Anda di halaman 1dari 5

Latar Belakang

Pada saat ini hipertensi adalah faktor risiko ketiga terbesar yang menyebabkan kematian
dini, hipertensi berakibat terjadinya gagal jantung kongestif serta penyakit cerebrovaskuler. Penyakit
ini dipengaruhi oleh cara dan kebiasaan hidup seseorang, sering disebut sebagai the killer
diseasekarena penderitatidak mengetahui kalau dirinya mengidap hipertensi. Penderita datang berobat
setelah timbul kelainan organ akibat Hipertensi. Hipertensi juga dikenal sebagai heterogeneouse group
of diseasekarena dapat menyerang siapa saja dari berbagai kelompok umur, sosial dan ekonomi.
Kecenderungan berubahnya gaya hidup akibat urbanisasi, modernisasi dan globalisasi memunculkan
sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan angka kesakitan hipertensi.

Permasalahan

1. Identitas Pasien

Nama: Tn. SN

Umur: 53 tahun

Alamat: Teling Atas

Pekerjaan: Pensiunan PNS

Tanggal Periksa:10 Januari 2020

2. Anamnesis

Keluhan Utama :

Pusing dan berat di tengkuk

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan pusing sejak 2 hari yang lalu. Pusing dirasakan terus menerus. Pasien juga
mengeluh tengkuk terasa kencang dan berat sehingga pasien tidak bisa tidur. Pasien merupakan pasien
rutin pengobatan hipertensi tiap bulan sejak 2 tahun yang lalu.

Riwayat Penyakit Dahulu

a. Riwayat hipertensi : (+) sejak 5 tahun yang lalu

b. Riwayat DM : disangkal

c. Riwayat sakit jantung : disangkal

d. Riwayat asma/alergi : disangkal

Riwayat Kebiasaan
a. Riwayat merokok : (+) sudah berhenti sejak 2 tahun yang lalu

b. Riwayat konsumsi alkohol : disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

a. Riwayat hipertensi : disangkal

b. Riwayat DM : disangkal

c. Riwayat asma/alergi : disangkal

d. Riwayat sakit jantung : disangkal

3. Pemeriksaan FIsik

Keadaan Umum: Sakit sedang,

Kesadaran : compos mentis

Tanda Vital : Tensi: 170 /100 mmHgb Nadi: 85x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup. c.Pernapasan:
16x/menitd.Suhu: 37,2°C per axila

Status Gizi

BB = 75kg

TB = 166cm

BMI =27.3kg/m2 (obesitas)

Status Generalis :

A. Kepala

Bentuk : Normocephal

Mata : Conjunctiva Anemis (-/-) Sklera Ikterik (-/-) Pupil isokor

Telinga : Simetris, Sekret (-), Nyeri tekan (-)

Hidung : Selret(-), Pernafasan cuping hidung (-)

Mulut : Sianosis (-)

B. Leher

JVP : 5+2, KGB tidak teraba


C. Thorax

Bentuk: simetris, retraksi intercostalis (-), sela iga melebar (-)

Jantung :

Inspeksi:ictus cordis tidak tampak

Palpasi: ictus cordis tidak kuat angkat.

Perkusi: batas jantung kesan tidak melebar

Auskultasi : HR 85x/menit, bunyi jantung I-II reguler,bising (-), gallop (-)

Paru

Inspeksi : simetris, sela iga tidak melebar, iga tidak mendatar. pengembangan dada simetris kanan =
kiri, sela iga tidak melebar, retraksi intercostal (-).

Palpasi : simetris, pergerakan kanan = kiri, vokal fremitus raba kanan = kiri

Perkusi :sonor

Auskultasi : VBS (+), suara tambahan (-)

D.Abdomen

Inspeksi : dinding perut sejajar dinding dada, distended (-), venektasi (-), sikatrik (-).

Auskultasi: bising usus (+) normal

Perkusi: tympani, pekak alih (-), ascites (-), undulasi (-)

Palpasi: supel (-), nyeri tekan (-), Ballotement (-), Hepar dan lien tidak teraba

E. Ekstermitas : Dalam batas normal

Perencanaan

1.Diagnosis Kerja : Hipertensi Stage II

2.Langkah tatalaksana

Tatalaksana pengendalian hipertensi dilakukan dengan pendekatan:


a.Promosi kesehatan

diharapkan dapat memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan diri serta kondisi lingkungan
sosial, diintervensi dengan kebijakan publik, serta dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran
masyarakat mengenai prilaku hidup sehat dalam pengendalian hipertensi.

b.Preventif

dengan cara larangan merokok, peningkatan gizi seimbang dan aktifitas fisik untuk mencegah
timbulnya faktor risiko menjadi lebih buruk dan menghindari terjadi rekurensi faktor risiko.

c.Kuratif

dilakukan melalui pengobatan farmakologis dan tindakan yang diperlukan. Kematian mendadak
yang menjadi kasus utama diharapkan berkurang dengan dilakukannya pengembangan
manajemen kasus dan penanganan kegawatdaruratan disemua tingkat pelayanan dengan
melibatkan organisasi profesi, pengelola program dan pelaksana pelayanan yang dibutuhkan dalam
pengendalian hipertensi.

d.Rehabilitatif

dilakukan agar penderita tidak jatuh pada keadaan yang lebih buruk dengan melakukan kontrol teratur
dan fisioterapi Komplikasi serangan hipertensi yang fatal dapat diturunkan dengan mengembangkan
manajemen rehabilitasi kasus kronis dengan melibatkan unsur organisasi profesi, pengelola program dan
pelaksana pelayanan di berbagai tingkatan.

Pelaksanaan

Melakukan anamesis dan pemeriksaan secara menyeluruh pada pasien dan memberikan tatalaksana
terapi yang adekuat berupa :

Terapi Non-farmakologis:

Pengendalian faktor risiko yang dapat saling berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi, hanya
terbatas pada faktor risiko yang dapat diubah, Seperti obesitas, diet rendah garam dan aktifitas fisik
aerobik.

Edukasi yang diberikan kepada pasien:

a.Menjelaskan kepada pasien bahwa hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat sembuh namun
dapat dikontrol dengan modifikasi gaya hidup dan obat

b.Mengontrol faktor risiko, antara lain menurunkan kelebihan berat badan, mengurangi asupan garam
sehari-hari, menciptakan keadaan rileks, melakukan olah raga teratur

c.Meminum obat secara teratur dan kembali kontrol sebelum obat habis
d.Rujukan dilakukan bilamana terapi yang diberikan di pelayanan primer belum dapat mencapai sasaran
pengobatan yang diinginkan atau dijumpai komplikasi penyakit lainnya akibat penyakit hipertensi.

Terapi Farmakologis :

Terapi farmakologis yang diberikan adalah:

Amlodipin 10 mg 1x1 selama 1 bulan

Captopril 25 mg 3x1 selama 3 hari

Monitoring Evaluasi

Apabila pasien datang untukkontrol, dilakukan evaluasi apakah keluhan yang dialami sudah berkurang
atau belum.Memeriksa tekanan darah pasien. Ditanyakan apakah obat masih ada atau tidak. Jika
tekanan darah masih belum memenuhi sasaran setelah beberapa kali pengobatan dan modifikasi
gaya hidup yang tepat atau ditemukan komplikasi dari hipertensi, maka pasien perlu dirujuk ke dokter
spesialis