Anda di halaman 1dari 33

Perencanaan Pelabuhan

CIVIL ENGINEERING”16

BAB I
PENDAHULUAN
1.I Definisi Pelabuhaan

Pelabuhan adalah salah satu bagian dari ilmu bangunan


maritim/kepulauan dimana peranan pelayaran ialah sangat penting bagi
kehidupan sosial, ekonomi, pemerintahan, pertahanan/keamanan dan
sebagainya. Dari kegiatan yang dilakukan dimungkinkan kapal-kapal
berlabuh atau bersandar yang meliputi angkutan penumpang, bongkar muat
barang, dan lain sebagainya (Bambang Triadmojo, 2010).
Ditinjau dari sub angkutan (transport), maka pelabuhanadalah salah
satu simpul dari mata rantai kelancaran angkutan muatan laut dan darat. Jadi
secara umum pelabuhanadalah suatu daerah perairan yang terlindung
terhadap badai/ombak/arus. Sehingga kapal dapat berputar (Turning Basin),
bersandar/membuang sauh, demikian rupa hingga bongkar muat atas barang
dan perpindahan penumpang dapat dilaksanakan, guna mendukung fungsi-
fungsi tersebut dibangun dermaga (Piers or Wharves), jalan, gudang, fasilitas
penerangan, telekomunikasi dan sebagainya, sehingga fungsi perpindahan
muatan dari kapal/ke kapal yang bersandar dipelabuhan menuju tujuan
selanjutnya dapat dilakukan.

1.2 Macam-macam Pelabuhan


1.2.1 Ditinjau dari segi penyelenggaraannya
a. Pelabuhan umum
Pelabuhan umum diselenggarakan untuk kepentingan pelayaran
masyarakat umum. Penyelenggaraan pelabuhan umum dilakukan oleh
Pemerintah dan pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada badan
usaha milik negara yang diberi wewenang mengelola pelabuhan
umum diusahakan. Keempat badan usaha tersebut adalah PT Persero
Indonesia II berkedudukan di Jakarta, Pelabuhan Indonesia III
berkedudukan di Surabaya dan Pelabuhan Indonesia IV berkedudukan
di Ujung Pandang.
b. Pelabuhan Khusus

1
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

Pelabuhan khusus diselenggarakan untuk kepentingan sendiri


guna menunjang kegiatan tertentu. Pelabuhan ini tidak boleh
digunakan untuk kepentingan umum, kecuali dalam keadaan tertentu
dengan ijin Pemerintah. Pelabuhan khusus dibangun oleh suatu
perusahaan baik pemerintah maupun swasta, yang berfungsi untuk
prasarana pengiriman hasil produksi perusahaan tersebut.
1.2.2 Ditinjau dari segi pengusahaannya
a. Pelabuhan yang diusahakan
Pelabuhan ini sengaja diusahakan untuk memberikan fasilitas-
fasilitas yang diperlukan oleh kapal yang memasuki pelabuhan untuk
melakukan kegiatan bongkar muat barang, menaik-turunkan
penumpang serta kegiatan lainnya. Pemakaian pelabuhan ini
dikenakan biaya-biaya, seperti biaya jasa labuh, jasa tambat, jasa
pemandu, jasa penundaan, jasa layanan air bersih, jasa dermaga, jasa
penumpukan, bongkar muat dan sebagainya.
b. Pelabuhan yang tidak diusahakan
Pelabuhan ini hanya merupakan tempat singgahan kapal, tanpa
fasilitas bongkar muat, bea cukai, dan sebagainya. Pelabuhan ini
merupakan pelabuhan kecil yang disubsidi oleh pemerintah, dan
dikelola oleh unit Pelaksana Teknis Direktorat Jendral Perhubungan
Laut.
1.2.3 Ditinjau dari fungsi pergadangan nasional dan internasional
a. Pelabuhan Laut
Pelabuhan ini adalah pelabuhan yang bebas dimasuki oleh kapal-kapal
berbendera asing. Pelabuhan ini biasanya merupakan pelabuhan utama
di suatu daerah yang dilabuhi kapal-kapal yang membawa barang
untuk ekspor/impor secara langsung ke dan dari luar negeri.
b. Pelabuhan Pantai
Pelabuhan pantai ialah pelabuhan yang disediakan untuk perdagangan
dalam negeri dan oleh kare itu tidak bebas disinggahi oleh kapal
berbendera asing. Kapal asing dapat masuk ke pelabuhan ini dengan
meminta ijin terlebih dahulu.

2
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

1.2.4 Ditinjau dari segi penggunaannya


a. Pelabuhan ikan
Pelabuhan ikan menyediakan tempat bagi kapal-kapal ikan untuk
melakukan kegiatan penangkapan ikan dan memberikan pelayanan
yang diperlukan. Berbeda dengan pelabuhan umum di mana semua
kegiatan seperti bongkar muat barang, pengisian perbekalan,
perawatan dan perbaikan ringan yang dilakukan di dermaga yang
sama; pada pelabuhan ikan sarana dermaga disedikan secara terpisah
untuk berbagai kegiatan. Pelabuhan ikan dilengkapi dengan berbagai
fasilitas untuk mendukung kegiatan penangkapan ikan dan kegiatan-
kegiatan pendukungnya, seperti pemecah gelombang, kantor
pelabuhan, dermaga, tempat pelelangan ikan (TPI), tangki air, tangki
BBM, pabrik es, ruang pendingin, tempat pelayanan/perbaikan kapal,
dan tempat penjemuran jalan (Bambang Triadmojo, hal. 9. 2010).
Menurut Bambang Triadmojo, 2010 Dermaga pelabuhan ikan dibagi
menjadi tiga macam, yaitu:
1) Dermaga Bongkar. Dermaga ini digunakan oleh kapal-kapal yang
baru datang dari melaut untuk bongkar hasil tangkapan ikan.
2) Dermaga Tambat. Di dermaga ini kapal ditambatkan. Selama di
dermaga tambat dilakukan perawatan kapal dan perawatan serta
perbaikan alat penangkap ikan.
3) Dermaga Perbekalan. Ketika nelayan akan melaut lagi, kapal yang
ditambat di dermaga tambat dibawa ke dermaga perbekalan untuk
mempersiapkan bekal yang akan dibawa melaut.

3
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

Gambar 1. Pelabuhan ikan Cilacap


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 11)

Gambar 2. Pelabuhan Perikanan Samudra Cilacap


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 11)

b. Pelabuhan Minyak
Pelabuahn minyak biasanya tidak memerlukan dermaga atau
pangkalan yang harus dapat menahan muatan vertikal yang besar,
melainkan cukup membuat jembatan perancah atau tambahan yang
dibuat menjorok kelaut untuk mendapatkan kedalaman air yang cukup
besar. Untuk keamanan pelabuahn minyak harus diletakkan agak jauh
dari keperluan umum.

4
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

Gambar 3. Pelabuhan Minyak


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 13)

Gambar 4. Pelabuhan Minyak


(Sumber:Bambang Triadmojo 2010, hal. 13)

c. Pelabuhan Barang

Di pelabuhan ini terjadi perpindahan moda transportasi, yaitu dari


angkutan laut ke angkutan darat dan sebaliknya. Barang di bongkar
dari kapal dan diturunkan di dermaga. Selanjutnya barang tersebut
diangkut langsung dengan menggunakan truk atau kereta api ke
tempat tujuan, atau disimpan di gudang atau lapangan penumpukan
terbuka sebelum dikirim ditempat tujuan. Demikian pula sebaliknya,

5
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

barang-barang dari pengirim ditempatkan di gudang atau lapangan


penumpukan sebelum dimuat ke kapal dan diangkut ke pelabuhan
tujuan (Bambang Triadmojo, hal.12, 2010).

Untuk mendukung kegiatan tersebut, suatu pelabuhan harus


dilengkapi dengan fasilitas berikut ini :

a. Dermaga dimana kapal akan bertambat dan melakukan kegiatan


bongkar muat barang. Panjang dermaga harus cukup untuk
menampung seluruh panjang kapal atau setidak-tidaknya 80 % dari
panjang kapal. Hal ini disebabkan karena umum dibongkar muat
melalui bagian muka, balakang dan tengah kapal.

b. Mempunyai halaman dermaga yang cukup lebar untuk keperluan


bongkar muat barang. Barang yang akan dimuat disiapkan diatas
dermaga dan kemudian diangkat dengan kran masuk kapal.
Demikian pula pembongkarannya dilakukan dengan kran dan
diletakkan diatas dermaga yang kemudian diangkut ke gudang.

c. Mempunyai gudang transito (gudang lini I) dan lapangan


penumukan terbuka serta gudang penyimpanan.

d. Tersedia jalan raya dan/atau jalan kereta api untuk pengangkutan


barang dari pelabuhan ke tempat tujuan dan sebaliknya.

e. Peralatan bongkar muat untuk membongkar muatan dari kapal ke


dermaga dan sebaliknya serta untuk mengangkut barang ke gudang
dan lapangan penumpukan.

Menurut Bambang Triadmojo, 2010 Penanganan muatan di


pelabuhan dilakukan di terminal pengapalan yang penanganannya
tergantung pada jenis muatan yang diangkut. Jenis muatan dapat
dibedakan menjadi tiga jenis berikut ini :

1. Barang umum (general cargo)yaitu barang –barang yang dikirim


dalam bentuk satuan seperti mobil, truk, mesin, dan barang-
barang yang dbungkus dalam peti, karung, drum, dan sebagainya.

2. Muatan curah/lepas (bulk cargo)yang dapat dibedakan menjadi


muatan curah kering berupa butiran padat seperti teung, pasir,

6
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

semen, batu bara, beras, jagung, gandum dan sebagainya dan


muaan curah cair seperti air, minyak bumi, minyak nabati, dsb.

3. Peti kemas (container) adalah salah satu kotak besar berbentuk


empat [ersegi panjang yang digunakann sebagai tempta untuk
mengangkut sejumlah barang. Peti kemas mempunyai ukuran
yang telah distandarisasi. Ukuran peti kemas dibedakan dalam 2
macam yaitu:

a. Peti kemas 20 kaki yang biasa disebut 20 footer


containerberukuran 8 x 8 x 20 ft3

b. Peti kemas 40 kaki yang biasa disebut 40 footer


containerberukuran 8 x 8 x 40 ft3

Gambar 5. Pelabuhan Barang


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 17-19)

Gambar 6 Kapal Peti Kemas


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal 30)

7
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

Gambar 7. Pelabuhan Peti Kemas


(Sumber: Soedjono, hal 284)

Gambar 8. Kegiatan di Pelabuhan Peti Kemas


(Sumber: Soedjono, hal 297)
d. Pelabuhan Penumpang

Pelabuhan/terminal penumpang digunakan oleh barang-barang


yang bepergian dengan menggunakan kapal penumpang. Terminal
penumpang dilengkapi dengan stasiun penumpang yang melayani
segala kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan orang yang
bepergian, seperti ruang tunggu, kantor imigrasi, kantor bea cukai,
keamanan, direksi pelabuhan, dan sebagainya (Bambang Triadmojo,
hal.16, 2010).

8
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

Gambar 9. Pelabuhan Penumpang


(Sumber:Bambang Triadmojo 2010, hal. 20)

Gambar 10. Pelabuhan Penumpang di Amabon


(Sumber:Bambang Triadmojo 2010, hal. 20)

e. Pelabuhan Campuran
Pada umumnya pencampuran pemakaian ini terbatas untuk
penumpang dan barang, sedangkan untuk keperluan minyak dan ikan
biasanya tetap berpisah (Bambang Triadmojo, hal.20, 2010).

f. Pelabuhan Militer
Pelabuhan ini mempunyai daerah perairan yang cukup luas untuk
memungkinkan gerakan cepat kapal-kapal perang dan agar letak
bangunan cukup terpisah. Konstruksi tambatan maupun dermaga
hampir sama dengan pelabuhan barang, hanya saja situasi dan
perlengkapannya agak lain. Pada pelabuhan barang letak/keguanan
bangunan harus seifisien mungkin, sedangkan pada pelabuhan militer
bagunan-bangunan pelabuhan harus dipisah-pisah yang letaknya agak
berjauhan (Bambang Triadmojo, hal.21, 2010).

9
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

1.2.5 Ditinjau menurut letak geografis

Menurut letak geografisnya, pelabuhan dapat dibedakan menjadi


pelabuhan alam, semi alam atau buatan.

a. Pelabuhan Alam

Pelabuhan alam merupakan daerah perairan yang terlindungi dari


badai dan gelombang secara alami, misalnya oleh suatu pulau, jazirah
atau terletak di teluk, estuari atau muara sungai. Di daerah ini
pengaruh gelombang sangat kecil. Pelabuhan cilacap merupakan
contoh pelabuhan alam yang daerah perairannya terlindung dari
pengaruh gelombang, yaitu oleh pulau Nusakambangan. Contoh dari
pelabuhan alam lainnya adalah pelabuhan Palembang, Belawan,
Pontianak, New York, San Fransisco, London, dsb., yang terletak di
estuari dan muara sungai. Estuari adalah bagian dari sungai yang
dipengaruhi oleh pasang surut air laut.

Gambar 11. Pelabuhan Alam dimuara sungai


(Sumber:Bambang Triadmojo 2010, hal. 22)

b. Pelabuhan Buatan
Pelabuhan buatan adalah suatu daerah perairan yang dilindungi
dari pengaruh gelombang dengan membuat bangunan pemecah
gelombang (breakwater). Pemecah gelombang ini membuat
daerah perairan tertutup dari laut dan hanya dihubungkan oleh
suatu celah (mulut pelabuhan) untuk keluar masuknya kapal. Di
dalam daerah tersebut di lengkapi dengan alat penambat. Contoh

10
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

dari pelabuhan ini adalah pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung


Mas, dsb.

Gambar 12. Pelabuhan buatan


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 23)

Gambar 13. Pelabuhan Buatan


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 23)

c. Pelabuhan Semi Alam


Pelabuhan ini merupakan campuran dari kedua tipe di atas.
Misalnya suatu pelabuhan yang terlindungi oleh lidah pasir dan
perlindungan buatan hanya pada alur masuk. Pelabuhan
Bengkulu adalah contoh dari pelabuhan ini. Contoh lainnya
adalah muara sungai yang kedua sisinya dilindungi oleh jetty.
Jetty tersebut berfungsi untuk menahan masuknya transpor pasir
sepanjang pantai ke muara sungai, yang dapat menyebabkan
terjadinya pendangkalan.

11
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

Gambar 14. Pelabuhan semi alam


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 24)

Gambar 15. Pelabuhan semi alam


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 25)

Untuk merealisir suatu pembangunan pelabuhan, maka minimal ada 7 (tujuh)


data -data pokok yang dibutuhkan yaitu :

1. Asal dan tujuan muatan (orogin and desmution), dan jenis muatan.

2. Klimotologi, yang meliputi angin, pasang surut, sifat air laut.

3. Topografi, Geologi, dan Struktur tanah.

4. Rencana pembiayaan, ukuran-ukuran keberhasilan, secara ekonomis dilihat


dari segi investasi.

5. Pendayagunaan modal ditinjau dari segi Operasional, terutama penanganan


muatan.

12
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

6. Kaitan pelabuhan dengan jenis kapal yang menyinggahinya dan


sarana/prasarana angkutan lain yang mendukung kegiatan pelabuhan
dengan daerah pendukungnya secara keseluruhan (komprehensif).

7. Kaitan pelabuhan dengan pelabuhan lain dalam rangka lalu lintas dan sistem
jaringan guna mendukung perdagangan.

Masalah khusus yang biasanya terdapat dalam melaksanakan perancangan


pembangunan pelabuhan adalah:
1. Pembangunan pelabuhan di daerah yang baru (virgin) atau pengembangan
pelabuhan perluasan.
2. Pelaksanaan pembangunan konstruksi pada kondisi tanah lumpur atau terjal.
3. Pelaksaan pembangunan pelabuhan yang mempunyai kedalaman besar
(pelaksanaan sukar).
4. Pergerakan alur pelayaran untuk kapal-kapal yang dikaitkan kemungkinan
terjadinya endapan didalam kolam atau alur pelabuhan.
5. Pemakaian konstruksi material yang baru.
Ciri-ciri teknis yang harus diperhatikan agar pelabuhan yang dirancang
dapat memenuhi syarat – syarat sebagai berikut:
1. Kapal harus dengan mudah keluar masuk pelabuhan dan bebas dari
gangguan gelombang dan cuaca, sehingga navigasi kapal dapat dilakukan.
2. Tersedia ruang gerak kapal di dalam kolam dan dalam pelabuhan. Gerakan
memutar kapal untuk mengarah keluar pelabuhan harus dimungkinkan
sebelum kapal ditambatkan.
3. Pengerukan mulu (capital dredging) dan pemeliharaan pergerakan
(maintenancedredging) yang minim.
4. Mengusahakan perbedaan pasang/surut yang relatif kecil, tetapi
pengendapan (sedimentasi) harus dapat dihilangkan/diperkecil.
5. Kemudahan kapal untuk bertambat.
6. Pembuatan tambatan / dermaga diusahakan sedemikian rupa agar :
a. Biaya awal dan biaya pemeliharaan yang minim, tetapi kuat memikul
muatan, peralatan dan tumbukan kapal pada saat menambat.
b. Letak dan bentuk tambatan yang mampu menampung bermacam jenis
kapal dengan jarak (draft) dan atau panjang kapal yang berlainan.

13
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

c. Mempunyai ukuran (dimensi) yang cukup untuk melaksanakan


bongkar muat, jalan kereta api, jalan raya, gedung pelabuhan alat-alat
transportasi lain yang beroperasi dipelabuhan.
d. Bagi barang khusus (curah), maka penanganan bongkar muat agar
dapat dilakukan efisien.
e. Cukup mempunyai tempat-tempat penyimpanan tertutup (bidang
transit) ataupun lapangan terbuka (open strage) untuk menampung
muatan.
f. Penyediaan peralatan bongkar muat yang memadai.
g. Fasilitas prasarana lain yang mendukung yaitu; air bersih, listrik,
telpon, dan minyak yang cukup untuk melayani kapal dan matan.
h. Mempunyai aringan angkutan darat yang mudah dengan daerah
pendukungnya (hinterland).
i. Muatan diusahakan bebas dari gangguan, misalnya terhadap pencurian
dan bahaya kebakaran.
j. Tersedia fasilitas pemeliharaan minimal baik bagi kapalnya (dok)
ataupun pemeliharaan peralatan.
k. Tersedia fasilitas perkantoran untuk para karyawan dipelabuhan agar
lalu lintas dapat dilakukan dengan cepat (non phsic).
l. Masih dimungkinkannya perluasan/pengembangan pelabuhan.

1.3 Karakteristik kapal

Perencanaan pelabuhan harus meninjau pengembangan pelabuhan di


masa mendatang, dengan memperhatikan daerah perairan dan daratan. Daerah
perairan harus cukup luas yang diperlukan untuk alur pelayaran, kolam putar,
penambatan, dermaga. Daerah daratan harus mencukupi fasilitas gudang,
lapangan penumpukan, perkantoran, jalan dan fasilitas di darat lainnya.
Dimensi berbagai fasilitas pelabuhan tersebut tergantung karakteristik kapal.
Sebagai contoh kedalaman dan lebar alur pelayaran tergantung pada kapal
terbesar yang menggunakan pelabuhan. Panjang dermaga ditentukan
berdasarkan panjang kapal rerata yang berlabuh dipelabuhan (Bambang
Triadmojo, 2010).

Port and Harbour Bureau of Minitry of Transport, Japan (Thomresen,


CA., 2003) memberikan persamaan untuk menghitung beberapa karakterisitik

14
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

kapal seperti diberikan pada tabel 1.1. tabel tersebut menunjukkan hubungan
antara berat kapal total (Displacement Tonnage, DT), luas bidang kapal lateral,
luas bidang muka kapal, luas permukaan di bawah muka air, berat kapal
kosong dengan pemberat (displacement ballast loaded), draft kapal kosong
dengan pemberat (draft ballast loaded)untuk kapal barang umum, kapal tanker
dan kapal barang curah padat.

Table 1. Karakteristik kapal

(Sumber: Bambang Triatmodjo, Hal.37)

1.4 Dermaga
Dermaga adalah suatu bangunan pelabuhan yang digunakan untuk
merapat dan menambatkan kapal yang melakukan bongkar muat barang dan
menarik/menurunkan penumpang. Dimensi dermaga didasarkan pada jenis
dan ukuran kapal yang merapat dan bertambat pada dermaga tersebut. Di
belakang dermaga terdapat apron, gudang transit, tempat bongkar muat
barang dan penumpang. Dimana apron adalah daerah yang terletak antara sisi

15
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

dermaga dan sisi depan gudang yang terdapat pengalihan kegiatan angkutan
laut (kapal) ke kegiatan angkutan darat.
Dermaga yang dibangun untuk melayani kebutuhan tertentu, pemilihan
tipe dermaga sangat dipengaruhi oleh kebutuhan yang akan dilayani, ukuran
kapal arah gelombang dan angin kondisi topografi dan tanah besar laut, dan
yang paling penting adalah tinjauan ekonomi untuk mendapatkan bangunan
yang paling ekonomis.Pemilihan tipe dermaga didasarkan pada :

1.4.1 Tinjauan topografi daerah pantai.


Dalam tinjauan tersebut dikenal 2 (dua) macam type bangunan
dermaga yaitu:

a. Wharf (Paralel)
Wharf adalah dermaga yang dibuat sejajar pantai dan dapat
dibuat berimpit dengan garis pantai atau agak menjorok ke laut.
Wharf dibangun apabila garis ke dalam laut hampir merata dan
sejajar dengan garis pantai dan kemiringan dasar cukup curam.
Menurut strukturnya wharf dapat dibedakan menjadi 2 (dua)
macam yaitu :

1) Dermaga konstruksi terbuka dimana lantai dermaga didukung


oleh tiang–tiang pancang.

2) Dermaga konstruksi tertutup atau dolid, seperti dinding


massa, kaison, turap dan dinding penahan tanah.

Gambar 16. Tipe Wharf


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 197)

16
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

b. Pier
Pier adalah dermaga yang berada pada garis pantai dan
posisinya tegak lurus dengan garis pantai (berbentuk jaril).
Berbeda dengan wharf yang digunakan untuk merapat pada satu
sisinya, pier bisa digunakan pada satu sisi atau dua sisinya
sehingga digunakan untuk merapat lebih banyak kapal.

Gambar 17. Tipe Pier


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 197)

c. Jetty

Jetty adalah dermaga yang menjorok ke laut sedemikian


sehingga sisi depannya berada pada kedalaman yang cukup untuk
merapat kapal. Jetty digunakan untuk merapat kapal tanker atau
kapal pengangkut gas alam yang mempunyai ukuran sangat besar.
Sisi muka jetty ini biasanya sejajar dengan pantai yang
dihubungkan dengan daratan oleh jembatan yang membentuk
sudut tegak lurus dengan jetty.

17
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

Gambar 18.Tipe Jetty


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 197)

Gambar 19.Tipe Dermaga


(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 196)

18
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

1.4.2 Jenis kapal yang dilayani dan ukuran dermaga.


Dermaga yang melayani kapal-kapal sesuai dengan kebutuhan yang
akan dilayani sangat mempengaruhi konstruksi dan ukuran dermaga.
Dermaga yang melayani kapal minyak dan kapal barang curah
mempunyai konstruksi yang ringan dibanding dengan dermaga barang
potongan, karena dermaga tersebut tidak memerlukan peralatan bongkar
muat barang yang besar, gudang-gudang, lebar apron semakin besar, dsb.
Demikian juga halnya ukuran dermaga yaitu semakin banyak keperluan
kapal yang dbutuhkan untuk bertambat maka panjang, luas lebar apron
fasilitas lain serta konstruksi semakin besar pula.

1.4.3 Gaya-gaya yang bekerja pada dermaga.


Gaya-gaya yang bekerja pada dermaga dapat dibedakan menjadi
gaya lateral dan vertikal. Gaya lateral meliputi gaya benturan kapal pada
dermaga, gaya tarik kapal dan gaya gempa, sedang gaya vertikal adalah
berta sendiri bangunan dan beban hidup.

a. Gaya benturan kapal


Pada waktu merapat ke dermaga kapal masih mempunyai
kecepatan sehingga akan menjadi benturan antara kapal dan dermaga.
Dalam perancangan dianggap bahwa benturan maksimum terjadi
apabila kapal bermuatan penuh menghantam dermaga pada sudut 100
terhadap sisi depan dermaga. Gaya benturan kapal yang harus ditahan
dermaga tergantung pada energi benturan yang diserap oleh sistem
fender yang dipasang pada dermaga.

b. Gaya akibat angin


Angin yang berhembus ke badan kapal yang ditambatkan akan
menyebabkan gerakan kapal yang bisa menimbulkan gaya pada
dermaga. Apabila arah angin mengarah ke dermaga, maka gaya
tersebut berupa gaya benturan ke dermaga, sedang jika arahnya
meninggalkan dermaga akan menyebabkan gaya tarikan kapal pada
alat penambat. Besar gaya angin tergantung pada arah hembusan
angin.

19
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

c. Gaya akibat arus


Seperti halnya angin, arus yang bekerja pada bagian kapal yang
terendam air juga akan menyebabkan terjadinya gaya pada kapal yang
kemudian diteruskan pada dermaga dan alat penambat.

d. Gaya tarikan kapal pada dermaga


Gaya tarikan kapal dapat menyebabkan gaya benturan pada
dermaga atau gaya tarik pada alat penambat (Bollard).

1.4.4 Daya Dukung Tanah


Kondisi tanah sangat menentukan dalam pemilihan tipe dermaga.
Pada umumnya tanah dekat daratan mempunyai daya dukung yang lebih
besar dari pada tanah di dasar laut. Dasar laut umumnya terdiri dari
endapan yang belum padat. Karakteristik dan struktur tanah sebagai
pendukung bangunan keseluruhan banyak ditentukan atas kekutan tanah
tersebut dan diukur sebagai tekanan tanah yang diizinkan.

Dimana intensitas pembebanan maksimum dihitung berdasarkan :

a. Gaya tekanan tanah maksimal, yaitu tekanan tanah aktif dan tekanan
tanah pasif. Dalam keadaan asli pada setiap lapisan tanah, akan
didapatkan tegangan lateral (horizontal). Biasanya tegangan lateral
ini lebih kecil daripada tegangan vertikal. Keadaan distribusi
tekanan ini adalah fungsi daripada pergeseran (displacement) dan
regangan (strain) dan biasanya adalah masalah statis tak tertentu
(indeterminarel. Untuk mempermudah perhitungan maka penelitian
dilakukan pada tanah dalam keadaan seimbang plastis (plastic
equilibrium)(Soedjono Kramadibrata, 2002).
b. Penurunan bangunan yang direncanakan.
c. Gaya-gaya lateral/horisontal dan vertikal dalam tanah.
Menurut Soedjono Kramadibrata, gaya-gaya horizontal meliputi :
1. Akibat angina dan arus, besarnya gaya yang bekerja pada tambatan
diukur sesuai skala Beaufort,arah angina yang menetukan, dan
arus yang bekerja pada tambatan tersebut.
2. Akibat benturan kapal

20
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

3. Akibat gempa, bangunan pelabuhan ermasuk dalam kategori


bangunan khusus, maka besaran koefisien gempa harus dihitung
2x koefisien gempa dasar. Arah kerja gempa harus diperkirakan
pada segala arah.
4. Akibat muatan hidup horizontal, besar mautan hidup horizontal
diambil secara prosentuil (5-10)% dari muatan hidup yang bekerja
pada bangunan pelabuhan.
Sedangkan gaya-gaya vertikal terdiri dari muatan mati (dead load) dan
muatan hidup (gerak, live load). Muatan mati terjadi akibat berat
konstruksi-konstruksi yang terdapat pada bangunan tersebut,
sedangkan muatan hidup biasanya terdiri atas muatan merata, muatan
terpusat akibat roda-roda truk, mobil, keran mobil, dan peralatan lain
yang bekerja untuk melakukan bongkar muat dalam pelabuhan.

Urutan kegiatan dalam perencanaan dermaga, yaitu :

a. Perencanaan Lay Out dermaga.


b. Perencanaan letak dan kedalaman perairan dasar dan dimensi
dermaga.
 Panjang Dermaga
Lp = n . Loa + (n+1) . 10% . Loa (Pers 1)
Keterangan :
Lp : Panjang Dermaga
Loa : Panjang Kapal yang ditambat)
n : Jumlah kapal yang ditambat)
(Sumber: Bambang Triadmojo, 2010 hal. 214)

 Lebar Gudang
b = 2A / (d – e) (Pers 2)
Keterangan :
A : Luas gudang
L : Panjang kapal yang ditambat
b : Lebar gudang

21
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

a : Lebar apron
e : Lebar Jalan
Nilai a da e dapat dilihat dalam Gambar 6.29 (Quinn A. Def.
1972)
(Sumber: Bambang Triadmojo, 2010 hal. 215)

 Lebar Dermaga
Lebar dermaga = Lebar apron + lebar gudang + lebar jalan +
lebar parkir + lebar areal bebas
c. Perhitungan beban muatan yang dipikul dermaga, baik beban merata
maupun beban terpusat.
d. Perhitungan gaya-gaya yang bekerja.
 Gaya sandar
Menghitung nilai energi benturan
WP 2
E= C m . Ce . Cs . Cc (Pers 3)
2g
Keterangan :
E : Energi Benturan t.m
V : Konpenentegak lurus sisi dermaga dari kecepatan
kapal pada
saat membentur dermaga
W : Displacement (Berat) Kapal
g : Percepatan Grafitasi

Cm : Koefisien Massa
Ce : Koefisien Eksentrisitas
Cs : Koefisien Kekerasan ( diambil 1)
Cc : Koefisien Bentuk dari tambatan (diambil 1)
(Sumber: Bambang Triadmojo, 2010 hal. 218)
 Rumus Keofisien Massa
p .d
Cm = 1 + (Pers 4)
2 . Cb . B
Dimana:
W
Cb =
Lpp . B . d . g 0
Cb : Koefisien Blok Kapal

22
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

d : Draf Kapal (m)


B : Lebar Kapal (m)
Lpp : Panjang Garis Air (m)
Ɣ₀ : Berat Jenis Air Laut (t/m³)
(Sumber: Bambang Triadmojo, 2010 hal. 219)

 Koefisien Eksentrisitas
1
Ce = (Pers 5)
æl ö
2

1 + ç ÷
èrø
Dimana:
l : Jarak sepanjang permukaan air dermaga dari pusat
berat kapal sampai titik sandar kapal
r : Jari-jari putaran disekililing pusat berat kapal pada
permukaan air
(Sumber: Bambang Triadmojo, 2010 hal. 220)

 Gaya Akibat Arus


æ Vc 2 ö
Ra = Cc c g w c A c ç ÷
è 2g ø (Pers 6)
Dimana:
R : Gaya Akibat Arus (kg.f)
Ac : Luas Tampang Kapal yang Terendan Air (m²)
Ɣw : Rapat Massa Air Laut (1025 kg/m³)
Vc : Kecepatan Arus (m/dtk)
Cc : Koefisien Tekanan Arus
(Sumber: Bambang Triadmojo, 2010 hal. 223)

e. Perhitungan total gaya dan momen yang terjadi.


 Analisis SAP 2000
f. Karakteristik tanah, terutama yang bersangkutan dengan daya dukung
tanah, stabilitas bangunan dan lingkaran maupun kemungkinan
penurunan bangunan akibat konsolidasi tanah.

23
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

Po = γ . Ko dengan Ko = tan2 (45° - ∅ /2) (Pers 7)


Pp = γ . Kp dengan Kp = tan2 (45° + ∅ /2) (Pers 8)
cosÆ
Pp1 = γ .Kp dengan Kp1 = (Pers 9)
1 - sinÆ (sinÆ - cosÆ tanÆ)

Dimana:
Pa : Tekanan Tanah Aktif
Pp : Tekanan Tanah Pasif
Pp1 : Tekanan Tanah Pasif Untuk Permukaan Bidang
Miring
Ɣ : Berat Jenis Tanah
Ka : Koefisien Tekanan Tanah Aktif
Kp : Koefisien Tekanan Tanah Pasif
Kp1 : Koefisien Tekanan Tanah Pasif Untuk Permukaan
Tanah Miring
φ : Sudut Gesek Dalam
θ : SuduT Kemiringan Tanah Dasar didepan Turap
(Sumber: Bambang Triadmojo, 2010 hal. 242)

g. Perencanaan Bollard (tempat penambatan kapal) dan Fender.


wp 2
E= C m . Ce
2g
Keterangan :
E : Energi Benturan t.m
V : Konpenentegak lurus sisi dermaga dari kecepatan
kapal pada saat membentur dermaga.
W : Displacement (Berat) Kapal
g : Percepatan Grafitasi
Cm : Koefisien Massa
Ce : Koefisien Eksentrisitas
Cs : Koefisien Kekerasan ( diambil 1)
Cc : Koefisien Bentuk dari tambatan (diambil 1)
(Sumber: Bambang Triadmojo, 2010 hal. 218)

24
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

pd
Cm = 1 +
2 Cb B
Dimana:
W
Cb =
L pp B d g o

Cb : Koefisien Blok Kapal


d : Draf Kapal (m)
B : Lebar Kapal (m)
Lpp : Panjang Garis Air (m)
Ɣ₀ : Berat Jenis Air Laut (t/m³)
1.5 Fender dan Alat Penambat

1.5.1 Pendahuluan
Kapal yang merapat ke dermaga masih mempunyai kecepatan baik
yang digerakkan oleh mesinnya sendiri atau ditarik oleh kapal tunda.Pada
waktu kapal merapat akan terjadi benturan antara kapal dengan
dermaga,untuk menghindari kerusakan pada kapal dan dermaga karena
benturan maka di depan dermaga diberi bantalan yang berfungsi sebagai
penyerap energi benturan.Bantalan yang diletakkan di depan dermaga
tersebut dinamakan fender.
Pada waktu kapal melakukan bongkar muat barang atau selama
menunggu diperairan pelabuhan, kapal harus tetap berada pada tempatnya
dengan tenang, untuk itu kapal harus diikat dengan Alat penambat gerak
kapal bias disebabkan oleh gelombang arus atau angin yang dapat
menimbulkan gaya tarik ke alur penampat.

1.5.2 Fender
Fender berfungsi sebagai bantalan yang ditempelkan didepan dermaga
yang akan menyerap energi benturan antara kapal dan dermaga. Gaya yang
harus ditahan oleh dermaga tergantung pada tipe konstruksi fender dan
defleksi dermaga yang di izinkan. Fender harus dipasang disepanjang
dermaga dan letaknya harus sedemikian rupa dapat mengenai kapal. Oleh

25
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

karena kapal mempunyai ukuran yang berlainan maka fender harus dibuat
agak tinggi pada sisi dermaga(Bambang Triadmojo, 2010).

Gambar 20. Defleksi fender karena benturan kapal


(Sumber : Bambang Triadmojo, 2010 hal. 260 )

Menurut Bambang Triadmojo, 2010 ada beberapa tipe fender yaitu


fender kayu, fender karet dan fender gravitasi.
d. Fender kayu
Fender kayu bias berupa barang-barang kayu yang dipasang
horizontal atau sejumlah batang kayu vertical. Fender kayu dapat
berupa fender dari kayu yang digantung pada sisi dermaga. Fender
tiang panjang kayu yang ditempatkan didepan dermaga dengan
kemiringan 1:24 fender kayu yang dipasang pada tiang panjang dan
besi profil. Fender kayu mempunyai sifat untuk menyerap energy dan
penyerapan energy diperoleh dari defleksi tiang kayu/besi karet dan
balok kayu/besi.

Gambar 20. Contoh fender kayu


(Sumber :Bambang Triadmojo, 2010 hal. 263 )
e. Fender Karet
Karet banyak digunakan sebagai fender. Bentuk paling sederhana
dari fender ini berupa ban-ban war mobil yang dipasang pada sisi
depan disepanjang dermaga. Fender ban mobil ini digunakan untuk

26
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

kapal-kapal kecil. Fender karet mempunyai bentuk berbeda seprti


fender tabung silinder dan segi empat, balok aret berbentuk segi
empat. Fender karet dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu :
a. Fender yang dipasang pada struktur dermaga, yang masih dapat
dibedakan menjadi fender tekuk (buckling fender) yaitu fender
yang mengalami tekuk jika menerima gaya tekan, seperti Fender
Tipe V, Fender Tipe A, Fender Sell, dan fender tak tertekuk (
non-bukling fender ) seperti fender dari ban mobil bekas dan
fender silinder.
b. Fender terapung yang ditempatkan antara kapal dan struktur
dermaga, seperti fender pneumatic

Gambar 21. Fender tipe A (PT. Kemenangan Jakarta)


(Sumber : Bambang Triadmojo, 2010 hal. 264 )

Gambar 22. Fender tipe V

27
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

(Sumber : Bambang Triadmojo, 2010 hal. 266 )

Gambar 23. Fender Silinder


(Sumber : Bambang Triadmojo, 2010 hal. 270 )

Gambar 24. Fender Sel


(Sumber : Bambang Triadmojo, 2010 hal. 272 )

28
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

Gambar 25. Fender Pneumatic


(Sumber : Bambang Triadmojo, 2010 hal. 274 )

f. Fender Gravitasi
Fender grafitasi digantung disepanjang dermaga fender ini terbuat
dari tabung baja yang diisi dengan betondan sisi depannya diberi
pelindung kayu dengan berat sampai 15 ton. Apabila terbentur kapal,
fender tersebut akan bergerak kebelakang dan keatas, sedemikian
sehingga kapal dapat dikurangi kecepatannya, karena untuk dapat
menggerakkan kebelakang diperlukan tenaga yang cukup besar,
prinsip kerja fender ini adalah mengubah energy kinetis menjadi
energy kinetis menjadi energy potensial.
Bentuk lain dari fender gravitasi yang terdiri dari balok beton
besar yang digantungkan dengan menggunakan rantai pada lantai
dermaga. Sisi depan blok beton dilengkapi dengan fender kayu.
1.5.3 Perencanaan Fender
Kapal yang merapat kedermaga membentuk sudut terhadap sisi
dermaga dan mempunyai kecepatan tertentu dalam perncanaan
dermaga dianggap bahwa kapal bermuatan penuh dan merapat dengan
sudut 10° terhadap sisi depan dermaga. Pada saat kapal merapat dan
bertambat di dermaga terjadi benturan, gesekan dan tekanan antara
kapal dan dermaga. Gaya-gaya yang timbul pada waktu penambatan
kapal adalah benturan kapal, gesekan antara kapal dan dermaga dan
tekanan kapal pada dermaga. Gaya-gaya tersebut dapat menyebabkan

29
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

kerusakan pada kapal dan struktur dermaga. Untuk mencegah


kerusakan tersebut didepan sisi dermaga dipasang fender yang dpat
menyerap energy benturan. Jumlah energy yang diserap dan gaya
maksimum yang diteruskan pada struktur dermaga digunakan untuk
menentukan jenis dan ukuran fender.
Energi yang diserap oleh system fender dan dermaga biasanya
ditetapkan ½ E. setelah energy lain diserap oleh kapal dan air.
Tahanan naik dari nol sampai maksimal dan kerja yang dilakukan oleh
dermaga adalah :
1
K= F.D (Pers. 8)
2

(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 276)

Karena benturan kapal pada dermaga, fender memberikan gaya


reaksi F. Apabila d adalah defleksi fender, maka terdapat hubungan
berikut ini :
1
E: F.D
2
1 W 2 1
. .V : F.D
2 6 2
W 2
F: V (Pers. 9)
29
(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 276)
Dengan :
E : Energi benturan
F: Gaya bentur yang diserap sistem fender
d : Defleksi fender
V: Komponen kecepatan dalam arah tegak lurus sisi dermaga
W: Bobot kapal bermuatan penuh
Untuk fender kayu d adalah tebal kayu dibagi 26
Sistem fender direncanakan untuk menyerap energi tersebut dan gaya
yang ditahan oleh dermaga tergantung pada type fender, persamaan
berikut ini dapat digunakan untuk menentukan jarak maksimum antara
fender.

30
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

L = 2 r 2 - ( r - h)
2
(Pers. 10)

(Sumber: Buku Bambang Triadmojo, hal. 277)


Dimana :
L = Jarak maksimum antara fender (m)
r = Jari-jari
h = Tinggi fender (m)
Apabila data jari-jari kelengkungan sisi haluan kapal tidak diketahui
maka persamaan berikut dapat digunakan sebagai pedoman untuk
menghitungnya.
a. Kapal barang dengan bobot 500-5000 (DWT)
Log r = -1,055 + 0,650 (DWT) (Pers. 11)
(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 279)
b. Kapal tagker dengan bobot 5000-200000 (DWT)
Log r = -0,113 + 0,440 log (DWT) (Pers. 12)
(Sumber: Bambang Triadmojo 2010, hal. 279)

OCDI (1991) memberikan jarak interval antara fender sebagai fungsi


kedalaman air seperti diberikan dalam tabel berikut ini.
Tabel 2. Jarak Antara Fender
Kedalaman Air Jarak Antara Fender
(m) (m)
4~6 4~7
6~8 7 ~ 10
8 ~ 10 10 ~ 15

(Sumber: Bambang Triatmodjo 2010, Hal.279)

1.5.4 Bolder / alat pengikat


Kapal yang berlabuh ditambatkan ke dermaga dengan mengikatka tali-tali
penambat ke bagian haluan, buritan dan badan kapal. Gambar 7.22. menunjukkan
metode pengikatan kapal ke dermaga. Tali-tali penambat tersebut diikatkan pada
alat penambat yang dikenal dengan bittyang dipasang di sepanjang sisi dermaga.

31
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

Biit dengan ukuran yang lebih besar disebut dengan bollard(corner mooring post)
yang diletakkan pada kedua ujung dermaga atau di tempat yang agak jauh dari sisi
muka dermaga.
Biit digunakan untuk mengikat kapal pada kondisi cuaca normal. Sedang
bollard selain untuk mengikat pada kondisi normal dan pada kondisi badai, juga
dapat digunakan untuk mengarahkan kapal merapat ke dermaga atau untuk
membelok/memutar terhadap ujung dermaga dengan menggunakan baut yang
dipasang melalui pipa yang ditempatkan di dalam beton. Dengan cara tersebut
memungkinkan mengganti baut jika rusak. Alat pengikat ini biasanya terbuat dari
besi cor berbentuk silinder yang pada ujung atasnya dibuat tertutup dan lebih besar
sehingga dapat menghalangi keluarnya tali kapal yang diikatkan. Supaya tidak
mengganggu kelancaran kegiatan di dermaga (bongkar muat barang) maka tinggi
bolder dibuat tidak boleh lebih dari 50 cm di atas lantai dermaga. Gambar 7.23
menunjukkan contoh kedua tipe alat pengikat. Jarak dan jumlah minimum bitt
untuk beberapa ukuran kapal diberikan dalam Tabel 7.5.

Tabel 3. Penempatan Bitt


Ukuran Kapal Jarak Jumlah
(GRT) Maksimum (m) Min./tambatan
~ 2.000 10 - 15 4
2.001 - 5.000 20 6
5.001 - 20.000 25 6
20.001 - 50.000 35 8
50.001 - 100.000 45 8
(Sumber: Bambang Triatmodjo 2010, Hal.284)

32
HIKMAWATI / F 111 16 006
Perencanaan Pelabuhan
CIVIL ENGINEERING”16

Gambar 26. Bentuk alat pengikat


(Sumber : Bambang Triadmojo, 2010 hal. 283)

33
HIKMAWATI / F 111 16 006