Anda di halaman 1dari 4

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang

Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpinmu; sebagian mereka adalah


pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil
mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang tersebut termasuk
golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang dzalim. (QS ALMAIDAH 51).

Kutipan ayat 51 dari kitab suci Al-Quran surat Al-Maidah tersebut diatas,
adalah ayat Al-Quran yang disinggung dalam sebuah pidato Gubernur DKI
Jakarta yang menjadikan situasi dan kondisi masyarakat di seluruh Indonesia
menjadi bergejolak di akhir tahun 2016.

Al-Maidah 51 menjadi dua kata yang sangat populer saat ini. Semua
orang ramai membahasnya. Semua orang ramai mendiskusikannya. Semua
orang dibuat sibuk. Bahkan akhirnya, seluruh warga bangsa Indonesia dibuat
geger dengan dua kata itu, AL-MAIDAH 51.

Adalah Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, Gubernur DKI Jakarta, pada
tanggal 27 September 2016 di Pulau Seribu yang pertama kali menyebut
tentang “AL-MAIDAH 51 dan mengeluarkan ucapan yang dilihat, dirasakan oleh
masyarakat sebagai penghinaan terhadap agama Islam, Ulama dan Alquran.

Potongan ucapan yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta yang


membuat ummat Islam seluruh Indonesia bergejolak dan marah adalah “.... saya
ingin cerita ini supaya bapak ibu semangat. Jadi enggak usah
pikiran..ah..nanti kalau enggak kepilih pasti ahok programnya bubar,
enggak, saya sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang, kan
bisa aja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya, iya kan,
dibohongin pakai surat almaidah 51 macem-macem itu, itu hak bapak ibu,
jadi bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih karena saya takut masuk
neraka, dibodohin gitu yah, enggak apa-apa, karena ini panggilan pribadi
bapak ibu, program ini jalan saja...”..

Terdapatnya kalimat “dibohongin pakai surat almaidah 51” itulah yang


membuat ummat islam seluruh Indonesia menjadi marah dan tersinggung.
Mereka merasa tersinggung dan dilecehkan rasa keagamaannya karena kalau di
hayati dan dimengerti secara seksama, ucapan tersebut dapat berarti
menganggap bahwa surat ALMAIDAH 51 adalah sebagai alat untuk melakukan
kebohongan. Dan Orangnya yang suka mengatakan tentang surat ALMAIDAH
51 yaitu para Ulama, Ustadz Dan Kyai adalah seorang pembohong. Apabila
ditanya tentang hal tersebut tentunya saya juga marah. Saya ingin nangis, saya
ingin teriak, koq tega yah ada seorang gubernur ngomong dan bicara yang
sangat menyakitkan itu.

Sungguh tidak dapa disangka oleh semua orang, akibat dari ucapan yang
dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta tersebut, maka terjadilah gerakan protes
yang dilakukan oleh ummat Islam diseluruh Indonesia. Gerakan tersebut berupa
demonstrasi dan unjuk rasa secara massif yang dilakukan oleh ormas-ormas
Islam di seluruh Indonesia mengecam serta mengutuk keras terhadap
penghinaan yang diucapkan oleh Basuki Tjahaya Purnama alias ahok.
Gelombang kemarahan dan protes dari Ummat Islam Indonesia secara
massif diseluruh wilayah Indonesia menurut saya dapat membuat suasana dan
kondisi kehidupan masyarakat akan terganggu bahkan mungkin akan terjadi
chaos apabila tidak segera di ambil keputusan untuk penyelesaiannya, yaitu
segera diproses secara hukum oleh kepolisian.
Ummat Islam Indonesia kemudian melaporkan kasus ini ke kantor
Kepolisian Republik Indonesia di Jakarta dan juga di sejumlah kantor Polda-
Polda di Indonesia, mereka menginginkan agar Basuki Tjahaya Purnama segera
dapat diproses secara hukum dan dapat mempertanggungjawabkan segala
perbuatannya dan mengharapkan agar kepolisian secepatnya dapat membawa
kasus ini ke meja hijau untuk disidangkan.
Akan tetapi, karena melihat posisi politik gubernur DKI Basuki Tjahaya
Purnama alias Ahok yang sangat penting di Pemerintahan dan kekuasaan serta
seakan-akan sebuah sosok yang tidak bisa disentuh (untouchable),kasus ini
lelet penyelesaiannya. Kepolisian tidak segera dapat memprosesnya secara
cepat, tapi membuat kasus ini seperti menggantung, padahal pihak kepolisian
telah mendapatkan bukti yang kuat untuk segera memproses kasus ini, yaitu
adanya surat pernyatan fatwa dari MUI. Surat itu menerangkan bahwa Gubernur
DKI melakukan penistaan terhadap Islam,Al-Qur’an dan Ulama, akibatnya
kemudian diluar perkiraan dan estimasi semua orang.
Melihat lambatnya pihak Kepolisian dalam mengusut kasus ini, seakan-
akan seperti api yang siram oleh bensin, maka mengeloralah kemarahan Ummat
Islam seluruh Indonesia. Rasa cinta dan pembelaan terhadap agama dan Ulama
dalam dada ummat Islam Indonesia seakan-akan pecah. Dibawah komando
ulama dalam sebuah gerakan yang bernama GNPF-MUI yaitu Gerakan Nasional
Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Ummat Islam seluruh Indonesia
melakukan serangkaian demonstrasi yang berpusat Jakarta untuk mendesak
Pemerintahan Indonesia agar secepatnya memproses Penistaan agama yang
dilakukan oleh Ahok.
Lewat serangkaian aksi dari mulai Aksi Bela Islam I, Aksi Bela Islam
II/Aksi 411 dan terakhir aksi yang sangat fenomenal dan terbesar dalam sejarah
demo di Indonesia setelah aksi 1998 yaitu Aksi Super Damai 212 pada hari jumat
tanggal 2 Desember 2016 berupa sholawt dan dzikir serta sholat jumat yang
diselenggarakan di lapangan Monas, yang dihadiri tidak , maka status hukum
Ahok dinaikkan menjadi terdakwa dan akan disidangkan di pengadilan.
Wahai warga Indonesia semuanya, Kekuatan Islam telah bangkit,
kekuatan Ummat Islam Indonesia telah datang, Ia telah keluar dari tidur
panjangnya. Lewat surat Almaidah 51 Ummat Islam Indonesia bisa disatukan
dibawah komando ulama yang berada dalam GNPF-MUI. Lewat sosok Habib
Rizieq Shihab dan Ustadz Bahtiar Nasir, kekuatan Ummat Islam Indonesia
semakin diperhitungkan.
Melihat kondisi diatas, tentunya kita harus bersyukur atas nikmat yang
diberikan oleh Alloh ini, tapi kita harus hati-hati dan waspada akan serangan balik
yang dilakukan oleh musuh Ummat Islam Indonesia yang akan mencerai-
beraikan ikatan ukhuwah yang baru terjalin ini.
Di satu sisi fenomena di atas bisa dibaca sebagai posisi tawar Ummat
Islam yang signifikan, dan karenanya harus ada dukungan secara statistik,
namun ini menyimpan sebuah kekhawatiran. Pertama, disetiap periode sejarah
politik di Indonesia selalu terselip “pembajakan” suara Ummat Islam sebagai alat
dukungan serta untuk melegitimasi berbagai kebijakan sang penguasa. Bahkan
Ummat Islam Indonesia kerap dijadikan sebagai “pendorong mobil mogok” dan
akan ditinggalkan manakala mobil tersebut bisa berjalan.
Kedua, Ummat Islam yang sudah sulit dihimpun dalam suatu barisan
yang kokoh, selalu royal memberi dukungan statistik, meskipun dengan imbalan
yang tidak seberapa. Sayangnya dukungan tersebut tidak dibarengi dengan
kontrak politik sebagai jaminan agar kelak tidak ada lagi cerita “air susu dibalas
air tuba”. Kontrak politik itu harus tertulis dibawah sumpah dan harus
mengandung pembelaan terhadap Islam dan Ummatnya serta harus menjadi
jaminan dan komitmen untuk tidak lagi memarjinalkan kaum muslimin apalagi
menindasnya, bahkan harus menjadi perjanjian mulia untuk memperlancar,
sekurang-kurangnya tidak menghalangi, upaya penegakkan syariat Islam bagi
Ummat Islam di Indonesia secara konstitusional. Kisah sedih dipanggung politik
dalam negeri dan manca negara sudah terlalu banyak menggambarkan
dukungan Ummat Islam yang berbuah pahit. Namun ada sebuah penyakit akkut
ummat Islam yang selalu terperosok dalam lubang sama berkali-kali yaitu
penyakit lupa berjamaah (amnesia colective).
Ketiga, Ummat diposisikan sebagai “kuli penyelamat” kapal besar
bernama Republik Indonesia dari keadaan karam agar sang kapal ini keluar dari
“Ruang Gawat Terbesar di Dunia”, mengutip sebuah istilah dari penyair Taufik
Ismail. Jadi terlampau murah dan naif jika suara raksasa Ummat Islam Indonesia
ini hanya berhenti pada tingkat statistik.
Untuk menjaga dan melindungi agar kekuatan Ummat Islam Indonesia
semakin solid dan kuat dalam suatu barisan yang kokoh, maka ummat islam
Indonesia harus satu komando dan mentaati apa yang di ucapkan oleh
pemimpinnya yaitu Habib Rizieq Shihab dan Ustadz Bahtiar Nasir. Kesatuan
komando ini adalah kunci dari keberhasilan Ummat Islam Indonesia.

“Wahai Allah Tuhanku, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan diriku,


kekurangan daya upayaku dan kehinaanku di hadapan sesama manusia. Wahai Allah
Yang Maha Kasih dari segala kasih, Engkau adalah pelindung orang-orang yang lemah
dan teraniaya. Engkau adalah pelindungku. Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan
diriku? Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasai
diriku. Tetapi asal Kau tidak murka padaku, aku tidak perduli semua itu. Kesehatan dan
karunia-Mu lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya-Mu yang menerangi segala
kegelapan, yang karenanya membawa kebahagiaan bagi dunia dan akhirat, daripada
murka-Mu yang akan Kau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku
sehingga Engkau meridhaiku. Tiada daya dan upaya kecuali dari-Mu” (Hayatu
Muhammad, hlm 187).