Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Biologi adalah ilmu mengenai kehidupan. Istilah ini diambil dari bahasa
belanda yaitu biologie, yang juga diturunkan dari gabungan kata bahasa Yunani,
bios (hidup) dan logos (lambang, ilmu). Dahulu digunakan istilah ilmu hayat yang
diambil dari bahasa Arab, artinya ilmu kehidupan. Obyek kajian biologi sangat
luas dan mencakup semua mahluk hidup (Mustahib, 2010).
Dilihat dari arti kata epitel (Epi, di atas, Thele, puting atau pentil) berarti
sesuatu yang menutupi puting atau pentil (yang dimaksudkan dengan puting atau
pentil disini adalah papil-papil jaringan ikat kecil-kecil yang mengandung kapiler,
yang terjulur ke dalam epitel translusen bibir dan memberinya warna merah).
Berawal dari sini, istilah epitel akhirnya dipergunakan untuk menyebut semua
membran pembatas dan penutup tubuh yang terdiri atas sel-sel yang saling
berdampingan. Bagian epitel kulit (bagian luar) berkembang dari eksoderm.
(Cormack, 1994).

Bentuk-bentuk sel biasanya lebih tidak teratur, khususnya permukaan


lateral sel sering mempunyai morfologi yang kompleks tonjolan-tonjolan sel dari
sel disampingnya yang saling bertautan satu sama lain. Suatu bentuk khusus epitel
silindris terdiri atas lapisan-lapisan sel, dimana semua sel-sel melekat pada
membran basalis, tetapi hanya beberapa sel mencapai permukaan, karena
tingginya bervariasi. Letak inti bervariasi tingginya diatas membran basalis dan
karenanya epitel tampak bertingkat sehingga disebut epitel bertingkat
(pseudostratified). Pada epitel berlapis dalam arti kata yang sebenarnya, hanya
sel-sel pada lapisan paling bawah melekat pada membran basalis (Geneser, 1994).

1.2. Tujuan Praktikum


Praktikum bertujuan untuk mengetahui fungsi Jaringan Epitel sebagai
jaringan yang melapisi permukaan tubuh, organ atau permukaan tubuh hewan.

BAB 2

UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Jaringan Epitel

Jaringan epithelium adalah jaringan yang melapisi suatu rongga dalam


atau suatu permukaan luar. Jaringan epitel terdiri dari sel-sel yang tersusun rapat
sehingga tidak terdapat ruang antar sel. Lapisan sel epithelium bertumpu pada
suatu membran dasar yang biasa disebut membran basalis. Berdasarkan atas
banyaknya lapisan sel yang menyusunnya, maka epithelium dapat dibedakan
menjadi epithelium selapis dan epithelium berlapis. Sedangkan atas dasar bentuk
selnya maka sel epitel dapat berbentuk pipih (squamosa), kubus (kuboid), atau
memanjang (kolumner). Sel-sel epitel dapat pula dilengkapi dengan rambut-
rambut halus (silia atau rambut getar) pada permukaan distalnya. Beberapa sel
epitel juga dapat mengalami modifikasi (Nasir, 1994).

Jaringan epitel mengandung helaian sel yang terkemas rapat. Sel epitel
terikat erat, dalam banyak kasus oleh taut erat di antara sel. Kalaupun ada, hanya
sedikit bahan yang dapat lewat di antara dua sel epitel. Sebuah epitel mempunyai
dua permukaan. Sel di permukaan bebas terpajang ke udara atau cairan. Sel di
bagian dasar sawar terikat pada sebuah membran basalis. Salah satu kriteria
pengelompokkan jenis epitel yang berbeda adalah bentuk sel di permukaan
bebasnya. Bentuk sel yang berbeda adalah kuboid (seperti dadu), kolumner
(seperti batu bata di ujungnya), dan squamosa (Bresnick, 2003).

2.2. Susunan Jaringan Epitel

Epithelium sederhana (simple epithelium) terdiri dari lapisan sel tunggal,


sementara epithelium berlapis (stratified epithelium) terdiri dari sel-sel majemuk
yang tersusun bertingkat. Epithelium berlapis semu sebenarnya berlapis tunggal,
tetapi terlihat berlapis-lapis karena sel itu memiliki panjang yang berbeda-beda.
Jaringan epitel sering disebut sebagai epitelium. Jaringan ini memiliki permukaan
bebas yang menghadap cairan tubuh atau lingkungan luar. Epitel selapis atau
impleks dengan selapis sel tunggal yang berfungsi untuk melapisi rongga tubuh,
duktus dan saluran. Epitel berlapis atau kompleks, yakni yang memiliki dua atau
lebih lapisan biasanya berfungsi sebagai lapisan misalnya kulit (Latunra, 2009).

UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Jaringan epitel kubus bersilia ini terdapat pada ductus spermaticus atau
saluran tetis, terdapat juga pada trakea maupun pada bronkus. Setiap hari ada
jutaan kulit yang rusak dan mesti diperbaiki. Kulit terbagi atas dua lapis yakni
epidermis (bagian luar) dan dermis korium atau lapisan dalam. Lapisan luar
(epidermis) terdiri atas stratum korneum (lapisan zat tanduk), yang selalu mati dan
selalu mengelupas, kemudian stratum iusidium dimana lapisan ini hanya terdapat
pada lapisan telapak kaki dan tangan, selanjutnya adalah stratum granulosum yang
mengandung pigmen (warna) atau granula-granula dan yang terakhir adalah
stratum germinativum, sel-selnya dibuat dan dibentuk kearah luar (Yayan, 1994).

Fungsi utama epitel selapis silindris ialah untuk melindungi permukaan


badan yang basah. Setelah itu ia menghasilkan sekret cair. Epitel melapisi saluran
keluar kecil kelenjar. Epitel selapis silindris yang terdiri atas sel absorptif dan sel
sekretori membatasi usus. Agar memudahkan absorbsi, membran ini hanya setebal
satu sel. Epitel silindris selapis ini terdapat pada lambung, jonjot usus, kantung
empedu, saluran pernafasan bagian atas, saluran rahim, dan saluran pencernaan
(Cormack, 1994).

2.3. Fungsi Jaringan Epitel

Jaringan epitel dengan ciri khasnya mampu melaksanakan beberapa


fungsi, misalnya, penerima rangsang (reseptor), sebagai proteksi (melindungi
jaringan yang ada dibawahnya), sebagai absorbsi (mengisap zat-zat yang ada
diluarnya), sebagai sekresi (mengeluarkan atau menghasilkan zat-zat yang
berguna bagi tubuh berupa kelenjar eksokrin atau kelenjar terbuka yang
merupakan kelenjar yang mempunyai saluran yang digunakan untuk
mengeluarkan hasil kelenjarnya ke tempat yang butuh, misalnya pembuluh darah),
sebagai ekskresi (mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna lagi), sebagai filtrasi
(dapat menyaring zat-zat, misalnya pada dinding kapiler darah dan kapsule
bowman pada ginjal) dan sebagai penerima rangsangan dari luar (Syarifuddin,
1997).

BAB 3

METODE PRAKTIKUM

UNIVERSITAS SRIWIJAYA
3.1. Waktu dan Tempat
 Hari/tanggal : Jum’at/21 Februari 2020
 Waktu : 13:30 – 15:30 WIB
 Tempat: Laboratorium Biosistematika
3.2. Alat dan Bahan
 Mikroskop cahaya
 Buku gambar
 Alat tulis
 Preparat Awetan
3.3. Cara Kerja
 Digunakan preparat awetan jaringan epitel dalam praktikum kali ini.
 Preparat awetan jaringan epitel diletakkan di meja mikroskop untuk di
amati.
 Lakukan pengamatan dimulai dari resolusi mikroskop yang paling rendah
(kecil).
 Setelah terlihat hasil pengamatan preparat awetan di mikroskop,
gambarlah hasil tersebut dan beri keterangan.

UNIVERSITAS SRIWIJAYA