Anda di halaman 1dari 9

SISTEM EKSKRESI KATAK

Sistem Ekskresi adalah  proses pengeluaran zat sisa metabolisme yang


sudah terakumulasi dalam tubuh agar kesetimbangan tubuh tetap terjaga. Sistem
ekskresi merupakan hal yang pokok dalam homeostasis karena sistem ekskresi
tersebut membuang limbah metabolisme dan merespon terhadap
ketidakseimbangan cairan tubuh dengan cara mengekskresikan ion-ion tertentu
sesuai kebutuhan. Sebagian besar sistem ekskresi menghasilkan urin dengan cara
menyaring filtrat yang diperoleh dari cairan tubuh. Sistem ekskresi sangat
beraneka ragam, tetapi semuanya mempunyai kemiripan fungsional.
Alat ekskresi pada katak ialah ginjal opistonefros yang dihubungkan
dengan ureter di vesika urinaria. Berwarna merah kecokelatan serta terletak di
kanan dan kiri tulang belakang. Alat ekskresi lainnya ialah kulit, paru-paru, dan
insang. Pada katak jantan, saluran ginjal dan saluran kelaminnya bersatu,
sedangkan katak betina tidak. Saat mengalami metamorfosis, amfibi mengubah
ekskresi amonia menjadi urea. Hal ini terjadi saat larva berubah jadi berudu dan
hewan darat dewasa. Seperti halnya ikan, ginjal pada katak juga berperan dalam
pengaturan kadar air dalam tubuh.

ORGAN EKSKRESI EMBRIO KATAK


Pembentukan bermacam-macam organ terjadi setelah neuralasi. Stadium
lanjut dari luar terlihat adanya pemanjangan tubuh embrio dan terbentuknya tunas
ekor. Stadium ini juga terbentuk sistem pencernaan, indera, sistem vaskuler, dan
sistem ekskresi (Adnan, 2008).
Organogenesis katak sendiri terjadi dimulai dari setelah selesainya proses
grastulasi yang menghasilkan ectoderm, mesoderm, dan endoderm. Setelah itu
lapisan-lapisan tersebut mengalami differensiasi atau dinamakan tahapan
neurulasi dimana lapisan ectoderm akan menebal dan melipat membentuk neural
plate yang akan berkembang menjadi neural crest yang merupakan bakal dari otak
dan sum-sum tulang belakang dan dari lapisan ini juga akan berkembang insang,
telinga, alat optic dan saluran eustachius. Di waktu yang sama juga terjadi
delaminasi chordamesoderm yang menghasilkan pembentukan notocord dan dua
lapisan mesoderm dorsal dan lateral.
Mesoderm dorsal akan membentuk muskulatur hewan dan jaringan ikat.
Mesoderm lateral membentuk nefrotom yang kelak akan berkembang menjadi
ginjal pronefros dan sistem urogenital. Mesoderm juga berperan sebagai
mesenkim yang akan membentuk pembuluh pembuluh darah dan sistem
mesodermal lainya.  Sedangkan endoderm akan membentuk saluran pencernaan
yang teridi dari tiga bagian yaitu foregut, midgut, dan hindgut. Foregut akan
mengalami perkembangan menjadi mulut dan rongga hidung. Midgut akan
menjadi usus halus dan usus buntu sedangkan hindgut akan menjadi colon,rectum,
dan kloaka.

1. Ginjal
Nefrotom merupakan bagian antero-posterior dari mesoderm yang
nantinya akan menjadi bagian sistem ekskresi. Nefrotom akan berkembang
menjadi nefrocoel yang merupakan awal dari kepala ginjal embrio (pronefros)
(McDiarmid dan Altig, 1999).

2. Kulit (epidermis)
Pada fase gastrula, embrio mengalami proses diferensiasi dengan mulai
menghilangkan blastosol. Sel-sel pada kutub fungsional akan membelah dengan
cepat.  Akibatnya, sel-sel pada kutub vegetatif membentuk lekukan ke arah dalam
(invaginasi).  Invaginasi akan membentuk dua formasi, yaitu lapisan luar
(ektoderm)  dan lapisan dalam (endoderm). Bagian ektoderm akan menjadi kulit
dan bagian endoderm akan menjadi berbagai macam saluran. Bagian tengah
gastrula disebut dengan arkenteron. Pada perkembangan selanjutnya, arkenteron
akan menjadi saluran pencernaan pada hewan vertebrata dan beberapa
invertebrata. Bagian luar yang terbuka pada gas menuju arkenteron disebut
dengan blastofor. Bagian ini dipersiapkan menjadi anus dan pada bagian ujung
akan membuka dan menjadi mulut. Pada fase ini akan terjadi lanjutan diferensiasi
sebagian endoderm menjadi bagian mesoderm. Pada akhir dan gastrula telah
terbentuk bagian endoderm,  mesoderm,  ektoderm
Lapisan ektoderm yang merupakan lapisan luar embrio akan berdiferensiasi
menjadi ektoderm neural yang akan menjadi sistem saraf pusat, dan pial neural
yang akan membentuk sistem saraf perifer, medula adrenal, melanosit. Sedangkan
turunan epidermis dapat dibagi menjadi dua macam, yang merupakan penebalan
epidermis akan membentuk lensa mata, telinga dalam, dan puting pengecap.
Epidermis lainnya akan berkembang menjadi apidermis kulit, lapisan permukaan
mulut dan anus (Lestari dkk, 2013).

(Gambar Tailbud Stage in Median Section)

3. Paru-paru
Lapisan endoderm akan berkembang membentuk epitel pelapis saluran
pencernaan, epitel pelapis sistem respirasi, pelapis uretra, pelapis kandung kemih,
pelapis sistem reproduksi, hati, pankreas, timus, kelenjar tiroid dan paratiroid
(Campbell et al, 2008).
Bagian-bagian yang berasal dari endoderm adalah duodenum, foregut,
hindgut, midgut, faring, dan liver diverkulum.
(Embrio katak tahap tunas ekor)

SISTEM EKSKRESI AVES


Ekskresi air dan sisa metabolik sebagian besar terjadi melalui ginjal.
Sistem ekskresi pada unggas terdiri dari dua buah ginjal yang bentuknya relatif
sama memanjang, berlokasi dibelakang paru-paru, dan menempel pada tulang
punggung. Masing-masing ginjal terdiri dari tiga lobus yang tampak dan jelas.
Ginjal terdiri dari banyak Tubulus kecil atau Nephron yang menjadi unit
fungsional utama dari ginjal (Suprijatna dkk, 2010). Sistem urinaria ayam maupun
itik terdiri atas sepasang ginjal yang berbentuk panjang yang menempel rapat pada
tulang punggung dan tulang rusuk serta melekat pada selaput rongga perut
(Peritonium). Air kencing keluar dari tubuh melalui Cloaca bersama-
sama Feses dan kelihatan sebagai masa putih diatas Feses tersebut (Yuwanta,
2010).
Ureter adalah saluran Muscular yang mengalirkan Urine dari dinding
ginjal menuju ke Blader (kantong kencing). Kloaka merupakan suatu tabung yang
berhubungan dengan saluran pencernaan, saluran kencing dan reproduksi (Rasyaf,
2013).

ORGAN EKSKRESI EMBRIO AVES


Setelah fertilisasi (terjadinya fusi antara germ betina dengan salah satu sel
pejantan/sperma) maka sebuah kehidupan barupun mulai berkembang. Tahap
pertama perkembangan embrio terjadi dalam tubuh ayam betina dan tahap ini
dipengaruhi oleh temperatur tubuh ayam betina tersebut. Sebelum ditelurkan,
setelah blastodisc dibuahi mUlai, maka di sini mulai terjadi perubahan. Blastodisc
diselaputi oleh 2 selaput sel yang tipis dan disebut blastoderm. Segera setelah
dimulainya masa inkubasi selaput sel ketiga muncul. Periode terbentuknya sel-sel
ini disebut periode Gastralasi. Nama-nama selaput sel yang terbentuk adalah
entoderm, ectoderm dan mesoderm. ketiga selaput ini mempunyai peran yang
berbeda dalam perkembangan bentuk embrio selanjutnya.

Entoderm adalah selaput yang berperan dalam mengembangkan bagian


respirasi (pernafasan), sekresi dan saluran pencernaan. Sementara itu
perkembangan kulit, bulu, paruh, kuku, sistem syraf, saluran mulut dan dubur
dipengaruhi oleh peran dari bagian ectoderm. Bagian mesoderm berperan dalam
perkembangan organ-organ antara lain tulang, ekskresi darah dan organ
reproduksi. Demikian perkembangan telur yang fertil yang terjadi di dalam tubuh
ayam betina

1. Ginjal
(Embrio ayam umur 96 jam preparat awetan)

Embrio ayam umur 96 jam, bakal alat genitalia mula-mula berpisah dari bakal
ginjal pada mesomere.

2. Paru-paru

(Embrio ayam umur 72 jam preparat awetan)

Akan terbentuk paru-paru dan pankreas sampai umur 96 jam. Paru-paru


berasal dari saluran pencerernaan. Pankreas dibentuk dari diverkulum yang
berasal dari sebelah dorsal dan ventral saluran. Pencernaan tempat di sebelah
caudal kantong empedu.

3. Sistem integumen
Dimulai dari proses pembentukan periderm yang kemudian dilanjutkan
dengan pembentukan kulit, terutama bagian epidermis. Interaksi yang terjadi
antara lain adalah interaksi yang terjadi antara jaringan ectoderm pembentuk
epidermis dan jaringan endoderm pembentuk dermis untuk membentuk derivate
kulit seperti rambut (Surjono, 2003).

4. Sistem pencernaan
Pada aves, turunan endoderm yang utama adalah system pencernaan
khsusnya faring dan saluran pencernaan. Selain itu juga dibentuk saluran
pencernaan yang dipisahkan dari rongga kantung yolk oleh proses pelipatan.
Pembentukan kelenjar pencernaan dari turunan endoderm adalah hati dan
pancreas (Lestari, 2013).

5. Hepar

(Embrio ayam umur 48 jam preparat awetan)


(Embrio ayam umur 48 jam sayatan melalui vesikula optik)

(Embrio ayam umur 48 jam sayatan melalui mata)

Embrio ayam umur 48 jam, hati juga akan terbentuk sampai umur 96 jam. hati
berkembang relatif cepat, mula-mula terdapat dua lobus di kanan dan kiri yang
sama besar. perkembangan hati bermula dari tonjolan di sebelah ventral usus di
daerah gerbang usus anterior. tonjolan kranial bercabang dan membentuk epitel
sel hati.
DAFTAR PUSTAKA

Adnan. (2008). Perkembangan Hewan. Makassar: Biologi FMIPA UNM


Lestari, Umi., dkk. 2013. STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN
II.Malang : Universitas Negeri Malang.
McDiarmid, Roy W., & Altig, Ronald. 1999. Tadpoles The Biology of Anuran
Larvae. London: The University of Chicago Gland
Suprijatna, E., Atmomarsono, U., dan Kartasudjana, R. 2010. Ilmu Dasar Ternak
Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Surjono, T.W. 2003. Perkembangan Hewan. Jakarta: Pusat Penerbitan
Universitas Terbuka
Rasyaf, M. 2013. Panduan beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.
Yuwanta, Tri. 2010. Dasar Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta.