Anda di halaman 1dari 3

TEORI AGENCY

Teori agensi merupakan teori yang berusaha untuk menerangkan tindakan atau aksi dari pihak-pihak
yang terlibat adanya hubungan kontrak dalam merubah metode pengukuran akuntansi, khususnya yang
dilakukan oleh pihak perusahaan atau manajemen (Kiswara, 1999: 5 dan Kelly, 1983: 183 dalam
Abdurrahman dan Ludigdo, 2004: 249). Definisi tersebut menunjukkan adanya suatu kontradiksi dalam
agency theory yang diakibatkan adanya konflik kepentingan antara pemilik (principal) dan manajer
(agent).

Jensen dan Meckling (1976: 85) menyebutkan tentang agency relationship dengan definisi berikut:
an agency relationship as a contract under which one or more persons (the principal(s)) engage another
person (the agent) to perform some service on their behalf which involves delegating some decision
making authority to the agent.

Definisi tersebut mengandung pengertian bahwa hubungan keagenan merupakan sebuah kontrak
dalam bentuk pendelegasian wewenang dalam pembuatan keputusan telah diberikan oleh pihak pemilik
(principal) kepada pihak perusahaan atau organisasi (agent). Dalam konteks perusahaan, pemilik
(pemegang saham) merupakan pihak yang memberikan mandat kepada agen untuk bertindak atas nama
prinsipal, sedangkan manajemen (agen) bertindak sebagai pihak yang diberi amanah oleh prinsipal untuk
menjalankan perusahaan. Hubungan tersebut memberi konsekuensi, bahwa manajemen berkewajiban
mempertanggungjawabkan apa yang telah diamanahkan oleh prinsipal.

Yang paling terkenal adalah penelitian yang dilakukan

oleh Michael C. Jensen dan William H. Meckling dalam penelitian mereka yang berjudul
Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs, and Ownership Structure.
Penelitian ini menjadi landasan yang mendasari terbentuknya teori keagenan yang sering
digunakan dalam penelitian-penelitian beraliran positivistik
Secara spesifik, Jensen dan Meckling (1976) mendefinisikan hubungan agensi sebagai
kontrak di mana satu atau lebih orang (principal) melibatkan orang lain (agent) untuk
melakukan beberapa layanan atas nama mereka yang melibatkan pendelegasian wewenang
pengambilan keputusan kepada agen tersebut. Akibat hubungan agensi ini, maka munculnya
agency problem yang dalam hal ini pihak agen akan berupaya untuk memaksimalkan
kepentingan dirinya sendiri sementara mengabaikan kepentingan prinsipal padahal tujuan
utama dari suatu perusahaan adalah untuk memaksimalkan kesejahteraan pemilik modal.
Oleh karena itu, dibutuhkan suatu bentuk pengendalian untuk mengendalikan tindakan pihak
agen.’
Bentuk
kepastian yang di maksud di atas adalah melalui audit. Jensen dan Meckling (1976)
berpendapat bahwa prinsipal dapat mengendalikan perilaku agen dengan menetapkan insentif
yang sesuai untuk agen dan mengeluarkan biaya pemantauan (monitoring cost) yang
dirancang untuk membatasi aktivitas agen yang menyimpang Pertama, pemberian insentif berupa
kompensasi bertujuan untuk memotivasi manajer

sehingga manajer akan termotivasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan sehingga manajer
tersebut dapat memperoleh insentif berupa tambahan penghasilan meskipun pada dasarnya
manajer bisa saja melakukan penyimpangan yang dikenal dengan bonus plan hypothesis
yang
dikemukakan oleh Watts and Zimmerman (1986). Akan tetapi, ketika manajer tidak mampu
mencapai target yang sebelumnya telah ditetapkan, maka manajer akan menerima
hukuman
atau sanksi. Di sini, berlaku reward and punishment bagi manajer. Kedua, Pemantauan
berarti adanya kontrol prinsipal terhadap agen. Audit yang telah disebutkan sebelumnya
adalah salah satu bentuk pemantauan. Selain audit, bentuk pemantauan yang paling umum
saat ini yang ditujukan untuk mengurangi konflik keagenan adalah corporate governance
atau tata kelola perusahaan (perusahaan membuat undang-undang atau peraturan tentang
transparansi dan peraturan pemegang saham).

“Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership


Structure.”

Fama dan Jensen (1983), dalam "Pemisahan Kepemilikan dan Pengendalian" berpendapat
bahwa masalah agensi ini dikendalikan oleh sistem keputusan yang memisahkan manajemen (inisiasi
dan implementasi) dan pengendalian (ratifikasi dan pemantauan) keputusan penting di semua
tingkat organisasi. Lebih lanjut, perangkat untuk memisahkan manajemen keputusan dan
pengendalian keputusan mencakup
1. Hierarki keputusan di mana inisiatif keputusan dari agen tingkat rendah diteruskan ke agen
tingkat yang lebih tinggi, pertama untuk ratifikasi dan kemudian untuk pemantauan,
2. Dewan direksi yang meratifikasi dan memantau keputusan organisasi yang paling penting
dan mempekerjakan, memecat, dan mengkompensasi manajer keputusan tingkat atas, dan
3. Struktur insentif yang mendorong pemantauan bersama di antara agen keputusan.

Biaya mekanisme semacam itu untuk memisahkan manajemen keputusan dari kontrol
keputusan adalah bagian dari harga yang perusahaan publik membayar untuk keuntungan klaim sisa
saham biasa yang tidak terbatas.
Menurut Messier et al. (2017:6), hubungan antara pemilik dan manajer umumnya menciptakan
asimetri informasi antara kedua belah pihak. Asimetri informasi bermakna bahwa manajer
umumnya memiliki informasi yang lebih banyak tentang posisi keuangan dan hasil operasi yang
sebenarnya dari entitas daripada pemilik. Kemudian, Messier et al. (2017:6) menjelaskan karena ada
tujuan yang berbeda, terdapat konflik kepentingan (conflict of interest) yang alami muncul antara
manajer dan pemilik. Jika kedua pihak berusaha memaksimalkan kepentingan pribadi, manajer tidak
akan selalu bertindak demi kepentingan pemilik. Atas kedua masalah ini, Messier et al. (2017:6)
menjelaskan bahwa manajer mungkin menyetujui beberapa jenis ketentuan pemantauan dalam
kontrak kerjanya, memberikan kepastian kepada pemilik bahwa dia tidak akan menyalahgunakan
sumber daya. Bentuk kepastian yang di maksud di atas adalah melalui audit. Jensen dan Meckling
(1976) berpendapat bahwa prinsipal dapat mengendalikan perilaku agen dengan menetapkan
insentif yang sesuai untuk agen dan mengeluarkan biaya pemantauan (monitoring cost) yang
dirancang untuk membatasi aktivitas agen yang menyimpang
Menurut Eisenhard (1989), teori keagenan dilandasi oleh 3 (tiga) buah asumsi yaitu :
a) Asumsi tentang sifat manusia
Asumsi tentang sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat untuk
mementingkan diri sendiri (self interest), memiliki keterbatasan rasionalitas (bounded
rationality), dan tidak menyukai risiko (risk aversion).
b) Asumsi tentang keorganisasian
Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antar anggota organisasi, efisiensi
sebagai kriteria produktivitas, dan adanya Asymmetric Information (AI) antara prinsipal dan
agen.
c) Asumsi tentang informasi.
asumsi tentang informasi adalah bahwa informasi dipandang sebagai barang
komoditi yang bisa diperjual belikan.