Anda di halaman 1dari 51

Tugas Akhir

Pusat Informasi Parawisata kebudayaan

Di Kebupaten Pinrang

Diajukan Sebagai Proposal Tugas Akhir Program S1

Teknik Arsitektur

Di Susun Oleh;

NURFITASARI

F22115078

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS TADULAKO

2018/2019

1
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim Asalamualaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah


SWT atas limpahan rahmat dan karunia- Nyalah, dan sholawat serta salam selalu tercurah
kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tugas
akhir yang berjudul “PUSAT INFORMASI PARAWISATA DI KOTA
PINRANG”.Proposal Tugas Akhir merupakan langkah akhir sebagai syarat untuk
memenuhi dan melegnkapi gelar kesarjanaan S.1 Program Studi Arsitektur. Penulis
berharap dari Tugas Akhir ini dapat memberikan ilmu yang banyak dan bermanfaat bagi
para pembaca dari seluruh kalangan masyarakat. Penyelesaian PraTugas Akhir ini tidak
terlepas dari bantuan berbagai pihak yang telah banyak memberi masukan, nasehat, saran,
kritik, dan dukungan kepada penulis.

Semoga Allah SWT memberikan balasan setimpal kepada semua pihak yang telah
memberikan bantuan , bimbingan dan nasehat dalam proses penyelesaian Tugas Akhir
ini. Penulis menyadari bahwa penyusunan Tugas Akhir yang penulis kerjakan masih
banyak terdapat kekurangan, sehingga kritik dan saran dari semua pihak sangat
diharapkan agar laporan ini dapat diperbaiki lagi di kemudian hari. Semoga Tugas Akhir
ini dapat di terima dan bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkanya. Aamiin

wassalamualaikum Wr. Wb

Palu 5 Desember 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR .....................................................................................

DAFTAR ISI ....................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................

1.1 Latar belakang ................................................................................

1.2 Masalah Penelitian ..........................................................................

1.3 Tujuan Dan Sasaran Penelitian .......................................................

1.3.1 Tujuan Penelitian .............................................................


1.3.2 Sasaran Penelitian ............................................................

1.4 Manfaat penelitian ..........................................................................

1.5 Batasan Dan Lingkup Pembahasan ................................................

1.5.1 Batasan Pembahasan..............................................................

1.5.2 lingkup Pembahasan ..............................................................

1.6 Metode Pembahasan .......................................................................

1.7 Sistematika Penulisan .....................................................................

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................

2.1 Terminologi Pusat informasi Pariwisata dan Budayaan

2.1.1 Defenisi Pusat ..............................................................................

2.1.2 Defenisi Informasi .......................................................................

2.1.3 Defenisi Parawisata .....................................................................

2.1.4 Defenisi Kebudayaan ...................................................................

3
2.1.5 Parawisata Kebupaten Pinrang ....................................................

2.1.6 Prospek Pariwisata dan Kebudayaan di Pinrang .........................

2.1.7 Peran Informasi dan Promosi Bagi Pariwisata dan Kebudayaan


2.2 Tinjauan umum Pusat informasi Pariwisata dan Budayaan .......................

2.2.1. Definisi Pusat Informasi Pariwisata dan Budayaan ....................

2.2.2. Fungsi Dan Manfaat Pusat Informasi Pariwisata Dan Budayaan

2.2.3 Tujuan Pusat Budaya dan Pariwisata ..........................................

2.2.4. Fasilitas Pada Pusat Informasi Pariwisata Dan Budayaan..........


2.2.5 Analisa Pelaku, Aktivitas Dan Organisasi Ruang .......................
2.2.6 Analisa Pelaku .............................................................................
2.2.7 Analisa Aktivitas/Kegiatan ...................................................................

2.2.8 Organisasi Ruang.........................................................................


2.3 Tinjauan Desain Konsep Arsitektur Ramah Lingkungan Dan Arsitektur Local

2.3.1 Pengertian Arsitektur Ramah Lingkungan Dan Arsitektur Local

2.3.2 Sejarah Arsitektur Ramah Lingukungan Dan Arsitektur Local ..

2.3.3 Ciri Arsitektur Ramah Lingkungan Dan Arsitektur Local .........

2.4 Studi Banding .............................................................................................

2.4.1 Bangunan Benteng Rotterdam – Somba Opu .............................

BAB 3 METODE PENELITIAN .....................................................................

3.1 Lokasi Penelitian ...........................................................................


3.2 Jenis dan Sumber Data ..................................................................

3.3 Teknik Analisis data .......................................................................

3.4 Ruang Lingkup Penelitian ..............................................................

4
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

5
BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Indonesia Terletak di garis khatulistiwa dan berada di benua Asia dan Australia serta
antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Karena letaknya yang berada di antara dua
benua dan dua samudra, maka Indonesia disebut juga sebagai nusantara (kepulauan
antara. Di Indonesia pariwisata dan kebudayaan hingga saat ini banyak sekali yang
terkenal sampai ke luar negeri. Dengan demikian maka banyak daerah-daerah di
Indonesia yang mengoptimalkan pelestarian sumber daya alam darat maupun laut sebagai
sarana wisata. Seperti halnya di Bali yang keindahan pantai terkenal hingga mancanegara
dan terkenal dengan istilah pulau dewata. Tidak hanya di Bali daerah lain di Indonesia
juga mempunyai potensi pariwisata dan kebudayaan yang tak kalah menariknya. Seperti
yang ada di Kabupaten pinnrang yang banyak potensi wisata dan budayanya

Kabupaten Pinrang adalah provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kabupaten ini


terletak 185 km dari Makassar arah utara yang berbatasan dengan Kabupaten Polawali
Mandar Provinsi Sulawesi Barat, luas wilayah 1.961,77 km2 yang terbagi ke dalam 12
Kecamatan, meliputi 68 desa dan 36 kelurahan yang terdiri dai 86 lingkungan dan 189
dusun. Semakin banyaknya tempat pariwisata yang menjamur di Kabupaten Pinrang
mendorong kinerja pemerintah Pinrang untuk mengembangkan potensi pariwisata dan
kebudayaan yang belum ada. Oleh karena itu untuk mendapatkan pelayanan tentang
pariwisata seharusnya pemerintah setempat menyediakan fasilitas berupa bangunan
informasi pariwisata dan kebudayaan agar masyarakat yang datang untuk berwisata
mudah memperoleh informasi daerah wisata yang akan dikunjungi. Kabupaten Pinrang
salah satu daerah Obyek Wisata yang banyak tujuan wisatanya seperti Permandian Air
Panas Sulili, Pemandian Air Panas Lemo Susu, Air Terjun Kali Jodoh, dan Pantai Ujung
Tape. di Sulawesi selatan juga memiliki pesona alam pegunungan yang beriklim sejuk
berjarak 15 km dari kota Pinrang, mudah dijangkau dengan berbagai macam kendaraan.

6
Identitas daerah “INTANPARI” (Industri-Pertanian-Pariwisata) merupakan potensi
Kabupaten pinrang yang mendapatkan prioritas untuk dikembangkan. Hal ini didukung
dengan semboyan MAMMESI KI SIBAWA (Mari Bersama membangun, Aman dan
Makmur). Kabupaten pinrang juga telah meraih penghargaan di bidang kebersihan kota,
hal ini ditandai dengan telah diperolehnya ADIPURA sejak tahun 2000. Berbagai potensi
wisata yang dimiliki Kabupaten Pinrang, baik obyek wisata maupun Industri Pariwisata
cukup memadai.

Dengan motto Intanpari ( Industri Pertanian dan Pariwisata), . Kabupaten ini


terletak 185 km dari Makassar arah utara yang berbatasan dengan Kabupaten Polawali
Mandar Provinsi Sulawesi Barat, luas wilayah 1.961,77 km2 yang terbagi ke dalam 12
Kecamatan, meliputi 68 desa dan 36 kelurahan yang terdiri dai 86 lingkungan dan 189
dusun. Jumlah penduduk pada tahun 2007 sebesar ± 335.270 jiwa yang terdiri atas
160.647 jiwa laki-laki dan 174.623 jiwa perempuan dengan tingkat kepadatan penduduk
mencapai 171 jiwa/km².

1.2 Permasalahan Penelitian

Bagaimana mewujudkan suatu wadah yang berfungsi sebagai pusat informasi


pariwisata dan kebudayaan yang didukung oleh kegiatan, promosi, pemasaran, penelitian,
pengelolaan, dan pameran tetap atau temporer tentang pariwisata dan kebudayaan di
Kabupaten Pinrang.

Bagaimana menentukan lokasi yang strategis, dicapai dari lokasi wisata dan budaya yang
ada di Pinrang, sekaligus menunjang eksistensi antar kegiatan dalam tata ruang makro.

Bagaimana merencanakan tata site dan pola gubahan massa, sehingga interaksi kegiatan
yang ada dapat berjalan dengan lancar dan efektif.

Bagaimana merencanakan program ruang suatu wadah kegiatan informasi pariwisata dan
kebudayaan yang meliputi kegiatan pameran tetap/temporer, pemasaran, penelitian dan
pengelolaan.

7
Bagaimana mendesain suatu pusat informasi pariwisata dan kebudayaan yang menarik
sesuai dengan konsep arsitektur ramah lingkungan dan arsitektur lokal.

1.3 Tujuan Dan Sasaran Penelitian

1.3.1 Tujuan

Untuk mendesain sebuah pusat informasi yang dapat memberikan informasi


mengenai objek wisata dan budaya yang ada di Kabupaten Pinrang dan
Merancang sebuah pusat informasi yang dapat menjadi sarana promosi yang
memperkenalkan pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Pinrang bagi para
turis (domestik atau mancanegara).

1.3.2 Sasaran

• Mendapatkan suatu desain pusat informasi pariwisata dan kebudayaan yang


sesuai dengan konsep arsitektur ramah lingkungan dan arsitektur local
• Mempermudah masyarakat umum dalam mendapatkan informasi pariwisata
dan kebudayaan yang ada di Kabupaten pinrang.
• Menjadikan pariwisata dan kebudayaan di Kabupaten Pinrang lebih terkenal
baik di dalam negeri maupun luar negeri.
• Meningkatkan pendapatan daerah terutama dalam bidang pariwisata.

1.4 Manfaat Penelitian

Agar dapat membangun pusat informasi parawisata dan kebudayaan di kota pinrang
sehingga tempat-tempat wisata yang ada di kota pinrang yang belum terekspos dapat di
kenal di mancanegara

1.5 Batasan Dan Lingkup Pembahasan

1.5.1 Batasan Pembahasan

8
1. Materi yang disajikan adalah tentang pariwisata dan kebudayaan di Kabupaten
Pinrang yang masih terbuka lebar untuk dikembangkan, diteliti, dibina dan di
informasikan secara baik.
2. Skope pelayanan bersifat nasional dan internasional.

1.5.2 Lingkup Pembahasan

1. Pembahasan ditekankan pada masalah-masalah dalam disiplin ilmu arsitektur,


yang disesuaikan dengan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai sehingga
dapat dipakai sebagai landasan konsep perencanaan dan perancangan fisik.
2. Masalah-masalah dalam disiplin ilmu non-arsitektur dibahas apabila
keterlibatannya langsung berpengaruh pada sasaran pembahasan dan
dianggap mendasari serta menentukan faktor-faktor perencanaan dan
perancangan tetapi secara umum diambil sebagai penunjang, dibahas secara
mendalam.

1.6 Metode Pembahasan

Metode pembahasan yang dilakukan yakni dengan metode deskriptif, yaitu


mengumpulkan, memaparkan, kompilasi, dan analisa data yang kemudian diperoleh suatu
pendekatan program perencanaan dan perancangan untuk selanjutnya digunakan dalam
penyusunan konsep desain. Adapun metode pengumpulan data dalam penulisan ini antara
lain:

a. Metode deskriptif dalam pengumpulan data dengan cara: studi


literature/studi pustaka, observasi lapangan, browsing melalui internet,
kemudian ada pula data dari instansi terkait maupun wawancara dengan
narasumber.
b. Metode dokumentatif, yaitu metode yang dilakukan dengan cara
mendokumentasikan data yang dibutuhkan untuk dijadikan bahan
penyusunan penulisan ini. Cara mendokumentasikan data adalah dengan
memperoleh gambar visual dari foto-foto yang dihasilkan.

9
c. Studi lapangan, yaitu dengan mengunjungi lokasi perencanaan dan
perancangan guna memperoleh data yang dibutuhkan.

Dari data-data yang sudah terkumpulkan kemudian diidentifikasi dan dianalisa


untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai situasi dan kondisi yang ada sehingga
dapat disusun pula Sinopsis Kompleks Informasi Pariwisata dengan menerapkan berbagai
ilmu disiplin arsitektur yang disesuaikan.

1.7 Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Mengemukakan Pengertian Judul, Latar Belakang Pusat Informasi Pariwisata dan


Kebudayaan di Kabupaten Pinrang, Permasalahan, Tujuan dan Sasaran, Batasan
dan Lingkup Pembahasan, Metode Pembahasan dan Sistematika Penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Mengemukakan pengertian tentang Pusat,Pariwisata dan Kebudayaan, Jenis


Pariwisata dan Kebudayaan, Studi Banding Pusat Informasi dan Konsep
Perancangan.

BAB III : METODE PENELITIAN DAN GAMBARAN UMUM PARIWISATA


DAN KEBUDAYAAN DI PINRANG

Mengemukakan tentang kondisi umum Kabupaten Pinrang dan potensi


pariwisata dan kebudayaan yang ada di Kabupaten Pinrang.

BAB IV : ANALISA PENDEKATAN DAN KONSEP PERENCANAAN DAN


PERANCANGAN ARSITEKTUR TENTANG PUSAT PARIWISATA DAN
KEBUDAYAAN

10
Berisi tentang analisa dan konsep dari hasil tinjauan pustaka maupun data
lapangan kemudian dikembangkan menjadi sebuah konsep yang dapat dijadikan
design.

11
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Terminologi Pusat informasi Pariwisata dan Budayaan

2.1.1 Definisi Pusat

tempat yg letaknya di bagian tengah, Pokok pangkalan atau yang jadi tumpuan
(berbagaibagai urusan).

2.1.2 Defenisi informasi

Informasi merupakan pesan atau kumpulan pesan (ekspresi atau ucapan) yang
terdiri dari order sekuens dari simbol, atau makna yang ditafsirkan dari pesan atau
kumpulan pesan. Informasi dapat direkam atau ditransmisikan, hal ini merupakan tanda-
tanda, atau sebagai sinyal berdasarkan gelombang.

Berdasarkan Pengertian informasi menurut para ahli yang telah disebutkan diatas, dapat
disimpulkan bahwa informasi adalah sekumpulan fakta-fakta yang telah diolah menjadi
bentuk data, sehingga dapat menjadi lebih berguna dan dapat digunakan oleh siapa saja
yang membutuhkan data-data tersebut sebagai pengetahuan ataupun dapat digunakan
dalam pengambilan keputusan.
Informasi bisa dikatakan sebagai pengetahuan yang didapatkan dari belajar,
pengalaman atau instruksi. Namun, istilah ini masih memiliki banyak arti tergantung pada
konteksnya. Dalam beberapa pengetahuan tentang suatu peristiwa tertentu yang telah
dikumpulkan ataupun dari sebuah berita dapat juga dikatakan sebagai informasi. Lain
halnya dalam ilmu komputer, informasi adalah data yang disimpan, diproses atau
ditransmisikan. Para ahli meneliti konsep informasi tersebut sebagai pengetahuan yang
didapatkan dari pembelajaran, pengalaman maupun instruksi.
Dari pengertian lainnya informasi adalah data yang telah diberi makna. misalnya,
dokumen berupa spreadsheet (Ms.Excel) biasa digunakan untuk membuat informasi dari
data yang ada didalamnya. Laporan laba rugi dan neraca merupakan salah satu bentuk
informasi, sedangkan angka yang terdapat didalamnya adalah data yang telah diproses

12
sehingga bisa digunakan oleh siapa saja yang membutuhkannya dan pada akhrinya Sifat
informasi ini adalah bisa menambah pengetahuan atau wawasan terhadap seseorang.
Sumber informasi adalah data. Data itu berupa fakta kenyataan yang
menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata. Yang kemudian data
tersebut diolah melalui suatu metode untuk menghasilkan informasi, kemudian penerima
menerima informasi tersebut, membuat suatu keputusan dan melakukan tindakan, yang
kemudian menghasilkan suatu tindakan yang lain yang akan menimbulkan sejumlah data
kembali. Data tersebut akan ditangkap sabagai input, diproses kembali lewat suatu model
dan seterusnya membentuk suatu siklus. Siklus informasi ini dapat digambarkan sebagai
berikut :

Gambar 2.1
Siklus Informasi (Tata Sutabri, 2005:21)

Pengertian Informasi Menurut Para Ahli;

Abdul Kadir (2002: 31); McFadden dkk (1999) mendefinisikan informasi sebagai
data yang telah diproses sedemikian rupa sehingga meningkatkan pengetahuan seseorang
yang menggunakan data tersebut.

13
Jogianto (2004:8) dalam bukunya yang berjudul Analisis dan Desain Sistem
Informasi, berpendapat bahwa informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang
lebih berguna bagi yang menerimanya

Menurut Gordon B. Davis (1991: 28), informasi adalah data yang telah diolah
menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat bagi pengambilan
keputusan saat ini atau mendatang

2.1.3 Defenisi Pariwisata

Pariwisata merupakan salah satu kebutuhan manusia. Dengan melakukan wisata,


manusia dapat sejenak melepas penat, lelah dan menghilangkan stress, serta sejenak
melupakan masalah yang dialami baik di rumah maupun di kantor. Berdasarkan Undang-
Undang No. 9 Tahun 2009 pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan
didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha,
pemerintah, dan pemerintah daerah. Pengertian lain tentang pariwisata adalah salah satu
jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam
menyediakan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi
sektor-sektor produktivitas lainnya (Wahab,1996). Selain itu sebagai sektor yang
kompleks dan meliputi industri-industri klasik yang sebenarnya, yaitu industri kerajinan
dan cindera mata, penginapan, dan transportasi secara ekonomis juga dipandang sebagai
industri. Pengertian wisata itu sendiri adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan
rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang
dikunjungi dalam jangka waktu sementara.

Kebutuhan manusia semakin lama semakin berkembang. Semakin lama manusia


akan menuntut sesuatu yang lenih dari apa yang pernah mereka dapatkan, tidak terkecuali
masalah wisata. Manusia akan merasa bosan bila terus menerus berwisata ditempat yang
sama tanpa ada perubahan ataupun sesuatu yang berbeda dari tempat wisata tersebut.
Untuk itu perlu adanya perubahan dalam pembentukan tempat wisata seperti penambahan

14
sarana prasarana ataupun hanya sekedar membenahi sarana yang sudah ada supaya
menjadi lebih baik. hal tersebut perlu dilakukan untuk menarik wisatawan, dan supaya
para wisatawan yang datang tidak merasa bosan bila berwisata di tempat wisata tersebut.

Sebagai kebutuhan dasar manusia, pariwisata akan memenuhi kebutuhan manusia


untuk berlibur dan berekreasi, kebutuhan pendidikan dan penelitian, kebutuhan
keagamaan, kebutuhan kesehatan jasmani dan rohani, minat terhadap kebudayaan dan
kesenian, kepentingan keamanan, kepentingan politik, dan hal-hal yang bersifat
komersialisasi yang membantu kehidupan ekonomi masyarakat. Pariwisata dilakukan
baik secara individual, keluarga, maupun kelompok.

Hal-hal yang berhubungan dengan pariwisata antara lain wisata, wisatawan, dan
kepariwisataan. Berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 pengertian wisata
adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan
mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau
mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
Pengertian wisatawan adalah orang yang melakukan wisata, sedangkan kepariwisataan
adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi
serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan Negara serta
interaksi antara wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan pengusaha.

Penyelenggaraan kepariwisataan diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan dan


kemakmuran rakyat melalui peningkatan devisa, perluasan dan pemerataan kesempatan
usaha dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, memperkaya kebudayaan
nasional dengan tetap melestarikan kepribadian bangsa dan terpeliharanya nilai-nilai
agama, mempererat persahabatan antar bangsa, memupuk rasa cinta tanah air,
memperhatikan kelestarian fungsi dan mutu lingkungan serta mendorong pengembangan,
pemasaran, dan pemberdayaan produk nasional melalui pemanfaatan segala potensi
sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

15
Dari sisi ekonomi, pariwisata muncul dari empat unsur pokok yang saling terkait
erat atau menjalin hubungan dalam suatu sistem, yakni pemintaan atau kebutuhan,
penawaran atau pemenuhan kebutuhan berwisata itu sendiri, pasar dan kelembagaan yang
berperan untuk memfasilitasi keduanya, serta pelaku atau aktor yang menggerakkan
ketiga elemen tersebut. Keterkaitan antar keempat unsur tersebut sebagai sistem
pariwisata dapat dilihat pada gambar berikut (Damanik dan Weber, 2006:2)

2.1.4 Defenisi Kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan


Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam
masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah
untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu
generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai
sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius,
dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri
khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks,
yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota
masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil
karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan
adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau
gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda

16
yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan
benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup,
organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu
manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

2.1.5 Pariwisata Kabupaten Pinrang

Kabupaten Pinrang dengan ibukota Pinrang terletak disebelah 185 km utara


ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, berada pada posisi 3°19’13” sampai 4°10’30” lintang
selatan dan 119°26’30” sampai 119°47’20” bujur timur. Secara administratif, Batas
wilayah kabupaten ini

Gambar 2.2

Sumber; www.kota pinrang.com.6-12-2018

adalah sebelah Utara dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah Timur dengan
Kabupaten Sidenreng Rappang dan Enrekang, sebelah Barat Kabupaten Polmas Provinsi
Sulawesi Barat dan Selat.

17
Makassar, sebelah Selatan dengan Kota Parepare. Luas wilayah Kabupaten
mencapai 1.961,77 km².Kabupaten Pinrang memiliki garis pantai sepanjang 93 Km
sehingga terdapat areal pertambakan sepanjang pantai, pada dataran rendah didominasi
oleh areal persawahan, bahkan sampai perbukitan dan pegunungan. Kondisi ini
mendukung Kabupaten Pinrang sebagai daerah Potensial untuk sektor pertanian dan
memungkinkan berbagai komoditi pertanian (Tanaman Pangan, perikanan, perkebunan
dan Peternakan) untuk dikembangkan. Ketinggian wilayah 0–500 mdpl ( 60,41%),
ketinggian 500–1000 mdpl ( 19,69% ) dan ketinggian 1000 mdpl (9,90%)

Ada beberapa versi mengenai asal pemberian nama Pinrang yang berkembang di
masyarakat Pinrang sendiri. Versi pertama menyebut Pinrang berasal dari bahasa
Bugis yaitu kata "benrang" yang berarti "air genangan" bisa juga berarti "rawa-rawa".
Hal ini disebabkan pada awal pembukaan daerah Pinrang masih berupa daerah rendah
yang sering tergenang dan berawa. Versi kedua menyebutkan bahwa ketika Raja Sawitto
bernama La Dorommeng La Paleteange, bebas dari pengasingan dari kerajaan Gowa.
Kedatangan disambut gembira namun mereka terheran karena wajah raja berubah dan
mereka berkata "Pinra bawangngi tappana puatta pole Gowa", yang artinya berubah saja
mukanya Tuan Kita dari Gowa. Setelah itu rakyat menyebut daerah tersebut
sebagai Pinra yang artinya berubah, kemudian lambat laun menjadi Pinrang.

Sumber lain mengatakan pemukiman Pinrang yang dahulu rawa selalu tergenang
air membuat masyarakat berpindah-pindah mencari pemukiman bebas genangan air,
dalam bahasa Bugis disebut "Pinra-Pinra Onroang". Setelah menemukan pemukiman
yang baik, maka tempat tersebut diberi nama: Pinra-pinra.

18
Gambar 2.3 Peta Kebupaten Pinrang (Sul-Sel)

Sumber; www.pinrang.com, 5-12-2018

19
Obyek Wisata yang ada di Kabupaten Pinrang antara lain :

a. Objek Wisata alam ; Permandian Air Panas Sulili, Pemandian Air Panas Lemo
Susu, Air Terjun Kali Jodoh, Pantai Ujung Tape, Pulau Kamarrang, Permandian
Air Terjun Karawa, Permandian Balalong Permai.

b. Objek Wisata Budaya; Taman Makam-Makam Pahlawan, Bendungan Benteng,


Lefa-Lefa Reca.

c. Objek Wisata Buatan; Rumah Makan Terapung, Benteng Paremba, Monumen


Lasinrang.

Industri Pariwisata sebagai pendukung kepariwisataan Kabupaten Pinrang antara lain :

1. Adanya berbagai Hotel dan Restoran : Hotel Bintang, Hotel Fatir, Hotel Neorin,
Restoran /Rumah Makan.

2. Biro perjalanan wisata / umum.

3. Kerajinan Cinderamata dan

4. Berbagai jenis atraksi Wisata dan Kesenian : Seni Musik kecapi, Tari Madduppa,
dan Tari Kipas

2.1.6 Prospek Pariwisata dan Kebudayaan di Pinrang


Dengan motto Intanpari ( Industri Pertanian dan Pariwisata), . Kabupaten ini
terletak 185 km dari Makassar arah utara yang berbatasan dengan Kabupaten Polawali
Mandar Provinsi Sulawesi Barat, luas wilayah 1.961,77 km2 yang terbagi ke dalam 12
Kecamatan, meliputi 68 desa dan 36 kelurahan yang terdiri dai 86 lingkungan dan 189
dusun. Jumlah penduduk pada tahun 2007 sebesar ± 335.270 jiwa yang terdiri atas
160.647 jiwa laki-laki dan 174.623 jiwa perempuan dengan tingkat kepadatan penduduk
mencapai 171 jiwa/km².

Kabupaten Pinrang dengan ibukota Pinrang terletak disebelah 185 km utara


ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, berada pada posisi 3°19’13” sampai 4°10’30” lintang

20
selatan dan 119°26’30” sampai 119°47’20” bujur timur. Secara administratif, Batas
wilayah kabupaten ini adalah sebelah Utara dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah
Timur dengan Kabupaten Sidenreng Rappang dan Enrekang, sebelah Barat Kabupaten
Polmas Provinsi Sulawesi Barat dan Selat. Yang merupakan daerah yang paling banyak
memiliki aset wisata. Berbagai potensi wisata tersebar dibeberapa kecamatan dan
mempunyai karakteristik yang khas, mengutamakan wisata agrowisata alam dan sejarah
budaya.Selain itu, masih banyak sekali kawasan wisata budaya yang mempunyai
keistimewaan dan nilai kekhasan tersendiri.

Berikut ini adalah atraksi wisata alam dan seni budaya yang ada di Kabupaten Pinrang
yang terkenal :

1. Permandian Air Panas Sulilie

Gambar 2.4

Sumber; Tempat Wisata Kabupaten Pinrang.com.6-12-2018

Permandian ini terletak di Desa Solilie barat kecamatan Patampanua (Jaraknya ±


km arah timur kota Pinrang), Waktu perjalanan ± 10 menit melewati jalan darat yang
beraspal mulus. Fasilitas yang dimiliki tempat ini adalah pemondokan (tempat
peristirahatan) serta kolam mandi. Tempat ini banyak dikunjungi masyarakat, selain
untuk berekreasi juga untuk mengobati berbagai penyakit kulit dan reumatik.Pemandian
Air Panas Sulili Ada dua sumber air yang mendukung suplai air untuk pemandian air

21
panas Sulili, salah satunya yaitu sumber air panas yang terletak tidak jauh dari kolam
utama tempat berendam, keunikanya ialah sumber air panas ini seolah-olah muncul dari
perut bumi dan bukan berasal dari gunung berapi seperti sumber-sumber air panas lainnya
yang lazim ditemui. Terletak di lingkungan Sulili, kelurahan maminasae, kecamatan
Palleteang, bagian selatan Kabupaten Pinrang

2. Pantai Ujung Tape

Gambar 2.5

Sumber; Tempat Wisata Kabupaten Pinrang.com.6-12-2018

Salah satu obyk wisata bahari yang terletak di desa Langga kecamatan Mattiro
Sompe ± 25 km arah barat kota Pinrang, Untuk mencapai tempat ini diperlukan waktu
perjalanan ± 20 menit melalui jalan darat dan beraspal. Kawasan ini memiliki daya tarik
tersendiri, pada sore hari kita dapat menikmati angin pantai yang sejuk. Pantai Ujung
Tape ramai dikunjungi masyarakat utamanya pada hari libur dan hari raya.

3. Permandian Air Panas “Lemo Susu”

22
Gambar 2.6.

Sumber; Tempat Wisata Kabupaten Pinrang.com.6-12-2018

Permandian Air Panas “Lemo Susu” adalah salah satu obyek wisata yang terletak
di kecamatan Lembang ± 45 Km arah utara kota Pinrang. Berada di atas lahan seluas 20
hektar dengan fasilitas yang tersedia antara lain kolam renang, bangunan-bangunan
peristirahatan, pondok karaoke dan lain-lain.

Berada ditempat ini pengunjung dapat menikmati sejuknya udara pegunungan


sembari memandangi keindahan alam yang diapit oleh dua buah pegunungan. Jalur darat
menuju ke tempat ini beraspal mulus. Sementara harga tiket masuknya tergolong murah,
dewasa hanya Rp.5.000, dan anak-anak Rp.3.000. Obyek wisata ini murni dikelola oleh
pihak swasta. Pemiliknya bernama Bapak Rahmat.

4. Pulau Kamarrang

23
Gambar 2.7.

Sumber; Tempat Wisata Kabupaten Pinrang.com.6-12-2018

Salah satu obyek wisata bahari yang terletak di kecamatan Suppa (± 30 Km arah
selatan kota Pinrang). Kawasan ini diapit oleh laut sehingga menarik untuk dikunjungi.
Pulau Kamarrang adalah wilayah Kabupaten Pinrang yang berhadapan dengan kota
Parepare, sehingga bila kita mau menyeberang ke pulau ini lebih dekat bila anda lewat
Pelabuhan Parepare naik perahu tradisional dan hanya memerlukan waktu ± 15 menit.

5. Permandian Air Terjun Karawa

Gambar 2.8.

Sumber; Tempat Wisata Kabupaten Pinrang.com.6-12-2018

24
Di kecamatan Lembang terdapat beberapa tempat wisata, salah satunya adalah Air
Terjun arah Utara Kota Pinrang, dalam menempuh perjalanan sampai ke tempat ini
memerlukan waktu ± 1.7 Jam, jalan menuju ke tempat ini sebagian beraspal dan sebagian
pula jalanan pengerasan. Air Terjun Karawa, salah satu obyek wisata alam yang banyak
di kunjungi masyarakat, terutama pada hari raya atau hari libur, sebab Permandian Air
Terjun ini mempunyai Pesona alam.

6. Rumah Makan Terapung

Gambar 2.9.

Sumber; Tempat Wisata Kabupaten Pinrang.com.6-12-2018

Rumah Makan Terapung yang terletak di MALIMPUNG kecamatan Patampanua


± 20 Km arah timur kota Pinrang. Tempat ini banyak dikunjungi masyarakat, terutama
pada siang hari untuk bersantai sambil memancing ikan di danau.

7. Benteng Paremba

25
Gambar 2.10.

Sumber; Tempat Wisata Kabupaten Pinrang.com.6-12-2018

Dengan hamparan pohon buah-buahan berbagai jenis yang sedang tumbuh,


mempunyai prospek yang cukup menjanjikan sebagai obyek wisata agro. Letaknya ± 40
Km arah utara kota Pinrang, yaitu tepatnya diperbatasan Kabupaten Polmas, luas kawasan
ini mencapai ratusan hektar.

8. Bendungan Benteng

Gambar 2.11.

Sumber; Tempat Wisata Kabupaten Pinrang.com.6-12-2018

26
Bendungan Benteng adalah salah satu peninggalan Kolonial Belanda. Pada tahun
1939 bendungan ini dibangun, di mana pada awalnya hanya sebuah survey pada induk
bendungan Benteng oleh IR. FRAMA tahun 1927. Bendungan ini mulai dikerjakan pada
tahun 1936 dibawah Pimpinan IR.H.M VERWAY. Bendungan Benteng terletak di
kecamatan Patampanua, ± 20 km arah utara kota Pinrang. Memerlukan perjalanan ± 20
menit melalui jalan darat.

9. Monumen Lasinrang

Gambar 2.12.

Sumber; Tempat Wisata Kabupaten Pinrang.com.6-12-2018

Lasinrang, adalah seorang pahlawan legendaris dalam masyarakat Sawitto, di


masa penjajahan, Lasinrang dikenal seorang pemberani melawan penjajah. Figur lelaki
ini mulai dikenal, ia melawan kekuasaan Belanda dengan taktik Perang Gerilya. Ini terjadi
pada tahun 1903. Suatu ketika utusan Belanda mendaangi Addatuang (Raja) yang
bermaksud mengadakan kerjasama. Tetapi hal ini ditolak mentah-mentah oleh Raja,
sehingga membuat berang serdadu Belanda.

10. Lefa-Lefa Race

27
Gambar 2.13.

Sumber; Tempat Wisata Kabupaten Pinrang.com.6-12-2018

Lefa-lefa Race adalah kegiatan perlombaan perahu tradisional yang dilaksanakan


oleh pemerintah Kabupaten Pinrang setiap tahunnya dan diikuti oleh puluhan peserta, dan
pesertanya adalah masyarakat Pinrang dan sekitarnya. Kegiatan ini berlangsung di pantai
Ujung Labuang kecamatan Suppa Kabupaten Pirang kurang lebih 25 km arah selatan kota
Pinrang, Para peserta saling memacu perahu mereka masing-masing, sehingga menarik
untuk ditonton. Di pantai Ujung Labuang ini memang cocok untuk lomba, baik perahu
tradisional maupun untuk olah raga berenang. Sebab air laut di tempat ini sangat jernih
dan ombaknya tidak terlalu besar.

28
11. Air Terjun Kalijodoh

Gambar 2.14.

Sumber; Tempat Wisata Kabupaten Pinrang.com.6-12-201

Air Terjun Kalijodoh adalah salah satu obyek wisaa yang trletak di Kecamatan
Lembang Kabupaten Pinrang ± 25 km arah utara kota Pinrang, bila kita mengadakan
perjalanan ke tempat ini hanya memerlukan waktu 40 menit lewat jalan darat. Air terjun
Kalijodoh mempunyai cerita tersendiri. Dan menurut ceritanya, dinamakan Kalijodo
karena pada zaman dahulu sepasang muda-mudi berhasil membina rumah tangga setelah
datang ke tempat ini untuk bermustajab, memohon do’a kepada Sang Pencipta untuk
dipertemukan jodohnya. Hingga saat ini masyarakat Pinrang masih mempercayai cerita
tersebut.

2.1.7 Peran Informasi dan Promosi Bagi Pariwisata dan Kebudayaan

Kegiatan informasi dan promosi objek wisata sangat berpengaruh terhadap minat
dan motivasi wisatawan. Suatu kegiatan informasi dan promosi objek wisata yang
terencana, terarah, terpadu, dan efektif akan dapat terlaksana dengan baik apabila terdapat
informasi yang cukup terhadap wisatawan. Juga sebaliknya, perlu adanya banyak data
tentang minat dan motivasi dari wisatawan domestik maupun mancanegara yang perlu

29
dijaring untuk study yang bersifat umum sebagai landasan untuk melancarkan promosi
yang memikat bagi para wisatawan sehingga arah dari promosi tersebut lebih mengena,
dalam arti dapat dipasarkan dengan tepat. Sebagai bangunan yang berfungsi mewadahi
aktifitas yang berhubungan dengan informasi pariwisata dan budaya yang ada di
Kabupaten Karanganyar, bangunan Pusat Informasi Pariwisata dan

Kebudayaan mempunyai peran yang besar bagi pariwisata dan kebudayaan yang
ada di Kabupaten Karanganyar karena belum ada bangunan pusat informasi dan
kebudayaan yang dibangun permanent untuk mewadahi aktivitas pariwisata dan
kebudayaan sehingga dapat memperkenalkan pariwisata dan kebudayaan kepada
masyarakat dalam negeri maupun luar negeri khususnya masyarakat Karanganyar dan
sekitarnya.

2.2 Tinjauan Umum Pusat informasi Pariwisata dan Budayaan

Tinjauan umum mengenai pusat informasi parawisata dan kebudayaan ini berisi
tentang hal-hal terkait seperti definisi, fasilitas dan sebagainya.

2.2.1. Definisi Pusat Informasi Pariwisata dan Budayaan


Sesuai dengan UU RI No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan yang mana
disebutkan bahwa kegiatan wisata didukung oleh fasilitas dan layanan yang disediakan
masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Pembangunan fasilitas
pariwisata yang mampu menciptakan kenyamanan, kemudahan, keamanan, serta
keselamatan wisatawan dalam melakukan kunjungan wisata salah satunya merupakan
pembangunan pusat informasi wisata/TIC dan perlengkapannya. (MENTERI
PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA, 2017)
Sasaran pedoman pembangunan Pusat Informasi Wisata/TIC dan
perlengkapannya meliputi:
Tercapainya kesamaan standar dan prosedur dalam pembangunan sebuah Pusat Informasi
Wisata/TIC di setiap daerah; dan

30
Tercapainya efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pembangunan sebuah Pusat Informasi
Wisata/TIC.
Konsep dasar pembangunan Pusat Informasi Wisata/TIC adalah menyediakan
fasilitas layanan informasi pariwisata yang akurat dan terbaru kepada siapa saja yang
membutuhkan. Seiring dengan perkembangan kebutuhan dan kemajuan jaman, maka
fungsi Pusat Informasi Wisata/TIC dapat ditambahkan menjadi tempat melakukan
promosi bagi sebuah destinasi dalam meningkatkan jumlah kunjungan dan lama tinggal
wisatawan yang berkunjung.

2.2.2. Fungsi Dan Manfaat Pusat Informasi Pariwisata Dan Budayaan

Fungsi dan Manfaat Pusat Informasi Pariwisata dan Budayaan adalah antara lain:

a. Promosi, Pusat Informasi Wisata berperan aktif dalam mendatangkan pengunjung


ke sebuah destinasi dengan cara melakukan promosi, serta meningkatkan lama
tinggal dan jumlah pengeluaran wisatawan;
b. Memperkenalkan budaya akan membuat parawisatawan akan tetap berkunjung di
wilayah tersebut.
c. Travel Advice and Support, Pusat Informasi Wisat berperan aktif dalam
menyampaikan informasi yang terkait dengan pariwisata di sebuah destinasi,
seperti : Atraksi, Amenitas, Aksesibilitas, dan Aktivitas Wisata;
d. Pusat Penjualan, Pusat Informasi Wisata berperan aktif menjadi pusat penjualan
souvenir atau kerajinan lokal. Selain itu, dapat pula dipergunakan untuk melayani
pemesanan dan pembelian produk wisata seperti paket wisata, tiket perjalanan,
akomodasi, dan berbagai kebutuhan wisatawan; dan
e. Edukasi, Pusat Informasi Wisatavberperan aktif mengedukasi wisatawan tentang
nilai-nilai kearifan lokal dan adat istiadat yang berlaku di daerah tersebut.

31
2.2.3 Tujuan Pusat Budaya dan Pariwisata

Meningkatkan promosi dan publikasi di bidang pariwisata dan kebudayaan.


Mengaktualisasikan pelaksanaan peran pemerintah di bidang pariwisata dan kebudayaan
secara terukur, efektif, dan efisien.

2.2.4. Fasilitas Pada Pusat Informasi Pariwisata Dan Budayaan


Fasilitas pada pusat informasi wisata pada umumnya dapat dibilang cukup standar
dan cukup mudah untuk diterapkan di banyak tempat. Menurut (MENTERI
PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA, 2017) bahwa ruang yang dipertimbangkan
untuk membuat pusat informasi wisata memiliki banyak standar dan jenisnya. Berikut
macam fasilitas yang diberikan:

• Area layanan
• Area pengelola
• Sarana dan prasarana

2.2.5 Analisa Pelaku, Aktivitas Dan Organisasi Ruang


Pada sub-bab ini akan dibahas mengenai analisa terkait pelaku, aktivitas dan
fasilitas pada Pusat Informasi Wisata

2.2.6 Analisa Pelaku


Pusat Informasi Wisata memiliki klasifikasi pelaku berdasarkan kegiatan yang
dilakukan di dalamnya, antara lain:
a. Turis/wisatawan
Turis/wisatawan bertindak sebagai pelaku utama, terdiri dari gabungan
berbagai macam wisatawan baik secara domestik/mancanegara.
b. Pengelola
Pengelola bertindak sebagai pelaku utama dalam mengkoordinasikan seluruh
staff/karyawan.
c. Karyawan/Staff

32
Karyawan/staff meliputi staff administrasi, staff kebersihan, staff keamanan,
serta staff pendukung kegiatan utama.
d. Pengunjung
Pengunjung merupakan pelaku pendukung dalam lingkup penikmat destinasi
wisata, namun tak dapat dielakan pula kehadiran pengunjung yang hanya hadir
untuk berkunjung dan menghabiskan waktu semata.
e. Media
Media merupakan pelaku penunjang kegiatan utama dalam lingkup promosi,
dokumentasi dan publikasi, serta merupakan peran penting dalam
mengabadikan perkembangan dan pertumbuhan kepariwisataan.

2.2.7 Analisa Aktivitas/Kegiatan


Pusat Informasi Wisata memiliki klasifikasi aktivitas/kegiatan di dalamnya,
antara lain:

a) Kegiatan/aktivitas utama
Kegiatan/aktivitas utama pada Pusat Informasi Wisata adalah kegiatan
promosi, travel advice and support, pusat penjualan serta edukasi.
b) Kegiatan Pendukung
Kegiatan pendukung pada Pusat Informasi Wisata ini dapat berupa kegiatan
administrasi dan kegiatan menikmati pagelaran destinasi/kebudayaan
sekitar.
c) Kegiatan Penunjang
Kegiatan penunjang pada Pusat Informasi Wisata dapat berupa kegiatan
pendokumentasian oleh media maupun pribadi/kelompok.
d) Kegiatan Servis

Kegiatan servis dapat berupa kebersihan gedung, keamanan gedung serta


kegiatan pada lavatory dan dapur/mini pantry.

33
2.2.8 Organisasi Ruang
Analisa organisasi ruang dilakukan dengan meninjau analisa pelaku, aktivitas
serta fasilitas yang ada. Untuk itu berikut adalah analisa organisasi ruang Pusat Informasi
Wisata :

a. Turis/wisatawan
• Entrance/lobby
• Service desk
• Area informasi
• Lounge
• Toilet
• Tempat ibadah
• Kantin/mini pantry
• Area parkir
b. Pengunjung
• Entrance/lobby
• Service desk
• Area informasi
• Lounge
• Toilet
• Tempat ibadah
• Kantin
• Area parkir
c. Pengelola
• Manajerial
• Pramu ruang
• Toilet
• Tempat ibadah
• Kantin

34
• Gudang
• Area parkir
d. Karyawan/Staff
• Area promosi/cetak
• Area informasi
• Service desk
• Area loading barang
• Ruang staff
• Ruang penerimaan tamu
• Ruang administrasi
• Ruang komunikasi
• Area sampah
• Area MEE & air bersih
• Area APAR & P3K
• Toilet
• Kantin
• Tempat ibadah
• Gudang
• Area parkir
e. Media
• Auditorim/panggung pertunjukan
• Area tribun penonton
• Ruang penerimaan tamu
• Toilet
• Kantin
• Tempat ibadah
• Area parkir

35
2.3 Tinjauan Desain Konsep Arsitektur Ramah Lingkungan Dan Arsitektur Local

2.3.1 Pengertian Arsitektur Ramah Lingkungan Dan Arsitektur Local

green building atau bangunan ramah lingkungan didorong menjadi gaya dunia bagi
pengembangan properti saat ini, karena bangunan ramah lingkungan ini memiliki
kontribusi dapat menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro.
Fakta akibat pemanasan global menyebabkan terus berkembangnya produk industri
dalam dunia arsitektur dan bahan bangunan saat ini. Green building adalah suatu praktek
membuat struktur dan menggunakan proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan
dan sumber daya yang seefisien mungkin di seluruh siklus hidup suatu bangunan, dari
saat mendesain, melakukan konstruksi, membangun, memelihara bangunan, melakukan
renovasi dan dekonstruksi bangunan. Konsep green building sendiri menekankan
peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi, dan material bangunan.
Green building dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan dampak bangunan
baru terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Sebagai contoh, memanfaatkan sinar
matahari melalui teknik tenaga surya atau menggunakan tanaman dan pohon-pohon kecil
sebagai atap bangunan sehingga terlihat hijau.Desain green building akan
memperhatikan banyaknya ruang terbuka untuk memaksimalkan sirkulasi udara dan
cahaya alami, sedikit mungkin menggunakan penerangan lampu dan AC pada siang hari.
Selain itu, akan diperhatikan juga bahwa bangunan tersebut hemat energi, membatasi
lahan terbangun, sederhana, memiliki mutu yang baik, efisiensi material serta material
yang digunakan ramah lingkungan. Rancangan umum saat ini adalah atap-atap bangunan
dikembangkan menjadi taman atap yang memiliki nilai ekologis tinggi, yaiktu
mengurangi suhu udara dan pencemaran serta menambah ruang hijau.
Penggunaan material bahan bangunan yang tepat juga berperan besar dalam
menghasilkan bangunan berkualitas yang ramah lingkungan. Beberapa produsen bahan
bangunan telah membuat produk dengan inovasi baru yang meminimalkan terjadinya
kontaminasi lingkungan, mengurangi pemakaian sumber daya alam yang tak terbarukan,
dan menghemat penggunaan energi secara keseluruhan.Kesimpulannya adalah,

36
konsep green building yang dikembangkan saat ini akan menjaga lingkungan tetap hijau,
selaras, dan harmonis dengan mereka yang tinggal di dalamnya sedangkan

2.3.2 Sejarah Arsitektur Ramah Lingukungan Dan Arsitektur Local

Sejarah bangunan ramah lingkungan atau green building didorong menjadi tren
dunia, terutama bagi pengembangan properti saat ini. Bangunan ramah lingkungan ini
mempunyai kontribusi menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro.
Dalam pemanasan global, hal yang perlu diperhatikan adalah dengan penghematan air
dan energi serta penggunaan energi terbarukan. Arsitektur ramah lingkungan, yang juga
merupakan arsitektur hijau, mencakup keselarasan antara manusia dan lingkungan
alamnya. Arsitektur hijau mengandung juga dimensi lain seperti waktu, lingkungan alam,
sosio-kultural, ruang, serta teknik bangunan. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur hijau
bersifat kompleks, padat dan vital dibanding dengan arsitektur pada umumnya. Green
architecture didefinisikan sebagai sebuah istilah yang menggambarkan tentang ekonomi,
hemat energi, ramah lingkungan, dan dapat dikembangkan menjadi pembangunan
berkesinambungan. Green architecture (dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan
yang berkelanjutan) adalah praktek membuat struktur dan menggunakan proses yang
bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien di seluruh siklus
hidup bangunan: dari tapak untuk desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, renovasi, dan
dekonstruksi. Praktek ini memperluas dan melengkapi desain bangunan klasik
keprihatinan ekonomi, utilitas, daya tahan, dan kenyamanan.

Tujuan umumnya adalah bahwa bangunan hijau dirancang untuk mengurangi dampak
keseluruhan dari lingkungan yang dibangun pada kesehatan manusia dan lingkungan
alam oleh:

* Efisien menggunakan energi, air, dan sumber daya lain

* Kesehatan penghuni Melindungi dan meningkatkan produktivitas karyawan

* Mengurangi limbah, polusi dan degradasi lingkungan

37
Fakta akibat pemanasan global mendorong lahirnya berbagai inovasi produk industri
terus berkembang dalam dunia arsitektur dan bahan bangunan. Konsep pembangunan
arsitektur hijau menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi, dan
material bangunan, mulai dari desain building interior, pembangunan, hingga
pemeliharaan bangunan itu ke depan.

Desain rancang bangunan memerhatikan banyak bukaan untuk memaksimalkan


sirkulasi udara dan cahaya alami. Sedikit mungkin menggunakan penerangan lampu dan
pengondisi udara pada siang hari.

Bentuk arsitek design bangunan yang baik dan ramah lingkungan adalah bangunan yang
memperhatikan lingkungan sekitarnya seperti membuat taman di lingkungan rumah dan
gedung selain itu kurangi jumlah penggunaan kaca pada rumah atau bangunan gedung
kantor. Untuk desain interior, menggunakan interior yang ramah lingkungan dan
mengurangi pengunaan listrik yang sangat berlebihan, selain itu gunakan bahan bahan
seperti kayu, dan kurangin penggunaan kaca dan lampu atau interior lainnya yang
menggandung bahan kaca. Sedangkan pada desain eksteriornya, dengan menghindari
penggunaan bahan bangunan yang berbahaya dan diganti dengan yang ramah lingkungan,
dengan memperbanyak taman hijau dan taman yang memang di butuhkan untuk mengatur
keseimbang lingkungan sekitar. Desain bangunan hemat energi, membatasi lahan
terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan,
dan material ramah lingkungan. Atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap
(roof garden, green roof) yang memiliki nilai ekologis tinggi (suhu udara turun,
pencemaran berkurang, ruang hijau bertambah).Pemilihan material yang ramah
lingkungan dapat dijabarkan menjadi dua hal yakni dari sisi teknologi dan penggunaan.
Dari sisi teknologi, pemilihan bahan sebaiknya menghindari adanya toksin atau racun dan
diproduksi tidak bertentangan dengan alam. Sebagai contoh, minimalkan penggunaan
material kayu, batu alam ataupun bahan bangunan yang mengandung racun seperti
asbeston. Sedangkan dari sisi penggunaan, pemilihan material yang ramah lingkungan
misalnya menggunakan lampu hemat energi seperti lampu LED yang rendah konsumsi
listrik, semen instan yang praktis dan efisien, atau pun memilih keran yang memakai tap

38
yang hanya mengeluarkan air dalam volume tertentu.Penggunaan material bahan
bangunan yang tepat berperan besar dalam menghasilkan bangunan berkualitas yang
ramah lingkungan. Beberapa jenis bahan bangunan ada yang memiliki tingkat kualitas
yang memengaruhi harga. Penetapan anggaran biaya sebaiknya sesuai dengan anggaran
biaya yang tersedia dan dilakukan sejak awal perencanaan sebelum konstruksi untuk
mengatur pengeluaran sehingga baik building interior maupun eksteriornya tetap
berkualitas.Bahan baku building interior design maupun eksteriornya yang ramah
lingkungan berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan bumi. Beragam
inovasi teknologi proses produksi terus dikembangkan agar industri bahan baku tetap
mampu bersahabat dengan alam. Industri bahan bangunan sangat berperan penting untuk
menghasilkan bahan bangunan yang berkualitas sekaligus ramah lingkungan. Konstruksi
design bangunan yang berkelanjutan dilakukan dengan penggunaan bahan-bahan
alternatif dan bahan bakar alternatif yang dapat mengurangi emisi CO2 sehingga lebih
rendah daripada kadar normal bahan baku yang diproduksi sebelumnya. Bahan baku
alternatif yang digunakan pun beragam. Bahan bangunan juga memengaruhi konsumsi
energi di setiap bangunan. Pada saat bangunan didirikan konsumsi energi antara 5-13
persen dan 87-95 persen adalah energi yang dikonsumsi selama masa hidup bangunan.
Serta Arsitektur Lokal, konteks arsitektur dapat dikaitkan dengan aspek tempat, material,
teknologi, dsb. Lokal dalam konteks tempat dapat dihubungkan dengan lokasi seperti
Unpar yakni sekitar Unpar, atau dapat lebih luas seperti kota Bandung, Jawa Barat, pulau
Jawa, bahkan sampai Indonesia. Lokal dapat difahami menunjukkan adanya kekhasan
tertentu yang menjadi karakter khusus. Global dapat menunjukkan jangkuan di luar
Indonesia, dari wilayah Asia Tenggara, Asia, sampai Dunia. Isu Lokal-global ini menjadi
sangat menarik karena relevan dengan munculnya globalisasi dewasa ini yang memang
tidak dapat dihindari. Pada dasarnya globalisasi tidak hanya terjadi saat kini namun juga
terjadi masa lalu seperti halnya dalam konteks arsitektur Indonesia yang mengalami
persinggungan dengan budaya dari luar seperti India, Cina, Timur Tengah, dan Eropa.

Pengembangan wawasan arsitektur lokal dalam konteks globalisasi menjadi sangat


penting dalam menguatkan potensi jati diri ke-Indonesia-an di dalam menghadapi

39
masuknya arsitektur dari luar. Wujud desain arsitektur bangunan di Indonesia
menunjukkan adanya keberagaman representasi, baik yang dipengaruhi oleh bentuk-
bentuk luar maupun yang dikembangkan dari khasanah kebudayaan Nusantara.
Fenomena globalisasi pada saat ini membuka kemungkinan seluas-luasnya penggunaan
representasi yang berasal dari luar Indonesia secara bebas dan simultan, misalnya pada
fungsi hunian, mal, kantor, museum dan sebagainya. Lambat laun representasi arsitektur
yang hadir di Indonesia dapat dimungkinkan akan identik dengan wujud arsitektur yang
ada di negara lain. Beberapa karya yang hadir pada saat ini terkesan anything goes atau
sekadar ‘memindahkan’ gaya-gaya arsitektur dari luar. Secara critical semestinya dapat
dikaji relasinya lebih jauh dengan konteks ke-lokal-an yang dimiliki oleh Indonesia.
Semangat postmodernisme memungkinkan penggunaan gaya-gaya tersebut baik yang
terinsprasi dari masa lalu maupun masa kini. Kekayaan kearifan lokal arsitektur yang
dimiliki oleh Indonesia hendaknya dapat digunakan sebagai sumber inspirasi dalam
perwujudan arsitektur yang hadir saat kini, sehingga terjadi kesinambungan antara past,
present, and future arsitektur lokal dalam konteks globalisasi menjadi sangat penting
dalam menguatkan potensi jati diri ke-Indonesia-an di dalam menghadapi masuknya
arsitektur dari luar. Wujud desain arsitektur bangunan di Indonesia menunjukkan adanya
keberagaman representasi, baik yang dipengaruhi oleh bentuk-bentuk luar maupun yang
dikembangkan dari khasanah kebudayaan Nusantara. Fenomena globalisasi pada saat ini
membuka kemungkinan seluas-luasnya penggunaan representasi yang berasal dari luar
Indonesia secara bebas dan simultan, misalnya pada fungsi hunian, mal, kantor, museum
dan sebagainya. Lambat laun representasi arsitektur yang hadir di Indonesia dapat
dimungkinkan akan identik dengan wujud arsitektur yang ada di negara lain. Beberapa
karya yang hadir pada saat ini terkesan anything goes atau sekadar ‘memindahkan’ gaya-
gaya arsitektur dari luar. Secara critical semestinya dapat dikaji relasinya lebih jauh
dengan konteks ke-lokal-an yang dimiliki oleh Indonesia. Semangat postmodernisme
memungkinkan penggunaan gaya-gaya tersebut baik yang terinsprasi dari masa lalu
maupun masa kini. Kekayaan kearifan lokal arsitektur yang dimiliki oleh Indonesia
hendaknya dapat digunakan sebagai sumber inspirasi dalam perwujudan arsitektur yang
hadir saat kini, sehingga terjadi kesinambungan antara past, present, and future. Indonesia

40
pada hakekatnya memiliki tradisi arsitektur yang kuat dan unggul sejak masa lalu. Hal ini
dapat dilihat dari wujud peninggalan arsitektur yang hadir di Indonesia, seperti
Prambanan, Borobudur, dsb. Prambanan dapat dianggap sebagai the first highrise
building di Asia Tenggara. Candi-candi tersebut pada awalnya tidak dapat dipungkiri
merupakan tradisi yang dikembangkan dari kebudayaan India, namun pada
perkembangannya terjadi arus balik, bahwa candi-candi di Jawa tersebut kemudian
menjadi sumber inspirasi yang penting bagi arstektur di Asia Tenggara dan India. Tidak
semua bangsa memiliki tradisi arsitektur yang kuat seperti Indonesia di masa lalu. Wujud
arsitektur yang beragam dan dinamis merupakan bagian dari tradisi arsitektur tersebut.
Keragaman ini menunjukkan pola berfikir masyarakat Indonesia sangat dinamis,
transformatif dan terbuka. Indonesia memiliki kekayaan arsitektur tradisional sampai
modern yang sangat beragam baik dapat dikenali secara sinkronik maupun diakronik.
Potensi kekayaaan arsitektur Indonesia hendaknya dapat dimanfaatkan dalam mengisi
perwujudan arsitektur baru yang hadir pada saat kini dalam konteks globalisasi dan
semangat postmodernisme. How become modern and to return the source.

2.3.3 Ciri Arsitektur Ramah Lingkungan Dan Arsitektur Local

ciri umum produk bahan bangunan yang dianggap ramah lingkungan :

• tidak mengandung bahan berbahaya


• rendah radiasi
• berbahan dasar bio dan berkelanjutan (sustainable)
• memiliki informasi yang transparan
• mengurangi penggunaan bahan
• mengurangi dampak dari konstruksi atau pembongkaran bangunan
• tahan lama atau butuh perawatan yang rendah
• mampu mencegah terjadinya masalah kelembaban udara
• kandungannya bisa dipertahankan
• dapat mengurangi beban pemanasan dan pendinginan

41
• memiliki kandungan daur ulang yang dapat diperbaharui
• dapat diperbarukan dengan cepat

ciri umum yang dianggap arsitektur lokal :

arsitektur local adalah ciri khas suatu daerah, Lokal Adalah Pandangan Hidup Dan
Ilmu Pengetahuan Serta Berbagai Strategi Kehidupan Yang Berwujud Aktivitas Yang
Dilakukan Oleh Masyarakat Lokal Dalam Menjawab Berbagai Masalah Dalam
Pemenuhan Kebutuhan Mereka. Secara Etimologi, Kearifan Lokal (Local Wisdom)
Terdiri Dari Dua Kata, Yakni Kearifan (Wisdom) Dan Lokal (Local). Sebutan Lain Untuk
Kearifan Lokal Diantaranya Adalah Kebijakan Setempat (Local Wisdom), Pengetahuan
Setempat (Local Knowledge) Dan Kecerdasan Setempat (Local Genious).

arsitektur lokal dalam konteks globalisasi menjadi sangat penting dalam


menguatkan potensi jati diri ke-Indonesia-an di dalam menghadapi masuknya arsitektur
dari luar. Wujud desain arsitektur bangunan di Indonesia menunjukkan adanya
keberagaman representasi, baik yang dipengaruhi oleh bentuk-bentuk luar maupun yang
dikembangkan dari khasanah kebudayaan Nusantara. Fenomena globalisasi pada saat ini
membuka kemungkinan seluas-luasnya penggunaan representasi yang berasal dari luar
Indonesia secara bebas dan simultan, misalnya pada fungsi hunian, mal, kantor, museum
dan sebagainya. Lambat laun representasi arsitektur yang hadir di Indonesia dapat
dimungkinkan akan identik dengan wujud arsitektur yang ada di negara lain. Beberapa
karya yang hadir pada saat ini terkesan anything goes atau sekadar ‘memindahkan’ gaya-
gaya arsitektur dari luar.

42
2.4 Studi banding

2.4.1 Bangunan Benteng Rotterdam – Somba Opu

Gambar 2.1

Sumber; Tempat Wisata kota makassar.com.6-12-2018

Benteng Rotterdam dan Benteng Somba Opu tidak dapat dipisahkan dari sejarah
Sulawesi Selatan, merupakan situs sejarah yang letaknya di Kota Makassar Provinsi
Sulawesi Selatan, dan salah-satu obyek wisata sejarah yang paling mudah dijangkau .
Konon Khabarnya Benteng-benteng ini dibuat dari tanah liat dan putih telur sebagai
pengganti Semen.

Benteng Rotterdam

Gambar 2.2

Sumber; Tempat Wisata kota makassar.com.6-12-2018

43
pernah dibangun dan masih terawat hingga kini (bahkan Barbara Crossette di New
York Times menuliskannya sebagai the best preserved Dutch fort in Asia).

Didalam Benteng Rotterdam dibangunan Museum Negeri La Galigo yang menyimpang


peninggalan dari Tana Toraja. (La Galigo diambil dari sebuah epos yang berjudul I La
Galigo. merupakan karya sastra kebanggaan orang Bugis .Nama I La Galigo adalah salah
satu tokoh ahli sastra di kerajaan Luwu dan Wajo pada abad 14 ).

Ada yang mengatakan bahwa benteng ini didirikan oleh Raja Gowa ke 10 pada tahun
1546. beberapa sumber menyebutkan bahwa pada hari bertepatan dengan 9 agustus 1643
atas perintah Sultan Alauddin , Benteng Ujung Pandang mulai di dirikan di sebuah ujung
yang bernama ujung pandang. pendapat lain Benteng ini sudah ada jauh sebelumnya .
benteng ini di sebut juga Benteng Penyyu karena bentuknya seperti Penyu tampak dari
atas. Pada tgl 10 Novembar 1634 waktu itu di dalam benteng ini diadakan upacara
membasuh panji panji kebesaran Gowa dengan menggunakan darah. Setelah perjanjian
Bungaya benteng ini jatuh ke tangan Belanda dan oleh Speelman di sebut dengan FORT
ROTTERDAM. Pada masa Jepang Benteng ini berfungsi sebagai pusat penelitian ilmiah
utamnya bahasa dan penelitihan Budaya.

Benteng Rotterdam letaknya di pinggir pantai Kota Makassar, berseberang dengan


pelabuhan Sukarno-Hatta, serta Pelabuhan penyeberangan ke Pulau Kahyangan, kurang
lebih 500 meter kearah selatan terdapat Pantai losari dan Pantai Akarena.

Benteng Somba Opu

Gambar 2.3

Sumber; Tempat Wisata kota makassar.com.6-12-2018

44
Kedudukannya sama dengan Benteng Ujung Pandang. Keduanya merupakan
peninggalan sejarah Sulawesi Selatan di masa lalu. Sekarang Benteng Somba Opu masih
dalam proses pemugaran kembali dengan dilengkapi museum

Miniatur Sulawesi terletakdi sekitar lokasi benteng Somba Opu. Di tempat ini dibangun
berbagai rumah adat tradisional dari semua suku bangsa di Sulawesi Selatan. Setiap
rumah adat tersebut dibentuk secara artistik dan unik yang menggambarkan kekhususan
filosofi budaya dari tiap-tiap suku bangsa di Sulawesi Selatan serta dapat ditemukan
sebuah meriam bernama “Baluwara Agung” sepanjang 9 meter dengan berat 9.500 kg,
dan sebuah museum yang berisi benda-benda bersejarah peninggalan KesultananGowa.

Secara arsitekturial, benteng ini berbentukpersegi empat, dengan panjang sekitar 2


kilometer, tinggi 7 hingga 8 meter, dan luasnya sekitar 1.500 hektar. Seluruh bangunan
benteng dipagari dengan dinding yang cukup tebal.

Di dalam benteng, terdapat beberapa bangunan rumah adat Sulawesi Selatan (yang
mewakili suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Kajang).

Tempat ini dijadikan pusat budaya dan sejarah. Di tempat ini pula dipusatkan
kegiatan pekan sulawesi selatan yang pelaksanaannya pada bulan oktober setiap tahun

Benteng ini menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai
dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa. Pada tanggal 24 Juni 1669, benteng ini
dikuasai oleh VOC dan kemudian dihancurkan dan terendam oleh ombak pasang. Pada
tahun 1980-an, benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah ilmuan. Pada tahun 1990,
bangunan benteng yang sudah rusak.

Kawasan Rumah Adat Benteng Somba Opu

Saat ini, di dalam benteng dibangun kawasan argowisata berupa kumpulan rumah adat
dari seluruh Sulawesi Selatan. Pembangunan rumah adat ini mencerminkan bahwa jaman

45
dahulu kala terdapat sebuah kerajaan yang menyatukan Sulawesi Selatan dalam satu
bendera sebelum akhirnya di adu domba oleh Belanda melalui bendera VOC.

Wisata Benteng Somba Opu sampir sama seperti mengunjungi seluruh daerah di
Sulawesi Selatan, mengingat setiap kabupaten dan Kota di Sul-Sel ada disini. Pada
kawasan benteng masih terdapat batu merah asli pada saat benteng ini dibangun. Disini
juag didapat kantor pengurusan Miliki VOC yang masih berdiri kokoh dengan dua
Meriam kecil di depan bangunan.

46
BAB 3

MOTODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

Gambar : peta pinrang

Sumber : http://bpbdkabupatenpinrangsul-sel.

Lokas yang akan menjadi site perancangan harus memiliki karakter yang sesuai
dengan fungsi bangunan yaitu sebagai pusat informasi pariwisata dan kebudayaan dikota
PinrangHal – hal yang menjadi dasar pertimbangan adalah :

1. Lokasi harus strategis, dalam arti tidak harus berada di pusat kota atau pusat
keraian kota, malainkan tempat yang mudah di jangkau kendaraan umum.
2. Tersedianaya infrastruktur seperti jaringan telepon, air bersih, listrik, saluran
pembuanagn dan jalan raya.

47
3. Lokasi dekat dengan kegiatan atau fasilitas, seperti :
a. Fasilitas wisata
b. Pusat kegiatan seni dan budaya

Berdasarkan pertimbangan -pertimbangan di atas, maka potensi lokasi yang akan di


rencanakan untuk perancangan Pusat informasi pariwisata dan kebudayaan di kota
Pinrang beradi di kecamatan Ulutedong, kabupaten Pinrang.

3.2 Jenis dan Sumber Data


a. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung melalui observasi
lapangan
b. Data Sekunder
a. Teknik wawancara
Teknik wawancara di lakukan denganmelakukan wawancara langsung dengan
beberapa pengrajin,desainer serta instansi yang terkait untuk memperoleh
infirmasi yang berkaitan dengan judul penelitian.
b. Dokumentasi
Data sekunder merupakan data pelengkap yang diperoleh berdasarkan data yang
telah di kumpulkan dari instansi- instansi yang terkait kebutuhan data terkait
dengan judul yang di angkat, dan referensi – referensi berupa buku,majalah,
artikel, internet dan sumber – sumber data yang dapat mendukung penelitian
c. Pengamatan Lokasi / Observasi lapangan
Pengamatan dan pengenalan langsung keadaan lokasi penelitian dengan tujuan
untuk mengetahui keadaan lokasi yang sebenarnya, mengenal potensi-potensi
yang di manfaatkan dan keadaan- keadaan yang harus di hindari. Kemudian
mengambil dokumentasi berupa foto maupun video pada lokasi penelitian dan
sekitar. Hasil observasi ini sekaligus untuk mengkonfirmasikan data yang telah

48
di kumpulkan melali wawancara dan dokumentasi dengan keadaan yang
sebenarnya.

3.3 Teknik Analisis data

Untuk mencapai tujuan dan sasarn penelitian maka perlu di lakukan analisis terhadap
data- data maupun masalah yang telah di dapatkan. Berikut Teknik yang perlu di
lakukan dalam menganalisis data
a. Analisis Perancangan Makro
1. Analisis pemilihan lokasi dan tapak perancanagn melalui kriteria – kriteria
serta dasar pertimbangan seperti aturan RTRW kota Palu yang berlaku
sebagai acuan dalam pemilhan tapak.
2. Analisis tapak terdiri dari analisis terhadap potensi tapak maupun sekitarnya,
Berupa kondisi eksisiting tapak terpilih meliputi batas-batas tapak, luas site,
kondisi tanah ( topografi , kondisi vegetasi, potensi lingkungan site, orientasi
tapak, view, orientasi matahari dan angina, sirkulasi dan akses site dan juga
tingkat kebisingan.
3. Analisis terhadap utilitas bangunan yang terdiri dari sisitem penghawaan dan
pencahayaan, sisitem plumbing, sistem penanggulangan kebakaran serta
pengolahan limbah.
b. Analisis Perancangan Mikro
1. Analisis terhadap aspek fungsional perancangan dilakukan dengan cara
menganalisis pelaku aktifitas beserta jenis kegiatannya, kebutuhan ruang dan
organisasi ruang dan analisis luas lantai bangunan. Analisisi ini mengacu
pada standar – standar perancangan Pusat informasi pariwisata dan
kebudayaan di kota Pinrang.
2. Analisisi struktur dan konstruksi bangunan dilakukan dengan cara
mengetahui jenis struktur maupun konstruksi bangunan yang sesuai untuk di
terapkan pada bangunan.
3. Analisisi bentuk dan tampilan bangunan

49
Analisisi bentuk dan tampilan bangunan dilakukan dengan cara menerapkan
prinsip- prinsip Arsitektur ramah lingkungan dan lokal sehingga bentuk dan
tampilan bangunan yang dihasilkan sesuai dan relefan dengan tema
perancangan yang telah di pilh.

3.4 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini hanya akan focus pada perancangan Pusat iinformasi dan kebudayaan
di Kota Pinrang yang menerapkan tema perancangan Arsitektur ramah lingkungan
dan lokal. Penerapan gaya Arsitektur ramah lingkungan dan lokal pada bangunan
akan diwujudkan dengan pencapaian sebagai berikut :
1. Banguanan yang ramah lingkungan.
2. Hemat energi.
3. Menonjolkan ciri lokalitas kota pirang
4. Memanfaatkan desain green building.
5. Memanfaatkan pencahayaan alami.

50
Referensi

Suwantoro, G. 1997. Dasar-Dasar Priwisata. Penerbit Andi, Yogyakarta. Wardiyanta.


2006. Metode Penelitian Pariwisata. CV. Andi Offset. Yogyakarta.

Damanik, J. dan Weber, H. F. 2006. Perencanaan Ekowisata : Dari Teori Ke Aplikasi.


CV. Andi Offset. Yogyakarta.

Kontur, R. 2005. Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. Penerbit PPM.
Jakata

http:// kepri.travel/ th_gallery/ rencana - induk -pembangunan - pariwisata-daerahrippda-


provinsi-kepri/. di unggah pada tanggal 1 November 2013

UU RI No. 9 Tahun 1990. Tentang Kepariwisataan

"Perpres No. 6 Tahun 2011". 17 Februari 2011. Diakses pada 23 Mei 2011.

https://ismiy.wordpress.com/2010/10/20/bangunan-arsitektur-ramah-lingkungan-4/

http://akuinginhijau.org/2007/08/25/green-building-untuk-iklim-mikro-bangunan-
ramah-lingkungan-syaratkan-efisiensi/

http://www.ideaonline.co.id/iDEA/Berita/Properti/Ada-Tujuh-Kategori-Bangunan-
Ramah-Lingkungan

http://wisatasulawesi.wordpress.com/

51