Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang
digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh mempertahankan hidup
dan aktivitas berbagai organ atau sel (Hidayat, 2006). Oksigen dibutuhkan
untuk mempertahankan kehidupan. Perawat seringkali menemukan klien yang
tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigennya. Fungsi sistem pernapasan dan
jantung adalah menyuplai kebutuhan oksigen tubuh (Potter & Perry, 2006).
Oksigen merupakan gas yang sangat vital dalam kelangsungan hidup sel dari
jaringan tubuh karena oksigen diperlukan untuk proses metabolisme tubuh
secara terus menerus. Oksigen diperoleh dari atmosfer melalui proses bernapas
(Tarwoto & Wartonah, 2010). Kebutuhan tubuh terhadap oksigen merupakan
kebutuhan yang sangat mendasar dan mendesak, tanpa oksigen dalam waktu
tertentu sel tubuh akan mengalami kerusakan yang menetap dan menimbulkan
kematian. Otak merupakan organ yang sangat sensitif terhadap kekurangan
oksigen. Otak masih mampu menoleransi kekurangan oksigen antara 3-5 menit.
Apabila kekurangan kekurangan oksigen berlangsung lebih dari lima menit,
dapat terjadi kerusakan sel otak secara permanen (Kozier & Erb, 1998).

Gagal jantung adalah kelainan fungsi jantung yang bertanggung jawab


atas kegagalan jantung memompa darah pada kecepatan yang dengan
kebutuhan jaringan yang melakukan metabolisme atau kemampuan jantung
untuk memenuhi kebutuhan inti memerlukan peningkatan abnormal tekanan
pengisian. Gagal jantung mungkin digambarkan sebagai curah-tinggi atau
curah-rendah, akut atau kronik, sisi kanan atau sisi kiri, depan atau belakang,
dan sistolik atau diastolic (Isselbacher, dkk, 2000).

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Oksigenisasi?
2. Bagaimana Etiologi Gangguan Oksigenisasi?
3. Bagaimana Klasifikasi Gangguan Oksigenisasi?
4. Bagaimana Patofisiologi Gangguan Oksigenisasi?
5. Bagaimana Manifestasi Klinis Gangguan Oksigenisasi?
6. Bagaimana Pemeriksaan Penunjang Gangguan Oksigenisasi?
7. Bagaimana Penatalaksanaan Gangguan Oksigenisasi?
8. Bagaimana anatomi pernafasan?
9. Bagaimana fisiologi pernafasan?
10. Apa saja masalah keperawatan dengan gangguan oksigenisasi?
11. Bagaimana pernafasan berdasarkan usia secara normal?
12. Bagaimana Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Kebutuhan Oksigenasi?

C. Tujuan

a. Mengidentifikasi pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan masalah


kebutuhan dasar oksigenasi.
b. Mengidentifikasi perumusan diagnosa keperawatan pada pasien dengan
masalah kebutuhan dasar oksigenasi.
c. Mengidentifikasi penyusunan rencana asuhan keperawatan pada pasien
dengan masalah kebutuhan dasar oksigenasi.
d. Mengidentifikasi implementasi yang dilakukan pada pasien dengan
masalah kebutuhan dasar oksigenasi.
e. Mengidentifikasi evaluasi keperawatan pasien dengan masalah kebutuhan
dasar oksigenasi.

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian
Kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang
digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh mempertahankan
hidup dan aktivitas organ atau sel.
B. Etiologi
1. Faktor Fisiologi
a) Menurunnya kapasitas peningkatan oksigen (contoh : anemia)
b) Menurunnya konsentrasi oksigen yang diinspirasi
c) Hipovolemia mengakibatkan tranfor oksigen terganggu akibat
tekanan darah menurun
d) Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam, luka, ibu
hamil, dll
e) Kondisi yang mempengaruhi pergerakan dinding dada (kehamilan,
obesitas)
2. Faktor perkembangan
a) Bayi prematur : kurangnya pembentukan Surfaktan
b) Bayi dan Toddler : akibat adanya infeksi saluran nafas
c) Anak usia sekolah dan remaja : resiko infeksi saluran nafas dan
merokok
d) Dewasa muda dan pertengahan : akibat diet yang tidak sehat, kurang
aktivitas dan stress
e) Dewasa tua : adanya penuaan yang mengakibatkan kemungkinan
arteoriklerosis
3. Faktor Perilaku
a) Nutrisi : penurunan ekspansi paru pada obesitas
b) Exercise (latihan fisik) : meningkatkan kebutuhan oksigen
c) Merokok : nikotin menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah
4. Faktor lingkungan

3
a) Tempat kerja (polusi)
b) Suhu lingkungan
c) Ketinggian tempat dari permukaan laut

C. Klasifikasi
Pemenuhan kebetuhan oksigenasi didalam tubuh terdiri dari 3 tahapan, yaitu :
a. Ventilasi
Proses ini merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke
dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer proses ventilasi dipengaruhi
beberapa hal yaitu adanya perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru,
semakin tinggi tempat maka tekanan udara semakin rendah demikian
sebaliknya
b. Difusi gas
Merupakan pertukaran antara oksigen di alveoli dengan kapiler paru dan
CO2 di kapiler dengan alveoli proses pertukaran ini dipengaruhi beberapa
faktor yaitu luasnya permukaan paru tebal membran repirasi/
permeaubilitas yang terdiri atas epitel alveoli dan interstisial (keduanya
dapat mempengaruhi proses difusi apabila terjadi proses penebalan)
c. Transportasi gas
Merupakan proses pendistribusian O2 kapiler ke jaringan tubuh dan CO2
jaringan tubuh ke kapiler. Pada proses trasportasi O2 akan berikatan
dengan Hb membentuk oksihemoglobin (97%) dan larut dalam plasma
(3%) sedangkan CO2 akan berikatan dengan Hb membentuk karbonmino
hemoglobin (30%), larut dalam plasma (5%) dan sebagian menjadi HCO3
yang berada dalam darah (65%) transportasi gas dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu curah jantung (kardiak out put), kondisi pembuluh
darah, latihan (exercise), perbandingan sel darah dengan secara keselurahan
(Hematokrit) serta Eritrosit dan kadar Hb.

4
D. Patofisiologi
Proses pertukaran gas dipengaruhi oleh ventilasi, difusi dan tranfortasi.
Proses ventilasi jika terdapat obstruksi maka oksigen tidak dapat tersalur
dengan baik dan sumbatan tersebut akan direspon jalan nafas sebagai benda
asing yang menimbulkan pengeluaran mukus, proses difusi yang terganggu
akan menyebabkan ketidakefektifan pertukaran gas, dan kerusakan pada
transportasi seperti perubahan volume sekuncup, afterlood, frelood dan
kontraksi makanan juga mempengaruhi pertukaran gas.
E. Manifestasi klinis
Ada beberapa macam masalah kebutuhan oksigenasi
a. Hipoksia
Hipoksia merupakan kondisi tidak tercukupnya pemenuhan kebutuhan
oksigen dalam tubuh akibat defisiensi oksigen atau peningkatan penggunaan
oksigen dalam tingkat sel, ditandai dengan adanya warna kebiruan pada
kulit (sianosis). Secara umum, terjadinya hipoksia disebabkan oleh
menurunya kadar Hb, menurunya difusi o2 dari alveoli ke dalam darah,
menurunnya perfusi jaringan, atau gangguan ventilasi yang dapat
menurunkan konsentrasi oksigen.
b. Pola nafas berubah
a) Tachypnea
Merupakan pernafasan yang memiliki frekuensi lebih dari 24x/m. Proses
ini terjadi karena paru dalam keadaan atelektasis atau terjadinya emboli
b) Bradypnea
Merupakan pernafasan yang lambat dan kurang dari 10x/m. Proses ini
terjadi karena paru dalam keadaan peningkatan tekanan intrakranial yang
di sertai narkotik atau sedatif
c) Hiperventilasi
Merupakan upaya tubuh dalam mengompensasi peningkatan jumlah
oksigen dalam paru agar pernafasan lebih cepat dan dalam. Proses ini
ditandai dengan adanya peningkatan denyut nadi, nafas pendek, adanya
nyeri dada, menurunnya konsentrasi CO2 dll. Keadaan demikian dapat
disebabkan oleh adanya infeksi, keseimbangan asam basa, atau gangguan

5
psikologis. Hiperventilasi dapat menyebabkan hipokapnea, yaitu
berkurangnya CO2 dalam tubuh dibawah batas normal sehingga
rangsangan terhadap pusat pernapasan menurun.
c. Kusmaul
Merupakan pola pernafasan cepat dan dangkal yang dapat ditemukan pada
orang dalam keadaan asidosis metabolik
d. Hipoventilasi
Merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan karbondioksida dengan
cukup yang dilakukan pada saat ventilasi alveolar serta tidak cukupnya
penggunaan oksigen yang ditandai dengan adanya nyeri kepela,
penurunan kesadaran, disorintasi, atau ketidak seimbangan elektrolit yang
dapat terjadi akibat atelektasis, lumpuhnya otot-otot
F. Pemeriksaan penunjang
a) Angiografi
Pemeriksaan ini untuk membantu menegakkan diagnosis tentang keadaan
paru, emboli atau tumor paru, aneurisma, emfisema, kelainan kongenital dll
b) Endoskopi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melakukan diagnostik dengan cara
mengambil sekret untuk pemeriksaan melihat lokasi kekurangan biopsi
jaringan, untuk pemeriksaan sitologi, mengetahui adanya tumor, melihat
letak terjadinya perdarahan
c) Radio Isotop
Pemeriksaan ini bertujuan untuk lobus paru melihat adanya emboli paru
d) Mediastinoskopi
Merupakan endoskopi mediasterum untuk melihat penyebaran tumor

G. Penatalaksanaan
a) Ajarkan pada klien tentang latihan nafas batuk purslips, batuk diafragma
dan batuk efektif
b) Lakukan tindakan pemberian okesigen dengan menggunakan alat bantu
oksigen seperti kanul, nasal dan masker
c) Lakukan tindakan fisiotrapi dada

6
d) Lakukan pengisapan lendir (suction) pada klien obstruksi jalan nafas.
H. Anatomi Sistem Pernapasan

1. Saluran Nafas Atas


a. Hidung
Terdiri atas bagian eksternal dan internal dan Bagian eksternal
menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago.
Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan
menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang
sempit, yang disebut septum. Rongga hidung dilapisi dengan membran
mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut
mukosa hidung. Permukaan mukosa hidung dilapisi oleh sel-sel goblet
yang mensekresi lendir secara terus menerus dan bergerak ke belakang
ke nasofaring oleh gerakan silia. Hidung berfungsi sebagai saluran
untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru. Hidung juga berfungsi
sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan
udara yang dihirup ke dalam paru-paru. Hidung juga bertanggung jawab
terhadap olfaktori (penghirup) karena reseptor olfaktori terletak dalam
mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang sejalandengan pertambahan
usia.

b. Faring
Faring atau tenggorok merupakan struktur seperti tuba yang
menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring. Faring dibagi
menjadi tiga region : nasal (nasofaring), oral (orofaring), dan laring
(laringofaring). Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada
traktus respiratorius dan digestif
c. Laring
Laring atau organ suara merupakan struktur epitel kartilago yang
menghubungkan faring dan trakea. Laring sering disebut sebagai
kotak suara dan terdiri atas:

7
1. Epiglotis Adalah daun katup kartilago yang menutupi ostium ke arah
laring selama menelan
2. Glotis adalah ostium antara pita suara dalam laring
3. Kartilago tiroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago
ini membentuk jakun (Adam's apple)
4. Kartilago krikoid : satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam
laring (terletak di bawah kartilago tiroid)
5. Kartilago aritenoid : digunakan dalam gerakan pita suara dengan
kartilago tiroid
6. Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang
menghasilkan bunyi suara (pita suara melekat pada lumen laring)
Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi.
Laring juga berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda
asing dan memudahkan batu.
d. Trakea
Disebut juga batang tenggorok, Ujung trakea bercabang menjadi dua
bronkus yang disebut karina.

2. Saluran Nafas Bawah


a. Bronkus
Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri, Disebut bronkus lobaris kanan
(3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus), Bronkus lobaris kanan
terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi
menjadi 9 bronkus segmental, Bronkus segmentalis ini kemudian
terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh
jaringan ikat yang memiliki : arteri, limfatik dan saraf
b. Bronkiolus
Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus, Bronkiolus
mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang
membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan
napas

8
c. Bronkiolus Terminalis
Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis
(yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia)

d. Bronkiolus respiratori
Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori,
Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara jalan
napas konduksi dan jalan udara pertukaran gas

e. Duktus alveolar dan Sakus alveolar


Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar
dan sakus alveolar , Dan kemudian menjadi alveoli

f. Alveoli
Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2, Terdapat sekitar 300 juta yang
jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2, alveoli Terdiri atas
3 tipe :
1) Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding
alveoli
2) Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan
mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid yang melapisi permukaan
dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps)
3) Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel
fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan

f. Paru-paru
Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut, Terletak dalam
rongga dada atau toraks, Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum
sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar , Setiap
paru mempunyai apeks dan basis, Paru kanan lebih besar dan terbagi
menjadi 3 lobus oleh fisura interlobaris. Paru kiri lebih kecil dan
terbagi menjadi 2 lobus

9
Lobos-lobus tersebut terbagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai
dengan segmen bronkusnya
g. Pleura
Merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan
elastis, Terbagi mejadi 2 :
1. Pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada
2. Pleura viseralis yaitu yang menyelubingi setiap paru-paru
Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura
yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak
selama pernapasan, juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan
paru-paru, Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan
atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru.

I. Fisiologi Sistem Pernapasan


Bernafas/pernapasan merupakan proses pertukaran udara diantara
individu dan lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2
yang dibuang (ekspirasi).
Sistem pernapasan terdiri atas organ pertukaran gas yaitu paru-paru dan
sebuah pompa ventilasi yang terdiri atas dinding dada, otot-otot pernapasan,
diafragma, isi abdomen, dinding abdomen, dan pusat pernapasan di otak.
Pada keadaan istirahat frekuensi pernapasan antara 12-15 kali per menit.
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Ventilasi
Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke
paru-paru atau sebaliknya. Proses keluar masuknya udara paru-paru
tergantung pada perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli.
Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume paru
bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat

10
2. Difusi
Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara
alveolus dan kapiler paru-paru. Proses keluar masuknya udara yaitu dari
darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan
tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat
tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat
rapat, membran ini kadang disebut membran respirasi. Perbedaan
tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran
respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien
tekanan oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler
pulmonal sekitar 40 mmHg. Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler dara
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli

3. Transpor
yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan
tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan
karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-
paru. Secara normal 97 % oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di
dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai oksihemoglobin.
Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
a. Curah jantung (cardiac Output / CO)
b. Jumlah sel darah merah
c. Hematokrit darah
d. Latihan (exercise)

11
e. Keadaan pembuluh darah
Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh ditentukan oleh system
respirasi, kardiovaskuler, dan keadaan hematologi.
1. Sistem Respirasi
Sistem pernapasan terdiri atas organ pertukaran gas yaitu paru-paru
dan sebuah pompa ventilasi yang terdiri atas dinding dada, otot-otot
pernapasan, diafragma, isi abdomen, dinding abdomen dan pusat
pernapasan di otak.
Bernafas adalah pergerakan udara dari atmosfer ke sel tubuh dan
pengeluaran CO2 dari sel tubuh sampai ke luar tubuh. Ada tiga
langkah dalam proses oksigenasi yaitu ventilasi, perfusi paru dan
difusi.
2. Sistem kardiovaskuler
Kemampuan oksigenasi pada jaringan sangat dipengaruhi oleh
fungsi jantung untuk memompa darah sebagai transport oksigen.
Darah masuk ke atrium kiri dari vena pulmonaris. Aliran darah
keluar dari ventrikel kiri menuju aorta melalui katup aorta.
Kemudian dari aorta darah disalurkan ke seluruh sirkulasi sistemik
melalui arteri, arteriol, dan kapiler serta menyatu kembali
membentuk vena yang kemudian dialirkan ke jantung melalui
atrium kanan. Darah dari atrium kanan masuk dalam ventrikel
kanan melalui katup pulmonalis untuk kemudian dialirkan ke paru-
paru kanan dan kiri untuk berdifusi. Darah mengalir di dalam vena
pulmonalis kembali ke atrium kiri dan bersikulasi secara sistemik
berdampak pada kemampuan transport gas oksigen dan karbon
dioksida.
3. Hematologi
Oksigen membutuhkan transport dari paru-paru ke jaringan dan
karbon dioksia dari jaringan ke paru-paru. Sekitar 97% oksigen
dalam darah dibawa eritrosit yang telah berikatan dengan
hemoglobin (Hb) dan 3 % oksigen larut dalam plasma. Setiap sel
darah merah mengandung 280 juta molekul Hb dan setiap molekul

12
dari keempat molekul besi dalam hemoglobin berikatan dengan
satu molekul oksigenasi membentuk oksihemoglobin (HbO2).
Afinitas atau ikatan Hb dengan O2 dipengaruhi oleh suhu, ph,
konsentrasi 2,3 difosfogliserat dalam darah merah. Dengan
demikian besarnya Hb dan jumlah eritrosit akan memengaruhi
transport gas.
J. Masalah Keperawatan Berkaitan dengan Kebutuhan Oksigen
Masalah keperawatan yang umum terjadi terkait dengan kebutuhan oksigen
ini, antara lain :
1. Besihan jalan napas tidak efektif
Masalah keperawatan ini menggambarkan kondisi jalan napas yang tidak
bersih, misalnya karna adanya sumbatan, penumpukan sekret,
penyempitan jalan napas oleh karena spasme bronkus, dan lain lain.
2. Pola Napas Tidak efektif
Tidak efektifnya pola napas ini merupakan suatu kondisi dimana pola
napas, yaitu inspirasi dan ekspirasi, menunjukkan tidak normal. Penyebab
biasanya karena kelemahan neuromuskular, adanya sumbatan
ditrakeobronkhinal, kecemasan dan lain lain.
3. Gangguan pertukaran gas
Gangguan pertukaran gas merupakan suatu keadaan dimana terjadi
ketidakseimbangan antara oksigen yang dihirup dengan karbondioksida
yang dikeluarkan pada pertukaran gas antara alveoli dan kapiler.
Penyebabnya bisa karena perubahan membran alveoli, kondisi anemia,
proses penyakit, dan lain-lain
K. Pernapasan berdasarkan usia :
a. Neonatus : 30 - 60 x/mnt
b. Bayi : 44 x/mnt
c. Anak : 20 - 25 x/mnt
d. Dewasa : 15 - 20 x/mnt
e. Dewasa tua : volume residu meningkat, kapasitas vital menurun

13
BAB III

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Kebutuhan Oksigenasi

A. Pengkajian

Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :

1. Biodata
 Identitas pasien = Nama, umur, jenis kelamin, suku, agama,
pekerjaan, pendidikan, alamat.
 Identitas penanggung jawab = Nama, umur, jenis kelamin, agama,
pekerjaan, hubungan dengan pesien, alamat.
2. Keluhan utama
keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu
oleh klien pada saat perawat mengkaji, dan pengkajian tentang
riwayat keluhan utama seharusnya mengandung unsur PQRST
(Paliatif/Provokatif, Quality, Regio, Skala, dan Time). Pada pasien
dengan gangguan oksigenisasi, keluhan utamanya sesak saat
bernapas.
3. Riwayat kesehatan sekarang
Itu meliputi keluhan umum mulai dari sebelum ada keluhan sampai
terjadinya sesak napas
4. Riwayat kesehatan dahulu
Meliputi penyakit yang berhubungan dengan penyakit yang diderita
sekarang dengan keluhan dan peyakit yang sama
5. Riwayat kesehatan keluarga :
riwayat keluarga tidak adanya anggota keluarga yang pernah
mengalami penyakit seperti yang dialami klien sekarang
6. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : klien sesak saat bernapas,
Tingkat kesadaran : Composmentis
Mata : konjungtiva pucat (karena anemia),
konjungtiva sianosis ( karena hipoksemia),penglihatan kabur.

14
Kulit : sianosis perifer,( vasokontriksi dan menurunnya
aliran darah perifer),pucat
Jari dan kuku : sianosis, clubbing finger
Mulut dan bibir: membrane mukosa sianosis
Hidung : pernapasan menggunakan cuping hidung
Dada : retraksi otor bantu pernapasan (karena peningkatan
aktivitas pernapasan, dispnea, obstruksi jalan pernapasan). Suara
napas normal ( vesikuler,brounchovesikuler, bronchial) atau suara
napas tidak normal (ronchi,wheezing,mengi),pola napas abnormal.

15
B. Diagnosa keperawatan
Analisa data :
a) Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan
membersihkan secret atau obstruksi jalan napas untuk
mempertahankan jalan napas tetap paten.

Gejala dan tanda mayor :

Data Subjektif :

Tidak Tersedia

Data Objektif :

1. Batuk tidak efektif


2. Tidak mampu batuk
3. Sputum berlebih
4. Mengi, wheezing, dan/atau ronkhi kering
5. Meconium dijalan napas (pada neonates)

Gejala dan tanda minor :

Data subjektif :

1. Dispnea
2. Sulit bicara
3. Ortopnea
Data Objektif :
1. Gelisah
2. Sianosis
3. Bnyi napas menurun
4. Frekuensi napas berubah
5. Pola napas berubah
b) Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau kekurangan oksigenasi
dan/atau eliminasi karbondioksida pada membrane alveolus kapiler

16
Gejala dan tanda mayor :
Data Subjektif :
Dispnea
Data Objektif
1.PCO2 meningkat atau menurun
2.PO2 menurun
3.Takikardia
4.Ph arteri meningkat/menurun
5.Bunyi napas tambahan

Gejala dan tanda minor :


Data Subjektif :
1. Pusing
2. Pengelihatan kabur
Data Objektif :
1. Sianosis
2. Diaporesis
3. Gelisah
4. Napas cuping hidung
5. Pola napas abnormal (cepat/lambat,regular/ ireguler,
dalam/dangkal)
6. Warna kulit abnormal (missal pucat kebiruan)
7. Kesadaran menurun

c) Pola napas tidak efektif adalah inspirasi dan garing atau ekspirasi yang
tidak memberikan ventilasi adekuat

Gejala dan tanda mayor :


Data subjektif:
Dyspnea
Data Objektif :

17
1. Penggunaan otot bantu pernapasan
2. Fase eksprasi memanjang
3. Pola napas abnormal(misalnya takipnea, bradipnea, hiperventilasi,
kussmaul,cheyne-stokes)

Gejala dan tanda minor:

Data subjektif:

Ortopnea

Data Objektif:

1. Pernapasan pursed-lip
2. Pernapasan cuping hidung
3. Diameter thoraks anterior-posterior meningkat
4. Ventilasi semenit menurun
5. Kapasitas vital menurun
6. Tekanan ekspirasi menurun
7. Tekanan inspirasi menurun
8. Ekskursi dada menuru n

18