Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemandirian tingkah-laku adalah kemampuan santri untuk mengambil dan
melaksanakan keputusan secara bebas. Proses pengambilan dan pelaksanaan keputusan santri
yang biasa berlangsung di pesantren dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu keputusan yang
bersifat penting-monumental dan keputusan yang bersifat harian. Pada tulisan ini, keputusan
yang dimaksud adalah keputusan yang bersifat rutinitas harian.
Terkait dengan kebiasan santri yang bersifat rutinitas menunjukkan kecenderungan
santri lebih mampu dan berani dalam mengambil dan melaksanakan keputusan secara mandiri,
misalnya pengelolaan keuangan, perencanaan belanja, perencanaan aktivitas rutin, dan
sebagainya. Hal ini tidak lepas dari kehidupan mereka yang tidak tinggal bersama orangtua
mereka dan tuntutan pesantren yang menginginkan santri-santri dapat hidup dengan berdikari.
Santri dapat melakukan sharing kehidupan dengan teman-teman santri lainnya yang mayoritas
seusia (sebaya) yang pada dasarnya memiliki kecenderungan yang sama. Apabila kemandirian
tingkah-laku dikaitkan dengan rutinitas santri, maka kemungkinan santri memiliki tingkat
kemandirian yang tinggi.
Dikala mengelola sebuah negara dengan sistem tertutup dan penuh proteksi sudah tidak
bisa dipertahankan lagi, maka mengandalkan kemampuan sumberdaya manusia (SDM) dan
teknologi menjadi sebuah pilihan terbaik dalam meningkatkan daya saing dan kemajuan
bangsa. Dan untuk membangun sebuah negara yang berdaya saing diperlukan SDM yang
memiliki motivasi, karakter, jiwa, komitmen serta intelektualitas yang tinggi, khususnya dalam
menghadapi persaingan yang sangat ketat di era MEA saat ini.
Membangun kemampuan SDM yang memiliki sejumlah ciri di atas tidaklah segampang
membalik tangan, namun bisa ditempuh dalam beberapa cara diantaranya adalah pendidikan
dan pelatihan di sekolah formal maupun non formal termasuk pendidikan yang dilakukan oleh
sejumlah Pesantren di Indonesia. Dalam Pendidikan Pesantren, “santri” menjadi kunci utama
suksesnya upaya pesantren mencapai visi, misi dan tujuan pendidikan yang diselenggarakan.
Keberhasilan Pesantren dalam menciptakan sosok santri yang handal telah dibuktikan
keberhasilannya

1
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam pembahasan ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana pembentukan karakter seorang santri?
2. Apa peranan santri pembangunan bangsa?

C. Tujuan
Adapun tujuan dalam penyusunan ini adalah sebagai berikut:
1.Mengetahui tata cara pembentukan karakter seorang santri.
2. Memahami peranan santri dalam pembangunan bangsa

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tentang “santri” dan “Pondok Pesantren”


Kata “santri” menurut Nurcholish Madjid dapat dilihat dari “santri” yang berasal dari
perkataan“sastri”, bahasa Sanskerta yang artinya melek huruf. Dan dii sisi lain, Zamkhsyari
Dhofier mengatakan bahwa kata “santri” dapat diartikan buku-buku suci, buku-buku agama,
atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Dari Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata santri
mengandung beberapa pengertian, yaitu (a) orang saleh, orang yang beribadah dengan
sungguh-sungguh dan (b) yaitu “cantrik”, yang dalam bahasa jawa berarti seseorang yang
selalu mengikuti seorang guru kemana guru itu pergi. Sehingga menurut para ahli, pengertian
“santri” adalah panggilan untuk seseorang yang sedang menimba ilmu pendidikan agama
Islam selama kurun waktu tertentu dengan jalan menetap di sebuah pondok pesantren.
Kompetensi Santri tidak terlepas dari Pondok Pesantren tempat mereka menempa ilmu.
Tercatat di Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama bahwa jumlah santri pondok
pesantren di 34 provinsi di seluruh Indonesia, mencapai 3,65 juta yang tersebar di 25.000
pondok pesantren (Kemenag data 2011). Jumlah tersebut terus bertambahnya setiap tahun.
Jumlah santri ini merupakan potensi luar biasa dan dapat menghasilkan dampak besar bagi
pembangunan bangsa jika program dan kegiatan para santri dikelola dengan sistem yang baik.
Pondok Pesantren merupakan tempat dimana para santri belajar, sebagian masih menerapkan
pendidikan tradisional, namun banyak juga sudah menggunakan standard pendidikan modern,
sehingga tidak kalah bersaing dengan pendidikan yang ada di sekolah umum. Pendidikan di
lingkungan pondok pesantren sebagai salah satu ujung tombak bagi terlaksananya sistem
pendidikan agama Islam yang baik dan benar serta pencipta SDM dengan motivasi, jiwa
kepemimpinan, akhlak serta intelektual yang tinggi. Sudah terbukti bahwa Pondok pesantren
mampu melahirkan tokoh-tokoh Islam yang sukses, sehingga sistem pendidikan tidak perlu
dibedakan dengan sekolah umum karena memiliki tujuan yang sama yakni bagaimana
menciptakan kader pemimpin masa depan bangsa yang memiliki kepribadian yang luhur.
Sejarah perkembangan pesantren di Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan asal-mula
lahirnya pesantren yang terpengaruhi oleh sejarah Walisongo abad 15-16 masehi, sebagaimana
disampaikan oleh Abdurrachman Mas’ud yang antara lain memiliki ciri : (1) Orientasi
kehidupan (way of life) yang lebih mementingkan akhirat dari pada kehidupan dunia, (2)
Kepemimpinan (leadership) dari seorang tokoh yang karismatik, seperti kepemimpinan Nabi
Muhammad SAW dan Walisongo yang menjadi kiblat para santri sehingga kepemimpinan

3
yang bersifat paternalism dan patron-client relation yang sudah mengakar pada budaya Jawa,
(3) Misi Walisongo sebagai solution system yaitu selalu berusaha menerangkan, memperjelas
dan memecahkan persoalan masyarakat serta memberi model ideal bagi kehidupan sosial
masyarakat, (4) Menghilangkan dikotomi atau gap antara ulama dan rajaatau yang kita
kenal dengan istilah “Sabdo Pandito Ratu” dan (5) Mendidik dengan cara
sederhanasehingga mudah ditangkap dan dilaksakan.
Pendidikan di pondok pesantren secara umum adalah mewujudkan masyarakat
Indonesia yang memiliki tanggung Jawab tinggi dihadapan Allah sebagai khalifah sehingga
harus memiliki sikap, wawasan, pengamalan iman dan akhlakul karimah, tumbuh
kemerdekaan, demokratis, toleran dan menjunjung hak asasi manusia, berwawasan global yang
berdasarkan ketentuan dan tidak bertentangan dengan nilai dan norma Islam. Sedangkan misi
pendidikan pondok pesantren secara umum adalah menuju masyarakat madani, melalui
pendidikan yang otonom, luwes namun adaptif dan fleksibel. Proses pendidikan yang
dijalankan bersifat terbuka dan berorientasi kepada keperluan dan kepentingan bangsa,
diselenggarakan secara global, memiliki komitmen nasional dan bertindak secara lokal sesuai
dengan petunjuk Allah dan rasul-Nya menuju keungulan insan kamil.

B. Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren


Pesantren sebagai salah satu sub sistem Pendidikan Nasional yang indigenous
Indonesia, mempunyai keunggulan dan karakteristik khusus dalam mengaplikasikan
pendidikan karakter bagi anak didiknya (santri). Hal itu karena :
1. Adanya Jiwa dan Falsafah.
Pesantren mempunyai jiwa dan falsafah yang ditanamkan kepada anak didiknya. Jiwa
dan falsafah inilah yang akan menjamin kelangsungan sebuah lembaga pendidikan bahkan
menjadi motor penggeraknya menuju kemajuan di masa depan. Ada Panca Jiwa yang terdiri
dari :
a. Keikhlasan
b. Kesederhanaan
c. Kemandirian
d. Ukhuwah Islamiyah dan
e. Kebebasan dalam menentukan lapangan perjuangan dan kehidupan
Panca jiwa ini menjadi landasan ideal bagi semua gerak langkah pesantren.
Pesantren juga mempunyai falsafah yang menjadi mutiara hikmah bagi seluruh penghuni
pesantren. Diantaranya ada Falsaafah kelembagaan, seperti :

4
a. Pondok adalah lapangan perjuangan, bukan lapangan penghidupan.
b. Hidupilah Pondok, dan jangan menggantungkan hidup kepada Pondok.
c. Pondok adalah tempat ibadah dan thalabul ‘ilmi.
d. Pondok berdiri di atas dan untuk semua golongan.

Berikutnya adalah falsafah pendidikan, seperti :


a. Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dikerjakan oleh santri sehari-hari adalah
pendidikan
b. Hidup sekali, hiduplah yang berarti.
c. Berani hidup tak takut mati, takut mati, jangan hidup, takut hidup mati saja.
d. Berjasalah, tetapi jangan minta jasa.
e. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
f. Hanya orang penting yang tahu kepentingan, dan hanya pejuang yang tahu arti
perjuangan.

Sedang diantara falsafah pembelajarannya adalah :


a. Metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, jiwa guru
lebih penting daripada guru itu sendiri.
b. Pondok memberikan kail, tidak memberi ikan.
c. Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian.
d. Ilmu bukan untuk ilmu, tetapi ilmu untuk amal dan ibadah.

Terwujudnya Integralitas dalam Jiwa, Nilai, Sistem dan Standar Operasional Pelaksanaan.
Terciptanya integralitas yang solid pada jajaran para pendidik hingga anak didik, terhadap
pemahaman jiwa, nilai, visi, misi dan orientasi, sistem hingga standar operasional pelaksanaan
yang sama.
Transformasi nilai-nilai pendidikan pesantren yang berlangsung sepanjang tahun, melalui
berbagai sarana (lisan, tulisan perbuatan dan kenyataan), telah mampu memadukan seluruh
komponen pesantren dalam satu barisan. Sehingga tidak terjadi tarik-menarik kepentingan dan
orientasi antara satu pihak dengan lainnya. Semuanya melandasi gerak langkahnya dengan
bahasa keikhlasan, kesederhanaan, kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan untuk
menggapai ridha Allah. Semua mempunyai pengertian dan keterpanggilan akan
tanggungjawab untuk merealisasikan visi dan misi pendidikan pesantrennya. Semua
mempunyai keterikatan pada sistem hingga kultur yang sudah terbentuk di pesantren. Karena

5
mereka semua mempunyai kesadaran, keterpanggilan dan loyalitas baik kepada nilai, sistem
maupun pemimpin. Soliditas ini menumbuhkan kekuatan yang dahsyat dalam proses
pendidikan karakter di pesantren.

2. Terciptanya Tri Pusat Pendidikan yang Terpadu.


Keberhasilan pendidikan tidak terlepas dari tiga faktor yang saling menopang dan
mendukung, yaitu pendidikan sekolah, pendidikan keluarga dan pendidikan masyarakat, yang
semua itu harus mendapat dukungan dari Pemerintah. Bila di luar lingkungan pendidikan
pesantren hal ini sulit direalisasikan secara ideal dan optimal, alhamdulillah di pesantren, ketiga
faktor pendidikan ini dapat dipadukan. Para santri hidup bersama dalam asrama yang padat
kegiatan dan berdisiplin, dibawah bimbingan para guru dan pengasuh.
Integralitas Tri Pusat Pendidikan membantu terwujudnya integralitas kurikulum antara
intra, co dan ekstra kurikuler yang saling menguatkan. Juga mewujudkan Integralitas ilmu
pengatahuan, antara ilmu agama dan pengetahuan umum yang tidak terdikotomikan, serta
menciptakan integralitas antara ilmu dan amal dalam kehidupan.

3. Totalitas Pendidikan.
Pesantren menerapkan totalitas pendidikan dengan mengandalkan keteladanan, penciptaan
lingkungan dan pembiasaan melalui berbagai tugas dan kegiatan. Sehingga seluruh apa yang
dilihat, didengar, dirasakan dan dikerjakan oleh santri adalah pendidikan. Selain menjadikan
keteladanan sebagai metode pendidikan utama, penciptaan miliu juga sangat penting.
Lingkungan pendidikan itulah yang ikut mendidik. Penciptaan lingkungan dilakukan melalui :
a. Penugasan
b. Pembiasaan
c. Pelatihan
d. Pengajaran
e. Pengarahan
f. serta keteladanan.
Semuanya mempunyai pengaruh yang tidak kecil dalam pembentukan karakter anak
didik. Pemberian tugas tersebut disertai pemahaman akan dasar-dasar filosofisnya, sehingga
anak didik akan mengerjakan berbagai macam tugas dengan kesadaran dan keterpanggilan.
Setiap kegiatan mengandung unsur-unsur pendidikan, sebagai contoh dalam kegiatan
kepramukaan, terdapat pendidikan kesederhanaan, kemandirian, kesetiakawanan dan
kebersamaan, kecintaan pada lingkungan dan kepemimpinan. Dalam kegiatan olahraga
6
terdapat pendidikan kesehatan jasmani, penanaman sportivitas, kerja sama (team work) dan
kegigihan untuk berusaha.
Pengaturan kegiatan dalam pendidikan Pesantren ditangani oleh Organisasi Pelajar
yang terbagi dalam banyak bagian, sepertti bagian Ketua, Sekretaris, Bendahara, Keamanan,
Pengajaran, Penerangan, Koperasi Pelajar, Koperasi Dapur, Kantin Pelajar, Bersih Lingkunan,
Pertamanan, Kesenian, Ketrampilan, Olahraga, Penggerak Bahasa, dll.
Kegiatan Kepramukaan juga ditangani oleh Koordinator Gerakan Pramuka dengan
beberapa andalan; Ketua Koordinator Kepramukaan, Andalan koordinator urusan
kesekretariatan, Andalan koordinator urusan keuangan, Andalan koordinator urusan latihan,
Andalan koordinator urusan perpustakaan, Andalan koordinator urusan perlengkapan, Andalan
koordinator urusan kedai pramuka, dan Pembina gugus depan.
Pendidikan organisasi ini sekaligus untuk kaderisasi kepemimpinan melalui pendidikan
self government. Sementara itu pada level asrama ada organisasi sendiri, terdiri dari ketua
asrama, bagian keamanan, penggerak bahasa, kesehatan, bendahara dan ketua kamar. Setiap
club olah raga dan kesenian juga mempunyai struktur organisasi sendiri, sebagaimana konsulat
(kelompok wilayah asal santri) juga dibentuk struktur keorganisasian. Seluruh kegiatan yang
ditangani organisasi pelajar ini dikawal dan dibimbing oleh para senior mereka yang terdiri
dari para guru staf pembantu pengasuhan santri, dengan dukungan guru-guru senior yang
menjadi pembimbing masing-masing kegiatan. Secara langsung kegiatan pengasuhan santri ini
diasuh oleh Bapak Pimpinan Pondok yang sekaligus sebagai Pengasuh Pondok.
Pengawalan secara rapat, berjenjang dan berlapis-lapis ini dilakukan oleh para santri
senior dan guru, dengan menjalankan tugas pengawalan dan pembinaan, sebenarnya mereka
juga sedang melalui sebuah proses pendidikan kepemimpinan, karena semua santri, terutama
santri senior dan guru adalah kader yang sedang menempuh pendidikan. Pimpinan Pondok
membina mereka melalui berbagai macam pendekatan;
1. Pendekatan program
2. Pendekatan manusiawi (personal) dan
3. Pendekatan idealisme.
Mereka juga dibina, dibimbing, disupport, diarahkan, dikawal, dievaluasi dan
ditingkatkan. Demikianlah pendidikan karakter yang diterapkan Pondok Modern Gontor
melalui berbagai macam kegiatannya. Kegiatan yang padat dan banyak akan menumbuhkan
dinamika, dinamika yang tinggi akan membentuk militansi dan militansi yang kuat akan
menimbulkan etos kerja dan produktivitas. Pada akhirnya anak didik akan mempunyai
kepribadian yang dinamis, aktif, dan produktif dalam segala kebaikan.

7
C. Kondisi Empiris Saat Ini.
Suatu kenyataan yang terjadi dihadapan kita tentang berbagai penangkapan yang
dilakukan oleh aparat penegak hukum akibat kasus narkoba, korupsi, kolusi, kenakalan remaja
dan pemuda serta kejahatan lain di Indonesia, membuat kita prihatin dan miris, seolah sudah
tidak ada lagi kejujuran, kepercayaan dan keterbukaan lagi di negeri ini. Maraknya kasus
tersebut membuat pemerintah membangun sejumlah institusi yang bergerak dibidang
investigasi dan audit seperti KPK, BPK, BPKP serta perangkat lainnya yang melekat di
Institusi, bahkan wistleblower juga digalakkan dan didorong untuk mengantisipasi agar kasus-
kasus tersebut dapat dicegah dan ditanggulangi dengan baik, termasuk Program Revolusi
Mental juga telah dengan tegas menjadi salah satu system pola pencegahan berbagai kasus di
atas. Sejumlah pelakupun telah disidang dan dihukum. Namun kasus-kasus serupa masih
marak terjadi sampai sekarang, seolah tidak ada rem yang dapat dipakai untuk menghambat
laju pertumbuhannya. Pertanyaan yang tidak pernah dapat dijawab hingga saat ini adalah :
Apakah yang menjadi akar masalah atas kasus yang terjadi tersebut ??.

D. Metode Pesantren Dalam Membentuk Perilaku Santri


Perilaku merupakan seperangkat perbuatan/tindakan seseorang dalam merespon sesuatu
dan kemudian dijadikan kebiasaan karena adanya nilai yang diyakini. Perilaku manusia pada
dasarnya terdiri dari komponen pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan
(psikomotor) atau tindakan. Perilaku menunjukkan wajah kepribadian seorang manusia.
Mereka terdiri dari kebiasaan-kebiasaan yang berulang secara tetap pada setiap waktu dan
tempat. Kebiasaan-kebiasaan ini tidak terbentuk satu kali jadi. Juga bukan bawaan sejak lahir,
tetapi merupakan suatu kebiasaan yang terbentuk dari waktu ke waktu. Ia harus dilatih berulang
kali hingga nanti tergerak otomatis. Para ahli mengatakan, ‘pertama-tama kau membentuk
kebiasaan, setelah itu kebiasaanmu yang akan membentuk engkau.’
Perbuatan seseorang atau respon seseorang terhadap rangsang yang datang, didasari
oleh seberapa jauh pengetahuannya terhadap rangsang tersebut, bagaimana perasaan dan
penerimaannya berupa sikap terhadap obyek rangsang tersebut, dan seberapa besar
keterampilannya dalam melaksanakan atau melakukan perbuatan yang diharapkan.
Bagi pesantren setidaknya ada 6 metode yang diterapkan dalam membentuk perilaku
santri, yakni ; 1) Metode Keteladanan (Uswah Hasanah); 2) Latihan dan Pembiasaan (tadrib) ;
3) Mengambil Pelajaran (ibrah); 4) Nasehat (mauidzah); 5) Kedisiplinan; 6) Pujian dan
Hukuman (targhib wa tahzib)

8
1. Metode Keteladanan
Secara psikologis, manusia sangat memerlukan keteladanan untuk mengembangkan
sifat-sifat dan potensinya. Pendidikan perilaku lewat keteladana adalah pendidikan dengan cara
memberikan contoh-contoh kongkrit bagi para santri. Dalam pesantren, pemberian contoh
keteladanan sangat ditekankan. Pimpinan dan ustadz harus senantiasa memberikan uswah yang
baik bagi para santri, dalam ibadah-ibadah ritual, kehidupan sehari-hari maupun yang lain,
karena nilai mereka ditentukan dari aktualisasinya terhadap apa yang disampaikan. Semakin
konsekuen seorang pimpinan atau ustadz menjaga tingkah lakunya, semakin didengar
ajarannya.
2. Metode Latihan dan Pembiasaan
Mendidik perilaku dengan latihan dan pembiaasaan adalah mendidik dengan cara
memberikan latihan-latihan terhadap norma-norma kemudian membiasakan santri untuk
melakukannya. Dalam pendidikan di pesantren metode ini biasanya akan diterapkan pada
ibadah-ibadah amaliyah, seperti shalat berjamaah, kesopanan pada pimpinan dan ustadz.
Pergaulan dengan sesama santri dan sejenisnya. Sedemikian, sehingga tidak asing di pesantren
dijumpai, bagaimana santri sangat hormat pada ustadz dan kakak-kakak seniornya dan begitu
santunnya pada adik-adik pada junior, mereka memang dilatih dan dibiasakan untuk bertindak
demikian.
Latihan dan pembiasaan ini pada akhirnya akan menjadi akhlak yang terpatri dalam diri
dan menjadi yang tidak terpisahkan. Al-Ghazali menyatakan :
"Sesungguhnya perilaku manusia menjadi kuat dengan seringnnya dilakukan perbuatan yang
sesuai dengannya, disertai ketaatan dan keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah baik
dan diridhai".
3. Mendidik melalui ibrah (mengambil pelajaran)
Secara sederhana, ibrah berarti merenungkan dan memikirkan, dalam arti umum bisanya
dimaknakan dengan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Abd. Rahman al-Nahlawi,
seorang tokoh pendidikan asal timur tengah, mendefisikan ibrah dengan suatu kondisi psikis
yang manyampaikan manusia untuk mengetahui intisari suatu perkara yang disaksikan,
diperhatikan, diinduksikan, ditimbang-timbang, diukur dan diputuskan secara nalar, sehingga
kesimpulannya dapam mempengaruhi hati untuk tunduk kepadanya, lalu mendorongnya
kepada perilaku yang sesuai. Adapun pengambilan ibrah bisa dilakukan melalui kisah-kisah
teladan, fenomena alam atau peristiwa-peristiwa yang terjadi, baik di masa lalu maupun
sekarang.

9
4. Mendidik melalui mau’idzah (nasehat)
Mau’idzah berarti nasehat. Rasyid Ridla mengartikan mauidzah sebagai berikut.
”Mau’idzah adalah nasehat peringatan atas kebaikan dan kebenaran dengan jalan apa yang
dapat menyentuh hanti dan membangkitkannya untuk mengamalkan”.
Metode mau’idzah, harus mengandung tiga unsur, yakni :
a. Uraian tentang kebaikan dan kebenaran yang harus dilakukan oleh seseorang, dalam
hal ini santri, misalnya tentang sopan santun, harus berjamaah maupun kerajinan
dalam beramal;
b. Motivasi dalam melakukan kebaikan;
c. Peringatan tentang dosa atau bahaya yang bakal muncul dari adanya larangan bagi
dirinya sendiri maupun orang lain.
5. Mendidik melalui kedisiplinan
Dalam ilmu pendidikan, kedisiplinan dikenal sebagai cara menjaga kelangsungan
kegiatan pendidikan. Metode ini identik dengan pemberian hukuman atau sangsi. Tujuannya
untuk menumbuhkan kesadaran siswa bahwa apa yang dilakukan tersebut tidak benar, sehingga
ia tidak mengulanginya lagi.
Pembentukan lewat kedisiplinan ini memerlukan ketegasan dan kebijaksanaan.
Ketegasan mengharuskan seorang pendidik memberikan sangsi bagi pelanggar, sementara
kebijaksanaan mengharuskan sang pendidik sang pendidik berbuat adil dan arif dalam
memberikan sangsi, tidak terbawa emosi atau dorongan lain. Dengan demikian sebelum
menjatuhkan sangsi, seorang pendidik harus memperhatikan beberapa hal berikut :
a. Perlu adanya bukti yang kuat tentang adanya tindak pelanggaran;
b. Hukuman harus bersifat mendidik, bukan sekedar memberi kepuasan atau balas
dendam dari si pendidik;
c. Harus mempertimbangkan latar belakang dan kondisi siswa yang melanggar,
misalnya frekuensinya pelanggaran, perbedaan jenis kelamin atau jenis pelanggaran
disengaja atau tidak.
Di pesantren, hukuman ini dikenal dengan istilah takzir. Takzir adalah hukuman yang
dijatuhkan pada santri yang melanggar. Hukuman yang terberat adalah dikeluarkan dari
pesantren. Hukuman ini diberikan kepada santri yang telah berulang kali melakukan
pelanggaran, seolah tidak bisa diperbaiki. Juga diberikan kepada santri yang melanggar dengan
pelanggaran berat yang mencoreng nama baik pesantren.

10
6. Mendidik melalui targhib wa tahzib
Terdiri atas dua metode sekaligus yang berkaitan satu sama lain; targhib dan tahzib.
Targhib adalah janji disertai dengan bujukan agar seseorang senang melakukan kebajikan dan
menjauhi kejahatan. Tahzib adalah ancaman untuk menimbulkan rasa takut berbuat tidak
benar. Tekanan metode targhib terletak pada harapan untuk melakukan kebajikan, sementara
tekanan metode tahzib terletak pada upaya menjauhi kejahatan atau dosa.
Meski demikian metode ini tidak sama pada metode hadiah dan hukuman. Perbedaan
terletak pada akar pengambilan materi dan tujuan yang hendak dicapai. Targhib dan tahzib
berakar pada Tuhan (ajaran agama) yang tujuannya memantapkan rasa keagamaan dan
membangkitkan sifat rabbaniyah, tanpa terikat waktu dan tempat. Adapun metode hadiah dan
hukuman berpijak pada hukum rasio (hukum akal) yang sempit (duniawi) yang tujuannya
masih terikat ruang dan waktu. Di pesantren, metode ini biasanya diterapkan dalam pengajian-
pengajian, baik sorogan maupun bandongan.
7. Mendidik melalui kemandirian
Kemandirian tingkah-laku adalah kemampuan santri untuk mengambil dan
melaksanakan keputusan secara bebas. Proses pengambilan dan pelaksanaan keputusan santri
yang biasa berlangsung di pesantren dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu keputusan yang
bersifat penting-monumental dan keputusan yang bersifat harian. Pada tulisan ini, keputusan
yang dimaksud adalah keputusan yang bersifat rutinitas harian.
Terkait dengan kebiasan santri yang bersifat rutinitas menunjukkan kecenderungan
santri lebih mampu dan berani dalam mengambil dan melaksanakan keputusan secara mandiri,
misalnya pengelolaan keuangan, perencanaan belanja, perencanaan aktivitas rutin, dan
sebagainya. Hal ini tidak lepas dari kehidupan mereka yang tidak tinggal bersama orangtua
mereka dan tuntutan pesantren yang menginginkan santri-santri dapat hidup dengan berdikari.
Santri dapat melakukan sharing kehidupan dengan teman-teman santri lainnya yang mayoritas
seusia (sebaya) yang pada dasarnya memiliki kecenderungan yang sama. Apabila kemandirian
tingkah-laku dikaitkan dengan rutinitas santri, maka kemungkinan santri memiliki tingkat
kemandirian yang tinggi.

E. Peran Ustad Dalam Proses Identifikasi Santri


Sebelum menguraikan kedudukan (peran) ustad di pesantren, terlebih dahulu penulis
uraikan pengertian ustad. Sebenarnya, kata “ustadz” berasal dari ajami (non-arab), persisnya
bahasa Persia (Iran). Ustad berarti; da'i, mubaligh, penceramah, guru ngaji Quran, guru

11
madrasah diniyah, guru ngaji kitab di pesantren, pengasuh/pimpinan pesantren; orang yang
memiliki kemampuan ilmu agama dan bersikap serta berpakaian layaknya orang alim.
Orangtua memasukkan anaknya ke pondok pesantren biasanya disertai dengan harapan
agar si anak mempunyai ilmu agama yang bagus, berakhlak mulia dan memahami hukum-
hukum Islam. Selama ini tidak ada kekhawatiran bahwa dengan menuntut ilmu di pesantren
akan menjauhkan kasih-sayang orangtua terhadap anak. Anak yang tinggal di pondok
pesantren dalam waktu cukup lama tetap bisa beridentifikasi kepada kedua orangtuanya.
Dengan menjalin komunikasi secara intens dan teratur diharapkan anak tidak akan kehilangan
figur orangtua.
Seperti kita ketahui bahwa sumber identifikasi seorang anak tidak hanya kedua
orangtuanya, tetapi bisa juga kepada figur-figur tertentu yang dianggap dekat dan memiliki
pengaruh besar bagi anak. Keberadaan pimpinan, pembimbing, ustad maupun teman sebaya
juga bisa mempengaruhi pembentukan kepribadian anak.
Kelebihan inilah yang dimiliki pesantren sebagai lembaga pendidikan. Dengan segala
keterbatasannya pesantren mampu menampilkan diri sebagai lembaga pembelajaran yang
berlangsung terus-menerus hampir 24 jam sehari. Aktivitas dan interaksi pembelajaran
berlangsung secara terpadu yang memadukan antara suasana keguruan dan kekeluargaan.
Pimpinan sebagai figur sentral di pesantren dapat memainkan peran yang sangat penting dan
strategis yang menentukan perkembangan santri dan pesantrennya. Kepribadian pimpinan yang
kuat, kedalaman pemahaman dan pengalaman keagamaan yang mendalam menjadi jaminan
seseorang dalam menentukan pesantren pilihannya.
Berdasarkan pertimbangan di atas, santri mengidentifikasi pimpinan/ustad sebagai figur
yang penuh kharisma dan wakil atau pengganti orang-tua. Proses sosialisasi dan interaksi yang
berlangsung di pesantren memungkinkan santri melakukan imitasi terhadap sikap dan tingkah-
laku ustad. Santri juga dapat mengidentifikasi ustad sebagai figur ideal sebagai penyambung
silsilah keilmuan para ulama pewaris ilmu masa kejayaan Islam di masa lalu.
Pimpinan atau ustad di pesantren bisa menempatkan diri dalam dua karakter, yaitu sebagai
model dan sebagai terapis. Sebagai model, ustad adalah panutan dalam setiap tingkah-laku dan
tindak-tanduknya. Bagi anak usia 7-12 tahun hal ini mutlak dibutuhkan karena ustad adalah
pengganti orangtua yang tinggal di tempat yang berbeda. Dalam pesantren dengan jumlah
santri yang banyak diperlukan jumlah ustad yang bisa mengimbangi banyaknya santri sehingga
setiap santri akan mendapatkan perhatian penuh dari seorang ustad. Jika rasio keberadaan santri
dan ustad tidak seimbang, maka dikhawatirkan ada santri-santri yang lolos dari pengawasan
dan mengambil orang yang tidak tepat sebagai model.

12
Sebagai terapis, pimpinan atau ustad memiliki pengaruh terhadap kepribadian dan tingkah-
laku sosial santri. Semakin intensif seorang ustad terlibat dengan santrinya semakin besar
pengaruh yang bisa diberikan. Ustad bisa menjadi agen kekuatan dalam mengubah perilaku
dari yang tidak diinginkan menjadi perilaku tertentu yang diinginkan. Akan sangat bagus jika
anak dapat belajar dari sumber yang bervariasi, dibandingkan hanya belajar dari sumber
tunggal.

F. Pembentukan Kepribadian Santri


Kepribadian seseorang tidak tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, akan tetapi
harus dibentuk dan dipengaruhi oleh pendidikan dan lingkungan ke arah tujuan yang sesuai
dengan kepribadian yang diinginkan. Oleh karena itu perlu proses yang disebut dengan
pembentukan kepribadian. Pembentukan kepribadian ini dijadikan etika dan metode
pembelajaran sehingga tercapai sebuah tujuan pembelajaran yang ditentukan yaitu kepribadian
kesantrian pula. Di sini ada perbedaan antara pembentukan kepribadian santri dalam proses
motivasi dengan kepribadian santri yang sudah menjadi tabiat watak yang menjadi tujuan
pembelajaran.
Menurut kitab Ta’lîm al-Muta’allim pembentuk kepribadian adalah beberapa faktor
berikut :
a. Santri (al-muta’allim),
b. Guru (al-Ustadz) dan
c. Bapak (al-Abu) (Ibrahim bin Ismail : 21).
d. Teman (al-Syarîk ) (Ibid : 15-16)
Syeikh al-Zarnujî menomorsatukan faktor santri, karena meskipun ia menjadi obyek
pendidikan yang harus dibentuk kepribadiannya, namun santri harus proaktif dalam usha
pembentukan kepribadian tersebut, karena pada dasarnya santri sebagai anak sudah
mempunyai potensi fithrah Islamiah sejak dilahirkan. Di sini berarti al-Zarnujî sangat
menghargai potensi santri, santri tidak dianggap sebagai benda mati, tetapi makhluk hidup yang
berpontensi dan dapat berbuat dan berkembang sesuai dengan pengembang di sekelingnya.
Segala etika dan metode pembelajaran selalu diarahkan kepada santri atau pencari ilmu,
misalnya santri hendaknya mempunyai niat yang baik dalam mencari ilmu yakni mencari rida
Allah, tekun dan ulet tahan, membawa pena di mana saja untuk mencatat ilmu.
Pesantren adalah merupakan kelanjutan pendidikan si anak didik yang telah diawali
dari orang tua dalam keluarga. Komunmitas pesantren terdiri dari santri, guru (ustadz) dan
Kyai. Para ustdaz dan Kyai inilah yang menjadi orang tua santri di dalam pesantren bahkan

13
disebut lebih tinggi yakni bapak dalam agama. Hubungan antara Kyai, Ustadz dan santri
seperti hubungan antar keluarga yang saling menyayangi dan menghormati. Di samping itu
lingkungan pesantren adalah lingkungan religius yang dapat menggabungkan antara ilmu
teoritis dan pragmatis. Anak-anak santri dalam pesantren terbina dengan pendidikan yang
optimal dan lingkungan yang sangat mendukung.
Kitab Ta’lîm di atas menyebutkan faktor lingkungan teman atau bermasyarakat
sebagaimana dalam pendidikan modern, bahklan beliau sangat mengutamakan dalam bab
tersendiri yang disebut sebagai al-Syarîk = sekutu, rekanan, teman persekutuan. Interpretasi
kata tersebut oleh Dr. Ahmad Syalabi mengingat suatu kemanfaatan bersama yang
menghubungkan teman dengan teman dan mengingat pula bahwa kerja sama antar mereka
menghasilkan berbagai kebaikan untuk mereka bersama. Sebagaimana yang terjadi antara dua
orang berserikat dalam suatu perdagangan atau usaha-usaha keuangan lainya. Karena kerja
sama dan keikhlasan masing-masing pihak terhadap lainnya akan mendatangkan laba yang
banyak bagi mereka bersama dan mempunyai pengaruh yang besar untuk memasukkan tujuan
bersama yang diusahakan mencapainmya oleh mereka berdua. (Ahmad Syalabi : 315).
Dengan demikian al-Zarnujî sudah meletakkan sejak awal pembentuk kepribadian atau
pengaruh dalam pendidikan ada tiga faktor sebagaimana dalam pendidikan modern yaitu ;
santri atau murid itu sendiri, guru berarti lingkungan sekolah, orang tua lingkungan rumah
tangga dan masyarakat yakni teman pergaulan.
Kepribadian santri adalah tujuan akhir pendidikan kitab Ta’lîm al-Muta’allim
sedangkan tujuan pendidikan di pesantren pada umumnya lebih mementingkan pendidikan
akhlak. Oleh karena itu segala upaya dan usaha pesantren pada umumnya diarahkan untuk
membentuk kepribadian kesantrian. Kepribadian dalam proses pembentukannya dapat
berlanjut dengan baik asal ada kontinuitas pendidikan yanmg dialami individu dalam
kehidupan yang membawa kontinuitas perobahan kepribadian. Kepribadian itu secara
kontinuitas mengalami proses pembentukan sampai kepada tingkat kedewasaan yang stabil.
Itupun kemungkinan besar masih akan mengalami perobahan hanya agak lamban, sehingga
kepribadian yang diperoleh bentuknya seolah-olah tidak berobah lagi.
Kemudian aspek-aspek kepribadian yang meliputi aspek jasmani, aspek rohani dan
jasmani masing-masing mempunyai potensi. Aspek jasmani, meliputi seluruh tenaga yang
bersumber pada pisik dibentuk oleh tenaga jasmani. Aspek nafsani meliputi karsa, rasa dan
cipta dibentuk oleh tenaga nmafsani. Sedang aspek rohani yang luhur dibentuk oleh tenaga
budhi.

14
Ada tiga proses pembentukan kepribadian santri, yaitu sebagai berikut :
a. Pengulangan dan Pembiasaan
Dalam pembiasaan al-Zarnujî menggunakan teori pengulangan (trail and eror).
Menurutnya, jika pelajaran pertama yang diajarkan itu memerlukan waktu yang lama dan
santri memerlukan pengulangan 10 kali, maka sampai akhirpun demikian sehingga menjadi
kebiasaan. Pembiasaan seperti itu akan sulit dihilangkan kecuali dengan susah payah.
Dikatakan, bahwa pelajaran satu huruf pengulangannya 1000 kali.( Ibrahim Ismail/tth. : 28)
Pembiasaan membentuk aspek kejasmaniahan dari kepribadian atau kecakapan berbuat
dan mengucapkan sesuatu dengan dibantu tenaga-tenaga nafsani. Pembiasaan adalah salah
satu alat pendidikan untuk membentuk kepribadian yang dinginkan. Misalnya pembiasaan
melaksanakan salat sejak kecil, pembiasaan hormat kepada guru, pembiasaan berkata jujur dan
lain-lain.
Sidi Gazalba menjelaskan, pendidikan adalah proses yang kontinu. Ia merupakan
pengulangan yang perlahan-lahan tetapi serba terus sehingga sampai pada bentuk yang
diingini. Laksana tetesan air yang serba terus menitik akhirnya membolongi batu, demikianlah
misal dari proses aspek pendidikan (Sidi Gazalba : 15)
Dengan pembiasaan yang kontinu pribadi santri yang sekeras apapun lambat laun akan
dapat diukir sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh pendidik. Pengulangn yang
ditawarkan oleh kitab Ta’lîm al-Muta’allim tidak tanggung-tanggung satu huruf diulang
sampai 1000 kali. Ini ungkapan yang menunjukkan betapa pentingnya pengulangan yang tidak
ada bosan, atau diartikan banyak kali.
b. Pembentukan kognisi
Nilai-nilai kepribadian santri yang ditanamkan akan membentuk pengertian (kognisi),
minat dan sikap melalui pengajaran, ceramah, konsultasi pribadi dan lain-lain. Misalnya cinta
dan taat kepada Allah, Rasul, Kyai, ulama,. guru dan para pimpinan, cinta ilmu, ikhlas dalam
pengabdian, wara’ (memelihara diri dari haram), tawadhu’ (merendahkan hati), menjauhi
sifat-sifat tercela dan lain-lain.
Pembentukan kognisi sesuatu yang berproses yang berlaku pada seseorang dengan
memberikan interpretasi pada miliau. Samuel Soeitoe mengatakan, bahwa hendakanya anak
dikenalkan beraneka ragam pengertian melalui proses kognisi. Perkembangan kepribadian
pada anak dipengaruhi oleh pengertian-pengertian yang dikuasai oleh anak. (Samue Soeitoe,
1982 : 54)
Dalam membentuk pengertian, minat dan sikap mengenai dasar dan pokok sebagaimana
dalam kitab Ta’lîm al-Muta’allim tersebut, perlu diperhatikan bahwa manusia yang ingin

15
dibentuk adalah manusia secara keseluruhan melalui tenaga-tenaga aspek kepribadian.
Dengan mempergunakan akal pikiran dapat ditanamkan pengertian ikhlas dan lain sebagainya
yang akan membentuk sikap dan pandangan seorang santri. Sedangkan pembentukan aspek
nafsani dengan mempergunakan tenag-tenaga karsa, rasa dan cipta yaitu dengan memberi
pengertian dan poengetahuan tentang amalan-amalan dan ucapan-ucapan yang biasa
dilakukan oleh para santri dan penanaman dasar-dasar kesusilaan serta pokok-pokok
kepercayaan.
c. Pembentukan rohani
Pembentukan rohani adalah dengan memperbanyak dzikir, misalnya wirid, dzikir dan
berdo’a setelah salat wajib, melanggengkan wudhu, dalam keadaan bersuci dari hadats ketika
mudzakarah, membaca kitab dan lain-lain (Ibrahim Ismail : 45-47). Alat utama untuk
membentuk kerohaniahan adalah budhi dibantu oleh tenaga-tenaga kejiwaan yang akan
menghasilkan adanya kesadaran dan pengertian yang dalam. Segala pemikiran, pemilihan dan
keputusan didasarkan pada kesadaran dan keinsyafan sendiri.
Ahmad D Marimba mengemukakan, bahwa budhi adalah inti tenaga dalam taraf
pembentukan ini dan budhi pulalah justru yang dibentuk dalam taraf ini. Budhi yang telah
dapat bekerja dengan baik akan mendapat pengaruh-pengaruh dari alam ghaib, dari alam jin
mukminm, dari alam malakût dan lâhût. (Ahmad D Marimba/1974 : 86-87)
Lingkungan pesantren sangat mendukung pembentukan rohani ini, karena suasana
relegius karena kesatuan sistem pendidikannya dari madrasah, asrama dan masjid. Para santri
melaksanakan segala aktifitas di pesantren seperti air mengalir artinya sangat mudah
beraktifitas karena terbawa oleh kingkungan di sekitarnya, seperti shalat berjamaah, dzikir
setelah shalat, mengaji kitab dari waktu ke waktu, mengaji al-Qur’an daln lain-lain. Suasana
ini sangat mendukung dalam membentuk dan memperbaharui iman dan pembentukan rohani
santri sebagaimana Rasululllah saw bersabda : “Perbaharuhilah imanmu dan perbanyaklah
membaca “Ttidak ada Tuhan selain Allah” (HR. Ahmad)

G. Sifat-sifat Kepribadian Kesantrian


Sebagaimana keterangan di atas bahwa kepribadian santri dijadikan sebagai etika atau
metode untuk mencapai tujuan pembelajaran dan sekaligus sebagai tujuan pembelajaran itu
sendiri yakni agar sifat-sifat kepribadian itu melekat menjadi watak, tabiat dan pribadi.
Paparan ini akan menjelaskan sifat-sifat keperibadian santri. Yang perlu dimaklumi terlebih
dahulu, bahwa kepribadian adalah keseluruhan sifat-sifat jasmani, rohani dan nafsani yang
sudah menjadi watak seseorang sehingga membedakan antara pribadi satu dengan lainnya.

16
Namun, bisa dikatakan bahwa kepribadian yang terikat dengan kesantrian mempunyai
persamaan atau hampir sama karena satu proses dan satu produk pendidikan serta lingkungan
yang sama. Kepribadian adalah suatu hal yang abstrak dan non indrawi, tetapi dapat dilihat
beberpa indikatornya yang disebut dengan sifat-sifat kepribadian santri. Di antara sifat
kepribadian santri yang sangat menojol adalah sebagai berikut :
1. Ketekunan dalam pembelajran
Di antara motivasi yang diberikan kitab Ta’lîm untuk mencapai keberhasilan dalam
pembelajaran adalah kesungguhan, sebagaimana yang disebutkan di sebagaian sebab-sebab
tercapainya hapalan adalah ketekunan, kontinuitas, mengurangi makan, shalat layl (salam
malam hari) dan membaca al-Qur’an. Dikatakan, bahwa tidak ada sesuatu yang lebih
menambah daya hapal terhadap ilmu melainkan membaca al-Qur’an. (Ibrahim Ismail : 40)
Ketekunan dalam pembelajaran yang ditawarkan adalah ketekunan lahir batin atau
ketekunan pisik dan non pisik. Ketekunan pisik adalah ketekunan rasional yakni kerja keras
secara kontinui. Sedangkan ketekunan non pisik adanya pendekatan kepada Allah swt seperti
berpuasa, mengurangi makan, shalat malam dan membaca al-Qur’an.

2. Ikhlas dalam pengabdian


Dalam mencapai tujuan pembelajaran, pengabdian yang ditanamkan kepada santri di
samping pengabdian kepada Allah adalah pengabdian kepada guru. Guru di sini diposisikan
seperti dokter terhadap pasiennya, keduanya tidak akan mengantarkan kesuksesan jika tidak
dipatuhi.( Ibrahim bin Ismail : 18). Pengabdian kepada guru dimaksudkan sebagai
penghormatan dan kepatuhan, karena guru sebagai sumber ilmu yang sangat berharga.
Penghormatan tersebut merupakan kewajiban santri terhadap orang alim, bukan guru yang
minta dihormati. Sebagaimana sabda Nabi saw :
“Tidak tergolong umat kami barang siapa yang tidak menghormati orang tua di antara
kami, tidak menyayangi yang lebih kecil di antara kami dan tidak mengetahui hak orang alim
di antara kami”. (HR. Ahmad).
Ali bin Abi Thalib meskipun salah seorang sahabat yang sangat alim sampai dikatakan
Nabi sebagai “Pintu Kota Ilmu” menghambakan dirinya terhadap guru. Sebagaimana kata
beliau : “Saya hamba orang yang mengajar aku satu huruf, jika ia berhendak menjual aku atau
memerdekakan dan atau tetap menjadikan buda”. (Ibrahim bin Ismail : 16)
Pada umumnya santri yang banyak membantu guru adalah santri yang dekat dan
dicintai guru. Ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi santri dengan berharap ilmu yang
didapatkannya mengandung keberkahan. Dan konsep seperti itu banyak dibuktikan para

17
alumninya setelah pulang ke kampung halaman. Mereka sekalipun tidak terlalu banyak
ilmunya tetapi mendapat kepercayaan masyarakat untuk membangun madarasah atau
pesantren yang banyak santrinya.

3. Cinta dan Menghormati Ilmu


Ada beberapa metode yang dilakukan para santri sebagaimana yang dianjurkan kitab
Ta’lîm dalam mencapai keberhasilan pembelajarannya, di antaranya menghormati ilmu itu
sendiri, menghormati kitabnya dan menghormati guru sebagai sumber ilmu serta keluarganya.
a. Menghormati ilmu
Di antara cara menghormati ilmu adalah melanggengkan wudhu (bersuci) selama
pembelajaran berjalan. Alasan yang dikemukakan al-Zarnujî adalah ilmu itu cahaya, berwudhu
juga cahaya, cahaya ilmu akan bertambah dengan cahaya berwudhu (Ibrahim : 18). Syeikh al-
Zarnujî menganjurkan agar para santri benar-benar mendengarkan dan memperhatikan ilmu
yang disampaikan guru dengan penuh ta’zhim dan rasa hormat, sekalipun sudah pernah
mendengar berkali-kali. Sebagaimana kata beliau dengan mengutip kata sebagian ulama,
bahwa orang yang ta’zhimnya kepada guru (dalam ilmu ) setelah mendengar 1000 kali tidak
seperti ta’zhimnya pada pertama kali, tidak tergolong ahli ilmu (Ibrahim : 19).
Retorika Ta’lim memang indah sesuai dengan psichlogi para santri yang pada umunya
anak remaja atau muda. Setiap pesan-pesan yang diberikan selalu dibungkus dengan motoivasi-
motivasi yang menarik jiwa mereka sehingga seorang santri terbawa untuk melaksanakannya
dengan senang hati. Misalnya pada anjuran mendengarkan atau memperhatikan ilmu disertai
motivasi menjadi seorang ilmuan atau pakar ilmu.
b. Menghormati kitab-kitab ilmu
Cara lain yang dilakukan adalah menghormati kitab yang berisikan ilmu. Sebagaimana
kata al-Zarnujî, bahwa di antara ta’zhim (hormat ilmu) yang wajib adalah tidak memanjangkan
kaki ke arah kitab, menumpuk kitab Tafsir di atas segala kitab lain karena keagungannya dan
tidak meletakkan sesuatu benda di atas kitab (Ibrahim : 18) Di sinilah letak perbedaan yang
menonjol antara antara santri yang mempelajri kitab Ta’lîm dengan santri atau pelajar yang
tidak pernah mempelajrinya. Bagi santri atau pelajar yang tidak pernah mempelajarinya tidak
merasa salah ketika memanjangkan atau melonjorkan kaki ke arah kitab, bahkan menarauh
kitab sembarangan di tempat yang tidak terhormat. Bahkan meletakkan al-Qur’anpun
sembarangan temapt tidak ada rasa ta’zhim dan penghargaan yang tinggi.
Di antara penghormatan kepada kitab ilmu juga menghormati kepada penulisnya,
karena penulispun sebagai guru utama baik lagsung maupun tidak langsung. Realisasi

18
penghormmatan para santri dan para guru santri pada umumnya ketika memulai akan membaca
atau mengajarkan sebuah kitab selalau membaca surah al-Fatihah. Atau selalu mendoakan
penulisnya, sebagaimana yang sering dibaca :

‫َّاري ِْن آمين‬ ُ ِّ‫ش ْي ُخ ْال ُم َؤ ِل‬


َ ‫ف َر ِح َمهُ هللاُ ت َعالَى ونَفَعنَا ب ِه َوبُعلُ ْو ِم ِه فِي الد‬ َّ ‫قَا َل ال‬
Syeikh penulis buku berkata, semoga Allah merohmatinya dan memberi manfaat
ilmunya kepada kita dunia akhirat.
c. Menghormati guru dan keluarganya
Di antara penghormatan terhadap guru yang dipaparkan kitab Ta’lîm, adalah tidak
berjalan di depan guru, tidak duduk di tempat duduk guru, tidak memulai berbicara kecuali
dengan izin, tidak banyak bertanya pada saat guru lelah, harus menjaga waktu dan tidak
mengetuk pintu ketika bertamu tetapi sabar sampai guru keluar. Singkatnya santri mencari rida
guru, menjauhi yang dibenci guru dan melaksanakan yang diperintah kecuali maksiat kepada
Allah. Berikutnya Syeikh al-Zarnujî mengutip dari perkataan Syeikh Imam Sadid al-Dîn al-
Syairazî, bahwa para masyâyikh (para gurunya) berkata : Barang siapa yang ingin anaknya
menjadi orang alim hendaknya menghormati para ulama dan para guru terutama yang hidup
dalam perantauan. Hormati mereka, agungkan mereka dan beri hadiah. Jika tidak anaknya,
cucuknya akan menadi orang alim (Ismail : 17 ).
Sedangkan alinea berikutnya ada motivasi seorang ingin menjadi alim atau anak kalau
tidak cucunya hendaklah menghormati guru dan mencari ridanya.
Dalam kitab Ma’a al-Raîl al-Awwal, bahwa Imam Abu Hanifah (w.150 H) mengatakan
; Aku tidak shalat sejak wafat gurunya yakni Syeikh Hammad bin Muslim al-Asy’ari (w. 120
H) kecuali aku memohonkan ampunan bersama ayahandaku dan aku tidak pernah melonjorkan
kakiku ke arah rumahnya yang jaraknya kurang lebih 7 gang. Sungguh aku memohonkan
ampunan kepada orang yang aku pernah belajar dari padanya atau orang yang pernah mengajar
aku. (Muhib al-Dîn al-Khathîb,tth. : 68)
Di antara penghormatan kepada guru adalah menghormatan kepada anak, istri atau
keluarganya. Anjuran ini disertai dengan kisah yang menarik. Seorang Ulama besar Syeik al-
Islam Burhan al-Dîn pengarang kitab al-Hidayah, mengkisahkan bahwa salah seorang ulama
senior dari negeri Bukhara duduk di majlis pengajaran, sesekali ulama itu beridiri. Ketika
ditanya para santrinya, beliau menjawab : “Anak guru saya bermain sama teman-temannya di
jalanan, ketika aku melihat aku berdiri karena ta’zhim kepada guru saya”.
Pesan Ta’lîm pada alinea di atas disertai bukti-bukti pengalaman sejarah, kisah atau
peristiwa yang terjadi sebagai kisah ahli didik bagaimana ia dapat mencapai sutu tujuan yang

19
dinginkan dengan cara penghormatannya kepada guru dan keluarganya. Dengan demikian
mudah dicerna dan dipahami oleh murid, kartena semua orang pada umumnya senang
mendengar cerita-cerita atau kisah orang-orang yang berpengalaman.
Banyak pertanyaan atau diskusi dengan guru tentang ilmu tidak menghalangi makna
ta’zhim (hormat ) terhadap guru. Kitab Ta’lîm sendiri menganjurkan bertanya kepada guru asal
pada waktu dan kondisi yang tepat. Ibnu Abbas pernah ditanya, dengan apa engkau berhasil
mendapatkan ilmu ? Ibnu Abbas menjawab : “Dengan lesan yang banyak bertanya dan akal
yang banyak berpikir”. (Ibrahim : 31).
Tradisi sebagian santri atau pelajar yang lebih banyak diam di hadapan guru dan merasa
tidak sopan banyak pertanyaan adalah tradisi budaya yang dipengaruhi oleh lingkungan
setempat bukan anjuran dari kitab Ta’lîm, kitab ini menganjurkan bertanya dengan sopan
artinya sesuai dengan waktu dan kondisi yang baik. Bukankah Nabi telah mengajarkan
penyampaian ilmu dengan tanya jawab. Ketika Jibril datang seperti seorang laki-laki datang
duduk manis di hadapan Nabi sambil menyandarkanm kedua lututnya pada kedua lutut
Rasulillah dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya dengan penuh ketenangan,
penuh perhatian dan penuh ta’zhim. Kemudian Jibril bertanya tentang iman, Islam dan ihsan.
Setelah itu Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya ia Jibril datang kepada kalian untuk
mengajar agama kalian”. (HR Muslim)

4. Wara’ (menjaga dari hal yang haram)


Di antara sifat pribadi santri adalah wara’ artinya berhati-hati dari barang haram.
Bahkan wara’nya santri yang diajarkan kitab Ta’lîm adalah menjauhi dari syubhat (barang
yang tidak jelas statusnya antara halal dan haram), dan menjauhi dari makanan yang kurang
berkah. Di antara ungkapan al-Zarnujî, sayogyanya santri menjaga dari makanan pasar jika
mungkin, karena makanan ini lebih mudah terkena najis atau kotoran, menjauhkan dzikir
kepada Allah dan lebih dekat kepada kemunafikan, menjadi arah pendangan orang-orang fakir
sedang mereka tidak mampu membelinya sehingga menjadi sedih sehingga menghilangkan
keberkahan. (Ibrahim : 39)
Memang sulit dan amat berat pada zaman sekarang seseorang hidup bersifat wara’
menjaga dari hal yang haram, syubhat dan makanan pasar. Apa lagi hidup di kota-kota besar
seperti di Jakarta yang banyak tantangan dan godaannya. Di antara tantangannya hidup yang
serba efektif dan efisien seperti budaya makanan yang siap saji bahkan makanan matang
masakan pasar siap disaji. Al-Qur’an perintah makan makanan yang halal dan yang baik
(thayib) seperti dalam QS al-Mukminun : 51 :

20
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang
saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 23:51)
Syeikh Muhammad Alawî al-Malikî memberikan komentar bahwa ayat tersebut
memberi isyarat, bahwa makanan yang halal menolong untuk beramal saleh. Oleh karena itu
Ibrahim bin al-Adham berkata : “Buat sebaik mungkin makananmu dan tidak ada alasan
engkau tidak bangun pada malam hari untuk beribadah dan berpuasa pada siang hari”. Artinya
engkau tidak merasa terbebankan dan tidak merasa berat melaksanakannya. Taufik Allahlah
yang menyertaimu sehingga engaku ringan menjalankannya. Demikian itu implikasi dari
makanan halal, sebab setiap daging yang tumbuh dari makanan haram neraka lebih utama
baginya. (al-Maliki/1393 : 107)
Dengan demikian makanan halal yakni yang tidak mengandung haram, syubhat dan
yang tidak barakah punya pengaruh dalam pembentukan kepribadian santri yakni peribadi
muslim yang berakhlak.

5. Tawâdhu’ (rendah hati)


al-Zarnujî menukil bait-bait syair tentang tawadhu’, di antaranya :
Sesungguhnya tawadhu’ itu di antara sifat orang taqwa
Dan dengan taqwa inilah seseorang dapat naik ke derajat yang tinggi
Ilmu itu musuh bagi orang yang sombong
Bagaikan air musuh bagi tempat yang tinggi (Ibrahim : 12,20)
Semua sifat-sifat kepribadian yang dipaparkan al-Zarnujî selalu dikaitkan dengan
tercapainya tujuan pembelajaran seperti tercapainya ilmu yang bermanfaat sebagaimana yang
disebutkan pada syair di atas. Sifat tawadhu’ adalah sifat rendah hati dengan sesama manusia
meskipun banyak kelebihan seperti kekayaan, kedudukan, kecerdasan, ilmu dan lain-lain.
Orang tawadhu’ sekalipun banyak kelebihan tidak membanggakan kelebihannya itu dan tetap
hormat kepada orang lain dan tidak merendahkan potensi orang lain.
Para santri pada umumnya terlatih sifat tawadhu’nya selama berionteraksi dengan
lingkungan di pesantren. Mereka menundukkan kepalanya dan merendahkan suara pada saat
berkomuniklasi dengan orang yang lebih tua terutama dengan gurunya dan mencium tangan
para guru ketika berjabat tangan. Sifat tawadhu’ ini sedikit demi sedikit menghilangkan sifat
kesombongan, anani, sifat ingin dihormati, ingin dilayani dan lain sebagainya. Sifat rendah
hati tidak mesti bukan berarti menjadi rendah, akan tetapi menurunklan suhu emosi dan
ambisi kedudukan dan penghormatan yang tidak pada tempatnya.

21
Beberapa sifat kepribadian kesantrian yang disebutkan dalam kitab Ta’lim sebagai
upaya atau model pembelajaran santri untuk mengimbangi model rasional yakni model akhlak
dan etika yang sesuai dengan kaedah aaran agama Islam. Al-Shabuni dalam bukunya al-
Shafwat al-Tafâsîr menjelaskan, bahwa ilmu ada dua macam yaitu :
1. Ilmu Kasbi, ilmu yang harus diusahakan melalui pembelajaran yang tekun
2., Ilmu Wahbi, ilmu pemberian Allah tanpa melalui usaha pembelajaran (outodidak).
Ilmu pertama diperoleh dengan kesungguhan, ketekunan dan mudzakarah. Sedang
ilmu kedua dengan jalan taqwa dan amal saleh sebagaimana firman allah dalam QS. Al-
Baqarah/2 : 282 “Dan takutlah kepada Allah dan Dia mengajarkan kamu dan Allah dengan
segala sesuatu Maha Mengetahui”. Ilmu ini juga disebut ilmu laduni sebagaimana firman-
Nya QS. Al-Kahfi/18 : 66 “Dan ia Kami berikan ilmu dari pada Kami” yaitu ilmu yang
bermanfaat yang diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki Allah dari para hamba yang
taqwa kepada-Nya (al-Shabuni : 165)
Demikian juga syair al-Syafi’i tentang pengaduannya kepada guru tentang hapalannya
yang kurang baik.:
Aku mengadu kepada Imam Waki’ tentang hapalanku yang lemah
Maka ia memberi petunjuk kepadaku agar aku tinggalklan segala maksiat
Beliau menceritakan kepadaku, bahwa ilmu itu cahaya
Dan cahaya Allah tidak ditunjukkan kepada orang-orang yang maksiat.
Syair al-Syafi’i di atas juga dikutip oleh al-Zarnujî dalam kitab Ta’lîm (Ismail .14). Hal
ini menunjukkan adanya kesamaan antara pemikiran al-Syafi’i, Muhammad Ali al-Shabuni dan
al-Zarnujî tentang perlunya pemndekatan kepada Allah bagi para penuntut ilmu atau para santri
untuk memperoleh ilmu yang bermnanfaat.

H. Peran Santri Modern Berpotensi Membangun Indonesia


Santri memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan lulusan dari sekolah umum,
khususnya pengetahuan dan kecerdasan dibidang spiritual dan akhlak. Bila dikaitkan dengan
kasus kriminal yang marak terjadi di Indonesia, maka mendorong para santri untuk
meningkatkan peran mendongkrak keberhasilan pembangunan Indonesia menjadi salah satu
faktor penting yang perlu dipertimbangkan. Kini saatnya pemerintah perlu memberi ruang yang
cukup, termasuk iklim kondusif kepada para “santri” dan “pesantren” agar dapat berpartisipasi
dalam pembangunan. Pesantren tidak cukup hanya menciptakan para santri yang memiliki
kompetensi tinggi tetapi juga harus mampu menciptakan produk kreatif dan inovatif yang dapat
dikontribusikan ke ranah industri bernuansa islami. Para santri perlu dibekali dengan ilmu

22
pengetahuan dan teknologi (Iptek), agar dapat menjawab berbagai masalah yang terjadi di
masyarakat seperti pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan, pembangunan
karakter yang jujur, berkhlak mulia, motivasi tinggi, tahan malang serta cerdas dan kreatif.
Bahkan harus mampu berpartisipasi dalam pembangunan lingkungan strategis seperti
pembangunan dibidang ekonomi, lingkungan hidup, kemanan kedaulatan negara dan budaya.
Karena itu pesantren termasuk pesantren modern seperti yang sekarang kita lihat di berbagai
tempat di Indonesia masih perlu terus diselaraskan baik kualitas maupun jumlah. Program studi
yang sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat perlu diperluas, sehingga partisipasi “santri”
dan “pesantren” dalam pembangunan bangsa semakin nampak dan nyata.
Untuk itu terdapat tiga hal yang perlu dikembangkan di tingkat awal yaitu
pengembangan kelembagaan pesantren, sumberdaya dan jaringan pesantren. Ketiga hal ini
sangat dekat dengan rencana strategis Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi,
kenapa?, karena meningkatkan daya saing dan kompetensi santri tidak terlepas dari program
dan kebijakan yang ada di ranah pendidikan, riset dan inovasi. Jika itu dilakukan maka
Kementerian di atas wajib meningkatkan program dan kegiatannya dalam rangka membangun
kapasitas “santri” dan “pesantren” modern sesuai dengan kebutuhan pembangunan di
Indonesia.

I. Peranan Santri dalam Pembangunan


KEPUTUSAN Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan tanggal
22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada
Kamis (15/10/2015) lalu, telah mengukuhkan kembali pentingnya peran santri dalam
membangun bangsa. Sejarah perjuangan santri dalam mempertahankan negara perlu
diperkenalkan kembali sebagai satu upaya dalam menumbuh-kembangkan semangat berbangsa
di kalangan santri.
Sikap responsif santri atas fatwa ulama tentang kewajiban jihad melawan penjajah dan
mati syahid bagi yang wafat di medan tempur, tentunya harus dicatat rapi dalam lembaran
sejarah bangsa. Semangat jihad santri demi Tanah Air tercinta dan kiprah mereka dalam
perjuangan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan, memang kurang diketahui oleh
masyarakat. Padahal santri telah turut memberikan sesuatu yang penting bagi bangsa ini.
Kontribusi santri dalam berbagai kegiatan negara kadang kurang mendapat perhatian,
sehingga perannya kabur dan hilang dari ingatan masyarakat, seiring dengan berjalannya
waktu. Padahal rekaman sejarah tentang peran santri dalam sejarah bangsa Indonesia perlu

23
diputar ulang sebagai upaya resolusi semangat santri dalam perjuangan mengisi kemerdekaan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Santri memiliki ciri-ciri khas yang mudah dikenal dalam masyarakat Indonesia.
Pemuda-pemudi unik yang sedang khusyuk menimba ilmu pengetahuan di pondok pesantren
atau dayah dengan penampilan dan sikap sederhana. Bangun pagi lebih cepat, tidur malam
telat, telah menjadi kebiasaan mereka, seakan mereka sadar akan getirnya perjuangan melawan
kebodohan. Suara zikir dan membaca bertaut dari satu kelas ke kelas yang lain mengalahkan
suara mesin pembangkit tenaga listrik. Wadhifah seperti ini mendidik mereka menjadi orang
yang cerdas dan kuat sebagai calon-calon pemimpin di masa yang akan datang.
Hiruk-pikuk suara manusia di areal yang sempit itu, telah menjadi hiburan gratis
pengganti konser artis top seperti di berbagai belahan kota besar. Suara doa dan munajat
mereka, terpancar setiap sore dan pagi yang berkah membelah kesunyian malam yang indah,
sambil menatap pagi yang cerah dengan semangat mengabdi dan menimba ilmu yang suci
sebagai bekal hidup di masa depan nanti, antrian di kamar mandi, desak-desakan di asrama
yang sempit, tak membuat mereka pasrah kepada alam demi menggait cita yang suci.
Pertama memiliki komitmen. Situasi dan kondisi yang demikian telah mendidik santri
menjadi kelompok masyarakat yang memiliki komitmen yang tinggi dan kuat. Ada empat ruh
santri yang dapat menjadi potensi negara untuk memajukan bangsa ini: Pertama, santri terdidik
dengan sikap kemandirian, di mana satu ciri orang-orang sukses adalah memiliki jiwa yang
mandiri. Kemandirian ini diajarkan oleh hadis: “Mukmin yang yang kuat lebih baik dan dicintai
oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim). Seharusnya dunia ini dikuasai oleh
yang kuat dan memiliki akhlakul karimah, supaya mencapai kedamaian dan ketertiban.
Kedua, santri meliliki sifat pengabdian. Folosofi kerja di di dayah atau pesantren adalah
mengabdi. Maka jangan heran kalau orang yang baru mengenal guru dayah ketika ditanyakan,
berapa gajinya mereka menjawab tidak ada gaji? Maka akan tergeleng-geleng kepala sambil
mengerutkan dahi, dan bertanya pada diri sendiri, mungkinkah? Lalu bagaimana kamu hidup,
makan apa, dan sederetan pertanyaan yang lain. Tetapi nyatanya mereka telah dapat hidup
dengan tenang dan gembira dalam kesederhanaan. Sesungguhnya, kondisi inilah yang
membuat mereka lebih siap dan memiliki rasa sosial yang tinggi. Kita mengakui bahwa satu
budaya bangsa yang di ambang punah adalah budaya gotong-royong. Kalau dewasa ini, kita
mau melihat praktik budaya gotong-royong, mungkin tidak salah kalau jawabannya, lihatlah
gotong-royong santri. Padahal kita kenal bahwa gotong-royong adalah budaya bangsa
Indonesia yang kian hari kian terasa hilang, bahkan kemerdekaanpun diraih dengan gotong-

24
royong. Tetapi budaya ini semakin terkikis akibat nilai-nilai kosmopolitan yang dangkal seperti
hedonisme, konsumerisme, materialisme dan pragmatisme.
Ketiga, ruh jihad. Definisi jihad di sini adalah tekat dan komitmen yang kuat dalam
mengarungi samudera penderitaan serta memecahkan kebuntuan. Bangsa dengan tingkat
kesungguhan yang kuat akan dapat menaklukan dunia, katakanlah Jepang dengan energi
samurainya dan lain-lain. Sikap ini pula yang menyebabkan santri berani bergerak melawan
penjajah meskipun harus berhadapan dengan kubangan darah.
Keempat, cinta ilmu dan wawasan yang luas. Hidup dalam dunia ilmu pengetahuan,
membuat santri harus mencintai ilmu pengetahuan. Salah satu alasan islam dapat diterima
sebagai agama oleh penduduk dunia, karena islam mengajarkan cinta kepada ilmu
pengetahuan, bahkan ayat yang pertama turun adalah iqra’ (bacalah). Artinya sebuah perintah
kepada umat Islam untuk membaca, baik yang tersurat maupun yang tersirat, karena dengan
membaca dapat menyingkap tabir berbagai rahasia alam.

25
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bangsa yang maju bukan hanya ditentukan oleh sumber kekayaan materi, tetapi
kekayaan intelektual lebih berharga. Bangsa Eropa adalah bangsa yang miskin sumber daya
alam, tetapi dapat menjadi bangsa yang kuat karena ilmu yang mereka kuasai. Adapun bangsa
kita adalah bangsa yang kaya dengan sumber daya alam, tetapi masih tetap dalam cengkeraman
utang, karena sumber daya manusia yang kurang.
Pembangunan bangsa ke arah yang lebih baik terus diupayakan, tantangan berat dewasa
ini adalah pengkaderan generasi muda yang berkualitas. Santri sebagai sebuah komunitas
masyarakat yang akan kembali hadir dalam kontestasi berbagai pertujukan bangsa, sangat
diharapkan kontribusi dan perannya.

B. Saran
Apabila seorang santri dapat memahami peranannya, maka bisa tambah makrifatnya, mahabah dan
barokah, serta mendapatkan khusnul khotimah (akhir yang baik)

26
DAFTAR PUSTAKA

https://ristekdikti.go.id/saatnya-santri-membangun-indonesia/
http://anampunyablog.blogspot.co.id/2009/12/pesantren-dan-prilaku-santri_22.html
https://ukhuwahsantri.blogspot.co.id/2013/12/pembentukan-karakter-santri-melalui.html
http://abdulmajidkhon.blogspot.co.id/2013/09/kepribadian-santri.html

27