Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR FEMUR

A. Defenisi
Fraktur merupakan hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang
bersifat total maupun sebagian yang disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Helmi,
2012).
Fraktur adalah patah tulang, yang biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan
lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau
tidak lengkap. (Price 7 Wilson, 2006 dalam buku Nurarif Amin Huda.2015))
Fraktur Femur atau patah tulang paha adalah rusaknya kontinuitas tulang
pangkal paha yang disaebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, dan kondisi
tertentu, seperti degenerasi tulang atau osteoporosis. (Arif Muttaqin, 2011)
B. Etiologi
a. Trauma
Trauma langsung : benturan pada tulang secara langsung dan
mengakibatkan terjadi fraktur di tempat itu.
Trauma tidak langsung : titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur
berjauhan.
b. Fraktur patalogis disebabkan karena proses penyakit seperti osteoporosis,
kanker tulang dll.
c. Fraktur femur dapat ter adi karena beberapa faktor, yaitu:
1. Trauma: kecelakaan lalu lintas, atuh dari ketinggian dengan posisi
berdiri ataududuk sehingga ter adi farktur tulang belakang.
2. Patologis: sering disebabkan oleh metastase dari tumor.
3. Degenerasi: ter adi karena proses kemunduran fisiologi dari aringan
tulang itusendiri.
4. Spontan: ter adi karena tarikan otot yang sangat kuat (angulasi fraktur).
d. Ada 2 tipe dari fraktur femur, yaitu :
1. Fraktur Intrakapsuler femur yang ter adi di dalam tulang sendi, panggul
dankapsula.
a) Melalui kepala femur (capital fraktur)
b) Hanya di bawah kepala femur
c) Melalui leher darifemur

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 1


2. Fraktur Ekstrakapsuler;
a) Ter adi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang
lebihbesar atau yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter.
b) Teradi di bagian distal menu u leher femur tetapi tidak lebih dari 2
inci dibawah trokhanter kecil.
C. Klasifikasi
1. Berdasarkan sifat fraktur
a) Fraktur tertutup
Apabila fagmen tulang yang patah tidak tampak dari luar. Tidak menyebabkan
robeknya kulit.
b) Fraktur terbuka
Apabila fragmen tulang yang patah tampak dari luar. Merupakan fraktur
dengan luka pada kulit atau mebran mukosa sampai ke patahan kaki. Fraktur
terbuka terbagi atas tiga derajat, yaitu :
1) Derajat I
a. Luka < 1 cm
b. Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk.
c. Fraktur sederhana, tranversal, oblik, atau kominutif ringa
d. Kontaminasi minimal
2) Derajat II
a. laserasi > 1 cm
b. Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulse
c. Fraktur kominutif sedang
d. Kontaminasi sedang
3) Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit,
otot. dan neurovascular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat tiga
terbagi atas :
a. Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat
laserasi luas/flap/avulse atau fraktur segmental/sangat kominutif yang
disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran
luka.

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 2


b. Kehilangann jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau
kontaminasi massif. Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus
diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.
2. Berdasarkan komplit / tidak komplit fraktur
a. Fraktur komplit
Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran
bergeser dari posisi normal)
b. Fraktur inkomplit
Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. Misal : Hair line
fraktur, Green stick(fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi
yang lain membengkok)
3. Berdasarkan bentuk garis patah & hubungan dengan mekanisme tauma
a. Fraktur transversal
Arah melintang dan merupakan akibat trauma angulasi / langsung
b. Fraktur oblik
Arah garis patah membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan merupakan
akibat dari trauma langsung
c. Fraktur spiral
Arah garis patah spiral dan akibat dari trauma rotasi
d. Fraktur kompresi
Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
D. Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal
yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada
tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito,
Lynda Juall, 1995). Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf
dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.
Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga
medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah.
Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang
ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah
putih. ini merupakan dasar penyembuhan tulang (Black, J.M, et al, 1993).

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 3


Trauma merupakan penyebab mayoritas dari fraktur baik trauma karena kecelakaan
bermotor maupun jatuh dari ketinggian menyebabkan rusak atau putusnya kontinuitas
jaringan tulang. Selain itu keadaan patologik tulang seperti Osteoporosis yang
menyebabkan densitas tulang menurun, tulang rapuh akibat ketidakseimbangan
homeostasis pergantian tulang dan kedua penyebab di atas dapat mengakibatkan
diskontinuitas jaringan tulang yang dapat merobek periosteum dimana pada dinding
kompartemen tulang tersebut terdapat saraf-saraf sehingga dapat timbul rasa nyeri yang
bertambah bila digerakkan. Fraktur dibagi 3 grade menurut kerusakan jaringan tulang.
Grade I menyebabkan kerusakan kulit, Grade II fraktur terbuka yang disertai dengan
kontusio kulit dan otot terjadi edema pada jaringan. Grade III kerusakan pada kulit, otot,
jaringan saraf dan pembuluh darah.

Pada grade I dan II kerusakan pada otot/jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang
hebat karena ada spasme otot. Pada kerusakan jaringan yang luas pada kulit otot
periosteum dan sumsum tulang yang menyebabkan keluarnya sumsum kuning yang dapat
masuk ke dalam pembuluh darah sehingga mengakibatkan emboli lemak yang kemudian
dapat menyumbat pembuluh darah kecil dan dapat berakibat fatal apabila mengenai
organ-organ vital seperti otak jantung dan paru-paru, ginjal dan dapat menyebabkan
infeksi. Gejala sangat cepat biasanya terjadi 24 sampai 72 jam. Setelah cidera gambaran
khas berupa hipoksia, takipnea, takikardi. Peningkatan isi kompartemen otot karena
edema atau perdarahan, mengakibatkan kehilangan fungsi permanen, iskemik dan
nekrosis otot saraf sehingga menimbulkan kesemutan (baal), kulit pucat, nyeri dan
kelumpuhan. Bila terjadi perdarahan dalam jumlah besar dapat mengakibatkan syok
hipovolemik. Tindakan pembedahan penting untuk mengembalikan fragmen yang hilang
kembali ke posisi semula dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Selain itu bila perubahan
susunan tulang dalam keadaan stabil atau beraturan maka akan lebih cepat terjadi proses
penyembuhan fraktur dapat dikembalikan sesuai letak anatominya dengan gips.

Trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas


tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks,
marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang
segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini
menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 4


plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar
dari proses penyembuhan tulang nantinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur :
1) Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap
besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
2) Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk
timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan,
dan kepadatan atau kekerasan tulang
E. Manifestasi klinik
Manifestasi yang sering muncul pada pasien dengan fraktur femur adalah:
a. Rasa nyeri yang berlangsung dan men adi lebih hebat karena per alanan dan
tekananpada daerah femur.
b. Hilangnya fungsi pada femur.
c. Tampak hilangnya deformitas femur bila dibandingkan dengan ekstremitas
yangnormal ( perubahan bentuk ).
d. Gerakan menimbulkan derik / krepitasi.
e. Edema femur.
f. Shock (Helmi, 2012).
F. Penatalaksanaan
1. Fraktur Femur Terbuka
Menurut Apley (1995), fraktur femur terbuka harus dinilai dengan cermt untuk
mengetahui ada tidaknya kehilangan kulit, kontaminasi luka, iskemia otot, cedera
pada pembuluh darah dan saraf. Intervensi tersebut meliputi:
a. Profilaksis antibiotik
b. Debridemen
Pembersihan luka dan debridemen harus dilakukan dengan sedikit
mungkin penundaan. Jika terdapat kematian jaringan yang mati dieklsisi
dengan hati-hati. Luka akibat penetrasi fragmen luka yang tajam juga perlu
dibersihkan dan dieksisi, terapi yang cukup dengan debridemen terbatas saja.
c. Stabilisasi
Dilakukan pemasangan fiksasi interna atau eksterna.
- Penundaan tertutup
- Penundaan rehabilitasi

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 5


2. Fraktur Femur Tertutup
Pengkajian ini diperlukan oleh perawat sebagai peran kolaboratif dalam
melakukan asuhan keperawatan. Denagn mengenal tindakan medis, perawat
dapat mengenal impliksi pada setiap tindakan medis yang dilakukan.
a. Fraktur trokanter dan sub trokanter femr, meliputi:
- Pemasangan traksi tulang selama 6-7 minggu yang dilanjutkan dengan
gips pinggul selama 7 minggu merupakn alternaltif pelaksanaan pada
klien usia muda.
- Reduksi terbuka dan fiksasi interna merupakan pengobatan pilihan
dengan memergunakan plate dan screw.
b. Fraktur diafisis femur, meliputi:
- Terapi konserfativ
- Traksi kulit merupakan pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi
definitif untuk mengurangi spasme otot.
- Traksi tu;lang berimbang denmgan bagian pearson pada sendi lutut.
Indikasi traksi utama adalah faraktur yang bersifat kominutif dan
segmental.
- Menggunakan cast bracing yang dipasang setelah union fraktur secara
klinis
c. Terapi Operasi
- Pemasangan plate dan screw pada fraktur proksimal diafisis atau distal
femur
- Mempengaruhi k nail, AO nail, atau jenis lain, baik dengan operasi
tertutup maupun terbuka. Indikasi K nail, AO nail terutama adalah farktur
diafisis.
- Fiksassi eksterna terutama pada fraktur segmental, fraktur kominutif,
infected pseudoarthrosis atau fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan
lunak yang hebat. (Arif Muttaqin, 2011)
G. Pemeriksaan Daignostik
Menurut Rendy,M Clevo.2012:
1. Radiologi foto polos dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan pada
tulang femur

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 6


2. Skor tulang tomography dapat digunakan untuk menidentifikasi kerusakan
jaringan lunak
3. Arterogtram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler
4. Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat atau menurun.
H. Komplikasi
Menurut Sylvia and Price (2001), komplikasi yang biasanya ditemukan antara
lain :
1) Komplikasi Awal
a) Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT
menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada
ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan
posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
b) Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena
terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini
disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan
pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan embebatan
yang terlalu kuat.
c) Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada
kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan
bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen
dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi,
hypertensi, tachypnea, demam.
d) Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini
biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan
bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
e) Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau
terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya
Volkman’s Ischemia.

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 7


f) Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas
kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi
pada fraktur.
2) Komplikasi Dalam Waktu Lama
a) Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan
waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena
penurunan supai darah ke tulang.
b) Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi
sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai
dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk
sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang
kurang.
c) Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya
tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan
dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 8


ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR
A. Pengkajian
Proses keperawatan adalah kerangka kerja untuk memberikan pelayanan
keperawatan yang profesional dan berkualitas. Proses keperawatan langsung
mengarah pada kegiatan keperawatan yang meliputi promosi kesehatan,
perlindungan kesehatan dan pencegahan penyakit (Debora,2011).
Proses keperawatan meliputi empat tahap yaitusebagai berikut :
a) Pengkajian
Pengkajian adalah langkah pertama dalam berfikir untuk menentukan
diagnosa keperawatan.Sedangkan menurut Kozier (2010) pengkajian
meliputi beberapa hal yang berkesinambungan yakni pengumpulan data,
pengaturan data, validasi data serta pencatatan data (Wilkinson & Nancy,
2012).
1) Biodata
Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor
register.
2) Pola Nutrisi
1. Makan bersuhu ekstrem
2. Mengurangi pedas, alkohol, berlemak, kopi, coklat dan jus jeruk
3) Lingkungan
Dengan adanya lingkungan yang bersih maka daya tahan tubuh
penderita akan lebih baik daripada tinggal di lingkungan yang kotor.
4) Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
b. Riwayat kesehatan dahulu
Apakah klien pernah mengalami penyakit serupa.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Sejak kapan keluhan dirasakan, berapa lama keluhan terjadi,
bagaimana sifat dan hebatnya keluhan, dimana keluhan timbul,
keadaan apa yang memperberat dan memperingan keluhan.
d. Riwayat kesehatan keluarga

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 9


Apakah anggota keluarga ada yang mengalami jenis penyakit
yang sama.
5) Pola kesehatan fungsional menurut Gordon
a. Pola persepsi dan kesehatan
Pandangan klien dan keluarga tentang penyakit dan pentingnya
kesehatan bagi klien dan keluarga serta upaya apa yang dilakukan
dalam mengatasi masalah kesehatannya.
b. Pola nutrisi dan metabolik
Bagaimana pola nutrisi klien sebelum dan selama dirawat, apa
porsi makan klien, apakah selalu menghabiskan porsinya, apakah
klien mengalami mual, muntah saat makan, apakah ada pantangan
makanan.
c. Pola istirahat dan tidur
Apakah klien mengalami perubahan pola istirahat tidur, berapa
frekuensi tidur klien.
d. Pola persepsi sensori dan kognitif
Bagaimana persepsi klien terhadap nyeri yang dirasakan diukur
dengan PQRST.
P : Nyeri bertambah saat aktivitas dan berkurang saat istirahat .
Q : Nyeri dirasakan seperti apa .
R : Nyeri terjadi pada daerah atau lokasi mana .
S : Berapa skala nyeri yang dirasakan klien
T : Nyeri dirasakan intermitten atau continue
e. Pola aktivitas dan latihan
Bagaimana aktivitas klien sehari-hari, apa aktivitas klien.
f. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum : Lemah atau baik
2. Tingkat kesadaran : Composmentis
3. Tanda-tanda : TD : Hipotensi, RR : Takipnea, N : Takikardi, t :
Hipertensi
4. Kepala : Mesochepal
5. Mata : Konjungtiva anemis atau tidak, sclera ikterik atau tidak
6. Dada atau paru :
I : Bagaimana kembang kempis dada, simetris atau tidak .

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 10


Pa : Bagaimana stermfimitus kanan kiri sama atau tidak .
Pe : Pekak seluruh lapang paru atau tidak .
Au : Suara cordius tampak atau tidak
7. Jantung
I : Ictus cordius tampak atau tidak.
Pa : Ictus cordius teraba atau tidak .
Pe : Konfigurasi normal atau tidak .
Au : Terdapat suara abnormal atau tidak
8. Abdomen
I : Apakah ada pembesaran abdomen
Pa : Dengarkan bising usus
9. Genetalia : Apakah terpasang kateter atau tidak, bersih atau tidak
.
10. Anus : Apakah ada hemoroid atau tidak
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pre operasi fraktur femur yaitu :
1) Nyeri berhubungan dengan pembengkakan dan imobilisasi.
2) Resiko Perdarahan berhubungan dengan terputusnya pembuluh darah vena
atau arteri.
3) Defisit perawatan diri berhubungan dengan kehilangan kemandirian.
4) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, pembengkakan, prosedur
pembedahan, serta adanya imobilisasi, bidai, traksi, gips.
5) Perubahan citra diri dan harga diri berhubungan dengan dampak
muskuloskeletal.

Sedangkan Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post


operasi fraktur meliputi:
1) Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen
tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress,
ansietas.
2) Intoleran aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak
adekuatan oksigenisasi.
3) Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan pembengkakan, alat
yang mengikat, dan ganguan peredaran darah.

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 11


4) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status
metabolik, kerusakan sirkulasi, dan penurunan sirkulasi, dibuktikan oleh
terdapat luka/ ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk,
tyerdapat jaringan nekrotik.
5) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan,
kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan
kekuatan/tahanan.
6) Resiko infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh, respon inflamasi
tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukan, luka/kerusakan kulit, insisi
pembedahan.
7) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah
interpretasi informasi
C. Intervensi

Tujuan dan kriteria


No Diagnosa Intervensi(nic)
hasil(noc)

1 Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan Pain Management


berhubungan keperawatan selama ....x 24 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
dengan jam nyeri klien berkurang, komprehensif ( lokasi, karakteristik,
pembengkakan dengan kriteria : durasi, frekuensi,kualitas dan faktor
dan imobilisasi 1. Mampu mengontrol nyeri pesipitasi)
(tahu penyebab nyeri, 2. Observasi reaksi non verbal dari
mampu menggunakan ketidaknyamanan
teknik nonfarmakologi 3. Evaluasi pengalaman nyeri masa lalu
untuk mengurangi nyeri 4. Kontrol lingkungan yang dapat
2. Melaporkan bahwa nyeri mempengaruhi nyeri seperti suhu
berkurang dengan ruangan, pencahayaan, kebisingan
menggunakan managemen 5. Ajarkan tentang teknik pernafasan /
nyeri relaksasi
3. Mampu mengenali nyeri 6. Berikan analgetik untuk mengurangi
(skala, intensitas, nyeri
frekuensi, dan tanda nyeri

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 12


4. Menyatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang
5. Tanda vital dalam rentang
norm
1. Pantau tanda dan gejala perdarahan post
2 Resiko Setelah dilakukan askep
operasi.
Perdarahan .....x24 jam perawat akan
2. Monitor tanda-tanda vital
berhubungan menangani atau mengurangi
3. Pantau laborat
dengan komplikasi daripada
4. kolaborasi untuk tranfusi bila terjadi
terputusnya perdarahan
perdarahan (hb < 10 gr%)
pembuluh
5. Kolaborasi dengan dokter untuk
darah vena
terapinya
atau arteri.
6. Pantau daerah yang dilakukan operasi

Setelah dilakukan tindakan 1. Lakukan pengkajian komprehensif


3 Gangguan
keperawatan selama….. terhadap sirkulasi perifer
Perfusi
gangguan perfusi jaringan 2. Pantau tingkat ketidaknyamanan atau
jaringan
pasien teratasi dengan nyeri saat melakukan latihan fisik
berhubungan
kriteria hasil: 3. Pantau status cairan termasuk asupan
dengan
1. Status sirkulasi; aliran dan haluaran
alat yang darah yang tidak obstruksi 4. Pantau perbedaan ketajaman atau
mengikat, dan dan satu arah, pada ketumpulan, panas atau dingin
ganguan tekanan yang sesuai 5. Pantau parestesia, kebas, kesemutan,
peredaran melalui pembuluh darah hiperestesia dan hipoestesia
darah. besar sirkulasi pulmonal 6. Pantau tromboflebitis dan thrombosis
dan sistemik vena profunda
2. Perfusi jaringan: perifer; 7. Pantau kesesuaian alat penyangga,
. keadekuatan aliran darah prosthesis, sepatu dan pakaian
melalui pembuluh darah
kecil ekstremitas untuk
mempertahankan fungsi
jaringan
Setelah dilakukan tindakan 1. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih
4 Kerusakan

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 13


integritas kulit keperawatan selama….. dan kering
berhubungan kerusakan integritas kulit 2. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
dengan pasien teratasi dengan setiap dua jam sekali
kriteria hasil: 3. Monitor kulit akan adanya kemerahan
tekanan,
1. Integritas kulit yang baik 4. Monitor status nutrisi pasien
perubahan
bisa dipertahankan 5. Observasi luka : lokasi, dimensi,
status
(sensasi, elastisitas, kedalaman luka, karakteristik,warna
metabolik,
temperatur, hidrasi, cairan, granulasi, jaringan nekrotik,
kerusakan
pigmentasi) tanda-tanda infeksi lokal, formasi
sirkulasi, dan
2. Tidak ada luka/lesi pada traktus
penurunan
kulit 6. Ajarkan pada keluarga tentang luka dan
sirkulasi,
3. Perfusi jaringan baik perawatan luka
dibuktikan
4. Mampu melindungi kulit 7. Lakukan tehnik perawatan luka dengan
oleh terdapat
dan mempertahankan steril
luka/ ulserasi,
kelembaban kulit dan
kelemahan,
perawatan alami
penurunan
5. Menunjukkan terjadinya
berat badan,
proses penyembuhan
turgor kulit
luka
buruk,
tyerdapat
jaringan
nekrotik.

1. Monitoring vital sign sebelum atau


5 Hambatan Setelah dilakukan tindakan
sesudah latihan dan lihat respon pasien
mobilitas fisik keperawatan selama ...x24
saat latihan
berhubungan jam gangguan mobilitas
2. Konsultasikan dengan terapi fisik tentang
dengan dengan fisik teratasi dengan criteria
rencana ambulasi sesuai dengan
nyeri/ketidakn hasil:
kebutuhan
yamanan, 1. Klien meningkat dalam
3. Bantu klien untuk menggunakan tongkat
kerusakan aktivitas fisik
dan cegah terhadap cedera
muskuloskletal 2. Mengerti tujuan dan
4. Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan
, terapi peningkatan mobilitas

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 14


pembatasan 3. Memverbalisasikan tentang teknik ambulasi
aktivitas, dan perasaan dalam 5. Kaji kemampuan pasien dalam
penurunan meningkatkan kekuatan mobilisasi
kekuatan/tahan dan kemampuan 6. Latih pasien dalam pememnuhan
an. berpindah kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai
kemampuan

D. Implementasi
Implementasi adalah tahap keempat dari proses keperawatan . Tahap ini muncul
jika perencanaan yang dibuat diaplikasikan kepada klien. Tindakan yang dilakukan
mungkin sama, mungkin juga berbeda dengan urutan yang telah dibuat pada
perencanaan . Aplikasi yang dilakukan pada klien saat itu dan kebutuhan yang paling
dirasakan oleh klien.
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap kelima dari proses keperawatan. Pada tahap ini perawat
membandingkan hasil tindakan yang telah dilakukan dengan kriteria hasil yang telah
ditetapkan serta menilai masalah yang teratasi sudah teratasi seluruhnya, hanya
sebagian, atau bahkan belum teratasi semuanya .

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 15


DAFTAR PUSTAKA

Arif Muttaqin. 2011. Buku Saku Gangguan Mulskuloskeletal Aplikasi pada Praktik Klinik
Keperawatan. Jakarta:EGC.
Helmi,Zairin Noor.2012.Buku Saku Kedaruratan Di Bidang Bedah Ortopedi.Jakarta:Salemba
Medika.
Herdman,T Hearther.2013.NANDA International Diagnosis Keperawatan Definisi dan
Klasifikasi.Jakarta:EGC.
Jitowiyono,Sugeng.,Weni kristiyani.2010.Asuhan Keperawatan Post
Operasi.Yogyakarta:Nuha Medika.
Kowalak.,Welsh.,dan Mayer.2011.Buku Ajar Patofisiologi.Jakarta:EGC
Nugroho,Taufan.2011.Asuhan keperawatan Maternitas, Anak, Bedah dan Penyakit
Dalam.Yogyakarta:Nuha Medika.
Nurarif,Amin Huda.,Hardhi Kusuma.2015.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan NANDA.Yogjakarta:MediAction.
Rendy,M Clevo.,Margareth TH.2012.Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Penyakit
Dalam.Yogyakarta:Nuha Medika
Price Sylvia Andersen & Lorraine M. Wilson. 2001. Pathofisiologi : Konsep Klinis Proses-
proses Penyakit. Alih bahas : Peter Anugerah. Editor : Caroline Wijaya. Buku 1. Cetakan I.
Edisi 4. EGC. Jakarta.

Propesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba Tahun 2020 Page 16

Anda mungkin juga menyukai