Anda di halaman 1dari 6

PENGGUNAAN METODE SEMIEMPIRIK AM1 UNTUK PEMILIHAN MONOMER

FUNGSIONAL EFEKTIF PADA PRASINTESIS POLIMER TERCETAK DIAZINO

MAKALAH KOMPUTASI

OLEH

CELSIA NESTI PERMATASARI

NIM 160332605871

UNIVERSITAS NEGRI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI KIMIA

NOVEMBER 2019
I. PENDAHULUAN

Kimia Komputasi adalah ilmu kimia yang menggunakan hasil teori yang
diterjemahkan ke dalam program computer untuk menghitung sifat-sifat molekul dan
perubahannya. Selain itu kimia komputasi juga dapat melakukan simulasi terhadap
makromolekul dan menerapkan program tersebut pada sistem kimia nyata. Contoh
sifat-sifat molekul yang dapat dihitung antara lain struktur atom, energi, momen dipol,
keraktifan, frekuensi getaran. Kimia komputasi terbagi atas metode mekanika
molekuler yang perhitungannya berdasarkan hukum-hukum fisika klasik dan
mekanika kuantum yang perhitungannya berdasarkan hukum-hukum fisika kuantum.
Terdapat dua pendekatan dalam metode mekanika kuantum, yakni pendekatan teori
struktur elektron (Ab initio dan Semiempiris) dan pendekatan teori fungsional
densitas (Density Functional Theory). Hukum mekanika kuantum dijadikan sebagai
dasar komputasi dalam metode struktur elektron.

Ab initio merupakan konsep perhitungan dari penyelesaian persamaan


Schrödinger untuk mendapatkan hasil perhitungan dengan akurasi tinggi. Pendekatan
harus dibuat untuk menyelesaikan persamaan Schrödinger, karena persamaan tersebut
tidak dapat diselesaikan secara eksak. Metode ab initio tersebut dibuat tanpa
menggunakan data empiris. Perhitungan persamaan Schrӧdinger dapat diperkirakan
kepresisian dan kesalahannya. Kelebihan metode ini yaitu dapat digunakan pada
sistem dengan jarak yang luas dan dapat menghitung keadaan transisi dan keadaan
eksitasi. Perhitungan metode ini berdasarkan pada nilai-nilai konstanta fisika, hukum
mekanika kuantum, inti atom, muatan elektron, dan massa. Perhitungan orbital
molekul dengan menggunakan metode ini menghasilkan keakuratan perkiraan
kuantitatif tentang sifat-sifat kimia pada macam-macam sistem molekular dengan
menggunakan komputer. Metode ini dapat diaplikasikan dalam perhitungan Hartree-
Fock (HF). Sedangkan Semi-empirical adalah konsep perhitungan yang mirip dengan
Hartee-Fock (HF), tapi banyak pendekatan yang dibuat dan membutuhkan beberapa
parameter dari data empiris. Perhitungan dengan metode ini lebih cepat dibandingkan
dengan metode ab initio. Akan tetapi, hasil yang diperoleh sangat bergantung pada
ketersediaan parameter yang sesuai untuk molekul yang akan ditinjau.

Diazinon merupakan salah satu pestisida dengan jenis insektisida golongan


organopospat yang dilarang penggunaannya karena diketahui pestisida ini bersifat
toksik pada manusia, unggas dan mamalia.Akan tetapi pelarangan penggunaan
pestisida diazinon tidak menjamin pestisida tersebut tidak digunakan lagi. Hal ini
terbukti dari hasil penelitian oleh Lehotay (2000), Alberto et al. (2003), Sadlo et al.
(2006), Dasika et al. (2012), dan Bempah et al. (2012) yang masing-masing dilakukan
di negara yang berbeda menemukan residu diazinon pada buah dan sayuran. Dengan
demikian untuk mencegah secara dini keracunan makanan akibat kandungan diazinon
maka diperlukan suatu teknik analisis yang mampu mendeteksi keberadaan pestisida
toksik ini. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hajnal et al. (1999), Harris et
al. (2000), dan Talaber et al. (2003), melaporkan penggunaan perhitungan mekanika
kuantum dengan metode semiempirik AM1 (Austin Model 1) telah berhasil untuk
mengevaluasi interaksi non-kovalen pada kasus kristal organik, homo polimerisasi
spiroortokarbonat dan interaksi ikatan hidrogen antarmolekul pada stereoisomer asam
α-fenil furilsinamat. Maka dari itu, pada makalah ini akan di lakukan
pendekatan semiempirik AM1 mengenai monomer 2-vinil piridin dari diazinon.
II. METODE PENELITIAN

a. Peralatan yang digunakan adalah perangkat keras (hardware) dan perangkat


lunak (software). Perangkat keras (hardware) berupa computer / laptop dengan
processor : intel core i5-450M (2.40 Ghz, Cache 3MB). Software yang
digunakan berupa GaussView 6.0 dan Gaussian 09W.
b. Langkah Kerja
- Langkah pertama yaitu, membuat molekul 2-vinil piridin pada software
GaussView 6.0.

- Kemudian di klik pada tollbar “calculate” dan “Gaussian calculation


setup”.

- Di klik “job type” dipih opt+freq


- Langkah terakhir di klik “method” di pilih semi-empirical AM1.
III. PEMBAHASAN

Tujuan dari pendekatan semiempirik AM1 mengenai monomer 2-vinil piridin


dari diazinon adalah pemilihan monomer fungsional yang efektif untuk sintesis
Molecular Imprinted Polymer (MIP). Proses seleksi menggunakan parameter
momen dipol dan energi interaksi,. Energi interaksi yang optimum menunjukkan
kompleks yang terbentuk stabil dan mengindikasikan MIP akan dapat terbentuk
baik. Momen dipol merupakan ukuran polaritas molekul yang didapat dari hasil
kali antara muatan atom dengan jarak antar atom yang berikatan. Semakin besar
perbedaan keelektronegatifan antar atom yang berikatan, maka nilai momen dipol
akan semakin besar. Nilai momen dipol diazinon adalah 6,596, nilai momen dipol
yang besar ini mengindikasikan bahwa molekul diazinon merupakan molekul
polar yang berinteraksi dengan baik dengan molekul yang juga polar.
Dari hasil pendekatan semiempirik AM1 menggunakan software Gauss View
6.0 monomer 2-Vinil Piridin menghasilkan momen dipol sebesar 1,194126. Dari
hasil pendekatan tersebut maka monomer 2-vinil piridin tidak mampu berinteraksi
polar dengan diazinon dikarenakan hasil momen dipolnya < 2. Hal tersebut sesuai
dengan yang tertera pada jurnal, monomer 2-vinil piridin menghasilkan momen
dipol sebesar 1,86 . Parameter yang kedua selain dari momen dipolnya yaitu data
energi interaksi. Data tersebut menunjukkan kestabilan kompleks yang terbentuk,
semakin tinggi nilai energi interaksi yang ditunjukkan dengan semakin negatif
nilai ∆E maka kompleks yang terbentuk akan mampu memberikan selektivitas
yang lebih baik pada MIP yang disintesis. Dari hasil pendekatan semiempirik
AM1 menggunakan software Gauss View 6.0 monomer 2-Vinil Piridin
menghasilkan energy interaksi sebesar 0.079248. Dari hasil pendekatan tersebut
maka monomer 2-vinil piridin tidak mampu memberikan selektivitas yang lebih
baik pada MIP yang disintesis dikarenakan hasil energy interaksinya rendah. Hal
tersebut sesuai dengan yang tertera pada jurnal, monomer 2-vinil piridin
menghasilkan energy interaksi yang rendah dari pada monomer yang lainnya.
Berikut adalah hasil perhitungan menggunakan GaussView 6.0.
IV. KESIMPULAN

Monomer 2-Vinil piridin tidak dapat dijadikan sebagai monomer fungsional


yang efektif untuk sintesis Molecular Imprinted Polymer (MIP) dikarenakan nilai
momen dipolnya < 2 yaitu sebesar 1,194126 dan energy interaksinya rendah yaitu
sebsar 0.079248. Hal tersebut sesuai dengan jurnal meskipun nilainya tidak sama
persis.