Anda di halaman 1dari 7

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatic dari fungsi otak yang

disertai atau tanpa disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa

diikuti terputusnya kontinuitas otak (Muttaqin, 2008).

Craniotomy adalah mencakup pembukaan tengkorak melalui pembedahan

untuk meningkatkan akses pada struktur intracranial. Prosedur ini dilakukan

untuk menghilangkan tumor, mengurangi tekanan intracranial, mengevaluasi

bekuan darah dan mengontrol hemoragi. (Brunner & Suddarth, 2002).

Cedera kepala bisa menyebabkan kematian atau penderita bisa mengalami

penyembuhan total. Jenis dan beratnya kelainan tergantung kepada lokasi dan

beratnya kerusakan otak yang terjadi. Berbagai fungsi otak dapat dijalankan

oleh beberapa area, sehingga area yang tidak mengalami kerusakan bisa

menggantikan fungsi dari area lainnya yang mengalami kerusakan. Tetapi

semakin tua umur penderita, maka kemampuan otak untuk menggantikan

fungsi sama lainnya semakin berkurang. Beberapa fungsi (misalnya

penglihatan serta pergerakan lengan dan tungkai) dikendalikan oleh area

khusus pada salah satu sisi otak. Kerusakan pada area ini biasanya

menyebabkan kelainan yang menetap. Dampak dari kerusakan ini bisa

diminimalkan dengan menjalani terapi rehabilitasi (Mediascome)


2

Cedera kepala adalah satu diantara kebanyakan bahaya yang menimbulkan

kematian pada manusia. Dari semua kasus cedera kepala di Amerika Serikat

sekitar tahun 1985, 49% disebabkan oleh kecelakaan motor, dan jatuh

merupakan penyebab umum yang kedua. Cedera kepala paling sering

ditemukan pada usia 15-24 tahun. Dan dua kali lebih besar pada pria di

bandingkan pada wanita. (Hudak, C. M., 2010).

Lebih dari separuh kematian di dunia karena cedera, cedera kepala berperan

nyata atas outcome. Pada pasien dengan cedera kepala, kepala adalah bagian

yang paling sering mengalami cedera dan pada kecelakaan lalu lintas yang

fatal, hasil otopsi memperlihatkan bahwa cedera otak ditemukan pada 75%

penderita. Untuk setiap kematian terdapat dua kasus dengan cacat tetap,

biasanya sekunder terhadap cedera kepala. (Narayan, 1991)

Penderita cedera kepala berat kadang mengalami amnesia dan tidak dapat

mengingat peristiwa sesaat sebelum dan sesudah terjadinya penurunan

kesadaran. Jika kesadaran telah kembali pada minggu pertama, maka biasanya

ingatan penderita akan pulih kembali.

Berdasarkan kenyataan yang penulis lihat dari bulan januari sampai desember

2014 sekitar 692 pasien yang di rawat inap di ruang Bedah Pria dan 72 pasien

dengan prevalensi 10,4 % diantaranya yaitu mengalami cedera kepala, mulai

dari cedera kepala ringan hingga berat, dan 2 pasien diantaranya dengan Post

Craniotomy.

Tn.E merupakan pasien dengan kasus Cedera Kepala dengan Post

Craniotomy yang di rawat inap di ruangan Bedah Pria Rumah Sakit Umum
3

Daerah Jayapura, pada tanggal 14 Februari 2019 Tn.E mengalami kecelakaan

motor yang menyebabkan pasien cedera kepala berat hingga tak sadarkan diri,

kemudian Tn.E dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura dan hingga

akhirnya Tn.E dilakukan proses pembedahan craniotomy.

Dari uraian diatas maka penulis tertarik dalam pemberian Asuhan Keperawatan

pada pasien cedera kepala. Sehingga penulis tertarik menggambil kasus cedera

kepala sebagai tugas akhir Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ASUHAN

KEPERAWATAN PADA PASIEN TN.E DENGAN CEDERA KEPALA POST

CRANIOTOMY DI RUANG SYARAF DI RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH JAYAPURA”

B. TUJUAN PENULISAN

1. Tujuan Umum

Tujuan penulisan ini adalah untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman

langsung tentang bagaimana menerapkan Asuhan Keperawatan pada pasien

Tn.E dengan Cedera Kepala Post Kraniotomi di ruangan Syaraf RSUD

Jayapura

2. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengkajian dan menganalisa secara komprehensif

pada pasien dengan Cedera Kepala Post Craniotomi di ruangan syaraf

Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura

b. Mampu menetapkan diagnosa keperawatan baik actual maupun potensial

pada pasien dengan Cedera Kepala Post Craniotomi


4

c. Mampu merumuskan rencana keperawatan secara komprehensif pada

kasus dengan Cedara Kepala Post Craniotomy

d. Mampu mengimplementasikan rencana keperawatan pada pasien dengan

Cedara Kepala Post Craniotomy

e. Mampu melakukan evaluasi hasil tindakan pelaksanaan Asuhan

Keperawatan pada pasien dengan Cedera Kepala Post Craniotomy

f. Mampu mendokumentasikan Asuhan Keperawatan secara berkesi-

nambungan pada pasien dengan Cedera Kepala Post Craniotomi

C. MANFAAT PENULISAN

1. Rumah sakit

Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam

upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya penerapan

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Cedara Kepala Post Craniotomy

2. Institusi Pendidikan

Menjadi masukan bagi institusi guna menambah literature/

referensi untuk kelengkapan perkuliahan

3. Pasien dan keluarga

Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit

mengetahui Asuhan Keperawatan Cedara Kepala Post Craniotomi, terutama

tentang cara pencegahan dan penanggulangannya


5

4. Penulis

Menjadi bahan acuan untuk menambah pengetahuan dalam

pemberian perawatan pada pasien dengan Cedera Kepala Post Craniotomy

D. METODE PENULISAN

Metode penulisan yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ini adalah

metode deskriptif, dengan menggunakan rencana studi kasus tunggal melalui

pendekatan proses asuhan keperawatan (Nursalam, 2001).

Tekhnik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah :

1. Wawancara

Penulis menanyakan atau tanya jawab yang berhubungan dengan

masalah yang dihadapi pasien dan merupakan suatu komunikasi yang

direncanakan untuk memperoleh data dari pasien dan keluarganya yang

diperlukan, berpedoman pada format pengkajian perawat.

2. Observasi

Dalam metode ini penulis melakukan pengamatan secara langsung

mengenai perilaku dan keadaan pasien untuk memperoleh data tentang

masalah kesehatan dan keperawatan pasien.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan atau pengkajian fisik dalam keperawatan digunakan

untuk memperoleh data objektif dari riwayat kesehatan pasien. Pemeriksaan

fisik yang dilakukan perawat adalah kemampuan fungsional pasien yaitu

pemeriksaan yang dimulai dari kepala hingga kaki. Tujuan dari pengkajian
6

fisik dalam keperawatan adalah untuk menentukan status kesehatan pasien,

mengidentifikasi masalah kesehatan dan mengambil data dasar untuk

menentukan rencana tindakan keperawatan.

Menurut Priharjo dan Harsono, (2002) ada 4 tekhnik pemeriksaan

yang penulis lakukan dalam pemeriksaan ini yaitu:

a. Inspeksi

Inspeksi adalah suatu proses observasi yang dilakukan dengan

menggunakan indra penglihatan. Inspeksi dilakukan untuk mendeteksi

tanda – tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik.

b. Palpasi

Palpasi adalah metode pemeriksaan fisik yang menggunakan

sentuhan atau rabaan. Metode ini dilakukan untuk mendetermasi ciri –

ciri jaringan atau organ

c. Perkusi

Perkusi adalah metode pemeriksaan dengan cara mengetuk. Tujuan

perkusi adalah menentukan batas – batas organ atau bagian tubuh dengan

cara merasakan vibrasi yang di timbulkan akibat adanya gerakan yang

berisikan ke bawah jaringan

d. Auskultasi

Auskultasi adalah metode pengkajian yang menggunakan stetoskop

untuk memperjelas pendengaran.


7

e. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan darah lengkap, urin

lengkap, kimia klinik, dan foto rontgen.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Untuk memperoleh gambaran yang jelas pada penyusunan karya tulis

ini, penulis menggunakan sistematika penulisan yang terdiri dari V BAB,

yaitu :

BAB I :Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan,

metode penulisan dan tekhnik penulisan, serta sistematika penulisan

BAB II :Konsep dasar terdiri dari pengertian, etiologi, tanda dan gejala,

patofisiologi, pathway, diagnose dan focus intervensi

BAB III :Tinjauan kasus terdiri dari pengkajian, pathway keperawatan sesuai

kasus pada pasien, diagnose keperawatan, intervensi, implementasi

dan evaluasi

BAB IV : Pembahasan dari kasus yang diambil

BAB V : Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran

DAFTAR PUSTAKA