Anda di halaman 1dari 31

I.

Maksud dan Tujuan :


a. Selulosa Golongan I
Mengidentifikasi zat warna golongan I ( direk, asam, basa ) pada serat
selulosa .
b. Selulosa Golongan II
Mengidentifikasi zat warna golongan II ( bejana, belerang, bejana-belerang )
c. Selulosa Golongan III
Mengidentifikasi zat warna golongan III, IV ( naftol, pigmen, reaktif )

II. Dasar Teori

2.1 Kapas

Serat Kapas yaitu serat alami(tumbuhan) yang mudah didapat dan harganya
terjangkau,karena seratnya itu nyaman dan bisa dipakai disemua kalangan
masyarakat.serat kapas sangat penting di industri tekstil karena bahan nya
mudah didapat,sangat kuat,sifat kapas yg kurang kenyal yang menyebabkan
kapas mudah kusut.kapas itu dipintal dan kemudian manjadi benang,akhirnya
ditenun menjadi kain. industri tekstil banyak mengandalkan kapas menjadi
bahan utama. kapas mempunyai arti penting bagi para perancang busana.

2.2 Strukrur Serat Kapas

1. Morfologi
a. Penampang Melintang
Bentuk penampang serat kapas sangat bervariasi dari
pipih sampai bulat tetapi pada umumnya berbentuk seperti
ginjal.Serat kapas dewasa, penampang lintangnya terdiri dari 6
bagian.
b. Kutikula
Merupakan lapisan terluar yang mengandung lilin, pektin dan
protein. Adanya lilin menyebabkan lapisan ini halus, sukar
tembus air dan zat pewarna berfungsi melindungi bagian dalam
serat.
c. Dinding primer
Merupakan dinding tipis sel yang asli, terutama terdiri
dari selulosa tetapi juga mengandung pektin, p r o t e i n , d a n
z a t - z a t y a n g m e n g a n d u n g l i l i n Selulose dalam dinding
primer berbentuk benang yang sangat halus yang tidak
tersusun sejajar sepanjang serat tetapi membentuk spiral
mengelilingi sumbu serat.
d. Lapisan antara
Merupakan lapisan pertama dari dinding sekunder dan
strukturnya sedikit berbeda dengan dinding primer.
e. Dinding sekunder
Merupakan lapisan-lapisan selulose, yang merupakan bagian
utama serat k a p a s . D i n d i n g i n i j u g a m e r u p a k a n
l a p i s a n b e n a n g y a n g h a l u s y a n g membentuk spiral
mengelilingi sumbu serat. Arah putarannya berubah -
ubah.-
f. Dinding lumen
Dinding lumen lebih tahan terhadap zat kimia tertentu
dibanding dinding sekunder.
g. Lumen
Merupakan ruang kosong di dalam serat. Bentuk dan ukurannya
bervariasidari serat ke serat lain maupun sepanjang satu serat.
2. Komposisi kimia
a. Selulosa
Analisa serat kapas menunjukkan bahwa serat
kapas terutama tersusun dari zat selulosa. Derajat
polimerisasi selulosa serat kapas kira-kira 10.000 dan berat
molekulnya kira-kira 1.580.000.

b. Pektat
Pektat adalah suatu karbihidrat dengan berat molekul yang tinggi.
Struktur molekulnya seperti struktur molekul selulosa. Pektat
terutama tersusun oleh susunan linier sisa-sisa asam
galakturonat dalam garam-garam kalsium dan besi yang tidak
larut.

c. Lilin
Karena adanya lilin, maka akan mengurangi gaya gesekan
sehingga kekuatan benang akan lebih rendah.
d. Zat-zat yang mengandung protein
Zat-zat dalam protein dalam kapas diduga berasal dari sisa-sisa
protoplasma kering yang tinggal dalam lumen setelah selnya mati.

2.3 Sifat Kimia Kapas

Struktur kimia dari selulosa dapat dilihat pada dibawah ini!

Gambar Error! No text of specified style in document..1 Struktur Molekul


Selulosa
Sumber: Soeprijono, P.Serat-Serat Tekstil, Institut Teknologi Tekstil, Bandung,
1973 halaman 45
Kapas sebagian besar tersusun atas selulosa maka sifat-sifat kimia
kapas adalah sifat-sifat kimia selulosa.Serat kapas pada umumny tahan
terhaadap kondisi penyimpanan, pengolahan,dan pemakaian yang normal,
tetapi beberapa zat oksidasi atau penghidrolisa menyebabkan kerusakan
dengan akibat penurunan kekuatan.Kerusakan karena oksidasi dengan
terbentuknya oksi selulosa biasanya terjadi dalam proses pemutihan gyang
berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab, atau pemanasan yang lama
diatas suhu 140o .

Asam-asam menyebabkan hidrolisan ikatan-ikatan glukosa dalam rantai


ikatan selulosa dalam membentuk hidroselulosa.Asam kuat dalam larutan
akan menyeabkan degradasi yang cepat, sedangkan larutan yang encer
apabila dibiarkan mengering pada serat akan menyebabkan penurunan
kekuatan. Alkali mempunyai pengaruh sedikit pada kapas, kecuali larutan
alkali kuat dengan kosentrasi yang tinggi aka menyebabkan
pengelembungan yang besar pada serat, seperti dalam proses merserisasi.

Dalam kondisi ini dinding primer menahan penggelembungan serat


kapas luar, sehingga lumennya sebagian tertutup.Irisan lintang menjadi leih
bulat, puntirannya berkurang dan serat menjadi lebih berkilau.Disamping itu
menjadikan kapas lebih kuat dan afinitas terhadap zat lebih besar.

2.4 Sifat Fisika

Bentuk kristalin dan amorf serat kapas dapat dilihat pada Gambar 2.1.2

Gambar Error! No text of specified style in document..2 Struktur Selulosa


dengan Rantai Panjang Membentuk Bagian Kristalin dan Amorf
Sumber: Maya Komalasari, Serat Tekstil 1, Sekolah tinggi Teknologi Tekstil,
Bandung.
a. Warna
Warna kapas tidak betul-betul putih, biasanya sedikit cream. Warna
kapas akan semakin tua setelah penyimpanannya selama 2-5 tahun.
Ada pula kapas-kapas yang berwarna lebih tua, dengan warna-warna
dari caramel,khaki sampai beige. Karena pengaruh cuaca yang lama
debu, kotoran akan menyebabkan warna keabu-abuan.
b. Kekuatan
Kekuatan serat kapas terutama dipengaruhi oleh kadar selulosa
dalam serat, panjang rantai dan orientasinya. Kekuatan serat kaps per
bundel rata-rata adalah 96.700 pound per inci2 dengan minimum
70.000 dan maksimum 116.000 pound per inci2. Kekuatan serat pada
umumnya menurun pada waktu basah tetapi sebaliknya kekuatan
kapas dalam keadaan basah makin tinggi.
Hal ini dijelaskan bahwa apabila gaya diberikan pada serat kapas
kering, distribusi tegangan dalam serat tidak merata karena bentuk
serat kapas yang terpuntir dan tak teratur.Dalam keadaan basah serat
kapas menggelembung berbentuk silinder, diikutin dengan kenaikan
derajat orientasi, sehingga distribusi tegangan lebih rata dan kekuatan
seratnya naik.
c. Mulur
Mulur saat putus serat kapas termasuk tinggi diantara serat-serat
selulosa alam, kira-kira dua kali mulur rami. Diantara serat-serat alam
hanya sutera dan wol yang mempunyai mulur lebih tinggi dari kapas.
Mulur serat kapas berkisar antara 4 – 13 % bergantung pada jenisnya
dengan mulur rata-rata 7%.
d. Keliatan ( toughness )
Keliatan adalah ukuran yang menunjukkan kemampuan suatu
benda untuk menerima kerja, dan merupakan sifat yang penting untuk
serat-serat tekstil terutama yang dipergunakan sebagai tekstil untuk
keperluan industri.
Diantara serat-serat selulosa alam, keliatan serat kapas relatif tinggi
tetapi dibanding dengan serat-serat selulosa yang diregenerasi. Sutera
dan wol keliatannya lebih tinggi.
e. Kekakuan ( stiffness )
Kekakuan didefenisikan sebagai daya tahan terdahap perubahan
bentuk dan untuk tekstil biasanya dinyatakan sebagai perbandingan
antara kekuatan saat putus dengan mulur saat putus. Kekuatan
dipengaruhi oleh berat molekul, kekakuan rantai selulosa, derajat
kristalinitas dan terutama derajat orientasi rantai selulosa.
f. Moisture Regain
Serat kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air, dan air
mempunyai pengaruh yang nyata pada sifat-sifat serat. Serat kapas
yang sangat kering bersifat kasar, rapuh dan kekuatannya rendah.
Moisture regain yang didapatkan dengan cara menghilangkan lembab
( desorpsi ) sedikit lebih tinggi dari yang didapatkan dengan cara
penyerapan lembab. Moisture regain serat kapas pada kondisi
standard berkisar antara 7 – 8,5 %.
g. Berat Jenis
Berat jenis serat kapas 1,50 sampai 1,56 .
h. Indeks bias
Indeks bias serat kapas sejak sumbu serat 1,58 indeks bias
melintang sumbu serat 1,53.

2.5 Wool

a. Wool
Wool merupakan serat terpenting diantara serat-serat binatang. Serat-
serat yang berasal dari rambut lain berasal dari kambing,unta. Sejarah
tidak mencatat mula-mula wool dipintal dan ditenun. Pada permulaan
peradaban wool merupakan pakaian pelindung yang dibuat sendiri oleh
manusia. Bangsa Babelonia dan Yunani kuno memintal dan menenun wool
menjadi pakaian.
b. Stuktur Wool

Setiap serat wool tidak merupakan struktur yang homogeny tetapi terdiri
dari kutikula dilapisan luar, dan kortex di bagian dalam tiap-tiap bagian
yang memusat tersebut terbentuk dari lapisan sel yang berbeda yang
berasal dari dasar polikel.
Kortex merupakan bagian besar dari serat terdiri dari sel-sel berbentuk
jarum dengan diameter 4-5 u dan panjang 100 u. Sel-sel tersebut dapat
dipisahkan dengan menggunakan enzim, berarti sel tersebut di letakan
menjadi satu oleh zat antar sel yang mudah di hancurkan. Pemeriksaan
dengan mikroskop electron menunjukan bahwa serat tersebut terdiri dari
fibril-fibril yang tertanam pada zat amorf. Lebar fibril tersebut kira-kira 0,1
u. Dan tersusun sejajar satu dengan yang lainnya dan sejajar dengan
sumbu sel, Fibril tersebut masih mungkin di bagi menjadi mikro fibril
dengan lebar 80 Aº .

Struktur bilateral tampak lebih jelas pada serat halus yang kriting, tetapi
pada beberapa wool kasar keliatan distribusi yang tidak teratur di seluruh
kortex.

Stuktur molekul wool

CO CO

CH CH

NH NH

CO CO

CH – CH2 –S–S–CH2 – CH

NH Ikatan Sistin NH

CO CO

CH CH

NH NH

CO CO

CH CH
NH NH

CO CO

CH–CH2–CH2–COO NH3 –CH2–CH2–CH2–CH2-CH

NH Asam glutarnat Lisin NH

CO CO

CH CH

NH NH

CO CO

CH–CH2–COO NH3 – C – NH –CH2–CH2–CH2-CH

NH Asam aspartik NH Arginin NH

Ikatan garam

2.5 Sifat Kimia Wool


Sifat kimia wool terdiri dari :
1. Pengaruh Air dan uap
Didalam air serat wool akan menggelembung, dan derajat
penggelembungan tergantung pada suhu air dan tegangan serat
didalam air dingin atau hangat, serat wool menggelembung 10 % (Wool
yang rusak karena zat kimia dapat menggelembung sampai 20% atau
lebih) Tetapi setelah kering akan kembali kediameter yang semula. Uap
air dalam waktu singkat tidak merusak serat tetapi dalam waktu lama
wool akan rusak.
2. Asam dan Basa
Wool bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan asam atau pun
basa. Absorpsi asam atau basa akan memutuskan ikatan garam, tetapi
dapat kebali lagi . Wool tahan asam-asam, kecuali asam pekat panas
dapat memutuskan ikatan peptida. Didalam larutan alkali, ikatan
disulfida mudah sekali putus, sehingga wool mudah rusak oleh alkali.
3. Garam
Garam anorganik netral ternyata berpengaruh pada wool. Garam-
garam kalsium dan magnesium yang terdapat dalam air sadah, dalm
pendidihan yang lama akan menimbulkan warna kuning pada wool.
4. Zat Oksidator dan Reduktor
Wool peka terhadap zat-zat oksidator. Zat Oksidator kuat akan merusak
serat, karena putusnya ikatan lintang sistina. Reduksi juga akan
memutuskan ikatan lintang sistina.
5. Bakteri, Jamur dan Serangga
Dibandingkan dengan serat alam lainnya, wool paling tahan terhadap
serangan jamur dan bakteri, tetapi akan mudah diserang jamur dan
serangga apabila wool telah rusak oleh zat kimia terutama alkali. Wool
mudah rusak karena zat kimia.
2.5.1 Sifat Fisika Wool
1. Kilau
Kilau wool berbeda-beda dan tergantung pada struktur permukaan serat,
ukuran serta lurus tidaknya serat. Kilau wool tidak tampak pada satu serat,
tetapi hanya tampak pada suatu kelompok atau benang kain.

2. Berat jenis dan Indeks Bias


Berat jenis wool kriting yang tidak mengandung medula 1,304. Indeks bias
untuk sinar yang bergetar pada bidang sejajar sumbu serat 1,553 dan untuk
sinar yang bergetar pada bidang tegak lurus serat 1,5432.
3. Penyerapan Lembab
Sehingga dapat menyerap uap air dari atmosfer lembab dan dapat
melepaskan kedalam atmosfer kering. Suhu berparuh pada kelembaban serat
tetapi tidak terlalu besar, Dalam keadaan asam kadar uap air lebih rendah,
dan dalam keadaan basah kadar uap air lebih tinggi di banding dengan
keadaan netral. Selain itu kotoran –kotoran seperti lemak berpengaruh pada
penyerapan lembab. Regain wool pada kondisi standar kira-kira 16%. Wool
bersifat higroskop disbanding serat lainnya dan dapat menyerap lembab
sampai 33% tanpa terasa basah
4. Kekuatan dan Mulur
Kekuatan serat kering berkisar antara 1,2 sampai 1,7 gram per denier dengan
mulur 30% - 40% dalam keadaan kering dan kekuata 0,8 -1,4 gram per denier
dengan mulur 50 - 70% dalam keadaan basah mulur serat wool sangat
bergantung pada kadar lembab dan kecepatan tarik makin lambat penarikan
mulurnya makin besar.
5. Elastisitas
Didalam air dingin wool mempunyai elastisitas yang lebih sempurna tetapi
pada kelebaban relative dibawah 100% wool yang di tarik tidak akan kembali
kepanjang semula setelah dilepaskan. Kecepatan dan jumlah pemulihan dari
tarikan makin besar dengan naiknya kelembaban relative atmosfer.
6. Menggumpal
Menggumpal adalah bahan tekstil untuk menaikan kerapatannya yang tidak
dapat kembali apabila mengalami gerakan atau tekanan didalam medium zat
cair. Kemampuan untuk menggumpal bergantung terutama pada pengaruh
geseran terarah. Elastisitas berpengaruh pada penggumpalan tetapi
mekanisme nya belum diketahui dengan jelas. Disamping itu penggumpalan
juga dipengaruhi oleh keadaan medium seperti pH, viskositas ,suhu, tekanan
dan lain-lain.
7. Pengaruh sinar
Matahari menyebabkan kemunduran kekuatan dan mulur serat mulur dan
selain itu juga menyebabkan timbulnya warna kuning pada wool. Kemunduran
kekuatan dan mulur wool disebabkan putusnya ikatan lintang sistina tetapi
mekanisme timbulnya warna kuning belum diketahui dengan jelas.
8. Sifat Panas
Kain yang dibuat dari wool mempunyai sifat menahan panas yang baik. Hal ini
terutama disebabkan oleh udara yang tertahan didalam benang, dan
bukannya karena sifat woo, karena sifat penghantar panas serat-serat tekstil
lebih besar dari udara
Wool yang keriting menyebabkan benang wool mempunyai struktur yang tidak
rapat, sehingga memungkinkan banyak udara berada didalam benang dank
arena sifat wool yang menglenting menyebabkan struktur benang atau kain
wool yang tidak rapa tersebut tetap terjaga selama pemakaian sehingga wool
sesuai untuk kain penahan panas seperti selimut.
Faktor lain yang menyebabkan wool baik untuk pakaian penahan panas
adalah regain yang tinggi, dimana penyerapan lembab selalu disertai dengan
timbulnya panas.
2.7 Poliakrilat

Serat poliakrilat merupakan serat buatan yang terbentuk dari polimer sintetik yaitu
vinil sianida. Serat ini sangat kuat, hidrofob dan sukar dicelup. Penelitian mengenai
serat poliakrilat dimulai di Amerika pada tahun 1938 dan produk pertama yang
dikomersialkan dengan nama dagang Orlon pada tahun 1950 oleh Du Pont. Kemudian
Chemstrand Corporation memperkenalkan Acrilan pada tahun 1952, Dow Chemical
mula mengkomersilkan produknya, Zefran pada tahun 1958, dan American Cyanamid
memperkenalkan Creslan pada tahun 1959.

Karena serat sukar dicelup, kemudian serat polimer poliakrilat dimodifikasi berupa
kopolimer dengan monomer lain yang mengandung gugus yang bersifat anionik
seperti karboksil atau sulfonat. Dengan adanya gugus-gugus tersebut membuat serat
poliakrilat yang sekarang ini dapat dicelup dengan zat warna basa yang bersifat
kationik dalam larutan asam. Berat gugus-gugus anionik maksimum 15% dari berat
serat.

Banyaknya gugus-gugus anionik pada serat dapat mempengaruhi kemampuan


maksimum serat poliakrilat menyerap zat warna. Hal itu biasa dinyatakan dengan nilai
faktor A dari serat atau Saturated Factor (SF). Semakin kecil nilai faktor A, maka
banyaknya zat warna yang dapat diserap oleh serat semakin kecil, begitu juga
sebaliknya. Nilai faktor A dari berbagai produsen serat poliakrilat disajikan pada tabel
dibawah ini.

2.8 Sifat Kimia


1. Ketahanan terhadap Zat Kimia
Serat poliakrilat pada umumnya memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap
asam-asam mineral dan pelarut, minyak, lemak dan garam netral. Serat poliakrilat
tahan terhadap alkali lemah tetapi dalam larutan alkali kuat panas akan rusak dengan
cepat.
2. Ketahanan terhadap Panas
Serat poliakrilat memiliki sifat tahan panas yang baik. Serat poliakrilat tahan pada
pemanasan 150oC selama dua hari tanpa menunjukkan penurunan kekuatan tarik.
Serat dapat mengalami perubahan warna menjadi kuning, coklat, dan hitam apabila
pemanasan diteruskan. Setelah pemanasan 60 jam pada suhu 200 oC, meskipun serat
berwarna hitam, kekuatan tarik lebih dari setengah kekuatan awal. Selain itu serat
menjadi sangat stabil terhadap pemanasan lebih lanjut meskipun dibakar dalam
Bunsen.
Serat poliakrilat yang dipanaskan dalam keadaan kering tidak akan membuat
membuat rantai-rantai molekul putus, namun pada kondisi tersebut dapat
menyebabkan penyusunan kembali molekul-molekul menjadi senyawa lingkar, warna
berubah, ikatan hydrogen lepas, dan timbul gugus-gugus basa. Dari pembentukan
molekul baru juga membuat serat tidak larut dalam pelarut-pelarut yang biasa
digunakan untuk melarutkan serat poliakrilat. Reaksi pembentukan senyawa lingkar
digambarkan dalam berikut:

2.9 Sifat Fisika


Serat poliakrilat bersifat rua/bulky akibat dari sifat ketidakstabilan terhadap panas.
Serat poliakrilat tidak dapat dilakukan set permanen seperti halnya poliester dan nilon.
Hal ini bisa menjadi sebuah keuntungan ataupun kerugian. Ketidakstabilan terhadap
panas dapat merugikan jika serat dilakukan suatu proses basah panas pada kain.
Proses basah tersebut dapat menyebabkan mengkeret dan memberikan stabilitas
dimensi kain jelek. Namun ketidakstabilan tersebut dapat bermanfaat dalam proses
pembuatan benang rua (high bulk acrylic). Benang rua dapat dibentuk dengan
menggabungkan dua serat poliakrilat yang memiliki mengkeret serat berbeda. Serat
pertama biasanya dibuat stabil dengan penguapan (steam) sedangkan serat kedua
tidak diproses penguapan sehingga serat kedua masih dapat mengkeret jika diproses
dalam air panas. Kedua serat tersebut kemudian digabungkan menjadi satu benang.
Pada saat benang di proses pada air mendidih seperti pada proses pencelupan,
benang yang kedua akan mengalami mengkeret hebat dan menarik benang pertama.
Hal itu dapat menyebabkan benang rua.
Sifat fisika serat poliakrilat yang paling penting adalah berat jenis yang kecil yaitu 1.17
dan sifat rua. Pada kondisi standar, RH (Relative Humidity) 65% dan suhu ruangan
21oC, serat poliakrilat memiliki kekuatan tarik 4,2-2,5 g/denier. Pada keadaan basah
kekuatan tark serat poliakrilat sama dengan kondisi standar. Mulur dalam keadaan
standar 20-55% sedangkan dalam keadaan basah 26-72%. Elastisitas serat dengan
penarikan 5-10% adalah 40-58%. Struktur poliakrilat yang rapat menyebabkan serat
ini bersifat hidrofob. MR (Moisture Regain) serat poliakrilat adalah 1,0-2,5%.
Perbandingan sifat-sifat serat poliakrilat disajikan pada tabel dibawah ini.

Penampang melintang filamen berbentuk tulang anjing atau bulat bergantung pada
produsen pembuat serat, sedangkan penampang membujurnya sedikit bergaris.
Gambar penampang melintang dan membujur filamen poliakrilat disajikan pada
gambar dibawah ini.
2.10 Zat Warna

Identifikasi zat warna pada serat umumnya sangat sukar, dan semua
caraidentifikasi yang ada pada umumnya diaksudkan untuk menentukan
golonganzat warna bukan untuk menentukan jenis zat warna dari suatu
golongantertentu. Cara identifikasi zat warna menurut AATCC adalah
cara identifikasi yangdidasarkan pada pemisahan golongan zat warna yang
mungkin ada secarasistematik, untuk menentukan zat warna jenis apa
yang digunakan.
1. Zat warna golongan I
Zat warna yang luntur dalam larutan ammonia atau asam asetat encer
mendidih. Zat warna yang termasuk golongan ini adalah zat warna
asam, basa, direk dan direk dengan pengerjaan iring.
- Zat warna direk
Zat warna direk umumnya adalah senyawa azo yang disulfonasi, zat
warna ini disebut juga zat warna substantif karena mempunyai
afinitas yang besar terhadap selulosa. Beberapa zat warna direk
umumnya mempunyai ketahanan luntur yang kurang baik terhadap
pencucian sedangkan ketahanan terhadap sinar cukup, tidak tahan
oksidasi dan rusak oleh zat pereduksi.

Sifat-sifat umum zat warna direk :

1. Zat warna direk memiliki sifat yang tidak tahan terhadap oksidasi dan
akan merusak oleh reduksi.
2. Zat warna direk memiliki gugus pelarut sulfonat sehingga mudah
larut dalam air.
3. Afinitas zat warna direk terhadap serat tekstil disebabkan adanya
ikatan hydrogen dan ikatan sekunder seperti ikatan Van der Waals.
4. Zat warna direk memiliki nilai ketahanan luntur warna terhadap
gosokan dan pencucian yang rendah.
- Zat warna asam
Zat warna asam mengandung asam-asam mineral atau asam-asam
organic dan dibuat dalam bentuk garam-garam natrium dari asam
organik dengan gugus anion yang merupakan gugus pembawa
warna (kromofor) yang aktif. Struktur kimia zat warna asam
menyerupai zat warna direk merupakan senyawa yang mengandung
gugus sulfonat atau karboksilat sebagai gugus pelarut. Zat warna
asam dapat mencelup serat-serat binatang, poliamida dan poliakrilat
berdasarkan ikatan elektovalen atau ikatan ion.
- Zat warna basa
Zat warna basa adalah zat warna yang mempunyai muatan positif
atau kation. Zat warna basa merupakan suatu garam basa yang
dapat membentuk garam dengan asam. Asam dapat berasal dari
hidroklorida atau oksalat. Zat warna basa mampu mencelup serat-
serat protein sedangkan pada serat poliakrilat yang mempunyai
gugus-gugus asam dalam molekulnya akan berlaku atau bersifat
seperti serat-serat protein terhadap zat warna basa.

2. Zat warna golongan II


Zat warna yang berubah warnanya karena reduksi dengan natrium
hidrosulfit dalam suasana alkali dan warna kembali kewarna semula
oleh oksidasi dengan udara. Zat warna yang termasuk golongan ini
adalah zat warna bejana, belerang, bejana-belerang dan oksidasi.
- Zat warna bejana
Zat warna bejana tidak larut dalam air, oleh karena itu dalam
pencelupannya harus diubah menjadi bentuk leuko yang larut.
Senyawa leuko tersebut memiliki substantifitas terhadap selulosa
sehingga dapat tercelup. Adanya oksidator atau oksigen dari udara,
bentuk leuko yang tercelup dalam serat tersebut akan teroksidasi
kembali kebentuk semula yaitu pigmen zat warna bejana. Senyawa
leuko zat warna golongan indigoida larut dalam alkali lemah
sedangkan golongan antrakwinon hanya larut dalam alkali kuat dan
hanya sedikit berubah warnanya dalam larutan hipoklorit. Umumnya
zat warna turunan indigoida dan karbasol warna hamper hilang
dalam uji hipoklorit dan didalam larutan pereduksi warnanya menjadi
kuning. Ikatan zat warna bejana dengan serat antara lain ikatan
hidrogen dan ikatan sekunder seperti gaya-gaya Van der Waals.
- Zat warna belerang
Zat warna belerang adalah zat warna yang mengandung unsur
belerang sebagai kromofor. Sturktur molekulnya merupakan molekul
yang kompleks dan tidak larut dalam air oleh karena itu dalam
pencelupannya diperlukan reduktor natrium sulfide dan soda abu
untuk melarutkannya. Unutk membentuk zat warna semula maka
perlu proses oksidasi baik dengan udara maupun dengan bantuan
oksidator-oksidator lainnya.
- Zat warna hidron (bejana-belerang)
Zat warna hidron mempunyai sifat-sifat antara zat warna bejana dan
zat warna belerang. Zat warna ini juga mempunyai warna yang
spesifik yaitu berwarna biru. Reduktor yang digunakan adalah
reduktor lemah seperti Na2S dan Na2CO3.
- Zat warna oksidasi
Zat warna oksidasi pada umumnya mengandung senyawa aniline
dalam struktur molekulnya dengan warna hitam aniline. Spesifikasi
zat warna ini selain tahan gosok nya kurang baik yaitu warna yang
berubah menjadi kehijauan apabila tereduksi oleh SO2.

3. Zat warna golongan III


Zat warna golongan III adalah zat warna yang rusak dalam larutan
Natrium Hidrosulfit yang bersifat alkali dan larutan ekstraksinya didalam
air, air-amonia atau asam asetat tidak mencelup kembali serat kapas
putih atau warna tidak kembali kewarna asli setelah oksidasi. Zat warna
yang termasuk dalam golongan ini adalah: zat warna direk dengan
pengerjaan iring logam, zat warna diek dengan pengerjaan iring
formaldehida, zat warna naftol, zat warna azo yang tidak larut dan zat
warna yang diazotasi atau dibangkitkan.
- Zat warna direk dengan iring logam
Zat warna direk pada umumnya mempunyai ketahanan yang kurang
baik terhadap pencucian. Untuk memperbaikinya maka dilakukan
pengerjaan iring yang pada prinsipnya memperbesar molekul zat
warna dalam serat. Sehingga zat warna akan lebih sukar bermigrasi.
Pemgerjaan iring dapat dilakukan dengan penggunaan garam-
garam logam seperti krom, tembaga, cobalt, nikel, besi dan lain-lain.
- Zat warna direk dengan iring formaldehida
Beberapa zat warna direk dikerjakan dengan iring formalidehida
untuk memperbaiki tahan cucinya karena terbentuknya jembatan
metilen antara beberapa zat warna.
- Zat warna naftol
Zat warna naftol merupakan zat warna yang terbentuk dalam serat
pada waktu pencelupan dan merupakan hasil reaksi antara senyawa
naftol dengan garam diazonium (kopling). Sifat dari zat warna naftol
yaitu: tidak larut dalam air, luntur dalam piridin pekat mendidih,
bersifat poligenetik dan monogenetik, karena mengandung gugus
azo maka tidak tahan terhadap reduktor.

4. Zat wana golongan IV


Zat warna yang sukar dilunturkan dalam berbagai pelarut seperti
ammonia, asam asetat dan piridina. Termasuk dalam golongan ini
adalah zat warna pigmen dan reaktif.
- Zat warna pigmen
Zat warna pigmen adalah zat warna yang hanya mengandung
kromofor saja sehingga pada pencelupannya perlu dibantu dengan
zat pengikat yang disebut binder. Unsure-unsur yang terdapat
didalam zat warna pigmen antara lain garam-garam organic, oksida
organic, gugus azo, logam berwarna dan lain-lain. Zat warna ini
luntur dalam dimetil formadida pekat dan dimetil formmida 1:1.
Kecuali untuk zat warna pigmen ftalosianin atau yang berasal dari
zat warna pigmen anorganik.
- Zat warna reaktif
Zat warna reaktif adalah zat warna yang dapat mengadakan reaksi dengan
serat, sehingga zat warna tersebut merupakan bagian dari serat. Oleh
karena itu zat warna ini mempunyai ketahanan cuci yang baik. zat warna ini
baik dibandingkan dengan zat warna direk. Sifat umum dari zat warna
reaktif yaitu: larut dalam air, berikatan kovalen dengan serat, karena
kebanyakan gugusnya azo maka zat warna ini mudah rusak oleh reduktor
kuat dan tidak tahan terhadap oksidator yang mengandung klor (NaOCl).

III. ALAT DAN BAHAN

ALAT :
- Tabung reaksi - Pipet tetes
- Rak tabung reaksi - Pipet ukur
- Batang pengaduk - Kertas saring
- Gelas piala - Sendok
- Pembakar Bunsen - Kertas lakmus
- Kassa
- Kaki tiga

PEREAKSI :

- Amonia 10%
- Natrium klorida
- Asam asetat 10%
- Asam asetat glasial
- Natrium hidrosulfit
- Natrium hidroksida 10%
- Natrium karbonat
- Natrium sulfit
- Asam klorida 16%
- Stannum klorida 10%
- Natrium Hipoklorit 10%
- Timbale asetat
- Paraffin
- Piridina 100%
- DMF 1:1
- DMF 100%
- Asam klorida 1%
- Natrium hidroksida 5%
- Asam sulfat pekat
- Asam sulfat 0,2%

BAHAN :

- Kain yang sudah dicelup


- Kain kapas, wol dan akrilat

IV. CARA KERJA

Uji Zat Warna Golongan 1

A. Zat Warna Direk


- Contoh uji dimasukkan kedalam tabung reaksi.
- Ditambahkan ± 4 ml ammonia 10%.
- Dididihkan sehingga sebagian besar zat warna terekstraksi.
- Contoh uji diambil dari larutan ekstrak zat warna.
 Catatan : sebaiknya larutan ekstraksi dibagi dua satu bagian
untuk uji zw direk dan satu bagian lagi untuk uji zw asam.
- Kapas putih, wol putih dan akrilat putih dimasukkan masing-masing
± 10 mg kemudian ditambahkan 5-10 mg NaCl.
- Dididihkan selama 0,5-1,5 menit kemudian dibiarkan menjadi dingin.
- Kain-kain tersebut diambil dicuci dengan air, diamati warnanya.
- Pencelupan kembali kain kapas lebih tua dibandingkan dengan wol
dan akrilat menunjukkan zw direk.
B. Zat Warna Asam
Apabila dalam uji zw direk terjadi pelunturan warna tetapi tidak
mencelup kembali kain kapas atau hanya menodai dengan warna
yang sangat muda, maka dikerjakan pengujian untuk zw asam.
- Larutan ekstraksi yang diperoleh dari larutan ammonia dinetralkan
dengan asam asetat 10% (diperiksa dengan kertas lakmus atau
kertas pH).
- Ditambahkan lagi lagi ± 1 ml asam asetat 10%.
- Kain-kain kapas, wol dan akrilat dimasukkan lalu dididihkan selama
satu menit.
- Kain-kain tersebut diambil, dicuci dengan air diamati warnanya.
- Pencelupan kembali kain wol putih oleh larutan ekstraksi dalam
suasana asam menunjukkan adanya zw asam.
C. Zat Warna Basa
Apabila dalam uji zw direk tidak terjadi pelunturan atau hanya luntur
sedikit maka dilakukan pengujian zw basa,
- Contoh uji dimasukkan kedalam tabung reaksi.
- Ditambahkan ± 1 ml asam asetat glasial ditambahkan 3-5 ml air
dididihkan sampai terjadi ekstraksi.
- Contoh uji diambil dan hasil ekstraksi dibagi menjadi 2 bagian.
- Kain-kain kapas, wol dan akrilat dimasukkan.
- Dididihkan selama 1-1,5 menit.
- Pencelupan kembali kain akrilat dengan warna tua menunjukkan
adanya zat warna basa.

Uji Zat Warna Golongan 2

- Contoh uji dimasukkan kedalam tabung reaksi.


- Ditambahkan 2-3 ml air, ditambahkan ± 2 ml NaOH 10%, dididihkan
selama 1 menit, ditambahkan Na2S2O4 dididihkan lagi selama 1
menit.
- Contoh uji dikeluarkan diangin-angin atau dioksidasi dengan udara.
- Warna kembali kewarna semula maka menunjukkan zw golongan II.
A. Zat Warna Belerang
- Contoh uji dimasukkan kedalam tabung reaksi.
- Ditambahkan 2-3 ml air natrium karbonat dipanaskan kemudian
dimasukkan Na2S.
- Dipanaskan sampai mendidih selama 1-2 menit.
- Contoh uji diambil, dimasukkan kapas putih dan NaCl didihkan
selama 1-2 menit.
- Kapas tersebut diambil, diletakkan diatas kertas saring atau dicuci
dengan air dibiarkan terkena udara.
- Kain kapas akan tercelup kembali dengan warna yang sama dengan
warna contoh asli tetapi lebih muda.
Uji penentuan 1
- Contoh uji dididihkan dalam 3 ml larutan NaOH 10% kemudian dicuci
bersih (2 kali dengan air mengalir).
- Contoh uji dimasukkan ditambahkan ± 2 ml HCl 16%.
- Dididihkan selama 0,5-1 menit dibiarkan dingin.
- Ditambahkan ± 3 ml SnCl2 10%.
- Kertas timbale asetat diletakkan pada mulut tabung.
- Warna coklat atau hitam pada kertas Pb Ac menunjukkan zw
belerang.
B. Zat Warna Bejana
- Contoh uji dimasukkan ditambahkan ± 2 ml air dan NaOH 10%.
- Dididihkan dan ditambahkan Na2S2O4.
- Dididihkan selama 1 menit.
- Contoh uji diambil dimasukkan kapas putih dan NaCl dididihkan
selama 1-1,5 menit, dibiarkan dingin.
- Kain kapas tersebut diambil diletakkan diatas kertas saring dan
dibiarkan kena udara.
- Kapas tercelup kembali dengan warna contoh asli tetapi lebih muda.
Uji penentuan 1
- Contoh uji dimasukkan kedalam paraffin dalam kui porselen.
- Apabila padata paraffin pada kertas saring berwarna maka
menunjukkan adanya zw bejana.
 Zw belerang tidak mewarnai paraffin.
C. Zat Warna Bejana-Belerang
- Contoh uji dikerjakan seperti pada pengujian zw bejana dan
belerang.
- Kain yang dicelup dengan zw bejana-belerang akan mencelup
kembali kain kapas pada uji bejana dna positif untuk uji belerang.
 Dapat diamati dari hasil uji sebelumnya.
Uji penentuan 1

- Contoh uji dikerjakan seperti penetuan 1 zw belerang.


- Kain yang dicelup dengan zw bejana-belerang akan memberikan
noda coklat atau hitam.

Uji Zat Warna Golongan 3 dan 4

- Contoh uji dimasukkan kedalam tabung reaksi ditambahkan ± 300 ml


air, ± 2 ml NaOH 10% dan Na2S2O4.
- Dipanaskan sampai mendidih selama 3 menit.
- Semua zat warna golongan III akan rusak, ditandai dengan
perubahan warna terhadap contoh uji atau larutan ekstraksi menjadi
putih, abu-abu, kuning atau jingga warna tidak kembali setelah
oksidasi
A. Zat Warna Naftol
- Contoh uji dimasukkan kedalam tabung reaksi.
- Ditambahkan 1-2 ml piridina 100% dididihkan selama ± 1 menit.
- Pewarnaan dalam piridina menunjukkan adanya zw naftol.
Uji penentuan 1
- Contoh uji dimasukkan kedalam tabung reaksi.
- Ditambahkan 1 ml NaOH 1% dalam 3 ml alcohol dididihkan.
- Ditambahkan Na2S2O4 dipanaskan atau dididihkan (warna akan
tereduksi).
- Didinginkan, contoh uji diambil diamati warnanya.
- Warna rusak menunjukkan adanya zat warna naftol atau reaktif
(dengan oksidasi warna akan kembali).
- Kedalam filtrate dimasukkan kapas putih dan NaCl dididihkan
selama 2 menit.
- Kapas berwarna kuning dan berpendar dibawah sinar uv ultra
lembayaung menunjukkan zw naftol.

B. Zat Warna Pigmen


- Contoh uji dimasukkan kedalam 3 ml lartan DMF 1:1.
- Dididihkan selama ± 2 menit diamati warnanya.
- Pengerjaan 1 dan 2 diulangi dengan DMF 100%.
- Pewarnaan muda dalam larutan DMF 1:1 dan pewarnaan tua dalam
DMF 100% menunjukkan adanya zat warna pigmen.
Uji penentuan 1
- Contoh uji dimasukkan kedalam 3 ml larutan HCl 1% dididihkan
selama ± 5 menit.
- Dicuci bersih.
- Diambil seratnya, diamati dibawah mikroskop.
- Bila terdapat partikel-partikel zw pada permukaanm serat
menunjukkan zw pigmen dengan zat pengikat.
- Bila partikel warna terdapat diseluruh serat menunjukkan zat warna
pigmen dengan pencelupan polimer.
C. Zat Warna Reaktif
- Contoh uji dimasukkan kedalam 3 ml larutan DMF 1:1 dididihkan
selama 2 menit.
- Pengerjaan 1 diulangi dalam 3 ml larutan DMF 100%.
- Damati warna kedua larutan ekstraksinya.
- Ekstraksi DMF 1:1 akan terwarnai sangat muda.
- Ektraksi DMF 100% tidak terwarnai menunjukkan zw reaktif.
Uji penentuan 1
- Contoh uji dimasukkan kedalam tabung reaksi, ditambahkan 3 ml
larutan NaOH 5%.
- Dididihkan selama 2 menit.
- Diasamkan dengan larutan H2SO4 pekat (± 2- 3 tetes).
- Dimasukkan serat wol dididihkan.
Pewarnaan pada serat wol menunjukkan zw reaktif.

V. DATA PERCOBAAN
Terlampir
VI. DISKUSI
ZAT WARNA GOLONGAN I

Zat warna golongan I adalah zat warna yang luntur pada larutan amonia
dan asam asetat pada suhu yang mendidih. Zat warna pada golongan satu adalah
zat warna asam, basa, direk dan direk dalam pengerjaan iring

 Zw direk
Pada pengerjaan praktikum ini diberi 3 lembar kain selulosa yang
telah dicelup dengan menggunakan zat warna golongan I. Pada
tahan ini adalah menentukan zat warna apakah yang digunakan
untuk mencelup kain selulosa tersebut. Pada pengujian zat warna
direk, contoh uji dilarutkan dalam amonia 10% kemudian dipanaskan
dan lunturannya dibagi dua untuk pengujian zat warna direk dan zat
warna asam. Pada uji zat warna direk, lunturan ditambah dengan
NaCl dan dimasukkan kapas putih, wool, dan akrilat kedalamnya
kemudian dipanaskan lagi. Penggunaan zat warna direk ditunjukkan
oleh pencelupan dengan warna tua pada kain kapas putih. Zat warna
direk dapat dipakai mencelup serat kapas kaena dapat berikatan
dengan gugus hidroksil dari selulosa dengan ikatan hidrogen.
Kekuatan ikatan hidrogen umumnya tidak terlalu kuat, dapat putus
dalam suhu tinggi, oleh karenanya tahan luntur hasil pencelupan zat
warna direk sangat rendah terutama dalam pencucian panas.
 Zw asam
Pada pengerjaan praktikum zw basa ini apabila dalm pengujian zw
terjadi pelunturan dan wananya tidak kembali, kain kapasnya hanya
dengan menodai warna yang sangat muda maka lakukan pada tahap
pengerjaan zw asam. Pada zw asam ini mengandung asam-sam
mineral atau organik, dalam bentuk garam-garam natrium dari asam
organik dengan gugus anion , atau yang gugus yang merupakan
gugus pembawa warna (kromofor). Zw asam dapat mencelup serat-
searat bintang, poliamida, dan poliakrilat berdasarkan ikatan
elektrovalen atau ikatan ion.
 Zw basa
Pada tahapan pengujian zw basa ini Dalam bentuk basa, zat warna
basa termasuk zat warna yang tidak larut, tetapi dalam larutan yang
bersifat asam zat warna akan berubah menjadi bentuk garam yang
mudah larut. Zw basa ini dapat mencelup serat-serat protein
sedangkan pada poliakrilat yang mempunyai gugus asam dalam
molekulnya akan berlaku sifat seperti serat-serat protein pada zw
basa.
ZAT WARNA GOLONGAN II
Zaw warna pada golongan II zat waran yang berubah karena tereduksi
dengan natrium hidrosulfit dalam suasana alkalin dan warna kembali kewarn a
semula (warna aslinya) oleh okisadasi udara, zat waran pada golongan ini
diantaranya: zw bejana, belerang, bejana belerang dan oksidasi.
 Zat warna belerang adalah zw yang mengandung unsur belerang
sebagai kromofor. Struktur molekul zat warna belerang merupakan
struktur yang tidak larut dalam air. Struktur dari dari molekulnya itu
merupakam molekul yang komplek dan tidal larut dalam air, maka
dari itu dalam pemcelupan ini harus memerlukan reduktor natrium
sulfida dan soda abu untuk melarutkanya. Dalam pembentukan zw
semula maka di perlukan peroses oksidasi baik dengan udara
maupun denagan bantuan oksidatro lainya.
 Zw bejana
Zw ini merupakan zw yang tidak larut dalam air,oleh karena itu
pencelupanya tidak berubah. Suatu reduktor dapat membantu senyawa
untuk di bejana kan. Artinya dirubah menjadi bentuk leuco, yakni bentuk
zat warna bejana yang tereduksi yang akan larut dalam larutan alkali.
Senyawa leuco memiliki substantivitas terhadap selulosa, sehingga dapat
mencelupnya. Penambahan NaOH yang berfungsi untuk melarutkan
leuco zat warna bejana dan untuk merubah asam leuco yang tidak
larut menjadi garam leuco yang larut. Dipanaskan agar proses
berlangsung dengan
ZAT WARNA GOLONGAN 3 DAN 4
Zw warna warana ini adalah zw yang rusak oleh reduksi dengan natrium
hidrosulfit dalam suasana alkali dan larutan ekstaraksinya amonio atau asetat
tidak mencelup kain kembali kain kapas putih, zat warna golongan ini adalah
zw direk dengan kerja iring formaldehida, direk di asotasi dan di bangkitkan
dengan naftoat. Zw golongan 4 adalah zw yang tidak luntur dalam pelarut
organik dimetilformamida 1:1 dimetil formamida 100 %, golongan ini termasuk
golongan ini adalah zw pigmen dan reaktif.
 Naftol
Zat warna naftol adalah zat warna azo yang pembuatannya simultan
dengan pencelupan, artinya naftol itu bukan zat warnanya.
Komponen utama dalam zat warna naftol adalah Naftol dan Garam
Diazonium. Naftol tidak larut dalam air, untuk penaftolan harus
diubah menjadi naftolat dengan menambahkan NaOH. Zw ini
merupakan zw yang terbentuk dalam serat pada waktu pencelupan
dan merupakam hasil reaksi antar senyawa naftol dengan garam
diazonium. Kapas yang digunakan dalam percobaan ini yaitu kapas
nafthol, yang apabila disinari uv berpendar maka positif nafthol.
Pengujian pada lelehan paraffin menunjukkan hal positif yaitu
paraffin terwarnai namun warna akan hilang karena sangat mudah
tereduksi (temporer).
Zat warna golongan IV adalah zat warna yang luntur dalam pelarut organik
DMF 1:1 dan DMF 100%.
 Pigmen
Zat warna pigmen berupa kromogen zat warna yang tidak
mempunyai gugus yang dapat berikatan dengan serat. Pada proses
pencapan perlu dibantu dengan binder untuk pengikat antara serat
dan zat warna, sehingga tahan lunturnya tergantung kekuatan
lapisan binder terhadap zat warnanya. Untuk uji pertama zat warna
dilarutkan dengan DMF 100% dan DMF 1:1, pada DMF 1:1
menunjukkan warna muda sedangkan pada DMF 100%
menunjukkan warna tua. Kemudian dilakukan uji penentuan dengan
mikroskop, karena zat warna pigmen hanya berada di permukaan
serat maka saat pengamatan dengan menggunakan mikroskop
partikel-partikel zat warna pigmen berada dipermukaan serat, seperti
bergerombol. Kemudian dilakukan pengujian 2 untuk zat warna
pigmen yang berwarna biru dengan asam nitrat pekat menunjukkan
warna violet dan dengan asam sulfat pekat menunjukkan warna
hijau.
 Reaktif
Zw reaktif ini merupakan zw yang dapat mengadakan dengan reaksi
dengan sera. Zw ini mempunyai berat molekul yang kecil oleh karen
itu klianya lebii baik di bandingkan zw direk. Pengujian zat warna
reaktif menggunakan DMF 1:1 yang akan menunjukkan warna muda
sedangkan dengan DMF 100% tidak berwarna. Dilakukan uji
penentuan yaitu dengan mencelup wol dalam suasana asam karena
pada zat warna reaktif pada wol dengan suasana asam akan
menghasilkan warna yang lebih tua dibandingkan dengan serat
kapas. Zat warna reaktif rusak di NaOCl 5%.

VII. SIMPULAN

Dari hasil semua praktikum kali ini dapat di simpulkan


Zw golongan I
 Sampel kain no 60 adalah zw direk
 Sampel kain no 36 adalah zw asam
 Sampel kain no 77 adalah zw basa

Zw golongan II

 Sampel kain no 59 adalah zw belerang


 Sampel kain no 47 adalah zw bejana

Zw golongan 3 dan 4

 Sampel no 75 adalah zw warna reaktif


 Sampel no 52 adalah zw pigmen
 Sampel no 36 adalah zw naftol
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Ir. Rasyid Djufri, dkk. Teknologi Pengelantangan, Pencelupan dan
Pencapan.Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung. 1976.
Moerdoko,Wibowo, dkk. Evaluasi Tekstil Bagian Kimia. 1975. Bandung :
Institut Teknologi Tekstil.
LAPORAN
PRAKTIKUM PENGUJIAN DAN EVALUASI SERAT TEKSTI II
SELULOSA GOLONGAN I, SELULOSA GOLONGAN II, SELULOSA GOLONGAN III
dan IV
Oleh

Nama : Hilmi Firmansyah

NPM : 1620059

Dosen : Khairul U., S. ST. M.T

Assisten : Kurniawan,S.T.,MT.

Samuel M.,S.ST.

PROGRAM STUDY KIMIA TEKSTIL

POLITEKNIK SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL BANDUNG

2017