Anda di halaman 1dari 24

STANDAR PELAYANAN KEPERAWATAN GERONTIK DI

IRLANDIA

Dosen Pengampu : Rita Hadi Widyastuti, S.Kp.,M.Kep.,Ns.Sp.Kep.Kom

Disusun oleh:
Fahrun Ningsih (22020117120016)
SherenYunfi Sagita (22020117120031)
Siti Chomsiah (22020117120036)
Anis Magfiroh (22020117120038)
Nabila Marsa Dhiya Ulhaq (22020117140021)

Kelas : A17-2
Kelompok : 2

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2020

1
Standar Nasional Pengaturan Perawatan Perumahan untuk Orang Tua (Lansia) di
Irlandia

Prinsip-prinsip yang menginformasikan standar pengaturan perawatan perumahan untuk


orang tua (lansia) di Irlandia didasarkan pada prinsip-prinsip utama yang diuraikan di bawah
ini yang memandu layanan perumahan tentang bagaimana memberikan layanan yang aman
dan efektif kepada orang-orang. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya adalah :
1. Memberikan perawatan dan dukungan untuk mempromosikan otonomi dan kualitas
hidup.
2. Mempromosikan pendekatan yang berpusat pada klien.
3. Menjaga dan melindungi setiap orang.
4. Menghargai dan memajukan hak asasi manusia dari setiap orang.
5. Mempromosikan dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan setiap orang.
6. Mempromosikan integrasi dalam komunitas dan pengembangan jejaring sosial.
7. Menyediakan pengaturan tata kelola yang efektif dengan kepemimpinan, manajemen, dan
garis akuntabilitas yang jelas.
8. Merencanakan dan menggunakan sumber daya secara efektif.
9. Memberikan layanan yang responsif dan konsisten berdasarkan bukti dan praktik yang
baik.

Kualitas dan standar pelayanan gerontik di Irlandia adalah sebagai berikut :


1. Perawatan dan dukungan yang berpusat pada orang lain, yang merupakan bagaimana
layanan tenaga kesehatan menempatkan lansia di tengah apa yang sedang mereka
kerjakan.
2. Pelayanan yang efektif, merupakan bagaimana tenaga kesehatan memberikan hasil yang
terbaik dan kualitas hidup yang baik bagi lansia dengan menggunakan evidencebase dan
informasi yang sudah tersedia
3. Pelayanan keamanan, merupakan bagaimana tenaga kesehatan melindungi lansia,
meningkatkan kesejahteraan mereka, mencegah, menghindari serta meminimalisir hal-hal
yang membahayakan
4. Kesehatan dan kesejahteraan, yaitu bagaimana cara tenaga kesehatan mengidentifikasi
serta mempromosikan secara optimal tentang kesehatan serta keseahteraan bagi lansia.
Memberikan peningkatan dalam tema-tema yang berkualitas ini tergantung pada kemampuan
dan kapasitas yang dimiliki dalam empat bidang utama, sebagaimana diuraikan dalam tema-
tema berikut:
1. Kepemimpinan, Tata Kelola dan Manajemen - pengaturan diberlakukan dalam
layanan untuk akuntabilitas, pengambilan keputusan, manajemen risiko, serta
memenuhi kewajiban strategis, hukum dan keuangannya.
2. Penggunaan Sumber Daya - menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien
untuk memberikan hasil yang terbaik dapat dicapai dalam menggunakan uang dan
sumber daya yang tersedia.
3. Tenaga Kerja yang Responsif - merencanakan, merekrut, mengelola dan mengatur
staf dengan jumlah yang diperlukan, keterampilan, dan kompetensi untuk menanggapi
kebutuhan dan preferensi orang dalam pelayanan keperawatan.
4. Penggunaan Informasi - secara aktif menggunakan informasi sebagai sumber daya
untuk perencanaan, penyampaian, memantau, mengelola, dan meningkatkan
perawatan.

2
DAFTAR PUSTAKA

Faisneis., Slainte, A.C. 2016. National Standards for Residential Care Settings for Older
People in Ireland. https://www.hiqa.ie/reports-and-
publications/standard/current-national-standards-residential-care-settings-
older-people.

3
APLIKASI PERAN PERAWAT GERONTIK PADA LANSIA DENGAN
HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT

Resume ini disusun untuk memenuhi tugas

mata kuliah Keperawatan Gerontik

Dosen Pembimbing : Rita Hadi Widyastuti, S.Kp.,M.Kep.Sp.Kep.Kom

Disusun Oleh:

Nama : Fahrun Ningsih

NIM : 22020117120016

Kelas : A17-2

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2020

4
APLIKASI PERAN PERAWAT GERONTIK PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI
RUMAH SAKIT

Kasus:

Seorang laki-laki bernama Tn. G dengan usia 65 tahun datang ke rumah sakit karena
hipertensi. Klien sering merasa sakit di bagian kepala, mual muntah dan sesak nafas. Dari
hasil pengkajian klien mengatakan menyukai masakan bersantan dan asin, suka merokok,
begadang, dan minum kopi. Berdasarkan keterangan dari keluarga klien, klien selalu marah
apabila keluarga berusaha mengingatkan bahkan melarang klien untuk melakukan kebiasaan
diatas hingga keluarga merasa sudah bosan untuk mengingatkannya. Klien mengatakan
kepada perawat bahwa dia merasa menyesal telah melakukan pola hidup yang tidak sehat.
Klien ingin meminta maaf kepada keluarganya akan tetapi tidak berani.

Peran perawat gerontik berdasarkan kasus adalah sebagai berikut:

1. pemberi asuhan keperawatan


Tn. G mempunyai penyakit hipetensi yang ditandai dengan gejala sakit di bagian
kepala, mual muntah, dan sesak nafas. Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan
melakukan perawatan langsung kepada klien. Adapun bentuk implikasi pemberian
asuhan keperawatan yang dapat diberikan berdasarkan kasus adalah:
a. Terapi antihipertensi
Terapi antihipertensi memiliki tujuan utama yaitu untuk mempertahankan tekanan
sistolik dalam batas normal sehingga dapat mengurangi resiko komplikasi
penyakit kardiovaskular. Diuretik tiazid merupakan terapi dasar antihipertensi
pada sebagian besar penelitian.
b. Manajemen nyeri yang dirasakan oleh klien, yaitu pada kepala dapat dilakukan
dengan cara: Batasi aktivitas, Hindari merokok, tehnik relaksasi
c. beri makanan dalam porsi sedikit tapi sering. Hal tersebut untuk memanajemen
mual muntah yang dirasakan klien
d. Pemberian cairan untuk mengganti cairan yang keluar akibat muntah
e. Pertahankan tirah baring, tinggikan kepala tempat tidur untuk mengurangisesak
napas

5
2. pendidik
Perawat berperan memberikan informasi dan pengetahuan kepada klien lansia tentang
penyakit atau masalah yang dihadapinya seperti menjelaskan faktor-faktor resiko
penyakit hipertensi yang dialami klien sehingga pola hidupnya dapat berubah dan
status kesehatannya dapat bertambah.

3. motivator klien
Perawat senantiasa selalu menjadi motivator bagi kliennya. Perawat memberikan
dukungan kepada lansia untuk memperoleh kesehatan optimal, memelihara kesehatan,
dan menerima kondisinya. Peran perawat sebagai motivator yang sesuai pada kasus
dapat berupa:
a. Perawat memotivasi klien untuk menghabiskan makanan, terlebih klien
mempunyai keluhan mual muntah
b. Meyakinkan klien agar bisa terlepas dari pola hidupnya yang kurang sehat
(menyukai masakan bersantan dan asin, suka merokok, begadang, dan minum
kopi).
c. Perawat memberi semangat kepada keluarga klien agar tidak patah semangat
untuk senantiasa mengingatkan pola hidup klien

4. Advokasi klien
Perawat gerontik disini berada di pihak klien lansia untuk mempromosikan atau
memberi tahu kepada pihak lain (keluarga dan pemberi layanan kesehatan lain)
tentang hal-hal yang dikehendaki oleh klien. Peran perawat sebagai advokasi
berdasarkan kasus adalah perawat menyampaikan rasa penyesalan klien kepada
keluarganya atas pola hidupnya yang tidak sehat.

5. Konselor klien
Perawat sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang
tepat untuk diberikan. Jika dilihat pada kasus, perawat dapat berperan sebagai
konselor, seperti:
a. Perawat memberitahu kepada keluarga cara memperingatkan klien dengan efektif
agar klien bisa memahami apa yang menjadi tujuan pembicaraan.

6
b. memberikan informasi yang sejelas-jelasnya apabila klien maupun keluarga
masih bingung untuk mengambil tindak lanjut mengenai kondisi penyakit klien
dan menyelesaikannya secara bersama-sama baik dengan klien maupun keluarga.

6. peneliti
penelitian dilakukan dengan mengikuti literatur terbaru, membacanya, dan
mempraktekkan penelitian yang dapat dipercaya dan valid mengenai hipertensi.
Tujuannya adalah meningkatkan kualitas perawatan klien dengan metode evidence
based practice.
7. Penemu kasus
Melakukan monitoring terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada klien
masyarakat yang menyangkut masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang
timbul serta berdampak terhadap status kesehatan melalui kunjugan rumah,
pertemuan-pertemuan observasi dan pengumpulan data (Nurwahidah et al., 2017).

7
DAFTAR PUSTAKA

Aprilawati, R. 2012. Asuhan keperawatan pada tn. H dengan hipertensi di bangsal multazam
rumah sakit PKU muhammadiyah surakarta. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas
Muhammadiyah Surakarta.

Ibrahim. Asuhan keperawatan pada lansia dengan hipertensi. Idea Nursing Journal. Vol
2(1):60-70.

Nurwahidah. 2017. Modul 1. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Islam
Negeri Alauddin. Makassar.

8
APLIKASI PERAN PERAWAT GERONTIK DI TATANAN KESEHATAN

DisusununtukmelengkapitugasmatakuliahKeperawatanGerontik
DosenPengampu : Rita HadiWidyastuti, S.Kp.,M.Kep.,Ns.Sp.Kep.Kom

DisusunOleh :
AnisMagfiroh
22020117120038
A17.2

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2020

9
Peran perawat gerontik di tatanan layanan kesehatan antara lain sebagai berikut :

1. Pemberi asuhan keperawatan


Peran perawat sebagai care provider ditujukan kepda individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat berupa asuhan keperawatan masyarakat yang holistik dan komprehensif. Asuhan
keperawatan dapat diberikan secara langsung maupun secara tidak langsung pada berbagai
tatanan layanan kesehatan meliputi puskemas, ruang rawat inap puskesmas, puskesmas
keliling sekolah, panti, posyandu dan keluarga.

2. Pendidik
Peran sebagai pendidik (edukator), perawat dituntut untuk dapat memberikan pendidikan
kesehatan melalui penyuluhan dan mengajarkan untuk meningkatkan perawatan mandiri.

3. Motivator
Perawat memberikan motivasi kepada lansia, keluarga dan orang lain agar dapat
meningkatkan kesehatan dan mampu menjalani hidup dengan bahagia. Perawat juga
memberikan dorongan kepada pasien dan juga orang di sekitar untuk menjaga kesehatan dan
menyadarkan akan pentingnya kesehatan.

4. Advokator
Perawat membela hak-hak yang harus didapatkan dari pasien dan memastikan kebutuhan
manusia terpenuhi.

5. Konselor
Perawat membimbing orang pada segala usia untuk mecapai masa tua yang sehat.

6. Peneliti
Perawat memantau sesuatu di sekitarnya dan melakukan penelitian atas kasus atau sesuatu
yang baru guna untuk meningkatkan mutu kualitas pelayanan.

7. Penemu kasus
Melaksanakan monitoring terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada individu,
keluarga dan kelompok serta masyarakat yang mengangkut masalah-masalah kesehatan dan
keperawatan yang timbul serta berdampak terhadap status kesehatan.

10
Aplikasi peran perawat gerontik di tatanan layanan kesehatan .
Contoh kasus :

Seorang laki-laki berusia 75 tahun dirawat di ruang rawat Gandasturi sejak 2 hari lalu klien
mengeluhkan sesak pada saat dilakukan pengkajian RR 34 x/menit, HR 100x/menit, 140/90
mmHg, batuk produktif, sputum di hidung, auskultrasi suara napas ronchi. Pasien didiagnosa
bersihan jalan napas tidak efektif.

Dari kasus di atas, peran perawat gerontik yaitu memberikan asuhan keperawatan secara
holistik dan komprehensif, salah satunya dengan intervensi keperawatan yaitu dorong pasien
untuk bernapas pelan. Peran perawat sebagai pendidik dapat dilakukan dengan cara
memberitahukan kepada pasien atau kelurga tentang cara mengatasi sesak napas dengan
membentuk tempat tidur pasien di posisi semi fowler. Selain itu, perawat juga dapat
memotivasi pasien untuk teratur dalam pengobatannya dan mampu menjalani hidupnya
dengan bahagia. Peran lainnya advokator, disini perawat harus membela hak yang harus
diterima oleh pasien dan mampu memenuhi kebutuhan pasien tersebut. Sebagai perawat juga
hendaknya bisa membimbing pasien dan mampu menjadi pendengar yang baik untuk pasien.
Sedangkan untuk peran perawat sebagai peneliti disini perawat dapat melihat dan memantau
kondisi pasien serta memantau intervensi yang sudah dilakukan itu efektif atau tidak sehingga
bisa menjadi acuan meneliti apa yang harus dilakukan perawat untuk memberikan asuhan
yang baik dan efisien untuk pasien. Peran perawat gerontik yang terakhir adalah penemu
kasus, disini perawat melihat perubahan kondisi pasien dan juga keluarga sehingga misal ada
perubahan kondisi yang tidak diinginkan dan menimbulkan kasus atau masalah baru, perawat
dapat menanganinya dan bisa berkolaborasi dengan tenaga ksehatan yang lain.

11
RESUM PERAN PERAWAT DALAM RANAH KEPERAWATAN GERONTIK

Mata kuliah :Keperawatan gerontik

Dosen pengampu : Rita Hadi W. S.Kp,. M. Kep. Kom

Disusun Oleh:

1. Siti Chomsiah 22020117120036

Kelas : A17-2

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2020

12
kasus

Pasien wanita usia 71 tahun didampingi keluarga datang berobat ke rumah sakit dengan
keluhan tidak bisa BAB 4 hari perut merasa penuh. Selain itu aktifitas pasien dibatasi karena
pasien mendeerita nyeri pada sendi dan mengkonsomsi obat antinyeri. Keluarga mengatakan
napsu makan pasien baik, tetapi pasien tidak suka makan sayur.

Peran perawat dalam ranah keperawatan gerontik

1. Asuhan keperawatan
Peran perawat dalam kasus tersebut yaitu memberikan perawatan langsung kepada
lansia.
Manajemen nyeri dengan pemberian obat oral,dan memberikan latihan terapi pergerak
sendi. Perawat memberikan menejemen nutrisi dengan menyarankan makan makanan
yang berserat dan minum air 2 liter perhari. Untuk aktifitas perawat memberikan
terapi latihan mobilitas sendi.
2. Pendidik
Perawat yang berperan sebagai pendidik memiliki kewajiban untuk memberikan
informasi mengenai status kesehatan pasien kepada pasien dan keluarga pasien.
Terkait dengan kasus perawat memberikan pendidikan kesehatan menejemen nutrisi
dengan menyarankan makan makanan yang berserat dan minum air 2 liter perhari.
Untuk aktifitas perawat memberikan terapi latihan mobilitas sendi. Pemberian resep
obat pencahar.
3. Motivasi
Perawat dalam hal ini perawat memberikan dukungan dan kenyamanan kepada lansia
untuk mmeperoleh kesehatan yang optimal, memelihara kesehatannya. Memotivasi
klien lansia yang kurang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya.
4. Advokasi
Perawat dalam hal ini bertindak memihak dan memastikan lansia untuk mendapatkan
haknya. Mendapatkan pelayanan yang layak, memperkuat otonom klien dalam
pengambilan keputusan. Contohnya menjelaskan prosedur medis, membantu
memilihkan panti werdha.
5. Konselor
Perawat dalam hal ini bertugas untuk membantu pasien meng identifikasi dan
mengklasifikasi masalah kesehatan dan memilih tindakan tindakan yang tepat untuk

13
menyelesaikan masalah. Misalnya perawat membantu menyelesaikan masalah
kesehatan lansia melalui konsultasi kesehatan berkelanjutan. Memberikan arahan
trkait biaya perawatan lansia. Dalam hai ini perawat tidak membuat keputusan untuk
klien namun membiarkan klien memilih keputusan yang terbaik.
6. Peneliti
Tugas perawat sebagai peneliti adalah memberikan bukti praktik untuk memastikan
perawat memiliki bukti terbaik untuk mendukung praktik mereka. Selain itu perawat
menyelidiki masalah untuk memperluas asuhan keperawatan. Terkait dengan kasus
perawat memberikan terapi latihan mobilitas sendi untuk nyeri sendi, agar pasien bisa
bergerakaktif supaya sistem pencernaan pasien tidak terganggu, seperti dalam kasus
masalah konstipasi.
7. Penemu kasus
Kasus diatas bisa dihubungkan masalah konstipasi disebabkan karena pasien tidak
suka makan sayur mengakibatkan kurang serat dan menyebabkan konstipasi. Selain
itu pasien kurang gerak karena mengalami nyeri sendi dan pasien mengkonsumsi obat
anti nyeri, obat anti nyeri memiliki efek samping mengakibatkan konstipasi.

14
Daftar pustaka
Anggun, L. Dkk. (2018). Konsep gerontik, peran perawat gerontik. Diunduh pada
tanggal 20 februari 2020 dari
https://www.academia.edu/36109111/KONSEP_GERIATRIK_GERON
TOLOGI_DAN_GERONTIK_SERTA_PERAN_PERAWAT_GERONT
IK

15
PERAN PERAWAT DALAM KEPERAWATAN GERONTIK

Dosen Pengampu : Rita Hadi Widyastuti, S.Kp.,M.Kep.,Ns.Sp.Kep.Kom

Disusun oleh:

Nabila Marsa Dhiya Ulhaq (22020117140021)


Kelas : A17-2

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2020

16
Peran Perawat dalam Keperawatan Gerontik
1. Peran Perawat Sebagai Pemberi Asuhan Keperawatan
Contoh :

Tn.A 68 tahun dibawa ke rumah sakit karena sudah buang air besar lebih dari 7 kali dalam
sehari. Perawat X lalu memberikan pelayanan keperawatan secara langsung dan tidak
langsung kepada klien, menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi :
melakukan pengkajian dalam upaya mengumpulkan data dan informasi yang benar,
menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan hasil analisis data, merencanakan intervensi
keperawatan sebagai upaya mengatasi masalah yang muncul dan membuat langkah/cara
pemecahan masalah, melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang ada
dan melakukan evaluasi berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilakukan.
Dalam kasus tersebut perawat X berperan sebagai pemberi asuhan keperawatan dikarenakan
perawat X memberikan pelayanan keperawatan secara langsung dan tidak langsung kepada
klien, menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi : melakukan pengkajian
dalam upaya mengumpulkan data dan informasi yang benar, menegakkan diagnosa
keperawatan berdasarkan hasil analisis data, merencanakan intervensi keperawatan sebagai
upaya mengatasi masalah yang muncul dan membuat langkah/cara pemecahan masalah,
melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang ada dan melakukan evaluasi
berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan.

2. Peran Perawat Sebagai Pendidik


Contoh :

Ny. X 73 tahun mengalami stroke bagian kanan dan kiri tubuhnya. Kesehariannya ia hanya
bisa berbaring di tempat tidur, bahkan hanya sekedar untuk miring kanan ataupun kiri saja
sudah sangat sukit untuk dilakukan. Suatu ketika saat anaknya hendak memandikan Ny. X, ia
menemukan luka dekubitus di kulit diatas pantat Ny.X. Kemudian, ia mengolesi luka tersebut
menggunakan pasta gigi/odol dengan harapan luka Ny.X dapat membaik. 2 hari setelah itu, ia
mengecek keadaan luka nyonya X dan melihat luka tersebut semakin parah, hingga akhirnya
ia membawa Ny.X ke rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, ia menceritakan hal itu
kepada perawat. Mendengar hal tersebut, perawat lalu memberikan edukasi mengenai luka
dekubitus dan cara mengobatinya.

17
Dalam kasus tersebut perawat berperan sebagai pendidik dikarenakan perawat memberikan
edukasi kepada klien tentang cara mengobati luka dekubitus yang benar.

3. Peran Perawat Sebagai advokat


Contoh :

Ny.B 62 tahun menderita katarak pada mata kanannya semenjak 1 tahun yang lalu. Ny.B
mengeluh bahwa penglihatannya kian hari semakin menurun dan tidak nyaman. Kemudian,
Ny.B di bawa kerumah sakit dengan rencana mengoperasi mata kanannya tersebut. Di rumah
sakit, Ny.B bertemu dengan perawat X lalu menceritakan keluhannya. Setelah mendengan
keluhan dari Ny.B dan rencana yang ingin di dilakukan oleh Ny.B, perawat kemudian
memberikan informasi tambahan mengenai prosedur operasi katarak, biaya untuk tindakan
tersebut, kelebihan dan kekurangan dari tindakan tersebut yang tujuannya adalah untuk
membantu klien dalam mengambil keputusan atas tindakan yang akan diberikan.

Dalam kasus tersebut perawat berperan sebagai advokat dikarenakan perawat memberikan
informasi secara informatif dan jelas kepada pasien. Informasi yang diberikan membantu
pasien dan keluarga dalam menginterpetasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan.
Dengan begitu, informasi yang diberikan dapat dipahami oleh pasien secara menyeluruh.
Melalui informasi tersebut, pasien dapat mengambil langkah selanjutnya sebagai metode
perawatan dan penyembuhan.

4. Peran Perawat Sebagai Motivator


Contoh :

Ny. H 65 tahun tinggal di sebuah panti jompo. Ny.H terlihat murung dan sedih akhir-akhir
ini. Ketika perawat A mencoba mendekati Ny.H dan menanyakan keadaannya, Ny.H lalu
bercerita bahwa ia merasa sedih karena anak-anaknya sudah lama tidak menjenguknya ke
panti ini dan dia merasa dirinya sudah tidak dianggap lagi oleh anak-anaknya. Mendengar hal
tersebut, perawat A memberikan motivasi dan dukungan dengan memberikan kisah-kisahnya
inspiratif agar Ny.H dapat semangat kembali menjalani kehidupannya.

18
Dalam kasus tersebut perawat berperan sebagai motivator dikarenakan perawatan
memberikan dukungan kepada Ny.H untuk memperoleh kesehatan yang optimal, memelihara
kesehatan, dan menerima kondisinya.

5. Peran Perawat Sebagai Konselor


Contoh :

Ny.J 67 tahun baru saja dibawa oleh anaknya ke panti jompo. Alasan anaknya membawa
Ny.J ke panti jompo adalah karena anaknya sibuk bekerja dari pagi hingga malam sehingga ia
merasa bahwa Ny.J tidak ada yang menemani dan merawat karena ia dan suami sibuk
bekerja. Akan tetapi, semenjak Ny.J tinggal di panti jompo, Ny.J tampak murung dan tidak
bersemangat. Perawat Y pun menghampiri Ny.J yang sedang duduk melamun. Perawat Y
mengajak Ny.J bercerita tentang kehidupannya, apa yang Ny.J rasakan, apa yang
Ny.pikirkan.
Dari perbincangan tersebut, akhirnya perawat Y memberikan konseling untuk membantu
Ny.J menyadari dan mengatasi tekanan psikologis atau masalah sosial agar bisa membangun
hubungan interpersonal yang baik. Didalamnya, perawat Y juga memberikan dukungan
emosional dan intelektual kepada Ny.J.

Dalam kasus tersebut perawat berperan sebagai konselor dikarenakan perawat Y memberikan
konseling untuk membantu Ny.J menyadari dan mengatasi tekanan psikologis atau masalah
sosial agar bisa membangun hubungan interpersonal yang baik. Didalamnya, perawat Y juga
memberikan dukungan emosional dan intelektual kepada Ny.J.

6. Peran Perawat Sebagai Peneliti


Contoh :

Tn.Z 65 tahun sudah 3 hari di rawat di rumah sakit dengan diagnosa medis hipertensi. Selama
masa perawatan tekanan darah Tn.Z tidak mau turun, perawat bingung akan hal tersebut,
dikarenakan perawatan yang diberikan surah maksimal. Kemudian perawat berbincang-
bincang dengab Tn.Z dan ia mengatakan cemas karena ini adalah pengalaman pertamanya
dirawat dirumah sakit. Perawat lalu melakukan observasi dan meneliti mengenai hal-hal apa

19
yang menyebabkan Tn.Z mengalami kecemasan ketika dilakukan perawatan. Perawat
mengkaji dan meneliti penyebab terjadinya hal tersebut dan membuat suatu cara agar
kecemasan tersebut dapat berkurang.

Dalam kasus tersebut perawat berperan sebagai peneliti dikarenakan perawat melakukan
observasi dan meneliti mengenai hal-hal apa yang menyebabkan Tn.Z mengalami kecemasan
ketika dilakukan perawatan. Perawat mengkaji dan meneliti penyebab terjadinya hal tersebut
dan membuat suatu cara agar kecemasan tersebut dapat berkurang.

7. Peran Perawat Sebagai Penemu Kasus


Contoh :

Ny.M 66 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan pusing dan jantung berdebar-debar.
Perawat X menanyakan kepada Ny.M sejaj kapan ia merasakan hal tersebut, Ny.M
mengatakan bahwa ia merasakan hal tersebut ssetelah ia memakan sate kambing tadi malam.
Kemudian perawat X memeriksa tekanan darah Ny.M dan didapatkan hasil tekanan darahnya
tinggi yaitu 190/100.

Dalam kasus tersebut perawat berperan sebagai penemu kasus dikarenakan perawat
mendeteksi dan menemukan kasus serta melakukan penelusuran terjadinya penyakit.

20
DAFTAR PUSTAKA

Afidah Nurul E, Sulisno Madya. (2013). Gambaran Pelaksanaan Peran Advokat Perawat di
Rumah Sakit Negeri di Kabupaten Semarang. Jurnal Manajemen Keperawatan.
Volume 6, No 2, 124-130
Kholifah Nur S. (2016). Keperawatan Gerontik. Jakarta Selatan : Pusdik SDM Kesehatan.

21
Nama : Sheren Yunfi Sagita
NIM : 22020117120031

Aplikasi Peran Perawat Gerontik pada Lansia dengan Konstipasi di Puskesmas

Ny. T (65 tahun) dating ke puskesmas desa S dengan keluhan perut terasa keras dan tidak
nyaman karena jarang BAB. Hasil pengkajian didapatkan bahwa Ny. T memakan makanan
yang rendah serat, minum sedikit, gaya hidup kurang gerak, BAB hanya 1x/minggu, BAK
lancar 5-7 kali perhari.

1. Peran Perawat Sebagai Pemberi Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Konstipasi
Konstipasi pada Ny.T harus segera di tangani melalui intervensi keperawatan diantaranya
massase abdomen, diet yang adekuat, pemberian posisi defekasi, dan pemberian cairan.

2. Peran Perawat Sebagai Pendidik pada Lansia dengan Konstipasi


Perawat berperan memberikan informasi dan pengetahuan kepada klien lansia tentang
konstipasi. Menurut NANDA konstipasi merupakan perununan frekuensi defekasi seseorang
disertai dengan pengeluaran feses yang sulit, tidak tuntas, keras, dan kering. Penyebab
konstipasi pada Ny.T antara lain diet yang tidak adekuat, rendah serat, gaya hidup kurang
gerak, dehidrasi. Pada lansia, konstipasi dapat menyebabkan gangguan perkemihan yang di
akibat dari penumpukan feses pada kolon bagian bawah dan rectum (Wulandari, 2016).

3. Peran Perawat Sebagai Motivator pada Lansia dengan Konstipasi


Memotivasi klien lansia yang kurang memiliki kemauan untuk memenuhi kebutuhannya
seperti, kurang bergerak/olahraga, memakan makanan yng rendah serat, dehidrasi, serta
penggunaan obat-obatan yang dapat menyebabkan konstipasi.

4. Peran Perawat Sebagai Advokasi pada Lansia dengan Konstipasi


Perawat gerontik disini berada di pihak klien lansia untuk mempromosikan atau memberi
tahu kepada pihak lain keluarga tentang hal-hal yang disukai klien, juga memperkuat otonomi
klien dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.

22
5. Peran Perawat Sebagai Konselor pada Lansia dengan Konstipasi
Perawat sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat
untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan
pelayanan keperawatan yang diberikan.

6. Peran Perawat Sebagai Peneliti pada Lansia dengan Konstipasi


Perawat disini berperan sebagai pengembang dan memperbarui penelitian untuk memperkaya
pengetahuan keperawatan gerontik mengenai intervensi keperawatan yang sesuai untuk lansia
dengan konstipasi. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi
konstipasi yang dirasakan lansia antara lain dengan massase abdomen, diet yang adekuat,
pemberian posisi defekasi, dan pemberian cairan.

23
Referensi:

Wulandari, A. (2016). Asuhan Kperawatan Pada Lansia dengan Konstipasi Melalui Massase
Abdomen, Posisi Defekasi, dan Pemberian Cairan.

24