Anda di halaman 1dari 19

Qbl 2 : Keluarga Sejahtera

Makalah disusun guna memenuhi tugas


mata kuliah Keperawata keluarga

Dosen Pengampu: Ns. Sang Ayu Made Adyani, M.kep

Disusun oleh:
Mujahidatul H 1710711005
Gita Ekawati 1710711007
Heni Lestari 1710711011
Defina Ramandhani 1710711012
Erina Nurbaiti 1710711020
Jesy Milanti 1710711021
Shania Hasina S 1710711023
Nada Mutiara 1710711028
Risa Safitri 1710711029
Ayu Nuraini S 1710711030
Fiqih Nur Aida 1710711033

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN’ JAKARTA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
2020
VISI MISI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN “VETERAN” JAKARTA

Visi :
Menuju Perguruan Tinggi Badan Hukum, Inovatif, dan Berdaya Saing yang
Beridentitas Bela Negara Tahun 2025
Misi :
a. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan membentuk pemimpin
visioner yang mampu menghasilkan lulusan yang berdaya saing
b. Menerapkan system manajemen yang transparan dan akuntabel dalam
merumuskan rencana strategic aksi (strategic actin plan) jangka menengah dan
panjang
c. Menyiapkan sarana dan prasarana serta anggaran yang memadai
d. Mewujudkan budaya organisasi dan budaya mutu dengan menerapkan system
audit dan manajemen risiko yang kredibel: dan
e. Melaksanakan tridharma perguruan tinggi dengan memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi
VISI MISI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UPNVJ

Visi

Menjadi Prodi Ners yang unggul dan kompetitif dalam bidang keperawatan promotif
dan preventif beridentitas bela Negara dengan kekhususan kesehatan matra ditingkat
nasional maupun regional tahun 2025

Misi

a. Menyelenggarakan pendidikan Ners yang berkualitas sesuai dengan


kurikulum Nasional yang bercirikan bela Negara
b. Menyelenggarakan kegiatan penelitian dibidang keperawatan berbasis IPTEK
dengan fokus pada bidang promotif dan preventif dengan identitas bela
Negara
c. Menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat dibidang keperawatan
dengan focus pada pemberdayaan masyarakat dengan identitas bela Negara
d. Meningkatkan kerja sama dengan institusi atau lembaga nasional ataupun
internasional untuk mendukung Tri Dharma yang bermutu tinggi
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga akhirnya penulis
dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Makalah yang berjudul Keluarga Sejahtera ini ditulis untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah Keperawatan Keluarga.

Pada kesempatan yang baik ini, izinkanlah penyusun makalah menyampaikan


rasa hormat dan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang dengan tulus ikhlas
telah memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Terlepas dari semua itu, saya
menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi penyusunan
kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu,dengan tangan terbuka saya
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki makalah
ini.

Jakarta, 14 Febuari 2020

Kelmpok Qbl 2
A. Pengertian Keluarga Sejahtera
Keluarga adalah Suatu sistem sosial yang berisi dua atau lebih orang
yang hidup bersama. Yang mempunyai hubungan darah, perkawinan atau
adopsi, atau tinggal bersama dan saling menguntungkan, mempunyai tujuan
bersama, mempunyai generasi penerus, saling pengertian dan saling
menyayangi. (Murray dan Zentner, 1997)
Keluarga merupakan sekumpulan orang yang di hubungkan oleh
perkawinan, adopsi dan kelahiran yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya. Yang umum, meningkatkan perkembangan fisik,
mental, emosional dan sosial dari individu-individu yang ada di dalamnya
terlihat dari pola interaksi yang saling ketergantunganuntuk mencapai tujuan
bersama. (Friedman, 1998)
Kesejahteraan adalah hal atau keadaan sejahtera, aman, selamat, dan
tentram. (Depdiknas, 2001).
Keluarga Sejahtera adalah Keluarga yang dibentuk berdasarkan
perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materi
yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang /maha Esa, memiliki hubungan yang
selaras, serasi, dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan
masyarakat dan lingkungan. (BKKBN, 1996).
B. Tujuan Keluarga Sejahtera
UU No. 12 tahun 1992, pasal 4; Tujuan pembangunan keluarga
sejahtera adalah untuk mengembangkan kualitas keluarga agar dapat timbul
rasa aman, tentram dan harapan masa depan yang lebih baik dalam
mewujudkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.
Peraturan pemerintah No. 21 tahun 1994 pasal 2, menyatakan bahwa
penyelenggaraan pembangunan keluarga sejahtera diwujudkan melalui
pengembangan kualitas keluarga dan keluarga berencana yang
diselenggarakan secara menyeluruh dan terpadu oleh pemerintah, masyarakat,
dan keluarga. Tujuan : mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan
sejahtera, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehat, produktif, mandiri,
dan memiliki kemampuan untuk membangun diri sendiri dan lingkungan.
C. Tahapan dan Indikator Keluarga Sejahtera
1. Keluarga Prasejahtera
Keluarga prasejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi
kebutuhan dasar secara minimal, atau kebutuhan dasar belum seluruhnya
terpenuhi) yaitu:
a. Melaksanakan ibadah menurut agamanya oleh masing-masing
anggota keluarga
b. Pada umumnya anggota keluarga makan dua kali sehari atau
lebih
c. Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda
untuk aktivitas di rumah, bekerja, sekolah, dan bepergian
d. Lantai rumah terluas bukan dari tanah
e. Kesehatan (bila anak sakit atau pasangan usia subur ingin ber-
KB dibawa ke sarana /petugas kesehatan).
2. Keluarga Sejahtera Tahap 1
Keluarga sejahtera tahap 1 adalah keluarga yang telah dapat memenuhi
kebutuhan dasar secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi
keseluruhan kebutuhan sosio psikologisnya, yaitu:
a. Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur
b. Paling kurang sekali semingu keluarga menyediakan
daging/ikan/telur
c. Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel
pakaian baru pertahun
d. Luas lantai rumah paling kurang 8 meter persegi untuk tiap
penghuni rumah
e. Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam
keadaan sehat
f. Paling kurang satu anggota keluarga 15 tahun keatas
berpenghasilan tetap
g. Seluruh anggota keluarga yang berumur 10-60 tahun bisa baca
tulis hurup latin
h. Seluruh anak berusi 5-15 tahun bersekolah pada saat ini
i. Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga yang masih pasangan
usia subur menggunakan kontrasepsi (kecuali sedang hamil)
3. Keluarga Sejahtera Tahap II (KS II)
Keluarga Sejahtera Tahap II (KS II) adalah keluarga yang telah dapat
memenuhi kebutuhan dasar secara minimal serta telah memenuhi seluruh
kebutuhan sosial psikologisnya, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan
pengembangan, yaitu kebutuhan untuk menabung dan memperoleh
informasi.
Indikator Keluarga Sejahtera Tahap II
a. Melaksanakan ibadah menurut agama masing-masing yang dianut.
b. Makan dua kali sehari atau lebih.
c. Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan.
d. Lantai rumah bukan dari tanah.
e. Kesehatan (anak sakit atau pasangan usia subur (PUS) ingin ber-
KB dibawa ke sarana/petugas kesehatan.
f. Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur menurut
agama masing-masing yang dianut.
g. Makan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali
dalam seminggu.
h. Memperoleh pakaian baru dalam satu tahun terakhir.
i. Luas lantai tiap penghuni rumah 8 m2 per orang.
j. Anggota keluarga sehat dalam tiga bulan terakhir sehingga dapat
melaksanakan fungsi masing-masing.
k. Keluarga yang berumur 15 tahun ke atas mempunyai penghasilan
tetap.
l. Bisa baca tulis latin bagi seluruh anggota keluarga dewasa yang
berumur 10 tahun sampai dengan 60 tahun.
m. Anak usia sekolah (7-15tahun) bersekolah.
n. Anak hidup dua atau lebih, keluarga masih PUS, saat ini memakai
kontrasepsi.
4. Keluarga Sejahtera Tahap III (KS III)
Keluarga Sejahtera Tahap III (KS III) adalah keluarga yang telah dapat
memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis, dan
kebutuhan pengembangan, tetapi belum dapat memberikan sumbangan
(kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat secara teratur ( dalam
waktu tertentu) dalam bentuk material dan keuangan untuk sosial
kemasyarakatan, juga berperan serta secara aktif dengan menjadi pengurus
lembaga kemasyarakatan atau yayasan sosial, keagamaan, kesenian,
olahraga, pendidikan dan lain sebagainya.
Indikator Keluarga Sejahtera Tahap III
a. Melaksanakan ibadah menurut agama masing-masing yang dianut.
b. Makan dua kali sehari atau lebih.
c. Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan.
d. Lantai rumah bukan dari tanah.
e. Kesehatan (anak sakit atau pasangan usia subur (PUS) ingin ber-KB
dibawa ke sarana/petugas kesehatan.
f. Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur menurut agama
masing-masing yang dianut.
g. Makan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam
seminggu.
h. Memperoleh pakaian baru dalam satu tahun terakhir.
i. Luas lantai tiap penghuni rumah 8 m2 per orang.
j. Anggota keluarga sehat dalam tiga bulan terakhir sehingga dapat
melaksanakan fungsi masing-masing.
k. Keluarga yang berumur 15 tahun ke atas mempunyai penghasilan
tetap.
l. Bisa baca tulis latin bagi seluruh anggota keluarga dewasa yang
berumur 10 tahun sampai dengan 60 tahun.
m. Anak usia sekolah (7-15tahun) bersekolah.
n. Anak hidup dua atau lebih, keluarga masih PUS, saat ini memakai
kontrasepsi.
o. Upaya keluarga untuk meningkatkan/menambah pengetahuan agama.
p. Keluarga mempunyai tabungan.
q. Makan bersama paling kurang sekali sehari.
r. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat.
s. Rekreasi bersama/penyegaran paling kurang dalam 6 bulan.
t. Memperoleh berita dari surat kabar, radio, televisi dan majalah.
u. Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi.
5. Keluarga Sejahtera Tahap III Plus (KS III Plus)
Keluarga Sejahtera Tahap III Plus (KS III Plus) adalah keluarga yang telah
dapat memenuhi seluruh kebutuhannya, baik yang bersifat dasar, sosial
psikologis, maupun pengembangan, serta telah mampu memberikan
sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Indikator Keluarga Sejahtera Tahap III Plus
a. Melaksanakan ibadah menurut agama masing-masing yang dianut.
b. Makan dua kali sehari atau lebih.
c. Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan.
d. Lantai rumah bukan dari tanah.
e. Kesehatan (anak sakit atau pasangan usia subur (PUS) ingin ber-KB
dibawa ke sarana/petugas kesehatan.
f. Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur menurut agama
masing-masing yang dianut.
g. Makan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam
seminggu.
h. Memperoleh pakaian baru dalam satu tahun terakhir.
i. Luas lantai tiap penghuni rumah 8 m2 per orang.
j. Anggota keluarga sehat dalam tiga bulan terakhir sehingga dapat
melaksanakan fungsi masing-masing.
k. Keluarga yang berumur 15 tahun ke atas mempunyai penghasilan
tetap.
l. Bisa baca tulis latin bagi seluruh anggota keluarga dewasa yang
berumur 10 tahun sampai dengan 60 tahun.
m. Anak usia sekolah (7-15tahun) bersekolah.
n. Anak hidup dua atau lebih, keluarga masih PUS, saat ini memakai
kontrasepsi.
o. Upaya keluarga untuk meningkatkan/menambah pengetahuan agama.
p. Keluarga mempunyai tabungan.
q. Makan bersama paling kurang sekali sehari
r. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat.
s. Rekreasi bersama/penyegaran paling kurang dalam 6 bulan.
t. Memperoleh berita dari surat kabar, radio, televisi dan majalah.
u. Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi.
v. Memberikan sumbangan secara teratur (waktu tertentu) dan sukarela
dalam bentuk material kepada masyarakat
w. Aktif sebagai pengurus yayasan/panti.
D. Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah kondisi keterbatasan kemampuan untuk memenuhi
kebutuhan hidup secara layak seperti keterbatasan dalam pendapatan,
keterampilan, kondisi kesehatan, penguasaan aset ekonomi, ataupun akses
informasi. Pengukuran ini bersifat materi atau pendekatan moneter.
Pengukuran dengan pendekatan moneter dapat dilakukan dengan
menggunakan data pengeluaran sebagai pendekatan pendapatan rumah
tangga. Kemudian data pengeluaran ini diperbandingkan dengan suatu batas
nilai tukar rupiah yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup
minimum. Batas ini sering disebut sebagai garis kemiskinan. Penduduk yang
pengeluarannya lebih kecil daripada garis kemiskinan ini disebut penduduk
miskin (The SMERU Research Institute, 2016).
Keluarga miskin adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas
perkawinan yang sah, yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup
material yang layak khususnya di bidang kesehatan, pendidikan, sandang, dan
pangan (Rhina, 1999).
Menurut Susanto (2012) miskin atau kemiskinan merupakan kondisi
serba kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari agar dapat
bertahan untuk hidup. Kebutuhan mencakup pangan, sandang dan papan dan
pelayanan kesehatan dasar yang tidak dapat dipenuhi secara mandiri oleh
individu atau keluarga.
Keluarga miskin sendiri dibedakan menjadi dua kelompok yaitu:
a. Keluarga miskin karena alasan ekonomi yaitu keluarga
menurut kemampuan ekonominya lemah dan miskin.
Keluarga-keluarga semacam ini mempunyai sifat seperti dalam
indikator yang dikembangkan oleh BPS dan Bappenas, yaitu
keluarga yang secara ekonomis memang miskin atau sangat
miskin dan belum bisa menyediakan keperluan pokoknya
dengan baik;
b. Karena alasan non ekonomi yaitu keluarga yang
kemiskinannya bukan karena pada harta atau uang atau
kemampuan untuk mendukung ekonomi keluarga tetapi miskin
kepeduliannya untuk mengubah hidupnya menjadi lebih
sejahtera misalnya dalam hal partisipasi pembangunan dan
kesehatan dengan membiarkan rumahnya masih berlantai tanah
padahal sebenarnya ia mampu untuk mengubah lantainya
tersebut atau apabila ada salah satu anggota keluarganya yang
sakit tidak di bawa ke petugas kesehatan.
E. Ciri-ciri Keluarga Miskin) Menurut Susanto (2012)
1. Pendapatan yang sangat rendah, tidak ada simpanan aset, tidak
memiliki jaringan kekuasaan, status pendidikan dan pekerjaan sangat
rendah dan beresiko.
2. Luas lantai hunian kurang dari 8 meter persegi per anggota keluarga;
jenis lantai sebagian besar tanah; tidak memiliki fasilitas air bersih;
tidak ada jamban; konsumsi lauk pauk tidak bervariasi; tidak mampu
membeli pakaian baru minimal 1 tahun sekali; dinding rumah terbuat
dari papan atau triplek.
3. Rumah tangga yang memiliki penghasilan kurang dari 2 dollar per hari
F. Indikatr Kemiskinan
1. Tidak bisa makan dua kali sehari atau lebih;
2. Tidak bisa menyediakan daging/ ikan/ telur sebagai lauk pauk paling
kurang seminggu sekali;
3. Tidak bisa memperoleh pakaian yang berbeda untuk setiap aktivitas;
4. Tidak bisa memperoleh pakaian baru minimal satu stel setahun sekali;
5. Bagian terluas lantai rumah dari tanah;
6. Luas lantai rumah kurang dari delapan meter persegi untuk setiap
penghuni rumah;
7. Tidak ada anggota keluarga berusia 15 tahun mempunyai penghasilan
tetap;
8. Bila anak sakit / PUS ingin ber-KB tidak bisa ke fasilitas kesehatan;
9. Anak berumur 7-15 tahun tidak bersekolah.
G. Penyebab Kemiskinan
Penyebab kemiskinan bersifat kompleks dan terbagi dalam beberapa
dimensi peneyebab kemiskinan (Cox 2004 ; 1-6), yaitu :
1. Kemiskinan yang diakibatkan oleh globalisasi.
Globalisasi melahirkan negara pemenang dan negara kalah.
Pemenang umumnya adalah Negara-negara maju, sedangkan
negara-negara berkembang seringkali semakin terpinggirkan oleh
persaingan dan pasar bebas yang merupakan prasyarat
globalisasi. Karena negara-negara berkembang terpinggirkan
maka jumlah kemiskinan di negara-negara berkembang jauh lebih
besar dibandingkan negara-negara maju.
2. Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan.
Pola pembangunan yang diterapkan telah melahirkan beberapa
bentuk kemiskinan, seperti kemiskinan perdesaan, adalah kondisi
wilayah desa yang mengalami kemiskinan akibat proses
pembangunan yang meminggirkan wilayah perdesaan;
kemiskinan perkotaan, yaitu kondisi kemiskinan yang disebabkan
oleh hakekat dan kecepatan pertumbuhan ekonomi, dimana tidak
semua kelompok memperoleh keuntungan
3. Kemiskinan sosial,
dimensi ketiga ini melihat pada kondisi sosial masyarakat yang
tidak menguntungkan beberapa kelompok dalam masyarakat.
Misalnya kemiskinan yang dialami oleh perempuan, anak-anak
dan kelompok minoritas merupakan kemiskinan yang diakibatkan
kondisi sosial yang tidak menguntungkan kelompok tersebut.
Kondisi sosial yang dimaksud misalnya bias gender, diskriminasi,
atau eksploitasi ekonomi
4. Kemiskinan konsekuensial.
Dimensi keempat ini menekankan faktor-faktor eksternal yang
menyebabkan kemiskinan. Faktor-faktor yang dimaksud adalah
konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan, dan tingginya
jumlah penduduk. Faktor-faktor tersebut lah yang menyebabkan
munculnya kemiskinan dalam masyarakat.

Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan


menurut Hartomo dan Aziz dalam Dadan Hudyana (2009:28-29)
yang dikutif oleh Sarul Mardianto,yaitu:
1. Pendidikan yang Rendah.
Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang kurang
mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam
kehidupannya. Keterbatasan pendidikan atau keterampilan yang
dimiliki seseorang menyebabkan keterbatasan kemampuan
seseorang untuk masuk dalam dunia kerja.
2. Malas Bekerja.
Adanya sikap malas (bersikap pasif atau bersandar pada nasib)
menyebabkan seseorang bersikap acuh tak acuh dan tidak
bergairah untuk bekerja.
3. Keterbatasan Sumber Alam.
Suatu masyarakat akan dilanda kemiskinan apabila sumber
alamnya tidak lagi memberikan keuntungan bagi kehidupan
mereka. Hal ini sering dikatakan masyarakat itu miskin karena
sumberdaya alamnya miskin.
4. Terbatasnya Lapangan Kerja.
Keterbatasan lapangan kerja akan membawa konsekuensi
kemiskinan bagi masyarakat. Secara ideal seseorang harus
mampu menciptakan lapangan kerja baru sedangkan secara
faktual hal tersebut sangat kecil kemungkinanya bagi masyarakat
miskin karena keterbatasan modal dan keterampilan.
5. Keterbatasan Modal.
Seseorang miskin sebab mereka tidak mempunyai modal untuk
melengkapi alat maupun bahan dalam rangka menerapkan
keterampilan yang mereka miliki dengan suatu tujuan untuk
memperoleh penghasilan.
6. Beban Keluarga.
Seseorang yang mempunyai anggota keluarga banyak apabila
tidak diimbangi dengan usaha peningakatan pendapatan akan
menimbulkan kemiskinan karena semakin banyak anggota
keluarga akan semakin meningkat tuntutan atau beban untuk
hidup yang harus dipenuhi.
H. Dampak Kemiskinan Pada Kesehatan
1. Angka kesehatan diri orang miskin menurun
2. Peningkatan keterbatasan kegiatan sehari-hari
3. Peningkatan Keterbatasan kegiatan menahun
4. Peningkatan disabilitas
5. Peningkatan ketidakhadiran dalam bekerja dan sekolah
6. Peningkatan resiko penyakit kronik dan cidera
7. Penikatan angka kematian bayi dan penyakit infeksi

Wagstaff (2002) menggambarkan hubungan antara kemiskinan dan


kesehatan sebagai berikut :
Dari uraian diatas, disimpulkan bahwa kemiskinan dan kesehatan saling
berhubungan erat. Kemiskinan berdampak pada buruknya kondisi kesehatan
kelompok miskin karena bagi mereka kesehatan adalah suatu barang mewah dan
kesehatan tidak jauh lebih penting dibanding dengan bagaimana mencari uang dan
bisa mendapatkan makanan. Sementara kondisi kesehatan yang buruk dan tidak
tertangani dapat menjebak seseorang dalam lingkaran kemiskinan.

I. Upaya untuk Mengatasi Keluarga Miskin


Berbagai program telah diluncurkan pemerintah untuk mengatasi
keluarga miskin di Indonesia, baik melalui dana APBN maupun APBD.
Program-program tersebut diantaranya :
1. BLSM, Kartu Perlindungan Sosial (KPS) dan Program Simpanan
Keluarga Sejahtera
KPS adalah kartu yang diterbitkan oleh pemerintah sebagai
penanda Rumah Tangga Miskin (RTM) dan berguna untuk
mendapatkan manfaat dari Program Subsidi Beras atau yang dikenal
dengan program Raskin. Selain itu KPS juga digunakan untuk
mendapatkan manfaat program Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan
Program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Dalam
perkembangannya KPS kemudian diperbaharui dengan munculnya
program Simpanan Keluarga Sejahtera.
2. BPJS Kesehatan/Kartu Indonesia Sehat
Kartu Indonesia Sehat (KIS) menjamin dan memastikan
masyarakat tidak mampu untuk mendapatkan manfaat pelayanan
kesehatan seperti yang dilaksanakan melalui Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. KIS
memberikan tambahan manfaat berupa layanan prevemtif, promotif,
dan deteksi dini yang dilaksanakan secara lebih intensif dan
terintegrasi, KIS memberikan jaminan bahwa pelayanan oleh fasilitas
kesehatan tidak membedakan peserta berdasarkan status sosial.
3. Biaya Operasional Sekolah (BOS)/BSM/Kartu Indonesia Pintar
Biaya Operasional Sekolah (BOS) adalah standar biaya yang
diperlukan untuk membiayai kegiatan operasional sekolah
nonpersonalia selama satu tahun. Program Indonesia Pintar (KIP)
adalah pemberian bantuan tunai pendidikan kepada anak usia sekolah
yang beraal dari keluarga kurang mampu, yang merupakan bagian dari
penyempurnaan Program Bantuan Siswa Mikin (BSM).
4. Beras Miskin/Beras Sejahtera
Program subsidi beras untuk masyarakat berpenghasilan
rendah di Indonsia dimulai tahun 2002. Program ini populer dengan
nama raskin, singkatan dari nama yang digunakan sebelumnya yaitu
Program Beras untuk Rumah Tangga Miskin. Kebijakan subsidi beras
bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia (Raskin), secara
teoritis merupakan salah satu bentuk dari perlindungan sosial. Dalam
kebijakan ini pemerintah memberi potongan harga sehingga keluarga
berpenghasilan rendah dapat membeli beras dengan harga lebih
murah, dibawah harga pasar dan diharapkan beban masyarakat
khususnya untuk memenuhi kebutuhan pangan semakin berkurang.
5. Program Keluarga Harapan (PKH)
Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program
pemberian bantuan langsung bersyarat yang diperuntukkan khusus
bagi Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). PKH memberikan
bantuan tunai bersyarat kepada RTSM yang telah ditetapkan sebagai
peserta PKH. Program PKH merupakan salah satu program
penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh Kementerian Sosial
yang melibatkan kementerian/lembaga terkait antara lain; Kementerian
Kesehatan, Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, PT Pos,
dan lembaga keuangan penyalur bantuan serta pemerintah daerah.
6. Kelompok Usaha Bersama (KUBE)
Kelomok Usaha Bersama (KUBE) adalah kelompok warga
atau keluarga binaan sosial yang dibentuk oleh warga atau keluarga
binaan sosial yang telah dibina melalui proses kegiatan PROKESOS
untuk melaksanakan kegiatan kesejahteraan sosial dan usaha ekonomi
dalam semangat kebersamaan sebagai sarana untuk meningkatkan
taraf kesejahteraan sosialnya. Pembentukan KUBE merupakan
program pemberdayaan keluarga miskin melalui pemberian bantuan
sosial usaha ekonomi produktif.
7. Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)
Sejak tahun 2006 Kementerian Sosial RI mengesahkan
Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni dengan target
memperbaiki sebanyak 15.000 unit rumah dan sarana lingkungan.
Pelaksanaannya sampai dengan tahun 2011 telah memperbaiki 3.043
unit rumah dan 25 unit sarana lingkungan. Tahun 2012 sudah
memperbaiki 2.140 unit dan 50 unit sarana lingkungan. Semua sudah
dilakukan di 24 Kabupaten. Kemudian pertengahan tahun 2012
tersebut diganti dengan sebutan Program Bedah Kampung. Bedah
Kampung merupakan upaya penanggulangan kemiskinan terpadu yang
menyentuh akar kemiskinan mencakup; perubahan sikap, perbaikan
hubungan sosial, pemenuhan kebutuhan perumahan, lingkungan yang
layak dan sehat, serta peningkatan status ekonomi mayarakat miskin.
8. Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA)
PKSA merupakan upaya terarah, terpadu dan berkelanjutan
yang dilakukan pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam
bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar anak, yang
meliputi: bantuan/subsidi pemenuhan kebutuhan dasar, aksesbilitas
pelayanan sosial dasar, penguatan orang tua/keluarga dan penguatan
lembaga kesejahteraan sosial anak. PKSA bertujuan mewujudkan
pemenuhan hak dasar anak dan perlindungan terhadap anak dari
penelantaran, eksploitasi dan diskriminasi, sehingga tumbuh kembang,
kelangsungan hidup dan partisipasi anak dapat terwujud
DAFTAR PUSTAKA

Suprajitno. 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC

Suprajitno. 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga: Aplikasi dalam Praktik. Jakarta:


EGC.

Susanto, Tantut. 2012. Buku Ajar Keperawatan Keluarga: Aplikasi pda Praktik
Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: TIM

Isdijoso, Widjajanti, Suryahadi, Asep, dan Akhmadi. (2016). Penetapan Kriteria dan
Variabel Pendataan Penduduk Miskin yang Komprehensif dalam Rangka
Perlindungan Penduduk Miskin di Kabupaten/Kota. Kertas Kerja. Jakarta: The
SMERU Research Institute.