Anda di halaman 1dari 23

Laporan Referat

OBSTRUKSI DUKTUS NASOLAKRIMALIS

Disusun Oleh:

Ayu Aprilisa Dahni Putri, S. Ked


04084821820010

Pembimbing:

dr. H. Elza Iskandar, SpM(K)MARS

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. MOHAMMAD HOESIN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2019
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Referat

OBSTRUKSI DUKTUS NASOLAKRIMAL

Oleh:
Ayu Aprilisa Dahni Putri, S. Ked
04084821820010

Bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya / Rumah


Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 7 Oktober – 11
November 2019.

Palembang, Oktober 2019

dr. H. Elza Iskandar, SpM(K)MARS

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas Rahmat dan
Karunia-Nya serta salam dan shalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW
beserta sahabat dan keluarganya, sehingga penulis dapat menyelesaikan referat
ini dengan judul “Obstruksi Duktus Nasolakrimalis” sebagai salah satu syarat
dalam menyelesaikan Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP
Dr. Mohammad Hoesin Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Terima kasih kepada dr. H. Elza Iskandar, SpM(K)MARS yang telah
membimbing penulis dalam menyelesaikan penulisan referat ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam
penulisan referat ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
untuk menyempurnakan referat yang serupa dimasa yang akan datang. Penulis
berharap sekiranya referat ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Aamiin.
.

Palembang, Oktober 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................ i


HALAMAN PENGESAHAN .....................................................................ii
KATA PENGANTAR ................................................................................iii
DAFTAR ISI ...............................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................v

BAB I PENDAHULUAN .................................................................... 1


BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................... 2
2.1 Sistem Sekresi Air Mata .......................................................... 2
2.2 Sistem Ekskresi Air Mata ...................................................... 3
2.3 Obstruksi Duktus Nasolakrimalis............................................4
2.3.1 Definisi ....................................................................... 4
2.3.2 Etiologi dan Klasifikasi ..............................................4
2.3.3 Patofisiologi dan Gejala Klinis ................................. 5
2.3.4 Diagnosis .................................................................. 5
2.3.5 Penatalaksanaan....................................................... 11
2.3.6 Komplikasi............................................................... 14
2.3.7 Prognosis.................................................................. 15
Bab III KESIMPULAN ............................................................ 16

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 18

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Sistem Ekskresi Lakrimalis ............................................................... 4

Gambar 2. Obstruksi pada duktus nasolakrimalis kiri .......................................... 6

Gambar 3. Tes Probing ........................................................................................ 7

Gambar 4. Tes Irigasi........................................................................................... 8

Gambar 5 Tes Warna Jones (Primer) Positif ........................................................ 9

Gambar 6. Tes Warna Jones (Primer) Negatif ..................................................... 9

Gambar 7. Tes Warna Jones (Sekunder) Positif ................................................. 10

Gambar 8. Tes Warna Jones (Sekunder) Negatif ................................................10

Gambar 9. Digital Substraction Dacryocystography......................................... 11

Gambar 10. Lacrimal Scintigraphy .................................................................... 11

Gambar 11. Teknik Dakriosistorinostomi Eksternal ............................………. 12

Gambar 12. Teknik Dakriosistorinostomi Internal ...............................……… 14

v
BAB I
PENDAHULUAN

Obstruksi duktus nasolakrimalis adalah penyumbatan duktus


nasolakrimalis (saluran yang mengalirkan air mata dari sakus lakrimalis ke
hidung). Duktus nasolakrimalis termasuk dalam sistem lakrimalis sebagai
komponen dari sistem ekskresi / drainase air mata.3
Sistem lakrimal terdiri dari dua bagian, yaitu sistem sekresi yang berupa
kelenjar lakrimalis dan sistem ekskresi yang terdiri dari punctum lakrimalis,
kanalis lakrimalis, sakus lakrimalis, duktus nasolakrimalis, dan meatus inferior.1
Kelenjar lakrimalis terletak pada bagian lateral atas mata yang disebut
dengan fossa lakrimalis. Bagian utama kelenjar ini bentuk dan ukuranya mirip
dengan biji almond, yang terhubung dengan suatu penonjolan kecil yang meluas
hingga ke bagian posterior dari palpebra superior. Dari kelenjar ini, air mata
diproduksi dan kemudian dialirkan melalui 8-12 duktus kecil yang mengarah ke
bagian lateral dari fornix konjungtiva superior dan di sini air mata akan disebar ke
seluruh permukaan bola mata oleh kedipan kelopak mata.2
Selanjutnya, air mata akan dialirkan ke dua kanalis lakrimalis, superior dan
inferior, kemudian menuju ke punctum lakrimalis yang terlihat sebagai
penonjolan kecil pada kantus medial. Setelah itu, air mata akan mengalir ke
dalam sakus lakrimalis yang terlihat sebagai cekungan kecil pada permukaan
orbita. Dari sini, air mata akan mengalir ke duktus nasolakrimalis dan bermuara
pada meatus nasal bagian inferior. Dalam keadaan normal, duktus ini memiliki
panjang sekitar 12 mm dan berada pada sebuah saluran pada dinding medial
orbita.2

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Sekresi Air Mata


Permukaan mata dijaga tetap lembab oleh kelenjar lakrimalis. Sekresi basal
air mata perhari diperkirakan berjumlah 0,75-1,1 gram dan cenderung menurun
seiring dengan pertambahan usia. Volume terbesar air mata dihasilkan oleh
kelenjar air mata utama yang terletak di fossa lakrimalis pada kuadran temporal di
atas orbita. Kelenjar yang berbentuk seperti buah kenari ini terletak didalam
palpebra superior. Setiap kelenjar ini dibagi oleh kornu lateral aponeurosis levator
menjadi lobus orbita yang lebih besar dan lobus palpebra yang lebih kecil. Setiap
lobus memiliki saluran pembuangannya tersendiri yang terdiri dari tiga sampai
dua belas duktus yang bermuara di forniks konjungtiva superior. Sekresi dari
kelenjar ini dapat dipicu oleh emosi atau iritasi fisik dan menyebabkan air mata
mengalir berlimpah melewati tepian palpebra (epiphora).3
Persarafan pada kelenjar utama berasal nukleus lakrimalis pons melalui
nervus intermedius dan menempuh jalur kompleks dari cabang maksilaris nervus
trigeminus. Kelenjar lakrimal tambahan, walaupun hanya sepersepuluh dari massa
utama, mempunya peranan penting. Kelenjar Krause dan Wolfring identik dengan
kelenjar utama yang menghasilkan cairan serosa namun tidak memiliki sistem
saluran. Kelenjar-kelenjar ini terletak di dalam konjungtiva, terutama forniks
superior. Sel goblet uniseluler yang tersebar di konjungtiva menghasilkan
glikoprotein dalam bentuk musin. Modifikasi kelenjar sebasea Meibom dan Zeis
di tepian palpebra memberi substansi lipid pada air mata. Kelenjar Moll adalah
modifikasi kelenjar keringat yang juga ikut membentuk film prekorneal.3
Glandula lakrimalis terdiri dari struktur berikut :
1. Bagian orbita berbentuk kenari yang terletak di dalam fossa lakrimalis di
segmen temporal atas anterior dari orbita, dipisahkan dari bagian palpebra
oleh kornu lateralis dari muskulus levator palpebra.
2. Bagian palpebra yang lebih kecil terletak tepat di atas segmen temporal dari
forniks konjungtiva superior. Duktus sekretorius lakrimalis, yang bermuara

2
3

3. melalui kira-kira 10 lubang kecil, menghubungkan bagian orbital dan


palpebral glandula lakrimalis dengan forniks konjungtiva superior.
Pembuangan bagian palpebra dari kelenjar memutuskan semua saluran
penghubung dan dengan demikian mencegah kelenjar itu bersekresi. Glandula
lakrimalis assesorius (glandula Krause dan Wolfring) terletak di dalam
substansia propia di konjungtiva palpebra.3

2.2 Sistem Ekskresi Air Mata


Sistem ekskresi terdiri atas punkta, kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus
nasolakrimalis. Setiap berkedip, palpebra menutup mirip dengan windshield
mulai di lateral, menyebarkan air mata secara merata di atas kornea, dan
menyalurkannya ke dalam sistem ekskresi pada aspek medial palpebra.3
Setiap kali mengedip, muskulus orbikularis okuli akan menekan ampula
sehingga memendekkan kanalikuli horizontal. Dalam keadaan normal, air mata
dihasilkan sesuai dengan kecepatan penguapannya, dan itulah sebabnya hanya
sedikit yang sampai ke sistem ekskresi. Bila memenuhi sakus konjungtiva, air
mata akan masuk ke punkta sebagian karena hisapan kapiler.3
Dengan menutup mata, bagian khusus orbikularis pre-tarsal yang
mengelilingi ampula mengencang untuk mencegahnya keluar. Secara bersamaan,
palpebra ditarik ke arah krista lakrimalis posterior, dan traksi fascia mengelilingi
sakus lakrimalis berakibat memendeknya kanalikulus dan menimbulkan tekanan
negatif pada sakus. Kerja pompa dinamik mengalirkan air mata ke dalam sakus,
yang kemudian masuk melalui duktus nasolakrimalis karena pengaruh gaya berat
dan elastisitas jaringan ke dalam meatus inferior hidung. Lipatan-lipatan mirip-
katup dari epitel pelapis sakus cenderung menghambat aliran balik air mata dan
udara. Yang paling berkembang di antara lipatan ini adalah “katup” Hasner di
ujung distal duktus nasolakrimalis. Berikut adalah ilustrasi dari sistem ekskresi air
mata yang berhubungan dengan fungsi gabungan dari muskulus orbikularis okuli
dan sistem lakrimal inferior.3
4

Gambar 1. Sistem Ekskresi Lakrimalis


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New York:
Thieme; 2nd Ed.)

2.3 Obstruksi Duktus Nasolakrimalis


2.3.1 Definisi
Obstruksi duktus nasolakrimalis adalah penyumbatan duktus
nasolakrimalis (saluran yang mengalirkan air mata dari sakus lakrimalis ke
hidung). Duktus nasolakrimalis termasuk dalam sistem lakrimalis sebagai
komponen dari sistem ekskresi / drainase air mata.3

2.3.2 Etiologi dan Klasifikasi


Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya obstruksi
duktus nasolakrimalis:3
 Terdapat benda yang menutupi lumen duktus, seperti pengendapan
kalsium, atau koloni jamur yang mengelilingi suatu korpus alienum.
 Terjadi striktur atau kongesti pada dinding duktus.
 Penekanan dari luar oleh karena terjadi fraktur atau adanya tumor pada
sinus maksilaris.
 Obstruksi akibat adanya deviasi septum atau polip.
5

Penyumbatan bisa bersifat parsial (sebagian) atau total. Obstruksi


duktus nasolakrimal kongenital (ODNLK) merupakan gangguan sistem
lakrimal yang terjadi pada 2-4% bayi baru lahir. Biasanya akibat tidak
terbukanya membran nasolakrimal, sedangkan pada orang dewasa akibat
adanya penekanan pada salurannya, misal adanya polip hidung.3

2.3.3 Patofisiologi dan Gejala Klinis


Obstruksi duktus nasolakrimal primer sering dikaitkan dengan fibro-
inflammatory process yang tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan
obstruksi duktus nasolakrimal sekunder dapat dikelompokkan ke dalam
beberapa kelompok penyebab seperti berikut:
a) Infeksi: bakteri, jamur, dan virus
b) Inflamasi: radiasi
c) Neoplastik: squamous cell carcinoma, dan squamous cell papiloma
d) Trauma iatrogenik: lakrimal probe, operasi sinus atau non iatrogenik
seperti laserasi kanikular
e) Mekanik: kemasukan benda asing.1

Manifestasi obstruksi duktus nasolakrimalis yang paling lazim


adalah mata berair (tearing), yang berkisar dari sekedar mata basah
(peningkatan di cekungan air mata), sampai banjir air mata yang jelas
(epifora), penimbunan cairan mukoid atau mukopurulen, dan kerak.
Mungkin ada eritema atau maserasi kulit karena iritasi dan gesekan yang
disebabkan oleh tetes - tetes air mata dan cairan.1

2.3.4 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan dibutuhkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.3
Pemeriksaan penunjang sebagai berikut:
1. Dye dissapearance test (DDT) dilakukan dengan meneteskan zat warna
6

fluorescein 2% pada kedua mata, masing - masing 1 tetes. Kemudian


permukaan kedua mata dilihat dengan slit lamp. Jika ada obstruksi pada
salah satu mata akan memperlihatkan gambaran seperti di bawah ini.4

Gambar 2. Obstruksi pada duktus nasolakrimalis kiri


Sumber: http://www.djo.harvard.edu

2. Fluorescein clearance test


Dilakukan untuk melihat fungsi saluran ekskresi lakrimal. Uji ini
dilakukan dengan meneteskan zat warna fluorescein 2% pada mata yang
dicurigai mengalami obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya. Setelah
itu pasien diminta berkedip beberapa kali dan pada akhir menit ke-6
pasien diminta untuk beringus (bersin) dan menyekanya dengan tissue.
Jika pada tissue didapati zat warna, berarti duktus nasolakrimalis tidak
mengalami obstruksi.4,5

3.Tes Probing dan Tes Anel (Irigasi)


Probing test bertujuan untuk menentukan letak obstruksi pada saluran
ekskresi air mata dengan cara memasukkan sonde ke dalam saluran air
mata. Pada tes ini, punctum lakrimal dilebarkan dengan dilator,
kemudian probe dimasukkan ke dalam sackus lakrimal. Jika probe yang
bisa masuk panjangnya lebih dari 8 mm berarti kanalis dalam keadaan
normal, tapi jika yang masuk kurang dari 8 mm berarti ada obstruksi.
Bila probe ini telah berhasil masuk, maka disusul dengan tes Anel.4,5
7

Gambar 3. Tes Probing


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New
York: Thieme; 2nd Ed.)
Tes Anel dilakukan dengan menggunakan semprotan yang diisi dengan
larutan garam fisiologis.
Tes Anel (+): Bila terasa asin di tenggorokan, berarti salurannya berfungsi
baik.
Tes Anel (-): Bila tidak terasa asin, berarti ada kelainan di dalam saluran
ekskresi tersebut.
Bila cairan keluar lagi dari pungtum lakrimal superior, berarti ada obstruksi
di duktus nasolakrimalis. Kalau cairan kembali melalui pungtum lakrimal
inferior, berarti obstruksi terdapat di ujung nasal kanalikuli lakrimal
inferior.4
8

Gambar 4. Tes Irigasi


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New
York: Thieme; 2nd Ed. dan Medscape, 2009. Obstruction Nasolacrimal Duct.)

4. Jones Dye Test 3,6,7


Jones dye test juga dilakukan untuk melihat kelainan fungsi saluran
ekskresi lakrimal. Uji ini terbagi menjadi dua yaitu Jones Test I dan
Jones Test II. Pada Jones Test I, mata pasien yang dicurigai mengalami
obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya ditetesi zat warna fluorescein
2% sebanyak 1-2 tetes. Kemudian kapas yang sudah ditetesi pantokain
dimasukkan ke meatus nasal inferior dan ditunggu selama 3 menit. Jika
kapas yang dikeluarkan berwarna hijau berarti tidak ada obstruksi pada
duktus nasolakrimalisnya.
9

Gambar 5. Tes Warna Jones (Primer) Positif


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New
York: Thieme; 2nd Ed.)

Hasil negatif bila tidak terdapat warna hijau dari hidung,


mengindikasikan obstruksi parsial atau kegagalan dari mekanisme
pompa lakrimal.

Gambar 6. Tes Warna Jones (Primer) Negatif


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New
York: Thieme; 2nd Ed.)

Pada Jones Test II, mengindikasikan kemungkinan letak obstrukasi


parsial. Caranya hampir sama dengan Jones test I, akan tetapi jika pada
menit ke-5 tidak didapatkan kapas dengan bercak berwarna hijau maka
dilakukan irigasi dengan larutan salin pada sakus lakrimalisnya. Bila
setelah 2 menit didapatkan zat warna hijau pada kapas, mengindikasikan
bahwa fluorecein masuk ke dalam sakus lakrimalis, sehingga terdapat
obstruksi parsial dari duktus nasolakrimalis.
10

Gambar 7. Tes Warna Jones (Sekunder) Positif


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New
York: Thieme; 2nd Ed.)

Bila lebih dari 2 menit atau bahkan tidak ada zat warna hijau pada kapas
sama sekali setelah dilakukan irigasi, mengindikasikan tidak masuknya
fluorescein ke dalam sakus lakrimalis. Ini berarti obstruksi parsial dari
pungtum, kanalikuli atau kanalikuli komunis, atau tidak sempurnanya
mekanisme pompa lakrimalis.

Gambar 8. Tes Warna Jones (Sekunder) Negatif


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New
York: Thieme; 2nd Ed.)

5. Tes Radiografi
Menggunakan kontras khusus untuk menilai duktus nasolakrimalis
(Digital Subtraction Dacryocystography).3,7
11

Gambar 9. Digital Substraction Dacryocystography


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New
York: Thieme; 2nd Ed.)

6. Nuclear Lacrimal Scintigraphy


Merupakan teknik non-invasif untuk menilai efisiensi fungsional dari
sistem drainase lakrimal. Pelacak radioaktif (sulfur koloid atau
Technitium) ditanamkan ke dalam kantung konjungtiva dan
perjalanannya melalui sistem drainase lakrimal divisualisasikan dengan
kamera Anger gamma.7

Gambar 10. Lacrimal Scintigraphy


(A: sistem ekskresi lakrimal normal; B: obstruksi pada batas sakus lakrimalis
dengan duktus nasolakrimalis)
(Dikutip dari Khurana, 2007. Comprehensive Ophthalmology. Delhi: Newage
Internasional: 4th Ed.)
2.3.5 Penatalaksanaan
Massage daerah lakrimal menjadi pilihan pertama. Massage dengan
tekanan pada pangkal hidung ke arah inferior dilakukan satu sampai dua
12

menit tiap hari. Bila dalam jangka waktu tiga bulan tidak menunjukkan
perbaikan maka irigasi berulang merupakan langkah berikutnya yang
dilakukan sampai anak berusia 1 (satu) tahun. Batas usia ini tidak mutlak,
apabila tanda radang tidak ada, maka irigasi dapat dilanjutkan sampai anak
berusia dua tahun.7
Sumbatan nasolakrimal pada orang dewasa pada umumnya
merupakan indikasi suatu tindakan pembedahan yaitu dakriositorinostomi.
Prosedur pembedahan yang sering dilakukan pada dakriosistitis adalah
dacryocystorhinostomy (DCR).7

Gambar 11. Teknik Dakriosistorinostomi Eksternal


(Dikutip dari Orbit, Eyelid, and Lacrimal System, American Academy of
Ophtalmology)

Dimana pada DCR ini dibuat suatu hubungan langsung antara sistem
drainase lakrimal dengan cavum nasal dengan cara melakukan bypass pada
kantung air mata. Dulu, DCR merupakan prosedur bedah eksternal dengan
13

pendekatan melalui kulit di dekat pangkal hidung. Saat ini, banyak dokter
telah menggunakan teknik endonasal dengan menggunakan scalpel
bergagang panjang atau laser.8
Dakriosistorinostomi internal memiliki beberapa keuntungan jika
dibandingkan dengan dakriosistorinostomi eksternal. Adapun
keuntungannya yaitu, (1) trauma minimal dan tidak ada luka di daerah
wajah karena operasi dilakukan tanpa insisi kulit dan eksisi tulang, (2)
lebih sedikit gangguan pada fungsi pompa lakrimal, karena operasi
merestorasi pasase air mata fisiologis tanpa membuat sistem drainase
bypass, dan (3) lebih sederhana, mudah, dan cepat (rata-rata hanya 12,5
menit).8
Kontraindikasi pelaksanaan DCR ada 2 macam, yaitu kontraindikasi
absolut dan kontraindikasi relatif. Kontraindikasi relatif dilakukannya DCR
adalah usia yang ekstrim (bayi atau orang tua di atas 70 tahun) dan adanya
mucocele atau fistula lakrimalis. Beberapa keadaan yang menjadi
kontraindikasi absolut antara lain:
 Kelainan pada kantong air mata :
- Keganasan pada kantong air mata.
- Dakriosistitis spesifik, seperti TB dan sifilis
 Kelainan pada hidung :
- Keganasan pada hidung
- Rhinitis spesifik, seperti rhinoskleroma
- Rhinitis atopik
 Kelainan pada tulang hidung, seperti periostitis5
14

Gambar 12. Teknik Dakriosistorinostomi Internal


(Dikutip dari: Orbit, Eyelid, and Lacrimal System, American Academy of
Ophtalmology)

Ballon dacryocystoplasty biasa digunakan pada anak dengan


obstruksi duktus nasolakrimalis kongenital dan pada dewasa dengan
obstruksi duktus nasolakrimalis parsial.5,8

2.3.6 Komplikasi
Obstruksi pada duktus nasolakrimalis ini dapat menimbulkan
penumpukan air mata, debris epitel, dan cairan mukus sakus lakrimalis
yang merupakan media pertumbuhan yang baik untuk pertumbuhan bakteri
sehingga menyebabkan dakrisistitis.9
Dakriosistitis yang tidak diobati dapat menyebabkan pecahnya
kantong air mata sehingga membentuk fistel. Bisa juga terkadi abses
kelopak mata, ulkus, bahkan selulitis orbita.1
Komplikasi juga bisa muncul setelah dilakukannya DCR.
Komplikasi tersebut di antaranya adalah perdarahan pascaoperasi, nyeri
transien pada segmen superior os.maxilla, hematoma subkutaneus
periorbita, infeksi dan sikatrik pascaoperasi yang tampak jelas.1
15

2.3.7 Prognosis
Prognosis pada kasus ini pada umumnya baik karena angka
keberhasilan pada dacryocystorhinostomy (DCR) adalah 75 – 95 %.3
BAB III
KESIMPULAN

Obstruksi duktus nasolakrimal adalah sumbatan pada saluran yang


menghubungkan dari salah satu sakus lakrimal ke bagian anterior meatus inferior
dari hidung, tempat mengalirnya air mata ke hidung.
Obstruksi duktus nasolakrimal terbagi menjadi dua, yakni obstruksi duktus
nasolakrimal kongenital dan obstruksi duktus nasolakrimal didapat. Terdapat
banyak hal yang dapat menyebabkan obstruksi duktus nasolakrimal pada pasien
dewasa, antara lain infeksi, inflamasi, mekanik, traumatik, neoplasia. Namun pada
obstruksi duktus nasolakrimal kongenital sebanyak 50% disebabkan karenan
kegagalan katup Heissner untuk membuka pada waktu mendekati kelahiran.
Penegakan diagnosa pasien yang mengalami obstruksi duktus nasolakrimal
dimulai dari anamnesis.
Pada pasien yang mengalami obstruksi duktus nasolakrimal masalah yang
sering dikeluhkan antara lain epifora, kotoran mata yang purulen, atau masalah
infeksi yang sering berulang seperti konjungtivitis atau pemphigus dan nyeri dan
bengkak pada medial kantus.
Pemeriksaan fisik pasien yang mengalami obstruksi duktus nasolakrimal
akan ditemukan adanya aliran air mata yang lebih banyak, massa yang menonjol
pada sakus lakrimal atau area medial kantus, atau sekret bola mata yang mukoid
atau purulen. Pemeriksaan fisik yang dapat membantu penegakan diagnosis antara
lain melalui tes regurgitasi. Pada tes regurgitasi, akan keluar cairan mukoid
setelah penekanan pada lakrimal.
Beberapa pemeriksaan penunjang untuk membantu penegakan diagnosa
obstruksi duktus nasolakrimal antara lain: DDT (Dye Disappearance Test), tes
Jones I dan II, diagnostic probing, endoskopi hidung, contrast dracyosystograph,
dracyoscintiagraphy, CT-scan, dan MRI. Penatalaksanaan pasien yang mengalami
obstruksi pada duktus nasolakrimal antara lain melalui intubasi dan pemasangan
sten pada pasien yang mengalami obstruksi pada duktus nasolakrimal parsial dan

16
17

tindakan bedah dracyocystorhinostomy (DCR). Dacryocystorhinostomy


adalah suatu prosedur untuk membuat saluran yang membuat anastomosom antara
sakus lakrimal dan kavitas nasal melalui ostium tulang.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Sidharta. 2008. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Halaman 106-110
2. Ellis, Harold, 2006. Clinical Anatomy, A Revision and Applied Anatomy
for Clinical Students Eleventh Edition. Massachusetts, USA: Blackwell
Publishing, Inc.
3. Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New York:
Thieme; 2nd; Halaman 49-58
4. Ilyas, Sidharta, 2006. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit
Mata Edisi Kedua. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
5. Mamoun, Tarek, 2009. Chronic Dacryocystitis. [Diakses tanggal 18
Oktober 2019]. http://eyescure.com/Default.aspx?ID=84.
6. Kanski J, 2007. Lacrimal Drainage System, Clinical Opthalmology. United
States of America: Butterworth Heinemann Elsiever; 5th Edition; Halaman
45-52
7. Khurana AK, 2007. Comprehensive Ophthalmology. Delhi: Newage
International: 4th Edition; Halaman 367-376
8. Maheshwari R, 2005. Management of Congenital Nasolacrimal Duct
Obstruction; [Diakses tanggal 18 Oktober 2019]. Available from:
http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v6/v6c105.h
tml Anonim. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF. Ilmu
Penyakit Mata Ed.III. Surabaya: Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo.

18