Anda di halaman 1dari 6

SERBA-SERBI KESENANGAN STUDY LINGKUNGAN

15 November 2014, SMAN 1 Semarang mengadakan study lingkungan bagi para


siswa kelas 10 ke kota Solo, Sragen dan Yogyakarta. Di dalam jadwal keberangkatan, para
siswa kelas 10 pukul 06.00 WIB diharuskan sudah sampai di sekolah untuk persiapan
keberangkatan. Sebelum berangkat, tentunya saya dan teman-teman yang lainnya telah
mempersiapkan apa saja barang-barang yang harus dibawa selama melakukan study
lingkungan. Seluruh siswa kelas 10 berangkat menuju ke tempat tujuan sekitar pukul 06.30
WIB dari SMAN 1 Semarang menggunakan bus pariwisata yang sudah disiapkan oleh pihak
sekolah. Kami berangkat dengan tempat bus sesuai dengan kelas masing-masing. Dalam bus
kelas saya, ada teman saya yang hampir saja ketinggalan naik bus. Setelah ditunggu, akhirnya
dia bisa naik dan bergabung dengan teman-teman lainnya yang sudah terlebih dahulu naik.

Dalam perjalanan kesana saya dan teman kelas lainnya beranda tawa untuk mengisi
kekosongan waktu selama perjalanan. Di sela-sela canda tawa kami tidak disangka ada
beberapa teman kami yang mengalami mabuk karena perjalanan. Tentunya cukup
mengejutkan kami yang sedang bercanda tawa. Setelah ditangani, kami pun melanjutkan
canda tawa kami. Setelah keasyikkan bercanda tawa kami banyak yang terlihat lelah dan
akhirnya sebagian dari kami tertidur dalam bus namun ada juga yang hanya melihat-lihat
pemandangan disekitar sambil mendengarkan musik selama perjalanan ke tempat tujuan.

 Mengungkap Tabir Dibalik Fosil Nenek Moyang

Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya kami tiba di tempat tujuan
pertama kami, yaitu MUSEUM SANGIRAN. Tapi sebelum ke tempat tersebut kami
mengunjungi Menara Pandang untuk melihat lingkungan-lingkungan sekitar di daerah dekat
museum tersebut dan melihat pemutaran film tentang sejarah kehidupan manusia purba atau
nenek moyang kita di Indonesia maupun dunia. Ternyata dari film tersebut kita tahu bahwa
70% dari manusia purba di dunia ditemukan di negara kita yaitu Indonesia yang salah satu
tempat penemuannya tersebut terletak di tempat yang kita kunjungi sekarang ini di Situs
Sangiran, kota Sragen, Jawa tengah.

Sangiran adalah sebuah situs atau


tempat arkeologi manusia purba di Sragen,
Jawa Tengah. Tepatnya di desa krikilan,
kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
(di sebelah utara Kota Solo ± 17 km). Situs
Sangiran mempunyai luas sekitar 59,3 km2.
Secara administratif termasuk ke dalam dua
pemerintahan yaitu kabupaten Sragen dan
kabupaten Karanganyar.

Situs Sangiran merupakan sebuah


situs arkeologi.Sangiran sebagai salah satu
Warisan Budaya Dunia “World Heritage
List”. Dengan demikian pada tahun 1996
situs ini terdaftar dalam Situs Warisan
Dunia UNESCO. Sejarah penemuan pada
tahun 1934 ahli antropologi Gustav
Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut, setelah mencermati
laporan-laporan berbagai penemuan balung buta ("tulang buta /raksasa") oleh warga dan
diperdagangkan. Saat itu perdagangan fosil mulai ramai akibat penemuan tengkorak dan
tulang paha Pithecanthropus erectus ("Manusia Jawa") oleh Eugene Dubois di Trinil, Ngawi,
tahun 1891.

Setiap hari von Koenigswald


secara intensif menemukan fosil-fosil
dengan dibantu oleh penduduk untuk
mencari balung buta, yang kemudian ia
bayar. Pada tahun-tahun berikutnya, hasil
penggalian menemukan berbagai fosil
Homo erectus lainnya. Ada sekitar 60
lebih fosil H. erectus atau hominid
lainnya dengan variasi yang besar,
termasuk seri Meganthropus
palaeojavanicus (Manusia tertua dari
Pulau Jawa), telah ditemukan di situs
tersebut dan kawasan sekitarnya.
Selain manusia purba, ditemukan
pula berbagai fosil tulang-belulang hewan-hewan bertulang belakang (Vertebrata), seperti
buaya (kelompok gavial dan Crocodilus), Hippopotamus (kuda nil), berbagai rusa, harimau
purba, dan gajah purba (stegodon dan gajah moderen).

Di Museum Sangiran juga dipaparkan sejarah manusia purba sejak sekitar dua juta
tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu, yaitu dari kala Pliosen akhir hingga akhir
Pleistosen tengah. Di museum ini terdapat 13.086 koleksi fosil manusia purba dan merupakan
situs manusia purba berdiri tegak (hominid) yang terlengkap di Asia. Selain itu juga dapat
dipamerkan fosil berbagai hewan bertulang belakang, fosil binatang air, batuan, fosil
tumbuhan laut, serta alat-alat batu.

Di dalam Museum Sangiran banyak sekali macam-macam jenis manusia purba yang
pernah hidup di Indonesia. Selain contoh jenisnya, juga dipertontonkan alat-alat yang
digunakan pada masa dahulu untuk berburu atau lainnya, seperti : kapak lonjong, gurdi,
kapak perimbas, dan masih banyak lagi. Di sana juga diberikan gambaran bagaimana caranya
manusiapurba memenuhi kebutuhan
-nya sehari-hari seperti berburu,
meramu dan lain sebagainya. Selain
itu juga dilihatkan hewan apa saja
yang hidup pada zaman tersebut atau
hewan yang menjadi buruan manusia
purba pada saat itu. Tentunya ukuran
tubuh dari hewan-hewan tersebut
seperti apa yang kita lihat pada film-
film tentang zaman dahulu, ukurannya
jauh lebih besar dan tinggi dari jenis
hewan yang hidup pada zaman
sekarang.
 Potret Pesona Keartistikan Sendra Tari Ramayana

Setelah mengunjungi dari


Museum Sangiran, kami
melanjutkan ke tempat tujuan
yang kedua yaitu mengunjungi
Sendra Tari Ramayana yang
diselanggarakan di Kota
Yogyakarta. Kami berangkat
sekitar pukul 13.00 WIB. Dalam
perjalanan ke Kota Yogyakarta,
kami menyempatkan untuk
makan siang terlebih dahulu
dengan nasi box selama dalam
perjalan tersebut. Kami di dalam
perjalanan mengunjungi Sendra
tari Ramayana di dalam bus kami
hanya duduk-duduk menikmati
suasana perjalanan sambil mendengarkan musik. Mungkin karena lelah sehabis mengelilingi
Museum Sangiran tadi.

Tidak terasa kami sudah tiba di Kota Yogyakarta sekitar pukul 15.00 WIB dengan
cuaca yang mendung diiringi hujan rintik-rintik. Acara Sendra Tari Ramayana dimulai sekitar
pukul 15.30 WIB. Acara tersebut dilaksanakan di dalam ruangan (indoor). Sendratari
Ramayana adalah seni pertunjukan yang cantik, mengagumkan dan sulit tertandingi.
Pertunjukan ini mampu menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari, drama dan musik
dalam satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana, epos
legendaris karya Walmiki yang ditulis
dalam bahasa Sanskerta.

Sendratari Ramayana Prambanan


merupakan sebuah pertunjukan yang
menggabungkan tari dan drama tanpa
dialog, diangkat dari cerita Ramayana dan
dipertunjukkan di dekat Candi Prambanan
di Pulau Jawa, Indonesia.Pemilihan bentuk
sendratari sebagai penutur cerita pahlawan
atau biasa disebut wiracarita Ramayana
karena sendratari mengutamakan gerak-
gerak penguat ekspresi sebagai pengganti
dialog, sehingga diharapkan penyampaian
wiracarita Ramayana dapat lebih mudah
dipahami dengan latar belakang budaya dan
bahasa penonton yang berbeda. Cerita
Ramayana adalah perjalan Rama dalam
menyelamatkan istrinya Sita (di Jawa biasa
disebut Sinta) yang diculik oleh raja Negara
Alengka, Rahwana.
Seluruh jalan cerita yang apik dan kolosal dikemas dalam rangkaian gerak tari yang
luwes dan penuh penjiwaan yang dibawakan oleh ratusan penari yang rupawan dengan
diiringi musik gamelan, seperti : gong, kendang, bonang,kenong seruling, dan lain-lain masih
banyak lagi. Dalam pertunjukan ini tidak ada dialog yang terucap dari penari, yang ada
hanyalah suara sinden yang menggambarkan jalan cerita dalam bahasa Jawa melalui tembang
yang dilantunkannya.

Karakterisasi gerak tari Sendratari Ramayana Prambanan mengacu pada karakterisasi


gerak pada wayang orang. Awal perkembangan Sendratari Ramayana Prambanan didominasi
gaya tari Surakarta, sedikit teknik gerak tari gaya Yogyakarta yang mengisi namun tetap lebih
dominan gaya Surakarta. Pelaksanaan teknis serta penyajian gaya Yogyakarta dan Surakarta
agak berbeda, Gaya Surakarta lebih dekat dengan gaya romantik, sedangkan gaya Surakarta
lebih dekat dengan gaya klasik

Dalam pertunjukan ini tidak hanya musik dan tarian saja yang dipersiapkan secara
seksama, tata lampu juga telah dipersiapkan secara mendetail. Hal ini memberikan nilai lebih,
karena cahaya tidak hanya menjadi sinar penerang yang bisu, melainkan mampu
menggambarkan kejadian dan suasana hati
para tokoh.

Jalan cerita yang panjang dan


menegangkan itu dirangkum dalam empat
lakon atau babak, antara lain: penculikan
Shinta, misi Anoman ke Alengka, kematian
Kumbakarna dan Rahwana, dan pertemuan
kembali Rama-Shinta.

Budaya ini termasuk contoh budaya


yang harus dilestarikan di masa depan agar
kedepannya tidak mudah ditinggalkan atau
dilupakan dan bisa ditonton lagi karena
makna dari sendra tari tersebut
mengandung nilai sejarah atau juga nilai
kemanusiaan kebudayaan Indonesia.
 Menyusuri Surga Cinderamata di Jantung Kota Jogja

Setelah mengunjungi tempat tujuan ke


kedua, kami melanjutkan perjalanan ke
tempat yang seringmenjadi khas dari kota
tersebut yaitu Malioboro. Ya, tidak afdol
rasanya bila tidak mengunjungi “kembang
desa” nya Kota Pelajar. Di sana termasuk
jenis pasar yang terdapat banyak penjual dan
pembeli atau sering disebut “pasar
monopolistik”. Kami seluruh siswa kelas 10
di sana diberikan waktu untuk jalan-jalan
mengelilingi tempat tersebut sekaligus
berbelanja apa yang kita inginkan. Disana
banyak terdapat pelancong, baik dari dalam
negeri maupun mancanegara. Musisi jalanan
seakan membuat Malioboro bergoyang syahdu.
Malioboro terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain
Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, dan
Monumen Serangan umum 1 Maret.

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan
kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg
khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman yang sering
mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art,
pantomim, dan lain-lain di sepanjang jalan ini.

Selain berjalan-jalan kita juga dapat berwisata kuliner malam tanpa harus bingung-
bingung menahan lapar. Selain menjadi pusat perdagangan, jalan yang merupakan bagian dari
sumbu imajiner yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Kraton
Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi ini pernah menjadi sarang serta panggung
pertunjukan para seniman Malioboro pimpinan Umbu Landu Paranggi. Dari mereka pulalah
budaya duduk lesehan di trotoar dipopulerkan yang akhirnya mengakar dan sangat identik
dengan Malioboro. Menikmati makan malam yang romantis di warung lesehan sembari
mendengarkan pengamen jalanan
mendendangkan lagu "Yogyakarta" milik
Kla Project akan menjadi pengalaman
yang sangat membekas di hati.

Malioboro adalah rangkaian


sejarah, kisah, dan kenangan yang saling
berkelindan di tiap benak orang yang
pernah menyambanginya. Pesona jalan ini
tak pernah pudar oleh jaman. Eksotisme
Malioboro terus berpendar hingga kini dan
menginspirasi banyak orang, serta
memaksa mereka untuk terus kembali ke
Yogyakarta. Seperti kalimat awal yang ada dalam sajak Melodia karya Umbu Landu Paranggi
"Cintalah yang membuat diriku betah sesekali bertahan", kenangan dan kecintaan banyak
orang terhadap Malioboro lah yang membuat ruas jalan ini terus bertahan hingga kini.
 GeliatKeelokan Alunan Deru Ombak

Setelah mengunjungi tempat tujuan ketiga, kami melanjutkan study lingkungan kami
ke tempat tujuan keempat, yaitu ke Pantai Indrayanti yang letaknya di Gunung Kidul. Medan
yang ditempuh untuk menuju Pantai Indrayanti cukup sulit. Kami harus melewati jalan miring
dan berkelok-kelok dengan tebing yang tinggi-tinggi di sampingnya. Laju bus cukup pelan
agar menghindari hal yang tidak diinginkan. Setelah berjuang menempuh medan yang sulit,
akhirnya kami tiba di Pantai Indrayanti.
Pantai Indrayanti merupakan
bagian dari pantai selatan Laut Jawa
yang terkenal akan deru ombaknya yang
tinggi dan besar. Pantai tersebut teletak
di sebelah selatan Pantai Sundak. Pantai
yang dibatasi bukit karang ini
merupakan salah satu pantai yang
menyajikan pemandangan berbeda
dibandingkan pantai-pantai lain yang ada
di Gunung kidul. Tidak hanya
berhiaskan pasir putih, bukit karang, dan
air biru jernih yang seolah memanggil –
manggil wisatawan untuk menceburkan
diri ke dalamnya, Pantai Indrayanti juga
dilengkapi restoran dan cafe serta
deretan penginapan yang akan
memanjakan wisatawan.

Penyebutan nama Pantai Indrayanti sebelumnya menuai banyak kontraversi.


Indrayanti bukanlah nama pantai, melainkan nama pemilik cafe dan restoran. Berhubung
nama Indrayanti yang terpampang di papan nama cafe dan restoran pantai, akhirnya
masyarakat menyebut pantai ini dengan nama Pantai Indrayanti. Sedangkan pemerintah
menamai pantai ini dengan nama Pantai Pulang
Syawal. Namun nama Indrayanti jauh lebih
populer dan lebih sering disebut daripada Pulang
Syawal. Keterlibatan pihak swasta dalam
pengelolaan Pantai Indrayanti rupanya turut
membawa dampak positif. Sepanjang garis
pantai Indrayanti terlihat bersih dan bebas dari
sampah. Hal ini dikarenakan pengelola tak
segan-segan menjatuhkan denda untuk tiap
sampah yang dibuang oleh wisatawan secara
sembarangan. Karena itu Indrayanti menjadi
tempat yang nyaman untuk dikunjungi.

Sambil menikmati menu makanan di cafe


kita dapat beristirahat sejenak di gazebo-gazebo
dengan ditemani pemandangan lautan pasir putih
dan desau angin serta alunan debur ombak akan
menjadi pengalaman romantis yang tak terlupa.
Tentunya itu bila dinikmati bersama orang terkasih. Panorama yang eksostis mampu memikat
hati para pengunjung untuk berlama – lama mengahabiskan waktu berlibur di pantai ini