Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan

kronis yangditandai dengan meninggatkan tekanan darah pada dinding

pembuluh darah arteri. Keadaan tersebut mengakibatkan jantung bekerja lebih

keras untuk mengedarkan darah keseluruh tubuh melalui pembuluh darah.

Hal ini dapat menganggu aliran darah, merusak pembuluh darah, bahkan

menyebabkan penyakit degeneratif, hingga kemarian. (Menurut Sari yanita

dkk, 2017).

Seeorang dikatakan mengalami hipertensi atau penyakit tekanan darah

tinggi jika pemerikaan tekanan darah menunjukan hasil 140/90 mmHg atau

lebih dalam keadaan istirahat, dengan dua kali pemeriksaan, dan selang waktu

lima menit. Dalam hal ini, 140 atau nilai atas menunjukkan tekanan sistolik,

sedangkan 90 atau nilai bawah menunjukkan tekanan diastolik. (Menurut Sari

yanita dkk, 2017).

Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu hipertensi primer

atau esensial (90% kasus hipertensi) yang penyebabnya tidak diketahui dan

hipertensi sekunder (10%) yang disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit

endokrin, penyakit jantung dan gangguan ginjal. Menurut JNC VII Report

2003, diagnosis hipertensi ditegakkan apabila didapatkan tekanan darah

sistolik (TDS) ≥140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik (TDD) ≥ 90

1
mmHg pada dua kali pengukuran dalam waktu yang berbeda (AR tarigan,

2018).

Data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan sekitar

1,13 Miliar orang di dunia menyandang hipertensi, artinya 1 dari 3 orang di

dunia terdiagnosis hipertensi. Jumlah penyandang hipertensi terus meningkat

setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 Miliar orang

yang terkena hipertensi, dan diperkirakan setiap tahunnya 9,4 juta orang

meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya.

Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) tahun 2017

menyatakan tentang faktor risiko penyebab kematian prematur dan disabilitas

di dunia berdasarkan angka Disability Adjusted Life Year’s (DAILYs) untuk

semua kelompok umur. Berdasarkan DAILYs tersebut, tiga faktor risiko

tertinggi pada laki-laki yaitu merokok, peningkatan tekanan darah sistolik,

dan peningkatan kadar gula. Sedangkan faktor risiko pada wanita yaitu

peningkatan tekanan darah sistolik, peningkatan kadar gula darah dan IMT

tinggi.

Menurut data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014,

Hipertensi dengan komplikasi (5,3%) merupakan penyebab kematian nomor

5 (lima) pada semua umur. Sedangkan berdasarkan data International Health

Metrics Monitoring and Evaluation (IHME) tahun 2017 di Indonesia,

penyebab kematian pada peringkat pertama disebabkan oleh Stroke, diikuti

dengan Penyakit Jantung Iskemik, Diabetes, Tuberkulosa, Sirosis , diare,

PPOK, Alzheimer, Infeksi saluran napas bawah dan Gangguan neonatal serta

kecelakaan lalu lintas.

2
Untuk Provinsi Riau, berdasarkan profil kesehatan pada tahun 2012

kelompok umur terbanyak dengan kasus hipertensi adalah 45-54 tahun yaitu

sebanyak 892 kasus, diikuti oleh kelompok umur 55-59 tahun sebanyak 746

kasus dan kelompok umur 60-69 tahun sebanyak 728 kasus (Dinkes Prov

Riau, 2012). Menurut data kunjungan pasien hipertensi yang diperoleh dari

RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Arifin Achmad Pekanbaru setiap

tahunnya pasien hipertensi selalu mengalami peningkatan yaitu pada tahun

2011 sebanyak 758 orang, pada tahun 2012 sebanyak 1036 orang dan pada

tahun 2013 mengalami peningkatan sampai 1229 orang. Hipertensi ini lebih

banyak diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki dan jika dilihat dari

rentang usia, yang paling banyak menderita hipertensi yaitu pada rentang usia

45 tahun ke atas (Data Rekam Medik RSUD Arifin Achmad Pekanbaru,

2011-2013). Meningkatnya prevalensi hipertensi dapat menjadi masalah.

Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan menyebutkan

bahwa biaya pelayanan hipertensi mengalami peningkatan setiap tahunnya

yaitu pada tahun 2016 sebesar 2,8 Triliun rupiah, tahun 2017 dan tahun 2018

sebesar 3 Triliun rupiah.

Prevalensi berdasarkan data dari dinas kesehatan jumlah kasus hipertensi

tahun 2015 sebanyak 0,15% yang dilaporkan dari bulan Januari hingga

September meningkat ditahun 2015 yaitu 0,14% kasus. Pada 3 bulan terakhir

terjadi peningkatan drastic yaitu bulan Juli sebanyak 0,09% kasus, Agustus

sebanyak 0,095% kasus dan September sebanyak 0,096% kasus

(Dinkes,2015) Pengobatan hipertensi terbagi dua yaitu, terapi farmakologis

dan non farmakologis.

3
Survey pendahuluan yang dilakukan peneliti di Puskesmas Senapelan pada

tanggal 14 Desember 2019 terhadap salah satu petugas tata usaha,

mengatakan bahwa dari 10 urutan penyakit, hipertensi berada pada urutan ke-

3 penyakit dengan angka kejadian dengan jumlah penderita Hipertentensi

sebanyak 690 pada tahun 2018. Selain itu, di Puskesmas Senapelan sendiri

bekerjasama dengan BPJS untuk menjalani program pengelolaan penyakit

kronis atau (Prolanis). Program ini diadakan setiap bulannya dan pada 13 kali

pengobatan penderita bisa ke rumah sakit yang diarahkan langsung oleh

petugas BPJS untuk kontrol ulang dan mengambil obatnya di Kimia Farma.

Pengobatan hipertensi terbagi dua yaitu, terapi farmakologis dan non

farmakologis. Pengobatan hipertensi secara non-farmakologis dapat

dilakukan dengan mengubah gaya hidup yang lebih sehat, salah satunya

terapi merendam kaki dengan air hangat yang bertemperatur 39 -40⁰C

selama15 menit. Secara ilmiah air hangat mempunyai dampak fisiologis bagi

tubuh, pertama berdampak pada pembuluh darah dimana hangatnya air

membuat sirkulasi darah menjadi lancar, menstabilkan aliran darah dan kerja

jantung sertafaktor pembebanan didalam air yang akan menguatkan otot-otot

dan ligament yang mempengaruhi sendi tubuh(Lalage, 2015).

Hasil penelitian Khoiroh (2014) di dapatkan hasil bahwa rata-rata tekanan

darah sistolik sebelum dilakukan terapi rendam kaki air hangat 160 mmHg

dan rata-rata tekanan darah diastolic sebelum dilakukan terapi rendam kaki

air hangat adalah 100 mmHg. Setelah dilakukan terapi rendam kaki air

hangat, hasil rata-rata tekanan darah sistolik menurun menjadi 150 mmHg,

sedangkan pada rata-rata tekanan darah diastolic menurun menjadi 90 mmHg.

4
Masalah yang sering muncul adalah ketidakmampuan masyarakat untuk

berobat ke Rumah Sakit dikarenakan kekurangan biaya. Berdasarkan tinggi

nya jumlah kasus hipertensi di Kota Pekanbaru maka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian tentang “Pengaruh Rendam Kaki Air Hangat Terhadap

Penurunan Tekanan Darah pada penderita hipertensi di Wilayah Kerja

Puskesmas Senapelan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah penelitian ini

adalah : “Apakah terdapat pengaruh rendam kaki air hangat terhadap

penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja

puskesmas senapelan ?”

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh rendam kaki air hangat terhadap

penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi wilayah kerja puskesmas

senapelan.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui karakteristik jenis kelamin dan usia responden.

b. Untuk mengetahui perbedaan tekanan darah sebelum dengan sesudah

dilakukan rendam kaki air hangat pada kelompok intervensi.

c. Untuk mengetahui perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah

rendam kaki air hangat pada kelompok kontrol.

5
d. Untuk mengetahui perbedaan tekanan darah antara kelompok intervensi

dan kelompok intervensi yang telah diberi perlakuan dengan kelompok

kontrol yang tidak diberi perlakuan.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat teoritis

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan dan

diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pencegahan dan latihan yang

efektif bagi penderita hipertensi.

1.4.2 Manfaat Praktis

a. Bagi profesi Keperawatan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan

dalam perkembangan ilmu keperawatan dan dapat menjadi sumber

informasi dalam melakukan upaya dengan membentuk suatu program

pencegahan komplikasi kardiovaskuler pada hipertensi dengan

melakukan terapi rendam kaki air hangat.

b. Bagi Masyarakat

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah dan meningkatkan

wawasan serta memberikan informasi kepada masyarakat tentang

pentingnya upaya pencegahan dan latihan yang efektif tentang terapi

rendam kaki air hangat bagi penderita hipertensi.

6
c. Bagi peneliti lain

Manfaat untuk peneliti lain diharapkan dapat menambah

pengetahuan dan wawasan terkait terapi rendam kaki air hangat serta

pengembangan asuhan keperawatan yang lebih komprehensif di dalam

pelayanan kesehatan yang lebih luas di masyarakat.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori

A. Hipertensi

1. Definisi Hipertensi

Hipertensi atau yang dikenal dengan nama penyakit darah

tinggi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan

darah di atas ambang batas normal yaitu 120/80 mmHg. Menurut

WHO (Word Health Organization), batas tekanan darah yang

dianggap normal adalah kurang dari 130/85 mmHg. Bila tekanan

darah sudah lebih dari 140/90 mmHg dinyatakan hipertensi (batas

tersebut untuk orang dewasa di atas 18 tahun) (AR tarigan, 2018).

Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu

hipertensi primer atau esensial (90% kasus hipertensi) yang

penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder (10%) yang

disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit

jantung dan gangguan ginjal. Diagnosis hipertensi ditegakkan

apabila didapatkan tekanan darah sistolik (TDS) ≥140 mmHg dan

atau tekanan darah diastolik (TDD) ≥ 90 mmHg pada dua kali

pengukuran dalam waktu yang berbeda (AR tarigan, 2018).

B. Etiologi

Menurut (Sumiati, 2018) penyebab hipertensi dapat dikelompokkan

menjadi dua yaitu:

8
a. Hipertensi primer atau esensial

Hipertensi primer artinya hipertensi yang belum diketahui

penyebab dengan jelas. Berbagai faktor diduga turut berperan

sebagai penyebab hipertensi primer, seperti bertambahnya usia,

sters psikologis, pola konsumsi yang tidak sehat, dan hereditas

(keturunan). Sekitar 90% pasien hipertensi diperkirakan termasuk

dalam kategori ini.

b. Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder yang penyebabnya sudah di ketahui,

umumnya berupa penyakit atau kerusakan organ yang

berhubungan dengan cairan tubuh, misalnya ginjal yang tidak

berfungsi, pemakaiyan kontrasepsi oral, dan terganggunya

keseimbangan hormon yang merupakan faktor pengatur tekanan

darah. Dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin,

dan penyakit jantung.

C. Manifestasi Klinis

Menurut (Noorhidayah, 2016) Pemeriksaan fisik pada pasien

yang menderita hipertensi tidak dijumpai kelainan apapun selain

tekanan darah yang tinggi. Tetapi dapat ditemukan perubahan pada

retina, seperti pendarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan

pembuluh darah, dan pada kasus berat terdapat edema pupil (edema

pada diskus optikus).

Tahapan awal pasien kebanyakan tidak memiliki keluhan.

Keadaan simtomatik maka pasien biasanya peningkatan tekanan darah

9
disertai berdebar–debar, rasa melayang (dizzy) dan impoten.

Hipertensi vaskuler terasa tubuh cepat untuk merasakan capek, sesak

nafas, sakit pada bagian dada, bengkak pada kedua kaki atau perut.

Gejala yang muncul sakit kepala, pendarahan pada hidung,

pusing, wajah kemerahan, dan kelelahan yang bisa terjadi saat orang

menderita hipertensi .

Hipertensi dasar seperti hipertensi sekunder akan mengakibatkan

penderita tersebut mengalami kelemahan otot pada aldosteronisme

primer, mengalami peningkatan berat badan dengan emosi yang labil

pada sindrom cushing, polidipsia, poliuria. Feokromositoma dapat

muncul dengan keluhan episode sakit kepala, palpitasi, banyak

keringat dan rasa melayang saat berdiri (postural dizzy).

Saat hipertensi terjadi sudah lama pada penderita atau hipertensi

sudah dalam keadaan yang berat dan tidak diobati gejala yang timbul

yaitu sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah,

pandangan menjadi kabur (Irianto, 2014). Semua itu terjadi karena

adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal. Pada penderita

hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan

mengakibatkan penderita mengalami koma karena terjadi

pembengkakan pada bagian otak. Keadaan tersebut merupakan

keadaan ensefalopati hipertensi.

D. Klasifikasi

Menurut (Noorhidayah, 2016) batas normal tekanan darah

adalah tekanan darah sistolik kurang dari 120 mmHg dan tekanan

10
darah diastolik kurang dari 80 mmHg. Seseorang yang dikatakan

hipertensi bila tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan

tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg.

Tabel 1. Batasan Hipertensi Berdasarkan The joint National


Conunite VIII Tahun 2014
Batasan Tekanan darah Kategori
(mmHg)
≥150/90 mmHg Usia ≥60 tahun tanpa penyakit
diabetes dan euronic kidney disease
≥140/90 mmHg Usia 19-59 tahun tanpa penyakit
penyerta
≥140/90 mmHg Usia ≥18 tahun dengan penyakit
ginjal
≥140/90 mmHg Usia ≥18 tahun dengan penyakit
diabetes
Sumber: The Joint National
Comunite VIII (2014)
American Heart Association (2014) menggolongkan hasil

pengukuruan tekanan darah menjadi:

Tabel 2. Kategori Tekanan Darah Berdasarkan American Heart


Association
Kategori Tekanan Sistolik Diastolik
Darah
Normal <120 mmHg <80 mmHg
Prehipertensi 120-139 mmHg 80-89 mmHg
Hipertensi stage 1 140-159 mmHg 90-99 mmHg
Hipertensi stage 2 ≥ 160 mmHg ≥ 100 mmHg
Hipertensi stage 3 ≥ 180 mmhg ≥ 110 mmHg
(keadaan gawat)
Sumber: American Heart Association (2014)

Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya yaitu hipertensi

primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer adalah peningkatan

tekanan darah yang tidak diketahui penyebabnya. Dari 90% kasus

hipertensi merupakan hipertensi primer. Beberapa faktor yang diduga

berkaitan dengan berkembangnya hipertensi primer adalah genetik,

jenis kelamin, usia, diet, berat badan, gaya hidup.

11
Hipertensi sekunder adalah peningkatan tekanan darah karena

suatu kondisi fisik yang ada sebelumnya seperti penyakit ginjal atau

gangguan tiroid. Dari 10% kasus hipertensi merupakan hipertensi

sekunder. Faktor pencetus munculnya hipertensi sekunder antara lain:

penggunaan kontrasepsi oral, kehamilan, peningkatan volume

intravaskular, luka bakar dan stres.

E. Komplikasi

Menurut (Noorhidayah, 2016) Hipertensi yang tidak teratasi,

dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya

a. Payah Jantung

Payah jantung (Congestive heart failure) adalah kondisi jantung

tidak mampu lagi memompa darah yang dibutuhkan tubuh. Kondisi

ini terjadi karena kerusakan otot jantung atau sistem listrik jantung.

b. Stroke

Hipertensi adalah faktor penyebab utama terjadi stroke, karena

tekanan darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pembuluh

darah yang sudah lemah menjadi pecah. Bila hal ini terjadi pada

pembuluh darah otak, maka terjadi pendarahan otak yang dapat

berakibat kematian. Stroke juga dapat terjadi akibat sumbatan dari

gumpalan darah yang macet dipembuluh yang sudah menyempit.

c. Kerusakan ginjal

Hipertensi dapat menyempitkan dan menebalkan aliran darah

yang menuju ginjal, yang berfungsi sebagai penyaring kotoran

12
tubuh. Dengan adanya gangguan tersebut, ginjal menyaring lebih

sedikit cairan dan membuangnya kembali kedarah.

d. Kerusakan pengelihatan

Hipertensi dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah di

mata, sehingga mengakibatkan pengelihatan menjadi kabur atau

buta. Pendarahan pada retina mengakibatkan pandangan menjadi

kabur, kerusakan organ mata dengan memeriksa fundus mata untuk

menemukan perubahan yang berkaitan dengan hipertensi yaitu

retinopati pada hipertensi. Kerusakan yang terjadi pada bagaian

otak, jantung, ginjal dan juga mata yang mengakibatkan penderita

hipertensi mengalami kerusanan organ mata yaitu pandangan

menjadi kabur.

Komplikasi yang bisa terjadi dari penyakit hipertensi adalah

tekanan darah tinggi dalam jangka waktu yang lama akan merusak

endotel arteri dan mempercepat atherosclerosis. Komplikasi dari

hipertensi termasuk rusaknya organ tubuh seperti jantung, mata,

ginjal, otak, dan pembuluh darah besar. Hipertensi adalah faktor

resiko utama untuk penyakit serebrovaskular (stroke, transient

ischemic attack), penyakit arteri koroner (infark miokard, angina),

gagal ginjal, dementia, dan atrial fibrilasi.

F. Suhu Rendam Dan lama Rendam Kaki Air Hangat

Salah satunya terapi merendam kaki dengan air hangat yang

bertemperatur 39 -40⁰C selama 15 menit. Secara ilmiah air hangat

mempunyai dampak fisiologis bagi tubuh, pertama berdampak pada

13
pembuluh darah dimana hangatnya air membuat sirkulasi darah

menjadi lancar, menstabilkan aliran darah dan kerja jantung serta

faktor pembebanan di dalam air yang akan menguatkan otot-otot dan

ligament yang mempengaruhi sendi tubuh (Lalage, 2015).

G. Teknik Rendam Kaki Air Hangat

 Menjelaskan pada calon responden tentang tujuan dan manfaat

penelitian dan meminta kesediannya untuk menjadi responden.

 Jika calon setuju, maka responden menandatangani lembar

persetujuan menjadi responden.

 Sebelum dilakukan intevensi, dilakukan pengukuran tekanan darah

disertakan pengisian hasil pemeriksaan tekanan darah pre test pada

lembar observasi,

 Melakukan intervensi terapi rendam kaki dengan air hangat,

dengan air hangat bersuhu 39 -40⁰C menggunakkan termometer air

dalam baskom dengan banyak air setinggi 15 cm, selama 15 menit.

 Setelah dilakukan intervensi, responden dilakukan pemeriksaan

tekanan darah (post test) disertai pengisian di lembar observasi.

 Intervensi rendam kaki dengan air hangat dan pemeriksaan tekanan

darah (post test) dilakukan sebanyak 3x dengan waktu yang sama.

H. Metode

Metode Penelitian ini merupakan penelitian Pre Eksperiment, tipe

pretest dan posttest design. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien

dengan penderita hipertensi di wilayah kerja puskesmas senapelan.

Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.

14
Teknik pengambilan data dengan cara observasi menggunakan

sphygmomanometer air raksa. Analisa data dengan menggunakan uji t-

dependent (paired sample test) dan wilcoxon test.

1.2 Terapi Rendam Air Hangat

Manfaat terapi rendam kaki air hangat ini adalah efek fisik panas/hangat

yang dapat menyebabkan zat cair, padat, dan gas mengalami pemuaian ke

segala arah dan dapat meningkatkaan reaksi kimia. Pada jaringan akanterjadi

metabolisme seiring dengan peningkatan pertukaran antara zat kimia tubuh

dengan cairan tubuh. Efek biologis panas/hangat dapat menyebabkan dilatasi

pembuluh darah yang mengakibatkan peningkatan sirkulasi darah.Secara

fisiologis respon tubuh terhadap panas yaitu menyebabkan pelebaran

pembuluh darah, menurunkan kekentalan darah, menurunkan ketegangan

otot, meningkatkan metabolisme jaringan dan meningkatkan permeabilitas

kapiler. Respon dari hangat inilah yang dipergunakan untuk keperluan terapi

ada berbagai kondisi dan keadaan dalam tubuh (Destia, dkk,2014 dalam

Santoso, dkk, 2015).

Menurut Destia, dkk (2014) dalam Santoso, dkk, (2014), prinsip kerja

terapi rendam kaki air hangat dengan mempergunakan air hangat yaitu secara

konduksi dimana terjadi perpindahan panas/hangat dari air hangat ke

dalam tubuh akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan

penurunan ketegangan otot sehingga dapat melancarkan peredaran darah

yang akan mempengaruhi tekanan arteri oleh baroreseptor pada sinus

kortikus dan arkus aorta yang akan menyampaikan impuls yang dibawa

15
serabut saraf yang membawa isyarat dari semua bagian tubuh untuk

menginformasikan kepada otak perihal tekanan darah, volume darah dan

kebutuhan khusus semua organ ke pusat saraf simpatis ke medulla sehingga

akan merangsang tekanan sistolik yaitu regangan otot ventrikel untuk

segera berkontraksi.

Terapi air salah satu cara pengobatan tubuh yang memanfaatkan air

sebagai agen penyembuh. Air dimanfaatkan sebagai pemicu untuk

memperbaiki tingkat kekuatan dan ketahan terhadap penyakit.Pengaruh

sirkulasitubuh dengan menggunakan terapi air dapat menyembuhkan berbagai

penyakit seperti demam, radang paru-paru, sakit kepala, dan hipertensi.

Terapi air adalah cara yang baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh,

melancarkan peredaran darah dan memicu pembuangan racun.

16
BAB III

METODE PENELITIAN

1.1 Jenis dan Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah desain Quasi Eksperiment yaitu penelitian

yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan suatu variabel akibat dari

pemberian perlakukan yang diberikan secara terkontrol. Desain yang

digunakan dalam penelitian ini adalah Non Equivalent control group. Dimana

dalam desain ini terdapat dua kelompok yaitu satu kelompok eksperimen dan

satu kelompok kontrol yang dipilih secara acak atau random. (Sugiyono,

2013).

1.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Senapelan.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2020.

1.3 Populai dan Sampel

1. Populasi

Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas

objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan

(Sugiyono, 2015). Populasi dalam penelitian ini adalah hipertensi yang

17
memiliki tekanan darah 140/90 mmHg di Wilayah Kerja Puskesmas

Kecamatan Senapelan.

2. Sampel

Sampel penelitian adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti

dan dianggap mewakili seluruh populasi. Dengan kata lain, sampel adalah

elemenelemen populasi yang dipilih berdasarkan kemampuan

mewakilinya. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah penderita

hipertensi yang memiliki tekanan darah 140/90 mmHg dengan jumlah 30

orang responden. Dalam pengambilan sampel,peneliti menggunakan

teknik Non Probability Sampling dengan jenis Purposive Sampling dimana

pengambilan sampel didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang

dibuat oleh peneliti berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah

diketahui sebelumnya (Notoatmodjo, 2012).

Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel dengan kriteria

sampel sebagai berikut:

a. Penderita hipertensi berdasarkan jenis kelamin.

b. Penderita hipertensi usia lebih dari 36-45 tahun.

c. Penderita hipertensi memiliki riwayat keluarga dengan penyakit

hipertensi.

d. Penderita hipertensi dengan tekanan darah ≥140/90 mmHg.

e. Berada di wilayah kerja Puskesmas Senapelan

1.4 Jenis dan cara pengumpulan data

18
 Jenis data

a. Data primer

Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data

kepada pengumpulan data. Pengumpulan data primer diperoleh

melalui pengukuran secara langsung kepada penderita hipertensi

(Sugiyono, 2015).

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data sumber yang tidak langsung

memberikan data kepada pengumpulan data, misalkan lewat orang

lain atau lewat dokumen. Pengympulan data sekunder yaitu data

yang diperoleh dari dinas kesehatan, Puskesmas kecamatan

senapelan, pustaka, internet, dan buku-buku yang sesuai dengan

bahan masalah yang diteliti.

1.5 Cara pengumpulan data.

Pengumpulan data pada penelitian ini dengan cara mengumpulkan 30

orang responden yang menderita hipertensi, kemudian dilakukan pengukuran

tekanan darah sebelum pemberian rendam kaki air hangat pada hari ke-1.

Cara pengumpulan data penelitian ini adalah dengan lembar observasi yang

diisi oleh peneliti. Lembar observasi berisi tentang identitas responden yang

meliputi nomor responden, nama (inisial), umur, dan jenis kelamin

responden. Lembar observasi juga memuat tabel pengukuran penurunan

tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian rendam air hangat. Kemudian,

diberikan perlakuan pemberian air hangat bersuhu 39 -40⁰C menggunakkan

19
termometer air dalam baskom dengan banyak air setinggi 15 cm, selama 15

menit. Setelah itu dilakukan pengukuran penurunan tekanan darah pada hari

ke 7, barulah peneliti memulai mengolah data.

1.6 Etika Penelitian

Kebebasan (Autonomy)

Peneliti memberikan kebebasan kepada subjek peneliti untuk

memberikan informasi atau memberikan informasi atau tidak memberikan

informasi (Notoatmodjo, 2012).

1.7 Tanpa Nama (Anonimity)

Setiap orang mempunyai privasi dan kebebasan individu dalam

memberikan informasi. Setiap orang berhak untuk tidak memberikan apayang

diketahuinya kepada orang lain. Oleh sebab itu, peneliti tidak boleh

menampilkan informasi mengenai identitas dan kerahasiaan identitas subjek.

Peneliti cukup menggunakan coding sebagai pengganti identitas responden

(Notoatmodjo, 2012).

1.8 Bermanfaat (Beneficience)

Sebuah penelitian hendaknya memperoleh manfaat semaksimal mungkin

bagi masyarakat pada umumnya dan subjek penelitian pada khususnya

(Notoatmodjo, 2012).

1.9 Tidak Merugikan (Non Maleficence)

20
Peneliti hendaknya berusaha meminimalisi dampak yang merugikan bagi

subjek. Oleh sebab itu, pelaksaan Penelitian harus dapat mencegah atau

paling tidak mengurangi rasasakit, cidera, stress, maupun kematian subjek

penelitian (Notoatmodjo, 2012).

1.10 Keadilan (Justice)

Prinsip keadilan ini menjamin bahwa semua subjek penelitian

memperoleh perlakuan dan keuntungan yang sama, tanpa membedakan

gender, agama, etnis dan sebagainya (Notoatmodjo, 2012).

1.11 Persetujuan (Inform consent)

Merupakan bentuk persetujuan antara penelitian dengan responden

penelitian dengan memberikan lembar persetujuan untukmenjadi responden

yang diberikan sebelum penelitian dilakukan. Tujuannya agar responden

mengerti maksud dan tujuan penelitian serta mengetahui dampaknya. Jika

responden bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan

(Hidayat, 2012).

1.12Pengolahan dan analisa data

1) Pengolahan Data

Pengolahan data pada dasarnya merupakan suatu proses untuk

memperoleh data atau data ringkasan berdasarkan suatu kelompok data

mentah dengan menggunakan rumus tertentu sehingga menghasilkan

informasi yang diperlukan. Pengolahan data menggunakan komputer

dengan langkah-langkah sebagai berikut :

21
a) Penyunting data (Editing)

Adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para

pengumpulan data.

b) Memberi tanda kode/coding

Mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari para responden kedalam

bentuk angka/bilangan.

c) Memasukkan data/data Entry

Pemprosesan data dilakukan dengan cara meng-entry data dari

lembar observasi ke program komputer. Pada penelitian ini

processing data dilakukan degan meng-entry data dengan cara

menggunakan program komputerisasi.

d) Pembersihan Data/Cleaning

Merupakan kegiatan pengecekkan kembali data yang sudah di entry

apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan tersebut kemungkinan

terjadi pada saat meng-entry data ke komputer. Pada cleaning data

dilakukan dengan pengecekan kembali data yang telah dimasukkan

untuk memastikan data tersebut tidak salah secara manual sehingga

tidak ditemukan data yang tidak lengkap sehingga tidak ada sampel

yang gugur.

e) Mengeluarkan informasi

Disesuaikan dengan tujuan penelitian ini yang dilakukan. Penelitian

ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh rendam kaki air hangat

22
terhadap tekanan darah pada masyarakat penderita hipertensi di

wilayah kerjapuskesmas minas.

1.13 Analisa Data

a. Analisis Univariat

Analisa Univariatdilakukan untuk melihatdan mengidentifikasi setiap

variable karakteristik responden penelitian (regulasi emosi dan perilaku

bullying). Analisa ini berfungsi untuk meringkas kumpulan data dari

hasil pengukuran sedemikian rupa sehingga kumpulan data tersebut

menjadi informasi yang berguna. Analisa ini hanya menghasilkan

distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variable (Sujarweni, 2014).

b. Analisis Bivariat

Analisis brivariat yang digunakan pada penelitian ini adalah

menggunakan uji statistik T-Dependent yaitu uji yang memiliki fungsi

untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan

tertentu pada sampel (Hidayat, 2014).

Dalam analisa ini menggunakan program komputerisasi dengan nilai

probability (p) dengan tarafnya a 0,05. Syarat yang harus dipenuhi pada

saat melakukan uji statistik T-dependent adalah data harus berdistribusi

normal, kedua kelompok data independen dan variable yang

digabungkan berbentuk kategorik dan numeric. Uji statistic T-depensen

dengan rumus

𝑑
𝑇=
23𝑆𝐷 𝑑/√𝑛
∑(𝑑 − 𝑑)
𝑆𝐷 𝑑 = √
𝑛−1
Keterangan:

T= Nilai Uji T dependen

D= Selisih pengukuran 1 dan 2

D= Rata-rata d

SD d= Standar deviasi nilai d

Pada pengujian dengan uji T dependen ini akan menghasilkan dua

kemungkinan keputusan, yaitu menolak hipotesis dan gagal menolak

hipotesis dengan ketentuan yang berlaku adalah (Hidayat, 2014) :

1) Bila nilai p<a, maka keputusannya adalah hipotesis gagal ditolak

atau ada hubungan.

2) Bila nilai p>a, maka keputusannya adalah hipotesis ditolak atau

tidak ada hubungan.

Apabila data tidak terdistribusi normal, maka harus menggunkan

uji Wilcoxon, oleh karena itu dilakukan uji statistic Wilcoxon

dengan rumus :

1
𝑇 − [4𝑁(𝑁+1)]
𝑍=
1
√24𝑁(𝑁+1)(2𝑁+1)

Keterangan :

24
N = Jumlah data

T= Jumlah rangking dari nilai selisih yang negative atau positif

Hidayat (2014) menyatakan bahwa pada pengujian dengan uji

Wilcoxon ini akan menghasilkan dua kemungknan keputusan,

yakin menolak hipotesis dan gagal menolak hipotesis, dengan

ketentuan yang berlaku adalah :

1) Bila nilai p>a, maka keputusannya adalah hipotesis gagal

ditolak atau ada hubungan.

2) Bila nilai p≥a, maka keputusannya adalah hipotesis ditolak

tidak ada hubungan.

25
26