari anak-anak usia 4-5 tahun, 9,3% mengalami
obesitas dan 12,8% lainnya kelebihan berat badan. atau Ini berarti sepertiga
dari 10-11 tahun dan lebih dari seperlima dari anak usia 4-5 tahun kelebihan
berat badan obesitas. Prevalensi anak obesitas baik di negara maju maupun
negara berkembang mengalami peningkatan dalam jumlah yang
mengkhawatirkan. Prevalensi anak obesitas mencapai 13,9% tahun 2009 di
Spanyol dan mencapai 15,3% tahun 2012 di Cina.Menurut WHO tahun
2015Prevalensi kelebihan berat tubuh dan obesitas di negara-negara maju
seperti Amerika, Eropa, dan Mediterania Timur telah mencapai tingkatan
yang sangat tinggi. Kejadian ini tidak hanya terjadi di negara maju, kenaikan
prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas juga terjadi di negara-negara
berkembang di Asia Tenggara dan Afrika. (Jannah and Utami, 2018)
Indonesia, Berdasarkan laporan gizi global atau Global Nutrition Report
pada tahun 2014 Indonesia termasuk ke dalam 17 negara yang memiliki 3
permasalahan gizi sekaligus, yaitu stunting (pendek), wasting (kurus), dan
juga overweight (obesitas). Data riset kesehatan dasar tahun 2013
menyebutkan bahwa prevalensi balita gemuk menurut BB/TB pada anak usia
0-59 bulan sebesar 11,9% sedangkan data survei pemantauan status gizi tahun
2015 menyatakan bahwa prevalensi balita gemuk menurut BB/TB usia 0-59

12
bulan sebesar 5,3%. Hal ini menggambarkan kondisi anak di Indonesia
sebanyak 8 dari 100 anak di Indonesia mengalami obesitas. Prevalensi
obesitas anak yang dihitung berdasarkan indeks masa tubuh dibandingkan
usia (IMT/U) pada kelompok anak usia 5-12 tahun besarnya 8%.
Kecenderungan ini diperkirakan akan mencapai 9,1% atau 60 juta di tahun
2020. Perubahan gaya hidup, yakni dari traditional life style berubah menjadi
sedentary life style yaitu kehidupan dengan aktivitas fisik sangat kurang,
dianggap bertanggung jawab atas kejadian overweight ini yang lama
kelamaan akan menjadi obesitas (Jannah and Utami, 2018).
Anak dapat beresiko tinggi untuk menjadi obesitas pada masa
dewasanya nanti. Masa anak-anak adalah masa pertumbuhan dan
perkembangan sehingga kegemukan pada masa anak menyebabkan semakin
banyaknya jumlah sel otot dan tulang rangka sedangkan obesitas pada orang
dewasa hanya terjadi pembesaran sel-sel saja sehingga kemungkinan
penurunan berat badan ke normal akan lebih mudah. Anak yang mengalami
obesitas pada masanya 75% akan menderita obesitas pula pada masa
dewasanya dan berpotensi mengalami berbagai penyebab kesakitan dan
kematian antara lain penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus dan akibat
yang ditimbulkan obesitas ini akan mempunyai dampak terhadap tumbuh
kembang anak itu sendiri. (Aprilia, 2015)
Kegemukan tidak hanya disebabkan oleh kebanyakan makan dalam hal
karbohidrat, lemak, maupun protein, tetapi juga karena kurangnya aktivitas
fisik. Obesitas pada anak adalah faktor penentu yang sangat penting terhadap
obesitas pada usia dewasa. Indeks Massa Tubuh (IMT) yang tinggi pada
remaja memprediksikan peningkatan risiko kematian dan penyakit
kardiovaskular. Lebih dari 60% anak overweight sebelum masa pubertas akan
berlanjut hingga masa dewasa awal, hal ini penting untuk diperhatikan karena
obesitas memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan, status
psikososial, kualitas hidup dan usia harapan hidup.(Aprilia, 2015).

13
Faktor penyebab obesitas lainnya adalah kurangnya aktivitas fisik baik
kegiatan harian maupun latihan fisik terstruktur. Aktivitas fisik yang
dilakukan sejak masa anak sampai lansia akan mempengaruhi kesehatan
seumur hidup. Obesitas pada usia anak akan meningkatkan risiko obesitas
pada saat dewasa. Penyebab obesitas dinilai sebagai ‘multikausal’ dan sangat
multidimensional karena tidak hanya terjadi pada golongan sosio-ekonomi
tinggi, tetapi juga sering terdapat pada sosio-ekonomi menengah hingga
menengah ke bawah. Obesitas dipengaruhi oleh faktor lingkungan
dibandingkan dengan faktor genetik. Jika obesitas terjadi pada anak sebelum
usia 5-7 tahun, maka risiko obesitas dapat terjadi pada saat tumbuh dewasa.
Anak obesitas biasanya berasal dari keluarga yang juga obesitas. (Aprilia,
2015)
Masalah gizi banyak dialami oleh golongan rawan gizi yang
memerlukan kecukupan zat gizi untuk pertumbuhan. Kelompok anak hingga
remaja awal (sekitar 10-14 tahun) merupakan kelompok usia yang berisiko
mengalami masalah gizi baik masalah gizi kurang maupun gizi lebih.
Prevalensi obesitas anak mengalami peningkatan di berbagai negara tidak
terkecuali Indonesia. (Aprilia, 2015)
Tingginya prevalensi obesitas anak disebabkan oleh pertumbuhan
urbanisasi dan perubahan gaya hidup seseorang termasuk asupan energi.
Menurut WHO, satu dari 10 (sepuluh) anak di dunia mengalami kegemukan.
Peningkatan obesitas pada anak dan remaja sejajar dengan orang dewasa.11
Prevalensi yang cenderung meningkat baik pada anak maupun orang dewasa
sudah merupakan peringatan bagi pemerintah dan masyarakat bahwa obesitas
dan segala implikasinya memerlukan perhatian khusus. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui faktor risiko obesitas anak usia 5-15 tahun.
Penelitian ini merupakan analisis terhadap data Riskesdas tahun 2007 yang
dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
(Litbangkes), Departemen Kesehatan RI (Aprilia, 2015)

14
Anak-anak usia sekolah mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan
cepat saji (junk foods dan fast foods) yang umumnya mengandung energi
tinggi karena 40-50% dari junk food tersebut berasal dari lemak, begitu juga
kebiasaan mengkonsumsi makanan cemilan yang banyak mengandung gula
sambil menonton televisi yang mengakibatkan terjadi peningkatan asupan
energy Selain faktor nutrisi, aktivitas fisik yang kurang merupakan faktor
predisposisi terjadinya obesitas.(Leonita and Nopriadi, 2010)
Modifikasi pengelolaan pola makan dan aktivitas tersebut sebaiknya
dilaksanakan secara multidisiplin (medis dan nonmedis) dengan
mengikutsertakan keluarga, terutama ibu karena secara umum perawatan anak
bergantung pada ibunya. Masa anak merupakan waktu yang tepat untuk
menanamkan perilaku dan kebiasaan kesehatan yang baik. (Leonita and
Nopriadi, 2010)
Di masyarakat ada kebanggaan ketika anak mereka yang obesitas dipuji
karena gemuk dan lucu. Bahkan mereka beranggapan anak yang
gemuk/obesitas adalah anak yang sehat dan berkecukupan gizi. Banyak kasus
obesitas yang terjadi pada anak-anak dianggap oleh orangtua sebagai hal yang
biasa dan merupakan gambaran anak sehat. Bahkan dalam persepsi ibu, anak
yang mengalami obesitas adalah kelebihan berat badan saja dan bukan
obesitas (Baugham et.al, 2006). Padahal persepsi orangtua yang berkaitan
dengan nutrisi seperti pemilihan makanan tinggi lemak dan kalori merupakan
salah satu faktor pendukung terjadi obesitas. Kecenderungan anak untuk
menyukai makanan tersebut tergantung pada ketersediaan makanan di rumah.
(Leonita and Nopriadi, 2010).
Dua hal penting dalam pengelolaan obesitas pada anak adalah
pencegahan dan pengobatan. Walaupun keberhasilannya sama- sama
memerlukan peran serta multidisiplin ilmu kesehatan dan nonkesehatan
bahkan peran aktif masyarakat maupun pemerintah, tetapi secara ekonomis
pencegahan primer maupun sekunder tetap lebih menguntungkan

15
dibandingkan dengan pengobatannya. Pemahaman pola makan dan pola
aktivitas pada anak obesitas secara individual penting dalam merencanakan
pengelolaan di klinik. Dengan demikian pemahaman orangtua terutama ibu
dapat mencegah terjadinya obesitas pada anak- anaknya (Leonita and
Nopriadi, 2010).
Selain dari pengetahuan dan pemahaman orang tua, social ekonomi
dan tingkat pendidikan orang tua juga mempengaruhi Pendidikan ayah diduga
berkaitan dengan tingkat status ekonomi keluarga. Tingkat pendidikan orang
tua sangat berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas makanan yang
dikonsumsi anaknya. Makin tinggi tingkat pendidikan, maka pendapat pun
akan semakin tinggi. Pendapatan yang tinggi berarti kemudahan dalam
membeli dan mengkonsumsi makanan enak dan mahal yang mengandung
energi tinggi. Kecenderungan obes terjadi pada anak yang berasal dari
keluarga yang berpendapatan tinggi (Mayulu, 2013).

4. PENCEGAHAN OBESITAS
Dalam penanganan dan penecgahan kasus obesitas yang semakin
meningkat di Indonesia, Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia (Kemenkes RI) mengeluarkan panduan Gerakan Nusantara Tekan
Angka Obesitas (Gentas). (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2017)
Gerakan Nusantara Tekan Angka Obesitas (Gentas) ini ditujukan
sasarannya kepada:
- Masyarakat, khususnya para pemimpin masyarakat /adat, tokoh agama,
Kepala Desa, dan perangkat Pemerintahan Desa.
- Kader-kader masyarakat dalam Posbindu, PTM, Pemberdayaan
kesejahteraan keluarga (PKK), dan/atau kader-kader kesehatan yang
sejenis.
- Sekolah Menengah Pertama / MTs, Sekolah Menengah Atas/ MA,
Perguruan Tinggi dan Pendidikan Non Formal.

16
- Organisasi Profesi, Organisasi Kemasyarakatan dan Keagamaan.
- Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
- Media Massa & Dunia Usaha
- Lembaga Swadaya Masyarakat dan Mitra Pembangunan Internasional.

Dimana pesan yang disampaikan di dalam Gentas yang disusun oleh


Kemenkes RI adalah mengkampanyekan :
1. Mengatur pola makan
2. Konsumsi bahan makanan sumber protein sama dengan sumber
karbohidrat (P = KH)
3. Konsumsi sayur dan buah harus sama dengan jumlah karbohidrat
ditambah protein (SB=KH + P)
4. Minyak sebagai bahan makanan sumber lemak dapat digunakan
untuk mengolah bahan makanan, jumlah yang dianjurkan adalah 3-
4 porsi, atau setara dengan 3-4 sendok teh.

Tujuan dari Gerakan Nusantara Tekan Angka Obesitas (Gentas) adalah


menekan laju angka obesitas 15,4% sampai dengan tahun 2019. (Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, 2017)

17
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN
Obesitas merupakan suatu keadaan dimana terjadi penumpukan lemak
berlebih di dalam tubuh, Obesitas diketahui menjadi salah satu faktor risiko
munculnya berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan stroke.
Obesitas sentral juga berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit
degeneratif dimana obesitas sentral ini merupakan penumpukan lemak di
perut yang diukur dengan menggunakan indikator lingkar perut. Kelebihan
lemak viseral berhubungan erat dengan peningkatan risiko penyakit
kardiovaskuler, sindrom metabolic (hipertensi, dislipidemia, dan diabetes tipe
II), dan resistensi insulin.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian obesitas di antaranya
yaitu tingkat pendidikan dan pekerjaan, asupan makanan, stress, aktivitas
fisik, jenis kelamin serta usia.
Berdasarkan Data dari Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru terdapat
52,50%. Kejadian obesitas pada laki-laki yaitu sebesar 37,50% dan pada
perempuan yaitu sebesar 60,58%. Tahun 2016 Proporsi kejadian obesitas
tertinggi terdapat di Puskesmas Simpang Tiga yaitu 2,1% per 19.029
penduduk.
Masalah obesitas yang terbagi pada 3 kategori : (1) obesitas pada orang
Dewasa, (2) obesitas pada Remaja dan (3) obesitas pada anak-anak.
Dalam penanganan dan pencegahan kasus obesitas yang semakin
meningkat di Indonesia, Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia (Kemenkes RI) mengeluarkan panduan Gerakan Nusantara Tekan
Angka Obesitas (Gentas).

18
2. SARAN
Dalam mendukung program pemerintah yaitu Gentas, dan
memaksimalkan program yang sudah berjalan dalam tindakan pencegahan
obesitas demi menekan angka peningkatan pada kasus obesitas dimulai dari
lingkungan terdekat seperti keluarga.
Beberapa tahapan yang bisa dilakukan agar terhindar dari obesitas, di
antaranya :
1. Mengubah gaya hidup Beberapa gaya hidup yang berpotensi
meningkatkan faktor risiko obesitas antara lain kebiasaan merokok,
konsumsi gula dan garam berlebih, kurangnya aktivitas fisik, serta kurang
konsumsi sayur dan buah.
2. Selalu mengukur lingkar pinggang, Usahakan lingkar pinggang
perempuan tidak melebihi 81cm dan laki-laki tidak lebih dari 90cm.
3. Membiasakan masyarakat untuk aktivitas yang melibatkan otot motorik
seperti berolahraga. Olahraga di sini tak mesti berupa olahraga formal,
seperti pergi ke pusat kebugaran atau mengikuti kelas-kelas lainnya.
Setidaknya, otot motorik digerakan selama 30 menit per hari.
4. Kecanggihan teknologi saat ini justru mempermudah juga dalam
pengaturan kalori makanan, seperti banyaknya aplikasi untuk mengatur
pola makan yang membantu mengelola berat badan, tips diet, tips
olahraga, mudah mendapatkan informasi-informasi seputar kesehatan,
gaya hidup sehat dan aktif dan juga tips mencegah kegemukan serta
obesitas.

19
DAFTAR PUSTAKA

Agus Alamsyah, M Kamali Zaman, W. S. (2019) ‘Determinan Kejadian Obesitas


Pada Masyarakat Dewasa’, Determinan Kejadian Obesitas Pada Masyarakat Dewasa
di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru, 5(1), pp. 23–28.
Aprilia, A. (2015) ‘Obesitas pada Anak Sekolah Dasar’, Majority, 4(7), pp. 45–48.
Available at:
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/viewFile/1446/1281.
Aulia Dewi, Mardiana, G. Ni. (2013) ‘Obesitas Sentral Dan Kadar Kolesterol Darah
Total’, KESMAS - Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(1), pp. 37–43. doi:
10.15294/kemas.v9i1.2828.
Dwi Oktaviani, W. (2012) ‘HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI FAST FOOD,
AKTIVITAS FISIK, POLA KONSUMSI, KARAKTERISTIK REMAJA DAN
ORANG TUA DENGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) (Studi Kasus pada
Siswa SMA Negeri 9 Semarang Tahun 2012)’, Jurnal Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro, 1(2).
Endang, N., Ratu, A. and Dewi, A. (2010) ‘Faktor Risiko Obesitas pada Orang
Dewasa Urban dan Rural Obesity Risk Factors in Urban and Rural Adults’, Jurnal
Kesehatan Masyarakat Nasional, 5, pp. 29–34. Available at:
http://jurnalkesmas.ui.ac.id/index.php/kesmas/article/download/159/160.
Fitriah, juni norma (2007) ‘Artikel Penelitian Juni Norma Fitriah UNIVERSITAS
DIPONEGORO FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI ILMU GIZI S1’,
HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI, AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS GIZI, pp.
0–17.
Jannah, M. and Utami, T. N. (2018) ‘Faktor yang Memengaruhi Terjadinya Obesitas
Pada Anak Sekolah di SDN 1 Sigli Kabupaten Pidie’, Jurnal Kesehatan Global, 1(3),
p. 110. doi: 10.33085/jkg.v1i3.3928.
jasmine fachrunnisa, Cholis Abrori, D. A. R. (2007) ‘Elementary School in Jember
Regency’, Analisis Faktor Risiko Kejadian Obesitas Pada Anak Perkotaan di

20
Beberapa Sekolah Dasar Kabupaten Jember, 2(3), pp. 17–22.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2017) ‘Panduan Pelaksanaan Gerakan
Nusantara Tekan Angka Obesitas’, p. 32. Available at:
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&
uact=8&ved=2ahUKEwjD9tGYyP3jAhWCfH0KHW-
nCJEQFjABegQIARAC&url=http%3A%2F%2Fp2ptm.kemkes.go.id%2Fuploads%2
F2017%2F11%2FPedumGentas.pdf&usg=AOvVaw34OpBSfDPL7vArraGi7Krg.
Kurdanti, W. et al. (2015) ‘Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas pada
remaja’, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 11(4), p. 179. doi: 10.22146/ijcn.22900.
Leonita, E. and Nopriadi, N. (2010) ‘Persepsi Ibu Terhadap Obesitas pada Anak
Sekolah Dasar’, Jurnal Kesehatan Komunitas, 1(1), pp. 39–48. doi:
10.25311/jkk.vol1.iss1.9.
Mayulu, N. (2013) ‘Hubungan Pendapatan Keluarga Dengan Kejadian Obesitas Pada
Anak Sekolah Dasar Dikota Manado’, Jurnal Keperawatan, 1(1).
Mokolensang, O. G., Manampiring, A. E. and . F. (2016) ‘Hubungan Pola Makan
Dan Obesitas Pada Remaja Di Kota Bitung’, Jurnal e-Biomedik, 4(1). doi:
10.35790/ebm.4.1.2016.10848.
Nadimin, N., Ayumar, A. and Fajarwati, F. (2015) ‘Obesitas Pada Orang Dewasa
Anggota Keluarga Miskin Di Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang’, Media
Kesehatan Masyarakat Indonesia Universitas Hasanuddin, 11(3), pp. 147–153.
Noer, E. R., Kustanti, E. R. and Fitriyanti, A. R. (2018) ‘Perilaku gizi dan faktor
psikososial remaja obes’, Jurnal Gizi Indonesia, 6(2), p. 109. doi:
10.14710/jgi.6.2.109-113.
Sofa, I. M. (2018) ‘Kejadian Obesitas , Obesitas Sentral , dan Kelebihan Lemak
Viseral pada Lansia Wanita The Incidence of Obesity , Central Obesity , and
Excessive Visceral Fat among Elderly Women’, Amerta Nutr, pp. 228–236. doi:
10.20473/amnt.v2.i3.2018.228-236.
wegiarti sikalak, laksmi widajanti, R. A. (2017) ‘Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Obesitas Pada Karyawati Perusahaan Di Bidang Telekomunikasi

21
Jakarta Tahun 2017’, Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 5(3), pp. 193–201.
Who (2015) ‘who’, World Health Organization, 1(30), pp. 77–87.
Widiantini, W. and Tafal, Z. (2014) ‘Aktivitas Fisik, Stres, dan Obesitas pada
Pegawai Negeri Sipil’, Kesmas: National Public Health Journal, (4), p. 325. doi:
10.21109/kesmas.v0i0.374.
Widiyanto (2005) ‘Metode pengaturan berat badan’, Jurnal Penelitian Humaniora,
pp. 105–117.
Wijayanti, D. N. (2013) ‘Analisis Faktor Penyebab Obesitas dan Cara Mengatasi
Obesitas pada Remaja Putri’, Skripsi, p. 13.

22