Anda di halaman 1dari 8

2.5.

Perubahan kebudayaan

Kebudayaan bersifat dinamis. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan,

teknologi dan seni, kebudayaan terus-menerus mengalami perubahan.

Pengertian perubahan kebudayaan adalah suatu keadaan dalam masyarakat yang

terjadi karena ketidak sesuaian diantara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda

sehingga tercapai keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan.

Contoh:

Masuknya mekanisme pertanian mengakibatkan hilangnya beberapa jenis teknik

pertanian tradisional seperti teknik menumbuk padi dilesung diganti oleh teknik

“Huller” di pabrik penggilingan padi. Peranan buruh tani sebagai penumbuk padi jadi

kehilangan pekerjaan.

Semua terjadi karena adanya salah satu atau beberapa unsur budaya yang tidak

berfungsi lagi, sehingga menimbulkan gangguan keseimbangan didalam masyarakat.

Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian yaitu : kesenian, ilmu

pengetahuan, teknologi dan filsafat bahkan perubahan dalam bentuk juga aturan-

aturan organisasi social. Perubahan kebudayaan akan berjalan terus-menerus

tergantung dari dinamika masyarakatnya.

Ada faktor-faktor yang mendorong dan menghambat perubahan kebudayaan yaitu:

a. Mendorong perubahan kebudayaan

Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi mudah berubah, terutama

unsur-unsur teknologi dan ekonomi ( kebudayaan material).Adanya individu-individu

yang mudah menerima unsure-unsur perubahan kebudayaan, terutama generasi


muda.Adanya faktor adaptasi dengan lingkungan alam yang mudah berubah.

b. Menghambat perubahan kebudayaan

Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi sukar berubah

seperti :adat istiadat dan keyakinan agama ( kebudayaan non material). Adanya

individu-individu yang sukar menerima unsure-unsur perubahan terutama generasi tu

yang kolot. Ada juga faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan

kebudayaan :

1. Faktor intern

• Perubahan Demografis

Perubahan demografis disuatu daerah biasanya cenderung terus bertambah, akan

mengakibatkan terjadinya perubahan diberbagai sektor kehidupan, c/o: bidang

perekonomian, pertambahan penduduk akan mempengaruhi persedian kebutuhan

pangan, sandang, dan papan.

• Konflik social

Konflik social dapat mempengaruhi terjadinya perubahan kebudayaan dalam suatu

masyarakat. c/o: konflik kepentingan antara kaum pendatang dengan penduduk

setempat didaerah transmigrasi, untuk mengatasinya pemerintah mengikutsertakan

penduduk setempat dalam program pembangunan bersama-sama para transmigran.

• Bencana alam

Bencana alam yang menimpa masyarakat dapat mempngaruhi perubahan c/o; bencana

banjir, longsor, letusan gunung berapi masyarkat akan dievakuasi dan dipindahkan

ketempat yang baru, disanalah mereka harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan

dan budaya setempat sehingga terjadi proses asimilasi maupun akulturasi.


• Perubahan lingkungan alam

Perubahan lingkungan ada beberapa faktor misalnya pendangkalan muara sungai yang

membentuk delta, rusaknya hutan karena erosi atau perubahan iklim sehingga

membentuk tegalan. Perubahan demikian dapat mengubah kebudayaan hal ini

disebabkan karena kebudayaan mempunyai daya adaptasi dengan lingkungan

setempat.

2. Faktor ekstern

• Perdagangan

Indonesia terletak pada jalur perdagangan Asia Timur denga India, Timur Tengah

bahkan Eropa Barat. Itulah sebabnya Indonesia sebagai persinggahan pedagang-

pedagang besar selain berdagang mereka juga memperkenalkan budaya mereka pada

masyarakat setempat sehingga terjadilah perubahan budaya dengan percampuran

budaya yang ada.

• Penyebaran agama

Masuknya unsur-unsur agama Hindhu dari India atau budaya Arab bersamaan proses

penyebaran agama Hindhu dan Islam ke Indonesia demikian pula masuknya unsur-

unsur budaya barat melalui proses penyebaran agama Kristen dan kolonialisme.

• Peperangan

Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia umumnya menimbulkan perlawanan keras

dalam bentuk peperangan, dalam suasana tersebut ikut masuk pula unsure-unsur

budaya bangsa asing ke Indonesia.


Ada dua faktor besar yang berpengaruh pada bentuk perubahan kebudayaan, yaitu

faktor dari dalam (internal) atau faktor dari luar (eksternal). Faktor internal meliputi

discovery, invention (invensi), innovation (inovasi) dan enkulturasi, sedangkan untuk faktor

yang datangnya dari luar (eksternal) meliputi difusi, Akulturasi, penetrasi, asimilasi,

invasi, hibridisasi.

A. Faktor dari Dalam (internal)

1. Discovery merupakan penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru, baik

yang berupa suatu alat baru, atauapun yang berupa suatu ide baru yang

diciptakan oleh seorang individu. Atau bisa juga dikatakan sebagai suatu

rangkaian ciptaan-ciptaan dari individu-individu dalam masyarakat yang

bersangkutan. Contoh penemuan baru untuk faktor discovery misalnya; mobil,

sepeda motor, handphone, tablet dan sebagainya.

2. Invention (invensi) adalah adanya pengakuan, penerimaan dan penerapan dari

suatu masyarakat atas penemuan baru (discovery) tersebut. Hal ini disebabkan

karena untuk membuktikan bahwa seorang individu itu telah menemukan suatu

yang baru membutuhkan tidak hanya satu individu atau penemu/pencipta saja,

akan tetapi harus ada rangkaian-rangkain dari pencipta atau penemu hal yang

baru tersebut. Penemuan sebuah mobil misalnya, merupakan suatu rangkaian

penemuan dari motor gas pada tahun 1875 sampai pada bentuk mobil yang

dapat dipakai sebagai alat pengangkutan pada tahun 1911.

3. Innovation (inovasi) terjadi apabila hasil penemuan baru tersebut, misalnya

mobil, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sebagai alat angkutan,

sedangkan masyarakat juga harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan-

kebutuhan yang diperlukan oleh sebuah mobil, misalnya ada sopir, bensin, solar,

bengkel, onderdil, montir, jalan raya dan sebagainya. Adanya pendorong atau
motivasi yang menyebabkan individu-individu untuk mencari penemuan-

penemuan baru adalah :

1. Kesadaran akan kekurangan dalam kebudayaan

2. Kualitas dari ahli-ahli dalam suatu kebudayaan

3. Perangsang bagi penciptaan-penciptaan baru

4. Proses Enkulturasi atau "pembudayaan" ini terjadi ketika seorang individu

mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan sistem

norma dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Jadi sejak

seorang individu itu masih kecil itu proses enkulturasi sudah dimulai dalam

alam pikirannya. Bermula dari keluarganya (pendidikan, kasih sayang dan

sebagainya), kemudian berlanjut ke teman-teman sepermainan. Seringkali ia

belajar meniru berbagai macam tindakan, setelah perasaan dan nilai budaya

yang memberi motivasi akan tindakan meniru itu telah dinternalisasikan dalam

kepribadiannya. Dengan berkali-kali meniru maka tindakannya menjadi pola

yang tetap, dan norma yang mengatur tindakannya itu "dibudayakan"

B. Faktor-Faktor dari Luar (eksternal)

1. Difusi adalah suatau proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari orang

perorangan kepada orang perorangan lainnya, dan dari suatu masyarakat ke

masyarakat lain, dari bangsa ke bangsa lain. Ada dua tipe difusi, yaitu difusi

intra-masyakat (intra society diffusion) dan difusi antar masyarakat (inter society

diffusion). (Akan dijelaskan secara detail pada posting berikutnya)

2. Akulturasi atau acculturation atau culture contract adalah mengenai proses

sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan

tertetentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing itu lambat

laun akan diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa


menghilangkan kepribadian kebudayaan itu sendiri. (untuk selengkapnya akan

dibahas pada posting berikutnya)

3. Asimilasi (assimilation) adalah proses yang timbul apabila golongan-golongan

manusia dengan latar belakang kebudayaan berbeda-beda saling bergaul

langsung secara intensif dan terus menerus dalam jangka waktu yang lama

sehingga kebudayaan golongan-golongan tadi, masing-masing berubah sifatnya

yang khas dan juga unsur masing-masing kebudayaan berubah wujudnya

menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran.

4. Penetrasi adalah masuknya unsur-unsur kebudayaan asing dari luar ke suatu

daerah. Masuknya unsur-unsur kebudayaan asing tersebut bisa terjadi secara

damai ( penetration pacifique) maupun secara paksaan.

5. Invasi adalah penyerangan dari suatu negara atau bangsa ke negara atau bangsa

lainnya yang bertujuan untuk menduduki daerah milik bangsa atau negara lain

dengan maksud menjalankan penjajahan atas bangsa yang ditaklukannya

dengan melenyapkan atau meminimalisir kebudayaan asli suatu bangsa.

6. Hibridisasi adalah perkawinan campuran di antara kelompok ras manusia yang

berbeda, yang menghasilkan ciri-ciri ragawi yang bersamaan, yang disebabkan

oleh komponen rasial yang bersamaan. Hibridisasi dapat terjadi sejalan dengan

migrasi kelompok-kelompok mansuia, misalnya pada zaman berburu tingkat

lanjut (zaman Mesolitikum). Pada masa berburu tingkat lanjut ini, tidak saja

terdapat pantangan "inces" (perkawinan antar anggota keluarga sedarah), tetapi

diduga dalam banyak hal telah berlangsung exogami atau perkawinan yang

terjadi di luar klan. Sebagai contoh percampuran antara ras Papua Melanesoide,

Europaeide dan Mongoleide yang menghasilkan bangsa Austronesia (nenek

moyang bangsa Indonesia) di Asia Tenggara. Kepedulian dan kesadaran

masyarakat telah menurun dan cenderung masa bodoh terhadap budaya

tradisional, upaya untuk melestarikan dan menjaga kebudayaan telah menurun


sehingga banyak beberapa kebudayaan yang diklaim oleh negara lain seperti

lagu rasa sayang e, tari pendet dari bali, batik, tari reog ponorogo, wayang kulit

dan masih banyak lagi (Nani Tuloli, 2003). Hal ini dikarenakan kurang

dihargainya dan kurang diperhatikannya kebudayaan daerah tersebut.

Kebudayaan dalam masyarakat selalu mengalami perubahan dan perubahan

tersebut terjadi ketika suatu kebudayaan melakukan kontak atau hubungan

dengan kebudayaan asing. Dampak globalisasi terhadap perubahan pola

kehidupan masyarakat Indonesia sangatlah besar, terutama pada kebudayaan

daerah yang mengalami perubahan dan tentunya perubahan kebudayaan yang

terjadi saat ini tidak lepas dari peran masyarakat (Nani Tuloli, 2003). Perubahan

budaya juga dapat timbul akibat timbulnya perubahan lingkungan masyarakat,

penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh,

berakhirnya zaman es berujung pada ditemukannya sistem pertanian, dan

kemudian memancing inovasi-inovasi baru lainnya dalam kebudayaan.


Daftar pustaka

 http://beniazhari.blogspot.co.id/2010/12/pengertian-perubahan-

kebudayaanadalah.html

 https://historikultur.blogspot.co.id/2015/10/faktor-faktor-perubahan-

kebudayaan.html

 Sembiring, Dermawan dkk. 2015. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Medan : Medan

Press

 Tulolli, Nani dkk. (2003). Dialog Budaya Wahana Pelestarian dan Pengembangan

Kebudayaan Bangsa. Jakarta : CV. Mitra Sari.