Anda di halaman 1dari 10

88

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 3.1. Foto alat: (a) timbangan analitik, (b) viskometer Brookfield,
(c) homogenizer, (d) pH-meter
89

Aquades
(setelah pemanasan pada suhu 80°C
dan penambahan Na2EDTA hingga larut)

- saat aquades masih panas HPMC ditaburkan sedikit demi sedikit


- sambil diaduk dengan homogenizer 150 rpm hingga terbentuk
basis gel
Basis gel

-tetap diaduk dengan homogenizer 100 rpm hingga dingin


- ditambahkan glukosamin HCl yang sudah dilarutkan dalam
aquades
- diaduk dengan homogenizer 100 rpm hingga homogen
- ditambahkan metil paraben dan propil paraben yang telah
dilarutkan dalam propilen glikol
- diaduk dengan homogenizer 100 rpm hingga homogen
- ditambahkan senyawa enhancer
- diaduk 100 rpm hingga homogen
- ditambahkan NaOH 5% secukupnya dan sisa aquades
- diaduk 100 rpm hingga homogen
Gel glukosamin

Gambar 3.2. Bagan pembuatan sediaan gel glukosamin

Gambar 3.3. Foto rangkaian alat KCKT


90

± 1 g sampel gel glukosamin 1%


- dimasukkan ke dalam labu ukur 25 mL
- ditambahkan metanol hingga batas
- dikocok dengan vortex hingga seluruh gel pecah
mencair dan melarut
Larutan A
(sampel mengandung glukosamin ± 400ppm)
- dipipet 125 µL ke dalam labu 25 mL
- dapar borat pH 9,3 ditambahkan hingga batas
Larutan B
(sampel mengandung
glukosamin ± 2 ppm)
- dipipet 50 µL ke dalam tabung microtube 2 mL
- OPA/2-ME ditambahkan sebanyak 50 µL
- dikocok dengan vortex selama 20 detik
- dibiarkan bereaksi selama 2 menit
Larutan derivat glukosamin
yang siap dianalisis KCKT

Gambar 3.4. Bagan preparasi sampel gel glukosamin


untuk evaluasi penetapan kadar

Gambar 3.5. Foto sel difusi Franz yang sedang beroperasi


91

Cairan sampel mengandung glukosamin


dalam larutan reseptor sel Franz
(larutan dapar fosfat pH 7,4)
- dipipet 500 µL ke dalam labu ukur 5 mL
- diencerkan dengan menambahkan dapar borat pH 9,3
hingga batas
Larutan sampel glukosamin
dalam dapar borat pH 9,3

- dipipet 50 µL ke dalam tabung microtube 2 mL


- OPA/2-ME ditambahkan sebanyak 50 µL
- dikocok dengan vortex selama 20 detik
- dibiarkan bereaksi selama 2 menit

Larutan derivat glukosamin


yang siap dianalisis KCKT

Gambar 3.6. Bagan preparasi sampel glukosamin dalam kompartemen reseptor


pada uji penetrasi perkutan menggunakan sel difusi Franz

Gambar 3.7. Foto rangkaian alat KC-SM-SM


92

FI FII FIII

FIV
FV FVI

Gambar 4.2. Foto enam formula sediaan gel glukosamin


dalam wadah pot (tampak atas)

Gambar 4.4. Spektrum serapan fluoresensi glukosamin setelah diderivatisasi


dengan pereaksi OPA/2-ME
93

Gambar 4.6. Kromatogram derivat glukosamin


pada evaluasi penetapan kadar sediaan gel formula I (enhancer etanol 3%)

Gambar 4.8. Kromatogram derivat glukosamin dari sampel uji penetrasi perkutan
menggunakan sel difusi Franz sediaan gel
formula II (enhancer etanol 5%) pada menit ke-30
94

Gambar 4.12. Hasil penetapan bilangan massa per-muatan (m/z) ion induk dan
turunan glukosamin dengan pemindaian autotune spektroskopi massa
95

Gambar 4.13. Hasil penetapan bilangan massa per-muatan (m/z) ion induk dan
turunan baku dalam asam amino heksanoat
dengan pemindaian autotune spektroskopi massa
96

500 µL sampel plasma darah mengandung glukosamin

-ditambahkan aquabides sebanyak 500 µL


-ditambahkan asam amino heksanoat 1 ppm
sebagai baku dalam sebanyak 50 µL
- dikocok dengan vortex selama 60 detik
- disentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm

Supernatan sampel siap disuntikkan


ke dalam KC/SM/SM sebanyak 30 µL

Gambar 4.14. Bagan preparasi sampel glukosamin dalam plasma darah


pada uji ketersediaan hayati in vivo pendahuluan
97

a. Formula kontrol

b. Formula II

Gambar 4.16. Kromatogram KC-SM-SM sampel plasma waktu puncak jam ke-5
formula kontrol dan formula II gel glukosamin 1%
pada uji ketersediaan hayati in vivo pendahuluan