Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia terlahir sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Hakikat manusia sebagai
makhluk individu yakni memiliki egoisme yang tinggi. Namun, di sisi lain manusia juga sebagai
makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Manusia hidup bersama dengan
manusia lain dan membentuk sebuah kelompok sosial.

Konflik sering terjadi dalam sebuah kelompok sosial, misalnya antar organisasi Islam. Tidak
dapat dipungkiri bahwa konflik yang terjadi dalam organisasi Islam bukan lagi dalam ruang
lingkup kecil, namun telah meluas seiring perkembangan organisasi Islam di Indonesia.

Pada dasarnya konflik yang terjadi dipicu oleh adanya masyarakat heterogen yang multicultural.
Masyarakat yang memiliki latar belakang, sudut pandang, dan idealisme yang berbeda.
Perbedaan-perbedaan inilah yang seringkali menjadi pokok persoalan sehingga terjadi
pertentangan-pertentangan dalam kelompok sosial.

Menurut paham strukturalis, meskipun konflik tidak bisa dihindarkan, paling tidak dapat
dikendalikan agar tidak berkembang menjadi pembentukan kekerasan. Justru konflik yang
terkendali itu bisa menjadi kekuatan yang mendorong terjadinya perubahan sosial yang yang
terjadi secara evolusioner dan berdampak positif bagi sistem sosial itu sendiri.
(P.soedarmo:1992,64)

1.2 Rumusan Masalah

Kemajemukan nusantara adalah aset berharga yang perlu dijaga dan dilestarikan. Namun dalam
konteks ilmu sosial hal ini merupakan sumber konflik atas perbedaan-perbedaan yang terjadi.

Banyak konflik yang terjadi akibat pertentangan faham dalam kehidupan beragama. Hujatan
antar organisasi Islam acapkali terjadi dalam berbagai pertemuan. Hal ini memicu berbagai
reaksi yang tidak baik sehingga hubungan antar organisasi memburuk. Kondisi tersebut terus
berlanjut dan menjadi permasalahan yang turun-temurun.

1
Masalah-masalah yang menjadi pembahasan dalam karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :

a. Bagaimana sebenarnya sudut pandang agama terhadap konflik sosial yang terjadi antar
organisasi Islam?

b. Apa faktor-faktor pemicu terjadinya konflik sosial antar kelompok dalam konteks agama?

c. Apa akibat dari konflik sosial antar organisasi Islam?

1.3 Maksud dan Tujuan

1.3.1 Maksud Penulisan

Maksud dari penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui dan mendeskrisikan bagaimana agama memandang perbedaan yang


menyebabkan konflik.

b. Untuk mengetahui dan meneskripsikan bagaimana sikap kelompok beragama dalam


menanggapi perbedaan.

1.3.2 Tujuan

Tujuan dari karya ilmiah ini adalah :

a. Untuk memberikan gambaran bahwa konflik bisa saja terjadi dalam kehidupan beragama
karena perbedaan.

b. Agar pembaca mengetahui faktor-faktor pemicu konflik antar organisasi Islam.

c. Agar pembaca memahami bahwa akibat yang terjadi karena konflik.

1.4 Manfaat Penelitian

Sebagai bentuk pengembangan ilmu pengetahuan dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Sosilogi
secara teoritis dan studi kasus pada konteks kehidupan beragama.

2
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian dan Faktor Penyebab Konflik

Menurut Leopold dan Becker dalam buku karya Soekanto, pertentangan atau pertikaian
(selanjutnya disebut “pertentangan” saja) merupakan suatu proses sosial dimana individu atau
kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang
disertai dengan ancaman dan/atau kekerasan. (Soekanto,1982:91)

Lalu bagaimana konflik terjadi dalam kehidupan beragama? Mengapa konflik dapat terjadi?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut penulis meninjau dari sudut pandang teori
konflik Marx yang diambil dari makalah karya Pettracia dkk, ia mengatakan bahwa di dalam
suatu masyarakat dapat dijumpai hal yang dianggap baik oleh suatu golongan atau kelompok,
tetapi bersifat relative, yang berartii kebaikan itu belum tentu baik pula di mata orang lain
(kelompok lain). Manusia cenderung untuk berusaha mendapatkan hal-hal yang dianggap baik
(menurut mereka sendiri). Maka dari itu bisa menimbulkan persaingan antar individu . (Petracia
dkk, 2010:6)

Teori tersebut memiliki relevansi dengan teori in group dan out group yang dikemukakan JBAF
Mayor Polak dalam buku Soerjono Soekanto yang menyatakan bahwa sikap out group selalu
ditandai dengan suatu kelainan yang berwujud antagonisme atau antipati. Perasaan in group atau
out group didasari dengan suatu sikap yang dinamakan etnosentris, yaitu adanya anggapan
bahwa kebiasaan dalam kelompoknya merupakan yang terbaik dibanding dengan kelompok
lainnya. (Soerjono,2013;108)

Atas dasar teori tersebut maka diketahui bahwa semakin banyak kelompok sosial maka semakin
besar peluang terjadinya perbedaan. Banyaknya perbedaan membuat mereka cenderung
mengakui kebenaran pada in groupnya melalui nalar mereka sendiri dibandingkan dengan out
groupnya.

Hal ini berarti intensitas terjadinya konflik pada masyarakat heterogen lebih besar daripada
masyarakat homogen.

Ciri utama masyarakat majemuk (plural society) menurut Furnival (1940) dalam buku karya
Nasikun adalah kehidupan masyarakat yang berkelompok-kelompok yang berdampingan secara
fisik, tetapi mereka (secara esensi) terpisahkan oleh perbedaan-perbedaan identitas sosial yang
melekat pada diri mereka masing-masing serta tidak tergabungnya mereka dalam satu unit politik
tertentu. (Nasikun,1995:27)

3
Pendekatan secara relevan pada teori ini adalah perbedaan memiliki perspektif yang tajam
terhadap tejadinya konflik. Sistem nilai yang tidak sama antara ajaran agama yang dianut
masing-masing kelompok memicu faktor-faktor pertikaian.

2.2 Faktor-Faktor Pendorong Konflik

Sherif & Hovland (1961) dalam buku Teori-Teori Psikologi Sosial karya Sarlito. W
menyatakan bahwa orang membentuk situasi yang penting buat dirinya. Jadi dia tidak ditentukan
oleh situasi. Pembentukan situasi ini mencakup faktor-faktor intern (sikap,emosi,motif,pengaruh
masa lalu dan sebagainya), maupun eksternal (obyek, orang-orang dan lingkungan fisik).
(Sarlito.W:2002,13)

4
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Kajian Teoritis dan Analisis

Kajian berdasarkan analisa dari berbagai teori yang didapat melalui sumber ilmu pengetahuan
akdemis berupa buku, makalah, dan kajian elektronik.

3.2 Kajian melalui Penelitian

Kajian berdasarkan analisa terhadap data studi kasus di lapangan melalui pengamatan langsung
terhadap pbjek dan pengisian angket/kuesioner oleh responden yang relevan.

3.3. Metodelogi penelitian

Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis melalui sumber data menggunakan isian
kuesioner. Analisis data menggunakan metode analisis statistik kuantitatif.

5
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Konflik Sosial di Lingkungan Masyarakat Agamis

Konflik merupakan bentuk interaksi sosial yang dapat merenggangkan hubungan solidaritas
antar individu atau antar kelompok. Contoh fenomena yang terjadi saat ini berupa konflik antar
agama dan faham ajaran yang dianut oleh kelompok sosial baik in group ataupun out group.
Secara umum, konflik ini kerap terjadi akibat banyaknya faham ajaran yang berbeda dalam
praktek beragama. Sehingga terdapat pergesekan pandangan antar kelompok beragama.

Lalu bagaimana agama memandang konflik yang terjadi di lingkungan masyarakat? Untuk
mengetahui sejauh mana keadaan soSial di lingkungan masyarakat agamis, maka penulis telah
melakukan penelitian sederhana. Penelitian ini dilakukan melalui metode pengisian kuesioner
pada hari senin, 3 November 2014. Sebagai objek penelitian yaitu santriwati Madrasah Diniyah
Takmiliyah Al-Inayah Desa Gadobangkong, Ngamprah. Objek penelitian terdiri atas responden
yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan rentang usia 14-20 tahun dengan faham ahlu
sunnah wal jamaaah di bawah naungan organisasi Nadhlathul Ulama.

Selain itu, penulis telah melakukan pengamatan dan menemukan beberapa unsur konflik yang
muncul di lingkungan agamis. Konflik di sebabkan oleh perbedaan pemahaman. Kedua
kelompok memiliki egoisme tinggi yang menganggap faham mereka sendiri yang paling benar
secara rasional dan keyakinan. Namun, sebagian dari mereka cenderung menghindari perdebatan
dengan alasan perdebatan takkan menemui titik temu di antara kedua faham.

Maka berdasarkan hasil analisa penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ternyata tidak semua
umat beragama memiliki sikap antipati terhadap out-groupnya. Walaupun prinsip mereka teguh
terhadap ajaran yang dipegang, namun sikap menghargai dan toleransi amat dijunjung tinggi.
Karena mereka berpandangan bahwa agama Islam sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan
dan perdamaian. Sehingga kaum agamis yang memiliki faham ahlu sunnah wal jamaah sangat
menghindari perselisihan dan konflik. Mereka lebih memilih sikap amalu amukum di banding
harus berdebat panjang yang meributkan atas kebenaran yang mereka pegang dalam faham
ajarannya padahal secara garis besar semua ajaran dan faham tetap tertuju pada Tuhan Yang
Maha Esa.

6
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kehidupan masyarakat takkan lepas dari perbedaan, terutama pada masyarakat yang heterogen.
Kehidupan masyarakat heterogen sangat rentan terhadap konflik karena keberagaman yang
dimiliki. Begitu juga dalam kehidupan beragama, perbedaan faham dan ajaran kerap kali menjadi
bahan perbincangan baik secara in-group maupun out-group. Namun demikian, sebesar apapun
perbedaan jika dilandasi oleh rasa toleransi yang yang tinggi serta membudayakan sikap saling
menghargai sebagai insan beragama, maka konflik takkan mengakibatkan perselisihan
berkepanjangan yang menjadikan pertumpahan darah diantara kelompok sosial .

4.2 Saran

Perbedaan tak selamanya menjadikan hubungan persaudaraan menjadi terpecah belah.


Kehidupan bermasyarakat menjadikan setiap individu saling membutuhkan satu sama lain.
Sekalipun konflik tak dapat dihindari, namun dapat dinetralisir melalui sikap toleransi dan saling
menghargai antar kelompok sosial. Akhirnya, mari kita jadikan perbedaan sebagai hiasan
kehidupan yang membuat ia menjadi berwarna.

7
DAFTAR PUSTAKA

Anggaran Dasar Surat Keputusan Muktamar XXX NU Nomor: 003/MNU-30/11/1999 melalui


<http:pcnu-bandung.com/anggaran-dasar-nu> [25/10/14] 10.40 wib

Lika, Aisah. 2010. Organisasi Islam di Indonesia melalui


<Https://aisasholikha.wordpress.com/organisasi-islam-di-indonesia> [25/10/14] 10.00 wib

Nasikun. 1995. Sistem Sosial Indonesia. (Yogyakarta: Raja Grafindo Persada), hlm. 27

Pettracia,M.,D., dkk. 2010. Hubungan Sosial Antar Keompok Agama dalam Kerangka Analisis
Konflik. (Depok: FISIP Universitas Indonesia), , hlm. 6 melalui
<Manshurzikri.wordpress.com/2010/03/21/hubungan-sosial-antar-kelompok-agama-dalam-
kerangka-analisis-teori-konflik/> [25/10/14] 10.35 wib

Sarwono, S.W. 2002. Teori-Teori Psikologi Sosial. (Jakarta: Raja Grafindo Persada). hlm.13

Soedarmo. P. 1992. Ilmu Sosial Dasar. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama). hlm. 64

Soekanto, Soerjono. 2013. Ilmu Sosiologi Sebagai Pengantar Revisi, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada). hlm.91

Ibid. 2013. Ilmu Sosiologi Sebagai Pengantar Revisi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada). hlm.91

Soekanto, Soerjono. 1982. Teori Sosiologi: Tentang Pribadi dalam masyarakat. (Jakarta: Gahlia
Indonesia). hlm.7…………………………………