Anda di halaman 1dari 14

BAB I

KONSEP TEORI

1. Definisi
ISPA adalah penyakit infeksi yang sangat umum dijumpai pada anak-
anak dengan gejala batuk, pilek, panas atau ketiga gejala tersebut muncul secara
bersamaan.
ISPA (lnfeksi Saluran Pernafasan Akut) yang diadaptasi dari bahasa
Inggris Acute Respiratory Infection (ARl) mempunyai pengertian sebagai
berikut:
Infeksi adalah masuknya kuman atau mikoorganisme kedalam tubuh manusia
dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ
secara anatomis mencakup saluran pemafasan bagian atas. Infeksi akut adalah
infeksi yang berlansung sampai 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk
menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan
ISPA. Proses ini dapat berlangsung dari 14 hari.
Infeksi saluran nafas adalah penurunan kemampuan pertahanan alami
jalan nafas dalam menghadapi organisme asing.

2. Epidemiologi
World Health Organiation (WHO) insiden infeksi saluran pernapasan
akut (ISPA) di Negara berkembang angka kematian balita diatas 40 per 1000
kelahiran hidup adalah 15% - 20% pertahun pada golongan usia balita. Menurut
WHO kurang lebih 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan
sebagian besar kematian tersebut terdapat di Negara berkembang, dimana
pneumonia merupakan salah satu penyebab utama dengan membunuh kurang
lebih 4 juta anak balita setiap tahun.
Penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak. Penyakit batuk pilek pada
balita di Indonesia diperkirakan 3-6 kali per tahun (rata-rata 4 kali pertahun),

Dermis Pawakang, S.Kep


artinya seorang balita rata-rata mendapatkan serangan batuk pilek sebanyak 3-6
kali setahun. Dari hasil pengamatan epidemiologi dapat diketahui bahwa angka
kesakitan di kota cenderung lebih besar dari pada di desa. Hal ini disebabkan
oleh tingkat kepadatan tempat tinggal dan pencemaran lingkungan di kota yang
lebih tinggi dari pada di desa.
Pelaksanaan program pemberantasan penyakit ISPA di Indonesia telah
dilakukan mulai tahun 1984, walaupun demikian sampai saat ini penyakit
tersebut masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, kejadian penyakit ISPA
di Indonesia masih cukup tinggi terutama pada anak-anak yaitu kelompok balita.
Sekitar 20-30% kematian anak balita disebabkan oleh penyakit ISPA.
Sesuai dengan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah dari bulan
Januari sampai dengan Desember tahun 2013 tercatat jumlah penduduk balita
sebanyak 274.155 dan yang menderita ISPA sebanyak 138.740 balita. Pada tahun
2014 dari bulan Januari sampai dengan Agustus penduduk balita sebanyak
276.530 balita dan yang menderita ISPA sebanyak 82.823 balita.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Palu tahun 2014 jumlah
balita di kota Palu sebanyak 34.534 balita. Jumlah balita penderita Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah 1530 balita.

3. Etiologi
Etiologi ISPA terdiri dari 300 jenis bakteri, virus dan richetsia. Bakteri
penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptococcus, Staphylococcus,
Pneumococcus, Haemophylus, Bordetella dan Corinebacterium. Virus penyebab
ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus, Coronavirus,
Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus dan lain-lain.
Berbagai faktor resiko yang dapat meningkatkan insiden ISPA pada balita
antara lain : umur < 2 bulan, laki-laki, kurang gizi, berat badan lahir rendah, tidak
mendapatkan ASI memadai, polusi udara, kepadatan tempat tinggal, imunisasi
yang tidak memadai, defisiensi vitamin A, pemberian makanan tambahan terlalu
dini dan ventilasi rumah yang kurang.

Dermis Pawakang, S.Kep


4. Patofisiologi
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu :
1) Tahap prepatogenesis : penyebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi
apa-apa
2) Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh
menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3) Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala
demam dan batuk. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat
sembuh sempurna, sembuh dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal
akibat pneumonia.
Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar
sehingga untuk mengatasinya dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif
dan efisien. Ketahanan saluran pernafasan tehadap infeksi maupun partikel dan
gas yang ada di udara amat tergantung pada tiga unsur alami yang selalu terdapat
pada orang sehat yaitu keutuhan epitel mukosa dan gerak mukosilia, makrofag
alveoli, dan antibody.
Infeksi bakteri mudah terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel
mukosanya telah rusak akibat infeksi yang terdahulu. Selain hal itu, hal-hal yang
dapat mengganggu keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok
dan gas SO2 (polutan utama dalam pencemaran udara), sindroma imotil,
pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi (25 % atau lebih).
Makrofag banyak terdapat di alveoli dan akan dimobilisasi ke tempat lain
bila terjadi infeksi. Asap rokok dapat menurunkan kemampuan makrofag
membunuh bakteri, sedangkan alkohol akan menurunkan mobilitas sel-sel ini.
Antibodi setempat yang ada di saluran nafas ialah Ig A. Antibodi ini
banyak ditemukan di mukosa. Kekurangan antibodi ini akan memudahkan
terjadinya infeksi saluran nafas, seperti yang terjadi pada anak. Penderita yang
rentan (imunokompkromis) mudah terkena infeksi ini seperti pada pasien
keganasan yang mendapat terapi sitostatika atau radiasi.Penyebaran infeksi pada
ISPA dapat melalui jalan hematogen, limfogen, perkontinuitatum dan udara
nafas.

Dermis Pawakang, S.Kep


5. Klasifikasi
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:
1) Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada
kedalam (chest indrawing).
2) Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
3) Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai
demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat.
Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia

6. Gejala Klinis
Gejala klinis secara umum yang sering didapat adalah rinitis, nyeri
tenggorokan, batuk dengan dahak kuning/ putih kental, nyeri retrosternal dan
konjungtivitis. Suhu badan meningkat antara 4-7 hari disertai malaise, mialgia,
nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah dan insomnia. Bila peningkatan suhu
berlangsung lama biasanya menunjukkan adanya penyulit.

7. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik difokuskan pada pengkajian sistem pernafasan:
Inspeksi:
- Membrane mukosa hidung-faring tampak kemerahan
- Tonsil tampak kemerahan dan edema
- Tampak batuk tidak produktif
- Tidak ada jaringan parut pada leher
- Tidak tampak penggunaan oto-otot pernafasan tambahan, pernafasan
cuping hidung
Palpasi:
- Adanya demam
- Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan
pada nodus limfeservikalis
- Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid

Dermis Pawakang, S.Kep


Perkusi:
- Suara paru normal (resonance)
Auskultasi:
- Suara nafas vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru

8. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri. Pemeriksaan yang dilakukan adalah
biakan virus, serologis, diagnostik virus secara langsung. Sedangkan diagnosis
ISPA oleh karena bakteri dilakukan dengan pemeriksaan sputum, biakan darah,
biakan cairan pleura.

9. Penatalaksanaan
Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang
benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya
kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk
yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA) .
Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar
pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan
antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan
obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup
pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari
tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA.
1) Pencegahan dapat dilakukan dengan :
- Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
- Immunisasi.
- Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
- Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
2) Prinsip perawatan ISPA antara lain :
- Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari
- Meningkatkan makanan bergizi

Dermis Pawakang, S.Kep


- Bila demam beri kompres dan banyak minum
- Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu
tangan yang bersih
- Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak
terlalu ketat.
- Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak
tersebut masih menetek
3) Pengobatan antara lain :
Suportif :
- Meningkatkan daya tahan tubuh berupa nutrisi yang adekuat, pemberian
multivitamin dll.
Antibiotik :
- Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab
- Utama ditujukan pada S.pneumonia, H.Influensa dan S.Aureus
- Menurut WHO : Pneumonia rawat jalan yaitu kotrimoksasol,
Amoksisillin, Ampisillin, Penisillin Prokain, Pnemonia berat : Benzil
penicillin, klorampenikol, kloksasilin, gentamisin.
- Antibiotik baru lain : Sefalosforin, quinolon dll.

10. Komplikasi
1) Penemonia
2) Bronchitis
3) Sinusitis
4) Laryngitis
5) Kejang deman

Dermis Pawakang, S.Kep


BAB II
KONSEP DASAR KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan secara
komprehensif meliputi aspek bio-psiko-sosiokultural. Pada tahap ini semua
data atau informasi tentang klien dikumpulkan melalui wawancara,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan diagnostik
a. Riwayat Kesehatan
- Keluhan Utama:
Keluahan yang paling di rasakan klien, dan jika klien belum dapat
berinteraksi dengan petugas kesehatan bias di tanyakan pada orangtuanya.
- Riwayat penyakit sekarang:
Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala,
badan lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan
sakit tenggorokan atau tidak?
- Riwayat penyakit dahulu:
Klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit seperti sekarang
tidak atau penyakit lainya?
- Riwayat penyakit keluarga:
Menurut anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit seperti
penyakit klien tersebut.

b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik difokuskan pada pengkajian sistem pernafasan
- Inspeksi:
Membran mucosa hidung faring tampak kemerahan atau tidak. Tonsil
tanpak kemerahan dan edema atau tidak. Tampak batuk tidak produktif
atau tidak. Tidak atau tampak penggunaan otot- otot pernapasan
tambahan, pernapasan cuping hidung, tachypnea, dan hiperventilasi.

Dermis Pawakang, S.Kep


- Palpasi
Adanya demam atau tidak. Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe
pada daerah leher / nyeri tekan pada nodus limfe servikalis atau tidak.
Tidak atau teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
- Perkusi
Suara paru normal (resonance)
- Auskultasi
Suara napas vesikuler atau terdengar/tidak terdengar ronchi pada kedua
sisi paru

2. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d banyaknya mucus
Tujuan:
Jalan nafas efektif
Intervensi:
1) Atur posisi pasien (posisi semi fowler)
R : Mempermudah fungsi pernafasan
2) Observasi tanda-tanda vital
R : Peningkatan RR dan takikardi merupakan indikasi adanya
penurunan fungsi paru
3) Lakukan auskultasi paru
R : Auskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas pada bagian
paru-paru
4) Menganjurkan pasien banyak minum air terutama air hangat
R : Untuk mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan
5) Kaji frekuensi dan kedalaman pernafasan serta penggunaan otot
bantu pernafasan
R : Dengan mengkaji kualitas, frekuesi dan kedalaman pernafasan,
kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien.
6) Ajarkan pasien cara Batuk berdahak efektif

Dermis Pawakang, S.Kep


R : Batuk berdahak efektif dapat membantu dahak keluar dan tidak
banyak membuang tenaga
7) Kolaborasi pemberian o2 nasal kanul 5 lpm, pemberian ekspetoran
R : Pemberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan
mencegah terjadinya sianosis akibat hipoksia. Pemberian
ekspektoran membantu mengeluarkan dahak.
b. Hipertermi b.d proses infeksi
Tujuan :
Suhu tubuh normal berkisar antara 36 – 37,5 °C
Intervensi:
1) Observasi tanda-tanda vital
R : Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan
perkembangan perawatan selanjutnya.
2) Anjurkan klien/keluarga untuk kompres pada kepala/aksila
R : Dengan memberikan kompres, maka akan terjadi proses
konduksi/perpindahan Apanas dengan bahan perantara.
3) Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan dapat
menyerap SAkeringat seperti pakaian dari bahan katun.
R : Proses hilanganya panas akan terhalangi untuk pakaian yang
tebal dan tidak Aakan menyerap keringat.
4) Atur sirkulasi udara
R : Penyediaan udara bersih
5) Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 – 2500 ml/hari
R : Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh
meningkat
6) Anjurkan klien istirahat di tempat tidur selama fase febris
penyakit.
R : Tirah baring untuk mengurangi metabolisme dan panas
7) Kolaborasi dengan dokter:
Dalam pemberian terapi, obat antimicrobial
Antipiretika

Dermis Pawakang, S.Kep


R : Untuk mengontrol infeksi pernafasan dan menurunkan panas

c. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d


anoreksia
Tujuan:

- Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah pada BB


normal.
- Klien dapat menoleransi diet yang dianjurkan
- Tidak menunjukkan tanda malnutrisi
Intervensi:

1) Kaji kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari.


R : Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun
tujuan BB dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi
2) Berikan makan porsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat.
R : Untuk menjamin nutrisi adekuat/meningkatkan kalori total
3) Tingkatkan tirah baring
R : Untuk mengurangi kebutuhan metabolic
4) Kolaborasi: konsultasi ke ahli gizi untuk memberikan diet sesuai
kebutuhan klien.
R : Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi
atau kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal

d. Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil
Tujuan:

Nyeri berkurang/terkontrol

Intervensi:

1) Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya (dengan skala 0 – 10 ),


faktor yang memperburuk atau meredakan nyeri, lokasi, lama, dan
karakteristiknya.

Dermis Pawakang, S.Kep


R : Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan
merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi
yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang
diberikan
2) Anjurkan klien untuk menghindari alergen/iritan terhadap debu,
bahan kimia, asap rokkok, dan mengistirahatkan/meminimalkan
bicara bila suara serak.
R : Mengurangi bertambah beratnya penyakit
3) Anjurkan untuk melakukan kumur air hangat
R : Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta
mengurangi nyeri tenggorokan
4) Kolaborasi: berikan obat sesuai indikasi (steroid oral, IV, dan
inhalasi, dan analgesik)
R : Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi
alergi/menghambat pengeluaran histamin dalam inflamasi
pernafasan. Analgesik untuk mengurangi nyeri

e. Risiko penularan infeksi dengan factor risiko: tidak kuatnya


pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun)
Tujuan:

Tidak terjadi penularan, tidak terjadi komplikasi

Intervensi:

1) Batasi pengunjung sesuai indikasi


R : Menurunkan potensi terpajan pada penyakit infeksius
2) Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktivitas
R : Menurunkan konsumsi/kebutuhan keseimbangan O₂ dan
memperbaiki pertahanan klien terhadap infeksi, meningkatkan
penyembuhan
3) Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin
R : Mencegah penyebaran patogen melalui cairan

Dermis Pawakang, S.Kep


4) Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak dibawah usia 2
tahun, lansia, dan penderita penyakit kronis. Konsumsi vitamin C,
A dan mineral seng atau anti oksidan jika kondisi tubuh
menurun/asupan makanan berkurang.
R : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan
menurunkan tahanan terhadap infeksi
5) Kolaborasi pemberian obat sesuai hasil kultur
R : Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi
dengan kultur dan sensitifitas atau diberikan secara profilaktik
karena risiko tinggi

Dermis Pawakang, S.Kep


DAFTAR PUSTAKA

Meadow,Sir Roy dan Simen.2002.Lectus Notes:Pediatrika.Jakarta:PT.Gelora Aksara


Pratama

DepKes RI. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Jakarta. 1992.

Suriadi,Yuliani R,2001,Asuhan Keperawatan pada Anak,CV sagung Seto,Jakarta

Gordon,et.al,2001, Nursing Diagnoses : definition & Classification 2001-


2002,Philadelpia,USA

Departemen Kesehatan RI, 2002. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran


Pernafasan Akut Untuk Penanggulangan Pneumonia Pada Balita: Jakarta.

Catzel, Pincus & Ian robets. (1990). Kapita Seleta Pediatri Edisi II. alih bahasa oleh Dr.
yohanes gunawan. Jakarta: EGC

Gordon,et.al,2001, Nursing Diagnoses : definition &


Classification20012002,Philadelpia,USA

Intensif Neonatus. Jakarta: Balai penerbit FKUI.

Materi pelatihan kader dan penyegara kader (2004), PSIK UMJ, Jakarta

Naning R,2002,Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Handout kuliah Ilmu Kesehatan


Anak)PSIK FK UGM tidak dipublikasikan

Pertemuan Ilmiah Tahunan V (PIT-5) Ilmu Penyakit Dalam PAP di Sumsel. Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang

Dermis Pawakang, S.Kep


Soegijanto, S (2002). Ilmu penyakit anak; diagnosa dan penatalaksanaan.
Jakarta: Salemba medika

Dermis Pawakang, S.Kep