Anda di halaman 1dari 3

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masa Balita merupakan masa paling penting dari semua tahap perkembangan (golden
periode) dimana perkembangan fisik, motorik, intelektual, emosional, bahasa, dan sosial
berkembang sangat cepat dalam mencapai fungsi yang optimal (Labada, 2016). Periode emas
(Golden periode) dapat terjadi apabila balita memperoleh asupan gizi sesuai kebutuhan tumbuh
kembangnya, sebaliknya jika balita tidak memperoleh asupan gizi yang sesuai maka akan terjadi
periode kritis yang dapat menghambat tumbuh kembangnya pada saat itu atau pada saat dewasa
(Puspasari dan Andriani, 2017). Hal tersebut juga dapat berpengaruh terhadap kecerdasan,
kesehatan, dan produktifitas anak yang akan berdampak pada pembentukan kualitas Sumber Daya
Manusia (SDM) di masa mendatang (Sholikah, Rustiana, Yuniastuti, 2017; Diniyyah dan Nindya,
2017).
Status gizi adalah suatu kondisi atau keadaan pada tubuh seseorang yang merupakan
dampak dari konsumsi makanan dan pemenuhan gizi (Puspasari dan Andriani, 2017). Status gizi
pada balita merupakan salah satu indikator utama kesehatan yang menggambarkan tingkat
kesejahteraan masyarakat di suatu negara (Elisanti, 2017). Oleh karena itu, kebutuhan dan
pemenuhan gizi balita perlu untuk diperhatikan (Puspasari dan Andriani, 2017). Kelompok usia
balita merupakan kelompok usia yang paling rawan mengalami masalah gizi (Susanti dkk, 2014;
Pibriyanti dan Kurniawan, 2017). Masalah gizi yang sering terjadi pada balita dapat berupa tidak
seimbangnya antara jumlah asupan zat gizi yang diperoleh dari makanan dengan kebutuhan zat
gizi yang dianjurkan pada balita. Hal tersebut dapat mempengaruhi status gizi balita yang akan
menunjukkan status gizi kurang maupun gizi buruk pada balita (Puspasari dan Andriani, 2017).
Gizi kurang adalah kekurangan bahan-bahan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak, dan
vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Sedangkan gizi buruk merupakan bentuk terparah dari proses
terjadinya kekurangan gizi menahun (Alamsyah, 2015).
Masalah gizi di Indonesia masih merupakan persoalan yang harus segera diselesaikan dari
tahun ke tahun demi meningkatkan status gizi balita yang lebih baik. Indonesia mengalami doubel
burden (masalah gizi ganda) dimana masalah gizi kurang masih belum bisa diatasi secara
sempurna dan kemudian muncul masalah baru yaitu berupa gizi lebih (Mutika dan Syamsul, 2018).
Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017 yang diselenggarakan oleh
Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa persentase masalah gizi pada balita usia 0-59 bulan di
Indonesia adalah sebesar 17,8% dengan rincian 3,8% mengalami gizi buruk dan 14% mengalami
gizi kurang. Jumlah persentase pada tahun 2017 tersebut sama dengan jumlah persentase pada
tahun 2016. Menurut status gizi yang dilihat berdasarkan indeksi Tinggi Badan terhadap Usia
(TB/U) persentase balita yang mengalami stunting pada tahun 2017 mencapai 29,6%. Angka
tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang hanya 27,5%. Sedangkan status gizi berdasarkan
indeks Berat Badan terhadap Usia (BB/U) pada tahun 2017 yaitu 9,5% balita mengalami kurus
dan 4,6% mengalami obesitas. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah persentase
balita kurus tersebut mengalami penenurunan 1,6% dan peningkatan pada persentase balita yang
mengalai obesitas sebesar 0,3% (Kementrian Kesehatan RI, 2018).
Hasil Pemantauan Status Gizi oleh Kementerian Kesehatan tahun 2017 yang didistribusikan
menurut Provinsi di Indonesia tersebut menyatakan bahwa persentase gizi buruk di pulau Jawa
yaitu Provinsi Jawa Tengah (3%), Jawa Barat (3%), Banten (4%) dan Jawa Timur sebesar 2.9%
(Kementerian Kesehatan RI, 2018). Meskipun persentase tersebut terbilang lebih kecil
dibandingkan persentase rata-rata gizi buruk di Indonesia, namun angka gizi buruk di wilayah
Jawa Timur masih tergolong relatif besar. Hal tersebut dapat menjadi perhatian bahwa provinsi
Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi terhadap kasus gizi buruk di
Indonesia
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember tahun 2016, Jumlah balita yang
mengalami gizi buruk berdasarkan BB/U di Kabupaten Jember tercatat sebanyak 1.825 kasus.
Sedangkan balita gizi buruk dengan tanda-tanda klinis (marasmus, kwashiorkor, dan ada tanda-
tanda oedema) yang harus mendapatkan perawatan ditemukan sebanyak 300 balita. Beberapa
kecamatan dengan kasus gizi buruk terbanyak di Kabupaten Jember meliputi Kecamatan
Sumberbaru, Sumberjambe, Bangsalsari, Ajung, Mumbulsari, Silo, dan lain lain (Dinas Kesehatan
Kabupaten Jember, 2017).
Vitamin adalah zat senyawa yang kompleks yang diperlukan tubuh manusia dan dapat
digunakan sebagai indikator penentu kesehatan pada tubuh (Labellapansa A dan Boyz AT, 2016)
Vitamin A merupakan mikronutrien esensial yang termasuk dalam jenis vitamin larut lemak yang
dibutuhkan oleh seluruh jaringan tubuh untuk pertumbuhan dan perkembangan normal serta
pertahanan tubuh terhadap infeksi (Maulida dan Pramono, 2015; Elvandari, dkk2017). Ketidak
seimbangan asupan gizi balita dapat mempengaruhi status gizi nya. Balita yang mengalami gizi
buruk atau Kurang Energi Protein (KEP) dapat disebabkan karena defisiensi nutrisi seperti vitamin
A. Hasil uji statistik yang dilakukan oleh Muliah, dkk menunjukkan bahwa balita yang
mendapatkan vitamin A sejak umur 6 bulan memiliki kemungkinan terhindar dari underweight
sebesar 37%. Pengaruh pemberian vitamin A secara tidak adekuat dapat berpengaruh terhadap
peningkatan prevalensi balita yang mengalami stunting, underweight, dan wasting serta dapat
meningkatkan risiko terhadap mortalitas, morbiditas, dan penyakit infeksi pada balita seperti ISPA
(Infeksi Saluran Pernapasan Atas), diare, dan demam (Muliah, dkk 2017; Elvandari, dkk 2017;
Salam, dkk, 2018). Masalah kekurangan vitamin A (KVA) dapat diibaratkan sebagai fenomena
“gunung es” yaitu masalah yang hanya sedikit nampak di permukaan. Padahal, rendahnya kadar
vitamin A tidak dapat diketahui secara klinis tetapi dapat diketahui secara subklinis di dalam darah
yang hanya dapat diketahui dengan memeriksa kadar vitamin A di laboratorium. KVA merupakan
masalah besar yang perlu mendapat perhatian (Infodatin, 2015).
Berdasarkan Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia tahun 2017, penyakit diare dan
pneumonia merupakan 2 kasus penyakit yang dapat menyebabkan mortalitas ataupun morbiditas
pada balita di Indonesia pada tahun 2017. Dari jumlah penderita pneumonia sebanyak 447.431
balita, dengan rincian 432.000 mengalami pneumonia ringan-sedang dan 15.431 balita mengalami
pneumonia berat, 0,30% dari total penderita meninggal dunia yaitu sekitar 1.351 balita. Sedangkan
untuk kasus diaredi Indonesia sebanyak 7.077.299 (60,4%) balita mempunyai riwayat penyakit
ini, 4.274.790 diantaranya ditangani di fasilitas kesehatan dan sisanya tidak (Kementerian
kesehatan RI 2018). Selai itu, prevalensi ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) pada tahun 2018
sebesar 9,3% jumlah ini menurun dari tahun 2013 yang sebesar 25%. Meskipun demikian, masalah
pnyakit ini harus tetap dilakukan penangan secara berkala (Riskesdas, 2018). Menurut data profil
kesehatan Indonesia tahun 2013, lima besar morbiditas dan mortalitas pada anak usia 1-4 tahun di
Indonesia adalah ISPA (25,8%); pneumonia (21,7%); demam (14%); diare dan gastroenteritis
(14,4%) (Elvandari, Briawan, Tanziha, 2017).
Saliva merupakan biofluid yang diproduksi oleh kelenjar ludah untuk melindungi dan
melumasi rongga mulut. Saliva terdiri dari 99,5% air dan 0,5% terdiri dari elektrolit, glikoprotein,
enzim dan senyawa antimikroba seperti IgA dan lisozim (Devi, 2014). Saliva memiliki komposisi
kimia yang terdiri dari 853 metabolit termasuk molekul endogen dan eksogen yang berasal dari
diet, asupan obat, kosmetik atau paparan lingkungan (Dame et. al, 2015). Dari keberagaman
komposisi tersebut, saliva dapat digunakan sebagai alat untuk mendeteksi adanya kelainan atau
penyakit termasuk defisiensi Vitamin A dalam tubuh.
Berdasarkan paparan tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
Hubungan antara Vitamin A pada saliva dengan status gizi kurang dan buruk. Sampai saat ini
belum ada referensi yang menjelaskan mengenai kadar Vitamin A saliva pada anak yang
mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Saliva dapat digunakan sebagai alat diagnostik defisiensi
nutrisi dikarenakan saliva merupakan biofluid yang paling mudah diakses dan mudah didapat
dibandingkan dengan pengujian medis lain (seperti darah dan urin).
Mengacu pada penelitian sebelumnya oleh (Maula, 2018) yang menyebutkan bahwa wilayah
puskesmas dengan penderita gizi buruk tertinggi berdasarkan Data BGM (Bawah Garis Merah)
Kabupaten Jember 2018 terletak di wilayah kerja puskesmas Silo 1, yaitu sebanyak 5.74%. Dari
paparan tersebut, Penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan
antara Vitamin A terhadap status gizi kurang dan gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas
Silo 1.