Anda di halaman 1dari 31

Tugas kelompok

Manajemen Agribisnis

CENGKEH

Kelas : Manajemen Agribisnis B


Nama kelompok 4 :

1. Wahyuni Eka Putri (G021181033)


2. Nur Zulfiah. S (G021181038)
3. Nurul Qarimah (G021181048)
4. Nadiah Rifai (G021181050)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Yang Maha Esa, Yang Maha
Pengasih dan Penyayang, yang telah memberikan rahmah, hidayah, dan taufiksehingga
dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Salam dan shalawat pun
tidak lupa kita kirimkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad
sallallahualaihiwasallam. Dan Terima kasih pada Ir. Darwis Ali, M.S. selaku Dosen
mata kuliah Manajemen Agribisnis yang telah memberikan tugas kepada kepada
kelompok kami.
Makalah ini berisikan pembahasan mengenai manajemen agribisnis pada
komoditas cengkeh. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
sehingga kami masih memerlukan kritik serta saran yang membangun agar kedepannya
dapat lebih baik lagi.

Makassar, 23 Februari 2020

Penyusun

2
DAFTAR ISI

SAMPUL .................................................................................................1

KATA PENGANTAR .............................................................................2

DAFTAR ISI ...........................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ..................................................................................4

1.2 Tujuan ...............................................................................................6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Agribisnis ...................................................................7

2.2 Agribisnis Sebagai Suatu Sistem ......................................................7

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Aspek Teknologi Produksi ..............................................................21

3.2 Proses Produksi ...............................................................................23

3.3. Analisa Agroindustri Penyulingan Minyak Daun Cengkeh .............25

BAB IV KESIMPULAN
Kesimpulan ...........................................................................................30

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................31

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada awal pemenuhan kebutuhannya, manusia hanya mengambil dari alam
sekitar tanpa kegiatan budidaya (farming), dengan demikian belum memerlukan
sarana produksi pertanian. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia,
alam tidak dapat menyediakan semua kebutuhan itu sehingga manusia mulai
membudidayakan (farming) secara ekstensif berbagai tanaman, hewan dan ikan
untuk memenuhi kebutuhannya. Pada tahap ini kegiatan budidaya mulai
menggunakan sarana produksi, dilakukan dalarn pertanian itu sendiri (on farm)
dan hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sendiri (home consumption).
Tahap selanjutnya, ditandai dengan adanya spesialisasi dalam kegiatan
budidaya sebagai akibat pengaruh perkembangan diluar sektor pertanian dan
adanya perbedaan potensi sumberdaya alam (natural endowment) antar daerah,
perbedaan ketrampilan (skill) dalam masyarakat serta terbukanya hubungan
lalulintas antar daerah. Pada tahap ini, selain dikonsumsi sendiri, hasil-hasil
pertanian mulai dipasarkan dan diolah secara sederhana sebelum dijual.
Perkembangan sektor pertanian selanjutnya dipacu oleh kemajuan teknologi
yang sangat pesat di sektor industri (kimia dan mekanik) dan transportasi.
Pertanian menjadi semakin maju dan kompleks dengan ciri produktivitas per
hektar yang semakin tinggi berkat penggunaan sarana produksi pertanian yang
dihasilkan oleh industri (pupuk dan pestisida). Kegiatan pertanian semakin
terspesialisasi menurut komoditi dan kegiatannya. Namun, petani hanya
melakukan kegiatan budidaya saja, sementara pengadaan sarana produksi
pertanian didominasi oleh sektor industri.
Dipihak lain karena proses pengolahan hasil-hasil pertanian untuk berbagai
keperluan membutuhkan teknologi yang semakin canggih dan skala yang besar
agar ekonomis, maka kegiatan ini pun didominasi oleh sektor industri pengolahan.
Melalui proses pengolahan, produk-produk pertanian menjadi lebih beragam
penggunaan dan pemasarannyapun menjadi lebih mudah (storable and
transportable) sehingga dapat diekspor. Pada tahap ini pembagian kerja di dalam

4
kegiatan pertanian menjadi semakin jelas, yaitu: kegiatan budidaya (farming)
sebagai kegiatan pertanian dalam arti sempit, kegiatan produksi sarana pertanian
(farm supplies) sebagai industri hulu dan kegiatan pengolahan komoditi pertanian
sebagai industri hilir. Spesialisasi fungsional dalam kegiatan pertanian seperti
yang telah dikemukakan diatas meliputi seluruh kegiatan usaha yang berhubungan
langsung maupun tidak langsung dengan pertanian dan keseluruhannya disebut
sistem "Agribisnis'. Untuk peningkatan hasil, diperlukan pengolahan komoditi
yang sesuai dengan lingkungan dan permintaan pasar, contohnya cengkeh.
Tanaman cengkeh (Syzigium aromaticum) dikenal sebagai tanaman rempah
yang digunakan sebagai obat tradisional. Cengkeh termasuk salah satu penghasil
minyak atsiri yang biasa digunakan sebagai bahan baku industri farmasi maupun
industri makanan, sedangkan penggunaan yang terbanyak sebagai bahan baku
rokok. Produksi Cengkeh mempunyai peranan yang cukup besar dalam
menunjang upaya peningkatcin pendapatan Negara karena sampai saat ini Cukai
rokok merupakan salah satu sumber pendapatan Negara yang terbesar dibanding
dengon sumber-sumber pendapatan lainnya.
Besarnya cukai Rokok Kretek tergantung dan perkembangan produksi Rokok
Kretek yang dihasilkan oleh Pabrik Rokok Kretek di Indonesia. Sedangkan
produksi Rokok baik kualitas maupun kuantitasnya akan sangat dipenguruhi oleh
ketersediaan pasokon Cengkeh yang merupakan bahan baku utama produksi
Rokok Kretek. Cengkeh merupakan salah satu komoditas pertanian yang tinggi
nilai ekonominya. Baik sebagai rempah-rempah, bahan campuran rokok kretek
atau bahan dalam pembuatan minyak atsiri, namun bila faktor penanaman dan
pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka produksi dan kualitasnya akan
menjadi rendah.
Cengkeh sejak zaman dahulu hingga sekarang masih menjadi salah satu hasil
industri perkebunan yang prospeknya sangat bagus. Berapapun hasil produksi
kita, maka pasar dipastikan akan mampu menyerapnya. Meski beberapa waktu
yang lalu pernah terjadi penurunan harga terhadap hasil budidaya tanaman
cengkeh di Indonesia, namun sekarang keadaanya beransur membaik dan normal
kembali. Maka tidak mengherankan bila saat ini para petani juga mulai tekun

5
untuk menggarap ladang atau kebun cengkehnya kembali. Cengkeh dapat
diproduksi menjadi bentuk lain seperti minyak.
Minyak daun cengkeh dapat diproduksi di wilayah Indonesia mengingat
bahan baku yakni daun cengkeh tersedia melimpah di Tanah Air kita, dengan
tujuan mencukupi minyak daun cengkeh baik untuk kebutuhan dalam negeri
maupun ekspor. Bahan baku utama dalam memproduksi minyak daun cengkeh
adalah daun cengkeh sisa yang sudah tidak terpakai, dikatakan sebagai daun sisa
karena rontokkan dari pohon cengkeh yang kurang menguntungkan bagi struktur
tanah pertanian, karena sifat daun cengkeh yang sulit membusuk. Dengan
teknologi dan proses tertentu mampu dihasilkan minyak daun cengkeh dan pupuk
organik yang dimanfaatkan untuk memperbaiki tekstur tanah pertanian. Untuk
menghasilkan produk minyak daun cengkeh, perusahaan tersebut masih
menggunakan peralatan yang sederhana dengan tenaga manual, namun telah
mampu menghasilkan minyak daun cengkeh dengan kualitas dan kuantitas yang
sesuai dengan standar mutu yang ada.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari latar belakang diatas, adalah sebagai berikut :
1. Mampu memahami sejarah dan pengertian Agribisnis dari beberapa ahli.
2. Memahami fungsi dan contoh agribisnis sebagai suatu sistem.
3. Mampu memahami kaitan dan ruang lingkup Agribisnis.
4. Mampu memahami peran agribisnis dalam pembangunan nasional.
5. Mengetahui aspek teknologi produksi yang digunakan dalam penyulingan
minyak daun cengkeh.
6. Mengetahui proses produksi penyulingan minyak daun cengkeh.
7. Menganalisis agroindustri penyulingan minyak daun cengkeh secara
ekonomi.

6
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Agribisnis


Menurut asal muasalnya kata Agribisnis berangkat dari kata Agribusiness,
dimana Agri=Agriculture artinya pertanian dan Business berarti usaha atau
kegiatan yang berorientasi profit. Jadi secara sederhana agribisnis (agribusiness)
adalah usaha atau kegiatan pertanian serta apapun yang terkait dengan pertanian
berorientasi profit. Istilah “agribusiness” untuk pertama kali dikenal oleh
masyarakat Amerika Serikat pada tahun 1955, ketika John H. Davis
menggunakan istilah tersebut dalam makalahnya yang disampakan pada "Boston
Conference on Distribution". Kemudian John H. Davis dan Ray Goldberg
kembali lebih memasyarakatkan agribisnis melalui buku mereka yang berjudul "A
Conception of Agribusiness" yang terbit tahun 1957 di Harvard University. Ketika
itu kedua penulis bekerja sebagai guru besar pada Universitas tersebut. Tahun
1957, itulah dianggap oleh para pakar sebagai tahun kelahiran dari konsep
agribisnis. Dalam buku tersebut, Davis dan Golberg mendefinisikan agribisnis
sebagai berikut: "The sum total of all operation involved in the manufacture
anddistribution of farm supplies: Production operation on farm: and thestorage,
processing and distribution of farm commodities and items madefrom them".
2.2 Agribisnis Sebagai Suatu Sistem
Secara konsepsional sistem agribisnis dapat diartikan sebagai semua aktifitas,
mulai dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi (input) sampai dengan
pemasaran produk-produk yang dihasilkan oleh usaha tani serta agroindustri, yang
saling terkait satu sama lain. Dengan demikian sistem agribisnis merupakan suatu
sistem yang terdiri dari berbagai subsistem yaitu :
1. Subsistem Agribisnis/Agroindustri Hulu
Meliputi pengadaan sarana produksi pertanian antara lain terdiri dari benih,
bibit, makanan ternak, pupuk, obat pemberantas hama dan penyakit, lembaga
kredit, bahan bakar, alat-alat, mesin, dan peralatan produksi pertanian. Pelaku-
pelaku kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi adalah perorangan,
perusahaan swasta, pemerintah, koperasi. Betapa pentingnya subsistem ini

7
mengingat perlunya keterpaduan dari berbagai unsur itu guna mewujudkan sukses
agribisnis. Industri yang meyediakan sarana produksi pertanian disebut juga
sebagai agroindustri hulu (upstream). Kemudian ada beberapa pendapat mengenai
subsitem agribisnis hulu :
1) Menurut Departemen Pertanian (2001), subsistem hulu merupakan industri
yang menghasilkan barang-barang sebagai modal bagi kegiatan pertanian
yang mencakup industri pembibitan tumbuhan dan hewan, industri agrokimia
(pupuk,pestisida,obat-obatan), dan industri agro otomotif (mesin dan
peralatan pertanian) seta industri pendukungnya.
2) Subsistem agribisnis hulu adalah subsistem yang mencakup semua kegiatan
untuk memproduksi dan menyalurkan input-input pertanian dalam arti luas
(Purnomo, 2009)
3) Saragih dalam Suryanto (2004) mengatakan bahwa subsistem agribisnis hulu
(upstream off-farm agribusiness), mencakup kegiatan ekonomi industri yang
menghasilkan sarana produksi seperti pembibitan, usaha industri pupuk,
industri obat-obatan, industri pestisida dan lain-lain beserta kegiatan
perdagangannya.
4) Subsistem agribisnis hulu disebut juga subsistem faktor input (input factor
subsystem), yaitu subsistem pengadaan sarana produksi pertanian. Kegiatan
subsistem ini berhubungan dengan pengadaan sarana produksi pertanian,
yaitu memproduksi dan mendistribusikan bahan, alat, dan mesin yang
dibutuhkan usahatani atau budidaya pertanian (on-farm agribusiness)
(Saragih, 1998).
5) Kegiatan ekonomi yang menyediakan sarana produksi bagi pertanian, seperti
industri dan perdagangan agrokimia (pupuk, pestisida, dll), industri
agrootomotif (mesin dan peralatan), dan industri benih/bibit (Hanafi, 2012).
2. Subsistem Agribisnis Hulu
Subsistem agribisnis hulu memiliki beberapa fungsi penting yaitu:
1) Menghasilkan dan menyediakan sarana produksi pertanian terbaik agar
mampu menghasilkan produk usahatani yang berkualitas.
2) Memberikan pelayanan yang bermutu kepada usahatani.

8
3) Memberikan bimbingan teknis produksi.
4) Memberikan bimbingan manajemen dan hubungan sistem agribisnis.
5) Memfasilitasi proses pembelajaran atau pelatihan bagi petani.
6) Menyaring dan mensintesis informasi agribisnis praktis untuk petani.
7) Mengembangkan kerjasama bisnis (kemitraan) untuk dapat memberikan
keuntungan bagi para pihak.
Sesuai dengan pengertian, subsistem agribisnis hulu bergerak pada bidang
penyediaan sarana produksi. Terdapat beberapa jenis perusahaan maupun usaha
yang bergerak pada subsistem ini, seperti penyediaan pupuk, benih, pestisida, alat
serta mesin pertanian, dan sebagainya. Di Indonesia, cukup banyak perusahaan
atau usaha yang bergerak di bidang ini. Sebagai contoh perusahaan dalam
penyediaan pupuk yaitu PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kaltim, PT Kujang, PT
Pusri, dan sebagainya. Sedangkan perusahaan dalam penyediaan benih yaitu PT
Arindro Utama Perkasa, PT Sang Hyang Seri, PT Syngenta, dan lain-
lain. Sementara itu, perusahaan penyediaan alat dan mesin produksi seperti PT
Putra Andalan Jaya, dan masih banyak yang lainnya.
3. Subsistem budidaya/usahatani
Usaha tani menghasilkan produk pertanian berupa bahan pangan, hasil
perkebunan, buah-buahan, bunga dan tanaman hias, hasil ternak, hewan dan ikan.
Pelaku kegiatan dalam subsistem ini adalah produsen yang terdiri dari petani,
peternak, pengusaha tambak, pengusaha tanaman hias dan lain-lain. Menurut A.T.
Mosher (1966) usahatani adalah sebagian dari permukaan bumi di mana seorang
petani, sebuah keluarga tani atau badan usaha lainnya bercocok tanam atau
memelihara ternak.
 Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usahatani
Menurut Fadholi (1991), faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan
usahatani digolongkan menjadi dua, yaitu :
 Faktor Intern (faktor-faktor pada usahatani itu sendiri), antara lain :
a) Petani Pengelola
Petani adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi sebagian
atau seluruh kebutuhan hidupnya di bidang pertanian dalam arti luas yang

9
meliputi usaha tani pertanian, peternakan, perikanan, dan pemungutan hasil laut.
Petani tersebut bertanggung jawab tehadap pengelolaan usahatani yang ia
lakukan, apabila petani dapat melakukan pengelolaan secara baik maka usahatani
yang ia lakukan juga dapat berkembang dengan baik, dan sebaliknya. Pengelolaan
usahatani itu juga tergantung dari tingkat pendidikan petani sendiri dan bagaimana
cara ia memanfaatkan berbagai faktor produksi yang ada untuk digunakan secara
efektif dan efisien agar mendapatkan keuntungan yang maksimal. Jadi disini
petani berperan penting sebagai pengambil keputusan dan kebijakan dari
usahatani yang dilakukan.
b) Tanah Usahatani
Tanah sebagai harta produktif adalah bagian organis rumah tangga tani. Luas
lahan usahatani menentukan pendapatan, taraf hidupnya, dan derajat kesejahteraan
rumah tangga tani. Tanah berkaitan erat dengan keberhasilan usaha tani dan
teknologi modern yang dipergunakan. Untuk mencapai keuntungan usaha tani,
kualitas tanah harus ditingkatkan. Hal ini dapat dicapai dengan cara pengelolaan
yang hati-hati dan penggunaan metode terbaik.
Pentingnya faktor produksi tanah, bukan saja dilihat dari segi luas atau
sempitnya lahan, tetapi juga segi yang lain, misalnya aspek kesuburan tanah,
macam penggunaan lahan (tanah sawah, tegalan, dan sebagainya) dan topografi
(tanah dataran pantai, rendah dan dataran tinggi).
Kemampuan tanah untuk pertanian penilaiannya didasarkan kepada:
1) Kemampuan tanah untuk ditanami dengan berbagai jenis tanaman. Makin
banyak tanaman makin baik.
2) Kemampuan untuk berproduksi. Makin tinggi produksi per satuan luas makin
baik.
3) Kemampuan untuk berproduksi secara lestari, makin sedikit pengawetan
tanah makin baik.
c) Tenaga Kerja
Tenaga kerja adalah energi yang di curahkan dalam suatu proses kegiatan
untuk menghasilkan suatu produk. Pembicaraan mengenai tenaga kerja dalam
pertanian di Indonesia harus dibedakan ke dalam persoalan tenaga kerja dalam

10
usahatani kecil-kecilan (usahatani pertanian rakyat) dan persoalan tenaga kerja
dalam perusahaan pertanian yang besar-besar yaitu perkebunan, kehutanan,
peternakan dan sebagainya.
Dalam usahatani skala kecil sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga
petani sendiri yang terdiri atas ayah sebagai kepala keluarga, istri dan anak-anak
petani. Anak-anak berumur 12 tahun misalnya sudah dapat merupakan tenaga
kerja yang produktif bagi usahatani. Tenaga kerja yang berasal dari keluarga
petani ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara
keseluruhan dan tidak pernah dinilai dalam uang. Peran anggota keluarga tani
dalam mengelola kegiatan usahatani bersama dapat mengurangi biaya
pengeluaran untuk membayar tenaga kerja sewa.
Berbeda dengan usahatani dalam skala besar, tenaga kerja memegang
peranan yang penting karena tenga kerja yang ada memiliki skill/keahlian tertentu
dan berpendidikan sehingga mampu menjalankan usahatani yang ada dengan baik,
tentu saja dengan seorang pengelola (manager) yang juga memiliki keahlian
dalam mengembangkan usahatani yang ada.
d) Modal
Seringkali dijumpai adanya pemilik modal besar yang mampu mengusahakan
usahataninya dengan baik tanpa adanya bantuan kredit dari pihak lain. Golongan
pemilik modal yang kuat ini sering ditemukan pada petani besar, petani kaya dan
petani cukupan, petani komersial atau pada petani sejenisnya. Sebaliknya, tidak
demikian halnya pada petani kecil. Golongan petani yang diklasifikasikan sebagai
petani yang tidak bermodal kuat yaitu petani kecil, petani miskin, petani tidak
cukupan dan petani tidak komersial. Karena itulah mereka memerlukan kredit
usahatani agar mereka mampu mengelola usahataninya dengan baik.
Kredit usaha tani adalah kredit modal kerja yang disalurkan melalui
koperasi/KUD dan LSM, untuk membiayai usaha tani dalam intensifikasi tanaman
padi, palawija dan hortikultura. Kredit program ini dirancang untuk membantu
petani yang belum mampu membiayai sendiri usaha taninya. Sistem penyaluran
kredit ini dirancang sedemikian rupa agar dapat diakses secara mudah oleh petani,
tanpa agunan dan prosedur yang rumit.

11
Bila tidak ada pinjaman yang berupa kredit usaha tani ini, maka mereka
sering menjual harta bendanya atau sering mencari pihak lain untuk membiayai
usahataninya itu.
e) Tingkat Teknologi
Kemajuan dan pembangunan dalam bidang apa pun tidak dapat dilepaskan
dari kemajuan teknologi. Revolusi pertanian didorong oleh penemuan
mesin-mesin dan cara-cara baru dalam bidang pertanian. Demikian pula “Revolusi
Hijau” mulai tahun 1969/1970 disebabkan oleh penemuan teknologi baru
dalam bibit padi dan gandum yang lebih unggul dibanding bibit-bibit
yang dikenal sebelumnya.
Teknologi baru yang diterapkan dalam bidang pertanian selalu dimaksudkan
untuk menaikkan produktivitas apakah ia produktivitas tanah, modal atau tenaga
kerja. Dengan penggunaan teknologi yang lebih maju dari sebelumnya maka
usahatani yang dilakukan dapat lebih efektif dan efisien, sehingga dapat
memperoleh keuntungan maksimal dengan produktivitas yang tinggi.
Dalam menganalisa peranan teknologi baru dalam pembangunan pertanian
kadang-kadang digunakan dua istilah lain yang sebenarnya berbeda namun dapat
dianggap sama dan sering dipertukarkan karena keduanya menunjukkan pada soal
yang sama yaitu perubahan teknik (technical change) dan inovasi (innovation).
Istilah perubahan teknik jelas menunjukkan unsur perubahan suatu cara baik
dalam produksi maupun dalam distribusi barang-barang dan jasa-jasa yang
menjurus ke arah perbaikan dan peningkatan produktivitas. Inovasi berarti pula
suatu penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal
sebelumnya. Inovasi selalu bersifat baru.
Namun, teknologi juga dapat menjadi kendala usahatani karena sulitnya
penerimaan petani terhadap teknologi baru dikarenakan ketidakpercayaannya
pada teknologi tersebut, dan juga karena faktor budaya dari petani itu sendiri yang
enggan menerima teknologi maupun inovasi. Teknologi mempunyai sifat sebagai
berikut :

12
1) Tingkat keuntungan relatif dari inovasi tersebut. Semakin tinggi tingkat
keuntungan relatif semakin cepat pula teknologi tersebut diterima oleh
masyarakat.
2) Tingkat kesesuaian dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Semakin
tinggi tingkat kesesuaian dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat,
semakin cepat pula inovasi tersebut di terima.
3) Tingkat kerumitan (complexity) dari inovasi yang akan disebarkan. Semakin
tinggi tingkat kerumitan dari inovasi, semakin sulit diterima masyarakat.
4) Tingkat mudah diperagakan (triability) dari inovasi yang akan disebarkan.
Semakin tinggi tingkat kemudahan diperagakan dari inovasi yang akan
disebarkan, semakin mudah inovasi itu diterima masyarakat.
5) Tingkat kemudahan dilihat dari hasilnya (observability). Semakin tinggi
tingkat observability semakin mudah inovasi tersebut diterima oleh
masyarakat.
f) Kemampuan Petani Mengalokasikan Penerimaan Keluarga
Hasil dari usahatani skala keluarga merupakan penerimaan keluarga yang
dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut dan juga
menyambung kembali keberlangsungan usahatani mereka. Jika seorang petani
dapat mengelola penerimaan usahataninya dengan baik maka kebutuhan
keluarganya dan usahataninya dapat tercukupi, sebaliknya jika tidak mampu
mengelola dan mengalokasikan penerimaan keluarga dari hasil usahatani maka
kebutuhannya tidak dapat tercukupi dengan baik.
g) Jumlah Keluarga
Jumlah keluarga berhubungan dengan banyak sedikitnya potensi tenaga kerja
yang tersedia di dalam keluarga. Dalam usahatani skala kecil sebagian besar
tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri yang terdiri atas ayah sebagai
kepala keluarga, istri dan anak-anak petani. Semakin banyak jumlah keluarga
produktif yang mampu membantu usahatani maka biaya tenaga kerja pun semakin
banyak berkurang. Dan biaya tersebut dapat dialokasikan untuk keperluan lain.

13
 Faktor ekstern (faktor-faktor di luar usahatani), antara lain :
a) Tersedianya Sarana Transportasi dan Komunikasi
Sarana transportasi dalam usahatani tentu saja sangat membantu dan
mempengaruhi keberhasilan usahatani, misalnya dalam proses pengangkutan
saprodi dan alat-alat pertanian, begitu juga dengan distribusi hasil pertanian ke
wilayah-wilayah tujuan pemasaran hasil tersebut, tanpa adanya transportasi maka
proses pengangkutan dan distribusi akan mengalami kesulitan.
Begitu pula dengan ketersediaan sarana komunikasi, pentingnya interaksi
sosial dan komunikasi baik antara petani dan petani, petani dan kelembagaan,
serta petani dan masyarakat diantaranya dapat meningkatkan kualitas SDM petani,
mengembangkan pola kemitraan, mengembangkan kelompok tani melalui
peningkatan kemampuan dari aspek budidaya dan aspek agribisnis secaa
keseluruhan, memperkuat dan melakukan pembinaan terhadap seluruh komponen
termasuk petani melalui peningkatan fasilitas, kerja sama dengan swasta,
pelayanan kredit dan pelatihan. Jika sarana komunikasi dalam berusahatani
kurang mencukupi maka perkembangan usahatani dan petani yang menjalankan
kurang maksimal karena ruang lingkup interaksi sosialnya sempit.
b) Aspek-Aspek yang Menyangkut Pemasaran Hasil dan Bahan-Bahan
Usahatani (harga hasil, harga saprodi dan lain-lain)
Harga hasil produksi usahatani mempengaruhi keuntungan yang didapat,
semakin tinggi hasil produksi dan semakin mahal harganya maka keuntungan dari
usahatani pun semakin tinggi pula, namun harga saprodi juga mempengaruhi
penerimaan hasil secara keseluruhan Karena harga saprodi merupakan modal
utama dalam berusahatani entah itu harga alat-alat pertanian, bahan-bahan utama
seperti benih, bibit, pupuk, dan obat-obatan dan sebagainya. Maka perhitungan,
analisis dan pengelolaan/pengalokasian dana yang baik akan mempengaruhi hasil
yang didapat dalam berushatani.
c) Fasilitas Kredit
Kredit adalah modal pertanian yang yang diperoleh dari pinjaman.
Pentingnya peranan kredit disebabkan oleh kenyataan bahwa secara relatif
memang modal merupakan faktor produksi non-alami (buatan manusia) yang

14
persediannya masih sangat terbatas terutama di negara-negara yang sedang
berkembang. Lebih-lebih karena kemungkinan yang sangat kecil untuk
memperluas tanah pertanian. Perlunya fasilitas kredit :
1) Pemberian kredit usahatani dengan bunga yang ringan perlu untuk
memungkinkan petani melakukan inovasi-inovasi dalam usahataninya.
2) Kredit itu harus bersifat kredit dinamis yang mendorong petani untuk
menggunakan secara produktif dengan bimbingan dan pengawasan yang
teliti.
3) Kredit yang diberikan selain merupakan bantuan modal juga merupakan
perangsang untuk menerima petunjuk-petunjuk dan bersedia berpartisipasi
dalam program peningkatan produksi.
4) Kredit pertanian yang diberikan kepada petani tidak perlu hanya terbatas
pada kredit usahatani yang langsung diberikan bagi produksi pertanian tetapi
harus pula mencakup kredit-kredit untuk kebutuhan rumah tangga (kredit
konsumsi).
Adapun lembaga-lembaga kredit yang ada di Indonesia bagi masyarakat tani
dapat digolongkan sebagia berikut :
1) Bank yang meliputi Bank Desa, Lumbung Desa dan Bank Rakyat Indonesia.
2) Perusahaan Negara Pegadaian.
3) Koperasi-Koperasi Desa dan Koperasi Pertanian (Koperta).
Dengan adanya fasilitas kredit dari pemerintah kepada para petani maka
diharapkan usahatani dapat terus dilakukan dan dikembangkan tanpa adanya
kesulitan modal tapi dengan kredit bunga ringan.
d) Sarana Penyuluhan Bagi Petani
Penyuluh memberikan jalan kepada petani untuk mendapatkan kebutuhan
informasi tentang cara bertani atau teknologi baru untuk meningkatkan produksi,
pendapatan dan kesejahteraannya. Selain itu, penyuluh juga memberikan
pendidikan dan bimbingan yang kontinyu kepada petani.Dalam proses
peningkatan teknologi dan penyebaran inovasi pada masyarakat, penyuluh
berfungsi sebagai pemrakarsa yang tugas utamanya membawa gagasan-gagasan

15
baru. Beberapa peranan yang harus dilakukan penyuluh agar proses peningkatan
teknologi dan penyebaran inovasi dapat berjalan efektif adalah :
1) Menumbuhkan kebutuhan untuk berubah.
2) Membangun hubungan untuk perubahan. Hubungan ini tentunya harus
terbina diantara sasaran perubahan (klien) dan penyuluh.
3) Diagnosa dan penjelasan masalah yang dihadapi oleh klien. Gejala-gejala
dari masalah yang dihadapi haruslah diketahui dan dirumuskan menjadi
maslah bersama sasaran perubahan.
4) Mencari alterntif pemecahan masalah. Selain itu tujuan dari perubahan harus
juga ditetapkan dan tekad untuk bertindak harus ditumbuhkan.
5) Mengorganisasikan dan menggerakkan masyarakat ke arah perubahan.
6) Perluasan dan pemantapan perubahan.
7) Memutuskan hubungan antara klien dan penyuluh untuk perubahan itu.
Hal itu diperlukan untuk mencegah timbulnya sikap kertergantungan
masyarakat pada penyuluh. Penyuluh disini bersifat membantu agar kebutuhan
informasi yang berhubungan dengan pertanian dapat tesalurkan dengan baik ke
petani-petani, serta untuk meningkatkan teknologi dan inovasi petani tradisional
menjadi lebih modern.
Menurut Soekartawi (2002), untuk mendukung keberhasilan pengembangan
dan pembangunan petani, aspek yang akan berperan adalah :
1. Aspek sumberdaya (faktor produksi)
2. Aspek kelembagaan
3. Aspek penunjang pembangunan pertanian
Bila uraian tersebut di atas dikaji/ditelaah lebih mendalam, maka
keberhasilan usahatani tidak terlepas dari :
1. Syarat mutlak (syarat pokok pembangunan pertanian), yang terdiri dari :
 Pasaran untuk hasil-hasil usahatani
 Teknologi yang selalu berubah
 Tersedianya bahan-bahan produksi dan peralatan secara local
 Perangsang produksi bagi para petani
 Pengangkutan (transportasi)

16
2. Faktor pelancar pembangunan pertanian, yang terdiri dari :
 Pendidikan pembangunan
 Kredit produksi
 Kegiatan gotong royong oleh para petani
 Perbaikan dan perluasan tanah/lahan pertanian
 Perencanaan nasional untuk pembangunan pertanain
4. Subsistem Agribisnis Hilir meliputi Pengolahan dan Pemasaran (Tata
niaga) Produk Pertanian dan Olahannya
Dalam subsistem ini terdapat rangkaian kegiatan mulai dari pengumpulan
produk usaha tani, pengolahan, penyimpanan dan distribusi. Sebagian dari produk
yang dihasilkan dari usaha tani didistribusikan langsung ke konsumen didalam
atau di luar negeri. Sebagian lainnya mengalami proses pengolahan lebih dahulu
kemudian didistribusikan ke konsumen. Pelaku kegiatan dalam subsistem ini ialah
pengumpul produk, pengolah, pedagang, penyalur ke konsumen, pengalengan
dan lain-lain. Industri yang mengolah produk usahatani disebut agroindustri hilir
(downstream).
Peranannya amat penting bila ditempatkan di pedesaan karena dapat menjadi
motor penggerak roda perekonomian di pedesaan, dengan cara
menyerap/mencipakan lapangan kerja sehingga dapat meningkatkan pendapatan
dan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
5. Subsistem Jasa Layanan Pendukung Agribisnis (Kelembagaan)
Subsistem jasa layanan pendukung agribisnis (kelembagaan) atau supporting
institution adalah semua jenis kegiatan yang berfungsi untuk mendukung dan
melayani serta mengembangkan kegiatan sub-sistem hulu, sub-sistem usaha tani,
dan sub-sistem hilir. Lembaga-lembaga yang terkait dalam kegiatan ini adalah
penyuluh, konsultan, keuangan, dan penelitian. Lembaga penyuluhan dan
konsultan memberikan layanan informasi yang dibutuhkan oleh petani dan
pembinaan teknik produksi, budidaya pertanian, dan manajemen pertanian. Untuk
lembaga keuangan seperti perbankan, model ventura, dan asuransi yang
memberikan layanan keuangan berupa pinjaman dan penanggungan risiko usaha
(khusus asuransi). Sedangkan lembaga penelitian baik yang dilakukan oleh balai-

17
balai penelitian atau perguruan tinggi memberikan layanan informasi teknologi
produksi, budidaya, atau teknik manajemen mutakhir hasil penelitian dan
pengembangan.
Berikut adalah penjelasan mengenai jasa dan layanan pendukung agribisnis.
1. Lembaga Perkreditan
Untuk mengembangkan agribisnis perlu adanya dukungan modal dari
lembaga perkreditan. Kendala yang sering dialami dalam usaha agribisnis adalah
kurangnya modal atau investasi perbankan. Investasi ini sangat menentukan bagi
pengembangan agribisnis. Bank Dunia menyebutkan bahwa selayaknya agribisnis
dan agroindustri diberi bunga lebih kecil dari 12 persen. Apabila agribisnis dan
agroindustri diberikan bunga di atas 12 persen maka tidak layak. Misalnya,
rata-rata bank umum di dalam negeri biasanya memberikan di atas 12 persen.
Oleh karena itu dalam rangka mendukung pengembangan agribisnis dan
agroindustri di dalam negeri pembentukan bank khusus untuk pertanian sangat
tepat. Bank pertanian ini diharapkan dapat meningkatkan investasi di bidang
pertanian khususnya agribisnis dan agroindustri. Misalkan, Thailand memiliki
Bank of Agriculture, yaitu bank khusus untuk pertanian dan koperasi.
Bank memaklumi bahwa pertanian sangat tergantung pada kondisi alam
sehingga dalam memberikan kredit bank sudah memperhitungkan resiko dari
kegiatan pertanian.Untuk mengembangkan sektor pertanian bantuan melalui
subsidi sangat penting. Sebaiknya subsidi diberikan agar lebih efisien. Subsidi
melalui perbankan inilah yang dapat diharapkan dapat dikembangkan, yaitu
subsidi yang diwujudkan dalam bentuk kredit kepada petani atau pengusaha
agribisnnis dan agroindustri.
Chili mempunyai Foundation of Chili, yaitu badan yang dibentuk oleh
pemerintah untuk mendukung swasata dalam kegiatan penelitian dan
pengembangan, latihan dan informasi pasar. Dana untuk kegiatan badan ini
dihimpun dari perusahaan dan pemerintah. Hasilnya dalam tempo 17 tahun Chili
berubah dari negara pengimpor buah dan sayur, menjadi negara pengekspor buah-
buahan dan saturan.Pengembangan agribisnis bukan saja merupakan kepentingan
sektor pertanian akan tetapi sektor lainnya. Pendekatan yang selama ini

18
ditekankan untuk meningkatkan daya saing menghadapi pasar global melalui
efisiensi di berbagai bidang merupakan langkah terbaik. Akan tetapi dalam
kenyataannya, dukungan tersebut tidak sejalan dengan insentif pengembangan
yang dilakukan oleh perbankan. Kredit penyaluran perbankan dibanding sektor
lainnya merupakan jumlah terkecil.
2. Penanaman Modal
Lembaga yang menagani adalah Departemen terkait dengan bidang usha
masing-masing dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Prosedur
penanaman modal telah disusun oleh masing-masing Departemen terkait dan
BKPM. Selai itu terdapat pula suatu daftar bidang usaha yang tetutup
bagi penanaman modal dan bidang usaha yang dicadangkan bagi golongan
ekonomi lemah. Dari berbagai peraturan dan perundangan penanaman modal
yang ada, 75 persen lebih bersifat regulating, sedangkan yang bersifat facilitating
hanya 25 persen.
3. Komisi Kerja
Terbentuknya komisi kerja tetap Departemen Pertanian di tingkat pusat yang
melakukan penyerasian rencana pengembangan agroindustri melalui identifikasi
peluang usaha secara terpadu menurut wilayah dan jenis komoditas. Di tingkat
daerah, seluruh kanwil Departemen Pertanian dan Diperindag bertugas sebagai
unsur pembina pelaksana pengembangan agribisnis di wilayah masing-masing di
bawah koordinasi Gubernur.
4. Penelitian
Di bidang penelitian dan pengembangan agribisnis, ditunjang oleh Badan
Penelitian dan Pengembangan yang terdapat di tiap Departemen, yaitu
Departemen Pertanian Departemen Perdagangan dan Perindustrian, Koperasi dan
lembaga-lembaga non departemen, misalnya BPPT, LIPI, AP3I, serta lembaga
swasta lainnya. Selain itu terdapat kebijakan penunjang penelitian dan
pengembangan yaitu disisihkannya 5 persen dari keuntungan BUMN setelah
dipotong pajak, untuk biaya penelitian dan pengembangan, terutama untuk
mengembangkan agroindustri berskala kecil.

19
5. Subsistem Pemasaran.
Sub sistem pemasaran, terdapat beberapa ketentuan antara lain:
(a) pendaftaran eksportir dan importir, (b) barang-barang yang dilarang
ekspornya, (c) barang-barang yang diatur tataniaganya, (d) barang-barang yang
diawasi ekspornya, (e) barang-barang yang ditetapkan harga patokannya, (f)
barang-barang yang dilarang impornya, (g) negara-negara yang dilarang sebagai
tujuan ekspor, (h) ketentuan kontrak dan syarat- syarat penjualan, (g) standar
produk, (j) surat keterangan mutu, (k) pengurusan dokumen, (1) bea dan cukai dan
(m) pengapalan/angkutan.
6. Perusahaan Inti Rakyat
Ditetapkannya pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR) dalam pengembangan
agribisnis. Dalam pola PIR terdapat perusahaan inti yang membangun usaha dan
fasilitas petani plasma, mengolah dan memasarkan hasil produksi petani plasma.
Petani plasma berkewajiban mengelola usahanya dengan sebaik-baiknya, menjual
hasil kepada perusahaan inti, dan membayar hutang yang telah dibebankan
kepadanya. Pola PIR telah diterapkan dalam pengembangan perkebunan,
persusuan, perunggasan dan perikanan (tambak udang). Hampir serupa dengan
pola PIR adalah pola Bapak Angkat yang saat ini sedang dicoba untuk diterapkan
untuk pengembangan agroindustri skala kecil. Dalam pelaksanaannya pola PIR
banyak mengalami hambatan terutama hambatan non teknis.

20
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Saluran Pemasaran

3.2 Aspek Teknologi Produksi


1. Sarana Penunjang Proses Produksi
Pada perusahaan minyak daun cengkeh tersedia sarana sebagai berikut :
a. Bahan Baku
Bahan baku pada perusahaan minyak daun cengkeh di Desa Cangkring ini
mendapatkan bahan baku dari dua kecamatan di samping kecamatan Ngadirojo
sendiri yaitu, kecamatan Sudimoro dan kecamatan Tulakan. Harga bahan baku
berupa daun cengkeh rata-rata Rp. 300,00 /kg. Bahan baku sebanyak 6000 kg
dapat diproses selama 24 jam pada perusahaan ini.
b. Bahan Pembantu
Pada produksi minyak daun cengkeh diperlukan bahan pembantu berupa air
dan kayu bakar. Air berfungsi sebagai media pendingin pada proses kondensasi
yang sesuai dengan sifat air yang bersuhu rendah, mampu mengubah
(mengkondensasikan) uap menjadi air dan minyak yang dikehendaki. Disamping
sebagai pendingin, pada proses distilasi air juga berfungsi sebagai penghasil uap.
Kebersihan air yang akan diuapkan harus selalu dijaga. Dengan demikian air tidak
akan mengandung zat-zat yang dapat merusak minyak. Bila dipandang perlu, air
ini harus disaring dahulu dengan cara mengendapkan kotoran dan menyaring
dengan ijuk.
2. Peralatan Produksi

21
Penyusunan peralatan pabrik merupakan fase yang termasuk dalam desain
dari suatu sistem produksi. Tujuan dari penyusunan peralatan pabrik adalah untuk
mengembangkan sistem produksi sehingga dapat mencapai kebutuhan kapasitas
dan kualitas dengan rencana yang paling efesien. Penyusunan peralatan pada
perusahaan minyak daun cengkeh disesuaikan dengan tahapan proses yang
dilakukan. Dalam proses ini, semua peralatan dalam satu unit distilasi meliputi
ketel, tungku, kondensor, pemisah berada pada satu area sehingga didapati tiga
area produksi yang memuat tiga unit alat distilasi yang dioperasikan secara
bersamaan.
3. Sanitasi dan Limbah
Kegiatan sanitasi yang dilakukan di perusahaan minyak daun cengkeh
meliputi : sanitasi air untuk penyulingan, sanitasi lingkungan, sanitasi pekerja
serta yang tidak kalah pentingnya sanitasi peralatan. Walaupun alat penyulingan
hanya digunakan untuk menyuling macam bahan baku, pembersihan pada alat
penyulingan harus selalu dilakukan, agar alat tidak cepat rusak. Pembersihan alat
pasa perusahaan minyak daun cengkeh dilakukan kira-kira 2 kali dalam satu bulan
untuk menjaga mutu hasil olah dan keawetan alat. Cara pemberihan alat
penyulingan adalah dengan menyuling air bersih (menguapkan air dan
mengosongkan tempat pemuatan bahan baku selama beberapa jam. Dengan cara
ini sisa-sisa minyak yang menempel pada tempat bahan dan pipa pendingin akan
terbawa oleh uap air sulingan. Jika air sulingan telah benar-benar jernih, pemersih
dapat dihentikan.
Limbah yang dihasilkan pada perusahan minyak daun cengkeh sebetulnya
merupakan limbah yang mempunyai nilai ekonomis kesemuanya, namun karena
keterbatasan sumber daya yang ada maka ada sebagian limbah yang belum
dimanfaatkan. Limbah yang belum dimanfaatkan tersebut adalah air suling. Pada
air suling masih terdapat minyak terlarut dengan bukti warna air suling yang
masih keruh. sebetulnya air suling tidak boleh dibuang, melainkan harus diproses
lebih lanjut untuk mendapatkan minyak yang terlarut.
Limbah lain yang dihasilkan dalam proses penyulingan daun cengkeh adalah
ampas hasil penyulingan. Ampas hasil penyulingan yang berupa daun cengkeh

22
setengah basah lama kelamaan bertambah banyak dan akan menimbulkan
masalah. Salah satu cara ekonomis untuk menanggulangi masalah ini adalah
dengan mempergunakan sebagai bahan bakar, setelah dikeringkan dengan
mempergunakan didekat ketel suling atau dekat ketel uap. Ampas ini
menghasilkan kalor bakar yang dengan sedikit dibantu sumber kalor dari kayu,
mampu untuk memberikan panas pada proses penyulingan berikutnya. Selain
mencegah penimbunan ampas sisa distilasi, abu ynag dihasilkan dari tungku
pemanas dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang lebih baik jika
dibandingkan dengan bila dimanfaatkan sebagai pupuk organik dalam bentuk
ampas, mengingat ampas daun cengkeh yang kurang mudah membusuk.
Pada penyulingan minyak daun cengkeh di Desa Cangkring, abu dari tungku
biasa dibeli oleh petani sebagai pupuk. Jadi proses penyulingan minyak daun
cengkeh ini hampir tidak dihasilkan limbah yang berarti atau merusak lingkungan.
3.3 Proses Produksi
1. Proses Pengolahan Minyak Daun Cengkeh
Minyak daun cengkeh dapat diambil dengan cara penyulingan menggunakan
uap karena minyak daun cengkeh termasuk salah satu minyak yang tidak rusak
oleh panas. Penyulingan menggunakan uap dapat dibedakan menjadi dua yaitu
penyulingan langsung dan penyulingan tidak langsung. Penyulingan langsung
yakni penyulingan yang menggunakan metode bahan tumbuhan yang akan
diambil minyaknya dimasak dalam air dan minyak berlangsung bersamaan.
Penyulingan demikian, penguapan air dan minyak berjalan bersamaan.
Penyulingan tak langsung merupakan proses pengembalian minyak atsiri yang
lebih bagus dibanding cara penyulingan langsung. Pada penyulingan ini
prinsipnya memisahkan penguapan air dengan penguapan minyak bahan baku
yang diolah. Destilasi sederhana umumnya berkaitan dengan pemisahan suatu
campuran yang tersiri dari dua atau lebih cairan melalui pemanasan. Pemanasan
yang dimaksudkan untuk penguapan komponen-komponen yang lebih mudah
menguap dan kemudian uap yang diperoleh dikondensasisan kembali menjadi
cair dan kemudian ditampung dalam suatu bejana penerima. Minyak daun
cengkeh yang dihasilkan pada perusahaan minyak daun cengkeh diproses melalui

23
aliran proses yang dimulai dari penyediaan bahan baku, sorting, pemanasan,
kondensasi, pemisahan dan pengemasan.
2. Penyediaan Bahan Baku
Untuk memenuhi bahan baku yang harus diproses yang jumlahnya relatif
besar perusahaan minyak daun cengkeh mengambilnya dari tiga kecamatan
dalam satu kawedanan yaitu kecamatan Ngadirojo, Tulakan, serta Sudimoro.
Daun telah diorganisir pedagang pengumpul selanjutnya akan diangkat ke gudang
bahan baku.
3. Sortasi
Sortasi bahan minyak daun cengkeh yang dilakukan digudang sortasi. Bahan
yang harus dipisahkan dari daun cengkeh adalah mungkin ikutnya dedaunan lain,
ranting, kerikil serta penting pula dipisahkan dari daun yang telah busuk yang tak
layak untuk diproses. Setelah bahan melalui tahapan sortas, bahan bersih siap
dilanjutkan untuk proses selanjutnya untuk proses selanjutnya yaitu masuk dalam
ketel penyulingan.
4. Pemanasan
Pada perusahaan minyak daun cengkeh di Desa Cangkring untuk proses
kesehariannya digunakan tiga buah tungku serta tiga buah ketel suling. Pada awal
pemanasan digunakan bahan bakar kayu dan apabila api telah menyala bahan
bakar dilanjutkan dengan daun cengkeh sisa dari proses yang telah lalu. Ketel
yang digunakan berdiameter 184 cm, sehingga mampu memuat 1000 kg bahan
baku untuk sekali proses.
5. Kondensasi
Pedoman yang harus ditaati dalam membuat kondensator ialah pipa tidak
kebocoran air pendingin bersuhu rendah. Dengan demikian air sulingan serta
minyak yang keluar benar-benar berbentuk cairan. Air pendingin dalam tangki
kondensor tidak perlu didinginkan, baik dibagian bawah maupun dibagian
atasnya. Sebaliknya jika pendingin uap secara berlebihan dan cepat, akan
mengakibatkan distilasi menetes dari kondensor secara tidak teratur atau secara
mendadak. Oleh karena itu tangki kondensor hanya terisi oleh sejumlah air dingin
yang diperlukan untuk kondensasi campuran uap dan untuk mendinginkan

24
kondensor. Sistem kondensasi untuk penyulingan minyak daun cengkeh
menggunakan pipa-pipa yang terbuat aluminium yang melingkar pada tabung
kondensor. Pipa yang digunakan sepanjang 60 meter dengan ukuran 1,5 dim. Hal
ini ditunjang dengan adanya aliran sungai di lokasi penyulingan minyak daun
cengkeh.
Penyulingan dianggap selesai apabila hasil sulingan yang ditampung tidak
lagi mengandung minyak. Waktu yang digunakan untuk menyuling, sangat
tergantung pada jenis tumbuhan yang disuling. Terdapat tumbuhan yang cepat
melepas minyak, terdapat pula yang lambat. Untuk penyulingan minyak daun
cengkeh diperlukan waktu delapan jam.
6. Pemisah
Alat yang mempunyai fungsi memisahkan minyak dari air suling, salah
satunya yang dapat dipakai adalah alat penampung kondensat. Jumlah volume air
suling tersebut terpisah secara otomatis. Tabung penampung kondesat pada
umumnya terbuat dari tembaga berlapis timah, atau bahan lain yang tidak beraksi
dengan minyak yang dihasilkan. Tabung karet atau pemisah dari karet tidak bisa
digunakan karena akan menghasilkan minyak atsiri dengan bau yang tidak
disenangi. Bahan penampung untuk minyak daun cengkeh terbuat dari bahan
aluminium. Tabung penampung kondensat pada penyulingan minyak daun
cengkeh tidak cukup besar, sehingga digunakan beberapa tabung pemisah minyak
yang dihubungkan secara seri dan diletakkan pada ketinggian yang berbeda,
sehingga minyak dan air akan terpisah secara sempurna pada tabung paling akhir
yang terletak paling bawah. Pada penyulingan minyak daun cengkeh ini
digunakan dua buah tabung pemisah karena minyak yang didapat dengan dua
pemisah ini sudah cukup sempurna.
7. Pengemasan
Drum yang telah diisi minyak hendaknya disimpan pada kondisi yang sejuk
untuk menghindarkan kehilangan minyak atau aroma akibat penguapan.
Pemberian rongga pada pengemasan atau drum juga diperlukan untuk member
ruang gerak minyak atsiri sewaktu pengangkutan. Desakan uap minyak atsiri yang
terlampau kuat, selain memecahkan kemasan, berbahaya untuk muatan lain (dapat

25
menyebabkan kebakaran). Bila rongga cukup luas, 10% dari isi kemasan, desakan
uap ini tidak akan terjadi.

3.3 Analisa Agroindustri Penyulingan Minyak Daun Cengkeh


1. Biaya Penyulingan Minyak Daun Cengkeh
Biaya pengolahan sangat tergantung uang dan dari besarnya bahan baku
yang dipakai dalam proses pembuatannya. Biaya yang digunakan dalam proses
pembuatan minyak daun cengkeh antara lain : biaya bahan baku, biaya tenaga
kerja, biaya over head.
2. Biaya Bahan Baku
Biaya bahan baku terdiri dari bahan baku langsung dan bahan baku tidak
langsung adalah semua bahan yang dikenal sampai pada produksi produk jadi,
yang dapat dengan mudah ditelusuri sampai ke produk jadi dan merupakan bahan
utama dari produksi produk jadi. Bahan baku tidak langsung adalah semua bahan
yang dimasukkan ke dalam proses produksi yang tidak dengan mudah ditelusuri
seperti bahan langsung.
3. Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya tenaga kerja langsung adalah semua tenaga kerja yang secara langsung
terlibat dalam produksi produk jadi dan dengan mudah pula dapat ditelusuri
sampai ke produk jadi. Biaya tenaga kerja langsung ini merupakan biaya yenaga
kerja langsunbg utama di dalam menghasilkan suatu produk.
4. Analisa Total Biaya Produksi Minyak Daun Cengkeh
Dalam kegiatan produksi diperlukan adanya suatu biaya dimana dengan
adanya biaya yang cukup dapat membantu kelancaran semua kegiatan yang
sedang dijalankan.
5. Biaya Produksi
Biaya produksi merupakan biaya yang diperlukan berkaitan dengan proses
produksi suatu perusahaan atau dapat dikatakan biaya untuk kebutuhan kegiatan
pengolahan bahan baku menjadi produk selesai. Dalam pembuatan minyak daun
cengkeh ini besarnya biaya produksi yang dibutuhkan berbeda antara masing-
masing pengusaha. Besarnya biaya tersebut tergantung pada banyaknya kapasitas

26
produksi yang diusahakan. Biaya produksi pada pembuatan minyak daun cengkeh
ada dua macam yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost).
Besarnya biaya produksi pada penyulingan minyak daun cengkeh. Harga
daun cengkeh saat pelaksanaan praktek kerja lapang terbilang cukup mahal. Hal
ini dikarenakan harga selalu mengalami fluktuasi karena jumlah bahan baku yang
tidak menentu. Dalam satu kali proses produksi dalam 1 ketel, bahan baku yang
dibutuhkan sebanyak 9 kwintal, dan menghasilkan minyak 25-30 kilogram.
Sedangkan untuk biaya operasi pengeluaran pada upah tenaga kerja dihitung
secara borongan dengan upah Rp. 2.500,- /kg minyak daun cengkeh. Sedangkan
untuk biaya produksi memerlukan 12 orang tenaga kerja yang mampu
menghasilkan minyak daun cengkeh sebesar 100 kilogram. Perhitungan
pengeluaran untuk biaya produksi dapat dilihat pada tabel berikut:

6. Analisa Perhitungan Keuntungan


Dari hasil penjualan diketahui bahwa total penerimaan uang didapat sebesar
Rp. 9.000.000,- ini diperoleh dari minyak yang dijual sebanyak 300 kg minyak
daun cengkeh kemasan masing-masing 10 kg.
Laba atau profit = TR – TC
= Rp. 9.000.000 – Rp. 8.001.000 = Rp. 999.000,-
Penerimaan yang diperoleh sebesar Rp. 999.000,- dengan jumlah penjualan
300 kg minyak daun cengkeh dan dengan harga 1 kg minyak daun cengkeh
sebesar Rp. 30.000,- sehingga keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 999.000,-
dengan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 8.001.000,-.
7. Analisa Break Even Point (BEP)

27
Break Even Point merupakan titik impas dimana total dari penerimaan
penjualan hanya cukup untuk menutup semua biaya produksi yang telah
dikeluarkan sehingga tidak ada keuntungan atau laba sedikitpunysng diterima.
Analisa BEP ini merupakan suatu bentuk analisa yang melibatkan biaya produksi,
volume penjualan dan harga dari suatu produk. Perhitungan BEP dapat diturunkan
dalam 2 rumus yaitu BEP untuk volume penjualan dan BEP untuk harga per kg
produk:

a) BEP untuk Volume Penjualan


BEP (Q) = TC (total biaya yang dikeluarkan)
P (harga)
= Rp. 8.001.000,-
Rp. 30.000,-
= 266,7 Kg
b) BEP untuk Per-Unit Produk
BEP (P) = TC (total biaya yang dikeluarkan)
Q (produksi)
= Rp. 8.001.000,-
300
= Rp. 26.670,-
Dari perhitungan Break Even Point didapat bahwa, dengan penjualan 300 kg
minyak telah memperoleh keuntungan, karena perhitungan BEP (Break Even
Point) di peroleh sebesar 300 kg minyak. Jadi berusaha menggunakan biayabiaya
yang ada seperti tabel di atas harus stabil atau lebih diminimalkan agar diperoleh
keuntungan yang maximal.
Penjualan suatu unit produk harus stabil dengan BEP yaitu sebesar Rp.
30.000,- untuk memperoleh keuntungan, jika berada dibawahnya akan diperoleh
kerugian. Seorang wirausaha harus berusaha diatas BEP agar memperoleh
keuntungan dan tidak memperoleh kerugian dan peluang pokok.
8. Analisa Return On Invesman (ROI)
Return On Invesman merupakan tolak ukur efisiensi terhadap pengguna
modal. Pada pembuatan manisan kulit jeruk ini ROI dapat digunakan untuk

28
mengukur kemampuan dalam mengembalikan modal yang telah digunakan
besarnya ROI dapat dihitung sebagai berikut:
ROI = 𝜋 (laba atau profit)
TC (total biaya yang dikeluarkan)
= Rp. 999.999,-
Rp. 8.001.000,-
= Rp. 0,12
Hasil perhitungan yang menunjukkan 0,12 ini berarti bahwa dari penerimaan
modal sebesar Rp. 1,- dapat memberikan keuntungan atau laba sebesar Rp. 0,12 ,-.
9. Analisa Return Cost Ratio (R/C)
Return Cost Ratio (R/C) merupakan perbandingan antara total penerimaan
penjualan yang didapat dengan total biaya produksi yang telah dikeluarkan.
Efesiensi atau tidaknya suatu usaha agroindustri termasuk penyulingan minyak
daun cengkeh ini sangat ditentukan oleh besar kecilnya biaya produksi yang telah
dikeluarkan untuk mendapatkan produk hasil akhir minyak daun cengkeh. Analisa
R/C ini dapat ditentukan dengan menggunakan rumus :
R/C = TR (total revenue)
TC (total cost)
= Rp. 9.000.000,-
Rp. 8.001.000,-
= Rp. 1,12,-
Perhitungan R/C ratio sebesar 1,12 tersebut berarti R/C > 1. R/C yang
lebih dari satu ini menunjukkan bahwa dengan biaya Rp. 8.001.000,- dapat
menghasilkan Rp. 9.000.000,- dan hal ini berarti usaha ini menghasilkan
keuntungan sebesar Rp. 999.000,-. Ini menunjukan bahwa usaha penyulingan
manisan kulit jeruk dapat dikatakan efisien dan layak untuk diteruskan.

29
KESIMPULAN

Maka dapat disimpulkan bahwa Agribisnis sebagai suatu sistem, bukan


sebagai sektor karena jika tidak ada salah satu sub sistemnya maka agribisnis
tidak akan berjalan. Susbsistem agribisnis itu sendiri ialah Hulu, Usahatani, Hilir
dan Kelembagaan. Dan disimpulkan pula bahwa dalam perekonomian Indonesia,
agribisnis berperan penting sehingga mempunyai nilai strategis. Peran strategis
agribisnis itu adalah sebagai berikut:
1. Sektor agribisnis merupakan penghasil makanan pokok penduduk. Peran ini
tidak dapat disubstitusi secara sempurna oleh sektor ekonomi lainnya, kecuali
apabila impor pangan menjadi pilihan.
2. Peranan agribisnis dalam pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto).
Sampai saat ini non-migas menyumbang sekitar 90 persen PDB, dan
agribisnis merupakan penyumbang terbesar dalam PDB non-migas. Peranan
agribisnis dalam penyerapan tenaga kerja. Karakteristik teknologi yang
digunakan dalam agribisnis bersifat akomodatif terhadap keragaman kualitas
tenaga kerja sehingga tidak mengherankan agribisnis menjadi penyerap
tenaga kerja nasional yang terbesar.
3. Peranan agribisnis dalam perolehan devisa.selama ini selain ekspor migas,
hanya agribisnis yang mampu memberikan net-ekspor secara konsisten.
Peranan agribisnis dalam penyediaan bahan pangan. Ketersediaan berbagai
ragam dan kualitas pangan dalam jumlah pada waktu dan tempat yang
terjangkau.

30
DAFTAR PUSTAKA

AAK, 1979. Bagaimana Menanam Cengkeh, Yayasan Kanisius, Yogya.


Cheah Kok Kheong, 1973. Modern Agriculture for Tropical School, Oxford
Progressive Science, Singapore.
E. Gumbira-Sa’id, 2001. Manajemen Agribisnis. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Eddy Herjanto, 1999. Manajemen Produksi & Operasi, Edisi Kedua, PT.
Gramedia Widiasarana, Jakarta.
Guenther. E., 1987. Minyak Atsiri Jilid I. Universitas Indonesia Pers, Jakarta.
Haris. R., 1987. Tanaman Minyak Atsiri. Penebar Swadaya, Jakarta.
Haryono Sumangun, Penyakit-penyakit Tanaman Pertanian di Indonesia,
Fakultas Pertanian. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Soekartawi, 1993. Manajemen Pemasaran Hasil-hasil Pertanian. PT. Rajawali
Pers, Jakarta.
Susanto. T., 1994. Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. PT. Bina Ilmu,
Surabaya.
Suyitno. 1998. Pengkajian Sifat Fisik Bahan Pangan. Pusat Antar Universitas
Pangan dan Gizi. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Toyib Hadiwidjaya. 1979. “Cengkeh”, PT. Gunung Agung. Jakarta.
Winarto. FG., 1986. Air Untuk Industri Pangan. PT. Gramedia, Jakarta.

31