Anda di halaman 1dari 2

GENETIKA MENDEL

Mendel menjelaskan pewarisan sifat dari tetua kepada keturunannya melalui


perhitungan matematika dengan menggunakan model tanaman kapri (Pisum sativum L.).
Mendel memilih tanaman kapri karena tanaman kapri mudah dimanipulasi, dapat menyerbuk
sendiri, memiliki beberapa sifat yang mencolok perbedaannya, daur hidupnya relatif pendek,
mudah ditumbuhkan dan dipelihara. Dari percobaan-percobaan yang dilakukannya, Mendel
menghasilkan dua hukum yaitu pemisahan acak (Segregasi) dan berpasangan secara bebas
(Independent Assortment).

A. Hukum Mendel I : Segregasi


Hukum Mendel 1 menyatakan bahwa pasangan alel akan memisah selama pembentukan
gamet menggunakan mekanisme meiosis. Pemisahan tersebut mengakibatkan masing-masing
gamet akan terdiri dari setengah dari kromosom tetua (n) membawa hanya satu alel dari
setiap gen. Selama fertilisasi, penggabungan gamet jantan dan betina menciptakan pasangan
alel lagi. Alel dominan dituliskan dalam huruf besar, sedangkan alel resesif dituliskan dalam
huruf kecil.

Hukum Mendel 1 disimpulkan dari persilangan monohibrid, yaitu persilangan dua


induk yang hanya mempertimbangkan satu karakter saja. Mendel menyilangkan dua
galur murni yang berbeda dalam satu karakter, seperti warna bunga (ungu atau
putih) dan menghasilkan keturunan F1 yang disebut generasi pertama. Selanjutnya,
F1 disilangkan dengan F1 menghasilkan generasi kedua yang disebut F2. Dari
persilangan monohibrid tersebut, Mendel mengembangkan empat hipotesis :
1. Terdapat bentuk bentuk alternatif gen yang disebut alel
2. Untuk setiap karakter, setiap organisme memiliki dua gen
3. Gamet hanya membawa satu alel yang masing-masing mewarisi karakteristik
4. Alel dapat menjadi dominan atau resesif

Sifat dominan adalah sifat sifat yang muncul pada generasi F1. Sifat resesif adalah sifat
sifat yang tersembunyi atau disembunyikan pada generasi F1. Genotip adalah susunan genetis
dari karakter fisik yang dimiliki individu. fenotip adalah penampilan fisik yang disebabkan oleh
suatu genotip.
B. Hukum Mendel II : Berpasangan secara bebas
Hukum Mendel II menyatakan bahwa setiap pasangan alel dalam suatu gen memisah
secara independen dari pasangan gen yang lain selama pembentukan gamet. Hukum
Mendel II disimpulkan dari persilangan dihibrid, yaitu persilangan antara dua induk dengan
mempertimbangkan perbedaan dua karakter. Dalam percobaannya, Mendel
menyilangkan tanaman induk galur murni yang berbeda dalam dua karakter, seperti warna
biji (kuning atau hijau) dan keadaan kulit biji (bulat atau keriput). Alel untuk biji kuning (Y)
adalah dominan terhadap hijau (y), dan bulat (R) adalah dominan terhadap keriput (r).

Jika tanaman homozigot untuk biji kuning bulat (RRYY) disilangkan dengan tanaman
homozigot untuk biji hijau keriput (rryy), menghasilkan keturunan F1 dihibrid heterozigot
untuk kedua sifat (RrYy) dan fenotipnya adalah kuning bulat. Dari persilangan dihibrid
tersebut, Mendel mengembangkan 2 hipotesis, yaitu :

1. Alel-alel berpasangan secara dependen (saling tergantung) sehingga


menghasilkan dua kelas gamet (RY dan ry) dan keturunan F2 akan
menunjukkan rasio fenotip 3 : 1
2. Alel-alel berpasangan secara independen (tidak saling tergantung) sehingga
menghasilkan empat kelas gamet (RY, Ry, rY dan ry) dan keturunan F2 akan
menunjukkan rasio fenotip 9 : 3 : 3 : 1

Mendel membiarkan keturunan F1 menyerbuk sendiri dan menghasilkan keturunan F2.


Kemudian Mendel mengelompokkan keturunan-keturunan F2 dan mendapatkan rasio
fenotip 315 : 108 : 101 : 32 yang mendekati 9 : 3 : 3 : 1. Dengan demikian, percobaan Mendel
tersebut membuktikan bahwa masing-masing pasangan alel bersegregasi secara independen
selama pembentukan gamet.