Anda di halaman 1dari 39

Program-program Kesehatan/Kebijakan dalam Menanggulangi Masalah

Kesehatan Utama di Indonesia


Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Komunitas 1

Dosen Pengampu : Ns. Nourmayansa Vidya Anggraini, S.Kep., M.Kep.,


Sp.Kep.Kom

Disusun Oleh :

Mutia Ifanka 1710711010

Fiqih Nur Aida 1710711033

KELAS TUTOR G

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAKARTA

2019

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang membahas tentang “Program-program
Kesehatan/Kebijakan dalam Menanggulangi Masalah Kesehatan Utama di
Indonesia”.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata, kami berharap semoga makalah tentang “Program-program


Kesehatan/Kebijakan dalam Menanggulangi Masalah Kesehatan Utama di
Indonesia”. Dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Depok, 08 November 2019

Penyusun

DAFTAR ISI

ii
KATA PENGANTAR............................................................................................i

DAFTAR ISI..........................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.......................................................................................1

B. Rumusan Masalah..................................................................................2

C. Tujuan ....................................................................................................2

D. Manfaat ..................................................................................................2

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi kebijakan ..................................................................................3

B. Perumusan Masalah Kebijakan..............................................................6


C. Visi dan misi pembangunan kesehatan ..................................................6

D. Kebijakan Nasional Tentang Upaya Kesehatan Masyarakat..................7


E. Peranan masyarakan dalam pembangunan kesehatan............................8

BAB III PROGRAM-PROGRAM KESEHATAN/KEBIJAKAN DALAM


MENANGGULANGI MASALAH KESEHATAN UTAMA DI INDONESIA

A. Konsep pembangunan kesehatan di Indonesia ....................................13


B. Tujuan pembangunan kesehatan di Indonesia......................................13
C. Paradigma sehat....................................................................................13
D. Visi Dan Misi Indonesia Sehat .............................................................13
E. Ciri-ciri masyarakat sehat.....................................................................14
F. Indikator Yang Berhubungan Dengan Kesehatan Masyarakat ............14
G. Faktor- Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Kesehatan Di Indonesia
.............................................................................................................15
H. Sistem Pelayanan Kesehatan Dan Kebijakan Era Otonomi Daerah.....16
I. Pemberantasan Penyakit Menular Dan Penyehatan Lingkungan
Pemukiman..........................................................................................18
J. Penyehatan Lingkungan........................................................................28
K. Program Pembinaan Kesehatan............................................................31
L. Analisa Swot Program/ Kebijakan.......................................................32

iii
M. Kasus Di Masyarakat Yang Diselesaikan Dengan Program/
Kebijakan.............................................................................................32

iv
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah kesehatan pada komunitas masih menjadi masalah utama
kesehatan masyarakat dunia, disamping mulai meningkatnya masalah penyakit
menular dan tidak menular. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas
daerah administratif, sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan
kerjasama antar daerah, misalnya antar propinsi, kabupaten/kota bahkan antar
negara.
Di berbagai negara, masalah penyakit menular dan kualitas lingkungan
yang berdampak terhadap kesehatan masih menjadi isu sentral yang ditangani
oleh pemerintah bersama masyarakat sebagai bagian dari misi peningkatan
kesejahteraan rakyatnya. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah
utama di Indonesia adalah penyakit HIV-AIDS, Tuberkulosis Paru, Malaria,
Demam Berdarah (DBD), Diare dan penyakit lainnya. Salah satu penyakit
menular yang berbahaya dan bisa menyebabkan kematian adalah penyakit
HIV-AIDS. Jawa Timur menjadi provinsi yang memiliki jumlah kasus HIV-
AIDS tertinggi ketiga setelah DKI Jakarta dan Papua dengan jumlah kasus
sebanyak 2.110 HIV-AIDS. Sementara jumlah kasus HIV-AIDS di Indonesia
sebanyak 18.913 (Ditjen PP dan PL Kemenkes RI, 2012).
Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mencegah dan
mengendalikan penyebaran penyakit menular tersebut, antara lain dengan
menyediakan fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit baik milik pemerintah
maupun swasta dan Puskesmas. Upaya tersebut diselenggarakan dengan
menitikberatkan pada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat
kesehatan yang optimal tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada
perorangan (Depkes, RI 2004).
Usaha pencegahan penyakit secara umum dikenal berbagai strategi
pelaksanaan yang tergantung pada jenis, sasaran serta tingkat pencegahan.
Dalam strategi penerapan ilmu kesehatan masyarakat dengan prinsip tingkat
pencegahan seperti tersebut di atas, sasaran kegiatan diutamakan pada
peningkatan derajat kesehatan individu dan masyarakat, perlindungan
terhadap ancaman dan gangguan kesehatan, penanganan dan pengurangan
gangguan serta masalah kesehatan, serta usaha rehabilisasi lingkungan.

1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Program-Program Kesehatan/Kebijakan Dalam Menanggulangi
Masalah Kesehatan Di Indonesia?
2. Bagaimana Konsep Pembangunan Kesehatan Di Indonesia?
3. Bagaimana Sistem Pelayanan Kesehatan Dan Kebijakan Era Otonomi Daerah?
4. Bagaimana Pemberantasan Penyakit Menular Dan Penyehatan Lingkungan
Pemukiman?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami program-program
kesehatan/kebijakan dalam menanggulangi masalah kesehatan di
Indonesia
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu memahami konsep pembangunan kesehatan
di Indonesia
b. Mahasiswa mampu memahami sistem pelayanan kesehatan dan
kebijakan era otonomi daerah
c. Mahasiswa mampu memahami upaya pemberantasan penyakit
menular dan penyehatan lingkungan pemukiman
d. Mahasiswa mampu memahami program-program pembinaan
kesehatan
D. Manfaat
Mahasiswa mampu memahami meteri tentang program-program
kesehatan/kebijakan dalam menanggulangi masalah kesehatan di
Indonesia sehingga mahasiswa dapat mengerti dan mengaplikasikannya
dalam tindakan keperawatan.

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Defenisi Kebijakan
Banyak defenisi yang dibuat oleh para ahli untuk menjelaskan arti
kebijakan. Thomas Dye menyebutkan kebijakan sebagai pilhan pemerintah untuk
melakkan atau tidak melakukan sesuatu (whatever government chooses to do or
not to do). Friedrich mengatakan bahwa yang paling pokok bagi suatu kebijakan
adalah adanya tujuan (goal), sasaran (objective) atau kehendak (purpose)
( Abidin,2002 ).
Defenisi kebijakan public dari Thomas Dye tersebut mengandung makna
bahwa :
1. Kebijakan public tersebut dibuat oleh badan pemerintah.
2. Kebijakan public menyangkut pilihan yang harus dilakukan atau tidak
dilakukan oleh badan pemerintah (abidin, 2002).
Menurut Dunn proses kebijakan public terdiri dari lima tahapan yaitu
sebagai berikut :
1. Penyusunan agenda ( agenda seting ), yakni suatu proses agar suatu masalah
bias mendapat perhatian dari pemerintah.
2. Formulasi kebijakan ( policy formulation ), yakni suatu proses perumusan
pilihan-pilihan atau alternative pemecahan masalah oleh pemerintah.
3. Penentuan kebijakan ( policy adoption ), yakni suatu proses dimana pemerintah
menetapka alternative kebijakan apakah sesuai dengan criteria yang harus
dipenuhi, menentukan siapa pelaksana kebijakan tersebut, dan bagaimana
proses atau strategi pelaksanaan kebijakan tersebut.
4. Implementasi kebijakan ( policy implementation ) , yaitu suatu proses untuk
melaksanakan kebijakan supaya mencapai hasil, pada tahap ini perlu adanya
dukungan sumberdaya dan penyusunan organisasi pelaksana kebijakan.
5. Evluasi kebijakan ( policy evaluation) , yakni suatu roses untuk memonitor dan
menilai hasil atau kinerja kebijakan ( Subarsono, 2005 )
Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan
dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara

3
bertindak. Istilah ini dapat diterapkan pada pemerintahan, organisasi dan
kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan berbeda
dengan peraturan dan hukum. Jika hukum dapat memaksakan atau melarang
suatu perilaku (misalnya suatu hukum yang mengharuskan pembayaran pajak
penghasilan), kebijakan hanya menjadi pedoman tindakan yang paling mungkin
memperoleh hasil yang diinginkan.
Pengertian kebijakan pemerintah pada prinsipnya dibuat atas dasar
kebijakan yang bersifat luas. Menurut Werf (1997) yang dimaksud dengan
kebijakan adalah usaha mencapai tujuan tertentu dengan sasaran tertentu dan
dalam urutan tertentu. Sedangkan kebijakan pemerintah mempunyai pengertian
baku yaitu suatu keputusan yang dibuat secara sistematik oleh pemerintah dengan
maksud dan tujuan tertentu yang menyangkut kepentingan umum.Sesuai dengan
system administrasi Negara Republik Indonesia, kebijakan dapat dibagi menjadi
2, yaitu:
1. Kebijakan Internal (Manajerial), yaitu kebijakan yang mempunyai kekuatan
mengikat aparatur dalam organisasi pemerintah sendiri
2. Kebijakan eksternal (Publik), yaitu suatu kebijakan yang mengikat masyarakat
umum, sehingga dengan kebijakan demikian kebijakan harus tertulis.
Pengertian kebijakan pemerintah sama dengan kebijaksanaan berbagai
bentuk seperti misalnya jika dilakukan oleh Pemerintah Pusat berupa Peraturan
Pemerintah (PP), Keputusan Menteri (KepMen) dan lain lain. Sedangkan jika
kebijakan pemerintah tersebut dibuat oleh pemerintah daerah akan melahirkan
Surat keputusan (SK), peraturan daerah (PerDa) dan lain lain.
Dalam penyusunan kebijaksanaa/kebijakan mengacu pada hal hal berikut:
1. Berpedoman pada kebijaksanaan yang lebih tinggi.
2. Konsisten dengan kebijaksanaan yang lain yang berlaku.
3. Berorientasi ke masa depan.
4. Berpedoman kepada kepentingan umum
5. Jelas dan tepat serta transparan
6. Dirumuskan secara tertulis.
Sedangkan kebijakan atau kebijaksanaan pemerintah mempunyai beberapa
tingkatan yaitu:

4
1. Kebijakan Nasional
Yaitu kebijakan Negara yang bersifat fundamental dan strategis
untuk mencapai tujuan nasional/Negara sesuai dengan amanat UUD 1945
GBHN. Kewenangan dalam pembuat kebijaksanaan adalah MPR, dan
presiden bersama-sama dengan DPR.Bentuk kebijaksanaan nasional yang
dituangkan dalam peraturan perundang-undangan dapat berupa :
a. UUD 1945
b. Ketetapan MPR
c. Undang-undang
d. Peraturan pemerintah pengganti undang undang (Perpu) dibuat
oleh presiden dalan hal kepentingan memaksa setelah mendapat
persetujuan DPR.
2. Kebijaksanaan Umum
Kebijaksanaan yang dilakukan oleh presiden yang bersifat nasional
dan menyeluruh berupa penggarisan ketentuan ketentuan yang bersifat
garis besar dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan
pembangunan sebagai pelaksanaan UUD 1945, ketetapan MPR maupun
undang undang guna mencapai tujuan nasional.
Penetapan kebijaksanaan umum merupakan sepenuhnya
kewenangan presiden, sedangkan bentuk kebijaksanaan umum tersebut
adalah tertulis berupa peraturan perundang-undangan seperti hal nya
peraturan pemerintah (PP), keputusan presiden (Kepres) serta Instruksi
Presiden (Inpres).
Sedangkan kebijaksanaan pelaksanaan dari kebijakan umum
tersebut merupakan penjabaran dari kebijakan umum serta strategi
pelaksanaan dalam suatu bidang tugas umum pemerintahan dan
pembangunan dibidang tertentu. Penetapan kebijaksanaan pelaksanaan
terletak pada para pembantu presiden yaitu para menteri atau pejabat lain
setingkat dengan menteri dan pimpinan sesuai dengan kebijaksanaan pada
tinkat atasnya serta perundang-undangan berupa peraturan, keputusan atau
instruksi pejabat tersebut (menteri/pejabat).

5
B. Perumusan Masalah Kebijakan
Masalah kebijakan, adalah nilai, kebutuhan atau kesempatan yang belum
terpenuhi, tetapi dapat diindentifikasikan dan dicapai melalui tindakan publik.
Tingkat kepelikan masalah tergantung pada nilai dan kebutuhan apa yang
dipandang paling panting.Staf puskesmas yang kuat orientasi materialnya (gaji
tidak memenuhi kebutuhan), cenderung memandang aspek imbalan dari
puskesmas sebagai masalah mandasar dari pada orang yang punya komitmen pada
kualitas pelayanan kesehatan.
Menurut Dunn (1988) beberapa karakteristik masalah pokok dari masalah
kebijakan, adalah:
1. Interdepensi (saling tergantung), yaitu kebijakan suatu bidang (energi)
seringkali mempengaruhi masalah kebijakan lainnya (pelayanan kesehatan).
Kondisi ini menunjukkan adanya sistem masalah. Sistem masalah ini
membutuhkan pendekatan Holistik, satu masalah dengan yang lain tidak dapat
di piahkan dan diukur sendirian.
2. Subjektif, yaitu kondisi eksternal yang menimbulkan masalah diindentifikasi,
diklasifikasi dan dievaluasi secara selektif. Contoh: Populasi udara secara
objektif dapat diukur (data). Data ini menimbulkan penafsiran yang beragam
(a.l. gang-guan kesehatan, lingkungan, iklim, dll). Muncul situasi problematis,
bukan problem itu sendiri.
3. Artifisial, yaitu pada saat diperlukan perubahan situasi problematis, sehingga
dapat menimbulkan masalah kebijakan.
4. Dinamis, yaitu masalah dan pemecahannya berada pada suasana perubahan
yang terus menerus. Pemecahan masalah justru dapat memunculkan masalah
baru, yang membutuhkan pemecahan masalah lanjutan.
5. Tidak terduga, yaitu masalah yang muncul di luar jangkauan kebijakan dan
sistem masalah kebijakan.

C. Visi Dan Misi Pembangunan Kesehatan


1. Visi Strategis Pembangunan Kesehatan

6
Dengan memperhatikan isu strategis pembangunan kesehatan tersebut dan
juga dengan mempertimbangkan perkembangan, masalah, serta berbagai
kecenderungan pembangunan kesehatan ke depan maka ditetapkan visi
pembangunan kesehatan oleh Departemen Kesehatan yaitu Masyarakat Yang
Mandiri Untuk Hidup Sehat.
Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat adalah suatu kondisi di mana
masyarakat Indonesia menyadari, mau, dan mampu untuk mengenali, mencegah
dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari
gangguan kesehatan, baik yang disebabkan karena penyakit termasuk gangguan
kesehatan akibat bencana, maupun lingkungan dan perilaku yang tidak
mendukung untuk hidup sehat.
2. Misi Strategis Pembangunan Kesehatan
Visi pembangunan kesehatan tersebut kemudian diejawantahkan melalui
misi pembangunan kesehatan, yakni Membuat Rakyat Sehat. Misi kesehatan ini
kemudian dijalankan dengan mengembangkan nilai-nilai dasar dalam pelayanan
kesehatan yaitu berpihak pada rakyat, bertindak cepat dan tepat, kerjasama tim,
integritas yang tinggi, transparansi dan akuntabilitas.

D. Kebijakan Nasional Tentang Upaya Kesehatan Masyarakat


Kebijakan kesehatan merupakan tindakan yang mempunyai efek terhadap
institusi,organisasi pelayanan dan pendanaan dari system pelayanan kesehatan.
Kebijakan palayanan kesehatan meliputi:
1. Public goods
Berupa barang atau jasa yang pedanaanya berasal dari pemerintah, yang
bersumber dari pajak dan kelompok masyarakat. Layanan public goods
digunakan untuk kepentingan bersama dn dimiliki bersama. Keberadaanya
memiliki pengaruh terhadap masyarakat.
2. Privat goods
Berupa barang atau jasa swasta yang pedanaanya berasal dari
perseorangan. Digunakan untuk kepentingan sendiri dan dimiliki perseorangan
, tidak bisa dimiliki sembarangan orang, terdapat persaingan dan eksternalitas
rendah.

7
3. Merit goods
Karakteristik memerlukan biaya tambahan tidak dapat digunakan
sembarangan orang ada persaingan dan eksternalitas tinggi contohnya cuci
darah, pelayanan kehamilan, pelayanan kespro dan pengobatan PMS.
Indonesia termasuk negara berkembang sangat rentan terhadap berbagai
macam penyakit. Hal ini tersebab karena kondisi riil masyarakat Indonesia
yang miskin dan memiliki standart hidup (gisi) rendah. Kemiskinan ( gisi
buruk) menjadi kandungan yang siap setiap saat melahirkan penyakit. Karena
itu tidak mengejutkan kalau penyakit –penyakit menyerang masyarakat
meningkat jumlahnya setiap tahun seiring meningkatkan jumlah angka
kemiskinan.

E. Peranan Masyarakat Dalam Pembangunan Kesehatan


Menurut Notoatmodjo (2007), peran serta atau partisipasi masyarakat adalah
ikut sertanya seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan permasalahan-
permasalahan masyarakat tersebut. Peran serta dibidang kesehatan berarti
keikutsertaan seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan
mereka sendiri. Hal ini masyarakat sendirilah yang aktif memikirkan,
memecahkan, melaksanakan dan mengevaluasikan program-program kesehatan.
Institusi kesehatan hanya sekedar memotivasi dan membimbingnya. Peran serta
setiap anggota masyarakat dituntut suatu kontibusi atau sumbangan. Kontribusi
tersebut bukan hanya terbatas pada dana dan finansial saja tetapi dapat terbentuk
dalam tenaga (daya) dan pemikiran (ide). Dalam hal ini dapat diwujudkan dalam
4M yakni, manpower (tenaga), money (uang), material (benda-benda) dan mind
(ide atau gagasan).
1. Dasar-dasar filosofi peran serta masyarakat
Hubungannya dengan fasilitas dan tenaga kesehatan, peran serta masyarakat
dapat diarahkan untuk mencukupi kelangkaan tersebut. Dengan kata lain peran
serta masyarakat dapat menciptakan fasilitas dan tenaga kesehatan. Peran serta
masyarakat didasarkan pada idealisme berikut :

8
a. Community fell need
b. Organisasi pelayanan masyarakat kesehatan yang berdasarkan peran serta
masyarakat.
c. Pelayanan kesehatan tersebut akan dikerjakan oleh masyarakat sendiri.
2. Metode peran serta masyarakat
a. Peran serta dengan paksaan
Artinya memaksa masyarakat untuk kontribusi dalam suatu
program, baik melalui perundang-ungdangan, peraturan-perturan maupun
dengan perintah lisan saja. Cara ini akan lebih cepat hasilnya dan mudah,
tetapi masyarakat akan takut, merasa dipaksa dan kaget karena dasarnya
bukan kesadaran tetapi ketakutan. Akibatnya masyarakat tidak akan
mempunyai rasa memiliki terhadap program yang ada.
b. Peran serta dengan persuasi dan edukasi
Artinya suatu parisipasi yang didasari pada kesadaran. Sukar tetapi
bila tercapai hasilnya akan mempunyai rasa memiliki dan rasa
memelihara. Partisipasi ini dimulai dengan penerangan, pendidikan dan
sebagainya baik secara langsung maupun tidak langsung.
3. Elemen-elemen peran serta masyarakat
a. Motivasi
Persyaratan utama masyarakat berpartisipasi adalah motivasi.
Tanpa motivasi masyarakat sulit berpartisipasi disegala program.
Timbulnya motivasi harus dari masyarakat itu sendiri dan pihak luarnya
hanya meragsang saja. Untuk itu pendidikan kesehatan sangat diperlukan
dalam rangka merangsang tumbuhnya motivasi.
b. Komunikasi
Suatu komunikasi yang baik adalah yang dapat menyampaikan
pesan, ide dan informasi kepada masyarakat. Media masa, seperti TV,
radio, poster, film dan sebagainya. Semua itu sangat efektif untuk
manyampaikan pesan yang akirnya dapat menimbulkan partisipasi.
c. Kooperasi

9
Kerja sama dengan instansi-instansi di luar kesehatan masyarakat
dan instansi kesehatan sendiri adalah mutlak diperlukan. Adanya team
work antara mereka ini akan membantu menumbuhkan partisipasi.
d. Mobilisasi
Hal ini berarti bahwa peran serta itu bukan hanya terbatas pada
tahap pelaksanaan program. Partipasi masyarakat dapat dimulai seawal
mungkin sampai ke akhir mungkin, dari identifikasi masalah, menentukan
prioritas masalah, perencanaan program, pelaksanaan sampai dengan
monitoring dan evaluasi program.
4. Strategi peran serta masyarakat
Strategi peran serta menurut Notoatmojo (2007) yang dapat dipakai adalah
sebagai berikut:
a. Pendekatan masyarakat, diperlukan untuk memperoleh simpati
masyarakat. Pendekatan ini terutama ditunjukan kepada pimpinan
masyarakat, baik yang formal maupun informal.
b. Pengorganisasian masyarakat dan pembentukan tim
1) Dikoordinasikan oleh lurah atau kepala desa.
2) Tim kerja yang dibentuk tiap RT, anggota tim adalah pemuka masyrakat
RT yang bersangkutan dan pimpinan oleh ketua RT.
c. Survei diri
Tiap tim kerja di RT melakukan survei di masyrakatnya masing-
masing dan diolah serta dipresentasikan kepada warganya.
d. Perencanaan program
Perencanaan dilakukan oleh masyarakat sendiri setelah
mendengarkan presentasi survei diri dari tim kerja, serta telah menentukan
bersama tentang prioritas masalah akan dipecahkan. Merencanakan
program ini perlu diarahkan terbentuknya dana sehat dan kader kesehatan.
kedua hal ini merupakan sangat penting dalam rangka pengembangan
peran serta masyarakat. Dana sehat tersebut selain dari bentuk peran serta
masyarakat, juga merupakan motor penggerak program.
e. Training (Pelatihan)

10
Training para kader harus dipimpin oleh dokter puskesmas
meliputi medis dan manajemen kecil-kecilan dalam mengolah program-
program kesehatan tingkat desa serta pencatatan, pelaporan, dan rujukan.
f. Rencana evaluasi
Menyusun rencana evaluasi perlu ditetapkan kriteria keberhasilan
suatu program, secara sederhana dan mudah dilakukan oleh masyrakat
atau kader itu sendiri (Notoatmojo, 2007).
5. Faktor Yang Mempengaruhi Peranserta Masyarakat
a. Manfaat kegiatan yang dilakukan.
Jika kegiatan yang dilakukan memberikan manfaat yang nyata dan
jelas bagi masyarakat maka kesediaan masyarakat untuk berperanserta
menjadi lebih besar.
b. Adanya kesempatan.
Kesediaan juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan atau ajakan
untuk berperanserta dan masyarakat melihat memang ada hal-hal yang
berguna dalam kegiatan yang akan dilakukan.
c. Memiliki ketrampilan.
Jika kegiatan yang dilaksanakan membutuhkan ketrampilan
tertentu dan orang yang mempunyai ketrampilan sesuai dengan
ketrampilan tersebut maka orang tertarik untuk berperanserta.
d. Rasa Memiliki.
Rasa memiliki suatu akan tumbuh jika sejak awal kegiatan
masyarakat sudah diikut sertakan, jika rasa memiliki ini bisa ditumbuh
kembangkan dengan baik maka peranserta akan dapat dilestarikan.
e. Faktor tokoh masyarakat.
Jika dalam kegiatan yang diselenggarakan masyarakat melihat
bahwa tokoh - tokoh masyarakat atau pemimpin kader yang disegani ikut
serta maka mereka akan tertarik pula berperanserta.
6. Peran Kader Masyarakat sebagai Wujud Peran Serta
Kader Posyandu adalah warga masyarakat yang terlibat dalam dalam seksi
7 dan seksi 10 LKMD (Tim penggerak PKK) yang tergabung dalam Pokja IV
yang membidangi masalah kesehatan dan KB dan aktif dalam kegiatan

11
Posyandu. Kader gizi adalah anggota masyarakat yang bekerja secara sukarela
dan mampu melaksanakan upaya peningkatan gizi keluarga (UPGK) serta
mampu menggerakkan masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan UPGK.
7. Peranan Kader dalam penyelenggaraan Posyandu
a. Memberitahukan hari dan jam buka Posyandu kepada para ibu
pengguna Posyandu (ibu hamil, ibu yang mempunyai bayi dan anak
balita serta ibu usia subur) sebelum hari buka Posyandu.
b. Menyiapkan peralatan untuk penyelenggaraan Posyandu sebelum
Posyandu dimulai seperti timbangan, buku catatan, KMS, alat peraga
penyuluhan dll.
c. Melakukan pendaftaran bayi, balita, ibu hamil dan ibu usia subur yang
hadir di Posyandu.
d. Melakukan penimbangan bayi dan balita.
e. Mencatat hasil penimbangan kedalam KMS
f. Melakukan penyuluhan perorangan kepada ibu-ibu di meja IV, dengan
isi penyuluhan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi ibu yang
bersangkutan.
g. Melakukan penyuluhan kelompok kepada ibu-ibu sebelum meja I atau
setelah meja V (kalau diperlukan).
h. Melakukan kunjungan rumah khususnya pada ibu hamil, ibu yang
mempunyai bayi dan balita serta pasangan usia subur, untuk menyuluh
dan mengingatkan agar datang ke Posyandu.

BAB III

12
PROGRAM-PROGRAM KESEHATAN/KEBIJAKAN DALAM
MENANGGULANGI MASALAH KESEHATAN UTAMA DI INDONESIA

A. Konsep Pembangunan Kesehatan Di Indonesia


Pembangunan Kesehatan merupakan bagian dari pembangunan yang
bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat
untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut
merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia baik masyarakat, swasta,
maupun pemerintah.

B. Tujuan Pembangunan Kesehatan Di Indonesia


Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat adalah
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar terwujud derajat kesahatan masyarakat yang optimal melalui
terciptanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh
penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan prilaku yang sehat,
memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu
secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal
diseluruh wilayah Republik Indonesia.

C. Paradigma Sehat
Paradigma sehat adalah cara pandang, pola pikir, atau model pembanguan
kesehatan yang memandang masalah kesehatan saling terkait dan
mempengaruhi banyak faktor yang bersifat lintas sektoral dengan upaya yang
lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan, serta perlindungan
kesehatan, tidak hanya pada upaya penyembuhan penyakit atau pemulihan
kesehatan.

D. Misi dan Visi Indonesia Sehat


VISI : Indonesia Sehat
MISI :
1) Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan.
2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat

13
3) Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu,
merata dan terjangkau
4) Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan
masyarakat beserta lingkungannya.

E. Ciri – Ciri Masyarakat Yang Sehat


1) Peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat.
2) Mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya peningkatan,
pencegahan, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
3) Peningkatan upaya kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi
dasar yang dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
meningkatkan mutu lingkungan hidup.
4) Peningkatan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan status
sosial ekonomi masyarakat.
5) Penurunan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab dan
penyakit

F. Indikator Yang Berhubungan Dengan Kesehatan Masyarakat


Menurut WHO beberapa indikator dari masyarakat sehat adalah degan
keadaan yang berhubungan dengan status kesehatan masyarakat, meliputi:
1. Indikator komprehensif- angka kematian kasar menurun, meliputi :
a. Rasio angka mortalitas proporsial rendah
b. Umur harapan hidup meningkat
2. Indikator spesifik- angka kematian ibu dan anak menurun, meliputi :
a. Angka kematian karena penyakit menular menurun.
b. Indikator pelayanan kesehatan, meliputi :
1) Rasio antara tenaga kesehatan dan jumlah penduduk seimbang.
2) Distribusi tenaga kesehatan merata.
3) Informasi lengkap tentang jumlah tempat tidur di rumah sakit,
fasilitas kesehatan lain, dsb.
4) Informasi tentang jumlah sarana pelayanan kesehtan
diantaranya rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin, dsb.

14
G. Faktor – Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Di Indonesia
1. Faktor lingkungan
a. Kurangnya peran serta masyarakat dalam mengatasi kesehatan
(masalah-masalah kesehatan).
b. Kurangnya sebagian besar rasa tanggung jawab masyarakat dalam
bidang kesehatan.
2. Faktor perilaku dan Gaya Hidup masyarakat Indonesia
a. Masih banyak insiden atau kebiasaan masyarakat yang selalu
merugikan dan membahayakan kesehatan mereka.
b. Adat istiadat yang kurang atau bahkan tidak menunjang kesehatan.
3. Faktor sosial ekonomi
a. Tingkat pendidikan masyarakat di Indonesia sebagian besar masih
rendah.
b. Kurangnya kesadaran dalam pemeliharaan kesehatan. Budaya sadar
sehat belum merata ke sebagian penduduk Indonesia.
c. Tingkat social ekonomi dalam hal ini penghasilan juga masih rendah
dan memprihatinkan.
4. Faktor pelayanan kesehatan
a. Cakupan pelayanan kesehatan belum menyeluruh dimana ada
sebagian propinsi di indonsia yang belum mendapat pelayanan
kesehatan maksimal dan belum merata.
b. Upaya pelayanan kesehatan sebagian masih beriorientasi pada upaya
kuratif.
c. Sarana dan prasarana belum dapat menunjang pelayanan kesehatan.

H. Sistem Pelayanan Kesehatan dan Kebijakan Era Otonomi Daerah


1. Sistem Pelayanan Kesehatan
Pelaksanaan otonomi daerah yang luas di seluruh wilayah Indonesia
mulai dilakukan setelah keluarnya Undang-undang No 22 tahun 1999 yang
kemudian di-ubah dengan UU No 32 Tahun 2004 dan per-ubahan terakhir
dalam UU No.12 Tahun 2008. Pada UU ini memberikan perluasan
wewenang kepada pemerintah tempatan untuk menjalan-kan pelbagai
aktifitas yang selama ini telah dilaksanakan oleh pemerintah pusat.
Otonomi daerah ini, dari sudut pelayanan publik di-anggap sebagai usaha
untuk mengurangkan halangan birokrasi yang sering menyebabkan
pelayanan informasi publik memakan masa dan mahal. Oleh yang
demikian, pemerintah tem-patan dikehendaki supaya dapat menyediakan

15
pelayanan yang lebih berkualitas tinggi, dalam arti kata yang lebih
berorientasikan kepada aspirasi rakyat.
Badan layanan umum adalah instansi di lingkungan pemerintah yang
dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa
penyediaan barang dan atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari
keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip
efisiensi dan produktivitas. Berdasar Peraturan Pemerintah No : 23 tahun
2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, tujuan BLU
adalah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa
dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan
prinsip eknomi dan produktivitas dan penerapan praktik bisnis yang sehat.
Praktik bisnis yang sehat artinya berdasarkan kaidah manajemen yang baik
mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan
pertanggungjawaban.
Secara umum asas badan layanan umum adalah pelayanan umum yang
pengelolaannya berdasarkan kewenangan yang didelegasikan, tidak
terpisah secara hukum dari instansi induknya, Rumah sakit adalah salah
satu sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan dengan
memfungsikan berbagai kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam
menghadapi dan menangani masalah medik untuk pemulihan dan
pemeliharaan kesehatan yang baik.
Kebijakan kesehatan sendiri merupakan acuan bagi pelaksanaan
tugas-tugas mengurus dan mengatur oleh pemerintah dalam rangka
kewajiban negara merealisasikan hak atas derajat kesehatan yang optimal.
Kebijakan kesehatan memiliki landasan hukumnya Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2009.
System pelayanan kesehatan yang ada di daerah saat ini terdiri dari
beberapa rumah sakit daerah, puskesmas dan beberapa puskesmas
pembantu. Tercatat jumlah Puskesmas seluruh Indonesia sebanyak 7.237
unit, Puskesmas Pembantu 21.267 unit, Puskesmas keliling 6.392 unit.
Sementara untuk rumah sakit sebanyak 1.215 unit (420 milik pemerintah;

16
605 milik swasta; 78 milik BUMN; 112 milik TNI/POLRI). Rasio sarana
dan prasarana kesehatan di luar pulau jawa lebih baik dari di pulau Jawa,
tetapi keadaan transportasi di luar pulau Jawa jauh lebih buruk daripada di
pulau Jawa. Diperkirakan baru 30% penduduk yang memanfaatkan
Puskesmas dan Puskesmas Pembantu.
2. Kebijakan Era Otonomi Daerah
Kebijakan otonomi daerah dan otonomi di bidang kesehatan membawa
implikasi terhadap perubahan sekaligus tantangan bagi penyelenggaraan
pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit. Salah satu perubahan yang
terjadi di dalam pengelolaan rumah sakit adalah berubahnya sistem
pengelolaan keuangan menjadi rumah sakit swadana. Perubahan rumah
sakit menjadi swadana baik secara langsung maupun secara tidak langsung
akan berakibat bergesernya rumah sakit dari fungsi sosial murni berubah
menjadi fungsi sosioekonomi.
Rumah sakit pemerintah merupakan salah satu unit yang mempunyai
keharusan mengembangkan unit kerjanya semaksimal dan seoptimal
mungkin, banyak cercaan dan makian yang diterima oleh rumah sakit
pemerintah karena kelambatan penanganan dan jeleknya pelayanan, hal ini
terjadi dikarenakan adanya keterbatasan dana yang dimiliki oleh rumah
sakit pemerintah khususnya yang berada di daerah.
Rumah sakit pemerintah pada saat ini masih banyak yang berbentuk
badan hukum swadana. Hal ini sangat menyulitkan rumah sakit untuk
berkembang menjadi lebih baik. Pada rumah sakit yang berbentuk
swadana biasanya manajemen keuangannya sebagian masih disubsidi oleh
pemerintah, namun selain itu sebenarnya rumah sakit berhak untuk
mengelola keuangan atas keuntungan yang di dapat dari pelayanan
terhadap masyarakat, namun pada kenyataannya keuntungan yang di dapat
tidaklah banyak, sehingga menyulitkan rumah sakit untuk berkembang,
Selain itu dalam memenuhi kebutuhannya khususnya dalam pengadaan
barang kesehatan memerlukan birokrasi yang berbelit-belit karena
diharuskan mengajukan pengajuan anggaran kepada pemerintah yang
terkadang sangat memerlukan waktu yang lama.

17
Pengembangan sumber daya dan fasilitas rumah sakit dapat didukung
dengan sistem manajemen organisasi rumah sakit, dengan
dinormatifkannya Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara membuka peluang baru dalam mekanisme basis
manajemen rumah sakit dilingkungan pemerintah, pada Pasal 68 dan 69
pada Undang-Undang tersebut menyatakan bahwa instansi pemerintah
yang tugas dan pokok serta fungsinya memberikan pelayanan kepada
masyarakat dapat menerapkan pengelolaan keuangan yang fleksibel
dengan menonjolkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas.
Dengan adanya aturan terhadap pengelolaan manajemen rumah sakit
dengan bentuk swadana, Rumah sakit yang berbentuk swadana di dorong
untuk dirubah menjadi rumah sakit dengan bentuk Badan Layanan Umum
Daerah (BLUD), prinisp-prinsip tersebut diharapkan dapat menjadi
langkah awal dalam pembaharuan manajemen keuangan sektor publik
demi meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

I. Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan


Pemukiman
1. Penyakit- Penyakit Menular Pada Manusia
a. HIV/AIDS
HIV merupakan sebuah retrovirus yang memiliki genus
lentivirus, genus ini memiliki tipe klinis seperti sumber penyakit
infeksi yang kronis, periode laten klinis yang panjang, replikasi
virus yang persisten dan terlibat dalam sistem saraf pusat. Virus ini
berbeda dengan virus lain karena tubuh manusia tidak dapat
menyingkirkan virus ini. HIV menyebar melalui cairan tubuh dan
memiliki cara khas dalam menginfeksi sistem kekebalan tubuh
manusia terutama sel CD4 atau sel-T. AIDS merupakan kumpulan
gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan
tubuh akibat infeksi oleh virus HIV. AIDS merupakan stadium
ketika sistem imun penderita jelek dan penderita menjadi rentan
terhadap infeksi yang dinamakan infeksi oportunistik. Pada
individu yang terinfeksi HIV dengan jumlah CD4 < 200μL juga

18
merupakan definisi AIDS meskipun tanpa adanya gejala yang
terlihat atau infeksi oportunistik.
Program pemberantasan HIV AIDS, yaitu:
1) Voluntary Counseling and Test (VCT)
Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang
menyediakan dukungan psikologis, informasi dan pengetahuan
HIV/AIDS, mencegah penularan HIV, mempromosikan
perubahan perilaku yang bertanggungjawab, pengobatan
antiretroviral (ARV) dan memastikan pemecahan berbagai
masalah terkait dengan HIV/AIDS yang bertujuan untuk
perubahan perilaku ke arah perilaku lebih sehat dan lebih aman
(Pedoman Pelayanan VCT, 2006).
2) Program Terapi Rumatan Metadone (PTRM)
Metadon bukan terapi untuk menyembuhkan ketergantugan
heroin, terapi ini membuat pola kebiasaan baru, kesempatan
berpikir, bekerja, menimbang, dan memilih bagi penggunanya
tanpa kekuatiran akan terjadinya gejala putus heroin, dan
membantu klien memutuskan hubungan dari lingkaran
pengguna heroin. Prinsipnya adalah adanya perubahan
perilaku.
Manfaat metadon yaitu membuat stabil mental emosional
klien sehingga dapat menjalani hidup normal, penggunaan
metadon lebih murah daripada penggunaan heroin, metadon
dapat mendorong klien hidup sehat, penggunaan metadon dapat
membuat klien meninggalkan kebiasaan berbagi peralatan
suntik sehingga menurunkan resiko penularan HIV/AIDS,
Hepatitis C/B, memungkinkan klien mengatasi masalah putus
heroin dengan sedikit lebih nyaman, menurunkan tindak
criminal.
3) Program Penyediaan Jarum Suntik dan Pemusnahan Jarum
Suntik Bekas (Perjasun)
Perjasun adalah suatu rangkaian kegiatan dalam penyediaan
dan pemberian paket jarum suntik steril di Puskesmas bagi
penasun, serta pemusnahan limbah jarum suntik bekas yang
telah diamankan. Program ini juga meliputi pendidikan,

19
pemberian informasi, dan komunikasi untuk mengubah
perilaku beresiko dalam rangka pencegahan infeksi menular
lewat darah.
4) Prevention Mother to Child Transmission (PMTCT)
Program untuk pencegahan penularan dari ibu ke anak
(PMTCT) HIV termasuk pemeriksaan antenatal HIV dan
councelling, menghindari kehamilan yang tidak diinginkan,
penyediaan antiretroviral (ARV) bagi ibu-ibu dan bayi baru
lahir, dan dukungan untuk pilihan pemberian makanan bayi
yang lebih aman dan praktek.
5) Program TB-HIV Care, Support and Treatment (CST) di RS
Rujukan HIV-AIDS
Memulai terapi HIV dan TB secara bersamaan
memperbaiki ketahanan hidup dengan pengobatan secara
bersamaan dikaitkan dengan kurang lebih 65% penurunan
kemungkinan kematian, bahkan apabila memperhitungkan
faktor lain. Para peneliti mencatat bahwa manfaat ketahanan
hidup secara khusus terbukti tak lama setelah mulai
pengobatan, dengan pengobatan secara bersamaan dikaitkan
dengan risiko kematian yang 85% lebih rendah setelah enam
bulan dan 67% setelah 12 bulan. Walaupun menarik, para
peneliti tidak dapat menyimpulkan bahwa itu adalah manfaat
yang sesungguhnya dari pengobatan secara bersamaan dan
bukan hasil dari dampak pembaur yang tidak diketahui.
b. Diare
Diare merupakan kondisi yang ditandai dengan encernya tinja
yang dikeluarkan dengan frekuensi buang air besar (BAB) yang
lebih sering dibandingkan dengan biasanya. Pada umumnya, diare
terjadi akibat konsumsi makanan atau minuman yang
terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit. Biasanya diare hanya
berlangsung beberapa hari, namun pada sebagian kasus memanjang
hingga berminggu-minggu.
Gejala diare bermacam-macam, dimulai dari yang hanya
merasakan sakit perut singkat dengan tinja yang tidak terlalu encer
hingga ada yang mengalami kram perut dengan tinja yang sangat

20
encer. Pada kasus diare parah, kemungkinan penderitanya juga
akan mengalami demam dan kram perut hebat.
1) Gambaran umum Program Penyakit Diare:
a) Melaksanakan tatalaksana penderita diare yang
standar, baik di Sarana Kesehatan maupun
masyarakat/rumah tangga.
b) Melaksanakan Surveilans Epidemiologi dan
Penanggulangan KLB Diare
c) Mengembangkan pedoman pengendalian penyakit
diare
d) Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan
petugas dalam pengelolaan program yang meliputi
aspek manajerial dan tehnis medis.
e) Mengembangkan jejaring lintas program dan sektor
di pusat, propinsi dan kabupaten/kota
f) Meningkatkan pembinaan tehnis dan monitoring
untuk mencapai kualitas pelaksanaan pengendalian
penyakit diare secara maksimal, dan
g) Melaksanakan evaluasi untuk mengetahui hasil
kegiatan program dan sebagai dasar perencanaan
selanjutnya
2) Gambaran secara khusus
a) Meningkatkan tatalaksana penderita diare di rumah
tangga yang tepat dan benar
b) Meningkatkan SKD dan penanggulangan KLB
Diare
c) Melaksanakan upaya kegiatan pencegahan yang
efektif.
d) Melaksanakan monitoring dan evaluasi
e) Tatalaksana Penderita Diare
f) Surveilans Epidemiologi
g) Promosi Kesehatan
h) Pencegahan Diare
i) Pengelolaan Logistik
j) Pemantauan dan Evaluasi
c. Demam Tifoid ( tifus atau paratifus)
Demam tifoid adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
bakteri salmonela, yaitu salmonella typhi atau salmonella
paratyphi A, B, dan C. Penderita yang ada dalam masa

21
penyembuhan umumnya masih mengandung bibit penyakit di
dalam kantung empedu maupun di dalam ginjalnya. Salmonella
akan memasuki tubuh calon penderita melalui saluran pencernaan.
Tanda-tanda khas dari penyakit ini adalah demam, gejala-gejala
keluhan pada perut , limpa, dan erupsi kulit.
Pencegahan, penyakit ini dapat melalui perbaikan kebersihan
individu dan lingkungan, mengusahakan penyediaan sarana air
yang baik, dan memberikan vaksinasi .
d. Difteri
Difteri adalah penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri
bacillus, yaitu coryna bacterium diphtheria. Umumnya yang
banyak terinfeksi penyakit ini adalah anak-anak. Penularan melalui
titik ludah merupakan cara penularan yang paling utama. Penularan
lain dapat pencemaran tangan, dan sapu tangan. Bagian tubuh yang
dapat mengalami infeksi adalah tonsil, nasofaring, laring dan
bagian saluran pernafasan atas lainnya. Gejala umum adalah
demam, menggigil, dan badan lemah.
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah imunisasi aktif dan
pasif. Imunisasi aktif (vaksinasi) pertama sebaiknya sudah
diberikan pada saat anak berusia 3 bulan, diberikan bersama-sama
dengan imunisasi tetanus, pertunis, dan polio mielitis. Vaksinasi
kedua diberikan 2 tahun kemudian, sedangkan vaksin yang ketiga
diberikan pada waktu anak mulai masuk sekolah. Imunisasi pasif
dilakukan untuk mendapatkan perlindungan selama 2-3 minggu.
e. Tuberculosis (TBC)
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi spesifik pada manusia dan
hewan. Penyebab tuberculosis adalah Mycobacterium tuberculosis,
Mycobacterium bovis, Mycobacterium avium, dan mycobacter ium
microti. Gejala umum penderita penyakit ini adalah lemah badan,
penurunan berat badan, meningkatnya suhu tubuh, berkeringan
malam hari.
Adapun gambaran program untuk penyakit Tuberkulosis di
Indonesia, meliputi :

22
1) Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014.
Strategi nasional program pengendalian TB nasional terdiri dari
7 strategi:
a) Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang
bermutu.
b) Menghadapi tantangan TB/HIV, MDR-TB, TB anak dan
kebutuhan masyarakat miskin serta rentan lainnya.
c) Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah,
masyarakat (sukarela) perusahan dan swasta melalui
pendekatan pelayanan TB Terpadu Pemerintah dan Swasta
(Public-Private Mix) dan menjamin kepatuhan terhadap
standar internasional penatalaksanaan TB (Internasional
Standards for TB Care).
d) Memberdayakan masyarakat dan pasien TB.
e) Memberikan kontribusi dalam penguatan sistem keehatan
dan manajemen program pengendalian TB.
f) Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah
terhadap program TB.
g) Mendorong penelitian, pengembangan dan pemanfaatan
informasi strategi.
Strategi nasional program pengendalian TB nasional
tahun 2015-2019 merupakan pengembangan strategi
nasional sebelumnya denganbeberapa pengembangan
strategi baru untuk mengahadapi target dan tantnagan yang
lebih besar.
2) Kegiatan
a) Tatalaksana TB Paripurna
1. Promosi Tuberkulosis
2. Pencegahan Tuberkulosis
3. Penemuan pasien Tuberkulosis
4. Rehabilitasi pasien Tuberkulosis
b) Pengendalian TB Komprehensif
1. Pembuatan layanan laboratorium Tuberkulosis
2. Public-Private Mix Tuberkulosis
3. Kelompok rentan: pasien diabetes militusn (DM), ibu
hamil, gizi buruk
4. Kolaborasi TB-HIV
5. TB anak
6. Pemberdayaan masyarakat dan pasien TB

23
7. Pendekatan Praktis Kesehatan Paru (Practicle Aproach
to Lung Health = PAL)
8. Manajemen Terpadu Pengendalian TB Resistan Obat
(MTPTRO)
9. Penelitian Tuberkulosis
2. Program Pemberantasan Penyakit Menular
a. Tujuan
1) Program ini bertujuan menurunkan angka kesakitan, kematian, dan
kecacatan akibat penyakit menular dan tidak menular.
2) Penyakit menular yang diprioritaskan dalam program ini adalah:
malaria, demam berdarah dengue, tuberkulosis paru, HIV/ AIDS,
diare, polio, filaria, kusta, pneumonia, dan penyakit-penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), termasuk penyakit
karantina dan risiko masalah kesehatan masyarakat yang
memperoleh perhatian dunia internasional (public health risk of
international concern).
3) Penyakit idak menular yang diutamakan adalah: penyakit jantung,
kanker, diabetes melitus dan penyakit metabolik, penyakit kronis
dan degeneratif, serta gangguan akibat kecelakaan dan cedera.
b. Sasaran
1) Persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization
(UCI) sebesar 98%.
2) Angka Case Detection Rate penyakit TB sebesar 70% dan angka
keberhasilan pengobatan TB di atas 85%.
3) Angka Acute Flaccid Paralysis (AFP) diharapkan ≥ 2/100.000
anak usia kurang dari 15 tahun.
4) Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditangani sebesar
80%.
5) Penderita malaria yang diobati sebesar 100%
6) CFR diare pada saat KLB adalah < 1,2%.
7) ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) mendapat pengobatan ART
sebanyak 100%.
8) Tersedianya dan tersosialisasikannyakebijakan dan pedoman, serta
hukum kesehatan penunjang program yang terdistribusi hingga ke
desa.
9) Terselenggaranya sistem surveilans dan kewaspadaan dini serta
penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)/ wabah secara
berjenjang hingga ke desa.

24
3. Kebijakan Pelaksanaannya, yaitu:
a. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk mendorong
peran, membangun komitmen, dan menjadi bagian integral
pembangunan kesehatan dalam mewujudkan manusia Indonesia yang
sehat dan produktif terutama bagi masyarakat rentan dan miskin
hingga ke desa.
b. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diselenggarakan melalui
penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat, imunisasi, peningkatan
perilaku hidup bersih dan sehat, serta pengendalian faktor risiko baik
di perkotaan dan di perdesaan.
c. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi
dengan fokus pemantauan wilayah setempat dan kewaspadaan dini,
guna mengantisipasi ancaman penyebaran penyakit antar daerah
maupun antar negara yang melibatkan masyarakat hingga ke desa.
d. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
mengembangkan sentra rujukan penyakit, sentra pelatihan
penanggulangan penyakit, sentra regional untuk kesiapsiagaan
penanggulangan KLB/ wabah.
e. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
memantapkan jejaring lintas program, lintas sektor, serta kemitraan
dengan masyarakat termasuk swasta untuk percepatan program
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular melalui pertukaran
informasi, pelatihan, pemanfaatan teknologi tepat guna, dan
pemanfaatan sumberdaya lainnya.
f. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk dilakukan
melalui penyusunan, review, sosialisasi, dan advokasi produk hukum
penyelenggaraan program pencegahan dan pemberantasan penyakit di
tingkat pusat hingga desa.
g. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
meningkatkan profesionalisme sumberdaya manusia di bidang
pencegahan dan pemberantasan penyakit sehingga mampu
menggerakkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat secara
berjenjang hingga ke desa.

25
h. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
meningkatkan cakupan, jangkauan, dan pemerataan pelayanan
penatalaksanaan kasus penyakit secara berkualitas hingga ke desa.
4. Langkah-langkah pemberantasan penyakit menular yaitu:
a. Mengumpulkan dan menganalisa data tentang penyakit.
b. Melaporkan penyakit menular.
c. Menyelidiki di lapangan untuk mengetahui benar atau tidaknya
laporan yang masuk untuk menemukan kasus-kasus lagi dan untuk
mengetahui sumber penularan.
d. Menyembuhkan penderita hingga ia tidak lagi menjadi sumber
infeksi.
e. Pemberantasan vektor (pembawa penyakit)
f. Pendidikan kesehatan.
5. Cara-cara pencegahan penyakit menular secara umum, yaitu :
a. Mempertinggi nilai kesehatan.
b. Ditempuh dengan cara usaha kesehatan (hygiene) perorangan dan
usaha kesehatan lingkungan (sanitasi).
c. Memberi vaksinasi/imunisasi
d. Merupakan usaha untuk pengebalan tubuh. Ada dua macam, yaitu :
1) Pengebalan aktif, yaitu dengan cara memasukkan vaksin ( bibit
penyakit yang telah dilemahkan), sehingga tubuh akan dipaksa
membuat antibodi. Contohnya pemberian vaksin BCG, DPT,
campak, dan hepatitis.
2) Pengebalan pasif, yaitu memasukkan serum yang mengandung
antibodi. Contohnya pemberian ATS (Anti Tetanus Serum).
6. Pemeriksaan kesehatan berkala
Merupakan upaya mencegah munculnya atau menyebarnya suatu
penyakit, sehingga munculnya wabah dapat dideteksi sedini mungkin.
Dengan cara ini juga, masyarakat bisa mendapatkan pengarahan rutin
tentang perawatan kesehatan, penanganan suatu penyakit, usaha
mempertinggi nilai kesehatan, dan mendapat vaksinasi.

J. Penyehatan Lingkungan
Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan
hidup yang lebih sehat melalui pengembangan system kesehatan kewilayahan
untuk menggerakkan pembangunan lintas sektor berwawasan kesehatan.
Adapun kegiatan pokok untuk mencapai tujuan tersebut meliputi:
1. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar
2. Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan
3. Pengendalian Dampak Risiko Pencemaran Lingkungan

26
4. Pencapaian Tujuan Penyehatan Lingkungan merupakan akumulasi
berbagai pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor, peran swasta
dan masyarakat dimana pengelolaan kesehatan lingkungan merupakan
penanganan yang paling kompleks, kegiatan tersebut sangat berkaitan
antara satu dengan yang lainnya yaitu dari hulu berbagai lintas sector ikut
serta berperan baik kebijakan dan pembangunan fisik serta Departemen
Kesehatan sendiri terfokus kepada hilirnya yaitu pengelolaan dampak
kesehatan.
5. Sebagai gambaran pencapaian tujuan program lingkungan sehat disajikan
dalam per kegiatan pokok melalui indikator yang telah disepakati serta
beberapa kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut:
a. Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi
Adanya perubahan paradigma dalam pembangunan sektor air
minum dan penyehatan lingkungan dalam penggunaan prasarana
dan sarana yang dibangun, melalui kebijakan Air Minum dan
Penyehatan Lingkungan yang ditandatangani oleh Bappenas,
Departemen Kesehatan, Departemen Dalam Negeri serta
Departemen Pekerjaan Umum sangat cukup signifikan terhadap
penyelenggaraan kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi
khususnya di daerah. Strategi pelaksanaan yang diantaranya
meliputi penerapan pendekatan tanggap kebutuhan, peningkatan
sumber daya manusia, kampanye kesadaran masyarakat, upaya
peningkatan penyehatan lingkungan, pengembangan kelembagaan
dan penguatan sistem monitoring serta evaluasi pada semua
tingkatan proses pelaksanaan menjadi acuan pola pendekatan
kegiatan penyediaan Air Bersih dan Sanitasi.
b. Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan
1) Pengawasan Institusi Pendidikan
Kondisi kesehatan lingkungan pada sekolah dititik beratkan
pada aspek hygiene, sarana sanitasi di sekolah yang erat
kaitannya dengan kondisi fisik bangunan sekolah. Kegiatan
yang dilakukan untuk meningkatkan kesehatan lingkungan di
sekolah adalah :
a) Pengendalian faktor risiko lingkungan di sekolah

27
b) Pembinaan kesehatan lingkungan di sekolah dan Pondok
Pesantren
c) Sosialisasi dan advokasi Kepmenkes 1429/2006 tentang
pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan di
Sekolah
d) Penilaian lomba sekolah sehat
2) Rumah Sehat
Pada tahun 2006, cakupan rumah sehat mencapai 69%.
Kegiatan yag dilakukan: menyusun persyaratan kualitas udara
di dalam rumah serta menyusun petunjuk pelaksanaan
monitoring kualitas udara di dalam rumah. Untuk menciptakan
rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap beberapa
aspek yang sangat berpengaruh, antara lain:
a) Sirkulasi udara yang baik.
b) Penerangan yang cukup.
c) Air bersih terpenuhi.
d) Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak
menimbulkan pencemaran.
e) Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak
lembab serta tidak terpengaruh pencemaran seperti bau,
rembesan air kotor maupun udara kotor.
3) Pengawasan Tempat-tempat Umum
Pengawasan tempat-tempat umum perlu dilakukan
karena tempat berkumpulnya manusia, yang bisa menjadi
sumber penularan berbagai penyakit. Aspek yang dinilai
antara lain :
a) Kondisi bangunan meliputi langit-langit, dinding, lantai,
ventilasi, pencahayaan, dll
b) Sarana sanitasi meliputi sarana air bersih, sarana
pembuangan kotoran, sarana pembuagan air limbah, dan
sarana pembuangan sampah.
4) Pengendalian Dampak Risiko Pencemaran Lingkungan
Faktor risiko lingkungan dan perilaku masyarakat
merupakan satu kesatuan yang memiliki hubungan timbal
balik yang berpengaruh terhadap gangguan kesehatan
masyarakat dan kesehatan lingkungan. fokus pelaksanaan
yang perlu dilakukan baik melalui fasilitasi kepada para

28
pengelola program, advokasi dan sosialisasi kepada para
pengambil keputasan daerah adalah sebagai berikut:
a) AMDAL / ADKL
Kajian aspek kesehatan masyarakat perlu dikaji
secara cermat dan mendalam, dengan metode pendekatan
analisis dampak kesehatan lingkungan (ADKL) dan metode
epidemiologi. Metode analisis dampak kesehatan
lingkungan (ADKL) ini dapat dipergunakan untuk
identifikasi dampak potensial dari suatu hubungan antara
parameter lingkungan, media lingkungan, penduduk yang
terpajan dan dampaknya terhadap kesehatan.
b) Pengendalian Pencemaran Udara
Saat ini penurunan kualitas udara terutama di kota-
kota besar telah menjadi masalah yang membutuhkan
penanganan serius mengingat sudah pada tingkat yang
dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Penurunan
kualitas udara terjadi karena emisi yang masuk ke udara
melebihi daya dukung lingkungan. Lingkungan tidak
mampu menetralisir pencemaran yang terjadi.

M. Program Pembinaan Kesehatan Komunitas


1. Pengertian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Sehat adalah keadaan fisik, mental, sosial yang baik dari seseorang,
bukan hanya tidak cacat atau berpenyakit (WHO).
Definisi ilmu kesehatan masyarakat menurut profesor Winslowdari
Universitas Yale (Leavel and Clark, 1958) adalah ilmu dan seni mencegah
penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan
mental, dan efisien.
Secara garis besar, upaya-upaya yang dapat dikategorikan sebagai seni
atau penerapan ilmu kesehatan masyarakat antara lain sebagai berikut :
a. Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular.
b. Perbaikan sanitasi lingkungan
c. Perbaikan lingkungan pemukiman
d. Pemberantasan Vektor
e. Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat
f. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
g. Pembinaan gizi masyarakat
h. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum
i. Pengawasan Obat dan Minuman

29
j. Pembinaan Peran Serta Masyarakat
2. Pengertian Kesehatan Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang pengaruhnya paling
besar terhadap status kesehatan masyarakat di samping faktor pelayanan
kesehatan, faktor genetik dan faktor prilaku. Sejalan dengan
kebijaksanaan’Paradigma Sehat’ yang mengutamakan upaya-upaya yang
bersifat promotif, preventif dan protektif. Maka upaya kesehatan
lingkungan sangat penting.
Kegiatan peningkatan kesehatan lingkungan bertujuan terwujudnya
kualitas lingkungan yang lebih sehat agar dapat melindungi masyarakat
dari segala kemungkinan resiko kejadian yang dapat menimbulkan
gangguan dan bahaya kesehatan menuju derajat kesehatan keluarga dan
masyarakat yang lebih baik

N. Analisis SWOT

STRENGHT Adanya langkah-langkah yang telah disusun untuk


menegndalikan penyakit menular serta cara
pencegahannya
Adanya kesadaran pemerintah terhadap pentingnya
rumah sehat bagi kesehatan masyarakat
Kondisi lingkungan telah di perhatikan
WEAKNESS Program yang dijalankan tidak merata, hanya berfokus
di kota-kota besar saja
Kurangnya sosialisasi terkait program kebijakan yang
dijalankan
Angka kejadian penyakit menular semakin bertambah
setiap tahun
OPPORTUNITY Adanya undang-undang yang mengatur penyelenggaraan
rumah sakit oleh daerah

30
Penyediaan layanan kesehatan seperti, puskesmas dan
rumah sakit di setiap daerah
TREATH Perubahan rumah sakit menjadi swadana baik secara
langsung maupun secara tidak langsung akan berakibat
bergesernya rumah sakit dari fungsi sosial murni
berubah menjadi fungsi sosioekonomi.

O. Kasus Di Masyarakat Yang Diselesaikan Dengan Program/ Kebijakan


Jumlah kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Indonesia hingga juni 2018
mengalami kenaikan yaitu HIV sejumlah 301.959 dan AIDS sejumlah 640.443.
sedangkan di jawa tengah sendiri jumlah HIV yaitu 24.757. (Kemenkes RI, 2018)
Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Salatiga, Jawa Tengah sampai November
2018 mencapai 268 orang dengan jumlah kematian mencapai 68 orang. Dari
jumlah tersebut, berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga, lima
teratas penderita adalah mereka yang berprofesi sebagai wiraswastawan,
karyawan swasta, PSK, pemandu karaoke dan ibu rumah tangga. Dari jumlah itu,
penderita laki-laki sebanyak 169 orang dan 99 orang perempuan. Dari angka itu
pula, jumlah kematian penderita virus tersebut ada sekitar 68 orang (Yulianti,
2018)
Hasil Penelusuran di Puskesmas Kota Salatiga pada Tahun 2015 - 2018
terdapat 2 kasus penularan HIV dari ibu ke anak dari 12 ibu hamil HIV Positif dan
pada tahun 2018 terdapat 2 ibu hamil dengan HIV positif namun belum dapat
dideteksi adanya penularan sebab usia bayi yang dilahirkan belum lebih dari 6
bulan sehingga belum dapat dilakukan pemeriksaan. Kondisi di atas menunjukkan
pentingnya implementasi program prevention of Mother to child transmission of
HIV (PMTCT) yang bertujuan untuk menyelamatkan ibu dan bayi dari infeksi.
Dalam pelaksanaan program tersebut harus mengacu pada PERMENKES RI
Nomor 51 Tahun 2013 tentang pedoman pencegahan penularan HIV dari ibu ke
anak. Program PMTCT komprehensif berupaya meningkatkan kepedulian dan
pengetahuan perempuan-perempuan usia reproduktif tentang HIV dan AIDS.
Tanggung Jawab Puskesmas Terhadap Pencegahan Penularan HIV/AIDS Dari 30
Ibu Ke Anak Dalam Upaya Pemberantasan Penyakit Menular Di Salatiga
1. Pencegahan Penularan HIV Pada Perempuan Usia Reproduktif

31
Dalam melaksanakan aktivitas Prong 1 Puskesmas telah
melakukan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi yang didalamnya
juga terdapat tentang IMS, HIV dan praktik seks yang aman untuk
mencegah penularan HIV dari Ibu ke Anak, diantaranya yaitu penyuluhan
pada remaja dengan memasuki sekolah SMP dan SMA. Puskesmas telah
mewajibkan tes HIV/AIDS kepada setiap ibu hamil yang memeriksakan
diri di Puskesmas. Puskesmas menawarkan suami untuk dilakukan tes HIV
apabila hasil tes HIV ibu hamil tersebut positif, sedangkan jika hasil tes
HIV negatif maka suami ibu hamil tidak ditawarkan.
2. Pencegahan Kehamilan Yang Tidak Direncanakan Pada Perempuan
Dengan HIV
Puskesmas di Kota Salatiga telah melakukan Konseling, pemberian
informasi dan pendidikan terhadap pasien dengan HIV positif tentang
Pengetahuan seputar HIV/AIDS, penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi,
perawatan dan pengobatan HIV/AIDS, perencanaan kehamilan, KB, dll.
Sedangkan upaya pengobatan dilakukan berdasarkan gejala yang ada pada
pasien.
3. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu Hamil Dengan HIV Ke Bayi Yang
Dikandungnya
Berdasarkan wawancara dengan Puskesmas didapatkan hasil
bahwa seluruh puskesmas Kota Salatiga telah melaksanakan ANC terpadu.
Kegiatan di dalam ANC terpadu salah satunya yaitu deteksi dini masalah
penyakit dan penyulit/komplikasi kehamilan. upaya deteksi dini tersebut
salah satunya yaitu melakukan pemeriksaan laboratorium yang terdiri dari
tes golongan darah, kadar HB, HBSAG, HIV, dan gula darah sewaktu.
Pemberian Pengobatan ARV di Puskesmas Salatiga untuk saat ini belum
dilakukan berdasarkan kebijakan dari Pihak Dinas Kesehatan Kota
Salatiga sebab tingkat keamanan personalnya belum sebagus Rumah Sakit.
Sehingga jika ditemukan Pasien dengan HIV akan dirujuk ke Rumah Sakit
untuk mendapatkan pengobatan ARV.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola program
HIV/AIDS di Puskesmas Kota Salatiga, dalam melakukan pencegahan

32
penularan HIV/AIDS bayi baru lahir pihak puskesmas memberikan
konseling tentang nutrisi bayi. Pada bayi usia 1 – 6 bulan pihak puskesmas
selalu menganjurkan untuk hanya diberikan susu formula untuk
meminimalisir penularan HIV ke bayi. Meskipun demikian, anjuran untuk
pemberian susu formula tetap mempertimbangkan syarat AFASS.
Tanggung jawab Puskesmas dalam proses persalinan adalah sebatas
melakukan konseling persiapan persalinan dan rujukan, sebab Puskesmas
Kota Salatiga belum mampu memberikan pelayanan persalinan yang aman
bagi ibu dengan HIV/AIDS. Setiap bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi
HIV harus dilakukan tes virologi HIV (DNA/RNA) dimulai pada usia 6
(enam) sampai dengan 8 (delapan) minggu atau tes serologi HIV pada usia
18 (delapan belas) bulan ke atas.
4. Pemberian Dukungan Psikologis, Sosial dan Perawatan Kepada ibu
Dengan HIV Beserta Anak Dan Keluarganya
Pentingnya Tanggung Jawab Puskesmas dalam memberikan
dukungan psikologis disebabkan karena pemeriksaan tes HIV & AIDS
memerlukan sarana dan prasarana khusus agar klien terjaga dari berbagai
stigma seperti pembedaan perlakuan di keluarga, masyarakat dan tempat
kerja. Di samping itu untuk mau menjalani tes, mampu menerima hasil
dan konsekuensinya diperlukan persiapan mental-emosional yang kuat.
Puskesmas bertanggung jawab dalam memberikan dukungan gizi/bantuan
dan arahan nutrisi. Seperti pemberian makanan tambahan (PMT) bagi bayi
dengan ibu HIV, pemberian konseling nutrisi bagi ibu dan bayi.

33
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Masalah kesehatan pada komunitas masih menjadi masalah utama
kesehatan masyarakat dunia, disamping mulai meningkatnya masalah
penyakit menular dan tidak menular. Penyakit menular tidak mengenal
batas-batas daerah administratif, sehingga pemberantasan penyakit menular
memerlukan kerjasama antar daerah, misalnya antar propinsi,
kabupaten/kota bahkan antar negara.
Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat adalah
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar terwujud derajat kesahatan masyarakat yang optimal melalui
terciptanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh
penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan prilaku yang sehat,
memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu
secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal
diseluruh wilayah Republik Indonesia.

B. SARAN
Di Indonesia sudah dilakukan peraturan yang mengatur tentang
kesehtan seperti pada Menurut Kepmenkes RI No.
128/Menkes/SK/II/2004 puskesmas merupakan Unit Pelayanan Teknis
Dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Hal ini
menunjukkan bahwa Indonesia sangat mengutamakan kesehatan.

1
DAFTAR PUSTAKA

Dinas kesehatan provinsi jawa barat. 2017. Profil kesehatan.


http://diskes.jabarprov.go.id/dmdocuments/01b3018430a412a520e2b4a4b9d98
64f.pdf (25 November 2019)
Efendi, FERRY Dan MAKHFUDLI. Konsep Dasar Keperawatan Komunitas.
http://indonesiannursing.com/wp-content/uploads/2017/10/BAB-1-
KEPERAWATAN-KESEHATAN-KOMUNITAS-Edit.pdf (25 November 2019)
Sinambela. 2010. Reputasi Pelayanan Publik, Bumi Aksara. Jakarta: Salemba
Medika
Taher, Akmal, dkk. 2016. Pedoman Umum Program Indonesia Sehat Dengan
Pendekatan Keluarga. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
Tim Redaksi Tata Nusa (2001). Petunjuk Peraturan Perundang-undangan
Indonesia 1945-2000, Jakarta:Tata Nusa.
World Health Organization (2000), “Health Systems: Improving Performance”.
World Health Report 2000. Geneva: World Health Organization.
Lestari, RM. 2019. Tanggung Jawab Puskesmas Terhadap Pencegahan
Penularan HIV/AIDS Dari Ibu Ke Anak Dalam Upaya Pemberantasan
Penyakit Menular. ejournal.annurpurwodadi.ac.id/ Vol 4 No 1