Anda di halaman 1dari 99

BAB I

PENDAHULUAN

1. TEORI HARGA
Profesor Joseph Sohumpeter pernah mendefinisikan teori ekonomi sebagai
“tehnologi” daripada ilmu ekonomi.
Tehnologi adalah fungsi pembuatan alat dan pemakaian alat. Sebagai suatu
cabang khusus daripada teori ekonomi, maka teori hargapun pada umumnya
bertalian dengan pembuatan dan pemakaian alat (difinisi). Jadi difinisi-difinisi
dan metode-metode pengolahannya, seringkali disebut sebagai “kantong-
kantong alat” (kit of tools) bagi ahli ekonomi.
Karena teori harga berkenaan dengan pembuatan dan penggunaan difinisi-
difinisi sebagai alat analisa, maka sifatnyapun akan abstrak.
Pada umumnya ahli teori harga berusaha menjelaskan kegiatan-kegiatan dan
peristiwa-peristiwa ekonomi dengan cara memberikan artian terbatas kepada
perkatan-perkataan tertentu dan kemudian dengan mengadakan hipotesa
mengenal hubungan-hubungan seperti itu ditarik segala kesimpulan yang
mungkin. Benar tidaknya kesimpulan-kesimpulan itu dapat diuji secara
empiris , karena hal-hal tersebut sudah terkandung dalam perumusan semula.
Jadi dengan demikian sebagaimana yang dikatakan oleh Proffesor Fritz
Machlup, tidaklah ada keberatannya apabila model ekonomi itu (sebagai
abstraksi dari kenyataan) tidak realitas, “sejauh model tersebut didasarkan atas
anggapan-anggapan yang realistis”. Pendek kata, teori harga menggunakan
metode penalaran (reosoning) mengenai data ekonomi mengenai data ekonomi
yang akan dibahas dalam abstraksi, dan bukanlah mengenai kenyataan-
kenyataan yang terdapat dalam suatu keadaan tertentu. Itulah sebabnya maka
kesimpulan-kesimpulan yang terdapat dalam suatu bagian analisa umum tidak
dapat diterapkan kepada suatu keadaan nyata.
Hal di atas dapat diterapkan secara lain. Penyusunan suatu teori dalam hal
ini, teori harga didasarkan pada anggapan-anggapan atau asumsi-asumsi

1
tertentu. Sesuai tidaknya suatu teori dengan dunia nyatasangat tergantung pada
anggapan-anggapan yang mendasari teori tersebut. Apabila anggapan yang
digunakan mendasari suatu teori tidak terpenuhi (tidak sesuai dengan dunia
nyata) maka teori tersebut tidak akan sesuai dengan kenyataan.
Ini bukan berarti suatu teori itu salah, teori tersebut tetap benar tetapi karena
anggapan-anggapan yang digunakan sebagai dasar penyusunannya tidak
terpenuhi, maka teorinya tidak sesuai dengan dunia nyata yang berlaku.
Misalnya, para ahli teori ekonomi menyusun teorinya berdasarkan anggapan,
bahwa hampir semua satuan-satuan kegiatan itu didorong oleh “kepentingan
sendiri”. Untuk memaksimir kepentingan sendiri ini, satuan-satuan ekonomi
individual selalu bertindak “rasionil”. Dari anggapan-anggapan inilah ditarik
kesimpulan berupa “tendensi” umum atau “hukum-hukum ekonomi”.
Anggapan-anggapan ini tidaklah didapat dari studi empiris dari para ahli
psikologi, tetapi anggapan-anggapan tersebut biasanya dihubungkan dengan
pengalaman sehari-hari setiap orang, dan didasarkan pada kepercayaan
penganalisa bahwa pengalaman itu umum terdapat dalam kehidupan nyata
sehari-hari. Artinya anggapan-anggapan tersebut melalui suatu proses yang
disebut “experimen intellektuil”.
Dengan lain perkataan, anggapan-anggapan tersebut masih dapat dibantah
kebenarannya, dan selalu dapat diganti dengan anggapan-anggapanyang lebih
baik.
Salah satu anggapan yang mendasari Teori Permintaan Konsumen yang
klasik bahwa konsumen dapat menghitung secara pasti kepuasan yang mereka
dapat dengan mengkonsumsi suatu unit barang tertentu. Anggapan ini adalah
anggapan yang tidak realistis. Walaupun demikian kita dapat menerima teori
permintaan tersebut, karena teori tersebut dapat meramalkan tingkah laku
konsumen dengan benar. Jumlah barang yang dibeli konsumen akan turun
apabila harganya naik.
Dapat kita ambil kesimpulan bahwa teori harga ini sifatnya abstrak, tidak
memberikan suatu uraian tentang dunia nyata seperti apa adanya, tetapi sebagai
alat yang dapat menolong kita untuk mengerti dunia nyata.

2
2. TEORI HARGA DAN DISIPLIN ILMU EKONOMI
Teori ekonomi, baik teori ekonomi makro, maupun teori ekonomi mikro,
keduanya sama sama mencoba mengabstraksi dunia nyata di dalam
perekonomian. Hanya saja unit-unit ekonomi yang dipelajari dalam teori
Ekonomi Makro, adalah unit yang lebih besar, seperti Negara, Propinsi, yang
merupakan analisa agregat.
Umpamanya: tingkat harga secara keseluruhan, penghasilan nasional,
kesempatan kerja, pertumbuhan ekonomi (economic grouth) dan sebagainya,
sedangkan teori Ekonomi Mikro menganalisa unit-unit ekonomi yang lebiih
kecil seperti, konsumen individuil, produsen individuil, harga seimbang suatu
pasar tertentu, dan lain sebagainya. Jadi walaupun teori harga (teori Ekonomi
Mikro) sangat penting sebagai alat analisa ekonomi, tetapi mekanisme harga
saja belum cukup, karena teori Pendapatan Nasionalpun (teori Ekonomi
Makro) adalah analisa ekonomi juga.
Dapat kita tarik sekedar garis pemisah, antara teori Ekonomi Mikro dan teori
Ekonomi Makro, sebagai berikut:
Teori harga/Mikro Ekonomi menganalysa :
a. Kegiatan-kegiatan ekonomi dari satuan-satuan ekonomi individual :
konsumen, pemilik-pemilik sumber, dan pengusaha-pengusaha individuil.
b. Arus barang dan jasa dari perusahaan-perusahaan ke konsumen, komposisi
arus itu dan penilaian barang-barang yang membentuk arus itu.
c. Arus sumber-sumber produksi (jasa-jasanya). dari pemilik-pemiliknya ke
pengusaha-pengusaha dengan pernilaiannya dan alokasinya di antara
penggunaan-penggunaan alternatif.
Teori pendapatan nasional (makro ekonomi).
Menganalisa sistem ekonomi sebagai suatu keseluruhan, bukannya satuan-
satuan ekonomi individual seperti mikro ekonomi.
a. Menganalisa nilai dari arus barang (note nasional produk) dan nilai dari
seluruh sumber-sumber (nasional income). angka-angka indeks
menggantikan harga-harga individual dari mikro ekonomi.

3
b. Sebab-sebab perubahannya arus uang seluruhnya, arus barang dan jasa
seluruhnya, dan tingkat penggunaan umum dari sumber-sumber.

3. SUATU MODEL EKONOMI YANG POKOK


Di muka telah kita ketahui bahwa di dalam menyusun suatu teori
dibutuhkan anggapan-anggapan atau asumsi-asumsi tertentu. Di sini akan kita
tinjau suatu model perekonomian yang sangat disederhanakan, di mana di
dalam perekonomian itu tidak ada campur tangan pemerintah, tidak ada
tabungan dan investasi. Gambar 1 - 1 menunjukkan suatu sistem perekonomian
yang statis, dimana satuan-satuan ekonomi dianggap memainkan dua peranan
sebagai:
a. Rumah tangga, rumah tangga yang sebagai konsumen produk (output).
sebagai konsumen mereka membelanjakan pendapatannya yang berupa
uang untuk membeli produk, hal mana berarti mereka menjadi pihak
permintaan terhadap hasil-hasil produksi.
b. Badan-badan usaha, sebagai pihak pembeli input (jasa faktor-faktor) di
pasar input dari mentransformirnya menjadi produk (output). output ini
dijual di pasar produk. Demikian badan-badan usaha menjadi pihak
permintaan bagi input dan pihak penawaran bagi output.

Gambar 1 - 1

Bagian atas gambar 1.1 di atas menunjukkan pasar barang dan jasa.
Rumah tangga sebagai konsumen dan badan usaha sebagai produsen saling

4
mempengaruhi dalam pasar itu. Barang dan jasa mengalir dari badan usaha
kepada konsumen dan sebagai pembayarannya uang mengalir dari konsumen
ke badan usaha.
Bagian bawah membentuk pasar sumber-sumber (pasar input). jasa tenaga
kerja dan jasa kapital mengalir dari pemilik sumber (rumah tangga) ke badan
usaha. Sebaliknya uang mengalir sebagai pembayaran untuk pembayaran jasa
tersebut dalam bentuk: upah, gaji, rente, deviden, interest dan sebagainya.
Uang mengalir terus dari rumah tangga ke badan usaha , dan kembali lagi
ke rumah tangga. Badan usaha yang menjual barang dan jasa, memperoleh
uang yang kemudian digunakan untuk membeli jasa sumber/ faktor produksi
guna melanjutkan usahanya.
Pemilik sumber memperoleh pendapatan dari penjualan faktor produksi
mereka, yang kemudian digunakan untuk membeli barang dan jasa dari badan
usaha. Bagian atas dari lingkaran tersebut, merupakan biaya hidup dari
konsumen, di lain pihak merupakan penerimaan dari badan usaha, sedangkan
aliran bagian bawah, uang disini merupakan ongkos produksi bagi badan usaha
dan merupakan penghasilan bagi konsumen.
Biaya hidup seluruhnya dan penerimaan perusahaan seluruhnya adalah dua
hal yang sama dipandang dari sudut pandangan yang berbeda, demikian juga
ongkos produksi seluruhnya dan penghasilan konsumen seluruhnya.
Jika ekonomi itu suatu perekonomian yang statis, maka arus uang pada
lingkaran atas dan arus uang pada lingkaran bawah akan sama. Nilai seluruh
dari barang dan jasa yang dihasilkan akan sama dengan harga/nilai faktor
produksi. Konsumen membelanjakan seluruh pendapatannya, tidak ada yang
ditabung. Demikian juga badan usaha mengeluarkan semua uang yang
diterimanya kepada pemilik faktor, tidak ada investasi.
Di dalam model di atas terdapat perpaduan dua cara analisa daripada ilmu
ekonomi, yaitu cara ekonomi makro dan cara ekonomi mikro. Di satu pihak
jika arus uang dan arus barang tersebut yang berlawanan arah itu kita pandang
sebagai satu keseluruhan, analisa kita merupakan analisa makro. Apabila arus
uang mengalami pertambahan relatif dibandingkan dengan arus barang maka

5
akan terjadi inflasi. Apabila model tersebut lebih dilengkapkan lagi, maka
pendapatan konsumen dapat dibagi menjadi bagian yang ditabung, yang
dengan sendirinya mengurangi arus uang yang masuk ke badan usaha, dan
bagian yang dibelanjakan, dan kedalam arus uangpun dapat kita masukkan
pengaruh daripada tindakan yang diambil oleh Bank Sentral, untuk
memperbesar atau memperkecil persediaan uang dalam masyarakat. Juga dapat
diperlihatkan peranan pemerintah, sebagai pembeli input ataupun produk
ataupun sebagai pemungut pajak atas pendapatan konsumen.
Akhirnya, ke dalam model itu, kitapun dapat memasukkan pengaruh dari
perdagangan internasional, terhadap arus barang dan arus uang.
Di lain pihak, teori harga adalah pertalian dengan aspek ekonomi Mikro,
dari sistem perekonomian, yang pada umumnya mengadakan anggapan bahwa
sistem perekonomian itu bekerja dengan tingkat full employement.
Apakah yang menentukan harga input dan harga produk? Bagaimana
pengaruhnya terhadap harga dan output apabila tingkat intensitas persaingan
berkurang? Bagaimana konsumen yang rasionil itu menentukan berbagai
jumlah produk yang akan mereka beli? Demikian pertanyaan-pertanyaan yang
akan dihadapkan pada teori harga, dan menjadi tugas dari teori harga untuk
mengadakan analisa yang terperinci mengenai berbagai determinan dari
hubungan antara bagian sistem yang bersangkutan.
Dengan lain perkataan, teori harga memandang sistem itu bukanlah sebagai
keseluruhan melainkan dari sudut bagian yang merupakan komponennya.
4. FUNGSI-FUNGSI DARI SISTEM PEREKONOMIAN
Fungsi yang harus dilakukan oleh suatu sistem perekonomian adalah:
a. Mengambil keputusan mengenail produk apa yang harus dihasilkan.
b. Menentukan jumlah dan macam sumber yang akan digunakan, komposisi
sumber tersebut untuk menghasilkan suatu produk tertentu.
c. Mengambil keputusan mengenai pembagian produk yang telah dihasilkan
di antara individu-individu.
d. Mengadakan persediaan yang diperlukan untuk memelihara dan juga
untuk perkembangan dari sistem perekonomian yang bersangkutan.

6
Menjadi tugas terpenting dari ekonomi mikro adalah menganalisa unsur
pokok yang menentukan harga di pasar produk (pasar output) maupun pasar
input. Harga di pasar output merupakan pencerminan dari kebutuhan para
konsumen dan merupakan pedoman bagi produsen di dalam mengalokaikan
sumbernya kepada produksi barang, sedangkan harga di pasar input dipandang
sebagai ongkos produksi bagi produsen yang mempergunakan sumber tersebut.
Jadi tidaklah sukar membayangkan produk yang mendapatkan penilaian
tertinggi dari pihak konsumen akan mempunyai harga tertinggi pula.
Perubahan penilaian terhadap suatu produk akan tercermin pula pada harga
produk yang bersangkutan. Dapatlah kita katakan bahwa yang menentukan
barang apa yang harus dihasilkan adalah konsumen, terlihat dari harga yang
hendak dibayarkan. Barang yang tidak ada nilainya sehingga tidak diminta oleh
konsumen, sudah tentu barang tidak mempunyai harga, sehingga dalam jangka
panjang prosuden akan menghentikan produksi barang tersebut.
Yang mengambil keputusan mengenai macam input, jumlah seta
alokasinya di dalam menghasilkan produk tertentu adalah dunia adalah dunia
perusahaan.
Dalam keadaan persaingan sempurna, di mana tidak adanya campur tangan
pemerintah dalam suatu perekonomian, di mana firma-firma dengan
tindakannya sendiri tidak dapat mempengaruhi harga produk yang dijualnya,
dalam hal ini firma akan berpedoman pada harga produk di pasar produk,
dengan anggapan bahwa firma tersebut berusaha memaksimalkan laba mereka
dan bertindak rasionil maka mereka akan mempergunakan metode produksi
yang ongkosnya paling kecil. Kekuatan persaingan akan mengeluarkan firma
yang tidak efisien dari dunia perusahaan, tetapi di lain pihak sistem persaingan
juga memberikan jaminan dalam jangka panjang bahwa tidak satupun dari
firma yang bersangkutan akan memperoleh laba yang lebih besar dari laba
normal, karena merupakan syarat persaingan sempurna bahwa firma tersebut
bebas keluat masuk ke industri yang dianggap menguntugkan. Jika di salah
satu cabang industri terlihat adanya laba yang lebih besar dari laba normal

7
maka firma akan memasuki industri tersebut sehingga laba akan turun sampai
tercapai labanormal kembali.
Harga yang dibayarkan untuk faktor dikalikan dengan jumlah faktor
yang digunakan adalah pendapatan bagi faktor tersebut. Dengan demikian
pendapatan pada individu tergantung dari banyaknya jumlah faktor yang
dimiliki dan harganya. Kenyataan inilah yang menjadi landasan untuk
menjelaskanpembagian output akhir yang telah dihasilkan. Banyaknya jumlah
faktor yang dimiliki tergantung pada tata kelembagaan masyarakat yang
bersangkutan.
Harga yang dibayarkan untuk faktor tersebut, tergantung dari luasnya
persaingan dari perusahaan dalam usaha mereka mendapatkan faktor produksi
dan luasnya persaingan di antara pihak yang menawarkan faktor tersebut
keduanya mempengaruhi harga yang dibayarkan untuk penggunaan faktor
tersebut.
Persediaan yang jumlahnya cukup besar untuk menggantikan peralatan
kapital yang habis dipakai dalam proses produksi akan menjamin pemeliharaan
suatu sistem perekonoomian. Adanya laba yang lebih besar dari laba normal
akan mendorong firma baru memasuki cabang produksi yang bersangkutan.
Hal ini akan menarik penggunaan sumber dari industri lain yang kurang
menarik ke industri yang lebih menarik., yang menghasilkan produk yang
paling diinginkan. Proses ini akan berjalan terus sampai tercapainya laba
normal kembali, dan perekonomian yang bersangkutan kembali ke posisi
equilibrium baru yang stabil, dengan tingkat output yang lebih tinggi dari
sebelumnya.

8
BAB 11
PERMINTAAN DAN PENAWARAN

1. PERMINTAAN
Permintaan konsumen individual adalah berbagai jumlah daripada suatu
barang tertentu yang hendak dibeli oleh konsumen pada berbagai kemungkinan
harga pada suatu waktu tertentu. Jadi permintaan adalah suatu table yang
membuat hubungan antara harga suatu barang tertentu dengan jmlah barang
tersebut yang akan dibeli per satu satuan waktu. Atau dengan lain kata, jumlah
barang yang diminta oleh seseorang merupakan dungsi atau tergantung dari
harga barang yang bersangkutan , selera (taste) konsumen terhadap barang
tersebut , harga barang lain, serta penghasilan konsumen berupa uang jadi :
Qdx = f (Px,T,Py,dan L) dimana
Qdx = jumlah barang x yang diminta
Px = harga barang x
T = taste (selera konsumen terhadap bbarang yang bersangkutan)
Py = harga barang barang lainnya
I = Penghasilan konsumen berupa uang
Z = Penghasilan untuk ibadah
Dengan menganggap konstan tidak berubah, taste konsumen,harga barang
barang lainnya, serta penghasilan konsumen yang berupa uang, maka jumlah
suatu barang yang konsumen ingin membelinya tergantung dari harga barang
yang bersangkutan.
Qdx = f (Fx) citeris paribus
Dari table permintaan seorang konsumen kita dapat menggambarkan kurve
permintaan individual seorang konsumen.
Kita umpamakan bahwa fungsi permintaan seorang kosumen adalah :
Qdx = 10 – Px op.

9
Dengan memasukkan berbagai kemungkinan harga barang x kedalam
persamaan tersebut, akan kita dapati table (schedule) permintaan konsumen
individual.
Tabel 2 - 1
Permintaan individual
Px Qdx
10 0
8 2
6 4
4 6
2 8
0 10

Dengan menuliskan jumlahh barang x pada suatu horizontal, dan harga


barang x sumbu vertical kita dapati kurve permintaan konsumen perseorangan
akan barang x.

Dapat kita lihat dari gambar 2-1, bahwa pada harga x = Rp 10, per unit
konsumen sama sekali tidak akan membeli barang x, pada harga x = Rp 8, - per
unit, konsumen akan meminta 2 unit barang x, pada harga x = Rp 2, - per unit
konsumen akan meminta 8 unit barang x. jadi dari kurve permintaan tersebut,

10
mempunyai arti jumlah maximum dari barang x yang diminta pada hargaa
tersebut.

Pada titik B, dimana harga x = Rp 8, - per unit maximum jumlah barang x


yang diminta pada harga tersebut adalah 2 unit, pada titik C, dimana herga x =
Rp 6,- per unit, maximum jumlah barang x yang diminta pada harga yang
bersangkutan adalah 4 unit. Turunnya harga x, menyebabkan bertambahnya
jumlah barang x yang diminta. Hubungan sebaliknya antara harga dan jumlah
barang yang diminta dapat kita lihat pada slope negatip, dari kurve permintaan
pada gambar 2-1
Pada umumnya kurve permintaan selalu mempunyai slope yang negatip, turun
miring dari kiri atas kekanan bawah, yang berarti bahwa apabila harga dari
suatu barang itu turun, maka akan lebih banya jumlah barang tersebut yang
diminta. Ada juga beberapa perkecualian dari kurve permintaan ini yang akan
kita bicarakan nanti pada bab berikutnya.
BERUBAHNYA PERMINTAAN DAN BERUBAHNYA JUMLAH
BARANG YANG DIMINTA
Kita harus dapat membedakan antara berubahnya jumlah yang diminnta
dengan berubahnya permintaan.
Berubahnya jumlah yang diminta hanyalah pergeseran disepanjang satu kurve
permintaan, karena adanya perubahan harga, sedang hal hal yang lain konstan
tidak berubah.
Turunnya harga x dari 0p1 menjadi 0p2, menyebabkan bertambahnya
jumlah yang diminta dari 0q1 menjadi 0q2, lihat gambar 2 - 2. Pergeseran dari
titik ke titik B disepanjang satu kurva permintaa, adalah perubahan jumlah
yang diminta karena adanya perubahan harga.

11
Tidak demikian halnya dengan berubahnya permintaan. Apabila salah satu
hal yang mempengaruhi permintaan konsumen itu berubah, karena suatu hal
tertentu, maka akan menyebabkan pergeseran seluruh kurve permintaan keatas
maupun kebawah.
Apabila karena suatu hal tertentu penghasilan konsumen berupa uang naik,
sedangkan hal-hal lain tetap konstan, akan menyebabkan berubahnya
permintaan akan suatu barang tertentu, akan menggeser seluruh kurve
permintaan keatas. Lihat gambar 2 – 3.

Pada harga yang sama yaitu OP1, karena adanya kenaikan penghasilan
konsumen, jumlah per satuan waktu akan naik sari 0q1 menjadi 0q2. Karena
hubungan berubahnya permintaan akan barang x dengan berubahnya
penghasilan konsumen merupakan hubungan yang positip, artinya adanya

12
kenaikan income tertentu akan menyebabkan bertambahnya jumlah barang x
yang diminta, maka barang x disini termasuk barang normal . A da beberapa
perkecualian, dimana kurve permintaan terhadap suatu barang tertentu selalu
bergeser kekiri, apabila penghasilan konsumen naik, baran barang semacam ini
termasuk barang barang in ferior/ inferior goods. Penghasilan konsumen naik
dengan jumlah tertentu, permintaannya terhadap gablek turun, seluruh kurve
permintaannya akan bergeser kekiri, dalam hal ini gablek termasuk barang
inferior.
Berubahnya selera seorang konsumen akan suatu barang, juga akan
mendorong seluruh kurve permintaannya akan barang tersebut kekanan atau
kekiri. Makin senang seseorang akan ice cream wody, akan mendorong seluruh
permintaan konsumen akan ice cream wody kekanan.
Perlu diingat dalam hal ini, bahwa hubungan satu barang dengan barang
lainnya, juga akan mempengaruhi permintaan akan barang tersebut. Apabila
hubungan tersebut adalah hubungan substutusi, dimana barang yang satu dapat
menggantikan kedudukan barang lainnya, seperti :
Blue band dengan palm boom, minyak kelapa dengann minyak jagung, naiknya
salah satu harga barang tersebut, akan menaikkan permintaan akan barang
substitusinya. Apabila hubungan antara barang yang satu dengan yang lain
adalah hubungan komplementer, seperti kompor dengan sumbunya, gula dan
teh, gula dan kopi, maka kenaikan harga salah satu barang tersebut akan
mengakibatkan berkurangnya permintaan barang komplementernya. Kenaikan
harga gula akan mengurangi permintaan kopi, menggeser kurva permintaan
konsumen akan kopi ke kiri.
PERMINTAAN PASAR AKAN SUATU BARANG
Permintaan pasar tergantung dari seluruh permintaan individual, dengan
menjumlahkan seluruh permintaan individu akan suatu barang dipasar. Akan
kita dapati permintaan akan barang tersebut. Atau secara geometri dapar kita
katakan, bahwa kurve permintaan pasar akan sesuatu barang merupakan suatu
penjumlahan secara horizontal dari seluruh permintaan individual dari barang
tersebut. Jadi yang dimaksud engan kurve permintaan pasar akan suatu barang

13
(agregate demand) adalah sebagai berbagai alternatif barang & barang tersebut
yang diminta persatuan waktu, pada berbagai alternatif harga pasar. Atau
berbagai harga dipasar. Atau berbagai jumlah dari suatu barang yang
konsumen seluruhnya mau membeli pada berbagai tingkat harga, dengan
anggapan hal-hal lainnya tetap tidak berubah.
Kita tekankan yang dimaksud dengan permintaan disisni, adalah
permintaan yang bertenaga beli, yaitu permintaan yang didukung oleh sejumlah
uang yang cukup untuk membayar harga barang yang diinginkan.
Apabila hanya ada dua pembeli yang identik dipasar untuk barang dengan
fungsi permintaan masing-masing adalah Qdx = 10 – Px maka dapat kita cari
tabel permintaan pasar dengan memasukkan berbagai tingkatan harga dari
barang kedalam persamaan tersebut diatas. Tabel 2. -2 Permintaan pasar
Px Qdxi Qdxb Qd
10 0 0 0
8 2 2 4
6 3 4 8
4 6 6 12
2 8 8 16
0 10 10 20

14
Jadi dengan menjumlahkan secara horizontal jumlah barang x yang diminta
oleh konsumen dengan jumlah barang x yang diminta oleh jonsumen B, akan
kita dapati kurve permintaan pasar akan x barang x.
Seandainya yang datang kepasar tidak hanya dua orang konsumen, tetapi
1000 orang konsumen yang identik dengan fungsi permintaan masing-masing
adalah Qdx = 10 – Px maka cara penjumlahan secara horizontal sseperti yang
telah kita lakukan, sangat rumit pelaksanaannya. Dengan memasukkan setiap
harga x pada fungsi permintaan pasar akan kita dapati tabel permintaan pasar,
dan kurve permintaan pasar.
Qdx = 10 – Px, apabila ada 1000 konsumen yang identik dipasar maka fungsi
pemintaan pasar akan menjadi :
Qdx = 1000 (10 – px)
= 10.000 – 1000 px
Tabel 2 – 3 Permintaan pasar

Px Qdx
10 0
8 2.000
6 4.000
4 6.000
3 8.000
0 10.000

15
Kurve permintaan pasar akan berubah, apabila kurve permintaan
individual yang membentukknya berubah, juga akan berubah apabila jumlah
konsumen yang memasuki pasar berubah. Lihat gambar 2 – 5 diatas.
Dalam gambar 2 – 5 kita lihat pada harga x = Rp 4,- per unit, jumlah
keseluruhan barang x yang diminta dipasar oleh seluruhnya akan mengeluarkan
uang sebanyak Rp. 24.000,- ini diperlihatkan oleh segi empat OPQR (yang
diarsir) yang merupakan total money outlay atau total expen diture dari
konsumen seluruhnya.
2. PENAWARAN
Jumlah suatu barang yang produsen perseorangan ingin menjualnya
diapasar pada suatu waktu tertentu merupakan fungsi, atau tergantung dari :
harga barang tersebut, ongkos produksi si produsen. Untuk mendapatkan
tabel/schedule penawaran dari produsen individual untuk suatu barang tertentu
kita harus menganggap beberapa faktor yang membentuk ongkos produksi
tersebut konstan , sperti technologi, iklan dan cuaca pada sector agrarian. Dapat
kita tuliskan secara matematis :
Qsx = f (Pxx, P input, technologi, tax, subsidi dsb)
Qsx = f(Fx) oiteris paribus
Dengan menganggap hal hal lainnya oiteris paribus, dengan memasukkan
berbagai harga x kedalam fungsi penawaran produsen individual, akan kita
dapati tabel penawaran dan kurve penawaran produsen individual.
Fungsi penawaran yang dihadapi oleh produsen individual untuk barang x
adalah Qsx = -30 + 15 Fx oiteris paribus. Dengan memasukkan beberapa
kemungkinan harga x yang relevan kita akan mendapatkan tabel penawaran
produsen individual. Tabel 2-4 Penawaran individual

Px Qsx
2 0
4 30
6 60
8 90

16
Berpedoman pada nilai-nilai didalam tabel penwaran kita akan mendapatkan
kurve penawaran produsen individual.

Hubungan harga dengan jumlah yang ditawarkan merupakan hubungan


yang positif, kurve penawaran selalu mempunyai slap positif. Semakin tinggi
harga suatu barang dipasar, semakin banyak barang tersebut yang ditawarkan.
Tentu saja harus melalui proses penyesuaian, terutama untuk prosuk agrarian
tidak mungkin penawarannya bertambah dalam waktu yang relative singkat.
Pada harga x = Rp. 4,- per unit, maximum jumlah yang produsen
individual mau menawarkan dipasar adalah 30 unit, sedang pada harga x = Rp.
6,- per unit maximum jumlah yang produsen individual mau menawarkan nya
dipasar adalah 60 unit. Jadi kurve penawaran seorang produsen juga
merupakan konsep maximum, artinya pada harga tertentu, si prpdusen maxium
hanya mau menawarkan sejumlah tertentu dari barangnya.
PERUBAHAN PENAWARAN DAN BERUBAHNYA JUMLAH YANG
DITAWARKAN
Seperti halnya dengan permintaan, disini kita harus membedakan
pangertian berubahnya jumlah yang ditawarkan dengan berubahnya
penawaran. Berubahnya jumlah yang ditawarkan adalah pergerakan
disepanjang satu kurva penawaran karena adanya perubahan harga.

17
Berubahnya jumlah yang ditawarkan dari 0q1, menjadi 0q2 pada gambar 2-7,
adalah merupakan akibat dari adanya keunikan harga dari 0p1 menjadi op2.

Apabila salah satu faktor yang semula kita anggap konstan itu berubah,
misalnya karena adanya kemajuan technologi, yang menyebabkan ongkos
produksi barang yang bersangkutan turun, akan mendorong seluruh kurve
penawaran kebawah, yang berarti pada harga yang tetap sama, jumlah barang
yang ditawarkan persatuan waktu bertambah. Demikian sebaliknya akan terjadi
apabila cuaca atau iklim tidak menguntungkan sehingga hasil panen tidak
memadai akan mendorong seluruh kurve penawaran keatas, pada harga yang
tetap sama, makin sedikit jumlah barang tersebut yang ditawarkan per satuan
waktu. Dapat kita lihat pada gambar 2 – 8.

Pada harga yang tetap sama yaitu Op1, adanya kemajuan tehnologi akan
mendorong seluruh kurve penawaran kebawah menjadi qsx2, dan menambah
jumlah yang ditawarkan sebanyak q1q2 (bertambah dari Oq1 menjadi Oq2).

18
Sebaliknya karena iklim yang tidak menguntungkan akan mendorong seluruh
kurve penawaran keatas menjadi Qsx3, sehingga pada harga yang tetap sama
Op1 makin sedikit jumlah barang x yang ditawarkan, berkurang dari Oq1
menjadi Oq3.
PENAWARAN PASAR SUATU BARANG
Penawaran suatu barang di pasar output, yaitu pasar barang – barang dan
jasa – jasa datangnya dari badan – badan usaha yang datang kepasar dengan
masing -masing fungsi penawarannya. Jadi yang dimaksud dengan penawaran
pasar seluruhnya dari suatu barang adalah:
Berbagai – bagai alternatip jumlah suatu barang yang ditawarkan dipasar
pada berbagai -bagai alternatip harga oleh seluruh produsen dipasar.
Penawaran pasar untuk suatu barang tergantung pada semua factor, yang
mempengaruhi seluruh penawaran produsen individuali, dan jumlah produsen
yang datnagkepasar menawarkan barangnya per satuan waktu, sehingga
penawaran pasar juga merupakan hubungan antara harga pasar dan jumlah
barang per satuan waktu yang produsen mau menjual di pasar. Dengan
demikian kurve penawaran pasar biasanya juga merupakan kurve yang naik
miring ke kanan/mempunyai slop positip, naiknya harga akan mendorong para
penjual untuk menawarkan lebih banyak barang – barangnya dipasar, juga
dapat menarik penjual-penjual baru untuk datang kepasar.
Apabila hanya ada 100 produsen yang identik dipasar, yang masing -
masing mempunyai fungsi penawaran Qsx = - 30 + 15 Ix citeris paribus, maka
penawaran pasar akan menjadi = 100 (- 30 + 15 Ix) = - 3000 + 1500 Fx
Tabel 2 – 5 Penawaran Pasar
Px QSx
2 0
4 3000
6 6000
8 9000

19
Kurve penawaran pasar akan berubah apabila kurve penawaran
perseorangan berubah, dan apabila pada suatu waktu tertentu beberapa firm
keluar atau masuk kedalam industri yang bersangkutan.
3. KESEIMBANGAN PASAR
Keseimbangan pasar akan suatu barang akan tercapai apabila jumlah
barang yang diminta sama dengan jumlah - jumlah barang yang ditawarkan di
pasar per satuan waktu. Secara geometri, equilibrium akan terletak pada titik
perpotongan antara kurve permintaan dan kurve penawaran. Harga dan jumlah
pada equilibrium tersebut terkenal dengan harga equilibrium/harga
keseimbangan dan jumlah equilibrium/jumlah kaseimbangan.
Dari tabel dan kurve permintaan pasar dan penawaran pasar yang telah kita
ketahui dahulu kita akan mendapatkan harga keseimbangan untuk
memepermudahkan pemikiran kita umpamakan bahwa fungsi permintaan pasar
adalah : QDx = 800 – 1000 Ix, sedang fungsi penawaran pasar QSx = - 4000 +
2000 Px. Tabelnya akan terlihat sebagai berikut : Tabel 2 – 5.
Px QDx QSx
A 6 2000 8000
B 5 3000 6000
C 4 4000 4000
D 3 5000 2000
E 2 6000 0

20
Harga keseimbangan akan terjadi pada px = Rp. 4,- per unit,sedangkan jumlah
yang ditawarkan dan diminta pada harga tertsebut adalah 4000 unit.

Gambar 2 - 9

Pada titik equilibrium tidak aka nada kelebihan ataupun kekurangan


barang di pasar. Jiga harga pasar menyimpang dari harga equilibrium. Umpama
karena suatu hal tertentu harga pasar untuk barang x = 6,- per unit, jumlah yang
ditawarkan 8000 per unit, sedang jumlah yang diminta hanya 2000 unit,
sehingga ada surplus sebanyak 6000 unit yang akan menaikkan harga barang x
kembali 4,- per unit. Apabila harga barang x = Rp. 2,- per unit dipasar, maka
aka nada sharetage, jumlah yang ditawarkan sama sekali tidak ada sedangkan
jumlah yang diminta adalah 6000 unit, hal ini kan mendorong harga menjadi
naik menjadi Rp. 4,- per unit jumlah yang ditawarkan sama dengan juml;ah
yang diminta yaitu 4000 unit jumlah yang ditawarkan adalah sedemikian rupa,
sehingga harga dan pernilaian konsumen atas barang tersebut sama.
Dengan berpegangan dengan jumlah yang ditawarkan sama dengan jumlah
yang diminta pada harga equilibrium, maka dengan menyamakan fungsi
penawaran dengan fungsi permintaan akan kita dapati jumlah equilibrium
QDx=QSx. Dari persamaan diatas dapat kita lihat bahwa :
QDx = QSx
8000 -1000 Px = - 4000 +2000 Px
Px = Rp.4,-

21
Harga equilibrium adalah Rp. 4,- dengan memasulkan harga ini kesalah satu
persamaan diatas akan kita dapati jumlah keseimbangan :
QDx = 8000 – 1000 Px
= 8000 – 1000 . 4
= 8000 .4000
QSx = - 4000 + 2000 Ix
= - 4000 + 8000
= 4000
BERUBAHNYA PERMINTAAN DAN PENAWARAN PASAR
Apabila salah satu permintaan pasar, atau penawaran pasar yang berubah
ataupun kedua-duanya berubah maka atitik equilibrium akan berubah pulu.
Bertambahnya permintaan dengan anggapan hal-hal lain tetap samakan
menyebabkan bergesernya seluruh kurve permintaan ke atas. Sehingga baik
harga maupun jumlah keseimbangan akan naik. Perhatikan gambar 2 - 10.
Keadaan keseimbangan semula terletak pada titik E, dengan jumlah yang
diminta , sama dengan jumlah yang ditawakan yaitu Oq1, pada harga Op1,
karena satu dan lain hal permintaan bertambah sehingga menggeser seluruh
kurve permintaan D-D ke D1- D1. hal ini mengakibatkan titik keseimbangan
berpindah dari titik E ke E’. Jumlah yang diminta dan yang ditawarkan sama
yaitu Oq2 dan harga naik sebanyak p1p2.

Gambar 2-10

22
Dilain pihak dengan menganggap tetap permintaan pasar untuk suatu
barang, isalnya penawaran pasar menyebabkan turunnya harga keseimbangan,
tapi akan menaikkan jumlah keseimbangan. Lihat gambar 2-11.

Keseimbangan semula terletak pada titik E dengan harga Op1 dan Oq1

jumlah yang diminta dan ditawarkan. Karena suatu sebab penawaran


bertambah yang akan menggeser seluruh kurve penawaran ke bawah dari s – s
ke s1 - s1 , equilibrium baru terletak pada titik E1 dengan harga Op2 – jumlah

yang diminta dan ditawarkan Oq2 .

Apabila kedua-duanya berubah baik permintaan pasar maupun penawaran


pasar,cnaik misalnya, akan mengakibatkan jumlah keseimbangan naik, tetapi
harganya mungkin naik mungkin juga turun, mungkin juga tidak berubah,
tergantung dari kekuatan, baik permintaan maupun penawarannya.

23
BAB III
PENGUKURAN ELASTISITAS

1. ELASTISITAS PERMINTAAN
Elastisitas adalah suatu alat pengukur kepekaan pembeli terhadap
perubahan harga, sampai seberapa jauh si pembeli bersaksi terhadap adanya
perubahan harga. Alat pengukur ini mula-mula dikembangkan oleh Alfred
Marshall, sebagai suatu metode untuk membandingkan responsiveness pembeli
terhadap perubahan harga berbagai barang.
Koefisien dari elastisitas pemintaan dapat diukur dengan:
Presentase perubahan jumlah suatu barang tertentu yang diminta per
satuan waktu, yang disebabkan karena adanya perubahan dari harga barang
tersebut.
Harga dan jumlah berbanding terbalik, sehingga koefisien dari elastisitas
permintaan mempunyai tanda negatif. Sehubungan dengan nilai negatif, maka
tanda minus sellau dibubuhkan dalam rumus elastisitas. Jika ΔQ adalah
perubahan jumlah yang diminta dari suatu barang dalam hubungannya dengan
perubahan harga (P) maka:
Q
Q
E= P
P

Apabila koefisien elastisitas (e) lebih besar dari 1, permintaan akan barang
bersangkutan dikatakan elastis, apabila e = 1 unitary elastic , e lebih kecil dari
1 permintaan akan barang tersebut adalah inelastis.
Andaikata fungsi permintaan pasar untuk barang x adalah QDx = 6000 –
1000 Px. Tabel permintaan pasar akan terlihat seperti tabel 3 – 1.
Tabel 3 – 1. Permintaan Pasar
Px Dx
A 6 0
E 5 1000
C 4 2000

24
D 3 3000
E 2 4000
P 1 5000
G 0 6000

Sedangkan kurve permintaan pasarnya akan terlihat seperti gambar 3 – 2.

Elastisitas permintaan dari B ke D

QD QE PB
E= ×
PD PE QD

3000 1000 5
= ×
3 5 1000

2000 5
= ( 2
) × (1000 )

=5
Elastisitas permintaan dari D ke B
QB QD PD
E = ×
PB PD QD

1000 3000 3
= ×
5 3 3000

2000 3
= ( 2
) × (3000 )

=1

25
Jadi kita mendapatkan dua nilai yangberbeda apabila kita apabila kita bergerak
dari B ke D dan dari D ke B. perbedaan ini disebabkan karena kita memakai
dasar yang berbeda dalam mengambil presentas perubahan. Dapat diambil
jalan tengah, dengan cara mengambil nilai rata-rata dari kedua harga yaitu
PB PD
dan nilai rata-rata dari kedua quantity, jadi:
2

PD PB
Q 2 Q PB PD
E= × QB QD
= ×
P P QB QD
2

Koefisien elastisitas dengan menggunakan rumus tersebut, bergerak dari


B ke D maupun dari D ke B akan hanya mendapatkan satu nilai.

=2
Ini adalah harga e yang terletak tengah-tengah antara titik B dan titik D yaitu
pada titik C.
Koefisien elastisitas permintaan yang diukur diantara dua titik pada satu kurva
permintaan disebut Ars Elasticity. Seperti yang telah kita lihat terdahulu,
akhirnya kita akan melihat bahwa koefisien elastisitas permintaan pada
umumnya terlihat pada setiap titik di sepanjang kurva permintaan, perkiraan
mana diharapkan selisihnya hanya sedikit.
Liebhafaky dalam bukunya The Nature of Price Theory memberikan suatu
cara untuk mendapatkan satu nilai koefisien Arc Elasticity dengan
memasukkan / memperhitungkan tambahan atau pengurangan pengeluaran
total untuk barang yang bersangkutan. Dia memberikan rumus:

Dimana :

26
X = Quantity atau jumlah barang x

Kita lihat kembali tabel 3.1 di muka.


Pada px = Rp 5,- per unit jumlah barang x yang dibeli adalah 1000 unit, total
expendituro untuk barang x adalah px Qz = 5 x 1000 = Rp 5000,- pada harga x
= Rp 3,- per unit, 3000 unit barang x yang dibeli, pengeluaran hasil total untuk
barang yang bersangkutan adalah = Rp 9000,- jadi koefisien elastisitas
permintaannya:

Dimuka telah kita singgung bahwa koefisien elastisitas permintaan pada


umumnya terlihat pada setiap titik disepanjang kurve permintaan. Elastisitas
yang diukur hanya pada satu titik pada satu kurve permintaan disebut “point
elasticity”. Perhatikan gambar 3-2.

Pada kurve pemintaan D - D gambar 2-3. pada titik E, atau titik lain adalah
miringnya kurve permintaan D - D yaitu ME/MT.

27
Harga pada titik E = ME jumlah yang diminta adalah OM. Jadi koefisien
elastisitas permintaan pada titik E adalah :

Dari tabel 3-1 dan gambar 3-1 dapat kita lihat bahwa koefisien elastisitas pada
titik 0 adalah NG/ON = 6000/2000 = 3.
Apabila titik E terletak sedemikian rupa sehingga MT = OM atau ET =
AE koefisien elastisitas pada titik yang bersangkutan adalah 1 unitary elastis.
Lihat gambar 3-2.
Diatas titik E, misalnya E’ elastositas permintaan akan barang yang
bersangkutan lebih besar dari satu, elastisitas karena E’T/AE’ 1, sedangkan
kalau dibawah titik E, umpamanya E” maka elastisitas permintaan akan barang
bersangkutan 1, inelastis dimana E”T/AE” 1.
2. HUBUNGAN ANTARA ELASTICITY DENGAN TOTAL
EXPENDITURES
Telah kita ketahui bahwa apabila kita menghadapi kurve permintaan garis lurus
seperti terlihat pada gambar 3-3 kita akan mendapatkan tiga kemungkinan
elastisitas pada kurve permintaan tersebut. Diatas titik tengah e>1 dibawah titik
tengah e<1, sedangkan pada titik tengah e = 1. Hal ini tidak akan jauh berbeda
kalau kita menghadapi kurve permintaan reotangular hyperbola (hyperbola
siku-siku) dimana e = 1, pada setiap titiknya.
Besar kecilnya koefisien elastisitasini memppengaruhi besar kecilnya total
expenditur untuk barang yang bersangkutan. Perubahan disepanjang kurve

28
permintaan apabila harga dari suatu barang turun, pengeluaran total konsumen
untuk barang tersebut. (Price x Quantity) akan naik bila e>1 tetap tidak
berubah apabila e = 1, dan turun apabila e<1.
Kembali pada fungsi permintaan pasar QDx = 6000 – 1000 Px dan tabel
permintaan 3-1 dapat kita lihat hubungan antara elastisitas akan permintaan
suatu barang dengan total expenditure untuk barang yang bersangkutan. Untuk
mudahnya kita tuliskan kembali tabel 3-1 pada tabel 3-2.
Tabel 3 – 2. Hubungan elastisitas dengan total expenditure
Px Qx TE E
A 6 0 0
B 5 1000 5000 5
C 4 2000 8000 2
D 3 3000 9000 1
E 2 4000 8000 ½
F 1 5000 5000 1/5
G 0 6000 0
Dari tabel diatas dapat kita lihat hubungan antara elastisitas permintaan dengan
total expenditute untuk barang yang bersangkutan. Pada titik 0 dimana
koefisien elastisitas permintaan = 2 jadi elastis, apabila harga x turun, maka
total expenditure untuk barang yang bersangkutan naik. Apabila elastisitas
permintaan akan barang yang bersangkutan lebih kecil dari 1 umpama titik E
dimana elastisitasnya = ½ total expenditure untuk barang yang berangkutan
akan turun apabila barangnya turun.
Liebhafaky memberikan contoh perhitungan hubungan antara elastisitas
dalam pengeluaran total sebagai berikut :
a. Pada kurve permintaan berbentuk hiperbola siku siku dimana e- pada
setiap titiknya =1 , pada mulanya harga barang x= Rp 1, - per- unit, jumlah
barang x yang diminta dipasar adalah 60 unit. karena - suatu hal harga x
turun menjadi 0,72 per unit. Jumlah barang x -yang diminta nai menjadi
83,33 unit. Perhatikan gambar 3-4.
Kurve permintaan Hyperbola siku-siku

29
Gambar 3-4
Total Expenditure pada titik I = 60 x Rp 1,- = Rp 60,-
Total Expenditure pada titik B = 833,33 x Rp 0,72 = Rp 59,99 = Rp 60,-

Jadi, pada e = 1.
Px Total Expenditure Konstan
Px Total Expenditure Konstan
b. Kurve Permintaan yang Inelastis

Gambar 3-5

30
Px turun dengan jumlah yang sama yaitu Rp 0,28 tepi jumlah x yang
diminta naik dari 60 unit menjadi 80 unit.
Total expenditure pada px = Rp 1,- titik C adalah
(Px X Qx) = 1 X 60 = Rp. 60,-
Total expenditure pada px = Rp 0,72 titik D adalah
Px total expenditure akan barang yang bersangkutan
naik (TE )
Px total expenditure akan barang yang bersangkutan
Turun (TE )

c. Kurve permintaan yang elastis

Gambar 3 - 6
Pada gambar 3 - 6 harga x turun sebanyak Rp 0,28 juga, tapi jumlah x
yang diminta naik dari 60 unit ke 90 unit.
Total expenditure pada Px =Rp 1,- titik G adalah 1 x 60 =Rp 60,-
Total Expenditure setelah harga trun = 0,72 x 90 = Rp 64,80

Px Total Expenditure
Px Total Expenditure

31
3. PEMAKAIAN RUMUS ELASTISITAS
Dalam contoh c diatas kita dapat I elastisitas permintaan akan barang x=
1,29 artinya pernyataan tersebut ? bagaimanakah hubungan / respons antara
turunan harga dengan kenaikan jumlah yang diminta? Koefisien Elastisitas =
1,29 artinya adanya perubahan harga sebanyak 1 % menyebabkan perubahan
jumlah yang diminta sebnayak 1,29% konsumen yang pada mulanya berada
pada titik G, dimana harga x = Rp 1,- kemiduan turun ke titik H, harga x pada
titik tersebut = Rp 0, 72 . turunnya harga Rp 1 ,-- Rp 0,72 =Rp 0,28. Jumlah
total dari turunnya harga (presentase total dari turunnya harga) adalah :

Jadi presentase total dari pertambahan jumlah x yang dibeli karena


elastisitasnya = 1,29 = 1,29 x 38,88 = 50% . sehingga perubahan total dari
jumlah x yang dibeli adalah 50 % x 60 Unit =30 Unit. Jumlah barang x yang
diambil karena turunnya harga sebanyak Rp 0,28 adalah 60 unit + 30 unit = 90
unit barang x.
Dapat kita ambil kesimpulan bahwa permintaan akan barang x adalah
elastisitas, karena perubahan harga 38,88 % dapat menyebabkan perubahan
jumlah yang diminta sebanyak 50 %. Kurve permintaan elastis tak terhingga
dan inelastis Sempurna

Gambar 3-7

32
Gambar 3-7 A, dapat kita lihat kurve permintaan yang berbentuk garis
horizontal yang sejajar dengan sumbu x, artinya pada tingkat harga yang
berlaku (px 1), konsumen akan membeli setiap jumlah x yang ada , dan tidak
akan membeli sama sekali , apabila harga lebih tinggi dari harga yang sedang
berlaku. Pembelian terhadap barang x hanya dibatas I oleh pendapatan
konsumen. Permintaan terhadap barang x disini adalah permintaan elastis tak
terhingga (infinitely elastis)
Gambar 3 -7 B melukiskan keadaan dimana kurve permintaan adalah
elastis sempurna (perfectly inelastic) suatu garis vertikal yang sejajar dengan
sumbu y. Dalam keadaan ini jumlah x yang dibeli konsumen adalah tetap (qx1),
berapapun tinggi atau rendahnya harga.
Kedua extrim ini dapat dipandang sebagai batas (limiting eases). Karena
jika harga suaru barang (x) yang permintaannya elastis tak terhingga, e = ∞
turun, maka kenaikan daya beli sebesar – qx px yang diakibatkan oleh turunya
harga tersebut seluruhnya akan dibelanjakan pada barang yang bersangkutan.
Dilain pihak, turunya harga x yang akan dibelanjakan barang x.
Note : Px turun sebanyak -∆Fx , jumlah yang diminta tetap sama, hanya
tergantung dari income konsumen. Maka turunya harga x sebanyak -∆Px
menyebabkan bertambahnya daya beli konsumen sebanyak (qx) X (-∆Px) = -
qx∆Px.
Elastis tidaknya suatu permintaan, tergantung dari beberapa faktor.
Adapun faktor – faktor tersebut ialah :
a. Ada tindaknya barang pengganti yang baik dipasar. Kalau dipasar ada
barang subtitusi yang baik, permintaan akan barang yang bersangkutan
lebih elastis. Presentage kenaikan harga yang sedikit saja, dapat
menyebabkan presentage penurunan jumlah yang diminta sangat besar,
karena orang beralih kepada barang subtitusinya.
b. Banyak tidaknya pengguna barang tersebut. Semakin luas penggunaan
barang tersebut, permintaanya semakin elastis. Semakin besar
kemungkinan untuk mengadakan perubahan jumlah yang dibeli apabila
harganya berubah.

33
c. Harga barang yang bersangkutan dibandingkan dengan pendapatan
konsumen. Permintaan akan barang barang yang mengambil sebagian
besar pendapatan konsumen adalah lebih elastis daripada permintaan akan
barang barang yang relatif hanya mengambil sebagian kecil dari
pendapatan itu.
d. Apakah harga barang itu mengarah keujung atas atau keujung bawah dari
kurve permintaan. Harga yang mengarah keatas lebih elastis daripada
harga yang mengarah kebawah. Berlakunya tentu saja sangat tergantung
pada bentuk kurve yang bersangkutan.
4. INCOME ELASTICITY OF DEMAND.
Koefisien dari Income Elasticity of Demand (eM) diukur dengan
presentage perubahan jumlah yang dibeli per satuan waktu, dibandingkan
dengan perubahan income si konsumen.

Rumusnya : eM =

= =

Dimana :
M = Money income si konsumen
∆M = Perubahan penghasilan konsumen yang berupa uang.
Qx = Jumlah barang x yang diminta.
∆Qx = Perubahan jumlah barang x yang diminta karena adanya
perubahan income.
Apabila koefisien eM menunjukan suatu angka yang negatif ; maka barang x
adalah barang inferior; sedangkan apabila eM positif barang x termasuk barang
normal. Barang normal biasanya dikriteriakan barang lux apabila e m>1,
walaupun barang tersebut merupakan suatu keharusan.
Dalam menentukan klasifikasi suatu barang dengan pedoman pada eM, kita
harus melihat keadaan si konsumen, terutama penghasilanya. Suatu barang,

34
mungkin dianggap barang lux bagi mereka yang tingkat incomenya menengah,
dan mungin juga merupakan barang inferior bagi mereka yang tingkat
incomnya sangat tinggi.
Hubungan antara income seseorang dengan type suatu barang tertentu
dapat kita lihat dari tabel 3 – 3 berikut :
Tabel 3 – 3.
Penghasilan Jumlah % % eM Type
M / tahun barang x perubahan perubahan dari
yang Jumlah M barang
diminta barang x x
8000 5 100 50 2 Lux
12000 10 50 33,33 1,5 Lux
16000 15 20 25 0,8 Keharusan
20000 18 11,11 20 0,56 Keharusan
24000 20 -5 16,67 0,30 Inferior
28000 19 -5,26 14,29 0,37 Inferior
32000 18
Dapat kita lihat tabel diatas untuk jenis barang yang nama (barang x), penilaian
seseorang konsumen tergantung sekali dengan tingkat incomenya. Bagi mereka
yang tingkat incomenya sangat rendah, barang x dipandang sebagai barang lux.
Tidak demikian halnya dengan mereka yang tingkat incomenya sangat tinggi,
untuk barang yang sama (barang x) dinilai sebagai barang inferior.
Hubungan antara income kondumen, dan barang x yang diminta / dibeli
dapat digambarkan dalam satu kurve, yang mula mula dikembangkan oleh
seorang ahli statistik yang bernama St. Christian Lorenz Engel, sehingga kurve
tersebut terkenal dengan sebutan kurve Engel. Perhatikan gambar 3 – 8, yang
kita dapat dari data dalam tabel 3 – 3.

35
Engel kurve
35

30

25

20

15

10

0
0 5 10 15 20 25

Gambar 3 – 8

Setelah income konsumen sedemikian tingginya, permintaan akan barang x


malahan berkurang, kurvenya menyusur curam keatas. Hal ini akan kita
bicarakan lebih lanjut dalam Bab V.

5. ELASTISITAS SILANG DARI PERMINTAAN. (CROSS ELASTICITY


OF DEMAND).
Koefisien cross elasticity of demand (exy) menunjukan presentage
perubahan barang x yang dibeli per satuan waktu, yang disebabkan karena
presentage harga barang y.

exy =

= =

36
Apabila barang x dan barang y adalah barang substitusi maka exy akan positif,
apabila baraang komplementer maka exy akan negatif, tetapi apabila barang x
dan barang y tidak ada hubungan sama sekali exy akan sama dengan nol.
Dominiok salvatoro, dalam bukunya Mikro Economi thoory, memberikan
contoh hubungan antara kopi dan teh, hubungan antara lemon dan teh.
Tabel 3-4

Barang Sebelum Sesudah


Harga/cup Jlh/cup per bl Harga/cup Jlh/cup per bl
Kopi (y) 20 50 30 30
Teh (x) 10 40 40 50

Tabel 3-5
Barang Sebelum Sesudah
Harga/Unit Jumlah unit Harga/unit Jumlah unit
per bl per bl
Lemons (z) 5 20 10 15
Teh (x) 10 40 10 35

( ) ( )

( ) ( )

Exy positif maka kopi dan teh adalah barang subtitusi, exz negatip, maka
lemons dan teh merupakan barang komplomenter, berubahnya barang z lemons
dibarengi dengan berkurangnya jumlah x teh yang diminta.
Cross elasticity sering dipakai untuk menentukan batas batas suatu
industry. Cross elastioity yang tinggi menunjukan hubungan yang rapat atau
barang barang dalam industri yang sama. cross elasticity yang rendah

37
menunjukan hubungan yang jauh atau barang barang dalam industry yang
berbeda. Kesukaran yang kita hadapi dalam menentukan barang barang mana
termasuk jenis industry yang sama :
a. Sukar menentukan berapa seharusnya tingginya cross elastioity antara
barang barang itu seharusnya agar dapat dianggap dalam industry yang
sama.
b. Rangkaian cross elastisitas antara barang yang mungkin bisa dikriteriakan
dalam satu industry tapi mempunyai cross elastisitas yang rendah.
Umpama cross elastisitas antara cadillao dengan Truck, mungkin rendah,
apakah keduanya termasuk dalam industry yang sama atau industry yang
berbeda
6. ELASTISITAS PENAWARAN
Pengertian elastisitas penawaran hampir sama dengan elastisitas
permintaan.
Koefisien elastisitas penawaran dapat diukur dengan :
Presentage perubahan jumlah barang yang ditawarkan per satuan waktu,
dalam hubungannya dengan presentase perubahan harga.

Apabila kurve penawaran mempunyai slop positif atau (yang selalu kita
hadapi) maka barang dan jumlah bergerak dengan arah yang sama.
Berubahnya harga akan menyebabkan berubahnya jumlah yang ditawarkan
dalam arah yang sama dan es>0. Suatu kurve penawaran dikatakan elastisitas
apabila es >1. Inelastis apabila es<1 dan unitary elastisitas apabila es=1.

38
Px Qx

6 6000

5 5500

4 4500

3 3000

39
BAB IV

TEORI KLASIK TENTANG PERMINTAAN KONSUMEN

Ada dua teori yang membahas tentang permintaan konsumen, teori yang
pertama adalah teori klassik yang sering disebut cardinal utility approach,
mendasarkan teorinya pada anggapan bahwa guna dari suatu barang yang
dikonsumsi oleh konsumen dapat diukur . guna didapatkan dengan mengkonsumsi
suatu barang tertentu tidak dipengaruhi atau tidak tergantung dari guna yang
didapat dari mengkonsumsikan barang lainnya atau tingkat konsumsi barang lain.
Teori yang kedua yaitu Teori Modern, tentang permintaan konsumen yang
disebut Indifference Curve Approach, atau ordinal approach. Teori yang kedua ini
selanjutnya akan kita bahas pada bab berikutnya.
1. TOTAL UTILITY ATAU MARGINAL UTILITY
Seseorang meminta suatu barang sebab dia menerima kepuasan atau
kegunaan dan mengonsumsi barang tersebut. Itulah sebabnya semakin banyak
unit barang yang dikonsumsi persatuan waktu, semakin besar guna total yang
didapat, sehingga mencapai suatu titik tertentu yaitu titik maximum. Yang
kemudian akan turun apabila konsumsi unit unit barang terseut terus ditambah.
Pada waktu total utillity baik, tambahan pada total utility karena adanya
tambahan satu unit konsumsi akan turun. Total utility maximum , marginal
utilitysama dengan nol, total utility menurun, marginal utility akan negatif. Jadi
dapat diseimpulakan bahwa, guna total adalah jumlah kepuasa yang diperoleh
konsumen dengan mengkonsumsi bermacam macam barang persatuan waktu.
Sedangkan marginal utility adalah tambahan pada guna total yang diakibatkan
karena adanya tambahan suatu satuan konsumsi, persatuan waktu.
Dalam tabel berikut dapat kita lihat, hubungan anatara guna total, guna batas
pada asing-masing tingkat konsumsi barang x.

40
Tabel 4 - 1 . total utility dan marginal utility ;

Qx Tux MUx
0 0 10
1 10 8
2 18 6
3 24 4
4 28 2
5 30 0
6 30 -2
7 28
Dari tabel diatas akan kita dapeti kurve total utility dan marginal utility

Total utility maximum akan tercapai pada tingkat konsumsi 6 unit barang x
dengan total utility sebanyak 30, total utilitynya = nol, setelah titik p total
utilitynya akan terus menerus turun , apabila unit barang konsumsi bertambah,
marginal utility akan negatip.

41
Sebelum titik P tercapai, marginal utility akan terus bertambah , tambahan
konsumsi 1 unit barang x, dari 3 unit, menjadi 4 unit akan mendambah guna
total sebanyak 4 utils. Dari kurve tersebut dapat dilihat bahwa guna batas
berkurang dengan tambahannya konsumsi persatuan waktu antara 0 samapai 30
unit, atau setiap tambhaan konsumsi persatuan waktu , memberikan tambahan
yang semakin berkurang pada guna total sampai akhirnya satuan ke 30 tidak
menambah apa apa lagi, (prinsep guna batas yang semakin berkurang).
2. KESEIMBANGAN KONSUMSI
Konsumsi yang rasionil akan berusaha memaksimalkan kepuasannya,atau
guna total yang didapat dengan pengeluarannya yang sudah tertentu. Seorang
konsumen dikatakan berada dalam keseimbangan apabila dia mengeluarkan
pendapatannya sedemikian rupa, sehingga rupiah terakhir yang dikeluarkannya
pada setiap barang memberikan kepuasan yang sama ataudapat dituliskan
dengan persamaan.

Dimana : MUx = Marginal utility barang x


Mu y = marginal utility barang y
Mus = marginal utility barang s
Px= harga barabg x
Py = harga barang y
Ps= harga barang s
Apablia M adalah income konsumen yang berupa uang maka
PxQx + PyQy+PzQz+………………………
budget Line / budget constrain.
Qx = jumalh barang x
Qy = jumlah barang y
Qs = jumlah barang s
Andaikata si konsumen hanya mengkonsumsi dua jenis barang yaitu barang x
dan barang y dengan masing masing marginal utility yang didapat seperti pada

42
gambar tabel 4-2 , dengan harga masing masing px = Rp 2, - Py = Rp 1,- perunit
sednagkan income si konsumen adalah Rp 12,- per- satuan waktu yang
semuanya dikeluarkan untuk membeli barang x dan barang y.
Tabel 4 – 2 Marginal utility x dan y

Q MUx MUY
1 16 11
2 14 10
3 12 9
4 10 8
5 8 7
6 6 6
7 4 5
8 2 4
Si konsumen berusaha mengeluarkan pendapatannya sedemikian rupa,
sehingga dia akan memeperoleh kepuasan maksimum, dari jumlah incomenya
yang sudah tertentu. Konsumen yang rasionil akan mengeluarkan rupiahnya
yang pertama dan yang kedua untuk membeli unit pertama da unit keuda dari
barang y, sehingga dia akan menerima 21 utils. Seandainya dua rupiah ini
dibelikan satu unit barang x dia hanya akan menerima 16 utils. Rupiah ke tiga
dan ke empat dikeluarkan untuk membeli unit ke tiga dan keempat dari barang
y, yang oelh karenanya akan menerima 17 utils . 1 util lebih besar bila kalau
dua rupiah kedua ini dibelikan barang x. selanjutnya si konsumen akan
mengeluarkan rupiah kelima dan keenam untuk mendapatkan unit pertama dari
barang x, sehingga dia menerima 16 utils. Rupiah ke tuju dan ke delapan
dibelikan unit ke dua dari barang x dari ini dia menerima 14 utils.rupiah
kesembilan dan kesepuluh , untuk membeli unit kelima dan kenam dari barang
y. Pengeluaran dua rupiah terakhir untuk membeli unit ketigaa dari baranf x,
Dimana dia menerima 12 utils, kalau kita tuliskan akan terlihat sebagai berikut:

43
Rupiah Unit barang x dan y Utils Total
Utility
1 Unit ke – 1 Barang y 11 21
2 Unit ke – 2 10
3 Unit ke – 3 Barang y 9 17
4 Unit ke – 4 8
5 Unit ke – 1 Barang x 16 16
6
7 Unit ke – 2 Barang x 14 14
8
9 Unit ke – 5 Barang y 7 13
10 Unit ke – 6 6
11 Unit ke - 3 Barang x 12 12
12
Total Unit yang diterima 93 93
Kombinasi konsumsinya adalah 3 unit barang x dan 6 unit barang y, yang
keseluruhannya memberikan 93 utils. Pada titik kombinasi Qx = 3 dan Qy = 6
si konsumen akan berada dalam keadaan equilibrius, apabila si konsumen tidak
bertindak seperti diatas, dia akan menerima lebih kecil dari 93 utils, jadi
dengan bertindak rasionil , dimana sinkonsumen mengeluarkan pendapatnya
berupa uang sedemikian rupa. Sehingga rupiah terakhir yang dikeluarkannya
untuk setiap barang akan memberikan kepuasan yang smaa, dia akan
memperoleh kepuasanyang maximum.
Marilah kita lihat dengan rumus yang telah kita ketahui:

Qx = 3 unit, Mux = 12 utils, Px = Rp. 2,-


Jadi,

Qy = 6 unit, MUy = 6 utils, Py + Rp. 1,-

44
Jad,

Px . Qx + Py . Qy = M
Px = Rp. 2,- Qx = 3 unit
Py = Rp. 1,- Qy = 6 unit
(2 x 3) + (1 x 6) = 12
Marginal utility dari rupiah terakhir yang dikeluarkan untuk barang x=6 utils
sama dengan marginal utility dari rupiah terakhir yang dikeluarkan untuk
barang y =6 utils. Jumlah uang yang dibelanjakan untuk barang x adalah Rp 6,
dan jumlah uang yang dibelanjakan untuk barang y adlah Rp 6, sedang
individual money income = Rp 12, - (M). konsumen dari keduanya
menunjukan bahwa si konsumen individual berada dalam keseimbangan.
3. PERTUKARAN
Adalah mungkin bagi si konsumen yang sudah berada dalam kaadaan
equilibrium, untuk menaikan lebih jaun total utilitynya, dengan mengadakan
pertukaran dengan konsumen lain yang juga berada dalam equilibrium syarat
yang harus dipenuhi agar pertukaran sukarela dapat berlainan.
a. Penilaian masing maisng individu yang akan mengadakan pertukaran,
terhadap barang yang sama harus berlainan.
b. Pertukarang tersebut harus menguntungkan kedua belah pihak. Apabiala
hanya sepihak yang untung, sedang yang lain tidak menerimana apa apa,
apalagi menderita rugi, pertukaran tidak akan terjadi.
Seandangnya hanya ada dua individu a dan b yang akan mengadakan
pertukaran dan hanya ada dua jenis barang yaitu x dan y, sepanjang MUx dan
Muy bagi individu a berbeda dengan MUx/ Muy bagi individu b, maka
pertukaran akan menguntungkan kedua belah pihak. Selama jumlah julmah
unit barang yang ditukar bertambah.penilaian kedua individu makin lama
makin dekat, sampai keduanya mencapai penilaian yang sama. Kalau
persamaan penilaian antara keduanya sudah tercapai, pertukaran sudah tidak
menguntungkan lagi dan pertukarang atau perdanganan akan berhenti.

45
Dalam tabel 4-3 dapat kita lihat individu a dan individu b dengan masing
masing penilaiannya terhadap barang x dan barang y

Individu A Individu B

Q MUx MUy Mux MUy


1 16 11 18 16
2 14 10 16 15
3 12 9 14 14
4 10 8 12 13
5 8 7 10 12
6 6 6 8 11
7 4 5 6 10
8 2 4 4 9
Seperti yang kita ketahui terdahulu individu a berada dlaam keseimbangan
dengan kombinasi konsumen 3 unite varang x dengan 6 unit barang y,
penghasilan individu A adalah Rp 12, persatuan waktu, sedang harga barang x
= Rp2, harga barang y= Rp 1, per unit . indovidu B, menghadap I harga yang
berada dengan jumlah incomenya yang sudah tertentu berada dalam equilibrim
dengan kombinasi konsumsi 6 unit barang x dan 3 unit barang y. hal ini
mungkin karena A dan B berada jauh satu sama lain, atau berada pada dua
Negara yang berbeda. Inilah merupakan dasar adanya pertukaran anatara
individu A dengan individu B.
Penilaian A sebagai berikut :

Penilaian B sebagai berikut :

Karena adanya perbedaan penilaian inilah yang merupakan dasar adanya


pertukaran antara individu A dengan individu B.
Marilah sekarang kita lihat bagaimana pertukaran tersebut akan berlangsung.

46
Kita mulai dari keadaan equilibrium, A akan melepas i unit y untik mendapat 1
unit x dari B, A nelepaskan 6 utils untuk mendapatkan 16 utils dengan
mengkonsumsi tambahan 1 unit x yang diperolehnya dari individu B, sehingga
A akan memperoleh keuntungan netto dari pertukaran ini, 4 utils. B seharusnya
juga mendapat keuntungan dari pertukaran ini, dia melepaskan 1 unit x,
melepaskan 8 utils, dan akan mendapatkan 1 unit tambahan y yang berarti
mendapatkan 13 utils, B menerima keuntungan dari pertukaran ini sebnayak 5
utils.
Apakah mungkin antara individu A dan individu B mengadakan
pertukaran lagi? Marilah kita lihat lebih lanjut. Setelah adanya pertukaran yang
pertama A memiliki kombinasi konsumsi 4 unit x 5 unit y dengan merginal
utility masing masing adalah 10 utils dan 7 utils. Sedang B, memiliki
kombinasi konsumsi 5 unit x dengan marginal utility 10 utils dan 4 unit y
dengan marginal utility =13 utils.
Penilaian a sebagai berikut :

Penilaian B sebagai berikut :

Sepanjang perhitungan A dan B terhadap barang yang sama masih


berlainan, pertukaran masih mungkin menguntungkan kedua belah pihak.
individu A melepaskan ke unit ke 5 barang y yang mempunyai 7 utils. Untuk
mendapatkan unit ke 5 dari barang x yang mempunyai 8 utils . jadi dari
pertukaran ini A untung sebanyak 1 utils individu B melepaskan unit ke 5 dari
barang x yang mempunyai 10 utils untuk mendapatkan unit ke 5 dari barang Y
yang mempunyai 12 utils, sehingga individu B menerima 2 utils sebagai
keuntungannya dari pertukaran tersebut.
Kombinasi konsumsi individu A sekarang adalah 5 barang x dengan marginal
utility adalah 8 utils dan 4 unit barang y dengan marginal utils=8 utils juga.

47
Individu B mempunyai konbinasi konsumsi sekarang adalah 4 unit barang x
dengan marginal utility = 12 utils dan 5 unit barang y dengan marginal utility =
12 utils. Pertukaran akan berhenti sampai disini karena penilaian A amupun b
terhadap barang yang sama sudah sama.
Bagi individu A :

Bagi Individu B

Apabila pertukaran masih dilanjutkan keduanya baik individu A maupun


individu B akan sama sama menderita rugi.
4. MENGGAMBARKAN KURVE PERMINTAAN INDIVIDUIL:
Dengan berpegang pada marginal utility yang semakin berkurang dan
konsep keseimbangan konsumsi kita dapat menggambarkan kurve permintaan
individual untuk suatu barang tertentu. Kita mulai dari keadaan keseimbangan
konsumen, kita dapat satu titik dari kurve permintaan individual untuk barang
tertentu, yang merupakan hubungan antara harga dan jumlah barang tersebut
yang diminta.
Seandainya harga barang yang bersangkutan berubah sedangkan hal hal lain
tetap konstan, akan merubah posisi keseimbangan konsumen. Pada waktu
terjadinya proses perubahan harga, quantity barang tersebut yang diminta juga
berubah. Dari keadaan keseimbangan konsumen yang baru ini kita dapati lagi
satu titik dari kurve permintaan konsumen individual. Proses ini dapat kita
ulangi beberapa kali. Dengan menghubungkan titik titik hubungn antara harga
dan jumlah yang diminta dalam keseimbangan konsumen kita dapati kurve
permintaan konsumen individual akan barang tertentu.
Seandainya kita akan menggambarkan kurve permintaan konsumen
individual terhadap barang x dari data data yang telah kita ketahui terdahulu.
Kita haruus melihat dulu keadaan keseimbangan konsumen. Konsumen A

48
berada dalam keseimbangan dengan kombinasi konumsi 3 unit barang x dan 6
unit barang y dengan harganya masing masing adalah Rp 2dan Rp 1 per
unit.unit pada harga X = Rp 2, per unit , konsumen A membeli/ meminta 3 unit
barang tersebut. Hal ini ditunjukan pada titik R pada gambar 4-2
Seandainya harga X turun menjai Rp 1peunit, yang denan sendirinya akan
merubah posisi keseimbangan konsumen A dan akan membeli lebih banyak
unit barang X (Sepanjang barang adalah barang normal), yang sesuai juga
dengan syarat keseimbangan yang telah kita ketahui terdahulu

a.
b. Px . Qx + Py . Qy = M
Keseimbangan konsumen A setelah adanya penurunan harga terletak pada
kombinasi konsumsi 6 unit barang X dan 6 unit barang Y, dengan harga
masing-masing adalah Rp 1 per unit.
a. Mux = 6 dan Px = 1

MUy = 6 dan Py = 1

b. Px = 1 – Qx = 6
Py = 1 – Qy = 6
(1 x 6) + (1 x 6) = 12
Dari kombinasi keseimbangan baru ini kita dapati titik s. dengan
menghubungkan titik R dan titik S kita dapati kurve permintaan konsumen

49
Kurve individual A

Beberapa ahli ekonomi mengemukakan keberatannya terhadap teori guna


Klassik ini. Diantaranya seorang ahli ekonomi inggris F.Y edge pada tahun
1881. Dan baru menjelang tahun 1934 lah dua ahli ekonomi inggris lainnya,
J.R. Hicks dan R.G.D.Allen, mempopulerkan penggunaan tehnik tehnik kurve
indifferensi itu dalam analysa ekonomi. Dia memberikan alasan bahwa :
a. Guna itu dapat diukur, sangat diragukan kebenarannya.
b. Sekalipun umpamanya guna itu memang betul betul dapat diukur, tapi
guna yang independen dan additip jelas merupakan sebuah asumsi yang
tidak dapat dipertahankan. Kenyataan menunjukan bahwa utilitas suatu
barang tertentu tidak saja merupakan fungsi daari jumlah barang itu
sendiri, tetapi juga merupakan fungsi daripada baran barang lainnya yang
dimiliki si konsumen.
Hal inilah yang mendorong timbulnya Teori Modern tentang tingkah laku
konsumen, yang mendasarkan teorinya . bahwa guna itu hanya dapat di
bandingkan satuu sama lain, tidak dapat diukur dengan pasti. Selanjutnya
mengenai analisa kurve indifferensi akan kita bahas pada BAB V.

50
BAB V
ANALISA KURVE INDEFFRENSI

Teori ini menunjukan koreksi dari Teori klassik tentang tingkah laku
konsumen, sehingga tidak lagi dibutuhkan assumsi/ anggapan bahwa guna yang
didapat oleh seorang konsumen dengan mengkonsumsi sejumlah barag tertentu
dapat diukur. Pada teori ini dijelaskan bahwa guna yang didapat dengan
mengkonsumsi suatu barang tidak berdiri sendiri. Tetapi juga ditentukan oleh
tingkat konsumsi barang lainnya atau dengan kata lain kta teori ini ingin
menunjukan kenyataan bahwa utilitas suatu arang tertentu tidak hanya fungsi dari
jumlah barang itu sendiri. Tapi yang merupakan fungsi barang baranf lainnya
yang demikian/ dikonumsi oleeh si konsumen.
1. PENGERTIAN DARI KURVA INDIFFERENSI
Yang dimaksud dengan kurve indifferensi adalah suatu kurve yang mnujukan
berbagai bagai kombinai barang X dan barang Y yang memberikan kepuasan
total yang sama bagi si konsumen. Atau :
Berbagai kombinasi antara barang X dan barang y yang mungkin diantara
kombinasi mna si konsumen bersikap indifferen.
Jadi berbagai kombiansi barang X dan barang Y yang memberikan kepuasan
yang sama bagi si konsumen.

Gambar 5-1

51
Titik titik yang terletak disepanjang satu kurve indeffern mennjukan total
utility yang sama, kepuasan yang dicapai konsumen pada titik P dengan
kombinai konsumsinOx barang dengan Oy barang y, sama / indifferen dengan
kepuasan pad titik Q dengan kombinasi konsumsi Ox2 barang dan Oy2 barang
Y. karena utilitas marginal barang X dan utiitas marginal barang y kedua
duanya dianggap konstan, yang berarti posisi konsumen akan bertambah baik
apabila jumlah salah satu barang itu bertambah, tanpa di sertai berubahnya
jumlah barang yang ain, maka itu berarti bahwa sepanjang suatu kurve
indifferensi tertentu, bertambahnya jumlah salah satu barang harus diertai
dngan berkurangnya jumlah barang lainnya. Dengan lain perkataan y harus
negatip atau barang y harus berkurng pada waktu terjadi pergeseran dari titik P
ke titik Q, disepanjang kurve indefferensi I.
Dalam gambar 5-1 utilitas total yang lebih besar digambarkan dengan kurve
indifferensi yan lebih tinggi letaknya yang membuat kombnasi lebih banyak
barang x mupun barang y.
2. CIRI-CIRI DARI SUATU KURVE INDIFFERENST.
Ada tiga ciri khusus uatu kurve indifferensi.
a. Turun miring dari kiri atas kekanan bawah (slope down ward to the right).
Apabila konsumen menginginkan tambahan barang x (x dalam gambar 5-
1) dia haru mengkorbankan barang y (y) dalam gambar 5-1 sedemikian
rupa sehingga total kepuasan yang diperoleh tetap aman.kalau tidak kurve
indefferen tersebut akan berbentuk garis lurus yang horizontal dengan
sumbu x, artinya si konsumen akan differen pada berbagai kombinasi
dimana jumlah barang x berubah ubah, memberikan total utility yang
sama.
hal ini hanya mungkn, apabila tambahan barang x (), tidak mmberikan
kepuasan lagi, pada kepuasan totalnya. Demikianlah sebaliknya apabila si
konsumen mnginginkan tambahann barang y (), dia harus mengorbankan
barang x sedemikan rupa sehingga total utility yang diperolehnya tetap
sama. Kalau tidak kurve indifferensinya akan berbentuk garis tegak lurus
yang sejajar dengan sumbu y.

52
b. Cembung kearah titi nol (convex to the origin)

Sebelum kita membuktikan bahwa suatu kurve indifferen cembung kearah


titik nol, sebaiknya kita ketahui dahulu pengertian dari “ the marginal Rate
of Substitution” yang disingkat dnegan MRSx dari suatu barang untuk
barang lainnya. MRS x untuk y yaitu jumlah y yang konsumen mau
melepaskannya untuk memperoleh tambahan satu satuan x.pada kurve
indefferen gambar 5-2, kita letakan titik titik P, Q dan R, sedemikian rupa
sehingga OX1=OX2=OX3. Apabila kita bergerak dari titik P k titik Q,
maka MRSx untuk y adalah :

Kalau kita bergerak dari titik Q ke titik R


MRS x untuk y adalah :

X1 . X2 = sehingga jelas bahwa


Y1 . Y2 > Y2 . Y3 ini berarti bahwa
MRS x untuk y dititik R dri MRS x untuk y dititik . jadi dapat kita ambil
kesimpulan jika barang y disubstitusikan unuk mendapatka barang x, agar
konsumen berada dlam kurve indeffenden yang sama mka MRs x untuk y
harus berkurng, jka MRs x untuk y itu semakin berkurang maka kurve
indifferen tersebut harus cembung kearah titik nol.

53
c. Tidak saling memotong
Merupakan suatu keharusan yang logis bahwa kurve indifferensi itu saling
memotong maka akan bertentangan dengan pengertian dari kurve
indifferensi itu sendiri.
Pada gambar 5-3 terlihat dua kurve indifferensi yang salingmemotong
yaitu Ic1 dan Ic2.

Kombinasi konsumen pada titik R yang terletak pada indifference curve II


Ic2 menunjukan total utility yang lebih keci dari Ic1 . hal ini tidak
mungkin, karena bertentangan dengan pengertian dari kurve indifferensi
titik Q menunjukan kombinasi konsumsi yang indifferen antara Ic1 dan
Ic2. Hal ini jua menylahi pengertian dari kurve indifferensi, kepuasan yang
ditunjukn oleh titik S lebiih kecil dari kepuasan yang ditunjukan oleh titik
P. jadi dapat kita lihat ketidak logisannya disini, dimaana kepuasan yang
ditunjukan oleh titik R yang berada pada Ic2 lebih kecil dari kepuasan yang
ditunjukan oleh titik P yang sama sama berapa pada Ic2.
Hubungan Komplementer dan hubungan Substitusi
Jika barang x dann barang y adalah barang substitusi sempurna, dmana
barang x dan barang y dapat saling menggantikn secara empurna, maka
kurve indifferensinya akan berebtuk garis lurus seperi terlihat dalam
gambar 5 - 4 A

54
Konsumen mau menukarkan y atau x tau x untuk y dalam tingkat
perbandingan yang konstan tanpa memperhatikan jumlah masing masing
barang yang dimilkinya
Dilain pihak apabila barang dan barang y adalah barang komplementer,
dimana barang x tidak akan berguna tanpa adanya barang y, maka
indifference curveny akan mempunyai sudut siku siku seperti terlihat
dalam gamabr 5-4 B.
Pembelokan yang tajam pada titik A mengambarkan bahwa slah satu
barang itu tidak akan berguna, jika pemakainnya tidk bersama sama
barang lainnya.
3. KESEIMBANGAN KONSUMEN
Konsumen yang rasional akan berusaha memperoleh kepuasan maximum
dari pendapatannya berupa uang yang terbatas.
Dalam usahanya memperoleh kepuaan maximum konsumen dibatasi oleh dua
hal
 pendapatannya yang berupa uang yang terbatas
 skala preferensi si konsumn itu sendiri
Apabila M adalah penghasilan konsumen berupa uang, jumlah maximum uang
yang dapat di belanjakan pada periode waktu tertentu Px adalah harga barang
X sedangkan Py adalah harga barang y, maka :
M= X Px + YPy

55
Seandainya barang x sama sekali tidak dibeli, maka seluruh penghasilannya
digunakan untuk membeli barang y, maka:
M= 0 +y Py

Jumlah maximum y yang didapat adalah

Demikian sebaliknya apabila y sama sekali tidak dibeli, maka jumlah


maximum x yang didapat dengan M tertentu :
M= X Px + 0

x=
Kalau umpamanya penghasilan konsumen berupa uang adalah Rp 140
persatuan waktu, harga barang X (Px) = Rp 2, sedang harga barang y (Py) = Rp
1 per unit. Maka jumlah maximum barang x yang didapat apabila y tidak dibeli
sama sekali adalah 70 unit , sedangkan jumlah maksimum barang y yang
didapat apabila x tidak dibeli sama sekali adalah 140 unit.
Garis yang membatasi jumlah maksimum barang x atau jumlah maksimum
barang y, atau jumlah maksimum barang x dan y dapat dibeli oleh si konsumen
karena pwnghasilannya yang berupa uang sudah tertentu apabila harga x harga
barang y sudah tertentu pula. Dinamakan garis budget, budget contrain. Lihat
gambar 5.5

56
Dapat lita lihat gambar 5.5 jumlah maksimum y yang didapat apabila x
tidak dibeli ditujukan oleh garis OL, sedang jumlah maksimum x yang didapat
apabila y tidak dibeli ditujukan oleh garis OM. LM adalah budget line,
sedangkan segitiga OLM adalah ruang budget yang membatasi tindakan
konsumen karena pendapatannya yang sudah tertentu dan harga harga sudah
tertentu pula.
Slop dari budget line LM, adalah negatifnya dari perbandingan harga
barang x dan y.

Turunnya harga x setengahnya, tanpa disertai perubahan harga y berarti


banyak, sehingga akan menggeser harga budget line LM, ke arah kebalikan
jarum jam sedemikian rupa sehingga OM = MM1. Budget line yang baru
adalah LM. Hal sebaliknya akan terjadi apabila harga x naik sedangkan hal hal
lain tentang konstan.
Naiknya pendapatan konsumen dari N menjadi M1 akan menggeser seluruh
budget line LM ke atas menjadi L1M1 yang berarti pembelian maksimum x
bertambah dari 1/px N menjadi 1/px M1, dari OM menjadi OM1. Pembelian
maksimum y bertambah dari 1/py M menjadi 1/py M1 dari OL menjadi OL1.
Budget line yang baru yang lain yaitu L1N1. Hal sebaliknya akan menggeser
seluruh budget line ke kiri.
Seperti telah kita ketahui terdahulu, seorang konsumen bertindak dibatasi
oleh jumlah uang yang dimiliki pada periode tertentu, menunjukkan batas
maksimum apa yang dapat dibuatnya, dan skala preferensi konsumen itu
sendiri, yang menunjukkan apa yang akan dilakukan oleh konsumen.
Dalam usahanya memperoleh kepuasan maksimum, konsumen tidak bebas
bergerak harus mengingat kedua faktor tersebut di atas.
Perhatikan gambar 5.6 Keseimbangan Konsumen

57
Kepuasan maksimum konsumen akan terletak pada titik C dengan
kombinasi Ox3 barang x dan Oy3 barang y, di mana indifference curve persis
tangens dengan budget line LM. Slap budget line sama dengan slap dari
indifference curve.

Jika konsumen berada di titik A paa Ic1 dengan kombinasi konsumsi


Oy1 barang y dan Ox1 barang x, konsumen bisa menaikkan kepuasannya
dengan mengorbankan lebih banyak barang y untuk mendapatkan tambahan
satu satuan x, sampai mencapai titik C pada Ic2 . Bila bila konsumen berada
pada titik B, dia bisa menaikkan tingkat kepuasannya dengan mengorbankan
hanya sedikit y untuk mendapatkan tambahan satu satuan x, sehingga mencapai
titik C pada Ic2 di mana konsumen berada pada keadaan equilibrium.
Konsumen tidak mungkin mencapai IC3 karena terbatasnya jumlah
uang yang dimilikinya pada periode tertentu yang dicerminkan oleh Budget
Line LM.
4. PERUBAHAN HARGA DAN PERUBAHAN PENDAPATAN
Misalkan harga barang x berubah, sedangkan pendapatan konsumen
(uang), harga barang y serta prefensi konsumen tetap konstan, akan menggeser

58
budget line sesuai atau bertentangan dengan arah putar jarum jam. Ini akan
menyebabkan pergeseran keseimbangan konsumen.
Turunnya harga x dari Px menjadi Px1 menggeser budget line LM ke LM1
yang akan merubah kombinasi konsumsi barang x dan barang y yang
memberikan kepuasan maximum bagi konsumen. Perhatikan gambar 5 – 7

Kombinasi konsumsi semula adalah 0x1 dengan barang x dan 0y1 barang y
yang terletak pada IC1 dan budget line LM turunnya harga x mengakibatkan
kombinasi konsumsi yang memberikan kepuasan maximum akan berubah menjadi
0x2 barang x dan 0y2 barang y yang terletak pada IC2 dan budget line LM1.
Garis yang menghubungkan titik-titik keseimbangan konsumen pada
berbagai tingkat harga dengan anggapan bahwa barang y dan income konsumen
tetap disebut “Price Consumption Curve” atau garis konsumsi harga.
KURVE PERMINTAAN
Kurve permintaan Individuil akan suatu barang dapat dicapai dengan
kurve kombinasi harga. Dari gambar 5 – 7 dapat kita lihat bahwa pada harga x =
px yang ditunjukkan oleh budget line LM. Jumlah barang x yang diminta adalah
0x. apabila harga barang x turun menjadi Px1 yang ditunjukkan oleh bergesernya
budget line LM menjadi LM1 jumlah barang x yang diminta adalah 0x1. Dengan
mengembungkan titik keseimbangan antara harga dan jumlah barang x yang
diminta kita dapat dapati kurve permintaan individuil untuk barang x.

59
Perhatikan gambar 5 – 8. Penghasilan konsumen berupa uang (M) = Rp.
12,- per satuan waktu harga barang x = Rp. 2,- per unit satuan harga y = Rp. 1,-
per unit. Karena suatu hal tertentu harga barang x turun setengahnya menjadi Rp.
1,- per unit.
M = x . Px
12 = x . 2
2x = 12
x=6

M = y . Py
12 = y . 1
y = 12

M = x. Px
12 = 1 . Px
Px = 12

Kombinasi konsumsi semula terletan pada budget line LM pada IC1 dengan
kombinasi 3 unit barang x dan 6 unit barang y yang ditunjukkan oleh E’ pada
kurve permintaan. Turunnya harga x menjadi Rp. 1,- per unit menggeser budget
line LM kekanan dua kalinya menjadi LM, kurve berada dalam keseimbangan
pada budget LM, dan IC2 dengan kombinasi konsumsi 4 unit barang y dan 8 unit
barang x, ditunjukkan oleh titik E’ pada gambar 5 - 8 B. Dengan menghubungkan
titik E’ dan F’ kita dapati kurve permintaan individual untuk barang x.
ELASTISITAS PERMINTAAN DAN PRICE CONSUMPTION CURVE
Jika pada sumbu y kita gambarkan rupiah yang dimiliki konsumen per
satuan waktu, sedang sumbu x kita tuliskan satuan satuan barang tertentu, maka
miringnya price consumption curve (kurve konsumsi harga) menunjukkan
elastisitas permintaan akan barang yang bersangkutan.

60
Dari gambar diatas dapat kita lihat untuk konsumsi barang x sebanyak 0x 1,
konsumen harus membayar dengan LN rupiah, (total expenditure total outlay),
sedang sisa pendapatannya yaitu 0P, tetap disimpan berupa uang ( tidak
dibelanjakan untuk barang x). Harga x turun dari px menjadi px1, jumlah barang x
yang diminta bertambah dari 0x1 menjadi 0x2. Total expenditure untuk barang x
tetap konstan yaitu sebanyak LN. Price consumption curve disini merupakan garis
lurus yang sejajar dengan sumbu x1 slapenya = 0 sehingga permintaan terhadap
barang x = 1.

Price consumption curve pada gambar 5 – 9 B mempunyai slap turun


miring kebawah (negatip), turunnya harga menyebabkan bertambahnya
pengeluaran total untuk barang tersebut. Pada harga x = Px total expenditure
untuk barang x = LN, turunnya harga x menjadi Px 1, total expenditure untuk
barang x naik menjadi LN, dimana LN1 > LN, sehingga barang tersebut
mempunyai elastisitas permintaan > 1- elastic.

61
Price consumption curve mempunyai slop positip/naik kekanan atas,
menunjukkan bahwa turunnya harga menyebabkan berkurangnya, pengeluaran
total untuk barang tersebut.
Turunnya harga x dari Px menjadi Px1 menyebabkan berkurangnya pengeluaran
total sebanyak NN1 yaitu dari titik LN ke LN1, elastisitas permintaan untuk barang
x < 1 inelastis.
Dapat kita simpulkan hubungan antara slop dari price consumption curve
dengan elastisitas permintaan suatu barang tertentu.
a. Px - T0x konstan
} LN e = 1
Px - T0x konstan

b. Px T0x LN LN1
Px T0x LN LN} e > 1

c. Px T0x LN LN1
}e<1
Px T0x LN1 LN
PERUBAHAN PENDAPATAN
Apabila hanya pendapatan konsumen saja yang berubah sedang harga
barang x dan barang y tetap konstan, akan menggeser budget line dan Ic1 dengan
kombinasi konsumsi 0x1 barang x dan 0y1 barang y.

62
Adanya kenaikan income konsumen merubah titik keseimbangannya
menjadi Q pada budget line L1M1 dan Ic2 dengan kombinasi konsumsi 0x2 brang x
dan 0y2 barang y. Garis yang menghubungkan titik P dan titik Q adalah Income
consumption curve, atau garis konsumsi pendapatan. Jadi Income consumption
curve dapat kita rumuskan sebagai :
Garis yang menghubungkan titik titik keseimbangan konsumen karena
adanya perubahan income, sedang harga- harga dianggap konstan. Atau dengan
kata lain : Garis yang menghubung kan berbagai equilibrium konsumen pada
berbagai tingkat income.
Hubungan antara jumlah suatu barang tertentu yang diminta dengan
tingkat income si konsumen pertama- tamma dikembangkan oleh seorang ahli
statistic Christian Lorenz Erust Engol, sehingga terkenal dengan nama Engel’s
curve. Dari income consumption curve diatas dapat kita gambarkan engel’s curve
seperti terlihat gambar 5 – 11.

63
Pada tingkat income Rp 12,- per satuan waktu, harga x = Rp 2,- sedang harga y =
Rp 1,- per unit, kombinasi konsumsinya terletak pada titik E pada Ic1 dan budget
line LM, dengan jumlah x = 3 unit dan jumlah y = 6 unit, digambarkan pada titik
E’, dalam gambar 5 – 11 B. Adanya kenaikan income konsumen menjadi Rp 16,-
per satuan waktu citeris paribus, keseimbangan konsumen akan berada pada titik
P dengan budget line L1M1 dan Ic2, dengan kombinasi konsumsi 4 unit barang x
dan 8 unit barang y, digambarkan pada titik P’ dari engel’s curve. Adanya
kenaikan income lagi citeris paribus menjadi Rp 20,- per satuan waktu, merubah
posisi keseimbangan konsumen pada titik G, sedang 5 ½ unit barang x dan 9 unit
barang y digambarkan oleh titik G’. Garis yang menghubungkan titik- titik E’,P’
dan G’ disebut Engel’s curve.
Jadi Engel’s curve dapat kita rumuskan sebagai :
Garis atau kurve yang menunjukkan kombinasi- kombinasi keseimbangan
daripada barang x dan barang y yang dibeli, pada berbagai pendapatan berupa
uang, dengan anggapan bahwa harga- harga adalah konstan.

64
Elastisitas Pendapatan

Hubungan antara income dan jumlah suatu barang tertentu yang diminta si
konsumen ditujukan oleh bentuk engel’s curve barang yang bersangkutan. Engel’s
crve yang menyusur keatas agak curam (gambar 5 – 12 A) menunjukkan bahwa
perubahan pendapatan konsumen berupa uang, tidak mempunyai efek besar
terhadap konsumsi. Naiknya tingkat income sebesar NM, dari 0M ke 0M1
menyebabkan bertambahnya jumlah yang diminta hanya sebesar x 1x2 yaitu dari
0x1 ke 0x2 artinya :
Barang tersebut yang dibeli pada waktu pendapatan konsumen rendah, tapi
jumlah yang dibeli tidak bertambah dengan cepat, apabila pendapatannya
bertambah income elasticity of demand rendah tapi masih positif.
Dari gambar 5 – 12 B, jumlah yang dibeli sangat banyak berubah dengan
berubahnya pendapatan. Pendapatan naik dari 0I ke 0I1, menyebabkan
bertambahnya jumlah barang yang diminta dari 0x’ ke 0x’’, income elasticity of
demandnya relative tinggi. MM1 = II1 tapi x1x2 < x’x’’
5. SUBSTITUSI EFFECTS DAN INCOME EFFECTS.
Berubahnya jumlah yang dibeli/diminta karena adanya perubahan harga,
merupakan akibat bersama dari income effect dan substitution effect,
Naiknya harga suatu barang menyebabkan konsumen berpaling kepada barang-
barang yang harganya relative lebih rendah. Disamping itu naiknya harga,
menyebabkan turunnya pendapatan riil si konsumen (tenaga beli si konsumen)

65
yang menyebabkan dia harus mengurangi tingkat konsumsi atas semua barang
lainnya.
Analisa kurve indifferensi memungkinkan kita memisahkan effek pendapatan dan
efek substitusi.
Posisi keseimbaangan konsummen semula terletak pada titik P, di Ic2 dan
budget line LM, dengan kombinasi konsumsi 0x1 barang x dan 0y1 barang y.
Perhatikan gambar 5 – 13 A. Karena suatu hal harga naik, sehingga menggeser
budget line LM menjadi LM1, keseimbangan konsumen sekarang terletak pada
titik R, pada Ic2 dengan 0x2 barang x dan 0y2 barang y.

Untuk memisahkan efek substitusi dari total effek, kita umpamakan


pemerintah memberikan tunjangan/ banuan kepada konsumen yang besangkutan
sedemikian rupa sehingga cukup bagi konsumen untuk tetap berada pada Ic2
dengan cara menarik budget line yang sejajar dengan budget line LM1,
sedemikian rupa sampai menyinggung Ic2 pada titik Q. Jumlah tunjangan
pemerintah sebanyak NL, cukup bagi konsumen untuk berada pada Ic2, dengan
kombinasi konsumsi yang baru 0x1 menjadi 0x3 dan bertambahnya jumlah barang
y dari 0y1 menjadi 0y3 akibat dari effek substitusi karena harga naik.

66
Dalam gambar 5- 14 posisi keseimbangan konsumen semula terletak pada
titik A, pada Ic1 dan budget line LM, dengan kombinasi konsumsi Ox1 barang x
dan 0y1 barang y. Karena suatu sebab tertentu harga barang x turun, citeris
paribus, menyebabkan bergesernya budget line kekanan bertentangan dengan arah
jarum jam menjadi LM1, posisi keseimbangan baru terletak di titik B pada Ic2
dengan 0x2 barang x dan 0y2 barang y. Turunnya harga barang x, berarti
penghasilan riil konsumen naik, untuk mengembalikan konsumen pada posisi
semula, kita umpamakan pemerintah mengenakan Pajak sedemikian rupa
sehingga cukup kuat untuk mendorong konsumen kembali pada Ic1, dengan cara
menarik garis budget line yang sejajar dengan budget line LM1 menyinggung Ic1
pada titik C, yang merupakan titik keseimbangan konsumen yang baru dengan 0x 3
barang x dan 0y3 barang y.

Pergeseran equilibrium konsumen dari titik A ke C dengan naiknya jumlah x yang


diminta dari 0x1 ke 0x3, berkurangnya jumlah y dari 0y1 menjadi 0y3 adalah efek
substitusi.
Dari pengertian diatas dapat kita rumuskan bahwa yang dimaksud dengan
efek substitusi adalah :
Perubahan jumlah barang yang diminta, yang timbul karena suatu
perubahan harga, apabila pembelian itu dibatasi sehingga suatu gerakan melalui
kurva indifferensi semula, hingga dengan demikian pendapatan nyata berupa uang
dipegang konstan.

67
Bergeraknya keseimbangan dari titik P ke titik R pada gambar 5 – 13 A,
berkurangnya jumlah x yang diminta dari 0x1 ke 0x2, bertambahnya jumlah y dari
0y1 ke 0y2, adalah akibat bersama sari substitution effect dan income effect (total
effect). Berkurangnya jumlah x yang diminta dari 0x1 - 0x2 adalah efek substitusi,
berkurangnya jumlah barang x yang diminta dari 0x3 - 0x2 adalah akibat dari
income effect. Disini efek pendapatan positif, artinya suatu perubahan dalam
pendapatan nyata (rill) menyebabkan bertambahnya barang tersebut yang diminta,
barang x disini adalah barang normal. Pada harga x = px. Jumlah x yang diminta
adalah 0x3 (perhatikan gambar 5 – 13 B), ditujukan oleh titik P’, naiknya harga x
menjadi Px1 dengan anggapan penghasilan konsumen berupa uang tetap konstan
menyebabkan berkurangnya jumlah x yang diminta sebanyak x1.
x2 ditunjukkan oleh titik R’. Naiknya harga x, tapi diimbangi dengan tunjangan
pemerintah sedemikian rupa , sehingga penghasilan riil konsumen tetap konstan
hanya menyebabkan berkurangnya jumlah x yang diminta sebanyak x1x3
ditunjukkan oleh titik Q’. Kurve permintaan yang didapat dengan
menghubungkan titik R’ dengan P’ (dx) adalah kurve permintaan konsumen untuk
barang x dengan anggapan penghasilan uang si konsumen tetap konstan.
Sedangkan kurve permintaan d’x (titik Q’ dan P’) adalah kurve permintaan
konsumen untuk barang x dengan anggapan pendapatan rill konsumen dipegang
konstan.
Jadi suatu efek pendapatan yang positif, memperkuat efek substitusi yang
negative, sehingga hukum permintaan (demand low) berlaku bagi semua barang
normal.
Pada barang Inferior Effek pendapatan adalah negatip, suatu pertambahan
dalam pendapatan nyata menyebabkan berkurangnya barang konsumsi tersebut,
tetapi demand low akan tetap berlaku apabila effek pendapatan yang negatip ini
dapat dikompensasi oleh effek substitusi karena perubahan harga yang cukup
besar. Perhatikan gambar 5 - 15

68
Posisi keseimbangan konsumen semula terletak pada titi A, pada budget
line LM dan Ic1 dengan 0x1 jumlah barang x yang diminta. Karena turunnya
harga x menggeser keseimbangan konsumen ke C pada budget line LM1 dan Ic2.
Pergerakan dari A ke C merupakan total efek yang terdiri dari efek substitusi yang
negative pergerakan dari equilibrium titik A ke titik B bertambahnya jumlah yang
diminta dari 0x1 – 0x3. Gerakan dari B ke C sebagai akibat dari income effect
negative berkurangnya jumlah x yang diminta dari 0x 3 menjadi 0x2, tapi tidak
cukup kuat untuk menyebabkan jumlah yang diminta berubah langsung dari
harga.
6. PERTUKARAN
Dengan memakai analisa indifference curve memungkinkan kita lebih
mudah memahami terjadinya pertukaran antara individual- individual. Untuk
analisa kita mengadakan anggapan bahwa hanya ada barang x dan barang y, yang
jumlahnya sudah tertentu (fixed), tidak dapat ditambah denga segera. Hanya ada
dua individu dalam pertukaran ini masing- masing dengan kurve indifference
sendiri, seperti terlihat dalam gambar 5 – 15.

69
Dengan memutar indifference B 1800 ditempatkan diatas indifference
map A, sedemikian rupa sehingga sumbu dari kedua diagram itu membentuk
kotak seperti terlihat pada gambar 5 – 16, sehingga terkenal dengan nama analisa
kotak sari Edgoworth ( Edgoworth box diagram).

Diagram B diletakkan sedemikian rupa sehingga OM menunjukkan gabungan


barang y yang dimiliki oleh A dan B, ON untuk barang x.
Umpa distribusi permulaan antara individu A dan B terletak pada titik P dimana
Ic1B.
A memiliki 0Ay1 barang y dan 0Ax1 barang x, sedang B sisanya yaitu 0By2
barang y dan 0Bx1 barang x.

70
Dapat kita lihat bahwa A relative memiliki barang y dalam jumlah yang lebih
bayak, sedang B memiliki relative lebih banyak barang x, sehingga bagi A MRS x
untuk y dititik P lebih besar dari MRSx untuk y bagi B.
A mau melepaskan lebih banyak y untuk memperoleh tambahan satu satuan x
daripada yang diperlukan B sebagai pendorong baginya guna melepaskan satu
satuan x. Keadaan inilah yang memungkinkan adanya pertukaran antar individu A
dan B.
Ada tiga kemungkina apabila A dan B mengadakan pertukaran,
kemungkinan mana tergantung pada perbandingan kekuatan tawar - menawar
masing – masing :
a. Apabila pertukaran tersebut bergerak ke titik R, maka si A tidak akan
memperoleh keuntungan apa- apa masih tetap berada pada Ic1 A, tapi si B
akan terus menerus untung/ dapat meningkatkan kepuasannya sampai
mencapai titik R dimana Ic1A bersinggungan dengan Ic3B. Setelah titik ini
tidak satupun yang akan memperoleh keuntungan, bahkan dapat merugikan
salah satu atau kedua- duanya apabila pertukaran tersebut dilanjutkan.
b. Pada extreme lain, A dapat menukarkan y kepada si B untuk mendapatkan x,
sedemikian rupa sehingga pertukaran tersebut bergerak ketitik T, dimana Ic1B
bersinggungan dengan Ic3 A. Dalam hal ini si B tidak memperoleh apa- apa,
dari pertukaran ini karena tetap seperti pada keadaan semula. Sedangkan A
dapat menikmati hasil pertukaran ini dengan semakin tingginya tingkat
kepuasan yang dicapainya. Sekarang dia berada pada Ic3 A setelah titik T
tercapai, apabila pertukaran diteruskan maka tidak satupun diantaranya akan
mendapat keuntungan bakan mungkin akan menderita kerugian.
c. Kemungkinan ketiga ialah kedua belah pihak baik si A maupun si B
memperoleh keuntungan dari pertukaran ini, apabila pertukaran itu berjalan
kearah titik S dimana Ic2 A menyinggung Ic2 B, terletak dalam daerah yang
dibatasi oleh PR dan PT. Demikian juga dalam hal ini kalau pertukaran
dikanjutkan keduanya tidak menerima apa- apa bahkan mungkin akan
menderita rugi.

71
Dapat kita ambil kesimpulan, bahwa tidak aka nada lagi dorongan baik bagi si A
maupun si B untuk mengadakan pertukaran lebih lanjut dimana keadaan
equilibrium sudah tercapai. Jika pembagian permulaan antara barang x dan barang
y seperti terlihat pada titik P, maka pembagian equilibrium yang mungkin adalah
sepanjang garis R – T, yaitu garis yang menghubungkan titik- titik singgung Ic A
dengan Ic B antara R dan T. Kurve ini terkenal dengan nama contract curve atau
conflict curve. Pembagian barang x dan barang y yang pada akhirnya dicapai oleh
kedua belah pihak, tergantung pada perbandingan kekuatan tawar menawar
masing-masing. Apabila posisi A lebih kuat, pembagian cenderung mendekati
titik T, sedangkan apabila posisi B lebih kuat pembagian cenderung mendekati
titik R, dimana hanya B saja yang memperoleh keuntungan dari pertukaran
tersebut.
Seperti kita ketahui terdahulu supaya pembagian equilibrium antara A dan
B bisa tercapai maka MRSXY bagi A harus sama dengan MRSXY bagi B. Jika
jumlah maksimum y yang mau dilepaskan A untuk memperoleh tambahan satu
satuan x sama dengan jumlah minimum y yang B mau menerima sebagai penukar
satu satuan x, maka pertukaran tidak mungkin dilanjutkan lagi, pertukaran akan
berhenti. Syarat tersebut dipenuhi pada setiap titik disepanjang contract curve,
dimana IcA bersinggungan dengan IcB atau dapat dituliskan sebgai berikut:
MRSXY untuk A = MRSXY untuk I =

untuk A = untuk B,

Penilaian barang x dan barang y adalah sama bagi A maupun B.

72
BAB VI
TEORI PRODUKSI

1. PENDAHULUAN
Pada umumnya, teori produksi adalah parallel dengna teori permintaan,
seorang yang sudah memahami teori permintaan akan dengan mudah bias
memahami teori produksi. Sebagaimana halnya dengan teori permintaan,
yang menggunakan dua cara pendekatan yaitu: metode marsahall curve
approach, maka dalam teori produksi juga terdapat dua cara pendekatan yaitu:
cara pendekatan tradisionil (Tradisional Approach) dan cara pendekatan
Isocaste dan Isoquante (teori modern tentang produksi). Keduan cara
pendekatan ini akan kita bicarakan lebih lanjut pada bab ini.
Suatu proses produksi untuk dapat menghasilkan output tertentu
memerlukan berbagai input. Sehubungan hal ini kita mengenal berbagai
input, yaitu:
a. Input yang fixed adalah jumlahnya tidak dapat dirubah dengan segera,
apabila kondisi pasar memerlukan bahwa diinginkan adanya
perubahan segera dalam output. Seperti, gedung-gedung, mesin-
mesin, tanah, da personil managerial.
b. Input yang variable adalah input yang jumlahnya dapat dirubah
hamper segera, sebagai reaksi atas perrubahan-perubahan dalam
output yang diingnkan.
Sehubungan dengan adanya input yang fixed dan input yang variable seperti
tersebut, maka kita dapat membedakan suatu proses produksi-produksi
menjadi:
a. Jangka pendek (short run), berhubungan dengan periode waktu
dimana satu atau lebih input dalam proses produksi adalah fixed.
b. Jangka panjang (long run), adalah suatu periode waktu dimana semua
input didalam suatu proses produksi adalah variable.

Dalam analisis kita selanjutnya kita membatasi diri dengan mengemukakan


asumsi-asumsi tertentu seperti:

73
a. Hanya ada satu input variable yaitu tenaga kerja.
b. Hanya ada satu input fixed yaitu tanah.
c. Input-input tersebut dapat dikombinasikan dengan bermacam-macam
proporsi guna menghasilkan barang-barang tertentu
Sehingga dengan demikian kita membatasi diri pada spesifik produksi output
pertanian yang simple, dengan berbagai alternative jumlah tenaga kerja yang
dipekerjakan persatuan waktu, pada sebidang tanah tertentu, akan
menghasilkan berbagai alternative output persatuan waktu.
Jadi dari uraian diatas dapat kita katakan bahwa funsi produksi adalah:
“Suatu persamaan, table, atau suatu grafilk yang menunjukan jumlah
maksimum dari suatu barabg yang dapat diproduksi atau dihasilkan persatuan
waktu dengan berbagai-bagai alternative input, dengan mengingat teknologi
yang berlaku”. Dapat kita tuliskan suatu fungsi produksi sebagai berikut:
Qx = f (a,b, ……. n)

Qx = jumlah barang x yang dihasilkan

a = factor produksi a

b = factor produksi b

n = factor produksi n
Ini berarti bahwa produksi total x, adalah tergantung dari jumlah berbagai
input, a, b …… n, yang digunakan oleh firm dalam satu waktu tertentu.
Produk total x (output total x dapat dirubah-rubah, baika dengan merubah
jumlah semua input secara proporsionil dan simultan, maupun dengan jalan
merubah perbandingan antara berbagai input tertentu yang digunakan).
2. PENDEKATAN TRADISIONIL
Jika jumlah satu input bertambah dengan pertambahan yang sama pada
setiap satuan waktu, dengan anggapan semua semua hal isinya tetapsama,
sedangkan input lainnya dipegang tetap konstan, dan keadaan teknologi juga
dianggap tidak berubah, maka pada akhirnya pertambahan output total akan
berlangsung dengan tingkat perbandingan yang sema kin berkurang (less than

74
proportionately), jadi yang ditekankan dalam perumusan prinsip ini adalah
kenyataan bahwa setelah fakto variable yang dipekerjakan mencapai suatu
jumlah tertentu, maka output rata-rata pun akan mulai berkurang. Prinsip ini
oleh Marshall dan pendahulu-pendahulunya dikenal dengan nama “ Low of
Dimishing Returns”.
Misalkan atas sebidang tanah, sebagai input yang fixed, dipekerjakan
berbagai alternatif jumlah tenaga kerja per satuan waktu, akan menghasilkan
berbagai alternatif output per satuan waktu sebagai terlihat dalam tabel 6 – 1.
Tabel 6 – 1. Total Product Tenaga Kerja
Tanah Tenaga kerja (L) Total Product
(TPL)
1 0 0
1 1 3
1 2 8
1 3 12
1 4 15
1 5 17
1 6 17
1 7 16
1 8 13
Data hipotesis di atas dapat kita gambarkan pada gambar 6 – 1.

75
Kurve ini mula-mula menanjak perlahan-lahan kemudian lebih cepat,
setelah itu lebih lambat, sehingga akhirnya mencapai suatu maximum dan
kemudian mulai menurun.
Dari tabel 6 – 1 (Total Product tenaga kerja) dapat kita cari produk rata-
rata (Average Product) dari tenaga kerja dengan membagi total product
dengan jumlah input yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut.
Produk marginal (Marginal Product) dari tenaga kerja adalah pertambahan
atas produk total yang disebabkan karena adanya tambahan satu satuan input
variable, sedang input fixed dianggap tetap. Dapat kita lihat pada tabel 6 – 2.
Untuk memudahkan maka tabel 6 – 1 kita tulis kembali pada tabel 6 – 2.

Tabel 6 – 2

Tanah Tenaga Kerja


1 0 0 0------------- 3
1 1------------- 3------------- 3------------- 5
1 2------------- 8------------- 4------------- 4
1 3------------- 12------------ 4------------- 3
1 4------------- 15------------ 3 3/4-------- 2
1 5------------- 17------------ 3 2/5-------- 0

76
1 6------------- 17------------ 2 5/6-------- --1
1 7------------- 16------------ 2 2/---------- --3
1 8------------- 13------------ 1 5/8

Bentuk suatu kurve dan sangat tergantung pada bentuk kurve


yang bersangkutan. pada setiap titik pada didapat dari slap garis
lurus dari origin ke setiap titik pada kurve . misalkan kita ingin
mendapatkan pada titik A, slap kurve dari titik nol adalah 3,

77
digambarkan sebagai A’ pada kurve , slap pada titik B adalah 8/2 = 4,
digambarkan sebagai B’ pada , demikian selanjutnya sehingga kita
dapatkan kurve seluruhnya. didapatkan dari slap T diantara dua
titik slap diantaranya titik A dan B adalah 5, digambarkan sebagai titik J,
pada , slap antara titik B dan C adalah 4 digambarkan sebagai titik G
pada .
Sifat-sifat penting dari ketiga kurve di atas yang harus kita ketahui adalah:
a. Baik TP, AP, maupun MP, mula-mula meningkat, mencapai suatu
maximun, dan kemudian mulai menurun.
b. MP melampaui AP apabila Ap meningkat, MP = AP pada AP
maximum, MP < AP apabila AP menurun, MP = 0 pada TP maximum.
Mulai dari titik J pada mulai menurun berlakulah “ The Low of
Deminishing Return” (Hukum hasil fisik yang semakin berkurang). Apabila
jumlah input variable terus-menerus ditambah, sedangkan jumlah input fixed
dipegang konstan, maka akan dicapai suatu titik setelah mana produk
marginal menurun. Atau dengan lain perkataan jika input dari suatu sumber
ditambah dengan pertambahan yang sama per satuan waktu, sedangkan input
dari sumber-sumber lain tetap konstan, maka output seluruhnya (TP) akan
bertambah, tetapi setelah lewat satu titik tertentu bertambahnya output akan
semakin kecil.
TINGKAT-TINGKAT DARI PRODUKSI
Untuk menentukan apakah kombinasi tanah dan tenaga kerja lebih efisien
dari kombinai-kombinasi lainnya, maka masing-masing kita bagi menjadi
tiga tingkat, sehingga kita dapat menentukan daerah kombinasi mana antara
tanah dan tenaga kerja yang paling efisien dalam menghasilkan output.
Dalam menentukan ketiga tingkat dari produksi tersebut, kita dapat
menggunakan hubungan AP, MP, dan TP.
Tingkat I:
Dimulai dari origin, sampai pada mencapai maximum,
memotong pada titik tersebut.

78
Tingkat II:
Dimulai dari titik dimana maximum, sampai pada titik dimana =
0 atau maximum.
Tingkat III:
Dimulai dari = 0 sampai menuju ke negatif dan seterusnya,
menurun.
Hal ini lebih lanjut dapat kita lihat pada gambar 6 – 3.

Ditingkat atau ditahap mana seorang produsen akan berproduksi, baiklah


kita tinjau satu per satu masing-masing tingkat. Produsen tidak akan
beroperasi pada tingkat III walaupun menggunkan tenaga kerja bebas, sebab
dia bisa menaikkan total produk dengan menggunakan lebih sedikit tenaga
kerja untuk setiap unit tanah. Tambahan input variable dalam hal ini tenaga
kerja malah menyebabkan menurunnya output total.
Apabila kondisi pasar mengharuskan adanya ekspansi output maka perlu
digunakan unit-unit additional input yang fixed. Pada tahap ini input variable
dikombinasikan dengan input fixed dalam proporsi yang sangat besar, yang
tidak ekonomis. Ditinjau dari sudut produksi pertanian, dikatakan bahwa
tanah dikerjakan dengan terlampau intensif. Sehingga titik potong dimana MP
= 0 dari pada input variable dalam hal ini tenaga kerja, dikatakan “Harga
Intensif” (Intensive Margin).

79
Begitu juga produsen tidak akan beroperasi pada tahap I, karena
masih tetap naik, artinya bertambahnya input variable (tenaga kerja) masih
menyebabkan kenaikan dari output total. Apabila kondisi pasar
mengharuskan output total yang sedemikian kecilnya, maka output tersebut
akan diproduksi dengan jalan menggunakan lebih sedikit unit-unit input yang
fixed.
Produksi harus timbul pada tahap ke II, antara marge ekstensif dan marge
intensif, atau meliputi jarak, AP dari input variable mencapai maximum
hingga MP = 0.
SIMETRI DARI TAHAP PRODUKSI.
Dengan menganggap tanah sebagai faktor variable dan tenaga kerja
sebagi faktor yang fixed. Hal ini akan memperlihatkan bahwa tingkat I
semula untuk tenaga kerja, adalah tingkat III untuk tanah dan tingkat III
semula untuk tenaga kerja adalah tingkat I untuk tanah. Dan bahwa tingkat II
yang semula untuk tenaga kerja adalah juga tingkat II untuk tanah. Untuk
memudahkan analisa kita, maka kita menganggap bahwa teknik produksi
adalah sedemikian rupa sehingga pertambahan proporsional kedua sumber itu
akan menambah produk total secara proporsional juga. Apabila 50 orang
tenaga kerja mengerjakan 10 unit tanah dengan memakai teknik produk yang
sama seperti 5 orang mengerjakan 1 unit tanah, maka akan menghasilkan
produk maka akan menghasilkan produk sebesar 10 kali lipat.
Untuk jelasnya kita tuliskan kembali tabel 6 – 2 pada tabel 6 – 3 berikut.
Dengan menganggap tanah sebagai faktor yang fixed, dan si produsen bekerja
dengan constan return to scale, maka akan kita dapatkan hasil sebagai terlihat
pada tabel 6 – 3 berikut.

80
Tabel 6 – 3
A. Tenaga Kerja (Labor) B. Tanah / Land
(1) (2) (3) (4) (5) (1) (2) (3) (4) (5)
Tanah TP AP MP
Tanah TK TK
tanah tanah tanah
1 0 0 0 3 1 1 3 3 -2
1 1 3 3 5 ½ 1 4 8 0
1 2 8 4 4 1/3 1 4 12 3
1 3 12 4 3 ¼ 1 3¾ 15 7
1 4 15 3 3/4 2 1/5 1 3 2/5 17 17
1 5 17 3 2/5 0 1/6 1 2 5/6 17 23
1 6 17 2 5/6 -1 1/7 1 2 2/7 16 37
1 7 16 2 2/7 -3 1/8 1 1 5/8 13
1 8 13 1 5/8
Kombinasi 8 unit tenaga kerja dan 1 unit tanah dapat menghasilkan 13
unit output. Karena adanya anggapan constan return to scale, maka dengan
1/8 unit tanah dan 1 unit tenaga kerja akan menghasilkan 1/8 x 13 unit output
= 1 5/8 unit. (TP tanah pada tabel 6 – 3) B (3). Demikian selanjutnya proses
ini kita ulangi sehingga kita lihat bahwa TP tanah = (tabel 6 - 3) A (4).
Dari tabel TP tanah dapat kita cari AP tanah maupun MP tanah. AP tanah kita
dapatkan dengan membagi TP tanah dengan jumlah unit tanah yang
digunakan (sebagai input variable).
TP tanah 1 5/8 diproduksi dengan menggunakan 1/8 unit tanah, jadi AP
tanah = 1 5/8 : 1/8 = 13. Dengan jalan yang sama kita dapatkan AP tanah
seperti terlihat pada tabel 6 – 3 E (4). MP tanah merupakan perubahan TP
tanah sebagai akibat adanya tambahan 1 unit tanah yang digunakan.
Bertambahnya jumlah tanah dari 1/8 unit menjadi 1/7 unit, yaitu 1/56 unit
menyebabkan bertambahnya output total tanah dari 1 5/8 unit menjadi 2 2/7
unit yaitu 37/56 unit. Tambahan 1/56 tanah dapat menyebabkan tambahan
37/56 unit output. Jadi tambahan 1 unit tanah dapat menyebabkan 37/56 ;

81
1/56 = 37/56 x 56 = 37 unit (MP tanah tabel 6 - 3) B (5). Proses ini kita ulangi
sehingga kita dapat MP tanah seperti terlihat pada tabel 6 – 3 B (5).
Perlu diingat bahwa metode perhitungan tersebut menunjukkan bahwa setiap
ratio tanah dan tenaga kerja, produk total tanah persis sama dengan produk
rata-rata tenaga kerja.
Untuk jelasnya marilah kita gambarkan pada satu gambar yang
memperlihatkan hal-hal tersebut di atas. Perhatikan gambar 6 – 4.

Hasil penggunaan tanah sebagai faktor variable dan tenaga kerja sebagai
faktor yang fixed, dapat kita lihat pada gambar 6 – 4. Kurva-kurva produk
untuk tenaga kerja yang digunakan untuk satu satuan tanah, dan tanah yang
digunakan untuk satu satuan tenaga kerja, digambarkan dalam diagram
tersebut. Kalau kita lihat sumbu horizontal dari kiri ke kanan maka ratio
antara tenaga kerja dan tanah semakin bertambah, menyebabkan naiknya
ketiga kurve-kurve produk tenaga kerja yaitu , , dan . Kalau kita
membaca sumbu horizontal tersebut dari kanan ke kiri maka ratio antara
tanah dan tenaga kerja semakin bertambah.
Jadi yang tadinya adalah , apabila ratio tenaga kerja dan tanah
bertambah menjadi AP tanah, apabila ratio untuk tanah dan tenaga kerja
bertambah. apabila ratio tanah dan tenaga kerja bertambah, menjadi TP
tanah apabila ratio tanah dan tenaga kerja bertambah. Sehingga tahap I dari

82
tenaga kerja merupakan tahap III dari tanah. Tahap ke II akan sama bagi
tenaga kerja maupun tanah.
MP tanah apabila kita tinjau dari kanan ke kiri pada gambar 6 – 4,
terletak di atas AP tanah. Apabila AP tanah naik akan sama dengan AP tanah
apabila AP tanah maximum, lebih kecil dari AP tanah apabila AP tanah
menurun. MP tanah sama dengan nol pada waktu TP tanah maximum. MP
tanah negatif apabila bertambahnya jumlah tanah per satuan waktu, malahan
menyebabkan turunnya TP tanah. Ketiga tingkat untuk tanah tersebut dapat
kita lihat pada gambar 6 – 4, yang sudah ditentukan.
Sekarang dapatlah kita lihat mengapa produsen hanya beroperasi pada
tingkat II. Dia tidak akan beroperasi pada tingkat I maupun tingkat III untuk
tanah. Tingakt II adalah satu-satunya tingkat yang mengandung semua ratio
antara tanah dan tenaga kerja yang sangat penting bagi firm.
Telah kita ketahui di muka, bahwa pada tingkat I untuk tenaga kerja,
penggunaan tenaga kerja terlalu sedikit pada satu unit tanah. Bertambah
tenaga kerja yang dipekerjakan akan menambah produk rata-rata dari tenaga
kerja. Ratio tenaga kerja dan tanah terlalu sedikit. Ditinjau dari sudut tanah,
maka tingkat ini merupakan tingkat III, dimana terlalu banyak tanah untuk
tiap-tiap satuan tenaga kerja. Firm harus menambah ratio tenaga kerja,
sekurang-kurangnya pada satu titik dimana MP tanah tidak lagi negatif. (MP
tanah = 0). Ini berarti menempatkan firm pada tingkat ke II.
Demikian sebaliknya pada tingkat III untuk tenaga kerja, penggunaan
tenaga kerja terlalu banyak per unit tanah. Dengan mengurangi jumlah lebar
yang dipekerjakan pada unit tanah yang tetap , malahan akan menambah
output total tenaga kerja. Dilihat dari sudut tanah sebagai faktor variable,
tingkat ini merupakan tingkat I, dimana terlalu sedikit tanah untuk tiap-
tiapsatuan tenaga kerja. Firm harus mengurangi ratio tenaga kerjadan tanah
sedikit-dikitnya sampai pada tidak lagi negatif. ( )
Turunnya ratio tenaga kerja dan tanah sampai pada paling seikit
tidak lagi negatif, AP tanah tidak lagi bertambah menempatkan firm dalam
tingkat II. Jadi kesimpulannya yang dapat kita ambil firm akan mengambil

83
setiap kombinasi antara tenaga kerja dan tanah yang terletak pada tingkat II .
kalau tidak demikian MP dari salah satu sumber akan negatif yang berarti
dengan mengurangi jumlah sumber yang dipekerjakan, produk total malahan
akan bertambah.
Apakah si produsen akan bekerja lebih dekat apabila pada awal tingkat II
ataupun lebih dekat pada akhir dari tingkat II, sangat tergantung pada harga
masing-masing faktor produksi tersebut yang dimasukkan ke dalam proses
produksi.
a. Semakin rendah harga tanah dibandingkan dengan tenaga kerja,
semakin dekat ratio itu pada permulaan tingkat II
b. Semakin rendah harga tenaga kerja dibandingkan dengan harga tanah,
semakin dekat ratio itu pada akhir tingkat II
Untuk lebih jelasnya marilah kita ilustrasi gambar 6 – 4 tersebut di atas,
seperti terlihat pada gambar 6 – 5.

84
Tahap I tenaga kerja berakhir dimana mencapai maximum , = .
Kalau ditinjau dari sudut tanah ini merupakan tahap ke III dari tanah, dimana
MP tanah mula-mula negatif terus naik mencapai nol, TP tanah maximum.
Tahap III dari tenaga kerja mulai dari = 0, maximum. Dipandang
dari sudut tanah merupakan tahap I dari tanah, MP tanah mula-mula berada di
atas AP nya, memotong AP tanah pada titik maximum. Terun turun menuju
pada tahap II baik bagi tanah mauoun bagi tenaga kerja.
Jadi jelaslah bahwa tahap ke II adalah sama dipandang dari kedua sudut
pandangan, baik dari sudut tenaga keja maupun dari sudut tanah. Ini
merupakan tahap satu-satunya dimana produksi akan dilangsungkan.
LEAST COST COMBINATION
Analog dengan teori konsumsi, dimana konsumen akan mengeluarkan
pendapatan uangnya yang dimilikinya sedemikian rupa, sehingga darinya
diperoleh kepuasan maximum, dengan jalan sedemikian rupa, sehingga
rupiah terakhir yang dikeluarkannya pada setiap barang memberikan
kepuasan yang sama.
Prinsip ini juga kita dapati pada teori produksi, dimana produsen akan
memperoleh produk total maximum, yang dapat dihasilkannya dari
pengeluaran-pengeluaran tertentu. Untuk bermacam-macam input yang
diperlukannya, sehingga pada suatu titik tertentu perbandingan antara
produktivitas marjinal dari berbagai input dan harganya masing-masing
adalah sama. Perhatikan tabel 6 - 4 berikut.
Tabel 6 - 4.

Sumber A MPa Sumber B MPb

5 10 7 6

6 9 8 5

7 8 9 4

8 6 10 3

85
9 3 11 1

10 0 12 0

Kalau seandainya harga sumber A = Rp. 2,- per unit, sedang sumber B = Rp
1,- per unit, dan pengeluaran ongkos untuk kedua sumber tersebut adalah Rp.
23,- per hari, sedang tabel MP harian untuk setiap sumber pada tingkat II
seperti terlihat pada tabel 6 - 4, maka produsen akan memaximer total
productnya dengan mengalokasikan pengeluaran ongkosnya sedemikian rupa,
sehingga MP dari satu sumber seharga Rp. 1,- sama dengan MP dari sumber-
sumber lainnya yang seharga Rp. 1,- juga. Atau bisa kita rumuskan sebagai
berikut :

MPa = Marjinal product faktor A

MPb = Marjinal product faktor B

MPz = Marjinal product faktor Z

Pa = harga faktor A per unit

Pb = harga faktor B per unit

Pc = harga faktor C per unit


Jadi kombinasi faktor A dan faktor B yang memenuhi syarat (yang
memaximer total productnya) adalah 7 unit sumber A dan 9 unit sumber B.

Pengeluaran total produsen untuk kedua sumber tersebut adalah : 7 unit


sumber A = 7 x Rp. 2,- = Rp. 14,- 9 unit sumber B = 9 x Rp. 1,- = Rp. 9,- Jadi
pengeluaran total produsen = Rp. 14,- + Rp. 9,- = Rp. 23,- per hari untuk
kedua sumber A dan sumber B.

86
3. PENDEKATAN ISOCOST DAN ISOQUANTS
Dalam analysa ini kita menganggap bahwa firm dalam proses
produksinya hanya menggunakan dua macam inputs yang semuanya variable.
Dengan anggapan semua faktor-faktor produksi yang digunakan oleh firm
adalah variable kita berhubungan dengan periode waktu jangka panjang (long
run) adalah suatu jangka waktu dimana semua input dapat dirubah apabila
kondisi pasar menginginkan adanya perubahan output.
Seperti halnya dengan teori klasik, Teori modern dengan Isoquant -
Isocost Approach bisa kita sejajarkan dengan Indifference Curve Aprproach
pada teori permintaan konsumen.
Pengertian Isoquant
Isoquant adalah suatu kurve yang menunjukkan semua kombinasi input-
input yang ada, yang secara fisik mampu untuk memproduksi tingkat output
tertentu.
Leftwich dalam bukunya "The Price System And Resource Allocation"
memberi pengertian sebagai berikut :
Isoquant adalah kurve yang memlerlihatkan berbagai kombinasi yang
berbeda-beda dari dua sumber dengan mana suatu firm yang dapat
menghasilkan jumlah produk yang sama.
Kita umpamakan kemungkinan penggunaan tenaga kerja dan kapital,
untuk menghasilkan 50 unit, 100 unit dan 150 unit output seperti terlihat pada
tabel berikut.
Tabel 6 – 5

Isoquant I Isoquant II Isoquant III


TK Kap TK Kap TK Kap
3 14 4 14 5,5 15
2 10 3 11 5 12
3 6 4 8 5,5 9
3 4,5 5 6,3 6 8,3
5 3,5 6 5 7 7

87
6 3 7 4,4 8 6
7 2,7 8 4 9 5,6
8 3 9 4,4 10 6
Dari data-data pada tabel 6 – 5 di atas kita dapat menggambarkan 3 Isoquants,
masing-masing untuk 50 unit, 100 unit dan 150 unit output.

Firm dapat menghasilkan 50 output dengan kombinasi 3 unit tenaga kerja dan 6
unit kapital atau kombinasi lain yang terletak dititik C pada Isoquant I.
Demikian juga untuk 100 unit dia dapat mengambil kombinasi 6 tenaga kerja
dan 5 kapital yang terletak dititik D pada Isoquant II.
THE MARGINAL RATE OF TECHNICAL SUBSTITUTION.
Dapat kita lihat dari gambar diatas bahwa kalau kita bergerak dari titik B
ke titik C pada Isoquant I, firm harus mengorbankan 4 unit kapital untuk
mendapatkan tambahan 1 unit tenaga kerja, untuk memproduksikan 50 unit
output. Bergerak dari titik C ke titik D, firm harus mengorbankan 1,5 unit
kapital untuk mendapatkan 1 unit tambahan tenaga kerja, supaya tetap berada
pada Isoquant I. ini berarti “Marginal Rate Of Technical Substitution” dari
labour untuk kapitalkalau kita bergerak dari B ke C = 4, dari C ke D =1,5.
Jadi, dapat kita rumuskan pengertian dari “The Marginal Rate Of
Technical Substitution” dari labour untuk kapital (MRTSLK) sebagai berikut :
MRTSLK adalah jumlah kapital yang dikurangi penggunaanya untuk
diganti dengan tambahan 1 unit tenaga kerja, supaya mendapatkan tingkat
output yang tetap sama (berada pada Isoquant yang sama). MRTS LK akan

88
turun apabila firm bergerak turun disepanjang satu Isoquant. Artinya lebih
sedikit kapital dan lebih banyak tenaga kerja yang digunakan oleh firm untuk
mendapatkan tingkat output yang sama. Pada titik yang lebih rendah dari suatu
Isoquant lebih sukar bagi firm untuk mensubstitusikan tenaga kerja untuk
kapital di dalam proses produksi. Seperti halnya dengan Indifference curve,
Isoquant juga mempunyai beberapa karakteristik. Antara lain :
a. Pada daerah yang relevant Isoquant mempunyai slap yang negatif, turun
miring dari kiri atas kekanan bawah. Pada batas-batas tertentu suatu
Isoquant mungkin mempunyai slap yang positip pada tingkat penggunaan
input yang tinggi.
b. Couvex (cembung) kearah origin.
c. Tidak pernah saling memotong.
Isoquant mempunyai slap yang negatif, turun miring dari kiri atas
kekanan bawah tergantung pada technical substitutability dari satu sumber
untuk sumber lainnya. Yaitu : pada kemampuan suatu sumber untuk
menggantikan sumber lainnya pada proses produksi. Pada umumnya kombinasi
sumber yang diperlukan untuk menghasilkan sejumlah produk tertentu dapat
diubah-ubah, dengan menggantikan sumber-sumber itu satu sama lainnya.
Tenaga kerja dapat menggantikan kapital dan sebaliknya kapitalpun dapat
menggantikan tenaga kerja (sesuai dengan anggapan / asumsi kita terdahulu).
Apabila sumber-sumber itu dapat saling menggantikan secara tehnis,
maka : jika sesuatu sumber digunakan dalam jumlah lebih kecil, maka sumber
lainnya harus digunakan dalam jumlah yang lebih besar, untuk mendapatkan
produk total yang tetap sama. Ini berarti Isoquant tersebut mempunyai slap
negatif, turun miring dari kiri atas kekanan bawah.
Bagian- bagian dari Isoquant yang mempunyai slap positif tidak memenuhi
syarat bagi bidang Ekonomi Produksi (akan kita bicarakan lebih lanjut).
Cembungnya suatu Isoquant, timbul dari kenyataan bahwa walaupun
sumber yang berbeda itu dapat saling menggantikan secara tehnis tapi saling
menggantikannya itu tidak sempurna. Semakin banyak tenaga kerja dan
semakin sesikit kapital yang digunakan, maka semakin sukarlah menggantikan

89
kapital dengan tenaga kerja. Ini disebabkan karena adanya : "principle of
diminishing marginal rate of technical substitution". Dapat diukur pada setiap
titik dari suatu Isoquant oleh miringnya (tangen-nya) Isoquant pada titik itu.
Jumlah kapital yang hilang itulah yang dikompenser oleh satu satuan tenaga
kerja tambahan pada titik itu.
Marginal rate of technical substitution dari tenaga kerja untuk kapital
(MTRSLK) dapat juga dianggap sebagai ratio antara MP tenaga kerja dengan
MP dari kapital MPL/MPK.
Isoquant tidak saling memotong suatu keharusan yang logis, alabila dua
Isoquant berpotongan maka pada titik perpotongan itu akan berarti bahwa dua
jumlah output yang berbeda dapat dihasilkan dengan kombinasi input yang
sama. Ini tidak mungkin jika firm tersebut memakai tehnik produksi yang
paling effisien yang ada sepanjang waktu, seauai dengan anggapan kita.
BIDANG EKONOMI PRODUKSI
Bagian dari Isoquant yang memenuhi syarat (mempunyai arti ekonomi)
yaitu : bagian dari Isoquant yang mempunyai slope negatip. Berarti apabila
firma ingin mengurangi penggunaan kapital, dia harus menggunakan lebih
banyak tenaga kerja untuk memproduksikan tingkat output yang sama. Firm
tidak akan beroperasi pada slap positip dari suatu Isoquant, karena dia bisa
memproduksikan jumlah output yang sama atau berada pada Isoquant yang
sama dengan memakai lebih sedikit kapital maupun tenaga kerja.
Apabila kita menghubungkan yitik-titik batas yang memenuhi slap
negatip dari Isoquant, maka kita akan menemukan suatu garis yang disebut
"Ridge Line" yaitu : garis yang memisahkan bidang produksi yang ekonomis
dan bidang produksi yang tidak ekonomis. Jadi berada pada tahap II dari
produksi (Bidang yang dibatasi oleh Ridge Line 0P dan 0Q pada gambar 6 - 7
dibawah).

90
Gambar 6 - 7
Seandainya firm menginginkan sejumlah output yang ditunjukkan oleh
Isoquant 2, maka dia akan memerlukan minimum 002 kapital, yang harus
dikombinasikan dengan 0L2 unit labour (tenaga kerja), ditunjukkan oleh titik A
pada Isoquant 2. Setelah titik tersebut tambahan unit-unit tenaga kerja dengan
unit modal yang tetap, malahan akan menghasilkan tingkat outputnya tetap
pada Isoquant 2, dia harus lebih banyak menggunakan kapital untuk
mengimbangi tambahan tenaga kerja tersebut.
Jasi titik A pada Iaoquant 2 menunjukkan marge intensip (Intensive Margin)
untuk tenaga kerja, merupakan batas akhir dari tingkat II MPL=0.
Setelah titik A Isoquant tersebut akan berslap positip. MPL negatip,
dimana akan memasuki tingkat III untuk tenaga kerja, dimana TP L mulai
menurun. Demikian juga halnya dengan titik-titik yang ditunjukkan oleh A0, A1
dan A2 pada Ridge Line, 0Q, menunjukkan minimum kapital yang diperlukan
untuk memproduksikan tingkat output Isoquant 1, Isoquant 2, Isoquant 3 dan
Isoquant 4. Pada titik-titik tersebut MRTSLK = MPL/MPK = 0/MPK = 0.
Demikian juga halnya, tingkat output diatas (yang ditunjukkan oleh
Isoquant 2) hanya dapat dicapai dengan minimum 0L1 unit tenaga kerja yang
dikombinir dengan 0C1 kapital, ditunjukkan oleh titik B. Diatas titik tersebut
Isoquant 2 mempunyai slap yang positip. Jadi mulai pada titk B, pada Isoquant

91
2, jika firm akan menggunakan lebih banyak kapital, untuk tingkat output yang
sama, mengharuskan dia untuk memakai lebih banyak tenaga kerja.
Umpama firm ingin beroperasi pada titik D dia harus menggunakan 003 unit
capital yangdikombinir dengan 0L3 unit labour, padahal 003 > 001 dan 0L3 >
0L1. Bila dia menggunakan lebih banyakkapital dengan jumlah tenaga yang
tetap, dia akan berada pada tingkat output yang lebih rendah. Hal yang sama
akan terjadi setelah titik-titik B0, B1 dan B2 (setelah Ridge Line 0P) dimana
MPK negatip dan firm akan memasuki tahap III dari kapital. MRTS LK =
MPL/MPK = MPL/ 0 = ∞ (tak terhingga).
Ridge Line 0P yang menghubungkan titik-titik B0, B, B1 dan B2 merupakan
marge intensip (Intensive Margin) untuk modal.
Jadi jelas, semua kombinasi tenaga kerja dan capital yang rasionil bagi
firm terletak pada tahap II dari produksi, atau bidang yang dibatasi oleh Ridge
Line 0P/0Q.
Persoalannya sekarang apakah produsen akan beroperasi mengarah
kepada permulaan tahap II yaitu mengarah ke titik B, atau mengarah kepada
akhir dari tahap II yaitu titik A, sangat tergantung dari harga masing-masing
faktor produksi tersebut harga kapital maupun harga dari labour.
Semakin rendah harga kapital dibandingkan dengan harga tenaga kerja,
produksi akan mendekati permulaan tingkat II lebih dekat mengarah ke titik B.
sebaliknya semakin murah harga tenaga kerja dibandingkan dengan harga
kapital produksi akan mengarah ke akhir dari tingkat II, lebih dekat dengan
titik A.
KURVE-KURVE PRODUCT DAN ISOQUANT
Dari Isoquant-Isoquant tertentu dari suatu firm kita dapat mencari kurve-kurve
product. Misalkan dari Isoquant map gambar 6 – 6, yang menunjukkan output
masing-masing 50, 100, 150, 200 dan 250 unit ; kita dapat menggambarkan
kurve-kurve produk baik untuk tenaga kerja maupun kapital. Untuk jelasnya
akan kita gambarkan kembali Isoquant map 6 – 6 pada gambar 6 – 8 A berikut.

92
Misalkan firm menggunakan kapital sebanyak 0K, dan memakai tenaga
kerja yang jumlahnya semakin besar per satuan waktu, semakin bertambahnya
tenaga kerja yang digunakan dengan jumlah kapital yang tetap menyebabkan
firm akan bergerak disepanjang garis KM. produk tetap yang didapat
ditunjukkan oleh setiap Isoquant yang dipotong oleh garis horizontal KM.
Apabila kita bergerak dari kiri kekanan disepanjang garis ini, semakin besar
total produk dari tenaga kerja sampai mencapai suatu titik tertentu. Dengan 0L1
jumlah tenaga kerja yang digunakan dan 0K kapital (titik A) firm akan
menghasilkan 50 unit produk (berada pada Isoquant 1), terlihat sebagai titik A’
dari TPL. Perhatikan titk A, berada diluar Ridge Line 0P, ini berarti ratio tenaga
kerja terlalu sedikit dibandingkan dengan ratio kapital, dengan menambah
jumlah tenaga kerja, maka produk rata-rata akan terus bertambah.
Marginal produk kapital pada kombinasi titik A adalah negatip, firm
berada pada tahap I dari tenaga kerja.
Apabila tenaga kerja yang dipakaisebanyak 0L3 dan 0K kapital firm akan
menghasilkan output sebanyak 150 unit. Total produk tenaga kerja maksimum

93
akan dicapai dengan 0L4 tenga kerja dan kapital yang konstan, sebagai terlihat
titik D’, dengan jumlah output sebanyak 200 unit. Setelah titik tersebut
tambahan tenaga kerja tidak akan menambah apa-apa terhadap total produk,
TPL menurun, MPL negatip. Dapat kita lihat bahwa TPL maximum pada 200
unit output (berada pada Isoquant 4), maximum jumlah tenaga kerja yang
digunakan untuk dikombinir dengan kapital sebanyak 0K adalah 0L4, dus firm
tidak akan pernah menggunakan lebih dari 0L4 tenaga kerja walaupun tenaga
kerja disini adalah sumber bebas.
Kesimpulan yang dapat kita ambil, bahwa akhir dari tingkat I tenaga
kerja dan permulaan dari tingkat II terjadi pada Ridge Line 0P.
Akhir tingkat II dan permulaan dari tingkat III untuk tenaga kerja terjadi
Ridge Line 0Q. semakin besar jumlah kapital yang digunakan, semakin jauh
kekanan letak tingkat II pada diagram produk untuk tenaga kerja.
Proses serupa dapat kita lakukan untuk mendapatkan kurve-kurve produk
dari kapital, dengan menganggap tenaga kerja yang digunakan adalah tetap
sebanyak 0L, dan kapital menjadi sumber variable. Pertambahan kapital
dengan labour yang konstan mula-mula akan menambah produk rata-rata. Total
produk kapital mencapai maximum, dengan menggunakan 0K1 kapital yang
dikombinasikan dengan 0L tenaga kerja (titik E) setelah titik tersebut tambahan
kapital malahan akan menurunkan TPK.
ISOCOST ATAU ISOBIAYA
Pengertian Isocost :
Isocost adalah kure yang menunjukkan berbagai kombinasi antara labour
dan kapital, yang firm dapat membelinya dengan pengeluaran tertentu pula.
Slop dari suatu Isocost ditunukkan oleh ratio dari harga tenaga kerja dan harga
kapital, jadi :
PL/PK dimana : PL = Harga tenaga kerja
PK = Harga capital
Seandainya firm menghadapi harga tenaga kerja dalah Rp. 1,- per unit.
Sedangkan pengeluaran total firm untuk kedua sumber tersebut adalah Rp. 10,-

94
per satuan waktu, maka Isocost dari firm tersebut akan terlihat seperti gambar
6–9.
Apabila seluruh pengeluarannya dibelanjakan untuk kapital, sedangkan tenaga
kerja tidak dibeli sama sekali, maka dia mendapatkan 10 unit kapital (TO/PK).
demikian sebaliknya apabila seluruh pengeluarannya digunakan untuk membeli
tenaga kerja, sedangkan kapital tidak dibeli sama sekali firm akan
mendapatkan 10 unit tenaga kerja(TO/PL).
Jadi firm dapat kombinasi antara kapital dan tenaga kerja yang berada
disepanjang suatu Isocost. Slap dari Isocost tersebut =

Dimana PL = PK = Rp. 1,- dan TO= Rp. 10,- maka slap Isocost KL = -1.

KESEIMBANGAN PRODUSEN
Produsen akan berusaha memperoleh tingkat output yang maximum
dengan jumlah input yang tersedia. Atau dengan lain perkataan produsen akan
memaximalkan output dengan biaya tertentu, dengan berusaha memperoleh
tingkat output tertinggi, dengan memilih kombinasi antara tenaga kerja dan
kapital sedemikian rupa, dengan pengeluaran total (Total Outlay) yang sudah
tertentu.
Tingkat output yang ditunjukkan oleh Isoquant 3 tidak mungkin dicapai
karena berada diatas input yang disediakan. Jadi output yang dapat dicapai

95
dengan Isocost tertentu hanyalah terbatas pada Isoquant yang menyinggung
atau dibawah Isocost KL. Lihat gambar 6 – 10 berikut.

Firm dapat bekerja pada titik S ataupun R. pada kedua titik tersebut
kombinasi-kombinasi input yang diperlukan untuk memproduksikan tingkat
Isoquant 1, dengan biaya yang tersedia, yang digambarkan oleh Isoquant KL
memadai. Tetapi tingkat output dapat ditambah dengan tanpa menambah biaya
dengan jalan memilih kombinasi input yang tepat, yaitu pada titik M dari
Isoquant 2, dimana Isoquant tersebut persis tangen dengan Isocost KL. Pada
titik tersebut slap Isoquant 2 sama dengan slap Isoquant KL. Pada titik
keseimbangan tersebut MRTSLK = PL/PK. sementara MRTSLK = - PL/PK dalam
keseimbangan maka :

Ini berarti dalam keseimbangan marginal product dari rupiah terakhir yang
dikeluarkan untuk tenaga kerja, sama dengan marginal product dari rupiah
terakhir yang dikeluarkan untuk kapital.
Kombinasi input pada titik M adalah optimal, menghasilkan output tertentu
yang hendak dicapai oleh produsen, dia harus meminimalisir biaya yang
berhubungan dengan tingkat output yang dikehendaki dengan cara yang sama
dengan diatas. Perhatikan gambar 6 – 11 berikut.

96
Apabila Isoquant 1 adalah tingkat output yang dikehendaki (ditetapkan) oleh
produsen, sedangkan K1 L1, K2 L2 , K3 L3 merupakan kurve-kurve Isocost
dengan slop yang sama. Kita lihat bagaimana produsen akan mencapai
tujuannya :
 Pada tingkat biaya yang ditunjukkan oleh K1 L1 tidak “feasible” tidak
mungkin oleh karena tingkat output Isoquant. Tidak mungkin secara fisik
dapat menghasilkan dengan kombinasi input yang disediakan oleh
pengeluarannya.
 Tingkat output yang ditunjukkan oleh Isoquant 1 dapat dihasilkan dengan
kombinasi-kombinasi input yang ditunjukan oleh titik R,S yang keduanya
terletak pada Isoquant K3 L3
Tetapi dengan bergerak dari R ke Q atau dari S ke Q, firm dapat mencapai
tingkat output yang sama dengan biaya yang lebih rendah yaitu K2 L2.
Jadi dalam hal ini dapat kita simpulkan suatu prinsip sebagai berikut :
Dalam rangka usaha produsen memaximalisasi output yang terikat pada biaya
tertentu, atau untuk meminimalisasi biaya yang terikat pada output tertentu,
maka si produsen harus menggunakan input-inputnya sedemikian rupa,

sehingga mengimbangkan MRTS dengan ratio harga MRTSLK =

97
EXPANSION PATH
Apabila terjadi perubahan pengeluaran total suatu firm (TO) sementara harga
tenaga kerja dan kapital tetap konstan. Isocost dari firm tersebut akan bergeser
keatas sejajar dengan Isocost semula apabila pengeluaran total firm bertambah,
dan akan bergeser kebawah apabila pengeluaran total firm berkurang.
Isocost- Isocost yang telah bergeser ini akan menyinggung Isoquant yang
lebih tinggi ataupun yang lebih rendah, yang mengakibatkan bergesernya
Equilibrium si produsen keatas maupun kebawah. Garis-garis yang
menghubungkan titik-titik Equilibrium si produsen tersebut dinamakan garis
“Ekspansi” atau Expansion Path. Perhatikan gambar 6 – 12 berikut.

Seandainya harga kapital adalah Rp. 1,- per unit sedangkan harga tenaga
kerja Rp. 2,- per unit, sedangkan pengeluaran produsen naik dari Rp. 12,-
menjadi Rp. 16,- terus menjadi Rp. 20,- per satuan waktu maka Isocostnya
akan terlihat seperti K1 L1, K2 L2 , K3 L3. Apabila Isoquant yang dihadapi
produsen terlihat seperti Isoquant 1, Isoquant 2 dan Isoquant 3. Maka
keseimbangan produsen akan bergerak mula-mula dari titik A, B dan terus
ketitik C. garis yang menghubungkan titik-titik dari keseimbangan produsen
tersebut disebut “Expansion Path” (garis A - C).

98
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ferguson, C.E. Micro Economic Theory. Richard DIrwin Inc., Homewood,
Illinions, 1996.
Leftwich Richard H., The Price System and Resource Allocation. Revised
Edition, March1960.
Liebahsky H.H. Jur. D. Ph.D. Hakekat Teori Harga. P. Sitohang SE (terj.), Jakarta
1970
Salvatore Dominiok Ph.D. Theory and Problems of Micro Economic Theory.
Mc.Graw Hill Book Company, New York, August 1974
Stigler George J. The Theory of Price. Resived Edition, Second Printing 1953,
The Macmillan Company New York.

99