Anda di halaman 1dari 6

BATU SERPIH

Serpih adalah batuan sedimen berbutir halus yang terbentuk dari pemadatan lumpur
dan lempung. Ukuran partikel mineralnya biasa kita sebut sebagai "lumpur".
Komposisi yang demikian meyebabkan banyak orang yang memasukan serpih
kedalam kategori batuan sedimen "batulumpur" (mudstones). Tetapi sebenarnya
serpih dibedakan dari batulumpur karena karena karakternya yang "fissile" dan
"laminated". "Laminasi" berarti bahwa batuan terdiri dari banyak lapisan tipis,
sedangkan "Fisil" artinya batuan itu gampang terbelah menjadi potongan-potongan
tipis disepanjang laminasi-nya.
Clark (1954) menyebutkan serpih (shale) sebagai batuan detritus yang memiliki
ukuran partikel-partikel penyusunnya berdiameter <1/16 mm. Berdasarkan definisi
tersebut artinya istilah serpih pun juga akan mencakup batulanau. Namun demikian,
kebanyakan para ahli membagi material halus kedalam 2 kategori yaitu lanau yang
nantinya akan membentuk batulanau, dan lempung yang akan membentuk
batulempung.
Diantara jenis batuan sedimen lainnya, sebenarnya serpih (shale) merupakan batuan
yang memiliki kelimpahan paling tinggi. Sloss (1968) memperkirakan serpih
membentuk sekitar 32% batuan sedimen Paleozoikum dan Kenozoikum yang ada di
craton Amerika Utara. Sedangkan Blatt (1970) memperkirakan bahwa 69% sedimen
benua tersusun atas serpih.
KJOKKENMODDINGER

Kata "Kjokkenmoddinger" berasal dari bahasa Denmark yakni Kjokken, artinya dapur
dan modding yang berarti sampah. Dapat kita pahami bahwa pengertian
Kjokkenmoddinger bisa dikatakan sebagai sampah dapur.
Kjokkernmoddinger merupakan tumpukan sampah kerang yang telah menggunung
dengan ketinggian 7 meter dan berasal dari periode Mesolitikum yang ditemukan di
sepanjang pantai timur Sumatera, tepatnya dari Aceh hingga ke Medan. Ditemukan
pada tahun 1925 oleh tokoh bernama Dr. P. V. van Stein Callenfels.
Dari penemuan ini lalu menimbulkan pendapat bahwa manusia zaman dahulu
mengandalkan makanan hasil dari tangkapan siput dan kerang. Van Stein tidak hanya
meneliti Kjokkenmoddinger, ia juga menemukan beberapa benda peninggalan lainnya
antara lain batu penggilingan beserta pipisannya, kapak genggam serta pecahan-
pecahan tengkorak beserta gigi.
Fungsi Kjokkenmoddinger
Setelah mengetahui pengertian Kjokkenmoddinger, maka kita dapat mengetahui
bahwa manusia purba pada zaman mesolitikum pada umumnya hidup di tepi sungai
dan pantai. Kjokkenmoddinger memiliki fungsi sebagai sumber sejarah/sumber
informasi seputar tempat tinggal manusia zaman dahulu.
ABRIS SOUS ROCHE

Abris sous roche adalah goa menyerupai ceruk batu karang yang digunakan manusia
sebagai tempat tinggal. Penelitian mengenai kebudayaan Abris sous roche ini juga
dilakukan oleh van Stein Callenfels pada tahun 1928-1931 di Goa Lawu dekat
Sampung, Ponorogo (Madiun). Alat-alat yang ditemukan lebih banyak terbuat dari
tulang sehingga disebut sebagai Sampung Bone Culture. Di daerah Besuki (Jawa
Timur), van Heekeren juga menemukan kapak Sumatera dan kapak pendek. Abris
sous roche juga ditemukan pada daerah Timor dan Rote oleh Alfred Buhler yang
menemukan flakes culture dari kalsedon bertangkai dan hal ini diduga merupakan
peninggalan bangsa Papua Melanesoide..
Hasil kebudayaan Abris sous roche juga ditemukan di Lamancong (Sulawesi Selatan)
yang biasa disebut kebudayaan Toala. Kebudayaan Toala ditemukan pada suatu goa
yang disebut Goa Leang PattaE dan inti dari kebudayaan ini adalah flakes dan pebble.
Selain Toala, para ahli juga menemukan kebudayaan Bacson-Hoabinh dan Bandung di
Indonesia. Bacson-Hoabinh diperkirakan merupakan pusat budaya prasejarah
Indonesia dan terdiri dari dua macam kebudayaan, yaitu kebudayaa pebble (alat-alat
tulang yang datang dari jalan barat) dan kebudayaan flakes (datang melalui jalan
timur). Sementara itu, penelitian kebudayaan Bandung dilakukan oleh van
Koenigswald di daerah Padalarang, Bandung Utara, Cicalengka, BanjarabSoreang,
dan sebelah barat Cililin. Kebudayaan yang ditemukan berupa flakes yang disebut
microlith (batu kecil), pecahan tembikar, dan benda-benda perunggu
KAPAK PERIMBAS

Kapak perimbas adalah kapak yang tidak memiliki tangkai dan penggunaannya dengan cara
menggenggamnya langsung dengan tangan. Kapak Perimbas juga disebut juga chopper atau
kapak penetak.
Fungsi Kapak Perimbas
Sesuai dengan namanya, Kapak perimbas berfungsi untuk merimbas kayu, memahat tulang
dan juga dijadikan sebagai senjata. Kapak perimbas ini ditemukan di daerah Gombong (Jawa
Tengah), Kapak Sumatra selatan (lahat), Sukabumi (Jawa Barat), dan Goa Choukoutieen
(Beijing). Alat ini juga banyak ditemukan di daerah Pacitan (Jawa Timur) sehingga oleh Ralp
Von Koenigswald disebut kebudayan Pacitan.
Sedangkan Fungsi praktis dari Kapak Perimbas ini adalah sebagai alat untuk menumbuk
tanaman ataupun biji-bijian, untuk memotong daging buruan, dijadikan sebagai pisau
(penyayat) serta dijadikan alat untuk menumbuk serat-serat yang berasal dari pepohonan
untuk digunakan sebagai pakaian. Yang masih menjadi perdebatan ialah Fungsinya yang
dipakai untuk berburu hewan atau sebagai senjata untuk menyerang lawan.
Pembuatan Kapak Perimbas
Pembuatan Kapak perimbas dengan cara meruncingkan batu pada satu sisi permukaannya
agar menjadi tajaman. Sedangkan Bagian lain yang tidak dipertajam dijadikan sebagai
pegangan. Ciri-ciri Kapak perimbas dirancang untuk di telapak tangan penggunananya
dengan pegangan yang nyaman.
KAPAK PERSEGI

Kapak persegi adalah alat terbuat dari batu berbentuk persegi. Kapak persegi dikenal juga
dengan nama beliung. Asal-usul kapak peregi berawal dari migrasinya bangsa Asia ke
Indonesia. Nama kapak persegi sendiri diberikan oleh Von Heine Geldern dengan melihat
penampang dari alat-alatnya.
Terkadang juga kapak ini berbentuk persegi panjang ataupun trapesium. kapak persegi ini
ditemukan Di Indonesia bagian barat seperti di pulau sumatera, jawa dan Bali. Akan tetapi di
Indonesia bagian timur, ditemukan kapak persegi dengan pembuatan kasar.
Kapak persegi ditemukan di daerah Lahat (Sumatra Selatan) , Bogor, Sukabumi, Karawang
dan Tasikmalaya, Pacitan (Jawa Timur). Selain itu juga Diketemukan chalcedon (batu yang
indah) yang dibuat cantik dan halus, besar kemungkinan batu itu dijadikan sebagai tanda
kebesaran ataupun dipakai sebagai alat upacara. Kapak yang sejenis dengan kapak persegi
dinamakan juga sebagai kapak bahu.
Fungsi kapak persegi
Kapak persegi berfungsi Sebagai tajak untuk menanam tumbuhan dan pisau untuk mengetam
padi. Selain itu juga kapak persegi bergunaa sebagai Alat pembuat perahu (memotong,
mengerat, memukul). Sedangkan kapak persegi yang kecil berguna sebagai pahat. Terkadang
juga kapak persegi dijadikan sebagai Komoditas dagang (barter).
KAPAK LONJONG

wacana.co

Kapak lonjong adalah salah satu kapak peninggalan dari zaman Neolitikum. Kapak ini
diperkirakan lebih tua daripada kapak persegi. Disebut kapak lonjong karena
bentuknya yang lonjong seperti telur. Selain itu juga kapak lonjong mempunyai ujung
yang runcing, akan tetapi tidak seruncing mata panah.
Kebanyakan kapak lonjong dibuat dari batu kali yang berwarna kehitaman serta
memiliki tingkat kekerasan tertentu, seperti yang masih dipakai di daerah Papua.
Sedangkan ukuran-ukuran dari kapak lonjong ini berbeda-beda, yang besar disebut
welzenbeil sedangkan kapak yang kecil disebut dengan kleinbeil.
Fungsi kapak Lonjong
Kapak lonjong memiliki fungsi yang hampir sama dengan kapak persegi. Seperti
halnya kapak lonjong yang berukuran besar, kapak ini dipakai untuk memotong
makanan dan sering juga dijadikan sebagai pekakas.
Sedangkan kapak lonjong yang berukuran kecil dipakai sebagai benda wasiat dan
upacara. Penemuan kapak lonjong di Indonesia, terdapat di daerah bagian timur,
seperti di Sulawesi, Sangihe Talaud, Maluku, Flores, Leti, Tanimbar, dan Papua.
Selain itu ditemukan juga Di daerah Serawak yaitu di Gua Niah.