Anda di halaman 1dari 4

Peran Perawat Komunitas Pada Agregat Balita

Perawat komunitas minimal dapat berperan sebagai pemberi pelayanan kesehatan


melalui asuhan keperawatan, pendidik atau penyuluh kesehatan, penemu kasus, penghubung
dan koordinator, pelaksana konseling keperawatan, dan model peran.

Peran perawat kesehatan komunitas, yaitu sebagai pendidik dan penyuluh kesehatan
serta pelaksana konseling keperawatan kepada kelompok khusus balita merupakan bagian
dari ruang lingkup promosi kesehatan. Berdasarkan peran tersebut, perawat kesehatan
masyarakat diharapkan dapat mendukung kelompok khusus balita mencapai derajat
kesehatan yang optimal. Peran perawat komunitas pada kelompok khusus balita:

1) Pelaksana Pelayanan Keperawatan (care provider)


Peranan utama perawat komunitas yaitu sebagai pelaksana asuhan keperawatan
kepada balita, baik itu balita dalam kondisi sehat maupun yang sedang sakit. Contoh :
Perawat melakukan pengkajian di RW 09 Kelurahan X, Perawat melakukan
Intervensi untuk mengatasi masalah gizi buruk yaitu salah satunya dengan
mengadakan penyuluhan bagi ibu-ibu setempat dan membagikan salah satu contoh
menu gizi seimbang bagi balita
2) Pendidik (health educator)
a) Dilakukan kepada klien /klg , tim kes. Lain baik secara spontan pada saat
berinteraksi maupun formal.
b) Membantu klien mempertinggi pengetahuan dalam upaya meningkatkan
kesehatan .
c) Dasar pelaksanaan adalah intervensi dalam proses keperawatan.

Contoh : Perawat sebagai pendidik atau penyuluh, memberikan pendidikan atau


informasi kepada keluarga yang berhubungan dengan kesehatan balita. Diperlukan
pengkajian tentang kebutuhan klien untuk menentukan kegiatan yang akan
dilakukan dalam penyuluhan atau pendidikan kesehatan balita. Dari hasil
pengkajian diharapkan dapat diketahui tingkat pengetahuan klien dan informasi
apa yang dibutuhkan, seperti di RW 09 didapatkan hasil pengkajian ada balita
yang mengalami gizi buruk, Perawat memberikan informasi terkait gizi seimbang
melalui penyuluhan.

3) Konselor
Peran perawat :
 Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan sehat sakitnya.
 Perubahan pola interaksi merupakan “Dasar” dalam merencanakan metode untuk
meningkatkan kemampuan adaptasinya.
 Memberikan konseling atau bimbingan penyuluhan kepada individu atau keluarga
dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman yang lalu.
 Pemecahan masalah di fokuskan pada masalah keperawatan

Contoh : Perawat dapat menjadi tempat bertanya atau konsultasi oleh orangtua yang
mempunyai balita untuk membantu memberikan jalan keluar berbagai permasalahan
kesehatan balita dalam kehidupan sehari-hari seperti makanan yang tepat bagi balita
itu apa agar mencegah terjadinya gizi buruk.

4) Pemantau Kesehatan (health monitor)


Perawat ikut berperan memantau kesehatan balita melalui posyandu, puskesmas, atau
kunjungan rumah. Pemantauan ini berguna mengetahui dinamika kesehatan balita
terutama pertumbuhan dan perkembangannya, sehingga jika terjadi masalah
kesehatan dapat dideteksi sejak dini dan diatasi secara tepat dengan segera.
5) Client Advocate (Pembela Klien)
Bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan
informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi lain
yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (inform concern) atas tindakan
keperawatan yang diberikan kepadanya.

Hak-Hak Klien (Dysparty,1998) antara lain :

• Hak atas pelayanan yang sebaik-baiknya

• Hak atas informasi tentang penyakitnya

• Hak atas privacy

• Hak untuk menentukan nasibnya sendiri

• Hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian tindakan.

Contoh : Perawat memberikan informasi kepada ibu-ibu yang mengikuti kegiatan


penyuluhan atas penyakit gizi buruk serta pengobatannya, agar para ibu lebih
mengerti tindakan apa yang akan diberikan kepada anaknya jika mengalami gizi
buruk

6) Koordinator Pelayanan Kesehatan (coordinator of service)


Pelayanan kesehatan merupakan kegiatan yang bersifat menyeluruh dan tidak
terpisah-pisah. Perawat juga dapat berperan sebagai pionir untuk mengkoordinir
berbagai kegiatan pelayanan di masyarakat terutama kesehatan balita dalam
mencapai tujuan kesehatan melalui kerjasama dengan tim kesehatan lainnya.
7) Change Agent

Mengidentifikasi masalah,motivasi pasien dan membantu klien untuk berubah,


mencari alternatif, membina dan mempertahankan hubungan membantu, membantu
selama fase dari proses perubahan dan membimbing klien melalui fase ini (Marriner
Torney). Contoh : perawat mengidentifikasi masalah gizi buruk, stunting, anemia
pada balita. Serta memberikan solusi alternaltif berupa intrvensi keperawatan dalam
bentuk penyuluhan tentang gizi yang seimbang bagi balita agar mencegah terjadinya
gizi buruk.

8) Collaborator
Kolaborasi dengan dokter fisioterapis, ahli gizi, dll, mengidentifikasi pelayanan
keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan
bentuk pelayanan selanjutnya untuk mempercepat penyembuhan klien. Contoh :
Perawat bekerja sama dengan ahli gizi untuk membagikan menu gizi seimbang
kepada ibu-ibu yang memiliki balita sehabis penyuluhan.
9) Panutan (role model)
Perawat sebagai salah satu tenaga medis dipandang memiliki ilmu kesehatan yang
lebih dari profesi lainnya di luar bidang kesehatan. Oleh sebab itu akan lebih mulia
bagi perawat untuk mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari sehingga
dapat memberikan contoh baik, misalnya memberi contoh tata cara merawat balita.
10) Fasilitator
Perawat menjadi penghubung antara masyarakat dengan unit pelayanan kesehatan dan
instansi terkait, melaksanakan rujukan.

FUNGSI PERAWAT KOMUNITAS


Merupakan suatu pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya, dapat berubah
dari suatu keadaan ke keadaan yang lain :

1. Fungsi Independen
Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana
perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan
sendiri dalam melakukan tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia
seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis (pemenuhan kebutuhan oksigenasi,
pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit, pemenhuan kebutuhan nutrisi,
pemenuhan kebutuhan aktivitas, dan lain-lain), pemenuhan kebutuhan keamanan dan
kenyamanan, pemenuhan kebutuhan cinta mencintai, pemenuhan kebutuhan harga diri
dan aktualisasi diri.
Contoh : Perawat melakukan perannya sebagai educator melalui kegiatan
penyuluhan gizi seimbang bagi balita kepada ibu-ibu yang memiliki balita di RW 9
Kelurahan X
2. Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau
instruksi dari perawat lain. Sehingga sebagai tindakan pelimpahan tugas yang
diberikan. Hal ini biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum,
atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.
Contoh : Perawat melakukan kegiatan penyuluhan di RW 09 Kelurahan X atas
instruksi dari atasan, karena adanya kasus balita gizi buruk di daerah tersebut.
3. Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan
di antara tam satu dengan lainnya ,fungsi ini dapat terjadi apa bila bentuk pelayanan
membutuhkan kerjasama tim dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan
asuhan keperawatan pada penderaita yang mempunyai penyskit kompleks keadaan ini
tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainya,
seperti dokter dalam memberikan tanda pengobatan bekerjasama dengan perawat
dalam pemantauan reaksi obat yang telah di berikan.
Contoh : Perawat bekerja sama dengan ahli gizi dan dokter untuk melakukan
perubahan terhadap gizi buruk pada balita di daerah RW 09 Kelurahan X agar
terciptanya balita yang sehat dengan gizi yang seimbang.