Anda di halaman 1dari 29

Gambaran pengetahuan dan sikap Lansia terhadap

Program Posyandu Lansia di Wilayah kerja Puskesmas


Rumbai Pesisir bulan September 2019

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Hasil Proyeksi Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah penduduk


Indonesia pada tahun 2014 sebanyak 252.164 ribu orang. Penduduk laki-laki sebanyak
126.715 ribu orang, sedangkan penduduk perempuan sebanyak 125.449 ribu orang. Jumlah
tersebut terdiri dari berbagai jenis komponen baik dari pendidikan, gender, pekerjaan, usia,
latar belakang sosial dan budaya. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk berdasarkan usia
salah satunya yaitu penduduk dengan usia lanjut. Lansia di Indonesia pada tahun 2014
sebesar 8,2 %. Penduduk lansia terbesar terdapat di Pulau Jawa 9,4 %, kemudian
berturutturut Bali dan Nusa Tenggara 8,3 %, Sulawesi 7,9 %, Sumatera 6,5 %, Kalimantan
5,8 % serta Maluku dan Papua 4,2 %. Sedangkan tiga provinsi dengan penduduk lansia
terbesar adalah Yogyakarta 13,2 %, Jawa Tengah 11,4 % dan Jawa Timur 11,2 %,
sedangkan yang terkecil adalah Papua 2,7 %, Papua Barat 3,8 % dan Kepulauan Riau 3,8 %.
1

Menurut WHO mendifinisikan lanjut usia yang selanjutnya kita sebut sebagai lansia
yaitu seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas, baik pria maupun wanita. Lanjut
usia adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap
dalam jangka waktu tertentu. Meningkatnya jumlah dan proporsi kelompok penduduk usia
lanjut yang disebabkan oleh transisi demografik serta semakin tingginya rata-rata harapan
hidup. Namun hal tersebut juga berpadu dengan memudarnya nilai-nilai. kekeluargaan serta
meningkatnya tuntutan kegiatan untuk usia yang masih produktif sehingga lanjut usia tidak
mendapat perhatian dari orang-orang terdekat seperti keluarga yang mengakibatkan
keterlantaran penduduk usia lanjut. Penelantaran tersebut dikarenakan perubahan yang
terjadi pada lanjut usia sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhannya dan menjadi
ketergantungan kepada orang lain. Penelantaran pada lanjut usia dapat mengakibatkan
masalah pada kesehatan mentalnya seperti mengalami depresi. Dibutuhkan dukungan dari

1
berbagai pihak terutama keluarga, teman-teman, masyarakat dan pemerintah agar dapat
menerima dan terbiasa akan perubahan-perubahan yang terjadi.2
Dalam rangka ikut berpatisipasi untuk meningkatkan jumlah kunjungan lansia di
posyandu wilayah kerja puskesmas kemudian penulis juga melakukan penyuluhan mengenai
pengetahuan dan pemanfaatan posyandu lansia di wilayah kerja puskesmas Rumbai dalam
sebuah mini project.
1.2 Tujuan Penelitian
1. 2. 1 Tujuan Umum
Meningkatkan kualitas pengetahuan dan pemanfaatan program posyandu lansia di
wilayah kerja puskesmas Rumbai Pesisir.
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui tingkat pemahaman , sikap, dan perilaku masyarakat terhadap
posyandu lansia .
2. Meningkatkan kesadaran lansia akan pentingnya kunjungan posyandu lansia
1.3 Manfaat Penelitian
1.3.1 Manfaat Bagi Penulis
1. Meningkatkan kemampuan komunikasi , informasi, dan edukasi
2. Menyegarkan kembali pengetahuan mengenai posyandu lansia
1.3.2 Manfaat Bagi Masyarakat
1. Mendapat Pengetahuan dan informasi mengenai pengetahuan tentang posyandu
lansia

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Posyandu Lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut disuatu
wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana
mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Posyandu lansia merupakan
pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang
penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para
lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.3
Posyandu juga merupakan wadah kegiatan berbasis masyarakat untuk bersama-sama
menghimpun seluruh kekuatan dan kemampuan masyarakat untuk melaksanakan,
memberikan serta memperoleh informasi dan pelayanan sesuai kebutuhan dalam upaya
peningkatan status gizi masyarakat secara umum.

2.2. Tujuan Posyandu Lansia


Tujuan Posyandu Lansia secara garis besar adalah
1. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia dimasyarakat, sehingga
terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia.
2. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta
dalam pelayanan kesehatan, disamping meningkatkan komunikasi antara
masyarakat usia lanjut.

2.3 Manfaat Posyandu Lansia


Manfaat dari posyandu lansia adalah pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang
menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka
untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia sehingga lebih percaya diri dihari
tuanya.

2.4 Sasaran Posyandu Lansia


Sasaran posyandu lansia adalah :
1. Sasaran langsung, yaitu kelompok pra usia lanjut (45-59 tahun), kelompok usia
lanjut (60 tahun ke atas), dan kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (70 tahun
ke atas).

3
2. Sasaran tidak langsung, yaitu keluarga dimana lansia berada, organisasi sosial yang
bergerak dalam pembinaan usia lanjut, masyarakat luas.

2.5 Kegiatan Posyandu Lansia


Bentuk pelayanan pada posyandu lansia meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan
mental emosional, yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk
mengetahui lebih awal penyakit yang diderita atau ancaman masalah kesehatan yang
dialami.4 Beberapa kegiatan pada posyandu lansia adalah :
1. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi
badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).
2. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta
penghitungan denyut nadi selama satu menit.
3. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula
(diabetes melitus).
4. Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal
adanya penyakit ginjal.
5. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan
kelainan pada pemeriksaan butir-butir diatas.
6. Penyuluhan Kesehatan, biasa dilakukan didalam atau diluar kelompok dalam rangka
kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan masalah
kesehatan yang dihadapi oleh individu dan kelompok usia lanjut.
Selain itu banyak juga posyandu lansia yang mengadakan kegiatan tambahan seperti
senam lansia, pengajian, membuat kerajinan ataupun kegiatan silahturahmi antar lansia.
Kegiatan seperti ini tergantung dari kreasi kader posyandu yang bertujuan untuk
membuat lansia beraktivitas kembali dan berdisiplin diri.

2.6 Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia


Mekanisme pelayanan Posyandu Lansia tentu saja berbeda dengan posyandu balita pada
umumnya. Mekanisme pelayanan ini tergantung pada mekanisme dan kebijakan
pelayanan kesehatan di suatu wilayah penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan
posyandu lansia ini dengan sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada pula yang hanya 3
meja.5
1. Meja I : Pendaftaran

4
Mendaftarkan lansia, kemudian kader mencatat lansia tersebut. Lansia yang sudah
terdaftar di buku register langsung menuju meja selanjutnya.
2. Meja II
Kader melakukan pengukuran tinggi badan, berat badan dan tekanan darah
3. Meja III : Pencatatan (Pengisian Kartu Menuju Sehat)
Kader melakukan pencatatan di KMS lansia meliputi : Indeks Massa Tubuh,
tekanan darah, berat badan, tinggi badan.
4. Meja IV : Penyuluhan
Penyuluhan kesehatan perorangan berdasarkan KMS dan pemberian makanan
tambahan.
5. Meja V : Pelayanan medis
Pelayanan oleh tenaga professional yaitu petugas dari Puskesmas/kesehatan
meliputi kegiatan : pemeriksaan dan pengobatan ringan.

2.7 Masalah Kesehatan pada Lansia


Masalah kesehatan pada lansia tentu saja berbeda dengan jenjang umur yang lain karena
penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang timbul akibat
penyakit dan proses menua yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti sel serta mempertahankan
struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan
memperbaiki kerusakan yang diderita.6
Dr. Purma Siburian Sp.PD, pemerhati masalah kesehatan pada lansia menyatakan bahwa
ada 14 yang menjadi masalah kesehatan pada lansia, yaitu :
1. Immobility (kurang bergerak), dimana meliputi gangguan fisik, jiwa dan faktor
lingkungan sehingga dapat menyebabkan lansia kurang bergerak. Keadaan ini dapat
disebabkan oleh gangguan tulang, sendi dan otot, gangguan saraf dan penyakit
jantung.
2. Instability (tidak stabil/ mudah jatuh), dapat disebabkan oleh faktor intrinsik (yang
berkaitan dengan tubuh penderita), baik karena proses menua, penyakit maupun
ekstrinsik (yang berasal dari luar tubuh) seperti obat-obatan tertentu dan faktor
lingkungan. Akibatnya akan timbul rasa sakit, cedera, patah tulang yang akan
membatasi pergerakan. Keadaan ini akan menyebabkan gangguan psikologik
berupa hilangnya harga diri dan perasaan takut akan terjadi.

5
3. Incontinence (buang air) yaitu keluarnya air seni tanpa disadari dan frekuensinya
sering. Meskipun keadaan ini normal pada lansia tetapi sebenarnya tidak
dikehendaki oleh lansia dan keluarganya. Hal ini akan membuat lansia mengurangi
minum untuk mengurangi keluhan tersebut, sehingga dapat menyebabkan
kekurangan cairan.
4. Intellectual Impairment (gangguan intelektual/ dementia), merupakan kumpulan
gejala klinik yang meliputi gangguan fungsi intelektual dan ingatan yang cukup
berat sehingga menyebabkan terganggunya aktivitas kehidupan sehari-hari.
5. Infection (infeksi), merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada
lansia, karena sering didapati juga dengan gejala tidak khas bahkan asimtomatik
yang menyebabkan keterlambatan diagnosis dan pengobatan.
6. Impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalencence, skin
integrity (gangguan panca indera, komunikasi, penyembuhan dan kulit), merupakan
akibat dari proses menua dimana semua panca indera berkurang fungsinya,
demikian juga pada otak, saraf dan otot-otot yang dipergunakan untuk berbicara,
sedangkan kulit menjadi lebih kering, rapuh dan mudah rusak dengan trauma yang
minimal.
7. Impaction (konstipasi=sulit buang air besar), sebagai akibat dari kurangnya
gerakan, makanan yang kurang mengandung serat, kurang minum, dan lainnya.
8. Isolation (depresi), akibat perubahan sosial, bertambahnya penyakit dan
berkurangnya kemandirian sosial. Pada lansia, depresi yang muncul adalah depresi
yang terselubung, dimana yang menonjol hanya gangguan fisik saja seperti sakit
kepala, jantung berdebar-debar, nyeri pinggang, gangguan pecernaan, dan lain-lain.
9. Inanition (kurang gizi), dapat disebabkan karena perubahan lingkungan maupun
kondisi kesehatan. Faktor lingkungan dapat berupa ketidaktahuan untuk memilih
makanan yang bergizi, isolasi sosial (terasing dari masyarakat), terutama karena
kemiskinan, gangguan panca indera; sedangkan faktor kesehatan berupa penyakit
fisik, mental, gangguan tidur, obat-obatan, dan lainnya.
10. Impecunity (tidak punya uang), semakin bertambahnya usia, maka kemampuan
tubuh untuk menyelesaikan suatu pekerjaan akan semaki berkurang, sehingga jika
tidak dapat bekerja maka tidak akan mempunyai penghasilan.
11. Iatrogenesis (penyakit akibat obat-obatan), sering dijumpai pada lansia yang
mempunyai riwayat penyakit dan membutuhkan pengobatan dalam waktu yang

6
lama, jika tanpa pengawasan dokter maka akan menyebabkan timbulnya penyakit
akibat obat-obatan.
12. Insomnia (gangguan tidur), sering dilaporkan oleh lansia, dimana mereka
mengalami sulit untuk masuk dalam proses tidur, tidur tidak nyenyak dan mudah
terbangun, tidur dengan banyak mimpi, jika terbangun susah tidur kembali,
terbangun dini hari-lesu setelah bangun di pagi hari.
13. Immune deficiency (daya tahan tubuh menurun), merupakan salah satu akibat dari
proses menua, meskipun terkadang dapat pula sebagai akibat dari penyakit
menahun, kurang gizi dan lainnya.
14. Impotence (impotensi), merupakan ketidakmampuan untuk mencapai dan atau
mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan senggama yang memuaskan
yang terjadi paling sedikit 3 (tiga) bulan. Hal ini disebabkan karena terjadi
hambatan aliran darah ke dalam alat kelamin sebagai adanya kekakuan pada dinding
pembuluh darah, baik karena proses menua atau penyakit.
Data penyakit lansia di Indonesia (umumnya pada lansia berusia lebih dari 55 tahun)
adalah sebagai berikut:
1. Penyakit Cardiovascular
2. Penyakit otot dan persendian
3. Bronchitis, asma dan penyakit respirasi lainnya
4. Penyakit pada mulut, gigi dan saluran cerna
5. Penyakit syaraf
6. Infeksi kulit
7. Malaria

2.8 Kader Posyandu


Kader posyandu, menurut Departemen Kesehatan RI (2006) adalah seseorang atau tim
sebagai pelaksana posyandu yang berasal dari dan dipilih oleh masyarakat setempat
yang memenuhi ketentuan dan diberikan tugas serta tanggung jawab untuk
pelaksanakan, pemantauan, dan memfasilitasi kegiatan lainnya.7

2.9 Penilaian Keberhasilam Upaya Pembinaan Lansia melalui Posyandu Lansia


Menurut Henniwati (2008), penilaian keberhasilan pembinaan lansia melalui kegiatan
pelayanan kesehatan di posyandu, dilakukan dengan menggunakan data pencatatan,
pelaporan, pengamatan khusus dan penelitian. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari :

7
1. Meningkatnya sosialisasi masyarakat lansia dengan berkembangnya jumlah orang
masyarakat lansia dengan berbagai aktivitas pengembangannya
2. Berkembangnya jumlah lembaga pemerintah atau swasta yang memberikan
pelayanan kesehatan bagi lansia
3. Berkembangnya jenis pelayanan konseling pada lembaga
4. Berkembangnya jangkauan pelayanan kesehatan bagi lansia
5. Penurunan daya kesakitan dan kematian akibat penyakit pada lansia

2.10 Permasalahan pada Posyandu Lansia


Kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraan posyandu lansia, antara lain:
1. Umumnya lansia tidak mengetahui keberadaan dan manfaat dari posyandu lansia.
2. Jarak rumah dengan lokasi posyandu lansia jauh atau sulit dijangkau. Jarak posyandu
yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus
mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau
kekuatan fisik tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini
berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia.
3. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk
datang ke posyandu lansia. Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong
minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga
bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk
mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika lupa
jadwal posyandu, dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama
lansia.
4. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu. Penilaian pribadi atau sikap
yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia
untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan sikap yang baik tersebut, lansia
cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu
lansia. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan
untuk bereaksi terhadap suatu obyek. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial
untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus
yang menghendaki adanya suatu respons.
5. Kader Posyandu Lansia. Wahyuna (2008) melakukan penelitian kader di Posyandu
Lansia wilayah kerja Puskesmas Ngawi. Kader-kader tersebut hanya bertugas
mencatat dan mengurusi masalah konsumsi saja, selain itu kader juga bekerja

8
tergantung perintah petugas kesehatan tanpa ada pelatihan lebih lanjut sehingga
peran kader dalam kegiatan tersebut belum optimal.8
Kader juga harus mampu berkomunikasi dengan efektif, baik dengan individu
atau kelompok maupun masyarakat, kader juga harus dapat membina kerjasama
dengan semua pihak yang terkait dengan pelaksanaan posyandu, serta untuk
memantau pertumbuhan dan perkembangan lansia pada hari buka posyandu yaitu
pendaftaran, penimbangan, pencatatn/ pengisian KRS, penyuluhan dan pelayanan
kesehatan sesuai kewenangannya dan pemberian PMT, serta dapat melakukan
rujukan jika diperlukan.
Untuk meningkatkan citra diri kader, maka harus dipehatikan dalam hal sebagai
berikut:
a. Meningkatkan kualitas diri sebagai seorang yang dianggap masyarakat, yang
dapat memberi informasi terkini tentang kesehatan
b. Melengkapi diri dengan keterampilan yang memadai dalam pelayanan di
Posyandu
c. Membuat kesan pertama yang baik dan memperhatikan citra yang positif
d. Menetapkan dan memutuskan perhatian secara cermat pada kebutuhan
masyarakat
e. Menampilkan diri sebagai bagian dari anggota masyarakat itu sendiri
f. Mendorong keinginan masyarakat untuk datang ke Posyandu

9
BAB III

METODOLOGI

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan metode Experimental dengan rancangan one

group pretest-posttest design, yaitu dengan cara, sample terlebih dahulu

diberikan borang kuesioner mengenai posyandu lansia, kemudian sample

diberikan perlakuan dan dilanjutkan dengan mengisi borang posttest dengan

pertanyaan yang sama. Teknik pengambilan sampel dengan cara total

sampling. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Rumbai Pesisir

pada bulan September 2019. Dengan rancangan sebagai berikut:

P1 X P2

Gambar 1. Pola Rancangan One Group Pre-test dan Post-test Design

Keterangan:

P1 : Pengetahuan dan perilaku pencegahan sebelum pemberian pendidikan

kesehatan

X : Perlakuan (pendidikan kesehatan).

P2 : Pengetahuan dan perilaku pencegahan setelah pemberian pendidikan

kesehatan.

3.2 Waktu dan Tempat Mini Project

Mini project ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Rumbai Pesisir pada Bulan
September 2019

10
3.3. Populasi dan sampel

3.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang hadir di posyandu lansia di
wilayah kerja Puskesmas Rumbai Pesisir periode bulan September tahun 2019.

3.3.2. Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan
dianggap mewakili seluruh populasi.9 Jumlah sampel minimal untuk penelitian ini
menurut rumus Slovin adalah:10

(Dahlan, 2010) adalah:

N
n=
1+N (d2)

19
n=
1+19 (0,052)

19
n=
1+19 (0,0025)

19
n=
1+0,0475

19
n=
1,0475

n = 18,14

Keterangan:

n : Jumlah Sampel

N : Jumlah Populasi

d : Taraf kesalahan (0.05)

11
Jumlah sampel minimal untuk penelitian ini adalah 18,14 atau dibulatkan menjadi

18, namun teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini

adalah total sampling yaitu pengambilan sampel yang mencakup semua anggota

populasi. Alasan ini dilakukan karena apabila jumlah populasi kurang dari 100,

maka seluruhnya perlu dijadikan sampel.11

3.4. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

3.4.1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek

atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.11 Variabel dalam

penelitian ini yaitu:

1. Variabel independen: disebut sebagai variabel bebas. Dalam penelitian ini

yang merupakan variabel bebas adalah tingkat pengetahuan dan sikap

lansia terhadap Posyandu Lansia.

2. Variabel dependen: disebut sebagai variabel terikat. Dalam penelitian ini

yang merupakan variabel dependen adalah Program Posyandu lansia.

3.4.2. Definisi Operasional


Definisi operasional dari penelitian ini antara lain sebagai berikut:

Tabel 3.1. Definisi Operasional


No. Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala

1. Program Program Posyandu Lansia


Posyandu adalah suatu kegiatan yang
lansia dilakukan oleh Puskesmas
sesuai dengan program
pemerintah dalam upaya
memberikan informasi dan
pelayanan sesuai
kebutuhan lansia dalam
upaya peningkatan status
gizi masyarakat secara
umum.

12
2. Pengetahuan Penilaian pengetahuan Kuisioner Baik skor 8-10
Lansia mengenai yang terdiri
Sedang 5-7
kegiatan, program serta dari, identitas
manfaat dari Posyandu diri dan 10 Buruk 1-4 Ordinal
Lansia yang diadakan pertanyaan
oleh Puskesmas Rumbai dengan 4
Pesisir. opsional
kuisioner.

3. Sikap Lansia Suatu pemikiran, Kuisioner 1.Sangat Ordinal


kecenderungan perasaan yang terdiri setuju
Lansia mengenai dari, identitas 2. Setuju
kegiatan, program serta diri dan 10 3. Tidak
pertanyaan setuju
manfaat dari Posyandu
mengenai 4. Sangat
Lansia yang diadakan
tidak
oleh Puskesmas Rumbai sikap Lansia
setuju
Pesisir. dengan 4
pilihan sikap.

13
3.5. Teknik Pengumpulan Data

Data primer adalah data yang langsung diambil dari responden dengan cara
memberikan borang pertanyaan yang diisi oleh responden sebelum dan setelah
mendapat pengetahuan serta penyuluhan mengenai Posyandu.

Terdapat dua aspek yang dinilai dalam penelitian, yaitu mengena gambaran
pengetahuan dan sikap terhadap Posyandu Lansia.

Tabel 3.2 Skor gambaran pengetahuan terhadap Posyandu Lansia

Nilai Skor
Baik 8-10
Cukup 5-7
Kurang 0-4

Sedangkan penilaian terhadap aspek Sikap ditentukan secara subjektif, yaitu


Lansia diminta untuk mencentrang pada kolom sikap yang terdiri dari;
sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju, mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan Posyandu Lansia.

3.6. Kuesioner Penelitian Gambaran pengetahuan dan sikap terhadap


Program Posyandu Lansia di Wilayah kerja Puskesmas Rumbai
Pesisir bulan September 2019

Untuk mendapatkan gambaran mengenai Pengetahuan dan sikap Sample


terhadap pemanfaatan Posyandu Lansia di Wilayah kerja Puskesmas Rumbai
Pesisir, sample akan dimintakan untuk mengisi kuesioner Pre dan Post
pemberian perlakuan yaitu berupa, penyuluhan mengenai Posyandu Lansia.

14
3.6.1. Daftar pertanyaan Pengetahuan Lansia Tentang Posyandu Lansia

1. Apakah yang dimaksud dengan posyandu lansia ?


a. Tempat pengobatan untuk lansia
b. Pembinaan kesehatan lansia dalam meningkatkan kesehatan, kemampuan untuk
mandiri,produktif dan berperan aktif yang dilakukan setiap bulannya.
c. Tempat berkumpul para lansia

2. Apakah manfaat dari posyandu lansia ?


a. Untuk meningkatkan kesehatan, kemampuan untuk mandiri produktif dan
berperan aktif.
b. Untuk mendapatkan pengobatan secara gratis.
c. Untuk mencari teman sebaya

3. Apakah jenis kegiatan yang ada di posyandu lansia ?


a. Pemeriksaan kesehatan, penyuluhan kesehatan, pemberian makanan tambahan,
olah raga.
b. Pencatatan Kartu Menuju Sehat (KMS) lansia.
c. Senam lansia

4. Untuk apa dilakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan pada
saat Bapak/ Ibu di posyandu lansia ?
a. Untuk pemeriksaan status gizi.

b. Untuk pencatatan petugas puskesmas.


c. Untuk mengetahui penyakit yang diderita lansia
5. Untuk apa dilakukan pengukuran tekanan darah di posyadu lansia ?
a. Untuk mengetahui status kesehatan lansia.
b. Untuk data pelengkap bagi petugas kesehatan.
c. Untuk pemeriksaan status gizi lansia

6. Pemberian makanan tambahan yang bagaimana yang sesuai untuk dikonsumsi oleh
lansia ?
a. Jenis makanan yang memperhatikan aspek kesehatan dan gizi untuk lansia.
b. Jenis makanan yang enak dan murah
c. Jenis makanan siap saji

7. Jenis makanan tambahan seperti apa yang sebaiknya diberikan di posyandu lansia ?
a. Lunak.
b. Padat/keras
c. Cair

15
8. Apa manfaat dari jenis kegiatan dalam bentuk olah raga yang dilakukan di posyandu
lansia ?
a. Untuk meningkatkan kebugaran.
b. Untuk kekompakkan antar lansia lainnya.
c. Untuk menurunkan berat badan lansia

9. Untuk apa dilakukan penyuluhan kesehatan di posyandu lansia ?


a. Untuk memberikan komunikasi, informasi, dan edukatif pada lansia.
b. Untuk mendengarkan petugas kesehatan dalam menyampaikan program kerja
puskesmas
c. Sekedar memberikan informasi

10. Untuk apa buku KMS lansia diisi setiap bulannya ?


a. Untuk mengetahui perkembangan kesehatan pribadi lansia
b. Untuk data pelengkap bagi petugas kesehatan
c. Untuk mengisi biodata lansia

3.6.2. Daftar pertanyaan Sikap Lansia terhadap Posyandu Lansia

Beritlah Tanda Ceklis (√) pada kolom jawaban Pernyataan Bapak/Ibu yang
benarTentang Posyandu Lansia pada pertanyaan di bawah ini.

Jawaban

Sangat
Sangat Tidak
No Pernyataan Setuju Tidak
Setuju Setuju
Setuju
1 Bersedia untuk menghadiri posyandu lansia
setiap bulannya.
2 Kegiatan posyandu lansia bermanfaat dalam
menjaga kesehatan
3 kegiatan yang di lakukan di posyandu lansia
berupa penyuluhan kesehatan.
4 Kesedian menghadiri kegiatan yang
dilakukan di posyandu lansia berupa
penimbangan berat badan.
5 Kesedian mengikuti kegiatan yang dilakukan
di posyandu lansia berupa pengukuran tinggi
badan

16
6 Kesedian mengikuti kegiatan yang dilakukan
di posyandu lansia berupa pengukuran
tekanan darah.
7 Kegiatan yang dilakukan di posyandu lansian
berupa olah raga ringan.
8 Menerima makanan tambahan yang di
berikan oleh tenaga kesehatan di posyandu
lansia.
9 Menerima buku KMS (Kartu Menuju Sehat)
oleh petugas posyandu lansia.
10 Kesediankeluarga lansia ikutserta dalam
setiap kegiatan posyandu lansia.

17
BAB IV

HASIL

4.1 Data Geografis dan Demografik

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Rumbai Pesisir pada tahun


2017 adalah 34.994 jiwa. Jumlah Laki-laki 17.958 jiwa, jumlah perempuan adalah
17036 jiwa, sehingga sex ratio laki-laki / perempuan 1,05.
Kepadatan penduduk di wilayah Puskesmas Rumbai Pesisir adalah 448.758
jiwa/km2 dan rata-rata anggota perkepala keluarga 4 jiwa. Kepadatan penduduk ini
bervariasi untuk setiap kelurahan, dimana yang terpadat adalah Kelurahan Meranti
Pandak 15.980 jiwa/km2.

Tabel 4. 2 JUMLAH PASIEN POSYANDU LANSIA DI WILAYAH KERJA


PUSKESMAS RUMBAI PESISIR

No Nama Desa Laki-Laki Perempuan

1 Meranti Pandak 10 46
2 Limbungan 8 35
3 Tebing Tinggi Okura 18 63
4 Sei. Ukai 8 52
TOTAL 44 196

4.2 Hasil Penelitian

Media yang digunakan untuk mengindentifikasi gambaran pengetahuan dan


sikap terhadap pemanfaatan posyandu lansia di wilayah kerja puskesmas Rumbai
Pesisir tahun 2019 adalah dengan pengisian kuisioner.

18
Tabel 4 .3 Jumlah kunjungan lansia ke posyandu lansia di wilayah kerja
puskesmas Rumbai Pesisir tahun September 2019

No Nama Desa Laki-Laki Perempuan

1 Meranti Pandak 4 14
2 Limbungan 2 12
3 Tebing Tinggi Okura 0 23
4 Sei. Ukai 1 14
TOTAL 7 63

Tabel 4.4. Gambaran pengetahuan lansia terhadap program posyandu lansia di


wilayah kerja puskesmas Rumbai tahun 2019 berdasarkan jenis kelamin.

Tabel 4.4.1 Tingkat Pengetahuan sebelum Perlakuan.

Nilai Presentase
Baik 58,6% (41)
Cukup 32,8% (23)
Kurang 8,6%(6)
Jumlah 100%(70)

Baik Cukup Kurang

1.1 Diagram Tingkat Pengetahuan sebelum perlakuan.

19
Secara rerata skor yang didapatkan pada pengetahuan Lansia sudah menapat nilai
Baik dengan presentasi 58.6% (41). Sedangkan Sample lansia dengan Nilai
pengetahuan Cukup sebanyak 32.8%(23), dan Sample yang mendapat penilaian
Kurang hanya sekitar 8.6%(6) dari jumlah sampel. Kemudian dilanjutkan dengan
Penyampaian materi yang dilakukan dengan cara presentasi disertai dengan sesi tanya
jawab kepada Lansia.

Tabel 4.4.2. Tingkat Pengetahuan setelah Perlakuan.

Nilai Presentase
Baik 77,1%(54)
Cukup 22,9% (16)
Kurang 0
Jumlah 100%(70)

Baik Cukup Kurang

1.2 Diagram Tingkat Pengetahuan setelah perlakuan.

Dari hasil tabel diatas dapat disimpulkan bahwa teradapat peningkatan yang
bermakna terhadap Pengetahuan Lansia setelah diberikan perlakuan berupa
Penyuluhan mengenai Posyandu Lansia, hal ini tergambar dengan jelas dimana
terdapat peningkatan pengetahuan pada penilaian ‘Baik’ yang semula 41 (58.6%)

20
sample menjadi 54(77.1%) sample, dan penilaian ‘Kurang’ semula 6 (8.6%) sample,
menjadi 0 (0%). Hasil ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa terdapat kenaikan yang
sangat bermakna terhadap pengetahuan Lansia, setelah diberikan penjelasan berupa
materi dengan cara presentasi disertai tanya jawab.

Tabel 4.5. Gambaran Sikap lansia terhadap program posyandu lansia di


wilayah kerja puskesmas Rumbai Pesisisr September 2019.

Pertanyaan Sangat setuju Setuju Tidak setuju Sangat tidak Total


setuju
1 38 54% 32 46% - - - -
2 39 55% 30 42.8% - - 1 1.4%
3 22 31.4% 44 62.8% 2 2.8% 2 2.8%
4 23 33% 47 67% - - - -
5 23 33% 47 67% - - - - 100%
6 24 34% 46 66% - - - -
7 22 31.4% 44 62.8% 2 2.8% 2 2.8%
8 21 30% 45 64.3% 5 7.1% - -
9 20 28.6% 50 71.4% - - - -
10 24 34.2% 45 64.2% 1 1.4% - -
Rata-rata 36.5% 61.4% 1.4% 0.7% 100%

CHART TITLE
sangat setuju setuju tidak setuju sangat tidak setuju

0 1
0 2 0 0 0 2 0
5 0 0
1
2 2

32 30
47 47 46 50 45
44 44 45

38 39
22 23 23 24 22 21 20 24

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1.3 Diagram Gambaran Sikap Lansia terhadap Program Posyandu Lansia.

21
Dari hasil tabel diatas dapat disimpulkan bahwa Secara rerata mayoritas
Lansia setuju dengan program posyandu lansia setara dengan rata-rata 36.5 %, Sangat
setuju dengan porsi 61.4%, tidak setuju 1.4%, dan sangat tidak setuju 0.7%.

22
BAB V

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian pada data pengetahuan dan sikap lansia terhadap
program posyandu lansia di wilayah kerja puskesmas Rumbai tahun 2019, dapat
disimpulkan bahwa terdapat peningkatan yang bermakna terhadap Pengetahuan
Lansia setelah diberikan perlakuan berupa Penyuluhan mengenai Posyandu Lansia.
Hal ini tergambar dengan jelas dimana terdapat peningkatan pengetahuan pada
penilaian ‘Baik’ yang semula 41 (58.6%) sample menjadi 54 (77.1%) sample, dan
penilaian ‘Kurang’ semula 6 (8.6%) sample, menjadi 0 (0%).

Menurut Notoadmojo mengatakan faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat


pengetahuan adalah: usia, pendidikan, social ekonomi, pekerjaan, lingkungan dan
pengalaman. Pengetahuan lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia dikatakan
baik karena di dapatkan dari pengalaman sehari- hari dan lamanya menjadi anggota
posyandu lansia tersebut. Selain itu, Notoadmojo mengatakan bahwa informasi
berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang. Meskipun lansia memiliki pendidikan
yang rendah, jika lansia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media
misalnya dari penyuluhan kesehatan, radio, televisi atau surat kabar maka hal itu akan
meningkatkan pengetahuan lansia tersebut. Begitu juga dengan penelitian ini,
penyuluhan mengenai manfaat posyandu lansia menambah wawasan lansia, sehingga
terjadi peningkatan pengetahuan lansia seperti tercantum pada hasil penelitian ini.12

Untuk penilaian mengenai Sikap, Hasil penelitian diperoleh setelah responden


menjawab kuesioner sikap sebanyak 10 pertanyaan. Distribusi jawaban responden
dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan
sangat tidak setuju.

Menurut Ajzen dalam Albery & Munafo, sikap merupakan keyakinan tentang
apakah hasil yang mestinya individu peroleh jika telah bersikap tertentu. Sikap
sendiri dibentuk dari keyakinan dan evaluasi hasil. Keyakinan berperilaku yaitu
bagaimana individu meyakini tentang hasil yang seharusnya diperoleh jika sudah

23
bersikap tertentu, keyakinan datang dari pengalaman, dari apa yang dibaca, didengar,
dilihat, dan dirasakan. Sikap juga dibentuk dari evaluasi hasil, yaitu keyakinan
tentang nilai hasil dari apa yang telah ia sikapi.13 Dalam Penelitian ini terdapat empat
point yang menjadi penilaian mengenai sikap; Sangat setuju, setuju, tidak setuju dan
sangat tidak setuju.

1. Pada pernyataan bersedia menghadiri posyandu lansia setiap bulannya,


seluruh responden menjawab setuju dan sangat setuju, hal ini
menggambarkan bahwa seluruh Lansia memilki kemauan yang sangat
tinggi untuk menghadiri kegiatan posyandu Lansia setiap bulannya.
2. Pada pernyataan kegiatan posyandu lansia bermanfaat dalam menjaga
kesehatan, hamper seluruh responden Lansia menjawab setuju dan sangat
setuju, tetapi terdapat satu (1.4%) responden dengan sikap yang sangat
tidak setuju.
3. Pada pernyataan kegiatan yang di lakukan di posyandu lansia berupa
penyuluhan kesehatan. Terdapat 2.8% Responden dengan sikap tidak
setuju dan 2.8% dengan sikap sangat tidak setuju.
4. Pada pernyataan Kesedian menghadiri kegiatan yang dilakukan di
posyandu lansia berupa penimbangan berat badan, responden Lansia
keseluruhan menjawab sangat setuju dan setuju.
5. Pada pernyataan Kesedian mengikuti kegiatan yang dilakukan di
posyandu lansia berupa pengukuran tinggi badan, Responden Lansia
keseluruhan menjawab Sangat setuju dan setuju.
6. Pada pernyataan Kesedian mengikuti kegiatan yang dilakukan di
posyandu lansia berupa pengukuran tekanan darah. Seluruh Responden
Lansia menjawab dengan pernyataan sangat setuju dan setuju.
7. Pada pernyataan sikap Kegiatan yang dilakukan di posyandu lansia berupa
olah raga ringan, Responden Lansia secara mayoritas menjawab dengan
pernyataan Sangat Setuju dan setuju. Tetapi sekitar 2.8% sangat tidak
setuju, dan 2.8% tidak setuju, hal ini mungkin berkaitan dengan kebisaan

24
Lansia dimana pada beberapa Lansia tidak setuju dengan kegiatan
Olahraga ringan, karena faktor usia atau jarang berolahraga.
8. Pada pernyataan Menerima makanan tambahan yang di berikan oleh
tenaga kesehatan di posyandu lansia. Mayoritas Responden Lansie setuju
dan sangat setuju. Tetapi terdapat 5 (7.1%) responden yang tidak setuju
dengan pernyataan tersebut.
9. Pada pernyataan Menerima buku KMS (Kartu Menuju Sehat) oleh petugas
posyandu lansia. Seluruh responden Lansia memberikan sikap setuju dan
sangat setuju.
10. Pada Pernyataan Kesedian keluarga lansia ikutserta dalam setiap kegiatan
posyandu lansia. Hanya satu (1.4%) responden dengan sikap tidak setuju,
sisanya responden menjawab sangat setuju dan setuju.

25
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil Penilaian dan pengamatan secara langsung terhadap para


lansia dan kader posyandu dapat di simpulkan :

1. Secara rata-rata tingkat pengetahuan Lansia terhadap program sudah baik


meskipun belum dilakukan perlakuan.
2. Sikap lansia terhadap Program Posyandu Lansia yaitu setuju karena dianggap
sangat bermanfaat untuk Lansia.
3. Lansia masih dapat mengerti dan menerima dengan baik bila dilakukan suatu
perlakuan seperti menambah pengetahuan Lansia dengan cara penyuluhan.

6.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan secara langsung terhadap lansia


mengenai Pengetahuan dan sikap Lansia mengenai Program Posyandu Lansia, dapat
di tarik kesimpulan :

1. Tingkatkan penyuluhan mengenai pentingnya pemanfaatan posyandu lansia


kepada para lansia
2. Program posyandu lansia saat ini sudah berjalan cukup efektif tetapi masih
terlalu berfokus pada pengobatan klinis Lansia, perlu adanya penambahan
program serta kegiatan untuk para Lansia yang menghadiri Posyandu Lansia.
3. Secara jumlah Populasi Lansia secara keseluruhan pada wilayah kerja
Puskesmas Rumbai Pesisir, dibandingkan dengan jumlah lansia yang hadir
dan terdaftar dalam Program Posyandu Lansia masih sangat rendah.
Diperlukan pendataan dan sosialisasi Program Posyandu Lansia, agar cakupan
Pasien Posyandu Lansia dapat ditingkatkan
4. Meningkatkan sarana dan prasana untuk Program Posyandu Lansia.

26
5. Memberikan kesadaran kepada Lansia mengenai pentingnya program
Posyandu Lansia agar, para Lansia dapat dilakukan pemeriksaan secara
berkala.
6. Melakukan kunjungan rumah atau memanfaatkan kader Program Posyandu
Lansia untuk meningkatkan jumlah kehadiran Posyandu Lansia, terutama
terhadap Lansia yang tidak bisa menghadiri Posyandu Lansia.
7. Adanya kerjasama beberapa program yang ada di puskemas Rumbai yaitu
program lansia, program promosi kesehatan, program prolanis dan program
PTM

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Subijanto, dkk. (2011). Pembinaan Posyandu Lansia Guna Pelayanan Kesehatan


Lansia. Surakarta : Fakulas Kedokeran Universitas Sebelas Maret.
http://posyandulansia.pdf.co.id.
2. Latifah, Nurul. (2010). Urgensi Posyandu Lansia. http://bataviase.co.id
3. Badan Pusat Statistik. 2015. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2014. Jakarta
4. Bungin, Burhan. 2009. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan
Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencara Prenada Media Group.
5. Fiori, L.Katherine. et al. 2006. Social Network Typologies and Mental Health Among
Older Adults. University of Michigan. Journal of Gerontology: PSYCHOLOGICAL
SCIENCES, Vol. 61B, No. 1, P25–P32.
6. Ihromi. T.O. 2004. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia
7. Ismawadi, Cahyo. 2010. Posyandu dan Desa Siaga: Panduan Untuk Bidan dan
Kader. Yogyakarta: Nuha Medika.
8. Komisi Nasional Lanjut Usia. 2010. Pedoman Pelaksanaan Posyandu Lanjut Usia.
Jakarta.
9. Notoatmodjo,S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta:Rineka Cipta.
10. Sopiyudin, D. 2010. Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel dalam Penelitian
Kedokteran dan Kesehatan edisi 3. Jakarta:Salemba Medika.
11. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B.
Bandung:Alfabeta.
12. Notoatmodjo,S. 2007.Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta:Rineka Cipta.
13. Albery & Munafo, M. 2011. Psikologi Kesehatan Panduan Lengkap dan
Komprehensif Bagi study Psikologi Kesehatan. Yogyakarta : Palmall.

28
LAMPIRAN

29