Anda di halaman 1dari 11

Penghambat Daerah Broca

Kalau daerah Broca sendiri masih utuh, tetapi jalan ke daerah ini yang terhambat,
kemungkinan beasr, apraksia verbalnya nampak secara tidak teratur dan
kesalahan-kesalahannya juga sangat tidak teratur. Menurut perkiraan, bahasa otomatis
pasien-pasien akan relatif lebih baik daripada basaha sadarnya, dibanding dengan
kelompok pasien yang mengalami kerusakan di daerah Broca, Hal ini masih harus
dibuktikan dengan penilitian di masa depam.

Penanganan kasus ini terdiri atas pencarian jalan lain ke daerah Broca yang utuh,
semacam ‘pancingan’ untuk membuka daerah ini. Daerah-daerah lain, di luar daerah
Broca, harus dilibatkan. Dalam kepustakaan hal ini disebut ‘reorganisasi
intersistematis’. Dapat dicoba melalui prosodi yang berlebihan atau melalui menyanyi
(melalui hemisfer kanan). Terapi yang bernama Melodic Intonation Therapy (MIT)
(Helm, 1976) (Dharmaperwira-Prins, Maas, 1993) ternyata adalah cara yang cocok
untuk banyak pasien-pasien apraksia.

Barangkali berbicara sambil mengetik jari di meja dapat menjadi pancingan.


Pancingan ini juga membuat kecepatan bicara menjadi lebih pelan, yang untuk banyak
pasien sudah akan memperbaiki bicaranya.

Gerak isyarat dapat menjadi pancingan: dari yang dikenal sehari-hari (misalnya
gerakan untuk makan, minum, berjalan) sampai bahasa gerak isyarat tuna rungu.

Mungkin sebuah pancingan visual dapat menolong, yang bisa terdiri dari bentuk
mulut ahli logopedi wantu mengulang ucapan, sebuah gambar, kata tertulis, pasien
menulis kata yang dimaksud atau menunjuk huruf pertaman kata di papan abjad.
Kalau sudah ditemukan pancingan yang sesuai untuk seorang pasien, pancingan ini
pada mulanya diberikan atau diperingati setiap kali oleh ahli logopedi. Tujuanny
adalah agar pancingan ekstren ini menjadi pancingan intern: pasien akan
mengingatnya sendiri bila perlu. Akhirnya, mudah-mudahan, pancingan ini tidak
perlu lagi, kalau jalan baru ini menjadi jalan otomatis menuju ke daerah Broca.

Membuka jalan yang baru dengan sebuah pancingan, biasanya bisa dilakukan dalam
waktu singkat. Merubahnya menjadi pancingan intern, lalu membuatnya menjadi
otomatis, itulah memerlukan waktu yang banyak.

Aparaksia Verbal dan Afasia

Jelaslah kalau ditambah afasia, skor-skor tes akan lebih buruk. Apa dalam hal iniharus
memilih menangani afasia atau apraksia verbalnya atau pun keduanya, tergantung dari
keparahan kedua gangguan ini (Dharmaperwira, Maas, 1990). MIT terutama
dikembangkan untuk pasien-pasien afasia Broca yang juga mengalami apraksia verbal,
yang sulit atau tidak dapat memulai berbicara.

Sebuah metode berlatih gratis, untuk penanganan pasien afasia global parah yang
disertai apraksia verbal parah, diterangkan olehVries (1996).

Penerangan dan Bimbingan

Penerangan dan bimbingan kepada pasien dan keluarganya di sini pun mengambil
tempat yang penting dalam penanganan. Pasien harus sadar bahwa penanganan
apraksia verbal memakan waktu yang lama dan ia sendiri harus berlatih banyak,
karena kalau tidak, manfaat penanganan akan sedikit sekali.
Pasien dan keluarga harus tahu bahwa setiap hari bicara bisa kurang atau lebih baik,
jadi jangan berputus asa kalau terkadang tidak begitu baik. Juga keadaan capai atau
beremosi mempengaruhi bicara.

Penting sekali keluarga sangat bersabar dengan bicara pasien. Hampir selalu, keluarga
dekat pasien perlu hadir beberapa kali pada penanganan, terutama kalau pasien mulai
berhasil menggunakan pancingan. Keluarganya dapat meliat bagaimana menggunakan
pancingan ini, hingga dapat diterapkan di rumah.

Prognosis

Faktor-Faktor yang mempengaruhi prognosis apraksia verbal adalah:

 Jangka waktu terjadinya gangguan.

Dalam Bulan pertama setelah terjadinya apraksia verbal, belum dapat dibuat
prognosis apapun. Akan tetapi kalau setelah dua bulan masih terjadi anatria, maka
prognosisnya buruk.

 Adanya apraksia bukofasial.

Kalau terdapat apraksia bukofasial yang parah, maka diperkirakan bahwa


pemulihannya akan lebih sulit.

 Adanya gangguan-gangguan bicara atau bahasa yang lain.

Tambahan disartria atau afasia dapat mempersulit pemulihan. Lagipula,


kemampuan menilai atau memperbaiki bicara diri sendiri dengan adanya disartria
atau afasia menjadi berkurang.
 Faktor-faktor kesehatan.

Kesehatan yang buruk tentunya adalah faktor yang menghambat. Penyakit yang
sudah ada sebelum terjadi apraksia, seperti diabetes, dapat mempersulit
pemulihan.

 Penanganan.

Secara umun prognosis akan lebih baik kalau dilakukan penanganan logopedis.

 Kemampuan belajar.

Kalau ternyata tidak ada kemampuan belajar (misalnya karena demensia atau
gangguan kognitif), efek penanganan akan sedikit.

 Kemampuan menerapkan apa yang dipilih.

Hal-hal yang diajarkan dalam penanganan harus dapat diterpkan dalam kehidupan
sehari-hari. Kalau hal ini ternyata tidak dapat dilakukan, penanganan tidak
berguna diteruskan.

C.22. Fungsionalitas

Sasaran penanganan akhirnya adalah komunikasi fungsional: berkomunikasi dalam


kehidupan sehari-hari.

Sebab-sebab Kegagalan
Tidak selalu mudah menerapkan apa yang dilatih dalam terapi individual ke dalam
praktek sehari-hari. Sebab-sebab yang mungkin mengakibatkan kegagalan penerapan
apa yang sudah dapat dilatih dengan baik adalah:

1. Pasien memerlukan bantuan ahli logopedis untuk mengingat bagaimana harus


berbicara.

2. Pasien ingat harus berbicara dengan cara yang lain, tetapi belum tahu tepat
bagaimana caranya. Ia masih perlu diberi petunjuk.

3. Pasien belum berani menerapkan apa yang telah dilatihnya.

4. Pasien sebenarnya tidak dapat menerima cara bicara yang baru ini.

5. Lingkungan pasien tidak menyesusaikan diri dengan cara berbicara baru pasien,
misalnya tidak sabar kalau pasien berbicara lambat atau menunjuk huruf pertama
setiap kata.

6. Pasien tidak bermotivasi menerapkan dalam kehidupan sehari-hari apa yang telah
dilatihnya.

Pemecahan soal

Tidak ada gunanya terus berlatih kalau apa yang dilatih tidak dapat menjadi
fungsional. Dalam hal ini, cari alasannya, lalu coba memacahkan masalahnya.

Untuk sebab pertama di atas - pasien memerlukan bantuan ahli logopedis untuk
mengingat bagaimana berbicara - mungkin kesalahanya terletak di sisi ahli logopedi,
kalau aspek ini tidak cukup dilatih. Mungkin juga disebabkan oleh pasien: mungkin
merupakan bagian dari gangguan bicaranya (misalnya pada disartria hipokinetis parah)
atau terdapat gangguan-gangguan lain (fisik atau kognitif) yang mempersulitnya.
Dalam hal ini, coba menemukan sebuah feedback ekstern yang dapat dipakai dalam
kehidupan sehari-hari.
Untuk sebab kedua biasanya pasien masih memerlukan latihan banyak atau pentunjuk
yang lebih jelas.

Terutama untuk sebab ketiga - pasien belum berani menerapkan apa yang telah
dilatihnya - penanganan kelompok itu ideal. Kalau hal ini tidak ada, harus dicarikan
kesempatan-kesempatan ‘aman’ lain untuk pasien, mungkin bisa dilakukan dengan
latihan mengambil peran bergiliran atau meminta bantuan keluarga, teman dekat atau
ahli terapi lain.

Kalau ternyata pasien berpendapat bahwa bicara yang baru ini sebenarnya tidak dapat
diterima, dalam hal-hal tertentu terkadang dapat ditemukan cara bicara lain yang
dapat diterima, dalam hal-hal tertentu terkadang dapat ditemukan cara bicara lain
yang dapat diterimanya. Tetapi kebanyakan kasus tidak bisa. Mudah-mudahan, dalam
hal ini, pasien masih dapat diyakinkan bahwa cara berbicara semula sudah tidak
mungkun lagi, barangkali dengan bantuan orang ketiga. Kalau tidak, harus ditemukan
alat berkomunikasi yang lain atau penanganan harus dihentikan. Mungkin juga, pasien
membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima keadaanya dan setelah beberapa
waktu akan bermotivasi untuk melakukan penanganan. Maka, setelah beberapa bulan,
coba mendekati pasien sekali lagi.

Kalau ternyata lingkungan tidak menyesuaikan diri dengan cara berbicara baru pasien,
padahal hal ini sudah dibahas sebelumnya, maka harus dicari kenapa lingkungan tidak
mau atau tidak bisa melakukannya. Jika perlu, jelaskan sekali lagi bahwa mereka turut
bertanggung jawab untu komunikasi yang optimal dengan pasien.

Terakhir, pasien yang tidak bermotivasi menerapkan latihan-latihanya, mungkin


mengalami depresi. Dalam hal ini, jalan yang paling baik adalah meminta bantuan
ahli lain.
Kalau pasien menganggapnya tidak penting, keputusan yang adalah menghentikan
penanganan.

Gunanya penanganan kelompok untuk komunikasi fungsional

Penanganan dalam kelompok adalah cara yang baik untuk melatih fungsionalitas.
Interaksi yang terjadi dalam kelompok adalah semacam komunikasi sehari-hari. Dan
ahli logopedi dapat mengobservasi bagaimana kelakuan pasien dan jika perlu
memperbaikinya. Di bab berikut hak ini diperpanjang.

C.23. Penanganan kelompok

Dalam banyak rumah perawatan dan tempat penanganan lain, termasuk berbagai
praktek logopedi pribadi, di samping penanganan seorang, makin sering
diselanggarakan penanganan kelompok. Penanganan kelompok ini dapat diberikan
bersamaan dengan penanganan seorangan atau mengantikannya. Hal terakhir ini
terutama terjadi untuk fase yang lebih lanjut, kalau dengan berlatih sudah dicapai
komunikasi yang optimal untuk pasien dan penanganan seorangan pada saat itu tidak
akan menambah manfaat.

Sasaran penanganan kelompok

Sasaran penanganan kelompok secara garis besar terdiri dari dua bagian:

1. Memberi kesempatan untuk menerapkan dalam praktek latihan-latihan tetapi


individual dengan masih ada pengawasan ahli logopedi. Semacam langkah
percobaan menuju fungsionalitas.
2. Memberi kesempatan pasien untuk membicarakan keadaannya dengan sesamanya,
mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapinya karena gangguan berbicara.

Biasanya kedua sasaran turut berperan, maka dalam penanganan kelompok diberi
perhatian pada transfer latihan maupun pada pembahasan masalah-masalah. Tetapi
bisa terjadi dalam sebuah kelompok hanya satu sasaran saja yang diperhatikan dan
hanya sedikit tidak memperhatikan sasaran yang lain.

Penanganan kelompok biasanya dimulai beberapa waktu setelah dilakukan


penanganan seorangan, setelah tiba saatnya latihan-latihan seorangan ini diterapkan
dalam praktek. Seringkali saat ini juga adalah saat yang baik untuk mengenai
pasien-pasien lain dalam keadaan serupa, agar oleh konfrontasi ini gangguannya lebih
dapat diterima dan agar dapat membahas dan mencari pemecahan berbagai masalah.

Untuk kebanyakan pasien penanganan kelompok ini merupakan tambahan yang


berguna. Para pasien akan salin mengaktifkan dan memberi semangat. Sering juga
suatu pemecahan masalah akan lebih cepat diterima kalau diusulkan pasien lain.

Tidak setiap pasien disartria atau apraksia verbal akan dapat manfaat dari penangan
kelompok. Hal ini tergantung dari penyebab gangguan dan bersamaan dengan ini: dari
prognosis dan keparahannya. Kemudian juga tergantuk dari watak seorang dan
kondisi pribadinya. Pasien muda dengan penyakit Huntington, misalnya, akan lebih
tertolong dalam Yayasan pasien-pasien Hungtington, di mana ada sesama nasibnya.
Dan seorang ALS dengan gangguan-gangguan bicara yang sudah mulai parah, tidak
akan mempunyai tenaga untuk berpratisipasi dalam kelompok.

Jumlah Peserta

Jumlah peserta dalam sebuah kelompok bisa bervariasi antara dua sampai enam orang.
Kelompok yang terdiri dari empat atau lima orang biasanya yang paling ideal: cukup
kecil agar setiap orang pasien mendapat cukup giliran dan cuku besar untuk
mendapatkan interaksi kelompok. Jumlah peserta juga tergantung dari pasarannya.
Jika ada dua pasien dengan kesulitan-kesulitan bicara yang kira-kira serupa, mereka
bisa berlatih bersama-sama dengan baik dengan seorang ahli logopedi dan dapat
berlatih bersama-sama pula untuk transfer ke dalam praktek. Kelompok yang lebih
besar ini, jika mempunyai sasaran membahas masalah, dengan sangat baik dapat
dipimpin oleh seorang ahli logopedi bersama dengan seorang ahli dari bidang lain,
seperti seorang ahli ergoterapi, pekerja sosial atau [sikolog.

Tugas ahli logpedi adalah memperhatikan agar setiap peserta mendapat cukup giliran
untuk mengerjakan transfer latihan-latihannya dan/atau membicarakan
pengalaman-pengalamannya, tergantung dari sasaran kelompok tersebut.

Kelompok homogen atau heterogen

Kelompok pasien tidak perlu homogen, yakni terdiri dari pasien-pasien dengan
macam distartia yang sama. Bahkan sangat mungkin membuat kelompo yang terdiri
dari pasien-pasien disartria dan pasien-pasien afasia. Yang lebih penting adalah umur;
biasanya kelompok-kelompok umur yang berbeda mempunyai kesulitan yang berbeda
pula. Dan tidak akan banyak bedanya apa gangguan bicaranya ini diakibatkan
disartria atau afasia. Selain kelompok-kelompok dengan sasaran logopedis, ada juga
yang berbagai kelompok dari berbagai yayasan pasien, seperti misalnya kelompok
bicara pasien-pasien Huntington atau pasien-pasien Parkinson. Seringkali kelompok
ini juga mengikutsertakan keluarga pasien atau terdapat kelompok khusus untuk
mereka. Kelompok ini sudah jelas bersasaran masalah-masalah khusus yang
ditemukan untuk penyakit ini. Walau demikian, masalah-masalah komunikasi pasti
juga akan dibahas dalam kelompok-kelompok ini, jadi kehadiran seorang ahli
logopedi dalam hal ini juga bisa dibutuhkan untuk memberi keterangan
C.24. Efek penanganan dan penyelesaian penanganan

Sasaran-sasaran penanganan

Pada awal penanangan telah disusun sasaran-sasaran penananganan yang didasarakan


masalah-masalah komunikasi yang dialami pasien dan lingkungannya pada saat itu.
Sasaran-sasaran ini meliputi penerangan dan bimbingan kepada pasien dan
lingkungan dan, untuk kebanyakan kasus, juga penanganan langsung terhadap
gangguan bicara pasien. Sasaran-sasaran ini dibuat untu jangka waktu yang tertentu,
misalnya tiga bulan. Setelah jangka waktu itu selesai, harus dibuat evaluasi apa
sasaran-sasarannya telah tercapai, kemudian diputuskan apa penanganan akan
dilanjutkan. Kalau dilanjutkan harus dibuat sasaran-sasaran baru. Sasaran-sasaran ini
bisa berubah sama sekali dengan yang lama kalau yang lama sudah dicapai. Tidak
tercapainya satu atau lebih dari satu sasaran dapat disebabkan berbagai hal. Mungkin
sasaran itu terlalu sulit untuk dicapai, baru berhasil sebagian dan memerlukan waktu
yang lebih lama. Dalam hal ini sasaran tersebut dicantum lagi untuk periode yang
berikut. Mungkin juga, sasaran itu ternyata tidak riil. Memang sayang kalau tidak
berhasil dan tentunya harus dicari mengapa tidak dapat berhasil. Tetapi kalau
sasaran-sasaran yang lain telah dicapai oleh pasien, ketidakberhasilannya satu sasaran
tidak perlu menjadi terlalu soal.

Efek penanganan

Dalam kenyataan praktek logopedi, seringkali sasaran-sasaran untuk setiap periode


kurang diperinci secara tertulis. Padahal sebaiknya hal ini dilakukan. Untuk semua
orang yang bersangkutan (dokter yang menangani pasien , pasien dan lingkungan,
serta untuk ahli logopedi yang menangani pasien sendiri) akan jelas sejak awal apa
yang hendak dilatih dan pada akhir penanganan akan jelas pula apa didapatkan
manfaat, apa penanganannya efektif. Seperti dikatakan semula, seharusnya
sasaran-sasaran ini disusun dengan pertimbangan-pertimabangan pasien dan
lingkungannya. Lingkungan turut bertanggungjawab atas keberhasilan penanganan,
terutama kalau sejak awal telah dijelaskan apa yang diharapkan dari mereka. Kalau
pada awal penanganan pasien diberitahu bahwa untuk sasaran ‘ Menambah kejelasan
beebicara dengan memperlambat kecepatan bicara’ ia harus berlatih sendiri di rumah
setiap hari dan ia setuju, maka ia harus diperingati kalau tidak melakukannya. Lain
halnya kalau ahli logopedi tidak menjelaskan sebelumnya bahwa hasil yang akan
diperolehnya tergantung dari latihan di rumah.

Kalau salah satu sasaranya adalah ‘memberi keterangan keluarga mengenai gangguan
bicara pasien, agar mereka dalam kehidupan sehari-hari memberinya cukup waktu
untuk menyampaikan sebuah pesan lisan dengan tambahan tulisan kata-kata’ dan
ternyata, setelah jangka waktu penanganan selesai, sasaran ini tidak tercapai, mungkin
tergantung pada ahli logopedi. Mungkin ia tidak menyisihkan cukup waktu untuk
penjelasan dan bimbingan atau mungkun ia salah memperkirakan kesediaan keluarga.
Mungkin keluarga mengatakan bersedia, tetapi akhirnya tidak mampu cukup bersabar.

Jadi, menyusun secara jelas sasaran-sasaran penanganan sebelum melakukannya , dan


mengevaluasi pencapaian pada akhir penanganan, merupakan cara terbaik untuk
memperlihatkan efek penanganan.

Penyelesaian Penanganan

Dengan menyusun sasaran-sasaran secara jelas sebelumnya, pada akhir jangka


waktu penanganan akan nampak jelas apa ada efek penanganan. Maka dapat diambil
keputusan yang baik apa penanganan perlu diteruskan atau dihentikan.