Anda di halaman 1dari 6

IDENTITAS BUKU

Judul buku : Tazkiyyatun Nafs


Penyucian jiwa dalam islam
Pengarang : Dr. Ahmad Farid
Penerbit : Aqwam Medika, Cetakan ke IV
Tebal Buku : 368 halaman
Tahun Terbit : Maret, 2012
Harga Buku : Rp 88.000

Ringkasan Buku

Tazkiyyatun Nafs

Buku karya Syaikh Ahmad Farid merupakan salah satu rujukan buku penyucian hati,
ditulis dengan gaya sastra yang halus, dan mencukil dari beberapa buku-buku
pelembut hati sehingga dengan itu Penulis mampu memaparkan isi yang menarik dan
tidak membosankan. Didukung pula dengan teknik bahasa yang piawai dalam
pemilihan kalimat yang mampu mengaduk-aduk perasaan. Didalam buku ini
membahas secara lengkap permasalahan-permasalahan seputar hati, dari mulai jalan
masuknya setan kedalam hati, penyakit-penyakit yang menggerogoti hati, dan
ganjaran apa saja yang diterima bila memiliki hati yang sakit dan teracuni.

Selain itu, didalam buku ini juga dijelaskan menu apa saja yang dapat digunakan
sebagai terapi bila hati terlanjur teracuni.yang pasti sesuai dengan dengan Al Qur’an
dan Sunnah-sunnah yang shahih saja. Agar kita yang ingin membersihkan dan
melembutkan hati, terhindar dari hadits-hadits yang dha’if (lemah) dan maudhu’
(palsu).

Semoga dengan membaca buku ini dapat menambah gizi hati kita dan semoga Allah
memberi anugrah kepada kita dengan melihat wajah-Nya yang mulia. Sungguh, Dia
Mahakuasa terhadap segala sesuatu yang Dia kehendaki. Dialah Zat yang layak untuk
mengabulkan doa dan cukuplah Allah sebagai Zat yang dipasrahi.
Ringkasan Buku

Ilmu penyucian jiwa lebih penting bagi para penuntut ilmu dibanding ilmu-ilmu
tentang ibadah yang lain. Sebagaimana pentingnya air dan udara bagi manusia.

Jika setiap muslim mampu mensucikan hatinya maka ia akan beruntung dan meraih
kesuksesan tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Namun jika jiwanya kotor maka
ia akan merasa di himpit dosa dan merasa sempit dan sengsara seumur hidup di dunia
dan merugi di akhirat. Jiwa yang bersih akan mempengaruhi kata-kata dan
perbuatannya.

Ketahuilah, bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia


baik maka baik pula seluruh jasadnya,dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh
jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu ialah hati. Demikian jauh-jauh hari
Rasulullah mengingatkan kita. Muara kebahagian dan kesengsaraan adalah hati. Hati
hanya akan merasa bahagia dengan ikhlas kepada Allah dan merasa tenang dengan
zikir dan mentaati-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Ra’ad ayat 28 :
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati merekamenjadi tentramdengan mengingat
Allah.Ingatlah,hanya denganmenginngat Allah-lah hati menjadi tentram.”(Ar-Ra’d:28).
Singkatnya, jalan meraih kebahagiaan ialah dengan memperhatikan, memperbaiki, dan
mengobati penyakit-penyakit hati agar selalu mentaati Rabb-nya. Orang
yangberuntung ialah orang yang mendpat pertolongan Allah,dan orang yang hina ialah
orang yang terhalang dari prtolongan dan petunjuk-Nya.

Seorang hamba sepatutnya berusaha melembutkan dan menyucikan jiwanya


sesuai ketentuan Allah dalam kitab-Nya. Petunjuk yang benar ialah yang bersumber
dari Allah.
Ilmu penyucian jiwa lebih penting bagi para penuntut ilmu dibanding ilmu-ilmu
tentang ibadah yang lain. Sebagaimana pentingnya air dan udara bagi manusia. Hal ini
penting karena ilmu penyucian jiwa bisa digunakan untuk:

Pertama,memperbaiki hati.Hati yangbaik akan mudah menyerap ilmu.Sebagaimana


tanah yang subur akan mudah ditanami.Kedua, agar mereka memperbarui taubat
kepada Allahsetiap pagi dansore.ketiga, agar penuntut ilmu tidak patah semangat
terhadap cobaan yang menimpanya.
Buku ini terdiri dari 3 Bab dimana :

Pada bab pertama menjelaskan mengenai gizi hati. Mengenal kondisi dan pembagian
hati, hati ibarat seorang raja yang mengatur bala tentara. Ia memberi perintah dan
berbuat sesuka hati. Sementara mereka semua berada dibawah perbudakan dan
kekuasaannya. Berdasarkan sifatnya hati dibagi menjadi 3 macam: hati yang sehat, hati
yang sakit dan hati yang mati. Menjaga hati dari bisikan-bisikan setan ialah sebuah
kewajiban. Sementara, itu mengusir setan hanya bisa dicapai dengan cara mengetahui
jalan-jalan masuk setan. Pintu-pintu jalan masuk setan yang besar ialah marah dan
syahwat. Pintu-pintu yang lainnya ialah iri dan tamak, kenyang lantaran makan,
tergesa-gesa, bakhil, takut fakir dan fanatik terhadap suatu madzhab serta iri dan
dengki terhadap musuh. Ulama salaf mengatakan, “Itulah hati yang apabila
merindukan sesuatu, ia menurutinya. Lalu, ia mengarungi hidup di dunia ini seperti
kehidupan binatang yang tidak mengetahui Rabb-Nya dan tidak menyembah-Nya
dengan menaati perintah dan larangan-Nya.”

Zikir ialah makanan dan santapannya. Zikir ialah pintu Allah yang paling agung.
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “kalian akan kehilangan kelezatan dalam tiga hal: Dalam
shalat, zikir, dan membaca Al-Quran. Bila kalian tidak mendapatkannya, ketahuilah
bahwa pintu telah tertutup.” Abdullah bin Umar berkata, “Seandainya aku tahu Allah
menerima satu sujudku,niscaya tiada perkara ghaib yang lebih kucintai selain
kematian.”

Bab kedua mengenai tamasya hati. Hendaklah orang mukmin menjadikan


dirinya di dunia seakan-akan seorang musafir dan tinggal permanen di dalamnya. Ia
hanya berjalan menempuh perjalanannya dan tidak punya keinginan banyak mencari
harta dunia. Dengan mengingat mati maka kita akan senantiasa selalu berusaha
meningkatkan ibadah kita terhadap Allah SWT. “Katakanlah,sesungguhnya kematian
yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui
kamu,kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib
dan yang nyata,lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”(Al-
Jumu’ah:8). Tanda-tanda orang yang bertaubat ialah selalu mempersiapkan diri untuk
berjumpa dengan Allah. Tidak ada kesibukan lain baginya selain hal itu.

Bab ketiga atau bab terakhir mengenai olahraga hati. Allah berfirma: “Yang menjadikan
mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik
amalnya…..” (Al-Mulk: 2). Ikhlas adalah membersihkan tujuan dalam mendekatkan diri
kepada Allah dari semua cela dan noda. “padahal ia tidak di suruh kecuali supaya
beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan
agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan
yang demikian itulah agama yang lurus.”(Al-Bayyinah:5)

Menelusuri hakikat niat.Niat bukan sekedar ucapan “Aku berniat…” Akan


tetapi,niat adalah dorongan dari hati yang berjalan sesuai kehendak Allah. Pada
sebagian kondisi niat menjadi mudah, namun pada kondisi yang lain ia menjadi sulit.

Keutamaan niat, sebagian salaf berkata,”seringkali amalan yang kecil menjadi


besar karena niat;demikian pula amalan besar menjadi kecil, juga karena niat.”
Seorang hamba bisa mengadirkan niat dalam amalan-amalan mubah, agar menjadi
amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah. Perbedaan sunnah dengan bid’ah.
Sunnah secara bahasa artinya jalan. Tidak diragukan lagi bahwa para rawi (orang yang
meriwayatkan hadist) dan ahli hadist yang selalu mengikuti sunnah Rasulallah dan
sunnah para sahabat adalah ahlus sunnah. Karena mereka telah menyusuri jalan
tersebut dan tidak pernah ada bid’ah di dalamnya. Hal-hal baru dan bid’ah baru ada
setelah masa Rasulallah dan masa para sahabat. Sedangkan bid’ah adalah perbuatan
yang tidak pernah ada pada masa sahabat, kemudian diadakanlah perbuatan itu.
Mayoritas perbuatan bid’ah berlawanandengan syariat, karenaselalu ada penambahan
atau pengurangan.

Bila ada hal baru,meskipun itu tidak bertentangan dengan syariat dan tidak
menyebabkan kecanduan,para ulamatetap tidak menyukainya. Merekamenjauhi setiap
orang yang berbuat bid’ah,dan itu diperbolehkan untuk menjaga keorisinilan, yaitu
mengikuti sunnah nabi.

Keutaman ilmu dan penuntutya, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu tergesa-
gesamembaca Al-Qur’an sebelum di sempurnakan mewahyukannya kepadamu,dan
katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadakuilmu pengetahuan’.”(Thaha: 114)

Cukuplah ini sebagai bukti keutamaan ilmu, yaitu Allah memerintahkan Nabi-Nya agar
memohon tambahan ilmu dari-Nya. Dengan ilmu Allah menjanjikan akan mengangkat
derajat orang yang memiliki ilmu dan iman sebagaimana firmannya: “Hai orang-orang
yangberiman apabila dikatakan kepadamu, ‘berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka
lapangkanlah. Niscaya Allah akan member kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan,’berdirilah kamu’,maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-
orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu penggetahuan
beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-
Mujadilah: 11).

Keutamaan ilmu atas harta diantaranya sebagaiberikut:

 Ilmu adalah warisan para nabi, sedangkan harta adalah warisan para raja dan
orang-orang kaya.
 Ilmu menjaga pemiliknya, sedangkanharta harus dijaga oleh pemiliknya.
 Harta habis jika diinfakkan,sementara ilmu semakin bertambah jika diinfakkan.
 Ilmu bisa mngatur harta, sedangkan harta tidak bisa mengatur ilmu.
 Pemilik harta akan meninggalkan hartanya jika mati, sedangkan
ilmuakandibawa hingga kea lam kubur.
 Ilmu dibutuhkan oleh para raja dan lainnya, sedangkanharta hanya dibutuhkan
orang-orang miskin dan yang membutuhkannya.
 Harta bisa dimiliki oleh orang mukmin atau kafir,baik atau buruk. Sementara
ilmu yang bermanfaat hanya bisa dimiliki oleh orang mukmin.
 Jiwa menjadi bersih karena banyaknya ilmu dan mulia karena memperoleh
ilmu.Adapun harta tidak bisa membersihkan jiwa dan menyempurnakannya.
Ketamakan seseorang terhadapilmu adalah inti
dari kesempurnaanya. Ketamakannya terhadap harta adalah inti dari
kekurangannya.

Taubat dari dosa dengan kembali kepada Zat yang Maha Mengetahui yang
ghaib adalah titik tolak para salik (orang-orang yang menempuh jalan kepada
Allah), modal orang-orang yang beruntung, dan langkah awal orang-orang yang
ingin menuju Allah. Ia merupakan kunci istiqomah orang-orang condong dan
ajang seleksi bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Taubat adalah
peringgahan pertama,pertengahan dan terakhir. Hamba yang sedang meniti
jalan kepada Allah tidak pernah meninggalkan taubat,hingga ajal dating
menjemputnya. Allah berfirman : “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada
Allah,hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur:31).
Syarat taubat yang pertama,penyesalan. Taubat hanya akan terwujud bila
disertai penyesalan.karena,orang yang tidak menyesali perbuatan buruknya
halite merupakan bukti kerelaannya pada perbuatan tersebut dan akan
mengulanginya lagi. Kedua
- Menggunakan hard cover
- kerta