Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia membutuhkan suplai oksigen secara terus menerus untuk proses
respirasi sel serta membuang kelebihan karbondioksida sebagai limbah beracun
dari proses tersebut. Pertukaran gas antara oksigen dengan karbondioksida
dilakukan agar proses respirasi sel terus berlangsung. Oksigen yang dibutuhkan
untuk proses respirasi sel ini berasal dari atmosfer, yang menyediakan kandungan
gas oksigen sebanyak 21% dari seluruh kebutuhan gas yang ada. Oksigen
merupakan kebutuhan dasar paling vital dalam kehidupan manusia. Kekurangan
oksigen akan menimbulkan dampak yang bermakna bagi tubuh, salah satunya
kematian. Oleh karenanya, berbagai upaya perlu selalu dilakukan untuk menjamin
agar kebutuhan dasar ini terpenuhi dengan baik.
Dalam pelaksanaannya, pemenuhan kebutuhan oksigenada dalam bidang
garapan perawat.Sehingga, seorang perawat harus paham dengan manifestasi
tingkat pemenuhan oksigen pada kliennya, serta mampu mengatasi berbagai
masalah yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan tersebut.
Dalam Laporan ini penulis mengambil diagnosa ketidakefektifan bersihan
jalan nafas karena rata-rata pasien di ruang Angsa RSUD Wangaya mengalami
gangguan ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Penulis memiliki harapan agar
materi ini dapat memiliki manfaat untuk kita semua khususnya perawat.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan oksigenisasi?
1.3 Tujuan
Tujuan Umum:
1. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien yang mengalami
gangguan oksigenasi.
Tujuan Khusus:

1
1. Mampu menyusun pengkajian asuhan keperawatan gangguan oksigenasi.
2. Mampu menentukan diagnosa keperawatan asuhan keperawatan gangguan
oksigenasi.
3. Mampu menyusun intervensi asuhan keperawatan gangguan oksigenasi.
4. Mampu menyusun implementasi asuhan keperawatan gangguan
oksigenasi.
5. Mampu mengidentifikasi evaluasi asuhan keperawatan gangguan
oksigenasi.
1.4 Manfaat
1 Menambah wawasan tentang kebutuhan dasar manusia.
2 Sebagai pedoman untuk melaksanakan tindakan lanjutan untuk klien yang
memiliki gangguan oksigenasi.
3 Sebagai sumber informasi tambahan untuk pembuatan asuhan keperawatan.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Tinjauan Teori Oksigenasi


2.1.1 Definisi
Oksigen merupakan kebutuhan dasar paling vital dalam kehidupan
manusia. Dalam tubuh, oksigen berperan penting dalam proses metebolisme sel.
Kekurangan oksigen akan menimbulkan dampak yang bermakna bagi tubuh, salah
satunya kematian. Karenanya, berbagai upaya perlu selalu dilakukan untuk
menjamin agar kebutuhan dasar ini dapat terpenuhi dengan baik.Dalam
pelaksaannya, pemenuhan kebutuhan dasar tersebut masuk ke dalam bidang
garapan perawat.Karenanya, setiap perawat harus paham dengan manifestasi
tingkat pemenuhan oksigen pada kliennya serta mampu mengatasi berbagai
masalah yang terkait denga pemenuhan kebutuhan tersebut.
Oksigenasi adalah proses penambahan O2 ke dalam system (kimia dan
fisika). Kebutuhan fisiologis oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia,
tidak adanya oksigen akan menyebabkan tubuh secara fungsional mengalami
kemunduran atau bahkan dapat menimbulkan kematian. Pemenuhan oksigen ini
tidak terlepas dari kondisi sistem pernafasan secara fungsional. Bila ada gangguan
pada salah satu sistem respirasi, maka kebutuhan oksigen akan mengalami
gangguan. Sering kali individu tidak menyadari terhadap pentingnya oksigen.
Proses pernafasan dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Banyak kondisi
yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan
oksigen, seperti adanya sumbatan pada saluran pernafasan. Pada kondisi inilah
individu akan merasakan pentingnya oksigen tersebut.
Oksigen merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat
dibutuhkan dalam proses metabolisme sel dan komponen yang sangat penting di
dalam memproduksi molekul Adedosin Trifosfat (ATP). ATP memberikan energi
yang diperlakukan oleh sel untuk melakukan keperluan sebagai aktivitas untuk
memelihara efektivitas segala fungi tubuh.

3
2.1.2 Anatomi-Fisiologi sistem pernafasan.
a. Struktur Sistem Pernafasan Atas
Sistem pernafasan atas terdiri atas:
1) Rongga Hidung
Rongga hidung merupakan jalan masuk oksigen untuk pernapasan
dan jalan untuk keluarnya karbondioksida dan uap air sistem
pernapasan. Di dalam rongga hidung terjadi proses penyaringan udara
oleh silia dan pelembab udara oleh lendir agar sesuai dengan suhu tubuh
kita. Bentuk dan struktur hidung menyerupai piramid atau kerucut
dengan alasnya pada prosesus palatinus osis maksilaris dan pars
horizontal osis palatum. Fungsi hidung dalam proses pernapasan
meliputi :
a. Udara dihangatkan, oleh permukaan konka dan septum nasalis
setelah melewati faring, suhu lebih kurang 36˚C.
b. Udara dilembabkan. Sejumlah besar udara yang melewati hidung
bila mencapai faring kelembapannya lebih kurang 75%
c. Kotoran disaring oleh bulu-bulu hidung. Partikel di rongga disaring
oleh rambut vestibular, lapisan mukosiliar, dan lisozim (protein
dalam air mata). Fungsi ini dinamakan fungsi air conditioning jalan
pernapasan atas. Kenaikan suhu tidak melebihi 2-3% dari suhu
tubuh. Uap air mencapai trakea bagian bawah bila seseorang
bernapas melalui tabung langsung masuk trakea. Pendingin dan
pengeringan berpengaruh pada bagian bawah paru sehingga mudah
terjadi infeksi paru.
d. Penciuman . pada pernapasan, biasa 5-10% udara pernapasan
melalui celah olfaktori. Dalam menghirup udara dengan keras, 20 %
udara pernapasan melalui celah olfaktori.

2) Faring

4
Faring berbentuk seperti tabung corong yang terletak di belakang
rongga hidung dan mulut.Kedudukannya tegak lurus antara basis
krani dan vertebrae servikalis VI.Faring berfungsi sebagai jalan
masuknya udara dan makanan.Selain itu faring juga berfungsi
sebagai ruang getar untuk menghasilkan suara. Lipatan-liapatan
vokal suara mempunyai elastisitas yang tinggi dan dapat
memproduksi suara yang dihasilkan oleh pita suara. Lipatan-lipatan
vokal memproduksi suara ,melalui jalan udara, glotis, serta lipatan
produksi gelombang suara. Faktor yang menentukan frekuensi
puncak bunyi dan produksi bergantung pada panjang dan ketegangan
regangan yang membangkitkan frekuensi dan getaran yang
diproduksi. Ketegangan dari pita suara dikontrol oleh otot kerangka
di bawah kontrol korteks.
Faring terbagi menjadi 3 bagian yaitu:
a) Nasofaring: faring yang terletak di belakang hidung mulai dari
dasar tenggorokan hingga dasar anak tekak atau uvula.
b) Orofaring: faring yang terletak dibelakang rongga mulut, yaitu
dari uvula hingga epiglotis.
c) Laringo faring: terletak di bagian belakang orofaring di ruas
vertebra servical ke enam. Laringofaring merupakan saluran
terakhir dari saluran pernapasan.
3) Laring
Laring terdapat diantara faring dan trakea.Dinding laring tersusun
dari sembilan buah tulang rawan.Salah satu tulang rawan tersusun
dari lempeng kartilago hialin yang menyatu dan membentuk
segitiga.Bagian ini disebut jakun. Di dalam laring terdapat epiglotis
dan pita suara.Epiglotis merupakan kartilago elastis yang berbentuk
sepertid aun.Epiglotis dapat membuka dan menutup. Pada saat
menelan makanan epiglotis menutup sehingga makanan tidak jatuh
ke tenggorokan tetapi menuju ke kerongkongan, begitu pula

5
sebaliknya. Pita suara merupakan selaput lendir yang berbentuk dua
pasang lipatan dan dapat bergetar menghasilkan suara.
b. Sistem Pernafasan bawah
1) Bronkhus
Terbagi menjadi bagian kanan dan kiri. Yaitu bronchus lobaris
kanan ( 3 lobus) dan bronchus lobaris kiri ( 2 lobus). Bronchus kanan
lebih pendek, lebih besar, dan cenderung lebih vertical daripada yang
kiri.Sehingga benda asing lebih mudah masuk ke dalam cabang sebelah
kanan daripada cabang bronchus sebelah kiri.Bronchus lobaris kanan
terbagi menjadi 10 bronkhus segmental dan bronchus lobaris kiri terbagi
menjadi 9 bronkhus segmental.Segmen ini kemudian terbagi lagi menjadi
subsegmen yang dikelillingi jaringan ikat yang memiliki arteri, limfatik,
dan saraf.
2) Bronkhiolus
Segmen bronkus bercabang menjadi bronkiolus yang mengandung
kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut
tidak terputus untuk melapisi bagian jalan napas.
3) Bronkhiolus Terminali
Membentuk percabangan yang tidak mempunyai kelenjar lendir
dan silia.
4) Bronkhiolus Respiratory
Yang kemudian akan menjadi bronkiolus respiratory yang dianggap
sebagai saluran transisional antara jalan napas konduksi dan jalan napas
pertukaran gas.
5) Duktus Alveolar dan Sakus Alveolar
Bronchus respiratory kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar
dan sakus alveolar.Yang kemudian menjadi alveoli.

6) Alveoli

6
Sebagai tempat pertukaran O2 dan CO2.terdapat sekitar 300 juta
yang jika bersatu akan membentuk satu lembar dengan luas 70 m².
Terbagi atas 3 tipe:
a) Sel – sel alveolar tipe I: adalah sel epitel pembentuk dinding.
b) Sel – sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik¬
dan mensekresi surfaktan.
c) Sel – sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel –
sel fagositosis.
7) Paru – paru
Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut.Terletak dalam
ronggga dada.Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang
berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar.Setiap aru mempunyai
apeks dan basis. Paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh
fisura interlobaris. Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus.Lobus
tersebut kemudian terbagi menjadi beberapa segmen.
8) Pleura
Merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan
elastic. Terbagi menjadi:
a) Pleura parietalis yaitu yang melapisi ronggga dada.
b) Pleura viseralis yaitu yang menyelubungi setiap paru.
Di antara pleura tersebut ada bagian rongga yang berisi cairan tipis pleura
yang berfungsi memudahkan kedua permukaan bergerak selama
pernapasan san mencegah pemisahan toraks dengan paru – paru.
c. Fisiologi Pernafasan
Sistem pernafasan bisa juga disebut sistem respirasi yang berarti
bernafas kembali.Sistem ini berperan menyediakan oksigen (O2) yang
diambil dari atmosferdan mengularkan karbondioksida dari sel-sel dalam
tubuh menuju ke udara bebas.
Sistem respirasi ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara
rongga pleura dan paru. Sistem saraf pusat memberikan dorongan ritmis

7
dari dalam untuk bernafas dan secara refleks merangsang otot
diafragmadan otot dada yang akan memberikan tenaga pendorong bagi
gerakan udara.
Proses pergerakan gas ke dalam dan ke luar paru dipengaruhi oleh
tekanan dan volume. Bervariasinya volume paru bergantung pada beberapa
keadaan seperti kehamilan, latiham, obesitas atau kondisi-kondisi
mengenai penyakit obstruktif dan restriktif. Faktor-faktor seperti jumlah
surfaktan,complains dan kelumpuhan dpat mempengaruhi tekanan dan
volume paru. Proses pernafasan terdiri dari 3 bagian yaitu :
1) Ventilasi yaitu proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke
dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer.
2) Difusi gas yaitu pertukaran antara oksigen di alveoli dengan kapiler
paru dan karbondioksida di kapiler alveoli.
3) Transportasi gas yaitu proses pendistribusian antara oksigen kapiler
ke jaringan tubuh dan karbondioksida jaringan tubuh ke kapiler.

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gangguan Pernafasan


a. Faktor predisposisi
1) Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum
diketahui cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit
alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit
alergi.Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena
penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus.Selain itu
hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
b. Faktor presipitasi
1) Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasancontoh: debu,
bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.

8
b) Ingestan, yang masuk melalui mulut, contoh: makanan dan
obat-obatan
c) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. Contoh:
perhiasan, logam, jam tangan,detergen dan sabun.
2) Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma.Atmosfir yang mendadak dingin merupakan
faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan
berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau,
musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga
dan debu.
3) Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma,
selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah
ada.Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita
asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk
menyelesaikan masalah pribadinya.Karena jika stressnya belum diatasi
maka gejala asmanya belum bisa diobati.
4) Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan
asma.Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja.Misalnya orang yang
bekerja dilaboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu
lintas.Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
5) Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktifitas jasmani atau olah raga yang berat. Lari cepat paling
mudah menimbulkan serangan asma.Serangan asma karena aktifitas
biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

2.1.4 Gangguan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas

9
1) Etiologi
Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakefektifan
bersihan jalan nafas yaitu :
a. Faktor Lingkungan :
1. Perokok pasif
2. Menghisap asap
3. Merokok
b. Obstruksi Jalan nafas
1. Spasme jalan nafas
2. Mokus dalam jumlah berlebihan
3. Materi asing dalam jalan nafas
4. Adanya nafas buatan
5. Sekresi bertahan atau sisa sekresi
6. Sekresi dalam bronki
c. Fisiologis
1. Jalan nafas alergik
2. Asma
3. Penyakit Paru Obstruksi Klinis
4. Hiperplasi dinding bronkial
5. Infeksi
6. Disfungsi neuromuskular
b. Proses Terjadi
Berhubungan dengan adanya obstruksi tracheobroncial oleh sekret yang
banyak, penurunan ekspansi paru dan proses inflamasi maka pasien
mengalami kesulitan dalam bernafas menyebabkan pemasukan O2
berkurang sehingga pemenuhan kebutuhan O2 dalam tubuh tidak
mencukupi yang ditandai dengan :
1 Perubahan kedalaman dan/atau kecepatan pernafasan
2 Gangguan perkembangan dada.
3 Bunyi nafas tidak normal misalnya mengi.

10
4 Batuk dengan atau tanpa produksi sputum.

c. Manifestasi Klinis
1) Tidak ada batuk
2) Suara nafas tambahan
3) Perubahan frekwensi nafas
4) Perubahan irama nafas
5) Sianosis
6) Kesulitan berbicara atau mengeluarkan suara
7) Penurunan bunyi nafas
8) Dipsneu
9) Sputum dengan jumlah berlebih
10) Batuk yang tidak efektif
11) Orthopneu
12) Gelisah
13) Mata terbuka lebar

d. Komplikasi

1. Penurunan kesadaran
2. Hipoksia
3. Disorientasi
4. Gelisah dan cemas

2.1.5 Pemeriksaan Diagnostik


a. Jenis Pemeriksaan Diagnotik
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan untuk mengetahui adanya
gangguan oksigenasi yaitu:
1) EKG dan Exercise stress test
Tes untuk menentukan keadekuatan system konduksi jantung
2) Echocardiography , Kateterisasi jantung , Angiografi

11
Tes untuk menentukan kontraksi miokardium aliran darah.
3) Pemeriksaan fungsi paru
Untuk mengetahui kemampuan paru dalam melakukan pertukaran gas
secara efisien.
4) Pemeriksaan gas darah arteri
Untuk memberikan informasi tentang difusi gas melalui membrane
kapileralveolar dan keadekuatan oksigenasi.
5) Oksimetri
Untuk mengukur saturasi oksigen kapiler
6) Pemeriksaan sinar X dada
Untuk pemeriksaan adanya cairan, massa, fraktur, dan proses-proses
abnormal.
7) Bronkoskopi
Untuk memperoleh sampel biopsy dan cairan atau sampel
sputum/benda asing yang menghambat jalan nafas.
8) Endoskopi
Untuk melihat lokasi kerusakan dan adanya lesi.
9) Fluoroskopi
Untuk mengetahui mekanisme radiopulmonal, misal: kerja jantung dan
kontraksi paru.
2.1.6 Penatalaksanaan Medis
1. Pemantauan Hemodinamika
2. Pengobatan bronkodilator
3. Melakukan tindakan delegatif dalam pemberian medikasi oleh dokter,
misal: nebulizer, kanula nasal, masker untuk membantu pemberian oksigen
jika diperlukan.
4. Penggunaan ventilator mekanik
5. Fisoterapi dada.
2.2 Tinjauan Teori Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian

12
1. Data subjektif
Kaji riwayat dari gejala-gejala : nyeri dada, dispneu, batuk
a. Terapi obat-obatan yang sekarang atau dahulu
b. Riwayat medical atau bedah
Kaji faktor yang berhubungan
Adanya faktor penyebab atau penunjang (merokok, alergi, trauma tumpul,
atau terbuka, pemebedahan atau nyeri, asma, faktor lingkungan, infeksi.
2. Data objektif
a.Kaji batasan karakteristik
b. Status mental
c. Pernafasan
d. Pemeriksaan fisik
e. Adanya sputum
f. Batuk
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan masalah kebutuhan
oksigenasi diantaranya adalah :
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Definisi : kondisi pasien tidak mampu membersihkan sekret/slem, sehingga
menimbulkan obstruksi saluran pernafasan dalam rangka mempertahankan
saluran pernafasan.
Faktor yang berhubungan :
Lingkungan :
1. Perokok pasif
2. Menghisap asap
3. Merokok
Obstruksi Jalan Nafas
1. Spasme jalan napas.
2. Mukus dalam jumlah yang berlebihan.
3. Eksudat dalam alveoli

13
4. Materi asing dalam jalan napas.
5. Adanya jalan napas buatan
6. Sekresi yang tertahan atau sisa sekresi
7. Skresi dalam bronki.
Fisiologis
1. Jalan napas alergik
2. Asma
3. Penyakit paru obstruksi kronis
4. Hiperplasia dinding bronchial
5. Infeksi
6. Disfungsi neuromuscular
b. Ketidakefektifan pola pernafasan
Definisi : kondisi dimana pola inhalasi dan ekshalasi pasien tidak mampu
karena adanya gangguan fungsi paru
Faktor yang berhubungan :
1. Ansietas.
2. Posisi tubuh.
3. Deformitas tulang.
4. Deformitas dinding dada.
5. Keletihan.
6. Hiperventilasi
7. Sindrom hipoventilasi.
8. Gangguan muskuloskletal.
9. Kerusakan neurologis.
10. Imaturitas neurologis.
11. Disfungsi neuromuscular.
12. Obesitas.
13. Nyeri.
14. Keletihan otot pernapasan.
15. Cedera medulla spinalis.

14
c. Gangguan Pertukaran Gas
Definisi : kelebihan atau defisit pada oksigenasi dan atau eliminasi
karbondioksida pada membrane alveolar-kapiler.
Faktor yang berhubungan :
a. Perubahan membrane alveolar-kapiler.
b. Ventilasi-perfusi.
2.2.3 Intervensi
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas

Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional

Setelah diberikan asuhan 1. Kaji TTV setiap 4 1. Untuk mengetahui keadaan umum
keperawatan selama 3x24 jam jam. pasien dan apabila terjadi ketidak
diharapkan jalan nafas pasien 2. Kaji frekuensi / normalan dapat segera ditindak
efektif. Dengan kriteria hasil : kedalaman pernafasan lanjuti.
1. Tanda-tanda Vital terpantau dan gerakan dada.
2. Untuk mengetahui pergerakan
normal. 3. Bantu pasien untuk
dada dan mengkaji kenyaman pasien
Td : 110/70-120/80 mmHg melatih nafas dalam
akibat gerakan dada tak simetris.
S : 36-37 ˚C dan batuk efektif.
RR: 16-20 x/m 4. Berikan cairan 3. Nafas dalam memudahkan
N: 80-100x/m sedikinya 2500 ml/hari. ekspansi maksimum paru-paru/ jalan
2. Kemudahan dalam bernafas Tawarkan air hangat nafas lebih kecil. Dan batuk efektif
(tidak mengalami sesak). daripada air dingin. dapat memudahkan pasien untuk
3. Pergerakan sputum keluar 5. Kolaborasi mengeluarkan dahaknya.
dari jalan nafas. pemberian nebuliser.
4. Air hangat membantu dalam
4. Dapat melakukan batuk
mobilisasi dan mengeluarkan sekret.
efektif.
5. Untuk mengencerkan sekret.

2. Ketidakefektifan Pola Nafas

15
Tujuan dan criteria hasil Intervensi Rasional

Setelah dilakukan asuhan Mandiri :


keperawatan selama …. X 24 1. Tempatkan posisi yang 1. Peninggiankepalatempattidurme
jam, diharapkan masalah nyaman pada pasien, mudahkanfungsi
ketidakefektifan pola nafas contoh : meninggikan pernafasandenganmenggunakan
pasien dapat teratasi dengan kepala tempat tidur, gravitasi
criteria hasil : duduk pada sandara 2. Pencetus tipe alergi pernafasan
tempat tidur dapat mentriger episode akut
1. Pasien tampak tidak
2. Pertahankan polusi 3. Dehidrasi membranous
menggunakan otot bantu
lingkungan minimum, menurunkankekentalansekret,
dalam bernafas
contoh: debu, asap dll penggunaan cairanhangat dapat
2. Pasien tampak tidak
3. Tingkatkan masukan menurunkankekentalansekret,pe
kesulitan dalam bernafas
cairan sampai dengan nggunaan cairan hangatdapat
3. Pasien dapat bernafas
3000 ml/ hari sesuai menurunkan spasmebronkus
dengan pola teratur
toleransi jantung 4. Membantu membersihkan jalan
4. Pasien mendemontrasikan
memberikan air hangat. nafas dan meningkatan relaksasi
batuk efektif dan suara
4. Ajarkan batuk efektif serta memperbaiki pola nafas
nafas yang bersih, tidak ada
dan lakukan fisioterapi yang tidak efisien.
sianosis, mampu
dada. 5. Mengetahui perkembangan
mengeluarkan sputum.
5. Monitoring tanda-tanda keadaan umum pasien dan
5. Frekuensi pernafasan dalam
vital. mengidentifikasi peyebab
rentang normal (16-20
perubahan tanda-tanda vital.
x/menit)
Kolaborasi
TD: 110/70 – 120/80
Kolaborasi
N: 80-100 x/menit 6. Monitor status O2 dan
S: 36-37˚C kolaborasi pemberian
6. Mempertahankan metabolisme
terapi O2
didalam tubuh

3. Kerusakan Pertukaran Gas

16
Tujuan dan criteria hasil Intervensi Rasional

Setelah dilakukan Asuhan Mandiri Mandiri

Keperawatan .... x 24 jam 1. Kaji frekuensi, kedalaman, 1. Manifestasi distres pernafasan


diharapkan pasien dapat tergantung pada/indikasi
dan kemudahan dalam
bernafas secara normal derajat leterlibatan paru dan
bernafas.
dengan kriteria hasil: satuts kesehatn umum.
2. Kaji status mentasl.
2. Gelisah, mudah terangsang,
1. mendemonstrasikan 3. Kaji suhu tubuh, sesuai
bingung dan somnolen dapat
peningkatan ventilasi dan indikasi. Bantu tindakan
menunjukkan
oksigenasi yang adekuat. kenyamanan untuk
hipoksemia/penurunan
2.Menunjukkan perbaikan menurunkan demam dan
oksigenasi serebral.
ventilasi dan oksigenasi menggigil, mis:
3. Demam tinggi (umum pada
jaringan dengan GDA memberikan selimut
pneumoni bakterial dan
dalam rentang normal dan tambahan atau
influenza) sangat
tidak ada gejala distres menghilangkan
meningkatkan kebutuhan
pernafasan. selimutnya, suhu ruangan
metabolik dan kebutuhan
nyaman dan lakukan
oksigen dan menggangu
kompres hangat atau
oksigenasi seluler.
dingin.
Kolaborasi
Kolaborasi 4. Pemberian terapi oksigen
berfungsi untuk
4. Berikan oksigen tambahan
mempertahankan kadar PaO2
sesuai dengan indikasi
diatas 60 mmHg. Oksigen
hasil AGD dan toleransi
diberikan dengan metode yang
pasien. Dengan nasal
memberikan peengiriman tepat
kanul, masker atau masker
dalam toleransi pasien.
venturi.
2.2.4 Implementasi
Pelaksanaan/implementasi merupakan tahap keempat dalam proses
keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan

17
keperawatan) yang telah direncanakan. Dalam tahap ini perawat harus
mengetahui berbagai hal, diantaranya bahaya fisik dan perlindungan kepada
pasien, teknik komunikasi, kemampuan dalam prosedur tindakan, pemahaman
tentang hak-hak pasien tingkat perkembangan pasien.Dalam tahap
pelaksanaan terdapat dua tindakan yaitu tindakan mandiri dan tindakan
kolaborasi.
2.2.5 Evaluasi
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
a. Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/jelas.
b. Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas,
misalnya:batuk efektif dan mengeluarkan secret.
2. Ketidakefektifan Pola Nafas
a. Pasien dapat bernafas secara efektif
b. pasien dapat menunjukkan pola pernafasaan yang efektif
c. Menunjukkan kemampuan untuk mengkomunikasikan kebutuhan,
keinginan dan tingkat kenyamanan
3. Gangguan Pertukaran Gas
a. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat
dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress
pernafasan.
b. Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat
kemampuan/situasi.

2.3 WOC (Web Of Caution)

Bakteri Virus Jamur Parasit

18
Masuk ke paru-paru

Melalui darah/kulit/infeksi pada tubuh/droplet

Menyerang jalan nafas

Masuk kedalam alveoli

Infeksi/radang paru

Cairan masuk alveoli

Hivoksemia berat Produksi sekret konsolidasi paru-paru


(menjadi padat)

Gangguan difusi Akumulasi sekret Peregangan abnormal


akibat
efusi pleura

Bersihan jalan nafas


Gangguan pertukaran gas Mendorong diapragma
ke atas

Menyebabkan terjadinya
kolaps

ketidakefektifan Pola nafas

19
BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1. Pengkajian
3.1.1 Ketidak bersihan jalan nafas
a. Data Subjektif
1) Pasien mengeluh sesak saat bernafas
2) Pasien mengeluh batuk berdahak
3) Pasien mengeluh susah mengeluarkan dahak
b. Data Objektif
1) Pasien tampak sesak
2) Pasien tampak batuk berdahak
3) RR pasien meningkat
4) Pasien tampak gelisah
5) Suara pasien ronchi basah
6) Napas cuping hidung
3.1.2 Ketidakefektifan pola nafas
a. Data Subjektif
1) Pasien mengatakan sulit bernafas
2) Pasien mengeluh dadanya berat dan nyeri
b. Data Objektif
1) Peningkatan frekuensi pernafasan
2) Peningkatan frekuensi nadi
3) Penurunan ekspansi paru
4) Mengalami retraksi otot dada, ada napas cuping hidung

3.1.3 Gangguan pertukaran gas


a. Data Subjektif
1) Dispnea
2) Sakit kepala saat bangun
3) Gangguan pengelihatan

20
b. Data Objektif
1) Warna kulit tidak normal (pucat, kehitaman)
2) Konfusi
3) Cyanosis
4) Hipoksia
5) Napas cuping hidung

3.2.Diagnosa Keperawatan

3.2.1 Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan:


1) Sekresi yang kental atau berlebihan
2) Penumpukan sekret dijalan nafas
3) Imobilitas, stasis sekresi dan batuk tak efektif
4) Eksudat dalam alveoli
5) Spasme jalan nafas
3.2.2 Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan:
1) Hiperventilasi
2) Imobilisasi
3) Batuk tak efektif sekunder akibat penyakit sistem pernafasan, trauma
kepala, stroke
4) Obstruksi transkobronkial
3.2.3 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan:
1) Hipovolemia
2) Hipoventilasi
3) Perubahan hemoglobin terhadap oksigen
4) Perubahan membrane kapiler alveolar
5) Ketidakseimbangan perfusi ventilasi

21
3.3.Perencanaan
a. Prioritas Diagnosa Keperawatan
1) Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
2) Ketidakefektifan Pola Nafas
3) Kerusakan Pertukaran Gas
b. Rencana Asuhan Keperawatan
1) Diagnosa Keperawatan 1: Ketidakefektifan Bersihan Jalan
Nafas
a) Rencana Tujuan:
Bersihan Jalan Nafas kembali efektif
b) Kriteria Hasil:
(1) Pasien tidak mengeluh sesak saat bernafas
(2) Pasien mengeluh tidak batuk berdahak
(3) Pasien mengatakan mampu mengeluarkan dahak
(4) Pasien tampak tidak sesak
(5) Pasien tampak tidak batuk berdahak
(6) Tidak terjadi peningakatan RR
(7) Pasien tidak tampak gelisah
(8) Suara nafas vesikuler, bronchial, bronkovesikuler, trakhial
(9) Tidak ada napas cuping hidung
c) Rencana Tindakan:
(1) Observasi TTV, terutama respirasi. Catat rasio
inspirasi/ekspirasi
Rasional: takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan
dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stres atau
adanya proses infeksi akut. Pernafasan dat melambat dan
frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi.
(2) Berikan pasien posisi yang nyaman, mis., peninggian kepala
untuk tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur.

22
Rasional: peninggian kepala tempat tidur mempermudah
fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. Namun,
pasien dengan distres berat akan mencari solusi yang paling
mudah untuk bernafas. Sokongan tangan/kaki dengan meja,
bantal, dll membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat
sebagai alat ekspansi dada.
(3) Ajarkan teknik batuk efektif
Rasional: aktivitas ini meningkatkan pengeluaran sekret
untuk menurunkan resiko terjadinya infeksi paru.
(4) Tingkatkan masukan cairan sampai 300mL/hari sesuai
toleransi jantung. Memberikan air hangat. Anjurkan
masukan cairan antara, sebagai pengganti makan.
Rasional: hidrasi membantuk menurunkan kekentalan sekret,
mempermudah pengeluaran. Penggunaan cairan hangat
dapat menurunkan spasme bronkus.Cairan selama makan
dapat meningaktkan distensi gaster dan tekanan pada
diafragma.
(5) Delegatif dalam pemberian obat bronkodilator, mis., ß-
agnois: epineprin (adrenalin, vaponeprin); albuterol
(propentil, Ventolin); terbulatin (brethine, brethaire);
isoetarin (brokosol, bronkometer); digoxiu; acetensa;
inpepsasyr; farsix; futafrom; topazol.
Rasional: merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti
local, menurunkan spasme jalannafas,mengi, dan produksi
mukosa. Obat-obat mungkinperoral, injeksi atau inhalasi.
(6) Berikan HE tentang pemahaman dalam pembatasan aktivitas
dan aktivitas pilihan dengan periode istiharat untuk
mencegah kelemahan.

23
Rasional: mempunyai pengetahuan ini dapat memampukan
pasien untuk membuat pilihan/keputuasan informasi untuk
menurunkan dispnea dan mencegah komplikasi.
(7) Kolaborasi dalam pemberian terapi oksigen dengan benar,
mis., degan nasal kanul masker, masker venturi.
Rasional: pemberian oksigen secara adekuat dapat mensuplai
dan memberikan cadangan oksigen, sehingga mencegah
terjadi hipoksia.
(8) Lakukakan pengisapan atau suction sesuai keperluan.
Rasional: mencegah obstruksi atau aspirasi.
(Doengoes, 2012).
2) Diagnosa Keperawatan 2: Ketidakefektifan Pola Nafas
a) Rencana Tujuan
Pola nafas kembali efektif.
b) Kriteria Hasil
(1) Pasien mengatakan tidak sulit bernafas
(2) Pasien tidak mengeluh dadanya berat dan nyeri
(3) Tidak terjadi peningkatan frekuensi pernafasan
(4) Tidak terjadi peningkatan frekuensi nadi
(5) Tidak terjadi penurunan ekspansi paru
(6) Tidak mengalami retraksi otot dada, tidak ada nafas cuping
hidung
c) Rencana Tindakan
(1) Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.
Catat upaya pernafasan, termasuk penggunaan otot
bantu/pernafsan nasal.
Rasional: kecepatan biasanya meningkat. Dispnea dan terjadi
peningkatan kerja nafas (pada awal atau hanya tanda EP
subakut).Kedalaman pernafasan bervariasi tergantung

24
derajat gagal nafas.Ekspansi dada terbatas yang berhubungan
dengan atelectasis dan/atau nyeri dada pleuritik.
(2) Auskulatsi bunyi nafas dan cacat bayi nafas adventisius,
krekles, mengi, gesekan plueral.
Rasional: bunyi nafas menurun atau taka da bila jalan nafas
obstruksi sekunder terhadap pendarahan, bekuan atau kolap
jalan nafas kecil (atelectasis). Ronkhi dan mengi menyertai
obsutruksi jalan nafas/kegagalan pernafasan.
(3) Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Bangunkan
pasien turun tempat tidur dan ambulasi sesegera mungkin.
Rasional: duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan
mempermudah pernafasan. Pengubahan posisi dan ambulasi
meningkatkan pengisian udara segmen paru berbeda
sehingga memperbaiki difusi gas.
(4) Observasi pola batuk dak karakter sekret.
Rasional: kongesti alveolar mengakibatkan batuk
kering/iritasi. Sputum berdarah dapat diakibatkan oleh
kerusakan jaringan (infark paru) atau antikoagulabn
berlebihan
(5) Dorongan atau bantu pasien dalam nafas dalamdan latihan
batuk. Penghisapan peroral atau nasotrakeal bila
diindikasikan.
Rasional: dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana
gangguan ventilasi dan ditambah ketidaknyamanan upaya
bernafas.
(6) Bantuan pasien mengatasi takut atau ansietas.
Rasional: perasaan takut dan asietas berat berhubungan
dengan ketidakmampuan bernafas/terjadinya hipoksemia
dan dapat secara aktual meingkatkan konsumsi
oksigen/kebutuhan.

25
(7) Kolaborasi dalam pemberian oksigen tambahan.
Rasional: memaksimalkan pernafasan dan menurunkan kerja
nafas
(8) Kolaborasi dalam pemberian Humidifikasi tambahan, mis.,
nebuleser ultrasonik.
Rasional: memberikan kelembaban membrane mukosa dan
membantu pengenceran sekret untuk memudahkan
pembersihan.
(9) Kolaborasi dalam melakukan fisioterapi dada (mis., drainage
postural dan perkusi area yang tak sakit, tiupan
botol/spirometry insentif).
Rasional: memudahkan upaya pernafasan dalam dan
meningkatkan drainage sekret dari segmen paru kedalam
bronkus, dimana dapat lebih mempercepat pembuangan
dengan batuk/penghisapan.
(10) Kolaborasi untuk persiapan bronkoskopi
Rasional: kadang-kadang berguna untuk pembuangan
bekuan darah dan membersihkan jalan nafas.
(Doengoes, 2012)
3) Diagnosa Keperawatan 3: Gangguan Pertukaran Gas
a) Rencana Tujuan
Gangguan pertukaran gas dapat teratasi.
b) Kriteria Hasil
(1) Tidak terjadi dyspnea
(2) Tidak sakit kepala saat bangun
(3) Tidak terjadi gangguan pengelihatan
(4) Warna kulit normal (sawo matang, putih atau coklat)
(5) Tidak terjadi konfusi
(6) Tidak terjadi sianosis
(7) Tidak terajdi hipoksia

26
(8) Tidak ada napas cuping hidung
c) Rencana Tindakan
(1) Kaji frekuensi, kedalaman, kemudahan bernafas
Rasional: manifestasi distres pernafasan tergantung
pada/indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan
umum.
(2) Observasi warna kulit membran mukosa dan kuku. Catat
adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral
(sirkumular)
Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi/respon
tubuh terhadap demam/menggigil. Namun sianosis daun
telinga, membrane mukosa, dan kulit sekitar mulut
(‘membran hangat’) menunjukkan hipoksemiasistemtik.
(3) Kaji status mental
Rasional: gelisah mudah terangsang, bingung, dan somnolen
dapat menunjukkan hipoksemia/penurunan oksigenasi
serebral.
(4) Awasi frekuensi jantung/irama
Rasional: takikardi biasanya ada sebagai akibat
demam/dehidrasi tetap dapat sebagai respon terhadap
hipoksemia
(5) Awasi suhu tuuh, sesuai indikasi. Bantu tindakan
kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil, mis.,
selimut tambahan/menghilangkannya, suhu ruangan
nyaman, kompres hangat atau dingin.
Rasional: demam tinggi (umum pada Pnemonia bacterial dan
influenza) sangat mengakibatkan kebutuhan metabolik dan
kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigenasi selular.
(6) Pertahankan istirahat tidur. Dorong menggunakan teknik
relaksasi dan aktivitas senggang.

27
Rasional: mencegah terlalu lelah dan menurunkan
kebutuhan/konsumsi oksigen untuk mempermudah perbaiki
infeksi.
(7) Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posis, nafas
dalam, dan batuk efektif.
Rasional: tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal,
meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiki
ventilasi.
(8) Kaji tingkat ansietas. Dorong menyatakan masalah/perasaan.
Jawab pertanyaan dengan jujur. Kunjungi dengan sering, atur
pertemuan/kunjungi oleh orang terdekat/pengunjung sesuai
indikasi.
Rasional: ansietas adalah manifestasi masalah psikologi
sesuai respon fisiologi terhadap hiposia. Pemberian
keyakinan dan meningkatkan rasa aman dapat menurunkan
komponen psikologi, sehingga menurunkan kebutuhan
oksigen dan efek merugikan dari respons fifiologi.
(9) Observasi penyimpanan kondisi, cacat hipotensi, banyaknya
jumlah sputum merah muda/berdarah, pucat, sianosis,
perubahan tingkat kesadaran, dispnea berat, gelisah.
Rasional: syok dan edema paru adalah penyebab umum
kematian pada pneumonia dan membutuhkan intervensi
medik segera.
(10) Siapkan untuk pemindahan ke unit perawatan kritis bila
diindikasikan
Rasional: intubasi dan ventilasi mekanik mungkin
diperlukan pada kejadian kegagalan pernafasan.
(11) Kolaborasi dalam pemberian terapi oksigen dengan bear,
mis., dengan nasal prong, masker, masker venturi.

28
Rasional: tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan
PaO2 diatas 60 mmHg. Oksigen diberikan dengan metode
yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pasien.
(12) Awasi GDA, nadi oksimetri
Rasional: mengevaluasi proses penyakit dan memudahkan
terapi paru.
(Doengoes, 2012)

3.4.Pelaksanaan

Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam


rencana tindakan keperawatan.
a. Mandiri: aktivitas perawatan yang didasarkan pada kemampuan sendiri
dan bukan merupakan petunjuk/perintah dari petugas kesehatan.
b. Delegatif: tindakan keperawatan atas intruksi yang diberikan oleh
petugas kesehatan yang berwenang.
c. Kolaboratif: tindakan perawat dan petugas kesehatan yang lain dimana
didasarkan atas keputusan bersama.
(Goron 1994 dalan Potter & Perry 1997)

3.5.Evaluasi

a. Evaluasi ketidakefektifan bersihan jalan nafas mengacu pada kriteria


hasil, yaitu:
1) Batuk efektif
2) Mampu mengeluarkan sekret
3) Bunyi nafas normal (vesikuler, bronkonvesikuler, bronchial, trakeal)
4) Frekuensi, irama, kedalaman pernafasan normal

b. Evaluasi ketidakefektifan pola nafas mengacu pada kriteria hasil, yaitu:

29
1) Tidak ada perubahan-perubahan frekuensi atau pola pernafasan (dari
nilai dasar)
2) Tidak ada perubahan nadi (frekuensi, irama, kualitas)
3) Tidak ada Ortopnea
4) Tidak ada Takipnea, Hiperpnea, Hiperventilasi
5) Tidak ada pernafasan distrimik
6) Pernafasan teratur
c. Evaluasi gangguan pertukaran gas mengacu pada kriteria hasil, yaitu:
1) Tidak terjadi dispnea saat melakukan kerja berat
2) Tidak terjadi konfusi/agitasi
3) Tidak ada kecenderungan untuk mengambil posisi 3 titik (duduk,
satu tangan diletakkan pada setiap lutut, tubuh condong ke depan)
4) Saat bernafas tidak mengerucutkan bibir dengan fase ekspirasi yang
teratur
5) Tidak ada latergi dan keletihan
6) Tidak terjadi peningkatan tahanan vaskular pulmonal (peningkatan
tekanan arteri pulmonal/ventrikel kanan)
7) Tidak terjadi penurunanmotilitas lambung, pengosongan lambung
lama
8) Tidak terjadi penurunan kandungan oksigen, penurunan saturasi
oksigen, peningkatan PCO2, seperti yang diperlihatkan oleh hasil
analisa gas darah
9) Tidak terjadi sianosis

30
BAB IV
PEMBAHASAN
Pembahasan merupakan analisa penerapan teori dengan praktik secara nyata.
Pada BAB ini penulis membahas tentang kesenjangan yang terjadi pada teori dengan
kasus yang penulis temukan, mengapa kesenjangan tersebut terjadi serta solusi
untuk mengatasi kesenjangan tersebut.
Untuk mendapat gambaran secara lebih jelas maka penulis menguraikan setiap
tahapan proses keperawatan sebagai berikut.
4.1Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan dilaksanakan
pada klien Tn. EA melalui beberapa tekhnik yaitu observasi, wawancara,
pemeriksaan fisik, dan dokumentasi (rekamedis). Klien Tn. EA mengeluhkan
sesak nafas, badan panas, mual, muntah. TTV : TD 110/80 mmHg, Suhu 38
derajat selsius, Nadi 82 x/menit, Respirasi 20x/menit.
4.2 Diagnosa
Diagnosa keperawatan merupakan sebuah acuan keperawatan untuk
membuat rencana keperawatan yang tepat. Diagnosa yang kami buat yaitu
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Dimulai karena adanya hipersekresi
lendir pada mukosa pernafasan, sehingga partikel-partikel kecil yang ikut
masuk bersama udara akan menempel pada saluran pernafasan. Hal inilah yang
akan menimbulkan sumbatan. Sehingga udara terjebak dibagian distal saluran
nafas, maka pasien akan berusaha lebih keras mengeluarkan udara tersebut, itu
sebabnya pada fase ekspirasi yang panjang akan timbul bunyi-bunyi yang
abnormal seperti ronchi sebagai tanda dan gejala ketidakefektifan bersihan jalan
nafas.
4.3 Perencanaan
Pada perencanaan terdiri dari diagnose keperawatan. Untuk prioritas
diagnose ditulis berdasarkan masalah utama pada asuhan keperawatan yang
menjadi prioritas utama yaitu ketidakefektifan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan menumpuknya sekret. Penyusunan rencana keperawatan

31
meliputi langkah-langkah menentukan tujuan yang mengacu pada masalah dan
tujuan khusus yang mengacu pada penyebab, menentukan criteria
evaluasi,menentukan rencana intervensi serta membuat rasional atas intervensi
yang dilakukan. Perencanaan Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan eksudat adalah agar pasien tidak sesak lagi, pasien tidak
batuk, suara nafas normal dan TTV dalam rentang normal terutama frekuensi
respirasi dalambatasan 16-20x/menit.
4.4 Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan dimana
dalam pelaksanaannya pada rencana tindakan yang telah dibuat dalam tinjauan
kasus.Pada tinjauan kasus ini semua rencana tindakan dapat dilaksanakan
karena didukung oleh situasi dan kondisi, respon pasien yang kooperatif serta
kerjasama yang baik dari tim kesehatan maupun pasien, sehingga
pelaksanaanny atidak menemukan hambatan.
4.5 Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap dari proses keperawatan untuk menilai keberhasilan
tindakan keperawatan serta menyusun tindakan keperawatan. Evaluasi dilakukan
pada tanggal 20-23 januari 2018 dari masalah yang diangkat dapat dievaluasi sesuai
criteria waktu yang telah ditetapkan dengan hasil evaluasi tujuan tercapai masalah
teratasi sehingga pertahankan kondisi pasien.

32
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dalam menindaklanjuti masalah gangguan pernafasan, oksigenasi merupakan
tindakan yang paling diperlukan untuk memulihkan pola nafas pasien yang
terganggu kembali seperti semula, mengingat oksigen merupakan hal yang paling
debutuhkan dalam metabolisme sel didalam tubuh. Menyusun tindakan
keperawatan pada pada pasien yang mengalami gangguan pemenuhan oksigen
adalah tindakan yang perlu untuk dilakukan dalam rangka meningkatkan tarap
hidup pasien.
5.2 Saran
Lakukanlah tindakan perencanaan keperawatan ( Asuhan Keperawatan)
dalam pemenuhan kebutuhan oksigen padapasien dengan gangguan pola nafas
dengan baik untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat hidup pasien.
Penulis menerima setiap masukan dan saran yang membangun dari pembaca.
Dengan dibuatnya makalah ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca dan
dapat menambah pengetahuan serta wawasan.

33
Daftar Pustaka

Doenges Marilynn E.,dkk.2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC

Huda Nurafid Amin, Kusuma Hardhi.2015. Nanda Nic-Noc Jilid 3. Yogyakarta:


Mediaction.

Syaifuddin. H. 2011.Anatomi Fisiologi. Jakarta : EGC

Tim Pokja SDKI DPP PPNI.(2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.


Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Wilkinson Judith M., Ahern Nancy R. (2009). Buku Saku Diagnosa Keperawatan.
Jakarta : ECG Medical Publisher.

34