Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH EVALUASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

PENGOLAHAN HASIL TES DARI AWAL

Dosen Pengampu : - Drs. Yasifati Hia, M.Si

- Nurul Afni Sinaga, M.Pd

Disusun Oleh :

KELOMPOK 8

LASMA IVANA MARIA HUTASOIT (4183311048)

EVLIN MINARISTA LIMBONG (41833110004)

KELAS : MATEMATIKA DIK B 2018

JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah kelompok ini
untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Matematika dengan judul bab
“Pengolahan Hasil Tes Dari Awal”.

Kami juga ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terkait dan Dosen
Pengampu, yaitu Bapak Drs. Yasifati Hia, M.Si dan Ibu Nurul Afni Sinaga, M.Pd yang telah
memberikan bimbingannya dalam menyelesaikan tugas ini.

Dalam penulisan Makalah ini, kami menyadari bahwa ada kekurangan dan kesalahan
yang mengiringinya. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
sehingga dalam penulisan berikutnya kami dapat menyelesaikan lebih baik lagi. Akhir kata
kami ucapkan terima kasih. Semoga tugas ini dapat memenuhi tugas kami.

Medan,30 Oktober 2019

Kelompok 8

i
i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i

DAFTAR ISI................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN............................................................................... 2

BAB III KESIMPULAN ............................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 17

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pengajaran adalah suatu aktivitas (proses) mengajar-belajar. Didalamnya ada dua


subjek yaitu guru dan peserta didik. Pengajaran merupakan aktivitas (proses) yang
sistematis dan sistemik yang terdiri atas banyak komponen. Masing-masing komponen
pengajaran tidak bersifat parsial (terpisah) atau berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus
berjalan secara teratur, saling bergantung, komplementer, dan berkesinambungan. Salah
satu aspek penting dalam pengajaran adalah evaluasi atau penilaian. Kekuatan dan
kelemahan dari program pengajaran yang telah disusun guru biasanya dapat diketahui
dengan lebih jelas setelah program tersebut dilaksanakan dikelas dan dievalusi dengan
seksama. Hasil yang diproleh dari evaluasi yang diadakan akan memberi petunjuk kepada
guru tentang bagian-bagian mana dari program tersebut yang sudah berhasil dan bagian-
bagian mana pula yang belum berhasil mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Atas dasar evalausi tersebut dapat dilakukan perbaikan perbaikan yang diperlukan, baik
pada waktu program berjalan maupun setelah program itu dilaksanakan. Penilaian adalah
bagian yang sangat penting dalam proses evaluasi. Penilaian hasil belajar peserta didik
yang dilakukan oleh guru selain untuk memantau proses kemajuan dan perkembangan
hasil belajar peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki, juga sekaligus umpan
balik kepada guru agar dapat menyempurnakan perencanaan dan proses program
pembelajaran.

A. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini yaitu :
1. Apa perbedaan skor dan nilai ?
2. Bagaimana cara memberikan skor ?
3. Bagaimana cara menkonversi hasil penilaian tes?
4. Apa saja instrument analisis tes ?

B. TUJUAN
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui bagaimana cara pengolahan tes dari awal.
2. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah evaluasi pembelajaran matematika.

BAB II

PEMBAHASAN

1
A. SKOR DAN NILAI

Skor adalah hasil pekerjaan memberikan angka yang diperoleh dengan jalan
menjumlahkan angka-angka bagi setiap butir item yang telah dijawab oleh testee dengan
betul, dengan memperhitungkan bobot jawaban betulnya. Adapun nilai adalah angka atau
pun huruf yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-
skor lainnya, serta disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu, serta disesuaikan
pengaturannya dengan standar tertentu. Itulah sebabnya mengapa nilai sering disebut skor
standar. Skor yang diperoleh dari sebuah tes baru akan bermakna jika ditafsirkan
berdasarkan suatu patokan atau berdasarkan suatu norma. Ini lah yang disebut dengan
penilaian. Pengolahan nilai-nilai menjadi nilai akhir seorang siswa dapat dilakukan
dengan mengacu kepada kriteria atau patokan tertentu.

B. CARA MEMBERIKAN SKOR


1. Teknik Penskoran Hasil Pembelajaran
a. Ranah Kognitif
 Pada Tes Uraian

Dalam bentuk uraian biasanya skor mentah dicari dengan menguunakan sistem
bobot. Sistem bobot ada dua cara , yaitu:

Pertama, bobot dinyatakan dalam skor maksimum sesuai dengan tingkat


kesukarannya. Misalnya, untuk soal yang mudah skor maksimumnya adalah
6, untuk soal yang sedang skor maksimumnya adalah 7 dan untuk soal yang
sukar skor maksimumnya adalah 10. Cara ini tidak memungkinkan peserta
didik mendapat skor maksimum sepuluh.

No soal Tingkata kesukaran Jawaban Skor (x)


1 Mudah Betul 6
2 Sedang Betul 7

3 Sukar Betul 10
Jumlah 23

Rumus; skor =

Keterangan:

2
∑X= jumlah skor

S = jumlah soal

Jadi, skor peserta didik A= = 7,67

Kedua, bobot dinyatakan dalam bilangan-bilangan tertentu sesuai dengan tingkat


kesukaran soal. Misalnya, soal yang mudah diberi bobot 3, soal yang sedang
diberi bobot 4, dan soal yang sukar di beri bobot 5. Cara ini memungkinkan
peserta didik mendapat skor sepuluh.

Contoh:

Seorang peserta didik di tes dengan tiga soal dalam bentuk uraian. Masing-
masing soal diberi bobot sesuai dengan tingkat kesukarannya, yaitu bobot 5
untuk soal yang sukar, 4 untuk soal yang sedang, dan 3 untuk soal yang
mudah. Tiap-tiap soal diberikan skor (x) dengan rentang 1-10 sesuai dengan
kualitas jawaban yang betul. Kemudian skor (x) yang dicapai oleh setiap
peserta ddik di kalikan dengan bobot setiap soal. Hasil perhitungannya
adalah sebagai berikut:

Nomor Tingkat Jawaban Skor (x) Bobot (b) Xb


soal kesukaran
1 Mudah Betul 10 3 30
2 Sedang Betul 10 4 40
3 Sukar Betul 10 5 50
Jumlah 12 120

Rumus; Skor =

Keterangan :

X = Skor setiap soal

B = Bobot sesuai dengan tingkat kesukaran soal

3
∑XB = Jumlah hasil perkalian X dengan B

Jadi, skor peserta didik = = 10

Untuk memudahkan pemberian skor, ada baiknya digunakan sistem yang kedua.
Sistem bobot diberikan kepada soal bentuk uraian dengan dengan maksud untuk
memberikan skor secara adil kepada peserta didik berdasarkan kemampuannya
masing-masing menjawab soal sesuai dengan tingkat kesukarannya.

 Pemberian skor untuk tes objektif

Untuk item pilihan berganda (multiple choice)

Rumus: S=

Keterangan:

S = skor

∑B = jumlah jawaban yang benar

∑S = jumlah jawaban yang salah

N = jumlah alternative jawaban yang disediakan

1 = bilangan tetap

Contoh:

Seorang peserta didik A dites dengan bentuk pilihan-ganda sebanyak 10 soal.


Ternyata, peserta didik A dapat menjawab soal dengan betul sebanyak 7 butir soal,
berarti jumlah jawaban yang salah adalah 3 sola. Jumlah alternative jawaban
(option) = 4. Dengan demikian, skor peserta didik adalah:

Skor =

4
Ada dua cara untuk memberikan skor pada soal tes objektif, yaitu:

a. Tanpa rumus tebakan (Non-Guessing Formula)

Biasanya digunakan apabila soal belum diketahui tingkat kebaikannya. Caranya


adalah menghitung jumlah jawaban yang betul saja. Setiap jawaban yang betul di
beri skor 1, dan jawaban yang salah diberi skor 0. Jadi, skor = jumlah jawaban
yang betul

b. Menggunakan rumus tebakan (Gueesing Formula)

Biasanya rumus ini digunakan apabila soal-soal tes itu sudah pernah diujicobakan
dan dilaksanakan sehingga dapat diketahui tingkat kebenarannya. Penggunaan
rumus tebakan ini bukan karena guru sudah mengetahui bahwa peserta didik itu
menebak, tetapi tes bentuk objektif ini sangat memungkinkan peserta didik untuk
menebak. Adapun rumus tebakan tersebut adalah sebagai berikut.

 Tes Menjodohkan

Cara mengelola skornya adalah: S = R

S = skor yang diperoleh

R = jawaban yang betul

 Tes Lisan

Cara mengelola skornya adalah: S = R

S = skor yang diperoleh

R = jawaban yang betul

b. Ranah Psikomotorik
Salah satu instrumen yang sering digunakan untuk menilai hasil belajar
keterampilan adalah rubric. Teknik pemberian skor dengan rubrik adalah dengan
menulis skor pada setiap indikator kemampuan sesuai dengan yang dapat
ditampilkan oleh peserta didik. Kemudian skor di setiap aspek tersebut
dijumlahkan untuk mendapatkan skor total dari masing-masing peserta didik.
c. Ranah Sikap

5
Pada hasil belajar afektif, instrumen yang digunakan adalah berupa skala penilaian
dan pedoman pengamatan. Pada umumnya, skala penilaian tersebut menggunakan
skala likert dengan rentangan 3, 4, atau 5 yang kemudian ditafsirkan
menggunakan kategori verbal seperti sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan
sangat rendah atau dengan menggunakan sangat baik, baik, sedang, kurang, dan
sangat kurang.

C. CARA MENGUBAH SKOR MENJADI NILAI (KONVERSI)


1. Pendekatan Penilaian Acuan Normatif (PAN)

Penilaian Acuan Norma (PAN) adalah penilaian yang membandingkan hasil


belajar siswa terhadap hasil belajar siswa lain dalam kelompoknya. PAN adalah
membandingkan skor yang diperoleh peserta didik dengan standar atau norma
relatif.11 Karena apabila seorang siswa yang terjun ke kelompok A termasuk “Hebat”,
mungkin jika pindah ke kelompok lainnya hanya menduduki kualitas “Sedang
saja”.12 Pendekatan penilaian ini dapat dikatakan sebagai pendekatan “apa adanya”
dalam arti bahwa patokan pembanding sematamata diambil dari kenyataan-kenyataan
yang diperoleh pada saat pengukuran/ penilaian berlangsung, yaitu hasil belajar siswa
yang diukur. PAN tidak dikaitkan sama sekali dengan patokan-patokan yang ada di
luar hasil pengukuran sekelompok siswa. Pendekatan ini menggunakan cara
membandingkan prestasi atau skor mentah peserta didik dengan sesama peserta didik
dalam kelompok/kelasnya sendiri. Makna nilai dalam bentuk angka maupun
kualifikasi memiliki sifat relatif, artinya bila sudah berhasil menyusun pedoman
konversi skor berdasarkan tes yang sudah dilakukan pada suatu kelas/kelompok maka
pedoman itu hanya berguna bagi kelompok/kelas itu dan kemungkinan besar pedoman
itu tidak berguna bagi kelompok/kelas lain karena distribusi skor peserta tes sudah
lain. Kecuali, pada saat pengolahan skor kelompok/kelas yang lain tadi disatukan
dengan kelompok/kelas pertama.13 Penilaian acuan norma adalah menskor nilai
peserta didik dengan membandingkan hasil belajar satu peserta dengan hasil peserta
lainnya dalam satu kelompok kelas.

2. Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau Criterion Referenced Evaluation adalah


model pendekatan penilaian yang mengacu kepada suatu kriteria pencapaian tujuan
(TKP) yang telah ditetapkan sebelumnya.18 Penilaian Acuan Patokan (PAP) adalah

6
pendekatan penilaian yang membandingkan hasil pengukuran terhadap mahasiswa
dengan patokan "batas lulus" yang ditetapkan untuk masing-masing bidang mata
pelajaran. Adapun rumus yang digunakan untuk mengolah nilai dengan PAP adalah
sebagai berikut:

Rentangan = X 100

Keterangan:
Skor Rill : Skor yang berhasil dicapai oleh siswa
Skor Maksimum Ideal : Skor yang mungkin dapat dicapai siswa apabila
mampu menjawab secara benar semua soal ujian

100 : Skala yang dipakai (0-100)

Disamping penilaian yang dinyatakan dengan angka kita mengenal pula


penilaian dengan huruf. Seperti penilaian yang dilakukan oleh guru taman kanak-
kanak. Pengolahan skor mentah menjadi huruf menggunakan sifat-sifat yang
terdeapat pada kurva normal atau distribusi normal sebagai dasar perhitungan.
Adapun ciri-ciri distribusi normal antara lain adalah sebagai berikut:

1. Memiliki jumlah atau kepadatan frekuensi yang tetap pada jarak deviasi-
deviasi tertentu.
2. Pada distribusi normal, mean, median, dan mode berimpit (sama besar), terletak tepat
ditengah kurva dan membagi dua sama besar jarak deviasi. Berdasarkan sifat-sifat
distribusi normal itulah maka untuk penjabaran skor mentah enjadi nilai huruf
dipergunakan mean dan SD.

a. Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan menggunakan mean


(M) dan Rerata Deviasi (RD).
Mencari mean (M) dan Deviasi Standar dalam rangka mengolah skor mentah menjadi
nilai huruf dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu jika banyaknya skor yang diolah
kurang dari 30, digunakan tabel distribusi frekuensi tunggal; dan jika banyaknya skor
yang diolah lebih dari 30, misalnya sampai 40 atau 50 skor atau lebih, sebaiknya
digunakan tabel distribusi frekuensi bergolong. Berikut ini sebuah contoh yang
menggunakan tabel distribusi tunggal.Misalkan seorang guru memperoleh skor mentah
dari hasil test yang telah diberikan kepada 20 orang peserta didik sebagai berikut:
73, 70, 68, 68, 67, 67, 65, 65, 63, 62,

7
60, 59, 59, 58, 58, 56, 52, 50, 41, 40.
Skor mentah itu akan diolah menjadi huruf A, B, C, D, E dengan menggunakan M
dan SD. Untuk itu membuat tabel sebagai berikut.
Langkah-langkah menyusun tabel:
 Masukan nama siswa (kedalam kollom satu) dan skor masing-masing
siswa (kedalam kolom 2), kemudian jumlahkan. .
 Menghitung mean dengan membagi jumlah skor itu dengan N
(banyaknya peserta didik yang dites). Jadi, rumus untuk mencari M adalah M
= (Σ X)/N=60
 Mengisi kolom tiga dengan selisih (deviasi) tiap-tiap skor dari mean (X-M).
 Mengisi kolom 4 dengan menguadratkan angka-angka dari kolom 3.
Kemudian jumlahkan sehingga memperoleh ∑ (X-M)2.
 Langkah terakhir adalah menghitung mean dan SD dengan rumus-rumus sebagai
berikut:
TABEL UNTUK MENGHITUNG MEAN DAN RD

8
Dari tabel ini kemudian dicari mean dan RD dengan rumus sebagai berikut:

M = (Σ X)/N
M = 1201/ 20 = 60,05 dibulatkan = 60
RD = { Σ(X-M)}/N
RD = 135/20 = 6,75 dibulatkan = 6,8

Selanjutnya kita dapat menjabarkan skor-skor mentah yang kita peroleh kedalam nilai huruf
melalui langkah-langkah sebagai berikut:
 Pertama kita menentukan besarnya skala unit deviasi (SUD). Misalnya
dalam penjabaran ini kita menggunakan seluruh jarak range dari kurva normal,
yaitu diantara -3 SD s.d +3 SD = 6 SD. Karena nilai huruf yang akan
digunakan adalah A-B-C-D-E yang berarti 4 unit, dalam hal ini tentukan besarnya

9
SUD=6, SD : 4 = 1,5 SD. RD sebagai pengganti SD Jadi, SUD =
1,5×6,8 = 10,2 dibulatkan = 10.
 Titik tengah nilai C terletak pada mean = 60 karena C merupakan nilai tengah pada
skala penilaian A-B-C-D-E. Jadi kita telah mendapatkan SUD= 10 dan titik tengah
C = M = 60.
 Langkah selanjutnya kita menentukan batas bawah dan batas atas dari
masing- masing nilai huruf. Karena titik tengah 60 maka.
1. Batas bawah C = M – 0,5 SUD = 60 - 5 = 55
2. Batas atas C = M + 0,5 SUD = 60 + 5 = 65
3. Batas bawah D = M - 1,5 SUD = 60 -15 = 45
4. Batas atas B = M + 1.5 SUD = 60 + 15 = 75
5. Skor diatas 75 = A
 Berdasarkan hasil perhitungan pada langkah c diatas, kita mentransfer skor mentah
dari 20 orang peserta didik kedalam nilai huruf sebagai berikut:
1. Skor > 76 = A = tidak ada
2. Skor 66 - 75 = B = 6 orang
3. Skor 55 – 65 = C = 10 orang
4. Skor 45 – 54 = D = 2 orang
5. Skor 45 kebawah = E = 2 orang
b. Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan menggunakan mean
dan Standar deviasi (SD)
Cara lain mengolah skor mentah menjadi nilai huruf ialah dengan menggunakan mean
dan SD yang diperoleh dengan membuat tabel frekuensi. Untuk jelasnya, berikut ini
kami kemukakan sebuah contoh.
Contoh :
Misalkan seorang guru SMA memperoleh skor dari hasil ujian semester dari 50 orang
peserta didik sebagai berikut:
97, 93, 92, 90, 87, 86, 86, 83, 81, 80
80, 78, 76, 76, 75, 74, 73, 72, 72, 71
69, 67, 67, 67, 64, 63 63, 62, 62, 60
58, 57, 57, 56, 56, 54, 52, 50, 47, 45
43, 39, 36, 36, 32, 29, 27, 26, 20, 16
Skor mentah ini akan kita olah menjadi nilai huruf A, B, C, D, E. Untuk mencari
mean dan SD kita susun skor mentah tersebut kedalam tabel frekuensi. (lihat kembali
cara menyusun tabel seperti yang telah diuraikan). Kita cari range untuk menentukan
besarnya interval dan kelas interval.
R = 97 – 16 = 81
Kelas interval = R/i + 1 = 81/10 + 1 = 9
Jadi dengan menentukan besar intervalnya 10 maka kita peroleh kelas interval = 9.

10
TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI

Dari tabel ini kita mencari mean dengan rumus:


M = M’ + i (∑fd/N)
Keterangan:
M = mean sebenarnya yang akan dicari
M’ = mean dugaaan dalam tabel ini = (56 + 65)/2 = 60,5
I = interval = 10
Dengan rumus diatas maka:
M= 60,5 +10 (11/50) = 60, 5 + 2,2 = 62,7= 63
Cara mencari standar deviasi adalah dengan rumus:
SD= i
Dari tabel diatas kita dapat menghitung SD sebagai berikut:
 DS = 10 = 10 x 1,9 = 19
 Kita tentukan nilai tengah C = 63 (mean)
 Besarnya skala unit deviasi (SUD) = 1,5 SD = 1,5 x 19 = 28,5
 Titik Tengah = mean = C
 Batas bawah C = M – 0.5 SUD = 63 – 14 = 49
 Batas atas C = M + 0,5 SUD = 63 + 14 = 77
 Batas bawah D = M – 1,5 SUD = 63 – 42 = 2
 Batas atas B = M + 1,5 SUD = 63 + 42 = 105
 Skor di atas 105 = A
Kemudian kita susun sebagai berikut:
 Skor > 105 = A = Tidak ada
 Skor 78 – 105 = B = 12 Siswa

11
 Skor 49 – 77 = C = 26 Siswa
 Skor 21 – 48 = D = 10 Siswa
 Skor < 21 = E = 2 Siswa

c. Menggunakan Batas Lulus = Mean


Cara lain mengolah skor mentah menjadi nilai huruf ialah dengan menggunakan mean
dan DS yang diperoleh dengan membuat tabel frekuensi. Untuk jelasnya, berikut ini kami
kemukakan sebuah contoh. Misalkan seorang dosen memperoleh skor dari hasil ujian
semester dari 50 orang peserta didik sebagai berikut:
97, 93, 92, 90, 87, 86, 86, 83, 81, 80

80, 78, 76, 76, 75, 74, 73, 72, 72, 71

69, 67, 67, 67, 64, 63, 63, 62, 62, 60

58, 57, 57, 56, 56, 54, 52, 50, 47, 45

43, 39, 36, 36, 32, 29, 27, 26, 20, 16

Skor mentah ini akan kita olah menjadi nilai huruf A, B, C, D, TL. Untuk mencari mean
dan DS kita susun skor mentah tersebut kedalam tabel frekuensi. (lihat kembali cara
menyusun tabel seperti yang telah diuraikan). Kita cari range untuk menentukan
besarnya interval dan kelas interval. R= 97-16= 81

Kelas interval = R/i + 1 = 81/10 +1 =9

Jadi dengan menentukan besar intervalnya 10 maka kita peroleh kelas interval = 9.

12
d. Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan menggunakan mean ideal
dan SD ideal
Jika skor maksimum ideal dari tes yang di berikan kepada 50 orang siswa tersebut =
120, maka mean ideal = ½ x skor maksimum ideal = ½ x 120 = 60, dan DS ideal =
1/3 x 60 = 20Dengan penjabaran seperti bagian B diatas dengan ketentuan nilai C =
mean dan SUD = 1,5 SD maka:
 Mean = 60 ; SD = 20, SUD = 1,5 X 20 = 30
 Batas bawah C = M – 0,5 SUD = 60 – 15 = 45
 Batas atas C = M + 0,5 SUD = 60 + 15 = 75
 Batas atas B = M + 1,5 SUD = 60 + 45 = 105
 Batas bawah D = M - 1,5 SUD = 60 – 45 = 15
 Jadi skor < 15 mendapat nilai E ( tidak ada)
 Skor 15 – 44 mendapat nilai D = 10 siswa
 Skor 45 -75 mendapat nilai C = 26 siswa
 Skor 76 – 105 mendapat nilai B = 14 siswa
 Skor > 105 mendapat nilai A ( tidak ada)

e. Mengolah skor mentah menjadi nilai 1 – 10.


Seorang guru memperoleh skor mentah dari hasil ujian dengan peserta didik yang
berjumlah 50, adapun hasil dari ulangan tersebut adalah sebagai berikut:

13
16 64 87 36 65 42 43 54 47 51
77 55 68 42 40 47 42 46 45 50
20 57 28 7 44 51 40 39 39 57
28 39 21 48 46 37 41 43 49 71
29 44 34 50 45 35 44 52 56 45

Untuk mengolah menjadi skor 1-10 perlu mencari mean dan standar deviasi . skor diatas
disusun dalam table distribusi frekuensi. Caranya:
1. Mencari range (R) = skor max – skor min = 87 – 7 = 80
2. Mencari banyaknya kelas interval dengan rumus K = 1 + 3,3 log n K = 1 + 3,3 log 50
= 1 + 5,6 = 6,6 dibulatkan menjadi 6
3. Mencari interval dengan rumus I = R/ K, I = 80 / 6 = 13,3 dibulatkan 13

D. ANALISIS INSTRUMEN TES

Sebuah soal atau satu set soal dikatakan baik bila soal itu diantaranya memiliki
validitas, reliabitas, dan daya pembeda soal yang baik, serta tingkat kesukaran soal yang
sesuai dengan tujuan.

1. Validitas
Sebuah soal/satu set soal dikatakan memiliki validitas soal yang baik bila soal itu
dapat mengevaluasi dengan tepat apa yang seharusnya dievaluasi, baik dilihat dari
segi isi maupun susunan kalimatnya.
2. Reliabilitas
Satu set soal dikatakan memiliki reliabilitas yang baik, jika hasil evaluasi tersebut
relatif tetap/konsisten bila digunakan pada subyek yang sama.
3. Daya Pembeda Soal
Sebuah soal/satu set soal dikatakan memiliki daya pembeda yang baik, bila soal itu
dapat membedakan antara peserta didik yang dapat menjawab dengan benar dan
salah.
4. Tingkat Kesukaran Soal
Maksud dari tingkat beksukaran soal adalah apakah soal itu termasuk kategori soal
yang mudah, sedang, atau sukar.
5. Pola jawaban soal
Yang dimaksud dengan pola jawaban di sini adalah distribusi testee dalam hal
menentukan pilihan jawaban pada soal bentuk pilihan ganda. Pola jawaban soal
diperoleh dengan menghitung banyaknya testee yang memilih pilihan jawaban a,b,c,
atau d atau yang tidak memilih pilihan manapun (blangko). Dalam istilah evaluasi

14
disebut omit, disingkat O. dari pola jawaban soal dapat ditentukan apakah pengecoh
(distractor) berfungsi sebagai pengecoh dengan baik atau tidak. Pengecoh yang tidak
dipilih sama sekali oleh testee berarti bahwa pengecoh itu jelek, terlalu menyolok
menyesatkan . sebaliknya sebuah distraktor (pengecoh) dapat dikatakan berfungsi
degan baik apabila distraktor tersebut mempunyai daya tarik yang besar bagi
pengikut-pengikut tes yag kurang memahami konsef atau kurang memahami bahan.
Dengan melihat pola jawaban soal, dapat diketahui Taraf kesukaran soal, Daya
pembeda soal, dan Baik dan tidaknya distraktor.
Sesuatu distraktor dapat diperlakukan dengan 3 cara:
 Diterima, karena sudh baik.
 Ditolak, karena tidak baik.
 Ditulis kembali, karena kurang baik.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Penilaian hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh guru selain untuk memantau
proses kemajuan dan perkembangan hasil belajar peserta didik sesuai dengan potensi
yang dimiliki, juga sekaligus umpan balik kepada guru agar dapat menyempurnakan
perencanaan dan proses program pembelajaran.Dalam mengolah data hasil tes, ada
empat langkah pokok yang harus ditempuh yaitu:

15
1. Menskor, yaitu memberi skor pada hasil tes yang dapat dicapai oleh peserta didik.
Untuk memproleh skor mentah di perlukan tiga jenis alat bantu, yaitu kunci
jawaban, kunci skoring, dan pedoman konversi
2. Mengubah skor mentah menjadi skor standard sesuai norma tertentu
3. Mengkonversikan skor standard kedalam nilai, baik berupa huruf atau angka
4. Melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat validitas dan
realibitas soal, tingkat kesukaran soal, dan daya pembeda.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas.(2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 tahun 2007 tentang


Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Dikdasmen

Irawan, P. (2001). Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Dirjendikti

Suherman, E dan Sukjaya, Y. (1990). Petunjuk Praktis untuk Melaksanakan Evaluasi


Pendidikan Matematika. Bandung. Wijayakusumah.

Zainal Arifin.2011. Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, Prosedur. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya

16