Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

TEKNOLOGI PENGEMASAN PANGAN

Disusun Oleh :

Nama : Yuliana

NIM : B32191002

Golongan :B

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN


JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2019/2020
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kemasan memang bukan yang utama namun memegang peranan penting dalam
mendapatkan hati konsumen untuk memilih produk tertentu.Kemasan sangat mempengaruhi
penampilan produk sehingga menarik konsumen.Kemasan juga sangat penting dalam
menjaga keawetan dan higienitas produk untuk dalam jangka waktu tertentu. Pengemasan
merupakan suatu cara atau perlakuan pengamanan terhadap makanan atau bahan pangan,
agar makanan atau bahan pangan baik yang belum diolah maupun yang telah mengalami
pengolahan, dapat sampai ke tangan konsumen dengan “selamat”, secara kuantitas maupun
kualitas.
Pengemasan memegang peranan penting dalam pengawetan dan mempertahankan mutu
bahan hasil pertanian.Adanya wadah atau pembungkus dapat membantu mencegah atau
mengurangi kerusakan, melindungi bahan pangan yang ada di dalamnya, melindungi dari
bahaya pencemaran serta gangguan fisik (gesekan, benturan, getaran).Disamping itu
pengemasan berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan atau produk industri agar
mempunyai bentuk-bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan
distribusi.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa pengertian dari kemasan ?
b. Apa saja jenis-jenis dari kemasan ?

1.3 Tujuan
a. Menjelaskan pengertian kemasan
b. Menyebutkan jenis – jenis kemasan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kemasan


Kemasan adalah desain kreatif yang mengaitkan bentuk, struktur, material, warna, citra,
tipografi dan elemen-elemen desain dengan informasi produk agar produk dapat dipasarkan.
Kemasan digunakan untuk membungkus, melindungi, mengirim, mengeluarkan, menyimpan,
mengidentifikasi dan membedakan sebuah produk di pasar (Klimchuk dan Krasovec,
2006:33).
Menurut Kotler & Keller (2009:27), pengemasan adalah kegiatan merancang dan
memproduksi wadah atau bungkus sebagai sebuah produk. Pengemasan adalah aktivitas
merancang dan memproduksi kemasan atau pembungkus untuk produk. Biasanya fungsi
utama dari kemasan adalah untuk menjaga produk. Namun, sekarang kemasan menjadi faktor
yang cukup penting sebagai alat pemasaran (Rangkuti, 2010:132).
Kemasan yang dirancang dengan baik dapat membangun ekuitas merek dan mendorong
penjualan. Kemasan adalah bagian pertama produk yang dihadapi pembeli dan mampu
menarik atau menyingkirkan pembeli. Pengemasan suatu produk biasanya dilakukan oleh
produsen untuk dapat merebut minat konsumen terhadap pembelian barang. Produsen
berusaha memberikan kesan yang baik pada kemasan produknya dan menciptakan model
kemasan baru yang berbeda dengan produsen lain yang memproduksi produk-produk sejenis
dalam pasar yang sama.

2.2 Jenis – jenis Kemasan


A. Berdasarkan fungsinya maka kemasan dibagi menjadi 3 yakni:
1. Kemasan Primer, adalah jenis kemasan atau pembungkus yang langsung
bersinggungan dengan produk. Contoh kemasan primer ini adalah botol, tube, kotak
minuman, plastic kemasan kudapan dan lain sebagainya.
2. Kemasan Sekunder, adalah jenis kemasan yang dipergunakan dalam membungkus
produk dengan tujuan untuk melindungi kemasan primer agar tidak rusak selama
penyimpanan atau saat proses transportasi. Contoh kemasan sekunder ini adalah
kardus, tatakan, pengikat dan lain sebagainya.
3. Kemasan Tersier adalah jenis kemasan yang dipergunakan bergabungan dengan
kemasan sekunder dengan tujuan untuk mencegah kerusakan dalam proses
transportasi. Kemasan tersier ini disebut pula dengan transport packaging. Contoh
kemasan tersier ini misalnya adalah palet, shrink wrap dan lain sebagainya.

B. Berdasarkan Kegunaannya, kemasan dibagi menjadi 3 :


1. Re Use
Reuse adalah memakai kembali atau mengusahakan agar barang-barang
yang masih bisa dipakai, tetapi sudah tidak diinginkan lagi, dijual ke orang
lain. Arti reuse selain itu adalah memakai barang yang sudah tidak diperlukan lagi
dengan fungsi yang lain. Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai
kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang).
Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi
sampah.
Contoh kegiatan reuse sehari-hari:
 Memilih wadah, kantong atau benda yang dapat digunakan beberapa kali
atau berulang-ulang. Misalnya, menggunakan sapu tangan/serbet kain dari
pada menggunakan tissu, menggunakan baterai yang dapat di-charge
kembali, menggunakan tas belanja dari kain dari pada menggunakan
kantong plastik, dsb.
 Menggunakan kembali wadah atau kemasan yang telah kosong untuk
fungsi yang sama atau fungsi lainnya. Misalnya, botol bekas minuman
digunakan kembali untuk tempat minyak goreng.
 Menggunakan sisi kertas yang masih kosong untuk menulis.
 Menggunakan botol air minum isi ulang
 Menjual atau memberikan sampah yang terpilah kepada pihak yang
memerlukan, misalnya, memanfaatkan sisa makanan atau sayur untuk
makanan ternak atau ikan.
2. Recycle
Recycle adalah mendaur ulang barang. Paling mudah adalah mendaur
ulang sampah organik di rumah anda, menggunakan bekas botol plastik air minum
atau apapun sebagai pot tanaman, sampai mendaur ulang kertas bekas untuk
menjadi kertas kembali. Daur ulang secara besar-besaran belum menjadi
kebiasaan di Indonesia. Tempat sampah yang membedakan antara organik dan
non-organik saja tidak jalan. Malah akhirnya lebih banyak gerilyawan lingkungan
yang melakukan daur ulang secara kreatif dan menularkannya pada banyak orang
dibandingkan pemerintah.
Contoh kegiatan recycle sehari-hari:
 Memilih produk dan kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah
terurai.
 Mengolah sampah kertas menjadi kertas atau karton kembali.
 Melakukan pengolahan sampah organik menjadi kompos.
 Lakukan pengolahan sampah non organik menjadi barang yang
bermanfaat dan bahkan memiliki nilai jual, misalnya :
 Mengolah sampah kertas menjadi kertas daur ulang/kerajinan
 Mengolah gabus styrofom menjadi bataco, pot bunga
 Memanfaatkan kertas bekas untuk amplop
 Memanfaatkan kaleng bekas untuk pot bunga

C. Berdasarkan Strukturnya
1. Kemasan fleksibel
Kemasan fleksibel yaitu bahan kemasan yang mudah dilenturkan tanpa
adanya retak atau patah, dan relatif tipis. Misalnya plastik, kertas dan foil.
2. Kemasan kaku
Kemasan kaku yaitu bahan kemas yang bersifat keras, tidak tahan lenturan,
patah bila dibengkokkan, relatif lebih tebal dari kemasan fleksibel. Misalnya kayu,
gelas dan logam.
3. Kemasan semi kaku atau semi fleksibel
Kemasan semi kaku atau semi fleksibel yaitu bahan kemas yang memiliki
sifat-sifat antara kemasan fleksibel dan kemasan kaku. Misalnya botol plastik
(botol susu, botol kecap, botol saus) dan wadah bahan yang berbentuk pasta.
2.3 Fungsi Kemasan
Ada beberapa fungsi kemasan yang harus diketahui baik oleh pembuat maupun pengguna
kemasan:
1. Kemasan sebagai pelindung
Kemasan harus dapat melindungi produk, baik dari pengaruh luar maupun dari
dalam, seperti sinar ultra violet, kelembaban, pengaruh O² (oksigen) serta harus dapat
melindungi dari pengaruh handling yang tidak benar. Penggunaan bahan baku yang
berkualitas dan handling yang benar merupakan upaya melindungi produk mulai dari
saat dikemas, dikonsumsi, hingga saat digunakan oleh konsumen.
2. Kemasan sebagai wadah
Kemasan merupakan wadah bagi produk dan sekaligus dapat berfungsi sebagai
alat yang memudahkan produk tersebut untuk dibawa dalam proses pemindahan
produk dari produsen sampai ke konsumen atau dari suatu tempat ke tempat lain
dalam jumlah berat atau jumlah isi tertentu.
3. Kemasan sebagai promosi
Secara tidak langsung, perwajahan total suatu kemasan harus dapat “menjual
dirinya”, mampu berkomunikasi dengan baik dan promosi terselubung bila dipajang di
etalase atau pada saat pendistribusiannya.
4. Kemasan sebagai daya tarik/atraktif
Diperlukan keahlian dalam memadu padankan peran desain, proses cetak dan
finishing. Bentuk, ukuran, warna serta informasi yang dicetak harus dapat
menimbulkan daya tarik pada konsumen. Bentuk kemasan juga harus disesuaikan
dengan kebutuhan dan mengikuti trend yang sedang berkembang, sehingga tampil
beda dari kemasan-kemasan sejenis yang ada.
5. Kemasan sebagai identitas
Cetakan yang tertera di kemasan harus tertulis, terbaca dan terlihat dengan jelas
yaitu berupa jenis produk, nama produsen atau pengimpor, isi/berat, ukuran, cara
penggunaannya, nutrition fact, nomor pendaftaran (PIRT/MD/ML), label halal,
barcode, tanggal kadaluarsa dan lain lain.
6. Kemasan sebagai brand image
Brand Image membuat konsumen atau siapapun yang melihat sepintas suatu
kemasan dapat segera mengetahui produk yang dikemasnya. Hal ini dikarenakan
adanya suatu ciri unik yang mudah dikenali atau ciri khusus yang sudah melekat di
kemasan produk tersebut. Ciri khusus tersebut juga sangat memudahkan konsumen
untuk melakukan pembelian ulang.

2.4 Syarat Kemasan


Dalam memilih bentuk dan bahan kemasan yang akan digunakan, maka diperlukan
beberapa pertimbangan agar dapat berfungsi dengan baik. Pertimbangan tersebut antara
lain:
1. Tidak beracun
Bahan kemasan tidak menggangu kesehatan manusia baik secara langsung
maupun tidak langsung, seperti kandungan Pb (timbal) yang bersifat racun bagi
manusia.
2. Harus cocok dengan bahan yang dikemas
Kemasan yang dipilih harus cocok dengan produk yang dikemas, jika salah
memilih bahan kemasan maka akan merugikan. Misalnya produk yang
seharusnya dikemas dengan kemasan transparan, namun dikemas dengan bahan
kemas yang tidak transparan. Maka bila konsumen ingin mengetahui isinya harus
merusak segel dan hal tersebut merugikan produsen.
3. Sanitasi dan syarat-syarat kesehatan terjamin
Di samping bahan kemasan tidak beracun dan produk yang dikemas tidak
menunjukkan kerusakan karena adanya mikroba, bahan kemasan juga tidak boleh
digunakan bila dianggap tidak dapat menjamin sanitasi atau syarat-syarat
kesehatan.
4. Dapat mencegah pemalsuan
Kemasan juga berfungsi sebagai pengaman dengan cara membuat kemasan
yang khusus sehingga sulit untuk dipalsukan dan bila terjadi pemalsuan akan
mudah dikenali.
5. Kemudahan membuka dan menutup
Pada umumnya konsumen akan memilih produk dengan kemasan yang
mudah dibuka dan ditutup.
6. Kemudahan dan keamanan dalam mengeluarkan isi produk
Kemudahan dan keamanan dalam mengeluarkan isi perlu
dipertimbangkan, sehingga isi kemasan dapat diambil dengan mudah dan aman,
atau dengan kata lain tidak banyak tercecer, terbuang atau tersisa di dalamnya.
7. Kemudahan pembuangan kemasan bekas
Pada umumya kemasan bekas adalah sampah dan merupakan suatu
masalah yang memerlukan biaya yang cukup besar untuk penanganannya,
misalnya kemasan-kemasan bekas dari bahan plastik. Bahan kemasan plastik
tidak mudah hancur oleh mikroba dan bila dibakar akan menyebabkan polusi
udara. Bahan kemasan yang terbuat dari logam, keramik dan bahan nabati tidak
begitu menjadi masalah. Bahan logam dan kertas sebagian besar dapat diproses
kembali. Bahan nabati seperti kayu dapat dipakai sebagai bahan bakar.
8. Ukuran, bentuk dan berat
Ukuran kemasan berhubungan sangat erat dengan penanganan selanjutnya,
baik dalam penyimpanan, transportasi, maupun sebagai alat untuk menarik
perhatian konsumen. Biasanya kemasan disesuaikan dengan sarana yang ada,
misalnya media transportasinya adalah pesawat terbang, maka tinggi dan
lebarnya kemasan suatu produk tidak boleh melebihi ukuran pintu kargo pesawat
terbang yang akan mengangkutnya. Bentuk kemasan sangat mempengaruhi
efisiensi penggunaan ruang penyimpanan, cara penyimpanan, daya tarik
konsumen dan cara pembuatan serta bahan kemasan yang digunakan. Banyak
konsumen yang membeli produk hanya karena tertarik pada bentuk kemasannya
yang unik, misalnya bentuk oval/patung atau bentuk yang unik lainnya.
9. Penampilan dan pencetakan
Kemasan harus memiliki penampilan yang menarik, baik dari segi bahan,
estetika maupun dekorasi. Karena selera masyarakat berbeda-beda, maka
produsen harus tahu dengan tepat ke lokasi mana produk akan dipasarkan.
10. Syarat khusus
Selain syarat-syarat yang telah disampaikan, masih ada syarat-syarat
khusus yang perlu diperhatikan, misalnya untuk bahan B2, B3, iklim daerah
pemasaran yaitu tropis, subtropis, kelembabannya, dan lain sebagainya.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa pengemasan adalah suatu proses
pembungkusan, pewadahan atau pengepakan suatu produk dengan menggunakan bahan
tertentu sehingga produk yang ada di dalamnya bisa tertampung dan terlindungi.
Pengemasan berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan atau produk industri agar
mempunyai bentuk-bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan
distribusi. Beberapa contoh kemasan yaitu kemasan plastik, kemasan kertas dan kemasan
logam (kaleng).