Anda di halaman 1dari 87

KARYA TULIS ILMIAH

PENGARUH EDUKASI TENTANG GOUT ARTHRITIS TERHADAP


SKOR KESADARAN BAHAYA GOUT ARTHRITIS (GOUT ARTHRITIS
AWARENESS) DI DUSUN KALARINDU DAN DUSUN NGENTAK DESA
BANGUNJIWO YOGYAKARTA

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana

Kedokteran pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh

ICA TRIANJANI S.

20100310010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2014
HALAMAN PENGESAHAN KTI

PENGARUH EDUKASI TENTANG GOUT ARTHRITIS TERHADAP


SKOR KESADARAN BAHAYA GOUT ARTHRITIS (GOUT ARTHRITIS
AWARENESS) DI DUSUN KALARINDU DAN DUSUN NGENTAK
DESA BANGUNJIWO YOGYAKARTA

Disusun oleh:

ICA TRIANJANI S.

20100310010

Telah disetujui dan diseminarkar pada tanggal: 11 Januari 2014

Dosen Pembimbing Dosen Penguji

dr. H. Kusbaryanto, M. kes dr. Hafni Zuchra Noor, MMR

NIK : 173022 NIK : 173192

Mengetahui

Kaprodi Pendidikan Dokter FKIK

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

dr. Alfaina wahyuni, Sp. OG, M. Kes

NIK : 173027

ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Ica Trianjani S.

NIM : 20100310010

Program Studi : Pendidikan Dokter

Fakultas : Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang

penulis tulis ini benar-benar merupakan hasil karya penulis sendiri dan belum

diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber

informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak

diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks yang dicantumkan dalam

daftar pustaka di bagian akhir Karya Tulis Ilmiah ini.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil

jiplakan, maka penulis bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Yogyakarta, 11 Januari 2014

Yang membuat pernyataan,

Ica Trianjani S.

iii
20100310010

HALAMAN PERSEMBAHAN

Penulis persembahkan Karya Tulis Ilmiah ini untuk:

1. Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah mencurahkan rahman dan

rahimNya yang tak hingga sampai detik ini.

2. Rasulullah SAW, karena berkat perjuangan yang luar biasa sehingga sampai

detik ini kemerdakaan hakiki didapatkan.

3. Ayahanda H. Parjono dan Ibunda Hj. Sulis Setyowati, atas bimbingan,

motivasi, dan do’a yang selalu engkau panjatkan demi tercapainya cita-cita

yang mulia dan yang diridhoi Allah SWT.

4. Adikku Intan Setia Ramadhani dan Ilham Setia Gunawan, atas dukungan, do’a

dan semangatnya.

5. dr. H. Kusbaryanto, M.Kes, terima kasih atas bimbingan, waktu, dan

keiklasannya untuk menuntun penulis dalam menyelesaikan KTI ini.

6. Mohammad Arif Syah dan Ponco Gunawan Wibisono teman satu penelitian.

7. Adam, sitta, anggi, mila, titis, yurni, dan semuanya yang tidak bisa disebut

satu-satu atas dukungan do’a dan semangatnya.

iv
HALAMAN MOTTO

“Allah mengangkat orang-orang beriman di antara kamu dan juga orang-orang

yang dikaruniai ilmu pengetahuan hingga beberapa derajat.”

(Al-Mujadalah : 11 )

“Ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta.”

( Albert Einstein )

v
KATA PENGANTAR

  



Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan

rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis

Ilmiah ini yang diajukan guna untuk melengkapi dan memenuhi salah satu syarat

untuk memperoleh derajat sarjana kedokteran pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan judul “Pengaruh

Edukasi tenang Gout Arthritis terhadap Skor Kesadaran Bahaya Gout Arthritis

(Gout Arthritis Awareness) di Dusun Kalirandu dan Dusun Ngentak, Desa

Bangunjiwo, Yogyakarta”. Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis

banyak mendapat bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak, maka pada

kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-

dalamnya kepada:

1) Allah SWT, atas segala nikmat, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga penulis

dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan baik.

2) Kedua orang tuaku atas cinta yang tulus dan segala kasih sayang,

kepercayaan, dukungan, dorongan, motivasi dan doa yang tiada hentinya

untukku.

3) Adik yang senantiasa memberikan dorongan, motivasi, dukungan serta

doanya untukku.

4) dr. H. Kusbaryanto, M.Kes. selaku pembimbing Karya Tulis Ilmiah, serta

penggagas penelitian Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Pengaruh Edukasi

vi
tentang Gout Arthritis terhadap Bahaya Gout Arthritis terhadap Skor

Kesadaran (Gout Arthritis Awareness) di Dusun Kalirandu dan Dusun

Ngentak, Desa Bangunjuwo, Yogyakarta”

5) dr. H. Agus Widiyatmoko, dan dr. Hj. Niarna Lusi, Sp.Pd yang senantiasa

memberikan bimbingan, dukungan serta masukkan informasi dalam

pengerjaan penyusunan penelitian ini.

6) Teman-teman seperjuangan dalam melaksanakan penelitian ini, teman-teman

Pendidikan Dokter angkatan 2010 dan semua pihak yang tidak dapat

disebutkan namanya satu persatu yang telah membantu kelancaran

penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini.

Selanjutnya penulis juga menyadari bahwa penulisan Karya Tulis

Ilmiah ini mungkin masih jauh dari apa yang dikatakan sempurna karena

keterbatasan ilmu yang penulis miliki. Untuk itu kritik dan saran yang sifatnya

membangun untuk kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini sangat penulis harapkan.

Dengan demikian, Karya Tulis Ilmiah ini penulis sajikan dengan harapan

dapat bermanfaat bagi semua pihak, terutama bagi yang akan mengadakan

penelitian lanjutan. Semoga dengan adanya Karya Tulis Ilmiah ini dapat

bermanfaat bagi kita semua, Amin.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Yogyakarta, 11 Januari 2014

Penulis

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i

HALAMAN PENGESAHAN KTI ......................................................................... ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ............................................................. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ iv

HALAMAN MOTTO ..............................................................................................v

KATA PENGANTAR ........................................................................................... vi

DAFTAR ISI ........................................................................................................ viii

DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiii

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiv

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1

A. Latar Belakang.........................................................................................1

B. Perumusan Masalah .................................................................................5

C. Tujuan Penelitian .....................................................................................5

Tujuan Umum ...................................................................................5

Tujuan Khusus ..................................................................................5

D. Manfaat Penelitian ...................................................................................6

Manfaat Teoritik : .............................................................................6

Manfaat Praktisi : .............................................................................6

a. Bagi peneliti ..............................................................................6

b. Bagi masyarakat ........................................................................6

viii
c. Bagi instansi kesehatan .............................................................6

E. Keaslian Penelitian ..................................................................................6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................9

A. Dasar Teori ..............................................................................................9

Gout Arthritis....................................................................................9

a. Pengertian ..................................................................................9

b. Etiologi ....................................................................................10

c. Faktor risiko ............................................................................12

d. Gambaran Klinis......................................................................16

e. Patogenesis terjadinya gout arthritis........................................19

f. Diagnosis Gout ........................................................................20

g. Penatalaksanaan Gout Arthritis ...............................................21

Edukasi (Penyuluhan) .....................................................................22

a. pengertian ................................................................................22

b. Metode Penyuluhan .................................................................23

Kesadaran (Awareness) .................................................................25

a. Pengertian ................................................................................25

b. Konsep Pengetahuan dan Perilaku ..........................................26

Skor Kesadaran ...............................................................................28

ix
a. Mengetahui pengertian penyakit gout arthritis/ asam urat .....28

b. Memiliki kesadaran untuk skrinning: ......................................28

c. Tindakan jika sakit ..................................................................28

d. Bila tidak sakit : .......................................................................28

B. Kerangka Konsep ..................................................................................30

C. Hipotesis ................................................................................................31

BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................32

A. Jenis dan Desain Penelitian ...................................................................32

B. Populasi dan Sampel..............................................................................33

Populasi ..........................................................................................33

a. Populasi Target ........................................................................33

b. Populasi Terjangkau ................................................................33

Kriteria Sampel ...............................................................................33

a. Kriteria Inklusi ........................................................................33

b. Kriteria Ekslusi ........................................................................34

Besar Sampel ..................................................................................34

C. Lokasi dan waktu penelitian ..................................................................34

Lokasi penelitian ............................................................................34

Waktu penelitian .............................................................................34

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional .......................................35

x
Variabel penelitian..........................................................................35

Defenisi operasional .......................................................................35

E. Instrumen penelitian ..............................................................................36

F. Uji validitas dan reliabilitas ...................................................................37

G. Cara pengumpulan data .........................................................................37

H. Pengelolaan dan metode analisis data ...................................................38

Pengolahan Data .............................................................................38

Analisis Data ..................................................................................39

I. Etika penelitian ......................................................................................39

Informed consent ............................................................................39

Anonymity (tanpa nama) .................................................................40

Confidentiality (kerahasiaan) .........................................................40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................................41

A. Gambaran Wilayah Penelitian ...............................................................41

B. Hasil Penelitian ......................................................................................42

Karakteristik Responden ................................................................42

C. Pembahasan ...........................................................................................50

Karakteristik Responden ................................................................50

Pengaruh Edukasi Tentang Gout Arthritis Terhadap Skor Kesadaran di

Dusun Kalirandu dan Dusun Ngentak, Kasihan, Bantul, Yogyakarta52

D. Kekuatan dan kelamahan penelitian ......................................................54

Kekuatan penelitian .......................................................................54

xi
Kelemahan penelitian .....................................................................54

KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................................................55

A. Kesimpulan ............................................................................................55

B. Saran ......................................................................................................55

Bagi masyarakat .............................................................................55

Bagi peneliti....................................................................................55

Bagi petugas pelayanan kesehatan .................................................56

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................57

LAMPIRAN...........................................................................................................60

xii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1. Makanan yang mengandung purin tinggi...................................................16
Tabel 1.2. Penatalaksanaan Gout Arthritis . ...............................................................22
Table 2. Desain Penelitian...........................................................................................32
Table 3. Karakteristik responden berdasarkan umur...................................................42
Tabel 4. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin......................................43
Tabel 5. Karakteristik responden berdasarkan Tingkat Pendidikan............................44
Tabel6. Karakteristik data kelompok eksperimental...................................................45
Tabel 7. Karakteristik data kelompok kontrol.............................................................46
Tabel 8. Uji Normalitas Data menggunakan Shapiro-Wilk.........................................47
Tabel 9. Perbedaan rerata pretest dan posttest kelompok eksperimen.......................47
Tabel 10. Perbedaan rerata pretest dan posttest kelompok kontrol............................48
Tabel 11. Pengaruh edukasi bahaya Gout Arthritis terhadap skor kesadaran.............49

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Hubungan Status Kesehatan, Perilaku, dan Edukasi ................................25

Gambar 2. Keragka Konsep ......................................................................................30

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lembar Persetujuan Menjadi Rerponden Penelitian

Lampiran 2 : Kuesioner Penelitian

Lampiran 3 : Hasil Olah Data Kelompok Eksperimen

Lampiran 4 : Hasil Olah Data Kelompok Kontrol

Lampiran 5 : Hasil Olah Data Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

xv
ABSTRACT

Gout arthritis is a degenerative disease that needs an accurate treatment.


Gout is a kind of rheumatic that is mostly found in the society. This disease can attack
every society. Education, like elucidation of the dangerous of Gout arthritis can give
an early knowledge dan increase the information about the dangerous of Gout
arthritis. The purpose of this study was to determine the effect of education about the
dangers of Gout Arthritis towards awareness scores the dangers of Gout Arthritis in
Kalirandu and Ngentak, Bangunjiwo village, Yogyakarta. This study is Quasy
Experimental with pretest-posstest with control group design. This reseach was
conducted in the hamlet village Kaliandru, Bangunjiwo as the experiment group with
34 respondents and in the hamlet village as the control group with 40 respondents.
Sampling technique is purposive sampling. Data analysis using Paired sample test
for normally distributed data, whereas for data were not normally distributuion,
using Wilcoxon and Mann-Whitney. The results showed that the awareness posttest
scores in the experimental group and the control group using the Mann-Whitney and
obtained significant value of 0.000. The conclusion because of (p <0.05) then there is
the influence of education on the dangers of Gout Arthritis towards awareness of the
dangers of Gout Arthritis significant or meaningful impact. Suggestions addressed to
health professionals such as health centers in order to perform a more serious
response to the danger of degenerative diseases Gout Arthritis one.
Keywords: Education, Gout Arthritis, Gout Arthritis Awareness Score

xvi
ABSTRAK

Gout arthritis merupakan penyakit degeneratif yang memerlukan upaya


penanganan yang tepat. Gout merupakan salah satu jenis reumatik yang sering
dijumpai dalam masyarakat. Penyakit ini dapat menyerang semua lapisan masyarakat.
Edukasi berupa penyuluhan tentang bahaya penyakit gout arthtritis dapat memberikan
pengetahuan dini dan menambah informasi dari bahaya penyakit gout arthritis.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi tentang bahaya gout
arthritis terhadap skor kesadaran bahaya penyakit gout arthritis di dusun Kalirandu
dan dusun Ngentak desa Bangunjiwo Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitian
Quasy Eksperimental dengan desain pretest-posttest with control group. Penelitian ini
dilakukan di dusun Kalirandu dusun Bangunjiwo sebagai kelompok eksperimental
dengan responden 34 orang dan dusun Ngentak sebagai kelompok kontrol dengan
responden 40 orang. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling.
Analisa data menggunakan uji paired samples Test untuk data yang berdistribusi
normal sedangkan yang tidak berdistribusi normal menggunakan uji Wilcoxon dan
Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada skor kesadaran posttest
pada kelompok eksperimental dan kelompok kontrol menggunakan uji Mann-
Whitney dan didapatkan nilai signifikannya 0,000 . Kesimpulannya karena (p<0,05)
maka terdapat pengaruh edukasi bahaya gout arthritis terhadap skor kesadaran bahaya
gout arthritis yang signifikan atau bermakna. Saran ditujukan kepada tenaga
kesehatan seperti puskesmas agar melakukan penanggulangan lebih serius terhadap
bahaya penyakit degeneratif salah satunya penyakit Gout Arthritis.

Kata Kunci : Edukasi, Gout Arthritis, Skor Kesadaran Bahaya Gout Arthritis.

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gout arthritis atau yang disebut juga dengan remautik merupakan salah

satu penyakit degeneratif. Salah satu tanda dari penyakit gout adalah adanya

kenaikan kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia) (Tehupeiory, 2006).

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hiperurisemia adalah jenis

kelamin, IMT, asupan karbohidrat dan asupan purin. Asupan purin merupakan

faktor resiko paling kuat yang berhubungan dengan kejadian hiperurisemia

(Setyoningsih, 2009). Purin sendiri adalah protein yang termasuk golongan

nukleo protein. Purin juga didapat dari makanan selain itu juga berasal dari

penghancuran sel-sel tubuh yang sudah tua (mediakom, 2011). Meningkatnya

purin akan mengakibatkan meningkatnya kadar asam urat dalam tubuh atau yang

disebut dengan hiperurisemia. Hiperurisemia yang merupakan kondisi

predisposisi untuk gout, sangat berhubungan erat dengan sindrom metabolik

seperti: hipertensi, intoleransia glukosa, dislipidemia obesita truncal, dan

peningkatan resiko penyakit kardiovaskular.

Gout merupakan salah satu jenis reumatik yang sering dijumpai dalam

masyarakat. Penyakit ini dapat menyarang semua lapisan masyarakat

(Dalimartha, 2002). Satu survei epidemologik yang dilakukan di Bandungan,

Jawa Tengah atas kerjasama WHO COPCORD terhadap 4.683 sampel berusia

1
2

antara 15-45 tahun didapatkan bahwa prevalensi hiperurisemia sebesar 24,3%

pada laki-laki 11,7% pada wanita (Purwaningsih, 2010).

WHO mendata penderita gangguan sendi di Indonesia mencapai 81% dari

populasi, hanya 24% yang pergi ke dokter, sedangkan 71% nya cenderung

langsung mengkonsumsi obat-obatan pereda nyeri yang dijual bebas. Angka ini

menempatkan Indonesia sebagai negara yang paling tinggi menderita gangguan

sendi jika dibandingkan dengan negara di Asia lainnya seperti Hongkong,

Malaysia, Singapura dan Taiwan. Penyakit sendi secara nasional prevalensinya

berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 14%. Faktor-faktor yang

mempengaruhi penyakit sendi adalah umur, jenis kelamin, genetik, obesitas dan

penyakit metabolik, cedera sendi, pekerjaan dan olahraga (Rabea, 2009).

Salah satu penyebab tingginya kadar asam urat atau hiperurisemia yang

masuk dalam dikarenakan kelebihan mengkonsumsi makanan berkadar purin

tinggi, seperti: daging, jeroan, kepiting, kerang, keju, kacang tanah, bayam dan

buncis (mediakom, 2011).

Dari penelitian scudmore, diketahui bahwa pada 516 penderita, 60 %

mengalami serangan gout akut pertama mengenai jempol kaki, dan menyerang

kedua jempol pada 5 % penderita. Presentase kemungkinan penderita yang

mengalami gout akut dan menyerang banyak sendi sekitar 4-13%. Berdasarkan

penelitian Gutman, serangan gout susulan 16 % timbul dakam kurun waktu 1-2
3

tahun setelah serangan gout pertama, dan sisanya 7% tidak mengalami gangguan

serangan gout (Yatim, 2006).

Sebagian besar kasus gout dan hiperurisemia termasuk hiperurisemia

asimptomatik, mempunyai latar belakang penyebab primer, sehingga

memerlukan pengendalian kadar asam urat jangka panjang. Untuk mencegah

terjadinya gout dan hiperurisemia diperlukan komunikasi yang baik. Hal itu

dapat diperoleh dengan edukasi dan diet rendah purin (Hidayat, 2009).

Gout berbahaya apabila tidak diobati, gout yang tidak diobati akan

berkembang menjadi empat tahap di antaranya arthritis gout asimptomatik,

arthritis gout akut ( Acute gout Arthritis), gout interkranial, gout tofi kronis (

cronic Tophaceous gout). Gout juga mempunyai komplikasi yang akan

mengakibatkan cacat, tofi, penyakit yang kronis penyakit ginjal kalkuli asam urat

(10-15%), nefropati urat yang kronis, nefropati urat yang akut biasanya akibat

sekunder dari kemoterapi), nekrosis yang avaskular dari tulang ( femoral head).

Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional

yang diarahkan guna tercapainya skor kesadaran, kemauan, dan kemampuan

untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat

kesehatan yang optimal. Dalam Pelaksanaannya, untuk mewujudkan upaya

pembangunan kesehatan dengan cara melakukan edukasi. Dengan adanya

edukasi diharapkan masyarakat tahu tentang bahaya penyakit yang berkembang

dimasyarakat dengan cara melakukan komunikasi, informasi dan edukasi


4

(Maulana, 2009). Edukasi adalah suatu proses perubahan perilaku secara

terencana pada diri individu, kelompok atau masyarakat untuk dapat lebih

mandiri untuk mencapai tujuan hidup sehat. Edukasi merupakan proses belajar

dari tidak tahu tentang nilai kesehatan menjadi tahu dan dari tidak mampu

mengatasi kesehatan sendiri menjadi mandiri (Suliha, 2002). Tujuan edukasi

adalah untuk meningkatkan status kesehatan, mencegah timbulnya penyakit dan

mempertahankan kesehatan yang sudah ada (Suliha, 2002). Edukasi diharapkan

masyarakat tau asal usul tentang suatu penyakit, dapat melakukan pencegahan

ataupun melakukan pengobatan dengan kesadaran yang tinggi.

Berdasarkan beberapa uraian di atas peneliti ingin mengetahui pengaruh

edukasi tentang gout arthritis terhadap skor kesadaran bahaya gout arthritis (Gout

Arthritis Awareness) dengan metode analisis quasi eksperimental pretest dan

posttest dengan kontrol group design dan dengan memberikan perlakuan

menggunakan metode pembelajaran di dalam kelas dengan diberikan materi

mengenai penyakit gout arthritis, pencegahan, komplikasi, dan program

manajemen mandiri gout arthritis. Dan dengan tidak memberikan perlakuan yang

sama (tidak dilakukan edukasi) terhadap kontrolnya. Demi meningkatnya

kualitas hidup manusia serta saling tolong menolong dalam kebaikan seperti

dijelaskan dalam Surat Al-Ashr ayat 1-3 yang berbunyi :

  


    
  
 
5

 
 
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
menetapi kesabaran.

B. Perumusan Masalah
1. Adakah pengaruh edukasi tentang gout arthitis terhadap skor kesadaran

(awareness)?

2. Bagaimanakah pengaruh edukasi tentang gout arthritis terhadap skor

kesadaran (awareness) ?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh edukasi tentang gout arthritis terhadap skor

kesadaran (awareness).

Tujuan Khusus
Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui adanya perbedaan antara kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol dengan pemberian intervensi atau edukasi disalah satu

kelompok penelitian.
6

D. Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritik :
Menjadi referensi ilmiah untuk peneltian lanjutan bagi pengembangan

pendidikan kesehatan tentang pengaruh serta manfaat edukasi terhadap skor

kesadaran (awareness) di masyarakat.

Manfaat Praktisi :
a. Bagi peneliti

Penelitian ini merupakan aplikasi ilmu yang didapat selama duduk di

bangku kuliah.

b. Bagi masyarakat

Sebagai sumber informasi kepada masyarakat agar masyarakat

mengetahui faktor-faktor resiko dan bahaya hiperurisemia, selanjutnya

masyarakat dapat melaksanakan pencegahan dan pengendalian secara

mandiri.

c. Bagi instansi kesehatan

Memberikan informasi kepada dunia kedokteran atau instansi kesehatan

lain (pengelolaan pelayanan kesehatan) menegenai tingkat kesadaran

masyarakat dengan usaha pencegahan terjadinya gout arthritis.

E. Keaslian Penelitian
Menurut sepengetahuan penulis, belum ada penelitian tentang “Pengaruh

Edukasi Tentang Gout Arthritis Terhadap Skor Kesadaran Bahaya Gout Arthritis

(Gout Arhtritis Awarness) di Dusun Kalirandu dan Dusun Ngentak Desa


7

Bangunjiwo Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul, Yogyakarta”. Namun ada

beberapa penelitian yang hampir sama dengan penelitian yang akan dilakukan.

Adapun penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan berhubungan

penelitian ini adalah:

1. Perdana Sidaurak (2011) meneliti tentang “Hubungan Tingkat Pengetahuan

Masyarakat Dengan Tindakan Terhadap Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Memperberat Terjadinya Gout Arthrtitis di Kecamatan Tebing Tinggi

Medan 2011-2012” dengan menggunakan metode penelitian cross setional

sedangkan penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik kuantitatif

metode eksperimen semu (Quasi Experiment). Didapatkan hasil dari

penelitian ini memperlihatkan sebanyak 53% responden berumur 25-31

tahun. Sebagian besar responden bekerja (85%), dan berpendidikan rendah

(73%). Mayoritas responden berpengetahuan sedang (63%) dan memiliki

tindakan berisiko rendah hingga tinggi terkena gout arthritis. Darihasil

analisa dengan menggunakan Chi-Square didapat p value-nya 0,292 (>0,05).

2. Zakiah Haris K, Eldra Felisia M, Miftahudin, Meita Primiarti, Bayu

Lesmono,M Nurrizki H, Dwi Darmanto, Ridwan Siswanto (2005)

melakukan penelitian tentang “Pengetahuan dan Perilaku Ibu Rumah Tangga

mengenai Arthritis Gout di Kelurahan Rawasari, Jakarta Pusat” dengan

menggunakan metode disain penelitian deskriptif dengan metode cross

sectional. Hasil penelitian memperlihatkan sebanyak 38,3% responden


8

berumur 31-40 tahun. Sebagian besar responden tidak bekerja (85%),

berpendapatan rendah (64,5%), dan berpendidikan rendah (71%). 65%

responden tidak memiliki riwayat arthritis gout dalam keluarga, dan tetangga

merupakan sumber informasi terbanyak. Mayoritas responden

berpengetahuan rendah (96,3%) dan berperilaku makan dan minum obat

yang berisiko sedang terkena arthritis gout (63,6%). Didapatkan hubungan

yang bermakna antara usia dan perilaku (x2=9,981, p=0,001). Tidak terdapat

hubungan yang bermakna antara umur, tingkat pendidikan, tingkat

pendapatan, sumber informasi, riwayat pribadi dan keluarga arthritis gout

dengan pengetahuan dan perilaku makan dan minum obat.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Dasar Teori
Gout Arthritis
a. Pengertian

Menurut American College of Rheumatology, gout adalah suatu

penyakit dan potensi ketidak mampuan akibat radang sendi yang sudah

dikenal sejak lama, gejalanya biasanya terdiri dari episodik berat dari

nyeri inflamasi satu sendi.

Gout adalah bentuk inflamasi arthritis kronis, bengkak dan nyeri

yang paling sering di sendi besar jempol kaki. Namun, gout tidak

terbatas pada jempol kaki, dapat juga mempengaruhi sendi lain

termasuk kaki, pergelangan kaki, lutut, lengan, pergelangan tangan, siku

dan kadang di jaringan lunak dan tendon. Biasanya hanya

mempengaruhi satu sendi pada satu waktu, tapi bisa menjadi semakin

parah dan dari waktu ke waktu dapat mempengaruhi beberapa sendi.

Gout merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan

metabolik yang ditandai oleh meningkatnya kosentrasi asam urat

(hiperurisemia).

Asam urat merupakan senyawa nitrogen yang dihasilkan dari

proses katabolisme purin baik dari diet maupun dari asam nukleat

endogen (asam deoksiribonukleat) (Syukri, 2007). Gout dapat bersifat

9
10

primer, sekunder, maupun idiopatik. Gout primer merupakan akibat

langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau akibat

proses pembentukan asam urat yang berlebihan atau ekskresi asam urat

yang berkurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat-obatan

tertentu sedangkan gout idiopatik adalah hiperurisemia yang tidak jelas

penyebab primer, kelainan genetik, tidak ada kelainan fisiologi atau

anatomi yang jelas (Putra, 2007).

Menurut Misnadiarly, (2011) penyakit gout adalah salah satu

tipe dari arthritis (rematik) yang disebabkan terlalu banyak atau tidak

normalnya kadar asam urat didalam tubuh karena tubuh tidak bisa

mensekresikan asam urat secara norma/seimbang.

b. Etiologi

1) Hiperurisemia dan Gout primer

Hiperurisemia primer adalah kelainan molekuler yang masih

belum jelas diketahui. Berdasarkan data ditemukan bahwa 99%

kasus adalah gout dan hiperurisemia primer. Gout primer yang

merupakan akibat dari hiperurisemia primer, terdiri dari

hiperurisemia karena penurunan ekskresi (80-90%) dan karena

produksi yang berlebih (10-20%). Hiperurisemia karena kelainan

enzim spesifik diperkirakan hanya 1 % yaitu karena peningkatan

aktivitas varian dari enzim phosporibosylpyrophosphatase (PRPP)


11

synthetase, dan kekurangan sebagian dari enzim hypoxantine

phosporibosyltranferase (HPRT). Hiperurisemia primer karena

penuruan ekskresi kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik dan

menyebabkan gangguan pengeluaran asam urat yang menyebabkan

hiperurisemia. Hiperurisemia akibat produksi asam urat yang

berlebihan diperkirakan terdapat 3 mekanisme yaitu : 1.) Pertama,

kekurangan enim menyebabkan kekurangan inosine monopospate

(IMP) atau purine nucleotide yang mempunyai efek feedback

inhibition proses biosintesis de novo 2.) Kedua, penurunan

pemakaian ulang menyebabkan peningkatan jumlah PRPP yang

tidak dipergunakan. Peningkatan jumlah PRPP menyebabkan

biosintesis de vovo meningkat. 3.) Ketiga, kekurangan enzim HPRT

menyebabkan hipoxantine tidak bisa diubah kembali menjadi IMP,

sehingga terjadi peningkatan oksidari hipoxantine menjadi asam

urat (Putra, 2009).

2) Hiperurisemia dan Gout sekunder

Gout sekunder dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu

kelainan yang menyebabkan peningkatan biosintesis de novo,

kelainan yang menyebabkan peningkatan degradasi ATP atau

pemecahan asam nukleat dan kelainan yang menyebabkan sekresi

menurun. Hiperurisemia sekunder karena peningkatan biosintesis de


12

novo terdiri dari kelainan karena kekurangan menyeluruh enzim

HPRT pada syndrome Lesh-Nyhan, kekurangan enzim glukose-6

phosphate pada glycogen storage disease dan kelainan karena

kekurangan enzim fructose-1 Phosphate aldolase melalui glikolisis

anaerob. Hiperurisemia sekunder karena produksi berlebih dapat

disebabkan karena keadaan yang menyebabkan peningkatan

pemecahan ATP atau pemecahan asam nukleat dari intisel.

Peningkatan pemecahan ATP akan membentuk AMP dan berlanjut

membentuk IMP atau purine nucleotide dalam metabolisme purin,

sedangkan hiperurisemia akibat penurunan ekskresi dikelompokkan

dalam beberapa kelompok yaitu karena penurunan masa ginjal,

penurunan filtrasi glomerulus, penurunan fractional uric acid

clearence dan pemakaian obat-obatan (Putra, 2009).

3) Hiperurisemia dan Gout Idiopatik

Hiperurisemia yang tidak jelas penyebab primernya,

kelainan genetik, tidak ada kelainan fisiologi dan anatomi yang

jelas.

c. Faktor resiko

Berikut ini yang merupakan faktor resiko dari gout adalah:


13

1) Suku bangsa /ras

Suku bangsa yang paling tinggi prevalensi nya pasa suku

Maori di Australia. Prevalensi suku Maori terserang penyakit asam

urat paling tinggi sekali sedangkan Indonesia prevalensi paling

tinggi pada penduduk pantai dan yang paling tinggi didaerah

Manado-Minahasa karena kebiasaan atau pola makan dan konsumsi

alkohol (Wibowo, 2005).

2) Konsumsi alkohol

Konsumsi alkohol menyebabkan serangan gout karena

alkohol meningkatkan produksi asam urat. Kadar laktat darah

meningkat sebagai akibat produksi sampingan dari metabolisme

normal alkohol. Asam laktat menghambat ekskresi asam urat oleh

ginjal sehingga terjadi peningkatan kadarnya dalam serum.

3) Konsumsi ikan laut

Ikan laut merupakan makanan yang memiliki kadar purin tinggi.

Konsumsi ikan laut yang tinggi mengakibatkan asam urat (Luk,

2005).

4) Penyakit

Penyakit-penyakit yang sering berhubungan dengan

hiperurisemia. Mis. Obesitas, diabetes mellitus, penyakit ginjal,

hipertensi, dislipidemia dsb. Adipositas tinggi dan berat badan


14

merupakan faktor resiko yang kuat untuk gout adalah laki-laki,

sedangkan penurunan berat badan adalah faktor pelindung

(Purwaningsih, 2010).

5) Obat-obatan

Beberapa obat-obatan yang turut mempengaruhi terjadinya

hiperurisemia. Mis. Diuretik, antihipertensi, aspirin, dsb. Obat-

obatan juga mungkin untuk mempertahankan keadaan. Diuretik

sering digunakan untuk menurunkan tekanan darah, meningkatkan

produksi urin, tetapi hal tersebut juga dapat menurunkan

kemampuan ginjal untuk membuang asam urat. Hal ini pada

gilirannya, dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah dan

menyebabkan serangan gout. Gout yang disebabkan oleh

pemakaian diuretik dapat “disembuhkan” dengan menyesuaikan

infeksi. Hal tersebut dapat menjadi potensi memicu asam urat.

Hipertensi dan penggunaan diuretik juga merupakan faktor resiko

penting independen untuk gout (Luk, 2005).

Aspirin memiliki 2 mekanisme kerja pada asam urat, yaitu :

dosis rendah menghambat ekskresi asam urat dan meningkatkan

kadar asam urat, sedangkan dosis tinggi (>3000 mg/hari) adalah

uricosurik (Doherty, 2009).


15

6) Jenis kelamin

Pria memiliki resiko lebih besar terkena nyeri dibandingkan

perempuan pada semua kelompok umur, meskipun rasio jenis

kelamin laki-laki dan perempuan pada usia lanjut . Dalam kesehatan

dan Gizi Ujian Nasional Survey III, pertandingan laki-laki dengan

perempuan secara keseluruhan berkiran antara 7:1 dan 9:1. Dalam

populasi managed care di Amerika Serikat, rasio jenis kelamin

pasien laki-laki dan perempuan dengan gout adalah 4:1 pada

mereka yang lebih muda dari 65 tahun, dan 3:1 pada mereka lima

puluh pasien lebih dari 65 tahun. Pada pasien perempuan yang lebih

tua dari 60 tahun dengan keluhan sendi datang ke dokter

didiagnosis sebagai gout, dan proporsi dapat melebihi 50 % pada

mereka yang lebih tua dari 80 tahun (Luk, 2005).

7) Diet tinggi purin

Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa HDL yang

merupakam bagian dari kolesterol, trigliserida dan LDL disebabkan

oleh asupan makanan dengan purin dalam kesimpulan penelitian

tentang faktor resiko dari hiperurisemia dengan studi kasus pasien

dirumah sakit Kardinah Tegal (Purwaningsih, 2010)


16

Makanan kadar Makanan dengan Makanan dengan


purin tertinggi kadar purin tinggi kadar purin
(150 – 825 mg/100mg) (50 – 150 mg/100mg) terendah
(0 – 15 mg/100 mg)

Sweetbreads Daging, unggas, ikan Buah


Anchovies Lobster, tiram, Sayur (selain yang
Sarden kepiting, belut disebutkan tinggi
Hati Dried beans, peas and purin)
Ginjal lentils Roti, sereal, biji-bijian
Bayam, Melinjo Susu, Keju
Telur, telur ikan

Tabel 1.1 Makanan yang mengandung purin tinggi

d. Gambaran Klinis

Hiperurisemia asimptomatik adalah keadaan hiperurisemia tanpa

adanya manifestasi klinik gout. Fase ini akan berakhir ketika muncul

serangan akut gout arthritis, atau urolithiasis dan biasanya setelah 20

tahun keadaan hiperurisemia asimptomatik. Terdapat 10-40% pasien

dengan gout mengalami sekali atau lebih serangan kolik renal, sebelum

adan sesudah adanya serangan arthritis. Sebuah serangan gout terjadi

ketika asam urat yang tidak dikeluarkan dari tubuh bentuk kristal dalam

cairan yang melumasi lapisan sendi, menyebabkan inflamasi dan

pembengkakan sendi yang menyakitkan. Jika gout tidak diobati, kristal

tersebut dapat membentuk tofi benjolan di sendi dan jaringan sekitarnya

(Putra, 2009).

Gout arthritis, meliputi 3 stadium :


17

1) Gout arthritis stadium akut

Radang sendi timbul sangat cepat dalam waktu singkat.

Pasien tidur tanpa ada gejala apa-apa. Pada saat bangun pagi terasa

sakit yang hebat dan tidak dapat berjalan. Biasanya bersifat

monoartikuler dengan keluhan utama berupa nyeri, bengkak, terasa

hangat, merah dengan gejala sistemik berupa demam, menggigil

dan merasa lelah. Lokasi yang paling sering pada MTP-1 yang

biasanya disebut podagra. Apabila proses penyakit berlanjut, dapat

terkena sendi lain yaitu pergelangan tangan/kaki, lutut, dan siku.

Faktor pencetus serangan akut antara lain berupa trauma lokal, diet

tinggi purin, kelelahan fisik, stress, tindakan operasi, pemakaian

obat diuretik dan lain-lain (Putra, 2009).

2) Stadium interkritikal

Stadium ini merupakan kelanjutan stadium akut dimana

terjadi periode interkritik asimptomatik. Walaupun secara klinik

tidak dapat ditemukan tanda-tanda radang akut, namun pada

aspirasi sendi ditemukan kristal urat. Hal ini menunjukkan bahwa

proses peradangan masih terus berlanjut, walaupun tanpa keluhan

(Putra, 2009).
18

3) Stadium gout arthritis menahun

Stadium ini umumnya terdapat pada pasien yang mampu

mengobati dirinya sendiri (self medication). Sehingga dalam waktu

lama tidak mau berobat secara teratur pada dokter. Artritis gout

menahun biasanya disertai tofi yang banyak dan poliartikular. Tofi

ini sering pecah dan sulit sembuh dengan obat, kadang-kadang

dapat timbul infeksi sekunder. Lokasi tofi yang paling sering pada

aurikula, MTP-1, olekranon, tendon achilles dan distal digiti. Tofi

sendiri tidak menimbulkan nyeri, tapi mudah terjadi inflamasi

disekitarnya, dan menyebabkan destruksi yang progresif pada sendi

serta dapat menimbulkan deformitas. Pada stadium ini kadang-

kadang disertai batu saluran kemih sampai penyakit ginjal menahun

(Putra, 2009).

Anak-anak baik laki-laki maupun perempuan, memiliki

kadar asam urat sama rendah, tetapi pada orang dewasa, pria

memiliki tingkat sodium urat lebih tinggi daripada wanita. Jelas

bahwa perbedaan ini akibat pengaruh dari sistem endokrin, namun

mekanisme yang tepat belum ditetapkan. Setelah menopause, nilai

Sodium Urat perempuan naik ke tingkat yang sebanding dengan

laki-laki pada usia yang sama, meskipun terapi penggantian hormon

mungkin menipiskan peningkatan ini. Wanita postmenopause,


19

khususnya mereka yang menerima diuretik, dapat berkembang

menjadi arthritis yg menyebabkan encok dan tofi di Heberden dan

Bouchard's node osteoarthritic mereka. Pasien Lansia dengan gout

belum diakui dapat berlanjut secara statis terhadap penyakit sendi

seperti: simetris polyarticular, inflamasi yang seperti rheumatoid

arthritis, lengkap dengan nodul-nodul dan sebagainya (Luk, 2005).

e. Patogenesis terjadinya gout arthritis

Kadar asam urat dalam serum merupakan hasil keseimbangan

antara produksi dan sekresi. Dan ketika terjadi ketidakseimbangan dua

proses tersebut maka terjadi keadaan hiperurisemia, yang

menimbulkan hipersaturasi asam urat yaitu kelarutan asam urat di

serum yang telah melewati ambang batasnya, sehingga merangsang

timbunan urat dalam bentuk garamnya terutama monosodium urat di

berbagai tempat/jaringan. Menurunnya kelarutan sodium urat pada

temperatur yang lebih rendah seperti pada sendi perifer tangan dan

kaki, dapat menjelaskan kenapa kristal MSU (monosodium urat)

mudah diendapkan di pada kedua tempat tersebut.

Predileksi untuk pengendapan kristal MSU pada

metatarsofalangeal-1 (MTP-1) berhubungan juga dengan trauma

ringan yang berulang-ulang pada daerah tersebut. Awal serangan gout

akut berhubungan dengan perubahan kadar asam urat serum, meninggi


20

atau menurun. Pada kadar asam urat yang stabil jarang muncul

serangan. Pengobatan dengan allopurinol pada awalnya juga dapat

menjadi faktor yang mempresipitasi serangan gout akut. Penurunan

asam urat serum dapat mencetuskan pelepasan kristal monosodium

urat dari depositnya di sinovium atau tofi (crystals shedding).

Pelepasan kristal MSU akan merangsang proses inflamasi

dengan mengaktifkan kompleman melalui jalur klasik maupun

alternatif. Sel makrofag (paling penting), netrofil dan sel radang lain

juga teraktivasi, yang akan menghasilkan mediatormediator kimiawi

yang juga berperan pada proses inflamasi (Hidayat R. , 2009).

f. Diagnosis Gout

Gold standard dalam menegakkan gout arthritis adalah

ditemukannya kristal urat MSU (Monosodium Urat) di cairan sendi atau

tofus. Untuk memudahkan diagnosis gout arthritis akut, dapat digunakan

kriteria dari ARC ( American College Of Rheumatology) tahun 1977

sebagai berikut : a. ditemukannya kristal urat dicairan sendi, atau b.

adanya tofus yang berisi Kristal urat, atau c. terdapat 6 dari 12 kriteria

klinis, labatoris, dan radiologis sebagai berikut :

1.) Terdapat lebih dari satu kali serangan arthritis akut. 2.)

Inflamasi maksimal terjadi dalam waktu 1 hari. 3.) Arthritis

monoartikuler. 4.) Kemerahan pada sendi. 5.) Bengkak dan nyeri pada

MTP-1. 6.) Arthritis unilateral yang melibatkan MTP-1. 7.) Arthritis


21

unilateral yang melibatkan sendi tarsal. 8.) Kecurigaan terhadap adanya

tofus. 9.) Pembengkakan sendi yang asimetris (radiologi ). 10.) Kristal

subkortikal tanpa erosi (radiologis). 11.) Kultur mikroorganisme

negative pada cairan sendi.

Yang harus dicatat adalah diagnosis gout tidak bisa digugurkan

meskipun kadar asam urat normal ( Hidayat, 2009).

g. Penatalaksanaan Gout Arthritis

Secara umum, penanganan gout arthritis adalah memberikan

edukasi, pengaturan diet, istirahat sendi dan pengobatan. Pengobatan

dilakukan secara dini agar tidak terjadi kerusakan sendi ataupun

komplikasi lain. Pengobatan non farmakologinya yang dapat

disarankan pada pasien gout akut antara yaitu : a. Penurunan berat

badan, b. Mengurangi asupan makanan tinggi purin, c. mengurangi

konsumsi tinggi alkohol, d. meningkatkan asupan cairan, e.

mengkompres sendi yang sakit dengan es dan mengistirahatkan selama

1-2 hari.

Pengobatan gout athritis akut bertujuan menghilangkan

keluhan nyeri sendi dan peradangan dengan obat-obat, antara lain :

kolkisin, obat antiinflamasi nonsterid (OAINS), kortikosteroid atau

hormon ACTH. Obat penurun asam urat seperti alupurinol atau obat

urikosurik tidak dapat diberikan pada stadium akut. Namun, pada

pasien yang secara rutin telah mengkonsumsi obat penurun asam urat,
22

sebaiknya tetap dierikan. Pada stadium interkritik dan menahun, tujuan

pengobatan adalah menurunkan kadar asam urat, sampai kadar normal,

guna mencegah kekambuhan. Penurunan kadar asam urat dilakukan

dengan pemberian diet rendah purin dan pemakaian obat alupurinol

bersama obat urikosurik yang lain (Putra, 2009).

Penelitian terbaru terlah menemukan bahwa konsumsi tinggi dari

kopi, susu rendah lemak produk dan vitamin C merupakan faktor

pencegah gout (Doherty, 2009).

Gejala yang muncul : Acute Gouty

Obati serangan gout akut dengan NSAIDs.

Gunakan kortikosteroid bila kontakindikasi terhadapat NSAIDs

Atasi kasus dengan penambahan kolkisin diosis kecil

Atasi hal tersebut pada resiko efek samping NSAID dengan

penggunaan kolkisin sendiri

Evaluasi dan pencegahan terhadap faktor resiko

(berat badan, alkohol, diuretik, diet purin)

Tabel 1.2. Penatalaksanaan Gout Arthritis

Edukasi (Penyuluhan)
a. pengertian
23

Edukasi adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan

seseorang melakukan teknik praktik belajar atau instruksi, dengan tujuan

untuk mengingat fakta atau kondisi nyata, dengan cara memberi

dorongan terhadap pengaruh diri (self direction), aktif memberikan

informasi-informasi atau ide baru (Hirnle, 1996 dalam Suliha, 2002).

Edukasi merupakan serangkaian upaya yang ditunjukan untuk

mempengaruhi orang lain, mulai dari individu, kelompok, keluarga dan

masyarakat agar terlaksananya perilaku hidup sehat.

Definisi di atas menunjukkan bahwa edukasi adalah suatu proses

perubahan perilaku secara terencana pada diri individu, kelompok, atau

masyarakat untuk dapat lebih mandiri dalam mencapai tujuan hidup

sehat. Edukasi merupakan proses belajar dari tidak tahu menjadi tahu

dan dari tidak mampu mengatasi kesehatan sendiri menjadi mandiri

(Suliha, 2002).

Sedangkan pengertian edukasi adalah upaya dari subyek

terhadap objek untuk mengubah cara memperolah dan mengembangkan

pengetahuan menuju cara tertentu yang diinginkan oleh subyek (Suroso,

2004). Dalam hal ini subyek adalah pengajar dan objek adalah terajar

(Suroso, 2004).

b. Metode Penyuluhan

Menurut Van Deb Ban dan Hawkins yang dikutip oleh Lucie

(2005), metode yang dipilih oleh seorang agen penyuluhan sangat


24

tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan pendekatan

sasaran yang ingin dicapai, penggolongan metode penyuluhan ada 3

(tiga) yaitu:

1) Metode berdasarkan pendekatan perorangan

Pada metode ini penyuluh berhubungan langsung maupun tidak

langsung dengan sasaran secara perorangan. Metode ini sangat efektif

karena sasaran dapat langsung memecahkan masalahnya dengan

bimbingan khusus dari penyuluh. Kelemahan metode ini adalah dari

segi sasaran yang ingin dicapai kurang efektif, karena terbatasnya

jangkauan penyuluh untuk mengunjungi dan membimbing sasaran

secara individu, selain itu juga membutuhkan banyak tenaga penyuluh

dan membutuhkan waktu yang lama.

2) Metode berdasarkan pendekatan kelompok

Penyuluh berhubungan dengan sasaran secara kelompok.

Metode ini cukup efektif karena sasaran dibimbing dan diarahkan

untuk melakukan kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerja sama.

Salah satu cara efektif dalam metode pendekatan kelompok adalah

dengan metode ceramah. Dalam pendekatan kelompok banyak manfaat

yang dapat diambil seperti transfer informasi, tukar pendapat, umpan

balik, dan interaksi kelompok yang memberi kesempatan bertukar

pengalaman. Pada metode ini terdapat kesulitan dalam mengkoordinir


25

sasaran karena faktor geografis dan aktifitas.

3) Metode berdasarkan pendekatan massa

Metode ini dapat menjangkau sasaran dengan jumlah yang

banyak. Ditinjau dari segi penyampaian informasi metode ini cukup

baik, tapi terbatas hanya dapat menimbulkan kesadaran dan

keingintahuan saja. Metode pendekatan massa dapat mempercepat

proses perubahan tapi jarang bisa mewujudkan perubahan perilaku.

Kesadaran (Awareness)
a. Pengertian

Konsep kesadaran (awareness) sendiri didasari oleh adanya

konsep perubahan perilaku terutamanya dalam perubahan perilaku

kesehatan. Dimana seseorang menyadari tentang dirinya terhadap suatu

permasalahan dalam hal ini penyakit yang akan dan sedang dialaminya.

Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan atau kognitif

merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan

seseorang (overt behavior). Dari pengalaman perilaku didasari oleh

pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari

oleh pengetahuan. Sebelum orang mengadopsi perilaku baru di dalam

diri orang tersebut terjadi proses yang beruntun yaitu: a. Awareness

(kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui

terlebih dahulu terhadap stimulus (objek). b. Interest (merasa tertarik)


26

terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap subjek sudah mulai

timbul. c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya

stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah

lebih baik lagi. d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan

sesuatu dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. e. Adoption,

dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,

kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

b. Konsep Pengetahuan dan Perilaku

Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah

seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu indera

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian

pengetahuan manusia melalui telinga dan mata (Notoatmodjo, 2005).

Pengetahuan mempunyai enam tingkatan menurut Notoatmodjo

(2005), yaitu: 1) tahu , 2) paham, 3) aplikasi, 4) analisis, 5) sintesis, 6)

evaluasi. Pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa

faktor, yaitu: Pengalaman, tingkat pendidikan, keyakinan, fasilitas,

penghasilan, sosial budaya, media massa.

Menurut teori helath behavior dalam teori perilaku individu,

salah satu teori dasar yang mencoba menerangkan konsep perilaku dan

hal-hal yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan merubah


27

perilaku tersebut adalah teori Health Belief Model (HBM). Model

perilaku Teori Health Belief (HBM) ini dikembangkan pada tahun

1950’an dan didasarkan atas partisipasi masyarakat pada program

deteksi dini tuberculosis. Analisis terhadap berbagai faktor yang

mempengaruhi partisipasi masyarakat pada program tersebut kemudian

dikembangkan sebagai model perilaku. Health Belief Model didasarkan

atas 3 faktor esensial: 1) kesiapan individu untuk merubah perilaku

dalam rangka menghindari suatu penyakit atau memperkecil risiko

kesehatan, 2) adanya dorongan dalam lingkungan individu (Awareness)

yang membuatnya merubah perilaku, 3) perilaku itu sendiri.

Ketiga faktor di atas dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang

berhubungan dengan kepribadian dan lingkungan individu, serta

pengalaman berhubungan dengan sarana & petugas kesehatan. Kesiapan

individu dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti persepsi tentang

kerentanan terhadap penyakit, potensi ancaman, motivasi untuk

memperkecil kerentanan, dan adanya kepercayaan bahwa perubahan

perilaku akan memberikan keuntungan. Faktor yang mempengaruhi

perubahan perilaku adalah perilaku itu sendiri yang dipengaruhi oleh

karakterisitik individu, penilaian individu terhadap perubahan yang

ditawarkan, interaksi dengan petugas kesehatan yang

merekomendasikan perubahan perilaku, dan pengalaman mencoba


28

merubah perilaku yang serupa (Herquanto, 2001).

Skor Kesadaran
a. Mengetahui pengertian penyakit gout arthritis/ asam urat

1) Definisi 2

2) Penyebab 2

3) Tanda dan gejala 2

4) Terapi 2

5) Komplikasi 2

6) Pencegahan 3

7) Makanan dengan kandungan purin tinggi 3

b. Memiliki kesadaran untuk skrinning:

Melakukan pemeriksaan tes asam urat 3

c. Tindakan jika sakit

1) Melakukan konsultasi ke dokter 2

2) Melakukan diet rendah purin 3

3) Penurunan berat badan 2

4) meningkatkan asupan cairan 2

5) mengkompres sendi yang sakit dengan es 2

6) mengistirahatkan selama 1-2 hari 2

d. Bila tidak sakit :


29

1) Akan melakukan olahraga 2

2) Menghindari makan-makanan mengandung purin tinggi 3

3) Tidak meminum minuman beralkohol 2

4) Melakukan gaya hidup sehat 2

e. Jika sudah sakit

1) Kontrol ke dokter 2

2) Cek asam urat utin 2

Total Skor : 41
30

B. Kerangka Konsep

Faktor yang mempengaruhi


tingkat pengetahuan:

a. Usia
b. Pendidikan
c. Kultur sosial ekonomi
d. Media
e. Keterpaparan informasi

Edukasi Pengetahuan tentang Skor kesadaran tentang


tentang gout arthritis bahaya gout arthritis
bahaya gout
arthritis

Gambar 2. Kerangka Konsep

Keterangan

: Dilakukan penelitian

: Tidak dilakukan penelitian


31

C. Hipotesis
1. Ada pengaruh edukasi tentang gout arthitis terhadap skor kesadaran

2. Semakin tinggi pengetahuan tentang gout arthritis semakin tinggi skor

kesadaran.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian


Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan menggunakan

metode Experimen Semu (Quasi Experiment), yaitu bentuk penelitian yang

berupaya mengungkapkan adanya pengaruh edukasi tentang gout arthritis

terhadap skor kesadaran bahaya gout arthritis (gout arthritis awareness) di

Dusun Kalirandu dan Ngentak, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Di dalam penelitian

ini data ini mengenai kesadaran masyarakat tentang bahaya gout arthritis

dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dengan rancangan pretest postest

with control group design yaitu mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan

melibatkan satu kelompok subjek yang mana diberikan pretest terlebih dahulu

sebelum diberikan intervensi, setelah itu diberikan intervensi, kemudian

dilakukan post-test (hidayat, 2009).

Kelompok Pretest Intervensi Posttest


Penelitian

K1 O1 X1 O2

K2 O1a X2 O2a

Time 1 Time 2 Time 3

Tabel 2. Desain Penelitian

32
33

Keterangan:

O1 : pengukuran awal pada kelompok ekperimen

O2 : pengukuran kedua setelah dilakukan pada kelompok ekperimen

O3 : pengukuran awal pada kelompok kontrol

O4 : pengukuran kedua pada kelompok kontrol

X : intervensi (Edukasi)

- : tidak dilakukan perlakuan.

B. Populasi dan Sampel


Populasi
a. Populasi Target

Populasi target penelitian ini adalah di wilayah Yogyakarta

b. Populasi Terjangkau

Populasi terjangkau penelitian ini adalah masyarakat lansia di Dusun

Kalirandu dan Dusun Ngentak, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan,

Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Kriteria Sampel
a. Kriteria Inklusi

1) Masyarakat lansia di sekitar daerah Dusun Kalirandu Yogyakarta

dan Dusun Ngentak, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan,

Kabupaten Bantul, Yogyakarta yang berumur antara 40-50 tahun

yang masih bisa melakukan aktivitas sehari- harinya dengan baik.


34

2) Tingkat pendidikan minimal SD (sekolah dasar) dan mampu untuk

membaca serta menulis.

3) Bersedia di observasi sebagai penelitian sampel.

b. Kriteria Ekslusi

1) Masyarakat diluar umur 40-50 tahun.

2) Masyarakat yang mengundurkan diri dari penelitian.

3) Masyarakat yang tidak mampu membaca dan menulis.

4) Masyarakat yang tidak berkompeten (mengalami kendala dalam

melakukan kegiatan).

Besar Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah total sampling, dimana sampel diambil

seutuhnya secara keseluruhan pada Dusun Kalirandu dan Dusun Ngentak,

Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

C. Lokasi dan waktu penelitian


Lokasi penelitian
Penelitian mengambil lokasi di Dusun Kalirandu dan Dusun Ngentak, Desa

Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Waktu penelitian
Waktu pengambilan data dilaksanakan pada bulan juni 2013 hingga Agustus

2013.
35

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional


Variabel penelitian
Menurut Arikunto (2010), pengertian variabel bebas (independent)

adalah variabel yang mempengaruhi yang menjadi penyebab sedangkan

variabel terikat (dependent) merupakan variabel akibat. Variabel antara

(intervening) adalah variabel yang menghubungkan antara variabel

independen dengan variabel dependen yang dapat memperkuat atau

memperlemah hubungan namun tidak dapat diamati atau diukur sedangkan

variabel pengganggu adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi

hubungan antara variabel independent dan dependent.

a. Variabel bebas (independent) : Pengaruh edukasi terhadap bahaya

gout arthritis.

b. Variabel terikat (dependent) : Skor kesadaran terhadap bahaya gout

arthritis.

c. Variabel antara (intervening) : Pengetahuan tentang gout arthritis.

d. Variabel pengganggu : Variabel pengganggu pada penelitian

ini adalah usia, pendidikan, kultur

sosial ekonomi, pengalaman, media.

Defenisi operasional
a. Edukasi (penyuluhan) tentang gout arthritis adalah pemberian informasi

kepada masyarakat dengan menggunakan metode ceramah dan tanya

jawab. Materi yang akan di berikan meliputi: pengertian gout arthritis,


36

penyebab gout arthritis, klasifikasi atau macam-macam gout arthritis,

bahaya serta komplikasi gout arthritis, dll. Penyuluhan ini hanya

diberikan satu kali setalah dilakukan pre-tes untuk mengetahui

perbedaan pengetahuan tentang gout arthritis dan memberikan modul

untuk mempermudah penjelasan materi yang di berikan untuk kemudian

dilakukan posttest.

b. Pengetahuan tentang gout arthritis

Kesadaran tentang bahaya gout arthritis dapat dilihat dari seberapa jauh

responden mengetahui tentang gout arthritis. Dimana semakin tingginya

pengetahuan, maka akan semakin baik pula tingkat kesadaran pasien

terhadap penyakit gout arthritis.

c. Skor kesadaran tentang bahaya gout arthritis

Untuk pengukuran skor kesadaran tentang bahaya gout arthritis dapat

diketahui dengan pengetahuan responden terhadap penyakit gout arthritis

itu sediri dan dengan adanya edukasi tentang penjelasan-penjelasan lebih

dalam untuk penyakit gout arthritis.

E. Instrumen penelitian
1. Kuisioner yang digunakan berisikan: identitas subyek penelitian,

pengetahuan tentang gout arthritis, tindakan pencegahan dan pengelolaan

tentang gout arthritis.


37

2. Media yang berguna sebagai alat bantu penyuluhan misalnya modul (berupa

catatan singkat mengenai materi yang akan disampaikan) laptop, LCD,

proyektor.

F. Uji validitas dan reliabilitas


Menurut Arikunto (2010), validitas adalah ukuran yang menunjukkan

tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Suatu instrument yang

valid dan sahih mempunya validitas tinggi. Sebaliknya instrument yang kurang

valid berarti memiliki validitas rendah. Reliabilitas memiliki pengertian bahwa

sesuatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat

pengumpulan data karena instrument tersebut sudah baik. Menurut Notoatmodjo

(2005) untuk menguji validitas ketepatan kuisioner yang akan digunakan, telah

dilakukan uji coba paling sedikit 20 orang responden. Hasil uji tersebut lalu

digunakan untuk mengetahui sejauh mana alat ukur atau kuisioner yang telah

diukur memiliki validitas dan reabilitas. Skor kesadaran gout arthritis diukur

dengan menggunakan kuisioner yang telah dikonsultasikan bersama pakar,

sehingga dapat diketahui validitas dari penelitian ini.

G. Cara pengumpulan data


Penelitian dilakukan di Dusun Kalirandu dan Dusun Ngentak, Desa

Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Dimana

kuisioner dibagikan keseluruh masyarakat lansia yang berumur antara 40-50


38

tahun baik wanita ataupun pria. Kuesioner berisi pertanyaan yang berhubungan

dengan:

1. Identitas subyek yang terdiri dari: nama, tempat tinggal, umur.

2. Pengetahuan tentang penyakit gout arthritis. 3. Pencegahan dan pengelolaan

gout arthritis.

H. Pengelolaan dan metode analisis data


Pengolahan Data
Dalam proses pengolahan data terdapat langkah-langkah sebagai

berikut : (a) Editing atau pemeriksaan data adalah upaya untuk pengecekan

isian kuisioner kelengkapan data, diantaranya kelengkapan identitas, lembar

kuisioner dan kelengkapan isian kuisioner sehingga apabila terdapat ketidak

sesuaian dapat dilengkapi segera oleh peneliti, (b) Coding atau pemberian

kode adalah kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk

bilangan, (c) Processingatau memproses data merupakan hasil pengkodean

dimasukkan kedalam tabel, dilakukan secara manual, (d) Data entry, data-

data yang telah diperoleh dimasukkan ke dalam tabel atau data base

computer, (e) Penyajian data, setelah data diubah, data tersebut disajikan

dalam bentuk tabel. Untuk memudahkan pembaca, data tersebut disajikan

dalam bentuk narasi.


39

Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data : (a)

Analisis univariat. Analisi univariat digunakan untuk menghitung distribusi

frekuensi sehingga diketahui gambaran karakteristik responden, (b) Analisis

bivariat. Analisis bivariat pada penelitian ini dilakukan untuk melihat

pengaruh variabel bebas, variabel terikat dengan menggunakan SPSS for

windows release 17.0. Analisa data untuk mengetahui pengaruh edukasi

terhadap skor kesadaran (awareness) menggunakan uji regresi linear

sederhana. Hasil regresi linear sederhana p<0,05 menunjukkan ada pengaruh

antara edukasi dengan skor kesadaran. Untuk mengetahui perubahan atau

perbedaan pengetahuan dan skor kesadaran dari pretest ke posttest antara

kelompok eksperimen dan kontrol dengan menggunakan uji wilcoxon. Hasil

wilcoxon p<0,05 menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik.

Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan antara kelompok eksperimental

dengan kontrol sebelum dan sesudah pemberian intervensi digunakan uji

Mann Whitney, jika nilai p<0,05 maka Ha ditolak (Dahlan, 2011).

I. Etika penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti telah mempertimbangkan prinsip-prinsip etika

dalam penelitian anatara lain:

Informed consent
Informed consent merupakan suatu bentuk persetujuan antara peneliti

denan responden peneliti dengan lembar persetujaun. Informed consent de


40

berikan sebelu penelitian di lakukan dengan memberikan lembar persetujuan

untuk menjadi responden, tujuannya agar responden mengerti maksud dan

tujuan penelitian dan mengetahui dampaknya. Jika responden tidak

menyetujuinya atau tidak bersedia maka peneliti harus menghormati hak

responden.

Anonymity (tanpa nama)


Anonymity merupakan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan

cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar

atau alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data

atau hasil penelitian yang akan di saji.

Confidentiality (kerahasiaan)
Confidentiality merupakan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik

informasi maupun masalah-masalah lainya. Semua informasi yang telah di

kumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data

tertentu yang akan dilaporkan hasil penelitianya dan tidak disebar luaskan

baik melalui media cetak maupun media elektronika.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Wilayah Penelitian


Dusun Kalirandu dan Dusun Ngentak Desa Bangunjiwo Yogyakarta

merupakan lokasi yang diteliti pada penelitian ini. Sebagai kelompok

eksperimental adalah Dusun Kalirandu dan sebagai kelompok kontrol adalah

Dusun Ngentak.

Dusun Kalirandu merupakan dusun ke sepuluh dari Desa Bangunjiwo

yang dimana merupakan salah satu dusun dengan wilayah terluas di Desa

Bangunjiwo. Dusun Kalirandu memiliki jumlah penduduk 1.132 jiwa dimana

terbagi atas 556 jiwa laki-laki dan 576 jiwa perempuan. Dusun ini berbatasan

dengan Dusun Ngentak di sebelah utara, Gendeng di sisi timur dan Bangen

memagari batas selata sedangkan di sisi barat berbatasan dengan 3 Dusun

sekaligus, yaitu Dusun Lemahdadi, Sribitan dan Kenalan.

Dusun Ngentak merupakan Dusun nomor urut dua di Desa Bangunjiwo

dengan jumlah penduduk terbanyak ke-3 di Desa Bangunjiwo. Dusun Ngentak

memiliki jumlah penduduk 1.625 jiwa dimana terbagi atas 839 jiwa laki-laki dan

786 jiwa perempuan. Dusun ini berbatasan langsung dengan Desa Tamantirto di

timur laut, bertatapan langsung dengan Dusun Donotirto di sisi Utara, disebelah

barat berbatasan dengan Dusun Lemahdadi, si selatan berbatasan langsung

dengan Dusun Gendeng dan Kalirandu dan di sisi timur terdapat dusun Gendeng.

41
42

B. Hasil Penelitian
Karakteristik Responden
Subyek yang diikutsertakan dalam penelitian ini adalah masyarakat

luas khususnya kelompok masyarakat prelansia dan masyarakat lansia baik

laki-laki maupun perempuan yang berumur 35-55 tahun. Subyek terdiri dari

berbagai kalangan dimana memiliki pendidikan terakhir yang berbeda-beda

mulai dari SR, SD, SMP, SMA, hingga Sarjana. Jumlah sampel dalam

penelitian ini diambil dengan cara total sampling dan didaptkan 74 orang

yang terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok eksperimental dan

kelompok kontrol. Jumlah responden pada kelompok eksperimental adalah

34 orang dan pada kelompok kontrol adalah 40 orang.

a. Kelompok Eksperimental

Jenis Kelamin Jumlah Persen (%) Kumulatif


Persen(%)
Laki-laki 12 35,3 35,5
Perempuan 22 64,7 100
Total 34 100

b. Kelompok Kontrol

Jenis Kelamin Jumlah Persen (%) Kumulatif


Persen(%)
Laki-laki 20 50 50
Perempuan 20 50 100
Total 40 100

Tabel. 3. Karakteristik responden berdasarkan umur


43

Tabel 3. Karakteristik responden berdasarkan umur menunjukan

bahwa umur terbagi menjadi 3 kelompok. Pada Kelompok Eksperimental

umur 30-40 tahun didapatkan 4 orang responden (11,8%), umur 41-50 tahun

didapatkan 17 orang (50%), dan >50 tahun didapatkan 13 orang (38,2%).

Pada Kelompok Kontrol umur 30-40 tahun didapatkan 13 orang (32,5%),

umur 41-50 tahun didapatkan 18 orang (45%), dan >50 tahun didapatkan 9

orang (22,5%).

a. Kelompok Eksperimental

Jenis Kelamin Jumlah Persen (%) Kumulatif


Persen
(%)
Laki-laki 12 35,3 35,5
Perempuan 22 64,7 100
Total 34 100

b. Kelompok kontrol

Jenis Kelamin Jumlah Persen (%) Kumulatif


Persen
(%)
Laki-laki 20 50 50
Perempuan 20 50 100
Total 40 100

Tabel 4. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin


Kelompok laki-laki didapatkan 20 orang (50%), dan kelompok

perempuan didapatkan 20 orang (50%).


44

a. Kelompok Eksperimental

Pendidikan Jumlah Persen (%) Kumulatif


Terakhir Persen(%)
SR 3 8,8 100
SD 11 32,4 32,4
SMP 9 26,5 58,8
SMA 11 32,4 91,2
Total 34 100
b. Kelompok Kontrol

Pendidikan Jumlah Persen (%) Kumulatif


Terakhir Persen(%)
SR 15 37,5 37,5
SD 13 32,5 70
SMP 11 37,5 97,5
SMA 1 2,5 100
Total 34 100

Tabel 5. Karakteristik responden berdasarkan Tingkat Pendidikan

Pada Tabel 5 Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

menunjukan bahwa tiap kelompok memiliki tingkatan pendidikan

yang berbeda. Pada kelompok eksperimental didapatkan tingkatan SR

3 orang (8,8%), SD 11 orang (32,4%), SMP 9 orang (26,5%), SMA 11

orang (32,4%). Pada kelompok kontrol didapatkan tingkatan SD 15

orang (37,5%), SMP 13(32,5%), SMA 11 orang (27,5%), S1 1 orang

(2,5%).
45

1. Karakteristik Data

Kelompok KE N Minimum Maximum Mean


Pretest Pengetahuan 34 6 17 11,35

Pretest Tindakan 34 12 29 21,38


Pretest Kesadaran 34 21 41 32,74
Postest Pengetahuan 34 12 16 15,29
Postest Tindakan 34 22 29 27,21
Postest Kesadaran 34 36 45 42,50
*Sumber : Data Primer

Tabel 6. Karakteristik data kelompok eksperimental

Pada Tabel diatas, merupakan karakteristik data masing-masing item

pada kelompok eksperimental dimana terbagi atas pretest dan posttest dan

terdiri dari pengetahuan, tindakan, dan akan menghasilkan skor kesadaran.

Pada pretest pengetahuan didapatkan nilai min. 2 dan max. 13 dengan mean

8,21. Pada postest pengetahuan didapatkan nilai min. 8 dan max. 18 dengan

mean 13,91. Pada pretest tindakan didapatkan nilai min. 9 dan max. 21

dengan mean 16,06. Pada postest tindakan didapatkan nilai min. 12 dan max.

21 dengan mean 18,62. Hasil dari penggabungan pengetahuan dan tidakan

akan didapatkan kesadaran. Dimana pada pretest kesadaran didapatkan nilai

min. 13 dan max. 32 dengan mean 24,26 serta pada postest kesadaran

didapatkan nilai min. 26 dan max. 39 dengan mean 32,53.


46

Kelompok KK N Minimum Maximum Mean


Pretest 40 2 16 11,33
Pengetahuan
Pretest Tindakan 40 16 27 21,63
Pretest Kesadaran 40 18 40 32,85
Postest 40 9 9 26,10
Pengetahuan
Postest Tindakan 40 23 23 26,10
Postest Kesadaran 40 34 34 40,07

Tabel 7. Karakteristik data kelompok eksperimental

2. Uji Normalitas

Uji normalitas ini untuk mengetahui apakah data itu normal atau

tidak. Di penelitian ini menggunakan 74 sampel, sampel tersebut dibagi

menjadi 2 kelompok yaitu kelompok eksperimen sejumlah 34 responden dan

kelompok kontrol sejumlah 40 responden. karena masing-masing kelompok

kurang dari 50 responden maka menggunakan Shapiro-Wilk. Dengn hasil

sebagai berikut :

Shapiro-Wilk
Kelompok KE Statistic Sig.
Pretest Pengetahuan ,968 ,416*
Pretest Tindakan ,952 ,144*
Pretest Kesadaran ,938 ,054*
Posttest Pengetahuan ,590 ,000
Posttest Tindakan ,825 ,000
Posttest Kesadaran ,857 ,000
47

Shapiro-Wilk
Kelompok KK Statistic Sig.
Pretest Pengetahuan ,889 ,001
Pretest Tindakan ,958 ,143*
Pretest Kesadaran ,932 ,019*
Posttest Pengetahuan ,590 ,000
Posttest Tindakan ,825 ,001
Posttest Kesadaran ,857 ,040*
Ket : *Data Normal

Tabel 8. Uji normalitas Data menggunakan Shapiro-Wilk

Dikatakan normal jika nilai sig lebih dari 0,005 % dapat

menggunakan uji Paired Sample T-Test. Apabila sig kurang dari 0,005 %

maka data tidak normal menggunakan uji Wilcoxon.

3. Perbedaan Pengaruh Edukasi tentang Gout Arthritis terhadap skor

kesadaran bahaya gout arthritis (gouty arthritis awareness) pada

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

Variabel Kelompo Mean Selisi t/ z Ket


k KE h Sig.(2tiled)
pengetahuan Pretest 11,35
Postest 15,29 -3,94 ,000
-4,699
Tindakan Pretest 21,38
Postest 27,21 -5,83 ,000
-4,978
Kesadaran Pretest 32,74
postest 42,50 -9,76 ,000
-5,092
Ket : *uji Wilcoxon, **uji Paired Sample Test
48

Tabel 9. Perbedaan rerata pretest dan posttest pengetahuan, tidakan dan

kesadaran pada kelompok eksperimen di Dusun Kalirandu, Kasihan, Bantul,

Yogyakarta

Pada kelompok eksperimen di uji Wilcoxon signed Ranks Test

karena setelah data di uji normalitas ternyata data tidak berdistribusi normal

dan didapakan hasil nilai signifikannya yaitu 0,000 maka dapat disimpulkan

bahwa ada beda yang bermakna atau ada pengaruh karena lebih kecil dari

nilai signifikan yaitu 0,005

Variabel Kelompok Mean Selisih t/ z Ket


KK Sig.(2tiled)
Pengetahuan Pretest 11,33
Postest 26,10 -10,3 -4,787 ,000

Tindakan Pretest 21,63


Postest 26,10 6,75 -5,358 ,000

Kesadaran Pretest 32,85


postest 40,07 6,7 -5,464 ,000

Ket : *uji Wilcoxon, **uji Paired Sample Test

Tabel 10. Perbedaan rerata pretest dan post test pengetahuan, tindakan dan

kesadaran pada kelompok kontrol di Dusun Kalirandu, Kasihan Bantul

Berdasarkan pretest dan posttest pada kelompok kontrol juga

menggunakan uji wilcoxon signed ranks test karena data tidak berdistribusi

normal, didapatkan hasil signifikasinya yaitu 0,000 maka dapat


49

disimpulakan bahwan ada beda yang bermakna atau ada pengaruh karena

lebih kecil dari nilai signifikan yaitu 0,005.

4. Pengaruh edukasi bahaya Gout Arthritis terhadap skor kesadaran

bahaya Gout Arthritis (Gouty Arthritis Awareness) pada kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol

Variabel Kelompok Mean Selisih t/ z Ket


Sig.(2tiled)
Pengetahuan KE 13,32
KK 18,71 -5,39 -3980 ,000
Tindakan KE 34,98
KK 34,68 0,3 -2,230 ,026

Kesadaran KE 49,16
KK 53,20 -4,04 -3,588 ,000

Data primer 2013 analisis *uji Ttesindepent ** Uji manwithney

Tabel 11. Pengaruh edukasi bahaya gout arthritis terhadap skor kesadaran

bahaya Gout Arthritis (Gouty Arthritis Awareness) pada kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol

Pada tabel 11. Skor kesadaran terdapat peningkatan nilai rerata pada

kedua kelompok yaitu kelompok eksperimental (KE) dan kelompok kontrol

(KK) dengan nilai signifikannya 0,000 maka dapat disimpulkan bahwa ada

pengaruh edukasi bahaya gout arthritis terhadap skor kesadaran bahaya gou

arthritis antara kelompok yang diberi edukasi dan kelompok yang tidak

diberi edukasi,dimana terjadi peningkatan lebih tinggi pada kelompok


50

eksperimen dibandingkan kelompok kontrol. Ini menandakan bahwa pada

kelompok eksperimental yang diberikan edukasi memiliki kesadaran lebih

tinggi daripada kelompok kontrol yang tidak diberikan edukasi.

C. Pembahasan
Karakteristik Responden
Berdasarkan data penelitian pada 74 responden yang terbagi dalam 2

kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Karakteristik

responden berdasarkan umur didapatkan bahwa usia penderita gout arthritis

pada saat penelitian yaitu 35-55 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa Gout

Arthritis dapat meningkat seiring peningkatan usia. Hal ini didukung dengan

penelitian Wallace yang menjelaskan bahwa adanya peningkatan terjadinya

gout yang seiring dengan bertambahnya umur. Wallace menjelaskan bahwa

seseorang yang berumur 65 – 74 tahun akan meningkatkan terjadinya

penyakit artritis gout dari 21/1000 orang menjadi 24/1000 orang dari tahun

1990 sampai tahun 1992 dan semakin meningkat menjadi 31/1000 dari tahun

1997 sampai tahun 1999 (K. Choi, 2004). Umur merupakan faktor resiko

kuat yang tidak dapat dimodifikasi.

Berdasarkan hasil karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

menunjukan bahwa jenis kelamin terbagi menjadi 2 kelompok. Pada

kelompok eksperimental kelompok laki- laki didapatkan 12 orang (35,3%),

dan kelompok perempuan didapatkan 22 orang (64,7%). Pada kelompok

kontrol kelompok laki-laki didapatkan 20 orang (50%), dan kelompok


51

perempuan didapatkan 20 orang (50%). Berdasarkan penelitian yang

dilakukan Choi yang menjelaskan bahwa pasien yang umurnya dibawah 65

tahun prevalensi gout lebih besar pada jenis kelamin laki – laki dibandingkan

wanita yaitu dengan ratio 3:1 (K. Choi, 2004).

Berdasarkan hasil karakteristik responden berdasarkan tingkat

pendidikan terbagi berdasarkan tingkatan pendidikan yang didapatkan. Pada

kelompok eksperimental didapatkan tingkatan SR 3 orang (8,8%), SD 11

orang (32,4%), SMP 9 orang (26,5%), SMA 11 orang (32,4%). Pada

kelompok kontrol didapatkan tingkatan SD 15 orang (37,5%), SMP 13 orang

(32,5%), SMA 11 orang (27,5%), S1 1 orang (2,5%). Tingkat pendidikan

responden yang tinggi kemungkinan besar akan mempengaruhi seseorang

untuk lebih mudah dalam menerima informasi dan pada akhirnya makin

banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya jika seseorang dengan

tingkat pendidikan yang rendah, akan menghambat penerimaan informasi

dan nilai-nilai yang diperkenalkan (Notoatmodjo,2007). Berdasarkan hasil

penelitian ini diketahui bahwa pada kelompok eksperimen sebagian besar

responden mempunyai tingkat pendidikan terakhirnya SMA . responden

yang memiliki pengetahuan yang cenderung lebih mengerti dan memahami

materi tentang gout arthritis yang disampaikan pada saat diberikan edukasi.
52

Pengaruh Edukasi Tentang Gout Arthritis Terhadap Skor Kesadaran di


Dusun Kalirandu dan Dusun Ngentak, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
Hasil analisa uji beda posttest pada kesadaran antara kelompok

eksperimental dan kelompok kontrol menggunakan uji Independent T-test

dan didapatkan angka signifikannya 0,000 jadi dapat disimpulkan bahwa

(p<0,05) yang artinya ada pengaruh edukasi bahaya diabetes terhadap skor

kesadaran bahaya diabetes mellitus secara bermakna antara kelompok

eksperimental dan kelompok kontrol atau terjadi peningkatan secara

bermakna pada kelompok eksperimental.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian penyuluhan

kesehatan merupakam salah satu cara yang efektif untuk menyampaikan

informasi kepada responden. Penelitian ini menggabungkan antara metode

ceramah dan tanya jawab dan pemberian modul sebagai alat bantu

penyuluhan kesehatan kesehatan menggunakan bahasa yang mudah untuk

dimengerti sehingga membantu responden dalam memahami dan mengingat

materi yang telah disampaikan peneliti. Keefektifan penggunaan modul atau

leaflet sebagai alat bukti bantu dalam ceramah didukung oleh peneliti dari

setiawan (2013). Bahwa metode ceramah dengan menggunakan alat bantu

lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan juga pemahaman

responden dibandingkan dengan metode ceramah yang tidak menggunakan

alat bantu.
53

Penggabungan metode tersebut sesuai dengan tujuan maupun

keuntungan serta keefektifan yang kan didapatkan, karena ceramah

merupaka proses transfer dari pengajar kepada sasaran pengajar. Tetapi

metode ini memiliki kelemahan karena menghambat respon dari yang belajar

sehingga sulit menilai reaksinya (suhila, 2001). Metode ini akan menjadi

lebih efektif jika diselingi oleh tanya jawab antara pemberi ceramah dengan

peserta sehingga didapatkan komunikasi secara dua arah.

Pemberian modul atau leaflet sebagai alat bantu dapat memperdalam

dan membantu untuk mengingat kembali terhadap materi yang sudah

disampaikan untuk mengingat kembali terhadap materi yang sudah

disampaikan dalam penyuluhan kesehatan sehingga mendapat pengertian

dan pengingat yang baik. Penelitian ini juga didukung oleh triana (2002),

bahwa metode ceramah dengan alat bantu lebih efektif dalam meningkatkan

pengetahuan dan sikap dibandingkan dengan metode cramah tanpa disertai

alat bantu.

Pada penelitian ini selain menggunakan metode ceramah, peneliti

juga memberikan kesempatan bertanya di akhri sesi pertemuan. Antuisme

responden untuk bertanya merupakan umpan balik terhadap penjelasan yang

telah diberikan. Tanya jawab sendiri menggunakan kesempatan kepada

responden untuk menggunakan pendapat sehingga terjadi umpan balik dari

responden.
54

D. Kekuatan dan kelamahan penelitian


Kekuatan penelitian
a. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik Experimen Semu

(Quasi Experiment) dengan rancangan pretest postest with control group

design.

b. Penelitian ini digunakan dengan metode pembelajaran melalui edukasi

dan diskusi serta menggunakan alat bantu berupa modul sehingga materi

yang disampaikan dapat dimengerti oleh semua responden.

Kelemahan penelitian
a. Peneliti menggunakan penyuluhan kepada kelompok eksperimen hanya

satu kali

b. Penelitian dilakukan dalam satu waktu tidak berkala

c. Penelitian dilakukan pada dua kelompok dalam satu wilayah


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Diketahui adanya pengaruh edukasi terhadap skor kesadaran pada kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol dengan nilai signifikan 0,000.

2. Setelah diberi edukasi tentang gout arthritis pada kelompok eksperimen

didapatkan hasil yang bermakna. Dibuktikan dengan selisih rerata antara

pretest dan posttest pada kelompok eksperimen lebih besar dibandingkan

kelompok kontrol. Sehingga dapat diartikan bahwa ada pengaruh edukasi

tentang gout arthritis terhadap skor kesadaran.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka ada beberapa saran yang perlu

disampaikan, yaitu :

Bagi masyarakat
Bagi masyarakat diharapkan mau berusaha untuk mengubah gaya

hidupnya dan senantiasa mau melakukan aktifitas dan menjaga pola makan

agar kejadian bahaya gout arthritis ini dapat diminimalisasi.

Bagi peneliti
Perlu dikembangkan tentang analisis edukasi kesehatan tentang

pengaruh edukasi tentang bahaya gout arthritis terhadap skor kesadaran

bahaya gout arthritis dengan sampel yang lebih besar dan waktu penelitian

55
56

yang lebih lama dan berkala agar dapat diterima sebagai bukti penelitian

klinis.

Bagi petugas pelayanan kesehatan


Perlu penanggulangan lebih serius terhadap penyakit-penyakit yang

tidak menular (PTM) salah satunya penyakit gout arthritis, karena penyakit

ini bisa menyerang siapa saja terutama masyarakat lansia. Edukasi berupa

penyuluhan tentang gout arthritis ini juga dapat dijadikan materi untuk

diberikan kepada masyarakat khususnya yang beresiko maupun yang

bersahabat dengan penyakit gout arthritis agar prevalensi kejadian diabetes

tidak membeludak dan tidak terjadi komplikasi serta dapat di kontrol. Untuk

petugas pelayanan kesehatan seperti dokter, perawat dan kader posyandu

lansia agar dapat memberikan edukasi ini pada saat ada kegiatan di

masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :

Rineka Cipta

Dahlan, S. (2011). Besar Sampel dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan.

Jakarta: Arkans.

Diantari, Ervi, & Kusumastuti, A.C. (2013). "Pengaruh Asupan Purin dan Cairan

Terhadap Kadar Asam Urat Wanita Usia 50-60 Tahun Di Kecamatan Gajah

Mungkur, Semarang". Journal of Nutrition College 2.1 (2013): 99-110.

Doherty, M. (2009), New insights into the epidemiology of gout, Available from:

rheumatology.oxfordjournals.org

Herquanto. (2001). Promosi kesehatan. Jakarta: Departemen Ilmu Kedokteran

Komunitas FKUI.

Hidayat, A. Aziz Alimud. (2009). Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa

Data. Jakarta: Selemba Medika

Hidayat, Rudy. (2009). Gout dan Hiperurisemia. Jakarta: Dexamedica Vol. 22, No.1

Hyon,C,Kenneth.G.Saag (Eds).2006. Epidemiologi, Risk Factor, and Life

Style Modification for Gout. Biomed Centre Ltd (Online). (

http://arthritisresearch.com ,diakses tanggal 11 Desember 2013)

57
58

Luk A J and Simkin PA. (2005). Epidemiologi of Hyperuricemia and Gout. The

American Journal of Managed Care, Vol 11, : 11 : 435 – 442.

Maulana, Heri, D. J. (2009). Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC

Mediakom, (2011). "Mengenal penyakit Arthritis Gout”. Media Komunikasi

Kementerian Kesehatan RI 12.Juni (2011): 57.

Misnadiarly, (2011). Asam Urat – Hiperurisemia - Arthritis Gout. Jakarta: Pustaka

Obor Populer, 2007: 9 – 92

Notoatmodjo, S., (2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-prinsip Dasar. Jakarta:

Rineka Cipta

Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Nursalam. (2003). Konsep Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.

Jakarta: Salemba Medika.

Purwaningsih, T. (2010). Faktor-Faktor Resiko Hiperurisemia pada Studi Kasus di

Rumah Sakit Umum Kardinah Kota Tegal. Available from:

http://.undip.ac.id/24334

Putra, Tj. Raka. (2007). Hubungan Konsumsi Purin dengan Hiperurisemia pada Suku

Bali di Daerah Pariwisata Pedesaan. J Peny Dalam, Vol.8 No.1.

Rabea et al., (2009). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Sendi,.

Buletin Penelitian Kesehatan Supplement 2009: 32-33


59

Putra, Tj. R. (2009). Hiperurisemia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Edisi ke-5 Jilid

III.Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia, 2550-2559

Setyoningsih, R. (2009) Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian

Hiperurisemia pada Pasien Rawat Jalan RSUP Dr.Kariadi Semarang

Available from: undip.ac.id/25234/

Setiawan, R. (2003). Pengaruh Pendidikan Kesehatan disertai Buku Panduan terhadap

Ruang Bedah Anak dan Keterampilan Keluarga Dalam Perawatan Kolostomi

di Ruang Bedah Anak RSUP DR Hasan Sadikin Bandung. Tesis pasca

sarjana. Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Yogyakarta.

Syukri, Maimun. (2007). Asam Urat dan Hiperurisemia. Majalah Kedokteran

Nusantara. Vol 40 : 52-55

Suliha, U., (2002). Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan. Jakarta: EGC.

Suroso, Rendra. (2004). Material dan Metode Edukasi dari Perspektif Sains. Jakarta:

Salemba Medika

Tehupeiory ES. (2006). Arthritis pirai (Arthritis Gout) - Buku ajar ilmu penyakit

dalam jilid II edisi IV. Sudoyo Aw,setiyohadi B,alwi I,simandibrata M,&

setiati S (Eds.) .jakarta : depertemen ilmu penyakit dalam fak. Kedokteran UI.

1218-20
60

Triana, W. (2002). Pendidikan Kesehatan Melalui Metode Ceramah Tanpa Modul

Untuk Meningkatkan Pengetahuan dan Sikap Wanita Dalam Menghadapi

Menopouse di Kota Yogyakarta. Tesis pasca sarjana. Universitas Gajah Mada

Yogyakarta. Yogyakarta.

Wibowo, Chandra. (2005). Renal Function in Minahasanese Patients with Chronic

Gout Arthritis and Tophi. Acta Med Indones-Indones I Intern Med Vol. 37,

No. 2

Yatim F. (2006). Penyakit Tulang dan Persendia: Jakarta: Pustaka Obor Populer,

Ed.1,: 32-51.
61

LAMPIRAN

Lampiran 1

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN

PENGARUH EDUKASI TENTANG GOUT ARTHRITIS TERHADAP SKOR


KESADARAN BAHAYA GOUT ARTHRITIS (GOUTY ARTHRITIS
AWARENESS) DI DUSUN KALIRANDU DAN DUSUN NGENTAK, DESA
BANGUNJIWO, YOGYAKARTA

Saya yang bernama di bawah ini:


Nama : Ica Trianjani S.
NIM : 20100310010
adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Muhammadiyah
Yogyakarta yang melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh
edukasi tentang gout arthritis terhadap skor kesadaran bahaya gout arthritis ( gouty
arhtritis awareness) di Dusun Kalirandu dan Dusun Ngetak, Desa Bangunjiwo,
Yogyakarta.
Saya mengharapkan kesedian bapak/ibu untuk berpartisipasi dalam penelitian
ini, yaitu dengan menjawab pertanyaan yang diajukan dengan apa adanya (jujur)
dimana tidak akan memberi dampak yang membahayakan. Partisipasi bapak/ibu
dalam penelitian ini bersifat sukarela, sehingga bebas untuk mengundurkan diri setiap
saat tanpa ada sanksi apapun. Semua informasi yang bapak/ibu berikan akan
dirahasiakan dan hanya akan dipergunakan dalam penelitian ini.
Jika bapak/ibu bersedia menjadi responden penelitian ini, maka silahkan
menandatangani formulir ini.
Kode :
Tanggal :
Tanda tangan
62

Lampiran 2

KUESIONER PENELITIAN

PENGARUH EDUKASI TENTANG GOUT ARTHRITIS TERHADAP SKOR


KESADARAN BAHAYA GOUT ARTHRITIS (GOUTY ARTHRITIS
AWARENESS) DI DUSUN KALIRANDU DAN DUSUN NGENTAK, DESA
BANGUNJIWO, YOGYAKARTA
Identitas Responden

Nama :

Usia :

Pilihlah salah satu jawaban dengan memberi tanda silang (X)

1. Apa yang dimaksud asam urat?

a. Suatu proses peradangan (pembengkakan yang terjadi karena adanya

timbunan kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi.

b. Suatu proses penipisan pada tulang sendi sehingga sendi makin lama

makin menipis, sehingga sendi akan nyeri bila digerakkan.

c. Suatu proses pengeroposan tulang yang diakibatkan karena berkurangnya

kalsium dalam tubuh.

2. Apa penyebab asam urat itu?

a. Kurang makanan yang bergii

b. Terlalu banyak konsumsi makanan yang mengandung purin tinggi

c. Terlalu banyak aktivitas fisik


63

3. Apa saja gejala penyakit asam urat itu?

a. Nyeri seluruh tubuh

b. Nyeri sendi, merah, terasa panas.

c. Tidak bisa menggerakkan kaki dan tangan ( lumpuh )

4. Apa yang dilakukan jika terkena penyakit asam urat?

a. Dikompres air hangat

b. Menghindari alkohol

c. Istirahat dan minum obat penghilang nyeri

5. Apakah komplikasi tersering dari penyakit asam urat?

a. Hepatitis

b. Kanker

c. Kerusakan ginjal

6. Apa yang dilakukan untuk mencegah penyakit asam urat?

a. Menghindari makanan jeroan

b. Banyak mengkonsumsi kacang-kacangan

c. Makan ikan laut

7. Makanan apa yang berhubungan menimbulkan penyakit asam urat?

a. Nasi, jagung, gandum

b. Jeroan, emping, melinjo, bayam, sawi.

c. Tempe, tahu, telur


64

Pilihlah salah satu kolom disebelah kanan dengan memberi tanda (√) sesuai
dengan pilihan anda.

TINDAKAN Setuju Tidak


Setuju
1. Tes asam urat perlu dilakukan untuk mendeteksi
kadar asam urat
2. Datang ke Dokter perlu dilakukan untuk konsultasi
jika terjadi gejala asam urat
3. Menkonsumsi makanan yang rendah purin dapat
mengurangi kadar purin dalam tubuh
4. Pengaturan berat badan yang seimbang dapat
mencegah terjadinya asam urat
5. Perbanyak asupan cairan dalam tubuh akan
mengurangi gejala asam urat
6. Mengkompres sendi yang sakit dengan es jika ada
gejala
7. Asam urat dapat sembuh, jadi bila melakukan
istirahat yang cukup
8. Olahraga dapat meningkatkan kadar asam urat
9. Mengkonsumsi bayam dan sawi akan mencegah
terjadinya asam urat
10. Meminum minuman beralkohol mengurangi faktor
untuk terjadinya asam urat
11. Menjaga gaya hidup sehat akan mengurangi
terjadinya asam urat
12. Akan tetap datang ke dokter untuk kontrol jika
sudah sembuh
13. Melakukan tes asam urat secara rutin untuk
mengecek kadar asam urat
65

Lampiran 3

Hasil Olah Data Kelompok Eksperimen

Descriptive KE

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation


KE Pretest Pengetahuan 34 6 17 11,35 2,485
KE Pretest Tindakan 34 12 29 21,38 4,271
KE Pretest Kes adaran 34 21 41 32,74 5,201
KE Pos ttes t Pengetahuan 34 12 16 15,29 1,292
KE Pos ttes t Tindakan 34 22 29 27,21 2,042
KE Pos ttes t Kesadaran 34 36 45 42,50 2,620
Valid N (lis twise) 34

Explore KE

Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
KE Pretest Pengetahuan ,162 34 ,024 ,968 34 ,416
KE Pretest Tindakan ,146 34 ,065 ,952 34 ,144
KE Pretest Kes adaran ,150 34 ,052 ,938 34 ,054
KE Pos ttes t Pengetahuan ,443 34 ,000 ,590 34 ,000
KE Pos ttes t Tindakan ,281 34 ,000 ,825 34 ,000
KE Pos ttes t Kes adaran ,242 34 ,000 ,857 34 ,000
a. Lilliefors Significance Correction
66

NPar Tests

Wilcoxon Signed Ranks Test


Ranks

N Mean Rank Sum of Ranks


KE Pos ttes t Pengetahuan Negati ve Ranks 1a 1,00 1,00
- KE Pretes t Pengetahuan Positive Ranks 28 b 15,50 434,00
Ties 5c
Total 34
KE Pos ttes t Tindakan - Negati ve Ranks 2d 3,50 7,00
KE Pretest Tindakan Positive Ranks 32 e 18,38 588,00
Ties 0f
Total 34
KE Pos ttes t Kesadaran - Negati ve Ranks 0g ,00 ,00
KE Pretest Kes adaran Positive Ranks 34 h 17,50 595,00
Ties 0i
Total 34
a. KE Pos ttes t Pengetahuan < KE Pretest Pengetahuan
b. KE Pos ttes t Pengetahuan > KE Pretest Pengetahuan
c. KE Pos ttes t Pengetahuan = KE Pretest Pengetahuan
d. KE Pos ttes t Tindakan < KE Pretest Tindakan
e. KE Pos ttes t Tindakan > KE Pretest Tindakan
f. KE Pos ttes t Tindakan = KE Pretest Tindakan
g. KE Pos ttes t Kesadaran < KE Pretest Kes adaran
h. KE Pos ttes t Kesadaran > KE Pretest Kes adaran
i. KE Pos ttes t Kesadaran = KE Pretest Kes adaran

Test Statisticsb

KE Posttes t KE Posttes t KE Posttes t


Pengetahuan Tindakan - Kesadaran -
- KE Pretes t KE Pretest KE Pretest
Pengetahuan Tindakan Kesadaran
Z -4,699 a -4,978 a -5,092 a
As ymp. Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,000
a. Based on negative ranks.
b. Wilcoxon Signed Ranks Test
67

Lampiran 4

Hasil Olah Data Kelompok Kontrol

Descriptive KK

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation


KK Pretest Pengetahuan 40 2 16 11,23 2,636
KK Pretest Tindakan 40 16 27 21,63 3,086
KK Pretest Kes adaran 40 18 40 32,85 4,492
KK Pos ttes t Pengetahuan 40 9 16 13,98 1,527
KK Pos ttes t Tindakan 40 23 29 26,10 2,146
KK Pos ttes t Kesadaran 40 34 45 40,07 2,654
Valid N (lis twise) 40

Explore KK

Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
KK Pretest Pengetahuan ,196 40 ,000 ,889 40 ,001
KK Pretest Tindakan ,099 40 ,200* ,958 40 ,143
KK Pretest Kes adaran ,115 40 ,198 ,932 40 ,019
KK Pos ttes t Pengetahuan ,243 40 ,000 ,850 40 ,000
KK Pos ttes t Tindakan ,188 40 ,001 ,883 40 ,001
KK Pos ttes t Kes adaran ,140 40 ,047 ,942 40 ,040
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction

NPar Tests KK

Wilcoxon Signed Ranks Test


68

Ranks

N Mean Rank Sum of Ranks


KK Pos ttes t Pengetahuan Negative Ranks 3a 6,83 20,50
- KK Pretes t Pengetahuan Positive Ranks 31 b 18,53 574,50
Ties 6c
Total 40
KK Pos ttes t Tindakan - Negative Ranks 1d 7,00 7,00
KK Pretest Tindakan Positive Ranks 38 e 20,34 773,00
Ties 1f
Total 40
KK Pos ttes t Kesadaran - Negative Ranks 0g ,00 ,00
KK Pretest Kes adaran Positive Ranks 39 h 20,00 780,00
Ties 1i
Total 40
a. KK Pos ttes t Pengetahuan < KK Pretest Pengetahuan
b. KK Pos ttes t Pengetahuan > KK Pretest Pengetahuan
c. KK Pos ttes t Pengetahuan = KK Pretest Pengetahuan
d. KK Pos ttes t Tindakan < KK Pretest Tindakan
e. KK Pos ttes t Tindakan > KK Pretest Tindakan
f. KK Pos ttes t Tindakan = KK Pretest Tindakan
g. KK Pos ttes t Kesadaran < KK Pretest Kes adaran
h. KK Pos ttes t Kesadaran > KK Pretest Kes adaran
i. KK Pos ttes t Kesadaran = KK Pretest Kes adaran

Test Statisticsb

KK Posttes t KK Posttes t KK Posttes t


Pengetahuan Tindakan - Kesadaran -
- KK Pretes t KK Pretest KK Pretest
Pengetahuan Tindakan Kesadaran
Z -4,787 a -5,358 a -5,464 a
As ymp. Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,000
a. Based on negative ranks.
b. Wilcoxon Signed Ranks Test

Lampiran 5
69

Hasil Olah Data Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

T-Test
Group Statistics

Std. Error
KELOMPOK N Mean Std. Deviation Mean
TINDAKAN PRETEST Kelompok Eksperimen 34 21,38 4,271 ,733
Kelompok Kontrol 40 21,63 3,086 ,488

Independent Samples Test

Levene's Test for


Equality of Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence
Interval of the
Mean Std. Error Difference
F Sig. t df Sig. (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
TINDAKAN PRETEST Equal variances
2,250 ,138 -,283 72 ,778 -,243 ,858 -1,952 1,467
assumed
Equal variances
-,276 58,958 ,784 -,243 ,880 -2,004 1,519
not assumed

NPar Tests
Mann-Whitney Test

Ranks

KELOMPOK N Mean Rank Sum of Ranks


PENGETAHUAN Kelompok Eks perimen 34 36,78 1250,50
PRETEST Kelompok Kontrol 40 38,11 1524,50
Total 74
KESADARAN PRETEST Kelompok Eks perimen 34 38,01 1292,50
Kelompok Kontrol 40 37,06 1482,50
Total 74
PENGETAHUAN Kelompok Eks perimen 34 47,53 1616,00
POSTTEST Kelompok Kontrol 40 28,98 1159,00
Total
74

TINDAKAN POSTTEST Kelompok Eks perimen 34 43,37 1474,50


Kelompok Kontrol 40 32,51 1300,50
Total 74
KESADARAN POSTTEST Kelompok Eks perimen 34 47,12 1602,00
Kelompok Kontrol 40 29,33 1173,00
Total 74
70

Test Statisticsa

PENGETAH
PENGETAHU KESADARAN UAN TINDAKAN KESADARAN
AN PRETEST PRETEST POSTTEST POSTTEST POSTTEST
Mann-Whitney U 655,500 662,500 339,000 480,500 353,000
Wilcoxon W 1250,500 1482,500 1159,000 1300,500 1173,000
Z -,269 -,191 -3,980 -2,230 -3,588
As ymp. Sig. (2-tailed) ,788 ,849 ,000 ,026 ,000
a. Grouping Variable: KELOMPOK