Anda di halaman 1dari 15

TUGAS KEPERAWATAN DASAR MANUSIA

“PENGKAJIAN PADA PERAWATAN LUKA”

DOSEN PEMBIMBING :

Indriatie,SKp.M.MKes

DISUSUN OLEH:

Afifah Zery Afrilia

P27820118039

Tingkat 1 Reguler A

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

JURUSAN KEPERAWATAN

PRODI DIII KEPERAWATAN KAMPUS SOETOMO

SURABAYA

TAHUN AKADEMIK 2018/2019


PENGKAJIAN LUKA

A. Luka Akut

1. Lokasi / Letak : Punggung tangan sebelah kanan

2. Stadium luka : Stadium Tingkat II (dua) Tingkat keparahan luka


bakar derajat dua cenderung lebih serius daripada tingkatan pertama. Karena
area kerusakan sel-sel kulit sudah mulai menembus epidermis hingga
mengenai sebagian dermis atau lapisan kulit dalam.

3. Bentuk dan Ukuran : bentuk luka melingkar dan melebar diseluruh


punggung tangan. Panjang luka kira-kira 9cm dan lebar kira-kira 6cm.
4. Tanda infeksi : Terdapat tanda infeksi pada luka bakar tersebut.
5. Bau : Luka bakar tersebut tidak berbau
6. Proses Epitelisasi :
B. Luka Kronis

1. Lokasi / letak : Terdapat 2 luka. Luka pertama terletak di Punggung


kaki sebelah kiri. Dan luka kedua terletak di jempol kaki.
2. Stadium Luka : Stadium Tingkat III yaitu hilangnya kulit keseluruhan
meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai
bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada
lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara
klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan
sekitarnya.
3. Bentuk dan ukuran : Bentuk luka melingkar dan melebar. Luka pertama
Panjang kurang lebih 7cm dan lebar 6cm. Luka kedua panjang kurang lebih 3cm
dan lebar 3cm.
4. Tanda infeksi : Terdapat tanda infeksi pada luka tersebut
5. Bau : Luka tersebut memiliki bau khas diabetes yang
menyengat.
6. Proses Epitelisasi :
DESINFEKTAN

A. Definisi Desinfektan

Desinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya


infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh
atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Disinfektan
digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati. (Signaterdadie, 2009).
Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan
bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi
dengan jalan membunuh mikroorganisme patogen. Desinfeksi dilakukan apabila
sterilisasi sudah tidak mungkin dikerjakan, meliputi: penghancuran danpemusnahan
mikroorganisme patogen yang ada tanpat tindakan khusus untuk mencegah
kembalinya mikroorganisme tersebut. Desinfektan adalah bahan kimia yang
digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti
bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme
atau kuman penyakitlainnya. Disinfektan digunakan untuk membunuh
mikroorganisme pada benda mati.Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme
penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat
mengurangi kemungkinan terjadiinfeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme
patogen. Desinfeksi dilakukan apabila sterilisasi sudah tidak mungkin dikerjakan,
meliputi: penghancuran dan pemusnahan mikroorganisme patogen yang ada tanpa
tindakan khusus untuk mencegah kembalinya mikroorganisme tersebut.

kriteria Desinfeksi yang ideal adalah :


1. Bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar
2. Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organic, pH, temperature dan
kelembaban
3. Tidak toksik pada hewan dan manusia
4. Tidak bersifat korosif
5. Tidak berwarna dan meninggalkan noda
6. Tidak berbau
7. Bersifat biodegradable / mudah diurai
8. Larutan stabil
9. Mudah digunakan dan ekonomis
10. Aktivitas berspektrum luas
B. Macam-Macam Desinfektan
1. Desinfeksi Tingkat Tinggi
Desinfeksi tingkat tinggi (DTT) dapat membunuh semua organisme kecuali
spora bakteri. DTT dapat dilakukan dengan merebus, mengukus atau menggunakan
bahan kimia.
a. DTT dengan merebus
1) Mulai menghitung waktu saat air mulai mendidih
2) Merebus selama 20 menit dalam panci tertutup
3) Seluruh alat harus terendam
4) Jangan menambah alat apapun ke air mendidih
5) Pakai alat sesegera mungkin atau simpan dalam wadah tertutup dan kering
yang telah di DTT, maksimal satu minggu
b. DTT dengan mengukus
1) Kukus alat selama 20 menit
2) Kecilkan api sehingga air tetap mendidih
3) Waktu dihitung mulai saat keluarnya uap
4) Jangan pakai lebih dari 3 panci uap
5) Keringkan dalam kontainer DTT

DTT dengan kimia

1) Desinfektan kimia untuk DTT


2) Klorin 0,1%, Formaldehid 8%, Glutaraldehid 2%
3) Lakukan dekontaminasi dengan cuci dan dibilas lalu keringkan
4) Rendam semua alat dalam larutan desinfektan selama 20 menit
5) Bilas dengan air yang telah direbus dan dikeringkan di udara
6) Segera pakai atau disimpan dalam kontainer yang kering dan telah
di DTT
2. Desinfeksi Tingkat Sedang
Desinfeksi tingkat sedang dapat membunuh bakteri, kebanyakan jamur
kecuali spora bakteri.
3. Desinfeksi Tingkat Rendah
Desinfeksi tingkat rendah dapat membunuh kebanyakan bakteri,
beberapa virus dan beberapa jamur tetapi tidak dapat membunuh
mikroorganisme yang resisten seperti basil tuberkel dan spora bakteri.
C. BAHAN DESINFEKSI
1. Alkohol Etil alcohol atau propel alcohol pada air digunakan untuk
mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam
bidang kedokteran gigi untuk mendesinfeksi permukaan.
2. Aldehid.Glutaraldehid merupakan salah satu desinfektan yang popular pada
kedokteran gigi , baik tunggal maupun dalam bentuk kombinasi . Aldehid merupakan
desinfektan yang kuat. Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendesinfeksi alat-alat
yang tidak dapat disterilkan.
3. Biguanid. Klorheksidin merupakan contoh biguanid yang digunakan secara
luas dalam bidang kedokteran gigi sebagai antiseptic kontrok plak.
4. Fenol. Larutan jernih tidak mengiritasi kulit dan dapat digunakan untuk
membersihkan alat yang terkontaminasi oleh karena tidak dapat dirusak oleh zat
organic.Zat ini bersifat virusidal dan sporosidal yang lemah.Namun karena sebagian
besar bakteri dapat dibunuh oleh zat ini , banyak digunakan di Rumah Sakit dan
laboratorium.
5. Klorsilenol.Merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan
sebagai antiseptic , aktivitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya
terbatas sebagai desinfektan ( misalnya dettol ).

D. BAHAN DESINFEKSI PERAWATAN LUKA

1. BETADINE
Suatu larutan organik dari bahan aktif Polivinil-Pirolidon, yang merupakan
kompleks Iodine yang larut dalam air.
Fungsi : Sebagai desinfektan dan anti septik lokal yang juga dapat membunuh
jamur, virus, Protozoa dan spora.
Bau : Khas, tidak menyengat.
Warna : Hitam-kekuning-kuningan.
Komposisi : Mundidone (Polyvinyl pyrolidone Iodine murni)
Konsentrasi :
- Betadine Gargle 1% - kumur-kumur
- Betadine skin cleaner 7,5%
- Betadine solution 10%
- Betadine ointment 10%
- Betadine vag. Douche 10%
- Betadine vaginal GCL 10%
- Betadine shampoo 4%
Perhatian : Larutan povidium yodium tidak untuk diminum atau ditelan, atau juga
untuk mencuci mata.
Side effect : Dapat menimbullkan metabolilk asidosis bila povidium yodium
digunakan pada luka bakar yang luas, diare-bila terminum.

2. HIDROGEN PEROKSIDA (H2O2)


Bau : Merangsang (menyengat) dan kecut.
Warna : Bening kebiruan.
Komposisi :
- H2O (air)
- O2 (oksigen)
Bila bersentuhan dengan tubuh pada jaringan luka atau mukosa, maka akan terjadi
pengelupasan O2 karena adanya enzim katalase dalam sel.
Konsentrasi :
- Untuk desinfektan dan mencuci luka – 0,3% - 6%
- Untuk sterilisasi – 6% - 25%
- Larutan H2O2 yang biasa dipakai (standar) – 3%
Gunanya :
- Vagina douche (mendesinfeksi vagina)
- Sebagai antiseptik yang non toxid
- Desinfektan luka dan borok
- Untuk doedorant
- Untuk kumur-kumur
Problem dan efek samping :
- Akan merusak jaringan yang baru
- Berbahaya digunakan pada rongga tertutup
Misal : Abses = H2O2 akan melepas gas yang masuk ke dalam pembuluh darah.
- Penggunaan pada mukosa akan menimbulkan iritasi-bintik hitam pada lidah.
3. YODIUM TINCTURE
Nama obat : Yodium Tincture
Bau : Khas, menyengat
Warna: Coklat
Komposisi dan Konsentrasi :
- 2,4% Sodium iodide
- 2% Iodide
- alkohol Etyl 46%
Gunanya :
- Sebagai desinfektan
- Sebagai antiseptik
- Dipakai sebagai obat luar
Kontra indikasi :
- Hypersensitif terhadap Iodine
- Dapat menimbulkan iritasi
- Jauhkan pemakaian rutin

4. MERCUROCHROME
Warna : Merah
Bau : Khas
Komposisi :
- Mercurochrome 2%
- Aqua Destilata 98%
- Dilarutkan dalam alkohol
Gunanya :
- Untuk merawat luka-luka kecil
- Untuk mengeringkan luka
- Untuk menghentikan darah pada luka tergores/kecil
Kerugian :
- Menyebabkan parut
- Bukan merupakan anti bakterial/anti septik
Pelaksanaan : Olesi luka dengan menggunakan peralatan yang tidak mudah
menempel pada luka untuk mencegah pengotoran luka.
5. KALIUM PERMANGANAT (PK)
Nama Obat : PK (Kalium Permanganat)
Bau : Tidak berbau
Warna : Ungu tua
Kompisisi :
- Kalium Permanganat (KMnO4)
-Konsentrasi bila 1 : 1000
-1 gr PK : 1 Liter air
Gunanya :
- Kompres luka
- Menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri busuk
- Irigasi kandung kemih yang terinfeksi
- Untuk pembilasan akhir pada vulva dan penis hygiene
Kontra indikasi : Dapat menimbulkan kepedihan
Kalium Permanganat dapat larut dalam air. Dalam menghambat pertumbuhan dan
membunuh bakteri pembusuk yang dapat disebabkan dari udara bebas, bakteri ini
dapat dimatikan oleh kalium permanganat dengan memperhatikan perbandingan
yang sesuai dengan jumlah materi organik yang ada.
Dalam penyiraman vagina/penis dalam tindakan vagina/penis hygiene dengan
konsentrasi antara 1 : 1000 s/d 1 : 5000. Bila larutan ini kuat yaitu dengan
perbandingan lebih dari 1 : 5000 dapat menimbulkan kepedihan.
Gunanya :
- Kompres luka
- Menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri busuk
- Irigasi kandung kemih yang terinfeksi
- Untuk pembilasan akhir pada vulva dan penis hygiene
Kontra indikasi : Dapat menimbulkan kepedihan

6. LARUTAN NaCl
Bau : Tidak berbau
Warna : Bening
Kompisisi :
- Natrium
- Klorida
- Air
Pada cairan NaCl 0,9% yang biasa digunakan di sarana kesehatan, CRS, Puskesmas
terdiri dari :
- Air : 500 ml
- Sodium/Natrium : 150 mm/L
- Klorida : 150mm/L
Rasa : Asin
Fungsi Sodium :
- Untuk mempertahankan osonolaritas plasma
- Generasi dan transmisi potensial aksi
- Mempertahankan elektronetralisa (kenetralan elektrolit)
- Fungsi normal dari aktifitas fisiologik tubuh
Fungsi Klorida :
- Mempertahankan keseimbangan asam-basa
- Mempertahankan elektrinetralitas plasma
- Formasi asam Hidrolik
Fungsi cairan NaCl dalam perawatan luka :
- Sebagai pelarut/pengencer
- Untuk membersihkan luka
- Sebagai cairan infus
- Sebagai cairan humidifer pada tabung O2
- Untuk irigasi kulit
- Untuk mengatur keseimbangan asam-basa

7. BENSIN
Bensain merupakan fraksi ke-3 dari urutan pengilangan minyak bumi. Untuk
mendapatkan bensin dengan jumlah besar dan mutu baik digunakan proses lanjutan
: cracking – alkilasi – bensin dalam jumlah banyak.
Bensin yang berbau khas dan berwarna jernih kekuning-kuningan ini dapat
dinyatakan mutunya dengan nilai oktan. Nilai oktan didapat dari perbandingan
antara Heptana dan 2,2,4 trimetil pentana (iso oktana).
Ada 3 cara dalam meningkatkan nilai oktan :
1. Menggunakan ukuran yang dibuat berdasarkan kecepatan dan temperatur yang
tinggi.
2. Penambahan bahan aditif seperti tetra etil timbal
(CH3CH2)4 Pb : 1 galon (4 et) bensin 6 ml
(CH3CH2)4 Pb : 1 galon (4 et) bensin.
3. Thermal Reforming – menggunakan temperatur 500-6000C dan tekanan 25 – 50
atmosfir.
Merubah hidrokarbon lurus – bercabang.
Bensin atau lebih dikenal wash bensin, dirumah sakit digunakan sebagai pelarut
bahan yang terbuat dari karet atau pelarut laboratorium. Penggunaan bensin dapat
digantikan dengan minyak kayu putih.
Bensin yang digunakan tentunya harus bermutu baik, dan itu merupakan campuran
antara bensin (+) (CH4CH2)4 Pb, Bensin (+) SiO2 dan AL2O3. Konsentrasi bensin
adalah 80% - 100%, campuran 20% oktana atau 0% heptana dan 100% oktana

D. PENYEMBUHAN LUKA
1. Tipe Penyembuhan Luka
1. Primary Intention Healing (penyembuhan luka primer) yaitu penyembuhan
yang terjadi setelah diusahakan bertautnya tepi luka, biasanya dengan jahitan,
plester, skin graft, atau flap. Hanya sedikit jaringan yang hilang dan Luka
bersih. Jaringan granulasi sangat sedikit. Re-epitelisasi sempurna dalam 10-14
hari, menyisakan jaringan parut tipis.
Kontraindikasi Penutupan Luka Sec Primer:
a. Infeksi
b. Luka dg jaringan nekrotik.
c. Waktu terjadinya luka >6 jam sebelumnya, kecuali luka di area wajah.
d. Masih tdpt benda asing dlm luka
e. Perdarahan dr luka
f. Diperkirakan tdpt “dead space” stla dilakukan jahitan.
g. Tegangan dlm luka atau kulit di sekitar luka terlalu tinggi
h. perfusi jaringan buruk.
2. Secondary Intention Healing (penyembuhan luka sekunder) yaitu luka
yang tidak mengalami penyembuhan primer. Dikarakteristikkan oleh luka
yang luas dan hilangnya jaringan dalam jumlah besar. Tidak ada tindakan
aktif menutup luka, luka sembuh secara alamiah (intervensi hanya berupa
pembersihan luka, dressing, dan pemberian antibiotika bila perlu). Proses
penyembuhan lebih kompleks dan lama. Luka jenis ini biasanya tetap
terbuka dan terbentuk jaringan granulasi yang cukup banyak. Luka akan
ditutup oleh re-epitelisasi dan deposisi jaringan ikat sehingga terjadi
kontraksi. Jaringan parut dapat luas/ hipertrofik, terutama bila luka berada di
daerah presternal, deltoid dan leher.
Indikasi Penutupan luka secara sekunder:
a. Luka kecil (<1.5 cm)
b. Struktur penting di bawah kulit tidak terpapar
c. Luka tidak terletak di area persendian & area yg penting secara
kosmetik
d. Luka bakar derajat 2.
e. Waktu terjadinya luka >6 jam sebelumnya, kecuali bila luka di area
wajah.
f. Luka terkontaminasi (highly contaminated wounds)
g. Diperkirakan terdapat “dead space” setelah dilakukan jahitan
h. Darah terkumpul dlm dead space
i. Kulit yg hilang cukup luas
j. Oedema jaringan yg hebat sehingga jahitan terlalu kencang dan
mengganggu vaskularisasi yang dapat menyebabkan iskemia & nekrosis.
3. Tertiary Intention Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu luka yang
dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridement. Setelah
diyakini bersih, tepi luka dipertautkan (4-7 hari). Luka ini merupakan tipe
penyembuhan luka yang terakhir. Delayed primary closure yang terjadi setelah
mengulang debridement dan pemberian terapi antibiotika.
2. Fase Penyembuhan Luka

a. Fase Inflamasi
 Berlangsung segera setelah jejas terjadi dan berlanjut hingga 5 hari.
Merupakan respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan jaringan
lunak yang bertujuan untuk mengontrol perdarahan, mencegah koloni bakteri,
menghilangkan debris dan mempersiapkan proses penyembuhan lanjutan.
Disebut juga fase lamban karena reaksi pembentukan kolagen baru sedikit
dan luka hanya dipertautkan oleh fibrin yang lemah.
 Awal fase, kerusakan jaringan menyebabkan keluarnya platelet yang akan
menutupi vaskuler yang terbuka dengan membentuk clot yang terdiri dari
trombosit dengan jala fibrin dan mengeluarkan zat yang menyebabkan
vasokonstriksi, pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi), dan reaksi
hemostasis. Terjadi selama 5 – 10 menit.
 Setelah itu, sel mast akan menghasilkan sitokin, serotonin dan histamin yang
meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan,
pengumpulan sel radang, disertai vasodilatasi lokal. Tanda dan gejala klinik
radang menjadi jelas berupa warna kemerahan karena kapiler melebar
(rubor), suhu hangat (kalor), rasa nyeri (dolor), dan pembengkakan (tumor).
 Eksudasi mengakibatkan terjadinya pergerakan leukosit menembus dinding
pembuluh darah (diapedesis) terutama neutrofil menuju luka karena daya
kemotaksis mengeluarkan enzim hidrolitik berfungsi untuk fagositosis benda
asing dan bakteri selama 3 hari yang kemudian digantikan fungsinya oleh sel
makrofag yang berfungsi juga untuk sintesa kolagen, pembentukan jaringan
granulasi bersama makrofag, memproduksi Growth Factor untuk re
epitelialisasi, dan proses angiogenesis.
b. Fase Proliferasi
Berlangsung dari hari ke 6 sampai dengan 3 minggu. Disebut juga fase
fibroplasias karena fase ini didominasi proses fibroblast yang berasal dari sel
mesenkim undifferentiate, yang akan berproliferasi dan menghasilkan
kolagen, elastin, hyaluronic acid, fifbronectin, dan proteoglycans yang
berperan dalam rekonstruksi jaringan baru. Fase ini terdiri dari proses
proliferasi, migrasi, deposit jaringan matriks, dan kontraksi luka.
 Pada fase ini serat dibentuk dan dihancurkan kembali untuk penyesuaian
dengan tegangan pada luka yang cenderung mengerut. Sifat ini, bersama
dengan sifat kontraktil miofibroblast, menyebabkan tarikan pada tepi luka.
Pada akhir fase ini kekuatan regangan luka mencapai 25% jaringan normal.
Nantinya, dalam proses penyudahan kekuatan serat kolagen bertambah karena
ikatan intramolekul dan antar molekul.
 Luka dipenuhi sel radang, fibroblast, dan kolagen, membentuk jaringan
granulasi. Epitel tepi luka yang terdiri dari sel basal terlepas dari dasarnya dan
berpindah mengisi permukaan luka. Tempatnya kemudian diisi oleh sel baru
yang terbentuk dari proses mitosis. Proses migrasi hanya bisa terjadi ke arah
yang lebih rendah atau datar, sebab epitel tak dapat bermigrasi ke arah yang
lebih tinggi. Proses ini baru berhenti setelah epitel saling menyentuh dan
menutup seluruh permukaan luka. Dengan tertutupnya permukaan luka,
proses fibroplasia dengan pembentukan jaringan granulasi juga akan berhenti
dan mulailah proses maturasi.
c. Fase Maturasi
Berlangsung mulai pada hari ke 21 dan dapat berlangsung sampai
berbulan-bulan dan berakhir bila tanda radang sudah hilang. Pada fase ini
terjadi proses maturasi yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang
berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi, dan akhirnya remodelling
jaringan yang baru terbentuk. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua
yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan. Udem dan sel radang
diserap, sel muda menjadi matang, kapiler baru menutup dan diserap kembali,
kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan
yang ada. Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis, dan
lemas serta mudah digerakkan dari dasar. Terlihat pengerutan maksimal pada
luka. Pada akhir fase ini, perupaan luka kulit mampu menahan regangan kira
– kira 80% kemampuan kulit normal. Hal ini tercapai kira – kira 3-6 bulan
setelah penyembuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Sylvia A. Price & Lorraine M.Wilson. 2005. Patofisiologi, Edisi 6, EGC, Jakarta

Georgina Casey, Modern Wound Dressings. Nursing Standard, Oct 18-Oct 24, 2000:15,5:
Proquest Nursing & Allied Health Search

. Kathleen Osborn, Nursing Burn Injuries. Nursing Management; May 2003; 34,5: Proquest
Nursing & Allied Health Search

Madelaine Flanagan, Managing Chronic Wound Pain in Primary Care. Practice Nursing;
Jun 23, 2006; 31, 12; ABI/INFORM Trade & Industry

Maureen Benbow, Healing and Wound Classification. Journal of Community Nursing; Sep
2007; 21,9; Proquest Nursing & Allied Health Search