Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

GIZI BURUK

Disusun oleh:
Nurul Inayah Indah Cahyani
(406182064)

Pembimbing:
dr. Neni Sumarni, SpA

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
PERIODE 23 DESEMBER 2019 – 2 MARET 2020
LEMBAR PENGESAHAN
Diajukan untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik dan melengkapi salah
satu syarat menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter di bagian Ilmu Kessehatan
Anak Rumah Sakit Umum Daerah KRMT Wongsonegoro Semarang periode 23
Desember 2019 – 2 Maret 2020.
Nama : Nurul Inayah Indah Cahyani
NIM : 406182064
Fakultas : Kedokteran
Universitas : Universitas Tarumanagara
Bidang Pendidikan : Ilmu Kesehatan Anak
Periode Kepaniteraan Klinik : 23 desember 2019 – 2 Maret 2020
Judul : Gizi Buruk

Pembimbing : dr. Neni Smarni, Sp.A

Telah diperiksa dan disahkan tanggal:

Pembimbing,

Dr. Neni Sumarni, Sp.A


BAB I

PENDAHULUAN

Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai
oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari
proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Gizi Buruk adalah status gizi yang
didasarkan pada indeks berat badan menurut umur (BB/U) yang merupakan terbagi
menjadi istilah underweight (gizi kurang) dan severely underweight (gizi buruk).
Balita disebut gizi buruk apabila indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) kurang
dari -3 SD .1,2

Menurut data status gizi WHO pada tahun 2018, 41 juta anak di dunia mengalami
kelebihan berat badan atau obesitas, 52 juta anak di bawah usia 5 tahun kurus, 17 juta
sangat kurus dan 155 juta anak mengalami stunting. Sekitar 45% kematian anak di
bawah usia 5 tahun terkait dengan gizi buruk. Kasus gizi buruk paing banyak terjadi
di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Dampak perkembangan,
ekonomi, sosial, dan medis dari beban kekurangan gizi global adalah masalah yang
serius dan berlangsung lama.1

Gizi buruk masih merupakan masalah di Indonesia, walaupun Pemerintah Indonesia


telah berupaya untuk menanggulanginya. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2018 menunjukkan 17,7% bayi usia di bawah 5
tahun (balita) masih mengalami masalah gizi. Angka tersebut terdiri atas balita yang
mengalami gizi buruk sebesar 3,9% dan yang menderita gizi kurang sebesar 13,8%.
Dibanding hasil Riskesdas 2013, bayi yang mengalami masalah gizi turun seperti
terlihat pada grafik di bawah ini. Sementara dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2019, bayi yang mengalami masalah gizi ditargetkan
turun menjadi 17%.2

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dan Laporan Survei Departemen Kesehatan-
Unicef, dari 343 kabupaten/kota di Indonesia penderita gizi buruk sebanyak 169
kabupaten/kota tergolong prevalensi sangat tinggi dan 257 kabupaten/kota lainnya
prevalensi tinggi. Dari data Depkes juga terungkap masalah gizi di Indonesia ternyata
lebih serius dari yang kita bayangkan selama ini. Gizi buruk atau anemia gizi tidak
hanya diderita anak balita, tetapi semua kelompok umur. Perempuan adalah yang
paling rentan, disamping anak-anak. Sekitar 4 juta ibu hamil, setengahnya mengalami
anemia gizi dan satu juta lainnya kekurangan energi kronis (KEK). Dalam kondisi itu,
rata-rata setiap tahun lahir 350.000 bayi lahir dengan kekurangan berat badan (berat
badan rendah).3
Tujuan dari penulisan Referat ini adalah untuk mengetahui dan memahami tentang
gizi buruk, terutama mengenai marasmus dan kwashiorkor serta penatalaksanaan gizi
buruk yang terbaru.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Gizi buruk merupakan status/kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau
nutrisinya dibawah rata-rata. Kekurangan nutrisi yang dimaksud adalah kekurangan
bahan-bahan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin yang dibutuhkan
oleh tubuh. Cara menilai status gizi dapat dilakukan dengan pengukuran
antropometrik, secara tampilan klinis, pemeriksaan fisik dan penilaian hasil
laboratorium. Dari beberapa pengukuran tersebut, pengukuran Berat Badan (BB)
sesuai Tinggi Badan (TB) merupakan salah satu pengukuran antropometik yang baik
dengan mengadopsi acuan havard dan WHO-NCHS (World Health Organizatio–
National Center For Health Statistics). Pengukuran antropometri dapat dilakukan
dengan beberapa macam pengukuran yaitu pengukuran berat badan, tinggi badan,
lingkar lengan atas, dan sebagainya. Menurut indikator Z-scores dikatakan gizi buruk
apabila BB/TB berada dibawah -3 dari standar deviasi (<-3 SD).

2.2 Etiologi
Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Secara garis besar
penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang dan
anak sering sakit atau terkena infeksi. Selain itu gizi buruk dipengaruhi oleh faktor
lain seperti sosial ekonomi, kepadatan penduduk, kemiskinan, dan lain-lain.3,5

2.2.1 Faktor utama penyebab gizi buruk pada anak6

1. Peranan diet
Anak sering tidak cukup mendapatkan makanan bergizi seimbang terutama
dalam segi protein dan karbohidratnya. Diet yang mengandung cukup energi
tetapi kurang protein akan menyebabkan anak menjadi penderita kwashiokor,
sedangkan diet kurang energi walaupun zat gizi esensialnya seimbang akan
menyebabkan anak menjadi penderita marasmus. Pola makan yang salah
seperti pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia akan menimbulkan
masalah gizi pada anak. Contohnya anak usia tertentu sudah diberikan
makanan yang seharusnya belum dianjurkan untuk usianya, sebaliknya anak
telah melewati usia tertentu tetapi tetap diberikan makanan yang seharusnya
sudah tidak diberikan lagi pada usianya. Selain itu mitos atau kepercayaan di
masyarakat atau keluarga dalam pemberian makanan seperti berpantang
makanan tertentu akan memberikan andil terjadinya gizi buruk pada anak.

2. Peranan penyakit atau infeksi


Penyakit atau infeksi menjadi penyebab terbesar kedua setelah asupan
makanan yang tidak seimbang. Telah lama diketahui adanya hubungan yang
erat antara malnutrisi dan penyakit infeksi terutama di negara tertinggal
maupun di negara berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan
kebersihan diri (personal hygiene) masih kurang, dan adanya penyakit infeksi
kronik seperti Tuberkulosis dan cacingan pada anak-anak. Kaitan antara
infeksi dan kurang gizi sangat sukar diputuskan, karena keduanya saling
terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan menyebabkan
anak menjadi kurang gizi yang pada akhirnya memberikan dampak buruk
pada sistem pertahanan tubuh sehingga memudahkan terjadinya infeksi baru
pada anak.

2.2.2 Faktor lain penyebab gizi buruk pada anak3,5

1. Peranan sosial ekonomi


Tidak tersedianya makanan yang adekuat terkait langsung dengan masalah
sosial ekonomi, dan kemiskinan. Data di indonesia dan negara lain
menunjukan adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dengan
masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat terutama masalah
kemiskinan yang pada akhirnya mempengaruhi ketersedian makanan serta
keragaman makanan yang dikonsumsi. Banyak masyarakat yang masih
menganut sistem bahwa orang tua harus lebih mendapatkan porsi makanan
yang lebih banyak dan lebih bergizi daripada anak-anaknya karena mereka
harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya sedangkan anak-anak
hanya bermain dirumah sehingga tidak perlu mendapat asupan yang bergizi.
Selain itu adanya faktor-faktor lain seperti poligami, seorang suami dengan
banyak istri dan anak membuat pendapatan suami tersebut tidak dapat
mencukupi makan istri-istri dan anak-anaknya, serta tingginya tingkat
perceraian, dimana sebelumnya suami dan istri bersama-sama mencari nafkah
untuk menghidupi anak-anaknya, kini hanya tinggal istri yang menghidupi
anaknya sebagai orang tua tunggal (single parrent).

2. Peranan kepadatan penduduk


Dalam kongresnya di Roma pada tahun 1974, World Food Organization
memaparkan bahwa meningkatnya jumlah penduduk yang cepat tanpa
diimbangi dengan bertambahnya persediaan pangan maupun bahan makanan
setempat yang memadai merupakan sebab utama krisis pangan. Marasmus
dapat terjadi jika suatu daerah terlalu padat penduduknya dengan keadaan
higiene yang buruk, contohnya dikota-kota besar yang laju pertambahan
penduduknya sangat besar akibat arus urbanisasi dan tingginya angka
kelahiran menyebabkan kepadatan penduduk yang semakin meningkat. Pada
akhirnya ketersediaan makanan yang ada tidak akan mencukupi lagi untuk
memenuhi kebutuhan makanan masyarakat di daerah tersebut.

2.3 Patofisiologi
Malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor
ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri (host), agent
(kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet (makanan)
memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan. Marasmus adalah
compensated malnutrition atau sebuah mekanisme adaptasi tubuh terhadap
kekurangan energi dalam waktu yang lama. Dalam keadaan kekurangan makanan,
tubuh selalu berusaha untuk empertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan
pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein
dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan,
karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar,
tetapi kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit. Akibatnya
katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino
yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama kurangnya intake
makanan, jaringan lemak akan dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies.
Setelah lemak tidak dapat mencukupi kebutuhan energi, maka otot dapat
mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau
kekurangan makanan. Pada akhirnya setelah semua tidak dapat memenuhi kebutuhan
akan energi lagi, protein akan dipecah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal
tubuh. Proses ini berjalan menahun, dan merupakan respon adaptasi terhadap ketidak
cukupan asupan energi dan protein.7

2.4 Klasifikasi
Gizi buruk merupakan salah satu spektrum dari kelainan yang disebut
malnutrisinenergi protein (MEP). Berdasarkan lama dan beratnya kekurangan energi
dan protein, MEP diklasifikasikan menjadi MEP derajat ringan sedang (gizi kurang)
dan MEP derajat berat (gizi buruk). Gizi kurang belum menunjukan gejala klinis yang
khas, hanya dijumpai gangguan pertumbuhan dan tampak kurus. Akan tetapi,
gangguan pertumbuhan dapat terjadi pada semua status gizi. Pada gizi buruk
didapatkan tiga bentuk klinis yaitu :8,9
1. Kwashiorkor
Adalah malnutrisi edematosa yang disebabkan karena kurangnya supan protein
2. Marasmus
Adalah malnutrisi nonedematosa dengan wasting berat yang disebabkan terutama
oleh kurangnya asupan energi atau gabungan kurangnya energi dan asupan protein
3. Marasmik-Kwashiorkor
Adalah kondisi dimana terdapat karakteristik dari dua kondisi diatas, yaitu adanya
edema yang disertai wasting.

Klasifikasi menurut Wellcome pada MEP berat dapat digunakan sampai usia lebih
dari 20 tahun. Klasifikasi menurut Wellcome ini sangat sederhana karena hanya
melihat % BB/U dan ada atau tidaknya edema. Terdapat kategori kurang gizi ini
meliputi anak dengan PEM sedang atau yang mendekati PEM berat tapi tanpa edema,
pada keadaan ini % BB/U berada diatas 60%.3

Tabel 1. Klasifikasi MEP berat menurut Wellcome Trust3


% BB/U Dengan edema Tanpa edema
60-80% Kwashiorkor Kurang Gizi
<60 % Marasmus- kwashiorkor Marasmus
Tabel 2. Klasifikasi MEP berat menurut Gomez3
Klasifikasi % BB/U
Normal >90%
Grade I ( Mallnutrisi Ringan) 75-89.9%
Grade II ( Mallnutrisi sedang) 60-74.9%
Grade III (Mallnutrisi Berat) <60%

Status Gizi secara Pengukuran Antropometri

1. Berat Badan
Berat badan adalah parameter pertumbuhan yang paling sederhana, mudah diukur dan
diulang dan merupakan indeks untuk status nutrisi sesaat. Hasil pengukuran berat
badan dipetakan pada kurva standar Berat badan/ Umur (BB/U) dan Berat Badan/
Tinggi Badan (BB/TB). Adapun interpretasi pengukuran berat badan yaitu:3

BB/U dibandingkan dengan acuan standard (CDC 2000) dan dinyatakan dalam
persentase:3

 > 120 % : disebut gizi lebih


 80 – 120 % : disebut gizi baik
 60 – 80 % : tanpa edema ; gizi kurang dengan edema ; gizi buruk
(kwashiorkor)
 < 60% : gizi buruk : tanpa edema (marasmus) dengan edema
(marasmus – kwashiorkor)

2. Tinggi Badan (TB)


Tinggi badan pasien harus diukur pada tiap kunjungan . Pengukuran berat badan akan
memberikan informasi yang bermakna kepada dokter tentang status nutrisi dan
pertumbuhan fisis anak. Seperti pada pengukuran berat badan, untuk pengukuran
tinggi badan juga diperlukan informasi umur yang tepat, jenis kelamin dan baku yang
diacu yaitu CDC 2000.3
Interpretasi dari dari TB/U dibandingkan standar baku berupa:3

 90 – 110 % : baik/normal
 70 – 89 % : tinggi kurang
 < 70 % : tinggi sangat kurang

3. Rasio Berat Badan menurut tinggi badan (BB/TB)


Rasio BB/TB bila dikombinasikan dengan beraat badan menurut umur dan tinggi
badan menurut umur sangat penting dan lebih akurat dalam penilaian status nutrisi
karena ia mencerminkan proporsi tubuh serta dapat membedakan antar “wasting” dan
“stunting” atau perawakan pendek. Indeks ini digunakan pada anak perempuan hanya
sampai tinggi badan 138 cm, dan pada anak lelaki sampai tinggi badan 145 cm.
Setelah itu rasio BB/TB tidak begitu banyak artinya, karena adanya percepatan
tumbuh (growth spurt). Keuntungan indeks ini adalah tidak diperlukannya faktor
umur, yang seringkali tidak diketahui secara tepat.3,10

BB/TB (%) = (BB terukur saat itu)/(BB standar sesuai untuk TB terukur) x
100%
interpretasi di nilai sebagai berikut:3

 > 120 % : Obesitas


 110 – 120 % : Overweight
 90 – 110 % : normal
 70 – 90 % : gizi kurang
 < 70 % : gizi buruk

2.5 Gejala Klinis


Pada kasus malnutrisi yang berat, gejala klinis terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu
kwashiokor dan marasmus. Pada kenyataannya jarang sekali ditemukan suatu kasus
yang hanya menggambarkan salah satu dari bagian tertentu saja. Sering kali pada
kebanyakan anak-anak penderita gizi buruk, yang ditemukan merupakan perpaduan
gejala dan tanda dari kedua bentuk malnutrisi berat tersebut. Marasmus lebih sering
ditemukan pada anak-anak dibawah usia satu tahun, sedangkan insiden pada anak-
anak dengan kwashiokor terjadi pada usia satu hingga enam tahun. Pada beberapa
negara seperti di Asia dan Afrika, marasmus juga didapatkan pada anak yang lebih
dewasa dari usia satu tahun (toddlers), sedangkan di Chili, marasmus terjadi pada
bulan pertama kehidupan anak tersebutnya.6,7

Gejala pertama dari malnutrisi tipe marasmus adalah kegagalan tumbuh


kembang. Pada kasus yang lebih berat, pertumbuhan bahkan dapat terhenti sama
sekali. Selain itu didapatkan penurunan aktifias fisik dan keterlambatan
perkembangan psikomotorik. Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik, akan ditemukan
suara tangisan anak yang monoton, lemah, dan tanpa air mata, lemak subkutan
menghilang dan lemak pada telapak kaki juga menghilang sehingga memberikan
kesan tapak kaki seperti orang dewasa. Kulit anak menjadi tipis dan halus, mudah
terjadi luka tergantung adanya defisiensi nutrisi lain yang ikut menyertai keadaan
marasmus. Kaki dan tangan menjadi kurus karena otot-otot lengan serta tungkai
mengalami atrofi disertai lemak subkutan yang turut menghilang. Pada pemeriksaan
protein serum, ditemukan hasil yang normal atau sedikit meningkat. Selain itu
keadaan yang terlihat mencolok adalah hilangnya lemak subkutan pada wajah.
Akibatnya ialah wajah anak menjadi lonjong, berkeriput dan tampak lebih tua (old
man face). Tulang rusuk tampak lebih jelas. Dinding perut hipotonus dan kulitnya
longgar. Berat badan turun menjadi kurang dari 60% berat badan menurut usianya.
Suhu tubuh bisa rendah karena lapisan penahan panas hilang. Cengeng dan rewel
serta lebih sering disertai diare kronik atau konstipasi, serta penyakit kronik. Tekanan
darah, detak jantung dan pernafasan menjadi berkurang.6,10

Pada kasus malnutrisi kwashiokor marasmik ditemukan perpaduan gejala antara


kwashiokor dan marasmus. Keadaan ini ditemukan pada anak-anak yang makanan
sehari-harinya tidak mendapatkan cukup protein dan energi untuk pertumbuhan yang
normal. Pada anak-anak penderita kasus ini disamping terjadi penurunan berat badan
dibawah 60% berat badan normal seusianya, juga memperlihatkan tanda-tanda
kwashiokor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, dan kelainan biokimiawi.
Kelainan rambut pada kwashiokor adalah rambut menjadi lebih mudah dicabut tanpa
reaksi sakit dari penderita, warna rambut menjadi lebih merah, ataupun kelabu hingga
putih. Kelainan kulit yang khas pada penyakit ini ialah crazy pavement dermatosis,
yaitu kulit menjadi tampak bercak menyerupai petechiae yang lambat laun menjadi
hitam dan mengelupas di tengahnya, menjadikan daerah sekitarnya kemerahan dan
dikelilingi batas-batas yang masih hitam. Adanya pembesaran hati dan juga anemia
ringan dikarenakan kekurangan berbagai faktor yang turut mengiringi kekurangan
protein, seperti zat besi, asam folat, vitamin B12, vitamin C, dan tembaga. Selain itu
juga ditemukan kelainan biokimiawi seperti albumin serum yang menurun, globulin
serum yang menurun, dan kadar kolesterol yang rendah.3,6

2.6 Diagnosis
Diagnosis marasmus dibuat berdasarkan gambaran klinis, tetapi untuk mengetahui
penyebab harus dilakukan anamnesis makanan dan kebiasaan makan anak serta
riwayat penyakit yang lalu. Pada awalnya, terjadi kegagalan menaikkan berat badan,
disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus, dengan kehilangan
turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan
hilang. Lemak pada daerah pipih adalah bagian terakhir yang hilang sehingga untuk
beberapa waktu muka bayi tampak relative normal sampai nantinya menyusut dan
berkeriput. Abdomen dapat kembung atau datar dan gambaran usus dapat dengan
mudah dilihat. Terjadi atrofi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya subnormal,
nadi mungkin lambat, dan angka metabolism basal cenderung menurun. Mula-mula
bayi mungkin rewel, tetapi kemudian menjadi lesu dan nafsu makan hilang. Bayi
biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul diare dengan buang air besar sering, tinja
berisi mucus dan sedikit.4,10

Ciri dari marasmus antara lain:4,10

- Penampilan wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus


- Perubahan mental
- Kulit kering, dingin dan kendur
- Rambut kering, tipis dan mudah rontok
- Lemak subkutan menghilang sehingga turgor kulit berkurang
- Otot atrofi sehingga tulang terlihat jelas
- Sering diare atau konstipasi
- Kadang terdapat bradikardi
- Tekanan darah lebih rendah dibandingkan anak sehat yang sebaya
- Kadang frekuensi pernafasan menurun
Selain itu marasmus harus dapat dibedakan dengan kasus malnutrisi lainnya
yaitu kwashiokor agar tidak terjadi kesalahan dalam penegakkan diagnosa yang dapat
berpengaruh pada tindak lanjut kasus ini. Kwashiorkor merupakan sindroma klinis
akibat dari malnutrisi protein berat (MEP berat) dengan masukan kalori yang cukup.
Bentuk malnutrisi yang paling serius dan paling menonjol di dunia saat ini terutama
yang berada didaerah industri belum berkembang. Kwashiorkor berarti “anak
tersingkirkan”, yaitu anak yang tidak lagi menghisap, gejalanya dapat menjadi jelas
sejak masa bayi awal sampai sekitar usia 5 tahun, biasanya sesudah menyapih dari
ASI. Walaupun penambahan tinggi dan berat badan dipercepat dengan pengobatan,
ukuran ini tidak pernah sama dengan tinggi dan berat badan anak normal.4

Ciri dari Kwashiorkor menurut antara lain:4,10

- Perubahan mental sampai apatis


- Sering dijumpai Edema
- Atrofi otot
- Gangguan sistem gastrointestinal
- Perubahan rambut dan kulit
- Pembesaran hati
- Anemia

2.7 Pencegahan
Tindakan pencegahan terhadap marasmus dapat dilaksanakan dengan baik bila
penyebabnya diketahui. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan prasarana
kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi. Beberapa
diantaranya ialah:1,3

1. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi
yang paling baik untuk bayi.
2. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan bergizi dan berprotein serta
energi tinggi pada anak sejak umur 6 bulan ke atas
3. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan
dan kebersihan perorangan
4. Pemberian imunisasi.
5. Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu
kerap.
6. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat
merupakan usaha pencegahan jangka panjang.
7. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang
endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.
8. Meningkatkan hasil produksi pertanian agar persediaan makan mencukupi.
9. Memperbaiki infrastruktur pemasaran dan mensubsidi harga bahan makanan
10. Melakukan program transmigrasi ke daerah lain agar terjadi pemerataan
penduduk.

Pentingnya Deteksi Dan Intervensi Dini


Mengingat penyebabnya sangat kompleks, pengelolaan gizi buruk memerlukan
kerjasama yang komprehensif dari semua pihak. Tidak hanya dari dokter maupun
tenaga medis, namun juga pihak orang tua, keluarga, pemuka masyarakat maupun
agama dan pemerintah. Langkah awal pengelolaan gizi buruk adalah mengatasi
kegawatan yang ditimbulkannya, dilanjutkan dengan “frekuen feeding” ( pemberian
makan yang sering, pemantauan akseptabilitas diet ( penerimaan tubuh terhadap diet
yang diberikan), pengelolaan infeksi dan pemberian stimulasi. Perlunya pemberian
diet seimbang, cukup kalori dan protein serta pentingnya edukasi pemberian makan
yang benar sesuai umur anak. Pada daerah endemis gizi buruk, diperlukan tambahan
distribusi makanan yang memadai.1,5
Posyandu dan puskesmas sebagai ujung tombak dalam melakukan skrining
atau deteksi dini dan pelayanan pertama menjadi vital dalam pencegahan kasus gizi
buruk saat ini. Penggunaan kartu menuju sehat dan pemberian makanan tambahan di
posyandu perlu digalakkan lagi. Tindakan cepat pada balita yang 2x berturut-turut
tidak naik timbangan berat badannya untuk segera mendapat akses pelayanan dan
edukasi lebih lanjut, dapat menjadi sarana deteksi dan intervensi yang efektif.
Termasuk juga peningkatan cakupan imunisasi untuk menghindari penyakit yang
dapat dicegah, serta propaganda kebersihan personal maupun lingkungan. Pemuka
masyarakat maupun agama akan sangat efektif jika membantu dalam pemberian
edukasi pada masyarakat, terutama dalam menanggulangi kebiasaan atau mitos-mitos
yang salah pada pemberian makan pada anak.1,5
2.8 Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan pada penderita marasmus adalah pemberian diet tinggi kalori dan
tinggi protein serta mencegah kekambuhan. Penderita marasmus tanpa komplikasi
dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik,
sedangkan penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan
lain-lain perlu mendapat perawatan di rumah sakit. Penatalaksanaan penderita yang
dirawat di RS dibagi dalam dua fase.3,6,11
Pada fase initial, tujuan yan diharapkan adalah untuk menangani atau
mencegah hipoglikemia, hipotermi, dan dehidrasi. Tahap awal yaitu 24-48 jam per-
tama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamat-kan jiwa, antara lain
mengkoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan intravena.
Cairan yang diberikan ialah larutan Darrow-Glucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%.
Cairan diberikan sebanyak 200 ml/kg BB/hari. Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB
pada 4-8 jam pertama. Kemudian 140 ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam
berikutnya. 3,6,11
Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah dibawah 360 C. Pada
keadaan ini anak harus dihangatkan. Cara yang dapat dilakukan adalah ibu atau orang
dewasa lain mendekap anak di dadanya lalu ditutupi selimut (Metode Kanguru). Perlu
dijaga agar anak tetap dapat bernafas. 3,6,11
Semua anak, menurut guideline dari WHO, diberikan antibiotic untuk
mencegah komplikasi yang berupa infeksi, namun pemberian antibiotic yang spesifik
tergantung dari diagnosis, keparahan, dan keadaan klinis dari anak tersebut. Pada
anak diatas 2 tahun diberikan obat anti parasite sesuai dari protocol. 3,6,11
Tahap kedua yaitu penyesuaian. Sebagian besar penderita tidak memerlukan
koreksi cairan dan elektrolit, sehingga dapat langsung dimulai dengan penyesuaian
terhadap pemberian makanan. Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan
sebanyak 30-60 kalori/kg BB/hari atau rata-rata 50 kalori/kg BB/hari, dengan protein
1-1,5 g/kg BB/hari. Jumlah ini dinaikkan secara berangsur-angsur tiap 1-2 hari
sehingga mencapai 150-175 kalori/kg BB/hari dengan protein 3-5 g/kg BB/hari.
Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet tinggi kalori tinggi protein ini lebih
kurang 7-10 hari. Cairan diberikan sebanyak 150 ml/kg BB/hari. Formula yang biasa
diberikan dalam tahap ini adalah F-75 yang mengandung 75kcal/100ml dan 0,9
protein/100ml) yang diberika terus menerus setiap 2 jam.3,6,11
Pemberian vitamin dan mineral yaitu vitamin A diberikan sebanyak 200.000.
i.u peroral atau 100.000 i.u im pada hari pertama kemudian pada hari ke dua diberikan
200.000 i.u. oral. Vitamin A diberikan tanpa melihat ada/tidaknya gejala defisiensi
Vitamin A untuk mencegah terjadinya xeroftalmia karena pada kasus ini kadar
vitamin A serum sangat rendah. Mineral yang perlu ditambahkan ialah K, sebanyak 1-
2 Meq/kg BB/hari/IV atau dalam bentuk preparat oral 75-100 mg/kg BB/hari dan Mg,
berupa MgS04 50% 0,25 ml/kg BB/hari atau magnesium oral 30 mg/kg BB/hari.
Dapat diberikan 1 ml vitamin B (IC) dan 1 ml vit. C (IM), selanjutnya diberikan
preparat oral atau dengan diet. 3,6,11
Fase rehabilitasi dimulai saat nafsu makan anak meningkat dan infeksi yang
ada berhasil ditangani. Formula F-75 diganti menjadi F-100 yang dikurangi kadar
gulanya untuk mengurangi osmolaritasnya. Jenis makanan yang memenuhi syarat
untuk penderita malnutrisi berat ialah susu dan diberikan bergantian dengan F-100.
Dalam pemilihan jenis makanan perlu diperhatikan berat badan penderita. Dianjurkan
untuk memakai pedoman BB kurang dari 7 kg diberikan makanan untuk bayi dengan
makanan utama ialah susu formula atau susu yang dimodifikasi, secara bertahap
ditambahkan makanan lumat dan makanan lunak. Penderita dengan BB di atas 7 kg
diberikan makanan untuk anak di atas 1 tahun, dalam bentuk makanan cair kemudian
makanan lunak dan makanan padat.1,7,11
Tabel 1. Sepuluh langkah tatalaksana gizi buruk1,7

No Tindakan Pelayanan Fase Stabilisasi Fase Rehabilitasi Fase Tindak


lanjut *)
H1-2H3-7 Minggu ke 3 - 6 Minggu ke 7 -
26
1. Mencegah dan mengatasi
hipoglikemia
2. Mencegah dan mengatasi
hipotermia
3. Mencegah dan mengatasi
dehidrasi
4. Memperbaiki gangguan
keseimbangan elektrolit
5. Mengobati infeksi
6. Memperbaiki zat gizi mikro Tanpa Fe Dengan Fe
7. Memberikan makanan
untuk stabilisasi dan
transisi
8. Memberikan makanan
untuk tumbuh kejar
9. Memberikan stimulasi
tumbuh kembang
10. Mempersiapkan untuk
tindak lanjut di rumah

*) Pada fase tindak lanjut dapat dilakukan di rumah, dimana anak secara berkala
(1minggu/ kali) berobat jalan ke Puskesmas atau Rumah Sakit.

Pada pasien dengan gizi buruk dibagi dalam 2 fase yang harus dilalui yaitu
fase stabilisasi (Hari 1-7), fase transisi (Hari 8 – 14), fase rehabilitasi (Minggu ke 3 –
6), ditambah fase tindak lanjut (Minggu ke 7 – 26) seperti tampak pada tabel diatas.1,7

2.9 Komplikasi
Keadaan malnutrisi marasmus dapat menyebabkan anak mendapatkan penyakit
penyerta yang terkadang tidak ringan apabila penatalaksanaan marasmus tidak segera
dilakukan. Beberapa keadaan tersebut ialah:4,6
1. Noma
Noma merupakan penyakit yang kadang-kadang menyertai malnutrisi tipe
marasmus-kwashiokor. Noma atau stomatitis gangraenosa merupakan
pembusukan mukosa mulut yang bersifat progresif sehingga dapat menembus
pipi. Noma terjadi pada malnutrisi berat karena adanya penurunan daya tahan
tubuh. Penyakit ini mempunyai bau yang khas dan tercium dari jarak beberapa
meter. Noma dapat sembuh tetapi menimbulkan bekas luka yang tidak dapat
hilang seperti lenyapnya hidung atau tidak dapat menutupnya mata karena
proses fibrosis.
2. Xeroftalmia
Penyakit ini sering ditemukan pada malnutrisi yang berat terutama pada tipe
marasmus-kwashiokor. Pada kasus malnutrisi ini vitamin A serum sangat
rendah sehingga dapat menyebabkan kebutaan. Oleh sebab itu setiap anak
dengan malnutrisi sebaiknya diberikan vitamin A baik secara parenteral
maupun oral, ditambah dengan diet yang cukup mengandung vitamin A.

3. Tuberkulosis
Pada anak dengan keadaan malnutrisi berat, akan terjadi penurunan kekebalan
tubuh yang akan berdampak mudahnya terinfeksi kuman. Salah satunya
adalah mudahnya anak dengan malnutrisi berat terinfeksi kuman
mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan penyakit tuberkulosis.

4. Sirosis hepatis
Sirosis hepatis terjadi karena timbulnya perlemakan dan penimbunan lemak
pada saluran portal hingga seluruh parenkim hepar tertimbun lemak.
Penimbunan lemak ini juga disertai adanya infeksi pada hepar seperti hepatitis
yang menimbulkan penyakit sirosis hepatis pada anak dengan malnutrisi berat.

5. Hipotermia
Hipotermia merupakan komplikasi serius pada malnutrisi berat tipe marasmus.
Hipotermia terjadi karena tubuh tidak menghasilkan energi yang akan diubah
menjadi energi panas sesuai yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain itu lemak
subkutan yang tipis bahkan menghilang akan menyebabkan suhu lingkungan
sangat mempengaruhi suhu tubuh penderita.

6. Hipoglikemia
Hipoglikemia dapat terjadi pada hari-hari pertama perawatan anak dengan
malnutrisi berat. Kadar gula darah yang sangat rendah ini sangat
mempengaruhi tingkat kesadaran anak dengan malnutrisi berat sehingga dapat
membahayakan penderitanya.
7. Infeksi traktus urinarius
Infeksi traktus urinarius merupakan infeksi yang sering terjadi pada anak
bergantung kepada tingkat kekebalan tubuh anak. Anak dengan malnutrisi
berat mempunyai daya tahan tubuh yang sangat menurun sehingga dapat
mempermudah terjadinya infeksi tersebut.

8. Penurunan kecerdasan
Pada anak dengan malnutrisi berat, akan terjadi penurunan perkembangan
organ tubuhnya. Organ penting yang paling terkena pengaruh salah satunya
ialah otak. Otak akan terhambat perkembangannya yang diakibatkan karena
kurangnya asupan nutrisi untuk pembentukan sel-sel neuron otak. Keadaan ini
akan berpengaruh pada kecerdasan seorang anak yang membuat fungsi afektif
dan kognitif menurun, terutama dalam hal daya tangkap, analisa, dan memori.

2.10 Prognosis
Prognosis pada penyakit ini buruk karena banyak menyebabkan kematian dari
penderitanya akibat infeksi yang menyertai penyakit tersebut, tetapi prognosisnya
dapat dikatakan baik apabila malnutrisi tipe marasmus ini ditangani secara cepat dan
tepat. Kematian dapat dihindarkan apabila dehidrasi berat dan penyakit infeksi kronis
lain seperti tuberkulosis atau hepatitis yang menyebabkan terjadinya sirosis hepatis
dapat dihindari. Pada anak yang mendapatkan malnutrisi pada usia yang lebih muda,
akan terjadi penurunan tingkat kecerdasan yang lebih besar dan irreversibel dibanding
dengan anak yang mendapat keadaan malnutrisi pada usia yang lebih dewasa. Hal ini
berbanding terbalik dengan psikomotor anak yang mendapat penanganan malnutrisi
lebih cepat menurut umurnya, anak yang lebih muda saat mendapat perbaikan
keadaan gizinya akan cenderung mendapatkan kesembuhan psikomotornya lebih
sempurna dibandingkan dengan anak yang lebih tua, sekalipun telah mendapatkan
penanganan yang sama. Hanya saja pertumbuhan dan perkembangan anak yang
pernah mengalami kondisi marasmus ini cenderung lebih lambat, terutama terlihat
jelas dalam hal pertumbuhan tinggi badan anak dan pertambahan berat anak,
walaupun jika dilihat secara ratio berat dan tinggi anak berada dalam batas yang
normal.1,4,
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Penyakit KEP atau Protein Energy Malnutrition (kekurangan energi dan protein)
merupakan salah satu penyakit gangguan gizi yang penting bagi negara-negara
tertinggal maupun negara berkembang seperti Indonesia dan lainnya. Prevalensi
tertinggi terdapat pada anak-anak dibawah umur lima tahun (balita), dan ibu yang
sedang mengandung atau menyusui. Pada kondisi ini ditemukan berbagai macam
keadaan patologis disebabkan oleh kekurangan energi maupun protein dalam tingkat
yang bermacam-macam. Akibat dari kondisi tersebut, ditemukan malnutrisi dari
derajat yang ringan hingga berat. Pada keadaan yang sangat ringan tidak ditemukan
kelainan dan hanya terdapat pertumbuhan yang kurang sedangkan kelainan
biokimiawi dan gejala klinis tidak terlihat. Pada keadaan yang berat ditemukan dua
tipe malnutrisi, yaitu marasmus dan kwashiokor, serta diantara keduanya terdapat
suatu keadaan dimana ditemukan percampuran ciri-ciri kedua tipe malnutrisi tersebut
yang dinamakan marasmus-kwashiokor. Masing-masing dari tipe itu mempunyai
gejala-gejala klinis yang khas. Pada semua derajat maupun tipe malnutrisi ini
mempunyai persamaan bahwa adanya gangguan pertumbuhan pada penderitanya.
Untuk membedakan tipe ataupun derajat beratnyamalnutrisi terdapat beberapa cara
maupun klasifikasi, salah satunya menurut Gomez atau Wellcome trust dan yang
biasa dipakai sehari-hari menurut perhitungan antropometri. Banyak faktor yang
mempengaruhi terjadinya malnutrisi pada anak, terutama adalah peranan diet sehari-
hari yang kurang mencukupi kebutuhan gizi seimbang anak pada masa usia
pertumbuhan, adanya penyakit penyerta yang memperburuk keadaan gizi serta
peranan sosial ekonomi yang mempunyai peranan tinggi terutama kemiskinan dalam
hal mempengaruhi status gizi seseorang. Gejala klinis yang timbul pada kekurangan
gizi tipe marasmus mempunyai gambaran yang khas dalam hal membedakannya
dengan kekurangan gizi tipe kwashiokor. Pada tipe marasmus, gejala klinis yang lebih
menonjol bahwa penderita terlihat wajahnya seperti orang tua dan anak sangat kurus
karena hilangnya sebagian besar lemak dan atrofi dari otot-ototnya. Sedangkan pada
tipe kwashiokor, gejala klinis yang lebih terlihat adalah penampilannya yang gemuk
disertai adanya edema ringan maupun berat dan adanya ascites dikarenakan
kekurangan protein, disamping itu juga terlihat perubahan warna rambut menjadi
merah seperti rambut pada jagung serta mudah dicabut. Pengobatan marasmus adalah
dengan pemberian diet tinggi protein, sedangkan pada malnutrisi tipe kwashiokor
terutama dengan pemberian diet tinggi protein disertai pemberian cairan untuk
menanggulangi dehidrasi jika ada. Selain itu juga diberikan vitamin A untuk
mencegah terjadinya kebutaan pada matanya dan pemberian mineral lain untuk
membantu meningkatkan gizi penderita. Penyakit ini mempunyai komplikasi dari
yang ringan seperti infeksi traktus urinarius hingga yang berat seperti tuberkulosis.
Penatalaksanaannya dilakukan secara bersama-sama dengan memperbaiki keadaan
gizinya. Walaupun prognosisnya terlihat buruk tetapi dengan penganganan yang cepat
dan tepat dapat menghindarkan penderitanya dari kematian.1,2,7,9

3.2 Saran
Penyakit marasmus ini merupakan penyakit kekurangan gizi yang banyak sekali
terjadi di Indonesia dan terutama anak-anaklah yang banyak terkena kondisi gizi
buruk atau malnutrisi ini. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut maka akan banyak
sekali anak indonesia yang terhambat perkembangan dan pertumbuhannya dalam
menatap masa depannya, sehingga diperlukan usaha yang ekstra untuk
menanggulangi permasalahan tersebut, diantaranya adalah:4,7,9

1. Anak-anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan sebaiknya


mendapatkan asupan gizi yang adekuat sesuai “gizi seimbang”, yaitu
kecukupan karbohidrat, lemak, protein, serat, vitamin, mineral dan terutama
air.
2. Orang tua harus lebih memperhatikan asupan anak-anaknya apakah makanan
yang diberikan sudah mencukupi nutrisi yang dibutuhkan dalam masa tumbuh
kembangnya, selain itu orang tua sebaiknya memeriksakan anak-anaknya ke
pusat kesehatan terdekat seperti posyandu atau puskesmas secara rutin untuk
memantau tumbuh kembang anak-anaknya.
3. Pemerintah bersama-sama dengan masyarakat melalui posyandu dan
puskesmas turut berperan serta aktif sebagai basis terdepan dalam usaha
meningkatkan taraf hidup masyarakat terutama anak-anak dalam menuju
indonesia sehat di masa yang akan datang.
4. Pemerintah menggalakan kembali program Keluarga Berencana melalui
puskesmas-puskesmas yang tersebar di kota maupun di daerah tertinggal
untuk menekan tingkat pertumbuhan penduduk sehingga dengan rendahnya
pertumbuhan penduduk maka akan meningkatkan tingkat kesejahteraan
individu dan keluarga terutama anak-anak. Sehingga kasus gizi buruk pada
anak-anak dapat ditekan serendah-rendahnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Departement of Child and Adolescent Health and Development. Malnutition


and Severe Malnutrition in Management of The Child With a Serious
Infection or Severe Malnutrition, World Health Organization, 2018 : 80-91.
2. Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Update Status Gizi Balita di Indonesia,
2018 .
3. Pudjiadi Solihin. Penyakit KEP (Kurang Energi dan Protein) dari Ilmu Gizi
Klinis pada Anak edisi keempat, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta, 2005 : 95-137
4. Alamsyah D, Mexitalia M, Margawati A, Hadisaputro S, Setyawan H.
Beberapa Faktor Risiko Gizi Kurang dan Gizi Buruk pada Balita 12-59
Bulan
(Studi Kasus di Kota Pontianak). Jurnal Epidemiologi Kesehatan
Komunitas 2 (1), 2017, 54-62
5. Nurhayati, soetjiningsih, Suandi IKG. Relationship Between Protein Energy
Malnutrition and Social Maturity in Children Aged 1-2 Years in Paediatrica
Indonesiana, 42th volume, December, 2012 : 261-266
6. Brunser Oscar. Protein Energy Malnutrition : Marasmus in Clinical Nutrition
of the Young Child, Raven Press, New York, 1985 : 121-154
7. 1. Behrman RE, RM Kliegman, HB Jenson. Food Insecurity, Hunger, and
Undernutrition in Nelson Textbook of Pediatric 18th edition, 2004 : 225-232
8. Susanto JC, Mexitalia, Nasar SS. Malnutrisi akut berat dan terapi nutrisi
berbasis komunitas. Dalam: Sjarif DR, Lestari ED, Mexitalia M, Nasar SS,
penyunting. Buku ajar nutrisi dan penyakit metabolik. Jilid I. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI; 2011.
9. Departemen Kesehatan RI. Petunjuk teknis tatalaksana anak gizi buruk: buku
II. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2012.
10. Hay WW, MJ Levin, JM sondheimer, RR Deterding. Normal Childhood
Nutrition and its Disorders in Current Diagnosis & Treatment in Pediatrics
18th edition, 2005 : 283-311
11. Bernal, C.,Velasquez, C., Alcaraz &G., Botero, J. 2007. Treatment of Severe
Malnutrition in Children: Experience in Implementing the World Health
Organization Guidelines in Turbo. Diakses melalui :
Colombia.http://journals.lww.com.

12. Reginald, A., Annan & Florence, M. 2011. Treatment of severe acute
malnutrition in HIV-infected children. Diakses melalui: http://www.who.int.