Anda di halaman 1dari 34

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bayi baru lahir atau disebut juga neonatus merupakan hasil
pengeluaran konsepsi pada saat persalinan sampai berusia 28 hari. Bayi
baru lahir dikatakan normal jika lahir pada usia kehamilan aterm (37-42
minggu) dengan berat lahir 2500-4000 gram. Bayi baru lahir memerlukan
periode transisi agar dapat stabil dan menyesuaikan diri dengan kehidupan
ekstrauterin, sehingga membutuhkan perawatan dan asuhan yang baik.
Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada
bayi selama jam pertama setelah kelahiran. Memberikan asuhan segera,
aman dan bersih kepada bayi baru lahir merupakan hal yang esensial
dalam asuhan bayi baru lahir. Jika bayi yang dilahirkan berada dalam
kondisi yang optimal, maka dapat dikatakan bahwa proses
penatalaksanaan kehamilan dan persalinan berhasil (Varney et al, 2007;
JNPK-KR, 2008; Kemenkes RI, 2016).
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi mikroorganisme
yang terpapar atau terkontaminasi selama proses persalinan berlangsung
maupun beberapa saat setelah lahir, sehingga dalam memberikan asuhan
dan perawatan bayi baru lahir bidan harus memperhatikan upaya
pencegahan infeksi (JNPK-KR, 2008). Sebagian besar bayi baru lahir akan
menunjukkan usaha pernapasan spontan dengan sedikit bantuan atau
gangguan. Aspek-aspek penting dari asuhan bayi baru lahir yang perlu
diperhatikan adalah jaga agar bayi tetap kering dan hangat untuk
mencegah terjadinya hipotermia, dan usahakan adanya kontak antara kulit
bayi dan ibu sesegera mungkin, serta inisiasi menyusui dini (IMD) (IDAI,
2015).
Keberlangsungan hidup bayi baru lahir bergantung pada
kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan ekstrauterin yang
meliputi adaptasi fisiologis untuk menggantikan fungsi plasenta dan
mempertahankan homeostasis (Fraser dan Cooper, 2012). Jika bayi
mengalami gangguan pada proses adpatasi karena adanya gangguan pada

1
aliran darah umbilikal ataupun plasenta, dapat menyebabkan masalah pada
bayi baru lahir salah satunya adalah asfiksia (Parer, 2008).
Asfiksia merupakan kegawatdaruratan bayi baru lahir berupa
depresi pernafasan yang berlanjut sehingga menimbulkan berbagai
komplikasi. Asfiksia merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas, dan
paling sering terjadi pada periode segera setelah lahir dan menimbulkan
sebuah kebutuhan resusitasi dan intervensi segera untuk meminimalkan
mortalitas dan morbiditas (Maryunani A,dkk, 2010).
Kejadian asfiksia pada bayi baru lahir berkaitan dengan beberapa
faktor, diantaranya faktor ibu seperti preeklampsia, perdarahan, partus
lama, demam, kehamilan lewat bulan, gangguan kontraksi, faktor bayi
seperti bayi prematur, kelainan kongenital, persalinan dengan tindakan,
aspirasi mekonium, serta faktor tali pusat. Asfiksia pada bayi baru lahir
merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian neonatus
(Depkes RI, 2017).
Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2017 menunjukkan angka kematian neonatus (AKN) 15 per 1.000
kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi (AKB) sebesar 24 per
1.000 kelahiran hidup. Angka ini belum mencapai target SDGs yaitu 12
per 1.000 kelahiran hidup. Tiga per empat kematian neonatal terjadi pada
minggu pertama, dan 40% meninggal pada 24 jam pertama. Kematian
neonatal berkaitan erat dengan kualitas pelayanan persalinan, dan
penanganan bayi baru lahir yang kurang optimal segera setelah lahir dan
beberapa hari pertama setelah lahir. Penyebab utama kematian bayi dan
neonatus adalah prematur, komplikasi terkait persalinan, asfiksia, infeksi,
dan kelainan kongenital. Asfiksia saat lahir menjadi penyebab kurang
lebih 23% dari sekitar 4 juta kematian neonatus di seluruh dunia setiap
tahunnya (Kemenkes RI, 2018).
Tingginya kasus kematian bayi asfiksia salah satunya bisa
diakibatkan karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan bidan dalam
penanganan asfiksia pada bayi baru lahir. Untuk mengurangi angka
kematian tersebut dibutuhkan pelayanan antenatal yang berkualitas,

2
asuhan persalinan normal dan pelayanan kesehatan neonatal oleh bidan
yang berkompeten terutama memiliki pengetahuan dan keterampilan
manajemen asfiksia pada bayi baru lahir (Depkes RI, 2011).
Mengingat pentingnya asuhan dan perawatan yang cepat dan tepat
pada bayi baru lahir dengan asfiksia berdasarkan uraian di atas, maka
penulis tertarik untuk membuat makalah mengenai asuhan kebidanan pada
bayi baru lahir dengan asfiksia di Puskesmas Lubuk Buaya.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang, dapat dirumuskan beberapa masalah, yaitu:
1.2.1 Bagaimana asuhan pada bayi baru lahir normal?
1.2.2 Bagaimana asuhan pada bayi baru lahir dengan asfiksia?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui asuhan pada bayi baru lahir dengan asfiksia di Puskesmas
Lubuk Buaya.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui asuhan pada bayi baru lahir normal
2. Mengetahui asuhan pada bayi baru lahir dengan asfiksia

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Manfaat Ilmiah
Untuk memberikan tambahan referensi mengenai asuhan dan perawatan
pada bayi baru lahir dengan asfiksia.

1.4.2 Manfaat Bagi Penulis


Makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan
keterampilan penulis dalam melakukan asuhan dan perawatan terhadap
bayi baru lahir dengan asfiksia.

3
1.4.3 Manfaat Bagi Instansi Kesehatan
Makalah ini diharapkan dapat memberikan tambahan referensi, saran,
dan masukan bagi instansi kesehatan dalam melakukan asuhan dan
perawatan yang komprehensif terhadap bayi baru lahir dengan afiksia.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Asuhan pada Bayi Baru Lahir Normal


2.1.1 Pengertian Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir (neonatus) adalah bayi yang berusia 0-28 hari
(Kemenkes RI, 2010). Bayi baru lahir adalah bayi berusia satu jam yang lahir
pada usia kehamilan 37-42 minggu dan berat badannya 2.500-4000 gram
(Dewi, 2010).

2.1.2 Ciri-Ciri Bayi Lahir Normal


Bayi baru lahir normal mempunyai ciri-ciri :
1. Berat badan lahir 2500-4000 gram
2. Umur kehamilan 37-40 minggu
3. Bayi segera menangis
4. Bergerak aktif
5. Kulit kemerahan
6. Menghisap ASI dengan baik
7. Tidak ada cacat bawaan (Kemenkes RI, 2010).
Menurut Dewi (2010) bayi baru lahir normal memiliki :
1. Panjang badan 48-52 cm
2. Lingkar dada 30-38 cm
3. Lingkar lengan 11-12 cm
4. Frekuensi denyut jantung 120-160 x/menit
5. Pernapasan 40-60 x/menit
6. Lanugo tidak terlihat dan rambut kepala tumbuh sempurna
7. Kuku agak panjang dan lemas
8. Nilai APGAR >7
9. Refleks-refleks sudah terbentuk dengan baik (rooting, sucking, morro,
grasping)
10. Organ genitalia pada bayi laki-laki testis sudah berada pada skrotum
dan penis berlubang, pada bayi perempuan vagina dan uretra
berlubang serta adanya labia minora dan mayora
11. Mekonium sudah keluar dalam 24 jam pertama berwarna hitam
kecoklatan (Dewi, 2010).

2.1.3 Klasifikasi Bayi Baru Lahir


Bayi baru lahir atau neonatus di bagi dalam beberapa klasifikasi
menurut Marmi (2015), yaitu :
1) Neonatus menurut masa gestasinya:
a. Kurang bulan (preterm infant): <259 hari (37minggu)
b. Cukup bulan (term infant): 259-294 hari (37-42 minggu)

5
c. Lebih bulan (postterm infant) : >294 hari (42 minggu atau lebih)
2) Neonatus menurut berat badan lahir:
a. Berat lahir rendah: <2500 gram
b. Berat lahir cukup: 2500-4000 gram
c. Berat lahir lebih:>4000 gram
3) Neonatus menurut berat lahir terhadap masa gestasi (masa gestasi dan
ukuran berat lahir yang sesuai untuk masa kehamilan):
a. Nenonatus cukup/kurang/lebih bulan (NCB/NKB/NLB)
b. Sesuai/kecil/besar untuk masa kehamilan (SMK/KMK/BMK)

2.1.4 Manajemen Bayi Baru Lahir


Bagan Alur:
Manajemen Bayi Baru Lahir

Persiapan

Penilaian :
1. Apakah bayi cukup bulan ?
2. Apakah air ketuban jernih, tidak
bercampur mekonium ?
3. Apakah bayi menangis atau bernafas ?
4. Apakah tonus otot bayi baik ?

Bayi cukup Bayi tidak cukup bulan, Air ketuban


Bayi cukup Bayi tidak cukup bulan, Air ketuban
bulan, ketuban dan atau tidak menangis bercampur
bulan, ketuban dan atau tidak menangis bercampur
jernih, menangis atau tidak bernafas atau mekonium
jernih, menangis atau tidak bernafas atau mekonium
atau bernafas, megap-megap dan atau
atau bernafas, megap-megap dan atau
tonus otot baik tonus otot tidak baik
tonus otot baik tonus otot tidak baik

A B C
Manajemen bayi baru Manajemen asfiksia Manajemen air
lahir normal bayi baru lahir ketuban bercampur
mekonium
Bagan 2.1 Manajemen Bayi Baru Lahir menurut Buku Saku Pelayanan Kesehatan
Neonatal Esensial (Kemenkes RI, 2010)

6
Bagan Alur:
Manajemen Bayi Baru Lahir Normal

Penilaian :
 Bayi cukup bulan
 Air ketuban jernih, tidak bercampur
mekonium
 Bayi menangis atau bernafas
 Tonus otot bayi baik
Asuhan Bayi Baru Lahir

1. Jaga kehangatan
2. Bersihkan jalan nafas (bila perlu)
3. Keringkan dan tetapAsuhan Bayi Baru Lahir
jaga kehangatan
4. Potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira-
kira 2 menit setelah lahir
5. Lakukan IMD dengan cara kontak kulit bayi dengan kulit ibu
6. Beri salaf mata antibiotika tetrasiklin 1% pada kedua mata
7. Beri suntikan vit K1 1 mg IM, di paha kiri anterolateral
 Pemotongan dan IMD
setelah pengikatan tali pusat sebaiknya dilakukan sekitar 2 menit setelah
lahir8.
(atau setelah
Beri bidan menyuntikkan
imunisasi hepatitis B 0,5oksitosin
mg IMkepada
di pahaibu) untuk memberi waktu
kanan
tali pusatanterolateral,
mengalirkan darah (dengan
diberikan demikian
kira-kira 1-2juga
jam zat besi) pemberian
setelah kepada bayi.
vit K1
Bagan 2.2 Manajemen Bayi Baru Lahir Normal menurut Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Neonatal Esensial (Kemenkes RI, 2010)

2.1.5 Penilaian Secara APGAR


Skor APGAR adalah sebuah metode yang diperkenalkan pertama kali
pada tahun 1952 oleh dr. Virginia Apgar sebagai sebuah metode sederhana
untuk menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir secara cepat sesaat setelah
kelahiran. Skor APGAR dihitung dengan menilai kondisi bayi baru lahir
menggunakan lima kriteria sederhana dengan skala nilai 0, 1 dan 2. Kelima

7
kriteria tersebut kemudian dijumlahkan untuk menghasilkan nilai 0-10. Tes
ini umumnya dilakukan pada waktu 1 dan 5 menit setelah kelahiran, dan
dapat diulangi jika skor masih rendah.
APGAR adalah singkatan dari :
A : Appearance = rupa (warna kulit)
P : Pulse = nadi
G : Grimace = menyeringai (akibat refleks kateter dalam hidung)
A : Activity = keaktifan
R : Respiration = pernafasan

Tabel 2.1 Scoring APGAR bayi baru lahir

Angka Penilaian
Tanda
0 1 2
Bunyi jantung Tidak ada Lambat (<100) >100
Usaha bernafas Tidak ada Lambat, tidak Baik,
teratur menangis
Tonus otot Lemas Fleksi dari anggota Pergerakan
aktif
Refleks Tidak ada reaksi Menangis Menangis kuat
(penghisap lendir
dalam hidung
atau selentikan
telapak kaki)
Warna Biru pucat Badan merah, Seluruh badan
anggota biru merah

Tabel 2.2 Interpretasi Skor APGAR bayi baru lahir

Jumlah skor Interpretasi Catatan

7-10 Bayi normal

4-6 Agak rendah Memerlukan tindakan medis segera


seperti penyedotan lendir yang
menyumbat jalan nafas, atau
pemberian oksigen untuk membantu
bernafas

0-3 Sangat rendah Memerlukan tindakan medis yang

8
lebih intensif

2.1.6 Asuhan Bayi Baru Lahir


Asuhan bayi baru lahir meliputi :
1) Pencegahan Infeksi (PI)
Pencegahan infeksi merupakan penatalaksanaan awal yang harus
dilakukan pada bayi baru lahir karena bayi baru lahir sangat rentan
terhadap infeksi. Pada saat penanganan bayi baru lahir, pastikan
penolong untuk melakukan pencegahan infeksi.
Prinsip umum pencegahan infeksi :
a. Berikan perawatan rutin kepada bayi baru lahir
b. Pertimbangkan setiap orang (termasuk bayi dan petugas) berpotensi
menularkan infeksi
c. Cuci tangan atau gunakan pembersih tangan
d. Pakai – pakaian pelindung dan sarung tangan
e. Gunakan teknik aseptik
f. Pegang instrument tajam dengan hati-hati, bersihkan dan sterilkan
atau desinfeksi instrument dan peralatan
g. Bersihkan unit perawatan khusus bayi baru lahir secara rutin dan
buang sampah
h. Pisahkan bayi yang menderita infeksi untuk mencegah infeksi
nosokomial.

Tindakan umum pencegahan infeksi pada bayi baru lahir:


a. Mencuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan
kontak dengan bayi
b. Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang
belum dimandikan
c. Memastikan semua peralatan, termasuk klem, gunting dan benang
tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril. Jika
menggunakan bola karet penghisap untuk lebih dari satu bayi
d. Memastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang
digunakan untuk bayi, telah dalam keadaan bersih
e. Memastikan bahwa timbangan, pita pengukur, thermometer,
stetoskop, dan benda-benda lainnya yang akan bersentuhan dengan
bayi dalam keadaan bersih (dekontaminasi dan cuci setiap kali
setelah digunakan)

9
f. Menganjurkan ibu menjaga kebersihan diri, terutama payudaranya
dengan mandi setiap hari (putting susu tidak boleh disabun)
g. Membersihkan muka, pantat dan tali pusat bayi dengan air bersih,
hangat dan sabun setiap hari
h. Menjaga bayi dari orang-orang yang menderita infeksi dan
memastikan orang yang memegang bayi sudah cuci tangan
sebelumnya.
2) Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi
Untuk menilai apakah bayi mengalami asfiksia atau tidak
dilakukan penilaian sepintas setelah seluruh tubuh bayi lahir dengan tiga
pertanyaan :
a. Apakah kehamilan cukup bulan ?
b. Apakah bayi menangis atau bernapas/tidak megap-megap ?
c. Apakah tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif ?
Jika ada jawaban “tidak” kemungkinan bayi mengalami asfiksia
sehingga harus segera dilakukan resusitasi. Penghisapan lendir pada jalan
napas bayi tidak dilakukan secara rutin (Kemenkes RI, 2010).

3) Pemotongan dan perawatan tali pusat


Setelah penilaian sepintas dan tidak ada tanda asfiksia pada bayi,
dilakukan manajemen bayi baru lahir normal dengan mengeringkan bayi
mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan
tanpa membersihkan verniks, kemudian bayi diletakkan di atas dada atau
perut ibu. Setelah pemberian oksitosin pada ibu, lakukan pemotongan tali
pusat dengan satu tangan melindungi perut bayi. Perawatan tali pusat
adalah dengan tidak membungkus tali pusat atau mengoleskan
cairan/bahan apa pun pada tali pusat (Kemenkes RI, 2010). Perawatan
rutin untuk tali pusat adalah selalu cuci tangan sebelum memegangnya,
menjaga tali pusat tetap kering dan terpapar udara, membersihkan dengan
air, menghindari penggunaan alkohol karena menghambat pelepasan tali
pusat, dan melipat popok di bawah umbilikus (Lissauer, 2013).
4) Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, segera letakkan bayi
tengkurap di dada ibu, kulit bayi kontak dengan kulit ibu untuk
melaksanakan proses IMD selama 1 jam. Biarkan bayi mencari,
menemukan puting, dan mulai menyusu. Sebagian besar bayi akan

10
berhasil melakukan IMD dalam waktu 60-90 menit, menyusu pertama
biasanya berlangsung pada menit ke-45-60 dan berlangsung selama 10-
20 menit dan bayi cukup menyusu dari satu payudara (Kementerian
Kesehatan RI,2010). Jika bayi belum menemukan puting ibu dalam
waktu 1 jam, posisikan bayi lebih dekat dengan puting ibu dan biarkan
kontak kulit dengan kulit selama 30-60 menit berikutnya. Jika bayi masih
belum melakukan IMD dalam waktu2 jam, lanjutkan asuhan perawatan
neonatal esensial lainnya (menimbang, pemberian vitamin K, salep mata,
serta pemberian gelang pengenal) kemudian dikembalikan lagi kepada
ibu untuk belajar menyusu (Kemenkes RI,2010).
5) Pencegahan kehilangan panas
Pencegahan kehilangan panas dapat dilakukan melalui tunda mandi
selama 6 jam, kontak kulit bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan
tubuh bayi (Kemenkes RI, 2010).
6) Pemberian salep mata/tetes mata
Pemberian salep atau tetes mata diberikan untuk pencegahan
infeksi mata. Beri bayi salep atau tetes mata antibiotika profilaksis
(tetrasiklin 1%, oxytetrasiklin 1% atau antibiotika lain). Pemberian salep
atau tetes mata harus tepat 1jam setelah kelahiran. Upaya pencegahan
infeksi mata tidak efektif jika diberikan lebih dari 1 jam setelah kelahiran
(Kemenkes RI, 2010).
7) Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1 dosis
tunggal di paha kiri.
Semua bayi baru lahir harus diberi penyuntikan vitamin K1
(Phytomenadione) 1 mg intramuskuler di paha kiri, untuk mencegah
perdarahan BBL akibat defisiensi vitamin yang dapat dialami oleh
sebagian bayi baru lahir (Kemenkes RI, 2010). Pemberian vitamin K
sebagai profilaksis melawan hemorragic disease of the newborn dapat
diberikan dalam suntikan yang memberikan pencegahan lebih terpercaya,
atau secara oral yang membutuhkan beberapa dosis untuk mengatasi
absorbsi yang bervariasi dan proteksi yang kurang pasti pada bayi
(Lissauer, 2013). Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal
di paha kanan Imunisasi Hepatitis B diberikan 1-2 jam di paha kanan
setelah penyuntikan vitamin K1 yang bertujuan untuk mencegah

11
penularan Hepatitis B melalui jalur ibu ke bayi yang dapat menimbulkan
kerusakan hati (Kemenkes RI, 2010).
8) Pemeriksaan Bayi Baru Lahir (BBL)
Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin
kelainan pada bayi. Bayi yang lahir di fasilitas kesehatan dianjurkan tetap
berada di fasilitas tersebut selama 24 jam karena risiko terbesar kematian
BBL terjadi pada 24 jam pertama kehidupan.saat kunjungan tindak lanjut
(KN) yaitu 1 kali pada umur 1-3 hari, 1 kali pada umur 4-7 hari dan 1
kali pada umur 8-28 hari (Kemenkes RI, 2010).
9) PemberianASI eksklusif
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman
tambahan lain pada bayi berusia 0-6 bulan dan jika memungkinkan
dilanjutkan dengan pemberian ASI dan makanan pendamping sampai
usia 2 tahun. Pemberian ASI ekslusif mempunyai dasar hukum yang
diatur dalam SK Menkes Nomor 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang
pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan. Setiap bayi mempunyai
hak untuk dipenuhi kebutuhan dasarnya seperti Inisiasi Menyusu Dini
(IMD), ASI Ekslusif, dan imunisasi serta pengamanan dan perlindungan
bayi baru lahir dari upaya penculikan dan perdagangan bayi.

2.2 Asuhan pada Bayi Baru Lahir dengan Asfiksia


2.2.1 Pengertian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Asfiksia pada bayi baru lahir (BBL) menurut IDAI (Ikatatan Dokter
Anak Indonesia) tahun 2013 adalah kegagalan nafas secara spontan dan
teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir. Keadaan ini disertai
dengan hipoksia, hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis. Hipoksia yang
terdapat pada penderita asfiksia merupakan faktor terpenting yang dapat
menghambat adaptasi bayi baru lahir (BBL) terhadap kehidupan ekstrauterin.
Asfiksia adalah keadaan bayi tidak bernafas secara spontan dan teratur
segera setelah lahir. Seringkali bayi yang sebelumnya mengalami gawat janin
akan mengalami asfiksia sesudah persalinan. Masalah ini mungkin berkaitan
dengan keadaan ibu, tali pusat, atau masalah pada bayi selama atau sesudah
persalinan (Depkes RI, 2009).

12
2.2.2 Klasifikasi Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Klasifikasi asfiksia berdasarkan nilai APGAR:
a. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
b. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
c. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
d. Bayi normal dengan nilai APGAR 10
(IDAI, 2010)

2.2.3 Etiologi dan Faktor Risiko Asfiksia pada Bayi baru Lahir
Asfiksia neonatorum dapat terjadi selama kehamilan, pada proses
persalinan dan melahirkan atau periode segera setelah lahir. Janin sangat
bergantung pada pertukaran plasenta untuk oksigen, asupan nutrisi dan
pembuangan produk sisa sehingga gangguan pada aliran darah umbilical
maupun plasenta hampir selalu akan menyebabkan asfiksia (Anik & Eka,
2013).
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan gawat janin (asfiksia) antara lain :
1. Faktor ibu
a. Preeklampsia dan eklampsia
b. Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
c. Partus lama atau partus macet
d. Demam selama persalinan
e. Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
f. Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
2. Faktor Tali Pusat
a. Lilitan tali pusat
b. Tali pusat pendek
c. Simpul tali pusat
d. Prolapsus tali pusat
3. Faktor bayi
a. Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)

13
b. Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu,
ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
c. Kelainan bawaan (kongenital)
d. Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
(Depkes RI, 2009)

2.2.4 Manifestasi dan Pengkajian Klinis Asfiksia pada Bayi baru Lahir
Asfiksia biasanya merupakan akibat hipoksia janin yang menimbulkan
tanda-tanda klinis pada janin atau bayi berikut ini :
a. DJJ lebih dari 100x/menit atau kurang dari 100x/menit tidak teratur
b. Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala
c. Tonus otot buruk karena kekurangan oksigen pada otak, otot, dan organ
lain
d. Depresi pernafasan karena otak kekurangan oksigen
e. Bradikardi (penurunan frekuensi jantung) karena kekurangan oksigen
pada otot-otot jantung atau sel-sel otak
f. Tekanan darah rendah karena kekurangan oksigen pada otot jantung,
kehilangan darah atau kekurangan aliran darah yang kembali ke
plasenta sebelum dan selama proses persalinan
g. Takipnu (pernafasan cepat) karena kegagalan absorbsi cairan paru-paru
atau nafas tidak teratur/megap-megap
h. Sianosis (warna kebiruan) karena kekurangan oksigen didalam darah
i. Penurunan terhadap spinkters
j. Pucat
(Depkes RI, 2009)
Menurut Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal (2009), pengkajian pada asfiksia neonatorum untuk melakukan
resusitasi ditentukan oleh tiga hal penting, yaitu :
a. Pernafasan
Observasi pergerakan dada dan masukan udara dengan cermat. Lakukan
auskultasi bila perlu lalu kaji pola pernafasan abnormal, seperti pergerakan
dada asimetris, nafas tersengal, atau mendengkur. Tentukan apakah

14
pernafasannya adekuat (frekuensi baik dan teratur), tidak adekuat (lambat
dan tidak teratur), atau tidak sama sekali.
b. Denyut jantung
Kaji frekuensi jantung dengan mengauskultasi denyut apeks atau
merasakan denyutan umbilicus. Klasifikasikan menjadi >100 atau <100
kali per menit. Angka ini merupakantitik batas yang mengindikasikan ada
atau tidaknya hipoksia yang signifikan.
c. Warna
Kaji bibir dan lidah yang dapat berwarna biru atau merah muda. Sianosis
perifer (akrosianosis) merupakan hal yang normal pada beberapa jam
pertama bahkan hari. Bayi pucat mungkin mengalami syok atau anemia
berat. Tentukan apakah bayi berwarna merah muda, biru, atau pucat.
Ketiga observasi tersebut dikenal dengan komponen skor apgar. Dua
komponen lainnya adalah tonus dan respons terhadap rangsangan
menggambarkan depresi sistem saraf pusat pada bayi baru lahir yang
mengalami asfiksia kecuali jika ditemukan kelainan neuromuscular yang tidak
berhubungan.
Nilai Apgar pada umumnya dilaksanakan pada 1 menit dan 5 menit
sesudah bayi lahir. Akan tetapi, penilaian bayi harus dimulai segera sesudah
bayi lahir. Apabila bayi memerlukan intervensi berdasarkan penilaian
pernafasan, denyut jantung atau warna bayi, maka penilaian ini harus dilakukan
segera. Intervensi yang harus dilakukan jangan sampai terlambat karena
menunggu hasil penilaian Apgar 1 menit. Keterlambatan tindakan akan
membahayakan terutama pada bayi yang mengalami depresi berat.

2.2.5 Penatalaksanaan Asfiksia pada Bayi baru Lahir


Bayi baru lahir dalam apnu primer dapat memulai pola pernapasan biasa,
walaupun mungkin tidak teratur dan mungkin tidak efektif, tanpa intervensi
khusus. Bayi baru lahir dalam apnu sekunder tidak akan bernapas sendiri.
Pernapasan buatan atau tindakan ventilasi dengan tekanan positif (VTP) dan
oksigen diperlukan untuk membantu bayi memulai pernapasan pada bayi baru
lahir dengan apnu sekunder.

15
Resusitasi yang efektif dapat merangsang pernapasan awal dan mencegah
asfiksia progresif. Resusitasi bertujuan memberikan ventilasi yang adekuat,
pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen
kepada otak, jantung dan alat –alat vital lainnya (Saifuddin, 2009).

1. Langkah awal dalam stabilisasi


a) Memberikan kehangatan
Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas (radiant warmer) dalam
keadaan telanjang agar panas dapat mencapai tubuh bayi dan
memudahkan eksplorasi seluruh tubuh.
Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara-cara
berikut:
 Evaporasi adalah kehilangan panas akibat penguapan cairan
ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri.
Hal ini merupakan jalan utama bayi kehilangan panas.
Kehilangan panas juga terjadi jika saat lahir tubuh bayi tidak
segera dikeringkan atau terlalu cepat dimandikan dan tubuhnya
tidak segera dikeringkan dan diselimuti.
 Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak
langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin.
Meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih
rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi
melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakkan di atas
benda-benda tersebut.
 Konveksi adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi
terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan
atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat
mengalami kehilangan panas. Kehilangan panas juga terjadi
jika ada aliran udara dingin dari kipas angin, hembusan udara
dingin melalui ventilasi/pendingin ruangan.
 Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi
ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih

16
rendah dari suhu tubuh bayi. Bayi dapat kehilangan panas
dengan cara ini karena benda-benda tersebut menyerap radiasi
panas tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara
langsung) (Kemenkes RI, 2010).
b) Memposisikan bayi dengan sedikit menengadahkan kepalanya Bayi
diletakkan telentang dengan leher sedikit tengadah dalam posisi
menghidu agar posisi farings, larings dan trakea dalam satu garis lurus
yang akan mempermudah masuknya udara. Posisi ini adalah posisi
terbaik untuk melakukan ventilasi dengan balon dan sungkup dan/atau
untuk pemasangan pipa endotrakeal.
c) Membersihkan jalan napas sesuai keperluan
Cara yang tepat untuk membersihkan jalan napas adalah bergantung
pada keaktifan bayi dan ada/tidaknya mekonium. Bila terdapat
mekoneum dalam cairan amnion dan bayi tidak bugar (bayi
mengalami depresi pernapasan, tonus otot kurang dan frekuensi
jantung kurang dari 100x/menit) segera dilakukan penghisapan trakea
sebelum timbul pernapasan untuk mencegah sindrom aspirasi
mekonium. Penghisapan trakea meliputi langkah-langkah pemasangan
laringoskop dan selang endotrakeal ke dalam trakea, kemudian dengan
kateter penghisap dilakukan pembersihan daerah mulut, faring dan
trakea sampai glotis.
d) Mengeringkan bayi, merangsang pernapasan dan meletakkan pada
posisi yang benar
Meletakkan pada posisi yang benar, menghisap sekret, dan
mengeringkan akan memberi rangsang yang cukup pada bayi untuk
memulai pernapasan. Bila setelah posisi yang benar, penghisapan
sekret dan pengeringan, bayi belum bernapas adekuat, maka
perangsangan taktil dapat dilakukan dengan menepuk atau menyentil
telapak kaki, atau dengan menggosok punggung, tubuh atau
ekstremitas bayi. Bayi yang berada dalam apnu primer akan bereaksi
pada hampir semua rangsangan, sementara bayi yang berada dalam
apnu sekunder, rangsangan apapun tidak akan menimbulkan reaksi

17
pernapasan. Karenanya cukup satu atau dua tepukan pada telapak kaki
atau gosokan pada punggung. Jangan membuang waktu yang berharga
dengan terus menerus memberikan rangsangan taktil. Keputusan
untuk melanjutkan dari satu kategori ke kategori berikutnya
ditentukan dengan penilaian 3 tanda vital secara simultan (pernapasan,
frekuensi jantung dan warna kulit). Waktu untuk setiap langkah adalah
sekitar 30 detik, lalu nilai kembali, dan putuskan untuk melanjutkan
ke langkah berikutnya.

2. Ventilasi Tekanan Positif (VTP)


 Pastikan bayi diletakkan dalam posisi yang benar.
 Agar VTP efektif, kecepatan memompa (kecepatan ventilasi) dan
tekanan ventilasi harus sesuai.
 Kecepatan ventilasi sebaiknya 40-60 kali/menit.
 Tekanan ventilasi yang dibutuhkan yaitu, nafas pertama setelah lahir,
membutuhkan: 30-40 cm H2O. Setelah nafas pertama, membutuhkan:
15-20 cm H2O. Bayi dengan kondisi atau penyakit paru-paru yang
berakibat turunnya compliance, membutuhkan: 20-40 cm H2O.
Tekanan ventilasi hanya dapat diatur apabila digunakan balon yang
mempunyai pengukuran tekanan.
 Observasi gerak dada bayi: adanya gerakan dada bayi turun naik
merupakan bukti bahwa sungkup terpasang dengan baik dan paru-paru
mengembang. Bayi seperti menarik nafas dangkal. Apabila dada
bergerak maksimum, bayi seperti menarik nafas panjang, menunjukkan
paru-paru terlalu mengembang, yang berarti tekanan diberikan terlalu
tinggi. Hal ini dapat menyebabkan pneumothoraks.
 Observasi gerak perut bayi: gerak perut tidak dapat dipakai sebagai
pedoman ventilasi yang efektif. Gerak paru mungkin disebabkan
masuknya udara ke dalam lambung.

18
 Penilaian suara nafas bilateral: suara nafas didengar dengan
menggunakan stetoskop. Adanya suara nafas di kedua paru-paru
merupakan indikasi bahwa bayi mendapat ventilasi yang benar.
 Observasi pengembangan dada bayi: apabila dada terlalu berkembang,
kurangi tekanan dengan mengurangi meremas balon. Apabila dada
kurang berkembang, mungkin disebabkan oleh salah satu penyebab
berikut: perlekatan sungkup kurang sempurna, arus udara terhambat,
dan tidak cukup tekanan. Apabila dengan tahapan diatas dada bayi
masih tetap kurang berkembang sebaiknya dilakukan intubasi
endotrakea dan ventilasi pipa-balon (Saifuddin,2009).

3. Kompresi dada
Teknik kompresi dada ada 2 cara:
a) Teknik ibu jari (lebih dipilih)
 Kedua ibu jari menekan sternum, ibu jari tangan melingkari dada
dan menopang punggung
 Lebih baik dalam megontrol kedalaman dan tekanan konsisten
 Lebih unggul dalam menaikan puncak sistolik dan tekanan perfusi
coroner
b) Teknik dua jari
 Ujung jari tengah dan telunjuk/jari manis dari 1 tangan menekan
sternum, tangan lainnya menopang punggung
 Tidak tergantung
 Lebih mudah untuk pemberian obat
c) Kedalaman dan tekanan
 Kedalaman ±1/3 diameter anteroposterior dada
 Lama penekanan lebih pendek dari lama pelepasan curah jantung
maksimum
d) Koordinasi VTP dan kompresi dada
 1 siklus : 3 kompresi + 1 ventilasi (3:1) dalam 2 detik

19
 Frekuensi: 90 kompresi + 30 ventilasi dalam 1 menit (berarti 120
kegiatan per menit)
 Untuk memastikan frekuensi kompresi dada dan ventilasi yang
tepat, pelaku kompresi mengucapkan “satu –dua –tiga
-pompa-...”(Prambudi, 2013).
4. Intubasi Endotrakeal
a) Langkah 1: Persiapan memasukkan laringoskopi
 Stabilkan kepala bayi dalam posisi sedikit tengadah
 Berikan O2 aliran bebas selama prosedur
b) Langkah 2: Memasukkan laringoskop
 Daun laringoskopi di sebelah kanan lidah
 Geser lidah ke sebelah kiri mulut
 Masukkan daun sampai batas pangkal lidah
c) Langkah 3: Angkat daun laringoskop
 Angkat sedikit daun laringoskop
 Angkat seluruh daun, jangan hanya ujungnya
 Lihat daerah farings
 Jangan mengungkit daun
d) Langkah 4: Melihat tanda anatomis
 Cari tanda pita suara, seperti garis vertical pada kedua sisi glottis
(huruf “V”terbalik)
 Tekan krikoid agar glotis terlihat
 Bila perlu, hisap lender untuk membantu visualisasi
e) Langkah 5: Memasukkan pipa
 Masukkan pipa dari sebelah kanan mulut bayi dengan lengkung
pipa pada arah horizontal
 Jika pita suara tertutup, tunggu sampai terbuka
 Memasukkan pipa sampai garis pedoman pita suara berada di batas
pita suara
 Batas waktu tindakan 20 detik(Jika 20 detik pita suara belum
terbuka, hentikan dan berikan VTP)

20
f) Langkah 6: mencabut laringoskop
 Pegang pipa dengan kuat sambil menahan kea rah langit-langit
mulut bayi, cabut laringoskop dengan hati-hati.
 Bila memakai stilet, tahan pipa saat mencabut stilet.(Prambudi,
2013).
5. Obat-obatan dan cairan
a) Epinefrin
 Larutan = 1 : 10.000
 Cara = IV (pertimbangkan melalui ET bila jalur IV sedang
disiapkan)
 Dosis : 0,1 –0,3 mL/kgBB IV
 Persiapan = larutan 1: 10.000 dalam semprit 1 ml (semprit lebih
besar diperlukan untuk pemberian melalui pipa ET. Dosis melalui
pipa ET 0,3-1,0 mL/kg)
 Kecepatan = secepat mungkin
 Jangan memberikan dosis lebih tinggi secara IV.
b) Bikarbonat Natrium4,2%
c) Dekstron 10%
d) Nalokson(Prambudi, 2013).

Bagan 2.3 Manajemen Bayi Baru Lahir dengan Asfiksia menurut Buku Saku
Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial (Kemenkes RI, 2010)

21
Manajemen Bayi Baru Lahir dengan Asfiksia
Penilaian :
Sebelum bayi lahir
 Apakah kehamilan cukup bulan ?
 Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium
Segera setelah bayi lahir :
 Apakah bayi menangis atau bernafas/ tidak megap-megap
 Apakah tonus otot bayi baik/ bayi bergerak aktif ?

Bayi tidak cukup bulan, dan atau tidak bernafas atau Jika air ketuban bercampur mekonium
megap-megap dan atau lemas
NILAI NAPAS
Potong Tali Pusat

Jika bayi menangis atau Jika bayi tidak menangis atau


LANGKAH AWAL
bernafas normal bernafas normal
1. Jaga bayi tetap hangat
2. Atur posisi bayi
3. Isap lendir Buka mulut lebar, usap dan
4. Keringkan dan rangsang taktil isap lendir dari mulut
5. Reposisi Potong tali pusat

NILAI NAPAS

Jika bayi bernapas normal Jika bayi tidak bernapas/bernapas megap-megap

ASUHAN PASCA RESUSITASI VENTILASI


1. Pemantauan tanda bahay 1. Pasang sungkup, perhatikan lekatan
2. Perawatan tali pusat 2. Ventilasi 2 kali dengan tekanan 30 cm air
3. Inisiasi menyusu dini 3. Jika dada mengembang lakukan ventilasi 20x dengan
4. Pencegahan hipotermi tekanan 20 cm air selama 30 detik
5. Pemberian vit K1 22
6. Pemberian salep mata
7. Pemeriksaan fisik
8. Pencatatan dan pelaporan
NILAI NAPAS

Jika bayi mulai bernafas normal Jika bayi tidak bernafas atau bernapas megap-megap

1. Hentikan Ventilasi 1. Ulangi ventilasi sebanyak 20x selama 30 detik


2. ASUHAN PASCA RESUSITASI 2. Hentikan ventilasi dan nilai kembali nafas tiap 30 detik
3. Jika bayi tidak bernafas spontan sesudah 2 menit resusitasi,
siapkan rujukan, nilai denyut jantung

Jika bayi dirujuk Jika tidak mau dirujuk & tidak berhasil

1. Konseling 1. Sesudah 10 menit bayi tidak bernafas spontan dan


2. Lanjutkan resusitasi tidak terdengar denyut jantung pertimbangkan
3. Pemantauan tanda bahaya menghentikan resusitasi
4. Perawatan tali pusat 2. Konseling
5. Pencegahan hipotermi 3. Pencatatan dan pelaporan
6. Pemberian vitamin K1*
7. Pemberian salep/tetes mata
8. Pencatatan dan pelaporan BAB III
STUDI KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI “Ny.R” BARU


LAHIR 1 JAM DI RUANG KLINIK BERSALIN
PUSKESMAS LUBUK BUAYA
TANGGAL 09 OKTOBER 2019

NO MR : 00435
Tanggal : 09 Oktober 2019
Pukul : 05.30 WIB

3.1 Pengkajian Data


I. SUBJEKTIF
1. Identitas/Biodata
Nama bayi : Bayi Ny. R
Umur : 1 jam
Tanggal lahir : 09 Oktober 2019
Jenis kelamin : Laki-laki

23
Nama Ibu : Ny.R Nama Ayah : Tn.A
Umur : 19 tahun Umur : 31 tahun
Suku/Bangsa : Minang/Indonesia Suku/Bangsa : Minang/Indonesia
Pendidikan : SMP Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Buruh
Alamat : Tanjung, Sei pinang Alamat : Tanjung, Sei pinang

2.Keluhan : ibu mengatakan bayi lahir pukul 03.15 WIB, namun bayi tidak
menangis kuat

3. Riwayat Keluarga

a. Data Keluarga: bayi anak ke 1

b. Riwayat kesehatan keluarga :


Ibu mengatakan di keluarganya tidak ada riwayat menderita penyakit
menular, keturunan ataupun penyakit sistemik

4. Riwayat kehamilan yang sekarang :

a. Pemeriksaan kehamilan :
Trimester I
- Tempat Periksa : BPM
- Frekuensi : 1 kali
- Keluhan : mual muntah, pusing
- Obat obatan : tablet fe dan vit C
Trimester II
- Tempat Periksa : BPM
- Frekuensi : 3 kali
- Keluhan : sakit gigi
- Imunisasi : tidak ada
- Obat obatan : tablet fe, kalk, vitamin B Complek
Trimester III
- Tempat Periksa : BPM

24
- Frekuensi : 2 kali
- Keluhan : tidak ada
- Imunisasi : tidak ada
- Obat obatan : tablet fe, Lc, byolisin

b. Pergerakan janin pertama kali dirasakan oleh ibu :


Pada usia kehamilan 20 minggu dengan frekuensi >20 kali sehari

c. Riwayat penyakit yang di derita sebelum hamil sekarang : tidak ada

d. Kebiasaan waktu hamil


Merokok : tidak ada
Alkohol : tidak ada
Obat-obatan : tidak ada
Jamu : tidak ada
5. Riwayat persalinan sekarang :
- Tanggal persalinan : 09 Oktober 2019
- Tempat bersalin : Puskesmas Lubuk Buaya
- Jenis persalinan : spontan
- Usia Kehamilan : 39-40 minggu
- Penolong : Dokter dan bidan
- Lama persalinan:
Kala I : 3 jam 30 menit
Kala II : 19 menit
Kala III : 5 menit
Kala IV : 2 jam
- Keadaan plasenta : plasenta lengkap dan selaput utuh
- Komplikasi pada ibu dan bayi : tidak ada
- Episiotomi : tidak ada
- Laserasi : derajat 2
- Lochea : rubra
- Lactasi : ada

25
6. Pola kegiatan sehari hari ibu :
- Nutrisi
Makanan
 Frekuensi : 3 kali sehari
 Menu : nasi,lauk,sayur
 Keluhan : tidak ada
Minuman
 Frekuensi : >10 kali sehari
 Jenis : air putih
 Keluhan : tidak ada

7. Nutrisi bayi : ASI

II. OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum :
 KU Bayi : baik
 Denyut nadi : 110 kali per menit

 Suhu : 37 0C
 Pernafasan : 32 kali per menit
 Berat Badan : 3300 gr
 Panjang Badan : 51 cm
 Apgar Score : 6/8
 Jenis Kelamin : laki-laki

2. Pemeriksaan Khusus
 Kepala : ubun-ubun kecil dan ubun-ubun besar ada, tidak ada sutura cefal
hematom, tidak ada caput succedenum
 Mata : simetris kiri dan kanan, tidak ada perdarahan sub konjungtiva
dan skera tidak ikterik
 Hidung : simetris, terdapat dua lubang hidung yang dibatasi oleh sekat
hidung

26
 Telinga : simetris, lubang telinga dan daun telinga ada
 Mulut : tidak ada kelainan kongenital seperti labioskizis atau
palatoskizis
 Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe
 Dada :
Bentuk dada : simetris
 Gerakan dada : tidak ada retraksi dinding dada
 Suara napas : ada mengi
 Bunyi jantung : normal
 Tangan :
 Gerakan : aktif
 Jumlah jari : 10
 Kelainan : tidak ada

 Abdomen :
 Bentuk perut : normal
 Keadaan tali pusat : tidak ada tanda-tanda infeksi
 Bising usus : ada
 Kelamin:
Laki-laki
 Kelainan congenital : tidak ada
 Keadaan testis : sudah masuk ke dalam skrotum
 Kaki :
 Gerakan : aktif
 Jumlah jari : 10
 Kelainan : tidak ada
 Punggung
 Bentuk punggung : normal, tidak ada kelainan
 Gangguan lainnya : tidak ada
 Anus :
 Bentuk anus : normal, tidak ada kelainan
 Kulit :

27
 Warna kulit : kebiruan
 Verniks kaseosa : ada
 Lanugo : tidak ada
 Oedema : tidak ada
Pemeriksaan reflek
o Reflek morrow : ada
o Reflek rooting : ada
o Reflek sucking : ada
o Reflek grasping : ada
o Reflek tonik neck : ada
o Reflek Babinski : ada
Pemeriksaan Antropometri
o Lingkar kepala : 33 cm
o Lingkar dada : 33 cm
o Lingkar perut : 32 cm
o Panjang Badan : 51 cm
o Berat Badan : 3300 gr

28
BAB IV

ANALISIS KASUS

Bayi baru lahir pada pada tanggal 9 Oktober 2019 pada jam 03.15 WIB.
Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan didapatkan jenis kelamin bayi laki-laki,
KU sedang, pernafasan megap-megap (32x/i), nadi 110x/I, warna kulit kebiruan,
tidak menangis kuat dan apgar skore 6/8. Selanjutnya dilakukan pemotongan tali
pusat pada bayi, bayi di posisikan menengadah dengan bantalan kain dibawah
bahu bayi dengan tetap menjaga kehangtan bayi, lalu hisap lendir bayi dari mulut
dan hidung, lalu keringkan bayi dan berikan rangsangan taktil. Rangsangan taktil
dilakukan dengan menepuk atau menyentil telapak kaki dengan hati-hati dan atau
menggosok punggung, perut, dada, atau tungkai bayi dengan telapak tangan.
Tindakan ini merangsang sebagian besar bayi baru lahir untuk bernapas. Prosedur
ini hanya dilakukan pada bayi yang telah berusaha bernafas. Elusan pada tubuh
bayi, dapat membantu untuk meningkatkan frekuensi dari dalamnya pernafasan
(DepKes RI, 2008).

29
Dari hasil pengkajian didapat kan ini kehamilan pertama dan usia ibu saat
ini adalah 19 tahun. Menurut Manuaba (2008) dan Cunningham (2012) sistem
reproduksi yang sehat adalah usia 20-35 tahun, sedangkan usia reproduksi tidak
sehat ( <20 atau >35 tahun) dapat menimbulkan akibat buruk bagi kesehatan ibu
dan bayi yang dilahirkan. Pada umur kurang dari 20 tahun alat reproduksi belum
matang sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun perkembangan dan
pertumbuhan janin. Hal ini disebabkan karena ibu sedang dalam masa
pertumbuhan ditambah faktor psikologis ibu yang belum matang atau belum siap
untuk menerima kehamilannya. Selain itu, pada umur kurang dari 20 tahun rentan
terjadi infeksi pada organ reproduksi karena terjadi perubahan kolagen, degenerasi
kolagen pada alat reproduksi terganggu sehingga mengakibatkan penurunan
hormon prostaglandin (PGE2 dan PGF2α) yang memacu kontraksi dalam
kehamilan.

Selain itu dalam kasus ini pada saat persalinan air ketuban ibu tidak ada,
ini menandakan ibu mengalami oligohidramnion atau kemingkinan ibu
mengalami KPD. Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh
kontraksi uterus dan peregangan berulang. KPD juga bisa terjadi karena
berkurangnya kekuatan membrane. Kemungkinan kontraksi uterus yang kuat
adalah penyebab independen dari Ketuban Pecah Dini dan selaput ketuban yang
tidak kuat akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi akan mudah pecah
(rapuh) dengan mengeluarkan air ketuban. Dengan pecahnya ketuban
mengakibatkan cairan amnion berkurang sehingga terjadi oligohidramnion.
Terjadinya oligohidramnion apabila air ketuban sebanyak 200-500 ml yang dapat
menekan tali pusat sehingga mengganggu pertukaran O2 dan CO2 pada plasenta
yang dapat menyebabkan asfiksia/ hipoksia pada janin (Cunningham, 2012 dan
ACOG, 2013).

Setelah dilakukan tindakan resusitasi pada bayi baru lahir tersebut bayi
sudah menangis kuat, dan warna kulit sudah kemerahan, selanjutnya bayi
diberikan salap mata, dimana pemberian salap mata ini bertujuan untuk
pencegahan infeksi pada mata. Pencegahan infeksi mata dianjurkan menggunakan
salep mata antibiotik tetrasiklin 1% (Noordiati, 2018).

30
Neonatal conjunctivitis (NC) atau oftalmia neonatorum adalah infeksi
yang paling umum dari semua jenis pada neonatus, infeksi ini terjadi hingga 10%
dari kelahiran hidup. NC ini merupakan infeksi yang ditularkan dari ibu ke bayi
selama persalinan. Secara internasional, baik Amerika Utara dan sebagian besar
Eropa, obat tetes mata yang di pakaika ke mata bayi baru lahir adalah larutan
silver nitrat satu dan dua persen. Baru-baru ini, povidone-iodine topikal dan
antibiotik termasuk tetrasiklin dan salep eritromisin telah digunakan, karena untuk
menurunkan tingkat konjungtivitis. Pada kasus ini bidan di puskesmas sudah
melakukan asuhan sesuai dengan teori yang didapatkan.

Setelah bayi diberikan salep mata selanjutnya bayi di injeksikan vitamin K


di paha bagian kiri secara intramuskular. Dalam pedoman NICE tahun 2015
merekomendasikan pemberian vitamin K pada bayi baru lahir untuk mencegah
perdarahan pada bayi karena defisiensi vitamin K. Menurut Marchili dkk tahun
(2018) dalam penelitiannya ia menganjurkan pemberian vitamin K 1 mg secara
intramuskular. Jika pemberian secara IM ditolak oleh orang tua maka bayi dapat
di berikan dosis oral. Namun jika dibandingkan pemberian injeksi vitamin K
secara IM dengan vitamin K dosis oral maka injeksi vitamin K 1 mg secara
intramuskular lebih direkomendasikan. Italian Society of Neonatology
menganjurkan pemberian vitamin K secara oral pada semua bayi baru lahir yang
disusui secara ekslusif (ASI E) pada minggu ke 2 sampai minggu ke 4.

Setelah bayi diberikan injeksi vitamin K selanjutnya bayi diberikan ke


ibunya untuk disusui. ASI merupakan makanan yang pertama, primer dan terbaik
bagi bayi karena ASI mengandung beragam nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk
proses pertumbuhan dan perkembangan. Menyusui eksklusif yaitu hanya
memberikan ASI saja pada bayi, tanpa cairan tambahan lainnya seperti susu
formula, jeruk, madu, teh, air putih, dan tanpa makanan padat lainnya seperti
pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur beras, bubur kukus. Menyusui secara
eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah melahirkan, itu diberikan
tanpa jadwal yaitu 2-3 jam, dan tidak ada makanan lain, bahkan air, hingga bayi
berusia enam bulan. ASI mengandung zat pelindung untuk meningkatkan

31
kekebalan tubuh dari penyakit. ASI tidak menimbulkan alergi dan juga ASI
menyempurnakan pertumbuhan bayi (Putriningrum, 2016).

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap berbagai masalah kesehatan. Bayi
baru lahir harus menyesuaikan diri dengan kehidupan ekstrauterin agar dapat
bertahan hidup di luar rahim ibu. Bayi baru lahir memerlukan asuhan dan
perawatan yang cepat, tepat, dan komprehensif dari tenaga kesehatan. Asuhan
yang harus diperhatikan adalah jaga agar bayi tetap kering dan hangat untuk
mencegah terjadinya hipotermia, dan usahakan adanya kontak antara kulit bayi
dan ibu sesegera mungkin, serta inisiasi menyusui dini (IMD). Bayi baru lahir bisa
mengalami gangguan pernapasan sehingga bayi tidak langsung bernapas secara
spontan, tidak menangis kuat, dan berwarna kebiruan, yang disebut dengan
asfiksia pada bayi baru lahir. Bayi asfiksia harus mendapatkan penanganan yang
cepat agar dapat tertolong. Keterampilan dan kemampuan bidan dalam
penanganan bayi baru lahir dengan asfiksia sangat dibutuhkan agar bayi dapat
segera bernapas dengan normal.

32
5.2 Saran
Tenaga kesehatan diharapkan mampu dan lebih tanggap dalam melakukan
asuhan kebidanan yang komprehensif terhadap bayi baru lahir dengan asfiksia
agar bayi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Chowdhury, R, dkk. 2015. Breastfeeding and maternal health outcomes: a


systematic review and meta-analysis. Wiley Acta Paediatrica
Cunningham, F. G., Leveno, Bloom, Hauth, Rouse, Sponge. 2010. Williams
Obstetrics. 23rd Edition. 1st Volume. McGraw-Hill Companies, Inc.
Terjemahan Pendit, B. U. 2012. Obstetri Williams. Edisi 23. Volume 1.
EGC. Jakarta
Dewi, V, N, L. 2010. Asuhan Neonatus bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba
Medika
England, C. 2009. Infants With Low Birth Weight Healthy. In: D. M. Fraser, and
M. A. Cooper, eds. Myles Textbook for Midwives. 14th Edition. Elsevier
Limited. Oxford, United Kingdom. Terjemahan Rahayu, S., dan L.
Mahmudah. 2009. Myles: Buku Ajar Bidan. Edisi 14. EGC. Jakarta
Hall, J. E. 2011. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Twelfth
Edition. Saunders Elsevier Inc. Terjemahan Widjajakusumah, M. D. 2014.
Guyton dan Hall: Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi Kedua belas.
Elsevier Pte. Ltd. Singapore
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2010. Best Practices in Pediatrics. IDAI. Jakarta
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2015. Best Practices in Pediatrics. IDAI. Jakarta
JNPK-KR. 2008. Asuhan Persalinan Normal Asuhan Esensial, Pencegahan, dan
Penanggulangan Segera Komplikasi Persalinan dan Bayi Baru Lahir.
JNPK-KR. Jakarta

33
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Neonatal
Esensial. Pedoman Teknis Pelayanan Kesehatan Dasar. Kemenkes RI.
Jakarta
Kementerian Kesehatan RI. 2016. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015.
Kemenkes RI. Jakarta
Kementerian Kesehatan RI. 2018. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015.
Kemenkes RI. Jakarta
Lissauer, Avroy. 2013. Selayang Neonatalogi. Edisi Kedua. Jakarta : Indeks. 150-
156
Manuaba, I. A. C., I. B. G. F. Manuaba, dan I. B. G. Manuaba. 2010. Ilmu
Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB untuk Pendidikan Bidan. Edisi
2. EGC. Jakarta
Marchili, M.R., Elisa, S., Alessandra, M., Simona, B., Lelia, R. A., dan Alberto, V.
2018. Vitamin K Deficiency: a Case Report and Review of Current
Guidelines. Italian Journal Of Pediatric. 44 (36). Italia
Noordiati. 2018. Asuhan kebidanan pada neonates, bayi, balita dan anak
prasekolah. Wineka media. Malang.89o0
Newlands, S., John, D., John, P., Chriss, M. dan Graham, W. 2018. Neonatal
Conjunctivitis in the new Zealand Midland Region. Volume 131. NZMA
journal
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.
1983. Obstetri Fisiologi. Eleman. Jakarta
Prawirohardjo, S. 2010. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Edisi 4.
Cetakan Ketiga. P. T. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta
Putriningrum, E., Hermanu, J., Eti, P.P. 2016. Exclusive Breast Feeding
Management: Qualitative Study on Working Mothers in Kalibawang
District, Kulon Progo, Yogyakarta. Journal of Health Policy and
Management. 1(1): 13-19
Varney, H., J. M. Kriebs, dan G. L. Gegor. 2004. Varney’s Midwifery. 4th Edition.
2nd Volume. Jones and Bartlett Publishers, Inc. Terjemahan Mahmudah, L.,
dan G. Trisetyati. 2007. Buku-Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4. Volume 2.
EGC. Jakarta

34