Anda di halaman 1dari 26

RESUME

PENELITIAN PENDIDIKAN II

“DESAIN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF”

OLEH

KELOMPOK 4 :

1. DWIKI ANPARIZA
2. FANI FADHILA
3. HUSNI WULANDARI
4. KONIKA SABITA ALHAQI

17 BKT 09

DOSEN PENGAMPU :

NUR FADILLAH , S.Pd , M.Pd

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian adalah setiap usaha untuk mencari pengetahuan (ilmiah) baru menurut
prosedur yang sistematis dan terkontrol melalui data empiris (pengalaman), yang artinya
dapat beberapa kali diuji dengan hasil yang sama. Penelitian sangat bermanfaat bagi
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang pada gilirannya akan sangat berguna bagi
kesejahteraan masyrakat dan kemajuan bangsa. IPTEK membantu untuk menjelaskan,
meramalkan dan mengendalikan gejala yang ada di sekeliling kita.
Penelitian terus dikembangkan pemerintah untuk menemukan pemecahan masalah
dan pengelolaan sumber daya yang ada. Untuk itu, penting kiranya masyarakat mempelajari
bagaimana cara menyusun sebuah penelitian yang baik dan benar. Penulis ingin menjabarkan
secara lebih rinci mengenai metodologi penelitian sebagai langkah awal mengenal dan
mempelajari penelitian. Hal ini difokuskan agar masyarakat mengerti bagaimana metodologi
penelitian itu sendiri, yang penulis ambil dari beberapa literatur dan pendapat ahli
mengenainya utamanya mengenai jenis dan desain penelitian. Kedua hal tersebut secara lebih
terperinci akan dijelaskan pada bab pembahasan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja jenis – jenis penelitian ?
2. Bagaimanakah karakteristik penelitian kuantitatif dan kualitatif ?
3. Bagaimanakah yang dimaksud dengan desain penelitian ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui jenis – jenis penelitian.
2. Untuk mengetahui karakteristik penelitian kuantitatif dan kualitatif .
3. Untuk mengetahui tentang desain penelitian.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. JENIS-JENIS PENELITIAN

Penelitian akademik merupakan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa dalam


membuat skripsi, tesis dan disertasi. Penelitian ini merupakan sarana edukatif. Penelitian
profesional merupakan penelitian yang dilakukan oleh orang yang berprofesi sebagai peneliti,
misalnya Dosen Perguruan Tinggi, Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan
lain sebagainya. Sedangkan penelitian institusional adalah penelitian yang bertujuan
mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk kepentingan kelembagaan. Hasil
penelitian akan sangat berguna bagi pimpinan, manajer, direktur untuk pengambilan
keputusan.
Jenis penelitian dapat dikelompokkan menurut tujuan, pendekatan, tingkat eksplanasi
(level of explanation) dan analisis dan jenis data.

a. Penelitian Menurut Tujuan


Penelitian menurut tujuan dapat dikelompokkan menjadi penelitian murni (pure
researh) dan penelitian terapan (applied research).
1. Penelitian Murni (pure research)
Yaitu penelitian yang hasil penemuannya untuk memperdalam atau mengembangkan
pemahaman terhadap suatu masalah tertentu. Tujuan utama dalam penelitian ini yaitu
menghasilkan pengetahuan dan pemahaman terhadap fenomena yang terjadi dan
membangun teori-teori berdasarkan hasil-hasil penelitian. Contoh: Eksperimen GE
berkaitan dengan penerapan energi listrik, bagaimana memperbaiki keefektifitasan
sistem informasi sebuah organisasi dan lain sebagainya.
2. Penelitian Terapan (applied research)
Yaitu penelitian yang hasil penemuannya digunakan untuk memecahkan masalah
dalam suatu organisasi. Misalkan sebuah perusahaan menghadapi tiga alternatif
strategi untuk memperbaiki produktifitasnya, yaitu:
(1) Continuous improvement,
(2) Fokus hanya terhadap pengembangan produk dan

3
(3) Secara simultan meraih keduanya. Strategi mana yang paling sesuai dengan
kondisi perusahaan? Mengingat kapabilitas dan sumberdaya yang dimiliki perusahaan
tersebut.

b. Penelitian Menurut Metode


` 1. Penelitian Survey
Yaitu penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang
dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut sehingga
ditemukan kejadian-kejadian relatif, kontribusi dan hubungan-hubungan antar
variabel sosiologis mauun psikologis Penelitian survey umumnya dilakukan untuk
mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam. Contohnya:
kualitas SDM masyarakat Indonesia, pengaruh anggaran pendidikan terhadap kuaitas
SDM negara dan lain sebagainya.

2. Penelitian Ex Post Facto


Yaitu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan
kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat
menyebabkan kejadian tersebut. Contoh: penelitian untuk mengungkap sebab-sebab
terjadinya kebakaran di gedung suatu lembaga pemerintah, penelitian untuk
mengungkap sebab-sebab terjadinya kerusuhan di suatu daerah dan lain sebagainya.

3. Penelitian Eksperimen
Yaitu penelitian dengan menggunakan pendekatan eksperimen. Adalah suatu
penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel yang
lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat. Penelitian eksperimen ini pada
umumnya dilakukan pada laboratorium. Contoh: Penelitian terhadap pengaruh mobil
berpenumpang tiga terhadap kemacetan lalu lintas dan lain sebagainya.

4. Penelitian Naturalistik.
Sering disebut dengan metode kualitatif, yaitu penelitian yang digunakan untuk
meneliti pada kondisi objek alamiah (sebagai lawannya adalah penelitian
eksperimen). Hasil penelitian ini lebih menekankan makna daripada generalisasi.
Contoh: penelitian untuk mengungkapkan makna upacara ritual dari kelompok
masyarakat tertentu.

4
5. Penelitian Kebijaksanaan (Policy Research)
Yaitu suatu proses penelitian yang dilakukan pada, atau analisis terhadap masalah-
masalah sosial yang mendasar, sehingga temnuannya dapat direkomendasikan kepada
pembuat keoutusan untuk bertindak secara praktis dalam menyelesaikan masalah.
Policy research sangat relevan bagi prerencana dan perencanaan. Contoh: penelitian
untuk membuat undang-undang atau oeraturan tertentu.

6. Penelitian Tindakan (Action Research)


Merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan metode kerja yang
paling efisien, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas lembaga akan
meningkat. Tujuan utamanya untuk mengubah situasi, perilaku dan organisasi.
Menurut Blum (Cohen Manion, 1980), penelitian tindakan sangat bermanfaat dalam
upaya peningkatan dan perbaikan. Contoh: penelitian untuk memperbaiki prosedur
dan metode kerja dalam pelayanan penyuluhan.

7. Penelitian Evaluasi
Yaitu penelitian yang menjelaskan fenomena yang merupakan bagian dari proses
pembuatan keputusan, yaitu untuk membandingkan suatu kejadian, kegiatan dan
produk dari standart yang telah ditetapkan. Penelitian ini digunakan untyuk mendapat
feed back dari suatu aktifitas. Menurut Kidder (1981) ada dua jenis [penelitian dalam
penelitian evaluasi, yaitu penelitian evaluasi formatif yang menekankan pada proses
dan penelitian evaluasi sumatif yang menekankan pada produk. Contoh penelitian
evaluasi formatif: penelitian untuk mengevaluasi proses pelayanan Ijin Mendirikan
Bangunan (IMB). Contoh penelitian evaluasi sumatif: penelitian hasil dari kebijakan
Keluarga Berencana (KB).

c. Penelitian Menurut Tingkat Eksplanasinya

Tingkat eksplanasi menurut David Kline (level of explanation) adalah tingkat


penjelasan, yang berarti bermaksud menjelaskan kedudukan variabel yang diteliti
serta hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain.

1. Penelitian Deskriptif

5
Yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik
satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan antara
satu variabel dengan variabel yang lain.[ Tujuannya untuk menggambarkan suatu
kondisi atau fenomena tertentu, tidak memilah-milah atau mencari faktor-faktor atau
variabel tertentu. Contoh: penelitian mengenai bagaimana kualitas SDM di Indonesia.

2. Penelitian Komparatif
Yaitu penelitian yang bersifat membandingkan. Tipe penelitian ini mirip
seperti penelitian Ex Post Factoyang berarti bahwa data dikumpulkan setelah semua
fenomena /kejadian yang diteliti berlangsung sehingga tidak ada yang dikontrol.
Bagaimanapun juga, dalam penelitian ini diawali mencatat perbedaan diantara dua
kelompok dan selanjutnya mencari kemungkinan penyebab, efek atau konsekuensi.
Contoh: penelitian perbedaan keuntungan antara BUMN dengan Perusahaan Swasta.

3. Penelitian Asosiatif/hubungan
Yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua
variabel atau lebih. Penelitian ini mempunyai tingkatan tertinggi bila dibandingkan
dengan penelitian deskriptif dan komparatif. Dengan penelitian ini maka akan dapat
dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan
mengontrol suatu gejala. Contoh: penelitian mengenai pengaruh kepemimpinan
terhadap disiplin kerja pegawai.

d. Penelitian Menurut Jenis Data dan Analisis


Jenis data dan analisisnya dalam penelitian dapat dikelompokkan menjadi tiga hal.
Yaitu:
1. Jenis Data Kuantitatif
Yaitu jenis data yang berbentuk angka atau kualitatif yang diangkakan, misal
dalam skala pengukuran. Data kuantitatif dibagi menjadi dua, yaitu data
diskrit/nominal (diperoleh dari hasil menghitung) dan data kontinum (data menurut
tingkatan dari hasil pengukuran).

2. Jenis Data Kualitatif


Yaitu jenis data yang berbentuk kata, kalimat, skema dan gambar.

6
3. Jenis Data Campuran
Yaitu jenis data yang berupa campuran antar data kualitatif dan kuantitatif.

B. KARAKTERISTIK PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

Penelitian kualitatif dan kuantitatif memiliki karakteristik masing-masing, di bawah ini akan
dibedakan karakteristik antara keduanya.

No. Metode Kuantitatif Metode Kualitatif


1. Desain Desain

1. Spesifik, jelas, rinci 1. Umum


2. Ditentukan secara mantap sejak 2. Fleksibel
awal 3. Berkembang,dan muncul
3. Menjadi pegangan langkah demi dalam proses penelitian
langkah

2. Tujuan Tujuan

1. Menunjukkan hubungan antar 1. Menemukan Pola Hubungan


variabel Yang Bersifat Interaktif
2. Mencari generalisasi yang 2. Menemukan Teori
mempunyai nilai prediktif 3. Menggambarkan Realitas
Yang Kompleks
4. Memperoleh Pemahaman
Makna

3. Teknik Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan Data

1. Kuesioner 1. Participant observation


2. Observasi dan wawancara 2. In depth interview
terstruktur 3. Dokumentasi
4. Triangulasi

7
4. D. Instrumen Penelitian D. Instrumen Penelitian

1. Test, angket, wawancara 1. Penelitian sebagai instrumen


terstruktur (human instrument)
2. Instrumen yang telah terstandar 2. Buku catatan, tape recorder,
camera, handycame, dan lain-
lain

5. Data Data

1. Kuantitatif 1. Deskriptif kualitatif


2. Hasil pengukuran variabel yang 2. Dokumen pribadi, catatan
dioperasionalkan dengan lapangan, ucapan, tindakan
menggunakan instrumen reponden, dokumen dan lain-
lain.

6. Sampel Sampel atau sumber data

1. Besar 1. Kecil
2. Representatif 2. Tidak representatif
3. Sedapat mungkin mungkin 3. Purposive, snowball
random 4. Berkembang selama proses
4. Ditentukan sejak awal penelitian

7. Analisis Analisis

1. Setelah selesai pengumpulan 1. Terus-menerus sejak awal


data sampai akhir penelitian
2. Deduktif 2. Induktif
3. Menggunakan statistik untuk 3. Mencari pola, model, tema,
menguji hipotesis teori

8. Hubungan dengan Responden Hubungan dengan Responden

1. Dibuat berjarak, bahkan sering 1. Empati, akrab supaya


tanpa kontak supaya obyektif memperoleh pemahaman yang

8
2. Kedudukan peneliti lebih tinggi mendalam.
dari responden 2. Kedudukan sama bahkan
sebagai guru, konsultan.
1. Jangka pendek sampai hipotesis
3. Jangka waktu lama, sampai
dapat dibuktikan
datanya jenuh, dapat
ditemukan hipotesis atau teori

9. Usulan Desain Usulan Desain

1. Luas dan rinci 1. Singkat, umum bersifat


2. Literatur yang berhubungan sementara
dengan masalah, dan variabel 2. Literatur yang digunakan
yang diteliti bersifat sementara, tidak
3. Prosedur yang spesifik dan rinci menjadi pegangan utama
langkah-langkahnya 3. prosedur bersifat umum,
4. Masalah dirumuskan dengan seperti akan merencanakan
spesifik dan jelas tour atau topik
5. Hipotesis dirumuskan dengan 4. Masalah bersifat sementara dan
jelas akan ditemukan setelah studi
6. Ditulis secara rinci dan jelas pendahuluan
sebelum terjun ke lapangan 5. Tidak dirumuskan, karena
justru akan menemukan
hipotesis
6. Fokus penelitian ditetapkan
setelah diperoleh data awal
dari lapangan

10. Kapan penelitian dianggap selesai? Kapan penelitian dianggap selesai?

Setelah semua kegiatan yang Setelah tidak ada data yang dianggap
direncanakan dapat diselesaikan baru atau jenuh

11. Kepercayaan terhadap hasil Kepercayaan terhadap hasil


Penelitian Penelitian

9
Pengujian validitas dan reliabilitas Pengujian kredibilitas, depenabilitas,
instrumen. proses dan hasil penelitian.

C. DESAIN PENELITIAN
a. Pengertian Desain Penelitian

Sekaran (2003) mengungkapkan pengertian desain penelitian sebagai suatu rencana


penelaahan atau penelitian secara ilmiah dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian atau
identifikasi masalah. Sebagaimana halnya sebuah rencana atau rancangan, maka desain
penelitian yang dibuat oleh seorang peneliti dapat merupakan pilihan-pilihan yang
menentukan kegiatan penelitian tersebut. Misalkan, peneliti dalam merencanakan sebuah
penelitian dapat saja mempunyai rancangan dengan komposisi sebagai berikut: jenis
penelitiannya survey, metode pengambilan datanya wawancara, alat analisisnya chi-square.
Atau mempunyai rancangan dengan komposisi sebagai berikut: jenis penelitiannhya
eksperimental, metode pengambilan datanya menggunakan kuesioner.
Beberapa hal yang biasanya dikemukanan dalam desain penelitian, dan satu dengan
lainnya merupakan komposisi yang berkaitan diantaranya adalah: tujuan penelitian, unit
analisis, fokus analisis, metode pengumpulan data, dimensi waktu dan kausalitas atau non
kausalitas dan lain sebagainya. Desain artinya rencana, dalam Kamus Ilmiah Populer
disebutkan Desain Rancangan (model) tetapı apabila dikaji lebih lanjut kata itu dapat berarti
pula pola, potongan, bentuk model, tujuan dan maksud (Echols dan Hassan Shadily, 1976
177). Sedangkan Lincoln dan Guba (1985 226) mendefinisikan rancangan penelitian sebagai
usaha merencanakan kemungkinan-kemungkinan tertentu secara luas tanpa menunjukkan
secara pasti apa yang akan dikerjakan dalam hubungan dengan unsur masing-masing.
Desain penelitian menurut Mc Millan dalam Ibnu Hadjar (1999 102) adalah rencana
dan struktur penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti empiris dalam
menjawab pertanyaan penelitian.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan
dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam pengertian yang lebih sempit, desain
penelitian hanya mengenai pengumpulan dan analisis data saja Dalam pengertian yang lebih
luas, desain penelitian mencakup proses-proses berikut :

a. Identifikasi dan pemilihan masalah penelitian

10
b. Pemilihan kerangka konseptual untuk masalah penelitian serta hubungan-hubungan
dengan penelitian sebelumnya
c. Mempormulasikan masalah penelitan termasuk membuat spesifikası tujuan. Luas
jangkau (scope), dan hupotesis untuk diuji.
d. Membangurn penyelidikan atau percobaan
e. Memilih serta memberi defevis terhadap pengukuran variable-variabel
f. Memilih prosedur dan teknik sampling yang digunakan
g. Menyusun alat serta teknik untuk mengumpulkan data
h. Membuat coding, serta mengadakan editing dan prosessing data
i. Menganalisis data serta pemilihan prosedur statistik untuk mengadakan generalisası
serta inferensı statistic.
j. Pelaporan hasil penelitian, termasuk peroses penelitian, diskusı serta interpretasi data,
generalisası, kekurangan kekurangan dalam penemuan, serta menganjurkan beberapa
saran-saran dan kerja penelitian yang akan datang .

Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan
pelaksanaan penelitian (Suchman 1967 307), dalam pengertian yang lebih sempit, desain
penelitian hanya mengenai pengumpulan dan analisis data saja. Namun dermikian desain
penelitian juga bermakna proses-proses penelitian yang dapat dibagı dalam dua kelompok
yaitu

(1) Perencanaan penelitian Proses perencanaan penelitian dumula dan dentifikast pemilihan
serta rumusan masalah, sampai dengan perumusan hipotesis serta kaitannya dengan teors dan
kepustakaan yang ada

(2) Pelaksanaan penelitian atau proses operasional penelitian

Dari berbagai pendapat yang telah dikemukakan oleh para peneliti mengenai
pengertian desain penelitian, maka dapat ditarik kesimpulkan bahwa definisı desain
penelitian adalah sebuah kerangka kerja atau rencana untuk melakukan studi yang akan
digunakan sebagai pedoman dalam mengumpulkan dan menganalisis data. Kegiatan
pengumpulan dan analisis data tersebut untuk menggalı penyelesaian sebuah permasalahan
yang muncul.

Rencana perlu dibuat agar pengumpulan data dapat dilaksanakan dengan efektif dan
efisien sehingga penelitian tersebut juga dapat membenkan hasıl yang memuaskan bagı

11
peneliti. Desain penelitian adalah strategi yang dipilih oleh peneliti untuk mengintegrasikan
secara menyeluruh komponen riset dengan cara logis dan sistematis untuk membahas dan
menganalisis apa yang menjadi fokus penelitian.

Desain penelitian yang sering digunakan baik dalam riset kualitatif maupun kuantitatif
meliputi desain penelitian eksperimental, survey atau cross-sectional, longitudinal, studi
kasus, dan komparatif. Kita bisa menerapkan desain riset mana yang paling sesuai diterapkan
dalam riset kualitatif atau kuantitatif yang kita gunakan.Dua pendekatan riset dasar yaitu
kualitatif dan kuantitatif bisa memiliki persamaan sekaligus perbedaan dalam hal desain
penelitian. Sebagai contoh, kita bisa mendesain penelitian kualitatif kita dengan desain
longitudinal. Kita juga bisa mendesain penelitian kuantitatif kita dengan desain longitudinal.

1. Desain Penelitian Berdasarkan Tujuan

Hal yang pertama yang harus ditetapkan oleh peneliti dalam merencanakan
penelitiannya adalah mentukan terlebih dahulu tujuan penelitiannya. Secara umum, tujuan
atau jenis penelitian dapat berupa exploratory, descriptive, explanatory. Sehingga hal
pertama yang harus ditetpakan oleh si peneliti adalah apakah dia akan melakukan penelitian
exploratory, descriptive atau explanatory.
Beberapa hal yang dapat dikemukakan sebagai ciri-ciri khusus ditetapkannya tujuan
penelitian eksplanatory, eksploratory, dan diskriptive adalah sebagai berikut:
1) Eksplanatory dilakukan ketika peneliti menghadapi hal-hal sebagai berikut:
a. Bertujuan menghubungkan atau menjelaskan antara dua variabel, misalkan
penelitian yang bertema “hubungan antara motivasi dengan loyalitas karyawan”.
b. Bertujuan membuktikan hipotesis atau menguji sebuah teori, misalkan menguji
teori motivasi Herzberg melalui tema penelitian “pengaruh gaji dan suasana kerja
terhadap motivasi”

2) Eksploratory dilakukan ketika peneliti menghadapi hal-hal sebagai berikut:


a. Tidak banyak informasi atau penelitian yang sama mengenai situasi yang hendak
ditelaah. Misalnya “pengaruh wanita karir terhadap anak-anak nakal”
b. Memerlukan in-depth interviewatau variabel yang diteliti belum dikenal luas. Karena
umumnya penelitian eksploratory adalah penelitian yang bertujuan mengembangkan
teori dan belum ada teori sebelumnya. Maka penelitian ini biasanya tidak ada pedoman
dalam menelaah variabel yang diteliti, sehingga memrlukan in-depth interview.
12
c. Cenderung tidak terstruktur, karena tujuannya adalah memunculkan hipotesis untuk
penelitian lebih lanjut.
d. Relatif lebih ketat dibandingkan deskriptif dan eksplanatory.

3) Deskriptif dilakukan ketika peneliti menghadapi hal-hal sebagai berikut:


a. Ketika peneliti hanya ingin menggambarkan satu fenomena saja.
b. Ketika peneliti tidak menguji teori atau hipotesis.
c. Cenderung tidak terstruktur karena tujuannya adalah hanya menggambarkan suatu
fenomena saja.

2. Desain Penelitian Berdasarkan Dimensi Waktu

Peneliti seringkali harus berhadapan dengan pilihan penelitian yang menyangkut


dimensi waktu. Misalkan ketika peneliti tersebut melakukan penelitian eksperimental. Dalam
penelitian eksperimental, peneliti umumnya melakukan pengukuran terhadap objek yang
sama lebih dari satu kali, oleh karenanya peneliti tersebut harus memperhatiakan dimensi
waktu yang terlibat dalam penelitiannya tersebut.
Penelitian yang melakukan pengukuran berulang pada waktu yang berbeda yang
dilakukan satu kali pengukuran saja dinamakan penelitian longitudinal, sedangkan penelitian
yang dilkukan satu kali pengukuran saja pada waktu yang sama dinamakan sebagai penelitian
cross section. Sehingga secara umum jika ditinjau dari dimensi waktu, maka dapat dikatakan
bahwa desain penelitian terbagi menjadi desain penelian longitudinal dan cross section.

3. Desain Penelitian Berdasarkan Kekuatan Efek Variabel Independen Terhadap


Variabel Dependen

Seorang peneliti dapan mendesain atau merencanakan penelitiannya dengan tujuan


untuk mendapatkan efek variabel independen terhadap variabel dependen sangat kuat atau
tidak kuat. Efek variabel independen terhadap variabel dependen bisa sangat kuat, ketika
peneliti mengontrol variabel-variabel lain yang secara teori dapat mempengaruhi variabel
dependen yang sedang diteliti.
Dalam penelitian perilaku umumnya variabel-variabel yang diteliti baik itu variabel
independen maupun dependen bergerak secara bebas seperti halnya meteor yang tidak
beraturan. Misalkan, seorang peneliti menelaah mengenai hubungan antara “kepuasan

13
konsumen terhadap loyalitas” ketika peneliti tersebut dapat membuktikan hubungan antara
kepuasan konsumen dengan loyalitas, maka dapat diperkirakan bahwa loyalitas yang terjadi
pada konsumen tersebut bukan hanya karena kepuasan saja, tetapi juga mungkin karena
kepercayaan, harga, jarak rumah dengan toko atau karena keramahan pemilik toko. Hanya
saja dalam penelitian tersebut yang ditelaah oleh penelaah hanya hubungan antara kepuasan
dengan loyalitas saja, variabel lain tidak ditelaah. Untuk hal tersebut peneliti dapat mendesain
suatu penelitian yang efek variabel independennya sangat kuat terhadap variabel
dependennya.

4. Desain Penelitian Berdasarkan Jenis Investigasi

Jenis investigasi adalah hal yang hendak dijelaskan oleh peneliti dalam sebuah
penelitian. Jenis investigasi dapan dibagi menjadi dua kategori, yaitu investigasi kausal dan
investigasi non kausal (Sekaran, 2003)
Penelitian yang beresain kausal adalah ketika peneliti bermaksud menjelaskan
penyebab suatu masalah, dan mempunyai ciri ketika penyebab dihilangkan maka masalah
dengan sendirinya akan terpecahkan. Penelitian yang berdesain non-kausal, (Sekaran, 2003)
mengungkaopkan penelitian ini sebagai penelitian korelasional. Yaitu penelitian yang
bermaksud menjelaskna beberapa variabel penting yang saling terkait dengan masalah.

5. Desain Penelitian Berdasarkan Cakupan Penelitian

Cakupan penelitian adalah menyangkut keluasan atau kedalaman peneliti dalam


menganalisis masalah yang diteliti. Terdapat dua jenis desain penelitian jika ditinjau dari
cakupan penelitian yaitu statistical studies dan case studies.
Suatu peneltian dianggap berdesain statistical studies yaitu peneliti melakukan
penelitian yang melebar tapi tidak terlalu mendalam, dalam penelitian ini peneliti berusaha
menangkap karakteristik sampel secara enferensial, dan hipotesis umumnya diuji secara
kuantitatif. Misalkan penelitian “pengaruh merokok terhadap kanker”, dikatakan berdesain
statistical studies jika dilakukan terhadap responden dengan berbagai macam kriteria,
misalkan respondenya adalah tukang sapu jalan, manajer, karyawan, mahasiswa, dan ibu-ibu
muda.
Penelitian case studies adalah penelitian yang lebih menekan pada kedalaman analisis
(full contextual analysis) terhadap beberapa kejadian (fewer event) atau kondisi dan

14
keterkaitan mengenai “pengaruh merokok terhadap kanker” diatas dilakukan pada mahasiswa
saja, dan dengan berbagai macam situasi yang dianalisis. Misalkan analisis dilakukan pada 30
orang mahasiswa, yang masing-masing dianalisis perilaku merokok mereka dari mulai
mahasiswa tersebut bangun tidur sampai mahasiswa tersebut tidur kembali.

6. Desain Penelitian Berdasarkan Lingkungan Penelitian

Bedasarkan lingkungan, penelitian dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu penelitian
yang dilakukan dilapangan dan penelitian yang dilakukan di dalam laboratorium.Penelitian
yang berdesain lingkungan lapangan adalah ketika peneliti melakukanya dalam kondisi yang
sebenarnya. Misalkan penelitian “pengaruh merokok terhadap kanker” dilakukan oleh
peneliti terhadap responden yang memang sehari-harinya merokok, dan dilakukan tanpa
mempengaruhi perokok terlebih dahulu, jadi dilakukan salam kondisi yang tidak sebenarnya
(manipulated). Misalkan dalam penelitian “pengaruh merokok terhadap kanker”, dilakukan
terhadap orang-orang yang merokok maupun yang tidak merokok, lalu dibandingkan
hasilnya, atau dilakukan didalam kondisi yang disengaja, misalkan dalam ruangan yang ber-
AC dan tidak ber-AC, lalu dibandingkan hasil merokok tersebut.

b. Tujuan Desain Penelitian


Ketertarikan terhadap suatu fenomena membawa manusia untuk berusaha memahami
dan mengetahui lebih dalam, terlebih lagi jika fenomena tersebut berkaitan dengan kehidupan
sehari-hari di dalam masyarakat. Untuk mewujudkan rasa ingin tahu nya itu muncul desain
penelitian yan nantinya akan membantu. Jonathan B Justice menjelaskan bahwa tujuan dari
desain penelitian adalah untuk mendefinisikan kerangka atau struktur dari sebuah
penyelidikan ke dalam masalah penelitian yang nantinya akan menghasilkan argumen yang
persuasif, valid, dan dapat dibuktikan serta berguna di mata peneliti.
Desain penelitian merupakan bentuk pemecahan masalah yang dibatasi, digunakan
untuk merumuskan cara serta merumuskan bagaimana menggunakan bahan yang tersedia
untuk menghasilkan beberapa produk/hasil yang diinginkan. Jika tidak ada desain penelitian,
peneliti akan menemukan kendala dalam melakukan penelitian dan tidak jarang penelitian
harus dilakukan berulang-ulang sehingga kerugian tidak hanya dalam segi efisiensi waktu
dan biaya tapi juga tenaga yang perlu dikeluarkan oleh peneliti. Namun dengan adanya
rancangan penelitian akan membuat peneliti dan apa yang diteliti menjadi lebih mudah dan
efisien.

15
Pentingnya desain penelitian bermanfaat dalam dua hal, yaitu :
1. Kualitas desain penelitian menentukan kualitas produk penelitian.
2. Kualitas Argumen yang dibangun dapat dilihat dari bagaiamana spesifiknya teori,
kerangka, pertanyaan penelitian metode dan desain yang dibuat oleh peneliti.

Tinjauan literatur merupakan salah tahap paling awal yang penting dalam desain
penelitian, menurut Jonathan literatur membantu para peneliti untuk memformulasikan
kerangka teori guna menganalisis topik-topik dan masalah-masalah, didasarkan pada
pemahaman tentang dimensi-dimensi dan variabel-variabel yang paling penting, dan
hubungan kausalitasnya kerangka teori akan membantu agar fokus pada eksplorasi dan
deskripsi dimensi-dimensi dan variabel-variabel yang paling penting. Jika tujuan penelitian
adalah untuk merancang cara memperbaiki beberapa masalah administrasi atau kebijakan,
maka kita perlu memahami apa yang menyebabkan masalah, dan apa yang harus diubah
untuk mengatasi masalah, serta apa konsekuensi yang terkait dengan masalah dan solusinya.
Tujuan kedua adalah untuk memahami apa yang sudah dilakukan oleh penelitian
empiris. Dengan ini kita akan memahami apa yang telah dilakukan dan mengambil pelajaran
yang berharga berkaitan dengan topik dan masalah yang diangkat yang menyangkut apakah
pertanyaan sudah ditanyakan dan mendapat jawaban. Kedua, penelitian sebelumnya dapat
diperiksa baik berupa jenis-jenis langkah operasional, data, metode analisis, dan interpretasi
yang digunakan, apakah sudah terbukti dan mampu menjawab pertanyaan tertentu dan
apakah data tersedia untuk memecahkan masalah penelitian tersebut.

c. Fungsi Desain Penelitian


Adapun fungsi desain penelitian menyangkut 2 hal yaitu menjawab penelitian dan
menguji (Cristensen, 2001):
 Pertama, masalah penelitian dapat dijawab apabila desain penelitiannya tepat guna.
Desain penelitian yang tepat guna menggunakan teknik analisis statistic yang tepat
untuk menguji hipotesis. Desain penelitian juga berguna untuk menguji kesimpulan
hasil penelitian.

 Kedua, desain penelitian menunjukkan kontrol terhadap variable sekunder atau


variable noneksperimental. Peneliti berusaha memaksimalkan varians sistematik dan
menimbulkan varians eror, misalnya membandingkan pengaruh metode pengajaran

16
ceramah dengan diskusi terhadap prestasi belajar siswa. Dengan membuat
perbandingan dua variasi variable bebas, peneliti berusaha memaksimalkan varians
sistematik. Selain itu,membuat pengukuran variable terikat seakurat mungkin. Peneliti
berusaha meminimalkan varians kesalahan.

d. Jenis Desain penelitian

1. Desain penelitian eksperimental

Desain eksperimental adalah desain riset yang diterapkan untuk penjajagan atau
memperoleh pengetahuan awal. Eksperimen dalam riset sosial tak jarang digunakan untuk
mengetahui aspek kausal atau penyebab terjadinya fenomena sosial. Sering pula, desain
eksperimen dilakukan sebagai landasan menerapkan program atau kebijakan. Contoh
sederhana penelitian eksperimental misalnya, peneliti ingin mengetahui efektifitas
penggunaan alarm rokok di ruang publik untuk mengurangi konsumsi rokok penduduk di
ruang publik. Beberapa ruang publik dipasang alam rokok dan beberapa yang lain dengan
karakteristik sama tidak dipasangi alarm rokok. Eksperimen ini akan menunjukkan hasil
seberapa efektif alarm rokok dapat mengurangi konsumsi rokok di ruang publik.

Dalam penelitian sosial kualitatif, desain eksperimental sangat jarang dilakukan. Hal
ini umumnya disebabkan oleh pertimbangan etis. Untuk melakukan eksperimen,
pemberitahuan pada individu atau kelompok yang diteliti bisa dilakukan di depan atau
disembunyikan. Dalam penelitian kualitatif, pemberitahuan yang dilakukan di depan akan
menghasilkan data yang bias. Jika disembunyikan cenderung dianggap tidak elok secara etis

Dalam penelitian kuantitatif, desain eksperimental lebih leluasa untuk dilakukan.


Peneliti sosial umumnya menerapkan desain eksperimen pada penelitian kuantitatif yang
dilakukan. Riset kuantitatif dapat digunakan untuk membandingkan kelompok yang
diperlakukan sebagai subjek eksperimen dan kontrol. Misal, eksperimen tentang konsumsi
vitamin C untuk meningkatkan daya tahan siswa. Sebagian siswa yang menjadi subjek
eksperimen diminta untuk mengonsumsi vitamin C, sebagaian lain yang menjadi kelompok
kontrol tidak. Hasilnya merupakan hasil eksperimen.

17
2. Desain penelitian survey

Riset survey disebut juga cross-sectional. Desain penelitian survey dilakukan dengan
tujuan untuk memperoleh informasi dari responden melalui sampel yang diteliti. Survey atau
cross-sectional bisa pula dilakukan dengan menerapkan konten analisis jika sampel yang
digunakan adalah dokumen. Sebagai contoh, penelitian sosial tentang pengaruh rokok
terhadap budaya konsumsi seseorang. Desain survey dapat diterapkan dalam penelitian
kualitatif dan kuantitatif.

Dalam penelitian kualitatif, desain survey bisa diterapkan ketika peneliti menerapkan
metode analisis wacana. Misalnya, penelitian tentang diskriminasi Islam di media massa.
Riset kualitatif dengan desain survey bisa diterapkan dengan metode analisis wacana untuk
mengetahui bagaimana citra Islam yang sampaikan oleh media massa tertentu. Survey dalam
penelitian ini dilakukan dengan cara memilih beberapa media massa yang menjadi sampel
dari keseluruhan populasi media massa .

Dalam penelitian kuantitatif,desain survey lebih lumrah diterapkan. Sering kali


persepsi yang umum kita dengar adalah desain survey merupakan bagian dari penelitian
kuantitatif. Hal ini karena kebanyakan riset kualitatif menggunakan survey sebagai metode
penelitiannya. Contoh, riset tentang tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden. Survey
didesain dalam rangka menjawab rumusan masalah yang disusun.

3. Desain penelitian longitudinal

Desain penelitian longitudinal pada umumnya menerapkan metode survey.


Perbedaannya adalah desain riset longitudinal dilakukan secara berkala dalam waktu yang
relatif lama dengan sampel yang sama. Riset longitudinal dilakukan untuk melihat tren atau
perkembangan suatu fenomena berdasarkan sampelnya. Contoh, penelitian tentang
karakteristik kekerasan pemuda di Ibu Kota Jakarta. Beberapa sampel disurvey. Secara
berkala, sampel yang sama disurvey kembali untuk dilihat perkembangannya.

Dalam penelitian kualitatif, desain penelitian longitudinal juga bisa dilakukan dengan
menerapkan metode studi kasus, mirip dengan desain survey. Jadi, bisa disebut pula riset
kualitatif yang menggunakan metode analisis wacana dengan desain longitudinal. Memang

18
tidak banyak riset macam ini. Peneliti yang melakukan penelitian ini secara berkala meneliti
dokumen sampel yang terbit dalam periode waktu tertentu.

Dalam penelitian kuantitatif, desain longitudinal lebih lumrah dilakukan. Penelitian


kuantitatif longitudinal dilakukan dengan waktu yang relatif lama, bisa bertahun-tahun
tergantung jangka waktu yang dipilih peneliti. Misalnya, penelitian tentang keterlibatan orang
tua dan teman pergaulan dalam mengurangi trauma anak korban bullying. Setiap tahun,
misalnya peneliti mendatangi orang tua dan teman bergaul anak yang sama sebagai partisipan
penelitian dan memeriksa kondisi korban apakah tramua yang diderita menurun.

4. Desain penelitian studi kasus

Desain penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengeksplorasi isu yang spesifik dan
kontekstual secara mendalam. Lingkup desain penelitian studi kasus sangat terbatas dan
hasilnya hampir selalu tidak bisa diaplikasikan pada konteks atau tempat yang lain. Misalnya,
penelitian tentang pola konsumsi fashion komunitas seni di Pacitan. Penelitian ini bisa
dilakukan dengan desain penelitian studi kasus.

Studi kasus sebagai desain penelitian kualitatif cukup sering dilakukan oleh peneliti
sosial. Salah satu metode yang kerap digunakan adalah etnografi. Desain studi kasus hampir
selalu menerapkan etnografi dengan wawancara mendalam dan observasi partisipatoris
sebagai teknik pengumpulan datanya. Fokus penelitian studi kasus sangat terbatas. Biasanya
peneliti hanya fokus pada satu isu, misalnya pola konsumsi fashion di kalangan seniman.
Maka hanya pola konsumsi fashionnya saja yang menjadi fokus penelitian.

Studi kasus sebagai desain penelitian juga dapat diadopsi oleh riset kuantitatif
meskipun cukup jarang. Penelitian kuantitatif dengan desain studi kasus umumnya
menerapkan metode survey dengan penggunaan kuesioner sebagai instrumen penelitian.
Misalnya penelitian tentang pola konsumsi fahion dikalangan seniman yang menggunakan
metode survey sebagai teknik pengumpulan datanya.

5. Desain penelitian komparatif

Desain penelitian ini diterapkan pada penelitian yang memiliki fokus pembahasan
lebih dari satu kasus. Di sini terlihat jelas perbedaannya dengan studi kasus. Penelitian
komparatif adalah perbandingan antara dua kasus atau lebih yang dijadikan fokus

19
penelitiannya. Misalnya penelitian tentang pembentukan negara merdeka antara Indonesia
dan Malaysia. Kasus yang diteliti di sini adalah proses kemerdekaan dua negara, yaitu
Indonesia dan Malaysia.

Desain penelitian komparatif bisa diterapkan dalam riset kualitatif. Sama seperti studi
kasus, metode yang sering digunakan adalah etnografi. Proses pengumpulan data umumnya
dilakukan dengan wawancara, observasi dan studi literatur. Studi komparatif lebih luas
cakupannya dari pada studi kasus. Peneliti pada akhirnya membandingkan antara kasus yang
satu dengan yang lain.

Desain penelitian komparatif juga bisa diterapkan dalam riset kuantitatif. Metode
survey adalah metode yang cukup sering digunakan. Survey yang diaplikasikan umumnya
berbentuk cross-cultural. Contoh riset dengan desain penelitian ini misalnya, tingkat
kesejahteraan guru di Indonesia dan Malaysia. Peneliti bisa melakukan survey kepada
sejumlah guru di dua negara tersebut yang dijadikan sampel penelitian.

e. Pelaksanaan Desain Penelitian

Desain pelaksanaan penelitian meliputi proses pembuatan percobaan ataupun


pengamatan serta memilih pengukuran-pengukuran variabel Memilih prosedur dan teknik
sampling, alat-alat untuk mengumpulkian data, kemudian membuat coding, termasuk juga
proses analisis data serta membuat pelaporan .Suchman (1967), dalam Moh Nazir,
menyebutkan desain penelitian diatas dapat digolongkan kepada empat macam dibawah ini

1. Desain sampel
2. Desain alat (instrumen)
3. Desain administrasi, dan
4. Desain analisis

Persyaratan Masing-Masing

 Desain sampel

Desain sampel yang akan digunakan dalam operasional penelitian amat tergantung

dan pandangan efisienssi.Dalam desain sampling ini temasuk :

1. Mendefinisikan populasi

20
2. Menentukan besarmya sampel

3. Menentukan sampel yang representatif

Definisi dani sampling sangat tergantung dari hipotesis. Dalam menentukan besaran
sampel, pemilihannya perlu dihubungkan dengan tujuan penelitian serta banyaknya variabel
yang ingin dikumpulkan . Jika metode penelitian yang dipilih adalah metode Eksperimental,
maka dalam masalah desain sampling, penekanan lebih diarahkan kepada pemilihan desain
percobaan yang cocok. Dalam pemilihan desain percobaan ini sipenelits selalu dituntut oleh
derajat akurası yang ingin dicapat

 Desain instrumen atau alat

` Yang dimaksud dengan alat di sini adalah alat untuk mengumpulkan data walau
metode penelitian apa saja yang digunakan, masalah desain terhadap alat utuk
mengumpulkan data sangat menentukan sekalı dalam pengujian hipotesi. Pemilihan alat
harus dievaluasıkan sebaik mungkin sehingga alat tersebut cocok dengan informasI yang
didinginkan untuk memperoleh data yang cukup realiable Kecuali dalam penelitian
percobaan maka alat yang digunakan dalam penelitian sosial (termasuk Pendidikan Pen)
sukar menjamin dapatnya validitas mutlak darı observasi data.

 Desain analisis

Secara ideal desain analisis sudah dikerjakan lebih dahulu sebelum pengumpulan data
dimulai .Jika desa dalam memformulasikan hipotesis sudah cukup baik, maka desain analisis
secara paralel dapat dikembangkan dari desain merumuskan hipotesis tersebut. Hipotesis
tersebut dianggap baik jika ia konsisten dengan analisis yang akan dibuat.

Dalam desain analisis maka diperlukan sekal alat-alat yang digunakan untuk
membantu analisis Penggunaan statistik yang tepat yang sesuai dengan keperluan analisis
harus dipilioh sebaik baiknya Penggunaan statistik sebagai alat analisis telah sangat
berkembang tetapı dalam analisis yang dilakukan, jangan dilupakan asumsi-asumsi dasar
yang ditempelkan pada penggunaan statistik tersebut, serta kearah mana inferensi tersebut
akan dibuat .

D. MENDESAIN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

21
Sebagai pelengkap dan secara ringkas pemakalah akan memuat beberapa hal yang berkaitan
dengan desain penelitian terhadap penelitian kuantitatif dan kualitatif. kemungkinan akan
dapat membantu dan memperluas wawasan kita.

1. DESAIN PENELITIAN KUANTITATIF

Pada rancangan desain kuantitatif dimulai dengan secara teknis membicarakan masing-
masing bagian Adapun susunan desainnya adalah sebagai berkut

a. JUDUL PENELITIAN
b. LATAR BELAKANG MASALAH
c. RUMUSAN MASALAH
d. TUJUAN PENELITIAN
e. MANFAAT PENELITIAN
f. TINJAUAN PUSTAKA
g. HIPOTESIS PENELITIAN
h. KONSEP PENELITIAN
i. PENENTUAN VARIABEL DAN INDIKATOR
j. PENGUKURAN
k. SUMBER DATA
l. METODE PENGUMPULAN DATA
m. RANCANGAN ANALISIS DAN METODE ANALISIS DATA
n. KESIMPULAN
o. PELAPORAN

2. DESAIN PENELITIAN KUALITATIF


a. JUDUL PENELITIAN
b. TUJUAN KEGUNAAN PENELITIAN, ANGGAPAN DASAR
c. KAJIAN LITERATUR
d. METODE PENELITIAN
e. SUMBER DATA

Contoh Desain Penelitian Kuantitatif


Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis
kuantitatif, yaitu penelitian yang menekankan analisisnya pada data numerical atau angka

22
yang diperoleh dengan metode statistik serta dilakukan pada penelitian inferensial atau dalam
rangka pengujian hipotesis sehingga diperoleh signifikansi hubungan antara variabel yang
diteliti. Sugiyono (2011) mengemukakan sebagai berikut:

Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan


pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu,
pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat
kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis.

Merujuk pada pendapat di atas, penelitian ini adalah suatu proses yang dimulai
dengan observasi berupa pengalaman pendahuluan terhadap fenomena-fenomena dalam
kinerja organisasi RS Pondok Indah dalam bentuk penghimpunan data awal. Selanjutnya
pengkajian teori dan formulasi kerangka teori, pengajuan hipotesis, analisis dan diakhiri
dengan kesimpulan. Berdasarkan pendekatan penelitian yang digunakan, maka desain
penelitian sebagai model konstelasi penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Desain Penelitian

Desain Penelitian Kuantitatif

Desain penelitian yang menjadi model konstelasi penelitian untuk pengukuran


pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat mencakup penjelasan sebagai berikut :

23
1. X1 adalah variabel bebas Gaya Kepemimpinan yang diposisikan sebagai variabel
antecedent.
2. X2 adalah variabel bebas Inovasi Manajemen Rantai Pasok yang juga diposisikan
sebagai variabel antecedent.
3. Y adalah variabel terikat Kualitas Pelayanan Kesehatan RS Pondok Indah yang
diposisikan sebagai variabel konsekuensi.
4. rYX1 adalah parameter struktural yang menjadi model pengukuran pengaruh X1
terhadap Y.
5. rYX2 adalah parameter struktural yang menjadi model pengukuran menunjukkan
pengaruh X2 terhadap Y.
6. rYX1X2 adalah parameter struktural yang menjadi model pengukuran pengaruh X1
dan X2 secara simultan terhadap Y.
7. E (epsilon) adalah faktor-faktor lain yang juga turut mempengaruhi Y tapi tidak
diteliti. Meskipun tidak diteliti namun dari hasil pengukuran statistik koefisien
determinasi (r2) kontribusi epsilon terhadap Y dapat diketahui, dan dapat dijadikan
nilai untuk memprediksi.

24
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Desain penelitian sebagai suatu rencana penelaahan atau penelitian secara ilmiah
dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian atau identifikasi masalah. Sebagaimana halnya
sebuah rencana atau rancangan, maka desain penelitian yang dibuat oleh seorang peneliti
dapat merupakan pilihan-pilihan yang menentukan kegiatan penelitian tersebut.

Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan


pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu,
pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat
kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis. Penelitian kualitatif
menggunakan desain penelitian studi kasus dalam arti penelitian difokuskan pada satu
fenomena saja yang dipilih dan ingin dipahami secara mendalam, dengan mengabaikan
fenomena-fenomena lainnya. Satu fenomena tersebut dapat berupa seorang pemimpin
sekolah atau pimpinan pendidikan, sekelompok siswa, suatu program, suatu proses, satu
penerapan kebijakan, atau satu konsep.

B. Saran

Desain penelitian yang benar oleh seorang peneliti akan dapat melakukan penelitian
dengan baik karena yang bersangkutan mempunyai pedoman dan arah yang jelas. Sehingga
peneliti harus mampu membuat rancangan dengan baik dan benar. Peneliti diharapkan
mampu mencari metode yang tepat bagi penelitiannya dan relesan dengarn penelitian yang
diteliti. Dalam pembuatan makalah ini masih diperlukan kritik dan saran yang membangun
dari para pembaca agar dalam penulisan dan isi makalah dapat menjadi lebih baik lagi.

25
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.

Margono, S. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Asdi Mahastya.

Sugiyono, 2016. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.

Syaodih, Nana. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Yusuf, A. Muri, 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan.
Jakarta: Paramedian Group.

26