Anda di halaman 1dari 4

Asesmen Anak dan Remaja

Kelas D

Nama Anggota :

1. Rania Dinta Putri (18320260)


2. Merizgi Atalia Bimanti (18320276)
3. Alya Afifah Anandika (18320287)
4. Sarah Fitri Bimanti (18320288)
5. Hesti Ayuningtyas (18320306)

Tugas 1: Studi Kasus Etika dalam Asesmen Psikologi

Kasus I
i. Artikel Tentang Pelanggaran Kode Etik Psikolog tentang Rekam dan Hasil
Pemeriksaan Psikologis.

Seorang psikolog Sherly Solihin dan klinik tempatnya bekerja yakni ICAC Profesional
Service digugat ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Mereka digugat lantaran diduga telah
melanggar kode etik psikolog. Gugatan ini menyusul gagalnya dalam proses mediasi oleh PN
Selatan antara pihak tergugat yakni Sherly dan ICAC dengan pihak penggugat seorang warga
negara (WN) Australia bernama Denis Anthony Michael Keet. Pengaduan tersebut
disebabkan pihak tergugat telah mengeluarkan rekam medis dari proses konseling
perceraian antara pihak tergugat dan penggugat Denis beserta istrinya Yeane Sailan.
"Kita sudah kirim somasi, tapi tidak ada tanggapan positif. Kita sebenarnya hanya
minta maaf dan cabut dari tergugat tapi tidak ada. Jadi kita adukan ke pengadilan. Mereka
anggap yang dilakukan sesuai prosedur. Tapi prosedur yang mana? ICAC kan berprinsip
menjaga kerahasian. Tapi ternyata tidak menjaga kerahasian klien kami," jelas kuasa hukum
Denis, Andru Bimaseta Siswodihardjo, di Jakarta, Rabu (2/10/2013).
Menurutnya, ICAC dan Sherly secara nyata telah melanggar kode etik psikolog,
dengan mengeluarkan rekam medis hasil konseling. Upaya mediasi sebelumnya telah
dilakukan pekan lalu di PN Selatan, namun gagal lantaran pihak ICAC dan Sherly bersikukuh
tidak bersalah terkait proses keluarnya rekaman medis yang sejatinya bersifat rahasia.
"Padahal dalam konseling yang dilakukan, tidak pernah membahas soal anak, apalagi
soal yang dituliskan oleh pihak ICAC. Di mana dikeluarkan Luke telah mengalami gangguan
kecemasan yang disebabkan pengalaman buruk masa lalunya atau penyekapan oleh
ayahnya pada 20 Mei 2012," terang Andru.
Kliennya pun merasa telah dirusak nama baiknya karena dalam rekam medis yang
dikeluarkan oleh ICAC melalui dokter Sherly, tercantum nama Denis telah melakukan
penyekapan dan penyiksaan terhadap anaknya, Luke Xavier Keet. Andru menambahkan,
kliennya tersebut tidak pernah meminta surat rekam medis dari klinik, namun ICAC justru
mengeluarkannya tanpa izin. "Kami sudah minta pendapat kepada pihak organisasi psikolog,
dan menyatakan apa yang dilakukan Sherly dan ICAC salah. Itu akan jadi bahan masukkan
kami," tukasnya.

Sumber :https://news.okezone.com/read/2013/10/02/500/875317/diduga-langgar-kode-
etik-psikolog-digugat-ke-pn-jaksel

ii. Bab dan Pasal Pelanggaran

Bab V Kerahasiaan Pasien dan Hasil Pemeriksaan Psikologi Pasal 23 Rekam Psikologi
Ayat 1 tentang Rekam Psikologi Lengkap Bagian C yang berisi “Psikolog dan/atau Ilmuwan
Psikologi menjaga kerahasiaan klien dalam hal pencatatan, penyimpanan, pemindahan, dan
pemusnahan catatan/data di bawah pengawasannya.”

iii. Sikap dan Pandangan akan Pelanggaran Kode Etik tersebut.

Sikap dan pandangan kelompok kami akan artikel ini ialah tidak menyetujui sikap
dari psikolog Sherly dan klinik tempat ia bekerja yaitu ICAC. Dikarenakan mereka memang
telah melakukan pelanggaran kode etik psikologi. Dimana mereka telah memberikan hasil
rekam konseling milik klien tanpa seizin klien tersebut, yang mana telah melanggar
peraturan kode etik sesuai dengan Bab V Pasal 23 Ayat 1 Bagian C yang berisi “Psikolog
dan/atau Ilmuwan Psikologi menjaga kerahasiaan klien dalam hal pencatatan, penyimpanan,
pemindahan, dan pemusnahan catatan/data di bawah pengawasannya.”

iv. Upaya Pencegahan yang Dapat Dilakukan

Upaya yang dapat dilakukan ialah sang psikolog harus dapat menguasai betul isi dari
kode etik psikolog dan paham betul bahwasanya menjaga kerasahasiaan klien merupakan
hal yang sangat penting untuk dilakukan. Kemudian agar hal seperti ini tidak terjadi lagi,
sang psikolog haruslah berdiskusi dengan tempat kerja serta kliennya tentang hasil rekam
konseling sang klien. Sang psikolog dan klien haruslah membuat kontrak kerja sama yang
jelas terlebih dahulu, agar tidak terjadi lagi hal seperti itu.

KASUS II

i. Artikel Tentang Pelanggaran Kode Etik Psikolog Tentang Asesmen

Sebut saja namanya bapak L, ia lulusan S2 magister sains dalam bidang psikologi.
Setelah beberapa bulan dari kelulusannya ia direkrut menjadi dosen di sebuah Sekolah
Tinggi di salah satu lembaga pendidikan di tempat tinggalnya. Satu hari ia diminta oleh pihak
pengelola SMA swasta di daerahnya untuk melakukan tes psikologi yang bertujuan untuk
melihat kemampuan minat dan bakat penjurusan kelas III (IPA, IPS dan Bahasa).
Masyarakat setempat terutama pihak sekolah SMA tersebut selama ini memang
tidak mengetahui secara pasti mengenai program study yang ditempuh L apakah ia
mengambil magister profesi atau magister sains begitu juga dengan perbedaan ranah
keduanya, mereka hanya mengetahui kalau L sudah menempuh pendidikan tinggi S2
psikologi.
Mendapat tawaran untuk melakukan pengetesan semacam itu, tanpa pkir panjang L
langsung menerima dan melakukan tes psikologi serta mengumumkan hasil tes kepada
pihak sekolah tentang siapa saja siswa yang bisa masuk di kelas IPA, IPS dan bahasa. L
melakukan tes psikologi tersebut ternyata tidak sendirian, ia bekerja sama dengan M (pr)
yang memang seorang psikolog.
Anehnya M menerima ajakan kerja sama L dengan senang hati dan tidak
mempermasalahkan apapun yang berhubungan ranah psikologi yang semestinya meskipun
pada sebenarnya ia sendiri sudah paham bahwa L tidak boleh melakukan hal tersebut.
Antara keduanya memang terjalin kerja sama akan tetapi yang memegang peranan utama
dalam tes psikologi tersebut adalah L, sedangkan M sebagai psikolog sendiri hanya sebatas
pendamping L mulai dari pemberian tes sampai pada penyampaian data dan hasil asesmen.

Sumber : https://hukamnas.com/contoh-pelanggaran-kode-etik-psikologi

ii. Bab dan Pasal Pelanggaran

Bab XI tentang Asesmen Pasal 63 Penggunaan Asesmen Ayat 5 yang berisi tentang
Asesmen yang dilakukan oleh orang yang tidak kompeten/ qualified. Asesmen psikologi
perlu dilakukan oleh pihak-pihak yang memang berkualifikasi, perlu dihindari untuk
menggunakan orang atau pekerja yang tidak memiliki kualifikasi memadai.

iii. Sikap dan Pandangan akan Pelanggaran Kode Etik tersebut.

Sikap dan pandangan kelompok kami akan artikel ini ialah tidak menyetujui sikap dan
perilaku yang dilakukan oleh L maupun psikolog M. Sebagai ilmuwan psikologi L seharusnya
mengetahui seharusnya ia tidak memberikan test kepada siswa SMA swasta tersebut. Dan ia
juga seharusnya menjelaskan kepada pihak sekolah bahwa pemberian test menentukan
jurusan bukan ranahnya.
Bagi psikolog M yang lebih paham dan berkualifikasi sebagai seorang psikolog dan
jelas memahami mengenai kode etik psikologi menjelaskan kepada L bahwa pemberian test
tidak boleh diberikan oleh yang bukan psikolog. Dan kredibilitas psikolog M dapat
dipertanyakan karena melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang
psikolog.
iv. Upaya Pencegahan yang Dapat Dilakukan

Upaya yang dapat dilakukan ialah sang psikolog harus dapat menguasai betul isi dari
kode etik psikolog dan paham betul bahwasanya orang dapat melakukan tes psikologi
adalah seorang psikolog yang sudah terjamin lisensi dan terdaftar di HIMPSI. Selain itu,
upaya yang lain adalah pihak sekolah dalam merekrut psikolog harus melihat lebih jauh latar
belakang dari psikolog tersebut atau dapat juga mencari dari lembaga-lembaga psikologi
yang sudah terdaftar.