Anda di halaman 1dari 53

TUGAS

DISUSUN OLEH :
Nurina Mutia Farah
1810221004

PEMBIMBING :
dr. Endang Prasetyowati, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UPN “VETERAN” JAKARTA
RSUD AMBARAWA
2019
Pembahasan tentang BBLR
Berat badan merupakan salah satu indikator kesehatan bayi baru lahir.
Rerata berat bayi normal (usia gestasi 37-41 minggu) adalah 3200 gram. Bayi
berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir dengan berat badan pada
saat kelahiran kurang dari 2500 gram yang ditimbang dalam 1 jam setelah
lahir. World Health Organization (WHO) pada tahun 1961 menyatakan
bahwa semua bayi baru lahir yang berat badannya kurang atau sama dengan
2500 gram disebut Low Birth weight Infant (Bayi Berat Badan Lahir
Rendah/BBLR).

KLASIFIKASI
Bayi dengan berat lahir rendah sering diklasifikasikan berdasarkan:
1. Berat badan lahir
a. Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR), dengan berat lahir <1000
gram.
b. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), dengan berat lahir 1001-1500 gram.
c. Bayi berat lahir rendah (BBLR), dengan berat badan 1501-2499 gram.
2. Usia kehamilan
a. Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan belum mencapai
38 minggu.
b. Bayi cukup bulan adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan 38-42
minggu.
c. Bayi lebih bulan adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan lebih dari
42 minggu.
3. Usia kehamilan dan berat badan lahir
a. Prematur Murni: Masa kehamilan kurang dari 38 minggu dengan berat yang
sesuai dengan berat badan untuk usia kehamilan (sesuai untuk masa
kehamilan=SMK), dimana masa kehamilan dihitung mulai hari pertama haid
terakhir dari haid yang teratur.
b. Dismaturitas: Bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa
kehamilannya (kecil untuk masa kehamilan=KMK)
ETIOLOGI
Penyebab kelahiran bayi berat lahir rendah dan gangguan pertumbuhan
intrauterine dapat disebabkan oleh faktor ibu, janin, dan plasenta.
a. Faktor Ibu:
 Toksemia gravidarum, yaitu preeklampsi dan eklampsi
 Kelainan bentuk uterus (contoh: uterus bikornis, inkompeten serviks)
 Tumor (contoh: mioma uteri, cystoma)
 Ibu yang menderita penyakit, seperti tifus abdominalis, malaria (akut), TBC,
penyakit jantung, glomerulonefritis kronis (kronis)
 Trauma pada masa kehamilan baik fisik (jatuh/terbentur) maupun psikologis
(stress)
 Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
b. Faktor Janin:
 Kehamilan ganda
 Hidramnion
 Ketuban pecah dini
 Cacat bawaan
 Infeksi transplasenta (contoh: rubeolla, sifilis, toxoplasmosis)
 Insufisiensi plasenta
 Inkompatibilitas darah ibu dan janin (faktor rhessus, golongan darah ABO)
c. Faktor Plasenta:
 Plasenta previa
 Solusio plasenta
 Plasentitis Villus (ec. Bakteri, virus, parasit)
 Berat plasenta berkurang atau berongga
 Tumor (contoh: chorioangima, mola hidatidosa)
Berdasarkan tipe BBLR, penyebab terjadinya bayi BBLR dapat digolongkan
menjadi sebagai berikut:
a. BBLR tipe KMK, disebabkan oleh :
1. Ibu hamil yang kekurangan nutrisi
2. Ibu memiliki hipertensi, preeklampsia, atau anemia
3. Kehamilan kembar, kehamilan lewat waktu
4. Malaria kronik, penyakit kronik
5. Ibu hamil merokok
b. BBLR tipe prematur, disebabkan oleh:
1. Berat badan ibu yang rendah, ibu hamil yang masih remaja, kehamilan
kembar
2. Pernah melahirkan bayi prematur sebelumnya
3. Cervical imcompetence (mulut rahim yang lemah hingga tak mampu menahan
berat bayi dalam rahim)
4. Perdarahan sebelum atau saat persalinan (antepartum hemorrhage)
5. Ibu hamil yang sedang sakit
6. Kebanyakan tidak diketahui penyebabnya.

PATOGENESIS
Bayi lahir prematur yang BBLR-nya sesuai dengan umur kehamilan
pretermnya biasanya dihubungkan dengan keadaan medis dimana terdapat
ketidakmampuan uterus untuk mempertahankan janin (incompetent
cervix/premature dilatation), gangguan pada perjalanan kehamilan, pelepasan
plasenta, atau rangsangan tidak pasti yang menimbulkan kontraksi efektif
pada uterus sebelum kehamilan mencapai umur cukup bulan.
Dismaturitas dihubungkan dengan keadaan medik yang menggangu
sirkulasi dan efisiensi plasenta, pertumbuhan dan perkembangan janin, atau
kesehatan umum dan nutrisi ibu. Dismaturitas mungkin merupakan respon
janin normal terhadap kehilangan nutrisi atau oksigen. Sehingga masalahnya
bukan pada dismaturitasnya, tetapi agaknya pada resiko malnutrisi dan
hipoksia yang terus menerus. Serupa halnya dengan beberapa kelahiran
preterm yang menandakan perlunya persalinan cepat karena lingkungan
intrauteri berpotensi merugikan.

GEJALA KLINIK
A. Prematuritas murni
Berat badan kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang sama
dengan 45 cm, lingkaran dada kurang dari 30 cm, lingkaran kepala kurang
dari 33 cm, masa gestasi kurang dari 37 minggu.
Kepala relatif besar dari badannya, kulitnya tipis, transparan, lanugo
banyak, lemak subkutan kurang. Ossifikasi tengkorak sedikit, ubun-ubun dan
sutura lebar, genitalia imatur. Rambut biasanya tipis dan halus. Tulang rawan
dan daun telinga belum cukup, sehingga elastisitas daun telinga masih kurang.
Desensus testikulorum biasanya belum sempurna dan labia minora
belum tertutup oleh labia mayora. Jaringan mammae belum sempurna, puting
susu belum terbentuk dengan baik. Bayi kecil, posisinya masih posisi fetal,
yaitu posisi dekubitus lateral, pergerakannya kurang dan masih lemah. Bayi
lebih banyak tidur daripada bangun. Tangisannya lemah, pernapasan belum
teratur dan sering terdapat serangan apnoe. Otot masih hipotonik, sehingga
kedua tungkai selalu dalam keadaan abduksi, sendi lutut dan sendi kaki dalam
fleksi dan kepala menghadap ke satu arah.
Refleks moro dapat positif. Refleks mengisap dan menelan belum
sempurna, begitu juga refleks batuk. Kalau bayi lapar, biasanya menangis,
gelisah, aktivitas bertambah. Bila dalam waktu tiga hari tanda kelaparan ini
tidak ada, kemungkinan besar bayi menderita infeksi atau perdarahan
intrakranial. Seringkali terdapat edema pada anggota gerak, yang menjadi
lebih nyata sesudah 24-48 jam. Kulitnya tampak mengkilat dan licin serta
terdapat ‘pitting edema’. Edema ini seringkali berhubungan dengan
perdarahan antepartum, diabetes mellitus, dan toksemia gravidarum.
Frekuensi pernapasan bervariasi terutama pada hari-hari pertama. Bila
frekuensi pernapasan terus meningkat atau selalu diatas 60x/menit, harus
waspada kemungkinan terjadinya penyakit membran hialin, pneumonia,
gangguan metabolik atau gangguan susunan saraf pusat. Dalam hal ini, harus
dicari penyebabnya, misalnya dengan melakukan pemeriksaan radiologis
toraks.

B. Dismaturitas
Dismaturitas dapat terjadi preterm, term, dan postterm. Pada preterm
akan terlihat gejala fisik bayi prematur murni ditambah gejala dismaturitas.
Dalam hal ini berat badan kurang dari 2500 gram, karakteristik fisis sama
dengan bayi prematur dan ditambah dengan ‘wasting’. Pada bayi cukup bulan
dan postterm dengan dismaturitas, gejala yang menonjol adalah ‘wasting’.
Bayi dismatur dengan tanda ‘wasting’ tersebut, yaitu :
1. Stadium I
Bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang, kulitnya longgar, kering
seperti perkamen, tetapi belum terdapat noda mekonium.
2. Stadium II
Didapatkan tanda stadium I ditambah dengan warna kehijauan pada kulit,
plasenta, dan umbilikus. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur
dalam amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit, umbilikus, dan
plasenta sebagai akibat anoksia intrauterin.
3. Stadium III
Terdapat tanda stadium II ditambah dengan kulit, kuku dan tali pusat yang
berwarna kuning, ditemukan juga anoksia intrauterin yang lama.

Untuk menentukan status BBLR digunakan kurva pertumbuhan janin


Lubchenko, 1966 Pediatrix, 2001. Kurva ini menggunakan patokan berat badan
yang seharusnya pada umur kehailan tertentu. Kriteria yang digunakan adalah
BMK (Besar Masa Kehamilan), SMK (Sesuai Masa Kehamilan), dan KMK
(Kecil Masa Kehamilan). Berat badan kurang dari presentil ke 10 memiliki
makna KMK (Kecil Masa Kehamilan) atau PJT (Pertumbuhan Janin
Terhambat).

DIAGNOSIS

Menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam jangka
waktu 1 jam setelah lahir, dapat diketahui dengan dilakukan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang.
A. Anamnesis
Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk menegakkan
mencari etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya
BBLR:
1. Umur ibu
2. Riwayat HPHT
3. Riwayat persalinan sebelumnya
4. Paritas, jarak kelahiran sebelumnya
5. Kenaikan berat badan selama hamil
6. Aktivitas
7. Penyakit yang diderita selama hamil
8. Obat-obatan yang diminum selama hamil
B. Pemeriksaan Fisik.
Yang dapat dijumpai saat pemeriksaan fisik pada bayi BBLR antara lain3:
1. Berat badan > 2500 gram
2. Tanda-tanda prematuritas (pada bayi kurang bulan)
a. Tulang rawan telinga belum terbentuk.
b. Masih terdapat lanugo.
c. Refleks masih lemah.
d. Alat kelamin luar; perempuan: labium mayus belum menutup
labium minus; laki-laki: belum terjadi penurunan testis & kulit
testis rata.
3. Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa
kehamilan).
a. Tidak dijumpai tanda prematuritas.
b. Kulit keriput.
c. Kuku lebih panjang
C. Pemeriksaan Penunjang:
1. Pemeriksaan Skor Ballard
Penilaian umur kehamilan sangat penting karena angka kematian dan
kesakitan menurun dengan meningkatnya umur kehamilan, selain itu
terdapat hubungan antara umur kehamilan dan tingkat maturitas fisiologis
neonatus.
Ballard menilai maturitas neonatus berdasarkan 7 tanda kematangan
dan 6 tanda kematangan neuromuskular.
2. Darah rutin, glukosa darah kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa
kadar elektrolit dan analisa gas darah.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan/ terapi
1. Medikamentosa
Pemberian vitamin K1 :
o Injeksi 1 mg IM sekali pemberian pada saat lahir, atau
o Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur
3-10 hari, dan umur 4-6 minggu)
Bayi berat bayi lahir rendah biasanya tampak haus dan harus diberikan
makanan dini (early feeding), hal ini sangat penting untuk menghindari
terjadinya hipoglikemia, kadar gula darah harus diperiksa setiap 8-12 jam.
Frekuensi pernafasan terutama dalam 24 jam pertama harus selalu
diawasi untuk mengetahui adanya sindrom aspirasi mekonium atau sindrom
gangguan pernafasan idiopatik, sebaiknya setiap jam dihitung frekuensi
pernafasan lahir dan bila frekuensi lebih dari 60 x/menit dibuat foto thoraks.
Pencegahan terhadap infeksi sangat penting, karena bayi sangat rentan
terhadap infeksi, yaitu karena pemindahan IgG dari ibu ke janin terganggu.
Temperatur harus diperbaiki, jangan sampai kedinginan karena mudah
terjadi hipotermik, hal ini disebabkan oleh karena luas permukaan tubuh bayi
relatif lebih besar dan jaringan lemak subkutan kurang.
Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk
pertumbuhan, perkembangan, dan penyesuaian diri dengan lingkungan hidup
di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan,
pemberian makanan dan bila perlu pemberian oksigen, mencegah infeksi serta
mencegah kekurangan vitamin dan zat besi.

a. Pengaturan Suhu
Untuk mencegah hipotermi, diusahakan lingkungan yang cukup hangat
untuk bayi, bila dirawat dalam inkubator, maka suhunya unuk bayi dengan berat
badan kurang dari 2000 gram adalah 35 C dan untuk bayi dengan berat badan
2000-2500 gram adalah 34 C, agar bayi dapat mempertahankan suhu tubuh
sekitar 37 C. Kelembaban inkubator berkisar antara 50-60%. Saat ini telah
digunakan inkubator yang dilengkapi dengan alat temperatur sensor, yang
ditempelkan pada kulit bayi.

Kelembaban yang tinggi diperlukan pada bayi dengan sindroma


gangguan pernafasan, suhu inkubator dapat diturunkan 1C per minggu untuk
bayi dengan berat badan 2000 gram dan secara berangsur-angsur ia dapat
diletakkan di dalam tempat tidur bayi dengan suhu lingkungan 27C - 29C.

Bila inkubator tidak ada, pemanasan dilakukan dengan membungkus bayi


dan meletakkan botol hangat di sekitarnya atau dengan memasang lampu pijar
atau petromaks di dekat tempat tidur bayi. Cara lain untuk mempertahankan
suhu tubuh bayi sekitar 36,5C-37,5C adalah dengan memakai alat
perspexheat shield yang diselimuti pada bayi di dalam inkubator, alat ini
berguna untuk mengurangi kehilangan panas karena radiasi.

Cara menghangatkan bayi


Cara Petunjuk penggunaan
Kang  Untuk menstabilkan bayi dgn berat badan <2.500 g,
aroo terutama direkomendasikan untuk perawatan berkelanjutan
Mother bayi dengan berat badan <1.800 gr.
Care  Tidak untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan napas berat)
 Tidak untuk ibu yang menderita penyakit berat yang tidak
dapat merawat bayinya.
Infan  Untuk bayi sakit atau bayi dengan berat 1.500 g atau lebih.
t Warmer  Untuk pemeriksaan awal bayi, selama dilakukan tindakan,
atau menghangatkan kembali bayi hipotermi.
Inku  Penghangatan berkelanjutan bayi dengan berat <1.500 g
bator yang tidak dapat dilakukan KMC.
Ruan  Untuk merawat bayi dengan berat <2.500 g yang tidak
gan hangat memerlukan tindakan diagnostik atau prosedur pengobatan.
Tidak untuk bayi sakit berat.

b. Nutrisi Enteral
Pada bayi prematur reflek isap, telan dan batuk belum sempurna,
kapasitas lambung masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase
masih kurang, disamping itu dibutuhkan diet protein 3-5 g/hari dan tinggi
kalori (110 kal/kg/hari) agar berat badan bertambah baik.
Pemberian nutrisi enteral dimulai pada bayi dengan berat lebih dari
1500 gram, dan masa gestasi lebih dari 32 minggu serta tidak terdapat distres
dimulai saat berumur 2-4 jam agar bayi tidak menderita hipoglikemia dan
hiperbilirubinemia. Pada bayi lebih kecil, walaupun tidak distress, jangan
diberikan nutrisi enteral selama 12-24 jam pertama, lebih baik diberikan infus
larutan glukosa 5-10 % sejak lahir dan diobservasi, bila keadaan bayi stabil
maka pemberian nutrisi enteral dapat dimulai. Syarat lain untuk memulai
nutrisi enteral adalah keluarnya mekonium, yang menunjukkan adanya
kontinuitas dan motilitas traktus gastrointestinal.
Masalah yang sering menghambat pemberian nutrisi enteral adalah
sindrom distress pernafasan, sindrom aspirasi, pneumonia, apnea karena
prematuritas dan gagal jantung akibat duktus arteriosus paten
Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan pengisapan
cairan lambung, hal ini perlu untuk mengetahui ada tidaknya atresia esofagus
dan mencegah muntah. Pada umumnya bayi dengan berat lahir 2000 gram
atau lebih dapat menyusu pada ibunya, bayi dengan berat kurang dari 1500
gram kurang mampu mengisap air susu ibu atau susu botol, terutama pada
hari-hari pertama, dalam hal ini bayi diberi minum melalui sonde lambung
(orogastric-intubation).
Sesudah 5 hari bayi dicoba menyusu pada anaknya, bila daya isap
cukup baik, maka pemberian air susu ibu diteruskan. Adakalanya daya isap
bayi kecil ini lebih baik dengan dot dibandingkan dengan puting susu ibu,
pada keadaan ini air susu ibu dipompa dan diberikan melalui botol, cara
pemberian melalui susu botol adalah dengan frekuensi pemberian yang lebih
sering dalam jumlah susu yang sedikit. Frekuensi pemberian minum makin
berkurang dengan bertambahnya berat bayi, jumlah cairan yang diberikan
pertama kali adalah 1-5 ml/jam dan jumlahnya dapat ditambah sedikit demi
sedikit setiap 12 jam. Penambahan susu tersebut tergantung dari jumlah susu
yang tertinggal pada pemberian minum sebelumnya, untuk mencegah
regurgitas (muntah) atau distensi abdomen. Banyaknya cairan yang diberikan
adalah 60 ml/kg/hari, dan setiap hari dinaikkan sampai 200 ml/kg/hari pada
akhir minggu kedua.
Bila air susu ibu tidak ada, susunya dapat diganti dengan susu buatan
yang mengandung lemak yang mudah dicerna bayi (middle chain
triglycerides) dan mengandung 20 kalori/30 ml air atu sekurang-kurangnya
bayi mendapat 110 kal/kg berat badan perhari.
Kadang-kadang diperlukan pemberian makanan melalui kateter
(polietilen) yang dapat tinggal di lambung selama 4-5 hari tanpa iritasi, kateter
no. 8 untuk bayi kurang dari 1500 gram dan no.10 untuk bayi diatas 1500
gram. Kateter yang telah dimasukkan ke dalam lambung dihubungkan dengan
botol infus yang berisi susu yang digantungkan setinggi 1 meter dari atas bayi,
susu diberikan dengan tetes yang teratur sebanyak 60 ml/kg berat badan
sehari, dan tiap hari dinaikkan sampai 200 ml/kg berat badan pada akhir
minggu kedua. Bila daya isap dan menelan mulai baik, kateter secara
berangsur-angsur dapat diganti dengan pipet, sendok atau botol dengan dot.

Pemberian minum bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut berat badan
lahir dan keadaan bayi adalah sebagai berikut :
a. Berat lahir 1500 – 2500 gram
Bayi Sehat
o Biarkan bayi menyusu pada ibu semau bayi. Anjurkan bayi menyusu lebih
sering (contoh; setiap 2 jam) bila perlu.
o Pantau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai efektifitas
menyusui. Apabila bayi kurang dapat menghisap, tambahkan ASI peras
dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.
Bayi Sakit
o Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan IV, berikan
minum seperti pada bayi sehat.
o Apabila bayi memerlukan cairan intravena:
 Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
 Mulai berikan minum per oral pada hari ke-2 atau segera setelah bayi
stabil. Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi menunjukkan
tanda-tanda siap untuk menyusu.
 Apabila masalah sakitnya menghalangi proses menyusui (contoh;
gangguan nafas, kejang), berikan ASI peras melalui pipa lambung :
 Berikan cairan IV dan ASI menurut umur
 Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; 3 jam sekali). Apabila
bayi telah mendapat minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak
lapar berikan tambahan ASI setiap kali minum. Biarkan bayi menyusu
apabila keadaan bayi sudah stabil dan bayi menunjukkan keinginan
untuk menyusu dan dapat menyusu tanpa terbatuk atau tersedak.

b. Berat lahir 1000-1499 gram


Bayi Sehat
o Beri ASI peras melalui pipa lambung
o Beri minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; setiap 3 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok,
coba untuk menyusui langsung.

Bayi Sakit
o Beri cairan intravena hanya selama 24 jam pertama.
o Beri ASI peras melalui pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah
cairan intravena secara perlahan.
o Beri minum 8 kali dalam 24 jam (setiap 3 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok,
coba untuk menyusui langsung.
c. Berat lahir < 1000 gram (tidak tergantung kondisi)
o Berikan cairan intravena hanya selama 48 jam pertama
o Berikan ASI melalui pipa lambung mulai pada hari ke-3 dan kurangi
pemberian cairan intravena secara perlahan.
o Berikan minum 12 kali dalam 24 jam (setiap 2 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok,
coba untuk menyusui langsung.
BERAT BADAN (mL/kg)
USIA 1000-1500gr >1500 gr
1 60 80
2 75 95
3 90 110
4 105 125
5 120 140
6 135 155
7-selanjutnya 150 170
Masalah ASI pada BBLR Kurang Bulan
o Masalah yang sering muncul dikarenakan reflex hisap dan menelan yang
belum kuat, sehingga rangsangan pada puting lemah. Hal ini berakibat
pada pengosongan payudara yang terhambat, produksi ASI menjadi
menurun dan lama-kelamaan menjadi habis.
o Masalah ini dapat diatasi dengan pemberian Penguat ASI (HMF: Human
Milk Fortifier). HMF berisi protein, elektrolit, dan mineral. HMF dapat
ditambahkan pada ASI peras pada bayi < 1500 g setelah bisa minum >
100 ml/kg. HMF diberikan sampai dengan berat 1800-2000 g. Bila tidak
terdapat HMF atau ASI peras ibu kurang, dapat diberikan susu formula
yang dimulai dengan pengenceran setengah.

Komposisi Berbagai Susu


Susu ASI ASI ASI Formula Formula
Sapi Matur Prematur Prematur BBLR Biasa
+ Fortifier
Energy / 67 70 67 74 80 66
100 ml
Karbohidrat 4.6 7 6 - 8.5 6.9
Lemak 3.9 4.2 4 4 4.4 3.6
Protein 3.4 1.3 1.8-2.4 3.7 2.2 1.5
Natrium 22 7 22 31 13-20 8
Kalium 39 15 18 - 18 17
Calcium 30 9 6 27 18-27 12-20
Phosphor 30 5 5 38 11-17 12-18
Tanda kecukupan pemberian ASI:
o BAK minimal 6 kali/ 24 jam.
o Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI.
o BB naik pd 7 hari pertama sbyk 20 gram/ hari.
o Cek saat menyusui, apabila satu payudara dihisap  ASI akan
menetes dari payudara yg lain.

c. Kebutuhan Cairan
Kehilangan air insensible (IWL) secara tidak langsung terkait dengan
umur kehamilan, keadaan lingkungan, dan status penyakit, bayi preterm yang
amat imatur (<1000 gram) memerlukan sebanyak 2-3 mL/kg/jam. Bayi yang
premature akan kehilangan cairan insisible sebesar 0,6 – 0,7 ml/kgBB/jam,
bila dirawat dalam incubator. Jumlah cairan yang dianjurkan pada neonatus
yang memerlukan susu botol atau cairan intravena adalah 60-70 mL/kgBB
pada hari pertama dan dinaikkan sampai 100-120 mL/kgBB pada hari ke-2
dan ke-3, dan pada hari ke 4-5 mencapai 150 ml/kgBB, selanjutnya dapat
mencapai 160 - 180ml/kgBB/hari.
Bayi lebih prematur dan kecil dimulai dengan 70-100 mL/kgBB pada
hari pertama dan dilanjutkan sampai 150 mL/kgBB atau lebih pada hari ke-3
dan ke-4.
Penimbangan badan setiap hari, pengeluaran urin, pemeriksaan fisik
harus dipantau secara cermat untuk mendeteksi adanya kelainan status hidrasi.

Keperluan Cairan dan Elektrolit BBLR Berat 1500-2500 g


Jumlah cairan Sodium Potassium Kalsium
(cc/kg/hari) (mEq/kg/hari) (mEq/kg/hari) elemental
(mg/kg/hari)
Hari ke 1 60 D10 W 0 0 45
Hari ke 2 90-110 D10W 2-3 1-2 45
Hari ke 3-14 120-150 2-4 2-4 45
D10W

Cara menilai kecukupan cairan dan elektrolit:


1. Secara klinis: edematous atau dehidrasi
2. Berat badan
3. Jumlah urin (2-3 ml/kg/hari), warna urin, berat jenis (1.005-1.010)
4. Elektrolit Na 135-145 mEq/l, K: 3.5-5 mEq/l
5. Bila mendapat fototerapi, jumlah cairan + 20%

Pemberian nutrisi parenteral dipertimbangkan bila sampai hari ketiga bayi


masih memerlukan puasa. Garis besar program nutrisi parenteral adalah:
1. Keperluan cairan dan elektrolit. Keperluan cairan setelah hari ketiga:
120-150 cc/kg.
2. Keperluan kalori dan glukosa. Kalori: 90-100 kkal/kg.
3. Keperluan protein dan lemak.
4. Tambahan vitamin/ mineral/ trace element.
Bayi dapat mulai diberikan minum bila keadaannya sudah stabil, yaitu:
1. Kontrol suhu baik
2. Sesak nafas/ retraksi berkurang
3. Keperluan O2 berkurang
4. Frekuensi denyut jantung baik, ekstremitas hangat
5. Bising usus cukup
6. Menunjukkan tanda-tanda lapar

d. Nutrisi Parenteral Total


Bila pemberian makanan oral untuk masa waktu yang lama tidak
memungkinkan, makanan intravena total dapat memberikan cairan yang
cukup, kalori, asam amino, elektrolit dan vitamin untuk mempertahankan
pertumbuhan pada bayi BBLR.
Tujuan dari pemberian nutrisi parenteral adalah memasukkan kalori
nonprotein yang cukup, sehingga memungkinkan bayi menggunakan sebagian
terbesar proteinnya untuk pertumbuhan. Infus harus mengandung asam amino
sintetik 2,5-3 g/dL dan glukosa hipertonik pada kisaran antara 10-25 g/dL
sebagai tambahan disamping kuantitas elektrolit, mineral, dan vitamin yang
cukup.
Infus awal harian harus memasukkan 10-15 g/kgBB/24 jam glukosa
dan menambah sedikit demi sedikit sampai 25-30 g/kgBB/24 jam, bila hanya
glukosa saja yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan penuh nonprotein
100-120 kkal/kgBB/24 jam.
Jika yang digunakan vena perifer, dianjurkan untuk mempertahankan
kadar glukosa dibawah 12,5 g/dL. Emulsi lemak intravena seperti 20%
intralipid (2,2 kkal/mL) dapat digunakan untuk memberikan kalori tanpa
beban osmotik yang nyata, sehingga dapat mengurangi akan kebutuhan infus
dengan kadar glukosa yang lebih tinggi, melalui vena sentral atau perifer, dan
biasanya mencegah perkembangan defisiensi asam lemak essensial. Intralipid
dapat dimulai pada 0,5 g/kgBB/24 jam dan selanjutnya diberikan sampai 3
g/kgBB/24 jam.
Komplikasi makanan intravena terkait dengan kateter, sepsis adalah
masalah yang paling penting pada infus vena sentral dan dapat diminimalkan
dengan perawatan keteter yang cermat dan prefarat infus aseptik

Komplikasi metabolik meliputi hiperglikemia yang berasal dari kadar


glukosa infus yang tinggi, yang dapat menyebabkan diuresis osmotic dan
dehidrasi, azotemia, hipoglikemia, hiperlipidemia, hipoksemia.
e. Infeksi
Bayi prematur mudah sekali diserang infeksi, hal ini disebabkan oleh
karena daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang, relatif belum sanggup
membentuk antibody dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan
belum baik. Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan pencegahan yang
dimulai pada masa perinatal, yaitu dengan memperbaiki keadaan lingkungan,
kebersihan makanan, mencegah terjadinya infeksi silang para dokter, perawat,
bidan dan petugas lain.

Pemantauan (Monitoring)
1). Pemantauan saat dirawat
a. Terapi
o Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan
o Preparat besi sebagai suplemen mulai diberikan pada usia 2 minggu
b. Tumbuh kembang
o Pantau berat badan bayi secara periodik
o Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama (sampai 10%
untuk bayi dengan berat lahir ≥1500 gram dan 15% untuk bayi dengan
berat lahir <1500>
o Bila bayi sudah mendapatkan ASI secara penuh (pada semua kategori
berat lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari :
- Tingkatkan jumlah ASI denga 20 ml/kg/hari sampai tercapai jumlah
180 ml/kg/hari
- Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan peningkatan berat badan bayi
agar jumlah pemberian ASI tetap 180 ml/kg/hari
- Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah
pemberian ASI hingga 200 ml/kg/hari
- Ukur berat badan setiap hari, panjang badan dan lingkar kepala setiap
minggu.
Indikasi bayi BBLR pulang:
Ada tiga kriteria BBLR sudah bisa dirawat di rumah setelah keluar dari
inkubator. Pertama, berat sudah kembali ke berat lahir dan lebih dari 1500
gram. Kemudian berat bayi cenderung naik dan suhu tubuh stabil selama tiga
hari berturut-turut. Yang juga harus diperhatikan, bayi sudah mampu
mengisap dan menelan. Selain itu, ibu sudah harus merawat dan memberi
minum. Metode kangguru ini cukup efektif sebab selain membuat bayi tidak
tergantung pada rumah sakit, ibu lebih percaya diri merawat bayinya di
rumah. Keuntungan lainnya, BBLR bisa mendapatkan ASI eksklusif dan
menurunkan resiko bayi terkena kehilangan panas tubuh.
Selanjutnya bayi harus dilakukan pemantauan secara teratur untuk melihat
pertumbuhan dan perkembangannya dan mencegah/ mengurangi
kemungkinan untuk terjadinya komplikasi setelah pulang sebagai berikut:
o Sesudah pulang hari ke-2, ke-10, ke-20, ke-30, dilanjutkan setiap bulan.
o Hitung umur koreksi.
o Pertumbuhan; berat badan, panjang badan dan lingkar kepala.
o Tes perkembangan, Denver development screening test (DDST).
o Awasi adanya kelainan bawaan.
Pembahasan tentang STUNTING
Perawakan pendek adalah keadaan dimana tinggi badan kurang dari -
2SD (< persentil ke 3) sesuai usia dan jenis kelamin anak, populasi normal
sebagai rujukan. “Dwarfisme” dan “Midgets” termasuk dalam golongan
perawakan pendek. Dwarfisme adalah perawakan pendek yang parah dngan
tinggi badan kurang dari -2SD. Midgets adalah perawakan pendek dengan
proporsi fisik yang normal.
Perawakan pendek dapat juga didefinisikan tinggi badan kurang dari -
2SD dibawah tinggi badan target kedua orang tuanya (midparental height).
Sehingga anak dengan tinggi badan pada persentil ke 25 sesuai usia dan jenis
kelaminnya, kemungkinan klinis perawakan pendek bila potensi genetiknya
pada persentil ke 90.
Pendek, bila perlambatan laju pertumbuhan abnormal. Pada usia 3
tahun sampai pubertas, bila rata – rata laju pertumbuhan kurang dari 5 cm/
tahun, maka harus mendapat perhatian.
2.1 Etiologi
Stunting dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, namun
diklasifikasikan menjadi 2 yaitu variasi normal dan patologis. Pada
variasi normal, stunting dikategorikan menjadi:

 Familial short stature (perawakan pendek familial)


Adalah variasi normal dari perawakan pendek yang
ditandai dengan kecepatan tumbuh normal, usia tulang
normal, tinggi badan kedua orangtua pendek, dan tinggi
akhir anak dibawah persentil 3 atau z score dibawah -2 SD.

 Constitutional delay of growth and puberty (CDGP)


Merupakan salah satu kategori dari pubertas terlambat
yang paling sering ditemui dalam praktek sehari-hari,
didefinisikan sebagai tidak timbulnya tanda- tanda seks
sekunder pada usia 12 tahun untuk anak perempuan dan
pada usia
14 tahun untuk anak laki-laki. Anak dengan CDPG
memiliki perawakan pendek, pubertas terlambat, usia tulang
terambat, namun tidak terdapat kelianan organik yang
mendasarinya. Pada pasien CDPG ditemukan riwayat
keluarga dengan pubertas terlambat dan hal ini menunjukkan
bahwa faktor genetic berperan dalam awitan pubertas.

Kelainan patologis pada stunting dapat dibedakan menjadi


proporsional dan tidak proporsional. Stunting dengan tubuh
proporsional meliputi malnutrisi, intrauterine growth retardation
(IUGR), psychosocial dwarfism, penyakit kronik, dan kelainan
endokrin, seperti defisiensi hormon pertumbuhan, hipotiroid,
sindrom Cushing, resistensi hormon pertumbuhan/ growth
hormone (GH), dan defisiensi insulin-like growth faktor 1 (IGF-1).
Sedangkan stunting dengan badan tidak proporsional disebabkan
oleh kelainan tulang, seperti kondrodistrofi, displasia tulang,
sindrom Kallman, sindrom Marfan, dan sindrom Klinifelter.
Etiologi- etologi tersebut dapat diingat dengan menggunakan
metode mnemonic “KOKPENDK” yang terdiri dari:

K = kelainan kronis: penyakit organik, non organik


(infeksi/ non infeksi) O = obat-obatan (glukokortikoid,
radiasi)
K = kecil masa kehamilan (KMK) dan berat badan
lahir rendah (BBLR)
P = psikososial
E = endokrin
N = nutrisi dan metabolik
D = displasia tulang
K = kromosom dan sindrom

2.2 Patofisiologi
Stunting merupakan representasi dari disfungsi sistemik
dalam fase perkembangan anak dan tanda dari adanya malnutrisi
kronik. Faktor utama dalam mekanisme stunting adalah adanya
inflamasi pada penyakit kronik, dan penyakit dengan resistensi
terhadap hormon pertumbuhan. Pada inflamasi penyakit kronik, akan
terjadi kaheksia, yaitu ditandai dengan turunnya nafsu makan,
meningkatnya laju metabolisme basal, berkurangnya massa otot,
dan tidak efisiennya penggunaan lemak dalam tubuh sebagai energi.
Selain itu, juga terjadi malabsorpsi makanan, intoleransi
makan, dan adanya efek obat dari terapi yang sedang dijalani,
contohnya steroid. Hal ini kemudian akan mengakibatkan adanya
proses akut, yaitu penurunan berat badan. Kaheksia pada akhirnya
akan menyebabkan defisiensi makronutrisi, vitamin dan mineral.
Adanya resistensi terhadap GH pada suatu penyakit, contohnya
gagal ginjal kronik dan konsumsi obat golongan steroid akan
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan linear, menurunnya massa
otot dan kepadatan tulang. Lama kelamaan, hal tersebut akan
menyebabkan efek kronis pada tubuh, yaitu adanya stunting,
menurunnya kualitas hidup, dan meningkatnya risiko dari
infeksi.Gambar 4. Patofisiologi stunting akibat penyakit kronis
2.3 Manifestasi klinik

Pertumbuhan yang normal menggambarkan kesehatan anak


yang baik. Pertumbuhan tinggi badan merupakan suatu proses yang
berkelanjutan. Stunting dikategorikan menjadi variasi normal dan
patologis. Variasi normal dalam stunting meliputi 2 berserta
masing-masing gejala klinisnya, yaitu:

2.5.1 Familial short stature (perawakan pendek familial):


a. pertumbuhan yang selalu berada dibawah persentil 3 atau -2 SD
b. kecepaan pertumbuhan normal
c. usia tulang normal
d. tinggi badan kedua atau salah satu orangtua yang pendek
e. tinggi akhir dibawah persentil 3 atau -2 SD
2.5.2 Constitutional delay of growth and puberty (CDGP):
a. perlambatan pertumbuhan linear pada 3 tahun pertama
kehidupan
b. pertumbuhan linear normal atau hamper normal pada
saat pra pubertas dan selalu berada di bawah persenti
3 atau -2 SD
c. usia tulang terlambat
d. maturase seksual terlambat
e. tinggi akhir biasanya normal

Anak dengan CDGP umumnya terlihat normal dan disebut


dengan late bloomer. Biasanya terdapat riwayat pubertas terlambat
dalam keluara, usia tulang terlambat, akan tetapi masih sesuai
dengan usia tinggi. Anak dengan familial short stature selama
periode bayi dan pra pubertas akan mengalami pertumbuhan yang
sama seperti anak dengan CDGP. Anak -anak ini akan tumbuh
memotong garis persentil dalam 2 tahun pertama kehidupan dan
mencari potensi genetiknya, pubertas terjadi normal dengan tinggi
akhir berada dibawah persentil 3 atau -2 SD, tetapi masih normal

Target height/ mid


parental height:
= (TB Ayah + (TB
a Ibu + 13)) x ½
= (TB Ibu + (TB
ere Ayah – 13)) x ½
Tinggi potensi genetik (TPG) = target
height ± 8,5 cm
sesuai potensi genetiknya dan paralel dengan tinggi badan orangtua,
dimana tinggi potensi genetik (TPG) seseorang dapat diukur dengan
rumus sebagai berikut:
2.6 Diagnosis
Tabel 1 Petunjuk pemeriksaan klinis pada perawakan pendek
Pemeriksaan Penunjang
Oleh karena malnutrisi dan penyakit kronik masih merupakan
penyebab utama stunting di negara kita, maka pemeriksaan darah tepi
lengkap, urin dan feces rutin, laju endap darah, elektrolit serum dan urin dan
usia tulang merupakan langkah pertama yang strategis untuk mencari
etiologi stunting. Setelah tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan
skrining tersebut maka dilakukan pemeriksaan khusus yaitu kadar GH, IGF-
I, analisis kromosom, analisis DNA dan lain-lain sesuai indikasi.
Pemeriksaan penunjang yang sederhana dan menentukan adalah
menginterpretasikan data-data tinggi badan dengan menggunakan kurva
pertumbuhan yang sesuai. Pola pertumbuhan akibat bayi lahir Kecil Masa
Kehamilan (KMK), penyakit kronik, varian normal merupakan keadaan
yang dapat sangat membantu untuk diferensial diagnosis.

Berikut merupakan algoritme pendekatan diagnostik anak dengan


stunting:
Gambar 5.
2.6 Tatalaksana
Pada varian normal stunting tidak perlu dilakukan terapi
hormonal, cukup observasi saja bahwa diagnosisnya merupakan
fisiologis bukan patologis. Akhir-akhir ini telah ada penelitian
yang menyatakan bahwa penggunaan aromatase inhibitor
sebagai terapi adjuvant atau tunggal pada Familial Short Stature
dan Constitutional Delay of Growth and Puberty melalui
mekanisme menghambat kerja estrogen pada lempeng
pertumbuhan. Namun masih perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut mengenai hal ini, maka sebaiknya tidak digunakan secara
rutin terlebih dahulu.
Indikasi pemberian Growth Hormone (GH) pada saat ini
adalah stunting yang disebabkan oleh defisiensi GH, Sindrom
Turner, insufisiensi ginjal kronis, Sindrom Prader Willi, Sindrom
Noonan, defisiensi SHOX dan bayi KMK. Semakin dini
pemberian GH maka prognosis akan semakin baik.
Tabel 1. Indikasi Pemberian GH dan dosis pada anak dan

remaja
PEMBAHASAN TENTANG IUGR
IUGR (intrauterine growth restriction) adalah gangguan
pertumbuhan pada janin dan bayi baru lahir yang meliputi semua
parameter (lingkar kepala, berat badan, panjang badan), yang beratnya
dibawah 10 persentil untuk usia gestasionalnya. Bayi-bayi antara persentil
10 dan 90 diklasifikasikan sebagai kelompok dengan berat sesuai usia
gestasional. (Wikjosastro, 2005)
Pertumbuhan Janin Terhambat atau Intra Uterine Growth
Restriction adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan nutrisi dan
pertumbuhan janin yang mengakibatkan berat badan lahir dibawah batasan
tertentu dari usia kehamilannya.
Ada dua bentuk PJT menurut Renfield (1975) yaitu:
1. Proportionate Fetal Growth Restriction: Janin yang menderita distress yang
lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai
berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan lingkar kepala
dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih di bawah
gestasi yang sebenarnya.
2. Disproportionate Fetal Growth Restriction: Terjadi akibat distress subakut.
Gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir.
Pada keadaan ini panjang dan lingkar kepala normal akan tetapi berat tidak
sesuai dengan masa gestasi. Bayi tampak waste dengan tanda-tanda
sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit, kulit kering keriput dan mudah
diangkat, bayi kelihatan kurus dan lebih panjang.
Pada bayi PJT perubahan tidak hanya terhadap ukuran panjang, berat dan
lingkaran kepala akan tetapi organ-organ di dalam badanpun mengalami
perubahan, misalnya Drillen (1975) menemukan berat otak, jantung, paru dan
ginjal bertambah sedangkan berat hati, limpa, kelenjar adrenal dan thimus
berkurang dibandingkan bayi prematur dengan berat yang sama. Perkembangan
dari otak, ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya.
A. DIAGNOSIS
1. Anamnesi Faktor Ibu
Ibu hamil dengan penyakit hipertensi, penyakit ginjal dan
kardiopulmonal dan pada kehamilan ganda.(6)
2. Tinggi Fundus Uteri
cara ini sangat mudah, murah, aman, dan baik untuk diagnosa
pada kehamilan kecil. Caranya dengan menggunakan pita pengukur
yang di letakkan dari simpisis pubis sampai bagian teratas fundus
uteri. Bila pada pengukuran di dapat panjang fundus uteri 2 (dua) atau
3 (tiga) sentimeter di bawah ukuran normal untuk masa kehamilan itu
maka kita dapat mencurigai bahwa janin tersebut mengalami
hambatan pertumbuhan.(4).
Cara ini tidak dapat diterapkan pada kehamilan multipel, hidramnion,
janin letak lintang.(1)
3. USG Fetomaternal
Pada USG yang diukur adalah diameter biparietal atau
cephalometry angka kebenarannya mencapai 43-100%. Bila pada
USG ditemukan cephalometry yang tidak normal maka dapat kita
sebut sebagai asimetris PJT. Selain itu dengan lingkar perut kita dapat
mendeteksi apakah ada pembesaran organ intra abdomen atau tidak,
khususnya pembesaran hati.
Tetapi yang terpenting pada USG ini adalah perbandingan
antara ukuran lingkar kepala dengan lingkar perut (HC/AC) untuk
mendeteksi adanya asimetris PJT.(4,6)
Pada USG kita juga dapat mengetahui volume cairan amnion,
oligohidramnion biasanya sangat spesifik pada asimetris PJT dan
biasanya ini menunjukkan adanya penurunan aliran darah ke ginjal.(6)
Setiap ibu hamil memiliki patokan kenaikan berat badan.
Misalnya, bagi Anda yang memiliki berta badan normal, kenaikannya
sampai usia kehamilan 9 bulan adalah antara 12,5 kg-18 kg,
sedangkan bagi yang tergolong kurus, kenaikan sebaiknya antara 16
kg-20 kg. Sementara, jika Anda termasuk gemuk, maka
pertambahannya antara 6 kg–11,5 kg. Bagi ibu hamil yang tergolong
obesitas, maka kenaikan bobotnya sebaiknya kurang dari 6 kg. Untuk
memantau berat badan, terdapat parameter yang disebut dengan
indeks massa tubuh (IMT). Patokannya, bila :
IMT 20 – 24 = normal IMT 25 – 29 = kegemukan (overweight)
IMT lebih dari 30 = obesitas IMT kurang dari 18 = terlalu keras
Jadi, jika IMT Anda 20-24, maka kenaikan bobot tubuh selama
kehamilan antara 12,5 kg-18 kg, dan seterusnya. Umumnya, kenaikan
pada trimester awal sekitar 1 kg/bulan. Sedangkan, pada trimester
akhir pertambahan bobot bisa sekitar 2 kg/bulan(9).
4. Doppler Velocimetry
Dengan menggunakan Doppler kita dapat mengetahui adanya
bunyi end-diastolik yang tidak normal pada arteri umbilicalis, ini
menandakan bahwa adanya PJT.

B. GAMBARAN KLINIS
Bayi-bayi yang dilahirkan dengan PJT biasanya tampak kurus, pucat,
dan berkulit keriput. Tali pusat umumnya tampak rapuh dam layu
dibanding pada bayi normal yang tampak tebal dan kuat. PJT muncul
sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan jaringan atau sel. Hal ini
terjadi saat janin tidak mendapatkan nutrisi dan oksigenasi yang cukup
untuk perkembangan dan pertumbuhan organ dan jaringan, atau karena
infeksi. Meski pada sejumlah janin, ukuran kecil untuk masa kehamilan
bisa diakibatkan karena faktor genetik (kedua orangtua kecil), kebanyakan
kasus PJT atau Kecil Masa Kehamilan (KMK) dikarenakan karena faktor-
faktor lain. Beberapa diantaranya sbb:
PJT dapat terjadi kapanpun dalam kehamilan. PJT yang muncul sangat
dini sering berhubungan dengan kelainan kromosom dan penyakit ibu.
Sementara, PJT yang muncul terlambat (>32 minggu) biasanya
berhubungan dengan problem lain. Pada kasus PJT, pertumbuhan seluruh
tubuh dan organ janin menjadi terbatas. Ketika aliran darah ke plasenta
tidak cukup, janin akan menerima hanya sejumlah kecil oksigen, ini dapat
berakibat denyut jantung janin menjadi abnormal, dan janin berisiko tinggi
mengalami kematian. Bayi-bayi yang dilahirkan dengan PJT akan
mengalami keadaan berikut :
 Penurunan level oksigenasi
 Nilai APGAR rendah (suatu penilaian untuk menolong identifikasi
adaptasi bayi segera setelah lahir)
 Aspirasi mekonium (tertelannya faeces/tinja bayi pertama di dalam
kandungan) yang dapat berakibat sindrom gawat nafas
 Hipoglikemi (kadar gula rendah)
 Kesulitan mempertahankan suhu tubuh janin
 Polisitemia (kebanyakan sel darah merah)

C. PENATALAKSANAAN
Langkah pertama dalam menangani PJT adalah mengenali pasien-
pasien yang mempunyai resiko tinggi untuk mengandung janin kecil.
Langkah kedua adalah membedakan janin PJT atau malnutrisi dengan
janin yang kecil tetapi sehat. Langkah ketiga adalah menciptakan metode
adekuat untuk pengawasan janin pada pasien-pasien PJT dan melakukan
persalinan di bawah kondisi optimal.
Untuk mengenali pasien-pasien dengan resiko tinggi untuk
mengandung janin kecil, diperlukan riwayat obstetrik yang terinci seperti
hipertensi kronik, penyakit ginjal ibu dan riwayat mengandung bayi kecil
pada kehamilan sebelumnya. Selain itu diperlukan pemeriksaan USG.
Pada USG harus dilakukan taksiran usia gestasi untuk menegakkan
taksiran usia gestasi secara klinis. Kemudian ukuran-ukuran yang
didapatkan pada pemeriksaan tersebut disesuaikan dengan usia gestasinya.
Pertumbuhan janin yang suboptimal menunjukkan bahwa pasien tersebut
mengandung janin PJT.
Tatalaksana kehamilan dengan PJT bertujuan, karena tidak ada terapi
yang paling efektif sejauh ini, adalah untuk melahirkan bayi yang sudah
cukup usia dalam kondisi terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu.
Tatalaksana yang harus dilakukan adalah :
1. PJT pada saat dekat waktu melahirkan. Yang harus dilakukan adalah
segera dilahirkan
2. PJT jauh sebelum waktu melahirkan. Kelainan organ harus dicari pada
janin ini, dan bila kelainan kromosom dicurigai maka amniosintesis
(pemeriksaan cairan ketuban) atau pengambilan sampel plasenta, dan
pemeriksaan darah janin dianjurkan
a. Tatalaksana umum : setelah mencari adanya cacat bawaan dan
kelainan kromosom serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas
fisik harus dibatasi disertai dengan nutrisi yang baik. Tirah baring
dengan posisi miring ke kiri, Perbaiki nutrisi dengan menambah
300 kal perhari, Ibu dianjurkan untuk berhenti merokok dan
mengkonsumsi alkohol, Menggunakan aspirin dalam jumlah kecil
dapat membantu dalam beberapa kasus IUGR Apabila istirahat di
rumah tidak dapat dilakukan maka harus segera dirawat di rumah
sakit. Pengawasan pada janin termasuk diantaranya adalah melihat
pergerakan janin serta pertumbuhan janin menggunakan USG
setiap 3-4minggu
b. Tatalaksana khusus : pada PJT yang terjadi jauh sebelum waktunya
dilahirkan, hanya terapi suportif yang dapat dilakukan. Apabila
penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat maka nutrisi
harus diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat, penggunaan
narkotik dan alkohol, maka semuanya harus dihentikan
c. Proses melahirkan : pematangan paru harus dilakukan pada janin
prematur. Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan
untuk mencegah komplikasi setelah melahirkan. Operasi caesar
dilakukan apabila terjadi distress janin serta perawatan intensif
neonatal care segera setelah dilahirkan sebaiknya dilakukan.
Kemungkinan kejadian distress janin selama melahirkan meningkat
pada PJT karena umumnya PJT banyak disebabkan oleh
insufisiensi plasenta yang diperparah dengan proses melahirkan
3. Kondisi bayi. Janin dengan PJT memiliki risiko untuk hipoksia
perinatal (kekurangan oksigen setelah melahirkan) dan aspirasi
mekonium (terhisap cairan mekonium). PJT yang parah dapat
mengakibatkan hipotermia (suhu tubuh turun) dan hipoglikemia (gula
darah berkurang). Pada umumnya PJT simetris dalam jangka waktu
lama dapat mengakibatkan pertumbuhan bayi yang terlambat setelah
dilahirkan, dimana janin dengan PJT asimetris lebih dapat “catch-up”
pertumbuhan setelah dilahirkan(10).

D. PENCEGAHAN
Beberapa penyebab dari PJT tidak dapat dicegah. Bagaimanapun juga,
faktor seperti diet, istirahat, dan olahraga rutin dapat dikontrol. Untuk
mencegah komplikasi yang serius selama kehamilan, sebaiknya seorang
ibu hamil mengikuti nasihat dari dokternya; makan makanan yang bergizi
tinggi; tidak merokok, minum alkohol dan menggunakan narkotik;
mengurangi stress; berolahraga teratur; serta istirahat dan tidur yang
cukup. Suplementasi dari protein, vitamin, mineral, serta minyak ikan juga
baik dikonsumsi. Selain itu pencegahan dari anemia serta pencegahan dan
tatalaksana dari penyakit kronik pada ibu maupun infeksi yang terjadi
harus baik(10).
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencegah PJT pada janin untuk
setiap ibu hamil sebagai berikut :
1. Usahakan hidup sehat.
Konsumsilah makanan bergizi seimbang. Untuk kuantitas,
makanlah seperti biasa ditambah ekstra 300 kalori/hari.
2. Hindari stress selama kehamilan.
Stress merupakan salah satu faktor pencetus hipertensi.
3. Hindari makanan obat-obatan yang tidak dianjurkan selama
kehamilan.
Setiap akan mengkonsumsi obat, pastikan sepengetahuan/resep
dokter kandungan.
4. Olah raga teratur.
Olah raga (senam hamil) dapat membuat tubuh bugar, dan
mampu memberi keseimbangan oksigenasi, maupun berat badan.
5. Hindari alkohol, rokok, dan narkoba.
6. Periksakan kehamilan secara rutin.
Pada saat kehamilan, pemeriksaan rutin sangat penting dilakukan agar kondisi ibu
dan janin dapat selalu terpantau. Termasuk, jika ada kondisi PJT, dapat diketahui
sedini mungkin. Setiap ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan setiap 4
minggu sampai dengan usia kehamilan 28 minggu. Kemudian, dari minggu ke 28-
36, pemeriksaan dilakukan setidaknya setiap 2 minggu sekali. Selanjutnya,
lakukan pemeriksaan setiap 1 minggu sampai dengan usia kelahiran atau 40
minggu. Semakin besar usia kehamilan, semakin mungkin pula terjadi hambatan
atau gangguan. Jadi, pemeriksaan harus dilakukan lebih sering seiring dengan
bertambahnya usia kehamilan(9).
PEMBAHASAN TENTANG GROWTH FALTERING
Failure to Thrive atau yang sering disebut gagal tumbuh merupakan
kondisi pertumbuhan fisik anak yang kurang atau dampak dari
ketidakmampuan mengelola pertumbuhan (Gahagen, 2006). Definisi lain
tentang gagal tumbuh yang juga sering disebut sebagai Growth Deficiency
yaitu interaksi antara lingkungan dengan kesehatan anak, perkembangan dan
prilaku (Irwanto et al., 2006).
Pengukuran pertumbuhan menggunakan grafik pertumbuhan yang sudah
terstandar, seperti salah satunya yang diterbitkan oleh National Center for
Health Statistics (NCHS). Banyak dari praktisi melakukan pengukuran
pertumbuhan menggunakan pengukuran berat badan berdasarkan umur, dan
dikatakan gagal tumbuh jika didapatkan hasil dibawah persentil lima dari
standar grafik pertumbuhan NCHS atau menyilang pada dua garis persentil
utama. Parameter pertumbuhan lain yang dapat membantu dalam
menegakkan diagnosis gagal tumbuh yaitu dengan pengukuran berat badan
berdasarkan tinggi badan dan tinggi badan berdasar umur (Krugman et al,
2003).
Gagal tumbuh dapat diklasifikasikan berdasarkan sistem serta
patofisiologi. Sementara itu terdapat klasifikasi lain yaitu
a. Non organic (psychosocial) failure to thrive
Pada gagal tumbuh non organik, tidak diketahui kondisi medis
yang menyebabkan gagal tumbuh, namun penyebabnya diantaranya karena
kemiskinan, masalah psikososial di dalam keluarga, kurangnya
pengetahuan tentang nutrisi dan cara pemberian makan anak, penelantaran
anak, dan single parent.
b. Organic failure to thrive
Gagal tumbuh organik diketahui kondisi medis yang menyebabkan
gagal tumbuhnya. Biasanya disebabkan oleh infeksi (HIV, tuberkulosis),
gangguan pada saluran cerna (diare kronik, stenosis pilorus,
gastroesofageal refluks), gangguan saraf (serebral palsy, retardasi mental),
gangguan pada traktus urinarius (infeksi saluran kemih, gagal ginjal
kronik), penyakit jantung bawaan dan kelainan kromosom.
c. Mixed failure to thrive
Gagal tumbuh disebabkan oleh kombinasi antara penyebab organik
dan non organik.
d. Failure to thrive with no spesific etiology
Dilihat dari literatur tentang gagal tumbuh terdapat 12-34% anak
gagal tumbuh tidak memiliki etiologi yang spesifik.

Tabel 1. Etiologi berdasarkan system (Bauchner, 2007)


Psikososial
 Diet yang tidak adekuat karena kemiskinan/kekurangan makanan, salah
dalam mempersiapkan makanan
 Rendahnya pendidikan orangtua
 Masalah hubungan orangtua dan anak
 Food refusal
 Ruminasi
 Masalah kesehatan mental dan kognitif orangtua
 Child abuse/neglet, penyimpangan emosional
Neurologi
 Serebral palsi
 Tumor hipotalamus
 Kelainan neuromuscular
 Kelainan neurodegenerative
Ginjal
 Infeksi saluran kemih
 Renal tubular acidosis
 Gagal ginjal
Endokrin
 Diabetes mellitus
 Diabetes incipidus
 Hipotiroid/hipertiroid
 Defisiensi hormone pertumbuhan
Genetic/metabolic/congenital
 Penyakit sel sabit
 Penyakit metabolic bawaan
 Dysplasia skeletal
 Kelainan kromosom
 Sindrom multiple congenital anomaly
Gastrointestinal
 Stenosis pylorus
 GERD
 Tracheoesofageal fistula
 Malrotasi
 Sindrom malabsorpsi
 Celiac disease
 Intoleran lactose dan protein
 Sistik fibrosis
 Kolestasis kronik
 Inflammatory bowel disease
 Short bowel syndrome
 Hirschprung disease
 Alergi makanan

Jantung
 Kelainan jantung bawaan
 Gagal jantung
Pulmonary/respiratori
 Asma berat
 Bronkoekstasi
 Gagal nafas
 Bronkopulmanari dysplasia
Infeksi
 Infeksi kronis
 Infeksi parasit
 Tuberculosis
 HIV

Tabel 2. Etiologi gagal tumbuh berdasarkan organik dan nonorganik


(Alphonsus, 2011)
Nonorganic
 Gangguan hubungan ibu dan anak

 Pembuatan susu formula yang salah

 Gagal menyusui

 Intake kurang

 Terlambat mengenalkan makanan padat

 Intoleransi terhadap makanan baru

 Tekanan Psikososial

Organic
 IUGR

 Kelainan congenital

 Alergi susu sapi

 Penyakit seliak

 HIV

 Sistik fibrosis

 Penyakit jantung bawaan


 GERD

 Kelainan metabolic kromosom

Tabel 3. Etiologi gagal tumbuh berdasarkan patofisiologi (Bauchner,


2007)
Asupan kalori yang kurang
 Pembuatan formula yang tidak tepat

 Kebiasaan makanan yang salah

 Gangguan tingkah laku yang mempengaruhi makan

 Anak terlantar

 Kemiskinan

 Terganggunya hubungan orang tua dan anak

 Kesulitan makan secara mekanik ( disfungsi oromotor, anomaly


congenital, GERD, kerusakan susunan saraf pusat)

Gangguan penyerapan
 Celiac disease, cystic fibrosis

 Alergi susu sapi

 Defisiensi vitamin atau mineral

 Atresia bilier atau penyakit hati

 Necrotizing enterocolitis , short gut syndrome

Meningkatnya metabolism
 Hipertiroid
 Infeksi kronis (HIV,keganasan, penyakit ginjal)

 Hipoksemia (penyakit jantung bawaan,

 penyakit paru kronik)

Gangguan penggunaan zat gizi


 Abnormalitas genetic

 Infeksi congenital

 Kelainan metabolic

A. PATOFISIOLOGI
Walaupun sudah dipertimbangkan sejak dulu bahwa gagal tumbuh
merupakan akibat dari faktor organik atau anorganik, sebuah pandangan baru
dilakukan untuk mengidentifikasi seluruh faktor yang mungkin berperean dan
sering kali ditemukan faktor yang berasal dari keduanya pada seorang anak.
Faktor anorganik yang berperan biasanya berupa intake energi yang
inadekuat, selain masalah itu faktor kegagalan tumbuh bisa diakibatkan oleh
kurangnya kalori yang masuk (biasanya mutah atau malabsorbsi dan atau
hilangnya berlebihan misalkan protein losing enteropati) dan kebutuhan
metabolik yang terlalu tinggi.
Rata-rata berat bayi pada usia aterm adalah 3,3 kg dengan
penurunan berat badan sebanyak 10% pada beberapa hari pertama hidupnya
akibat skehilangan banyak cairan. Pada hari 10-14 hidupnya, berat badan bayi
seharusnya naik akibat dari pemberian ASI dan colostrum. Rata-rata bayi
mengalami berat badan 1 kg tiap bulannya selama 3 bulan pertama, setengah
kg per bulan pada usia 3-6 bulan, 0,33 kg per bulan pada usia 6-9 bulan dan
0,25 kg per bulan pada usia 9-12 bulan. Oleh karena itu seharusnya berat
badan bayi akan meningkat dua kali lipat pada usia 4-6 bulan dan tiga kali
lipat pada usia 12 bulan.
Sebuah skema alternatif digunakan pada bayi yang sudah memiliki
peningkatan berat badan 30 g per hari selama 3 bulan dan 15 g per hari
selama 6 bulan selanjutnya. Usia 9 sampai anak-anak, rata-rata peningkatan
berat badan sebesar 0,25 kg/bulan, setelah itu berat badan anak akan
meningkat sebesar 2 kg/tahun selama usia sekolah. Intake kalori yang
dibutuhkan oleh bayi yang normal adalah 100-110 kkal/kgBB/hari untuk
setengah tahun pertama dan 100 kkal/kgBB/hari untuk setengah tahun kedua
pada tahun pertama. Jika berat bayi sudah lebih dari 10 kg, kebutuhan kalori
sebesar 50kkal/kgBB/hari untuk mencapai BB 20 kg. Jika berat badan lebih
dari 20 kg, kebutuhan kalori sebesaro 20 kkal/kgBB/hari cukup untuk
menjaga berat badan. Bayi akan tumbuh dengan panjang badan 25 cm pada
usia tahun pertama, selanjutnya akan meningkat 12,5 cm pada tahun kedua
dan akan melambat menjadi sekitar 5-6 cm pada usia antara 4 tahun sampai
usia pubertas sehingga pertumbuhan dapat meningkat menjadi 12 cm setiap
tahunnya.
Ukuran lingkar kepala rata-rata sekitar 35 cm pada bayi baru lahir
dan akan meningkat menjadi 47 cm pada usia 1 tahun. Rata-rata akan
melambat pertumbuhannya menjadi 55 cm pada usia 6 tahun. Selain itu, rasio
segmen tubuh bagian atas dan bagian bawah akan berubah seiring adanya
pertumbuhan. Normalnya rasio pada bayi baru lahir adalah 1,7, rasio pada
usia3 tahun adalah 1,3 dan rasio pada usia 7 tahun adalah 1 Segmen bagian
bawah tubuh diukur dari simfisis pubis hingga kaki.
Ketika membuat diagram pertumbuhan untuk bayi prematur, usia
terkoreksi harus digunakan yang dapat dihitung dengan mengurangi selisih
usia prematuritas dalam minggu dari usia post natal. Diagram pertumbuhan
khusus berdasarkan usia kehamilan, lebih digunakan dibandingkan usia
setelah lahir dimulai pada usia kehamilan 26 minggu, namun demikian, karna
diagram ini merepresentasikan bayi dengan ukuran relatif kecil, diagram
tersebut mungkin tidak sepenuhnya reliabel, dibutuhkan teknik lain untuk
bayi prematur dengan metodologi konsisten. Ketika metode ”plotting growth”
dipilih, teknik tersebut harus dipantau setiap waktu. Pada bayi usia kehamilan
40 minggu, beberapa bayi mungkin membutuhkan sekitar 120 kkal/kgBB/hari
untuk mencapai berat badan adekuat.
Diagram pertumbuhan dikembangkan oleh NCHS berdasarkan data
yang diperoleh dari Third National Half and Nutrition Examination Survey 3,
yang sudah digunakan sejak tahun 1977 dan dapat digunakan pada bayi laki-
laki ataupun perempuan pada usia 0-36 bulan dan usia 2-18 tahun. Diagram
pertumbuhan untuk bayi usia 0-36 bulan membutuhkan data diantaranya
Berat badan dan tinggi badan berdasarkan umur dan lingkar kepala. Diagram
ini telah mengalami revisi oleh Centre for Disease Control and Prevention.
Diagram baru ini dapat digunakan untuk bayi, anak dan remaja dari usia baru
lahir hingga usia 20 tahun dan memiliki 7 kurva percentil yaitu percentil 5,
10,25, 50,75, 90, 95. Diagram ini dapat digunakan pada pasien dengan
kondisi khusus misalkan endokrin, gastroenterologi, dengan adanya tambahan
kurva percentil ke tiga dan 97. Diagram indeks masa tubuh yang dapat
digunakan pada individu pada usia 2-20 tahun dimana indeks massa tubuh
dihitung dengan membagi berat badan dengan tinggi badan dalam meter
kuadrat. Pengukuran yang akurat sangat penting membantu inrepetasi dari
diagram pertumbuhan. Skala yang digunakan dikalibrasi secara teratur,
panjang badan harus diukur secara hati-hati, dan lingkar kepala harus diukur
dengan teknik yang telah terstandarisasi. Diagram pertumbuhan alternatif
juga tersedia untuk anak anak dengan kebutuhan khusus, misalkan down
sindrome, turner sindorm, akondroplasia, meningomyelo sel, BBLR, dan
berat bayi lahir sangat rendah.

B. PENEGAKAN DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Anamnesis yang lengkap sangat dibutuhkan untuk menegakkan
diagnosis, seperti riwayat prenatal, kelahiran, riwayat diet, pola makan dan
kebiasaan makan, riwayat medis, sosial saat ini dan yang lalu, serta
riwayat keluarga. Riwayat prenatal meliputi semua informasi yang
berkaitan dengan kebiasaan ibu seperti mengkonsumsi alkohol, merokok,
mengkonsumsi obat tertentu dan penyakit selama kehamilan. Riwayat
persalinan meliputi cara lahir, perawatan setelah lahir, komplikasi yang
timbul seperti sepsis, meningitis atau penyakit lain yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak (Krugman, 2003).
Riwayat diet harus menjelaskan detail makanan dan minuman
bayi/anak selama 24 jam, bagaimana cara menyiapkan makanan, jenis
makanan, volume makanan, serta frekwensi makan untuk menilai apakah
anak mendapatkan asupan energi yang adekuat. Jika sulit mendapatkan
riwayat diet ini, maka dapat dilakukan three day food diary yang diperoleh
dari anamnesis selama 3 hari. Berdasarkan cara ini dapat dinilai jumlah
dan kualitas asupan nutrisi. Riwayat pemberian makan juga menjelaskan
jadwal makan, siapa yang memberi makan dan cara pemberian makan.
Riwayat medis sebelum dan saat ini meliputi riwayat kelahiran, penyakit
akut dan kronik yang diderita, riwayat perawatan di rumah sakit, pola
defekasi, gejala saluran cerna seperti muntah, refluks (Rabinowitz, 2010).
Riwayat sosial meliputi jumlah anggota keluarga, siapa yang
mengasuh anak, kondisi sosial ekonomi, kebiasaan orang tua seperti
konsumsi alkohol, serta hubungan antara anggota keluarga. Riwayat
keluarga meliputi apakah ada keluarga yang mengalami keadaan serupa
maupun penyakit gangguan mental (Rabinowitz, 2010).
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik menyeluruh sangat diperlukan dengan tujuan
(Krugman, 2003) :

a. Menemukan gangguan/bentuk dismorfik dengan kemungkinan faktor


genetik sebagai penyebab gangguan pertumbuhan.
b. Menemukan penyakit dasar yang mempengaruhi pertumbuhan
c. Melihat tanda-tanda adanya kekerasan pada anak.
d. Menilai berat badan anak dan efek yang ditimbulkan akibat malnutrisi.

Pengukuran antropometri seperti berat badan, tinggi badan dan


lingkaran kepala harus dilakukan dengan memplotnya pada kurva
pertumbuhan karena kriteria diagnosis gagal tumbuh berdasarkan grafik
pertumbuhan, walaupun pengukuran berat badan saja masih merupakan
alat diagnostik untuk menilai gagal tumbuh pada anak (Raynor, 2000).
Tanda vital biasanya dalam batas normal, pencatatan tekanan
darah, pernafasan, tekanan nadi saturasi oksigen dalam beberapa kondisi
klinis tertentu. Kelainan structural atau anatomi yang dapat mengganggu
pemberian makan harus diperiksa, anak dengan celah pada bibir dan
palatumnya mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terjadi gagal
tumbuh, begitu juga kelainan anatomi ringan seperti adanya caries dentis,
abses rongga mulut, pembesaran tonsil dan adenoid dapat mempengaruhi
intake makanan (Schwartz, 2000). Beberapa keadaan dapat ditemukan
pada anak dengan gagal tumbuh antara lain edema, kurus, hepatomegali,
perubahan pada kulit, warna rambut, perubahan status mental dan tanda-
tanda defisiensi vitamin (Rabinowitz, 2010).

3. Interaksi anak dengan orang tua


Gagal tumbuh dapat melibatkan faktor psikososial meliputi
hubungan antara orang tua dan anak. Dengan memperhatikan interaksi
keduanya terutama waktu makan, mungkin dapat memberikan informasi
tentang etiologi gagal tumbuh. Disini akan terlihat kemampuan orangtua
menangkap isyarat dari anak, respon anak, cara orangtua bersikap terhadap
anaknya, sehingga akan didapat gambaran hubungan orangtua dengan dan
anak yang akan menjadi kunci untuk memulai intervensi (Rabinowitz,
2010).
Interaksi orangtua dengan anaknya dapat juga diperoleh melalui
wawancara dan pengamatan langsung serta melalui tenaga kesehatan
masyarakat yang berhubungan dengan keluarga tersebut (Schwartz, 2000).
Adanya faktor psikososial dalam hal ini memerlukan pemeriksaan lebih
lanjut termasuk kondisi ekonomi keluarga, hubungan social
kemasyarakatan dan pemeriksaan kesehatan mental. Kadang beberapa
kasus diperlukan konsultasi dengan psikolog, pekerja social dan bahkan
psikiater. Adanya tanda kekerasan pada anak jelas akan memerlukan
perhatian lebih, bahkan dapat melibatkan pelayanan perlindungan anak
(Rabinowitz, 2010). Cara atau sikap ibu dalam memberikan makan yang
tidak baik pada anak juga merupakan faktor risiko untuk terjadinya gagal
tumbuh (Wright et al., 2006).
4. Kurva pertumbuhan
Kurva pertumbuhan merupakan alat pemeriksaan yang sangat
penting dalam menilai anak gagal tumbuh. Memproyeksikan berat badan,
panjang/tinggi badan dan lingkaran kepala secara serial akan
memperlihatkan perubahan yang dinamis terhadap ketiga ukuran tersebut.
Pertumbuhan yang normal akan mengikuti kurva persentil sesuai yang
diharapkan. Dengan memperhatikan kurva pertumbuhan akan dapat
diamati dengan tepat kapan terjadi gangguan pertumbuhan (Gahagan,
2006). Kriteria diagnostik gagal tumbuh (Olsen, 2007):
a. Berat badan <75% dari median berat badan sesuai umur kronologik
(kriteria Gomez) atau;
b. Berat badan <80% dari berat badan menurut tinggi (kriteria Waterlow)
atau ;
c. BMI umur kronologi < persentil 5 atau;
d. Berat menurut umur kronologi < persentil 5 atau;
e. Tinggi menurut umur kronologi < persentil 5 atau;
f. Penurunan berat badan menyeberangi lebih dari 2 garis persentil
mayor.

Dari semua kriteria diatas belum ada kesepakatan para ahli mana yang ideal untuk
menilai gagal tumbuh. Penelitian yang dilakukan oleh Olsen dan kawan kawan
menyimpulkan tidak ada satu kriteria yang ideal untuk menilai gagal tumbuh
(Olsen, 2007)
1. Pemeriksaan
penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan ditentukan berdasarkan
hasil temuan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Tidak ada
pemeriksaan laboratorium khusus untuk semua anak dengan gagal
tumbuh, karena banyak anak dengan gagal tumbuh tidak mempunyai
kelainan laboratorium (Krugan, 2003). Pemeriksaan labor yang dilakukan
pada anak dengan gagal tumbuh untuk skrining awal meliputi darah tepi
lengkap, urinalisis, kultur urin, elektrolit, ureum kreatinin, kalsium, faal
hepar, termasuk albumin dan globulin.6 Pemeriksaan lain dilakukan atas
indikasi seperti skrining untuk HIV, uji fungsi tiroid, imunoglobuln, uji
mantoux, rontgen foto, bone age dan lain-lain (Robimowitz, 2010)
2. Penilaian perkembangan
Penilaian perkembangan juga seharusnya dilakukan untuk deteksi
dini keterlambatan perkembangan pada anak gagal tumbuh. Penelitian dari
Case Western Reserve, terhadap anak dengan gagal tumbuh didapatkan
rata-rata IQ 85,4 + 15, 11,5% mempunyai beberapa keterlambatan
perkembangan dan 18% mempunyai nilai sekolah yang rendah (Schwatz,
2000).

Gambar 3. Algoritma penilaian gagal tumbuh


C. PENATALAAKSANAAN
Penatalaksana an gagal tumbuh memerlukan pemahaman terhadap semua
faktor yang berperan dalam proses pertumbuhan anak termasuk kondisi
kesehatan dan gizi anak, permasalahan dalam keluarga dan hubungan orang
tua-anak (Bauchner, 2010). Tatalaksana ini harus segera dimulai bahkan
sebelum pemeriksaan lengkap. Seiring dengan pengumpulan informasi,
pemeriksaan fisik lengkap, pemeriksaan laboratorium, radiologi, atau evaluasi
psikososial, edukasi tentang gizi yang adekuat harus diberikan, intervensi gizi
dan pemberian makan dimulai pada kunjungan pertama (Black et al., 2007).
Hal pertama yang menjadi patokan dalam penatalaksanaan gagal tumbuh
adalah mengidentifikasi penyakit dasar dan pengobatannya. Jika ditemukan
penyakit yang berat seperti gangguan elektrolit dan dehidrasi harus diatasi
segera, bahkan kalau diperlukan anak harus segera dirawat di rumah sakit
(Gahagan, 2006).
Tahapan yang dapat ditempuh dalam penatalaksanaan anak dengan gagal
tumbuh adalah sebagai berikut :

1. Penatalaksanaan pemberian makan


Sebagian besar kasus gagal tumbuh dapat diatasi hanya dengan
intervensi gizi dan modifikasi pola makan. Dua hal prinsip yang dipegang
dalam tata laksana gagal tumbuh tanpa memandang penyebabnya adalah
diet kalori tinggi untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan dan
pemantauan yang ketat. Anak dengan gagal tumbuh memerlukan asupan
kalori lebih besar 150% dari asupan kalori harian yang direkomendasikan
berdasarkan berat badan yang diharapkan, bukan berat badan saat ini
(Krugman, 2003). Corrales dan Hangen dalam buku Manual of Pediatric
Nutrition, menganjurkan estimasi kebutuan kalori untuk catch up
pertumbuhan pada gagal tumbuh dengan menggunakan rumus (Corrales
and Hangen, 2000) :

RDA x BB ideal menurut tinggi (kg) sampai RDA x BB


ideal menurut umur (kg)
Berat badan aktual (kg) Berat Badan
aktual (kg)
atau
120 kcal/kg x BB ideal menurut tinggi
Berat badan aktual

Pada bayi hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan asupan kalori
dengan menambahkan konsentrasi susu formula. Penambahan kalori pada
anak prasekolah dapat dilakukan dengan cara penambahan bahan seperti
keju, roti atau kacang dalam menu sehari-hari. Pemberian multi vitamin
akan memberikan anak vitamin dalam jumlah minimal yang di butuhkan
oleh tubuh. Anak yang tidak respon dengan pendekatan ini memerlukan
penelusuran lebih lanjut (Gahagan, 2003).
2. Pendekatan multi disiplin
Konsultasi dengan ahli gizi diperlukan untuk mengatasi timbulnya
malnutrisi, memperkirakan asupan kalori yang diperlukan dan menentukan
ben
tuk diet yang tepat dan berkalori tinggi. Masalah emosional ibu, keluarga
dan anak dengan psikiater akan membantu mengatasi masalah tersebut.
Dukungan pekerja sosial, ahli spiritual dan masyarakat sekitar juga
diperlukan (Wright et al., 2006).
3. Perawatan di rumah sakit
Perawatan di rumah sakit pada anak gagal tumbuh jarang
diperlukan, kebanyakan rawat jalan. Perawatan rumah sakit diperlukan bila
tata laksana rawat jalan gagal dalam mengatasi keadaan ini.2 Anak dengan
gagal tumbuh harus dirawat di rumah sakit bila keadaan ini terus terjadi
walaupun optimalisasi dukungan masyarakat seperti perawatan kesehatan
masyarakat, ahli gizi masyarakat, pekerja sosial, tokoh agama, pemuka
agama, dan sebagainya telah diberikan. Pasien juga dianjurkan untuk
dirawat bila kondisi anak atau orang yang mengasuh atau keluarga tidak
dapat memberikan perawatan yang tepat atau mungkin malah
membahayakan keselamatan anak (Rabinowitz, 2010).

Tujuan perawatan anak gagal tumbuh dirumah sakit adalah:


a. Mengamati kebiasan makan anak dan hubungan orang tua dan anak
b. Melihat apakah berat badan anak dapat kembali normal bila
mendapatkan asupan yang cukup atau dijauhkan dari keluarga.
c. Memutuskan pemeriksaan penunjang yang diperlukan sesuai indikasi
DAFTAR PUSTAKA
1. Wikojosastro H, Abdul Bari Saifuddin, Triatmojo Rachimhadhi. Dalam:
Buku Ajar Ilmu Kebidanan, edisi ke 5. Jakarta; Balai Penerbit FKUI.
1999: 781-83.
2. Resnik R. High Risk Pregnancy. In: Emedicine journal obstetrics and
gynekology. Volume 99. No: 3. Maret 2003.
3. Retardasi Pertumbuhan dalam Rahim (Intrauterine Growth
Retardation-IUGR). Dalam http://www.kehamilan.klikdokter.com.
Diakses tanggal 14 Januari 2009
4. Leveno KJ, Cunningham FG, Norman F. Alexander GJM, Blomm SL,
Casey BM. Dashe JS, Shefield JS, Yost NP. In: William Manual of
Obstetrics. Edisi 2003. The University of Texas Southwestern Medical
Centre at Dallas. 2003:743-760
5. Alphonsus, NO. 2011. Evaluation and Management of the Child With
Failure to Thrive. Hospital Chronicles. 6(1): 9–23
6. Bauchner H. 2007. Failure to Thrive. In: Behrman, Kliegman, Jenson, eds.
Nelson Textbook of Pediatrics. 18 ed. Philadelphia: WB Saunders. 184-7

7. Chundrayetti, E. 2005. Early Detection of Growth and Developmental


Disorder: Why, When, How. Bagian ilmu kesehatan anak fakultas
kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil Padang.
8. Corrales, K M. Hangen, J P. 2000. Growth Failure. In: Hendricks,
Duggan, Walker, eds. Manual of Pediatric Nutrition Book. 3 ed.
Philladelphia: B.C.
9. Gahagan, S. 2006. Failure to Thrive : A Consequence of Undernutrition.
Pediatrics in Review. 27:e1-e11.
10. Hakimi,. Pulungan, Aman B. 2005. Deteksi Dini Gangguan Pertumbuhan
Pada Anak. Dalam : Simposium Peran Endokrinologi Anak Dalam Proses
Tumbuh Kembang Anak. Padang: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas. 2005:1-7.
11. Irwanto, Suryawan, A., Narendra, M B., 2006. Penyimpangan Tumbuh
Kembang Anak. Surabaya: Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr. Soetomo
Surabaya.
12. Purwandini K, Kartasurya MI. Pengaruh pemberian micronutrient sprinkle
terhadap perkembangan motorik anak stunting usia 12-36 bulan. Journal of
Nutrition College. 2013; 2(1): 50-9.
13. Kementerian Kesehatan RI. Kondisi Pencapaian Program Kesehatan Anak
Indonesia. 2014. Tersedia di
http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/
infodat in-anak.pdf . Diakses pada 13 Juni 2019.
14. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013.
Tersedia di http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-
kesehatan- indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2013.pdf. Diakses padda
13 Juni 2019.
15. Kusuma KE, Nuryanto. Faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 2-3
tahun (Studi di Kecamatan Semarang Timur). Journal of Nutrition
College. 2013; 2(4): 523-30.
16. Hasan R, Alatas H. Perinatologi. Dalam: Ilmu Kesehatan Anak 3; edisi ke-
4. Jakarta : FKUI, 1985;1051-7.
17. Wiknjosastro H, Saifuddin AB. Bayi Berat Lahir Redah. Dalam: Ilmu
Kebidanan; edisi ke-3. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 2002;771-83.
18. Arifuddin J, Palada P. BBLR-LBW. Dalam : Perinatologi dan Tumbuh
Kembang. Jakarta : FKUI, 2004;9-11.