Anda di halaman 1dari 7

Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi Hiperinflasi

Ciri-ciri suatu negara mengalami hiperinflasi:


 Penduduknya lebih memilih menyimpan kekayaan dalam bentuk aset nonmoneter
atau mata uang asing yang stabil
 Penduduknya mengaitkan jumlah moneter dengan mata uang asing yang stabil,
bukan mata uang lokal
 Penjualan dan pembelian kredit mempertimbangkan kemungkinan adanya
penurunan daya beli selama periode kredit, walaupun periode kreditnya singkat
 Bunga, harga, dan upah dikaitkan dengan indeks harga
 Tingkat inflasi selama 3 tahun mendekati atau melebih 100%
Penyajian Kembali Laporan Keuangan:
 Laporan keuangan disajikan dalam unit pengukuran yang berlaku pada akhir
periode pelaporan
 Angka terkait untuk periode sebelumnya yang disyaratkan PSAK 1: Penyajian
Laporan Keuangan dan setiap informasi dalam periode sebelumnya juga disajikan
dalam unit pengukuran kini pada akhir periode pelaporan
 Laba atau rugi atas posisi moneter neto disajikan dalam laba rugi dan diungkapkan
terpisah
Perlakuan akuntansi entitas:
 Laporan arus kas
Dinyatakan dalam unit pengukuran kini pada akhir periode pelaporan
 Angka terkait
Angka terkait pada periode pelaporan sebelumnya disajikan kembali dengan
menggunakan indeks harga umum, sehingga laporan komparatif disajikan dalam
unit pengukuran kini pada akhir periode pelaporan.
 Laporan keuangan konsolidasian
Apabila entitas anak membuat laporan dalam mata uang hiperinflasi, perlu
disajikan kembali dengan menggunakan indeks harga umum dari negara yang
mata uangnya dilaporkan sebelum dimasukkan dalam laporan keuangan
konsolidasian entitas induk. Apabila entitas anak adalah entitas asing, disajikan
kembali pada kurs penutup.
 Ekonomi hiperinflasi berakhir
Entitas memperlakukan jumlah yang dinyatakan dalam unit pengukuran kini pada
akhir periode pelaporan sebelumnya sebagai dasar pencatatan laporan keuangan
selanjutnya.

Entitas

Mata uang fungsional merupakan mata uang ekonomi hiperinflasi Mata uang fungsional
merupakan bukan mata uang
ekonomi hiperinflasi
Laporan keuangan biaya historis Laporan keuangan biaya kini

Laporan posisi keuangan Laporan posisi keuangan


Aset non moneter disajikan kembali Tidak disajikan kembali
dengan menerapkan indeks harga Laporan Laba Rugi dan
umum. Pos moneter dan non moneter Penghasilan Komprehensif
yang dicatat pada jumlah kini tidak Lain
disajikan kembali. Seluruh pos disajikan kembali
Pada awal penerapan PSAK 63, dalam unit pengukuran kini pada
komponen ekuitas (kecuali saldo laba akhir periode pelaporan dengan
dan surplus revaluasi) disajikan kembali menggunakan indeks harga
menggunakan indeks harga umum. umum
Surplus dieliminasi, dan saldo laba Keuntungan atau Kerugian
disajikan kembali berdasar seluruh Posisi Moneter Neto
jumlah lain dalam laporan posisi Laba atau rugi posisi moneter
keuangan. neto dicantumkan dalam laba
Pada akhir periode awal penerapan dan rugi. Penyesuaian atas aset dan
selanjutnya, ekuitas disajikan kembali liabilitas terkait perubahan harga
dengan menerapkan indeks harga disalinghapuskan dengan laba
umum. atau rugi posisi neto. Penghasilan
Laporan Laba Rugi dan Penghasilan dan beban lain juga terkait
Komprehensif Lain dengan posisi moneter neto.
Seluruh pos disajikan kembali dengan
menerapkan perubahan indeks harga
umum sejak tanggal pos penghasilan
Keuntungan atau Kerugian Posisi
Moneter Neto
Laba atau rugi posisi moneter neto
dicantumkan dalam laba rugi.
Penyesuaian atas aset dan liabilitas
terkait perubahan harga
disalinghapuskan dengan laba atau rugi
posisi neto. Penghasilan dan beban lain
juga terkait dengan posisi moneter neto.

Laporan keuangan disajikan kembali yang dinyatakan dalam valuta asing akan Menerapkan PSAK 10: Pengaruh
dijabarkan pada kurs penutupan Perubahan Kurs Valuta Asing

Gambar. Perlakuan Akuntansi Entitas


Sumber: (Buschhüter & Striegel, 2011)
Langkah-langkah penyajian kembali laporan keuangan:
1. Pemilihan indeks harga umum
a. Entitas dalam ekonomi hiperinflasi harus menggunakan indeks harga
umum yang sama
b. Indikator perubahan tingkat harga umum yang paling dapat diandalkan
adalah indeks harga konsumen.

Contoh Kasus:
Soal:
An item of property, plant or equipment was purchaded in December 20X0
at a price of 200 million currency units.
The restated asset cost at 31 Desember 20X2, determined using the
conversion factors below, is 200 x 4,114 = 822,8 million currency units,
current at 31 December 20X2
Jawaban:
General Price Index Conversion Factor
31 December 20X0 54.224 4,114 (223.100/54.224)
31 Desember 20X2 223.100 1,000 (223.100/223.100)

Sumber: (PWC, 2016)

2. Analisis dan penyajian kembali aset dan liabilitas


Contoh aset dan liabilitas moneter:

Gambar. Aset Moneter


Sumber: (PWC, 2016)

Contoh aset dan liabilitas non moneter:


Gambar. Aset Non Moneter
Sumber: (PWC, 2016)

3. Penyajian kembali laba rugi


4. Perhitungan laba rugi posisi moneter neto
Laba rugi posisi moneter neto dapat diestimasi menggunakan dua metode:
a. Average monetary position method

Contoh Kasus:

Sumber: (PWC, 2016)

b. Statement of source and application of net monetary assets and liabilities


method
Contoh Kasus:

Sumber: (PWC, 2016)

5. Penyajian kembali arus kas


Laporan keuangan arus kas hiperinflasi:
a. Laba rugi sebelum pajak disesuaikan untuk laba rugi moneter selama
periode
b. Kerugian moneter pada kas dan setara kas disajikan secara terpisah
Contoh Kasus:
Bagaimana laba moneter mempengaruhi aktivitas keuangan?

Arus kas aktivitas keuangan harus mencantumkan drawdown sebesar 705


dan repayment sebesar 987. Laba moneter sebesar 918 dicatat di laporan laba
rugi dan dieliminasi dari laporan arus kas sebagai item non kas.

Sumber: (PWC, 2016)

6. Penyajian kembali laporan keuangan periode sebelumnya

Referensi:
Buschhüter, M., & Striegel, A. (2011). IAS 29 – Financial Reporting in Hyperinflationary
Economies. Kommentar Internationale Rechnungslegung IFRS, 1213–1216.
https://doi.org/10.1007/978-3-8349-6633-9_40
PWC. (2016). International Financial Reporting Standards: Financial Reporting in
Hyperinflationary Economies – Understanding IAS 29. IOSR Journal of Business
and Management, 18(10), 27–39. https://doi.org/10.9790/487x-1810022739
PSAK 63: Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi Hiperinflasi
ISAK 19: Penerapan Pendekatan Penyajian Kembali dalam PSAK 63: Pelaporan
Keuangan dalam Ekonomi Hiperinflasi