Anda di halaman 1dari 134
INSTRUMEN PENELITIAN PROFIL GURU IDEAL MENURUT SISWA DI SMA TEUKU UMAR SEMARANG TAHUN 2005 SKRIPSI

INSTRUMEN PENELITIAN

PROFIL GURU IDEAL MENURUT SISWA DI SMA TEUKU UMAR SEMARANG TAHUN 2005

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan pendidikan program strata I (S-I) pada Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Oleh

Gita Permata Sari

1102401008

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

2005

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian

skripsi.

Hari

:

Tanggal

:

Dosen Pembimbing I

Dra Sukewi Sugito NIP. 130350488

Semarang,

September 2005

Dosen Pembimbing II

Dr. Haryono.M.Psi NIP. 131570050

ii

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi, Jurusan

Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Semarang pada

Hari

Tanggal

:

:

Panitia Ujian

Ketua

Sekretaris

Drs. H. Siswanto, M.M. NIP. 130515769

Drs. Sukirman,M.Si NIP. 131570066

Penguji I

Penguji II

Drs. Hardjono

NIP. 1306781006

Dra. Sukewi Sugito NIP. 130350488

Penguji III

Dr. Haryono. M.Psi NIP. 131570050

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulus di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri. Bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau keseluruhan. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

iv

Semarang,

September 2005

Gita Permata Sari

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto Segala sesuatu kerjakanlah dengan penuh iklas kendatipun hal itu menghabiskan tenaga, terkuras pikiran dan waktu, semuanya ada nilainya disisi Allah.

Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali orang-orang khusyu’ (Al-Baqoroh 45)

Jujur dari lubuk hatiku kupersembahan:

Untuk orang tuaku, terimakasih atas segala kasih sayangnya, doa dan air mata yang selalu tercurah untukku dan aku yakin kalian selalu memperhatikan dan menyayangiku. Keluarga dan saudara saudaraku ( Tante, Om, dan kakakku ) Mas Zaed yang telah memberikan kesabaran dan motivasinya kepadaku Sahabat-sahabatku yang telah menemaniku ( Agung, Fajar, Emil, Titin, Diah, Heni ) Teman-temanku seperjuangan angkatan 2001

v

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Alloh SWT, Tuhan semesta alam yang telah mencurahkan segala

rahmat, hidayah, karunia dan bimbingan-Nya sehingga penyusunan skripsi dengan

judil “Profil Guru Ideal Menurut Siswa di SMA Teuku Umar Semarang”

sebagai syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Jurusan Kurikulum dan

Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UNNES dapat terselesaikan.

Penyusunan skripsi ini didak lepas dari bantuan, dorongan dan bimbingan

dari berbagai pihak, oleh karena itu dengan penuh kerendahan hati penulis

ucapkan banyak terimakasih kepada yang terhormat :

1. Dr. H. A.T. Sugito, SH.MM selaku Rektor

Universitas Negeri

Semarang

yang

telah

memberikan

kesempatan

bagi

penulis

untuk

memperoleh

pendidikan formal di UNNES

sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan

dengan baik.

2. Drs. H. Siswanto, MM selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

Negeri Semarang yang telah memberikan ijin dan rekomendasi penelitian

sehingga

penelitian

ini

dapat

dilangsungkan

di

SMA

Teuku

Umar

Semarang.

3. Drs. Haryanto selaku Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan

yang telah memberikan kepercayaan untuk dilakukan penelitian tentang

Profil Guru Ideal Menurut Siswa di SMA Teuku Umar Semarang

4. Dra. Sukewi Sugito selaku dosen pembimbimbing I yang telah memberikan

saran dan masukan dalam skripsi ini.

vi

5.

Dr. Haryono, M.Psi selaku dosen pembimbing II yang dengan sabar selalu

membantu

dan

mengarahkan

kesempurnaan skripsi ini.

serta

memberikan

masukan

terhadap

6. Drs Hardjono selaku penguji yang telah memberikan masukannya dalam

penulisan skripsi ini.

7. Bapak Pramuji Nugroho As selaku Kepala Sekolah SMA Teuku Umar

Semarang yang telah memberikan ijin kepada peneliti untuk melakukan

penelitian kepada lembaga yang dipimpinnya.

8. Seluruh Guru dan staf serta para murid SMA Teuku Umar Semarang yang

telah banyak membantu peneliti sehingga penelitian ini dapat berjalan

dengan lancar

9. Teman-teman dan semua pihak yang telah menbantu dalam menyusun

kripsi ini.

Semoga

bantuan

dan bimbingan

yang

telah diberikan

menjadi

amal

kebaikan

dan mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa

skripsi ini masih jauh dari sempurna , maka dari itu kritik dan saran yang sifatnya

membangun

dari

berbagai

pihak

kesempurnaan skripsi ini.

sangat

diharapkan

guna

kelengkapan

dan

Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri

khususnya dan berguna bagi pembaca pada umumnya.

Semarang, Oktober 2005

vii

Penulis

ABSTRAK

Sari, Permata Gita. 2005. Profil Guru Ideal Menurut Siswa di SMA Teuku Umar Semarang. Skripsi 114 Halaman. Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, FakultasIlmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I:Dra. Sukewi Sugito, Pembimbing II : Dr. Haryono M.Psi. Kata Kunci : Profil Guru Ideal Menurut Siswa.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan profil guru ideal menurut siswa. Dengan terdeskripsikannya profil guru ideal menurut siswa dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, serta dapat menjadi masukan bagi pelaksanaan proses belajar dan mengajar sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kemampuan guru dalam proses belajar dan mengajar. Lokasi penelitian ini adalah SMA Teuku Umar Semarang. Pengumpulan data dilakukan sejak bulan Mei sampai Juli 2005, dengan sasaran siswa dengan menggunakan metodologi kualitatif dan menggunakan data deskriptif. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menelaah data yang tersedia dari berbagai sumber, reduksi data, display data dan yang terakhir membuat kesimpulan. Penelitian tentang Profil Guru Ideal Menurut Siswa ini menggunakan informan sebanyak 8 orang yaitu siswa kelas I dan siswa kelas II di SMA Teuku Umar Semarang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi dengan membandingkan dan memperoleh gambaran bahwa Guru di SMA Teuku Umar Semarang dinilai sudah cukup baik, itu terlihat dari berbagai pendapat siswa dan ketekunan serta keprofesionalan gurunya dalam menjalankan tugasnya. Adapun rekomendasi yang diusulkan peneliti yaitu, guru diharapkan dapat meningkatkan atau memperbaiki citranya sehingga dapat diterima sebagai guru yang baik dan guru juga diharapkan untuk terus meningkatkan kemampuan profesionalnya.

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING

ii

PENGESAHAN

iii

PERNYATAAN

v

MOTO DAN PERSEMBAHAN

v

KATA PENGANTAR

vi

ABSTRAKSI

vii

DAFTAR ISI

viii

DAFTAR LAMPIRAN

ix

DAFTAR TABEL DAN GAMBAR

x

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

1

B.

Rumusan Masalah

3

C.

Tujuan Penelitian

4

D.

Manfaat Penelitian

4

E.

Penegasan Istilah

5

BAB II LANDASAN TEORI

ix

A.

Profesi Guru

 

7

 

1.

Ciri-ciri Profesi

 
 

7

 

2.

Syarat Profesi

 

8

3.

Peningkatan Kualitas Profesi

 
 

12

 

4.

Kode Etik Guru

 

14

B.

Peran dan Tanggung Jawab Guru

 

18

 

1.

Peran Guru

 

18

2.

Tugas Guru

 
 

28

 

3.

Kompetensi Guru

 

30

C.

Profil Guru Ideal Menurut Siswa

 

35

D.

Persepsi

atau

 

Tanggapan Siswa tentang Profil Guru Ideal

 

39

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

 

A

Desain Penelitian

 

41

B

Tahap-tahap Penelitian

 

42

C

Informan Penelitian

 

45

x

D

Fokus Penelitian

46

E

Metode Pengumpulan Data

 

46

F

Objektifitas dan Keabsahan Data

 

48

G

Proses

Pencatatan

dan

Teknik

Analisis Data

49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Keadaan SMA Teuku Umar Semarang

59

B. Deskripsi Profil Guru Ideal Menurut Siswa SMA

Teuku Umar Semarang

62

1.

Guru di SMA Teuku Umar Semarang

 

77

2.

Profil Guru Ideal di SMA Teuku

 

Umar Semarang

79

3.

Guru yang Disukai

81

4.

Guru yang Paling Diidealkan

82

5.

Guru yang Tidak Diidealkan

84

C. Analisis Hasil Penelitian

 

85

1.

Profil Guru Ideal di SMA Teuku

 

Umar Semarang

87

 

xi

2.

Penilaian

Siswa Terhadap Guru yang Disukai dan

 

Tidak Disukai

89

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A

Simpulan

92

B

Saran

93

DAFTAR

PUSTAKA

94

LAMPIRAN

96

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I. Permohonan Ijin Penelitian

96

Lampiran 2. Surat Keterangan telah melakukan Penelitian

98

Lampiran 3. Panduan Wawancara Instrumen Penelitian

99

xiii

DAFTAR

BAGAN, TABEL DAN GAMBAR

Daftar Bagan

Bagan I Tugas Guru

29

Daftar Tabel

Tabel I. Teknik Triangulasi Sumber

49

Tabel 2. Perbedaan Pendapat Karakter Guru

di SMA Teuku Umar Semarang

84

Tabel 3. Jumlah Siswa di SMA Teuku Umar Semarang

61

Tabel 4. Sarana dan Prasarana di SMA Teuku Umar Semarang

61

Daftar Gambar

Gambar 1 SMA Teuku Umar Semarang Sebagai Setting Penelitian

102

Gambar 2 Lingkungan SMA Teuku Umar Semarang

102

Gambar 3 Wawancara dengan siswa kelas II

103

Gambar 4 Wawancara dengan siswa kelas I

103

Gambar 5 Wawancara dengan siswa kelas II

104

Gambar 6 Wawancara dengan siswa kelas I

104

Gambar 7 Wawancara dengan siswa kelas I

105

Gambar 8 Ruang kelas di SMA Teuku Umar Semarang

105

xiv

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan adalah masa depan bangsa. Untuk menyikapinya

maka

kehadiran guru dalam dunia pendidikan sangat diperlukan. Ketika semua

orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figur guru pasti terlibat

dalam agenda pembicaraan. Terutama menyangkut pendidikan formal di

sekolah. (Djamarah 2000:1)

Guru adalah figur seorang pemimpin bagi siswanya. Selain itu guru

juga adalah sosok arsitektur yang dapat membentuk jiwa dan watak pada

siswanya. Jabatan yang diemban untuk menjadi seorang guru tidaklah mudah

,

guru

adalah

orang

membimbing, mendorong

yang

mempunyai

tugas

mengajar,

mendidik,

siswanya untuk belajar serta membina siswa

siswinya baik didalam maupun diluar kelas.

Guru mempunyai peran sangat banyak, menurut pendapat Sahertian

(1992:34)

antara lain

sebagai model, nara sumber, fasilitator, konselor,

tutor, manajer, pembina laboratorium, serta peranan lainnya.

xv

Kita sering mendengar ungkapan guru iku bisa digugu omonge lan bisa

ditiru kelakuane. Pesan dalam bahasa jawa itu mengandung makna guru itu

perkataannya selalu diperhatikan dan perbuatannya selalu menjadi teladan.

Menjadi guru merupakan cita-cita

sebagian besar anak pada zaman dahulu,

dan mempunyai status sosial yang tinggi dimata masyarakat. Pada masa

penjajahan kolonial mereka sangat bangga menjadi keluarga seorang guru,

karena

jabatan

guru

sederajat

dengan

kaum

bangsawan.

Penghormatan

masyarakat terhadap profesi guru tidak terbatas pada status keguruannya

belaka tetapi terlebih lagi kerena sanjungan terhadap keluhuran profesi guru.

(Silverius Suke 2003:90).

Banyak sekali yang dilakukan oleh siswa pada zaman dahulu

untuk

menghormati

dan

menghargai

guru.

Salah

satunya

diwujudkan

dengan

membawakan

tasnya

ketika

datang

di

sekolah,

mencium

tangannya,

mematuhi perintahnya dan memperhatikan pelajaran dengan cara bersideku.

Pada masa sekarang jarang

kita melihat siswa yang memberikan

penghormatan kepada guru sejauh itu. Siswa cenderung lebih menganggap

guru sebagai teman dekat, sehingga siswa lebih terbuka dan leluasa berbicara

dengan gurunya tanpa diselimuti oleh perasaan takut.

Menjadi guru pada zaman dulu berbeda dengan zaman sekarang. Dulu

untuk

menjadi

profesi

guru

bisa

xvi

didapat

walau

hanya

menyelesaikan

pendidikan SMP, SMA atau

SPG. Sekarang untuk menjadi guru perlu

menyelesaikan pendidikan D2 ataupun S1.

Dengan

meningkatnya

pendidikan

guru

sekarang

ini

belum

tentu

wibawa guru ikut meningkat. Pendidikan seorang guru juga bukanlah tolok

ukur untuk menjadi seorang guru ideal menurut siswa.

Dari

uraian

tersebut,

peneliti

tertarik

untuk

meneliti

lebih

lanjut

permasalahan tersebut dalam bentuk skripsi dengan judul : “PROFIL GURU

IDEAL

MENURUT

SISWA

DI

TAHUN 2004/ 2005”.

SMA

TEUKU

UMAR

SEMARANG

Adapun alasan peneliti mengadakan penelitian di SMA Teuku Umar

Semarang karena peneliti pernah mendapatkan tugas observasi, di SMA

Teuku Umar Semarang pada tugas mata kuliah yang diampu oleh Bapak Dr.

Nugroho. M. Psi.

B. RUMUSAN MASALAH

Sesuai dengan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang

masalah, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah :

1.

Bagaimana

tanggapan siswa terhadap guru di SMA Teuku Umar

Semarang ?

xvii

2.

Bagaimana

“Profil Guru Ideal” menurut pandangan siswa di SMA

Teuku Umar Semarang ?

3. Guru SMA Teuku Umar yang mana yang menjadi idola siswa ?

C. TUJUAN

Berdasarkan

rumusan

masalah,

maka

tujuan

penelitian

adalah

mengetahui :

1. Bagaimana

tanggapan

siswa terhadap

guru di

SMA

Teuku Umar

2.

Semarang

Profil

guru

Semarang

ideal

yang diinginkan

oleh

siswa SMA

Teuku

Umar

3. Profil guru SMA Teuku Umar Semarang yang diidolakan siswa

D. MANFAAT

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat, diantaranya

1. Manfaat Teoritis, bermanfaat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan

khususnya di bidang pendidikan yaitu dengan melihat hasil penelitian

ini, dijadikan suatu masukan dalam kegiatan proses pembelajaran.

2. Manfaat Praktis, bagi peneliti khususnya, untuk mengetahui bagaimana

profil guru ideal menurut siswa di SMA Teuku Umar Semarang. Bagi

xviii

lembaga, hasil

penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi

pelaksanaan proses belajar mengajar

sehingga dapat berjalan secara

optimal. Bagi guru hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan

kualitas dan kemampuan guru dalam proses belajar dan mengajar. Bagi

siswa hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan

hasil belajar

siswa sehingga dapat mengikuti pembelajaran secara optimal. Bagi

Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan

hasil penelitian ini

diharapkan dapat menjadi bahan masukan perbaikan kualitas bagi

jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, serta dapat menambah

referensi dan perbendaharaan kepustakaan tentang profesi guru.

E. PENEGASAN ISTILAH

1. Dalam skripsi ini yang dimaksud dengan profil adalah penampilan atau

kecepatan seseorang dalam bertindak dan bertingkah laku. Sedangkan

pengertian guru adalah semua orang yang mempunyai wewenang dan

bertanggung jawab untuk membimbing dan membina siswa, baik secara

individu

maupun

secara

klasikal,

yang

diselenggarakan

di

dalam

lingkungan

sekolah

maupun

di

luar

lingkungan

sekolah

dan

bertanggung jawab mendidik siswa dari yang belum tahu menjadi tahu,

dan menjadikan siswa menjadi manusia yang dewasa.

xix

Pengertian Ideal adalah sesuatu yang diangan-angankan, sesuai dengan

apa yang diinginkan, dicita-citakan.

Dari pendapat di atas penelitian dapat menyimpulkan pengertian profil

guru

ideal

adalah

seorang

yang

diinginkan

untuk

dapat

mengembangkan

tugas

pokok

mengajar,

mendidik,

membina,

membimbing

orang lain

termasuk

siswa

yang secara

sadar untuk

menjadi lebih dewasa.

2. Siswa adalah seseorang yang bertindak sebagai subjek belajar dan

berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran

yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

3. SMA Teuku Umar Semarang adalah SMA swasta yang terletak di kota

Semarang yang merupakan tempat penelitian ini dilakukan.

xx

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Profesi Guru.

Kebanyakan kita mengatakan bahwa mengajar adalah suatu profesi.

Oleh karena itu perlu kita kaji lebih jauh mengapa jabatan guru merupakan

suatu profesi. Menurut Soetjipto dkk (1994:250) profesi adalah jabatan atau

pekerjaan yang menuntut keahlian, dan etika khusus serta baku (standar)

layanan.

Kalau kita lebih jauh memahami tentang profesi, maka hal yang sangat

mendasar yang perlu dipahami adalah ketanggapan yang berdasarkan kearifan

atau pengabdian yang mendasar pada keahlian atau kemaslahatan orang

banyak. Dalam menjalankan profesi guru ada beberapa hal yang harus

dipenuhi salah satunya adalah :

1. Ciri-ciri Profesi

Ciri-ciri utama dari profesi menurut Sanusi et al (dalam Soetjipto,

1994:15) adalah sebagai berikut :

a. Suatu jabatan yang memiliki fungsi dan signifikansi sosial yang

menentukan (krusial)

b. Jabatan yang menentukan ketrampilan/ keahlian tertentu.

c. Ketrampilan/ keahlian yang dituntut jabatan itu didapat melalui

pemecahan masalah dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.

xxi

d.

Jabatan itu berdasar pada batang tubuh disiplin ilmu yang jelas,

sistematik,

dan

eksplisit,

khalayak umum

yang

bukan

hanya

sekedar

pendapat

e. Jabatan itu memerlukan pendidikan tingkat perguruan tinggi dengan

waktu yang cukup lama.

f. Proses pendidikan untuk jabatan itu juga merupakan aplikasi dan

sosialisasi nilai-nilai profesional itu sendiri.

g. Dalam memberikan layanan kepada masyarakat anggota profesi itu

berpegang teguh pada kode etik yang dikontrol oleh organisasi

profesi.

h. Tiap anggota profesi mempunyai kebebasan dalam memberikan

judgement terhadap permasalahan profesi yang dihadapinya.

i. Dalam prakteknya melayani masyarakat, anggota profesi otonom

dan bebas dari campur tangan orang luar.

j. Jabatan ini mempunyai prestise yang tinggi dalam masyarakat, dan

oleh karenanya memperoleh imbalan yang tinggi pula.

2. Syarat Profesi

Menurut Stinnett (1968) dalam Sutomo dkk, (1994:4) ada beberapa

syarat untuk memegang jabatan guru diantaranya adalah :

a.

Suatu

profesi

intelektual.

pada

dasarnya

memerlukan

kegiatan-kegiatan

Jelas sekali bahwa jabatan guru melibatkan upaya-upaya yang sifatnya

sangat didominasi kegiatan intelektual dapat diamati bahwa kegiatan-

xxii

kegiatan yang dilakukan anggota profesi adalah dasar dari semua

kegiatan profesional lainnya.

b. Suatu profesi memerlukan pengetahuan pengetahuan khusus.

Suatu jabatan mempunyai monopoli pengetahuan yang memisahkan

anggota mereka dari orang awam dan memungkinkan mereka

mengadakan pengawasan tentang jabatannya. Anggota suatu profesi

menguasai bidang ilmu yang membangun keahlian mereka dan

melindungi masyarakat dari penyalahgunaan, dari kelompom tertentu

yang ingin mencari keuntungan. Namun belum ada kesepakatan

tentang bidang ilmu khusus yang melatari pendidikan.

c. Suatu profesi perlu diperluas menjadi profesional.

Profesi seorang guru hendaknya perlu dikembangkan sehingga

menjadi seorang yang benar-benar profesional dibidangnya. Yang

membedakan jabatan profesional dengan non-profesional adalah

penyelesaian pendidikan melalui kurikulum, yaitu ada yang diatur

institut atau universitas atau melalui pengelaman praktek dan

pemegangan atau campuran pemagangan dan kuliah. Yang pertama

yakni pendidikan melalui perguruan tinggi, disediakan untuk jabatan

profesional, sedangkan yang kedua, yakni pendidikan melalui

pengalaman praktek dan pemagangan atau campuran pemagangan

dan kuliah diperuntukan bagi jabatan yang non profesional. Namun

sampai sekarang di Indonesia, masih ada guru yang pendidikan mereka

xxiii

sangat singkat, sehingga kualitasnya masih sangat jauh untuk

memenuhi persyaratan yang kita harapkan.

d. Suatu profesi memerlukan pertumbuhan melalui inservice (latihan

dalam jabatan) secara terus menerus.

Jabatan guru merupakan jabatan yang profesional, sebab guru sering

melakukan berbagai kegiatan latihan profesional, baik yang

mendapatkan penghargaan kredit maupun tanpa kredit.

e. Suatu profesi memberi pertumbuhan karir dan keanggotaan secara

permanen

Diluar negeri jabatan guru sebagai karir permanen merupakan titik

yang paling lemah dalam menuntut bahwa mengajar adalah jabatan

profesional. Banyak guru yang bertahan satu sampai dua tahun dalam

mengajar, kemudian mereka pindah kerja kebidang yang lain. Di

Indonesia tidak begitu banyak guru yang pindah kebidang lain,

walaupun bukan berarti bahwa jabatan guru di Indonesia mempunyai

pendapatan yang tinggi. Alasannya mungkin lapangan kerja dan sistem

pindah jabatan yang agak sulit.

f. Suatu profesi sebagai dasar untuk mendapatkan pengakuan

Suatu jabatan guru pada dasarnya untuk mendapatkan pengakuan.

Jabatan guru masih banyak diatur oleh pemerintah, atau pihak pihak

lain yang menggunakan tenaga guru tersebut seperti yayasan

pendidikan swasta.

xxiv

Sementara kebanyakan jabatan mempunyai patokan dan persyaratan

yang seragam untuk meyakinkan kemampuan minimum yang tidak

seharusnya demikian halnya dengan jabatan guru. Misalnya

mahasiswa yang masuk kependidikan guru jauh lebih rendah

dibandingkan dengan yang masuk kebidang lainnya. Permasalahan ini

mempunyai mempunyai akibat juga dalam hasil pendidikan guru

nantinya, karena bagaimanapun juga mutu lulusan akan sangat

dipengaruhi oleh mutu masukan, dalam hal ini mutu calon mahasiswa

lembaga pendidikan guru.

g. Suatu profesi mengutamakan pelayanan

Jabatan guru merupakan suatu jabatan yang anggotanya termotivasi

oleh keinginan untuk membantu orang lain, bukan disebabkan oleh

keuntungan ekonomi atau keuangan. Namun bukan berarti bahwa guru

harus dibayar lebih rendah tetapi jangan mengharapkan akan cepat

kaya bila memilih jabatan guru.

h. Suatu profesi mempunyai kekuatan dalam bentuk organisasi profesi

Suatu profesi yang dikenal mempunyai organisasi profesional yang

kuat untuk dapat mewadahi tujuan bersama dan melindungi

anggotanya. Di Indonesia telah ada Persatuan Guru Republik

Indonesia (PGRI) yang merupakan suatu wadah seluruh guru dari

Taman Kanak-Kanak sampai guru Sekolah Lanjutan Atas, dan ada

pula Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) yang mewadahi

seluruh sarjana pendidikan.

xxv

Sedangkan menurut Drs. Moh. Ali, 1985 dalam (Uzer Usman,

2000:15) suatu profesi guru memerlukan persyaratan khusus yaitu :

1)

Menuntut adanya ketrampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu

pengetahuan yang mendalam.

2)

Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan

bidang profesinya.

3)

Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai.

4)

Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatandari pekerjaan yang

dilaksanakan.

Selain persyaratan tersebut, Uzer Usman (2000:15) menambahkan

persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap pekerjaan yang tergolong

sebagai suatu profesi, antara lain :

1)

Memiliki kode etik, sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan

fungsinya.

2)

Memiliki klien atau objek layanan yang tetap, seperti dokter dengan

pasiennya, guru dengan muridnya

3)

Diakui oleh masyarakat karena karena memang diperlukan jasanya

dimasyarakat.

Atas dasar tersebut maka hendaknya jabatan profesional harus

ditempuh melalui jenjang pendidikan yang khusus mempersiapkan jabatan

tersebut.

3. Peningkatan kualitas profesi

xxvi

Jabatan profesional sangat memperhatikan layanan yang diberikan

kepada masyarakat. Oleh sebab itu dalam rangka menjaga dan

meningkatkan layanan ini secara optimal, serta menjaga agar masyarakat

jangan sampai dirugikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,

tuntutan jabatan profesional harus sangat tinggi

Profesi pendidikan khususnya profesi guru, tugas utamanya adalah

melayani masyarakat dalam dunia pendidikan. Sejalan dengan alasan

tersebut jelas kiranya bahwa profesionalisasi dalam bidang keguruan

mengandung arti peningkatan segala daya dan usaha dalam rangka

pencapaian secara optimal layanan yang akan diberikan kepada

masyarakat. lebih khusus lagi Sanusi et al (dalam Soetjipto dkk, 1994:24),

mengajukan enam asumsi yang melandasi perlunya perlunya

profesionalisasi dalam pendidikan (dan bukan dilakukan secara acak saja),

yakni sebagai berikut :

a.

Subjek

pendidikan

adalah

manusia

yang

memiliki

kemauan

pengetahuan, emosi, dan perasaan, dan dapat dikembangkan segala

potensinya;

sementara

itu

pendidikan

dilandasi

oleh

nilai-nilai

kemanusiaan yang menghargai martabat manusia.

b.

Pendidikan

dilakukan

secara

intensional,

yakni

secara

sadar

dan

bertujuan, maka pendidikan menjadi norma yang diikat oleh norma-

norma dan nilai-nilai yang baik secara universal, nasional, maupun

lokal,

yang

merupakan

acuan

para

pendidik,

peserta

didik,

dan

pengelola pendidikan.

 

xxvii

c.

Teori teori pendidikan merupakan jawaban kerangka hipotesis dalam

menjawab permasalahan pendidikan

d. Pendidikan bertolak dari asumsi pokok tentang manusia mempunyai

potensi yang baik untuk berkembang. Oleh sebab itu pendidikan itu

adalah usaha untuk mengembangkan potensi unggul tersebut.

e. Inti pendidikan terjadi dalam prosesnya, yakni situasi

dimana terjadi

dialog antara peserta didik dengan pendidik dan selaras dengan nilai-

nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

f. Seiring terjadinya dilema antara tujuan pendidikan yakni menjadikan

manusia sebagai manusia yang baik (dimensi intrinsik) dengan misi

instrumental

yakni

yang

mencapai sesuatu.

4. Kode etik guru

a. Pengertian kode etik

merupakan

alat

untuk

perubahan

atau

Kode etik suatu profesi adalah norma-norma yang harus

diindahkan oleh setiap orang anggota profesi dalam melaksanakan

tiugas profesinya dan dalam hidupnya dimasyarakat.

Norma-norma tersebut berisi petunjuk bagi para anggota profesi

tentang bagaimana mereka melaksanakan profesinya, dan larangan-

larangan yaitu ketentuan-ketentuan tentang apa yang tidak boleh

diperbuat atau dilaksanakan oleh mereka, tidak hanya menjalankan

xxviii

tugas profesi mereka tetapi juga menyangkut tingkah laku anggota

profesi dalam kehidupan sehari- hari.

b. Tujuan kode etik

Pada dasarnya tujuan merumuskan kode etik dalam suatu

profesi adalah untuk kepentingan anggota dan kepentingan organisasi

profesi itu sendiri. Menurut R.Hermawan (1979) dalam Soetjipto,

(1994:27) secara umum mengadakan tujuan kode etik adalah sebagai

berikut :

xxix

1) Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.

Dalam hal ini kode etik dapat menjaga pandangan dan kesan dari

pihak luar atau masyarakat, agar mereka jangan sampai

memandang rendah atau remeh terhadap profesi yang

bersangkutan. Oleh karenanya setiap kode etik suatu profesi akan

melarang berbagai bentuk tindak tanduk atau kelakuan anggota

profesi yang dapat mencemarkan nama baik profesi terhadap dunia

luar.

2) Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya.

Yang dikmaksud kesejahteraan disini meliputi baik kesejahteraan

lahir (material) maupun kesejahteraan batin (spiritual atau mental).

Kode etik umumnya memuat larangan-larangan kepada para

anggotanya yang merugikan kesejahteraan anggotanya. Dalam hal

kesejahteraan batin para anggota profesi, kode etik umumnya

memberikan petunjuk kepada para anggotanya untuk melaksanakan

profesinya. Kode etik juga sering mengandung peraturan-peraturan

yang bertujuan untuk membatasi tingkah laku yang tidak pantas

atau tidak jujur sesama anggota profesi dalam berinteraksi dengan

sesama rekan anggota profesi

3) Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.

Tujuan ini dapat pula berkaitan dengan peningkatan kegiatan

pengabdian profesi, sehingga bagi anggota profesi dapat dengan

mudah mengetahui tugas dan tanggung jawab pengabdiannya

xxx

dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu kode etik

merumuskan ketentuan-ketentuan yang perlu dilakukan para

anggota profesi dalam melaksanakan tugasnya.

4) Untuk meningkatkan mutu profesi.

Untuk meningkatkan mutu profesi kode etik juga memuat norma-

norma dan anjuran agar para anggota profesi selalu berusaha untuk

meningkatkan mutu pengabdian kepada para anggotanya.

5) Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.

Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi, maka diwajibkan

kepada setiap anggota untuk secara aktif berpartisipasi dalam

membina organisasi profesi dan kegiatan kegiatan yang dirancang

organisasi.

Jadi tujuan suatu profesi menyusun kode etik adalah

menjunjung tinggi martabat profesi, menjaga dan memelihara

kesejahteraan para anggotanya, meningkatkan pengabdian kepada para

anggota profesi, dan meningkatkan mutu profesi dan mutu organisasi

profesi.

c. Penerapan kode etik

Kode etik dapat diterapkan oleh suatu organisasi profesi yang

berlaku dan mengikat para anggotanya. Dengan demikian penerapan

kode etik tidak dapat dilakukan secara orang perorangan, melainkan

harus dilakukan oleh orang yang diutus dan atas nama anggota profesi

dari anggota tersebut.

xxxi

Dengan demikian jelas bahwa orang yang bukan anggota

tersebut tidak dikenakan aturan yang ada dalam anggota profesi

tersebut.

xxxii

d.

Sanksi kode etik

Setiap profesi yang melakukan pelanggaran serius terhadap

kode etik dapat dikenakan sanksi. Sering kita jumpai ada kalangan

negara yang mencampuri urusan profesi, sehingga hal-hal yang semula

hanya merupakan kode etik saja dari suatu profesi tertentu dapat

meningkat menjadi peraturan hukum atau undang-undang. Apabila

demikian, maka aturan yang mulanya berlandaskan moral atau

pedoman tingkah laku meningkat menjadi aturan yang memberikan

sanksi hukum yang sifatnya memaksa, baik berupa sanksi perdata

maupun pidana.

Sebagai contoh, misalnya jika suatu profesi bersaing secara

tidak jujur, atau curang dengan sesama anggota profesinya dan jika

dianggap kecurangan tersebut serius maka, dapat dituntut di

pengadilan. Pada umumnya pelanggaran terhadap kode etik adalah

berupa sanksi moral maka bagi siapa yang melanggarnya, akan

mendapat celaan dari rekan-rekannya.

e. Kode etik guru Indonesia.

Guru Indonesia menyadari, bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa,Bangsa, dan Negara, serta

kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada Undang-Undang Dasar 1945, turut bertanggung jawab atas terwujudnya proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. oleh sebab itu guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan mendominasi dasar-dasar sebagai berikut :

1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila

2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional

3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.

xxxiii

4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjuang berhasilnya proses belajar mengajar.

5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan tanggungjawab bersama terhadap pendidikan.

6. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.

7. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.

8. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian

9. Guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan

1994:30)

(Soetjipto,

B. Peran Dan Tanggung Jawab Guru

1. Peran Guru

Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada

anak didiknya. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang

melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu misal di rumah, di

sekolah dan lain lain.

Guru juga mempunyai kedudukan terhormat di masyarakat

kewibawaannya yang membuat mereka dihormati, dan masyarakat yakin

bahwa yang dapat mendidik siswa mereka supaya menjadi orang yang

berkepribadian mulia.

Sektor pendidikan saat ini sudah berada pada era globalisasi yang

sesungguhnya, yaitu informasi dan komunikasi yang berkembang pesat

seirama dengan kemajuan teknologi yang mengakibatkan persaingan ketat.

Kehidupan masa depan semakin kompleks dan sangat pesat. Proses belajar

xxxiv

bukan hanya mengarah pada hafalan belaka, tetapi juga melatih anak untuk

berpikir, bertindak dan menghayati (learning to think, learning to do,

learning to be). Oleh karena itu anak didik juga perlu untuk belajar

learning how to learn, learning how to feel, learning how to evaluate,

bukan hafalan saja. Learning how to live together merupakan kebutuhan

esensial masa depan.

Dalam proses belajar mengajar yang perlu dipikirkan oleh guru

supaya proses belajar berjalan menyenangkan adalah peran guru sebagai

tokoh sentral dalam pendidikan diantaranya guru berperan sebagai

fasilitator bukan sebagai penceramah saja.

Sebagai seorang fasilitator maka guru harus kreatif mengelola

proses belajar dan mengajar di kelas dengan menciptakan kondisi kelas

yang hidup dan menarik, menciptakan suasana belajar yang rileks,

bervariasi, dan menggelitik rasa ingin tahu , mengoptimalkan daya pikir

anak didik melalui dengar, lihat, rasakan, sera mengembangkan nalar kritis

dan mampu secara kreatif menemukan problem solving. Oleh karena itu

sangat memprihatinkan bila guru tidak dibekali dengan kesiapan sebagai

pendidik yang mampu mengacu pada kemampuan mengajar yang optimal.

Penguasaan ilmu dan teknologi perlu dipupuk oleh guru melalui

budaya berpikir dan berprilaku ilmiah yang menuntut sikap nalar, kritis,

eksploratif, dan mengusahakan hasil temuan dengan menggunakan daya

imajenasi dan kreatifitas. Model belajar harus mampu memberikan

kesempatan siswa belajar dengan pola learning by doing yang dapat

xxxv

dilakukan dikelas, laboratorium, dan lapangan sekolah yang diiringi

dengan daya imajenasi kreatif yang mampu merangsang kegiatan berpikir,

ketekunan ketelitian dan kemampuan eksploratif. (Suara pembaharuan, 9

September 2002).

Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa guru dituntut untuk

dapat meningkatkan peranannya dan kompetensinya karena proses belajar

mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan

dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu

menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu

mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang

optimal.

Menurut Djamarah (1997:43) mengemukakan peranan guru adalah

sebagai berikut :

a. Korektor

Guru harus dapat membedakan mana nilai yang baik dan yang buruk. Semua nilai yang baik harus guru pertahankan dan semua nilai yang buruk harus disingkirkan dari jiwa dan watak siswa dan bila guru membiarkannya berarti guru telah mengabaikan peranannya sebagai korektor yang menilai sikap dan tingkah laku siswa.

b. Inspirator

Sebagai inspirator guru diharapkan dapat memberikan ilham-ilham bagi kemajuan belajar siswa. Persoalan belajar adalah masalah utama siswa. Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yang baik. Petunjuk itu tidak mesti harus bertolak dari sejumlah teori-teori belajar, dari pengalaman pun bisa dijadikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik.

c. Motivator

Guru hendaknya dapat mendorong siswa sehingga mereka akan termotivasi, bergairah dan aktif belajar. Peranan ini sangat penting karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang mebutuhkan kemahiran sosial, menyangkut performance dalam personalisasi dan sosialisasi diri.

d. Organisator

Diharapkan guru dapat memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyangkut kalender dan sebagainya. Semuanya diorganisasikan sehingga menyangkut efektifitas dan efisiensi dalam belajar pada diri siswa.

e. Inisiator

xxxvi

f.

Diharapkan dalam peranannya, guru dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi belajar mengajar harus dapat disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang pendidikan sehingga dunia pendidikan menjadi lebih baik.

Fasilitator

Guru hendaknya menyediakan fasilitas yang memudahkan dalam kegiatan belajar dan mengajar sehingga tercipta lingkungan belajar yang menyenangkan bagi siswa.

xxxvii

g. Pembimbing

Peranan ini adalah membimbing siswa menjadi manusia dewasa susila yang cakap.

h. Demonstrasi

Dalam interaksi belajar dan mengajar tidak semua bahan pengajaran dapat siswa pahami sehingga guru berusaha dengan cara memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis sehingga tidak terjadi verbalisme.

i. Pengelola Kelas

Seorang guru hendaknya dapat mengelola kelas yaitu agar siswa betah tinggal di kelas dengan motifasi yang tinggi untuk senantiasa belajar didalamnya.

j. Mediator

Guru sebagai mediator dapat diartikan guru sebagai penyedia media sehingga guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media non material maupun material

k. Supervisor

Sebagai supervisi diharapkan guru dapat membantu memperbaiki dan manilai secara kritis terhadap proses pengajaran. Teknik-teknik supervisi harus dikuasai guru agar dapat menentukan perbaikan terhadap situasi belajar dan mengajar menjadi lebih baik.

xxxviii

l.

Evaluator

Guru dituntut menjadi evaluator yang baik dan jujur dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsik. Penilaian terhadap aspek intrinsik lebih menyentuh pada aspek kepribadian siswa, yakni aspek nilai (value). Penilaian terhadap kepribadian siswa tentu lebih diutamakan dari pada pengalaman terhadap jawaban siswa ketika diberi tes.

Jadi penilaian diharapkan lebih menekankan pada keribadian siswa agar menjadi manusia susila yang cakap.

Untuk itu peran dan fungsi guru dalam pembelajaran modern

menurut Agus Salim (2004:359) mencakup:

a. Pemandu bakat siswa

Guru yang baik harus mampu mengenali secara dini potensi-

potensi bakat yang dimiliki setiap siswanya. Untuk mendapatkan

fungsi sebagai pemandu bakat diperlukan kemampuan awal.

Pertama guru perlu memiliki wawasan teoritik tentang konsep

keterbakatan. Penguasaan konsep keterbakatan ini akan menjadi basis

awal bagi guru untuk memahami berbagai ragam perbedaan bakat dan

perbedaan individual siswa yang diasuhnya. Modal penguasaan konsep

keterbakatan akan menjadi bekal guru untuk mengidentifikasi ciri-ciri

bakat khusus yang dimiliki siswanya.

Kedua mengenal kebutuhan keterbakatan yang dimiliki masing-

masing

siswa

dalam

setiap

tahap

perkembangan.

Anak

berbakat

memiliki

kebutuhan

yang

cepat

berubah

dari

setiap

episode

perkembangan sehingga guru harus sensitif agar dapat menyiapkan

segala sesuatunya sesuai dengan kebutuhan siswa.

Ketiga

Guru

harus

dituntut

untuk

melakukan

pengamatan

struktural

terhadap

setiap

siswanya,

sehingga

bisa

mengetahui

xxxix

kebiasaan-kebiasaan

maupun

keunikan

setiap

siswanya.

Hal

ini

berkaitan dengan kebutuhan pelayanan khusus anak-anak berbakat.

b. Pengembang kurikulum

Berdasarkan pemahaman yang akurat terhadap potensi, bakat,

dan kebutuhan belajar siswa. Guru harus mampu mengembangkan

kurikulum. Dalam hal ini dibutuhkan kepiawaian untuk mensinergikan

antara tuntutan kurikulum nasional dan tuntutan kebutuhan siswa.

Tanpa

keberanian

kreatif

dari

guru

maka

kebutuhan

siswa

akan

dikorbankan demi pencapainan target kurikulum nasional.

Guru

idealnya

terus–menerus

mengikuti

perkembangan

kebutuhan

keterbakatan

setiap

siswa

dari

waktu

kewaktu

dan

mengkomparasikan

dengan

perubahan

sosial

yang

berkembang

dimasyarakat. Perpaduan antara kebutuhan individual keterbakatan

siswa dan arah perubahan sosial masyarakat inilah yang mestinya

dijadikan acuan dalam mengembangkan kurikulum di sekolah.

c. Perancang desain pembelajaran

Merancang desain pembelajarn juga merupakan tugas yang

harus dilakukan oleh guru. Dalam merancang desain pembelajaran

hendaknya guru harus berpacu pada penelitian mutakhir. Menurut

riset-riset tentang mekanisme kerja otak dalam proses belajar dan

berpikir,

kehidupan

omosional

mendahului

dan

mendasari

proses

kognisi Pribam, dkk dalam Agus Salim (2004:361).

xl

d.

Pengelola proses pembelajaran

Kemampuan merancang desain pembelajaran harus ditunjukan

sampai

pada

mengelola

dan

mengimplementasikan

desain

pembelajaran.

Pembelajaran

kontruktivistik

adalah

suatu

proses

pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk aktif membangun

konsep, pengertian dan pengetahuan baru berdasarkan data, informasi

dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.

Mengajar idealnya mampu memberikan pengalaman baru dan

pencerahan

kepada

siswa, sehingga

mereka

mengalami

ketagihan

(addictive)

untuk

belajar

sendiri

lebih

mendalam.

Ringkasnya

,kontruktivisme

memandang

penting

peran

siswa

untuk

dapat

membangun contructive habits of mind dalam diri masing-masing

siswa melalui setiap proses pembelajaran.

e. Peneliti penilaian dan penulis

Profesi guru adalah profesi intelektual yang siklus alaminya

mencakup membaca, mengajar, meneliti dan menulis secara terus

menerus

sehingga

menjadi

siklus

yang

tidak

pernah

berhenti.

Membaca

yang

banyak

dibidang

ilmu

yang

menjadi

tanggung

jawabnya

adalah

kewajiban

mutlak.

Berdasarkan

bahan

yang

dikuasainya itu guru menguatkan materi ajar, hal itu akan menambah

bobot kualitas pembelajaran yang diampunya Ryan dan Cooper dalam

Agus Salim (2004:363). Selanjutnya proses belajar yang dikelolanya

xli

juga

dievaluasi

secara

terprogram

dan

menjadi catatan penelitian.

temuan

temuannya

ditulis

Hasil penelitian yang dilakukan sendiri juga biasa dimanfaatkan

sebagai bahan

untuk menulis buku bahan ajar dan sejenisnya. Guru

yang selalu memperbaharui pengetahuan dan kemampuan mengajar

melalui meneliti dan menulis akan mencapai performa kerja yang

sangat baik.

Peranan guru dalam belajar dan mengajar meliputi banyak hal.

Menurut

Uzer

Usman,

(2000:9)

peranan

yang

dianggap

paling

dominan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1) Guru sebagai demonstrator

Melalui perannya sebagai demonstrator, lecturer, atau pengajar,

guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran

yang akan diajarkannya serta senantiasa mengajarkannya dalam

arti

meningkatkan

kemampuannya

dalam

hal

ilmu

yang

dimilikinya karena hal ini sangat

dicapai oleh siswa.

menentukan hasil belajar yang

2) Guru sebagai pengelola kelas

Dalam perannya sebagai pengelola kelas (learning manager), guru

hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar

serta

merupakan

diorganisasi.

aspek

dari

xlii

lingkungan

sekolah

yang

perlu

3) Guru sebagai mediator dan fasilitator

Sebagai seorang mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan

dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena

media

pendidikan

merupakan

alat

komunikasi

untuk

lebih

mengefektifkan

roses

belajar

dan

mengajar.

Sebagai

seorang

mediator

guru

pun

menjadi

perantara

dalam

hubungan

antarmanusia.

Untuk

keperluan

itu

guru

harus

terampil

mempergunakan

ketrampilan

tentang

bagaimana

orang

berinteraksi dan berkomuniakasi.

Sebagai seorang fasilitator guru hendaknya mampu mengusahakan

sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian

tujuan

dan

proses

belajar

dan

mengajar,

baik

yang

berupa

narasumber, buku teks, majalah, ataupun surat kabar.

4) Guru sebagai evaluator

Guru sebagai evaluator

atau penilai handaknya terus menerus

mengikuti hasil belajar yang dicapai siswanya dari waktu ke

waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan

umpan balik (feedback) dalam proses belajar mengajar.

Tugas guru sebagai seorang pengajar memiliki konsekuensi

untuk memiliki peran-peran tertentu dalam kaitannya dengan

proses

belajar

mengajar

yang

sering

disebut

peran

guru

dalam

pengadministrasian, peran guru secara pribadi dan peran guru secara

psikologis.

xliii

2.

Tugas guru

Guru merupakan jabatan atau profesi atau pekerjaan yang

memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Guru didalam kelas

mempunyai tugas yang cukup berat. Dalam hal ini tugas guru

dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu yang pertama, bertugas

dibidang profesi yang meliputi, guru sebagai pendidik, sebagai pengajar

dan sebagai pelatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan

nilai-nilai hidup. Mengajar merarti meneruskan dan mengembangkan ilmu

pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan

ketrampilan ketrampilan pada siswa.

Tugas guru yang kedua adalah tugas dibidang kemanusiaan, yaitu

menjadi orang tua kedua disekolah setelah orang tua siswa sendiri

dirumah. Guru sebagai idola para siswa hendaknya dapat menjadi panutan

dalam berfikir, berprilaku dan dapat memberikan motivasi untuk belajar.

Tugas guru yang ketiga adalah tugas dibidang kemasyarakatan,

dalam hal ini guru mendidik dan menjadikan siswanya menjadi warga

negara Indonesia yang bermoral Pancasila, dan mencerdaskan bangsa

Indonesia. (Uzer Usman, 2000:6-8).

Tugas dan peran guru tidaklah terbatas didalam masyarakat,

bahkan guru pada hakekatnya memiliki komponen yang strategi yang

memilih peran yang penting dalam penggerak kemajuan kehidupan

bangsa. Semakin akurat para guru melaksanakan fungsinya, semakin

terjamin, tercipta dan terbinanya kesiapan dan keandalan seseorang

xlv

sebagai manusia pembangun, dengan kata lain, potret wajah diri bangs

dimasa depan tercermin dari potret diri guru masa kini., dan citra para guru

ditengah tengah masyarakat.

Secara singkat tugas guru dapat digambarkan melalui bagan

sebagai berikut :

Bagan Tugas Guru

Tugas Guru Meneruskan dan mengembangkan nilai nilai hidup Mendidik Profesi Mengajar Meneruskan dan mengembangkan
Tugas Guru
Meneruskan dan
mengembangkan
nilai nilai hidup
Mendidik
Profesi
Mengajar
Meneruskan dan
mengembangkan ilmu
pengetahuan dan
teknologi
Mengembangkan
Melatih
ketrampilan dan
penerapannya
Menjadi orang tua kedua
Auto-pengertian :
− Homoludens
Kemanusiaan
− Homovuber
− homosapien
Transformasi diri
Autoidentifikasi
Kemasyarakatan
Mendidik dan mengejara masyarakat
untuk menjadi warganegara
Indonesia yang bermoral Pancasila
Mencerdaskan bangsa Indonesia

xlvi

3. Kompetensi guru

(Uzer Usman, 2000:8)

Banyaknya para siswa yang mengeluh akan keprofesionalan

gurunya dalam mengajar menjadikan mereka kurang optimal dalam

menyerap pelajaran.

Sebagai seorang guru hendaknya dapat menguasai kompetensi

guru. Kompetensi adalah kewenangan atau suatu kecakapan, kemampuan

seseorang untuk menentukan atau memutuskan suatu problem

Purwodarminto, (1984: 699).

Menurut Charles dalam Uzer Usman (2000:9) ditegaskan bahwa

pengertian kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari

perilaku yang tampak dan sangat berarti. Pendapat tersebut mendapat

dukungan dari Leod dalam Uzer Usman (2000:17), bahwa kompetensi

perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai

dengan kondisi yang diharapkan.

Jadi yang dimaksud dengan kompetensi guru adalah kemampuan

seorang guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya secara

bertanggung jawab, serta mampu untuk memecahkan problem yang

dihadapinya secara tepat dan akurat.

Untuk mendukung hal tersebut ada jenis-jenis kompetensi yang

harus dimiliki oleh seorang guru adalah sebagai berikut :

a. Kompetensi profesional.

Kompetensi professional menjadikan seorang guru memiliki peranan

yang penting, terutama dalam meningkatkan mutu pendidikan pada era

xlvii

pembangunan ini. Kompetensi professional ini meliputi hal-hal

sebagai berikut : (a) Mampu menguasai landasan pendidikan, (b)

Menguasain bahan pengajaran, (c) Menguasai dalam menyusun

program pengajaran, (d) Mampu melaksanakan program pengajaran,

(e) Mampu menilai hasil dan proses belajar dan mengajar yang telah

dilaksanakan. (Uzer Usman 2000:17).

Sedangkan kompetensi guru yang telah disebutkan di atas guru

terkaitan erat dengan 10 kompetensi dasar, yang meliputi: (1)

Kemampuan menguasai bahan pelajaran yang disajikan, (2) Mampu

mengelola kelas, (3) Mampu mengelola program belajar mengajar, (4)

Mampu menggunakan media atau sumber belajar mengajar, (5)

mampu menguasai landasan-landasan kependidikan, (6) Mampu

mengelola interaksi belajar dan mengajar, (7) Mampu menilai prestasi

siswa untuk kependidikan pengajaran, (8) Mampu mengenal fungsi

program pelayanan bimbingan dan penyuluhan, (9) Mampu mengenal

dan menyelenggarakan administrasi sekolah, (10) Mampu memahami

prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna

pengajaran Sahertian, (1992 : 5).

b. Kompetensi Personal

Kompetensi personal disebut juga kompetensi pribadi, yaitu seorang

guru yang mampu dan mau bercermin pada dirinya sendiri atau self

con cept. Adapun kompetensi personal meliputi : (a) Mampu

mengembangkan kepribadian. (b) Mampu berinteraksi dan

xlviii

komunikasi. (c) Mampu melaksanakan bimbingan dan penyuluhan. (d)

Mempunyai kemampuan untuk melaksanakan administrasi sekolah. (e)

melaksanakan penelitian sederhana Uzer Usman (2000:16).

c. Komponen sosial

Kompetensi sosial yang perlu dimiliki bagi setiap guru adalah sebagai

berikut: (a) Guru mampu berpartisipasi terhadap lembaga serta

organisasi di masyarakat, (b) Mampu melayani dan membantu

memecahkan masalah-masalah yang muncul di masyarakat, (c)

Mampu menghormati dan menyesuaikan diri dengan adat kebiasaan di

lingkungan masyarakat. (d) Mampu menerima dan melaksanakan

peraturan-peraturan negara dengan sifat korektif dan membangun, (e)

Mampu menjunjung tinggi dan mewujudkan nilai-nilai yang

terkandung dalam Pancasila, (f) Guru mampu mendidik dan mengajar

masyarakat untuk menjadi warga negara Indonesia yang bermoral

Pancasila. (Team Didaktik Metodik, 1976:20).

Guru dipercaya oleh orang tua murid untuk dapat memberikan

pendidikan dan pengajaran kepada anaknya. Sebagai pendidik dan

pengajar yang memiliki peran strategis dalam upaya menanamkan dan

meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta didik, guru merupakan

faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Oleh sebab itu

diperlukan adanya guru di berbagai jenis dan jenjang pendidikan dalam

jumlah dan kualitas yang optimal.

xlix

Jumlah guru yang diperlukan untuk setiap sekolah ditetapkan

menurut standar sesuai ketentuan dalam kepmendekdikbud No

0386/0/1993, dan No 055/0/1994. berdasarkan ketentuan tersebut

peningkatan jumlah murid yang berdampak pada peningkatan rombongan

belajar dan jumlah ruang kelas harus disertai dengan penambahan jumlah

guru secara seimbang. Distribusi guru itu dilakukan dengan tidak

mengenyampingkan mutu dan kualitas guru tersebut.

Sistem rekruitmen guru yang ada selama ini masih belum

menjamin terjaringnya calon guru yang berkualitas yang menguasai bidang

studi dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk menjadi guru. Salah satu

faktor penyebabnya adalah karena ujian masuk atau seleksi hanya berupa

pengetahuan umum yang sifatnya elementer. Upaya seleksi dengan ujian

bidang studi dan ujian kemampuan mengajar di depan kelas diharapkan

dapat memperkecil dampak yang ditimbulkan.

Rekrutmen guru harus memperhatikan peningkatan mutu

pendidikan. Proses rekruitmen guru sebaiknya dilakukan bukan sekedar

untuk mengisi kekurangan guru, namun juga bertujuan untuk

meningkatkan mutu pendidikan. Meskipun maraknya teknologi

informatika mampu menyediakan sumber ajar yang besar, guru tetap

memiliki peran strategis dalam dunia pendidikan. Apabila jika proses

pendidikan mau dipahami sebagai proses pendewasaan dan dan

pengembangan karakter serta kepribadian anak (Kompas, 30 Januari

2003).

l

Dalam paradigma pendidikan dan posisi guru masih diselimuti oleh

berbagai kelemahan dan kendala utama, untuk itu perlu adanya perhatian

terhadap masalah tersebut diantaranya adalah

a. Sikap guru

Ada tiga hal yang menentukan sikap guru yaitu:

1)

Anak atau bahan pelajaran

Sebagai seorang guru hendaknya tidak melupakan kedua aspek

tersebut yaitu bahan pelajaran dan anak. Oleh sebab itu guru tidak

hanya cukup menguasai bahan pelajaran tetapi guru harus mampu

melibatkan pribadi anak dalam pelajaran untuk mencapai hasil yang

diharapkan.

2)

Guru sebagai model

Fungsi guru yang utama adalah memimpin anak-anak kearah tujuan

yang tegas. Guru juga berperan sebagai seorang model sauri

toladan bagi anaknya sehingga anak akan merasakan kenyamanan

dengan adanya model yang diterapkan oleh guru.

3)

Kesulitan dalam belajar.

Guru yang bersikap sentimentil berusaha agar kegiatan belajar itu

menjadi kegiatan yang menggembirakan yang dilakukan tanpa jeri

payah, namun tidak berarti anak-anak harus dijauhi dari kesukaran.

Setiap kesukaran mengandung unsur kemudahan dalam hidupnya

kini dan selanjutnya setiap anak pasti menghadapi kesukaran-

kesukaran baru. (Nasution, 2000:123-124).

li

b. Pribadi guru

Setiap guru mempunyai pribadi yang mereka miliki. Citra inilah yang

membedakan profesi seorang guru dengan profesi lainnya. Kepribadian

sebenarnya adalah tindakan, ucapan, dan cara berpakaian dalam

menghadapi setiap persoalan. Daradjat dalam Rahmawati (2001:34)

mengatakan, bahwa kerpibadian yang sesungguhnya adalah abstrak,

sukar dilihat atau diketahui bekasnya dalam segala segi dan aspek

kehidupan. Misalnya, dalam tindakannya, ucapannya, cara bergaul,

berpakaian dan dalam menghadapi setiap persoalan dan masalah, baik

yang ringan maupun yang berat.

Menurut Meikeljohn dalam Sahertian (1990:41) tidak seorangpun yang

dapat menjadi seorang guru yang sejati (mulia) kecuali bila ia

menjadikan dirinya sebagai bagian dari anak didiknya dan berusaha

untuk memahami semua anak didik dan kata-katanya. Guru yang dapat

memahami kesulitan anak didik dalam hal belajar dan kesulitan lainnya

diluar masalah belajar, yang dapat menghambat aktifitas belajar anak

didik maka guru tersebut akan disenangi anak didiknya.

C. Profil Guru Ideal Menurut Siswa

Dulu penghormatan masyarakat terhadap guru tidak terbatas pada status

keguruannya belaka tetapi terlebih lagi karena sanjungan terhadap keluhuran

profesi guru. Guru menjadi tokoh panutan, sehingga ketika guru datang

disambut dengan sangat baik. Ketika disekolah guru datang, maka anak-anak

lii

membawakan tasnya dan mengiringnya sampai ketempat tujuan, untuk

menghormati dan menghargai guru. (Silverius Suke, 2003:90).

Menyandang profesi guru pada masa yang lalu bagai seorang pejabat

publik, karena masyarakat selalu memperhatikan setiap tindak tanduk mereka

dalam berinteraksi dengan lingkungan. Di lingkungan sekolah atau pendidik

setiap kata dan perbuatan guru sering dijadikan kiblat dan membekas bagi

para siswanya. Proses pendidikan dan pembelajaran yang diberikan selalu

membekas dan menimbulkan kesan. Walaupun ilmu pengetahuan banyak

ditransfer

kepada

murid,

tapi

etika,

budi

pekerti

dan

penanaman

nilai

moralitas jauh lebih membekas dan mendalam. Hal itu ditunjang dengan

prilaku keteladanannya dalam mengajar dan mendidik, maka tidaklah heran

jika pada waktu itu malaysia impor guru dari Indonesia. Hal ini membuktikan

betapa diperhitungkannya peran, posisi, dan kualitas guru Indonesia di masa

yang lalu.

Pada masa sekarang sedikit sekali kita melihat siswa yang memberikan

penghormatan kepada guru sejauh itu. Misalnya membawakan tas, dan

sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan terhadap

guru.

Siswa

cenderung

lebih

menganggap

guru

sebagai

teman

dekat,

sehingga siswa lebih terbuka dan leluasa berbicara dengan gurunya tanpa

diselimuti oleh perasaan takut.

liii

Menjadi guru pada zaman dulu berbeda dengan zaman sekarang. Dulu

untuk

menjadi

profesi

guru

pendidikan SMP, SMA atau

bisa

didapat

walau

hanya

menyelesaikan

SPG. Sekarang untuk menjadi guru perlu

menyelesaikan pendidikan pendidikan yang lebih tinggi.

Dengan

meningkatnya

pendidikan

guru

sekarang

ini

belum

tentu

wibawa guru ikut meningkat. Pendidikan seorang guru juga bukanlah tolak

ukur untuk menjadi seorang guru ideal menurut siswa.

Di lingkungan sekolah atau pendidikan, pada saat ini setiap kata dan

perbuatan seorang guru kurang menjadi panutan bagi siswanya. Proses

pendidikan dan pembelajaran yang diberikan kurang memberikan kesan yang

mendalam. Kesibukan guru dan kurangnya perhatian guru terhadap siswanya

menjadikan proses belajar dan mengajar kurang optimal. Menanggapi

kenyataan tersebut seorang guru dituntut untuk dapat memahami karakter

siswanya dan mengerti keinginan siswanya, sehingga tujuan pembelajaran

dapat tercapai dengan baik.

Dalam pendidikan kita mengenal ada berbagai kualitas pendidikan

yang dibedakan atas kualitas proses dan kualitas produk

Peserta didik

memasuki dunia sekolah sebagai masukan. ( input) dan mengalami proses

pendidikan dan berakhir sebagai keluaran (output) hasil produk.

Keberhasilan Pendidik dari segi produksi dikondisikan oleh berbagai

ciri antara lain: (a) peserta didik menunjukan tingkat penguasaan yang tinggi

terhadap tugas-tugas belajar ( learning tasks) yang harus dikuasainya sesuai

dengan tujuan dan sasaran pendidik; (b) hasil pendidikan sesuai dengan

liv

kebutuhan peserta didik dalam kehidupannya.peserta didik diberikan

pembelajaran untuk dapat melakukan sesuatu (learning and earning) yang

fungsional untuk kehidupannya; dan (c) hasil pendidikan sesuai atau relevan

dengan tuntutan lingkungan. (Silverius, 2003:101)

Apabila guru sebagai pelaku pendidikan melakukan fungsinya sebagai

pengajar dan pendidik dengan sebaik-baiknya secara profesional keluaran yang

diperoleh merupakan keluaran yang mengalami perubahan ketingkat yang

lebih baik. Tindakan profesional menjamin efektifitas dan efisien kerena

didasarkan atas perencanaan yang cermat sehingga akan menghasilkan produk

yang berkualitas tinggi.proses yang dilaksanakan secara profesional adalah

proses yang melibatkan siswa sehingga tidak semata-mata menjadi objek

prilaku proses tetapi juga menjadi subjek pelaksana prilaku proses itu sendiri.

Posisi guru yang paling baik dalam perubahan paradigma dari guru

aktif menjadi siswa aktif ini adalah menjadi fasilitator. Perubahan guru aktif

menjadi siswa aktif harus dihayati dan diamalkan oleh para guru menerima

dan menempatkan para siswa sebagai indifidu unik yang patut mendapat

perlakuan unik pula. Dalam posisinya sebagai fasilitator guru memberikan

kesempatan kepada siswa untuk berpikir dan belajar sesuai dengan

kemampuannya.( Suke Silverius , 102).

Menurut Suke Silverius, (2003:103) guru yang berkualitas tidak hanya

mentransfer tetapi juga memperhatikan proses menstranfer ilmu pengetahuan

tersebut sehingga siswa merasa enjoy dengan pelajaran yang sedang

dipelajarinya. Perlu diperhatikan oleh guru bagaimana menghadirkan proses

belajar yang menyenangkan. Di kelas harus terjadi proses interaksi antara guru

lv

dan siswa. Siswa tidak hanya menerima pembelajaran yang diberikan oleh

guru sebaliknya siswa lebih banyak diajak dan diajar untuk mendiskusikan

materi pelajaran dengan sesama siswa, dan guru hanya sebagai fasilitator.

Profil guru ideal juga dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu

melalui konteks sejarah, konteks budaya dan melalui konteks pofesional.

Melalui konteks sejarah guru merupakan pendidik yang mengandung

makna perantara. Fungsinya melayani siswa dalam kegiatan pembelajaran di

kelas. Sedangkan dalam konteks budaya guru dianggap oleh masyarakat

sebagai orang yang banyak tahu akan ilmu pendidikan, sehingga disegani dan

dihormati.

Namun dengan adanya perkembangan zaman sekarang ini citra guru di dalam

pandangan masyarakat dalam hal ini lebih terfokuskan pada siswanya mulai

luntur sedikit demi sedikit.

Profil guru jika dipandang dari konteks profesional, terlihat dari

penampilan seorang guru dalam melaksanakan tugas sebagai pengajar,

pendidik, pembina, pelatih, maupun sebagai pembimbing terhadap

perkembangan dan kemajuan para siswanya.

Selain itu profil guru dapat dilihat dari kepribadiannya dan penampilan

sifat-sifat pribadinya, sebaiknya penampilan suara maupun cara berbicara yang

jelas mempunyai kemampuan untuk melakukan suatu gagasan atau ide.

Kepedulian terhadap orang lain, berfikir secara sistematis, pergaulan dengan

bawahan, kepastian sikap, kematangan emosi, percaya kepada diri sendiri, rasa

kekeluargaan, kemantapan pribadi sebagai calon pemimpin. (Mataheru, 1982 :

289).

lvi

D. Persepsi atau Tanggapan Siswa Tentang Profil

Guru Ideal

Pendapat atau persepsi adalah gejala psikis ( kognisi) seseorang.

Persepsi adalah cara seseorang membuat respon atau reaksi terhadap objek

tertentu.

Dalam penelitian ini persepsi diartikan respon seseorang terhadap suatu

objek berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari objek

tersebut.

Profil guru ideal menurut pandangan siswa adalah guru yang

mengabdikan dirinya berdasarkan pandangaan jiwa, panggilan hati nurani,

bukan karena uang belaka. Selain itu guru yang diharapkan siswa adalah guru

yang selalu ingin bersama siswa baik di lingkungan dalam sekolah maupun

diluar lingkungan sekolah. (Bahri Djamarah, 2000 : 42).

Seseorang guru dituntut dapat mengemban tugasnya dengan sangat

baik, karena guru merupakan contoh sauri toladan bagi siswanya. Selain itu

guru juga dituntut untuk dapat mengerti keinginan siswanya, sabar dan pandai

menempatkan diri.

Profil guru yang ideal adalah guru yang benar-benar dapat memahami

dan melaksanakan 10 kompetensi dasar bagi seorang guru. Selain itu guru

juga dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan jaman.

Guru yang telah dapat melaksanakan seluruh tanggung jawabnya dan

kewajibannya maka guru tersebut, akan disukai dan akan dijadikan

lvii

sauritoladan bagi siswanya. Siswa akan merasa lebih mudah menerima

pelajaran yang disampaikan oleh gurunya, dan akan memperhatikan materi

yang disampaikan oleh gurunya, karena guru tersebut mempunyai wibawa, dan

kharisma dihatinya sehingga pantas untuk menjadi guru yang diidealkannya

Berbeda sekali jika guru tersebut adalah guru yang tidak dia sukai.

siswa cenderung mengabaikan dan tidak memperhatikan apa yang disampaikan

oleh guru tersebut.

lviii

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Salah satu cara yang dapat ditempuh agar menghasilkan penelitian yang

baik adalah menggunakan metode yang sistematis dan sesuai dengan kondisi.

Metodologi penelitian adalah suatu proses yang meliputi langkah-langkah dalam

rangka memecahkan masalah atau data menjawab pertanyaan tertentu.

A. Desain Penelitian

Dalam penelitian untuk mendapatkan hasil yang optimal harus

menggunakan metode penelitian yang tepat. Ditinjau dari permasalahan

penelitian ini yaitu tentang pelaksanaan Profil Guru Ideal Menurut Siswa

di SMA Teuku Umar Semarang, maka penelitian ini bersifat kualitatif,

sedangkan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif.

Menurut Bogdan dan Taylor (1975:5) dalam Moleong (2000:3) yang

dimaksud metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang

menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-

orang dan perilaku yang dapat diamati. Dalam uraian tentang dasar teori

tersebut, menggunakan istilah paradigma diartikan sebagai kumpulan longgar

tentang asumsi yang secara logis dianut bersama, konsep atau proposisi yang

mengarahkan cara berfikir dan cara penelitian.

lix

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan

suatu gejala, peristiwa, kejadian pada saat sekarang (Nana Syaodich dan

Ibrahim, 2001: 64)

Dengan dasar tersebut, maka penelitian kualitatif diharapkan

mampu memberikan gambaran tentang Keinginan siswa terhadap

gurunya, sehingga dari data tertulis maupun melalui wawancara ini,

diharapkan dapat memaparkan secara lebih jelas dan berkualitas, serta

bisa mewakili keinginan siswa terhadap gurunya.

B. Tahap-Tahap Penelitian.

Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan

mengacu pada perspektif fenomenologis. Peneliti dalam pandangan

fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dalam kaitannya orang-

orang bisa dalam situasi tertentu (Moleong, 1998 : 9). Mereka berusaha untuk

masuk kedalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sedemikian

rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang

dikembangkan oleh mereka disekitar kehidupan sehari-hari dalam konteks

kawasan penelitian tersebut. Begitu juga penelitian ini berusaha memahami

subjek penelitian dari pandangan mereka sendiri.

Dilihat dari jenisnya, penelitian ini digolongkan pada jenis penelitian

deskriptif yang bersifat eksploratif, yaitu penelitian yang bertujuan

menggambarkan keadaan atau status fenomena.

lx

Selama melakukan penelitian, peneliti merupakan instrumen utama.

Oleh karena itu peneliti menyesuaikan diri dengan memahami kenyataan

dilapangan (Bogdan dan Biklen, 1982). Pelaksanaan di lapangan, peneliti

melakukan wawancara dengan informan, yaitu siswa dan guru yang sesuai

dengan tujuan penelitian.

Tahap-tahap yang ditempuh dalam penelitian ini terdiri dari persiapan

penelitian sampai dengan pelaksanaan penelitian. Menurut Moleong

(1998:85) tahap-tahap penelitian yang telah disesuaikan dengan keadaan

Indonesia adalah:

1. Tahap Pra Lapangan, meliputi menyusun rancangan penelitian, memilih

lapangan penelitian, mengurus perijinan, menjajagi dan menilai keadaan

lapangan,

memilih

dan

mamanfaatkan

informan,

menyiapkan

perlengkapan penelitian dan persoalan etika penelitian.

2. Tahap Pekerjaan Lapangan, meliputi memahami latar penelitian dan

persiapan

diri,

memasuki

mengumpulkan data.

lapangan,

berperan

serta

sambil

3. Tahap Analisis Data, meliputi konsep dasar analisis data, menemukan

tema dan perumusan hipotesis, menganalisis berdasarkan hipotesis.

Tahapan-tahapan penelitian yang akan dilaksanakan dalam penelitian

ini adalah sebagai berikut :

a. Penelitian Pra Lapangan

1)

Menyusun rancangan penelitian yang disebut proposal penelitian.

lxi

Pada tahap awal, tema penelitian lebih dulu diajukan kepada Dosen

Pembimbing I dan Dosen Pembimbing II untuk mendapatkan

persetujuan, dan kemudian diajukan dalam bentuk proposal penelitian

dan diserahkan kepada Dosen Pembimbing I dan Dosen Pembimbing

II untuk mendapatkan bimbingan dan persetujuan.

lxii

2)

Memilih lapangan penelitian.

Berkaitan dengan tema penelitian yaitu profil guru ideal menurut siswa

di SMA Teuku Umar Semarang, maka lembaga yang dipilih sebagai

lapangan penelitian adalah SMA Teuku Umar Semarang Semarang.

3)

Mengurus perijinan

Pada tahap awal perijinan dilakukan secara lisan setelah Bab I, II, III

skripsi disetujui. Perijinan dilakukan secara formal kepada lembaga

yang menaungi penelitian yaitu UNNES dengan SMA Teuku Umar

Semarang Semarang.

4)

Menjajagi dan menilai keadaan lapangan

Kegiatan ini selain telah dilakukan pada saat memilih lapangan

penelitian, juga akan dilaksanakan pada saat peneliti memasuki

lapangan penelitian.

5)

Memilih dan memanfaatkan informal penelitian

Informal peneliti dilakukan dengan cara purposive sample (sample

bertujuan) dan dimanfaatkan sesuai dengan tujuan pengungkapan data

penelitian. Informan peneliti berasal dari siswa dan guru.

6)

Menyiapkan kelengkapan penelitian

Perlengkapan penelitian yang dipersiapkan antara lain alat tulis, alat

perekam, kamera dan garis besar materi wawancara.

7)

Etika peneliti

Dalam penelitian kualitatif peran peneliti sangat besar. Untuk etika

peneliti harus benar-benar diperhatikan dengan demikian perasaan

lxiii

empati dan kekeluargaan dapat terjalin dengan baik dengan tetap

konsisten pada tujuan penelitian.

lxiv

b. Tahap Pekerjaaan Lapangan

1)

Memilih latar penelitian dan memperisiapkan diri. Pada tahap ini

peneliti

diharapkan

dapat

melakukan

interaksi

awal,

mempelajari

kembali

proposal

dan memperdalam

kajian

literature

penelitian.

Dengan

persiapan

yang

matang,

pelaksanaan

penelitian

dapat

dilakukan secara efektif dan efisien.

 

2)

Memasuki lapangan. Setelah semua persiapan baik intern maupun

ektern terpenuhi, peneliti dapat mulai memasuki lapangan penelitian

secara proporsional.

 

3)

Mengumpulkan data. Penelitian dapat secara langsung melakukan

wawancara, dokumentasi maupun observasi. Wawancara dilaksanakan

secara bebas artinya tidak terikat alur jabatan, sesuai dengan situasi,

kondisi dan kebutuhan peneliti. Begitu juga saat melakukan observasi

dan dokumentasi.

c. Tahap Analisis Data.

Terdapat banyak cara dalam melakukan analisis data, salah satu cara yang

dianjurkan adalah mengikuti langkah berikut yang masih bersifat umum

yaitu reduksi data, display data dan mengambil kesimpulan atau

verivikasi. (Nasution, 1988 : 129). Lebih lanjut tentang analisis data akan

dibahas pada sub bab G tentang proses pencatatan dan analisis data.

lxv

C.

Informan Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, keberadaan informasi penelitian sebagai

informan kunci yang akan diwawancarai secara mendalam sangat

dibutuhkan. Informan adalah seseorang yang akan dimanfaatkan untuk

memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Sebagai

informan dalam penelitian ini adalah siswa dan guru SMA Teuku Umar

Semarang Semarang.

Pemanfaatan informan bagi peneliti ialah agar dalam waktu yang

relatif singkat banyak informan yang terjangkau, jadi sebagai internal

sampling karena informan dimanfaatkan untuk berbicara, bertukar pikiran

atau membandingkan suatu kejadian yang ditemukan dari subjek lainnya

(Bogdan & Biklen 1981:65)

D. Fokus Penelitian

Penentuan fokus suatu penelitian memiliki dua maksud. Pertama,

penetapan fokus dapat membatasi studi. Jadi, dalam hal ini fokus akan

membatasi bidang inkuiri. Kedua, penetapan fokus itu berfungsi untuk

memenuhi kriteria-kriteria inklusi-eklusi atau memasukkan mengeluarkan

suatu informasi yang baru diperoleh di lapangan (Moleong, 2002 : 62).

Di dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah

Keinginan siswa terhadap gurunya. Untuk membatasi lingkungan penelitian

dilakukan studi dokumentasi terhadap Profil guru ideal yang diinginkan

siswanya.

lxvi

E. Metode Pengumpulan Data

Alat dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian

ini adalah metode observasi,wawancara dan dokumentasi.

1. Metode Observasi

Penggunaan teknik observasi sangat penting dalam penelitian

karena peneliti dapat melihat secara langsung keadaan, suasana,

kenyataan, yang sesungguhnya terjadi dilapangan melalui pengamatan

diharapkan dapat dihindari informasi semua yang kadang-kadang muncul

dan ditemui dalam suatu penelitian.

Menurut payton (1984) dalam Nugroho ( 1993:18-19) penggunaan

teknik observasi dalam penelitian memiliki empat maksud yaitu :

menggambarkan “Setting” tersebut, individu yang berperan dalam

kegiatan itu dimaknai dibalik layar kegiatan. Peran serta orang-orang yang

terlibat. Observasi yang dilakukan oleh pengambil sambil membuat

catatan secara selektif terhadap pelaksanaannya. Observasi yang dilakuakn

peneliti bersifat non-partisipan dengan maksud peneliti tidak terjun

langsung dalam proses pembelajaran tetapi peneliti hanya mengamati

sambil mencatat hasil pengamatan.

2. Wawancara (interview)

Wawancara adalah percakapan dangan maksud tertentu. Percakapan

itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan

lxvii

pertanyaan dan yang diwawancarai memberikan jawaban atas pertanyaan

itu (Moleong, 2002 :135).

Dalam penelitian ini mengadakan wawancara langsung dengan

siswa dan guru untuk dapat memperoleh informan secara langsung dari

pihak yang bersangkutan.

Penelitian ini menggunakan wawancara terbuka, menurut Maleong

(2000:137), wawancara terbuka adalah wawancara yang para subjeknya

tahu bahwa mereka diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud

wawancara itu.

Dalam penelitian ini wawancara ditujukan kepada Siswa di SMA

Teuku Umar Semarang untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap

gurunya, pandangan siswa terhadap gurunya.

3.

Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau

variabel yang berupa cacatan, transkip, buku, surat kabar, majalah,

prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, foto dan sebagainya (Arikunto,

2002 : 206). Dibandingkan metode lain, maka metode ini agak tidak begitu

sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum

berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup

tetapi benda mati

lxviii

F. Objektivitas dan Keabsahan Data

Untuk mendapatkan data yang obyektif dilakukan teknik triangulasi

sumber. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan

atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2002 : 178).

Patton ( dalam Moleong (2002:178) mengemukakan triangulasi dengan

sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan

suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dengan

metode kualitatif. Triangulasi dengan sumber dapat dicapai dengan jalan

sebagai berikut:

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara

2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa

yang dikatakan secara pribadi

3. Membandingkan

keadaan

dan

perspektif

seseorang

dengan

berbagai

pendapat

dan

pandangan

orang

seperti

siswa

aktifis,

bukan

aktifis

dansebagainya.

Penelitian ini tidak menggunakan kelimanya untuk membandinkan

tetapi hanya menggunakan beberapa perbandingan saja yaitu :

a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara

b. Membandingkan

keadaan

dan

perspektif

pendapat dan pandangan orang.

lxix

seseorang

dengan

berbagai

Dalam penelitian ini, digunakan teknik triangulasi sumber yang dicapai

dengan jalan membandingkan hasil wawancara dengan situasi sebenarnya

ketika proses belajar dan mengajar berlangsung.

Wawancara

ketika proses belajar dan mengajar berlangsung. Wawancara Sumber Data Situasi sebenarnya ketika proses belajar

Sumber Data

Situasi sebenarnya ketika proses belajar mengajar berlangsung

Tabel 1: teknik triangulai sumber

G. Proses Pencatatan dan Teknis Analisis Data

1. Proses Pencatatan Data

Kegiatan penting yang dilakukan seorang peneliti dalam usaha

mengumpulkan informasi adalah proses pencatatan data. Alat penelitian

lain yang akan digunakan dalam pengumpulan data ialah catatan lapangan

(field notes), yaitu catatan yang dibuat peneliti sewaktu mengadakan

pengamatan/observasi, wawancara, dokumentasi maupun menyaksikan

suatu kejadian tertentu.

Pada waktu melakukan proses pencatatan lapangan, peneliti

berusaha mematuhi pedoman yang telah dirumuskan oleh Bogdan dalam

Moleong (1988:101) antara lain :

lxx

a. Buatlah catatan secepatnya, jangan menunda-nunda pekerjaan karena

semakin ditunda semakin sulit mengingat data dan kemungkinan data

hilang semakin besar.

b. Buatlah garis besar yang berisi judul-judul tentang sesuatu yang

ditemui dalam pengamatan atau wawancara yang dilakukan.

c. Sering apa yang dikatakan atau yang telah diamati terlupakan setelah

beberapa hari berlalu, jika ingat segeralah dicatat kembali.

Pada dasarnya peneliti tidak dapat melakukan pekerjaan

sekaligus. Peneliti tidak mungkin melakukan pengamatan sambil

membuat pencatatan yang baik. Dengan dasar kenyataan tersebut,

penggunaan alat lain sangat diperlukan misalnya alat perekam kejadian

yaitu tipe recorder maupun kamera sebagai alat dokumentasi untuk

mengiliminir kesulitan-kesulitan tersebut. Penggunaan peralatan tersebut

sebagai pencatatan dan mempunyai keuntungan antara lain, dapat diamati

dan didengar ulang sehingga dapat dicek kembali data yang diragukan.

2. Teknik Analisis Data

Patton dalam Moleong (2002:103) analisis data adalah proses

mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola,

kategori, dan satuan uraian dasar. Selanjutnya Bogdan dan Taylor

mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara

formal untuk menentukan tema dan merumuskan hipotesisnya (ide)

seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan

bantuan pada tema dan hipotesis itu. Jika dikaji, pada dasarnya definisi

lxxi

pertama lebih menitik beratkan pengorganisasian data sedangkan yang

kedua lebih menekankan maksud dan tujuan analisis data.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa analisis data adalah

proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori,

dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat

dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong,

2002 :103).

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data

yang tersedia dari berbagai sumber, selanjutnya mengadakan reduksi data

yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi, menyusunnya dalam

satu satuan, dikategorikan, dan selanjutnya mengadakan pemeriksaan

keabsahan data.

Secara lebih singkat tahapan analisis data meliputi reduksi,

penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Menurut Miles & Huberman

dalam Rachman (1992:16-21), ketiga kegitan tersebuit merupakan proses

berjalin-jalin pada saat sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data

dalam bentuk yang sejajar, untuk wawasan umum disebut analisis.

Secara prosedural, data yang diperoleh dengan

mengoptimalkan metode penelitian yang digunakan, direduksi, disajikan,

disimpulkan dan diverivikasi. Hasil reduksi data tersebut kemudian

diferbalkan dan dipilih menurut kategori datanya sebelumnya,

lxxii

dipersiapkan antisipasi terhadap kemungkinan reduksi data serta

merumuskan konsep.

Ada banyak cara yang dapat diikuti oleh para peneliti. Salah

satu cara yang diajurka adalah mengikuti langkah berikut yang masih

sangat bersifat umum, yakni (1) reduksi data,(2) ‘display’ data, (3)

mengambil kesimpulan atau verivikasi (Nasution, 1988:129).

1)

Reduksi Data

Data yang doperoleh dilapangan ditulis dalam betuk uraian

terinci yang akan terus bertambah sejalan bertambahnya waktu

penelitian. Untuk itu, laporan tersebut perlu direduksi, dirangkum,

dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal yang penting, dicari

tema atau polanya. Laporan sebagai bahan “mentah” disingkat,

direduksi, disusun lebih sistematis, sehingga lebih mudah

dikendalikan.

Proses reduksi ini berpedoman kepada fokus penelitian, yaitu

profil guru ideal menurut siswa di SMA Teuku Umar Semarang

Semarang. Untuk itu data yang tidak berkaitan dengan fokus

penelitian haruslah dihilangkan (dieliminir)

Langkah selanjutnya adalah menyusun data reduksi dalam

bentuk satu-satuan. Satuan ini tidak lain adalah bagian terkecil yang

mengandung makna yang bulat dan dapat berdiri sendiri terlepas dari

bagian yang lain. Menurut Lincoln dan Guba (1985:345)

lxxiii

karakteristiknya ada dua, yaitu pertama stuan itu harus ‘heuristik’,

artinya mengarah pada satu pengertian atau tindakan yang diperlukan

oleh penelitian atau akan dilakukannya, dan satuan itu hendaknya

juga menarik. Kedua, satuan itu hendaknya merupakan ‘sepotong’

informasi kecil yang dapat berdiri sendiri, artinya satuan itu harus

dapat ditafsirkan tanpa informasi tambahan selain pengertian umum

dalam konteks latar penelitian (Moleong, 2002:192).

Setelah seluruh data penelitian telah tersusun dalam satu-satuan,

langkah penelitian selanjutnya adalah melakukan kategorisasi.

Kategorisasi tidak lain adalah salah satu tumpukan dari seperangkat

tumpukan yang tersusun atas dasar pemikiran , intuisi, pendapat

ataupu kriteria tertentu. Selanjutnya Lincoln dan Guba dalam

Moleong (1985:347-351) menguraikan kategorisasi sebagai berikut.

Tugas pokok kategoriasi adalah : (1) Mengelompokkan kartu-kartu

yang telah dibuat kedalam bagian-bagian isi yang secara jelas

berkaitan.(2) merumuskan aturan yang menguraikan kawasan kategori

dan yang akhirnya dapat digunakan untuk menetapkan inklusi setiap

kartu pada kategori. (3) menjaga agar setiap kategori yang telah

disusun satu dengan yang lainnya mengikuti prinsip taat asas.

2)

Display data

Banyaknya data yang bertumpuk, membuat kita sulit melihat

gambaran atau kesuluruhan atau bagian-bagian tertentu dari

penelitian, pembuatan matrik, grafik, network., dan chart marupakan

lxxiv

langkah laternatif untuk mempermudah pemahaman data penelitian.

Dengan demikian peneliti dapat menguasai data dan tidak tenggelam

dalam tumpukan detail.

Display data dari hasil wawancara, observasi maupun

dokumentasi dibuat berdasarkan fokus penelitian dimulai dari data

pelaksanaan pra produksi, produksi dan pasca produsi yang dalam

tiap tahapnya dilengkapi data mengenai hambatan-hambatan

3)

sekaligus solusinya.

Mengambil kesimpulan dan verifikasi data

Sejak semula peneliti berusaha untuk mencari makna data yang

dikumpulkannya. Untuk itu ia mencari pola, tema, hubungan,

persamaan, hal-hal yang sering timbul, hipotesis, dan sebagainya

(Nasution, 1988:130). Jadi pada dasarnya dari mulai pendapatan jasa

seorang peneliti sudah mengambil kesimpulan. Kesimpulan ini pada

awalnya masih sangat tentatis, kabur, diragukan, akan tetapi dengan

bertambahnya data yang dimiliki membuat kesimpulan semakin

mendasar. Proses mencari data baru untuk mendukung dan

amemperkuat data sebelumnya, oleh Nasution disebut verivikasi.

Proses ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data yang

dapat dijamin validitas atau “confirmability”. Proses tersebut dalam

pandangan Moleong (2002:174) pemeriksaan data mencakup empat

kriteria yaitu ; deajat kepercayaan (credibility) menggantikan konsep

lxxv

validitas internal pada non kualitatif, keteralihan (transferability),

kebergantungan (dependability), dan kepastian (konfirmability).

Pada penelitian kuantitatif, credibility sering kita kenal dengan

istilah validitas internal. Validitas internal merupakan ukuran tentang

kebenaran data yang diperoleh dengan instrumen yaitu apakah

instrumen itu sungguh sungguh mengukur variabel yang sebenarnya.

Bila ternyata instrumen tidak megukur sesuatu yang sebenarnya

diukur, maka data yang diperoleh tidak sesuai dengan kebenaran yang

diharuskan dalam penelitian, dan dengan sendirinya hasil penelitian

tidak dapat dipercaya (Nasution 1988:105). Dengan kata lain validitas

internal bertujuan untuk mengusahakan tercapainya aspek kebenaran

atau “the truth value” hasil penelitian sehingga dapat dipercaya.

Dalam penelitian kualitatif validita internal menggambarkan

konsep peneliti dengan konsep yang ada pada partisipan. Kelemahan

dalam validitas internal dapat ditimbulkan oleh berbagai vaktor,

antara lain (1) perubahan waktu, situasi, dan pematangan, (2)

pengaruh pengamat atau peneliti, (3) seleksi dan regresi,(4)

mortalitas, (5) kedangkalan kesimpulan (Nasution 1988 :105).

Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengusahakan agar

kebenaran hasil penelitian dapat tercapai dengan baik. Dalam

penelitian ini peneliti menggunakan tiangulasi dan member check

untuk meningkatkan hasil penilitian.

lxxvi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan

pengecekan, sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong 2002:

179). Adapun cara pembandingan data yang diperoleh dapat dilihat

dari sumber, metode, peneliti maupun teori. Berkaitan dengan itu

dikenal empat macam triangulasi yaitu triangulasi sumber, metode,

peneliti, dan teori (Patton 1980 dalam Lembaran Penelitian 1993:73).

Proses tiangulasi yang digunakan pada penelitian ini adalah

triangulasi sumber yang berarti membandingkan atau megecek balik

suatu informasi yang diperoleh pada waktu yang dan alat yang

berbeda (Patton 1980 dalam Lembaran Penelitian 1993: 73)

Selain menggunakan triangulasi untuk meningkatkan keabsahan

data penelitian ini dilakukan pula teknik member check. Pada proses

meber check validitas data diuji dengan cara peneliti meminta

tanggapan kepada responden / informan penelitian untuk mengecek

kebenaran data. Tahapan ini dimaksudkan untuk memberi peluang

kepada responden atau informan penelitian agar dia memperbaiki

informasi yang keliru ataupun menambahkan apa yang masih kurang.

Jadi tujaun member check adalah agar informasi yang kita peroleh

dan gunakan dalam penulisan laporan kita sesuai dengan apa yang

dimaksud oleh informan (Nasution 1988:118). Member check

dilakukan pada saat penelitian sedang berlangsung maupun setelah

akhir penelitian.

lxxvii

Dalam penelitian non-alamiah, tranferability sering disebut

dengan validitas eksternal yang berkenaan dengan generalisasi.

Generalisasi itu nhanya berlaku bagi populasi penelitian dan