Anda di halaman 1dari 3

LATAR BELAKANG

Hipnotik atau obat tidur merupakan zat-zat yang dalam dosis terapi ditujukan untuk
meningkatkan keinginan faal untuk tidur atau mempermudah tidur. Biasanya obat ini
diberikan di malam hari. Sedangkan apabila obat ini diberikan di siang hari dengan dosis
yang lebih rendah dan dengan tujuan untuk menenangkan maka dinamakan sedatif (Tjay dan
Rahardja, 2002). Sedatif menekan reaksi terhadap perangsangan, terutama rangsangan emosi
tanpa menimbulkan kantuk yang berat. Hipnotik menyebabkan tidur yang sulit dibangunkan
disertai penurunan refleks hingga kadang-kadang kehilangan tonus total (Djamhuri, 1995).

Hipnotika dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu benzodiazepin contohnya


flurazepam, lorazepam, temazepam, triazolam; barbiturat contohnya fenobarbital, tiopental,
butabarbital; hipnotik sedatif lain contohnya kloralhidrat, etklorvinol, glutetimid, metiprilon,
meprobamat, dan alkohol (Ganiswara, 1995). Pada penilaian kualitatif dari obat tidur tidak
perlu diperhatikan faktor-faktor berikut (Tjay dan Rahardja, 2002):

1. Lama kerjanya obat


2. Pengaruhnya pada kegiatan esok hari
3. Kecepatan mulai kerjanya
4. Efek “rebound” insomnia
5. Pengaruhnya terhadap kualitas tidur
6. Interaksi dengan obat-obat lain
7. Toksisitas, terutama pada dosis berlebihan

Barbiturat umumnya diresepkan sebagai anti-epilepsi dan obat penenang pada


1930-an dan 1940-an, memuncak menjadi 24,7 juta resep barbiturat di Amerika pada tahun
1968. Kelemahan utama ketergantungan dan kematian terkait overdosis kemudian
menyebabkan undang-undang pembatasan terhadap golongan barbiturat. Tingkat resep juga
menurun dengan pengembangan antiepilepsi yang lebih aman seperti levetiracetam dan
ansiolitik seperti benzodiazepine. Meskipun ada dua faktor ini, keracunan barbiturat masih
umum terjadi karena harganya yang terjangkau di negara-negara berkembang. Selain itu,
resep yang sedang berlangsung di Indonesia seperti digunakan untuk gangguan epilepsi
manusia / hewan seperti kejang parsial dan toniklonik umum (Tan dkk., 2018).
Masyarakat dalam mengatasi kecemasan berlebih biasanya menggunakan obat-
obatan yang mampu mempercepat induksi tidur dan memperlama waktu tidur (sedatif
hipnotik). Hipnotik dan sedatif merupakan golongan obat pendepresi susunan saraf pusat
(SSP). Efeknya bergantung kepada dosis, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang
atau kantuk, menidurkan, hingga yang berat yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anastesi,
koma dan mati. Jika obat sedatif sering digunakan, maka terdapat efek akumulasi selain efek
samping, yaitu kerusakan degeneratif hati serta reaksi alergi yang kerap kali muncul
(Rahangga dkk., 2018).
Secara empiris tanaman kangkung dimanfaatkan sebagai penenang dan bisa
menyebabkan kantuk. Ekstrak kasar kangkung air mengandung alkaloid, steroid, fenol dan
hidrokuinon. Senyawa alkaloid, flavonoid dan steroid dapat menumbulkan efek sedatif.
Senyawa alkaloid merupakan ligan yang secara selektif dapat berikatan pada GABA binding
site, senyawa flavonoid dan glikosida dapat berikatan pada benzodiazepine binding site
sedangkan senyawa steroid berikatan pada steroid binding site yang merupakan komponen
kompleks protein pada reseptor GABAs yang nantinya mengakibatkan kanal ion klorida
terbuka. Hal ini menyebabkan sel sukar tereksitasi sehingga terjadinya penurunan tonus otot
yang ditandai dengan penurunan aktivitas. Hal inilah yang menyebabkan efek sedatif hipnotik
dapat terjadi (Astuti dan Fitriyanti, 2018).

TUJUAN

Praktikum ini memiliki tujuan untuk mengenal dan mempraktekkan uji efek sedatif suatu
bahan alam dengan menggunakan rotarod.

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, K. I., & Fitriyanti, F. 2018. Uji Potensiasi Efek Sedatif-Hipnotik Ekstrak Etanol
Kangkung Air (Ipomoea aquatic) Asal Gambut Kalimantan Selatan Potential Test Of
Sedative-Hypnotic Effect Extract Ethanol Ipomoea Aquatica Form Gambut, South
Kalimantan. Borneo Journal of Pharmascientech, 2(2): 59-64.

Djamhuri, A. 1995. Synopsis Farmakologi dengan Terapan Khusus di Klinik dan


Keperawatan. Jakarta: Hipokrates.

Ganiswara, S. G. 1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: UI Press.

Rahangga, D. G. O., Hair, L., Sasmita, W. O. I., & Sahidin, S. (2018). Efek Ansiolitik
Ekstrak Etanol Kangkung Air (Ipomea aquatica) dalam Mengurangi Perasaan
Cemas. Pharmauho, 4(1): 34-38.
Tan, E., Moser, M., & Duke, G. (2018). Successful haemofiltration therapy in severe
phenobarbital overdose. Australasian Medical Journal (Online), 11(2), 91-95.

Tjay, T. H., dan Rahardja, K. 2002. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT. Etex Media Komputindo