Anda di halaman 1dari 67

KELAINAN PERTUMBUHAN PADA OROMAKSILOFASIAL

(KELAINAN YANG DIDAPAT SETELAH LAHIR)

A. PENDAHULUAN

Tiap bagian dari tubuh mempunyai pola pertumbuhan masing-masing


sehingga proporsi bagian tersebut selama pertumbuhan akan berubah. Pertumbuhan
dipengaruhi oleh banyak faktor di antaranya ras, keturunan, seks, dan nutrisi.
Pertumbuhan sangat kompleks. Pada saat bayi dilahirkan pusat-pusat
pertumbuhan di kepala sudah berkerja aktif, sehingga besar kepala pada waktu
dilahirkan adalah relatif besar, mendekati besar kepala orang dewasa. Tulang kepala
terdiri dari dua kesatuan tulang yaitu neukranium atau tulang kranial yang berisi otak
dan viscera kranium atau tulang fasial.
Dasar tempat otak disebut basis kranii dan atasnya disebut calvaria kranii.
Pada waktu bayi dilahirkan bagian-bagian tulang yang ada calvaria dipisahkan oleh
jaringan ikat fibrosa yang disebut sutura dan frontanella yang lebarnya masing-
masing berbeda, karena pertumbuhan bagian-bagian tersebut seperti os. frontale, os.
occipital, os. parietale, dan os. temporale, maka sutura dan frontanella mengecil.

Gambar 1. Sistem sutura dari kepala

Pertumbuhan bagian-bagian tulang calvaria itu disebakan karena pada tepi-


tepinya terjadi osifikasi dengan adanya aktivitas osteoblastus, keadaan ini merupakan
pertumbuhan ke arah lateral. Di samping pertumbuhan ke arah lateral, juga terjadi
aposisi di bagian aktivitas dari osteoblastus, sehingga ruang otak bertambah besar.
Pertumbuhan tulang sepanjang sutura, berlangsung terus, sampai akhirnya sutura
menutup kira-kira waktu remaja. Diperkirakan sutura-sutura yang memisahkan wajah

1
dan kranium tersusun demikian rupa, sehingga pertumbuhan sutura-sutura tersebut
akan menggerakkan wajah ke arah depan dan bawah dalam kaitannya dengan
kranium. Oleh sebab itu, pertumbuhan sutura berlangsung aktif pada saat
pembesaran kranium yang terjadi pada usia 6 atau 7 tahun.
Perbandingan antara wajah dan kranium jelas terlihat berbeda pada waktu
lahir daripada waktu dewasa. Wajah atau viserokranium berkembang lebih lambat
dibandingkan kranium pada waktu intrauterin, sehingga waktu lahir wajah akan
terlihat kecil pada dimensi vertikal dalam hubungannya dengan ukuran total kepala,
bila dibandingkan dengan proporsi orang dewasa. Hal ini terjadi karena sesudah lahir
wajah bertambah terus, sedangkan kranium pertumbuhannya melambat, karena
kranium pada waktu lahir telah hampir mencapai ukuran dewasa.

Gambar 2. Ukuran relatif wajah dan kranium pada waktu bayi lahir dan dewasa

B. PERTUMBUHAN WAJAH, MAKSILA, DAN MANDIBULA

1. Wajah
Pertumbuhan wajah seseorang umumnya ditentukan oleh ras, jenis
kelainan, genetik, dan usia. Pada usia tertentu wajah dan kepala mempunyai pola
pertumbuhan yang berbeda-beda. Pertumbuhan tulang-tulang wajah ini
berlangsung sepanjang sutura yang menghubungkan tulang muka dan tulang
kranial, serta antara tulang-tulang muka sendiri. Hubungan antara tulang muka
dan tulang kranial melalui sutura frontonasalis, sutura frontomaksilaris, sutura
zygomaticotemporalis, dan sutura palatina.
Pada waktu basis kranii tumbuh ke anterior, tulang muka juga tumbuh ke
anterior dan inferior. Pertumbuhan ini erat kaitannya dengan pertumbuhan
maksila, mandibula, dan nasofaring. Pada pertumbuhan sinus-sinus yang berisi

2
udara, selain pertumbuhan sepanjang sutura, juga terjadi pertumbuhan secara
aposisi di permukaan dan resorpsi di bagian dalam tulang muka. Sinus
maksilaris merupakan sinus terbesar dan tumbuh cepat mengikuti erupsi gigi
atas. Pertumbuhan sinus frontalis yang ada di atas orbita terjadi dengan cara
yang sama dan menyebabkan kranium bertambah panjang.
Laju pertumbuhan wajah mencapai puncaknya pada waktu lahir dan akan
menurun dengan tajam, serta mencapai puncaknya pada masa pubertas. Anak
perempuan pertumbuhannya 2 tahun lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-
laki.

Gambar 3. Laju pertumbuhan kranium dan wajah mulai dari lahir sampai usia
20 tahun pada anak laki-laki

Setelah itu, laju pertumbuhannya akan meningkat lagi sampai mencapai


puncaknya pada masa pubertas, lalu menurun lagi dan melambat sampai
pertumbuhan berhenti pada akhir masa remaja. Pertumbuhan wajah normalnya
dikaitkan dengan erupsi gigi-geligi susu antara usia 1-3 tahun dan gigi-geligi
tetap antara usia 6-14 tahun. Gigi yang erupsi dan prosesus alveolarisnya yang
sedang berkembang akan menambah ukuran tulang rahang.
Perkembangan wajah pada umumnya mengikuti laju pertumbuhan dari
bagian tubuh lainnya dan terlihat sedikit lebih lambat. Bagian hidung dan bagian
atas wajah akan berkembang ke depan, yang disebabkan karena pertumbuhan
kartilaginus dari septum hidung. Wajah berkembang ke arah depan dan bawah
dalam kaitannya dengan kranium.

3
Pertumbuhan periosteal dan endosteal sangat berperan penting pada
pertumbuhan wajah. Pada akhirnya, fungsi dianggap mempunyai peranan
penting dalam menentukan bentuk wajah dan diperkirakan bahwa tulang-tulang
wajah khususnya bila dipengaruhi pertumbuhannya melalui fungsinya.
Hasil dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan normal
dari kranium dan orbita adalah hasil reaksi dari pertumbuhan otak dan mata.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pertumbuhan normal dari rangka wajah
adalah hasil pertumbuhan lidah, gigi geligi, otot-otot wajah, serta fungsi
pengunyahan.

2. Maksila
Maksila ini merupakan bagian dari tulang kranium. Dengan sendirinya
pertumbuhan basis kranium mempengaruhi perkembangan maksila. Posisi dan
hubungan maksila terhadap kranium tergantung dari pertumbuhan sutura
sphenooccipitalis. Maksila ini berhubungan dengan beberapa bagian kranium,
melalui sutura frontamaksilaris, sutura zygomatikomaksilaris, sutura
zygomatikotemporalis dan sutura palatinus.
Pertumbuhan pada sutura-sutura menyebabkan maksila bergerak ke
depan dan ke bawah, sehingga kranium bergeser ke belakang dan ke atas.
Pertumbuhan enkhondral dari basis kranii dan septum nasalis penting untuk
bergeraknya maksila ke depan dan bawah. Sebagian besar dari pertumbuhan
maksila ke arah tinggi adalah dikarenakan aposisi tulang alveolar pada waktu
gigi akan erupsi. Pada waktu maksila tumbuh ke bawah, terjadi aposisi pada
dasar orbita, dasar hidung, dan permukaan palatum.
Pertumbuhan pada sutura palatina mediana, ethmoidalis, sutura
zygomatikotemporalis, dan sutura pada tulang-tulang hidung, serta hubungan
maksila dengan prosesus pterigoideus, mempengaruhi pertumbuhan maksila ke
arah lebar/ transversal. Terjadinya aposisi pada dinding lateral maksila sendiri
dan pertumbuhan basis kranii, kemungkinan besar sangat mempengaruhi
pertumbuhan maksila dalam arah lebar.
Maksila ini terjadi dari 2 bagian yaitu maksila bagian belakang (maksila
proper) dan bagian depan antara region kaninus kiri dan kanan disebut

4
premaksila. Pada waktu bayi usia 1 tahun, sambungan antara kedua bagian
maksila tumbuh secara harmonis dengan pertumbuhan kranium.
Pertumbuhan maksila dengan prosesus palatinus dan prosesus alveolaris
disebabkan karena adanya pertumbuhan gigi-gigi atas. Pertumbuhan ini terjadi
dengan cara aposisi di bagian permukaan sebelah luar dan resorpsi di bagian
dalam, sehingga palatum bertambah besar untuk memungkinkan erupsinya gigi-
geligi atas. Erupsi gigi-geligi tersebut akan menyebabkan prosesus alveolaris
bertambah tinggi dan juga menyebabkan bertambah tingginya muka. Pada
periode pertumbuhan, baik maksila maupun mandibula mengalami rotasi dalam
hubungannya dengan basis anterior kranii jika dilihat dari lateral. Rotasi ini
bervariasi, baik besarnya maupun arahnya, rotasi ini pada umumnya ke arah
depan dan ke atas, jadi bisa mangubah hubungan rahang selama pertumbuhan
khususnya pada bidang vertikal.

3. Mandibula
Pada waktu bayi dilahirkan, mandibula sangat kecil dan terdiri dari 2
bagian yang sama, dihubungkan oleh jaringan fibrosa. Mandibula tersebut hanya
merupakan sebuah tulang yang berbentuk lengkung, karena pada waktu itu
prosesus kononalis, prosesus koronoideus, prosesus alveolaris, dan angulus
mandibula belum berkembang dengan baik.
Mandibula bertambah melalui pertumbuhan kartilago dan periosteal serta
endosteal. Kedua daerah kartilago terdapat di sini yaitu satu pada simfilis
mandibula dan lainnya membentuk perlindungan pada masing-masing kondil
mandibula. Kartilago kondilar bukan tempat pertumbuhan khusus, tetapi secara
luas dianggap bahwa pertumbuhan di daerah kondilar dibutuhkan untuk
mendapat ukuran dan bentuk mandibula yang normal. Pertumbuhan periosteal
dan endosteal mempunyai peranan penting pada pertumbuhan mandibula.
Kartilago terjadi atas kartilago hialin yang ditutupi oleh jaringan pengikat
fibrosa yang tebal dan padat. Pertumbuhan mandibula pada kondilus dan posisi
dari tepi posterior pada rumus menyebabkan mandibula bertambah panjang,
sedangkan pertumbuhan kondilus bersama-sama dengan pertumbuhan pada
alveolus menyebabkan mandibula bertambah tinggi.

5
Pada 6 bulan pertama setelah lahir, kartilago berubah jadi tulang,
sehingga pada umur tersebut hanya terdapat satu lapisan kartilago yang
menutupi korpus mandibula. Lapisan ini kemudian menjadi tulang dengan cara
aposisi permukaan. Prosesus kondilaris kemudian menjadi tulang dengan cara
aposisi permukaan. Prosesus kondilaris tumbuh ke arah atas, belakang, dan luar
sesuai dengan eksistensi tulang.
Dengan adanya proses aposisi, maka sudut yang dibentuk di bagian
posterior dan inferior menjadi kecil. Pada waktu dilahirkan sudutnya 175, maka
pada waktu dewasa sudutnya 115. Dengan adanya resorpsi pada ramus sebleah
anterior, maka korpus mandibula bertambah panjang dan kemungkinan
akomodasi gigi-geligi bawah posterior.

Gambar 4. Pertumbuhan rahang bawah sejak lahir sampai dewasa

Perubahan bentuk mandibula ini menyebabkan perubahan inklinasi dari


kanalis mandibula. Oleh karena itu, foramen mentale yang mula-mula terletak di
bawah tonjolan mesial dari gigi molar pertama sulung, setelah dewasa berpindah
ke posterior dan terletak di antara akar gigi premolar pertama dan kedua.
Pertumbuhan mandibula ke arah anterior sangat cepat, sehingga pada
waktu bayi dilahirkan, posisi dagu lebih posterior daripada maksila, dengan
bertambahnya umur maka hubungannya menjadi harmonis, lebar mandibula
mengikuti kondilaris mandibula dan berhubungan dengan tulang kranial.

6
Pertumbuhan mandibula akan berlanjut kira-kira 2 tahun lebih lama daripada
maksila.

C. ETIOLOGI GANGGUAN PERTUMBUHAN

1. Trauma
Trauma langsung atau tidak pada waktu lahir atau pada kehidupan
selanjutnya, dapat merusak kartilago dalam kondil. Hal ini dapat mengakibatkan
berkurangnya atau terhentinya pertumbuhan intersisial dan aposisional. Telah
dilaporkan, trauma yang menyebabkan berkurangnya pertumbuhan dapat
menstimulasi satu atau kedua kondil untuk tumbuh.
Pada contoh-contoh gambar di bawah ini menunjukkan kasus di mana
terhentinya pertumbuhan berhubungan dengan luka parah waktu lahir. Pada
gambar berikutnya menunjukkan luka unilateral pada masa anak-anak dengan
berkurangnya pertumbuhan pada satu sisi dan terlihat asimetri pada sepertiga
bawah dari wajah.

Gambar 5. Efek kerusakan pusat pertumbuhan kondil

7
Gambar 6. Kerusakan pusat pertumbuhan kondil pada satu sisi

Hal-hal yang disebutkan di atas menunjukkan kondisi patologis yang


mempengaruhi pertumbuhan intersisial dari kartilago. Faktor patologis yang
berpengaruh pada jaringan lunak akan mengakibatkan efek sekunder pada
skeletal dan struktur alveolar antara lain keadaan traumatik.
Bila luka terjadi saat lahir atau anoxia dapat menyebabkan kerusakan
cerebral. Hal ini akan merusak neuron motorik atas yang mengontrol organ-
organ tubuh dan dapat menyebabkan hipertonik yang berhubungan dengan
muskular. Saat otot-otot lidah berkontraksi mungkin digambarkan seperti
keadaan kaku dan letaknya dapat di antara gigi-gigi atas berhadapan, sehingga
menyebabkan open bite. Luka bakar yang parah pada wajah akan berpengaruh
pada pertumbuhan tulang dan menyebabkan kontraksi dari jaringan parut.

2. Kebiasaan Buruk
Aktivitas menghisap jari sangat berkaitan dengan otot-otot rongga mulut.
Aktivitas ini sering ditemukan pada anak-anak usia muda dan dianggap normal
pada masa bayi, meskipun hal ini menjadi tidak normal jika berlanjut sampai
masa akhir anak-anak.
Efek kebiasaan menghisap terhadap perkembangan oklusal sangat
bervariasi, tergantung pada pola dan intensitas aktivitas kebiasaan yang
sesungguhnya. Jadi, menghisap ibu jari diperkirakan akan memberi efek yang

8
berbeda dengan menghisap jari lain. Sering terjadi adalah menghisap ibu jari di
antara geligi yang sedang erupsi. Akibatnya akan menimbulkan kelainan atau
maloklusi seperti open bite pada bagian anterior. Keadaan ini biasanya terlihat
asimetris, lebih nyata pada sisi yang digunakan untuk menghisap ibu jari.
Kebiasaan menghisap jari atau ibu jari akan benar-benar merupakan
masalah jika kebiasaan ini berlanjut sampai periode gigi-geligi tetap.
Kelihatannya kebiasaan ini tidak mempengaruhi pertumbuhan bagian basal dari
rahang karena efeknya terbatas pada gigi-geligi dan prosesus alveolaris dari
rahang. Bila kebiasaan ini dihentikan, segmen dentoalveolar anterior biasanya
akan bertumbuh ke posisi oklusal yang tepat, kecuali bila ada beberapa faktor
lain, seperti aktivitas lidah atau bibir yang menghalanginya. Telah banyak usaha
yang dilakukan untuk memotivasi anak agar tidak melakukan kebiasaan ini,
tetapi sangat sukar untuk menghentikannya, kecuali kesadaran dari si anak untuk
menghentikan kebiasaan buruk tersebut.
Macam-macam kebiasaan buruk yaitu :
a. Menghisap Ibu Jari/ Jari Tangan (Thumb/ Finger Sucking)
 Definisi Thumb/ Finger Sucking
Thumb/ finger sucking adalah suatu kebiasaan di mana anak
menempatkan jari atau ibu jarinya di belakang gigi, kontak dengan
bagian atas mulut, mengisap dengan bibir, dan gigi tertutup rapat.
Aktivitas menghisap jari dan ibu jari sangat berkaitan dengan otot-otot
sekitar rongga mulut.

Gambar 7. Kebiasaan thumb and finger sucking

Sebagian anak mempunyai kebiasaan menghisap sesuatu


(misalnya jari) yang tidak memberi nilai nutrisi (non-nutritive), sebagai
suatu kebiasaan yang dapat dianggap wajar. Akan tetapi, kebiasaan

9
menghisap yang berkepanjangan akan menghasilkan maloklusi.
Keadaan ini dapat terjadi karena adanya tekanan langsung dari jari dan
perubahan pola bibir dan pipi pada saat istirahat. Bila seorang anak
menempatkan ibu jari di antara insisivus bawah dan atas, biasanya
dengan sudut tertentu, maka akan terdapat dorongan insisivus bawah ke
lingual sedangkan insisivus atas ke labial. Tekanan langsung ini
dianggap menyebabkan perubahan letak insisivus.

 Etiologi Thumb/ Finger Sucking


Pemberian minuman dalam dot, lamanya pemberian makanan,
faktor sosial-ekonomi, terpisah dari orang tua, kesehatan umum dan
psikologis.

 Akibat Thumb/ Finger Sucking


Ibu jari yang diletakkan ke dalam mulut akan menekan ke
permukaan lingual gigi insisivus rahang batas dan bagian labial gigi
insisivus rahang bawah. Anak yang secara aktif menghisap jari akan
menghasilkan daya yang cukup pada ujung gigi insisivus rahang atas
sehingga lebih protrusif dan gigi insisivus bawah lebih retrusif. Selain
itu, juga akan menimbulkan kelainan atau maloklusi seperti open bite
pada bagian anterior. Keadaan ini biasanya terlihat asimetris, lebih
nyata pada sisi yang digunakan untuk menghisap ibu jari.

Gambar 8. Kebiasaan menghisap ibu jari menyebabkan open bite


anterior

Keadaan lain yang dapat muncul adalah kontraksi maksila.


Lengkung maksila gagal berkembang karena perubahan keseimbangan
antara pipi dan lidah. Ketika ibu jari diletakkan dalam mulut, lidah akan

10
tertekan ke bawah dan menjauhi palatum, serta menurunkan tekanan
lidah di bagian lingual gigi posterior rahang atas. Tekanan otot pipi
terhadap gigi-gigi posterior rahang atas ini meningkat akibat kontraksi
musculus bucinator selama menghisap. Hilangnya keseimbangan daya
yang diberikan oleh lidah pada permukaan lingual menyebabkan
lengkung posterior maksila berkontraksi menjadi crossbite posterior.

b. Menghisap Bibir/ Menggigit Bibir (Lip Sucking/Lip Biting)


 Definisi Lip Sucking/ Lip Biting
Kebiasaan buruk pada anak-anak sering dihubungkan dengan
keadaan psikologis penderitanya. Kebiasaan yang sering dilakukan
pada anak usia 4-6 tahun ini, dapat mengubah kedudukan gigi anterior
atas ke arah depan, sedangkan gigi anterior bawah ke arah dalam.

Gambar 9. Kebiasaan lip sucking/ lip biting

 Etiologi Lip Sucking/ Lip Biting


Beberapa faktor penyebab yang menjadi etiologi dari kebiasaan
mengisap bibir atau menggigit bibir yaitu :
1. Stres.
2. Variasi atau sebagai pengganti dari kebiasaan menghisap ibu jari
atau jari. Hal ini dilakukan untuk memuaskan insting menghisap si
anak karena menghisap memiliki efek menyenangkan,
menenangkan, dan sering membantu anak untuk bisa tertidur.

 Akibat Lip Sucking/ Lip Biting


Kebiasaan menghisap atau menggigit bibir bawah akan
mengakibatkan hipertonicity otot-otot mentalis. Protrusif gigi anterior
rahang atas dan retrusif gigi anterior rahang bawah disebabkan karena

11
adanya bibir di antara gigi anterior rahang atas dan bawah. Bisa juga
terjadi overjet yang besar sehingga kesulitan dalam penelanan

Gambar 10. Protrusif gigi anterior rahang atas dan retrusif gigi anterior
rahang bawah

c. Bernafas melalui Mulut (Mouth Breathing)


 Definisi Mouth Breathing
Suatu kebiasaan bernafas melalui mulut daripada hidung.
Banyak efek negatif yang didapat jika kita melakukan kebiasaan ini.
Kebiasaan bernafas melalui mulut yang kronis mengakibatkan
perubahan pertumbuhan pada tulang rahang dan keseimbangan otot
wajah.

 Etiologi Mouth Breathing


Kegagalan hidung untuk berfungsi sebagai saluran pernafasan
utama akan menyebabkan tubuh secara otomatis beradaptasi dengan
menggunakan mulut sebagai saluran untuk bernafas. Kegagalan ini
biasanya disebabkan karena adanya hambatan atau obstruksi pada
saluran pernafasan atas. Obstruksi pada saluran pernafasan atas dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Faktor psikologis, meliputi anak-anak yang mengalami kecemasan,
rasa sakit dan frustasi, anak-anak dengan retardasi mental, anak-
anak yang mengalami trauma kecelakaan.
2. Faktor lokal, merupakan penyebab terjadinya pernafasan mulut
yang disebabkan oleh keadaan dari gigi dan mulut, meliputi
pencabutan gigi sulung yang terlalu cepat, kehilangan gigi
permanen, adanya gangguan oklusal, seperti kontak prematur

12
antara gigi atas dan bawah, adanya mahkota atau tumpatan yang
tinggi.
3. Faktor sistemik, meliputi :
a. Defisiensi nutrisi, akibat konsumsi nutrisi yang tidak adekuat
atau konsumsi nutrisi yang tidak efisien. Nutrisi yang baik ikut
menentukan kesehatan seorang anak, nutrisi yang kurang baik
mempunyai dampak yang menyerupai penyakit kronis.
Penyakit kronis pada anak-anak dapat mengubah
keseimbangan energi yang diperlukan untuk pertumbuhan.
Pada anak yang menderita penyakit kronis hampir semua
energi yang didapatkan kadang-kadang kurang mencukupi
untuk beraktivitas dan tumbuh.
b. Gangguan sendi temporomandibular.
c. Infeksi, meliputi hiperplasia adenoid dan tonsil. Hiperplasia
adenoid dan tonsil biasanya disebabkan oleh karena paparan
yang rekuren terhadap infeksi tonsil (tonsillitis). Tipe infeksi
bisa virus seperti influenza, parainfluenza, dan rhinovirus,
maupun bakteri seperti betahemolitik, streptococcus,
staphylococcus, pneumococcus, dan hemophilococcus.

 Akibat Mouth Breathing


Bernafas melalui mulut diperkirakan dapat mempengaruhi
aktivitas otot-otot orofasial seperti otot bibir, lidah, dan lain-lain.
Perubahan aktivitas otot-otot tersebut akan menuntun terjadinya
modifikasi pola pertumbuhan wajah dan postur kepala yang dapat
mengakibatkan timbulnya deformitas dentofasial.
Bernafas merupakan penentu utama postur rahang dan lidah
(dan sedikit mempengaruhi kepala). Oleh sebab itu, mungkin saja
perubahan cara bernafas, seperti bernafas melalui mulut dapat
mengubah postur kepala, rahang, dan lidah. Hal ini akan merubah
ekuilibrium tekanan pada rahang dan gigi dan mempengaruhi
pertumbuhan rahang dan posisi gigi.(23)

13
Akibat dari mouth breathing yaitu :
1. Bibir rahang atas dan rahang bawah tidak menutup sempurna
Pada bibir penderita nampak agak terbuka untuk
memungkinkannya bernafas. Adaptasi mulut untuk pernafasan
mulut yang kronis dapat terjadi perubahan di mana bibir atas dan
bibir bawah berada dalam posisi terbuka, akibatnya penderita akan
mengalami kesulitan dalam menelan makanan yang masuk ke
dalam mulut.

Gambar 11. Bibir rahang atas dan rahang bawah tidak menutup
sempurna
2. Adenoid facies
Hal ini ditandai dengan penyempitan lengkung rahang atas,
hipertrofi dan keringnya bibir bawah, hipotonus bibir atas dan
tampak memendek, tampak adanya overbite yang nyata.
Dikarenakan adanya fungsi yang abnormal, penderita memiliki
karakteristik seperti postur mulut terbuka, lubang hidung mengecil
dan kurang berkembang, arkus faring tinggi, dan pasien tampak
seperti orang bodoh.

Gambar 12. Anak dengan wajah adenoid.


3. Maloklusi
4. Gigitan terbuka (open bite)

14
Pada pernafasan mulut, posisi mandibula lebih ke distal
mengakibatkan gigi insisivus bawah beroklusi dengan rugae
palatum. Ketidakteraturan gigi geligi juga dapat ditemui pada
maksila yang kurang berkembang, utamanya pada segmen
anteromaksiler serta lengkung basal yang sempit.

d. Bruxism
 Definisi Bruxism
Bruxism adalah kebiasaan buruk berupa menggesek-gesek gigi-
gigi rahang atas dan rahang bawah, bisa timbul pada masa anak-anak
maupun dewasa. Bruxism didefinisikan sebagai gerakan mengerat dan
gerakan grinding dari gigi yang bersifat non-fungsional. Istilah ini
dalam literatur sering disebut dengan beberapa istilah yang lain, yaitu
neuralgia traumatic, occlusal habit neurosis, dan parafungsional.
Pasien yang mengalami bruxism (bruxer), biasanya tidak menyadari
kebiasaan buruk yang dimilikinya tersebut, walaupun bruxism kadang-
kadang diikuti dengan suara yang mengganggu.

 Etiologi Bruxism
1. Faktor psikologis
Anak-anak yang memiliki kebiasaan bruxism ternyata
memiliki tingkat kecemasan yang lebih daripada anak-anak yang
tidak memiliki kebiasaan bruxism.
2. Faktor morfologi
Oklusi gigi geligi dan anatomi skeletal orofasial dianggap
terkait dalam penyebab dari bruxism. Perbedaan oklusal, gangguan
oklusal yang bentuknya dapat berupa trauma oklusal ataupun tonjol
yang tajam, gigi yang maloklusi secara historis dianggap sebagai
penyebab paling umum dari bruxism. Disharmoni lokal antara
bagian-bagian sistem alat kunyah yang berdampak pada
peningkatan tonus otot di region tersebut juga dipandang sebagai
salah satu etiologi yang hingga saat ini masih dapat diterima
banyak kalangan.

15
3. Temporomandibular Disorders (TMD)
Penderita TMD cenderung memiliki insiden bruxism yang
lebih tinggi daripada gangguan psikologis seperti stress,
kecemasan, dan depresi.

 Akibat Bruxism
Bruxism dapat menyebabkan aus permukaan gigi-gigi pada
rahang atas dan rahang bawah, baik itu gigi susu maupun gigi
permanen. Lapisan email yang melindungi permukaan atas gigi hilang,
sehingga dapat timbul rasa ngilu pada gigi-gigi tersebut. Bila kebiasaan
ini terus berlanjut dan berlangsung dalam waktu lama, dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan periodontal, terjadi pada pasien
dengan bentuk tonjol yang curam, luka pada periodonsium, pulpitis,
kadang-kadang disertai peningkatan derajat mobilitas gigi yang terlibat,
maloklusi, patahnya gigi akibat tekanan yang berlebihan, dan kelainan
pada sendi temporomandibular joint.

Gambar 13. Akibat bruxism

D. KELAINAN PERTUMBUHAN OROMAKSILOFASIAL

1. HIPERPARATIROIDISME
a. Etiologi
Umumnya tidak diketahui. Diduga disebabkan oleh radiasi. Oleh
karena penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita pascamenopause,
kemungkinan menurunnya hormon estrogen turut berperan dalam terjadinya
penyakit ini.

16
b. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan peningkatan atau normalnya
kadar hormon paratiroid dalam serum pada keadaan peningkatan kadar
kalsium dalam serum.
Bentuk primer didefinisikan sebagai terjadinya penyakit didalam
kelenjar itu sendiri, sedangkan bentuk sekunder merupakan respon
kompensasi terhadap hipokalsemia seperti yang terlihat pada gagal ginjal.

c. Gambaran Klinis
Spektrum penyakit primer bervariasi dari tidak bergejala yang
terdiagnosis oleh pemeriksaan kadar kalsium serum rutin, sampai kasus
berat yang mematikan atau koma.
Gejala awal lelah, lemah, mual, tidak nafsu makan, poliuria, haus,
depresi, dan tidak dapat buang air besar. Sering kali tulang terasa sakit dan
sakit kepala.
Beberapa gambaran klinis yang berhubungan dengan bentuk primer
yang secara klasik digambarkan sebagai batu, tulang, keluh kesah. Lesi pada
ginjal, sistem skeletal, saluran gastrointestinal, dan sistem saraf sebagai batu
ginjal dan kalsinosis ginjal (jarang).
Perubahan yang parah dinamakan osteitis fibrosa sistika. Perubahan
ini disebabkan oleh demineralisasi yang signifikan dan penggantian tulang
oleh jaringan fibrosa sehingga memberikan perubahan gambaran radiopak
yang tampak sebagai kista. Gambaran seperti kista ini merupakan tanda
utama jika yang terkena adalah maksila dan terutama mandibula. Pada
tulang panjang dapat terjadi fraktur, dan pada tulang belakang terjadi
kolaps.
Manifestasi gastrointestinal adalah ulkus peptikum, peningkatan
asam lambung sekunder, pepsin dan gastrin dalam serum. Pankreatitis
jarang terjadi, sebagai efek sekunder dari penyumbatan saluran pankreas
yang kecil oleh deposit kalsium.
Akhirnya, manifestasi neurologi terbukti bila kadar kalsium serum
sangat tinggi melebihi 16-17 mg/dl. Pada kasus ini dapat terjadi koma atau
krisis paratiroid. Hilangnya ingatan serta depresi umum dapat terjadi dan

17
psikosis jarang terjadi. Kelainan neurologi dapat pula disebabkan oleh
deposit kalsium ektopik pada otak.
Kalsifikasi metastatik pada mukosa mulut jarang terlihat pada
hiperparatiroidisme. Ini perlu dibedakan dengan kalsifikasi distrofik yang
terjadi pada tempat yang terjadi pada tempat yang sebelumnya sudah terjadi
cedera jaringan dengan kadar kalsium dan fosfor dalam serum normal.
Penemuan dalam mulut yang utama adalah gambaran radiolusen
berbentuk kistik dengan batas jelas pada rahang, dapat berbentuk unilokular
atau multilokular. Jarang gambaran patologis radiologik berupa osteoporosis
pada mandibula dan maksila. Hilangnya gigi dan penipisan seluruh tulang
kortikal dapat terjadi. Hilangnya sebagian lamina dura juga kadang-kadang
terlihat.

Gambar 14. Resorpsi berat tulang alveolar pada hiperparatiroid yang akan
pulih kembali bila faktor penyebab (adenoma paratiroid) dihilangkan.

Gambar 15. Hilangnya lamina dura

18
Gambar 16. Lesi pada tulang tengkorak

d. Histopatologis
Lesi tulang meskipun tidak spesifik, namun sangat penting dalam
mendiagnosis paratiroidisme. Trabekula tulang menunjukkan resorpsi oleh
sel osteoklas dan pembentukan jaringan osteoid oleh banyak sel osteblas.
Pada daerah ini, banyak terlihat kapiler dan ruang-ruang yang dibatasi oleh
endotel dengan sel datia multinuklear tersebar dalam stroma fibroseluler.
Akumulasi hemosiderin dan sel darah merah yang keluar juga terlihat.
Secara mikroskopis, lesi identik dengan giant cell granuloma.

Gambar 17. Hiperparatiroidisme, resorpsi permukaan akar dengan banyak


sel osteoklas menyerupai sel datia multinuklear.

Gambar 18. Hiperparatiroidisme, banyak sel osteoklas dalam matriks


vaskular.

19
e. Terapi
Terapi bertujuan menghilangkan patologi paratiroid. Bedah
merupakan pilihan terapi karena merupakan pilihan untuk pengobatan
jangka panjang. Paratiroidisme dengan lebih dari 11 mg/dl atau penderita
dengan gejala merupakan calon kasus bedah. Ternyata hiperkalsemia yang
sudah lama umumnya terjadi sebagai akibat buruknya fungsi ginjal.
Pengobatan hipertiroidisme sekunder yang disebabkan oleh gagal
ginjal kronis ditujukan untuk penanganan penyakit ginjalnya.

2. HIPERTIROIDISME
Hiperfungsi kelenjar tiroid (hipertiroidisme) ditandai oleh jumlah hormon
tiroid T3 (triiodotironin) dan T4 (tiroksin) yang meningkat atau oleh
peningkatan kadar TSH (thyroid stimulating hormone). Pada orang dewasa,
hipertiroidisme terjadi dengan insiden 3 untuk 10.000 kasus per tahun dengan
rasio wanita : pria 5:1. Penyakit ini jarang terjadi pada anak-anak, kasus pada
anak terjadi pada usia 10-14 tahun.
Kelainan yang paling sering disebabkan hipertiroidisme adalah grave’s
disease. Etiologi pasti dari proses ini tidak jelas, tetapi tampaknya berhubungan
dengan pembentukan simulator tiroid yang abnormal yaitu LATS (long acting
thyroid stimulator) yang secara kimiawi dan fungsi berbeda dengan TSH. LATS
bekerja dengan cara yang sama dengan TSH, tetapi dalam jangka waktu yang
lebih lama. Bahan LATS adala IgG yang diproduksi oleh sel limfosit B yang
mampu menginduksi hiperplasia tiroid, bebas dari setiap pengaruh kelenjar
hipofisis.
a. Gambaran Klinis
Hiperhidrosis merupakan tanda yang umum. Penderita menguluhkan
perubahan pada air muka, yang sering kemerahan. Rambut menipis dan
rapuh. Eritema pada telapak tangan.
Perubahan okular, retraksi kelopak mata atas pada saat mengedipkan
mata secara normal. Pandangan mata tajam karena retraksi kelopak mata
atas dan ditambah dengan adanya eksoptalamus.

20
Manifestasi jantung merupakan tanda awal dan yang paling
konsisten dari penyakit ini. Peningkatan aktivitas metabolik meningkatkan
kebutuhan sistem kardiovaskular sehingga peningkatan volume stroke,
denyut nadi, dan keluaran jantung umumnya terlihat.
Manifestasi dalam mulut tidak karakteristik, tetapi konsisten. Pada
anak, tanggalnya gigi susu dan erupsi gigi tetap yang cepat sering
ditemukan. Pada orang dewasa, osteoporosis mandibula dan maksila dapat
ditemukan.
Penderita mungkin mengeluhkan rasa terbakar pada lidah dan gejala
lain yang tidak spesifik. Insiden erosi gigi ditemukan tiga kali lebih sering
daripada yang ditemukan pada penderita eutiroid yang terkontrol.

b. Terapi
Terdiri atas pemberian obat penekan tiroid atau pemberian radioaktif
iodine untuk menginaktivasi hiperfungsi kelenjar tiroid. Pengambilan
kelenjar paratiroid akan menyebabkan hiperparatiroidisme. Stres perlu
dikurangi untuk menghilangkan resiko krisis tiroid. Beberapa obat anti-
tiroid, misalnya carbimazole dapat menyebabkan neutropenia dengan
ulserasi oral. Selain itu, juga dapat menyebabkan xerostomia.

Gambar 19. Xerostomia pada hipertiroidisme

Penggunaan obat epinefrin dan atropin merupakan kontraindikasi


karena dapat menyebabkan gangguan tiroid.

21
3. HIPEROSTOSIS KORTIKAL INFANTIL (PENYAKIT CAFFEY)
a. Definisi
Merupakan proses pendek dan terbatas, ditandai oleh penebalan
korteks bermacam-macam tulang. Selain perubahan pada tulang, umumnya
ditemukan pembengkakan jaringan lunak di atasnya. Tidak ada predileksi
seks, ras, atau geografi. Karakteristik usia, umumnya serangan terjadi pada
bulan ke-7 dengan rata-rata serangan 9 minggu.

b. Etiologi
Banyak pendapat yang menyatakan bahwa faktor genetika berperan
dalam proses asal penyakit ini, yaitu autosomal dominan yang diturunkan
secara tidak sempurna dengan manifestasi yang bervariasi.
Kasus yang sporadik juga dapat terjadi. Kemungkinan karena bahan
infeksius, kelainan imunologi, kelainan nutrisi, alergi, trauma, kelainan
hormonal, dan kelainan metabolisme kolagen.

c. Gambaran Klinis
Secara klinis, mengenai maksila dan mandibula atau juga tulang-
tulang lainnya, ditandai oleh pembengkakan lunak, padat, dengan edema di
bagian dalam. Sakit, demam, hiperiritabilitas dapat terjadi sebelumnya atau
bersamaan dengan pembengkakan. Sejumlah 75-90% kasus menunjukkan
terkenanya mandibula, tipikal di atas sudut mandibula dan ramus ascendens.
Kasus sporadis hampir selalu menyerang mandibula (60%).
Pada radiologi, terlihat proses hiperostotik yang luas di atas
permukaan korteks dengan prosesus koronoideus menjadi membulat atau
tumpul. Mula-mula unsur hiperostotik terpisah dari tulang di bawahnya oleh
garis radiolusen tipis.

d. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menggunakan CT-scan yang sering
kali positif sebelum terdeteksi dengan radiografis rutin.

22
Penemuan laboratorium juga dapat membantu diagnosis seperti
peningkatan laju endap darah, peningkatan kadar fosfatase, anemia,
leukosistosis, dan kadang-kadang trombosit penis atau trombositosis.

e. Terapi
Penyakit ini umumnya menunjukkan proses yang terbatas dan terapi
umumnya ditujukan untuk pengobatan suportif. Pemberian kotikosteroid
sistemis dan akhir-akhir ini pemberian anti-inflamasi non streroid dapat
berhasil.
Hasil pengobatan tak dapat diprediksi, dengan kemungkinan dapat
terjadi remisi dan relaps. Fase resolusi yaitu 6 minggu-23 bulan, dengan
rata-rata 9 bulan. Resolusi radiografis dan histologi membutuhkan waktu
beberapa tahun.

f. Prognosis
Prognosis sangat baik meskipun ada kemungkinan rekuren dan
kadang mempunyai efek sisa seperti maloklusi berat dan asimetris
mandibula.

4. PHANTOM BONE DISEASE (OSTEOLISIS MASSIF)


a. Definisi
Merupakan suatu proses yang tidak umum, ditandai oleh kerusakan
tulang yang lambat, progresif, dan terlokalisasi. Juga merupakan keadaan
non neoplastik yang jarang terjadi dan ditandai oleh proliferasi vaskular
serta respon jaringan ikat.

b. Etiologi
Tidak ada predileksi etnik atau seks, dan tidak ada dasar genetika.
Studi metabolisme, endokrin, dan tes neurologi tak dapat menentukan
etiologi penyakit ini. Sebagian besar penderita terkena penyakit ini sebelum
dekade ke-4, dengan usia antara 18-72 tahun.

23
c. Gambaran Klinis
Sakit umumnya bukan merupakan gambaran penyakit ini, kecuali
terjadi faktur patologis. Umumnya menyerang 1 tulang (mono-ostotik),
tetapi dapat juga poliostotik, umumnya menyerang tulang-tulang yang
berdekatan.
Penyakit ini berprogresif tetapi bervariasi, tulang dapat hilang
seluruhnya atau dapat stabil. Regenerasi yang signifikan tidak pernah
terjadi.
Gambaran radiogram awal terlihat sebagai radiolusen subkortikal
dalam medula dengan ukuran yang bervariasi, umumnya dengan tepi yang
tidak jelas dan dibatasi oleh radiopak tipis. Kemudian fokus ini membesar,
bersatu, dan menyerang korteks. Gambaran yang meruncing dan
karakteristik terjadi bila tulang panjang yang terkena.

Gambar 20. Radiografi periapikal menunjukkan area radiolusen yang tidak


jelas dan hilangnya lamina dura pada gigi vital di mandibular

d. Histopatologi
Pemeriksaan laboratorium tidak dapat mendeteksi kelainan
biokimiawi. Secara mikroskopis terlihat penggantian tulang oleh jaringan
ikat dengan banyak dilatasi kapiler dan pembuluh darah yang bersatu.
Begitu penyakit ini progresif, pelarutan unsur korteks dan medula terlihat
dengan sisa pita jaringan fibrotik yang merupakan sisa jaringan periosteum.

e. Terapi
Tidak ada terapi yang efektif untuk penyakit ini, keberhasilan graf
tulang dan implan terbatas.

24
5. AKROMEGALI
a. Definisi
Akromegali berasal dari bahasa Yunani, akros (ekstremitas) dan
megas (besar), pembesaran ekstremitas. Penyakit ini merupakan penyakit
kronis yang ditandai oleh pertumbuhan tulang, muka, rahang, dan jaringan
lunak secara berlebihan dan kelainan metabolik sekunder akibat
hiperseksresi hormon pertumbuhan yang berlebihan sesudah terjadi
penutupan lempeng epifiseal.
Merupakan keadaan yang tidak umum dengan prevalensi mendekati
40 kasus untuk 1 juta populasi dan insidennya tiga kasus per satu juta
penduduk per tahun. Paling sering menyerang usia dewasa pertengahan,
menyebabkan suatu penyakit serius dan kematian muda. Karena serangan
tidak nyata dan bersifat progesif lambat, penyakit ini sukar untuk
didiagnosis pada stadium awal dan sering kali luput dari pengamatan selama
bertahun-tahun.

b. Etiologi
Pada hampir 90% kasus, disebabkan oleh hipersekresi hormon
pertumbuhan dari adenoma hipofisis jinak atau yang dinamakan
somatotropinoma.
Kadang-kadang tumor hipofisis menghasilkan prolaktin bersama
hormon pertumbuhan atau hormon lainnya, termasuk TSH dan ACTH
(adrenal corticotropic hormone). Adenoma ini meskipun paling sering
terjadi pada kelenjar hipofisis sendiri, dapat juga muncul di lokasi ektopik.
Jarang sekali keadaan yang tidak dapat dibedakan secara klinis dari
akromegali ini dapat ditemukan pada individu dengan kadar hormon
pertumbuhan basal dan dinamis yang normal dengan sekret hipofisis yang
tidak terdeteksi. Kasus semacam ini mempunyai faktor pencetus
pertumbuhan yang unik, dan didiatnosis sebagai akromegaloidisme. Secara
umum, kadar hormon pertumbuhan berhubungan secara proposional dengan
ukuran adenoma dan keparahan penyakit secara menyeluruh.
Kelainan serupa yaitu gigantisme, terjadi pada anak dengan
pertumbuhan berlebih dari tulang panjang tubuh. Defisiensi pembentukan

25
hormon pertumbuhan menyebabkan kekerdilan yang ditandai oleh
perkembangan tulang yang abnormal pendek.

c. Gambaran Klinis
Pertumbuhan berlebihan dari tangan, kaki, dan muka bagian bawah
disebabkan oleh pembentukan hormon pertumbuhan somatotropin. Pada
banyak kasus sekresi berlebihan pada hormon dapat berasal dari tumor
hipofisis. Dapat diikuti oleh kelemahan yang progresif dan kadang-kadang
diabetes melitus.

Gambar 21. Pembesaran tulang tangan dan struktur wajah yang kasar

Penyakit ini serangannya tidak khas dan diagnosis seringkali


terlambat sesudah bertahun-tahun kemudian. Penderita menunjukkan
hipertirodisme, lemah otot, parestesia, terutama sindrom carpal tunnel,
dismenorea, dan penuruan libido. Pada tulang muka dan rahang,
pembentukan tulang periosteal baru terlihat dan juga hiperplasia kartilaginea
dan osifikasi.
Terlihat perubahan orofasial seperti penonjolan tulang frontal,
hipertrofi tulang hidung, dan prognatisme mandibula. Pembesaran sinus
paranasal dan hipertrofi laringeal sekunder menghasilkan suara dengan
resonansi dalam yang merupakan ciri khas akromegali. Gambaran muka
secara keseluruhan kasar sebagai akibat sekunder dari hiperplasia jaringan
ikat.
Mikroadenoma hipofisis dapat juga menyebabkan hipotirodisme
sekunder, hipogonadisme, insufisiensi adrenal dan sakit kepala, gangguan
penglihatan, dan neuropati kranial.

26
d. Manifestasi Oral
Pembesaran maksila dan mandibula dengan spacing gigi disebabkan
oleh pertumbuhan alveolar yang berlebihan.

Gambar 22. Pembesaran mandibula

Hiperplasia kondil bersama dengan pembentukan tulang pada bagian


depan mandibula dan penambahan sudut mandibula yang jelas,
menghasilkan maloklusi gigi yang agak tipikal dan prognati. Gigitan silang
(crossbite) posterior yang menyeluruh merupakan temuan yang umum
ditemukan.
Penebalan mukosa mulut, hipertrofi jaringan kelenjar liur,
makroglosia, dan bibir yang menonjol ditemukan pada hampir semua kasus.
Bersamaan dengan perubahan pada struktur mandibula, dapat terjadi
sindrom disfungsi nyeri miofasial dan kelainan bicara.

e. Diagnosis
Tes diagnosis yang spesifik seperti kadar hormon pertumbuhan yang
tidak tertekan oleh pengikatan dengan glukosa.
Harus digunakan tomografi dari sella tursica untuk melengkapi
kriteria biokimiawi. pemeriksaan radioimmunoassay somatomedin C juga
dapat digunakan sebagai tes rutin dan untuk menentukan korelasi antara
aktivitas penyakit dengan tes lainnya.

f. Terapi
Terapi berhubugan dengan normalisasi kadar hormon pertumbuhan
dan mengembalikan fungsi normal hipofisis. Paling sering digunakan terapi

27
bedah trans-sfenoidal yang memberi respon cepat, yaitu pembuangan
jaringan yang hiperfungsi, radiasi kelenjar hipofisis, dan obat untuk
menekan hormon pertumbuhan.
Radioterapi konvensional pada daerah ini selama 4-6 minggu
menghasilkan 70% normalisasi fungsi hipofisis, meskipun dapat
menyebabkan terjadinya hipohipofisis.
Keberhasilan perawatan terlihat dengan menghilangnya jaringan
lunak abnormal, meskipun cukup banyak deformitas muka yang tetap ada.
Pada kasus ini, deformitas perlu di koreksi dengan bedah maksilofasial,
termasuk mandibular osteotomi dan glosektomi parsial.

6. ANKILOSIS SENDI TEMPOROMANDIBULA


a. Definisi
Ankilosis berasal dari bahasa Yunani yang berarti kekakuan pada
sendi akibat proses dari suatu penyakit. Ankilosis dapat didefenisikan
sebagai penyatuan jaringan fibrous atau tulang antara kepala kondilar
dengan fosa glenoidalis yang dapat menyebabkan keterbatasan dalam
membuka mulut sehingga menimbulkan masalah dalam pengunyahan,
berbicara, estetis, kebersihan mulut pasien, dan masalah psikologis.
Ankilosis juga merupakan immobilisasi atau fiksasi sendi akibat keadaan
yang patologis yang dapat bersifat intrakapsular atau ekstrakapsular.14

Gambar 23. Sendi temporomandibula yang normal

28
Gambar 24. Ankilosis pada sendi temporomandibula

b. Anatomi Sendi Temporomandibula


Sendi temporomandibula merupakan suatu sendi atau perlekatan
yang bilateral dan dapat bergerak yang menghubungkan antara mandibula
dengan tulang tengkorak.
Sendi temporomandibula didukung oleh :
1. Artikulasi tulang
Sendi temporomandibula terdiri dari persendian yang dibentuk
oleh tulang, yang terdiri dari fosa glenoidalis dan prosesus kondilaris
mandibula. Prosesus kondilaris ini berbentuk elips yang tidak rata
apabila dilihat dari potongan melintang. Sedangkan permukaan
artikular dari persendian dilapisi oleh jaringan fibrokartilago yang lebih
banyak dibanding kartilago hialin.
2. Diskus Artikularis
Diskus tersusun dari tiga bagian, yaitu pita posterior dengan
ketebalan 3 mm, zona intermediat yang tipis, dan pita anterior dengan
ketebalan 2 mm.
3. Kapsula
Kapsula merupakan ligamen tipis yang memanjang dari bagian
temporal fosa glenoidalis di bagian atas, bergabung dengan tepi
meniskus, dan mencapai bawah leher prosesus kondilaris untuk
mengelilingi seluruh sendi.
4. Ligamen
Ligamen-ligamen yang terdapat pada sendi temporomandibula
yaitu ligamen temporomandibula, ligamen sphenomandibula, ligamen

29
stylomandibula, dan ligamen malleolar mandibula. Ligamen tersebut
berfungsi sebagai pelekat tulang dengan otot dan dengan tulang yang
lain.
5. Suplai pembuluh darah dan saraf
Suplai saraf sensoris ke sendi temporomandibula didapat dari
nervus aurikulotemporalis dan nervus masseter cabang dari nervus
mandibularis. Jaringan pembuluh darah untuk sendi berasal dari arteri
temporalis superfisialis yang merupakan cabang dari arteri carotis
eksterna.

c. Etiologi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya ankilosis sendi
temporomandibula antara lain :
1. Trauma
Trauma merupakan penyebab utama dari ankilosis sendi
temporomandibula. Menurut Ellis, fraktur kondilar khususnya fraktur
pada leher kondilar merupakan penyebab utama terjadinya ankilosis
pada sendi temporomandibula. Tetapi pada awal tahun 1978, Laskin
menguraikan beberapa faktor yang mendukung terjadinya trauma pada
mandibula sehingga mengakibatkan ankilosis yaitu :
o Usia pasien
Pada pasien yang masih muda, kapsula belum berkembang
dengan baik sehingga memudahkan dalam terjadinya pergeseran
kondilar dari fosa glenoidalis.
o Tingkat keparahan trauma
Kerusakan dari kondilus, diskus dan fosa dipengaruhi oleh
derajat keparahan trauma.
o Lokasi fraktur
Cedera pada intrakapsular mempunyai dampak yang lebih
besar dalam terjadinya ankilosis.
o Diskus artikularis

30
Kontak langsung antara kondilus yang patah dengan fosa
glenoidalis dapat menyebabkan berkembangnya ankilosis.
o Durasi immobilisasi
Laskin menyatakan bahwa meskipun percobaan untuk
membuat ankilosis buatan dengan memperpanjang waktu dari
fiksasi tidak berhasil, tetapi hal ini tidak menghilangkan peran dari
durasi immobilisasi sebagai faktor etiologi.
2. Still’s disease (artritis kronik juvenil) dan artritis rhematoid
Kerusakan sendi secara kronik, deformitas dan terbatasnya
pertumbuhan mandibula dapat disebabkan oleh penyakit oligoarticular
rheumatoid juvenil.
3. Inflamasi pada sendi
Artritis septik dan artritis tuberkulosa dapat menyebabkan
ankilosis.
4. Riwayat bedah pada sendi temporomandibula
Pada pasien yang telah mengalami pembedahan pada sendi
temporomandibulanya apabila permukaan dari sendi tidak sembuh
secara tepat maka permukaan tersebut akan lebih meradang dan
jaringan yang fibrotik akan melekat pada diskus sehingga dapat
berpotensi menjadi ankilosis.
5. Bedah ortognatik
Efek dari operasi bimaksiler pada kondilar telah diketahui secara
jelas dimana perubahan-perubahan pada posisi kondilar dapat
mempengaruhi artikulasi dan fungsi secara signifikan.
6. Penyebab lainnya
Ankilosis kongenital biasanya dihubungkan dengan forcep yang
digunakan pada waktu melahirkan di mana forcep tersebut
menyebabkan kerusakan pada sendi temporomandibula pada neonatus.

d. Klasifikasi
Topazian (1966) mengklasifikasikan ankilosis sendi
temporomandibula antara lain :

31
1. Tipe I
Perlekatan fibrous pada atau di sekitar sendi yang membatasi
pergerakan kondilar.
2. Tipe II
Pembentukan tulang antara kondilus dan fosa glenoidalis.
3. Tipe III
Penyatuan leher kondilus pada fosa secara menyeluruh.

Kazanjian mengklasifikasikan ankilosis sendi temporomandibula


sebagai berikut.
1. Ankilosis murni/ ankilosis intra artikular
Suatu kondisi di mana terjadi perlekatan tulang atau fibrous terhadap
sendi.
2. Pseudoankilosis/ ankilosis ekstra artikular
Ankilosis yang terjadi akibat penyakit yang tidak berhubungan secara
langsung dengan sendi.

Sawhney mengklasifikasikan ankilosis sendi temporomandibula


antara lain :
1. Tipe I
Pembentukan tulang yang minimal, tetapi perlekatan fibrous meluas
sampai di sekitar sendi.
2. Tipe II
Terjadi pembentukan tulang khususnya pada pinggiran permukaan
sendi.
3. Tipe III
Pembentukan tulang antara mandibula dengan tulang temporal.
4. Tipe IV
Digantikannya sendi dengan massa tulang.

32
e. Gejala Klinis
Gejala-gejala yang diakibatkan oleh ankilosis pada sendi
temporomandibula dapat dilihat dari aspek fungsional, estetis, dan
psikologi. Ankilosis pada mandibula dapat menyebabkan:
1. Keterbatasan pada pergerakan rahang
2. Berkurangnya fungsi pengunyahan
3. Keterbatasan pada pembukaan mulut
4. Terhambatnya pertumbuhan wajah
5. Pengucapan yang tidak jelas
6. Pertumbuhan mandibula berkurang sehingga menyebabkan bird face
7. Asimetri pada wajah apabila ankilosis terjadi hanya pada satu sisi
8. Susah bernafas dan menelan
9. Mendengkur dan susah bernafas saat tidur
10. Gigi yang tidak teratur akibat kurangnya ruang untuk erupsi komponen
gigi yang normal.

Gambar 25. Gejala yang diakibatkan ankilosis tampak depan dan samping

Gambar 26. Terbatasnya pembukaan mulut pada ankilosis sendi


temporomandibula

33
f. Diagnosa
Diagnosa dari penyakit atau gangguan fungsi sendi
temporomandibula dilakukan dengan pemeriksaan riwayat pasien,
pemeriksaan klinis yang hati-hati dan terkadang membutuhkan pemeriksaan
tambahan yaitu artroskopi. Diagnosa dari penyakit atau gangguan fungsi
sendi temporomandibula juga tergantung pada ketepatan interpretasi hasil
foto rontgen.
1. Riwayat Penyakit
Keluhan yang dirasakan oleh penderita ankilosis sendi
temporomandibula yaitu :
o Perubahan luas pergerakan pembukaan mulut/ trismus
Pada penderita sendi temporomandibula dapat dilihat berkurangnya
luas pergerakan yang nyata, khususnya pada jarak antar insisal.
o Perubahan oklusi
Beberapa penderita mengeluhkan perubahan pada gigitan, dimana
gigi penderita tidak terkatup secara tepat.
o Perawatan sebelumnya
Informasi mengenai perawatan sebelumnya juga dapat membantu
dalam menegakkan diagnosa. Dilakukan pencatatan kronologi
perawatan sebelumnya khususnya perawatan bedah pada sendi
temporomandibula.

2. Pemeriksaan klinis
Pemeriksaan klinis pada penderita ankilosis sendi temporomandibula
dapat didasarkan atas pemeriksaan terhadap :
o Oklusi
Dilakukan pemeriksaan pada gigi secara menyeluruh dengan
memperhatikan faktor oklusi. Gangguan oklusi secara umum bisa
langsung diperiksa.
o Pembukaan antar insisal
Evaluasi luas pergerakan mandibula yang diukur dengan penggaris
dengan skala milimeter atau jangka.
o Pergerakan lain

34
Pengukuran pergeseran secara lateral biasanya pada titik atau garis
tengah kemudian dibandingkan kesimetrisannya.
o Deviasi
Deviasi pada mandibula sewaktu membuka mulut atau protrusi
dapat terlihat dengan jelas.

3. Radiografi
Radiografi yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa
dari ankilosis sendi temporomandibula yaitu :
o Orthopantomograph dapat digunakan untuk melihat kedua sendi
temporomandibula sehingga dapat dibandingkan jika ankilosis
hanya mengenai satu sisi.
o Foto TMJ transkranial dapat digunakan untuk menentukan
diagnosis perubahan yang menyangkut jaringan tulang dan adanya
keterbatasan pergerakan dengan cara membandingkan posisi
prosesus kondilaris dua sisi dalam keadaan terbuka dan tertutup.
o Computed Tomography Scan (CT-scan) dapat digunakan untuk
mengukur lebar anteroposterior dan relasi sendi terhadap fosa
kranio media. Selain itu, 3D CT-scan juga dapat memberikan
gambaran deformitas yang nyata.

Pada pemeriksaan radiografi, sendi temporomandibula yang


terkena ankilosis akan menunjukkan gambaran adanya kehilangan
bentuk sendi yang normal dengan penyatuan prosesus kondiloideus dan
fosa glenoidalis. Dimana luasnya bervariasi dan tergantung pada
keparahan ankilosis tersebut.

35
Gambar 27. Gambaran radiografis ankilosis pada sendi
temporomandibula sebelah kanan

Pada tahun 1980, computed tomography scan (CT-scan) mulai


diaplikasikan pada ankilosis sendi temporomandibula. Pemeriksaan
ankilosis sendi temporomandibula dengan menggunakan CT-scan
dalam arah sagital, koronal, aksial menunjukkan terjadinya perluasan
dan kepadatan massa tulang dan penebalan pada tulang temporal di
daerah glenoid. Massa ankilosis mempunyai gambaran yang khas bila
dilihat dari pandangan koronal, dimana gambarannya terlihat seperti
bentuk jamur. CT-scan juga dapat memberikan gambaran yang jelas
ankilosis yang disebabkan secara ekstra artikular.

Gambar 28. Gambaran CT-scan ankilosis secara aksial dan koronal

36
Gambar 29. Gambaran ankilosis dengan 3D CT-scan

4. Pemeriksaan dengan Artroskopi


Pemeriksaan ankilosis sendi temporomandibula secara
diagnostik khusus dilakukan dengan menggunakan artroskopi pada
sendi temporomandibula. Artroskopi adalah suatu prosedur yang
melibatkan serat optik kecil yang disisipkan kepada celah diatas sendi
sehingga memungkinkan dilakukannya pengamatan pada struktur sendi
temporomandibula serta untuk mengatasi terbatasnya akses pada sendi
temporomandibula sewaktu pembedahan. Artroskopi dapat digunakan
sebagai diagnostik dan sebagai terapi. Artroskopi secara diagnostik
diindikasikan saat pemeriksaan langsung pada sendi diperlukan untuk
memastikan dugaan kelainan klinis yang tidak mudah dipastikan
dengan prosedur diagnostik yang lain.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan artroskop berdiameter luar
2,4 mm dan 2,7 mm dan diameter optikal 1,7 mm dan 2,4 mm. Lensa
pembesar bervariasi dari pembesaran 1x hingga 15x tergantung pada
jarak antara obyek dan ujung artroskop. Prosedur ini dilakukan dengan
bantuan anastesi lokal.

7. MIKROGNASIA
Istilah mikrognasia umumnya dipakai khusus untuk mandibula meskipun
dapat pula dipakai untuk menunjukkan pengecilan ukuran mandibula dan
maksila. Dagu dapat sangat retrusif atau absen sama sekali. Hidung dan bibir
atas menjadi menonjol sehingga muka seperti burung.

37
Keadaan ini dapat bersifat kongenital, dapat pula terjadi sesudah lahir,
misalnya akibat infeksi seperti arthritis rematoid juvenilis.

Gambar 30. Mikrognasia

Mikrognasia disebabkan oleh kegagalan pusat pertumbuhan di kepala


sendi. Penyebabnya adalah kelainan perkembangan atau didapat cedera pada
kepala sendi oleh trauma pada saat lahir atau infeksi pada telinga dapat
menyerang pusat pertumbuhan kepala sendi. Kemungkinan lain adalah trauma
atau infeksi daerah kepala sendi dan menyebabkan pengecilan ukuran rahang.

8. MAKROGNASIA
Makrognasia adalah rahang yang besar. Jika terjadi pada rahang bawah
dapat menyebabkan dagu menonjol. Keadaan ini dapat bersifat kongenital dan
dapat pula bersifat dapatan melalui penyakit, serta dapat dikoreksi dengan
tindakan bedah.
Pada akromegali, penderita mempunyai tumor kelenjar hipofisis yang
akan mendorong pertumbuhan terus-menerus pada tempat tertentu, misalnya jari
dan tulang mandibula.

Gambar 31. Makrognasia

38
9. FRAKTUR WAJAH

Klasifikasi yang paling umum adalah klasifikasi yang dikembangkan


oleh Rene Le Fort (1869-1951), ahli bedah dali Lilie, dan Matrin Wassmund
(1892-1956), ahli bedah mulut dan maksilofasial dari Berlin.

Tabel 1. Klasifikasi fraktur


Lokasi Jenis fraktur
Sentral wajah  Fraktur infrazigomatik (fraktur tulang alveolar
dan kompleks dentoalveolar)
 Fraktur Le Fort I atau fraktur Guerin dengan
atau tanpa fraktur sagital
 Fraktur Le Fort II dengan atau tanpa fraktur
sagital
 Fraktur nasomaksila dan kompleks
nasoetmoidalis
 Defek fraktur
Lateral wajah  Fraktur kompleks zigomatokoorbital
 Fraktur zigomatik
 Fraktur zigomatikomasila
 Fraktur akrus zigomatikus
 Fraktur kombinasi zigomatik dan kompleks
arkus zigomatiko
 Fraktur orbita, termasuk Blow out fracture
 Fraktur zigomatikomandibula
Kombinasi bagian Fraktur Le Fort III
sentral dan lateral
wajah (sentrolateral)
Bagian anterior dan  Fraktur frontobasal
lateral basis tengkorak  Fraktur tulang temporalis dan pars petrosa os
temporalis (fraktur laterobasal)
Fraktur kombinasi yang tidak termasuk klasifikasi di atas

39
Gambar 32. Garis fraktur Le Fort I-III. Le Fort I (biru muda), Le Fort II
(merah), Le Fort III (ungu)
Definisi:
a. Le Fort I atau Fraktur Guerin
Garis fraktur berjalan dari apertura piriformis di bagian atas spina nasalis,
kemudian berjalan ke dinding sinus maksilaris, krista zigomatikoalveolaris,
tuber maksila, bagian ujung kaudal prosessus pterigoideus, dinding posterior
sinus maksilaris hingga kembali ke apertura piriformis.
b. Le Fort II (Wassmund II)
Pada jenis fraktur ini, maksila terpisah dari wajah bagian tengah dengan
bentuk menyerupai piramida. Garis fraktur berjalan dari sutura frontonasalis
atau sutura frontomaksilaris ke bagian anteromedial dari dinding inferior
orbita terus ke bagian tengah cincin infraorbital, dinding fasial sinus
maksilaris, krista zigomatikoalveolaris, bagian posterior sinus maksilaris,
prosesus pterigoideus, fisura orbitalis inferior hingga sampai ke garis fraktur
pada bagian orbita. Sebagai tambahan juga terjadi fraktur pada vomer dan
lamina perpendikularis.
c. Wassmund I
Sama dengan Le Ford II hanya saja bagian apeks dari hidung tidak
mengalami fraktur.

40
d. Le Fort III (Wassmund IV)
Terjadi fraktur yang menisahkan viserokranium dan neurokranium. Garis
fraktur berjalan dari sutura frontonasalis atau sutura frontomaksilaris lewat
os. lacrimale, dinding medial orbital, foramen optikum. Dari sini garis
fraktur berjalan terus ke sutura zigomatikofrontalis. Terjadi juga fraktur
arkus zigomatikus.
e. Wassmund III
Sama dengan Le Fort III, hanya saja tanpa fraktur pada sutura frontonasalis
dan frontomaksilaris.

a. FRAKTUR SENTRAL WAJAH


 Definisi
Termasuk di sini adalah fraktur Le Fort I, Le Fort II,
nasomaksila, kompleks nasoetmoidalis, Wassmund I, dan Wassmund
III. Fraktur dapat terjadi baik bilateral maupun unilateral, dan dapat
juga terjadi dengan kombinasi fraktur pada bagian wajah lainnya yang
tidak termasuk ke dalam klasifikasi ini.

 Etiologi
Penyebab fraktur sentral wajah ini umumnya adalah trauma
yang keras pada daerah wajah, misalnya saja akibat kecelakaan lalu
lintas dan kecelakaan olahraga.

 Tanda-tanda Klinis
Tanda-tanda klinis fraktur yang pasti adalah displacement,
pergerakan abnormal dari rahang, dan krepitasi. Hasil palpasi intraoral
di bagian vestibulum maksila adalah diastase tulang, terutama dapat
dirasakan di daerah apertura piriformis dan krista zigomatikoalveolaris.
Pada fraktur Le Fort I, perabaan di bagian rahang atas pada
ketinggian di daerah apertura piriformis dapat dirasakan bahwa rahang
atas terasa bergerak bebas (floating jaw).
Fraktur Le Fort I (fraktur Guerin) meliputi fraktur horizontal
bagian bawah antara maksila dan palatum atau arkus alveolar

41
kompleks. Garis fraktur berjalan ke belakang melalui lamina pterigoid.
Fraktur ini bisa unilateral atau bilateral. Kerusakan pada fraktur Le Fort
akibat arah trauma dari anteroposterior bawah dapat mengenai
nasomaksila dan zigomatikomaksila vertikal buttress, bagian bawah
lamina pterigoid, anterolateral maksila, palatum durum, dasar hidung,
septum dan apertura piriformis.

Gambar 33. Fraktur Le Fort I

Pada fraktur Le Fort II dapat dirasakan bahwa muka bagian


tengah terasa goyang atau lepas dan terpisah dari daerah zigoma dan
orbita. Sering juga terdapat diplopia dan gangguan sensibilitas di daerah
persarafan nervus infraorbitalis. Selain itu, dapat juga terjadi perdarahan
dari mulut dan hidung dan hematom serta dislokasi dari septum hidung.

Gambar 34. Fraktur Le Fort II

Akibat fraktur Le Fort I dan Le Fort II terjadi displacement


muka bagian tengah ke kaudal atau dorsal. Hal ini sering kali membuat
muka pasien tampak lebh panjang dan rata (dish face). Gigitan terbuka
dengan kontak prematur pada gigi-gigi posterior dan pseudoprogeni

42
dapat terjadi akibat displacement rahang atas dan tekanan dari m.
pterigoideus lateralis dan medialis. Kadang-kadang dapat juga disertai
fraktur sagital dari rahang atas yang berakibat terjadinya diastema pada
gigi anterior.
Pada fraktur nasoetmoidalis (NOE) hampir selalu terdapat
telekhantus (jarak interkhantal normal pada wanita 32-33 mm dan pada
pria 33-34 mm). Selain itu, dapat pula dijumpai brill hematom,
hiposfagma, dan eksoptalmus.
Tanda-tanda fraktur yang tidak pasti adalah bengkak, hematoma,
perdarahan, protusio bulbi (dari perdarahan retrobulbar), gangguan
sensibilitas pada daerah persarafan infraorbitalis, gangguan penglihatan,
rhinoliquorrho, dan suara ‘nyaring’ pada saat gigi diketuk.

 Pemeriksaan Radiografis
Pemeriksaan standar adalah dengan radiograf Waters. Pada
roentgen Waters, sering kali terlihat adanya hematosinus dan kadang-
kadang juga terlihat displacement tulang. Jika diduga ada fraktur sagital
maksila, perlu dilakukan pembuatan foto oklusal rahang atas.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan detail perlu
dilakukan pembuatan CT-scan dengan rekonstruksi 3D. Pada keadaan
yang khusus dapat pula dilakukan pembuatan MRI.

 Terapi
Prinsip terapi adalah mengembalikan oklusi ke keadaan normal,
mengembalikan posisi tulang wajah terutama pilar utama wajah ke
posisi normal, dan kemudian memfiksasi tulang yang telah direposisi
tersebut.
Terapi yang dapat dilakukan adalah terapi konservatif,
kombinasi konservatif-operatif, dan terapi operatif. Terapi konservatif
diindikasikan pada fraktur tanpa displacement atau fraktur dengan
displacement yang minimal sekali tanpa ada gangguan oklusi, gangguan
penglihatan, dan gangguan pada mata. Pada terapi konservatif ini pasien
diinstruksikan untuk diet makanan lunak selama 3-4 minggu dan

43
menghindari aktivitas fisik yang berat, termasuk olahraga. Pasien juga
dianjurkan untuk kontrol secara berkala.
Pada terapi kombinasi konservatif-opertatif pertama-tama
dilakukan reposisi fraktur dan oklusi dengan menggunakan arch bar
dan MMF dengan kawat. Kemudian dapat dilakukan suspensi dengan
menggunakan kawat, misalnya suspensi zigomatikomaksilari atau
suspensi frontomaksilari.
Terapi operatif dengan menggunakan miniplat dan mikroplat
saat ini dianggap sebagai state of the art dalam penatalaksanaan fraktur
wajah. Setelah melakukan reposisi fraktur dengan reduksi terbuka,
kemudian dilakukan fiksasi dengan menggunakan miniplat atau
mikroplat. Sering kali perlu dilakukan pemasangan MMF selama proses
reposisi dan fiksasi agar didapatkan oklusi yang baik. Apabila fraktur
wajah ini terjadi dengan kombinasi fraktur rahang bawah dan fraktur
kondilus, MMF dapat dibiarkan selama beberapa hari sesuai indikasi
yang diperlukan.
Akses operasi harus dipilih sedemikian rupa, sehingga walaupun
diperlukan pemasangan miniplat dalam jumlah yang cukup banyak,
namun nantinya bekas akses operasi itu tidak mengganggu pasien
secara estetik. Umumnya insisi dapat dilakukan dari intraoral secara
paramarginal atau marginal, lateroorbital, infraorbital, subsiliar,
maupun bikoronal.
Hematosinus jika perlu dapat dievakusi secara perlahan-lahan,
membran Schneiderian pada sinus maksilaris pada kebanyakan kasus
dapat dipertahankan. Jika fraktur melibatkan dasar orbita, pasien
diinstruksikan untuk tidak buang ingus dan bersin, karena dapat
menyebabkan protusio bulbi akibat emfisema. Operasi dengan teknik
Caldwell Luc untuk melakukan pembersihan sinus maksilaris saat ini
dipandang terlalu agresif karena sering kali menyebabkan lesi pada N.
infraorbitalis dan gangguan estetik, sehingga sudah tidak dilakukan
lagi.

44
b. FRAKTUR LATERAL WAJAH
 Fraktur Zigomatikus
 Definisi
Fraktur yang melibatkan prosesus zigomatikus dan/atau arkus
zigomatikus. Garis fraktur berjalan melewati sutura
zigomatikofrontalis, zigomatikosflenoidalis, menuju ke arah fisura
orbitalis inferior, dasar orbita, daerah infraorbital, dinding sinus
maksilaris (krista zigomatikoalveolaris) kemudian menuju ke
bagian dorsolateral dari dinding sinus maksilaris dan kadang-
kadang juga melibatkan arkus zigomatikus. Fraktur jenis ini sering
kali juga melibatkan orbita (fraktur orbita). Fraktur zigomatikus ini
merupakan jenis fraktur yang paling sering terjadi di antara fraktur
wajah lainnya.

 Klasifikasi
Fraktur zigomatikus ini dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Tipe I, yaitu fraktur arkus zigomatikus terisolasi.

Gambar 35. Fraktur arkus zigomatikus terisolasi (Tipe I)

Gambar 36. Fraktur arkus zigomatikus terisolasi variasi 2


(Tipe II)

45
2. Tipe II, yaitu fraktur zigomatikus tanpa displacement.

Gambar 37. Fraktur zigomatikus tanpa displacement (Tipe II)

3. Tipe III, yaitu fraktur zigomatikus dengan displacement tanpa


diastase pada bagian lateral orbita.
4. Tipe IV, yaitu fraktur zigomatikus dengan displacement dan
diatase pada bagian lateral orbita.

Gambar 38. Fraktur zigomatikus dengan displacement ke


medial dan atau lateral (Tipe IV)

Gambar 39. Fraktur zigomatikus dengan displacement ke


laterokaudal (Tipe IV)

46
Gambar 40. Fraktur zigomatikus dengan displacement ke
kaudal (Tipe IV)

5. Tipe V, yaitu fraktur zigomatikus komunitiva.


6. Tipe VI, yaitu fraktur zigomatikus tipe II-V dengan melibatkan
dasar orbita.

Gambar 41. Fraktur zigomatikus komunitiva dengan


keterlibatan tulang orbita bagian inferior (Tipe VI)

 Tanda-tanda Klinis
Bengkak dengan hematoma periorbita dan hiposfagma
(perdarahan subkonjungtiva), kontur muka yang tidak simetris
(cekung pada bagian yang fraktur), krepitasi, perdarahan dari
hidung (pada sisi yang mengalami fraktur), pada palpasi teraba
diastase tulang pada daerah infraorbital, pada tepi orbita, dan pada
daerah crista zygomaticoalveolaris. Selain itu, juga terdapat
parastesi, hipastesi atau anestesi pada bagian pipi, hidung, dan bibir
bagian atas (daerah persarafan n. infraorbitalis).

47
Sering kali terjadi gangguan saat membuka mulut. Pasien
tidak dapat membuka mulut lebar-lebar akibat rotasi dan
pergeseran dari prosesus zigomatikus ke kaudal.
Jika melibatkan fraktur orbita, maka akan terdapat
gangguan penglihatan berupa diplopia. Selain itu, juga dapat
disertai dengan enoptalmus dan eksoptalmus.

 Pemeriksaan Radiografis
Radiograf Waters dan submentobregmatikal pada dugaan
fraktur arkus zigomatikus, serta CT-scan (terutama untuk diagnosis
fraktur orbita).
Pada radiograf Waters terlihat fraktur pada daerah
infraorbital, sutura frontozigomatika dan krista
zigomatikoalveolaris. Juga sering kali terlihat hematosinus
(perdarahan dari jaringan lunak di dalam sinus maksilaris).
Pada pemeriksaan radiografis submentobregmatikal terlihat
gambaran fraktur ‘M’ dari arkus zigomatikus.

 Terapi
Pada fraktur tanpa displacement dan asimptomatik cukup
dengan menginstruksikan diet lunak selama 3-4 minggu. Pada
fraktur dengan displacement, perubahan kontur muka, gangguan
membuka mulut, parestesi, dan gangguan penglihatan perlu
dilakukan revisi fraktur dengan operasi. Revisi dan reposisi fraktur
sebaiknya dilakukan secepat mungkin. Pada fraktur dengan
bengkak yang besar sekali, dapat ditunggu selama 3 hari sebelum
dilakukan operasi.
Reposisi fraktur dilakukan dengan elevator Stromeyer.
Akses operasi didapat dengan insisi subsilliar, infraorbital,
lateroorbital, transkonjungtival, dan juga dari intraoral (insisi
paramarginal). Perlu dilakukan pemasangan miniplat ataupun
mikroplat dengan diameter sekrup 2,0 atau 1,3 mm untuk stabilisasi

48
dan fiksasi. Pemasangan miniplat dilakukan minimal pada 2 lokasi
(infraorbital, latero-orbital, dan intraoral pada krista
zigomatikoalveolaris)
Pada fraktur arkus zigomatikus yang terisolasi biasanya
cukup dilakukan reposisi secara tertutup dengan menggunakan
elevator Stromeyer. Beberapa penelitian mencoba menggunakan
perangkat sonografi untuk melakukan pengontrolan intraoperatif
selama dilakukan reposisi, meskipun demikian keefektifan
penggunaannya sampai saat ini masih dipertanyakan. Setelah
dilakukan reposisi dapat diaplikasikan perban dari bahan akrilik
pada daerah fraktur selama 10 hari untuk mencegah displacement
selama masa penyembuhan.
Pembukaan akses melalui subsiliar, intraorbital, dan
transkonjungtival harus dilakukan dengan hati-hati, komplikasi
yang dapat terjadi adalah ektropium maupun entropium
pascaoperasi. Hal ini sangat sulit dikoreksi.

 Fraktur Orbita
 Definisi
Fraktur orbita dapat terjadi baik pada dinding medial dan
lateral dari orbita maupun pada dinding inferior orbita. Fraktur
dasar orbita dapat terjadi sendiri (blow out fracture) atau
bersamaan (kombinasi) dengan fraktur muka lainnya. Fraktur pada
dasar orbita ini merupakan fraktur orbita yang paling sering terjadi.
Pada fraktur ini terjadi fraktur di daerah tulang tipis yang
membatasi orbita dengan sinus maksilaris. Sering kali terjadi
prolaps jaringan orbita ke dalam sinus maksilaris. Pada beberapa
kasus sering kali terjadi bahwa sebagian atau seluruh bagian dari
m. rektus inferior dan/atau m.obliqus inferior terjepit dan terjebak
di antara fragmen tulang (trap door mechanism).

49
Gambar 42. Keadaan klinis pasien dengan fraktur orbita kanan

Gambar 43. Anatomi orbita

Gambar 44. Anatomi dan persarafan orbita

50
Gambar 45. Otot-otot yang mempengaruhi pergerakan bola mata

Penanganan fraktur orbita merupakan salah satu hal yang


paling sulit dalam menangani trauma maksilofasial. Komplikasi
yang terjadi akibat fraktur orbita meliputi kebutaan, diplopia yang
persisten, enophtalmus, eksophtalmus, gangguan sensasi di daerah
persarafan infraorbitalis, dan gangguan dari sisi estetik.

 Patomekanisme
Ada 2 teori yang menjelaskan terjadinya fraktur pada dasar
orbita yaitu :
1. Teori gaya hidraulik
Teori ini menjelaskan bahwa trauma yang tiba-tiba pada orbita
menyebabkan peningkatan infraorbital yang tiba-tiba, yang
tidak dapat ditoleransi dan diadaptasi oleh orbita, akibatnya
tekanan ini menyebabkan terjadinya impresi pada tulang, baik
bagian lateral, medial, maupun kaudal (dasar orbita).

2. Teori transmisi
Trauma yang langsung pada orbita yang menyebabkan
deformasi dari tulang orbita, baik bagian medial maupun
lateral.

51
 Pemeriksaan Radiografis
Radiograf Waters menunjukkan prolaps dari orbita dan
jaringan orbita ke dalam sinus maksilaris. Pada kebanyakan kasus,
fraktur orbita hanya dapat didiagnosis melalui CT-scan (potongan
1-2 mm) terutama potongan koronal. Jika diduga ada kerusakan
atau lesi pada n.optikus, perlu dilakukan pembuatan MRI.

 Tanda-Tanda Klinis
Diplopia dan gangguan sensibilitas pada daerah persarafan
infraorbitalis (fraktur dasar orbita) dan pada daerah persarafan
supraorbitalis (pada fraktur atap orbita). Selain itu, sering kali juga
terjadi enophtalmus, proptosis, hematoma, hipoglobus, dan
perubahan posisi mata lainnya.
Diplopia dapat disebabkan oleh :
1) Terjepitnya otot-otot mata di antara fragmen fraktur, terutama
m. rektus inferior dan/atau m.rektus medialis (mekanisme trap
door). Pada pemeriksaan, pasien akan melihat benda secara
dobel terutama saat melihat ke atas (diplopia vertikal, fraktur
dasar orbita) dan saat melihat ke samping (diplopia horizontal,
fraktur dinding medial orbita).
2) Trauma pada otot-otot mata biasanya karena tertusuk oleh
pecahan tulang.
3) Trauma pada saraf penglihatan, misalnya karena tertusuk
pecahan tulang.
4) Hematoma (sementara saja).
5) Perubahan posisi bulbus okuli > 8mm.

Diplopia ini dapat terjadi baik pada arah horizontal,


vertikal, maupun kombinasi keduanya.
Pada semua kasus fraktur orbita perlu dilakukan kerja sama
dengan dokter mata untuk menentukan status oftalmologis pasien
sebelum dan sesudah terapi. Status oftalmologis pasien harus selalu
didokumentasikan di dalam rekam medis pasien sebelum

52
melakukan terapi. Terapi yang dilakukan juga harus dilakukan di
dalam tim yang melibatkan dokter mata.
Biasanya dilakukan pemeriksaan dengan sinoptometer
untuk menentukan secara objektif status diplopia pasien ini. Selain
itu, juga perlu dilakukan tes duction, version, dan swinging flash
light. Pada beberapa kasus, fraktur orbita juga kadang-kadang
disertai enophtalmus, eksophtalmus, midriasis, epistaksis, dan
emfisema.
Fraktur orbita sering kali juga melibatkan kerusakan saraf
otak I, III, IV, V, dan VI. Trauma pada n. okulomotorius dapat
menyebabkan terjadinya optalmoplegia interna dan optalmoplegia
eksterna. Kerusakan pada n. troklearis dapat menyebabkan
pergerakan bulbus ke arah bawah menjadi terhambat. Paresis n.
troklearis sangat jarang terjadi. Kerusakan n. abducens dapat
menyebabkan kebutaan yang permanen. Trauma n. optikus (lesi
saraf optikus traumatik) menempati peringkat ketiga pada
kerusakan saraf yang paling sering terjadi pada kasus trauma
maksilofasial, yaitu setelah n. olfaktorius dan n. fasialis.
Pada kasus hematom retrobular yang ditandai dengan
eksophtalmus, gangguan penglihatan, dan peningkatan tekanan
infraorbital, harus segera dilakukan dekompresi orbita untuk
mengeluarkan hematom. Dekompresi dapat dilakukan dengan
melakukan kantotomi lateral dan kantolisis untuk mengurangi
tekanan intraorbital. Hal ini penting untuk menghindari kerusakan
permanen dari n. optikus.

 Terapi
Penatalaksanaan fraktur orbita merupakan salah satu hal
yang sangat sulit, menarik, dan kontroversial di dalam bidang
trauma maksilofasial. Komplikasi fraktur orbita seprti kebutaan,
diplopia, gangguan sensasi, gangguan penglihatan, dan gangguan

53
estetik pada daerah mata dan jaringan sekitarnya sering kali sangat
sulit untuk dikoreksi.
Revisi dan operasi fraktur orbita sebaiknya dilakukan
secepat mungkin, apalagi terdapat keluhan (diplopia dan gangguan
penglihatan lainnya). Perubahan geometri orbita dalam hal ini
penambahan volume sebesar 1 cm3 dapat menyebabkan
enopthalmus sekitar 1 mm. Tujuan utama dari tindakan bedah
orbita adalah untuk mengembalikan fungsi mata ke keadaan normal
termasuk di sini baik dari aspek estetik, penglihatan pergerakan,
posisi, estetik dan fungsi lakrimasi mata. Meskipun demikian,
keputusan untuk melakukan operasi ini harus didiskusikan dengan
baik dan terbuka dengan pasien. Pasien harus mengetahui bahwa
risiko kebutaan terjadi pada 3/1000 kasus jika operasi dilakukan
dalam keadaan akut dan 1/1800 pada operasi yang dilakukan
sekunder.
Akses yang dipiliih dapat melalui transkonjungtival,
subsiliar, maupun infraorbital. Akses secara transkonjungtival
sangatlah baik karena mengurangi resiko jaringan parut pasca-
operasi. Walaupun demikian, akses ini memiliki keterbatasan pada
fraktur dinding medial orbita yang melibatkan zigoa. Umumnya,
akses transkonjungtival ini digunakan pada fraktur orbita yang
terisolasi atau pada kombinasi fraktur orbita dan fraktur
zigomatikus tanpa displacement atau dengan displacement yang
minimal.

Gambar 46. Akses transkonjungtival

54
Gambar 47. Akses subsiliar

Gambar 48. a. Fraktur dasar orbita. b. Setelah dilakukan reposisi


dan pemasangan membran alloplastik pada dasar orbita.

Tidak semua fraktur orbita harus dioperasi. Penentuan


indikasi operasi harus dilakukan secara cermat. Beberapa ahli
berpendapat bahwa “strabismus surgery better than early diplopia
surgery”.
Setelah mendapatkan akses ke orbita, orbita dan seluruh
jaringannya yang ter-displacement dikembalikan ke posisi semula.
Pada kasus fraktur orbita yang parah beberapa penulis
menganjurkan penggunaan balon yang dimasukkan dari sinus
maksilaris selama beberapa hari untuk menahan agar tidak terjadi
re-displacement jaringan dan otot orbita. Setelah itu, dapat
digunakan bahan alloplastik, baik bahan yang teresorbsi, misalnya,
Ethisorb Patch (polygactin), PDS Pllien (poly-p-dioxanon) dengan

55
ketebalan 0,15, 0,25, dan 0,5 mm, maupun bahan dari titanium
sebagai ‘pengganti’ lamella tulang orbita dan bahan alloplastik
(misalnya, Medpore). Pada kasus trauma orbita yang parah (defek
> 3cm2) perlu dilakukan rekonstruksi langsung, misalnya dengan
graf tulang dari tabula eksterna ataupun dari mandibula.
Penggunaan bahan yang dapat teresorbsi memiliki kelemahan
karena diduga dapat menyebabkan enopthalmus di kemudian hari
(late enopthalmus), terutama pada fraktur orbita yang parah.
Penggunaan mesh titanium dipropagandakan memiliki
kelebihan karena dapat terlihat secara radiografis pasca-operasi.
Hal ini sangat berguna jika melakukan rekonstruksi orbita dengan
menggunakan perangkat navigasi komputer. Kerugian dari
penggunaan bahan titanium adalah jika di kemudian hari
diperlukan operasi sekunder untuk koreksi atau revisi ataupun di
kemudian hari terjadi fraktur pada tempat yang sama, maka
umumnya sangat sulit sekali untuk mengeluarkan bahan ini dari
jaringan sekitarnya.
Komplikasi berupa kebutaan dapat terjadi setelah revisi dan
reposisi fraktur orbita hal ini dikarenakan hematoma atau odem.
Karena itu, pada penggunaan PDS Folie disarankan untuk membuat
lubang sebagai jalan keluar dari hematom ke sinus maksilaris. Pada
pasien yang mengkonsumsi obat antikoagulan, sangat penting
untuk memberhentikan obat tersebut beberapa hari sebelum
operasi, karena perdarahan yang terjadi pasca-operasi sering kali
dapat berakibat fatal dan permanen untuk pengganti sementara dari
obat antikoagulan, misalnya dapat diberikan heparin. Namun, tentu
saja hal ini harus dikonsultasikan dengan dokter yang
bersangkutan.
Komplikasi berupa gangguan penglihatan dan kebutaan
harus selalu dijelaskan kepada pasien dan dituangkan dalam
informed consent sebelum operasi.

56
Jika pasien tidak memiliki gangguan sensasi pada daerah
persarafan infraorbitalis, baik berupa anastesi maupun parastesi
yang terkadang dapat disertai rasa sakit, perlu dilakukan tindakan
dekompresi n. infraorbitalis. Tindakan yang dilakukan adalah
dengan melakukan orbitotomi inferior cincin orbita. Akses yang
digunakan lebih baik akses ekstraoral, baik trankonjungtival
maupun subsiliar daripada akses intraoral.
Jika terjadi kerusakan atau trauma pada n. optikus, perlu
dilakukan terapi suportif dengan glukokoritokois, yaitu
methylprednisolone i.v. bolus 30mg/kgBB (sebelum 8 jam sesudah
trauma terjadi) diikuti dengan 5,4 mg/kgBB selama 48 jam
berikutnya. Selain itu, terapi bedah yang dilakukan adalah
dekompresi n.optikus dan membuang fragmen tulang yang
menyebabkan trauma.

c. KOMBINASI LAINNYA DARI FRAKTUR WAJAH LATERAL


 Fraktur Zigomatikomaksila
Secara umum mirip dengan fraktur zigomatikus, hanya saja
garis fraktur tidak saja melibatkan tulang zigomatikus saja, melainkan
juga melibatkan daerah fasial dan distal dari sinus maksilaris.
 Fraktur Zigomatikusmandibula
Selain melibatkan tulang zigomatikum dan arkus zigomatikum,
fraktur ini juga melibatkan prosesus muskularis dan/atau prosesus
artikularis mandibula. Tanda-tanda klinis yang khas dari fraktur ini
adalah pasien kesulitan untuk membuka mulut dan terjadinya deviasi
dari rahang bawah. Fraktur zigomatikusmandibula yang tidak diterapi
dapat menyebabkan terjadinya ankilosis dari sendi rahang.

d. FRAKTUR SENTROLATERAL ATAU LE FORT III


 Definisi
Fraktur sentrolateral yang dimaksud di sini adalah fraktur Le
Fort III. Pada fraktur Le Fort III garis fraktur memisahkan

57
visekoranium dari neurokranium. Fraktur dapat terjadi baik lateral
maupun bilateral, dan dapat juga terjadi dengan kombinasi fraktur
wajah lainnya. Umumnya fraktur jenis ini dapat disebabkan oleh trauma
kekuatan yang besar pada daerah cranial dari wajah. Pasien sering kali
juga mengalami trauma pada basis kranii dan otak. Dislokasi parah,
misalnya displacement wajah bagian tengah terjadi apabila
fasiatemporalis tidak dapat menetralisasi tekanan ke arah kaudal dari m.
masseter.

Gambar 49. Fraktur Le Fort III

Fraktur Le Fort III dapat dijumpai hematoma periorbital


bilateral (brill hematom) dan perdarahan subkonjungtiva
(hiposphagma). Pada palpasi dapat teraba diastase tulang pada daerah
arkus zigomatikus dan naso orbitoetmoidal. Seperti pada fraktur sentral
muka, jika terjadi displacement dari muka bagian tengah kea rah dorso
kaudal, maka dapat dijumpai gigitan terbuka frontal.
Perdarahan hebat dapat terjadi karena trauma pada hidung dan
sinus dokter maksilaris. Pada pemeriksaan pasien penting sekali untuk
menilai penglihatan pasien, guna mendiagnosis apakah terdapat
kerusakan n. optikus. Jika diduga ada kerusakan, dan jika terdapat
gangguan pengelihatan, perlu dilakukan kerjasama dengan dokter mata
dan dokter bedah saraf.

 Pemeriksaan Radiografis
Selain pemeriksaan radiografis konvensional seperti radiograf
Waters dan radiograf lateral, pada kebanyakan kasus perlu dilakukan

58
pemeriksaan CT-scan. hal ini sangatlah penting untuk menilai apakah
terjadi fraktur pada dasar tengkorak dan apakah terdapat kerusakan
pada otak. Jika dianggap perlu juga dapat dilakukan pembuatan MRI.

 Terapi
Indikasi untuk dilakukan terapi dengan operasi pada fraktur Le
Fort III sama saja dengan indikasi terapi pada fraktur Le Fort II dan Le
Fort I. hanya saja pada fraktur Le Fort III ini biasanya terjadi kerusakan
yang lebih parah pada daerah orbita dan saraf pengelihatan. Jika terjadi
kerusakan pada dura, perdarahan intraserebral, atau pembengkakan
intraserebral, maka yang menjadi prioritas adalah terapi hal tersebut
oleh dokter bedah saraf.
Pada fraktur Le Fort III dengan displacement yang minimal,
akses untuk reduksi terbuka bisa didapatkan dari insisi lateroorbital
bilateral dan insisi pada daerah kulit lokal. Sedangkan pada fraktur yang
parah dengan derajat displacement yang parah, perlu dilakukan
pembukaan akses pada bikoronal. Keuntungan akses ini adalah jaringan
parut pasca-operasi berada pada daerah yang tidak begitu mengganggu
secara estetik. Setelah dilakukan reposisi, fiksasi fragmen tulang dapat
dilakukan dengan menggunakan miniplat dan mikroplat. Terapi yang
dilakukan tentu saja harus memperhatikan aspek oklusi pasien.
Jika diduga ada kerusakan dan trauma dari n. optikus, maka ada
alternatif perawatan yang dapat dilakukan. Pertama adalah terapi
konservatif dengan memberikan obat-obatan antiinflamasi (misalnya
metilprednisolon, dosis awal 30mg/kg berat badan dilanjutkan dengan
5,4mg/kg berat badan setiap jam berikutnya, selama 48 jam). Jika
terdapat fraktur retroorbital dan jika terlihat adanya fragmen tulang
yang menyebabkan trauma pada n. optikus. Terapi ini semua harus
dilakukan secepat mungkin (dalam kurun waktu 12 jam).

Teknis Intubasi Submental


Pada pasien dengan fraktur wajah yang kompleks, sering kali
perlu dilakukan trakeostomi untuk menjaga jalan napas. Pada kasus

59
fraktur nasal kompleks dan fraktur wajah, maksila, dan mandibula
kompleks, sering kali pemasangan pipa endotrakeal tidak dapat
dilakukan baik melalui hidung (karena fraktur nasal kompleks) maupun
melalui mulut (karena diperlukan untuk mengembalikan oklusi normal
dengan MMF intraoperatif). Pada kasus-kasus yang demikian dapat
dilakukan intubasi teknik submental sebagai alternative trakeostomi.
Intubasi submental ini secara umum dipandang lebih minimal invasif
dibandingkan dengan trakeostomi, mudah dan cepat dilakukan, dan dari
beberapa penelitian komplikasi yang ditimbulkan sangat kecil, asalkan
dilakukan dengan teknik yang tepat. Pada prinsipnya dilakukan
pembuatan terowongan dari daerah submental, menembus otot
milohioideus terus ke dasar mulut di bagian lateral dan caruncula. Yang
penting perlu diperhatikan adalah agar tidak melukai caruncula dan
kelenjar sublingualis maupun submandibularis.

e. FRAKTUR FRONTOBASAL DAN FRAKTUR SINUS FRONTALIS


 Definisi
Fraktur frontobasal dapat terjadi dengan maupun tanpa
melibatkan fraktur sinus frontalis posterior, lamina kribosa, os.
etmoidale dan os. tobasal.
Tabel 2. Klasifikasi fraktur frontobasal
Kelas Lokasi
I Sinus frontalis posterior
II Os ethmoidale anterior lamina kribosa
III Os etmoidale posterior
IV Os sphenoidale
V Atap orbita

 Tanda Klinis
Pada fraktur frontobasal, penanganannya harus selalu
melibatkan ahli bedah saraf. Pertama-tama yang penting dilakukan

60
adalah penilaian keadaan umum pasien, tanda-tanda vital, dan juga
kesadaran pasien (misalnya dengan skala koma Glasgow).
Tanda-tanda klinis pasien dengan fraktur fraktur frontobasal dan
sinus frontalis meliputi perdarahan dari hidung dan nasofaring,
hematoma prioorbita (brill hematom), emfisema pada orbita, dan
gangguan penglihatan termasuk diplopia. Pada kasus dengan robek dura
terdapat rhinoliquorrhoe dan otorea dari cairan serebrospinalis. Jika
terdapat keraguan apakah cairan yang keluar dari itu hanya berupa
secret biasa atau bukan, dapat dilakukan tes halo. Tes ini dilakukan
dengan meneteskan cairan tersebut di atas kertas tissue. Tes
menunjukkan hasil positif apabila darah terkumpul di bagian tengah dan
terjadi rembesan cairan serebroospinalis yang membentuk cincin yang
mengelilingi daerah tersebut. Tes lain yang dapat dilakukan adalah
glukosaoksidasi. Jika kadar glukosa lebih dari 100 mg% (maksimum
40%), artinya cairan tersebut adalah liquorrho.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih pasti dapat dilakukan tes
beta 2 transferin. Beberapa penulis juga menganjurkan untuk
dilakukannya tes natrium fluoresen, yaitu menginjeksi 5% natrium
fluoresen secara intratekal atau lumbal.
Pada pasien dengan fraktur frontobasal yang parah, kehilangan
kesadaran dengan intracranial akut, disertai odem pada otak, perlu
dilakukan perawatan dan tindakan segera oleh seorang ahli bedah saraf
sebelum dilakukan tindakan untuk mereposisi fraktur di bagian lainnya.

 Terapi
Terapi harus dilakukan secara tim dengan melibatkan dokter
bedah, dokter saraf, dokter bedah kepala-leher, dokter bedah
maksilofasial, dokter mata, dan dari bidang ilmu lainnya. Rekonstruksi
dasar tengkorak pada fraktur dengan defek atau kehilangan tulang yang
banyak tidaklah mudah. Biasanya dapat digunakan graf autogenus,
implant CAD/CAM dari bahan titanium atau dengan menggunakan
material aloplastik (misalnya, semen Norian SRS).

61
Tujuan penanganan fraktur sinus frontalis adalah unutk
menghindari infeksi, meningitis, dan mukosel. Fraktur sinus frontalis
yang ringan atau tanpa displacement tidak memerlukan tindakan
operasi. Pada fraktur sinus frontalis dengan displacement perlu
dilakukan reposisi dan fiksasi dengan reduksiterbuka, akses yang dipilih
dapat melalui daerah luka yang sudah ada maupun melalui insisi
bikoronal. Fragmen tulang dapat difiksasi menggunakan mini plat
maupun mikroplat.

f. FRAKTUR NASAL
 Definisi
Sekitar 25% fraktur nasal terjadi pada anak-anak di bawah usia
1 tahun. Fraktur ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir karena
malposisi dalam rahim dan saat melahirkan. Selain itu, penyebab lain
adalah trauma akibat olahraga, kecelakaan lalu lintas, kekerasan rumah
tangga, dan lainnya.

 Klasifikasi
Tabel 3. Klasifikasi fraktur nasal
Kelas Definisi
I Fraktur nasal simple unilateral
II Fraktur nasal simple bilateral
III Fraktur nasal komminuted (unilateral, bilateral,
frontal)
IV fraktur nasal dengan deviasi septum
- Kelas IV a : dengan hematoma pada septum
- Kelas IV b : dengan luka tebuka pada hidung

62
Gambar 49. Fraktur nasal kelas I

Gambar 50. Fraktur nasal kelas II

Gambar 51. Fraktur nasal kelas III

 Pemeriksaan Klinis dan Radiografis


Fraktur nasal sering terjadi bersamaan dengan fraktur wajah
keseluruhan. Oleh karena itu, pemeriksaan tentang wajah lainnya perlu
juga dilakukan dengan seksama.

63
Pemeriksaan klinis meliputi lokasi dari laserasi, derajat
pembengkakan, perdarahan hidung, palpasi untuk mengetahui apakah
terdapat krepitasi dan kontinuitas tulang. Selain itu, jika diduga ada
keterlibatan septum perlu dilakukan pemeriksaan endoskopik.
Pemeriksaan radiografisnya adalah foto nasal lateral dan CT-scan.

 Terapi
Terapi fraktur nasal sering kali dianggap ‘mudah’, meskipun
demikian statistik menunjukkan sering kali dibutuhkan terapi atau
operasi sekunder nantinya, sebagai akibat dati deformitas yang
dirasakan masih mengganggu.
Tidak semua fraktur nasal membutuhkan terapi operasi. Indikasi
terapi adalah jika terdapat gangguan estetik dan gangguan fungsional
(pernapasan). Tindakan operasi sebaiknya dilakukan secepat mungkin.
Terapi dapat berupa terapi tertutup (reduksi tertutup), dengan
menggunakan elevator khusus, misalnya elevator Boies, untuk secara
tertutup mengembalikan fragmen tulang ke posisi yang benar. Setelah
itu dilakukan pemasangan tampon pada hidung dan splin (misalnya
splin denver) selama 7-10 hari. Terapi operasi terbuka ini dilakukan jika
terapi tertutup tidak member hasil yang memuaskan. Terapi reduksi
terbuka ini juga diindikasikan pada fraktur nasal kelas IV. Pada fraktur
ini perlu dilakukan septoplasti dan setelahnya dapat dipasang splin
septum selama 7-10 hari.
Perlu diketahui jika terdapat hematom pada septum harus segera
dilakukan evakuasi, karena hal ini dapat mengakibatkan terjadiya abses
dan nekrosis jaringan. Selain itu, walaupun tidak terbentuk abses,
seringkali akan terbentuk jaringan fibrotik yang dapat mengganggu
fungsi pernafasan.

64
10. FRAKTUR MANDIBULA

Fraktur mandibula merupakan kondisi mandibula yang terpisah dari


kranium. Penanganan fraktur mandibula ini sangat penting terutama untuk
mendapatkan efek estetika yang memuaskan, oklusi gigi yang sempurna, proses
mengunyah, dan menelan yang sempurna.
Diagnosis fraktur mandibula tidak sulit, ditegakkan berdasarkan adanya
riwayat kerusakan rahang bawah dengan memperhatikan gejala sebagai berikut.
a. Pembengkakan, ekimosis, ataupun laserasi pada kulit yang meliputi
mandibula.
b. Rasa nyeri yang disebabkan kerusakan pada nervus alveolaris inferior.
c. Anestesia dapat terjadi pada satu bibir bawah, pada gusi atau pada gigi di
mana nervus alveolaris inferior menjadi rusak.
d. Maloklusi, adanya fraktur mandibula sangat sering menimbulkan maloklusi.
e. Gangguan morbilitas atau adanya krepitasi.
f. Rasa nyeri saat mengunyah.
g. Gangguan jalan nafas, kerusakan hebat pada mandibula menyebabkan
perubahan posisi, trismus, hematoma, serta edema pada jaringan lunak.

Klasifikasi mandibula dibagi menjadi 7 regio yaitu :


a. Badan atau korpus mandibula
b. Simfisis mandibula
c. Angulus mandibula
d. Ramus mandibula
e. Prosesus koronoid
f. Prosesus kondilus
g. Prosesus alveolaris

Fraktur yang terjadi dapat pada satu, dua, atau lebih pada regio
mandibula ini. Frekuensi tersering terjadinya fraktur ialah prosesus kondilus
kemudian diikuti oleh korpus mandibula, angulus mandibula, simfisis
mandibula, prosesus alveolaris, ramus mandibula, dan prosesus koronoid.

65
Gambar 52. Mandibula dan bagiannya

Perbaikan fraktur mandibula menerapkan prinsip-prinsip umum


pembidaian mandibula dengan geligi utuh terhadap maksila. Lengkung geligi
atas biasanya diikatkan pada lengkung gigi bawah memakai batang-batang
lengkung ligasi dengan kawat. Batang-batang lengkung ini memiliki kait kecil
yang dapat menerima simpai kawat atau elastis guna mengikatkan lengkung gigi
atas ke lengkung gigi bawah. Fraktur mandibula yang lebih kompleks mungkin
memerlukan reduksi terbuka dan pemasangan kawat ataupun pelat secara
langsung pada fragmen-fragmen guna mencapai stabilitas, di samping
melakukan fiksasi intermaksilaris dengan batang-batang lengkung.

66
DAFTAR PUSTAKA

Budihardja, AS, dkk. 2011. Trauma Oral & Maksilofasial. Jakarta: EGC.
Koesoemahardja, dkk. 2008. Tumbuh Kembang Dentofasial Manusia, Edisi Kedua.
Jakarta: Universitas Trisakti Press.
Neville, BW, dkk. 2009. Oral and Maxillofacial Pathology, 3rd edition. St. Louis:
Elsevier.
Scully C, dkk. 2010. Oral and Maxillofacial Diseases, 4th edition. New York:
Informa Healthcare.
Soepardi AE, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok,
Kepala & Leher, Edisi Keenam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Sudiono, Janti. 2007. Gangguan Tumbuh Kembang Dentokraniofasial. Jakarta :
EGC.

67