Anda di halaman 1dari 26

FISIOLOGI HEWAN

METABOLISME

Dosen Pengampu : Elfa Oprasmani, S.Pd., M.Pd.

Disusun oleh :

1. Rachmad M 160384205074
2. Pipit Setiawati 170384205014
3. Hetty Nurattika 170384205046
4. Wilda Sari 170384205041
5. Marliana Putri R 170384205055
6. Kurrotul Aini 170384205034

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2019/2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami
tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam
semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang
kita nanti-natikan syafa’atnya diakhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya,
baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Metodologi
Penelitian dengan materi Masalah Dalam Penelitian.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi
makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini
penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Tanjungpinang, 14 September 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................... Error! Bookmark not defined.


DAFTAR ISI........................................................................ Error! Bookmark not defined.
BAB I ................................................................................... Error! Bookmark not defined.
PENDAHULUAN ............................................................... Error! Bookmark not defined.
1.1 Latar Belakang ...................................................... Error! Bookmark not defined.
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 2
BAB II.................................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN .................................................................................................................... 3
2.1. Pengertian dari Metabolisme ................................................................................... 3
2.2 Fungsi Metabolisme Bagi Tubuh ............................................................................ 6
2.3 Anabolisme.............................................................................................................. 7
2.4 Katabolisme............................................................................................................. 9
BAB III ................................................................................................................................ 20
3.1 Kesimpulan............................................................................................................ 20
3.2 Saran ...................................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 21

ii
iii
BAB I

PEDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Metabolisme dapat diartikan sebagai proses pengolahan (pembentukan dan
penguraian “Katabolisme dan Anabolisme” ) zat-zat yang diperlukan oleh
tubuh. Kelainan Metabolisme adalah keadaan tubuh yang tidak mampu
menjalankan proses metabolisme karena sesuatu dan lain hal. Yang paling
terpengaruh bisa atau ketidak bisaan tubuh ialah disebabkan oleh kelainan tidak memiliki
suatu enzim yang diperlukan untuk membantu metabolisme. Kelainan metabolisme
seringkali disebabkan oleh kelainan genetik yang mengakibatkan hilangnya enzim
tertentu yang diperlukan untuk merangsang suatu proses metabolisme.
Lipid adalah senyawa organik yang tidak dapat larut dalam air tetapi dapat diekstraksi
dengan pelarut nonpolar seperti kloroform, eter dan benzena. Senyawa organik
ini terdapat didalam sel dan berfungsi sebagai sumber energy metabolisme dan sebagai
sumber asam lemak esensial yang mempunyai fungsi spesifik dalam tubuh seperti
untuk struktur sel dan pemeliharaan integritas membran-membran yang hidup.
Fungsi lain dari lipid antara lain adalah sebagai komponen utama struktur sel,
penyimpan bahan bakar metabolik, untuk mengangkut bahan bakar, sebagai
pelindung dinding sel dan juga sebagai komponen pelindung kulit vertebrata. Lipid
terdiri dari lemak, minyak, malam dan senyawa-senyawa lain yang ada
hubungannya. Lipid merupakan komponen penting dalam pakan ikan karena lipid
dapat dijadikan sebagai sumber energi bagi ikan selain protein dan karbohidrat. Lipid
berbeda dengan lemak.Perbedaan antara lemak dan minyak adalah pada titik cairnya,
lemak cenderung lebih tinggi titik cairnya, molekulnya lebih berat dan rantai molekulnya
lebih panjang. Oleh karena itu lipid merupakan salah satu sumber asam lemak
essensialyangtidak bisa di sentesa oleh ikan.Sebagai sumber energi, lipid telah
ditunjukan1untuk memberikan beberapa protein untuk pertumbuhan. Lipid juga
sumber penting sterol, phospolipid, dan vitamin lemak yang dapat larut. Asam lemak
darilipid mungkin juga bertindak sebagai pendahuluan pada steroid hormon dan
prostaglandin.

1
1.2 Rumusan masalah
1. Apa yang di maksud dengan metabolisme?
2. Apa saja fungsi metabolisme bagi tubuh?
3. Apa pengertian dan proses anabolisme?
4. Apa itu katabolisme dan prosesnya?

1.3 Tujuan penulisan


1. Untuk mengetahui pengertian metabolisme
2. Untuk mengetahui fungsi metabolisme bagi tubuh
3. Untuk mengetahui pengertian dan proses anabolisme
4. Untuk mengetahui proses katabolisme

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Metabolisme

Makhluk multiseluler, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan tersusun atas jutaan
sel. Tiap sel memiliki fungsi tertentu untuk kelangsungan hidup suatu organisme. Untuk
menjalankan fungsinya, sel melakukan proses metabolisme. Metabolisme berasal dari bahasa
Yunani, yaitu “metabole” yang berarti perubahan. Metabolisme adalah perubahan seluruh
reaksi kimia yang terjadi di dalam sel. Beberapa dari reaksi kimia itu menghasilkan
pemecahan atau penguraian molekul organik. Reaksi kimia ini akan mengubah suatu zat
menjadi zat lain. Metabolisme kadang juga diartikan pertukaran zat antaara satu sel atau
secara keseluruhan dengan lingkungannya. Salah satu aktivitas protoplasma yang penting
adalah pembentukan sel baru dengan cara pembelahan. Sebelum sel melakukan pembelahan,
maka protoplasma akan aktif mengumpulkan serta mensintesa karbohidrat, protein, lemak
dan banyak lagi senyawa kompleks yang merupakan bagian dari protoplasma dan dinding
sel. Bahan dasar untuk sintesa senyawa organic tersebut adalah unsure-unsur aorganic yang
diserap oleh akar dan gula yang dibentuk dari karbon dioksida dan air pada proses
fotosintesa (asimilasi karbon).

Metabolisme merupakan segala proses reaksi kimia yang terjadi didalam tubuh makhluk
hidup, mulai makhluk hidup bersel satu hingga yang memiliki susunan tubuh kompleks
seperti manusia. Dalam hal ini, makhluk hidup mendapat, mengubah dan memakai senyawa
kimia dari sekitarnya untuk mempertahankan hidupnya.Metabolisme adalah seluruh aktivitas
reaksi kimia yang berlangsung di dalam sel hidup. Jumlah reaksi kimia yang berlangsung
dalam sebuah sel sangat banyak, berkisar antara beberapa ratus sampai beberapa ribu. Setiap
aktivitas organisme seperti makan, pengeluaran, pergerakan dan penjalaran impuls saraf
sangat bergantung pada berbagai reaksi kimia yang berlangsung dalam setiap sel tubuh.
Sebagai besar reaksi kimia yang terjadi dalam sel dikontrol oleh enzim ( Katalisator biologis)
yang bekerja mempercepat reaksi.

Metabolisme disebut juga reaksi enzimatis, karena metabolisme terjadi selalu


menggunakan katalisator enzim. Metabolisme melibatkan banyak komponen (molekul-
molekul) yang terdapat di dalam sel. Komponen yang memiliki keterkaitan erat dengan
metabolisme diantaranya enzim dan ATP. Proses pemecahan molekul ini yang biasanya

3
memecah molekul berukuran besar dan kompleks menjadi molekul berukuran kecil dan
sederhana disebut katabolisme. Reaksi katabolisme pada umumnya melepaskan energi kimia
yang dapat digunakan untuk melakukan bermacam-macam fungsi tubuh. Selain proses
pemecahan terjadi juga proses pembentukan molekul berukuran besar dan kompleks dari
molekul berukuran kecil dan sederhana. Proses ini merupakan kebalikan dari proses
pemecahan, dikenal dengan istilah anabolisme.

Metabolisme terdiri dari katabolisme dan anabolisme yang dalam kenyataannya


merupakan proses kimia yang rumit dan berlangsung di dalam sel. Karena prosesnya
berlangsung di dalam sel, maka disebut metabolisme sel. Di dalam sel, molekul organik
mengalami perubahan secara terus menerus karena beberapa molekul dipecah-pecah,
sedangkan molekul yang lain terlibat dalam proses sintesis.

Dalam proses metabolisme, enzim sangat diperlukan sebagai katalisator (senyawa


yang dapat mempercepat proses terjadinya reaksi tanpa habis reaksi). Enzim bekerja dengan
cara menempel pada permukaan molekul zat–zat yang bereaksi, dan dengan demikian dapat
mempercepat proses reaksi. Penyusun utama suatu enzim adalah molekul protein yang
disebut Apoenzim. Agar berfungsi sebagaimana mestinya, enzim memerlukan komponen lain
yang disebut kofaktor. Kofaktor adalah komponen nonprotein berupa ion atau molekul.
Berdasarkan ikatannya, kofaktor dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu gugus prostetik,
ko-enzim, dan ion-ion anorganik.

Menurut ikatannya, kofaktor dibedakan menjadi 3 macam yaitu :

1. ion-ion anorganik adalah kofaktor yang terikat dengan substrat kompleks atau enzim
sehingga fungsi enzim menjadi lebih efektif.
2. Ko-enzim adalah kofaktor yang terdiri atas molekul organik nonprotein yang terikat
secara renggang dengan enzim.
3. gugus prostetik adalah tipe kofaktor yang umumnya terikat kuat pada enzim, yang
berfungsi untuk memberi kekuatan tambahan terhadap kerja enzim.

Terdapat dua teori yang menjelaskan cara kerja enzim. Teori lock and key (kunci
dan anak kunci) yang dikemukakan oleh Emil Fischer, serta Teori induced fit (induksi pas)
yang dikemukakan oleh Daniel Kashland.

a) Teori Lock and Key

4
Menurut teori ini, cara kerja enzim mirip dengan mekanisme kunci dan anak kunci.
Enzim diibaratkan sebagai gembok yang memiliki sisi aktif. Substrat diibaratkan sebagai
anak kuncinya. Substrat memasuki sisi aktif enzim seperti anak kunci memasuki kunci
gembok. Substrat tersebut, kemudian diubah menjadi produk. Produk ini kemudian
dilepaskan dari sisi aktif dan enzim siap menerima substrat baru.

b) Teori Induced Fit

Berdasarkan Teori Induced Fit, enzim melakukan penyesuaian bentuk untuk


berikatan dengan substrat. Hal ini bertujuan meningkatkan kecocokan dengan substrat dan
membuat ikatan enzim substrat lebih reaktif. Molekul enzim memiliki sisi aktif tempat
melekatnya substrat dan terbentuklah molekul kompleks enzim-substrat. Pengikatan substrat
menginduksi penyesuaian pada enzim yang meningkatkan kecocokan dan mendorong
molekul kompleks enzim-substrat berada dalam keadaan yang lebih reaktif. Molekul enzim
kembali ke bentuk semula setelah produk dihasilkan

TeoriSebagai biokatalisator,
Induced enzim
fit menyatakan memiliki
bahwa setiapbeberapa
substrat sifat antara lain:
mempunyai permukaan yang pas
dengan sisi aktif enzim.

Sebagai biokatalisator, enzim memiliki beberapa sifat antara lain:


a. Enzim hanya mengubah kecepatan reaksi, artinya enzim tidak mengubah produk akhir
yang dibentuk atau mempengaruhi keseimbangan reaksi, hanya meningkatkan laju
suatu reaksi.
b. Enzim bekerja secara spesifik, artinya enzim hanya mempengaruhi substrat tertentu
saja.
c. Enzim merupakan protein. Oleh karena itu, enzim memiliki sifat seperti protein.
Antara lain bekerja pada suhu optimum, umumnya pada suhu kamar. Enzim akan
kehilangan aktivitasnya karena pH yang terlalu asam atau basa kuat, dan pelarut
organik. Selain itu, panas yang terlalu tinggi akan membuat enzim terdenaturasi
sehingga tidak dapat berfungsi sebagai mana mestinya.
d. Enzim diperlukan dalam jumlah sedikit. Sesuai dengan fungsinya sebagai katalisator,
enzim diperlukan dalam jumlah yang sedikit.

5
e. Enzim bekerja secara bolak-balik. Reaksi-reaksi yang dikendalikan enzim dapat
berbalik, artinya enzim tidak menentukan arah reaksi tetapi hanya mempercepat laju
reaksi sehingga tercapai keseimbangan. Enzim dapat menguraikan suatu senyawa
menjadi senyawa-senyawa lain. Atau sebaliknya, menyusun senyawa-senyawa
menjadi senyawa tertentu. Reaksinya dapat digambarkan sebagai berikut.
f. Enzim dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja
enzim adalah suhu, pH, aktivator (pengaktif), dan inhibitor (penghambat) serta
konsentrasi substrat.

2.2 Fungsi Metabolisme Bagi Tubuh

1. Pengubah Racun
Racun merupakan zat yang jelas tidak dibutuhkan oleh tubuh. Masuknya zat ini ke
dalam tubuh tidak selamanya dilakukan dengan sengaja, sebagian besar malah justru tidak
sengaja, alias keracunan. Dan tahukah Anda bahwa proses metabolisme ini bisa mengubah
zat beracun menjadi senyawa yang sama sekali tidak beracun tidak hanya mengubahnya
menjadi tidak beracun, metabolisme juga dapat mengeluarkan racun dari tubuh.
2. Menjaga Kesehatan Tubuh
Metabolisme merupakan sebuah proses yang membantu tubuh untuk mengolah aneka
zat yang masuk ke dalam tubuh. Hasil akhir dari pengolahan tersebut nantinya berperan
dalam membentuk identitas kesehatan tubuh. Jika proses metabolime berjalan lancar, tubuh
akan jauh lebih merasa sehat dan bugar.
3. Penghasil Senyawa ATP
ATP merupakan senyawa kimia berenergi tinggi, tetapi mempunyai ikatan yang
bersifat labil. Senyawa tersebut nantinya akan menyumbang energi pada proses-proses dalam
metabolisme seperti fotosintesis, respirasi, sintesis protein, kemosintesis, dan lemak.
Fungsi spesifik dari proses metabolisme makhluk hidup adalah untuk menghasilkan
enrgi kimia dalam bentuk ATP dari penguraian zat makanan dari lingkungan, mengubah
molekul zat makanan menjadi prekusor pembangun biomolekul sel serta menyusun unit-unit
pembangun menjadi protein, asam nukleat, lipida, polisakarida, dan komponen sel lain
sebagai pembantuk dan perombak biomolekul.

6
2.3 Anabolisme

Anabolisme adalah lintasan metabolisme yang menyusun beberapa senyawa organik


sederhana menjadi senyawa kimia atau molekul kompleks. Proses ini membutuhkan energi
dari luar. Energi yang digunakan dalam reaksi ini dapat berupa energi cahaya ataupun energi
kimia. Energi tersebut, selanjutnya digunakan untuk mengikat senyawa-senyawa sederhana
tersebut menjadi senyawa yang lebih kompleks. Jadi, dalam proses ini energi yang diperlukan
tersebut tidak hilang, tetapi tersimpan dalam bentuk ikatan-ikatan kimia pada senyawa
kompleks yang terbentuk.
Anabolisme meliputi tiga tahapan dasar. Pertama, produksi prekursor seperti asam
amino, monosakarida, dan nukleotida. Kedua, adalah aktivasi senyawa-senyawa tersebut
menjadi bentuk reaktif menggunakan energi dari ATP. Ketiga, penggabungan prekursor
tersebut menjadi molekul kompleks, seperti protein, polisakarida, lemak, dan asam nukleat.
Hasil-hasil anabolisme berguna dalam fungsi yang esensial. Hasil-hasil tersebut
misalnya glikogen dan protein sebagai bahan bakar dalam tubuh, asam nukleat untuk
pengkopian informasi genetik. Protein, lipid, dan karbohidrat menyusun struktur tubuh
makhluk hidup, baik intraselular maupun ekstraselular. Bila sintesis bahan-bahan ini lebih
cepat dari perombakannya, maka organisme akan tumbuh.
1) Anabolisme Lemak
Lemak dapat disintesis dari karbohidrat dan protein, karena dalam metabolisme,
ketiga zat tersebut bertemu di dalarn daur Krebs. Sebagian besar pertemuannya berlangsung
melalui pintu gerbang utama siklus (daur) Krebs, yaitu Asetil Ko-enzim A. Akibatnya ketiga
macam senyawa tadi dapat saling mengisi sebagai bahan pembentuk semua zat tersebut.
Lemak dapat dibentuk dari protein dan karbohidrat, karbohidrat dapat dibentuk dari lemak
dan protein dan seterusnya. Sintesis lemak dari karbohidrat:
Glukosa diurai menjadi piruvat —> gliserol
Glukosa diubah —> gula fosfat —> asetilKo-A —> asam lemak
Gliserol + asam lemak —> lemak
Sintesis Lemak dari Protein:
Protein —> Asam Amino protease
2) Anabolisme Protein
Sintesis protein yang berlangsung di dalam sel, melibatkan DNA, RNA dan Ribosom.
Penggabungan molekul-molekul asam amino dalam jumlah besar akan membentuk molekul
polipeptida. Pada dasarnya protein adalah suatu polipeptida. Setiap sel dari organisme

7
mampu untuk mensintesis protein-protein tertentu yang sesuai dengan keperluannya. Sintesis
protein dalam sel dapat terjadi karena pada inti sel terdapat suatu zat (substansi) yang
berperan penting sebagai "pengatur sintesis protein". Substansi-substansi tersebut adalah
DNA dan RNA.
3) Kemosintesis
Kemosintesis merupakan reaksi anabolisme selain fotosintesis. Kemosintesis adalah
konversi biologis satu molekul karbon atau lebih (biasanya karbon dioksida atau metana),
senyawa nitrogen dan sumber makanan menjadi senyawa organik dengan menggunakan
oksidasi molekul anorganik (contohnya, gas hidrogen, hidrogen sulfida) atau metana sebagai
sumber energi. Kemosintesis adalah anabolisme yang menggunakan energi kimia. Energi
kimia yang digunakan pada reaksi ini adalah energi yang dihasilkan dari suatu reaksi kimia,
yaitu reaksi oksidasi. Organisme autotrof yang melakukan kemosintesis disebut
kemoautotrof. Menurut Campbell et al. (2002), prokariota paling awal adalah organisme
kemoautotrof yang mendapatkan energi dari bahan kimia anorganik dan menghasilkan
energinya sendiri dan bukannya menyerap ATP. Hal ini disebabkan Hidrogen sulfide (H2S)
dan senyawa besi (Fe2+) sangat berlimpah di bumi purbakala, dan sel-sel primitive
kemungkinan mendapatkan energi dari reaksi melibatkan senyawa tersebut. Beberapa
arkhaea modern saat ini dapat bertahan hidup pada sumber mata air panas yang mengandung
sulfur dan melakukan reaksi kimia yang membebaskan energi.
Kemampuan melakukan kemosintesis hanya dimiliki oleh beberapa jenis
mikroorganisme, misalnya bakteri belerang nonfotosintetik (Thiobacillus) dan bakteri
nitrogen (Nitrosomonas dan Nitrosococcus).

Contoh:
Proses nitrifikasi, terdiri berlangsung dalam dua tahapan besar yang masing-masing
diperankan oleh kelompok organisme yang berbeda:
 Nitritasi yaitu oksidasi amonia menjadi nitrit oleh bakteri pengoksidasi ammonium
(AOB). Proses ini dilakukan oleh kelompok bakteri Nitrosomonas dan Nitrosococcus.
 Nitratasi yaitu oksidasi senyawa nitrit (NO2-) menjadi nitrat oleh bakteri nitrat atau
nitrit bakteri pengoksidasi (NOB). Proses ini dilakukan oleh kelompok bakteri
Nitrobacter.
Nitrit bersifat beracun, umumnya tidak sampai mengumpul, karena reaksi nitrit
menjadi nitrat jauh lebih besar dibanding perubahan ammonium menjadi nitrit. Ada dua jenis

8
bakteri ototrof yang menonjol, mereka mendapatkan energi dari oksidasi N, sedangkan C
diambil dari CO2.

2.4 Katabolisme

Katabolisme merupakan reaksi pemecahan atau penguraian senyawa kompleks


(organik) menjadi sederhana (anorganik) yang menghasilkan energi. Untuk dapat digunakan
oleh sel, energi yang dihasilkan harus diubah menjadi ATP (Adenosin TriPhospat). ATP
merupakan gugus adenin yang berikatan dengan tiga gugus fosfat. Pelepasan gugus fosfat
menghasilkan energi yang digunakan langsung oleh sel, untuk melangsungkan reaksi-reaksi
kimia, pertumbuhan, transportasi, gerak, reproduksi, dan lain-lain. Contoh katabolisme
adalah respirasi sel, yaitu proses penguraian bahan makanan yang bertujuan menghasilkan
energi. Sebagai bahan baku respirasi adalah karbohidrat, asam lemak, dan asam amino dan
sebagai hasilnya adalah CO2 (karbon dioksida, air dan energi). Respirasi dilakukan oleh
semua sel hidup, sel hewan maupun sel tumbuhan.

Katabolisme adalah proses yang menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk semua
aktivitas dalam sel. Dalam proses ini, sel-sel memecah molekul besar (terutama karbohidrat
dan lemak) untuk melepaskan energi. Urutan yang paling umum dari reaksi katabolik pada
hewan dapat dibedakan menjadi tiga tahapan utama. Pertama, molekul organik besar seperti
protein, polisakarida, atau lemak dicerna menjadi molekul yang lebih kecil di luar sel.
Kemudian, molekul-molekul yang lebih kecil ini diambil oleh sel-sel dan masih diubah
menjadi molekul yang lebih kecil, biasanya asetil koenzim A (Asetil KoA), yang melepaskan
energi. Akhirnya, kelompok asetil pada KoA dioksidasi menjadi air dan karbon dioksida pada
siklus asam sitrat dan rantai transpor elektron, dan melepaskan energi yang disimpan dengan
cara mereduksi koenzim Nikotinamid Adenin Dinukleotida (NAD+) menjadi NADH. Bila
pembongkaran suatu zat dalam lingkungan cukup oksigen (aerob) disebut proses respirasi,
bila dalam lingkungan tanpa oksigen (anaerob) disebut fermentasi.

Di dalam sel, karbohidrat, lemak, dan protein mengalami katabolisme menjadi


senyawa yang sederhana, ya selanjutnya akan diproses sedemikian rupa sehingga
menghasilkan ATP dan sejumlah zat sisa metabolisme. Proses katabolisme secara umum
dapat dibedakan menjadi tiga tahap yaitu :

9
1. merupakan tahap pemecahan makromolekul ( karbohidrat, lemak, dan protein)
menjadi senyawa sederhana septi gula asam, lemak, gliserol dan asam amino.Tahap
ini terjadi selama proses pencernaan makanan, berlangsung di saluran pencernaan (
pada hewan yang tingkatnya lebih tinggi) atau di dalam sel ( pada hewan sederhana,
yang belum mempunyai pencernaan khusus).
2. merupakan tahap pemecahan senyawa sederhana menjadi asetil ko-A, yang berkaitan
erat dengan pembentukan ATP dan NADH dalam jumlah terbatas. Tahap ini antara
lain terjadi selama glikolisis, glikolisis islam proses pngubahan glukosa menjadi ada
piruvat yang berlangsung di dalam sitoplasma sel. Glikolisis tiap molekul glukosa
hanya menghasilkan 2 ATP.
3. merupakan tahap oksidasi asetil ko-A secara sempurna menjadi H2H2O dan CO2.
Proses ini melibatkan proses pembentukan NADH yang selanjutnya akan
menghasilkan ATP dalam jumlah lebih banyak melalui sistem transpor eelektron.
Tahap ini berlangsung dalam kondisi aerob sehingga ketersediaan oksigen mutlak
diperlukan, dan kekurangan oksigen dapat menggangu proses pembentukan ATP
 Respirasi seluler (respirasi aerob)
Respirasi Aerob, yaitu respirasi yang membutuhkan oksigen bebas, jadi oksigen
merupakan senyawa penerima hidrogen terakhir. Reaksi respirasi merupakan reaksi
katabolisme yang memecah molekul-molekul gula menjadi molekul anorganik berupa CO2
dan H2O. Tujuan respirasi adalah untuk mendapatkan energi melalui proses glikolisis.
glukosa fosfat akan dipecah menjadi piruvat dan masuk ke dalam siklus Krebs. Selama
glikolisis berlangsung dan dalam siklus Krebs akan dihasilkan gas CO2 yang akan
dikeluarkan dari dalam sel. Gas tersebut dengan berdifusi akan terkumpul dalam rongga-
rongga antarsel dan bila tekanan telah cukup akan keluar dari jaringan.

10
Respirasi seluler adalah proses perombakan molekul organik kompleks yang kaya
akan energi potensial menjadi produk limbah yang berenergi lebih rendah pada tingkat
seluler. Pada respirasi sel, oksigen terlibat sebagai reaktan bersama dengan bahan bakar
organik dan akan menghasilkan air, karbon dioksida, serta produk energi utamanya ATP.
ATP (adenosin trifosfat) memiliki energi untuk aktivitas sel seperti melakukan sintesis
biomolekul dari molekul pemula yang lebih kecil, menjalankan kerja mekanik seperti pada
kontraksi otot, dan mengangkut biomolekul atau ion melalui membran menuju daerah
berkonsentrasi lebih tinggi. Secara garis besar, respirasi sel melibatkan proses-proses sebagai
berikut:
a. Glikolisis
Kata glikolisis (glycolysis) berasal dari kata Gliko “gula” dan lisis “penguraian” yang
berarti “penguraian gula”. Bahan baku glikolisis adalah glukosa. Senyawa ini terdiri atas
molekul karbon, hydrogen, dan oksigen dengan rumus molekul C6H12O6.. Glukosa, sejenis
gula berkarbon-enam, dipecah menjadi dua gula berkarbon-tiga. Gula yang lebih kecil ini
kemudian dioksidasi dan atom-atom yang tersisa disusun ulang untuk membentuk dua
molekul piruvat. Proses ini bersifat anaerob (tidak membutuhkan oksigen bebas), akan tetapi
jika memang ada, energy kimia yang disimpan dalam piruvat dan NADH dapat diekstraksi
oleh siklus asam sitrat dan fosforalisasi oksidatif. Glikolisis berlangsung di sitosol.

11
 Tahap glikolisis
Urutan reaksi glikolisis dipisahkan menjadi dua fase, fase persiapan dan fase panen.
a) Tahap persiapan
Tahap persiapan adalah tahap di mana ada konsumsi ATP dan juga dikenal sebagai
fase investasi. Fase panen adalah di mana ATP dihasilkan. Lima langkah pertama dari reaksi
glikolisis dikenal sebagai fase persiapan atau investasi. Tahap ini mengkonsumsi energi untuk
mengubah molekul glukosa menjadi dua molekul molekul gula tiga-karbon.
 Langkah 1
Langkah satu dalam glikolisis adalah fosforilasi. Langkah ini Glukosa terfosforilasi
oleh enzim heksokinase. Dalam proses ini, molekul ATP dikonsumsi. Sebuah gugus fosfat
dari ATP ditransfer ke molekul glukosa untuk menghasilkan glukosa-6-fosfat.
Glukosa (C6H12O6) + Heksokinase + ATP → Glukosa-6-fosfat (C6H11O6P1) + ADP
 Langkah 2
Tahap kedua dari glikolisis merupakan reaksi isomerisasi. Dalam reaksi ini glukosa-6-
fosfat diatur ulang menjadi fruktosa-6-fosfat oleh isomerase fosfat enzim glukosa. Ini adalah
reaksi reversibel dalam kondisi normal sel.
Glukosa-6-fosfat (C6H11O6P1) + Phosphoglucoisomerase → Fruktosa-6-fosfat (C6H11O6P1)
 Langkah 3
Pada langkah ketiga glikolisis adalah reaksi fosforilasi. Pada langkah ini enzim
fosfofruktokinase yang mentransfer gugus fosfat untuk membentuk fruktosa 1,6-bifosfat.
Molekul ATP lain yang digunakan dalam langkah ini.
Fruktosa 6-fosfat (C6H11O6P1) + + ATP fosfofruktokinase → Fruktosa 1,6-bifosfat
(C6H10O6P2) + ADP
 Langkah 4
Langkah ini dalam glikolisis adalah langkah destabilisasi, di mana aksi enzim aldolase
memecah fruktosa 1,6-bifosfat menjadi dua gula. Gula ini isomer satu sama lain, mereka
adalah dihidroksiaseton fosfat dan gliseraldehida fosfat.
Fruktosa 1,6-bifosfat (C6H10O6P2) + aldolase → Dihidroksiaseton fosfat (C3H5O3P1) +
gliseraldehida fosfat (C3H5O3P1)
 Langkah 5
Langkah 5 glikolisis merupakan reaksi interkonversi. Di sini, enzim triose isomerase
fosfat interkonversi molekul fosfat dihidroksiaseton dan gliseraldehida fosfat.
Dihidroksiaseton fosfat (C3H5O3P1) → gliseraldehida fosfat (C3H5O3P1)

12
Langkah ini menandai akhir dari persiapan atau fase investasi glikolisis. Jadi pada akhir di
sini, molekul glukosa 6-karbon dibagi menjadi dua molekul tiga karbon dengan
mengorbankan molekul ATP.
 Tahap panen
Tahap kedua glikolisis dikenal sebagai fase panen dari glikolisis. Fase ini ditandai
dengan keuntungan dari molekul yang kaya energi ATP dan NADH.
 Langkah 6
Langkah glikolisis ini merupakan langkah dehidrogenasi. Enzim triose fosfat
dehidrogenase, dehydrogenates gliseraldehida 3-fosfat dan menambahkan fosfat anorganik
untuk membentuk 1,3- bifosfogliserat. Pertama, aksi enzim mentransfer sebuah H (hidrogen)
dari gliseraldehida fosfat ke + NAD yang merupakan agen pengoksidasi untuk membentuk
NADH. Enzim juga menambahkan fosfat anorganik dari sitosol ke gliseraldehida fosfat untuk
membentuk 1,3- bifosfogliserat. Reaksi ini terjadi dengan kedua molekul yang dihasilkan
pada langkah sebelumnya.
2 gliseraldehida fosfat (C3H5O3P1) + triose fosfat dehidrogenase + 2H- + 2P + 2NAD + →
dua 1,3- bifosfogliserat (C3H4O4P2) + + 2H + 2NADH
 Langkah 7
Langkah 7 glikolisis adalah langkah fosforilasi tingkat substrat, di mana enzim
phosphoglycerokinase mentransfer gugus fosfat dari 1,3- bifosfogliserat. Fosfat ditransfer ke
ADP untuk membentuk ATP. Proses ini menghasilkan dua molekul molekul 3-fosfogliserat
dan dua molekul ATP. Ada dua molekul ATP yang disintesis dalam langkah glikolisis ini.
2 molekul 1,3 bifosfogliserat (C3H4O4P2) + phosphoglycerokinase + 2 ADP → 2 molekul 3-
fosfogliserat (C3H5O4P1) + 2 ATP
 Langkah 8
Langkah glikolisis ini merupakan langkah mutase, terjadi di hadapan enzim mutase
fosfogliserat. Enzim ini merelokasi fosfat dari posisi karbon ketiga 3-fosfogliserat molekul ke
posisi karbon kedua, hasil dalam pembentukan ini 2-fosfogliserat.
2 molekul 3-fosfogliserat (C3H5O4P1) + fosfogliseratmutase → 2 molekul 2- fosfogliserat
(C3H5O4P1)
 Langkah 9
Langkah glikolisis ini adalah reaksi liase, yang terjadi dengan adanya enzim enolase.
Dalam reaksi ini enzim menghilangkan molekul air dari 2-fosfogliserat untuk membentuk
asam fosfoenolpiruvat (PEP)

13
2 molekul 2-fosfogliserat (C3H5O4P1) + enolase → 2 molekul asam fosfoenolpiruvat (PEP)
(C3H3O3P1) + H2O
 Langkah 10
Ini adalah tahap akhir dari glikolisis yang merupakan langkah fosforilasi tingkat-
substrat. Dalam kehadiran kinase enzim piruvat, ada transfer molekul fosfat bentuk molekul
fosfoenolpiruvat anorganik ke ADP untuk membentuk asam piruvat dan ATP. Reaksi ini
menghasilkan 2 molekul asam piruvat dan dua molekul ATP.
2 molekul PEP (C3H3O3P1) + piruvat kinase + 2 ADP→ 2 molekul asam piruvat (C3H4O3) +
2 ATP, Reaksi ini menandai akhir dari glikolisis, dengan ini menghasilkan dua molekul ATP
per molekul glukosa.
Enzim yang terlibat dalam glikolisis adalah sebagai berikut:

 Heksokinase: Heksokinase adalah enzim fosforilasi, ia bertindak pada gula 6-karbon


seperti galactose, fruktosa mannose, glukosa. Enzim ini membawa reaksi pada
langkah pertama glikolisis. Dalam aksi glukosa enzim ini diubah menjadi glukosa-6-
fosfat.
 Phoshphoglucoisomerase: Ini adalah enzim isomerisasi aldosa-ketose. Enzim
phoshpoglucoisomerase adalah enzim mengkatalisis reaksi isomerisasi pada langkah
kedua glikolisis, di mana glukosa 6-fosfat diubah menjadi fruktosa 6-fosfat.
 Phsophofructokinase: Enzim phsophorylates ini F ^ P menjadi fruktosa 1,6-bifosfat di
langkah ketiga glikolisis. Reaksi ini terjadi dengan mengorbankan molekul ATP.
 Aldolase: Enzim ini mengkatalisis langkah keempat jalur glikolisis. Enzim aldolase
membagi fruktosa 1,6 bispohsphate menjadi perantara dua molekul karbon,
gliseraldehida 3-fosfat dan dihidroksiaseton fosfat.
 Triose Phsophate Isomerase: Ini adalah enzim isomerisasi. Enzim ini mengkatalisis
langkah kelima glikolisis dimana DHAP yang isomerised ke gliseraldehida 3-fosfat.
 gliseraldehida dehidrogenase 3-fosfat: Enzim ini mengkatalisis langkah 6 glikolisis, di
mana G3P yang terfosforilasi dan teroksidasi menjadi 1,3 bifosfogliserat dan NAD +
direduksi menjadi NADH.
 fosfogliserat kinase: enzim ini mengkatalisis reaksi fosforilasi tingkat substrat. Dalam
reaksi ini kinase enzim fosfogliserat memfosforilasi ADP untuk menghasilkan 3-
fosfogliserat dan ATP.

14
 fosfogliserat mutase: Enzim ini mengkatalisis langkah kedelapan glikolisis. Ini adalah
reaksi mutasi di mana enzim mendukung pembentukan 3-fosfogliserat menjadi 2-
fosfogliserat.
 Enolase: Enzim ini membawa reaksi dehidrasi sederhana. Molekul 2-fosfogliserat
mengalami dehidrasi untuk membentuk fosfoenolpiruvat.
 Kinase piruvat: Enzim ini mengkatalisis langkah terakhir dari glikolisis. Ini adalah
reaksi fosforilasi tingkat substrat – di mana gugus fosfat dari fosfoenolpiruvat
ditransfer ke molekul ADP menghasilkan ATP kedua dari glikolisis dan piruvat.

b. Dekarboksilasi Oksidatif
Dekarboksilasi Oksidatif atau disingkat dengan DO adalah proses perubahan Piruvat
menjadi Asetilkoezim – A. Proses ini berlangsung karboksilasi Oksidatif ini di membran luar
mitocondria sebagai fase antara sebelum Siklus Krebs (Pra Siklus Krebs) sehingga DO sering
dimasukkan langsung dalam Siklus krebs. Reaksi oksidasi piruvat hasil glikolisis menjadi
asetil koenzim-A, merupakan tahap reaksi penghubung yang penting antara glikolisis dengan
jalur metabolisme lingkar asam trikarboksilat (daur Krebs). Reaksi yang diaktalisis oleh
kompleks piruvat dehidrogenase dalam matriks mitokondria melibatkan tiga macam enzim
(piruvat dehidrogenase, dihidrolipoil transasetilase, dan dihidrolipoil dehidrogenase), lima
macam koenzim (tiaminpirofosfat, asam lipoat, koenzim-A, flavin adenin dinukleotida, dan
nikotinamid adenine dinukleotida) dan berlangsung dalam lima tahap reaksi.
Reaksi ini merupakan jalan masuk utama karbohidrat kedalam daur Krebs. Tahap
reaksi pertama dikatalis oleh piruvat dehidrogenase yang menggunakan tiamin pirofosfat
sebagai koenzimnya. Dekarboksilasi piruvat menghasilkan senyawa α-hidroksietil yang
terkait pada gugus cincin tiazol dari tiamin pirofosfat.
Pada tahap reaksi kedua α-hidroksietil didehidrogenase menjadi asetil yang kemudian
dipindahkan dari tiamin pirofosfat ke atom S dari koenzim yang berikutnya, yaitu asam
lipoat, yang terikat pada enzim dihidrolipoil transasetilase.
Dalam hal ini gugus disulfida dari asam lipoat diubah menjadi bentuk reduksinya,
gugus sulfhidril. Pada tahap reaksi ketiga, gugus asetil dipindahkan dengan perantara enzim
dari gugus lipoil pada asam dihidrolipoat, kegugus tiol (sulfhidril pada koenzim-A).
Kemudian asetil ko-A dibebaskan dari sistem enzim kompleks piruvat
dehidrogenase. Pada tahap reaksi keempat gugus tiol pada gugus lipoil yang terikat pada
dihidrolipoil transasetilase dioksidasi kembali menjadi bentuk disulfidanya dengan enzim
dihidrolipoil dehidrogenase yang berikatan dengan FAD (flavin adenin dinukleotida).

15
Akhirnya (tahap reaksi kelima) FADH + (bentuk reduksi dari FAD) yang tetap terikat pada
enzim, dioksidasi kembali oleh NAD + (nikotinamid adenin dinukleotida) manjadi FAD,
sedangkan NAD + berubah menjadi NADH (bentuk reduksi dari NAD +).

c. Siklus Krebs
Proses ini pertama kali ditemukan oleh Sir Hans Adolf Krebs (1930). Siklus Krebs
disebut juga asam sitrat atau siklus asam trikarboksilat. Tahapan ini terjadi di matrik
mitokondria. Asetil ko-A direaksikan dengan asam oksaloasetat membentuk asam sitrat dan
membebaskan ko-A. Selanjutnya terjadi serangkaian reaksi kimia yang meregenerasi asam
sitrat kembali menjadi asam oksaloasetat, inilah yang membuat proses ini menjadi suatu
siklus.
 Tahap siklus Krebs:
 Tahap 1:
Asetil ko-A bereaksi dengan oksaloasetat dan menjadi sitrat dengan melibatkan enzim
sitrat sintase, reaksi berlangsung dengan terjadinya kondensasi asetil ko-A dengan
oksaloasetat dan membentuk sitril ko-A, kemudain sitril ko-A dihidrolisis menjadi sitrat dan
ko-A.
 Tahap 2:
Sitrat menjadi cis-sitrat dengan melibatkan enzim aconitase, yaitu dengan
menghidrolisis sitrat yang merupakan isomer dari isositrat dan menghasilkan cis-asositat
sebagai intermedietnya. Cis-aconitate menjadi isositrat, dalam reaksi ini juga melibatkan
enzim aconitase dengan saling menukarkan atom H dengan gugus OH dari tahap kedua di
atas.
 Tahap 3:
Terjadinya reaksi isositrat menjadi α-ketoglutarat dengan melibatkan enzim isositrat
dehidrogenase, melalui proses dekarboksilasi oksidatif dari isositrat menjadi oksalosuksinat
sebagai intermedietnya. Lalu CO2 meninggalkan oksalosuksinat yang kemudian berubah
menjadi α- ketoglutarat. Reaksi ini menghasilkan NADH.
 Tahap 4:
Suksinil ko-A menjadi suksinat yang melibatkan enzim suksinil ko-A sintase, dengan
reaksi fosforilasi ikatan thioester dari suksinil dan ko-A yang banyak energinya. Langkah ini
merupakan satu-satunya yang memberikan energi tinggi. GTP dihasilkan oleh beberapa
reaksi thioester dan fosforilasi dari GDP.

16
 Tahap 5:
Suksinat menjadi fumarat dengan melibatkan enzim suksinat dehidrogenase dengan
reaksi oksidasi dua atom hidrogen dari suksinat terlepas menuju penerima, FAD. Lalu reaksi
ini menghasilkan fumarat dan FADH2.
 Tahap 6:
Fumarat menjadi L-malat dengan melibatkan enzim Lmalase, dimana pada masuknya
H2O ke dalam fumarat yang kemudian menghasilkan L-malat.
 Tahap 7:
L-malat menjadi oksaloasetat dimana pada reaksi ini terjadi oksidasi malat yang
dihidrogenasi menjadi bentuk oksaloasetat denganakseptor NAD. Reaksi ini melibatkan
enzim malat dehidrogenase dan menghasilkan NADH2.
 Tahap 8:
Reaksi oksaloasetat dengan asetil ko-A menjadi sitrat dengan melibatkan enzim sitrat
sintase melalui reaksi kondensasi oksaloasetat dengan asetil ko-A menjadi sitril ko-A. Lalu
sitril ko-A dihidrolisis lagi menjadi sitrat dan ko-A.

Enzim yang terlibat dalam siklus krebs:


NO ENZIM PERANAN
1 Akonitase Mengubah asam sitrat menjadi asam isositrat
Asam isositrat Mengubah asam isositrat menjadi asam α
2
dehidrogenase ketoglutarat
Asam α ketoglutarat Mengubah asam α ketoglutarat menjadi asam suksinil
3
dehidrogenase CoA
4 Suksinat thiokinase Mengubah suksinil CoA menjadi Suksinat
5 Suksinat dehidrogenase Mengubah asam Suksinat menjadi fumarat
6 Fumarase Mengubah asam fumarat menjadi asam L-Malat
7 Asam malat dehidrogenase Mengubah asam L-malat menjadi oksaloasetat

17
d. Sistem Transpor Membran
Rantai transpor elektron adalah tahapan terakhir dari reaksi respirasi aerob. Transpor
elektron sering disebut juga sistem rantai respirasi atau sistem oksidasi terminal. Transpor
elektron berlangsung pada krista (membran dalam) dalam mitokondria maka kemudian STE
juga dikatakan Fosforilasi Oksidatif Molekul yang berperan penting dalam reaksi ini adalah
NADH dan FADH2, yang dihasilkan pada reaksi glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, dan
siklus Krebs. Dari Glikolisis 2 NADH, dari DO ada 2 NADH, dari Siklus Krebs 6 NADH dan
2 FADH2. Selain itu, molekul lain yang juga berperan adalah molekul oksigen, koenzim Q
(Ubiquinone), sitokrom b, sitokrom c, dan sitokrom a. NADH dan FADH ini berintegrasi
dengan O2 dan enzim sitokrom untuk menghasilkan air dan ATP. Setelah terintegrasi dengan
melepaskan ion H+ maka NAD dan FAD kembali ketempat asalnya untuk mengikat ion H+
lagi, 2 NAD kembali ke sitoplasma untuk menghanbil ion H+ pada proses glikolisis, 2 NAD
ke membran luar mitokondria untuk mengikat ion H+ pada peristiwa DO dan 6 NAD dan 2
FAD ke matriks mitokondria untuk mengikat ion H+ lagi.

18
Pertama-tama, NADH dan FADH2 mengalami oksidasi, dan elektron berenergi tinggi
yang berasal dari reaksi oksidasi ini ditransfer ke koenzim Q. Energi yang dihasilkan ketika
NADH dan FADH2 melepaskan elektronnya cukup besar untuk menyatukan ADP dan fosfat
anorganik menjadi ATP. Kemudian koenzim Q dioksidasi oleh sitokrom b. Selain
melepaskan elektron, koenzim Q juga melepaskan 2 ion H+. Setelah itu sitokrom b dioksidasi
oleh sitokrom c. Energi yang dihasilkan dari proses oksidasi sitokrom b oleh sitokrom c juga
menghasilkan cukup energi untuk menyatukan ADP dan fosfat anorganik menjadi ATP.
Kemudian sitokrom c mereduksi sitokrom a, dan ini merupakan akhir dari rantai transpor
elektron. Sitokrom a ini kemudian akan dioksidasi oleh sebuah atom oksigen, yang
merupakan zat yang paling elektronegatif dalam rantai tersebut, dan merupakan akseptor
terakhir elektron. Setelah menerima elektron dari sitokrom a, oksigen ini kemudian
bergabung dengan ion H+ yang dihasilkan dari oksidasi koenzim Q oleh sitokrom b
membentuk air (H2O). Oksidasi yang terakhir ini lagi-lagi menghasilkan energi yang cukup
besar untuk dapat menyatukan ADP dan gugus fosfat organik menjadi ATP.

Jadi, secara keseluruhan ada tiga tempat pada transpor elektron yang menghasilkan
ATP. Sejak reaksi glikolisis sampai siklus Krebs, telah dihasilkan NADH sebanyak 10 dan
FADH2 2 molekul. Dalam transpor elektron ini, kesepuluh molekul NADH dan kedua
molekul FADH2 tersebut mengalami oksidasi. Setiap oksidasi NADH menghasilkan kira-kira
3 ATP dan kira-kira 2 ATP untuk setiap oksidasi FADH2. Jadi, dalam transpor elektron
dihasilkan kira-kira 34 ATP. Ditambah dari hasil Glikolisis (2 ATP) dan siklus Krebs (2
ATP), maka secara keseluruhan reaksi respirasi seluler menghasilkan total 38 ATP. Jadi dari
satu molekul glukosa menghasilkan total 38 ATP. Akan tetapi, karena dibutuhkan 2 ATP
untuk melakukan transpor aktif, maka hasil bersih dari setiap respirasi seluler adalah 36 ATP.
 Respirasi anaerob
Respirasi anaerob adalah respirasi yang tidak menggunakan bantuan oksigen, namun
menggunakan glukosa sebagai substratnya. Disebut sebagai proses fermentasi dan terjadi di
sitoplasma.
Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa
oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi,
terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam
lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal. Gula adalah bahan yang
umum dalam fermentasi.

19
Dalam keadaan normal, respirasi seluler organisme dilakukan melalui proses
fosforilasi oksidatif yang memerlukan oksigen bebas. Sehingga hasil ATP respirasi sangat
tergantung pada pasokan oksigen yang cukup bagi selnya. Tanpa oksigen elektronegatif
untuk menarik electron pada rantai transport electron, fosforilasi oksidatif akan terhenti.
Akan tetapi, fermentasi memberikan suatu mekanisme sehingga sebagian sel dapat
mengoksidasi makanan dan menghasilkan ATP tanpa bantuan oksigen.
Contoh: Fermentasi asam laktat
Fermentasi asam laktat adalah respirasi yang terjadi pada sel hewan atau manusia,
ketika kebutuhan oksigen tidak tercukupi akibat bekerja terlalu berat. Respirasi anaerobik
dalam otot mamalia selama kerja yang keras (yang tidak memiliki akseptor elektron
eksternal), dapat dikategorikan sebagai bentuk fermentasi yang mengasilkan asam laktat
sebagai produk sampingannya. Akumulasi asam laktat inilah yang berperan dalam
menyebabkan rasa kelelahan pada otot. Laktat yang terakumulasi sebagai produk limbah
dapat menyebabkan otot letih dan nyeri, namun secara perlahan diangkut oleh darah ke hati
untuk diubah kembali menjadi piruvat.
Respirasi anaerob ini menghasilkan energi yang jauh lebih sedikit dibandingkan
dengan respirasi aerob. Jika respirasi aerob dapat menhasilkan 36 ATP, respirasi anaerob
hanya menghasilkan 2 ATP per satu molekul glukosa. Karena respirasi aerob menghasilkan
CO2 dan H2O sehingga disebut katabolisme sempurna. Sementara hasil dari fermentasi adalah
senyawa yang masih reduktif, sehingga pembakaran yang dihasilkan tidak optimum seperti
respirasi aerob.

20
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari materi tentang metabolisme yang telah diuraikan diatas maka dapat dimabil
kesimpulan dimana metabolisme merupakan suatu proses dimana terjadi
pembentukan atau penguraian zat di dalam sel yang yang disertai dengan adanya
perubahan energi. Proses metabolisme sangat penting bagi makhluk hidup,karena
melalui proses inilah makhluk hidup dapat memperoleh energi untuk bergerak dan
melakukan aktivitas kehidupan .
3.2 Saran
Semoga apa yang penulis paparkan diatas dapat bermanfaat bagi kita semua dapat
mempelajari dan mengapresiasikan kerja enzim yang snagat membantu dalam proses
metabolisme dalam tubuh kita ,dan dapat lebih meningkatkan kepedulian tubuh kita
dari serangan parasite yang menyerang dan menghalangi kerja normal dalam tubuh

21
Daftar pustaka

Campbell,Neil .2009.Biologi jilid 1 edisi delapan.jakarta : Erlangga

Toha. 2001. Biokimia, metabolisme biomolekul. Bandung : Alfabeta

Wirahadikusumah. 1985 .Metabolisme energy, karbohidrat dan lipid. Bandung : ITB

22