Anda di halaman 1dari 2

Percobaan ini dilakukan penentuan kadar campuran multikomponen asetosal, parasetamol, dan kofein

yang terdapat dalam sediaan obat ‘poldanmig’ dengan menggunakan spektrofotometri ultraviolet.

Pemilihan spektrofotometer UV-Vis adalah karena spektrofotometer merupakan instrument analisis


yang tidak rumit, selektif, serta kepekaan dan ketelitiannya tinggi. Selain itu, senyawa asetosal,
parasetamol dan kofein yang akan dianalisis memiliki kromofor pada strukturnya berupa ikatan rangkap
terkonjugasi dan juga merupakan senyawa aromatik karena memiliki gugus aromatik sehingga
memenuhi syarat senyawa yang dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis.

Analisis kuantitatif suatu komponen zat dalam campuran atau yang dikenal dengan analisis
multikomponen secara spektrofotometri dapat dilakukan teknik serapan individual atau persamaan
simultan, tergantung pada profil kurva serapan masing-masing komponen. Jika profil kurva serapan
masing-masing komponen saling tumpah tindih keseluruhan maka dapat digunakan teknik
persamaan simultan [13]. Analisis campuran multikomponen yang digunakan pada pengujian ini
menggunakan sampel obat yang mengandung 500 mg parasetamol dan 65 mg kafein
pertablet.Sampel dilarutkan menggunakan campuran akuades dan methanol (8,5:1,5) kemudian dibaca
serapannya pada panjang gelombang 244 nm dan 273 nm

Larutan standar dibuat dengan maksud untuk membuat kurva standar atau kurva kalibrasi sehingga
nanti akan diperoleh panjang gelombang maksimum dari larutan standar tersebut. Kenapa panjang
gelombang maksimum yang dipilih, hal ini karena di sekitar panjang gelombang maksimum tersebut,
bentuk kurva serapan adalah datar sehingga hukum Lambert-Beer akan terpenuhi dengan baik sehingga
kesalahan yang ditimbulkan pada panjang gelombang maksimum dapat diperkecil.

Larutan blanko yang digunakan adalah etanol. Digunakan blanko etanolkarena pelarut yang
digunakan untuk melarutkan sampel adalah etanol.Penggunaan etanol sebagai pelarut
dikarenakan ketiga sampel yaitu asetosal,parasetamol dan kofein hanya sedikit larut dalam air. Seperti
diketahui bahwaketiga sampel tersebut terdiri dari gugus polar dan gugus nonpolar dimana
apabiladilarutkan dengan air maka hanya bagian polar yang dapat larut. Oleh karenanyamaka digunakan
pelarut etanol karena etanol memiliki gugus polar dan non polarsama halnya seperti sampel. Sehingga
bagian yang polar akan melarutkan bagianpolar pada sampel dan bagian nonpolar akan melarutkan
bagian nonpolar padasampel.

Dari spektra yang telah terbentuk, dapat diketahui bahwa absorbansi maksimum parasetamol
terletak pada panjang gelombang249nm dan absorbansi maksimum dari kafein terletak pada
panjang gelombang 275nm. Secara teoritis absorbansi maksimum parasetamol terletak pada
panjang gelombang 245nm pada pelarut asam dan 257nm dalam pelarut basa sedangkan
absorbansi kafein terletak pada panjang gelombang 272nm. Walaupun panjang gelombang
maksimum yang didapat berbeda tetapi masih dapat ditoleransi karena perbedaan yang masih
dalam batas yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia Edisi IV(1995), yaitu 3nm.

Setelah persamaan garis diperoleh maka kadar asetosal, parasetamol dankofein masing-masing dapat
dihitung. Pengukuran konsentrasi obat dalam sampelberdasarkan hokum lambert-beer. Hukum
Lambert-Beer menyatakan hubunganlinieritas antara absorban dengan konsentrasi larutan analit
dan berbandingterbalik dengan transmitan. Dalam hukum Lambert-Beer tersebut ada beberapa
pembatasan, yaitu : Sinar yang digunakan dianggap monokromatis; penyerapanterjadi dalam suatu
volume yang mempunyai penampang yang sama; senyawayang menyerap dalam larutan tersebut tidak
tergantung terhadap yang lain dalamlarutan tersebut; tidak terjadi fluorensensi atau fosforisensi ; serta
indeks biastidak tergantung pada konsentrasi larutan. Berdasarkan data hasil pengamatandiperoleh
kadar asetosal, kafein dan parasetamol pada tablet multikomponenmasing-masing : 3,4764
mg/ml, 6,844 mg/ml, dan 5,7013 mg/ml. Biladibandingkan dengan kadar masing-masing
komponen pada tablet yang beredarditemui berbedaan yang signifikan, dimana pada tablet
tertera mengandungparasetamol 400 mg, asetosal 250 mg, kofein 65 mg yang apabila
dilarutkankedalam 100 ml pelarut, maka setiap ml nya mengandung parasetamol 4 mg/ml,asetosal 2,5
mg/ml dan kafein 0,65 mg/ml. Perbedaan kadar ini dapat dipengaruhioleh faktor ketidak telitian pada
proses penyiapan bahan, adanya zat pengotorpada larutan yang dianalisis dengan spektrofotometer
sehingga mempengaruhipembacaan detektor.